NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TRPG Player ga Isekai de Saikyou Build wo Mezasu Volume 7 Bonus Chapter

Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan

Tata Cara Bergaya




Prinsip dasar dalam bergaya adalah pakaian bekas.

"Hmm... Membingungkan sekali, ya."

Meski industri manufaktur di Kekaisaran Tiga Lini tergolong maju berkat pengaruh sihir dan alat magis jika dibandingkan dengan Bumi pada abad ke-12 hingga 16, teknologi mereka belum setara dengan industri modern. Akibatnya, harga pakaian secara umum sangatlah mahal.

Bukan hanya jubah sutra yang dikenakan para bangsawan, bahkan pakaian berwarna cokelat tua dengan noda mencurigakan—yang membuatmu ingin bertanya pada pemilik toko dari mayat mana baju itu dikuliti—pun tidak bisa dikatakan murah.

Setidaknya, kau harus merogoh kocek beberapa keping perak. Jika dihemat, uang sebanyak itu cukup untuk menghidupi manusia selama berhari-hari.

"Yang ini agak besar, tapi mungkin bisa dipakai kalau sedikit diperbaiki. Tapi, aku tidak suka warnanya..."

Oleh karena itu, pakaian biasanya dibuat sendiri oleh anggota keluarga yang terampil, atau mengandalkan pakaian bekas. Jika ingin menjahit baju baru dari nol, biaya kain dan upah jasanya akan menjadi sangat fantastis.

Sebagian besar rakyat jelata baru mendapatkan kesempatan mengenakan baju yang belum pernah dipakai orang lain saat hari pernikahan mereka.

"Hmm, tapi masa pakai baju ini singkat, ya. Sebentar lagi akan dingin, mungkin lebih untung kalau cari yang agak tebal..."

Karena alasan itulah, ada banyak toko pakaian bekas di Kekaisaran.

Ada toko yang merangkap sebagai pegadaian di sudut kota, ada pula kafilah dagang yang menjajakan kain-kain perca hasil perbaikan dari berbagai tempat.

Mungkin hanya desa terpencil yang tidak memiliki toko baju bekas, di mana penduduknya hanya bisa melakukan barter pakaian antar sesama warga.

"Jangan diaduk-aduk begitu, ya. Nanti aku lupa di mana aku menaruh barang-barangnya," ujar si pemilik toko.

"Aku mengerti, Pemilik Toko."

Namun, jika manusia modern melihat toko baju bekas yang dikunjungi Mergit ini, mereka pasti tidak akan bisa membedakannya dengan tempat pembuangan sampah.

Tumpukan baju bekas dijejalkan begitu saja ke dalam kotak-kotak kayu seadanya. Memang ada pemisahan antara pakaian pria dan wanita, atau antara atasan dan pelindung kaki, tapi penataannya sangat berantakan hingga nyaris tak ada bedanya.

Mungkin si pemilik toko tahu di mana ia menyimpan segalanya, tapi bagi pelanggan, tidak ada pilihan lain selain membenamkan kepala ke dalam tumpukan baju berbau apek dan menggerakkan tangan sembari berdoa agar menemukan barang bagus.

Meski begitu, Mergit tidak mengeluh ataupun merasa aneh. Baginya, justru dunia modern yang terlihat asing—di mana toko baju bekas memajang barangnya di gantungan satu per satu, dan mengenakan pakaian andalan pada manekin di depan toko.

Walaupun Mergit adalah seorang nona muda dari keluarga terpandang di Konigstuhl, ia sama sekali tidak merasa keberatan berada di toko baju bekas yang kacau ini.

"Tapi, melihat seorang Arachne datang membeli baju itu pemandangan yang cukup unik, ya," gumam si pemilik toko.

Di dalam toko yang dipenuhi aroma tak terbantahkan dari tumpukan baju, si pemilik toko yang sedang duduk di bagian dalam sambil menjahit itu menghela napas ke arah si pemburu.

"Struktur tubuh kami berbeda dengan kalian yang bisa mengeluarkan benang sebanyak apa pun. Jika aku mencoba memintal benang sendiri untuk membuat kain, seumur hidup pun mungkin hanya bisa jadi tiga atau empat potong baju saja."

"Sama-sama berkaki delapan, tapi ternyata berbeda jauh, ya."

Pemilik toko itu adalah seorang manusia laba-laba. Namun, ia berasal dari spesies Joro-gumo, berbeda dengan Mergit. Ia memiliki cangkang panjang berbintik kuning dan hitam; jenis laba-laba pembuat jaring yang menyebar dari Laut Dalam Selatan.

Kemampuan mereka mengeluarkan benang dalam jumlah besar dan membangun sarang sangat berkaitan erat dengan produksi benang. Karena itulah, ras mereka seolah terlahir untuk industri tekstil. Banyak dari mereka yang menyambung hidup dengan menenun kain atau menjadi tukang jahit, tidak terkecuali di Kekaisaran.

Pemilik toko ini pun mencari nafkah dengan memanfaatkan benang yang ia hasilkan untuk memperbaiki dan menghidupkan kembali baju-baju lama.

Menurut pengakuannya, ia merasa tidak cocok dengan pekerjaan menenun atau merancang busana, jadi ia hanya fokus pada perbaikan. Di sekitar sini, tokonya sangat populer dan dikenal sebagai toko baju bekas "paling awet".

"Bagi kami, benang lebih merupakan tali penyelamat daripada sekadar alat pembuat jaring atau tempat tidur. Ya, kami hanya bisa mengeluarkannya secukupnya saja," jelas Mergit.

"Hoo, tidak praktis juga ya. Kupikir semua jenis Arachne tidak akan pernah kelaparan karena benangnya saja bisa jadi uang."

Wajah wanita paruh baya yang tampak lesu dan misterius itu, yang bertengger di atas tubuh berbintik besar jika dibandingkan kaki rampingnya, menunjukkan ekspresi terkejut. Di dunia di mana informasi individu sangat terbatas, wajar jika ia merasa heran melihat perbedaan ekologis meski bentuk mereka serupa.

"Yah, setidaknya kami bisa mencari uang lebih mudah daripada orang-orang berkaki dua itu... Ngomong-ngomong Pemilik Toko, yang ini harganya berapa?"

"Bukannya itu agak besar untukmu? Yah, kalau kau mau, harganya lima belas Libra."

"...Bukankah itu agak keterlaluan?"

Yang ditarik Mergit dari kotak adalah atasan tebal yang terbuat dari wol. Mungkin sebelumnya dipakai oleh ras kerdil atau sejenisnya; meski desainnya untuk orang dewasa, ukurannya pas dengan tubuh kecil Mergit. Jika sedikit diperbaiki, ini akan menjadi pakaian musim dingin yang nyaman.

"Kualitasnya bagus lho, itu. Apalagi baju wol sangat populer di kalangan orang-orang yang tidak tahan dingin, bisa-bisa langsung laku."

"Hmm... Kenyamanan memang penting, tapi aku juga ingin tetap terlihat modis..."

Mergit menghitung di dalam kepalanya, menimbang apakah baju itu layak seharga lima belas keping perak, lalu mengembalikannya ke kotak. Memang terlihat hangat, tapi menurut seleranya, baju itu terlalu polos.

Arachne jenis laba-laba pelompat seperti Mergit tidak menyukai gesekan kain dan lebih suka pakaian dengan eksposure tinggi. Sama seperti ibunya, Mergit merasa lebih cocok memakai baju yang memperlihatkan bahu atau lengan. Ia merasa sangat tidak nyaman jika memakai pakaian tertutup seperti yang biasa dikenakan manusia normal.

Namun, persiapan untuk musim dingin adalah hal mendesak. Karena ia meninggalkan kampung halaman di musim semi, ia hanya membawa baju musim semi dan musim panas agar tidak membawa beban berat. Sisanya hanyalah jubah penahan dingin untuk malam hari dan pakaian berburu.

Mengingat lokasi Marsheim berada di barat, sepertinya mereka tidak akan menderita karena salju tebal. Meski begitu, musim dingin di sana pasti cukup untuk membuat sendi-sendi Arachne berderit kaku. Jadi, pakaian hangat adalah keharusan.

Itu sebabnya ia datang untuk berbelanja sebelum perang memperebutkan baju musim dingin dimulai. Sayangnya, ia belum menemukan satu pun barang yang memikat selera seninya.

Bagaimanapun, ia adalah seorang gadis. Menjadi hangat saja tidaklah cukup. Harus imut, sesuai selera, dan juga hangat... Sambil membawa daftar keinginan yang panjang itu, tangan kecilnya terus "berenang" di dalam lautan pakaian.

"Hmm... Sebenarnya kau ingin yang seperti apa?"

"Begini, karena ini pakaian harian, aku tidak akan terlalu menuntut soal kemudahan bergerak atau gesekan kain. Tapi jika bisa, aku ingin yang pas di kulit, atau malah sekalian yang sangat longgar. Tentu saja aku tidak suka yang kedodoran..."

"Kalau begitu, bagaimana kalau pakai sistem berlapis?"

Si pemilik toko tiba-tiba menghilang ke bagian dalam, lalu kembali sambil membawa satu barang dari stoknya.

"Pakailah baju tipis di dalam, lalu kenakan luaran yang tebal. Lagipula, penampilanmu saat berbaju tipis kan hanya ingin kau perlihatkan pada pria idamanmu, bukan?"

Barang yang ia keluarkan adalah mantel bulu yang sangat megah, bahkan terasa tidak pantas berada di toko baju bekas. Bulu putih dengan sedikit semu abu-abu itu mungkin milik serigala.

Mantel dengan lengan panjang yang bisa dipakai sebagai luaran maupun pakaian dalam itu entah kenapa sangat pas dengan tinggi badan Mergit.

Mungkin karena Mergit merawat rambutnya dengan bersih, memakai minyak rambut, dan mengenakan pakaian yang tercuci rapi, si pemilik toko menganggapnya punya uang dan mengeluarkan barang yang tidak dipajang di depan toko.

"Wah, mewah sekali... Ini bulu serigala hutan, ya? Tapi sepertinya dari individu yang masih muda."

Sebagai seorang pemburu, Mergit menyipitkan mata untuk menilai kualitas barang tersebut, dan ia bisa langsung tahu dari hewan apa bulu itu berasal.

Ini adalah bulu serigala yang banyak hidup berkelompok di Kekaisaran. Melihat warna bulunya, kemungkinan besar ini diburu di wilayah utara. Serigala di selatan memiliki bulu yang sedikit lebih gelap menyesuaikan dengan minimnya salju.

"Iya, asalnya ini milik anak bangsawan yang digadaikan. Tapi, mantel ukuran anak-anak begini tidak mungkin laku terjual pada orang-orang di sekitar sini. Makanya tadinya aku terpikir untuk membongkarnya dan menjadikannya lapisan dalam penahan dingin saja."

Bangsawan pun tidak membuang baju lama mereka melainkan menjualnya, dan bangsawan miskin pun terkadang menggunakan jasa toko baju bekas. Ada toko baju bekas khusus yang menangani pakaian kelas atas untuk kaum bangsawan, bukan untuk penduduk bawah tanah.

Dalam jaringan seperti itulah barang-barang mengalir selama bertahun-tahun. Barang yang tersisa akan dibuang ke pasar bawah tanah, dan sering kali tren mode bangsawan baru diadopsi oleh masyarakat umum setelah waktu yang lama.

Pakaian ini adalah salah satu yang mengikuti aliran tersebut. Karena keunikannya yang ekstrem, sepertinya baju ini sulit terjual.

Bagi anak-anak, memakai bulu terasa terlalu berlebihan. Mungkin di tempat lain berbeda, tapi di Kekaisaran, bulu adalah pakaian untuk orang dewasa, sehingga tidak cocok dikenakan anak-anak. Di sisi lain, bagi orang dewasa dari ras berukuran kecil, mantel ini kurang memiliki "wibawa".

Orang-orang yang sengaja memakai bulu biasanya ingin mengenakan "sejarah" yang dimiliki bulu tersebut sebagai hiasan. Misalnya, hewan itu telah menimbulkan berapa banyak kerusakan, atau diburu tanpa cacat oleh pemburu ternama; mereka menginginkan nilai tambah seperti itu.

Dalam hal itu, bulu pada mantel ini sepertinya tidak memiliki asal-usul khusus, dan warnanya pun agak nanggung. Jika warnanya putih bersih yang langka, atau pola bulu yang sekilas langsung terlihat sebagai milik serigala tangguh, mungkin akan cocok untuk bangsawan dewasa.

Satu-satunya orang yang mungkin menghargai barang seperti ini hanyalah orang aneh di ibukota yang memiliki selera hidup yang berbeda sendiri.

"Hmm... Berapa harganya?"

"Satu Drachma."

"Itu pemerasan. Paling mahal harganya cuma dua puluh lima Libra."

"Jangan bicara sembarangan, Nona. Lihat jahitannya, kalau kau merawatnya dengan benar, ini bisa bertahan sepuluh atau dua puluh tahun tanpa perlu diperbaiki."

"Penyamakannya kurang halus. Lalu, meski kau mencoba menyembunyikannya di balik jahitan dengan rapi, pemburu yang menangkapnya sangat tidak terampil. Ada tiga atau empat bekas luka panah yang membuatnya terlihat buruk. Apalagi setelah panah pertama meleset, dia pasti melakukan ini dan itu..."

Si pemilik toko menggertakkan gigi. Itu karena semua ucapan Mergit benar adanya.

Meski dulunya milik bangsawan, mungkin itu dari keluarga bangsawan luar yang tidak memiliki kedudukan tinggi. Entah karena adat daerah atau apa, mereka memberikan bulu pada anaknya, lalu ditertawakan karena dianggap "tidak pantas", hingga akhirnya berakhir di tempat pegadaian. Si pemilik toko mengetahui sejarah itu.

Selain itu, meski sekilas terlihat mewah, kualitasnya sulit dikatakan tinggi. Penjahitnya memang berhasil menutupi luka panah dari pemburu yang amatir dengan baik, tapi itu tidak bisa menipu mata seorang pemburu yang sudah sering menangkap serigala dengan tangannya sendiri.

"...Tujuh puluh."

"Tidak, aku hanya berani bayar empat puluh. Kalau lebih dari itu, yah, sepertinya mantel ini memang lebih cocok dilahirkan kembali sebagai lapisan dalam saja."

Berbagai konflik batin berkecamuk di kepala si pemilik toko. Namun setelah mempertimbangkan biaya perbaikan, kemungkinan terjual dalam bentuk asli, dan harga beli—yang saat itu juga ia tawar habis-habisan—ia memutuskan untuk melepaskannya dengan harga yang dipatok Mergit.

"Astaga, sulit sekali berurusan dengan pemburu. Apalagi kalau soal bulu hewan."

"Aku akan membeli barang lain juga, jadi tolong dimaafkan, ya. Mari kita lihat... Ah, apa kau punya yang seperti itu? Ukuran yang pas untuk tubuhku."

Kepada si pemilik toko yang mengedikkan bahu seolah berkata "bawa saja sana, dasar pencuri", Mergit menunjuk ke arah pakaian lain sebagai tanda permintaan maaf.

Namun, respon yang ia dapatkan adalah wajah masam yang sulit dilukiskan kata-kata.

"...Kau mau pakai itu?"

"Apa ada yang aneh?"

Yang ditunjuk Mergit adalah pakaian dari kulit samak yang diwarnai hitam. Pakaian itu mengekspos bagian perut, bahu, dan leher secara terang-terangan. Jika seorang pria berambut pirang tertentu melihatnya, ia mungkin akan memberi ulasan pedas seperti, "Apa ini kostum cosplay succubus?"

Kenyataannya, itu memang baju bekas yang mengalir dari toko yang "agak spesial". Saat barang itu dipaksakan padanya, si pemilik toko pun sempat bergumam, "Duh, ini mau diapakan, sih?"

Namun, selera setiap ras memang berbeda-beda. Ada ras yang menertawakan manusia yang memakai perhiasan berlebihan, ada pula ras Demi-human yang menganggap berpakaian nyaris telanjang adalah pakaian formal.

Menyela dengan komentar seperti, "Kalau kau jalan di sampingku dengan baju itu, bukankah aku akan dianggap sebagai pria dengan kelainan seksual?" rasanya sangat tidak sopan.

"Sepertinya tidak ada lagi..."

"Begitu ya, sayang sekali. Tapi mungkin akan jadi bagus kalau sedikit diperbaiki. Bagaimana kalau kau berikan padaku seharga sepuluh Libra?"

Wajah si pemilik toko yang sudah masam menjadi semakin masam. Namun, karena itu adalah barang khusus yang toh tidak akan laku dengan harga tinggi, ia pun mengangguk setuju.

Sambil memanjatkan doa dalam hati untuk pria yang di masa depan harus berdiri di samping gadis yang mengenakan baju itu...


[Tips] Selera busana sangat berbeda antar ras. Pakaian yang dianggap normal oleh ras manusia mungkin saja ditertawakan di tempat lain.




Previous Chapter | ToC | End V7

0

Post a Comment

close