Chapter 181 — Pantai Kebahagiaan
— Garis dunia
β(Beta) —
“Gila… pantai
seluas ini beneran pantai pribadi?”
Aku tidak bisa
menahan tawa melihat skalanya.
Pantai sebelah
penuh sesak karena musim liburan… tapi kami bisa bermain seluas ini tanpa
terganggu.
“Kalau begini,
nggak perlu khawatir ada yang nyamperin atau coba-coba ngajak kenalan. Sempurna banget,” kata Rika dan ketua klub sambil
tersenyum puas.
Memang benar,
kalau dua orang itu dibiarkan di pantai umum, pasti bakal ramai. Meski mereka hanya berdiri menunggu sesuatu pun sudah
menarik perhatian.
Apalagi ketua
klub yang kurang pandai berkomunikasi—kalau ada yang ngajak ngomong, pasti jadi
masalah.
“Wah, dingin
banget!” Takuji langsung masuk ke air laut dan kaget dengan suhunya.
Sementara
Katsuya berkata, “Gimana ya… apa aku kabur ke pantai sebelah buat nyari cewek?”
dengan nada bodohnya.
Kenapa juga
repot-repot pergi ke tempat yang penuh sesak…
Ketua klub
dan Rika membuat istana pasir dekat air. Meskipun mereka mengenakan pakaian
renang, keduanya tetap memakai T-shirt karena tidak ingin terlalu banyak
memperlihatkan kulit.
Sementara dua
gadis itu bermain pasir, kami para cowok berenang, lomba kecepatan, dan saling
dorong-dorongan di air seperti anak kecil.
“Semuaaa! Ayo
main pecah semangka! Istirahat sebentar dulu!” Rika melambai dari tepi pantai.
Ah, kegiatan
klasik. Rupanya ketua klub sudah membeli semangka kemarin dan menaruhnya di
kulkas.
Semangka dingin
di pantai panas… surga.
“Oryaa—!”
Katsuya yang
matanya sudah ditutup mengambil tongkat kayu dan mendekati semangka.
Aku langsung merasa was-was.
Sebagai
permainan, ini mungkin lucu… tapi alurnya seperti sudah kebaca.
Katsuya itu
berbakat dalam segala hal. Dan beruntung.
Artinya…
Blaaag!--Suara benda keras menghantam benda keras pun
terdengar.
Tentu saja
semua orang serempak berteriak, “Eeeeh!?”
Begitulah
hasilnya: pemain pertama mengena tepat sasaran dan langsung memecahkan
semangka hanya dengan satu pukulan.
Sungguh
pelanggaran tak tertulis dalam dunia pecah semangka.
Sepertinya
Katsuya sendiri tahu dia baru saja bikin kesalahan.
“Gini kan enak.
Kita bisa makan semangka yang dingin banget. Semangka itu kan paling enak kalau
dingin,” katanya mencoba membela diri.
Alasannya memang
dipaksakan… tapi entah kenapa semua orang tertawa, mungkin karena suasananya
yang sudah menyenangkan.
Kami makan
semangka dingin itu sambil menatap lautan dengan senyum di wajah masing-masing.
Rika yang duduk
di sebelahku berbisik kecil.
“Setelah
makan semangka… mau berenang bareng? Kalau sama senpai… aku nggak apa-apa kok nunjukin baju renang.”
Entah karena
serangan mendadak itu, atau cahaya matahari yang terlalu terang… kepalaku
sempat berputar sedikit.
Chapter 182 — Laut dan Langit Biru
Karena dia
berkata “Ini memalukan… jadi hanya untukmu saja…”, aku hampir saja spontan
memeluknya . Tapi kalau kulakukan, dia pasti makin malu, jadi aku menahan diri
sekuat mungkin.
“Kalau begitu,
ayo kita pergi.”
Aku mulai
meniup perahu karet hingga mengembang. Rika naik ke atasnya, dan aku
mendorongnya dari belakang.
“Wow… Rasanya
agak takut, tapi kita terus maju ya.”
Kalau
dipikir-pikir, di kehidupan sebelumnya aku tidak pernah pergi ke laut bersama
Rika setelah kami mulai berpacaran.
Karena itu,
rasanya seperti sedang menebus penyesalan masa lalu—dan entah kenapa, itu
membuatku sangat bahagia.
Setelah
berenang sedikit, kami berdua berada di atas laut, hanya berdua. Rika melihat
sekeliling dengan wajah penasaran, lalu melepas kaos yang ia kenakan. Di
baliknya, ia memakai baju renang model dress berwarna pink yang sangat manis.
Kulitnya yang
putih berkilau dan ekspresi wajahnya yang memerah karena malu memperlihatkan
diri dengan pakaian renang… momen singkat ini rasanya menjadi harta karunku
sendiri.
Kaos yang
tadi ia lepas, ia letakkan di atas perahu. Dengan itu, terciptalah ruang khusus
hanya untuk kami berdua.
“Rika.”
Aku
mengulurkan tangan. Dengan ragu, Rika meraihnya dan masuk ke dalam air.
Karena posisi
kami seperti sedang berpelukan, aku menahan sebagian berat tubuhnya.
Tubuh kami
menempel erat. Aroma manis—yang tak bisa disamarkan hanya dengan bau
laut—ditambah kehadiran wanita yang paling kucintai, membuat seluruh tubuhku
sadar sepenuhnya bahwa dia ada tepat di sini.
Rika
memelukku sambil mengeluarkan pekikan kecil, “Kya…!” Tubuh kami tenggelam
sedikit ke air lalu mengapung lagi. Momen sederhana seperti ini… rasanya
menyenangkan.
Setelah tanpa
sengaja menelan sedikit air laut dan tersedak geho-geho, kami malah
saling tertawa.
Dengan
menggunakan dua pelampung yang kami letakkan di atas perahu, kami mulai
“berenang” secara mengapung. Atau sebenarnya bukan berenang—lebih tepatnya
hanya mengambang sambil terbawa ombak.
“Dingin dan
enak, ya…”
Kami saling
menggenggam tangan sambil tetap mengapung.
Saat tubuhku
terlentang seperti posisi renang punggung, langit terlihat sangat cerah. Tidak
ada satu pun awan. Sinar matahari cukup menyengat, tapi kontras dengan laut
membuat warna biru dan kilaunya terlihat makin indah. Kami berdua menatap
langit yang sama.
Hanya
mengapung sambil berpegangan tangan dan menikmati keindahan ini bersama.
Karena pernah
kehilangan semua ini sekali, aku jadi benar-benar mengerti betapa berharganya
waktu sederhana seperti ini.
“Seru, ya.”
“Iya.”
Kami tidak
melakukan sesuatu yang istimewa. Hanya bermain di laut sambil menjalani
training camp bersama teman satu klub… tapi entah kenapa, musim panas anak SMA
memang selalu terasa istimewa.
“Senpai?”
Rika bangkit dari
posisinya dan menarik pelampungku mendekat. Tanpa memberiku waktu untuk berkata
“Eh?”, tubuh kami menempel erat—dan dia mencuri bibirku.
Setelah ciuman
itu, yang bisa kulakukan hanyalah mendengar gumamannya yang malu-malu, “Aku
pikir… setidaknya segini boleh, kan…”
Chapter 183 — Kepercayaan
“Kita terlalu
bersemangat ya.”
“Iya.”
Setelah
benar-benar menikmati masa muda kami, kami kelelahan dan berbaring di atas
perahu sambil menatap langit.
Kalau
dipikir-pikir, kami berdua sama-sama tipe yang lebih suka aktivitas indoor,
jadi stamina kami cepat habis, dan jadinya seperti ini.
“Padahal setelah
ini masih ada barbeqyue…”
Rika tertawa
kecil.
“Tidak apa-apa.
Justru begini rasanya makan nanti bakal lebih enak.”
“Itu memang
benar, tapi…”
“Dan lagi…”
“Ya?”
“Kenangan musim
panas ini tidak akan pernah kulupakan. Aku baru sadar sesuatu. Memang menabung
dan belajar itu penting, tapi yang paling berharga itu kenangan. Karena momen
menyenangkan itu… saat kita sudah tua nanti tidak bisa dibeli dengan uang.
Kenangan musim panas sebagai anak SMA seperti ini… hanya bisa dibuat hari ini.”
Begitu
mengucapkannya, aku langsung merasa menyesal. Itu terdengar seperti omongan paman-paman tua. Mirip
orang yang suka ceramah di acara minum-minum kantor sambil membicarakan masa
muda yang tak dipahami anak-anak muda zaman sekarang.
Padahal aku
pernah bersumpah untuk tidak jadi orang seperti itu. Di kehidupan
sebelumnya—sebagai pria paruh baya—aku yakin tidak pernah melakukan hal seperti
itu.
Tapi kenapa
justru aku yang sudah kembali muda sebagai siswa SMA malah bicara seperti
om-om!?
Aku bisa
membayangkan, nanti saat pulang dan teringat percakapan ini, aku akan
berguling-guling di kasur sambil malu sendiri. Ini pasti masuk
daftar black history hidupku.
“Benar juga ya. Kita memang hanya punya momen ini saja. Kalau begitu, kita harus
menikmatinya sepuas mungkin!”
Syukurlah Rika
justru menyetujuinya. Aku hampir terharu sampai mau menangis.
“Hei, Rika. Saat
liburan musim panas nanti, bagaimana kalau kita pergi sedikit jauh berdua?
Tidak harus menginap sih, pasti sulit. Tapi… mungkin Kamakura, Yokohama, atau
Nikko—yang bisa pergi pulang dalam satu hari. Aku ingin melakukan perjalanan
kecil bersamamu.”
Mendengar usul
itu, mata Rika langsung berbinar. “Iya! Itu janji ya!” katanya dengan suara
ceria.
“Hmm, kira-kira
ke mana ya… Kalau Yokohama, bisa makan di Chinatown lalu pergi ke Red
Brick Warehouse. Kalau Kamakura,
kita bisa jalan-jalan di Enoshima dan makan shirasu-don. Kalau Nikko, bisa ke
Toshogu lalu makan soba dengan yuba.”
Entah kenapa aku
selalu menggabungkan wisata dengan kuliner. Mungkin ini efek jiwa om-om yang masih menempel. Mengatakannya saja membuatku sedikit malu.
“Kemana pun kita
pergi pasti menyenangkan,” jawab Rika sambil tersenyum lebar.
“Benarkah?”
“Tentu saja.
Karena aku bersama senpai.”
Dengan wajah malu
tapi tulus, Rika menyampaikan perasaannya.
“Selama aku bisa
bersamamu, aku akan menikmati tempat mana pun. Jadi… kalau itu bersamamu, aku
ingin ikut ke mana saja. Sekalipun di depan ada kesulitan besar menunggu, kita
pasti bisa melewatinya.”
Selesai
berkata begitu, Rika menatapku sambil tersenyum lembut. Dan kali ini, akulah
yang mencuri bibir Rika.
Chapter 184 — Barbeque yang Menyenangkan
Setelah puas
bermain di laut, kami langsung melanjutkan ke sesi barbeque.
Rangkaian
rasa berdebar yang terus berlanjut ini benar-benar menyenangkan. Sejak tadi
malam aku sudah tidak sabar untuk memanggang daging yang sudah direndam.
Kecap asin,
gula, gochujang, bawang putih, jahe, dan apel parut—itu bumbu rendaman buatan
sendiri ala bulgogi. Di dalam bumbu itu aku juga merendam daging bersama wortel
dan bawang bombay. Dengan begini, daging murah pun bisa jadi hidangan mewah,
cocok sebagai menu utama barbeque. Selain itu aku juga sudah menyiapkan kimchi,
daun selada, shiso, mentimun, dan daun bawang—jadi bisa dimakan ala Korea kalau
mau.
Dan tentu
saja, kalau sudah di pantai, menu wajibnya adalah hamayaki—grill seafood
di tepi pantai. Kami membeli banyak udang dan kerang. Dibakar begitu saja lalu
dimakan dengan ponzu, ditemani parutan lobak—sempurna. Bahkan kami juga membuat
hidangan terbaik: ajillo dengan minyak zaitun, bawang putih, dan herbs.
Formasinya
benar-benar sempurna. Semangat barbeque-ku membara.
Sebagai
tambahan, sepertinya ayah ketua klub juga ikut terseret dalam demam barbeque.
Saat kami bermain di laut, beliau pergi ke Costco terdekat dan membeli
sebongkah lidah sapi dan steak besar-besaran. Jumlah makanannya sampai terasa
berlebihan, tapi justru dari situ barbeque terbaik pun dimulai.
“Hey, semua,
lidah sapinya sudah matang!”
Begitu aku
menuangkannya ke piring setelah memberi perasan lemon, semuanya langsung ludes
seketika. Nafsu makan anak muda memang tak terbatas. Dulu saat barbeque bersama
teman-teman kantor, aku sering melihat para karyawan baru makan daging dengan
lahap. Dan sebagai pria dewasa, hanya dengan melihat anak muda makan daging
dengan nikmat saja, rasanya sudah ikut kenyang.
“Hebat juga kamu,
Yaguchi-kun. Masih muda
tapi gayamu benar-benar seperti master barbeque.”
Ayah sang
ketua berkata begitu sambil tertawa. Ia sendiri sedang memanggang steak Amerika
raksasa dengan gaya yang sangat percaya diri.
“Bapak juga hebat
sekali. Sudah sangat terbiasa, ya!”
“Tentu saja.
Waktu kuliah di Amerika, aku sering barbeque seperti ini untuk akrab dengan
mahasiswa di sana. Sampai-sampai aku pernah dijuluki Grand Master of the West
Coast, haha.”
Aku tidak bisa menahan tawa, tapi sejujurnya, itu tidak
terdengar seperti kebohongan.
Memang ada
kompetisi barbeque di Amerika. Aku pernah menonton acara kompetisi barbeque ala
survival di Netflix dulu—sungguh intens.
“Yaguchi-kun,
nice beef!”
Karena suasananya
semakin aneh dan penuh semangat, aku dan ayah sang ketua sama-sama tertawa.
Rasanya seperti muncul sedikit ikatan persahabatan aneh antara kami.
Mungkin karena
menyadari suasana mulai liar, Rika kemudian mendekat dan berbisik lembut di
telingaku.
“Senpai yang
sedang memanggang daging itu… juga terlihat keren, tahu.”
Sensasi panas
yang berbeda dari tadi langsung menjalar ke seluruh tubuhku…
Chapter 185 — Pertemuan di Afrika
— Sudut
Pandang Mantan Ketua OSIS —
Sejak datang
ke tempat ini, harga diriku hancur berkeping-keping.
Aku tidak
bisa berkomunikasi dengan orang lokal. Setiap kali ingin bertanya sesuatu,
mereka menatapku seolah aku makhluk aneh. Apa-apaan perempuan ini? Bicara
saja tidak bisa?—begitulah tatapan yang kuterima sebelum akhirnya
diabaikan. Berkali-kali. Rasanya sangat
memalukan.
Namun yang jauh
lebih menyakitkan adalah… ayahku.
Bahasa yang
membuatku tersiksa justru bisa ia gunakan dengan lancar. Ia bahkan bercanda dengan orang-orang lokal—senyum
yang tidak pernah ia berikan padaku sekalipun.
“Ayahmu luar
biasa,”
“Tidak heran, dia
memang ace perusahaan kami. Jago bahasa asing pula.”
“Sahara itu
dulunya kawasan hijau, lho. Karena pemanasan global, curah hujan meningkat dan
daerah hijau perlahan bertambah. Tapi menghijaukan gurun sambil tetap
mempertahankan ekosistemnya itu sangat sulit. Karena itu proyek ini
penting—membantu orang-orang yang menderita karena kekeringan sambil menjaga
ekosistem gurun. Ayahmu itu spesialis air. Kamu tidak tahu? Ya wajar, dia orang
yang rendah hati. Soalnya dalam urusan pembangunan infrastruktur air, ayahmu
itu salah satu ahli terbaik di dunia.”
Staf Jepang
seperti begitu mengagumi ayah yang sangat kubenci. Rasanya sesak.
Ibu—yang
meninggalkan ayah—selalu berkata:
“Ayahmu itu
membosankan dan tidak menarik.”
“Pasti dia tidak
dihargai di kantornya.”
“Kalau bukan
karena dia bekerja di perusahaan besar, mana mungkin aku mau menikah
dengannya.”
Apa maksud semua
ini?
Gambaran tentang
ayah yang selama ini kupercayai… mulai retak.
Orang lokal
meremehkanku, sedangkan staf Jepang terus memuji ayah yang kubenci.
Rasanya seperti
disiksa secara mental—seakan aku berubah menjadi orang lain.
Tanpa sadar aku
sudah berdiri di depan mesin penjual minuman asrama.
Kaleng cola
selalu sama di mana pun. Itu memberiku sedikit rasa aman. Satu-satunya tempat
di sini yang membuatku merasa tenang.
“Geser. Aku harus
cepat beli…”
Saat sedang
menatap kaleng cola, suara laki-laki berbahasa Jepang tiba-tiba terdengar dari
belakang. Aku kaget.
Saat kubalikkan
badan… ada wajah yang seperti pernah kulihat. Tidak, mustahil. Tidak mungkin
dia ada di sini. Selain itu, berbeda dari yang kuingat—di wajahnya ada luka
besar, dan wajah tampannya dulu kini tampak sangat lelah, seolah menua sepuluh
tahun.
“Hongo-kun?”
Kata-kata itu
meluncur begitu saja. Dia terlihat sangat terkejut… bahkan sampai menjatuhkan
diri dan terduduk.
“Ke… ketua OSIS?
Kenapa kamu ada di sini…? Jangan lihat aku. Jangan lihat aku yang sudah jatuh
sedalam ini…”
Chapter 186 — Mantan Ketua OSIS Menyadari
Sebuah… Konspirasi?
Begitu melihatku,
Hongo-kun langsung kabur. Aku sempat terpaku, tapi segera mengejarnya. Ya, dia
adalah salah satu murid paling berpengaruh di sekolah—tampan, populer, dan
punya banyak koneksi. Bahkan saat pemilihan ketua OSIS, dia membantuku sehingga
aku bisa menang.
Namun tiba-tiba
saja, dia keluar dari sekolah. Kalau tidak salah, semua itu terjadi karena
sebuah rekaman suara mirip pemerasan bocor ke internet. Siapa yang ia ancam
tidak pernah jelas, tapi masalah itu membesar sampai ayahnya—presiden Hongo
Group—harus menggelar konferensi pers untuk meminta maaf.
Benar… ada rumor
yang mengatakan rekaman itu mungkin ditujukan kepada Yaguchi Michitaka. Tapi
Yaguchi hanyalah siswa tahun kedua yang tidak menonjol dan bahkan berada di
kasta sosial paling bawah. Kami semua dulu menertawakannya—mana mungkin
seseorang seperti itu diancam oleh Hongo.
Tapi sekarang aku
menyadarinya. Kecepatan geraknya, kelicikannya… aku sendiri pernah jadi
korbannya. Yaguchi Michitaka adalah seorang yang sangat licik dan penuh siasat.
Pasti Hongo-kun
dijebak. Tidak mungkin yang lain. Dia menyingkirkan aku—ketua OSIS dengan
pengaruh besar—dan putra keluarga Hongo, pewaris perusahaan. Setelah kami
tersingkir, ia bisa mengatur keadaan sekolah sesuai keinginannya.
Kalau
dipikir-pikir… bahkan “kesalahan” yang menjatuhkanku bisa jadi juga bagian dari
rencananya. Saat memikirkan itu, bulu kudukku meremang. Semua ini... ulah
Yaguchi Michitaka. Kalau begitu, alasan dia berada di sini juga…?
Apa yang
sebenarnya terjadi?
Tidak, tunggu.
Jika Hongo-kun yang dijatuhkan lebih dulu, mungkin Yaguchi adalah kaki tangan
faksi anti-mainstream dalam Hongo Group. Mereka memprovokasi Hongo-kun
berkali-kali, dan begitu ia terpancing, mereka menggunakan itu sebagai alat
untuk menyingkirkannya—membuangnya sampai ke Afrika.
Jika putra
pewaris jatuh, maka pengaruh Presiden Hongo di dalam grup pasti merosot. Itu
akan memberi angin bagi pihak oposisi. Bisa jadi ini adalah kudeta internal
perusahaan.
“Aku harus cepat
menolongnya.”
Hongo Group
adalah perusahaan raksasa di Jepang. Tidak mungkin aku membiarkan perusahaan
sebesar itu direbut oleh orang-orang licik seperti Yaguchi.
Melihat betapa
paniknya Hongo-kun tadi, pasti dia juga mengalami pengawasan atau intimidasi di
tempat ini. Mungkin dia mengira aku datang sebagai sekutu Yaguchi.
Mana mungkin aku
menerima penghinaan seperti itu.
Dia duduk
meringkuk di sudut tembok asrama, memeluk lutut sambil gemetar.
Melihat
seseorang yang dulu begitu percaya diri kini tampak sangat rapuh… entah kenapa,
sisi keibuanku ikut tersentuh.
“Hongo-kun,
percayalah. Aku di pihakmu. Semua ini adalah konspirasi Yaguchi Michitaka.”
Aku berteriak
dari lubuk hatiku.
Chapter 187 — Laki-laki yang Menyadari… Bahwa Dia Diselingkuhi?
— Sudut Pandang Hongo —
Aku bertemu
dengan orang yang paling tidak ingin kutemui. Aku berlari, mencoba kabur, tapi
tidak ada tempat untuk melarikan diri. Pada akhirnya, dunia yang kumiliki hanyalah tempat kerja dan asrama dengan
mesin minuman ini. Ini adalah Sahara, jauh dari Jepang.
Aku bahkan tidak
tahu geografinya. Tapi aku tahu satu hal—pergi terlalu jauh bisa berbahaya.
Pada akhirnya,
aku hanya bisa hidup di dalam “kandang” kecil yang bisa kujangkau.
Menyadari itu
membuatku kembali merasakan betapa tidak bergunanya diriku. Harga diriku sudah
hancur. Di kehidupan sebelumnya, aku adalah calon pewaris sebuah perusahaan
besar, ditakuti sekaligus dielu-elukan oleh para perempuan. Sekarang aku jatuh
sedalam ini… rasanya memalukan sampai ingin menghilang saja.
“ Tunggu.”
Entah apa yang
dia lakukan di sini, mantan ketua OSIS itu terus mengejarku. Memang, kami
pernah sebentar menjadi sepasang kekasih di kehidupan sebelumnya. Tapi hubungan
itu membosankan, jadi aku langsung memutuskannya. Itu sebabnya aku tak sanggup
membiarkan orang seperti dia melihat kondisiku yang sekarang. Aku hanya bisa
lari.
Kenapa aku
begini? Aku tidak bisa apa-apa. Bahkan penduduk lokal yang tidak paham situasi
saja meremehkanku.
“Bukan begitu.
Aku bukan mau menyalahkanmu. Kita semua dijebak oleh Yaguchi Michitaka.
Semuanya ini salah dia.”
Kata-kata itu
membuat langkahku berhenti.
Benar. Dia.
Dialah alasan
hidupku hancur sampai seperti ini. Bahkan di kehidupan sebelumnya, dia selalu
selangkah di depan.
Bahkan
Miyabi—yang sudah lama kuincar di sekolah—berakhir berkencan dengannya terlebih
dahulu. Saat aku masuk ke perusahaan ayah dan mulai menapaki jalan menuju
kemuliaan, semua perhatian industri justru tertuju padanya. “Pengusaha muda
jenius”, “talenta yang mampu menghidupkan orang-orang di sekitarnya”—semua
gelar yang kuinginkan justru diperolehnya lebih dulu.
Karena itulah aku
bergantung pada hubunganku dengan Miyabi. Satu-satunya area di mana aku merasa
lebih unggul darinya. Pada akhirnya, aku melampiaskan seluruh rasa rendah
diriku pada Yaguchi… dan kali ini aku benar-benar dihancurkan.
“Apa maksudmu?”
Tanpa sadar aku
bertanya. Aku ingin
mendengar lebih jauh.
Mantan ketua OSIS
itu menjelaskan semuanya. Kemungkinan bahwa Yaguchi terhubung dengan faksi
anti-mainstream di dalam Hongo Group. Dan bahwa kejatuhanku mungkin bagian dari
rencana Yaguchi.
Benar… masuk
akal. Hidupku tidak seharusnya berakhir
seperti ini. Di kehidupan sebelumnya, hal seperti ini tidak pernah terjadi.
Artinya…
Ini semua
adalah…
“Semua salah
dia.”
Chapter 188 – Resonansi
Aku akhirnya
menyadarinya.
Aku sudah
dijebak oleh dia sejak kehidupan sebelumnya. Mungkin soal Miyabi juga—Yaguchi
Michitaka pasti sudah tahu semuanya. Dan dia memanfaatkan itu untuk menjatuhkanku.
Kalau begitu,
semuanya masuk akal.
“Begitu ya… aku
selama ini memang dijebak.”
Mungkin, bahkan
tanpa insiden itu pun aku tetap akan dijatuhkan oleh Yaguchi Michitaka.
Kebetulan saja
dia mati karena serangan jantung atau apa pun itu, jadi kebenarannya jadi
samar.
Tapi aku masih
ingat jelas apa yang dikatakan adik tiriku saat aku sudah berada dalam keadaan
vegetatif di kehidupan pertama.
***
“Hei, Kak. Gimana
rasanya kehilangan segalanya… meski sebenarnya kau pasti sudah nggak bisa
dengar, ya.”
“Tapi semua ini
salahmu sendiri, tahu? Aku cuma memanfaatkan kesalahan dan kegagalanmu. Mungkin
ya, kau itu kehilangan semuanya karena orang bernama Yaguchi Michitaka itu.
Kalau saja kau nggak terobsesi dan terus mengusiknya, aku nggak bakal muncul ke
panggung utama. Dan alasan kenapa kau kalah dari bayang-bayang Yaguchi… cuma
satu: perbedaan karisma.”
“Kau cuma
mengumpulkan orang dengan uang dan kekuasaan. Mereka tidak mengikuti dirimu,
mereka mengikuti apa yang kau miliki.”
“Yaguchi beda.
Dia mengumpulkan orang dengan pesonanya sebagai manusia. Makanya, teman dan
bawahannya nggak pernah mengakui dirimu. Kau dan wanita selingkuhanmu kalah
karena kalian tak pernah mengerti apa itu pesona manusia. Akhir hidupmu
sekarang… pas banget buatmu. Raja telanjang sejati.”
***
Ya. Saat itu, dia
sudah memberitahuku jawabannya.
Bahwa aku
kehilangan segalanya karena Yaguchi Michitaka.
Artinya,
kata-kata itu membuktikan bahwa adik tiriku dan Yaguchi bersekongkol di
belakang layar. Dan di kehidupan kali ini pun, aku jatuh ke titik terendah
karena ulah mereka.
Ya… kalau
dipikir, baik kehidupan pertama maupun yang sekarang, kejatuhanku terjadi
terlalu cepat. Itu berarti mereka memang bergerak di belakang layar. Mereka
ingin merebut perusahaan yang seharusnya kuwarisi.
Di kehidupan
pertama, Yaguchi mati sehingga rencana itu gagal… tapi kali ini, mereka
bergerak lebih cepat dari sebelumnya.
Kalau begini
terus, aku benar-benar akan mati sia-sia di padang pasir ini. Atau mungkin
nanti, saat semua orang sudah lupa, aku akan dibunuh diam-diam. Aku punya hak
waris atas harta peninggalan ayah… mereka pasti takkan membiarkannya.
“Kalau begini
terus, aku akan dibunuh. Yaguchi Michitaka… dialah dalang dari semuanya.”
Mantan ketua OSIS
di depanku bereaksi kaget.
“Jadi benar… aku
sudah mencurigainya!”
Melihat
reaksinya, aku merasa seperti takdir sedang mempertemukan kami.
“Benar. Aku
diusir dari perusahaan karena mereka. Yaguchi dan adik tiriku… merekalah biang
dari semua ini. Kenapa aku tidak sadar lebih cepat…”
“Betapa hinanya
mereka! Tapi tenang. Kita belum selesai di sini. Kita tak boleh selesai. Kita
harus bangkit bersama—untuk membalas dendam!”
Chapter 189 – Kembang Api
Acara Barbekyu yang menyenangkan akhirnya selesai,
dan sekarang kami menunggu kembang api malam.
Menonton kembang api di tepi pantai. Betapa
mewahnya. Biasanya tempat seperti ini pasti penuh dengan wisatawan, tapi karena
ini pantai pribadi, kami bisa menikmatinya sepenuhnya sendiri.
Kami menunggu para gadis yang sedang berganti
pakaian.
Sepertinya ketua klub membawa yukata dan akan
membantu memakaikannya pada Rika juga.
Yukata di tepi pantai saat menonton kembang api. Ya…
betapa mewahnya.
***
“Maaf membuat kalian menunggu”
Rika keluar dari kamar. Yukata bermotif bunga dengan
warna dasar biru. Tampilan itu membuat kesan sopan dan anggun Rika semakin
menonjol. Ketua klub yang berdiri di belakangnya menatap kami sambil tersenyum
nakal, seolah berkata, “Sempurna, kan?”
“Kamu sangat cocok memakai itu”
Harusnya aku bisa mengungkapkannya dengan kata-kata
yang lebih indah, tapi yang keluar hanya kalimat sederhana itu… Meski begitu,
mungkin justru karena kesederhanaannya, kata-kata itu tersampaikan dengan jujur
pada Rika.
“T… t-terima kasih”
Seperti biasa, wajahnya memerah. Ia mencoba
menyembunyikan rasa malunya dengan sedikit memalingkan wajah.
“Kalau begitu, kami duluan ya. Kalian berdua datang pelan-pelan. Tapi jangan
sampai terlalu asyik sampai yukatanya jadi berantakan, ya”
Katsuya berkata sambil tertawa. Malu rasanya. Hanya
sedikit godaan seperti itu saja sudah cukup membuat Rika semakin merah padam.
Yang lain ikut tertawa menggoda lalu pergi
meninggalkan kami.
Aku menunggu sampai Rika tenang, lalu kami berjalan
perlahan.
***
“Kamu belum terbiasa memakai itu, jadi kita jalan pelan-pelan saja ya”
Mendengarnya, Rika tersenyum bahagia dan menjawab,
“Iya.”
Tangannya tok tok menyentuh tanganku. Karena terpana melihatnya, aku sempat lupa. Cara Rika mendekatiku secara
halus seperti itu terasa sangat menggemaskan.
“Hmm, apa ya yang harus kulakukan?”
Sesekali, aku ingin sedikit menggoda. Karena aku
tahu apa yang dia inginkan, aku ingin melihat reaksinya.
“Muu~”
Rika memprotes kecil sambil menatapku dengan mata
memohon.
“Aku cuma bercanda”
Tanpa peringatan, aku menggenggam tangannya. Rupanya
dia tegang. Tangan Rika terasa lebih hangat dari biasanya. Saat aku menikmati
sensasi hangat yang bercampur di antara tangan kami, Rika berkata, “Senpai
jahat…” dengan nada sedikit kesal, tapi aku tahu.
Itu hanya nada bicaranya saja. Dia tidak benar-benar marah.
Bahkan, genggamannya justru semakin erat.
***
“Bawa apa itu?”
Rika melihat kantong yang kubawa.
“Ah, ini tikar piknik. Kupikir kita akan butuh kalau mau nonton kembang api”
“Senpai hebat sekali… sampai menyiapkan semuanya seperti itu”
Aku hanya tersenyum kecut dan mengangguk
mendengar kata-katanya.
Tapi aku tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya.
Bahwa aku ingin membuat momen menonton kembang api bersama Rika menjadi
pengalaman terbaik. Itu terlalu memalukan untuk diucapkan.
Ya… meskipun sepertinya dia sudah tahu.
Karena ketika ia melihat wajahku yang malu, Rika
tersenyum lebar—senyum paling indah yang pernah kulihat.
Chapter 190 — Festival Kembang Api
Ini sudah pasti dibuat-buat. Semua orang menjaga jarak dari
kami dan menonton kembang api dari jauh. Mereka sedang memberi kami ruang. Saat
menyadarinya, rasanya dadaku agak geli campur hangat… tapi kali ini, biar saja
aku menerima kebaikan itu.
Kembang api pertama ditembakkan. Ukurannya terlihat
jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah kulihat. Setelah itu, beberapa
tembakan beruntun menyusul.
“Wah, keren banget.” Rika yang berada di sampingku
terlihat bahagia seperti anak kecil.
Melihat ekspresinya, aku teringat festival kembang
api yang pernah kudatangi bersama Airi di kehidupan sebelumnya. Benar juga,
Airi juga seceria ini waktu itu. Mengingat putriku—yang mungkin tak akan pernah
kutemui lagi—membuat rasa rinduku semakin kuat.
Setidaknya, aku ingin bisa mengucapkan selamat
tinggal.
Kadang, aku melihat sosoknya yang sudah tumbuh
dewasa di dalam mimpi. Mungkin itu hadiah kecil dari Tuhan.
Festival kembang api ini… aku benar-benar ingin
melihatnya berdua dengan Rika. Ini juga karena penyesalan hidupku sebelumnya.
Kalau kupikir-pikir, hidupku dulu memang penuh penyesalan.
Malam itu. Di ruang rumah sakit di dunia sebelumnya.
Beberapa menit sebelum waktu kunjungan berakhir, aku masih bercakap-cakap
dengan Rika. Saat itu, tubuhnya masih cukup kuat, dan aku benar-benar percaya
bahwa waktu itu masih akan berlanjut. Atau mungkin… aku hanya berpegang pada
harapan itu.
Dari luar jendela terdengar suara kembang api.
Sayangnya, gedung-gedung tinggi menghalangi
pandangan, jadi kami hampir tidak bisa melihat apa pun.
“Sayang sekali, ya. Musim panas tahun depan kita
lihat bersama, ya?”
Waktu itu, aku masih punya harapan. Jadi aku
menjawab, “Iya.” Harapan kecil bahwa kami mungkin bisa melihat kembang api
lagi… Tapi janji itu akhirnya menjadi belenggu abadi dalam hatiku.
Rika menggenggam tanganku erat.
Genggaman itu menarikku kembali ke masa kini.
Melihat senyum Rika, ada sedikit beban di hatiku
yang terangkat.
“Senpai… aku benar-benar senang bisa melihat
kembang api bersamamu.”
Mendengar ia berkata jujur seperti itu membuatku
merasa tak tertahankan untuk menyayanginya.
Aku melirik sekeliling. Suasana gelap, dan jarak ke
kelompok lain cukup jauh; wajah mereka tidak terlihat. Ini kesempatan.
Melihat gerak-gerikku, Rika sepertinya langsung
paham segalanya. Ia tersenyum kecil dan menutup mata.
Perlahan, bagian tubuh kami yang saling bersentuhan
semakin bertambah.
Dengan kembang api di sudut mata, kehangatan lembut
Rika perlahan masuk ke dalam pelukanku.
Untuk sesaat, rasanya jarak, waktu, dan seluruh
batas dunia menghilang.
Momen itu pasti hanya berlangsung sebentar… namun
entah bagaimana, ada rasa keabadian di dalamnya. Sebuah waktu yang aneh—namun
indah dan membahagiakan.
Sebuah kembang api besar meledak menerangi langit.
Pada saat itu, bibir kami saling menjauh.



Post a Comment