Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Tata Cara Bergaya
Prinsip dasar dalam bergaya adalah pakaian bekas.
"Hmm... Membingungkan sekali, ya."
Meski industri manufaktur di Kekaisaran Tiga Lini tergolong
maju berkat pengaruh sihir dan alat magis jika dibandingkan dengan Bumi pada
abad ke-12 hingga 16, teknologi mereka belum setara dengan industri modern.
Akibatnya, harga pakaian secara umum sangatlah mahal.
Bukan hanya jubah sutra yang dikenakan para bangsawan,
bahkan pakaian berwarna cokelat tua dengan noda mencurigakan—yang membuatmu
ingin bertanya pada pemilik toko dari mayat mana baju itu dikuliti—pun tidak
bisa dikatakan murah.
Setidaknya, kau harus merogoh kocek beberapa keping perak.
Jika dihemat, uang sebanyak itu cukup untuk menghidupi manusia selama
berhari-hari.
"Yang ini agak besar, tapi mungkin bisa dipakai kalau
sedikit diperbaiki. Tapi, aku tidak suka warnanya..."
Oleh karena itu, pakaian biasanya dibuat sendiri oleh
anggota keluarga yang terampil, atau mengandalkan pakaian bekas. Jika ingin menjahit baju baru dari nol, biaya kain
dan upah jasanya akan menjadi sangat fantastis.
Sebagian besar
rakyat jelata baru mendapatkan kesempatan mengenakan baju yang belum pernah
dipakai orang lain saat hari pernikahan mereka.
"Hmm, tapi
masa pakai baju ini singkat, ya. Sebentar lagi akan dingin, mungkin lebih
untung kalau cari yang agak tebal..."
Karena alasan
itulah, ada banyak toko pakaian bekas di Kekaisaran.
Ada toko yang
merangkap sebagai pegadaian di sudut kota, ada pula kafilah dagang yang
menjajakan kain-kain perca hasil perbaikan dari berbagai tempat.
Mungkin hanya
desa terpencil yang tidak memiliki toko baju bekas, di mana penduduknya hanya
bisa melakukan barter pakaian antar sesama warga.
"Jangan
diaduk-aduk begitu, ya. Nanti aku lupa di mana aku menaruh
barang-barangnya," ujar si pemilik toko.
"Aku
mengerti, Pemilik Toko."
Namun,
jika manusia modern melihat toko baju bekas yang dikunjungi Mergit ini, mereka
pasti tidak akan bisa membedakannya dengan tempat pembuangan sampah.
Tumpukan
baju bekas dijejalkan begitu saja ke dalam kotak-kotak kayu seadanya. Memang
ada pemisahan antara pakaian pria dan wanita, atau antara atasan dan pelindung
kaki, tapi penataannya sangat berantakan hingga nyaris tak ada bedanya.
Mungkin
si pemilik toko tahu di mana ia menyimpan segalanya, tapi bagi pelanggan, tidak
ada pilihan lain selain membenamkan kepala ke dalam tumpukan baju berbau apek
dan menggerakkan tangan sembari berdoa agar menemukan barang bagus.
Meski
begitu, Mergit tidak mengeluh ataupun merasa aneh. Baginya, justru dunia modern
yang terlihat asing—di mana toko baju bekas memajang barangnya di gantungan
satu per satu, dan mengenakan pakaian andalan pada manekin di depan toko.
Walaupun Mergit
adalah seorang nona muda dari keluarga terpandang di Konigstuhl, ia sama sekali
tidak merasa keberatan berada di toko baju bekas yang kacau ini.
"Tapi,
melihat seorang Arachne datang membeli baju itu pemandangan yang cukup unik,
ya," gumam si pemilik toko.
Di dalam
toko yang dipenuhi aroma tak terbantahkan dari tumpukan baju, si pemilik toko
yang sedang duduk di bagian dalam sambil menjahit itu menghela napas ke arah si
pemburu.
"Struktur
tubuh kami berbeda dengan kalian yang bisa mengeluarkan benang sebanyak apa
pun. Jika aku mencoba memintal benang sendiri untuk membuat kain, seumur hidup
pun mungkin hanya bisa jadi tiga atau empat potong baju saja."
"Sama-sama
berkaki delapan, tapi ternyata berbeda jauh, ya."
Pemilik toko itu
adalah seorang manusia laba-laba. Namun, ia berasal dari spesies Joro-gumo,
berbeda dengan Mergit. Ia memiliki cangkang panjang berbintik kuning dan hitam;
jenis laba-laba pembuat jaring yang menyebar dari Laut Dalam Selatan.
Kemampuan mereka
mengeluarkan benang dalam jumlah besar dan membangun sarang sangat berkaitan
erat dengan produksi benang. Karena itulah, ras mereka seolah terlahir untuk
industri tekstil. Banyak dari mereka yang menyambung hidup dengan menenun kain
atau menjadi tukang jahit, tidak terkecuali di Kekaisaran.
Pemilik toko ini
pun mencari nafkah dengan memanfaatkan benang yang ia hasilkan untuk
memperbaiki dan menghidupkan kembali baju-baju lama.
Menurut
pengakuannya, ia merasa tidak cocok dengan pekerjaan menenun atau merancang
busana, jadi ia hanya fokus pada perbaikan. Di sekitar sini, tokonya sangat
populer dan dikenal sebagai toko baju bekas "paling awet".
"Bagi kami,
benang lebih merupakan tali penyelamat daripada sekadar alat pembuat jaring
atau tempat tidur. Ya, kami hanya bisa mengeluarkannya secukupnya saja,"
jelas Mergit.
"Hoo, tidak
praktis juga ya. Kupikir semua jenis Arachne tidak akan pernah kelaparan karena
benangnya saja bisa jadi uang."
Wajah wanita
paruh baya yang tampak lesu dan misterius itu, yang bertengger di atas tubuh
berbintik besar jika dibandingkan kaki rampingnya, menunjukkan ekspresi
terkejut. Di dunia di mana informasi individu sangat terbatas, wajar jika ia
merasa heran melihat perbedaan ekologis meski bentuk mereka serupa.
"Yah,
setidaknya kami bisa mencari uang lebih mudah daripada orang-orang berkaki dua
itu... Ngomong-ngomong Pemilik Toko, yang ini harganya berapa?"
"Bukannya
itu agak besar untukmu? Yah, kalau kau mau, harganya lima belas Libra."
"...Bukankah
itu agak keterlaluan?"
Yang ditarik Mergit
dari kotak adalah atasan tebal yang terbuat dari wol. Mungkin sebelumnya
dipakai oleh ras kerdil atau sejenisnya; meski desainnya untuk orang dewasa,
ukurannya pas dengan tubuh kecil Mergit. Jika sedikit diperbaiki, ini akan
menjadi pakaian musim dingin yang nyaman.
"Kualitasnya
bagus lho, itu. Apalagi baju wol sangat populer di kalangan orang-orang yang
tidak tahan dingin, bisa-bisa langsung laku."
"Hmm...
Kenyamanan memang penting, tapi aku juga ingin tetap terlihat modis..."
Mergit menghitung
di dalam kepalanya, menimbang apakah baju itu layak seharga lima belas keping
perak, lalu mengembalikannya ke kotak. Memang terlihat hangat, tapi menurut
seleranya, baju itu terlalu polos.
Arachne jenis
laba-laba pelompat seperti Mergit tidak menyukai gesekan kain dan lebih suka
pakaian dengan eksposure tinggi. Sama seperti ibunya, Mergit merasa lebih cocok
memakai baju yang memperlihatkan bahu atau lengan. Ia merasa sangat tidak
nyaman jika memakai pakaian tertutup seperti yang biasa dikenakan manusia
normal.
Namun, persiapan
untuk musim dingin adalah hal mendesak. Karena ia meninggalkan kampung halaman
di musim semi, ia hanya membawa baju musim semi dan musim panas agar tidak
membawa beban berat. Sisanya hanyalah jubah penahan dingin untuk malam hari dan
pakaian berburu.
Mengingat lokasi
Marsheim berada di barat, sepertinya mereka tidak akan menderita karena salju
tebal. Meski begitu, musim dingin di sana pasti cukup untuk membuat sendi-sendi
Arachne berderit kaku. Jadi, pakaian hangat adalah keharusan.
Itu sebabnya ia
datang untuk berbelanja sebelum perang memperebutkan baju musim dingin dimulai.
Sayangnya, ia belum menemukan satu pun barang yang memikat selera seninya.
Bagaimanapun, ia
adalah seorang gadis. Menjadi hangat saja tidaklah cukup. Harus imut, sesuai
selera, dan juga hangat... Sambil membawa daftar keinginan yang panjang itu,
tangan kecilnya terus "berenang" di dalam lautan pakaian.
"Hmm... Sebenarnya kau ingin yang seperti apa?"
"Begini, karena ini pakaian harian, aku tidak akan
terlalu menuntut soal kemudahan bergerak atau gesekan kain. Tapi jika bisa, aku
ingin yang pas di kulit, atau malah sekalian yang sangat longgar. Tentu saja
aku tidak suka yang kedodoran..."
"Kalau begitu, bagaimana kalau pakai sistem
berlapis?"
Si pemilik toko tiba-tiba menghilang ke bagian dalam, lalu
kembali sambil membawa satu barang dari stoknya.
"Pakailah baju tipis di dalam, lalu kenakan luaran yang
tebal. Lagipula, penampilanmu saat
berbaju tipis kan hanya ingin kau perlihatkan pada pria idamanmu, bukan?"
Barang yang ia
keluarkan adalah mantel bulu yang sangat megah, bahkan terasa tidak pantas
berada di toko baju bekas. Bulu putih dengan sedikit semu abu-abu itu mungkin
milik serigala.
Mantel dengan
lengan panjang yang bisa dipakai sebagai luaran maupun pakaian dalam itu entah
kenapa sangat pas dengan tinggi badan Mergit.
Mungkin karena Mergit
merawat rambutnya dengan bersih, memakai minyak rambut, dan mengenakan pakaian
yang tercuci rapi, si pemilik toko menganggapnya punya uang dan mengeluarkan
barang yang tidak dipajang di depan toko.
"Wah, mewah
sekali... Ini bulu serigala hutan, ya? Tapi sepertinya dari individu yang masih
muda."
Sebagai
seorang pemburu, Mergit menyipitkan mata untuk menilai kualitas barang
tersebut, dan ia bisa langsung tahu dari hewan apa bulu itu berasal.
Ini
adalah bulu serigala yang banyak hidup berkelompok di Kekaisaran. Melihat warna
bulunya, kemungkinan besar ini diburu di wilayah utara. Serigala di selatan
memiliki bulu yang sedikit lebih gelap menyesuaikan dengan minimnya salju.
"Iya,
asalnya ini milik anak bangsawan yang digadaikan. Tapi, mantel ukuran anak-anak
begini tidak mungkin laku terjual pada orang-orang di sekitar sini. Makanya
tadinya aku terpikir untuk membongkarnya dan menjadikannya lapisan dalam
penahan dingin saja."
Bangsawan
pun tidak membuang baju lama mereka melainkan menjualnya, dan bangsawan miskin
pun terkadang menggunakan jasa toko baju bekas. Ada toko baju bekas khusus yang
menangani pakaian kelas atas untuk kaum bangsawan, bukan untuk penduduk bawah
tanah.
Dalam
jaringan seperti itulah barang-barang mengalir selama bertahun-tahun. Barang
yang tersisa akan dibuang ke pasar bawah tanah, dan sering kali tren mode
bangsawan baru diadopsi oleh masyarakat umum setelah waktu yang lama.
Pakaian ini
adalah salah satu yang mengikuti aliran tersebut. Karena keunikannya yang
ekstrem, sepertinya baju ini sulit terjual.
Bagi anak-anak,
memakai bulu terasa terlalu berlebihan. Mungkin di tempat lain berbeda, tapi di
Kekaisaran, bulu adalah pakaian untuk orang dewasa, sehingga tidak cocok
dikenakan anak-anak. Di sisi lain, bagi orang dewasa dari ras berukuran kecil,
mantel ini kurang memiliki "wibawa".
Orang-orang yang
sengaja memakai bulu biasanya ingin mengenakan "sejarah" yang
dimiliki bulu tersebut sebagai hiasan. Misalnya, hewan itu telah menimbulkan
berapa banyak kerusakan, atau diburu tanpa cacat oleh pemburu ternama; mereka
menginginkan nilai tambah seperti itu.
Dalam hal itu,
bulu pada mantel ini sepertinya tidak memiliki asal-usul khusus, dan warnanya
pun agak nanggung. Jika warnanya putih bersih yang langka, atau pola bulu yang
sekilas langsung terlihat sebagai milik serigala tangguh, mungkin akan cocok
untuk bangsawan dewasa.
Satu-satunya
orang yang mungkin menghargai barang seperti ini hanyalah orang aneh di ibukota
yang memiliki selera hidup yang berbeda sendiri.
"Hmm...
Berapa harganya?"
"Satu Drachma."
"Itu
pemerasan. Paling mahal harganya cuma dua puluh lima Libra."
"Jangan bicara sembarangan, Nona. Lihat jahitannya,
kalau kau merawatnya dengan benar, ini bisa bertahan sepuluh atau dua puluh
tahun tanpa perlu diperbaiki."
"Penyamakannya kurang halus. Lalu, meski kau mencoba
menyembunyikannya di balik jahitan dengan rapi, pemburu yang menangkapnya
sangat tidak terampil. Ada tiga atau empat bekas luka panah yang membuatnya
terlihat buruk. Apalagi setelah
panah pertama meleset, dia pasti melakukan ini dan itu..."
Si
pemilik toko menggertakkan gigi. Itu karena semua ucapan Mergit benar adanya.
Meski dulunya
milik bangsawan, mungkin itu dari keluarga bangsawan luar yang tidak memiliki
kedudukan tinggi. Entah karena adat daerah atau apa, mereka memberikan bulu
pada anaknya, lalu ditertawakan karena dianggap "tidak pantas",
hingga akhirnya berakhir di tempat pegadaian. Si pemilik toko mengetahui
sejarah itu.
Selain itu, meski
sekilas terlihat mewah, kualitasnya sulit dikatakan tinggi. Penjahitnya memang
berhasil menutupi luka panah dari pemburu yang amatir dengan baik, tapi itu
tidak bisa menipu mata seorang pemburu yang sudah sering menangkap serigala
dengan tangannya sendiri.
"...Tujuh
puluh."
"Tidak, aku
hanya berani bayar empat puluh. Kalau lebih dari itu, yah, sepertinya mantel
ini memang lebih cocok dilahirkan kembali sebagai lapisan dalam saja."
Berbagai
konflik batin berkecamuk di kepala si pemilik toko. Namun setelah
mempertimbangkan biaya perbaikan, kemungkinan terjual dalam bentuk asli, dan
harga beli—yang saat itu juga ia tawar habis-habisan—ia memutuskan untuk
melepaskannya dengan harga yang dipatok Mergit.
"Astaga,
sulit sekali berurusan dengan pemburu. Apalagi kalau soal bulu hewan."
"Aku akan
membeli barang lain juga, jadi tolong dimaafkan, ya. Mari kita lihat... Ah, apa
kau punya yang seperti itu? Ukuran yang pas untuk tubuhku."
Kepada si pemilik
toko yang mengedikkan bahu seolah berkata "bawa saja sana, dasar
pencuri", Mergit menunjuk ke arah pakaian lain sebagai tanda permintaan
maaf.
Namun, respon
yang ia dapatkan adalah wajah masam yang sulit dilukiskan kata-kata.
"...Kau mau
pakai itu?"
"Apa ada
yang aneh?"
Yang ditunjuk Mergit
adalah pakaian dari kulit samak yang diwarnai hitam. Pakaian itu mengekspos
bagian perut, bahu, dan leher secara terang-terangan. Jika seorang pria
berambut pirang tertentu melihatnya, ia mungkin akan memberi ulasan pedas
seperti, "Apa ini kostum cosplay succubus?"
Kenyataannya, itu
memang baju bekas yang mengalir dari toko yang "agak spesial". Saat
barang itu dipaksakan padanya, si pemilik toko pun sempat bergumam, "Duh,
ini mau diapakan, sih?"
Namun,
selera setiap ras memang berbeda-beda. Ada ras yang menertawakan manusia yang
memakai perhiasan berlebihan, ada pula ras Demi-human yang menganggap
berpakaian nyaris telanjang adalah pakaian formal.
Menyela
dengan komentar seperti, "Kalau kau jalan di sampingku dengan baju itu,
bukankah aku akan dianggap sebagai pria dengan kelainan seksual?" rasanya
sangat tidak sopan.
"Sepertinya
tidak ada lagi..."
"Begitu
ya, sayang sekali. Tapi
mungkin akan jadi bagus kalau sedikit diperbaiki. Bagaimana kalau kau berikan
padaku seharga sepuluh Libra?"
Wajah si pemilik
toko yang sudah masam menjadi semakin masam. Namun, karena itu adalah barang
khusus yang toh tidak akan laku dengan harga tinggi, ia pun mengangguk setuju.
Sambil
memanjatkan doa dalam hati untuk pria yang di masa depan harus berdiri di
samping gadis yang mengenakan baju itu...
[Tips]
Selera busana sangat berbeda antar ras. Pakaian yang dianggap normal oleh ras manusia
mungkin saja ditertawakan di tempat lain.
Previous Chapter | ToC | End V7



Post a Comment