NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka (Chiramune) Volume 8 Chapter 2

Chapter 2

Apel Beracun dan Sang Penyihir


Ada sebuah malam yang membuatku berpikir, bahwa aku hidup hanya demi malam itu saja.

Ada sebuah tengah malam yang membuatku tenggelam dalam perasaan, bahwa malam seperti ini mungkin takkan terulang dua kali.

Bagiku, itu adalah malam ketika kamu berada di sisiku.

Malam ketika aku membasahi bantal dengan air mata, berulang kali tersentak karena mimpi buruk, ketakutan saat sendiri namun merasa lega saat menyendiri, lalu saat hampir melupakannya segalanya terulang kembali, hingga akhirnya aku bisa terlelap dalam balutan selimut yang hangat.

Aku berharap pagi tak perlu datang.

Aku haus akan hujan yang tak kunjung reda.

Aku berdoa agar rembulan tak pernah tenggelam.

Seandainya aku tidak terbangun saat itu, apakah aku bisa menjadi Putri Salju?

Seandainya aku tidak terbangun saat itu, apakah Sang Pangeran akan memberiku kecupan yang lembut?

Lalu, aku terpikirkan sesuatu.

Ada senja yang memaksa aku menyadari, bahwa malam itu mungkin saja akan direnggut dariku.

Ada keremangan malam yang membuatku bimbang, bahwa mungkin ada orang lain yang berulang kali tenggelam dalam malam yang serupa.

──Seseorang tetap menjadi seseorang, ada sebuah keinginan yang membangkitkan malam yang belum sempat diberi nama.

Aku tak ingin memberikannya, tak ingin menyerahkannya, tak ingin memercayakannya pada siapa pun.

Baik suhu tubuhmu yang lebih tinggi dariku saat disentuh.

Maupun wajah tidurmu yang tanpa pertahanan seperti anak laki-laki.

Suara deru napas yang saling bertumpuk. Alasanku didekap olehmu.

Serta alasanku mendekapmu.

Malam itu tertutup rapat.

Tak peduli berapa banyak percakapan elegan yang kita jalin di bawah terik surya, seberapa sering tatapan polos kita bertemu, atau saat aku berpura-pura menjadi kekasih dan mengecup pipimu──.

Semua itu takkan bisa membuatku memahami setiap sudut dirimu.

Karena itu, dalam dunia rahasia yang hanya milik kita berdua, aku ingin kamu menelanjangi segalanya.

Keluh kesah yang kamu sembunyikan di balik ketangguhanmu. Impuls yang kamu kendalikan dengan rasio.

Hasrat yang kamu bunuh demi estetika.

Kesepian yang tak bisa kamu perdengarkan pada siapa pun. Wajah asli di balik topengmu.

Dirimu yang telanjang tanpa hiasan. Serta hatimu yang sesungguhnya.

Kelupaslah, benturkan, gesekkan, raba, menyatu, dan tumpahkanlah semuanya.

Tak peduli seberapa buruknya itu, seberapa keruh dan pekatnya itu, aku ingin menerima, menelan, dan membiarkannya larut di dalam diriku.

Agar setelah terlelap dalam dekapan, kamu bisa kembali menjadi pahlawan di dunia yang terang dengan wajah tanpa dosa.

──Karena itulah, aku ingin menjadi malam tempatmu menenggelamkan diri.

◆◇◆

Sepulang sekolah di hari Senin minggu berikutnya.

Aku, Chitose Saku, bersama anggota pemandu sorak tim biru kelas dua, Asu-nee sebagai perwakilan kelas tiga, dan Kureha sebagai perwakilan kelas satu, berkumpul di Taman Ikuhisa yang terletak tepat di sebelah Museum Sejarah Prefektur Fukui.

Taman ini memiliki lapangan rumput luas yang sangat cocok untuk latihan, dikelilingi oleh lintasan lari tanah.

Selain itu ada lapangan tenis, area gateball, dan wahana permainan ketangkasan untuk anak-anak, menjadikannya salah satu taman besar di kota ini.

Karena gedung olahraga kedua dan Taman Higashi sudah lebih dulu dipakai oleh tim pemandu sorak warna lain, kami memutuskan untuk melangkah sedikit lebih jauh dari biasanya.

Memasuki bulan Oktober di mana festival sekolah akan segera dilaksanakan, para murid mulai tampak bersemangat. Dari tiga hari pelaksanaan, hari pertama adalah "Festival Luar Sekolah" yang diadakan di aula besar kompleks "Phoenix Plaza", berisi pertunjukan dari klub-klub seni.

Hari kedua adalah "Festival Olahraga", yang menjadi panggung utama bagi kami para pemandu sorak dan pameran replika raksasa. Lalu hari ketiga adalah "Festival Budaya", di mana kelas 2-5 akan mempersembahkan sebuah pertunjukan drama. Berbagai komite pelaksana, klub, dan kelas sedang mempercepat persiapan mereka menuju hari H.

Tentu saja, kami tim pemandu sorak Biru juga tidak terkecuali. Waktu pertunjukan pada hari H adalah tujuh menit. Pemandu sorak dari setiap warna mengenakan kostum buatan tangan dan menampilkan tarian kreasi orisinal yang mereka susun dari nol di lapangan.

Tema tim Biru kami adalah "Bajak Laut". Pada kamp Pelatihan bulan lalu, kami sudah menetapkan alur besar yang terdiri dari empat bagian: "Keberangkatan/Pelayaran", "Pertemuan/Pertempuran dengan Musuh", "Tarian Perdamaian", dan "Perjamuan". Dari bagian Keberangkatan hingga Tarian Perdamaian, kami bahkan sudah menentukan lagu dan koreografinya.

Berkat itu, latihan gabungan yang melibatkan anggota kelas tiga dan kelas satu lainnya sudah bisa dimulai lebih awal, dan tingkat penyelesaiannya pun sudah cukup tinggi. Lantas, mengapa hari ini hanya anggota inti ini saja yang berkumpul? Itu karena koreografi untuk bagian terakhir, "Perjamuan", akhirnya telah rampung.

Meski masih ada waktu sampai hari H, kami tidak punya kemewahan untuk bersantai. Akan lebih efisien jika kami menghafalnya terlebih dahulu sebelum mengajarkannya kepada yang lain, itulah sebabnya kami sudah mulai berlatih lebih dulu sejak tadi.

Haru berseru dengan nada kesal.

"Kaito! Kenapa juga kamu baru malu-malu sekarang, sih!"

"Ta-tapi kan..."

Kureha ikut menimpali sambil memiringkan kepalanya dengan sengaja.

"Kazuki-san juga, lho."

"I-ini sih, bahkan aku pun..."

Nanase tiba-tiba tertawa geli dan berucap dengan suara yang terdengar manis.

"Chitose, manis banget."

"Berhenti dong, itu lebih menyakitkan daripada dimarahi tahu!"

Begitulah keadaannya sekarang, tim cowok yang terdiri dari aku, Kazuki, dan Kaito sedang dalam proses menghafal koreografi sambil dipantau oleh para gadis.

"Oke oke, berhenti dulu!"

Nanase menepukkan tangannya. Tumben sekali aku, Kazuki, dan Kaito sampai terengah-engah kehabisan napas sambil mengeluh bergantian.

"Ini, ternyata lebih dari yang kukira."

"Benar-benar menguras fisik, ya."

"Kenapa juga Kenta bisa melakukannya dengan wajah sedatar itu..."

Ngomong-ngomong, alasan kenapa Kenta tidak ikut dalam kelompok latihan adalah—

"Ah~ nggak bisa, sama sekali nggak bisa!"

Karena dialah orang yang menciptakan koreografi ini.

"Ugh..."

Melihat reaksi kami bertiga, dia mendengus pelan sambil menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit.

"Kalian bertiga ini beneran pemain inti klub olahraga, nggak sih? Ketajaman, groove, dan yang paling penting, kalian benar-benar kurang jiwa chuunibyou. Kalau kalian nggak tampil dengan keyakinan penuh kalau ini tuh keren, perasaan kalian nggak bakal sampai ke hati penonton, tahu."

"Guh..."

Aku ingin protes dan menyuruhnya jangan belagu, tapi karena tadi dia sudah memamerkan contoh yang sangat tajam dan sempurna di depan kami semua, aku tidak bisa membantah.

Terlebih lagi, gerakannya memang terasa keren sampai-sampai aku refleks bertepuk tangan dan berseru "Ooh!".

Meski kami sendiri yang meminta dibuatkan koreografi, aku tidak menyangka akan tertinggal dari Kenta dalam latihan pemandu sorak.

Padahal awalnya dia sangat menolak, tapi sekarang dia malah terlihat sangat bersemangat. Benar-benar sebuah miskalkulasi yang menyenangkan.

Kenta membetulkan letak kacamata pada pangkal hidungnya lalu membuka suara.

"Masing-masing dari kalian, janganlah lalai dalam berlatih."

"SIAP, MASTER!!!!!!"

Setelah kami berteriak putus asa, Nanase mengambil alih.

"Kalau begitu Haru, Kureha, kalau ada yang kalian sadari, tolong beri tahu mereka."

"Sip."

"Baik!"

Aku mengembuskan napas pendek lalu mengedikkan bahu. Hari ini Haru memantau Kaito, Kureha memantau Kazuki, dan Nanase memantau gerakanku masing-masing.

Kenta sendiri sepertinya tipe yang sulit memberi instruksi spesifik karena koreografinya sudah menyatu dengan tubuhnya. "Silakan lihat dan pelajari sendiri," katanya—apa jangan-jangan jiwa dasarnya itu memang atlet?

Sebagai informasi, para gadis di sini memiliki peran lain dalam bagian "Perjamuan", jadi mereka tidak perlu menghafal koreografinya.

Karena itulah, tiga orang yang jago olahraga ini beralih menjadi pendukung kami, sementara Yua dan Asu-nee pergi berbelanja ke supermarket terdekat, dan Yuko sedang bergumam menyanyikan lagu untuk bagian ini dengan ekspresi senang.

"Chitose."

Nanase mendekat ke arahku.

"Soal bagian yang memutar kedua lengan bergantian itu."

"Sori, apa ada yang salah?"

"Mungkin karena kamu terlalu fokus memutarnya dengan cepat, gerakan lenganmu jadi terasa ciut. Terus, seperti kata Yamazaki, aku ingin aura 'lepas'-nya lebih terasa. Kayak waktu kita tarung handstand nggak jelas pas belajar bareng di musim panas, atau kayak waktu anak cowok main pedang-pedangan pas kamp kemarin."

"Begitu ya."

Kenta juga bilang kalau aku kurang jiwa chuunibyou. Kalau dibilang harus menggunakan vibe seperti itu, aku jadi lebih mudah mengerti. Aku mencoba menari sekali lagi sambil memperhatikan poin yang disebutkan.

"Kayak begini?"

Nanase menyipitkan matanya, tampak merasa sedikit geli.

"Hmm, sebentar ya?"

Sambil berucap, dia berpindah ke belakangku. Tangan kanan Nanase memegang lengan kananku, dan tangan kirinya menempel dengan mantap di sekitar pinggangku. Sentuhan itu membuat ujung kausku sedikit tersingkap.

Sret.

Ujung jari yang dingin mengusap lembut bagian pinggang sampingku.

Sensasi halus itu hampir membuatku tersentak kaget, tapi jika melihat betapa kasualnya dia menaruh tangan di pinggangku, sepertinya tidak ada maksud lain.

Mungkin ini sama seperti saat aku mengajarkan posisi melempar bola pada Haru, pikirku mencoba meredam gejolak di hati. Namun tepat saat itu—

"Chitose, jangan kaku begitu."

Puk.

Dada Nanase menempel tepat di punggungku.

──...!!!

Melalui lapisan kaus tipis kami, aku bisa merasakan tekstur lembut nan detail dari bra yang ia kenakan. Berlawanan dengan kata-kata Nanase, tubuhku justru semakin menegang.

"Bodoh, ini terlalu dekat."

Huu...

Embusan napas hangat menggelitik cuping telingaku.

"Sudah, lemaskan saja tenaganya."

Tangan Nanase yang berada di pinggang bergeser pelan ke atas.

"Di sini, dadamu harus lebih dibusungkan."

Saat lenganku ditarik ke belakang, dada lembut itu ikut terhimpit kuat di punggungku dan berubah bentuk.

"W-woi, hei."

"Lalu pinggulnya juga didorong ke depan."

Mengabaikan reaksiku, Nanase menempelkan bagian perut bawahnya ke bokongku. Seketika, suhu tubuhnya yang terasa panas membuatku—

"Tunggu—"

Aku refleks menyentak lenganku dan menjauhkan diri. Merasa bersalah yang tak terkira, aku segera melirik ke sekeliling. Haru sedang sibuk membimbing Kaito, dan Yuko juga terlihat sedang mengecek lirik lagu di ponselnya.

Hanya Kureha yang sedikit menoleh ke arah sini sambil menyunggingkan senyum dewasa, sebelum kembali ke wajah polosnya dan berbicara ceria dengan Kazuki.

Saat aku menoleh perlahan untuk mencari tahu niat aslinya—

"Nanti lebih konsentrasi lagi, ya."

Nanase mengucapkan kalimat yang bisa ditafsirkan macam-macam itu dengan wajah tenang dan senyum tipis.

Kalau dipikir secara normal, maksudnya adalah soal saran tarian tadi, tapi.... Apa aku yang terlalu berlebihan menanggapinya? Tidak, tidak mungkin.

Dia bukan Yuko atau Haru yang dulu, mustahil Nanase tidak sadar akan daya tariknya sendiri sebagai wanita.

Tapi jika ini hanya sekadar godaan biasa, tindakannya sudah terlalu jauh, dan terasa aneh karena dia tidak menyertainya dengan tatapan atau nada suara provokatif yang berlebihan.

"Astaga, apa-apaan sih..."

Sambil bergumam pelan, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Kalau dipikir-pikir, Nanase hari ini memang agak aneh.

──Kejadiannya adalah saat kami menentukan pasangan cowok-cewek untuk mengecek koreografi "Perjamuan".

Sudah menjadi alur yang biasa ketika Kureha langsung mengangkat tangannya paling awal.

Siap! Aku yang akan membimbing Senp—

Seolah memotong kalimat itu, Nanase menyela.

──Aku yang akan berpasangan dengan Chitose.

Tanpa menjelaskan alasannya, dia melanjutkan bicara kepada juniornya itu.

Boleh, kan, Kureha?

Kureha sempat tertegun sejenak, sebelum akhirnya bahunya berguncang pelan karena tertawa geli.

Tentu! Kalau Yuzuki-san sendiri yang bilang ingin mengurus Senpai, maka aku akan dengan senang hati mendaftarkan diri sebagai pasangan Kazuki-san!

Woi.

Lalu aku gimana!?

Waktu itu aku dan Kaito sempat memprotesnya lalu membiarkannya berlalu begitu saja, tapi.... Baru sekarang aku terpikir, jika itu Nanase yang biasanya, dia pasti akan mengalah di situasi seperti itu.

Dug, dug, dug, dug, dug.

Meskipun aku berusaha bersikap setenang mungkin──.

Tubuh dan hatiku masih menyimpan sisa panasnya.

Perasaan sentimental saat aku berlatih tarian pasangan dengan Kureha waktu kamp kembali bangkit.

Ah, begitu ya. Ternyata sambil menari dengan gadis juniorku ini,

Aku terus mengejar bayangan seseorang.

Kelembutan dada Nanase dan panas perut bawah yang ditempelkan tadi seolah memberi tekstur nyata pada bayangan yang tadinya samar, membuatku refleks menggelengkan kepala. Bukan begitu, kan—ucapku pada diri sendiri sambil mengembuskan napas panjang.

──Bukan sebagai Pahlawan Chitose Saku, tapi sebagai satu pria bernama Chitose Saku, ya.

Hari itu, sambil memantulkan hatiku pada permukaan air senja, aku memang telah bersumpah demikian. Karena itulah belakangan ini aku merasa bimbang.

Sebelum bertemu Nanase, Asu-nee, Haru, Yuko, dan Yua, aku tidak pernah merasa bingung, terhenti, atau berbalik arah seperti ini. Sebab sebagai Chitose Saku, aku hanya perlu setia pada estetika pribadiku yang rumit.

Namun, ketika aku mencoba menggulirkan isi hati yang selama ini kusembunyikan untuk menghadapi seseorang, ternyata rasanya sangat rapuh dan menyedihkan sampai aku sendiri pun terkejut.

Sambil menyentuh dada kiriku yang panasnya mulai mereda, aku berpikir. Bahkan untuk kejadian tadi pun, kalau aku yang dulu, meski bohong jika dibilang tidak goyah, setidaknya aku masih bisa menutupinya dengan candaan sebelum hatiku sempat bergejolak.

Merasa tertarik pada wajah atau tubuh seseorang mungkin sulit untuk diucapkan secara terang-terangan, tapi aku tidak menganggapnya sebagai alasan yang kotor untuk menyukai seseorang.

Justru jika ada yang bilang dia sama sekali mengabaikan hal itu dan hanya melihat hati, menurutku pribadi itu malah terdengar jauh lebih palsu.

Jadi, meskipun secara logika aku paham bahwa wajar untuk goyah di situasi seperti itu, rasa bersalah dan perasaan berdosa justru terasa lebih kuat. Tak peduli jika orang bilang aku masih menyeret estetika atau terlalu memedulikan citra diri.

──Demi bisa menghadapi orang-orang yang ada di dalam hatiku, setidaknya aku ingin apa yang kusodorkan adalah hati.

Tapi, aku terus memikirkannya sejak senja itu.

Ketika aku bukan lagi Chitose Saku, melainkan hanya seorang pria biasa.

──Tanda apa yang harus kugunakan untuk memberi nama pada perasaan ini?

◆◇◆

Aku, Uchida Yua, melangkah keluar dari supermarket "Crandale" yang berada di dekat Taman Ikuhisa.

Selagi Saku-kun dan yang lainnya berlatih koreografi "Perjamuan" dengan dukungan Yuzuki-chan dan yang lain, aku berpikir untuk membeli minuman dan makanan ringan.

Sebenarnya aku berniat pergi sendiri, tapi aku mencuri pandang ke arah profil wajah cantik di sampingku. Asuka-senpai melangkah dengan kantong plastik di tangannya, suara langkah kakinya terdengar begitu ceria.

Aku tanpa sadar menutup mulut dan tertawa kecil.

"Yua-san...?"

Menyadari hal itu, Asuka-senpai menengok ke arahku dengan wajah penasaran.

"Maaf, itu, aku cuma teringat betapa senangnya Asuka-senpai saat memilih jajanan tadi."

Saat aku mengatakannya, dia menunduk dengan wajah sedikit tersipu.

"Aku suka jajanan jadul sejak dulu. Rasanya seperti suasana sebelum pergi piknik sekolah."

Mendengar pengakuan yang tak terduga itu, bahuku kembali berguncang karena tawa.

"Saku-kun juga pernah bilang hal yang mirip."

"Ah, Saku-nii memang suka juga, sih. Dulu nenek sering diam-diam memberi kami uang saku, lalu saat libur musim panas kami berdua pergi membelinya."

Saku-nii. Aku mencoba mengulang panggilan yang masih terasa asing itu di dalam hati.

Aku sudah mengetahuinya karena diceritakan saat kamp, tapi malam itu terasa seperti potongan adegan film yang sunyi, hanyut dalam romansa, sedikit tenggelam dalam sentimentalitas, sehingga rasanya sulit dipercaya kalau itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun saat mendengarnya kembali sambil membawa kantong belanjaan begini, muncul sebuah perasaan nyata yang aneh bahwa orang ini benar-benar bertemu Saku-kun saat masih kecil, dan menyayanginya seperti seorang kakak.

Hal itu terasa lucu, geli, sekaligus menyenangkan, tapi di sisi lain tetap ada sedikit rasa sesak. Aku membuka suara sekali lagi untuk memastikan.

"Jangan-jangan, sejak saat itu Umai-bo-nya..."

"Rasa mentai, kan?"

"Benar!"

"Padahal Saku-nii biasanya baik, tapi kalau soal itu dia tidak pernah mau mengalah."

"Apa kalian sampai main suit?"

"Adu tiga kali!"

Tak tahan lagi, bayangan kami berdua pun bergoyang seiring tawa yang pecah. Setelah puas tertawa, Asuka-senpai bergumam pelan.

"Tapi belakangan ini, toko jajanan kecil di lingkungan sekitar sudah banyak yang tutup, rasanya jadi sepi."

Aku sempat ragu sejenak, dan gara-gara itu, luka di lututku yang seharusnya sudah mengering terasa berdenyut nyeri. Aku pun mengembuskan napas pelan agar tidak ketahuan.

Aku menenangkan hati agar tidak tersandung lagi, lalu membuka suara.

"Asuka-senpai, apa Kakak pernah pergi ke Ameyoko?"

"Ameyoko? Yang di Tokyo...?"

Aku terkekeh sambil menggelengkan kepala.

Tempat itu adalah lokasi di mana aku pertama kali mengajak Saku-kun berkencan di akhir musim panas. Itu memang kenangan berharga, tapi bukan berarti kenangan itu akan luntur hanya karena aku membagikannya kepada orang lain.

"Bukan, tapi di dekat Elpa, tepat di sebelah Pasar Grosir Pusat, ada toko yang seperti pasar camilan. Ukurannya tidak kecil—malah bisa dibilang cukup besar—dan di sana banyak sekali jajanan jadul yang bikin kangen."

"Benarkah!?"

"Iya, Saku-kun juga sangat bersemangat waktu itu, jadi aku yakin Asuka-senpai pasti akan menyukainya."

Wajah Asuka-senpai mendadak cerah, lalu ia menunduk sambil memainkan jari-jarinya dengan malu-malu.

"Itu, Yua-san. Kalau kamu tidak keberatan, kapan-kapan ayo kita..."

Tawaran yang agak canggung dan tidak biasa darinya itu terasa menggemaskan, membuatku tersenyum lembut.

"Tentu saja. Sekalian saja kita makan siang di Fukui Sen-ichiba."

"Iya!"

Benar juga, pikirku.

Hal-hal seperti ini jauh lebih cocok dengan kepribadianku.

Sambil saling bertukar senyum, aku tiba-tiba teringat sesuatu.

"Ngomong-ngomong, Asuka-senpai, apakah latihannya berjalan lancar?"

Pertanyaanku sedikit kurang jelas, tapi sepertinya dia langsung paham. Asuka-senpai mengernyitkan alis dengan ekspresi kesal yang tampak kekanak-kanakan.

"Duh, Ayahku jadi semangat sekali soal ini."

"Beliau pasti merasa senang."

"Aku tahu itu, tapi beliau terlalu bersemangat sampai-sampai aku merasa malu."

"Apa beliau akan datang menonton di hari H nanti?"

"Aku sudah bilang jangan datang, tapi beliau pasti datang. Mengingat semangatnya sekarang, aku tidak akan kaget kalau beliau sampai meneriakkan namaku dengan lantang."

Ekspresi saat menceritakan hal itu tampak malu-malu, kesal, tapi juga sedikit bahagia. Asuka-senpai ternyata akrab juga dengan ayahnya.

Kalau kasus keluargaku, meskipun mereka datang, sepertinya mereka akan menonton secara sembunyi-sembunyi agar benar-benar tidak ketahuan.

Yah, apalagi setelah kejadian di libur musim panas itu. Pasti akan canggung jika mereka berpapasan dengan Saku-kun....

Saat aku sedang memikirkan hal-hal damai seperti itu, Asuka-senpai berucap dengan nada santai.

"Setidaknya aku harus mencegah beliau menyapa Saku-kun kali ini."

"Eh...?"

Saat aku refleks bersuara, ia melanjutkan dengan senyum geli.

"Ayahku itu, awalnya saja bersikap memusuhi, tapi entah kenapa sekarang sepertinya beliau menyukainya. Bahkan saat aku bergabung dengan tim pemandu sorak, beliau bertanya, 'Apakah Chitose-kun ada di sana?'."

Begitu ya, batinku merenung sedih.

Kalau dipikir-pikir, itu hal yang wajar. Aku sudah menduga kalau Saku-kun membantu Asuka-senpai saat ia bimbang menentukan pilihan masa depannya, jadi tidak aneh jika ayahnya mengenal Saku-kun.

Dilihat dari caranya bicara, sepertinya hubungan mereka bukan sekadar bertemu sekali seperti orang tuaku. Kasusku hanyalah kebetulan belaka, dan mungkin Asuka-senpai juga tidak jauh berbeda, tapi tetap saja.

──Seorang gadis memperkenalkan seorang lelaki kepada ayahnya.

Aku tidak sedang bermimpi muluk bahwa itu hanya terjadi sekali seumur hidup, tapi bagi anak SMA, hal seperti itu pasti bukan kejadian biasa.

Aku hanya asal menyimpulkan kalau itu adalah keistimewaan yang hanya kumiliki.

Lagi-lagi begini, aku menunduk menyesali diri. Aku sudah berulang kali menyadarinya, tapi tetap tidak ada yang berubah. Aku kembali merenungkan hal itu.

Tak peduli seberapa cocok hal ini dengan kepribadianku, tidak, justru karena itulah. Aku tidak boleh terus seperti ini, kan?

"Yua-san...?"

Saat mendengar suara itu, aku mendongak dan melihat Asuka-senpai menatapku dengan cemas.

"Anu, Asuka-senpai."

Aku meremas pegangan kantong plastik di tanganku, lalu berucap perlahan.

"...Sebelum kembali, bolehkah kita bicara sebentar?"

 

Asuka-senpai mengangguk tanpa berkata apa-apa, lalu kami duduk berdampingan di tangga pendek yang lebar yang menghubungkan Museum Sejarah Prefektur Fukui dengan Taman Ikuhisa.

Dari arah lapangan rumput, suara teman-teman yang sedang berlatih terdengar menggema. Sambil merasa sedikit tidak enak hati, aku mencoba menajamkan pendengaran, lalu—

"Ini, Yua-san."

Asuka-senpai menyodorkan Hojicha Latte dingin. Aku menerimanya sambil memiringkan kepala dengan heran. Aku memang memasukkannya ke keranjang untuk kuminum sendiri, tapi....

"Lho, apa aku pernah meminum ini di depan Asuka-senpai?"

Mendengar pertanyaanku, Asuka-senpai menggoyang rambutnya yang indah.

"Saku-kun sering menceritakan tentang kalian semua di depanku."

Begitu ya, hatiku sedikit melunak hanya dengan mendengar hal itu. Aku sempat mengira kalau saat bersama Asuka-senpai, mereka berada di dunia yang hanya milik berdua dan hanya membicarakan tentang mereka berdua.

"Asuka-senpai mau minum apa?"

"Hmm, aku mau minum Sayaka saja setelah sekian lama."

"Ini," kataku sambil mengeluarkan Royal Sayaka dari kantong plastik.

Asuka-senpai menerimanya, lalu meneguknya hingga tenggorokannya yang putih dan halus seperti sabun batangan bergerak-gerak dengan nikmat. Aku pun mengikuti jejaknya dengan meminum Hojicha Latte-ku, dan baru menyadari kalau mulutku ternyata terasa sangat kering.

Padahal sudah bulan Oktober, tapi saat siang hari masih banyak waktu yang terasa panas. Namun kalau lengah, suhu di malam hari bisa turun drastis, jadi ini adalah masa yang sulit untuk menyesuaikan pakaian.

Aku sendiri termasuk orang yang mudah kedinginan, jadi mungkin tidak lama lagi aku akan mulai memakai syal atau mantel. Tiba-tiba, aku mencuri pandang ke profil wajah cantik senior di sampingku ini.

──Bagaimana orang ini menyambut musim dingin?

Aku merasa dia akan tetap berdiri di bantaran sungai itu dengan seragam blazer yang sama meski salju mulai turun. Dengan aura misterius yang tidak menunjukkan rasa dingin sama sekali, persis seperti peri musim dingin yang keluar dari dongeng.

Tapi kalau dia memakai pakaian tebal sampai menggembung dengan penutup telinga yang empuk, itu pun akan terasa sangat cocok dengannya. Jarak di antara kami sepertinya sudah mulai menyempit. Karena itulah, aku ingin bertanya.

──Bagaimana orang ini menyambung benang cintanya?

Saat aku sedang memikirkan hal itu tanpa arah, tiba-tiba Asuka-senpai membuka suara.

"Sebenarnya aku pun berpikir ingin bicara dengan Yua-san."

"Dengan... aku?"

Tanpa sadar aku memiringkan kepala, lalu ia melanjutkan dengan tatapan yang sayu.

"Membicarakan hal yang mustahil kukatakan padamu, dengan orang yang mustahil menyampaikan hal itu padamu."

Sebuah ungkapan yang sangat khas Asuka-senpai, seperti bumbu rahasia yang diteteskan di bagian akhir. Aku meresapi kata-katanya dalam diam. Sesaat kemudian, aku tersentak saat menyadari makna halus di baliknya.

Kalau dipikir-pikir, itu benar. Aku punya Yuko-chan, Yuzuki-chan, Haru-chan, dan tentu saja Mizushino-kun, Asano-kun, serta Yamazaki-kun—banyak teman di sekelilingku yang bisa kuajak berbagi cerita tentang Saku-kun.

Tapi Asuka-senpai, sejak tahun lalu, atau mungkin sejak ia masih menjadi gadis di musim panas itu, pastilah selalu—

──Sendirian.

Dulu aku, bahkan mungkin sampai sekarang, merasa iri pada hubungan mereka yang tidak bisa dimasuki orang lain. Saat mereka bicara, dunia seolah hanya ada untuk mereka berdua, terbungkus tirai biru pucat yang bahkan membuat orang merasa segan untuk sekadar mengintipnya.

Aku sempat mengira kalau Asuka-senpai bisa bernapas dengan lega justru karena berada di dalam atmosfer seperti itu, tapi.... Ternyata itu adalah dua sisi dari koin yang sama.

Saat Asuka-senpai merasa bimbang, bingung, menderita, atau sedih karena Saku-kun, apakah ada orang yang bisa berbagi perasaan dengannya dalam suhu yang sama? Tidak, aku menggelengkan kepala pada pertanyaan yang jawabannya sudah jelas itu.

Kejujuran yang ia gumamkan dengan nada kesepian di malam itu.

Bukankah karena itu bantaran sungai itu menjadi tempat kita. Bagiku, hanya di bantaran sungai itulah tempatku berada.

Asuka-senpai pastilah memendam semua emosi yang tidak tahu harus disalurkan ke mana, sentimentalitas yang tak bertujuan, dan cerita yang tak mungkin ia katakan pada Saku-kun, seorang diri selama ini.

Dia orang yang kuat, aku lagi-lagi mengagumi harga dirinya yang tinggi seperti kucing liar itu. Aku sempat iri pada posisinya sebagai senior yang bisa mendapatkan senyum polos Saku-kun, tapi orang ini terus berdiri menjadi satu-satunya cahaya bagi Saku-kun meski harus melangkah di tempat dengan perasaan gusar di sisi lain waktu yang tak bisa diputar kembali.

Punggung mereka yang selalu kulihat berduaan dari jauh. Jika aku boleh menjadi bagian dari mereka meski hanya sejenak──.

Aku mengangguk mantap lalu menatap Asuka-senpai.

"Jika Kakak tidak keberatan denganku, tolong ceritakan padaku."

"Iya, kita gantian ya."

"Siapa yang mau bicara duluan?"

"Ayo suit adu tiga kali."

"Baik!"

Setelah aku memenangkan suit tersebut, aku mulai bercerita seolah sedang mencabut tulang kecil yang tersangkut di hati dengan pinset secara perlahan—tulang yang selama ini terus kuabaikan.

Tentang bagaimana aku mengajak Kureha-chan ke rumah Saku-kun.

Tentang tawaran Kureha untuk memasak sebagai gantinya.

Tentang persetujuanku yang tulus saat itu.

Tentang bagaimana Saku-kun menyingsingkan lengan kemejanya.

Tentang betapa mahirnya Kureha memasak.

Tentang bagaimana masakannya terasa sangat dekat dengan keseharian.

Tentang bagaimana aku salah sangka mengira itu adalah keistimewaan milikku sendiri.

Tentang tawarannya untuk menggantikanku memasak saat aku sibuk.

Tentang bagaimana Saku-kun menolaknya dengan santai.

Tentang kursi yang Saku-kun hadiahkan untukku musim panas ini.

Tentang Kureha-chan yang tidak tahu apa-apa dan dengan polosnya hendak menduduki kursi itu.

Tentang bagaimana Saku-kun pasti berniat menghentikannya.

Tentang teriakanku yang refleks.

Tentang gadis yang kubuat menangis.

Tentang malam ketika aku melarikan diri.

Setelah ceritaku selesai, Asuka-senpai menyipitkan matanya dengan lembut, lalu berucap "Sentuh" sambil mengangkat telapak tangannya ke arahku.

Setelah aku menepuknya pelan, ia mulai bercerita seolah sedang memungut halaman buku harian yang sudah robek dan diremas, lalu menyetrika kerutannya satu per satu.

Tentang betapa berharganya waktu yang dihabiskan bersama saat kamp pemandu sorak.

Tentang bagaimana sisa mimpi itu belum hilang bahkan di hari berikutnya.

Tentang pemikiran bahwa mungkin ia bisa bertemu denganku.

Tentang bagaimana ia merasa senang karena berpikir untuk bermanja-manja seperti saat masih kecil dulu.

Tentang Saku-kun dan Kureha-chan yang berlatih tarian pasangan di bantaran sungai itu.

Tentang bagaimana ia merasa tempat berharganya sedang diinjak-injak.

Tentang bagaimana gadis yang ia kira hanya junior biasa tampak seperti wanita yang akan membawa Saku-kun pergi ke tempat yang tidak ia ketahui.

Tentang kata-kata "Saku-bou" yang menusuk dadanya.

Tentang bagaimana mereka berdua mengatakan bahwa mereka sedang menunggunya.

Tentang pertanyaan polos Kureha-chan apakah ia boleh datang lagi ke sana.

Tentang teriakannya yang refleks.

Tentang gadis yang ia buat sedih.

Tentang dirimu yang memasang wajah seperti hendak menangis.

Tentang senja ketika ia melarikan diri.

Begitu Asuka-senpai selesai bercerita seolah sedang merekatkan kembali buku harian itu dengan selotip, kami saling menatap dengan wajah serius, lalu—

──Pffft, kami berdua tertawa terpingkal-pingkal.

Kekeh kami terus berlanjut, rasanya mendadak semuanya jadi sangat lucu. Hal yang sama sepertinya dirasakan oleh Asuka-senpai, ia sampai memegangi perutnya karena tertawa. Asuka-senpai mendongak dan menatapku.

"Ternyata, kita ini..."

Aku menjawab sambil berusaha keras menahan tawa.

"Mungkin kita memang mirip di beberapa hal."

Setelah agak tenang, Asuka-senpai berkata dengan tatapan mata yang jauh.

"Ini konyol sekali, ya."

"Benar-benar konyol."

"Menurutmu siapa yang salah?"

"Apa kita perlu mencocokkan jawaban untuk itu?"

"Ada maknanya jika kita saling memperlihatkan lembar jawaban kita."

"Ayo katakan bersama dalam hitungan ketiga."

"Satu, dua, tiga—"

"──Aku."

"Tuh kan," Asuka-senpai tersenyum pahit lalu menyandarkan kedua tangannya ke belakang.

Ia memanjangkan kakinya dengan santai dan menatap langit. Aku pun mengikutinya, melihat awan yang berarak tenang seperti gerombolan domba di langit sebelum senja.

"Yua-san," panggil Asuka-senpai dengan nada suara yang terdengar lebih lega.

"Maukah kamu mengutarakan apa yang kamu pikirkan setelah mendengar ceritaku?"

"Tapi..."

Saat aku ragu, ia melanjutkan seolah sudah tahu alasanku.

"Aku ingin mendengarnya langsung dari Yua-san, orang yang paling baik di antara semuanya."

"Apa Kakak akan membalasku nanti?"

"Kalau 'balasan budi' sih, iya."

Huu... aku mengembuskan napas.

Hal semacam ini memang bukan kepribadianku, tapi Asuka-senpai mungkin sudah lama ingin membicarakan hal ini dengan seseorang.

Jika ia memilihku sebagai lawan bicaranya, maka sebagai teman baru—dan sebagai junior yang akhirnya bisa memanggil namanya tanpa ragu—aku ingin mengabulkan permintaan kecilnya.

Aku menggigit bibir sejenak, lalu membuka suara seolah sedang menasihati diriku sendiri.

"──Asuka-senpai, bantaran sungai itu bukan milik siapa pun."

"Aduh, langsung kena di bagian yang sakit, ya."

"Aku pun pernah sekali mengajak Saku-kun ke sana pada suatu senja di bulan Agustus."

"...Begitu ya, dia tidak menceritakan kisah itu padaku."

"Saku-kun memang orang yang seperti itu."

"Iya, aku tahu."

"Dia akan menjaga rahasia yang hanya diketahui berdua dengan baik."

"Hehe, kata-kata yang manis."

"Karena itu aku tidak berniat meminta maaf pada Asuka-senpai."

"Aku pun tidak punya hak untuk itu."

"Aku tidak bisa memastikan perasaan Kureha-chan yang sebenarnya, tapi setidaknya Saku-kun tidak sedang menunggu di sana tanpa memikirkan apa pun."

"Kalau bagian itu, kamu berani menjamin ya."

"Pasti Kureha-chan yang mengajak, dan Saku-kun setidaknya pasti sempat mencoba untuk mengelak."

"Aku pun berpikir begitu."

"Tapi karena Kureha-chan ternyata anak yang peka, dia jadi merasa tersakiti lebih dari yang seharusnya."

"Merasa dikucilkan, ya..."

"Saku-kun adalah orang yang tidak bisa mengabaikan hal seperti itu."

"Karena Saku-nii adalah pahlawan."

"Jadi dia bukan sedang menghabiskan waktu bersama Kureha-chan di sana, melainkan sedang menunggu Asuka-senpai di sana."

"──!"

"Aku rasa, begitulah cara dia berdamai dengan situasinya."

Setelah aku selesai bicara, Asuka-senpai tertawa pelan dengan suara yang rapuh.

"Kalau dipikir dengan kepala dingin, sebenarnya semuanya sudah jelas, ya."

Aku merasa sedikit tidak enak dan menunduk.

"Maafkan aku, aku terlalu banyak bicara karena bermaksud menasihati diriku sendiri."

Asuka-senpai menatapku, matanya melembut seolah beban di hatinya baru saja terangkat.

"Tidak, aku sendiri yang memintanya, kok."

Ia melakukan peregangan badan, lalu memiringkan kepalanya sambil tersenyum geli.

"Terima kasih, Yua-san."

Aku bergeser di tangga untuk sedikit memperpendek jarak kami. Sambil menarik-narik pelan lengan kaus Asuka-senpai, aku berkata.

"Asuka-senpai, sekarang giliran Kakak."

Sepertinya ia langsung paham maksudku, ia mengerjapkan bulu matanya yang indah seolah merasa tertarik.

"Boleh?"

"Aku ingin mendengarnya dari Asuka-senpai, orang yang paling netral di antara semuanya."

"Begitu ya," Asuka-senpai memejamkan mata seolah setuju.

Setelah hening sejenak karena ia tampak berpikir, ia mengernyitkan alis dengan jahil seolah sedang menggoda anak kecil.

"Begini ya, Yua-san. Kamu itu bukan istrinya Saku-kun."

"Aduh, Asuka-senpai! Cara bicaranya itu lho!"

Kata-katanya menusuk jauh lebih dalam dari yang kubayangkan sampai-sampai aku refleks memprotesnya. Asuka-senpai pun tidak tahan lagi dan tertawa hingga rambutnya bergoyang.

"Maaf, maaf, aku cuma ingin sedikit menjahilimu."

Aku mengerucutkan bibir dengan sengaja.

"Tuh kan, ini namanya pembalasan!"




Entah kenapa, aku mulai bisa memahami perasaan Saku-kun yang terkadang jadi sedikit kekanak-kanakan di depan orang ini.

Dia benar-benar orang yang misterius. Asuka-senpai berdeham pelan, lalu berkata dengan tatapan mata yang dewasa.

"Kalau begitu, sekarang giliranku memberi balasan, ya."

Aku mengangguk mantap, dan ia pun mulai berbicara seolah sedang melantunkan bait puisi yang menyedihkan.

"Aku tahu Yua-san mendukung keseharian Saku-kun yang hidup sendirian."

"Tidak sampai sehebat itu, sih..."

"Tapi itu baru sebatas mendampingi, belum sampai pada tahap melebur menjadi satu."

"Maksud Kakak... keseharian Saku-kun bukanlah keseharianku, begitu ya?"

"Benar. Karena itulah, meski kamu punya hak untuk masuk, kamu tidak punya wewenang untuk mengusir."

"Aku... merasa sudah memahaminya, tapi ternyata belum, ya."

"Aku, Nanase-san, Aomi-san, Hiiragi-san, bahkan Nozomi-san sekalipun, pada dasarnya tidak butuh izin Yua-san hanya untuk berdiri di dapur rumah Saku-kun."

"Itu, tentu saja."

"Terlebih dalam kejadian kemarin. Yang mengundang Nozomi-san dan menyetujui tawarannya untuk memasak bukanlah Saku-kun, melainkan Yua-san."

"……Iya."

"Lalu, apakah tidak keterlaluan jika kamu malah menjadi emosional hanya karena dia ternyata semahir dirimu dalam memasak?"

"──! Kakak benar sekali."

"Soal kursi yang dia hadiahkan pun, Saku-kun menyiapkannya untuk Yua-san, kan?"

"Karena kami sudah berjanji soal stok masakan mingguan, awalnya memang aku yang duduk di sana. Kurasa Saku-kun juga tidak menyangka kalau Kureha-chan bakal memasak."

"Dan tentu saja, Nozomi-san tidak tahu soal itu."

"Tentu saja."

"Jika begitu, dari sudut pandang Nozomi-san, dia hanya merasa dimarahi tanpa alasan jelas oleh senior yang biasanya tenang dan baik hati."

"Benar-benar... aku tidak punya pembelaan apa pun."

"Lalu," Asuka-senpai menjeda sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang sedikit lebih lembut.

"Apa kamu tahu alasan kenapa Saku-kun tidak mengejar kita saat itu?"

Mendengar pertanyaan itu, aku menjawab seketika tanpa ragu sedikit pun.

"Karena jika dia mengejar, Kureha-chan yang tidak melakukan kesalahan apa pun akan menjadi pihak yang bersalah."

Asuka-senpai mengangguk perlahan dengan ekspresi tenang. Sebenarnya tanpa perlu mencocokkan jawaban begini pun, akulah yang bersalah.

Tapi jika di saat itu Saku-kun mengejar Asuka-senpai atau aku, Kureha-chan yang tertinggal sendirian pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.

Meskipun secara fakta kamilah yang terluka karena keegoisan sendiri, setidaknya Saku-kun pada saat itu mengambil keputusan instan untuk──.

Memihak pada sisi yang membuat kami menangis.

Satu, agar tanggung jawab tidak ditimpakan pada gadis junior yang tidak bersalah.

Dua, pasti agar dengan begitu, dia meninggalkan celah bagi kami untuk berpikir bahwa yang salah bukanlah kami, melainkan dirinya sendiri.

Entah itu dilakukan secara sadar atau tidak, Saku-kun memang punya sisi seperti itu. Bahkan kelemahan kami pun, tanpa sadar coba ia pikul sendiri.

Saat aku sedang memikirkan hal itu, Asuka-senpai bergumam dengan nada sedikit mencela diri.

"Mungkin hanya itu satu-satunya pelipur lara kecil bagi kita yang sekarang."

"Apa... maksudnya?"

Saat aku bertanya balik, ia mengernyitkan alis seolah sedikit bingung mencari kata.

"──Saku-nii selalu memprioritaskan urusan orang lain daripada urusannya sendiri."

Ia mengatakannya dengan tatapan mata seperti gadis kecil yang mengagumi pahlawan.

"Urusan sendiri, dan urusan orang lain..."

Saat aku mengulangi kata-katanya dengan suara lirih, ia buru-buru menambahkan.

"Urusan orang lain itu cuma kiasan, lho. Aku tidak bermaksud bilang kalau Nozomi-san itu cuma orang lain baginya, ya, untuk jaga-jaga saja."

"Iya, aku mengerti kok."

Singkatnya, yang ingin dikatakan Asuka-senpai adalah bagi Saku-kun yang sekarang, kesalahpahaman dengan kami termasuk dalam cakupan "urusannya sendiri".

Karena itulah ia menomorduakannya, dan terlebih dahulu memikirkan posisi serta perasaan Kureha-chan.

Aku tidak boleh senang secara sembarangan karena sudah merepotkan Saku-kun dan menyakiti junior, tapi jika memang benar begitu, itu memang sebuah pelipur lara yang nyata.

"Fiuh," aku mengembuskan napas panjang dan melemaskan bahu. Rasanya kekalutan yang menghantui sejak hari itu akhirnya bisa terurai.

Saat aku menoleh, profil wajah Asuka-senpai juga tampak segar dan lega. Benar-benar pilihan tepat untuk bicara dengannya, pikirku sambil memanggilnya.

"Terima kasih banyak, Asuka-senpai."

"Sekarang kita impas, kan?"

"Iya!"

"Nah," Asuka-senpai pun berdiri.

"Sepertinya kita harus segera kembali."

Aku pun mengikutinya.

"Benar juga."

Kami masing-masing membawa satu kantong plastik. Tepat saat hendak menuruni tangga, Asuka-senpai membuka suara seolah baru teringat sesuatu.

"Terakhir, bolehkah aku menanyakan satu hal yang sedikit memalukan?"

Aku terkekeh pelan sebelum menjawab.

"Aku sudah menceritakan hal-hal memalukan sepanjang tadi, jadi tidak masalah sekarang."

"Benar juga," Asuka-senpai menggaruk pipinya, lalu—

"Hei, Yua-san."

Ia berucap dengan suara yang terdengar dewasa, namun di saat yang sama juga terdengar seperti siswi SMA biasa di mana pun.

"Apa Nozomi-san... menyukainya?"

Aku tidak bertanya siapa yang dimaksud. Tanpa perlu memastikan pun, hal itu sudah tersampaikan dengan sangat jelas.

"Entahlah, aku tidak tahu."

"Iya ya, maaf."

Hanya satu hal, pikirku sambil menatap punggung ramping Asuka-senpai yang mulai berjalan.

Kira-kira, apakah Asuka-senpai selama ini terus memendam perasaan yang tak tersalurkan, sentimentalitas yang tak bertujuan, dan cerita yang mustahil dikatakan padanya, seorang diri?

Jika gadis ini pun begitu,

──Pasti, ia menyembunyikan hati yang kuat dan mulia di dalam dadanya.

◆◇◆

Aku lega bisa bercerita pada Yua-san. Aku, Nishino Asuka, berpikir demikian sambil berjalan menuju Taman Ikuhisa.

Di belakangku, langkah kaki yang anggun terdengar mengikutiku dengan sopan. Sampai sekarang, tidak ada orang yang bisa kuajak berbagi kegundahan tentangmu seperti ini.

Yua-san, Hiiragi-san, Nanase-san, Aomi-san────.

Mungkinkah kalian selama ini terus menjalin percakapan seperti ini?

Misalnya, latihan bisbol di mana hanya aku yang tidak diajak. Misalnya, malam kamp belajar di mana hanya aku yang tidak bisa tidur bersama kalian. Bahkan bulan Agustus itu, di mana hanya aku yang merasa terasing.

Sejujurnya, aku iri. Hubungan di mana teman-teman yang menyukai laki-laki yang sama bisa saling menelanjangi isi dada.

Itu seperti bisik-bisik rahasia di kotak pasir taman bermain. Seperti diam-diam berpegangan tangan di dalam terowongan yang digali dari kedua sisi.

Ada campuran antara rasa bersalah karena menyembunyikannya dari siapa pun, dan euforia yang tercipta karenanya.

Tiba-tiba, kenangan masa lalu saat kegiatan menginap di sekolah muncul dari dasar ingatan. Waktu aku masih kelas lima SD, di Rumah Alam Pemuda yang pernah kuceritakan padamu.

Kalau tidak salah, kami menginap di ruangan dengan empat tempat tidur tingkat yang saling berhadapan. Satu kelompok empat orang, tiga gadis selain aku.

Kami ribut bercanda menentukan siapa yang tidur di atas atau di bawah. Dulu aku tidak paham, tapi sekarang aku sadar kalau itu mungkin pengaturan agar anak-anak yang mulai puber tidak berbuat nakal.

Ada aturan bahwa pintu kamar harus tetap terbuka selama waktu bebas, kecuali saat tidur.

Aku ingat, saat kami duduk di ranjang bawah sambil mengobrol, terkadang ada momen di mana ketiga gadis itu tiba-tiba menjadi heboh.

Itu selalu terjadi saat "sang bintang kelas" lewat di depan kamar.

──Mereka semua menyukai laki-laki yang sama.

Jago lari, segar, baik, dan lucu. Persis seperti Saku-nii saat kecil dulu, dia adalah tipe yang memenuhi semua syarat untuk menjadi populer di SD.

Aku masih ingat bagaimana aku merasa heran melihat mereka bertiga saling merapat dan menahan jeritan senang setiap kali anak laki-laki itu lewat.

Apa sih yang begitu menyenangkan?

Biar kujelaskan, aku bukan bermaksud meremehkan atau mengejek mereka. Karena aku sudah bertemu Saku-nii, aku sangat paham rasanya jadi heboh saat melihat orang yang disukai.

Hanya saja, aku tidak mengerti tindakan berbagi perasaan itu di antara teman akrab.

Bagi mataku, mereka justru terlihat seperti mempererat ikatan dengan mengalungkan "paspor" bertuliskan 'menyukai laki-laki yang sama'.

Padahal yang bisa saling mencintai hanya satu orang, pikirku berulang kali saat itu. Yang paling aneh adalah fakta bahwa hampir seluruh kelas tahu kalau anak laki-laki itu sebenarnya menyukai salah satu dari tiga gadis di kamar itu.

Tapi, kenapa ya.... Padahal mereka menyukai laki-laki yang sama, dan siapa yang akan dipilih sudah hampir pasti,

"Barusan dia pasti melihat ke sini!"

"Ah, masa sih."

"Dia sengaja lewat depan kamar kita terus dari tadi tahu!"

"Kenapa nggak tembak saja sekalian."

"Tapi kan belum tentu dia beneran suka..."

"Semua orang bilang itu sudah kelihatan banget!"

──Meski begitu, mereka bertiga tetap bersama-sama dan terus bersenang-senang selamanya.

Waktu macam apa itu sebenarnya?

Aku menyipitkan mata, meresapi sisa memori masa lalu yang tiba-tiba datang berkunjung.

Masa di mana semua orang masih menjadi gadis kecil. Mungkin mereka semua hanya sedang jatuh cinta pada konsep jatuh cinta. Atau jatuh cinta pada diri mereka sendiri yang sedang menyukai laki-laki yang sama.

Sekarang, setelah aku melewati masa gadis kecil itu, aku mulai sedikit memahami perasaan itu. Seolah terbungkus selimut berwarna merah muda pucat sambil saling merapatkan bahu.

──Rahasia khusus perempuan, yang tidak boleh didengar oleh anak laki-laki.

Tapi, tetap saja, pikirku sambil merasakan kehadiran Yua-san yang hangat di belakangku. Tangan yang tertaut di dalam terowongan pasir suatu saat harus dilepaskan.

Selama ini tidak apa-apa. Aku selalu berada di luar lingkaran, dan karena itulah, aku tidak perlu memikirkan gadis lain saat memikirkanmu.

Dengan kata lain, aku diizinkan berperilaku bebas seperti kucing liar, dan──.

──Aku tidak sadar bahwa aku akan melukai seseorang saat cintaku terwujud.

Tentu saja, secara logika aku paham. Bahwa di balik cinta yang terwujud, ada cinta yang gagal yang tergeletak begitu saja—itu adalah dasar dari setiap cerita.

Tapi karena aku tidak berada di lingkaran kalian, aku bisa tetap tidak bertanggung jawab sekaligus tidak sadar akan hal itu.

Meski aku mulai merasakan semacam kasih sayang seiring seringnya mendengar cerita atau memberi saran, aku tidak cukup baik hati sampai mau menarik mundur hatiku sendiri.

Tapi sekarang, sudah tidak bisa lagi────.

'Akhirnya, namaku bisa berjejer dalam cerita kalian.'

Aku pun telah menjadi salah satu tokoh di dalamnya. Itulah yang selama ini kuinginkan.

Betapa indahnya jika aku seangkatan dengan kalian, berada di kelas dan kelompok yang sama, lalu merajut cerita yang sama.

Meskipun itu hanya terwujud sesaat, hubungan yang lahir di sini pasti tidak akan hilang bahkan setelah festival sekolah berakhir.

Karena itulah aku mau tidak mau harus menghadapinya. Ini bukan lagi sekadar cerita milik Nishino Asuka seorang.

Padahal selama ini aku selalu menulisnya dengan sudut pandang orang pertama. Tokoh utamanya adalah Nishino Asuka, dan jika cintanya terwujud, maka itu adalah akhir bahagia yang mutlak.

Meskipun di baliknya ada seseorang yang menangis, selama tidak digambarkan, maka itu dianggap tidak ada.

Tapi sekarang setelah aku menjadi tokoh dalam drama kelompok yang kalian rajut,

──Aku jadi membayangkan air mata Yua-san.

Mungkin saja, pikirku. Yua-san, Nanase-san, Aomi-san, bahkan Hiiragi-san yang sudah menyatakan perasaannya sekalipun.

──Telah menyadarinya sejak lama, namun tetap menghadapi cinta dan gadis-gadis di samping mereka.

Jika benar begitu, berarti hanya aku sendiri yang tertinggal jauh di belakang. Ini adalah langkah yang kuambil atas keinginanku sendiri.

Aku tidak bisa membatalkannya sekarang, dan aku pun tidak ingin melakukannya.

Waktu yang kuhabiskan bersama semua orang di kamp pemandu sorak, juga hubungan yang terjalin dengan Yua-san ini, pasti akan menjadi kenangan manis sepuluh tahun mendatang.

Namun, aku menyentuh dadaku perlahan. Mungkin aku terlalu naif dan murni.

Seandainya hari itu aku tidak terbawa suasana oleh ajakanmu dan tidak masuk ke tim pemandu sorak.

Seandainya malam itu aku tidak menjadi Asuka-senpai, dan menghilang sebagai Nishino-senpai yang merupakan sebuah ilusi.

──Maka aku pasti bisa tetap setia pada cintaku dengan sepenuh hati.

Tiba-tiba, kata-kata yang sempat terucap tadi kembali terngiang.

"Apa Nozomi-san menyukainya?"

Meskipun aku tahu tidak akan ada jawaban yang kembali, kenapa aku menanyakan hal itu pada Yua-san?

Bukannya aku benar-benar berpikir begitu, apalagi bermaksud waspada dengan cara yang licik.

Mungkin, secara tidak sadar aku mendambakannya. Posisi Nozomi-san yang sekarang, yang masih bisa bertindak sesuka hati di luar lingkaran.

Garis start di mana dia bisa berlari menuju cinta yang mungkin sudah atau akan dimulai, tanpa perlu memedulikan orang lain. Senior dan junior, junior dan senior.

Bentuknya sedikit berbeda, tapi Nozomi-san masih memegang erat hak untuk berpura-pura tidak melihat—hak yang seharusnya juga kumiliki hingga beberapa saat yang lalu. Ah, kalau tahu bakal begini.

Harusnya kutanyakan baik-baik selagi aku masih bisa menjadi gadis kecil.

──Bagaimana gadis itu, bagaimana gadis-gadis itu, menyatukan simpul cinta mereka?

◆◇◆

Setelah menenggak habis minuman yang dibelikan Yua dan Asu-nee dalam hitungan detik, aku, Chitose Saku, berdiri di depan mesin penjual otomatis di area taman.

Aku mengambil koin dari kantong kiri, memasukkannya sambil bergemerincing, lalu setelah ragu sejenak, aku menekan tombol Calpis.

Di sini, tiga mesin penjual otomatis dan tempat sampah berjejer rapi di bawah naungan gubuk seng sederhana, memberikan kesan seperti halte bus di desa.

Pemandangan itu dan sinar matahari yang mulai condong ke barat membuatku teringat kembali pada senja musim panas yang telah lama berakhir dengan penuh kerinduan.

Aku meminum Calpis-ku sedikit dengan nada mencela diri.

Setelah merasa sedikit tenang, aku duduk di bangku di depanku. Saat aku meremas pelan lengan dan pinggangku, ada sensasi kaku di berbagai bagian tubuh atasku.

Padahal aku terus berlatih meski sudah berhenti dari klub bisbol, tapi sepertinya besok aku bakal kena nyeri otot setelah sekian lama, pikirku sambil tanpa sadar tersenyum tipis.

Aku tidak menyangka Kenta bakal membuat koreografi seberat ini.

Merasa senang karena nyeri otot adalah semacam insting anak klub olahraga.

Berbeda dengan teknik bisbol atau stamina yang meningkat secara perlahan, hasil latihan langsung memberikan umpan balik pada hari berikutnya.

Mengabaikan urusan teknis seperti cedera dan luka, pada dasarnya semakin sakit rasanya, semakin terasa pertumbuhannya—kesederhanaan itulah yang kusuka. Saat aku sedang melamunkan hal itu,

"Saku, boleh aku duduk di sampingmu?"

Tanpa sadar Yuko sudah berdiri di dekatku dan menatapku.

"Oh, kerja bagus."

"Aku cuma menyanyi saja, sih—"

Aku mengibaskan dedaunan kering yang ada di atas bangku. Melihat itu, Yuko menyipitkan matanya dengan lembut.

"Terima kasih, Saku."

Sambil berkata demikian, ia duduk dengan anggun di sampingku. Aku sempat mengira sudah mulai terbiasa melihatnya, tapi aku tanpa sadar memalingkan wajah dari Yuko.

Profil wajah yang sudah kulihat berkali-kali selama satu setengah tahun terakhir.

Rambut panjangnya yang lembap hingga ke ujung mengalir di atas kausnya setiap kali ia tertawa, dan di hari yang cerah, rambut itu akan mengembang lembut menjatuhkan bayangan seperti sayap.

Setiap kali melihatnya, aku seolah sedang melihat gelembung sabun tujuh warna yang muncul silih berganti, mengajariku pemandangan asing dan perasaan-perasaan baru.

Tapi sekarang, aku kembali mencuri pandang ke profil wajah Yuko.

Rambut sebahu yang dipotong pendek itu berkibar lembut seperti aliran sungai yang jernih, dan di bawah cahaya senja, rambut itu berkilauan menjatuhkan bayangan seperti bintang pertama yang berkedip.

Setiap kali merasakannya, aku seolah sedang terlelap dengan nyaman di tepi danau sunyi yang hanya menyisakan suara air.

"Saku...?"

Saat aku sedang melamunkan hal itu, Yuko menoleh ke arahku dan memiringkan kepalanya dengan heran.

Menyadari kalau aku baru saja terpesona padanya, aku tertawa kecil untuk menutupinya lalu membuka suara.

"Jadi, ada perlu apa?"

Mendengar pertanyaanku, ia menyipitkan mata dengan geli.

"Ehm. Urusanku adalah... ingin mengobrol dengan Saku."

"Begitu ya."

Setelah aku menjawab singkat, Yuko melanjutkan pembicaraan sambil menatap ke arah lapangan.

"Sudah bulan Oktober, ya."

"Waktu berlalu cepat, ya."

"Rasanya festival sekolah sudah benar-benar dekat."

"Bagian 'Perjamuan' di sini sepertinya bakal aman, tapi bagaimana dengan bagianmu?"

"Beres! Yuzuki dan yang lainnya juga terlihat senang kok."

"Syukurlah kalau begitu."

"Drama kelas juga harus kita usahakan, ya."

"Kamu bakal baik-baik saja, kan, Putri Salju?"

"Tentu saja. Bagaimana denganmu, Pangeran yang plin-plan?"

"Sudahlah, jangan bahas itu."

"Tapi aku suka lho, pangeran yang satu ini."

"Kalau baca naskahnya, bukankah dia terlihat cukup menyedihkan?"

"Aku suka bagian menyedihkannya itu."

"Kamu bahkan tidak membantahnya, ya..."

"Karena itu adalah sisi lain dari kebaikan dan ketulusanmu."

"Aku tahu naskahnya ditulis dengan niat seperti itu, tapi tetap saja..."

Aku menjeda kalimatku sejenak, lalu menatap ke samping dengan nada sedikit manja. Yuko juga menoleh ke arahku, memantulkan sosokku pada permukaan matanya yang bening.

Rambut sebahunya berkibar lembut seolah sedang mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang. Aku menyerahkan diri pada kenyamanan itu sambil membuka suara.

"Apa tersampaikan?"

"Tersampaikan, kok."

"Apa aku bisa memilih?"

"Kamu bisa memilih."

"Karena ini cuma akting."

"Aku tidak akan terluka."

"Seandainya saja."

"Boleh saja."

"Karena ini berbeda."

"Aku tahu."

"Kita sedang saling berhadapan."

"Perasaannya sampai, kok."

"Apa aku terlihat menyedihkan?"

"Mungkin sedikit menyedihkan."

"Kamu benci aku?"

"Aku suka."

"Untuk obrolan barusan."

"Bagiku, itu boleh saja."

"Sepertinya aku memaksamu mengatakannya."

"Kamulah yang membiarkanku mengatakannya."

"Yuko."

"Saku."

"Maaf, aku cuma ingin memanggil namamu."

"Iya, aku juga."

Rasanya seperti kelinci di bulan, pikirku.

Pettan, pettan, hanya kami berdua. Pattan, pattan, hanya kami berdua.

Saat aku menumbuk hatiku yang putih bersih, Yuko dengan cekatan membolak-balik dan merapikan bentuknya.

Dulu di jalan pulang, ia pernah mengatakannya padaku.

"Kalau kamu sudah benar-benar membuka hati, aku ingin membicarakan banyak hal. Hal-hal yang ingin kukatakan, hal-hal yang ingin kudengar, bahkan keluhan sekalipun... masih banyak sekali yang ingin kusampaikan."

Begitu ya. Aku tanpa sadar menyipitkan mata karena merasa rindu. Waktu itu aku mengalihkan pembicaraan dengan menyebut-nyebut soal Kenta untuk menyembunyikan perasaanku, tapi mungkin Yuko memang sudah lama ingin mengobrol seperti ini.

Namun, ini sungguh aneh.

──Saat hati sudah benar-benar terbuka, ternyata kata-kata tidak lagi begitu dibutuhkan.

Yuko melanjutkan pembicaraan seolah baru teringat sesuatu.

"Tapi, aku merasa sedikit kesepian."

"Kesepian...?"

"Habisnya, bukankah festival seperti ini bagian paling menyenangkannya adalah saat masa persiapan?"

"Aku paham perasaan itu."

"Tahun depan, apa kita semua akan melakukannya lagi?"

"Entahlah."

"Kamu tidak tahu, ya."

"Aku tidak tahu."

"Saku, boleh aku mengatakan hal yang sedikit lebih menyedihkan?"

"Asal itu bukan hal yang mendukakan."

"Bukankah muara dari kesepian adalah kedukaan?"

"Mungkin kesepian adalah sisa-sisa dari kedukaan."

"Kamu aneh, Saku."

"Kamu juga aneh, Yuko."

"Tapi perasaan ini, aku yakin ini adalah kesepian."

"Kalau begitu, aku dengarkan."

"Bukankah ini akan menjadi yang terakhir?"

"Terakhir..."

"Iya. Festival sekolah kita."

Ah, itu memang benar-benar obrolan yang menyepikan. Namun, aku bisa memahami apa yang ingin Yuko sampaikan hingga rasanya menyesakkan.

Karena Asu-nee akan lulus, dan karena Kureha mungkin tidak bisa berada di warna yang sama dengan kami. Aku sudah menyadari hal-hal itu sejak lama, tapi bukan hanya itu.

──Tahun depan, kita pasti tidak akan bisa menjadi diri kita yang sekarang lagi.

Aku tidak tahu akan berakhir seperti apa, tapi setidaknya, hubungan di mana hati semua orang terikat oleh satu benang biru yang sama sudah mencapai batasnya.

Karena kami harus memilih. Karena kami harus memberikan jawaban.

──Karena kami harus mengurai benang biru itu, dan mengikat kembali benang merah yang baru.

Sebab itulah, ini yang terakhir.

Aku membuka suara agar tidak terlarut dalam kesepian, atau terkejar dan ditinggalkan oleh kedukaan.

"Aku juga berpikir begitu."

Yuko berucap seolah sedang melipat kesepian itu rapi-rapi untuk disimpan di dalam sakunya.

"Ayo kita nikmati ya, Saku."

"Ayo kita nikmati, Yuko."

Setidaknya, pikirku. Sampai festival sekolah pertama dan terakhir bagi kami semua ini usai, biarlah kami tetap berada di warna biru yang sama. Meskipun langkah kaki warna merah yang akan mewarnai musim sudah terdengar mendekat tepat di hadapan kami.

◆◇◆

Karena kami mengambil waktu istirahat yang agak lama, aku pun pindah ke area lapangan athletic sambil jalan-jalan bersama Yuko.

Meski mungkin tidak sampai disebut ikon Taman Ikuhisa, di sana ada wahana permainan yang menggabungkan perosotan, tali, dan jaring. Aku ingat terkadang datang ke sini saat masih kecil.

Lalu kami kembali duduk di bangku, asyik mengobrol santai saat tiba-tiba—

"Senpai! Yuko-san!"

Kureha berlari mendekat dari belakang dengan ceria. Aku dan Yuko saling bertukar pandang, lalu membalasnya dengan lambaian tangan kecil.

"Yo, kerja bagus."

"Kerja bagus, Kureha."

Kureha langsung berdiri di depan kami, melakukan gerakan seolah menyeka keringat di dahi secara berlebihan dengan punggung tangan, lalu mengembuskan napas.

"Perutku sudah kenyang bicara dengan Kazuki-san, jadi aku datang ke sini sebentar untuk menjadikan Senpai sebagai pencuci mulut!"

"Heh."

Saat aku refleks menyahut, Yuko di sampingku menggoyangkan rambut semi-panjangnya dengan geli. Melihat itu, Kureha buru-buru bersuara seolah sedang membela diri.

"Jangan tertawa dong, Yuko-san! Habisnya aku gugup sekali!"

Yuko menaruh tangan di depan bibir, menahan tawa sambil berkata.

"Bukan, bukan begitu."

Kureha memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Terus kenapa?"

Mendengar itu, tatapan Yuko melunak dengan lembut.

"Maksudku, padahal Kureha sebenarnya jauh lebih gugup kalau mengobrol dengan Saku, ya."

““Eh...?””

Suaraku dan Kureha tumpang tindih secara bersamaan.

"Nggak mungkin, lah."

"Nggak mungkin begitu."

Melihat kami berdua menunjukkan reaksi yang mirip, Yuko terkekeh dan tanpa menjelaskan lebih lanjut, ia menepuk-nepuk bagian kosong di bangku sampingnya.

"Kureha mau duduk juga?"

"……Iya!"

Kureha duduk sesuai ajakan dan langsung membuka suara.

"Apa kalian sedang mengobrol berdua?"

Yuko yang menjawab pertanyaan itu.

"Iya. Akhirnya kami bisa punya waktu seperti ini lagi setelah sekian lama."

"Maaf, apa aku jadi mengganggu?"

"Nggak sama sekali, kok. Kami sudah bicara banyak tadi."

"Kalau begitu syukurlah!"

Kalau dipikir-pikir, itu benar. Dulu aku sering mengantar Yuko pulang dan mengobrol tak tentu arah di taman tengah jalan, tapi sejak kejadian di bulan Agustus itu, kami berdua seolah tidak enak untuk memulainya lagi.

Latihan tim pemandu sorak selalu dilakukan bersama semua orang, jadi mungkin ini memang pertama kalinya kami bisa bicara santai berdua lagi.

Namun, rasanya kami justru lebih saling memahami dibanding sebelumnya. Sungguh aneh. Setelah menatap Yuko dan aku secara bergantian, Kureha bertanya dengan nada ragu seolah sedang menyelidiki.

"Anu, apa kalian berdua merasa suasananya agak beda dibandingkan sebelum libur musim panas...?"

Karena pertanyaan itu terlalu tepat sasaran, aku refleks menjawab dengan kalimat yang mengalihkan pembicaraan.

"Memangnya Kureha tahu bagaimana kami sebelum libur musim panas?"

Kureha menjawab tanpa ragu, seolah hal itu tidak perlu dijelaskan lagi.

"Kan sudah kubilang, aku selalu memperhatikan kalian!"

Saat aku kesulitan bereaksi, ia melanjutkan kata-katanya.

"Dulu Yuko-san itu rasanya benar-benar seperti istri sah Senpai yang diakui semua orang, kan? Baik di sekolah maupun di jalan pulang, kalian selalu jalan berdua, dan di antara anak kelas satu pun kalian jadi bahan pembicaraan karena dianggap terlalu serasi."

Bukannya aku tidak sadar, tapi apa di mata orang lain terlihat seperti itu?

Mendengarnya langsung dari mulut adik kelas begini rasanya canggung sekali.

Saat aku melirik Yuko, dia pun tampak tersipu sambil menggaruk pipinya.

Aku mengembuskan napas pendek lalu bertanya.

"Terus, apa kami yang sekarang terasa berbeda?"

"Iya," jawab Kureha seketika.

"Aku benar-benar minta maaf kalau kalian tersinggung, tapi karena aku sendiri yang memulai, aku akan memberikan kesan yang jujur."

Ia menggaruk pipinya dengan wajah yang agak tidak enak hati, lalu melanjutkan.

"Maksudku, dulu kalian itu terlihat terlalu sempurna dan serasi, sampai-sampai aku sempat berpikir kalau itu cuma akting atau terasa agak palsu..."

Ia mendadak menjeda kalimatnya dan buru-buru menambahkan.

"Ah, tentu saja dalam arti yang positif! Maksudku itu saking sempurnanya sampai terasa seperti fiksi, entah itu drama atau film!"

Begitu ya, aku tanpa sadar tertawa kecut.

"Mukka-chin... apa aku harus marah?"

Saat aku menoleh ke arah Yuko dengan nada menggoda, dia menatapku balik.

"Sa-ku?"

"Maafkan aku."

Karena sudah lama tidak dimarahi, aku minta maaf dalam sekejap. Entah kenapa hal seperti ini malah membuatku tenang.

Saat aku memberi kode lewat tatapan mata untuk melanjutkan, Kureha mengangguk dan menyambung ceritanya.

"Belakangan ini, rasanya kalian mendampingi satu sama lain secara alami. Seperti... meskipun tidak dipaksakan untuk bersama pun, kalian tetap terlihat selalu bersama..."

Aku sedikit membelalakkan mata menyadari betapa jeli dia memperhatikan. Terlepas dari apa yang Yuko pikirkan, itu persis dengan apa yang kurasakan.

Terasa lebih jauh dari sebelumnya, namun di saat yang sama terasa lebih dekat dari sebelumnya. Jika bahkan adik kelas yang hanya melihat dari jauh pun menyadarinya, berarti memang ada sesuatu yang telah berubah di antara kami.

Apakah itu "akhirnya benar-benar berubah" atau "akhirnya bisa berubah", aku masih belum tahu.

"Sebenarnya aku penasaran dari dulu," Kureha memberikan pengantar sebelum melanjutkan.

"Apa terjadi sesuatu selama libur musim panas kemarin?"

Yah, melihat alurnya, wajar saja kalau pertanyaan itu muncul. Sambil berpikir begitu, aku menggaruk belakang leherku untuk mengulur waktu.

Terlepas dari teman-teman yang akhirnya ikut terlibat, seberapa pun lucunya dia sebagai adik kelas di tim pemandu sorak, ini bukanlah hal yang bisa diceritakan begitu saja kepada orang lain.

Saat aku bimbang harus menjawab apa, Yuko menatapku dan menyipitkan matanya dengan tatapan yang sayu.

"Saku, boleh aku menceritakannya?"

Mendengar kata-kata yang berbeda dari dugaan—atau mungkin sesuai dugaan itu—aku mengangguk tanpa ragu.

"Iya, kalau Yuko tidak keberatan."

Memang ini bukan cerita yang bisa disebarkan ke sembarang orang di depan stasiun.

Namun, jika Yuko sudah memutuskan bahwa Kureha boleh tahu, aku pun tidak berniat menghentikannya.

Pasti Yua yang tidak ada di sini pun merasakan hal yang sama.

Kureha memperhatikan interaksi kami dengan tatapan yang tampak sangat tertarik. Yuko menoleh ke arahku seolah ingin memastikan sekali lagi, lalu mengerjapkan matanya perlahan.

"Terima kasih, Saku."

"Terima kasih, Yuko."

Setelah itu, aku menyerahkan kelanjutan cerita padanya. Aku menyandarkan punggung ke sandaran bangku dan memejamkan mata, seolah sedang menghanyutkan pikiran pada bulan Agustus yang telah berlalu.

Anak-anak kecil yang tadi bermain di wahana athletic menghentakkan kaki di atas lantai kayu saat hendak pulang, dan mainan pegas di dekat kami berderit pelan seolah sedang tertawa ditiup angin. Sesekali, suara dedaunan kering yang bergesekan ikut menimpali.

"Aku, ya..." Yuko menoleh ke arah Kureha sambil memiringkan kepala sedikit.

"Musim panas ini, aku menyatakan cinta pada Saku, tapi ditolak."

"Eh...?"

Itu adalah kejadian di tengah libur musim panas. Tentu saja, yang lain tidak akan menyebarkan berita itu sembarangan, jadi Kureha yang jeli sekalipun baru pertama kali mendengarnya.

Ia memainkan jemarinya di atas rok dengan perasaan bersalah yang tampak jelas.

"Anu, maaf aku bertanya tanpa pikir panjang..."

"Nggak apa-apa, kok," sahut Yuko sambil menggoyangkan ujung rambut sebahu miliknya dengan lembut.

"Karena kami sudah bisa saling berpegangan tangan dengan benar, rasanya sudah tidak sakit lagi."

"Berpegangan... tangan..."

Yuko mengangguk kecil, lalu mulai bercerita dengan perlahan.

Tentang rasa tidak puasnya karena selalu diperlakukan istimewa sejak kecil. Tentang keinginannya saat SMA untuk bertemu sahabat yang tulus dan orang yang disukainya.

Tentang keributan saat pemilihan ketua kelas tepat setelah masuk sekolah, momen ketika ia pertama kali dimarahi dengan sungguh-sungguh. Tentang momen itu yang membuatnya jatuh cinta padaku.

Bahwa ia pertama kali menyatakan cinta saat kelas satu. Bahwa ia sempat meminta agar jawabannya ditunda saja.

Bahwa ia sebenarnya merasa cemas terhadap Yua yang menjadi akrab dengannya di semester kedua. Bahwa ia terus-menerus menyesali hal itu.

Bahwa setelah masuk kelas dua, ia juga berteman baik dengan Nanase dan Haru, sehingga merasa harus segera menyelesaikannya. Tentang perasaannya yang menganggap gara-gara dirinyalah, orang-orang berharganya jadi tidak bisa mementingkan perasaan "istimewa" mereka sendiri.

Bahwa pernyataan cinta itu bukan untuk memulai sesuatu, melainkan untuk mengakhirinya. Dan terakhir, tentang Yua yang menggenggam tangannya.

Yuko mengakhiri seluruh ceritanya, lalu perlahan membuka mata.

"Itulah Agustus kami."

Kureha yang mendengarkan cerita itu dengan ekspresi seolah hendak menangis sejak di tengah cerita, akhirnya tidak tahan lagi.

"Begitu... ya..."

Air mata jatuh membasahi pipinya.

"Eh, ah, aku..."

Ia mungkin tidak sadar kalau sedang menangis. Tepat saat air mata jatuh dari ujung dagunya, Kureha membelalakkan mata.

Yuko menyodorkan saputangan berwarna bunga matahari dengan ekspresi sedikit bingung.

"Aduh, kenapa malah Kureha yang menangis?"

"Bukan begitu, ini bukan air mata yang indah seperti itu, hiks──"

Kureha hendak mengatakan sesuatu tapi kemudian terdiam, jemarinya mengepal kuat di atas rok. Selama ia terdiam, tetesan air mata terus jatuh membasahi punggung tangannya.

"Maaf," ucap Kureha sambil menerima saputangan itu.

"Nanti akan kucuci dulu sebelum kukembalikan."

"Tidak usah, tidak apa-apa kok."

Melihat Kureha menyeka air mata dengan sangat hati-hati agar tidak mengotori saputangan itu, Yuko menyahut dengan nada suara yang lembut.

"Anu, apa ini namanya menangis karena simpati...?"

Kureha menggelengkan kepalanya kuat-kuat seolah menolak sesuatu.

"──Meski akan lebih baik jika aku menganggapnya begitu, tapi aku tidak ingin menganggapnya begitu."

Yuko mengelus punggung juniornya dengan lembut, seolah sedang mencoba menyeka air mata yang ada di dalam hati gadis itu.

"Bisa beri tahu aku sedikit lagi?"

Kureha mengendus napas pendek. Ia memalingkan wajah karena malu, lalu memeras suaranya yang hampir gemetar dengan kedua tangan, seolah sedang mencoba membuang sisa-sisa air di sana.

"...Aku merasa, bahkan musim panas pun kubiarkan berlalu begitu saja."

Sentimentalitas musim panas yang kehilangan arah itu menabrak pintu masuk musim gugur dan terjatuh dengan bunyi berdenting. Kejernihan yang tak tersentuh meluap layaknya kelereng di dalam botol Ramune.

Bergoyang, meletup, dan menghilang seperti buih Ramune. Sejujurnya, aku tidak tahu makna apa yang terkandung dalam kata-kata itu.

Meskipun baru sebentar mengenalnya, Kureha terkadang menunjukkan ekspresi dewasa yang mengejutkan. Namun, ini pertama kalinya ia memperlihatkan sisi hatinya yang rapuh tanpa pertahanan seperti ini.

Wajah tangisnya itu benar-benar terlihat seperti seorang junior, entah kenapa terasa seperti musim semi yang belum tersentuh, tampak seperti seorang gadis yang sendirian.

"Hei, Kureha?"

Tanpa menunjukkan keraguan sedikit pun, Yuko membuka suara.

"Kamu bisa memulainya lagi, kok."

Mendengar itu, mata Kureha membelalak.

"Eh...?"

Yuko menyipitkan mata seolah sedang menarik garis start baru dengan bubuk putih salju.

"──Sama seperti aku, yang cintanya berakhir di musim panas ini, lalu jatuh cinta lagi dengan cara yang baru."

Ia tersenyum lebar dengan sepasang mata yang sangat murni.

"Yuko-san..."

Kureha menggigit bibirnya kuat-kuat dengan wajah yang seolah akan kembali meneteskan air mata yang tadi sempat berhenti. Entah kenapa, aku pun merasa ikut ingin menangis.

Karena itu, mari mulai melangkah lagi. Karena itu, mari mulai berlari lagi. Rasanya ia sedang mengatakan hal semacam itu.

"Satu hal saja," Kureha berdiri.

Ia melangkah satu kaki ke depan, lalu memutar tubuhnya hingga roknya mengembang dan menoleh ke arah kami. Di matanya yang baru saja menghalau air mata, tersimpan tekad yang tampak seperti sebuah tantangan.

Mungkin, itu adalah ekspresi yang sama dengan yang ia tunjukkan di garis start lari jarak pendek.

"Yuko-san, bolehkah aku menanyakan satu hal saja?"

Yuko tersenyum lembut sambil memiringkan kepalanya.

"Boleh, apa itu?"




Kureha meremas saputangannya kuat-kuat sampai kusut, lalu berkata.

"Kalau sudah berpegangan tangan, bukankah nanti jadi sulit untuk melepaskannya?"

"Ini bukan soal melepaskan, tapi soal mempersembahkan."

Yuko melanjutkan dengan suara hangat tanpa sedikit pun keraguan.

"Semua perasaan yang meluap di dada ini, hari-hari yang telah kita lalui, warna-warna yang terpantul di mata, tatapan yang kuberikan, suara yang tertinggal di telinga, kehangatan tangan yang kusentuh, aroma jalan pulang, air mata yang tumpah, hingga hati yang tak pernah sampai."

Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu menyentuh dadanya perlahan dengan kedua tangan.

"──Aku memercayakan semuanya padamu, jadi berbahagialah, ya."

Ia mengatakannya dengan senyuman yang mekar seindah buket bunga.

““──!””

"Yuko," aku refleks hampir berdiri, namun mengurungkan niat di detik terakhir.

Mana mungkin aku bisa melarangnya tersenyum seolah sedang mengucapkan selamat tinggal. Mana mungkin aku punya muka untuk memohon padanya agar tidak berdoa dengan wajah seperti orang yang hendak menangis.

Padahal kaulah penyebab utama yang membuatnya memasang ekspresi seperti itu.

Kureha berkali-kali hendak bicara namun terdiam kembali, lalu ia mengangkat bahu seolah sedikit takjub, dan tiba-tiba tertawa geli dengan ekspresi jenaka.

"Yuko-san, bukankah itu sedikit terlalu berat?!"

Yuko memiringkan kepalanya dengan polos.

"Masa, sih?"

Kureha berkata dengan nada yang sangat lepas.

"Meski akhirnya cintanya sendiri terwujud, apa mungkin dia bisa dititipkan hati gadis lain?"

"Mungkin saja," sahut Yuko sekali lagi dengan kalimat yang sama.

"Setidaknya bagi gadis-gadis yang ingin kupanjatkan doanya, dia pasti akan membawa mereka bersamanya."

Kureha tanpa sadar membisikkan suara yang lirih.

"Apa di antara mereka..."

Lalu ia menggeleng seolah menarik ucapannya.

"Yah, mereka semua memang orang-orang yang hebat, sih!"

"Iya!"

"Hubungan di mana kalian saling peduli seperti itu... aku jadi iri!"

"Kureha juga harus jadi teman seperti itu bagi kami, ya!"

"Ehehe~"

Tepat di saat itu,

"Ketemu juga. Ayo, sudah waktunya latihan lagi!"

Nanase berlari mendekat dari arah belakang. Melihat jam, waktu istirahat kami memang sudah lama terlewat. Obrolan yang melenceng ke arah yang tak terduga tadi membuatku terlalu terpaku mendengarkannya.

Nanase berkata dengan nada jengkel, "Astaga, kalian bertiga malah kumpul di tempat seperti ini."

Aku dan Yuko saling bertukar pandang dengan perasaan tidak enak. Kureha pun buru-buru membela diri.

"Maaf! Tadi aku yang meminta Yuko-san menceritakan tentang kejadian bulan Agustus."

Alis Nanase sedikit terangkat. "Hoo?"

Kureha menyambung dengan suara polos, "Ceritanya sangat indah!"

Nanase mengangkat bahu sedikit, lalu tersenyum dengan ketenangan khas seorang senior.

"Begitu ya."

Saat kami berempat mulai berjalan berjejer menuju lapangan,

"──────♫"

Tiba-tiba Yuko menggumamkan melodi lagu yang akan diputar pada bagian Uta-ge.

"Aku suka sekali lagu ini!"

Aku dan Nanase refleks saling pandang, lalu terkekeh pelan.

"Aku juga suka."

"Aku pun suka."

Kureha menyahut mengikuti suara Yuko, dan tak lama kemudian Nanase pun ikut bergabung. Melodi yang sedikit kikuk itu pun melebur ke langit yang tanpa sadar telah memasuki senja.

Rasanya seperti sebuah impian jujur yang berpijak di bumi, dan itu terasa sangat tidak buruk.

◆◇◆

Setelah menyelesaikan latihan tim pemandu sorak dan berpisah dengan yang lain di Taman Ikuhisa, aku, Nanase Yuzuki, menghentikan sepeda cross milikku di alun-alun Stasiun Tawaramachi dalam perjalanan kembali ke arah SMA Fujishi, lalu berdiri di atas jembatan penyeberangan orang (JPO) di dekat sana.

Sekelilingku sudah benar-benar diselimuti kegelapan tipis sewarna bunga kikyō. Malam sudah mulai terasa panjang, pikirku.

Seolah ada seseorang yang menggosok garis batas siang yang ditarik pensil dengan penghapus mainan. Semakin lama dibiarkan, berlawanan dengan keinginan pemiliknya, pita hitam itu perlahan-lahan merembes dan meluas.

Pasti saat kusadari, semuanya sudah terwarnai sampai tak bisa diperbaiki lagi.

Mungkin, itu mirip dengan diriku yang sekarang. Saat aku sedang hanyut dalam pikiran yang tak tentu arah itu,

"Aku suka pemandangan dari atas jembatan penyeberangan," ucap Kureha yang berdiri di sampingku.

"Kurasa aku paham maksudmu," jawabku sambil menatap pemandangan malam yang terbentang di depanku.

Jalan Phoenix yang lebar di bawah jembatan ini dipenuhi mobil dengan lampu depan menyala yang mengalir teratur seperti gerombolan ikan migrasi.

Di tengahnya, rel kereta yang menuju Stasiun Tawaramachi membentang, dan trem yang lebih tinggi dari sekitarnya menjauh perlahan seperti kapal penumpang yang mengarungi lautan.

Lampu jalan dan mesin penjual otomatis terpantul pada sekat transparan halte bus, berkerlap-kerlip indah.

Lampu lalu lintas yang berjejer di sepanjang jalan lurus itu berganti warna bergantian antara merah, biru, dan kuning.

Atap segitiga khas GOR Fukui yang samar-samar terlihat di sebelah kiri seolah menyatu dengan deretan pegunungan di kejauhan.

"Sudah lama ya," ucapku begitu saja sambil menyandarkan berat tubuh pada pagar jembatan.

"Apanya?"

"Jembatan penyeberangan."

"Kalau tidak ada niat untuk naik, kita memang tidak akan ke sini, kan?"

"Mungkin terakhir kali aku naik saat SD."

"Aku jadi membayangkannya sebentar."

"Pasti imut, kan?"

"Iya, sangat imut."

Sambil melontarkan obrolan santai dengan Kureha, aku tiba-tiba teringat masa lalu dengan rasa rindu.

Sekolah SD-ku dulu menggunakan sistem berangkat berkelompok, jadi aku berangkat bersama anak-anak tetangga yang bersekolah di tempat yang sama.

Tingkatan kelas kami berbeda-beda. Biasanya kelas enam, atau jika tidak ada, kelas lima yang menjadi ketua dan wakil ketua regu untuk memimpin di depan dan menjaga di belakang.

Anak-anak yang di depan memakai ban lengan, dan aku masih ingat betapa benda itu terlihat seperti tanda jasa orang dewasa saat aku masih kelas bawah dulu.

Di jalan besar dalam rute sekolah, ada jembatan penyeberangan klasik seperti ini, dan kami berenam dengan tinggi badan yang tidak rata akan menyeberang dalam satu barisan.

Karena ada penyeberangan jalan di tempat yang agak jauh, orang dewasa lebih memilih lewat sana, sehingga jembatan itu selalu hanya diisi oleh anak-anak.

Ngomong-ngomong, dulu aku selalu merasa bersemangat setiap kali lewat jembatan penyeberangan.

Saat jam sibuk pagi hari di mana mobil cukup padat, aku merasa memiliki rasa bersalah sekaligus keunggulan yang aneh karena bisa melintas dengan lancar di atas mereka.

Jika ada truk besar lewat di bawah tepat waktu, getarannya akan terasa sampai ke kaki.

Aku sering berkhayal, andai aku berani melompat dari sini sekarang, apa aku bisa sampai ke kota antah berantah dengan menumpang punggungnya yang lebar itu?

Saat jalan pulang bersama teman, jembatan penyeberangan bagi kami tidak ada bedanya dengan wahana di taman.

Kami bermain gunting-batu-kertas, menjadikannya arena petak umpet sambil berlarian ceria, atau sekadar duduk di anak tangga untuk mengobrol.

Kami juga pernah duduk berjejer diam melihat matahari terbenam di balik gunung.

Aneh ya, kenapa aku bisa melupakannya?

Dulu, jembatan penyeberangan benar-benar tempat yang istimewa. Bagi kami yang masih kecil, rasanya seperti sedang mengintip kota lewat sela-sela pagar.

Sebuah perasaan misterius di mana kami berpikir bahwa mobil-mobil dan orang-orang yang lewat tidak akan sadar kalau mereka sedang diperhatikan dari tempat tinggi.

Mungkin, itu adalah pemandangan luar biasa yang paling dekat dengan keseharian, sebuah markas rahasia anak-anak yang tak akan ditemukan orang dewasa. Tanpa sadar aku sudah lama melewatinya, pikirku sambil mengusap pagar di depan mataku. Terasa dingin, dan tingginya jauh lebih rendah dari tubuhku sekarang.

Ah, benar juga.

──Tempat ini juga sangat cocok untuk percakapan rahasia sesama perempuan.

Aku bergumam sambil menatap aliran mobil yang tak kunjung putus.

"Apa tempat seperti ini suatu saat akan menghilang, ya?"

"Tempat seperti ini...?"

"Jembatan penyeberangan, atau hal-hal lain yang tugasnya sudah selesai."

"Apa tugasnya sudah selesai?"

"Cuma sentimentalitas malam saja, jangan dipikirkan."

Aku tidak sedang ingin membicarakan dunia di siang hari—soal fungsinya untuk keamanan pejalan kaki, atau soal anak SD yang masih menggunakannya, atau sebaliknya, soal betapa tidak ramahnya tempat ini bagi lansia dan orang berkebutuhan khusus.

Ada hal-hal yang sudah berakhir secara konseptual.

Misalnya, telepon umum yang merana di sudut jalan. Misalnya, perangkat audio mini yang terjepit di antara speaker Bluetooth dan sistem audio profesional. Misalnya, surat cinta yang dimasukkan ke loker sepatu.

Lalu, aku bergumam pelan sekali lagi.

"Atau pemandangan yang dulu istimewa, atau hal-hal yang telah terlupakan."

"Atau mungkin,"

Di luar dugaan, Kureha menyambung kalimatku.

"──Cinta yang selama ini membelenggu diri sendiri, atau hal-hal yang selama ini sengaja dihindari."

Aku tidak terkejut lagi dengan ketajamannya. Saat di Taman Ikuhisa tadi, ketika ia mengajakku pulang bersama, aku menerima ajakan itu tanpa ragu.

Karena itulah saat kami sedang mengayuh sepeda dan Kureha tiba-tiba ingin naik ke jembatan penyeberangan, aku tidak menanyakan alasannya lebih jauh.

Pasti ada sesuatu yang ingin ia bicarakan, atau meski tidak ada pun, malam ini terasa pas untuk itu. "Aku sudah dengar, lho, Nana-san," ucap Kureha mengubah topik tanpa menarik kembali kata-katanya barusan.

"Di pertandingan latihan, kamu mengalahkan tim kuat dari luar prefektur, kan?"

"Yah, begitulah."

"Teman klub basketku heboh sekali, katanya Nana-san hebat banget."

"Apa kamu ingin aku bilang kalau aku 'terbangun' gara-gara dipicu oleh seseorang?"

"Mana mungkin! Apa pun pemicunya, performa yang kamu tunjukkan di pertandingan adalah murni kemampuan Nana-san sendiri."

Mendengar itu, aku refleks tertawa kecil. "Ternyata kamu tipe atletis, ya."

"Memang atletis, kok!"

Andai saja itu palsu, pikirku sambil mengembuskan napas panjang penuh penyesalan karena hasil yang kudapat persis seperti dugaan. Lalu aku membuka suara dengan nada mencela diri sekaligus memprovokasi.

"Meskipun untuk saat ini, dia masih lebih hebat dariku."

"Karena cabangnya berbeda, tidak bisa dibandingkan secara langsung, sih. Tapi kalau bicara soal prestasi saja, untuk saat ini memang iya."

"Benar-benar ya, mulutmu itu tajam sekali."

Aku sejujurnya terkejut saat mendengar Kureha masuk Inter-High di nomor 100 meter. Itu adalah nomor bergengsi di atletik.

Karena itu adalah olahraga lari yang sederhana, aku tahu itu bukan dunia yang bisa ditaklukkan hanya dengan keberuntungan atau momentum saja. Bisa meraih hasil di sana berarti dia murni kuat.

Berbeda dengan olahraga tim seperti basket, tidak ada ruang untuk alasan soal kekompakan tim, cedera anggota lain, atau penurunan performa.

Kureha bertarung sendirian tanpa mengandalkan siapa pun, dan menang. Hanya dari reaksinya barusan, sudah tersampaikan betapa seriusnya ia menghadapi dunianya. Aku tidak punya pilihan selain mengakui fakta itu.

"Hehe," Kureha berucap seolah ada sesuatu yang lucu. "Nana-san sendiri sudah tidak bisa bicara soal orang lain lagi, kan?"

"Hee, apa maksudmu?"

Saat aku bertanya balik, Kureha berputar dan menyandarkan punggungnya pada pagar jembatan. Sambil menatap langit, ia berbicara dengan nada yang terdengar senang.

"Temanku bilang, gaya bermainmu kemarin berbeda dari biasanya."

"Lalu?"

"Katanya, biasanya Nana-san memberikan umpan untuk menghidupkan Haru-san atau anggota lain untuk mencetak skor, tapi hari itu kamu seperti bertukar peran menjadi seorang scorer."

"……Itu cuma cara penyampaiannya saja."

Kureha sepertinya menyadari sedikit keraguanku dan berkata dengan lugas.

"Apa kamu mencampakkan Haru-san demi mencapai tujuanmu?"

"Kalau dilihat dari bentuknya saja, mungkin iya."

Aku tidak ingin goyah hanya karena hal sepele semacam ini. Baik demi diriku sendiri, maupun demi pasanganku. Kureha melanjutkan seolah itu bukan masalah besar.

"Bagus, kan? Karena kamu sudah memberikan hasil yang nyata."

"Aku juga berpikir begitu."

"Teman satu timmu juga senang, kan?"

"Kecuali pasanganku, ya."

"Itu masalah Haru-san, bukan masalah Nana-san."

"Apa dia bisa melampauinya?"

"Padahal sebenarnya kamu percaya padanya."

"Astaga," aku tertawa kecut. Aku ikut berbalik dan menyandarkan punggung pada pagar jembatan, menatap langit bersama dengan bahu kami yang tingginya hampir sejajar. Meskipun ini di tengah kota Fukui, kerlip gugusan bintang di atas sana terlihat sangat indah sampai membuatku jenuh. Kecuali mobil yang lalu lalang, tidak ada sosok manusia lain selain kami.

Di tempat yang lebih dekat dengan langit berbintang dari biasanya, hanya berdua saja.

Hanya berdua dengan junior kurang ajar yang tak bisa kubenci namun juga tak sepenuhnya kusukai.

Kalimat-kalimat klise seperti fiksi, seperti 'andai kita bertemu dengan cara yang berbeda', hampir saja terlontar dari mulutku. Namun sekali lagi aku mencelanya sebagai sentimentalitas malam.

Seandainya kita teman sekelas. Seandainya kita teman satu tim. Seandainya kita tidak menyukai laki-laki yang sama.

Mungkin kita bisa menjadi pasangan yang hebat. Memang percuma menyesali hal-hal yang tidak terjadi, namun tetap saja. Saat aku berpikir sampai di sana, tiba-tiba kata-kata yang tumpah hari itu menghujaniku kembali.

Pernahkah kalian berpikir, andai urutan pertemuannya berbeda?

Misalnya seandainya aku sudah sekelas sejak kelas satu, atau seandainya aku teman masa kecilnya...

Saat aku jatuh cinta, di hatinya sudah ada gadis lain. Rasanya seperti berandai-andai, bagaimana jika akulah yang bertemu dengannya lebih dulu.

Padahal aku hanyalah diriku sendiri, tapi aku tidak bisa menyerah begitu saja hanya karena alasan kebetulan, kan?

Aku ingin memutar balik musim semi.

Ah, begitu rupanya, Kureha────. Pemicu sekecil apa pun membuatku menyadarinya dengan sangat nyata. Baginya, "seandainya" itu kebetulan adalah orang yang dia sukai, dan ia tidak bisa menyerah begitu saja hanya dengan kalimat "memang sudah takdirnya tidak begitu".

Jadi, memutar balik, ya.

Mungkin hanya Kureha yang benar-benar paham arti dari kata-kata itu, tapi setidaknya aku bisa meraba garis besarnya. Singkatnya, jika memang di dunia ini ada yang namanya takdir, ia berniat melakukan one-on-one langsung dengannya dan menundukkannya dengan paksa. Sama seperti yang kulakukan terhadap Todo di GOR waktu itu.

──Bukan di wilayahnya sendiri seperti lintasan lari atau lapangan basket, melainkan di panggung utama bernama cinta.

Karena itu, aku pun harus membulatkan tekad untuk naik ke sana. Untuk membuktikan diri sebagai pahlawan wanita dalam cerita ini di bawah sorot lampu. Seolah bisa membaca hatiku, Kureha berkata.

"Kamu lebih memilih menjadi Nana daripada terus menjadi Nanase Yuzuki, ya?"

Aku menjawab dengan senyum yang dipaksakan agar terlihat tenang.

"Tidak ada aktor yang naik ke atas panggung dengan nama aslinya, kan?"

Mendengar itu, Kureha sedikit menggoyangkan bahunya sambil terkekeh. "Meskipun aku sendiri yang memicu ini, tapi Nana-san yang sekarang sepertinya akan sedikit sulit dihadapi."

"Cuma sedikit, ya?"

"Soalnya kamu belum setangguh Yuko-san."

"Bisa saja kamu bicaranya. Jadi, topik utamanya adalah itu?"

"Iya!"

Astaga. Kejujurannya membuatku merasa takjub sekaligus jengkel sampai ingin tertawa. Jadi semua obrolan tadi cuma pembukaan saja, ya? Kureha berkata tanpa rasa bersalah.

"Malam ini, tolong temani aku ya. Sejauh ini, hanya Yuzuki-san satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara jujur seperti ini."

Memang sudah niatku begitu, sih, jawabku dalam hati.

"Apa ada perasaan yang bahkan Kureha tidak bisa tanggung sendirian?"

"Mana mungkin. Ini adalah perasaan yang selama ini aku peluk erat seorang diri, lho."

Kureha menggelengkan kepala dengan ekspresi geli, lalu melanjutkan.

"Kemampuan untuk bisa sendirian adalah salah satu dari sedikit keunggulanku. Mana mungkin aku melepaskannya begitu saja, kan?"

"Benar juga. Bodohnya aku sampai bertanya begitu."

"Iya!"

"Balasanmu itu salah, tahu."

Aku refleks menyahutinya, lalu kami saling bertukar pandang dan tertawa geli. Setelah puas tertawa, aku bertanya.

"Kalau begitu, kenapa kamu mengajakku?"

"Entahlah?"

Kureha memiringkan kepalanya dengan raut yang sedikit sentimental.

"Mungkin ini yang dinamakan sentimentalitas malam?"

"Kalau begitu, mau bagaimana lagi."

Aku yang menjawab pun pasti sedang memasang wajah sentimental. Mungkin saja ini adalah malam sebelum pertempuran. Panggung kami yang akan dimulai sedikit lebih awal daripada festival budaya.

Begitu tirai diangkat, kami harus memerankannya sampai akhir. Jadi, ini adalah saat-saat singkat sebelum itu terjadi. Apakah ia ingin bertukar kata denganku hanya sebagai Nanase Yuzuki dan Nozomi Kureha yang biasa?

Aku sedikit menyipitkan mata, lalu membuka suara.

"Soal kejadian bulan Agustus, kan?"

"Iya."

Kureha mengangguk pelan dan melanjutkan.

"Apa Kakak masih ingat apa yang aku katakan soal Yuko-san?"

"Tentu saja."

Tebasan pertama yang kuterima di atap sekolah waktu itu.

──Apa yang ingin Kakak lakukan pada kami?

Kami, katamu?

Ketidakmampuan Kakak untuk menyebut nama "Chitose" di sana... menurutku itulah jarak antara Yuzuki-san dan yang lainnya dengan Yuko-san saat ini.

Mana mungkin aku bisa lupa meski aku ingin melupakannya. Sebab hal itu adalah sesuatu yang paling kusadari sendiri lebih dari siapa pun.

"Aku merasa aneh," gumam Kureha.

"Sebelum libur musim panas, aku tidak pernah berpikir seperti itu terhadap Yuko-san yang kulihat dari jauh. Malahan, dia terlihat seperti sosok yang posisinya paling berbahaya di antara kalian semua..."

"Aku tidak bermaksud merendahkan Yuko yang dulu, tapi aku paham maksudmu."

Jika ditanya apakah pemikiran serupa tidak pernah terlintas di sudut kepalaku, aku pun akan sulit menjawabnya. Yuko yang dulu terlihat terlalu polos—atau jika ingin lebih jujur, ia terlihat terlalu memaksakan perasaan cinta kekanak-kanakan yang baru lahir.

Jika dibiarkan, kata "suka" akan menjadi rutinitas yang sama dengan "selamat pagi" atau "selamat tidur". Aku takut hal itu hanya akan melahirkan rasa sayang, namun tidak berubah menjadi cinta.

Tentu saja aku tidak menganalisisnya dengan cara yang licik, tapi jika harus menyimpulkannya sekarang, mungkin aku memang berpikir begitu di suatu tempat dalam hatiku.

Itulah sebabnya aku lebih merasa terusik saat jarak antara Nishino-senpai, Haru, atau Ucchi dengan Chitose semakin dekat.

Namun, Kureha menyilangkan kaki kanannya di depan kaki kiri.

"Tapi begitu masuk ke tim pemandu sorak, suasananya benar-benar berbeda. Tentu saja ini bukan soal gaya rambutnya yang berubah, tapi bagaimana ya menyebitnya..."

"Dia terlihat lebih dewasa?"

Saat aku mengatakannya, ia mengangguk mantap.

"Secara singkat, kata-kata itu yang paling pas. Dulu dia tampak hanya memikirkan perasaannya sendiri dan merepotkan Senpai, tapi sekarang dia terlihat tulus memikirkan Senpai. Aku merasa... dia sudah pantas berada di sisinya."

"──Memikirkannya."

Kureha membelalakkan matanya dengan bingung. "Eh...?"

Aku teringat akan senyum indah yang tampak damai seperti sedang tertidur, lalu berkata.

"Itu adalah jawabannya saat aku bertanya apa yang akan ia lakukan selanjutnya di akhir musim panas itu."

"Begitu ya..."

Kureha menyipitkan mata dengan sendu, lalu melanjutkan.

"Karena itulah aku ingin bertanya. Kepada Yuko-san, tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Senpai."

"Apa ceritanya memuaskan?"

"Sangat!"

Lalu, aku mengembuskan napas pendek.

"Karena sudah telanjur begini, sekadar basa-basi saja, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"

Meskipun aku tidak berharap akan dijawab, Kureha justru membuka suaranya dengan santai.

"Nana-san, apa Kakak ingat isi provokasiku di atap waktu itu?"

"Apa kamu pikir jumlahnya sesedikit itu sampai aku bisa langsung menebaknya?"

"Itu lho, yang soal aku tidak kalah cantik dibanding Yuzuki-san."

"Ah."

Aku ingat betul karena itu adalah kalimat yang sangat menggambarkan sosok di depanku ini.

Aku ini cantik, tidak kalah dari Yuzuki-san. Aku bisa memasak seperti Yua-san, dan kemampuan olahragaku tidak kalah dari Haru-san. Kalau aku mau, aku juga bisa menjadi tempat curhat seperti Asukaze-san.

Ia mengatakannya dengan nada suara seolah hanya sedang merinci fakta. Kureha menaruh kepalan tangan kecilnya di depan bibir sambil terkekeh.

"Apa Kakak pikir itu hanya gertakan?"

"Tidak, kurasa itu memang kenyataannya."

"Hee?"

"Kan sudah kubilang, aku mengakuimu."

"Jangan menggodaku dengan tulus di malam bertabur bintang begini, dong."

"Boleh saja kalau kamu sampai tidak sengaja jatuh cinta padaku."

"Seandainya aku bertemu Nana-san lebih dulu, mungkin saja."

"Bukannya kamu benci menjadikan urutan pertemuan sebagai alasan?"

"Karena itulah aku mengatakannya."

"Begitu ya."

Aku menjeda kata-kataku sejenak, lalu kembali ke topik awal.

"Jadi, ada apa dengan provokasi itu?"

"Kakak tidak tahu?"

"Aku bisa menebaknya, sih."

"Karena itulah aku..."

Sambil berbicara, Kureha melepaskan pegangannya dari pagar dan berbalik menghadapku. Ia menyelipkan rambut yang tertiup angin malam ke belakang telinga, lalu mengerjapkan mata perlahan. Dengan tatapan dewasa layaknya seorang gadis yang telah melewati musim panas,

"──Aku pun bisa memikirkan Senpai seperti yang dilakukan Yuko-san."

Ia tersenyum lembut seperti salju murni yang belum terjamah.

"Aku mengakuinya."

Sesuai dugaan, melihat Kureha yang bersikap persis seperti Yuko, aku menjawab dengan jujur.

"Memang benar, kamu bisa bersikap seperti Yuko, Ucchi, Haru, Nishino-senpai, bahkan sepertiku."

Namun, aku melepaskan pagar dan menyelipkan rambut ke telinga kiriku.

"Boleh aku mengatakan satu hal?"

"Iya! Apa itu?!"

Aku melangkah satu, dua langkah mendekati gadis yang sengaja bersikap seperti junior ini────.

Lalu dengan perlahan, aku menyentuhkan kelima ujung jariku ke arah paha kirinya dari atas rok.

"E-eh, Yu-yuzuki-san...?"

Melihat Kureha yang menunjukkan kegugupan murni—hal yang jarang terjadi—aku membasahi bibir dengan ujung lidah. Dari paha, aku menggerakkan ujung jariku secara melingkar kecil menuju ke arah bokong, dengan gerakan yang lebih halus dari sentuhan dan lebih samar dari belaian.

"Hiuh──"

Aku mengabaikan reaksi Kureha dan terus merayapkan ujung jariku ke atas. Aku meraba tulang pinggul kirinya, naik setingkat demi setingkat dari pinggang menuju tulang rusuk, menelusuri tepat di samping dadanya, mengitari tulang selangka perlahan, lalu mengikuti garis leher hingga membungkai dagunya.

"Ngh."

Kureha mendesah manis tanpa sadar.

"Mulut nakal."

Sambil berkata begitu, aku menggunakan ibu jari untuk membungkam bibir murninya perlahan. Saat aku mengusap permukaannya, ia menjadi kaku karena gelisah. Aku bisa merasakan hawa lidahnya yang bergidik di bagian dalam.

"Jangan terlalu meremehkanku."

Hidung kami bersentuhan lembut saat kami saling menatap dalam kerjapan mata. Napas pendek Kureha yang memburu membelai bibirku. Aku menggesekkan pipiku dengan lembut ke pipinya, lalu berbisik pelan di jarak yang seolah akan menyentuh daun telinganya.

"Karena yang bisa bersikap seperti itu... bukan cuma kamu saja."

"──!"

Kureha menggeliat seolah sudah tidak tahan lagi. Merasa puas dengan reaksinya, aku menyipitkan mata dan terkekeh.

"Manisnya."

Aku melanjutkan dengan suara manis yang menggoda ke arah junior yang sedang menutupi telinga kirinya sambil memalingkan wajah.

"Padahal tadi sok hebat, tapi ternyata reaksimu masih sangat polos, ya."

Suara napas yang tersengal-sengal tak bisa disembunyikan lagi, menggema di jembatan penyeberangan yang hanya diisi kami berdua.

"Yuzuki-san...!"

"──Panggil aku Nana untuk saat ini."

Kureha menatapku dengan kaget. Pipinya yang tak bisa menyembunyikan keguncangan itu masih sedikit memerah.

"Akhirnya aku bisa mendaratkan satu tebasan, ya."

Mendengar kata-kataku, ia mengembuskan napas panjang seolah menyerah.

"Aku tarik kembali kata-kataku."

Kureha menurunkan sudut matanya dengan ekspresi yang sangat mirip seorang junior.

"Nana-san yang sekarang... sepertinya cukup tangguh."

"Terima kasih sanjungannya."

Aku mengangkat bahu dan tersenyum, lalu ia menggaruk pipinya dengan malu-malu sambil melanjutkan.

"Sebagai sesama perempuan, tanpa sadar aku merasa merinding tadi."

"Mau pindah haluan sekarang selagi sempat?"

"Sepertinya akan sangat melelahkan untuk menaklukkanmu."

Lalu, Kureha bersuara dengan nada yang ceria.

"Berarti, Kakak sudah benar-benar serius sekarang, kan?"

"Kamu kelihatan senang sekali."

"Tentu saja! Kalau harus menang, aku ingin menang melawan Nana-san yang serius."

Aku membasahi bibirku dengan provokatif dan berkata.

"Sudah terlambat kalau mau menyesal sekarang."

"Aku sudah terbiasa dengan penyesalan yang tak bisa diperbaiki."

"Maaf membuatmu menunggu."

"Aku sudah menantinya!"

Lalu kami berdua saling bertukar pandang dan tertawa geli. Pasti kami berdua sudah paham.

Basa-basi sebelum tirai dibuka berakhir di sini. Kureha pasti akan berlari kencang kali ini tanpa keraguan. Seperti cara ia membelah stagnasi kami dengan mudah, ia akan mencoba menembak hati laki-laki itu dengan keinginannya yang gigih.

Aku berterima kasih padamu, Kureha. Tanpa sosok sepertimu, aku tidak akan pernah punya keberanian untuk menemui Nanase Yuzuki yang sebenarnya, dan tidak akan punya tekad untuk membuang segalanya demi pria yang kucintai.

Sebagai balasannya, akan kutunjukkan padamu. Kepadamu yang telah menyembunyikan bulanku────.

Malam sang penyihir bernama Nana, yang menyembunyikan apel merah beracun.

◆◇◆

Cermin, oh cermin.

──Seandainya saja aku adalah danau di kala senja.

◆◇◆

Sepulang sekolah keesokan harinya, aku, Chitose Saku, tetap tinggal di kelas meski wali kelas sudah keluar.

Di sekelilingku ada Yuko, Yua, Nanase, Haru, Kazuki, Kaito, dan Kenta yang mengenakan kaus kelas atau lebih tepatnya "Kura-T" (Kaus Klub Gudang). Mereka semua adalah anggota tim pemandu sorak, ditambah Nazuna, yang duduk melingkar.

Hari ini adalah latihan perdana, atau lebih tepatnya pembacaan naskah untuk drama festival budaya berjudul Putri Salju, Putri Awan Gelap, dan Pangeran yang Plin-plan. Omong-omong, selain aku, Yuko, dan Nanase, anggota tim pemandu sorak lainnya baru pertama kali melihat naskah ini.

Tanpa akting terlebih dahulu, semuanya mencoba membaca dialog masing-masing dengan lantang sampai akhir. Setelah selesai, Nazuna bertepuk tangan sekali.

"Kira-kira begitu suasananya!"

Ia menatap semuanya, lalu menyipitkan matanya dengan jahil.

"Ngomong-ngomong, bagian akhirnya kuserahkan pada improvisasi Chitose-kun dan yang lainnya, ya."

Mendengar itu, Kazuki refleks tertawa kecut.

"Ini sih..."

Kaito entah kenapa menggertakkan gigi dengan kesal.

"Sial, harusnya aku tidak menyerahkan peran utamanya."

Kenta mengeluarkan suara yang terdengar hampa.

"Tapi ini sih murni dewa banget."

Haru langsung menyambung.

"Wah, laki-laki paling payah."

Terakhir, Yua mengucapkan dialog yang sudah tidak asing lagi.

"Yah, Saku-kun memang punya sisi seperti itu, sih."

"──Ini kan cuma fiksi!"

Setelah candaan rutin itu selesai dan semua orang tertawa, Nazuna bertanya.

"Jadi, ada pertanyaan?"

Grup yang baru pertama kali membaca naskah saling bertukar pandang lalu mengangguk mantap. Yah, peran kurcaci yang dipangkas menjadi enam orang memang tidak punya banyak dialog, jadi harusnya tidak ada masalah.

Narasi akan dilakukan secara bergantian oleh anggota tim pemandu sorak, dan suara Cermin Ajaib diambil alih oleh Nazuna. Sepertinya naskah itu memang dibuat dengan mempertimbangkan hal itu, dan kepribadian Nazuna tercermin cukup kuat di sana.

Omong-omong, peran kurcaci juga disesuaikan dengan kepribadian masing-masing, jadi mereka bisa berakting dengan cukup natural.

Awalnya aku terkejut, tapi setelah membacanya ulang dengan tenang, aku sadar banyak bagian yang dipikirkan dengan matang, termasuk keterbatasan waktu latihan.

Tentu saja ini berkat anak-anak klub sastra yang menulis naskahnya, tapi aku bisa merasakan betapa Nazuna sangat mempertimbangkan kami semua. Aku sangat paham kenapa Yuko, dan bahkan Nanase yang dulu sering bersitegang dengannya, bisa membuka hati padanya.

Saat aku memikirkan itu, Nazuna kembali bicara.

"Sepertinya tidak ada masalah, oke. Kalau begitu, kita coba latihan akting sambil melihat naskah saja dulu, ya?"

Saat semua orang mengangguk dan hendak berdiri────.

"Aku! Aku! Aku!"

Yuko mengangkat tangannya dengan penuh semangat.

"Iya, Yuko?"

Begitu Nazuna menanggapi, Yuko bersuara dengan nada ceria.

"Boleh tidak coba tunjukkan adegan pembuka antara Putri Awan Gelap dan Cermin Ajaib?! Aku kurang paham soal akting, jadi kalau aku lihat Yuzuki dan Nazuna melakukannya, mungkin aku bisa mendapat gambaran."

““Ah...””

Suara kedua orang yang namanya dipanggil itu tumpang tindih. Benar juga, pikirku.

Nazuna pasti sudah sangat mendalami naskahnya, dan Nanase pun pasti sudah memasukkannya ke dalam kepala. Mereka pasti bisa menanganinya meski secara improvisasi.

Dengan ragu, Yua mengangkat tangannya.

"Anu, aku juga ingin melihatnya."

Kenta langsung menyusul dengan cepat.

"A-aku juga!"

Mendengar itu, Nazuna menatap Yuzuki. Itu pasti tanda kepercayaan di antara mereka. Dengan nada santai seolah sedang mengajak pergi ke kantin saat jam istirahat, ia bertanya.

"Bisa?"

Tanpa kusadari, kelas mendadak hening seketika. Suara Yuko tadi cukup lantang sehingga teman-teman di sekitar pasti mendengarnya.

Teman sekelas yang sedang menyiapkan properti dan dekorasi pun menghentikan aktivitas mereka dan menahan napas untuk melihat apa yang akan terjadi. Karena aku saja menyadarinya, mereka berdua pun pasti tahu.

Nanase tidak merendah, ia langsung berdiri dengan anggun.

"Jika itu keinginan para penonton..."

Ia menjepit ujung roknya sedikit dan memberikan hormat yang elegan.

“““““Wooooooohhhhh!!!!!!!!”””””

Sorakan teman sekelas yang sudah tidak tahan lagi akhirnya meledak.

"Aku rela mengerjakan tugas-tugas merepotkan demi hari ini!"

"Aku juga setuju!"

"Aduh, melihat hormatnya saja aku sudah tidak kuat."

"Mata dan telingaku terlalu bahagia, ini gila!"

Itulah Nanase. Selain menjadi contoh bagi grup pemeran seperti Yuko, Yua, dan Kenta, ia pasti berpikir bahwa jika mereka bisa mendapatkan gambaran yang jelas, hal itu akan memotivasi teman-teman sekelas yang terus bekerja keras di balik layar.

Tentu saja, ia sangat sadar akan arti dari seorang Nanase Yuzuki yang menunjukkan aktingnya.

Entah kenapa aku merasa lega karena sikapnya yang sangat khas itu, namun aku juga tersentak karena merasa lega.

Perasaan tenang itu seolah akan berganti menjadi sentimentalitas yang menyesakkan dada, dan tanpa sadar aku mencari penyebab dari rasa sesak itu.

Tiba-tiba, aku menyadari Nanase sedang mengarahkan pandangan yang tenang dan sunyi ke arahku.

Isyarat kecil itu terasa begitu menyayat hati, hingga aku refleks mengangkat sudut kiri bibirku seolah ingin menyembunyikan sesuatu.

Nanase mengembangkan senyum putih murni, sedingin tengah malam di negeri salju.

"Perhatikan aku terus ya, Saku."

"Aku melihatmu, Yuzuki."

Seolah tersedot ke dalam netranya, aku menjawab begitu saja sebelum sempat menyadarinya.

◆◇◆

Nanase yang entah kapan sudah berganti kembali ke seragam sekolah, kini berdiri di atas podium kelas yang menjadi pengganti panggung.

Meskipun ini hanya sekadar hiburan improvisasi, ia pasti berpikir kalau tetap memakai Kura-T, aura pertunjukannya tidak akan keluar.

Ketelitian seperti ini benar-benar khas dirinya.

Cermin ajaib berukuran besar yang mampu memantulkan seluruh tubuh Nanase sepertinya sudah disiapkan dan diletakkan di atas podium.

Entah dari mana mereka mendapatkannya, bingkai antik yang penuh atmosfer itu memberikan kesan yang sangat pas.

Nanase menatap cermin sambil menyelipkan rambut ke telinga kirinya, lalu mengangguk kecil sebagai tanda bahwa ia sudah siap. Kazuki yang merangkap sebagai narator membuka suara dengan senyum tenang.

"Baiklah, sekarang kami persembahkan bagian pembuka dari drama kelas 2-5, Putri Salju, Putri Awan Gelap, dan Pangeran yang Plin-plan."

“““““Oooooohhhh!”””””

Tepuk tangan yang meriah pecah dan bergema di dalam kelas.

"Dahulu kala, di suatu tempat, hiduplah seorang putri yang sangat cantik jelita bernama Putri Awan Gelap."

Kazuki melafalkan narasi pembuka yang sudah akrab di telinga.

"Namun, sang Putri sangat menyombongkan kecantikannya. Ia sangat yakin bahwa dirinyalah yang paling cantik di dunia tanpa keraguan sedikit pun. Singkat kata, dia punya harga diri setinggi langit dan cenderung memandang rendah orang lain."

"Bukankah itu agak berlebihan?"

Nanase menyela narasi tersebut, membuat seisi kelas tertawa riuh. Omong-omong, itu adalah improvisasi yang tidak tertulis di naskah.

Hebat juga dia, pikirku sambil ikut terkekeh pelan. Kazuki melanjutkan dengan pipi yang sedikit melunak, seolah merasa senang.

"Putri Awan Gelap memiliki sebuah cermin ajaib."

Nanase melangkah maju dengan anggun. Ia memastikan posisi agar pantulan dirinya di cermin bisa terlihat oleh penonton, lalu menumpukan berat badan pada kaki kanan dan menyilangkan kaki kirinya yang sedikit berjinjit.

Tangan kirinya bertumpu di pinggang, berpose ala model sebelum membuka suara.

"──Cermin, oh cermin."

Begitu dialog itu diucapkan, sebuah panel perlahan turun dari atas cermin. Di panel itu terdapat lubang untuk wajah, yang dihiasi ilustrasi Nazuna versi deformasi.

Intinya, itu merepresentasikan roh cermin. Nazuna dalam ilustrasi itu memakai baju yang mirip penyihir.

Sentuhan buatan tangan ini benar-benar memberikan nuansa festival sekolah. Saat panel Nazuna menutupi cermin, Nanase menempelkan tangan kanannya ke bibir dengan ekspresi yang tampak terbuai.

"Siapakah yang paling cantik di dunia ini?"

Ia menjeda kalimatnya sejenak, menjilat bibirnya dengan cara yang sedikit menggoda, lalu melanjutkan.

"Yah, tentu saja aku, sih."

"Heh, dengerin dulu dong!"

Suara Nazuna sebagai cermin ajaib langsung menyambar, membuat teman-teman sekelas tertawa terbahak-bahak. Bagian ini sukses membuatku tertawa saat pertama kali membaca naskahnya.

Kepribadian asli mereka yang dimasukkan ke dalam peran membuat penonton merasa sangat akrab. Nanase memasang senyum bahagia yang dibuat-buat.

"Lalu, aku yang paling cantik di dunia hidup bahagia selamanya bersama pangeran paling tampan di dunia. Ya, tamat..."

"Jangan ditamatin sekarang!"

Mungkin karena mereka sudah sangat akrab, chemistry keduanya benar-benar pas. Bukan hanya akting Nanase, tapi tempo penyalutan dari Nazuna juga sangat akurat.

"Jawaban sudah jelas, buat apa dikonfirmasi terus?"

"Itulah arti eksistensiku!"

Nanase sedikit merenggangkan posisinya, melipat tangan, lalu menatap cermin dengan tatapan malas yang tidak senang.

"Iya, iya. Jadi siapa yang paling cantik di dunia ini?"

"Hei tunggu, kenapa perlakuannya kasar banget? Aku ini cermin ajaib, lho!"

"Cepat lakukan, jangan lambat."

Nazuna berdeham dengan sengaja sebelum bicara.

"Wahai Putri Awan Gelap, jika sifatmu yang angkuh dan tidak imut itu diabaikan, kau memang cantik."

"...Apa perlu aku menguburmu di gunung?"

"Tunggu dulu! Bagian intinya baru mau mulai!"

Seisi kelas, termasuk aku, tertawa tiada henti. Yua bahkan terlihat kesulitan bernapas sambil memukul-mukul lantai karena kegelian.

Setelah menenangkan diri, Nazuna melanjutkan.

"Namun sayangnya, yang paling cantik di dunia ini adalah Putri Salju. Bukan cuma penampilan luar, kemurnian hatinya saja sudah beda jauh—ibarat langit dan bumi, bulan dan kerikil, tas Hermes dan tas kulit imitasi. Lagipula, dia namanya Putri Salju, sedangkan kau Putri Awan Gelap. Dari namanya saja rasanya kau sudah kalah telak."

"Kayaknya mending kuhancurkan saja sekarang."

"Maaf, maaf, aku kebablasan! Luarnya mungkin kalian setara!"

"Hooo?"

"Lalu, karena dia tidak terlalu kaya, pakaianmu jauh lebih bagus."

"Cuma bajunya?!"

"Cukup!" teriak Nanase ke arah penonton dengan suara lantang.

"Panggil si Jangkung!"

"Si Jangkung" di sini adalah salah satu dari enam kurcaci, yang merujuk pada Kaito. Tentu saja alasannya karena dia yang paling tinggi.

Sama halnya dengan Yua yang dipanggil "Si Anggun", Haru "Si Mungil", Kazuki "Si Kalem", Kenta "Si Kacamata", dan Nazuna sendiri saat memerankan kurcaci dipanggil "Si Gaul". Dalam drama kami, enam kurcaci ini diceritakan mengabdi pada Putri Awan Gelap.

Nazuna tertawa lepas.

"Keluar juga deh sifatnya. Mengirim pembunuh untuk menghabisi Putri Salju yang mengganggu. Benar-benar licik!"

"Kamu waras?"

"Eh, bukannya alurnya memang begitu?"

"Kalau aku melakukan itu, aku tidak akan bisa membuktikan bahwa akulah yang lebih cantik."

"Terus mau apa?"

"Tentu saja, mengundang Putri Salju ke kastil ini."

"Hah? Buat apa?"

"Sebentar lagi akan ada pesta dansa."

"Ah, pesta di mana pangeran cinta pertamamu itu akan datang, ya."

"Kenapa makhluk sepertimu bisa tahu hal itu?"

"Namanya juga cermin ajaib."

"Berhenti menjadi berguna secara tidak berguna di saat seperti ini."

"Tapi, bukannya lebih baik jangan panggil Putri Salju? Kalau aku jadi pangerannya, aku bakal langsung pilih dia dalam sekejap dan tamat dengan bahagia."

"Heh."

"Aku tahu! Kau sengaja mau mempermalukannya di depan pangeran, ya!"

"Dengar ya..."

Setelah bergumam seolah lelah menghadapi cerminnya, Nanase menghentakkan tumit sepatunya ke panggung. Kontras dengan sosoknya yang luwes, matanya tiba-tiba menyipit dengan dingin.

Seketika, suasana menjadi tegang. Seolah-olah suara sekecil apa pun akan menyinggung perasaan sang putri cantik di atas sana, muncul ketegangan yang membuat siapa pun tidak berani bergerak.

Semua orang menahan napas. Semua orang menajamkan telinga untuk dialog selanjutnya. Saat keheningan mulai terasa menyengat kulit, Nanase menyuntikkan daya pikat ke dalam tatapannya.

Ia menyapu pandangan ke seluruh kelas seolah sedang memanjakan penonton setelah memarahi mereka, atau seolah sedang memberikan kode rahasia kepada tiap orang secara pribadi. Begitu melihat penonton yang sudah menunggu dengan manis, ia mengangguk perlahan.

Nanase mengembuskan napas panjang sedalam tengah malam, lalu akhirnya membuka suara.

"Aku akan memberinya gaun dengan potongan terbaik, meriasnya dengan cantik, dan mengajarinya tata krama di perjamuan sosial."

Ia melipat tangan secara sensual, mempertegas garis dada dan pinggangnya sambil melanjutkan.

"Lalu di pesta dansa, aku akan bertanya dengan penuh percaya diri kepada sang pangeran."

Ia menempelkan tangan kanan ke pipi, menggerakkan bibir seolah ingin menggigit jari kelingkingnya dengan manja, lalu berkata.

"──Siapakah yang paling cantik di dunia ini?"

Sudut matanya turun dengan sangat menggoda.

Hening. Kelas dilanda kesunian sesaat. Aku pun tanpa sadar terpesona.

Sikap dan gerak-geriknya benar-benar terlihat seperti putri tercantik di dunia, sekaligus penyihir yang memikat. Seolah ia adalah sekuntum bunga beracun yang sanggup menawan siapa pun yang melihatnya.

Seseorang menelan ludah dengan pelan. Suara itu pun terasa seolah bisa mengganggu suasana, membuat semua orang buru-buru menahan napas lagi.

Podium tua di kelas yang usang itu terasa sangat jauh, seperti panggung yang disinari lampu sorot. Cermin yang panelnya sudah ditarik ke atas memantulkan cahaya langit sore dengan berkilau.

Nanase mundur selangkah dan memiringkan tubuhnya, membuat siluet tubuhnya yang indah terpantul sempurna. Seketika, aku merasa seolah lupa cara bernapas saat terjebak oleh lirikan matanya lewat cermin.

Hatiku bergetar manis, sekaligus terasa nyeri.

"Wuidih."

Suara blak-blakan Nazuna-lah yang akhirnya memecah atmosfer yang seolah terputus dari aliran waktu itu.

"Tadi itu kupikir bakal gimana, ternyata dibilang dengan wajah bangga gitu. Ribet banget! Sumpah, berat banget cintanya!"

"Hei, jangan bilang berat dong."

Nanase langsung menyambar balik, dan saat itulah sihirnya seolah luntur, membuat semua orang tertawa lepas. Di cermin, panel Nazuna entah kapan sudah terpasang kembali.

"Sok tenang padahal tipe yang bakal posesif berat kalau sudah pacaran. Sumpah nggak sanggup."

"Mending aku ikat cermin nggak berguna ini pakai tali rami dulu, ya?"

"Tapi ya sudahlah."

Roh cermin ajaib itu tertawa seolah ingin menutup percakapan.

"Akan kupastikan untuk melihat sendiri bagaimana akhir dari cerita ini."

"Aku tidak menjamin kau masih akan tergantung di sini sampai hari itu tiba, ya?"

Prolog naskahnya berakhir sampai di situ. Nazuna muncul dari balik cermin.

Ia melakukan high-five ringan dengan Nanase, lalu keduanya membungkuk ke arah kami.

““Terima kasih banyak!””

──PROK PROK PROK PROK PROK PROK.

──Prok, prok, prok prok prok prok.

Tepuk tangan yang dimulai oleh Yuko dalam sekejap merambat dan menelan seisi kelas. Semua orang memberikan standing ovation seolah-olah baru saja selesai menonton film blockbuster Hollywood.

Wajah mereka dipenuhi dengan keterkejutan dan kegembiraan yang jujur.

"Eh, ini sih kelas lima sudah pasti juara, kan?"

"Paham sih, tapi festival budaya kan tidak ada juaranya."

"Tapi biasanya ada pemungutan suara semacam itu, kan? Aku bakal kasih semua suaraku."

"Omong-omong, apa cerita Putri Salju memang sekeren ini ya?"

"Karakter cerminnya Nazuna-chan terlalu unik, aku jadi nge-fans."

"Wah, aku bisa mati karena overdosis Nanase-san."

"Apalagi nanti pas hari-H dia pakai gaun, lho!"

 "Kalau nanti Hiiragi-san juga muncul, bakal jadi segila apa ya?"

Sejalan, pikirku sambil refleks mengangkat bahu. Selain naskah buatan Nazuna dan yang lain yang menarik, aura Nanase di atas panggung benar-benar luar biasa.

Jika melihat kesehariannya, aku sudah mengira dia bisa berakting dengan baik. Tapi yang barusan benar-benar melampaui standar dugaanku.

Aku memang belum pernah serius menonton drama teater, tapi caranya mengatur volume suara dan intonasi, tatapan mata hingga gerak-geriknya sudah diperhitungkan dengan matang untuk menarik mata penonton.

Aku tidak akan terkejut jika ada yang bilang dia pernah mempelajarinya secara formal.

Dulu aku pernah menyebut Nanase sebagai tipe aktris. Ternyata aku tidak salah, pikirku sambil mengenang masa sekitar setengah tahun lalu dengan perasaan rindu.

 Waktu itu kami masih sering melakukan drama kecil yang konyol lewat telepon, ya.

Saat aku melirik ke sekitar, teman-teman sekelas masih terlihat sangat antusias.

"Tapi apa serius pangerannya Chitose?!"

 "Tidak masalah sih, tapi apa kau bisa menggantikannya?"

"Mana mungkin, aku bakal langsung kaku begitu bertatapan mata."

"Lagipula Chitose-kun orangnya santai, apa dia tidak akan kebanting dengan akting Nanase?"

"Karena dia pangeran yang plin-plan, jadi malah pas, kan?"

"Padahal kalau diam saja, wajahnya sudah mirip pangeran, ya."

"Aku dengar semuanya lho, woi."

Sambil membalas candaan mereka, aku tertawa kecut karena memang ada benarnya. Karena ini acara festival budaya, aku pikir sedikit kekurangan akting masih bisa dianggap lucu.

Tapi jika Nanase sudah tampil sehebat itu tanpa menahan diri, aku juga harus berlatih serius supaya tidak tertinggal. Yah, jika dibandingkan dengan dua putri yang menjadi wajah utama cerita ini, peranku tidak terlalu banyak, jadi aku tidak boleh sampai merusak suasana.

Hari ini latihannya baru sampai prolog, tapi nanti para kurcaci yang diperintah Putri Awan Gelap akan pergi menjemput Putri Salju sambil menyanyikan 'Heigh-Ho'. Alur setelah diundang ke kastil adalah seperti yang dikatakan dalam dialog Nanase tadi.

Sejujurnya, giliran pangeran baru akan muncul di bagian akhir cerita.

Aku sempat mencoba membaca versi terjemahan bahasa Jepang maupun menonton film animasinya agar bisa sedikit membantu naskah Nazuna.

Namun, jika harus jujur, peran pangeran itu seperti hiasan yang baru muncul tiba-tiba.

Meskipun di naskah kali ini peranku diberi tanggung jawab yang cukup penting di bagian akhir berkat aransemen ceritanya.

 Tetap saja, pemeran utama kisah ini adalah Putri Salju dan sang Ratu—atau dalam drama kami, Putri Awan Gelap.

Rasanya agak campur aduk antara lega sekaligus sedikit kesepian.

Saat aku memikirkan itu, Nanase yang tadinya mengobrol dengan Nazuna dan Yuko di atas podium teringat sesuatu dan berlari kecil ke arahku.

Aura sensual tadi sudah lenyap, berganti dengan senyum dewasa yang terasa jernih di bibirnya.

Begitu sampai di depanku, ia menangkupkan kedua tangan di depan tubuh dan sedikit memiringkan kepala.

"Chitose, kamu lihat?"

"Aku lihat kok, Nanase."

Mendengar jawabanku, ia menurunkan sudut matanya dengan lembut dan melanjutkan.

"Terima kasih, Chitose."

"Kenapa, Nanase?"

"Karena sudah benar-benar memperhatikan."

"Mataku cuma tidak bisa berpaling saja."

"Benarkah?"

"Benar."

Ritme percakapan yang terasa bukan seperti gaya kami berdua ini membuatku sedikit tersipu.

Biasanya kami selalu bertukar kata dengan cara yang berlebihan dan dramatis.

Tapi mungkin karena baru saja turun panggung, ia terlihat jauh lebih santai dari biasanya.

Berhadapan dengan gadis yang baru saja menyedot perhatian penonton dengan daya pikat yang mengerikan, aku sendiri mungkin jadi sedikit kaku.

Nanase menyelipkan rambut yang menempel di pipinya ke belakang telinga sambil menatapku secara natural.

"Bagaimana menurutmu?"

"Hebat."

"Apa aku seperti tuan putri?"

"Kamu putri yang sangat khas Nanase."

"Cuma itu?"

"Menarik dalam banyak arti."

"Chi, to, se?"

"Maafkan aku."

"Lalu?"

"Kamu manis."

"Terus?"

"Sangat cantik."

Benar-benar bukan gaya kami, pikirku. Saat aku baru akan melontarkan candaan seperti biasa—

"Nn."

Seolah sudah menebaknya, Nanase menempelkan jari telunjuknya di bibirku. Setelah sensasi lembut itu, aroma krim tangan yang lembut menyapa indra penciumanku.

Aku yang panik refleks hendak membuka mulut, tapi tekanan jarinya menguat seolah melarangku bicara.

Nanase mendekatkan wajahnya sedikit, menatap lurus ke mataku seolah ingin mengintip ke dalam.

Sambil memantulkan bayanganku di dalam matanya yang jernih seperti permukaan air yang bergetar,

"Tetaplah perhatikan aku seperti itu ya."

Ia tersenyum lebar hingga matanya menyipit manis.

◆◇◆

Setelah puas bersorak-sorai, teman-teman kelas 2-5 yang motivasinya sudah melambung tinggi kembali ke tugas masing-masing untuk persiapan hari-H.

Pembuatan properti dan dekorasi sudah sangat maju, membuat dunia dongeng mulai terlihat di berbagai sudut kelas.

Pemandangan Kura-T berwarna biru langit yang bergerak kesana-kemari terlihat lucu sekaligus tidak biasa, membuatku mau tidak mau menyadari bahwa festival sekolah sudah semakin dekat.

Haru, Kazuki, Kaito, dan Kenta langsung memulai latihan akting di bawah bimbingan Nazuna dan anak klub sastra yang bertanggung jawab menulis naskah.

Sementara itu, Aku, Yuko, dan Nanase melangkah menuju ruang tata busana untuk melakukan fitting kostum yang kabarnya sudah selesai lebih awal.

Sebagai catatan, karena ada kemungkinan dibutuhkannya bantuan untuk mengganti gaun atau menyentuh bagian tubuh tertentu untuk pengukuran ulang, bukan anak-anak pembuat kostum yang ikut, melainkan Yua—yang sesekali membantu proses pembuatannya—yang menemani kami.

Bagi Yuko dan Nanase, mungkin lebih nyaman jika didampingi orang yang sudah mereka kenal akrab.

Ruang tata busana yang kupijaki setelah sekian lama itu memiliki barisan meja besar yang tertata rapi untuk kerja kelompok, sama seperti ruang kelas khusus lainnya.

Di salah satu sudut, sebuah torso yang tampak sangat berumur berdiri kesepian, sementara di dekat dinding berjejer beberapa mesin jahit yang juga terlihat sudah sering digunakan.

Aroma ruang kelas khusus, pikirku.

Ruang musik, ruang seni, ruang biologi, ruang masak, dan ruang tata busana ini...

Setiap ruang kelas khusus selalu memiliki aroma unik yang hanya bisa tercium di sana. Mungkin itu aroma cat yang meresap selama bertahun-tahun, bahan kimia, atau sisa-sisa masakan dari praktikum. Secara objektif mungkin bukan bau yang wangi, tapi entah kenapa aku tidak membencinya.

Misalnya saja saat aku dewasa nanti dan tiba-tiba teringat masa SMA, meski isi pelajarannya sudah menguap habis dari kepala, aku merasa suasana di ruang kelas khusus ini akan langsung muncul kembali dengan penuh kerinduan.

Saat aku sedang melamunkan hal itu, Yua yang sedari tadi sibuk menyiapkan sesuatu berkata.

"Kalau begitu, ayo kita mulai dari kostum Saku-kun dulu."

"Siap."

Begitu aku menjawab singkat, dia menyerahkan sebuah kantong kertas besar.

"Kurasa kamu bisa memakainya sendiri, tapi..."

Kalau dipikir-pikir, aku sama sekali belum diberi tahu akan seperti apa kostumnya nanti.

Karena peranku adalah pangeran, aku membayangkan kostum yang mudah dikenali seperti memakai jubah atau mahkota, lalu aku pun memeriksa isinya.

"……Eh, serius?"

Melihat kostum yang jauh dari bayanganku itu, aku refleks bergumam. Yua pun memiringkan kepalanya dengan heran.

"Maaf, aku tidak mendiskusikannya dulu, apa kamu tidak suka?"

"Bukannya tidak suka, sih..."

"Saku-kun punya postur yang bagus, jadi pasti cocok, kok."

"Bukan itu masalahnya."

"Sudah, tidak apa-apa."

Yah, sudahlah, aku mengangkat bahu.

"Karena semuanya sudah susah payah menyiapkannya, aku akan coba pakai."

"Sip!"

Wajah Yua seketika berseri. Dia dengan cekatan mengambil kain hitam dan melanjutkan.

"Tunggu sebentar ya, aku mau menutupi kaca di pintu dulu."

"Kamu teliti juga, ya."

Karena ruang tata busana berada di lantai satu, cukup banyak orang yang lalu lalang.

Memang tirai jendela sudah ditutup, tapi kalau kaca di pintu tidak ditutupi, aku sedikit khawatir Yuko dan Nanase tidak bisa berganti baju dengan tenang—meski kalau aku sendiri sih tidak terlalu masalah.

Setelah persiapan selesai dengan bantuan kami berempat, Yua membuka suara.

"Kalau begitu, kami keluar sebentar ya. Beri tahu kalau sudah selesai ganti baju."

"Aku gantinya cepat, kok. Tidak perlu sampai keluar segala."

"Begitu?"

"Memangnya kenapa? Kalau kalian tidak keberatan, aku sih santai saja."

Sambil bicara, aku langsung melepas blazer dan mulai membuka kancing kemeja. Setelah hanya mengenakan satu lapis kaus dalam dan tangan baru saja memegang sabuk, aku refleks menoleh.

Yua terlihat tenang karena sudah terbiasa, Yuko tampak sedikit malu-malu, Nanase tampak sedang mengamati dengan saksama.

Mereka bertiga berbaris dan menatapku lekat-lekat.

"Anu, maaf... kayaknya kalian keluar saja dulu, deh……"

 

Setelah selesai berganti pakaian, aku melongokkan kepala dari pintu ruang tata busana dan berkata.

"Sudah selesai."

Yua, Yuko, dan Nanase masuk secara berurutan, lalu mereka seketika terpaku.

Beberapa saat kemudian, Yua menurunkan sudut matanya dengan lembut.

"Seperti dugaanku, ini benar-benar cocok untukmu."

Yuko menyusul dengan senyum manis.

"Saku, kamu benar-benar terlihat seperti pangeran."

Nanase pun memiringkan kepala tanpa maksud terselubung.

"Iya, kamu keren, Chitose."

Pujian yang begitu jujur itu membuatku merasa malu. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dengan kasar.

"Apa aku tidak kelihatan seperti host klub malam?"

Kostum pangeran yang disiapkan untukku adalah—singkatnya—setelan tuxedo putih. Karena biasanya aku hanya memakai pakaian kasual yang santai, memakai pakaian seformal ini terasa sangat aneh.

Mungkin tidak jauh beda dengan blazer sekolah, tapi memakai pakaian serba putih begini membuatku merasa geli sendiri.

Yua tertawa kecil hingga bahunya berguncang.

"Anak-anak bagian kostum bilang, kalau kalian bertiga yang memerankannya, pangeran dan tuan putrinya justru jangan terlalu terlihat seperti cosplay."

"Begitu ya?"

"Ukurannya pas?"

Mendengar itu, aku mencoba menggerakkan lengan dan kakiku ringan.

"Iya, sepertinya tidak ada masalah."

Yua mengangguk puas.

"Kalau begitu, sekarang giliran Saku-kun yang menunggu di luar sebentar?"

"Oke. Kostumnya jangan dilepas dulu?"

"Iya, karena aku ingin melihat keseimbangan saat kalian berdiri berdampingan nanti. Mungkin Yuko-chan dan yang lain akan butuh waktu sedikit lama untuk ganti baju..."

"Paham. Aku akan cari cara buat membunuh waktu di sekitar sini."

◆◇◆

Aku membeli sebotol air mineral dari mesin penjual otomatis terdekat dan pergi ke halaman tengah. Sebenarnya aku ingin kopi, tapi kalau sampai tumpah ke kostum ini, tamatlah riwayatku.

Aku duduk di bangku terdekat untuk membasahi tenggorokan, dan akhirnya bisa bernapas lega. Kolam kosong berbentuk persegi yang dikelilingi gedung sekolah dan selasar itu dinaungi langit musim gugur yang cerah dengan awan-awan cirrocumulus yang berenang indah.

Saat aku menarik kerah kemejaku sedikit, angin sejuk pun masuk ke dalam.

Aku pikir akan terlihat aneh keluar dengan pakaian begini, tapi ternyata di sana-sini banyak anak memakai kaos kelas warna-warni yang berlarian, anggota klub upacara minum teh dan klub koto yang memakai yukata berlalu-lalang, hingga klub sulap yang berlatih dengan setelan warna-warni mereka. Seluruh sekolah penuh dengan hiruk-pikuk yang luar biasa.

Tetap saja, aku menjulurkan kakiku.

Sama seperti percakapanku dengan Yuko di Taman Ikuhisa, saat aroma festival mulai mendekat, rasa gembira selalu datang bersama setitik kesepian. Tidak lama lagi, tempat ini akan kembali menjadi halaman tengah yang sepi seperti biasanya.

Tiba-tiba aku melihat ke arah kaki dan refleks terkekeh.

Memakai sepatu dalam ruangan dengan tuxedo... mungkin hanya saat fitting kostum festival budaya begini aku akan merasakannya. Aku jadi merasa konyol sendiri.

Pasti ada momen-momen dalam hidup kita yang tidak akan pernah bisa dirasakan untuk kedua kalinya. Berlatih tari pemandu sorak, menghafal naskah drama, memerankan pangeran, dan mungkin juga────.

Waktu menunggu dengan berdebar seperti ini selagi teman perempuan sekelas mencoba gaun pengantin... eh, maksudku gaun drama.

Saat aku sedang memikirkan hal itu, "Senpai!?" Sebuah suara yang sudah sangat kukenal menusuk telingaku.

"Kureha, ya."

Sambil berkata begitu aku menoleh, dan sesuai dugaan, sosok itu berlari menghampiriku.

"Tunggu, ada apa ini? Apa Senpai akhirnya berhenti sekolah dan mau jadi host?!"

"Terima kasih atas sindiran yang memang kucari-cari itu."

Aku menepuk ruang kosong di bangku, lalu Kureha duduk dengan jarak yang pas di sampingku.

"Bercanda, kok. Apa itu kostum buat festival budaya?"

"Apa, kamu sudah tahu?"

"Iya! Yuko-san bilang dia mau main jadi Putri Salju."

Aku mengangguk kecil dan menjawab.

"Sekarang aku sedang menunggu Yuko dan Nanase mencoba kostum mereka."

"Tapi tetap saja," Kureha menatapku lekat-lekat. "Pangerannya kelihatan berandalan sekali, ya."

"Berisik."

"Ceritanya diaransemen ulang, kan? Apa judulnya?"

"Putri Salju, Putri Awan Gelap, dan Pangeran yang Plin-plan."

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dia sudah tertawa di sampingku. Sambil memegangi perutnya yang tampak sakit karena menahan tawa, Kureha berkata.

"Berarti Putri Awan Gelap itu Yuzuki-san, dan pangeran yang plin-plan itu Senpai, kan?"

"Omong-omong, sifatnya juga disesuaikan dengan kami, lho."

"Wah, aku jadi ingin lihat, deh."

Mendengar reaksi yang tak terduga itu, aku mencuri pandang ke wajahnya dari samping. Kureha menumpukan tangannya di bangku dengan ekspresi santai yang terlihat senang, namun matanya yang menatap langit jauh seolah menyiratkan sedikit kecemasan dan kesepian.

Mengingat betapa bersemangatnya dia saat masuk tim pemandu sorak, aku pikir dia akan langsung memesan kursi paling depan tanpa perlu diajak.

"Kenapa? Kamu tidak akan menonton?"

Saat aku bertanya begitu, Kureha menundukkan pandangannya. Ekspresinya tersembunyi di balik rambutnya.

"Tentu saja, kalau bisa aku ingin pergi menonton."

"Itu gaya bicara orang yang sudah pasti tidak akan datang."

Karena nadanya terdengar cemas, kesepian, dan lebih lemah dari biasanya, aku membalas dengan nada seringan mungkin.

"Apa jadwal acara kelasmu bentrok?"

Kureha akhirnya mengangkat wajahnya dan menatapku.

"Bukan, acaraku diadakan sebelum acara Senpai!"

Kegamangan sesaat itu lenyap, dan dia kembali ke gaya biasanya yang sangat khas 'adik kelas'. Mungkin itu hanya perasaanku saja, atau mungkin gadis di depanku ini juga sedang merasakan melankolis karena festival yang akan segera berakhir.

Aku merilekskan bahuku dan bertanya.

"Kalau begitu, apa itu pertunjukan panggung?"

"Bukan pertunjukan sih, lebih seperti acara panggung yang melibatkan penonton?"

"Heh, memangnya mau buat apa?"

"Sepertinya konsepnya diambil dari acara TV populer zaman dulu, tapi detailnya rahasia sampai hari-H nanti. Senpai harus datang, ya!"

"Sekarang malah kamu yang menuntut, ya."

"Kalau Senpai naik ke panggung, pasti bakal ramai!"

"Padahal setelah itu aku harus naik panggung lagi buat drama."

"Sambil promosi drama kan bisa. Penonton pasti bakal langsung menetap di gimnasium kalau begitu."

Yah, aku juga tidak punya alasan untuk menolak. Tanpa diminta pun, aku memang berniat mendatangi acara kelas Kureha, Asu-nee, atau teman-teman tim pemandu sorak sejauh yang kubisa.

Aku mengangkat bahu kecil dan mengembuskan napas.

"Baiklah, nanti kusampaikan ke yang lain."

"Sip! Kalau bisa kalian harus datang lengkap!"

"Iya, iya, paham."

Setelah aku menjawab santai, tiba-tiba Kureha menatapku dengan tatapan serius.

"Senpai, janji ya?"

"Berlebihan sekali."

"Aku ingin Senpai berjanji."

"Iya, aku janji. Aku pasti pergi menonton."

"Bagus! Aku pegang janjinya!"

"Lalu," kataku.

Aku mengeluarkan secarik kertas dari saku yang tadi kumasukkan bersama uang receh saat keluar dari ruang tata busana. Aku menyodorkannya, dan Kureha menerimanya dengan wajah bingung.

"Senpai, sejak kapan Senpai suka padaku?"

"Dari sisi mana pun itu tidak terlihat seperti surat cinta, tahu."

Sambil menunjukkan senyum jahil yang polos, dia membuka lipatan kertas itu.

"Eh, ini kan..."

Mata Kureha membelalak terkejut. Di sana tertulis lebar bahuku, tinggi badan, lingkar pinggang, dan semua informasi yang diperlukan untuk membuat baju.

Setelah Kureha memeriksanya, aku menambahkan penjelasan.

"Yua yang mengukurnya tadi saat membuat kostum drama."

Bukan hanya drama, kostum tim pemandu sorak pun harus dibuat sendiri oleh masing-masing anggota. Sebenarnya aku berniat minta tolong Yua, tapi saat kamp pelatihan bulan lalu, Kureha sudah menawarkan diri untuk membuatkan bagianku.

Karena itu aku pikir dia akan butuh data ini dalam waktu dekat, jadi aku minta dicatatkan tadi. Yah, aku tidak menyangka akan bertemu dengannya sekarang, tadi aku cuma asal merogoh saku untuk mengambil koin dan kertas ini ikut terbawa.

Setelah menunggu beberapa saat tanpa reaksi, aku menoleh ke samping.

"Aku keduluan lagi ya..."

Gumamannya terdengar seperti bicara pada diri sendiri sambil menggenggam erat kertas memo itu dengan kedua tangan.

"Kureha...?"

"Tidak ada apa-apa."

Seolah tidak terjadi apa-apa, Kureha melipat kertas memo itu dengan rapi dan memasukkannya ke saku. Lalu dia berkata dengan senyum nakal yang ceria.

"Padahal aku berniat mampir ke rumah Senpai dan mengukur seluruh tubuh Senpai sendiri, lho."

"Tolong jangan lakukan itu."

Saat aku mengembuskan napas yang dibuat-buat, Kureha pun terkekeh.

"Bercanda, kok. Aku akan berusaha membuatkan kostum yang keren buat Senpai!"

"Maaf ya sudah merepotkan, aku titip ya."

Tepat pada saat itu, Yua melongokkan kepala dari arah ruang tata busana.

"Saku-kun—eh, ada Kureha-chan juga...?"

Sepertinya Yuko dan Nanase sudah selesai berganti baju. Aku berdiri dari bangku dan berkata.

"Mau ikut melihatnya sekalian?"

Kureha sempat bimbang sejenak, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak, aku ingin menyimpannya sebagai kejutan saat hari-H saja."

"Begitu ya."

Aku tidak mencoba untuk memaksakan logika pada ucapannya yang terasa sedikit tidak konsisten dengan percakapan kami tadi. Saat ini, aku tidak butuh alasan atau dalih untuk melangkah lebih jauh ke sana.

Aku berkata pada Kureha yang sedang melambai-lambaikan tangan dengan ceria ke arah Yua.

"Datanglah kalau kamu bisa, Adik Kelas."

"Aku akan datang kalau bisa, Senpai."

Kami pun saling bertatapan, lalu tertawa kecil dengan jarak yang pas.

◆◇◆

Setelah berpisah dengan Kureha dan berdiri di depan ruang tata busana, Yua yang berada di sampingku berkata sambil terkekeh.

"Saku-kun, kamu pasti bakal terkejut. Mereka berdua cantik sekali."

"Aku tahu, aku sudah menyiapkan mental."

"Atas usul Yuko-chan, kamu harus melihat mereka satu per satu secara bergantian."

"Maksudnya?"

"Pertama, gaun milik Yuko-chan dulu."

"Boleh saja, tapi apa Nanase belum selesai ganti baju?"

"Sudah, kok. Yuzuki-chan sedang menunggu di balik tirai, jadi jangan coba-coba mencarinya, ya."

"Begitu ya, oke."

"Kalau begitu, aku buka ya?"

Aku mengangguk kecil. Yua menarik diri agar tidak menghalangi pandangan dan membuka pintu pelan-pelan dengan kedua tangannya.

"───!!"

Yuko yang mengenakan gaun putih bersih berdiri di sana dengan senyum malu-malu yang tipis.

"Bagaimana, Saku?"

Tanpa sempat memikirkan jawaban yang puitis,

"Seperti salju pertama."

Aku hanya bisa bergumam jujur seperti itu. Bagian atas gaun yang didominasi renda dengan kerah tinggi berhiaskan pita putih, serta lengan panjang transparan yang mengembang, memberikan kesan desain yang tidak terlalu terbuka.

Namun, justru itulah yang membuatnya sangat cocok dengan aura Putri Salju—bukan, aura Yuko yang saat ini terasa mistis dan anggun. Roknya yang mengembang seperti riak air tampak bagaikan serpihan salju di tepi danau yang tertiup angin.

Dia pasti sudah menyiapkannya khusus untuk hari ini. Anting bermotif kristal salju bergoyang dengan indahnya di telinganya.

Yua tertawa kecil.

"Saku-kun, coba berdiri di sampingnya."

Tersadar oleh kata-kata itu, aku menggelengkan kepala sedikit. Aku melangkah dengan sangat hati-hati agar tidak sampai menginjak roknya, lalu berdiri di samping Yuko.

Yua mendorong cermin setinggi tubuh yang memiliki roda ke depan kami. Bayangan kami yang terpantul di sana terlihat seperti………….

Yuko yang pipinya sedikit merona berkata dengan polos.

"Wah, rasanya seperti di upacara pernikahan, ya."

"──!"

Situasi yang sebenarnya sudah kucoba abaikan sejak menunggu di luar tadi tiba-tiba diungkapkan dengan begitu gamblang, membuatku tak bisa menyembunyikan keterkejutan.

Aku tahu Yuko tidak punya maksud terselubung. Siapa pun yang berada dalam situasi ini pasti akan memikirkan hal yang sama. Harusnya aku bisa menanggapinya dengan candaan ringan—seharusnya aku bisa melakukannya seperti biasa.

Tapi entah kenapa, saat ini aku tidak bisa tertawa dengan baik. Benar saja, Yuko menatapku dengan wajah cemas.

"Eh, maaf ya Saku? Aku tidak bermaksud yang aneh-aneh, kok."

"Aku tahu," kataku seolah meyakinkan diriku sendiri. Aku memaksakan sudut kiri bibirku terangkat.

"Anda terlihat sangat serasi, wahai Pengantin Wanita."

Aku menyodorkan lelucon garing sebagai ganti permintaan maaf. Aku yakin akting ini akan langsung terbongkar, tapi...

"Ih, aku ingin dengar kesan sebagai Pengantin Pria, bukan dari sudut pandang pegawai toko."

Yuko tertawa kecil melalui pantulan cermin dan menerimanya dengan baik. Akhirnya, aku pun menutup kotak melankolis itu dan berkata dengan jujur.

"Kamu benar-benar cocok memakainya, Yuko."

"Iya, Saku juga."

"Seperti tuan putri."

"Seperti pangeran."

"Yuko sepertinya akan butuh waktu lama buat dandan saat hari-H nanti."

"Pasti kamu mau menungguku, kan?"

"Ehem, sepertinya cukup sampai di sini, ya."

Yua yang sedari tadi memperhatikan percakapan kami akhirnya mengerutkan alisnya dengan lembut seolah merasa jengah.

"Yuko-chan, Saku-kun, kalian membuat Yuzuki-chan menunggu terlalu lama."

Mendengar itu, kami berdua saling berpandangan dan menggaruk pipi sambil tertawa kecil.

"Saku, Yuzuki juga cantik sekali, lho."

"Iya, aku tahu."

Atas kata-kataku itu, Yuko tersenyum lembut dan memanggil ke arah jendela.

"Yuzuki, maaf menunggu lama."

──Srak.

Bersamaan dengan kata-kata itu, tirai terbuka dan berkibar tertiup angin. Di bawah sorot cahaya dari arah belakang, siluet berwarna hitam pekat pun muncul.

Langkah kakinya yang mantap terdengar seperti malam yang sedang mendekat. Sosoknya yang bergerak anggun seolah malam yang sedang menari diikuti bayang-bayangnya.

Begitu Yuzuki berdiri di depanku, dia berputar sekali dengan elegan.

"Bagaimana, Chitose?"

Bibirnya yang tampak lebih merah dari biasanya bergerak dengan sensual.

"───!!"

Padahal aku pikir aku sudah tenang setelah dibuat berdebar habis-habisan oleh Yuko tadi, tapi ternyata serangan kedua ini langsung menembus pertahananku. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasanku yang tinggal sedikit.

"Seperti malam itu sendiri."

Lagi-lagi aku hanya bisa bergumam jujur. Gaun Yuzuki yang seluruhnya terbuat dari kain hitam pekat sangat kontras dengan milik Yuko; bahunya dibiarkan terbuka tanpa ragu.

Aku tidak tahu apakah istilah off-shoulder bisa digunakan untuk gaun, tapi punggungnya terbuka hampir separuh, dan bagian dadanya memperlihatkan belahan yang cukup dalam. Desain yang hampir tanpa hiasan itu justru seolah menegaskan bahwa tubuh indah Nanase sendiri adalah karya seni yang paling utama.

"Hei, lihat aku dengan benar, dong."

Mendengar kata-katanya, aku mengembalikan pandanganku yang tanpa sadar sempat teralih. Aura kewanitaan Nanase yang terpancar dari kulitnya yang terekspos terasa begitu menyesakkan hingga aku sulit bernapas.

Yua berkata lagi sama seperti sebelumnya.

"Saku-kun, bisa berdiri di sampingnya?"

Rok milik Nanase sedikit lebih pendek daripada milik Yuko, panjangnya pas menyentuh lantai dengan ayunan yang terasa sensual. Karena tidak perlu khawatir menginjak ujung gaunnya, jarak kami berdua pun menjadi lebih dekat.

Saat kami kembali berdiri berdampingan di depan cermin...

"Benar juga, rasanya seperti di upacara pernikahan."

Nanase merapikan rambutku dengan jari-jarinya secara santai, lalu secara alami menautkan tangannya ke sikuku. Aku refleks menegang dan membuka suara.

"Hei, Nanase."

"Mengawal pasangan adalah etiket seorang pengantin pria, kan?"

Aku akhirnya menyerah mendengar kata-katanya. Aku mengepalkan tangan ringan dan menekuk sikuku. Nanase menurunkan sudut matanya dengan lembut melalui cermin. Aura sensual tadi menghilang, berganti dengan rona merah di pipinya yang menunjukkan kepolosan yang tidak biasa darinya.

"Aku senang."

Nanase bergumam pelan, lalu dia sedikit memperkuat genggaman tangannya dan berkata.

"Apa kami serasi?"

"Kalian serasi."

"Setidaknya."

"Kalau hanya dilihat dari tampang."

"Mana kesan yang benarnya?"

"Kamu pasti sudah tahu, kan."

"Iya."

"Karena kita adalah orang yang serupa."

"Karena kita adalah cerminan satu sama lain."

Ah, benar juga, tiba-tiba aku menyadarinya.

Hitam dan putih. Bulan dan danau.

Perasaan tenang ini, hubungan yang tidak butuh banyak kata ini, adalah waktu yang sama dengan yang mengalir di antara aku dan Yuko setelah melewati bulan Agustus itu bersama-sama.

Terasa sangat jauh, namun selalu bersandar di sisi yang paling dekat.




Seperti sisi putih yang menyembunyikan hitam di baliknya.

Seperti bulan dan danau yang memantulkan bayangan seseorang.

Ternyata, Aku pun bisa menjalin percakapan seperti ini dengan Nanase.

Namun, di saat yang sama, sebuah pikiran melintas.

Apakah Nanase yang berubah, atau Aku?

Apakah Nanase yang mencoba berubah, atau Aku?

 Apakah Nanase sudah terlanjur berubah, atau justru Aku?

Atau jangan-jangan...

──Hanya Aku yang masih belum bisa berubah.

Di sudut musim gugur yang kian bersolek dan berganti rupa, aku merasa seolah sendirian, mendekam di dalam stagnasi yang tertinggal.

◆◇◆

Setelah menyelesaikan fitting kostum, kami kembali ke kelas dan bergabung dalam latihan drama. Entah karena terpacu oleh simulasi akting Nanase dan Nazuna, atau karena mode festival sekolah mereka sudah aktif sejak latihan pemandu sorak, semua orang tampak sangat fokus.

Kami berlatih di atas podium, sementara teman-teman yang lain sesekali menonton sambil melanjutkan tugas masing-masing. Atmosfer seperti ini benar-benar tidak buruk.

Kami terus bertahan hingga batas waktu jam pulang sekolah hampir habis sebelum akhirnya menyudahi latihan dan pekerjaan.

Properti yang belum jadi dibereskan, meja-meja dikembalikan ke posisi semula, dan tanggal di sudut papan tulis diganti menjadi tanggal hari esok.

Bukan karena aku ketua kelas atau apa, tapi rasa enggan untuk berpisah membuatku tetap di sana sampai menjadi orang terakhir yang menjaga kelas.

Pengumuman lewat pengeras suara yang meminta murid untuk segera pulang terus mengalir dengan tenang.

Di luar jendela, kesunyian memenuhi suasana seolah seseorang baru saja menarik tirai hitam dengan terburu-buru.

Alih-alih lapangan yang sudah biasa kulihat, bayangan ruang kelas yang serupa justru terpantul berdampingan, memperlihatkan diriku yang berdiri bengong sedang menatap ke arah sini dari sana.

Begitu lampu kupadamkan, siluet malam pun semakin tegas. Sekolah di jam-jam seperti ini terasa ambigu, pikirku sambil mulai berjalan di koridor.

Tempat yang biasanya menjadi simbol dunia siang hari ini mulai terlelap setelah cahayanya dipadamkan, membuat batasan-batasannya menjadi samar.

Ruang kelas khusus yang terkunci, selasar yang sudah kosong, gimnasium yang tanpa suara.

Sekolah di malam hari memang identik dengan cerita hantu, tapi aku benar-benar mengerti perasaan seolah kita akan tersesat dan keluar dari jalur keseharian yang biasa jika tidak berhati-hati. Sambil memikirkan hal itu, aku melangkah keluar dari pintu masuk sekolah.

"Ya."

"Ya."

Nanase, yang sedang menyandarkan punggungnya di gerbang sekolah, mengangkat tangan ringan.

"Selamat malam, mau pulang?"

"Selamat malam, mau pulang bareng?"

Kami tidak janjian. Tidak ada janji, pun tidak ada alasan khusus. Kurasa, anggap saja ini semua karena pengaruh malam.

Siang dan malam. Perayaan dan keseharian. Panggung dan kursi penonton. Kepalsuan dan keaslian.

Sesekali, tidak ada salahnya tidur sambil menutup rapat segala hal dalam keadaan yang masih ambigu.

◆◇◆

Kami berjalan dalam diam untuk beberapa saat. Begitu sampai di tepian sungai Asuwa, Nanase tiba-tiba berucap.

"Hei, Chitose?"

"Apa, Nanase?"

"Bagaimana penampilanku hari ini?"

"Penampilan 'Aku' yang mana maksudmu?"

"Misalnya, 'Aku' sebagai mempelai wanita."

"Misalnya, Nanase sebagai penyihir."

"Apa kamu benci 'Aku' yang hitam?"

"Aku benci pertanyaan yang tidak punya pilihan jawaban."

Mendengar jawabanku, ia menjulurkan tangannya di depanku.

"Sudah kubilang, kan? Ini bakal bikin ketagihan."

"Jangan dipaksa bilang, aku ingin kamu sendiri yang ketagihan."

Seketika, entah dari siapa duluan, senyum samar tersungging dari kami berdua.

"Karena kamu adalah malam."

"Karena ini malam milikmu."

Aku mengembalikan tangan Nanase perlahan sambil berkata.

"Mari kita cukupkan sampai di sini."

"Ya, cukup sampai di sini untuk malam ini."

Dengan makna dialog yang tetap dibiarkan ambigu, kami terus berkelana tanpa tujuan di dalam pekatnya malam.

Perlahan kami terus berkedip, seolah ingin menyembunyikan perasaan melankolis di sela-sela debu bintang.

Sesekali kami menatap langit, seolah sedang mencari rasi bintang yang belum bernama.

"Saku."

"Yuzuki."

Kebohongan sementara yang dahulu begitu akrab di bibir.

"Chitose."

"Nanase."

Waktu lampau yang suatu saat nanti mungkin takkan bisa lagi disentuh.

Di samping gadis yang bagaikan cermin pantul ini, dua orang yang serupa saling bersandar.

──Dan di ujung sana, akhir cerita seperti apa yang akan kami rajut nanti?

◆◇◆

Sore hari di minggu berikutnya, aku membuka kunci atap sekolah setelah sekian lama.

Dulu aku adalah pengunjung tetap setelah berhenti dari klub, tapi akhir-akhir ini aku sangat sibuk dengan urusan pemandu sorak dan drama kelas sampai jarang sekali kemari.

Hari ini, karena kedua kegiatan itu sedang libur, aku berniat membaca novel Blue atau Blue karya Fumio Yamamoto yang sangat pas dengan suasana musim gugur, atau sekadar berbaring sambil mendengarkan musik. Lagipula... aku tanpa sadar mengangkat sudut kiri bibirku.

Sudah saatnya aku butuh waktu untuk menghadapi hatiku sendiri. Sambil memikirkan hal itu, aku membuka pintu dan aroma yang terasa sangat akrab menyengat hidungku.

Begitu melangkah ke atap dan mendongak, aku melihat asap tipis seperti awan cirrus melayang dengan santainya dari sekitar tangki air. Kalau diingat-ingat, aku refleks tertawa kecut.

Mencium aroma Lucky Strike seperti ini juga baru pertama kali lagi sejak belajar bersama di musim panas.

Orang bilang aroma itu terhubung langsung dengan ingatan, tapi rasanya agak menyebalkan kalau sepuluh tahun lagi aku tiba-tiba teringat Kura-sen saat sedang berada di kedai minum.

Atau mungkin, pada saat itu aku justru akan merindukannya dengan tulus?

Membayangkannya saja sudah terasa seperti adegan yang melankolis.

Sambil memikirkan hal-hal random itu, aku menaiki tangga seperti biasa.

"Yo, anak SMA biasa."

Kura-sen yang sedang menjulurkan kakinya dengan santai mengangkat tangan tanpa melepaskan rokok dari jarinya.

"Panggilan macam apa itu?"

Aku tertawa pelan dan duduk di sampingnya.

"Lagipula, seberapa suka sih kamu dengan Kura-T itu?"

Mendengar itu, Kura-sen menjumput bagian dada Kura-T yang dipakainya sambil menyeringai.

"Kamu juga sudah mulai mengerti apa itu gaya yang berkelas, ya."

"Kenapa aku tidak bisa merasa senang secara tulus ya mendengar itu."

Mendengar jawabanku, ia menyipitkan mata dan mengembuskan asap rokok seolah sedang mengenang masa lalu yang jauh.

"Aku suka baju kelas, baunya seperti masa muda."

"Heh?"

Karena kalimatnya yang tak terduga, aku refleks memberikan reaksi jujur tanpa memasukkan unsur sarkasme maupun humor. Kura-sen mengangkat sudut bibirnya dengan gaya mengejek diri sendiri.

"Bisa memakai baju ini setahun sekali adalah salah satu momen langka yang membuatku merasa menjadi guru itu tidak buruk-buruk amat."

"Seperti sedang mengenang masa muda begitu?"

"Kalau sudah lewat usia tiga puluh, kamu bakal mengerti dengan sendirinya."

"Masa, sih."

Lalu, aku mengembuskan napas pendek.

"Yang tadi itu apa?"

Mendengar pertanyaanku, Kura-sen menjawab dengan wajah jahil yang terlihat senang.

"Bicara soal apa?"

Sudah kuduga dia sengaja, aku hanya bisa mengangkat bahu.

"Soal 'anak SMA biasa' itu."

Kura-sen tidak akan menggunakan kata-kata seperti itu tanpa sadar. Selama dia mengucapkannya, pasti ada makna tersembunyi di baliknya. Melihat ekspresinya, dugaanku memang tepat sasaran.

Kura-sen meniupkan asap berbentuk cincin berkali-kali.

"Belakangan ini kamu terlihat sangat rajin, ya?"

"Karena festival sekolah sudah dekat, jadi aku sedang menikmati masa muda dengan sopan."

Saat aku mengatakannya, ia melanjutkan dengan nada datar yang agak sarkastis.

"Bukan karena kamu sudah berubah jadi lebih dewasa?"

"Kalau Kura-sen yang bilang, itu malah terdengar seperti lelucon dewasa."

Sepertinya ia tidak berniat menanggapi candaanku. Keheningan yang terasa mengambang tercipta sesaat, lalu sebuah cincin asap yang sangat besar melayang. Ia melanjutkan kata-katanya seolah sedang menusuk lubang di tengah cincin asap itu.

"──Atau mungkin, karena kamu sudah melewati satu musim panas?"

"T-tunggu, apa maksud—"

"Begitu ya," Kura-sen menurunkan sudut matanya seolah merasa iba.

"Apa kamu sudah tidak bisa lagi menjadi pahlawan bagi semua orang?"

"───!!"

Kalimat yang seolah bisa melihat segalanya itu membuat lambungku terasa mencelos.

Tentu saja aku tidak pernah melaporkan rincian kejadian musim panas itu kepada wali kelasku.

Jadi seharusnya ia tidak tahu apa pun soal urusan internal kami, namun kata-kata itu menusuk ganjalan di hatiku dengan sangat telak.

Tanpa memberiku kesempatan untuk membela diri atau mengalihkan pembicaraan, Kura-sen membuka suara.

"Aku bisa tahu hanya dengan melihat kalian."

Ia mematikan puntung Lucky Strike-nya yang sudah pendek ke asbak portabel sambil melanjutkan.

"Musim panas di usia tujuh belas tahun memang seperti itu."

Tiba-tiba, sebuah pertanyaan jujur meluncur dari mulutku.

"Apa Kura-sen juga pernah punya musim panas usia tujuh belas tahun yang seperti itu?"

"Entahlah, bagaimana ya."

Reaksi yang hampir sama dengan jawaban 'iya' itu entah kenapa membuatku merasa sedikit geli.

Kura-sen yang kutemui pertama kali sudah sebagai orang dewasa dan guru sekolah, ternyata juga punya masa-masa saat ia berusia tujuh belas tahun.

Apakah langit musim panas yang ia lihat saat itu sama birunya dengan milik kami? Apakah langit musim gugur yang ia lihat saat itu juga kian berganti rupa seperti milik kami?

"……Mungkin, aku merasa takut."

Entah karena terpengaruh oleh melankolis antara orang dewasa dan anak-anak ini, aku tersadar sudah mengucapkannya.

"Bahwa semua orang akan terus berubah dan meninggalkanku sendirian."

Yuko, Yua, Nanase, Haru, Asu-nee────. Gadis-gadis yang dulu seharusnya berjalan berdampingan di sisiku, entah sejak kapan telah melewatiku dan semakin terlihat dewasa.

Bahkan saat mereka menoleh dan mengulurkan tangan, hati ini tetap berputar di tempat.

Seberapa keras pun aku mengayuh, hanya rasa cemas yang menumpuk dan segalanya tak kunjung berjalan selaras.

"Aduh, aduh."

Kura-sen menyalakan rokok keduanya dengan wajah jengah.

"Kupikir kamu sudah sedikit jadi pria, ternyata isi kepalamu masih tetap bocah ingusan."

"He-hei, dengar ya..."

Ia menghisap rokoknya dengan nikmat untuk kedua kalinya, lalu mengembuskannya kuat-kuat.

"──Yang paling banyak berubah itu ya dirimu sendiri, tahu."

"Hei," Kura-sen menatapku seolah sedang memprovokasi.

"Bukankah kamu sudah tidak bisa lagi menjadi pahlawan bagi semua orang, wahai anak SMA biasa bernama Chitose-kun?"

Ah, begitu rupanya. Berkat kata-kata Kura-sen, jariku akhirnya menyentuh sumber ketidaknyamanan yang selama ini mengganjal di lubuk hatiku.

──Bukan sebagai Chitose Saku si pahlawan, tapi sebagai Chitose Saku seorang pria biasa.

Bukan mereka yang berubah. Bukan, memang benar mereka berubah, tapi sebagai premis dasarnya. Orang yang pertama kali mengkhianati dirinya sendiri adalah Aku. Jangan-jangan... pikirku.

Aku bukannya sedang jalan di tempat, tapi justru sedang berjalan mundur sendirian dengan bodohnya di saat semua orang maju ke depan.

"Aku tidak sedang menyalahkanmu."

Kura-sen bergumam seolah sudah mendahului pikiranku.

"Terkadang, hal itu juga disebut sebagai pertumbuhan."

Pertumbuhan. Aku mencoba memutar kata yang terasa asing itu di atas lidah. Meski sudah kukunyah berkali-kali, rasanya tetap hambar seperti permen karet yang sudah kehilangan rasa. Seolah sedang diberitahu bahwa aku yang sekarang tidak akan mengerti, rasanya aku ingin meludahkannya saja.

Tiba-tiba, sebuah percakapan lama yang pernah kulakukan dengan Kura-sen di sini terlintas kembali. Soal apakah aku bisa mempercayai apa yang dianggap benar, atau tidak. Mungkin aku... aku bergumam pelan seperti bicara pada diri sendiri.

"Mungkin aku menjatuhkan kompasku di musim panas itu."

Kura-sen mengangkat sudut bibirnya.

"Gara-gara perempuan, ya?"

"Zaman sekarang, istilah itu bisa bikin orang marah, lho."

"Aku memilih waktu dan tempat, kok. Pakai kata wanita atau gadis rasanya kurang pas."

"Aku paham maksudmu, sih."

"Ada perasaan melankolis yang hanya bisa lahir saat seorang pria menyebut lawan jenisnya dengan sebutan itu."

Aku mengembuskan napas panjang yang dibuat-buat dan bertanya.

"Aku akan mengikuti alurmu kali ini, tapi apa Kura-sen tidak pernah merasa tersesat gara-gara perempuan?"

Kura-sen menyipitkan mata dengan wajah yang terlihat rindu.

"──Memilih perempuan itu, mungkin mirip dengan memilih jalan hidupmu sendiri."

Jalan hidup. Meskipun kata itu terasa mengganjal, untuk saat ini aku hanya bisa menertawakan diri sendiri.

"Padahal aku baru saja dimarahi karena salah paham dan merasa akulah satu-satunya pihak yang memilih."

"Itu cuma kiasan, perempuan pun memilih pria."

Aku tahu tidak ada gunanya membicarakan hal ini dengan wali kelas. Masalahku selamanya adalah masalahku sendiri, dan aku tidak sedang meminta jawaban yang benar. Tapi aku ingin bertanya pada pria di depanku ini, yang dulu juga pernah berusia tujuh belas tahun.

"Lalu, bagaimana menurutmu cara terbaik untuk memantapkan hati?"

"Entahlah," Kura-sen menurunkan pandangannya sedikit, lalu bergumam seperti sedang mengingat sesuatu.

"Mungkin kau hanya perlu mengumpulkannya."

Setelah mengatakan itu dengan singkat, ia menatap rokoknya yang perlahan memendek seperti kembang api pijar.

"Kata-kata yang kau ucapkan, dan kata-kata yang diucapkan padamu. Senyuman yang kau berikan, dan senyuman yang diberikan padamu. Air mata yang kau teteskan, dan air mata yang diteteskan untukmu. Hal-hal yang membuat kalian mirip, dan hal-hal yang membuat kalian tidak mirip. Saat kau memperhatikan, dan saat kau diperhatikan. Hal yang kau sadari, dan hal yang disadari darimu. Saat kau menemani, dan saat kau ditemani. Saat kau memarahi, dan saat kau dimarahi. Saat kau dimaafkan, dan saat kau tidak dimaafkan. Saat kau memaafkan, dan saat kau tidak bisa memaafkan."

Rangkaian kata-katanya yang jarang-jarang sefasih ini terdengar seolah ia sedang mengatakannya kepada dirinya sendiri.

"Kumpulkan kenangan semacam itu, jajarkan satu per satu sambil berpikir."

Sambil mematikan rokok ke asbak portabel, ia menatap langit dengan pandangan kosong.

"Saat bersama siapa, kamu bisa menjadi dirimu yang seperti apa."

Bukan, Kura-sen berkata seolah ingin menutup pembicaraan.

"──Di samping siapa kamu ingin berdiri, dan ingin menjadi diri yang seperti apa selamanya."

Seketika, aku terbelalak.

Memilih seseorang berarti memilih jalan hidup sendiri. Bersama siapa, dan ingin terus menjadi diri yang seperti apa.

──Klang.

Di lubuk hatiku, terdengar suara yang familier.

Aku merasa seolah bisa mengingat sesuatu yang penting. Atau mungkin, aku merasa seolah sedang melupakan sesuatu yang penting.

Misalnya, seperti bulan yang kulihat hari itu. Misalnya, seperti kelereng yang tenggelam di dasar botol ramune.

Kura-sen—aku baru saja akan membuka mulut tanpa tahu apa yang ingin kukatakan, seolah ingin meraih sesuatu yang hampir tergapai, namun—

──Kriet, pintu atap terbuka dengan suara derit yang usang.

"Chitose...?"

Berikutnya, suara Nanase yang sedang mencariku menggema. Kura-sen memasukkan rokok dan asbaknya ke saku, lalu berdiri sambil mengerang kecil.

"Pelajaran tambahan yang menyesakkan antara sesama lelaki cukup sampai di sini."

Ia melirik Nanase sekilas, lalu mengangkat sudut bibirnya.

"Kehilangan karena perempuan sebaiknya diobati oleh perempuan juga, itulah etiket pria sejati."

◆◇◆

Cermin, oh cermin.

──Seandainya saja aku adalah angin hari esok.

◆◇◆

Aku mengantar kepergian Kura-sen dari atap dengan pandangan mata, lalu setelah dia turun dari rumah tangga, aku membuka suara.

"Ada perlu sesuatu?"

"Tidak juga," jawab Nanase sambil menggelengkan kepala, tersenyum tipis selembut bunga sakura yang hampir gugur.

"Hanya saja, entah kenapa aku merasa hari ini kalau aku datang kemari, aku bisa bertemu denganmu."

"Begitu ya," aku mengangguk pelan mendengar kalimat yang terasa sudah sangat akrab di telinga itu. "Bagaimana dengan klub?"

"Hari ini Misaki-chan sepertinya harus mengurus kelas yang dia pegang sebagai wali kelas. Jadi aku hanya latihan ringan dan menyudahinya lebih awal."

"Turnamen sudah dekat, kan?"

"Iya."

"Bagaimana kondisimu?"

"Aku yang sekarang, mungkin bisa dibilang agak luar biasa."

"Kalau Nanase yang bilang begitu, berarti memang benar adanya."

Ingatan tentang gedung olahraga di bulan Mei kembali muncul di kepalaku. Hari itu, saat si brengsek itu menyembunyikan sepatu basket Nanase sebelum pertandingan latihan.

Aku ingat apa yang dikatakan Misaki-sensei waktu itu.

Tapi tahu tidak, terkadang... kendalinya lepas.

Kenyataannya, permainannya setelah itu benar-benar sangat tajam hingga membuatku yang awam ini merasa merinding.

Aku teringat saat pertama kali melihat Todo Mai, aku langsung merasa bahwa dia adalah tipe pemain yang 'punya bakat'.

Mulai dari cara lari santai, pemanasan, hingga cara menangani bola yang bahkan bukan dribble, ada atmosfer unik yang hanya dimiliki oleh orang-orang hebat.

Sejujurnya, aku memiliki kesan yang sama persis terhadap Nanase sejak kelas satu.

Itulah sebabnya saat melihat rentetan tembakan tiga angka darinya waktu itu, aku merasa sangat maklum.

Aku merasa itu adalah hal yang wajar dilakukan oleh seorang Nanase Yuzuki.

Aku sempat mengira itu hanyalah kondisi zone yang terjadi secara spontan, tapi jika ia sudah bisa melepaskan kendali itu kapan saja secara stabil, tidak heran jika ia menjadi pemain yang setara dengan Todo.

Sambil memikirkan hal itu, kami mendekati pagar atap dan menyandarkan tangan di sana.

Di jalur yang membelah lapangan dan gedung sekolah serta di area parkir, persiapan pembuatan lengkungan gerbang sekolah dan properti untuk festival olahraga sedang berlangsung dengan pesat.

Tanpa sadar, sepertinya aku sudah mengobrol cukup lama dengan Kura-sen. Langit yang membentang di depan mata kini sudah sepenuhnya dipenuhi nuansa senja.

Jajaran pegunungan di kejauhan tampak samar dalam warna peony yang lembut, menciptakan gradasi indah menuju warna violet yang menandakan awal dari malam.

Seolah-olah udara itu sendiri sedang diwarnai dengan warna merah muda pucat yang menyelimuti seluruh kota.

Mungkin kami sedang memikirkan hal yang sama. Nanase yang berdiri berdampingan denganku bergumam pelan.

"Aku suka senja di musim gugur. Yang paling indah di antara keempat musim."

"Aku paham. Mungkin karena udaranya sedang jernih."

"Atau mungkin, karena hati kita yang sedang jernih."

"Sepertinya tidak begitu."

"Kenapa?"

"Karena di mataku pun, pemandangan ini terlihat indah."

"Kamu bicara sesuatu yang tidak mirip dirimu ya."

"Mungkin ini sisa-sisa dari percakapan yang juga tidak mirip diriku tadi."

Aku mengangkat bahu sedikit dengan gaya mengejek diri sendiri.

Mungkin aku sedang terpengaruh oleh udara yang sewarna dengan rona merah di pipi ini.

Kalimat terakhir yang ditinggalkan Kura-sen saat pergi tadi juga masih mengganjal di sudut kepalaku.

Saat aku baru saja ingin melontarkan candaan ringan untuk mencairkan suasana, aku menyadari Nanase sedang memperhatikanku sambil menopang dagu di atas pagar.

Begitu mata kami bertemu, ia menyipitkan mata dengan ekspresi yang tampak dewasa, lalu berucap dengan suara yang terdengar seperti angin musim gugur yang akan menerbangkan dedaunan kering di saat berikutnya.

"Hatimu itu jernih, kok."

"Eh...?"

"Justru karena hatimu lebih jernih dari siapa pun, sedikit saja endapan yang mengendap di sana akan terlihat sangat mencolok."

"Nana, se...?"

Sambil memantulkan warna merah muda senja di matanya yang bagaikan cermin, ia melanjutkan.

"Mungkin orang lain yang melihatnya akan mengejekmu tanpa tanggung jawab."

Pemilihan kata itu, nada bicara itu, tanpa sadar membuatku seolah melihat bayangan seseorang pada dirinya.

"Mereka bilang ada endapan di hatimu yang jernih, padahal mereka sendiri mengabaikan hati mereka yang keruh."

Lalu, Nanase tersenyum dengan sangat lembut.

"Tapi mungkin, orang yang paling mengkhawatirkan endapan itu adalah dirimu sendiri, ya?"

"Hatiku tidak sehebat itu, kok."

"Tapi aku tahu."

Sambil berkata begitu, Nanase mendekat perlahan dan menempelkan tangannya di dadaku.

"Bahwa yang mengendap di sana sebenarnya adalah kelereng dari botol ramune."

"──!"

Rasanya seolah jantungku disentuh secara langsung, membuat detak jantungku berdegup kencang.

Nanase kemudian berputar dan menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas.

"Hei, lihatlah."

Ia berucap sambil mendongak menatap langit yang kian berganti warna. Saat aku mengikuti arah pandangnya, ia dengan jahil menyandarkan bahunya ke bahuku.

"Rasanya seperti kita sedang terhubung dengan langit."

Seketika, aku merasa seolah diselimuti oleh sesuatu yang lembut. Gradasi warna yang mewarnai pandangan berubah menjadi tirai tipis transparan yang menutupi sekeliling kami.

Angin yang terasa seperti cinta pertama menerbangkan rambut Nanase, menggelitik leherku dengan nakal.

Aroma sampo yang elegan meresap perlahan seperti suara siaran radio di tengah malam.

Lalu di dasar langit tempat kami berdua terapung, seolah sedang menyendok endapan itu dengan lembut, Nanase berkata.

"Boleh aku bertanya apa yang tadi kalian bicarakan?"

Aku membuka suara, berusaha agar tidak sampai ikut bersandar pada teman sekelasku ini.

"Itu bukan cerita yang pantas didengar oleh Nanase."

"Nana."

"Eh...?"

"Sekarang aku bukan Nanase, bukan Yuzuki, dan bukan Nanase Yuzuki. Aku hanyalah Nana. Kalau begitu, bagaimana?"

Mungkin, pikirku. Ini adalah semacam alasan atau dalih yang sengaja disiapkan oleh Nanase.

Sama seperti saat kami menjadi pangeran dan tuan putri sesaat di atas panggung.

Cerita yang tidak bisa kudengar untuk Nanase, Yuzuki, maupun Nanase Yuzuki, kini ditujukan hanya untuk Nana.

"……Nana."

Seolah sedang memanggil orang itu di tepi sungai, tanpa sadar nama itu meluncur dari bibirku.




◆◇◆

Begitu hati-hati, aku memotong detail tentang diriku menggunakan gunting imajiner, lalu menyampaikan cerita yang Kura-sen bagikan kepada Nanase dengan nada yang seolah-olah itu hanyalah urusan orang lain.

Meski aku tahu prosedur yang berbelit-belit ini pada akhirnya hanyalah sebuah sandiwara, dan meski lawanku saat ini adalah "Nana" yang dimunculkan oleh senja, aku tetap ingin menarik garis tegas dalam diriku sendiri.

Setelah aku selesai menceritakan semuanya, Nanase bergumam seolah bicara pada dirinya sendiri.

"Memilih jalan hidup, ya……"

Nada suaranya terdengar agak mengejek diri sendiri, reflektif, bahkan mungkin terdengar seperti sedang menghukum diri sendiri.

Sebelum aku sempat terjerat oleh rasa penyesalan, Nanase tersenyum rapuh seolah ingin menyembunyikan bulan dengan satu tangan.

"Aku mengerti apa yang dikatakan Kura-sen."

Ia mulai berjalan menyusuri pagar pembatas atap sambil melanjutkan.

"Ingin berdiri di samping siapa dan ingin menjadi seperti apa... kurasa itu adalah alasan cinta yang sangat indah."

"Alasan... benarkah begitu?"

Aku balas bertanya sambil berjalan berdampingan di dekatnya.

"Maaf ya, tadi mulut Nana agak jahat."

Nanase memiringkan kepalanya, tampak sedikit bingung.

"Kalau aku adalah Nanase Yuzuki, aku pasti akan bersimpati."

Sedikit demi sedikit, cahaya senja mulai memudar dan malam pun merayap mendekat.

"Tapi bagi diriku yang sekarang, kurasa tidak apa-apa jika ada alasan yang sedikit lebih manusiawi."

"Itu adalah……"

Saat aku baru saja ingin menyela, ia menghentikan langkahnya dan berkata dengan suara yang seolah membelai pipiku dengan lembut.

"──Memilih seseorang yang kepadanya kita bahkan bisa memperlihatkan diri kita yang sangat tidak kita inginkan."

Jawaban itu seolah menjadi antitesis dari ucapan Kura-sen tadi.

"Siapa pun tidak akan bisa terus tampil cantik setiap saat, tidak bisa terus menjadi pahlawan."

Nanase berucap dengan nada kesepian, lalu ia menatapku dan menurunkan sudut matanya perlahan.

"Contohnya, seperti hatimu yang sangat jernih pun, sesekali pasti ada endapan yang turun ke dasar."

Karena itulah, kali ini ia benar-benar menyentuhkan tangannya di pipiku.

"Setidaknya di depan orang yang sudah kau pilih, aku ingin kau menunjukkannya."

Ujung jarinya menyentuh bibirku dengan lembut.

"Dirimu yang pengecut, dirimu yang plin-plan, bahkan dirimu yang tidak sanggup menjadi Chitose Saku sekalipun."

"Nana……"

Nanase menutup mulutku yang hampir terbuka, lalu ia mengakhiri kalimatnya.

"──Agar baik raga maupun jiwa, kita bisa tenggelam dan terlelap di dalam malam ini."

Setelah itu kami saling menatap dalam diam, sampai gradasi warna yang kami rindukan berubah menjadi blue hour yang penuh kepalsuan.

◆◇◆

Sore hari di hari Jumat, satu minggu sebelum festival sekolah dimulai.

Latihan pemandu sorak dan drama kelas akhirnya mencapai puncaknya. Hari ini sebagai penyelesaian akhir, kami baru saja meminjam panggung di Gedung Olahraga Pertama untuk melakukan geladi bersih layaknya pertunjukan sungguhan.

Kami memoles semuanya hingga puas, dan baru menyudahi latihan saat pengumuman batas jam pulang sekolah berkumandang. Bukan hanya Nanase, tapi juga Yuko, Aku, dan semua orang.

Dalam periode latihan yang singkat, akting kami sudah terlihat meyakinkan. Aku jadi berpikir, padahal dulu aku sangat menyayangkannya, tapi setelah dijalani ternyata waktu berlalu begitu cepat.

Sambil berjalan di koridor menuju kelas bersama teman-teman kelas 5, Yuko membuka suara.

"Aku jadi sangat tidak sabar menantikan festival sekolah!"

Haru tertawa singkat dan menimpali.

"Aku tidak terlalu khawatir sih, tapi sepertinya drama kelas kita akan baik-baik saja."

Mendengar itu, Yua menurunkan sudut matanya dengan tenang.

"Aku juga lega bagian 'Utage' tim pemandu sorak kita sudah selesai."

Entah kenapa Kenta mendengus bangga.

"Mizushino dan yang lainnya juga akhirnya menguasai koreografi 'Utage'."

Kazuki yang diajak bicara tertawa kecil seolah merasa geli.

"Saya sangat kagum, Guru."

Kaito berkata sambil menautkan kedua tangan di belakang kepalanya.

"Tapi rasanya agak sepi ya, keramaian festival ini hanya sampai minggu depan."

Nazuna menutupi mulutnya dengan tangan dan tertawa renyah.

"Tapi, bukankah hal seperti ini jadi spesial justru karena ada akhirnya?"

Nanase mengangguk kecil dengan pandangan yang menerawang jauh.

"Setuju."

Setelah menunggu kelanjutan percakapan sejenak, aku bergumam pelan.

"……Atomu-kun juga tidak mau bilang sesuatu?"

"Diamlah."

Mendengar interaksi itu, semua orang sontak tertawa terpingkal-pingkal. Kazuki melanjutkan dengan menggoda Atomu, Kaito menimpali dengan semangat, sementara Kenta memperhatikan dari jauh meski ia tidak terlihat keberatan.

Tinggal berapa malam lagi, ya.

Saat aku memikirkan hal itu, tiba-tiba Yua mendekat. Sambil menggaruk pipi, ia bicara dengan nada yang agak tidak enak hati.

"Saku-kun maaf ya, akhir pekan ini sepertinya aku tidak bisa datang untuk membuat stok makanan."

"Paham, urusan klub musik?"

"Iya, karena sudah dekat penampilan festival luar sekolah, latihannya jadi lebih lama dari biasanya."

"Semangat ya, aku menantikan penampilanmu di panggung."

Saat kami sedang mengobrol, Nanase yang berjalan di dekat kami menyela.

"Ucchi, kalau boleh, apa minggu ini saja aku yang menggantikanmu?"

Sepertinya ia tadi mendengar isi percakapan kami. Aku refleks tertawa kecil mendengar kata-katanya dan melontarkan candaan.

"Kenapa kamu bertanya pada Yua?"

Nanase menjawab seolah itu adalah hal yang sangat wajar.

"Begitu aturannya, lagipula kalau bertanya pada Chitose, dia pasti cuma bilang 'tidak apa-apa, nanti aku masak sendiri seadanya'."

"Itu memang benar, sih."

"Tapi bagaimana menurut Ucchi?"

Sambil berkata begitu, Nanase mengalihkan pandangan untuk meminta pendapat. Yua tersenyum maklum.

"Soalnya masakan Saku-kun kalau masak sendiri cuma fokus ke karbohidrat dan daging, ikan dan sayurnya jadi tidak diperhatikan……"

"Tuh kan," Nanase mengangkat bahunya.

"Aku memang tidak pandai memasak banyak jenis lauk dalam porsi kecil……"

Setelah aku menjawab begitu, Nanase kembali menatap Yua.

"Aku juga ingin latihan membuat hidangan pendamping dan stok makanan, bagaimana?"

Sesaat, bayangan Kureha melintas di benakku. Meminta izin pada Yua lalu memasak di dapur rumahku. Alurnya persis sama dengan waktu itu, dan aku tidak yakin Nanase yang saat itu ada bersamanya tidak menyadari hal tersebut……

Namun Yua menjawab dengan santai tanpa merasa terganggu sedikit pun.

"Ya sudah, kalau begitu maaf ya, aku titipkan pada Yuzuki-chan saja."

Nanase menangkupkan kedua tangan di depan dada, lalu menurunkan sudut matanya dengan lembut.

"Siap, serahkan padaku."

"Eh, apa jangan-jangan itu meniru gayaku……?"

Mereka berdua saling berpandangan dan tertawa kecil hingga bahu mereka berguncang.

Kurasa aku saja yang terlalu khawatir, pikirku sambil mengembuskan napas.

Tanpa kusadari, sepertinya sudah terbentuk hubungan yang tidak akan goyah hanya karena hal sekecil ini.

Nanase pasti mengusulkannya karena ia pun menyadari hal itu. Yua menutupi mulutnya dengan tangan dan tersenyum simpul.

"Sebagai gantinya, kalau boleh, nanti bekal untuk festival olahraga biar aku yang siapkan untuk Saku-kun dan Yuzuki-chan juga ya."

"Benarkah? Terima kasih, aku menantikannya."

"Iya!"

Dan begitulah, aku hanya bisa memperhatikan dalam diam saat gadis-gadis itu terus melangkah maju, sementara aku sendiri merasa masih tertinggal di belakang.

◆◇◆

Cermin, oh cermin.

──Seandainya saja aku adalah langit yang lembut.

◆◇◆

Keesokan harinya, hari Sabtu sebelum senja.

Setelah selesai membersihkan kamar, mencuci baju, lari rutin, serta latihan ayunan dan training, aku sedang tertidur ayam di sofa saat bel pintu depan berbunyi dengan tenang.

"Pintunya tidak dikunci—"

Kataku sambil menggeliat bangun.

"Selamat malam, aku bertamu ya."

Nanase melongokkan kepalanya setelah membuka pintu dengan hati-hati.

"Ada apa sih, kenapa mendadak formal begitu?"

Melihat tawa heranku, ia membalas dengan senyuman yang terasa sangat sopan.

Nanase yang masuk ke dalam rumah mengenakan kardigan warna ice blue dan rok panjang pleated berwarna blue-green.

Pakaiannya memberikan kesan yang sedikit berbeda dari biasanya. Secara keseluruhan pakaiannya tidak terlalu terbuka, memancarkan atmosfer yang tenang dan anggun.

Tanpa sadar aku terpesona melihatnya, dan menyadari hal itu, Nanase memiringkan kepalanya dengan heran.

"Ada apa?"

"Tidak, cuma merasa pakaianmu hari ini jarang kulihat."

"Masa?"

"Biasanya kan kamu sedikit lebih boyish."

"Sesekali tidak apa-apa kan? Kamu tidak suka?"

"Mana mungkin," aku mengangkat bahu lebar-lebar. "Aku cuma berpikir pakaian seperti itu pun ternyata sangat cocok untukmu."

Nanase menurunkan sudut matanya dengan ekspresi yang sangat tenang, lalu...

"Terima kasih, Chitose."

Ia tersenyum lembut seperti bunga dandelion yang tertiup angin.




Astaga, aku hanya bisa tertawa kecut melihat reaksinya.

Entah kenapa, akhir-akhir ini Nanase sering membuatku kehilangan ritme.

Satu demi satu sisi dirinya yang tidak kukenal mulai menampakkan diri, dan setiap kali itu terjadi, hatiku dibuat goyah.

Padahal aku masih belum sepenuhnya mencerna maknanya; mulai dari Nanase yang tampil memikat saat latihan drama, sosok polosnya dalam balutan gaun, hingga kedewasaannya yang kian berubah di atap sekolah saat senja—bahkan arti dari percakapan yang kami lalui setelahnya. Saat aku sedang memikirkan hal-hal itu,

──Kasari, tiba-tiba suara keseharian yang tenang menggema.

Barulah aku menyadari keberadaan kantong plastik yang ditenteng Nanase di kedua tangannya.

Padahal aku berniat pergi bersamanya, tapi sepertinya dia sudah menyelesaikan belanjaan lebih dulu.

Batang daun bawang dan kucai tampak menyembul sedikit dari kantong itu, memberikan kesan feminin yang menetralisir citra Nanase dengan sangat pas.

Aku merasa lega melihat sosoknya yang terlihat sedikit kontras itu, namun aku segera membuka suara dengan panik.

"Maaf, aku tidak peka."

"Tidak apa-apa, boleh aku minta tolong?"

Begitu menerima kantong plastik dari Nanase, jari-jariku terasa tertekan karena isinya jauh lebih berat dari yang kubayangkan, membuatku merasa bersalah. Aku segera meletakkannya di atas meja.

"Padahal kalau bilang, aku bakal menemanimu."

Nanase yang sedang berjongkok merapikan sepatunya dengan teliti hanya menolehkan wajah ke arahku.

"Tidak apa-apa, aku cuma ingin bisa bersantai begitu sampai di sini."

Ia mengatakannya dengan ekspresi sangat tenang, seolah-olah ia baru saja pulang ke rumahnya sendiri.

"Begitu ya."

Aku merasa geli dengan atmosfer yang terasa seperti akhir pekan biasanya ini, lalu sedikit mengangkat sudut kiri bibirku untuk menyembunyikan perasaanku.

"Nanase, bagaimana klubmu?"

"Aku latihan sejak pagi."

"Kalau begitu, mau mandi dulu?"

"Tidak, aku tidak langsung datang ke sini setelah latihan, jadi mungkin nanti saja setelah makan."

"Yah, kamu sudah ganti baju juga sih. Tapi, apa itu berarti kamu akan mandi lagi padahal sudah mandi di rumah?"

"Tadi itu mandi siang, kalau di sini mandi malam."

Sambil berkata begitu, Nanase mengeluarkan botol mungil yang terlihat modis dari tas besarnya, lalu mengangkatnya dengan riang ke dekat wajahnya.

"Aku bawa garam mandi, lho."

Kalau dipikir-pikir, kami pernah membicarakan hal itu saat dia datang sendirian sebelumnya. Ternyata sudah sebulan berlalu sejak saat itu. Akhir-akhir ini udara benar-benar mulai terasa seperti musim gugur.

Sudah waktunya memasuki musim di mana berendam di bak mandi terasa lebih menggoda daripada sekadar mandi di bawah pancuran. Sambil menerima garam mandi dari Nanase, aku membuka suara.

"Kalau begitu, sekalian saja aku siapkan air panasnya."

"Iya!"

"Tapi garam mandi ini bukannya seperti Bathclin atau Bab yang biasa, ya? Rasanya sayang kalau dipakai sendirian."

"Masa? Kalau begitu, pakainya saat kita sedang bersama saja."

Duh, aku mengembuskan napas panjang dalam hati agar tidak ketahuan.

Setidaknya berikanlah sedikit nada menggoda atau provokasi; kalau kamu mengatakannya dengan begitu polos dan natural, aku jadi bingung harus bereaksi bagaimana.

Ini beda urusannya dengan saat Yua membeli bumbu atau rempah-rempah aneh.

Tanpa menyadari keguncanganku, Nanase masuk ke kamar mandi dan mulai mencuci tangan.

Aku tertawa kecil karena heran, lalu menyalakan pemutar audio Tivoli milikku.

Begitu aku memutar musik secara acak dari ponsel, lagu Small World milik BUMP OF CHICKEN mulai mengalir.

◆◇◆

Beberapa saat kemudian, Nanase kembali ke ruang tengah dan mengenakan celemek bermotif garis vertikal biru yang sama saat ia membuatkan katsudon sebelumnya.

Waktu itu ia tampak sangat kaku, namun entah sejak kapan gerak-geriknya kini memancarkan kewajaran seolah itu adalah bagian dari rutinitas harian.

Nanase menggigit ikat rambut di mulutnya, lalu menguncir rambut sambil membelakangiku.

Tengkuknya yang mulus tiba-tiba tertangkap mataku, membuatku refleks membuang muka.

Justru karena ia memakai pakaian yang lebih tertutup dari biasanya, pandanganku malah tersedot ke arah kulitnya yang terekspos secara samar itu.

Begitu persiapannya selesai, Nanase mulai memilah bahan makanan yang ia beli dengan cekatan. Bahan yang harus masuk kulkas, yang tahan di suhu ruang, hingga yang akan segera dimasak...

Mengingat sifat Nanase, ia pasti telah belajar banyak dari cara Yua bekerja selama ini.

Kecekatan tangannya benar-benar terlihat seperti pemandangan akhir pekan yang biasa kulihat. Setelah selesai memilah, Nanase mengeluarkan pisau dan talenan.

"Chitose, aku tanya dulu ya, apa ada yang ingin kamu makan?"

"Hmm, aku lapar, jadi daging."

"Lalu apa gunanya aku yang diserahi tugas ini..."

"Tapi aku ingin makan katsudon buatan Nanase lagi."

"Fufu, terima kasih. Tapi hari ini menunya ikan, ya."

"Cih."

"Tenang saja, aku sudah memberikan resepnya kepada Ucchi, kok."

"Eh...?"

Itu adalah kalimat yang sedikit tak terduga bagiku. Kenyataan bahwa Yua menanyakan resep katsudon pada Nanase, dan Nanase memberitahukannya pada Yua. Pantas saja, aku pun langsung merasa maklum.

Pantas saja Nanase mengusulkan hal ini dengan begitu santai meski ia menyaksikan sendiri kejadian dengan Kureha waktu itu. Lalu, sedikit rasa sepi membelai batin ini.

Sesuatu yang sangat wajar, namun di balik sisi Nanase dan Yua yang aku tahu—dan hanya aku yang tahu—ternyata ada sosok Yua yang hanya diketahui Nanase, dan sosok Nanase yang hanya diketahui Yua.

Karena itulah, jika saatnya tiba untuk mengubah hubungan antara seseorang, berbagai hubungan lain yang saling terpaut pun akan ikut berubah.

Tiba-tiba, percakapan kami di Taman Ikuhisa terlintas kembali.

"Bukankah ini yang terakhir?"

"Terakhir...?"

"Iya, festival sekolah kita."

Mungkin justru karena Yuko melangkah lebih awal dari siapa pun—bukan, karena ia menarik garis tegas pada hubungan yang ambigu dan tidak stabil lebih awal dari siapa pun────.

Mungkin ia sudah memantapkan tekadnya akan akhir dari semua ini.

Memilih seseorang berarti tidak memilih orang lain.

Memilih suatu jalan hidup berarti tidak memilih jalan hidup yang lain.

Bahkan jika Nanase belakangan ini...

Tanpa sadar, ekspresiku mungkin menjadi muram saat aku tenggelam dalam pikiran itu.

"Chitose...?"

Nanase menatapku dengan cemas. Ini tidak baik, aku segera menggelengkan kepala pelan. Untuk saat ini, aku harus beralih suasana hati demi menghadapi gadis di depanku ini.

"Ngomong-ngomong, ikan apa yang kamu beli?"

"Ikan Sanma dan Buri."

"Karena ini musimnya, mari kita masak Sanma hari ini."

"Bisa dimasak nasi campur atau carpaccio juga, lho."

"Tidak, aku ingin yang simpel saja; dibakar dengan garam, parutan lobak, saus ponzu, dan nasi putih."

"Aduh, tidak ada tantangannya ya..."

Nanase tertawa kecut karena heran, lalu melanjutkan.

"Sepertinya akan memakan waktu lama karena aku juga akan membuat stok makanan. Chitose, mandi saja duluan."

"Boleh?"

"Iya, silakan nikmati waktumu."

"Kalau begitu, aku terima tawarannya."

"Jangan lupa pakai garam mandinya, ya."

"Sip. Kalau ada yang bisa kubantu, sisakan saja untukku nanti."

"Terima kasih. Kalau begitu, bisa tolong cuci berasnya dulu sebelum air mandinya siap?"

"Siap."

"Aku beli gandum juga, boleh aku campurkan?"

"Oh, aku suka nasi gandum."

"Hari ini rencananya aku mau buat nasi rumput laut ala menu sekolah."

"Wah, itu yang paling bikin semangat."

Interaksi yang begitu alami itu terasa menggelitik, dan aku pun mengejek diriku sendiri dalam hati.

Saat Yua ada dalam keseharianku, Nanase tidak ada. Saat Nanase ada dalam akhir pekanku, Yua tidak ada.

Ternyata memang seperti itu, pikirku sekali lagi. Melihat punggung Nanase yang berdiri di dapur, entah kenapa perasaanku menjadi sedikit sesak.

◆◇◆

Begitu aku keluar dari kamar mandi, aroma yang menggugah selera telah memenuhi ruang tengah.

Rasanya aku tidak berendam terlalu lama, tapi di atas meja sudah berjejer beberapa kotak bekal dan kantong plastik klip berisi stok makanan yang telah selesai dimasak.

Ada tahu daging, tumis jahe, semur ikan Buri, Bansansuu, seledri campur tuna mayones, hingga asinan timun, sawi putih, dan sawi hijau... Kecepatan memasaknya dalam waktu singkat ini benar-benar membuatku kagum.

"Luar biasa mewahnya."

"Masa? Yang agak merepotkan cuma membuat telur dadar tipis untuk Bansansuu, sisanya cuma masakan simpel yang direbus, dibakar, atau dicampur saja. Asinannya juga curang karena aku pakai bumbu instan. Ah, khusus yang ini tidak tahan lama, jadi harus habis besok ya."

"Paham. Tapi tetap saja hebat kamu bisa masak sebanyak ini."

"Yah, tidak seperti Ucchi, kalau aku kan semuanya pakai resep."

"Lalu ini apa?"

Sambil bertanya, aku mengambil salah satu kotak plastik. Di dalamnya terdapat sesuatu yang tampak seperti irisan lobak tipis dengan warna kemerahan samar.

"Karena lobaknya murah, jadi aku buat lobak campur plum dan mayones. Maaf ya, temanya jadi serba mayones."

"Heh, lobak ya."

"Mau coba?"

Aku menerima sumpit dan piring kecil yang diberikan Nanase, lalu mengambil potongan lobak itu.

Saat kucoba satu suapan, rasa manis alami sayuran dan sedikit rasa asam dari plum berpadu sempurna dengan mayones, rasanya benar-benar membangkitkan selera makan.

"Enak banget."

"Fufu, syukurlah kalau begitu."

Lobak adalah jenis sayuran yang hampir tidak pernah kusentuh jika memasak sendiri.

Karena aku tipe orang yang tidak keberatan makan menu yang sama setiap hari, biasanya dari musim gugur hingga musim dingin aku selalu mengandalkan menu nabe (rebusan) jika bingung mau makan apa.

Meski nabe itu praktis karena ada daging dan sayurnya, namun saat Nanase atau Yua menyiapkan hidangan yang biasanya tidak kumakan seperti ini, aku kembali menyadari betapa berharganya makanan buatan orang lain.

Saat aku sedang merenungkan hal itu, Nanase yang sedang mengecek gorengannya berkata dengan nada kurang percaya diri.

"Aku masih akan buat beberapa hidangan pendamping lagi, tapi untuk hidangan utamanya rencananya tinggal sayap ayam goreng dan salad ayam. Apa itu cukup?"

"Lebih dari cukup, sangat membantu malah."

Mendengar jawabanku, ia tampak lega dan melemaskan bahunya.

"Soalnya aku tidak tahu seberapa banyak biasanya Ucchi masak..."

"Tidak perlu dipikirkan sampai sejauh itu."

Sepertinya ia belum merasa puas, ia terus menatapku dengan pandangan dari bawah seolah ingin membaca raut wajahku.

"Tapi, aku tidak terbiasa seperti Ucchi."

"Nanti juga terbiasa."

"Apa kamu benar-benar bisa puas denganku?"

"Sudah kubilang, bisa."

"Habisnya, aku tidak mau dianggap kurang memuaskan dibandingkan Nanase yang biasanya."

"……Eh, anu, ini kita masih membicarakan soal stok makanan, kan?"

Karena tidak tahan lagi, aku refleks melontarkan candaan, membuat Nanase tertegun dengan mulut terbuka.

Beberapa saat kemudian, ia sepertinya baru menyadari maksud perkataanku, lalu dengan wajah sedikit memerah ia memukul dadaku pelan.

"Ih! Padahal aku sedang bicara serius!"

"Eh, maaf?! Kupikir kamu memang sengaja memancing agar aku berkomentar begitu."

Posun.

"Tadi itu murni tidak sengaja!"

"Tunggu dulu, aku juga jadi ikut malu, nih."

Posun.

"Aku jadi tahu persis kamu menganggapku wanita seperti apa."

"Tapi biasanya kan memang suasananya seperti itu?!"

"Kyui!"

Lalu kami saling berpandangan dan tertawa terpingkal-pingkal. Saat bersama Nanase, selalu ada semacam ketegangan tertentu.

Bukan berarti masih ada dinding di antara kami, tapi justru karena ia sangat mirip denganku, aku merasa harus menjaga sikap.

Entah itu dalam percakapan, penampilan, hingga tingkah laku, aku merasa harus bisa berakting dengan sama baik dan anggunnya agar bisa setara berdiri di sampingnya.

Tapi sesekali bertukar candaan santai seolah sudah menjadi bagian dari keluarga seperti ini juga tidak buruk. Nanase memanyunkan bibirnya seolah sedang merajuk.

"Sudah, padahal tadi aku mau memberimu sayap ayam yang baru matang untuk dicicipi, tapi sekarang dibatalkan!"

"Maaf, maaf!"

"Chitose itu benar-benar menyebalkan di bagian seperti ini."

"Aku akan turuti permintaanmu apa saja, jadi tolong maafkan aku."

"Hmm, gimana ya..."

Meski berkata begitu, ia tersenyum geli.

Nanase meniriskan minyak dari sayap ayam di nampan kawat, lalu memasukkannya satu per satu ke wajan lain yang sudah disiapkan bumbunya.

Setelah mengaduknya dengan penjepit hingga bumbunya meresap sempurna, ia mengambil satu potong.

Ia meniupnya beberapa kali agar tidak terlalu panas, lalu menyodorkannya ke arahku.

"Ini, hati-hati panas ya."

"Terima kasih."

Aku menerimanya dan langsung menggigitnya tanpa ragu.

"Panassssss!"

Aku pun melakukan adegan klise itu dengan sempurna.

"Tuh kan, sudah kubilang."

Nanase tertawa karena heran, lalu menyodorkan segelas air.

"Nih."

Aku menerimanya dan mendinginkan bibirku. Nanase berucap dengan nada seolah sedang menasihati adik kecilnya.

"Harus ditiup dulu pelan-pelan, tahu?"

"Iya, iya, fuu fuu."

Lalu aku kembali menggigit sayap ayam itu sekali lagi.

"Enak banget!"

Aku berseru dengan jujur.

Bumbu manis berbahan dasar kecap asin dan mirin dengan sedikit aroma bawang putih ini rasanya sangat pas, aku bisa menghabiskan berapa pun potong sekaligus.

Terlebih lagi, sepertinya ia melapisinya dengan sedikit tepung kentang, karena kulitnya terasa sangat renyah.

Saat aku mendekati wajan dan ingin mengambil potong kedua, Nanase menggaruk pipinya dengan bingung.

"Aku senang sih kamu suka, tapi..." ia membuka suara dengan senyum ambigu.

"Padahal itu rencananya untuk stok makanan..."

"Satu lagi, eh, dua lagi saja."

"Duh, sisakan ruang di perutmu untuk makan malam nanti ya."

"Tenang saja. Daripada itu, kenapa Nanase tidak ikut makan selagi masih hangat?"

"Hmm, sepertinya tidak untuk hari ini."

"Kenapa?"

"Anu, soalnya tadi aku pakai bawang putih..."

"Ini kan cuma bumbu rahasia sedikit saja, kalau tidak dekat-dekat sekali juga tidak akan ketahuan."

Mendengar kata-kataku, sosok Nanase Yuzuki yang biasa kulihat kembali menampakkan diri.

"──Yah, anggap saja ini sebagai bagian dari etiket seorang wanita."

Kalimat yang sangat khas dirinya, namun entah kenapa terasa mengandung makna tersembunyi.

"Begitu ya."

Tanpa bertanya lebih jauh, aku pun melahap potongan sayap ayam yang kedua.

◆◇◆

Begitu Nanase menyelesaikan semua stok makanannya, langit yang terlihat dari sofa tempatku berbaring sudah sepenuhnya memasuki waktu senja.

Hari ini pun, langit menggambarkan gradasi melankolis seolah warna merah muda persik dan ungu iris dipulaskan perlahan di atas dasar warna biru wisteria.

Cahaya senja yang hangat menembus jendela, membuat suasana di ruang tengah terasa sedikit merona.

"Boleh aku duduk di sampingmu?"

Suara Nanase memanggilku saat ia memegang dua cangkir mug, membuatku bangkit duduk.

"Kopinya bukan untuk setelah makan?"

Aku melontarkan candaan sambil tertawa kecil, namun ia membalas dengan suara yang terdengar lebih lemas dari dugaanku.

"Maaf ya, sebenarnya tinggal membakar Sanma saja, tapi boleh aku istirahat sebentar?"

Pantas saja, aku merasa menyesal dan menepuk kursi di sampingku.

"Aku cuma bercanda, silakan istirahat."

Latihan klub sejak pagi, lalu dilanjutkan dengan memasak stok makanan dalam jumlah banyak yang tidak terbiasa dilakukannya.

Nanase yang hebat sekalipun pasti merasa lelah.

Aku merasa bersalah karena sempat menggodanya.

Nanase meletakkan mug di meja tamu, lalu duduk di sampingku.

──Kotori, ia menyandarkan kepalanya padaku.

Sebelum aku sempat berkata apa-apa,

"Boleh pinjam bahumu sebentar?"

Ia bergumam pelan tanpa maksud terselubung. Mendengar desah napasnya yang terasa sangat lega, aku tidak tega untuk menolaknya.

Aroma masakan yang melayang di ruang tengah dan wangi sampo saling tumpang tindih, kejanggalan itu justru terasa sangat nyaman.

Aku perlahan melemaskan bahuku agar ia tidak merasa sungkan, lalu berkata.

"Kenapa?"

"Hmm, pengisian daya dan pelepasan daya."

"Apa-apaan itu?"

"Mungkin seperti napas panjang di antara babak pertunjukan."

"Begitu ya."

Nanase menggeliat sedikit seolah merasa geli, lalu membuka suara.

"Hal seperti ini tidak buruk juga, ya."

"Hal seperti ini?"

"Momen di kala senja, saat-saat singkat sebelum makan malam, waktu di mana kita minum kopi sambil duduk berdampingan."

"Bukannya berdampingan, bahuku malah kau jadikan bantal, tahu."

"Jangan selalu bercanda, dasar bodoh."

Kotsun. Ia memberikan sundulan ringan yang jenaka ke kepalaku.

"Seandainya aku bertemu denganmu lebih dulu daripada Ucchi, apa keseharian seperti ini mungkin terjadi?"

"Hentikanlah, jangan bahas yang seperti itu."

"Kalau suatu saat nanti kita kuliah di tempat yang sama dan tinggal bersama, apa keseharian seperti ini mungkin terjadi?"

"Seseorang pernah bilang, kalau tinggal bersama, kita mungkin jadi malas memasak."

"Aku akan tetap memasak, asal kau mau tidur di sampingku."

"Haruskah aku membacakan dongeng di malam saat kau tidak bisa tidur?"

"Aku lebih suka cerita pengantar tidur yang hanya untuk kita berdua."

Begitulah kami, saling bertukar percakapan layaknya twilight di batas antara siang dan malam.

Waktu yang ambigu. Hubungan yang ambigu. Jarak yang ambigu. Kata-kata yang ambigu. Masa depan yang ambigu. Hati yang ambigu.

Seolah kami berpura-pura tidak melihat semua itu dan mencoba meninggalkannya diam-diam di celah ini. Seolah kami mengunci rapat sebuah kotak yang tak boleh disentuh siapa pun sampai besok pagi tiba.

Lalu, di saat sekeliling mulai diwarnai kegelapan hingga siluet satu sama lain pun menjadi tak pasti,

"Sudah malam."

Nanase mengakhirinya dengan suara sayu, seolah memang telah lama menantikannya.

◆◇◆

Cermin, oh cermin.

──Seandainya saja aku adalah penyihir dengan apel beracun.

◆◇◆

Setelah itu, kami menyantap hidangan yang dibuat Nanase: ikan Sanma bakar garam, asinan timun, sawi putih, dan sawi hijau, tumis kubis dan udang rebon dengan klobot asin, nasi gandum rumput laut ala menu sekolah, serta sup bola ikan sarden.

Menu yang sederhana dan tidak neko-neko justru terasa sangat meresap di hati.

Semuanya lezat, tapi nasi rumput lautnya memiliki rasa asin yang pas dan entah kenapa terasa sangat bernostalgia hingga aku menambah dua kali.

Katanya cara membuatnya cukup mudah, jadi nanti dia akan mengajariku resepnya.

Tentu saja urusan mencuci piring aku yang ambil alih. Nanase sudah selesai menyikat gigi di wastafel dan sekarang sedang mandi.

Aku sempat mengira wastafel bakal penuh dengan panci dan penggorengan karena dia membuat stok makanan sebanyak itu, tapi aku terkejut karena yang tersisa hampir hanya peralatan makan yang kami gunakan tadi.

Saat dulu dia membuatkan katsudon, setidaknya masih ada baskom atau talenan yang tersisa.

Aku jadi merasa sedikit geli menyadari betapa cepatnya Nanase belajar dan beradaptasi.

Selesai mencuci piring, aku merebahkan diri di sofa.

Jika ini akhir pekan biasanya, ini adalah waktu di mana aku minum kopi setelah makan bersama Yua lalu mengantarnya pulang, jadi ritmeku terasa agak berantakan.

Meski begitu, karena Nanase sudah bilang ingin mandi di rumahku, aku tidak mungkin mengusirnya begitu saja setelah dia memberiku makan.

Saat sedang memikirkan hal itu, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dari arah ruang ganti, dan aku sedikit menaikkan volume audio Tivoli-ku.

Padahal saat pertama kali dia menginap di bulan Mei, suara air saja sudah membuatku sangat panik, tapi tanpa sadar alur seperti ini sudah menjadi rutinitas keseharian yang biasa. Mungkin karena memang dia orangnya.

Kecuali pengecualian saat Yua menginap di kelas satu dan bulan Agustus tahun ini, satu-satunya lawan jenis yang mandi atau berendam di rumahku hanyalah Nanase.

Dulu saat aku diminta menjadi pacar pura-puranya, aku pernah mengatakannya.

"Dengan kata lain, Nanase memilihku karena aku adalah orang yang tidak akan salah paham lalu jatuh cinta padamu."

Mungkin hal yang sama juga berlaku untuk situasi saat ini.

──Karena dia adalah orang yang tidak akan salah paham lalu melangkah melewati batas, aku bisa menerima tingkah laku Nanase.

Bahkan jika ia membawa handuknya sendiri ke dalam lemariku. Bahkan jika ia tidak lagi membutuhkan alasan khusus untuk datang ke kamar ini.

Bahkan jika ia menebarkan aroma sampo yang sama denganku. Bahkan jika ada garam mandi yang hanya digunakan saat kami bersama. Bahkan jika kami saling bertukar janji tentang masa depan yang entah kapan.

──Semua itu bukan menjadi alasan bagi kami untuk saling berpelukan di malam ini.

Justru karena memahami hal itulah, kurasa kami bisa menjaga ruang kosong dan menarik garis tegas. Aku sampai di sini, dan ia sampai di sini.

Sebuah jarak di mana hanya ujung jari yang bersentuhan saat kami saling mengulurkan tangan, sembari membiarkan sisa ruang untuk interpretasi masing-masing.

Aku dan Nanase pasti memanfaatkan dengan baik kenyamanan ambigu yang membuat kami bisa berpura-pura tidak tahu jika salah satu dari kami sedang tidak berminat.

Suara hair dryer mulai berdengung.

Saat aku memejamkan mata dengan kedua tangan di belakang kepala sebagai bantal, tiba-tiba tercium aroma yang hanya bisa digambarkan sebagai suasana seseorang yang baru selesai mandi di rumah.

Bukan hanya saat aku masih tinggal bersama keluarga, tapi terkadang aku juga diselimuti udara seperti ini saat berjalan di tengah kota di kala senja.

Aroma sampo, kondisioner, sabun mandi, hingga garam mandi yang terbawa uap hangat, sebuah momen yang tanpa sadar membuat ekspresiku melunak.

Mungkin, jauh di dalam lubuk hati, aku merasa lega mengetahui ada seseorang yang begitu dekat hingga bisa merasa rileks seperti itu.

Saat aku sedang memikirkan hal itu dan tanpa sadar mulai terkantuk-kantuk,

Terdengar suara tirai wastafel yang terbuka,

──Pachin, lampu ruang tengah dimatikan.

Cahaya dari lampu berbentuk bulan sabit yang dibawa Nanase dari kamar tidur saat makan malam tadi mulai menyebar samar-samar.

"Chitose, maaf membuatmu menunggu."

Mendengar nada suaranya yang seolah menggoda, aku tertawa kecut, mengira ini adalah permainan isengnya yang biasa.

"Sayang sekali, sepertinya tidak ada sesi slow dance di pesta dansa kita kali ini."

Sambil berkata santai begitu, aku bangkit dari sofa dan berdiri,

"──!!!"

Seketika aku menahan napas.

Berbanding terbalik dengan pakaian tertutup yang ia kenakan tadi, kini Nanase memakai gaun one-shoulder berwarna merah anggur dengan bahan sehalus sutra.

Satu sisi tulang selangka dan dadanya terekspos tanpa perlindungan, bahkan warna kulit di bagian pinggangnya pun terlihat samar.

Rok panjang hitamnya yang memiliki ciri khas pita panjang menjuntai dari pinggang kiri memiliki belahan tinggi hingga ke paha, memamerkan kaki indahnya yang jenjang tanpa ragu.

Gelang emas ramping di pergelangan tangannya dan anting yang bergoyang di sela rambut yang diikat setengah itu berkilau misterius.

Nanase menggerakkan bibirnya yang tampak lebih merah dari biasanya secara perlahan.

"Hei, Chitose?"

"Nanase..."

Aku tidak bisa menemukan kata-kata, hanya bisa memanggil namanya tanpa arti.

Saat ia mencoba gaun pengantin dulu, aku memang terpesona, tapi itu hanyalah kostum panggung untuk situasi non-keseharian sehingga aku masih bisa menoleransinya.

Namun di malam akhir pekan, di kamarku sendiri, melihat Nanase yang baru selesai mandi mengenakan pakaian seperti ini, rasa bersalah yang tak terlukiskan muncul di benakku.

Tubuh yang terpapar cahaya samar di kegelapan itu terlihat sangat nyata dan menggoda hingga membuat bulu kuduk berdiri. Aku tahu Nanase itu cantik, tapi yang ini berbeda.

Tiba-tiba, kata-katanya saat kami masih menjadi kekasih pura-pura terlintas kembali.

"Wah, kupikir Chitose bukan tipe orang yang suka gadis yang berdandan berlebihan demi kencan dengan pria tampan."

"Lagipula, bukankah yang seperti ini malah lebih mendebarkan? Penampilan boyish tapi garis tubuh yang terlihat saat melakukan gerakan spontan, atau paha yang mengintip saat menyilangkan kaki, ya kan?"

Kalimat itu sangat khas dirinya sehingga aku menerimanya begitu saja, tapi jika dipikirkan dengan tenang, itu adalah cerita sebelum kami saling menunjukkan sisi dalam kami.

Tidak aneh jika Nanase melakukan pertahanan diri, dan itu pasti berlaku bukan hanya kepadaku, tapi kepada semua lawan jenis.

Karena penampilan boyish-nya saja sudah sangat mempesona, aku jadi tidak menyadarinya.

Artinya, selama ini Nanase selalu mengenakan estetikanya sendiri seolah sebagai baju zirah,

──Dan menyembunyikan sisi "wanita" yang ada di dalam dirinya.

Aku refleks menelan ludah. Seolah menikmati reaksiku, Nanase sedikit mengangkat sudut bibirnya. Bahkan gerakan sekecil itu pun membuat hatiku mencari-cari maknanya.

Kalau begitu, kenapa Nanase...

Di malam ini, ia melepas cadarnya? Di malam ini, ia menunjukkan pesona wanitanya?

Berbanding terbalik dengan kebingunganku, Nanase seolah sengaja memancing keheningan, menggoda dan memperlambat waktu.

Ia berkedip perlahan, menyempitkan matanya dengan penuh arti, dan sesekali menggerakkan bibirnya dengan manja. Setelah membiarkan suasana mengendap sepenuhnya,

"Hei, Chitose?"

Nanase sekali lagi mengucapkan kalimat yang sama sambil melangkah maju satu demi satu.

Di ujung jari kakinya, cat kuku berwarna merah anggur yang sama dengan gaunnya berkilau lembap.

Belahan roknya terbuka lebar, memperlihatkan lutut dan paha yang masih merona setelah mandi dengan lebih jelas.

"Sudah malam."

"Iya, sudah malam."

Jawabanku yang berusaha terdengar tenang malah terdengar payah dan menghilang ke luar jendela.

Saat Nanase mendekat, aku mundur seolah merasa terintimidasi hingga betisku membentur sofa dan tak punya tempat untuk lari lagi.

Apa yang membuatku goyah begini, pikirku sambil menggelengkan kepala pelan.

Permainan seperti ini sudah kami lakukan berkali-kali, bukan?

Malam ini pun, aku hanya perlu berakting dengan baik lagi. Cukup melakukan sandiwara ambigu di mana kami hanya saling menyentuhkan ujung jari dari dalam garis yang telah kami tarik masing-masing.

"Fufu," ia seolah sedang mempermainkan hatiku yang goyah di telapak tangannya.

"Aku suka malam."

Nanase berucap dengan suara yang seolah membelai lembut daun telingaku.

"Karena malam tertutup, karena malam belum memiliki nama."

Satu langkah, selangkah lagi ia memperpendek jarak.

"Aku suka malam."

Ia melanjutkan seolah sedang merapalkan puisi yang tintanya belum sepenuhnya kering.

"Karena malam adalah dunia hanya untuk kita berdua, karena kita bisa membicarakan rahasia yang tidak boleh didengar siapa pun."

Lalu, Nanase yang berdiri di depanku mengambil tangan kananku dengan tangan kirinya, dan tangan lainnya ia letakkan perlahan di bahuku.

Seolah terpikat dan terpesona, tanpa kusadari aku telah memeluk pinggangnya.

Karena ia mengangkat lenganku, ujung bajunya tersingkap ke atas, membuat tanganku menyentuh langsung kulit polosnya.

Sentuhan yang mulus itu ditambah suhu tubuh yang terasa seolah bisa membuatku pingsan, membuat otakku berdenyut mati rasa dan rasanya hampir gila.

Seolah menyadari bahwa aku mencoba melepaskan tanganku, ia malah menggesekkan seluruh tubuhnya secara lekat ke arahku, seolah ingin menjeratku.

Dada Nanase menekan dadaku, bagian perut bawahnya menekan bagian perut bawahku.

Srat, sebuah firasat yang membuat darah berdesir hebat menjalar di sekujur tubuhku.

"Nanase, cukup—"

Seolah ingin membungkam kata-kataku, Nanase merapatkan pipinya yang merona ke arahku. Hafuu, embusan napas hangat yang menggoda membelai pinggiran telingaku.

Di sudut kesadaranku yang mulai menjauh dan mengabur, aku sempat-sempatnya berpikir hal yang tak masuk akal—untunglah tadi aku sudah menyikat gigi. T

angan kirinya yang tadi menggenggam tangan kananku, juga tangan lainnya yang tadi bersandar di bahu, perlahan merayap turun menyusuri punggung hingga ke pinggang.

Sambil memelukku erat seolah ingin menyatukan tubuh kami yang sudah saling tumpang tindih ini menjadi satu────.

Makanya, untuk saat ini saja, Nanase berucap seolah membisikkan sebuah janji rahasia.

"Kamu boleh tenggelam di dalam diriku... di dalam malam ini."

Lalu, ia perlahan menjauhkan pipinya sambil menggeseknya pelan. Kupikir hanya sampai di sini, dan aku hampir merasa lega karena ia menarik garis batas yang lebih berbahaya dari biasanya, tapi itu hanya sesaat.

──Chupuri.

Bibir yang terasa manis dan menggoda menyentuh pipi kiriku dengan lembap. Itu adalah ciuman yang provokatif dan beracun, layaknya bunga Manjushage di musim gugur.

"Ja—"

Sebelum aku sempat mendorongnya menjauh dengan panik,

──Gishi.

Nanase menjatuhkan seluruh berat badannya padaku. Tubuhku yang sudah kaku ditambah betis yang terpentok ujung sofa membuat lututku lemas, dan aku pun ditindih begitu saja tanpa perlawanan.

──Dokun, dokun, dokun.

Dada Nanase yang menindihku terasa menekan dadaku dengan kuat hingga terasa sakit. Detak jantung yang tak bisa kubedakan lagi mana milikku dan mana miliknya beresonansi ke seluruh tubuh.

──Hah, hah, hah-aa.

Napas yang memburu panas, namun terasa lembap dan sensual, menerpa daun telingaku berulang kali. Pangkal paha kananku terbungkus dalam dekapan paha Nanase, membuatku tak berani bergerak sedikit pun karena takut memicu reaksi yang tak bisa ditarik kembali.

──Gishi, gishi.

Pegas sofa yang sudah cukup lama kupakai berderit pelan mengikuti irama napas kami. Bahkan suara keseharian yang biasanya terdengar biasa saja, kini terdengar begitu mesum dan menggoda.

Bantalan sofa tempat kami berbaring melesak dalam menerima beban dua orang.

──Gishi.

Nanase yang berada di atasku menumpukan tangannya di kedua bahuku untuk mengangkat tubuhnya.

"Hei, Chitose?"

Tanpa ragu, ia membuka kakinya dan duduk mengangkang di atas perut bawahku seolah ingin menjepitku. Rasa hangat yang berasal dari balik roknya serta sensasi lembut yang seolah meleleh tersampaikan bahkan melalui lapisan kain tipis, membuat kedua sisi leherku menegang kaku.

"──"

Aku menggigit bibir dan menahan napas, berusaha menekan suara dan debaran hatiku sekaligus.

"Sudah malam."

Rok dengan belahan tinggi itu tersingkap, memperlihatkan kakinya hingga ke bagian pangkal.

"Waktu rahasia yang tertutup, hanya untuk kita berdua."

Nichiri, Nanase menggerakkan pinggulnya seolah sedang merasa tidak sabar.

"Meski Chitose Saku dan Nanase Yuzuki kembali menjadi pria dan wanita biasa."

Sisi perut yang mengintip dari balik gaun one-shoulder miliknya tampak basah oleh keringat.

"Meski kita tidak bisa membuat alasan yang masuk akal."

Tali bahunya merosot ke lengan atas, membuat bagian dadanya tersingkap lebar.

"Meski malam ini kita tidak bisa lagi bersikap anggun."

Anting di telinganya bergoyang misterius, layaknya bandul hipnotis yang memikat.

"Tidak ada yang melihat, tidak ada yang mendengar, jadi tidak ada yang tahu."

Kari, kari, Nanase menancapkan kukunya dan membelai tulang selangkaku seolah sedang memprovokasi.

"Pagi, siang, maupun senja."

Jin, jin, setiap kali ia melakukannya, sensasi yang membuatku ingin menggeliat menusuk hingga ke punggung. Di balik lengannya yang terbuka, ketiaknya yang mulus tertangkap mataku; rasa bersalah karena telah mengintip berubah menjadi rasa malu yang menggelitik di sekitar pusar.

"Dunia siang yang penuh dengan peran masing-masing, biarkan saja diambil oleh orang lain."

Karena itu, Nanase yang menatapku dari atas dengan mata yang sayu berkata,

"──Berikan malammu yang belum bernama itu kepadaku?"

Suaranya terdengar begitu serak dan manja, sementara tatapannya terlihat sangat menggoda hingga seolah akan menelanku.

"Hei, Chitose. Tidakkah menurutmu kita itu mirip?"

Nanase mengeluarkan kalimat yang seolah dibawanya dari awal bulan Mei lalu.

"Lihat, kita selalu pandai dalam menarik garis."

Ia menggerakkan ujung jarinya di sepanjang tulang selangkaku, seolah sedang mempertegas kata-katanya.

"Mulai dari sini adalah malam, sampai di sini adalah malam."

Ia mengerjapkan matanya yang tampak sensual secara perlahan.

"Tidakkah menurutmu, kita juga bisa menarik garis dengan cara seperti itu?"

"Hah, Aku..."

Aku tidak ingin ia mengatakan lebih banyak lagi dan mencoba memutar tubuhku dengan paksa.

"Nngh."

Bagian bawah tubuh kami saling bergesekan, membuat pinggul Nanase tersentak sensitif. Embusan napas yang terdengar sangat manis dan manja keluar dari mulutnya, sesuatu yang tak terbayangkan dari suaranya yang biasanya selalu tenang.

"──Hah, Ma-maaf!"

Rasa bersalah yang membuat kecanduan, seolah otakku baru saja ditusuk dan diaduk oleh jarum, merayap dari ujung kaki.

"……Boleh, kok."

Nanase menunjukkan ekspresi yang mencampurkan rasa malu transparan dan perasaan ekstasi.

"Kamu boleh bergerak sesukamu."

Sambil berkata begitu, ia menggesekkan pahanya dengan tidak sabar. Udara hangat yang tersembunyi di balik roknya menguar, membangkitkan gairah.

"Hei, Pangeran?"

Lalu ia menangkup kedua pipiku seolah memegang kelopak bunga yang lembut.

"Ini adalah panggung yang bernama malam."

Tangan kanan Nanase perlahan merayap di sepanjang leherku.

"Kita hanya sedang berakting, semuanya akan kembali seperti semula begitu tirai diturunkan."

Tangannya melewati tulang selangka, dan ujung jarinya mulai menggambar lingkaran secara intens di sekitar dadaku. Melalui kain kaus, ia menggerakkannya melebar, mengecil, searah jarum jam, lalu berlawanan arah.

Sengaja menggoda, sengaja menunda, sengaja berputar-putar. Zoku, zoku, rasa tidak sabar yang membuatku ingin mencakar dada sendiri menyesak di tenggorokan. Hingga akhirnya, Nanase menghentikan tangannya di satu titik.

──Karit, ia menancapkan kukunya seolah sedang mencakar.

"──"

Rangsangan yang mirip rasa sakit sekaligus kenikmatan menusuk hingga ke pusat tubuh, membuatku mati-matian menahan suara agar tidak keluar.

"Jadi, makanlah aku?"

Lalu, ia memeluk kepalaku seolah sedang memohon dan menindihkan tubuhnya padaku.

"──Sisi 'wanita penyihir apel beracun' yang selama ini kusembunyikan."

Nanase membisikkan kata-kata itu di telingaku seperti madu yang menetes.

"Nanase, benar-benar, sudah cukup—"

"Sekarang aku adalah Nana."

Chupuri, sekali lagi bibir yang menggoda itu menyentuh pipiku.

◆◇◆

"Sekarang aku adalah Nana."

Chupuri, aku mencium pipi kiri Chitose.

Hadiah ulang tahun untukmu yang kuberikan pada bulan Mei yang penuh kepalsuan. Serta persembahan terakhir untukku yang memilih mati di bulan Oktober sebagai penyihir apel beracun.

Bikut, tubuh yang kutindih itu menegang. Mencampurkan sisa rasionalitas dan etiket sebagai rasa hormat kepada pria yang kucintai, aku sedikit mengangkat pinggulku agar perut bawah kami tidak lagi bersentuhan.

Chu, chu.

Aku terus menggeser bibirku dan mendekat ke arah mulut Chitose.

"──"

Melihatnya yang mati-matian memalingkan wajah ke arah berlawanan terasa begitu manis bagiku.

Chu.

Sekali lagi, aku kembali ke tempat semula dan menciumnya.

Apakah ia merasa tegang?

Apakah ia masih memikirkan hal-hal yang rumit?

Ataukah ia juga merasakan panas yang sama sepertiku?




Aku ingin kamu lebih merasakanku.

Aku ingin kamu begitu terbuai hingga tidak bisa memikirkan hal lain.

Aku ingin memenuhi dirimu dengan keberadaanku.

Tsuuu, setetes keringat mengalir di pelipis Chitose, lalu—

Chiro.

Aku menyesapnya dengan ujung lidah secara perlahan. Rasa asin yang tajam menyebar di dalam mulutku.

"Ini rasa Chitose."

Aku mengatakannya sambil benar-benar meresapi rasa itu.

"──ngh…!"

Chu, chu, chu.

Dari pelipis, aku turun dan menelusuri garis rahang bawahmu dengan saksama.

Chu, chu, chu.

Begitu sampai di ujung dagu, aku menjulurkan lidah dan mencoba menjilat bagian bawah dagumu dengan sensual.

"Nana── Nngh…!"

Aku segera membungkam bibir Chitose yang panik dengan ujung jariku. Padahal laki-laki, tapi bibirnya terasa penuh dan kenyal menggoda.

Aku menyelipkan jari telunjukku ke dalam mulutnya, menelusuri bagian dalam bibirnya. Sensasi saat selaput lendir yang basah itu bergesekan dengan barisan giginya yang rapi saja sudah cukup membuat bagian bawah pusarku berdenyut panas.

Terkejut, lidah Chitose secara refleks menjulur dan menyentuh permukaan jariku.

"Nngh."

Rasa kesemutan yang menjalar hingga ke bahu membuatku refleks menarik tangan, dan—

──Toron.

Cairan bening membentuk benang tipis yang menghubungkan bibirnya dengan jariku.

"Maaf."

Chitose memalingkan wajah sambil menatapku dari sudut mata dengan ekspresi yang tampak merasa bersalah.

"Tidak kotor, kok."

Chupo. Aku meraup cairan itu dari bibirku dengan jari, lalu memasukkannya ke dalam mulutku sendiri.

"Dasar──"

Bibirmu, ujung lidahmu, yang berkali-kali kubayangkan di dalam tempat tidur. Mungkin karena ia menyikat gigi setelah makan, ada sedikit rasa mint yang pahit.

Seolah ingin menahan kata-kata yang hendak ia ucapkan,

Chu, chu, chu.

Aku melanjutkan ciumanku dari bawah dagu terus turun ke bawah.

"Haa, hah-aa."

Padahal aku berniat memantapkan tekad dan melakukannya dengan tenang, tapi tanpa sadar suara desah yang tinggi karena gairah lolos dari mulutku sendiri.

Rasa malu itu malah berubah menjadi perasaan ingin menyakiti diri sendiri atau menyakiti orang lain, membuat tubuhku semakin merona panas.

Napas terasa sesak, pinggangku lemas, dan rasanya kepalaku hampir gila. Aku baru tahu kalau aku bisa mengeluarkan suara seperti ini di depanmu.

"Nngh, fuuh."

Padahal aku yang sedang menyerang, tapi dadaku terasa sesak karena rasa cinta yang begitu dalam. Aku mengulang napas-napas pendek untuk mengisi paru-paru, dan setiap kali melakukannya, kabut gairah semakin menyelimuti pikiranku.

Tubuh Chitose, suhu tubuh Chitose, deru napas Chitose, suara Chitose.

Sejak hari itu, berkali-kali aku membayangkanmu sambil menghibur diri di malam hari. Aku selalu ingin menciummu seperti ini. Aku ingin mempersembahkan seluruh diriku. Aku ingin menyentuh seluruh bagian darimu.

Rahasia berdua saja yang selama ini hanya bisa terwujud dalam mimpi. Bahagia, sedih, dan membuatku gila.

Chu, chu, chu.

Begitu aku mendaratkan bibir di sekitar jakunnya yang menonjol,

──Bikut. Reaksi Chitose menjadi jauh lebih besar.

"Di sini?"

Aku bertanya sambil membelai lembut area sekitar jakunnya dengan ujung jari seolah menggambar lingkaran.

"Terasa enak?"

"Bukan, ini bukan soal itu—"

"Hoo..."

Caranya bicara yang tiba-tiba lancar, sikapnya yang panik untuk mengelak, serta sikap dingin seolah ia baru saja sadar sepenuhnya itu membuatku merasa kesal.

──Pi, chu.

Aku sekali lagi mendaratkan ciuman di area jakun Chitose. Aku menghisapnya dengan kuat seolah ingin meninggalkan bekas di sana.

Setelah melakukannya dengan gigih, aku melepaskan bibirku. Kupastikan tanda dariku telah terukir merah di sana, lalu aku menjilatnya dengan lembut dari bawah ke atas seolah sedang memuji ketahanannya.

"ngh…!, nngh!."

Untuk pertama kalinya, Chitose mendesah. Pada saat itu, bagian bawah pusarku langsung terasa kesemutan hebat.

Padahal biasanya ia bersikap santai dan agak sembrono, atau tiba-tiba bersikap jantan, namun suara yang keluar tadi—suara yang lirih dan hampir terdengar menyedihkan—seolah menunjukkan betapa ia sedang mati-matian melawan nafsunya, menekan impulsnya, dan merasa malu akan dirinya sendiri yang tidak tahan lagi.

"Manisnya."

Aku ingin mendengar lebih banyak lagi, ingin melihatmu lepas kendali lebih banyak lagi, ingin melihatmu mengungkap semuanya.

Aku mendekatkan bibirku ke telinganya.

"Suaramu, jangan ditahan ya?"

Aku membisikkannya seolah meniupkan napas langsung ke sana.

"ngh…!"

Chitose sepertinya masih bersikap keras kepala dengan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

"Tidak boleh."

Kapuri. Aku menggigit kecil daun telinganya. Aku menggerakkan gigi dengan lembut seolah membelai permukaannya, lalu menghisapnya cukup kuat dengan bibirku.

"Nngh."

Kali ini aku menjulurkan lidah perlahan mengikuti garis tepi telinganya, dan—

──Nupuri.

Tiba-tiba aku memasukkan ujung lidahku ke dalam lubang telinganya.

"Ngh-kuuhhh—"

Suara desahan yang tertahan keluar dari mulutnya, membuatku sendiri pun merasa seolah akan meleleh.

"Biarkan aku mendengarnya lagi."

Chupi, karit, rerori, chupu.

Menghisap, menggigit kecil, menjilat, dan mencium.

"Ngh, kuh."

"Ngh, hah-aa."

"Aa, hah."

"Fuh, nngh."

Di tengah kegelapan yang remang, embusan napas yang entah milik siapa lagi sudah saling menyatu.

Aku terus mencintai telinga kiri Chitose dengan mulutku, sementara tangan kiriku terus membelai kepalanya dengan lembut.

"Tidak apa-apa, keluarkan saja semuanya."

Sambil berkata begitu, tangan kananku yang bebas aku susupkan dari ujung kaus ke dalamnya. Mungkin karena ia sedang menahan diri dengan sekuat tenaga, otot perutnya yang terlatih terasa menegang keras bahkan melalui ujung jariku.

"Chitose, kamu jadi keras ya."

Aku membisikkan kalimat bermakna ganda itu dengan sengaja di telinganya sambil menggerakkan tanganku perlahan.

Chu, chu, chupa.

Perlahan, dengan sentuhan samar yang antara menyentuh dan tidak, aku membelai lekuk otot perutnya, pinggangnya, tulang rusuknya, hingga bagian bawah dadanya, seolah sedang mencurahkan kasih sayang. Di tengah jalan, kelingkingku tersangkut di lubang pusarnya, dan aku mencoba menggodanya dengan mengorek bagian dalamnya sedikit.

"ngh…!, berhenti—"

Gashit. Chitose mencengkeram lengan kananku dan menariknya keluar dari kausnya.

"Geli? Atau kamu merasa tidak sabar?"

"Tolonglah, Nanase."

"Maksudmu, minta aku lanjutkan?"

"Kamu tahu kan maksudku."

"Maaf ya, aku tahu kok."

Ia masih memalingkan wajah, dan ekspresinya tidak terlihat karena tertutup oleh rambutnya yang berantakan. "Fuuu," aku mengembuskan napas panjang dan melemaskan kekuatanku.

Mungkin merasa sedikit lega karena itu, Chitose juga melonggarkan cengkeraman pada lenganku.

Maaf ya, aku tahu kok.

──Bahkan di saat seperti ini pun, kebaikanmu selalu muncul lebih dulu.

Kapu, churi.

Aku menggigit kecil tulang selangkanya, lalu menjilatnya dengan basah.

"Ken-apa, kkhh—"

Mengabaikan keguncangan Chitose, aku menjulurkan tanganku ke bagian bawah tubuhnya.

Padahal belakangan ini malam sudah mulai dingin, tapi suhu tubuhmu yang tinggi membuatmu masih memakai celana pendek sebagai baju rumah.

Aku mengusap pahanya dari atas kain, lalu mengumpulkan lima ujung jariku tepat di tengah tempurung lututnya yang terbuka dan menggerakkannya dengan licin.

Chupu, kari, retori.

Sembari melakukannya, bibir dan lidahku sedikit demi sedikit merekam bentuk tulang selangkamu.

Maaf karena aku mengambil kesempatan ini. Maaf karena aku memanfaatkanmu.

Tapi karena inilah warna merah yang telah menghancurkanku.

Karena malam ini, aku adalah Nana yang menyembunyikan bulan.

Chu.

Aku mencium lehernya, lalu menyelipkan tangan kananku dengan mulus dari ujung celana pendeknya.

Bagian dalam paha yang menegang itu terasa lembap oleh keringat, dan udara di sana terasa merona panas karena suhu tubuh Chitose.

Kulit yang disentuh ujung jariku terasa jauh lebih mulus dan murni daripada yang kubayangkan.

Sambil membelai sedikit di atas lututnya, aku menempelkan hidungku di belakang telinganya, aroma Chitose yang menguar membuat kepalaku terasa pening.

"Haa, hah, nngh, fuuh."

Kontrol diriku sudah lama hilang, dan aku menjulurkan lidah ke lehernya seolah sedang memohon.

"Nngh, Chitose..."

Lalu aku merayapkan jariku sedikit demi sedikit ke atas dari lutut, dan tepat saat menyentuh kain halus celana boxer-nya—

"──Tidak boleh!"

Sekali lagi, Chitose mencengkeram lenganku. Ia memaksakan diri untuk bangun dan duduk, lalu berkata dengan mata yang seolah hampir menangis.

"Sampai di sini saja, Nanase."

Aku mengambil tangan yang menyentuh pipiku dengan lemah itu, seolah ia sedang memohon padaku, lalu—

Jupo.

Aku memasukkan jari telunjuk Chitose dalam-dalam ke mulutku.

"──ngh…!"

Aku berhati-hati agar gigi tidak mengenai jarinya, lalu mengisapnya dengan bibir sambil menggerakkannya naik turun secara perlahan. Setelah mengulanginya beberapa kali, aku melepaskannya, lalu menjilatnya dengan teliti dari pangkal hingga ke ujung jari.

Chu, chupi, chupu.

Setelah menciumnya tanpa ada bagian yang terlewat, aku hanya memasukkan ujung jarinya saja, lalu menjilat sela-sela antara kuku dan jarinya dengan ujung lidah.

"Nngh, Chitose, Chitose."

Meski aku memanggil namamu dengan suara yang hampir gila, kamu masih belum mau menatapku.

Karena itu, aku──.

"Boleh?"

Aku bertanya sambil menyentuh dada kiri Chitose.

──Dok, dok, dok, dok, dokun.

Aku sengaja menyalahartikan detak jantung yang berdebar kencang hingga membuatku sendiri malu itu sebagai persetujuan bisu, lalu aku merayapkan tanganku ke bawah.

Menelusuri tulang rusuk, membelai perut, lalu menyangkutkan jari di pinggang celana pendeknya. Tepat saat aku hendak memastikan jawaban yang selama ini kutakuti dan kuhindari—

"──NANASE!!!"

Chitose memanggil namaku seolah sedang memarahiku.

Ia mencengkeram kedua bahuku dengan kekuatan yang seolah ingin mendorongku menjauh, lalu—

──Gyut.

Tanpa sadar, aku ditarik ke dalam pelukannya yang begitu erat hingga terasa sakit, namun terasa lembut hingga membuat hatiku perih.

"Chito, se...?"

"Salah, ini salah. Bukan begini caranya."

Chitose terus bergumam sambil menggesekkan pipinya seolah sedang berdoa.

"Maaf. Maaf aku membiarkan Nanase melakukan hal seperti ini."

"Kenapa Chitose yang minta maaf?"

Pertanyaan itu tidak dijawab, hanya kekuatan lengannya yang memelukku semakin erat.

Aku menjulurkan lidah dan menjilat ujung tengkuknya sedikit, seolah sedang meminta kelanjutannya.

"Tubuhku bagus, lho?"

"Aku tahu."

Chu.

"Apa pun yang Chitose ingin aku lakukan, akan kulakukan."

"Kalau begitu, aku ingin kamu tidak melakukan apa-apa lagi hari ini."

Chupu.

"Kamu tidak ingin memelukku?"

"Bukan tidak ingin, tapi tidak bisa."

Kapu.

"Untuk saat ini, kamu tidak perlu mencintai hatiku dulu, kok."

"……Berhentilah."

Chu, chiru.

"Setidaknya di malam ini, cintailah tubuhku saja."

"Aku akan marah. Nanase tidak boleh mengatakan hal itu."

"──Nngh…!"

Merasa tidak sabar, aku mendorong kedua bahu Chitose dengan sekuat tenaga.

"Hanya untuk saat ini, aku tidak mau mendengar kata-kata sok suci yang sok sopan itu!"

Aku menangkup kedua pipinya dengan tanganku, lalu mengembuskan napas yang manis dan gila.

"Hei Chitose, ayo kita berciuman dengan benar. Cintailah tubuhku juga. Jilatlah aku sebanyak-banyaknya, sentuhlah aku sebanyak-banyaknya. Berikan dirimu ke dalam diriku."

Sambil berkata begitu, aku mengambil tangan Chitose dan menuntunnya ke dadaku sendiri.

"Anak perempuan sudah melakukan sampai sejauh ini, lho. Tolong, jangan buat aku merasa malu."

Tinggal beberapa sentimeter lagi ujung jarimu akan menyentuhku, namun—

"Tidak."

Ia mengatakannya dengan jelas, dan tangannya mengepal kuat.

Seolah itu adalah kehendak Chitose sendiri, sekeras apa pun aku mencoba menariknya, ia tidak bergeming sedikit pun.

Padahal tinggal sedikit lagi, padahal aku sudah tidak bisa menarik diri lagi.

Padahal hati dan tubuhku sudah sangat siap untuk menerima semuanya.

Perlahan dan hati-hati, namun dengan sikap yang tidak menerima penolakan, Chitose melepaskan jemariku satu per satu.

Setiap kali ia melakukannya, jarak di antara kami terasa kian menjauh, membuat dadaku seolah akan meledak karena rasa perih dan cemas.

……Satu jari, dua jari, tiga jari, empat jari. Setelah melepaskan tanganku sepenuhnya, ia menangkup pipiku dan menatapku lurus-lurus.

"Bukan begitu," gumamnya, seolah ingin menegaskan sesuatu.

Dengan tatapan mata yang sejernih kelereng yang pernah kita intip bersama di malam festival itu, ia berkata.

"──Kalau aku menerimamu di sini sekarang, itu hanya akan membuat Nanase Yuzuki merasa malu."

Ia mengatakannya dengan gaya yang sangat khas seorang Chitose Saku, sang Hero.

"Eh, ah……"

Detik itu juga────.

Hari-hari yang kuhabiskan bersamamu, percakapan yang kita pertukarkan, malam-malam saat kau berada di sisiku, nama yang kini telah menjadi masa lalu, cinta kepalsuan yang entah sejak kapan berubah menjadi cinta sejati, sekeping hati di dalam vas bunga, corak bulan Mei yang hanya milikku, serta rembulan yang begitu tenang yang kita tatap malam itu.

──Sosokmu yang menyentuh hatiku tanpa menyentuh tubuhku sedikit pun.

Semua itu berputar di dalam benakku layaknya lentera berputar, dan──

──Aku pun benar-benar merasa malu pada diriku sendiri.

Polori, tetesan air mata yang besar mengalir menuruni pipiku.

"Aku akan marah. Nanase tidak boleh mengatakan hal itu."

Tadi aku sempat menganggapnya sebagai kalimat sok suci yang sok sopan, tapi aku salah.

Nada suara Chitose mengandung kemarahan dan rasa sesak yang sungguh-sungguh. Persis seperti saat ia menceramahiku di atas sofa di ruangan ini dulu.

Kini aku akhirnya menyadari alasannya.

──Hubungan tanpa hati, yang hanya mengandalkan tubuh.

──Pemaksaan nafsu sepihak tanpa memerlukan persetujuan.

Apa yang kulakukan dengan memanfaatkan hubungan dan kebaikan yang telah kita bangun ini adalah──

──Bukankah aku sama saja dengan pria yang sangat kubenci hingga membuatku bermimpi buruk itu?

Ah, begitu rupanya. Aku pun menyadari segalanya.

Apanya yang sungguh-sungguh.

Apanya yang ingin mempesonamu.

Apanya yang Nana.

Apanya yang cermin, oh cermin.

Apanya yang penyihir apel beracun.

Diriku yang sekarang tak lebih dari sang Permaisuri yang gila karena cemburu hingga melakukan tindakan keji.

Jika tidak bisa hidup dengan indah, maka tidak ada bedanya dengan mati.

Wanita bernama Nanase Yuzuki yang sangat kucintai hingga membuatku gila ini──

──Telah mati di malam ini.

"Ah, ah……"

"Menjijikkan," gumamku sambil memeluk tubuhku sendiri yang gemetar.

Hatiku yang tadi begitu merona panas, kini mendingin hingga terasa membeku.

Polopolo, polopolo.

Air mata egois terus mengalir tanpa henti.

Di dalam penglihatan yang mengabur, aku menangkap sosokmu yang sedang menurunkan sudut matamu dengan begitu lembut.

Di lehermu, noda merah beracun yang kutinggalkan telah berubah warna menjadi ungu semu yang menyedihkan.

Pipimu, telingamu, semuanya basah dan lengket oleh air liurku.

"……Kotor."

Tanpa sadar kata itu lolos dari bibirku, dan tanganku meraba-raba sekitar secara tidak sadar.

Bagaimana ini, aku harus segera mengelapnya.

Dengan tangan yang gemetar, aku mengusap pipi Chitose, lehernya, dan telinganya dengan ujung jariku.

"Kotor, kotor."

Aku berusaha keras menghapus jejak diriku, seolah sedang mencoba menebus dosa.

"Nanase……"

Namun semakin kuusap, diriku yang kotor ini seolah semakin menyebar dan melekat kuat.

"Ugh, hiks, maafkan aku."

Aku tidak sanggup menatap wajahmu dengan benar.

"Maafkan aku karena telah mengotori dirimu yang begitu indah."

Zubi, zubi. Sambil mengendus, aku menggerakkan tanganku dan terisak layaknya seorang anak kecil.

"Geho, eho."

"Nanase."

Aku menggelengkan kepala dengan kuat karena takut mendengar kata-kata yang akan ia ucapkan selanjutnya.

"Aku akan membersihkannya sampai benar-benar bersih."

"Nanase."

Pota, pota, pota. Noda hitam menyebar di atas rok yang tidak biasa kupakai ini.

"Hei Chitose, ayo kita mandi sekali lagi."

"Nanase."

Aku merasa segalanya akan berakhir tepat saat Chitose mengucapkan sesuatu lebih dari itu.

"Setelah itu, aku akan mencucinya sampai bersih."

"Nanase."

Aku takut, takut, sungguh takut──.

"Maaf, kamu pasti jijik ya, bukan itu maksudku."

"Nanase."

Aku terus meracau tanpa arah.

"Aku akan melakukan apa saja."

"Nanase."

Sambil mengusap pipi Chitose dengan ujung jari yang gemetar hebat.

"Kalau kamu menyuruhku jangan mengajakmu bicara untuk sementara, aku tidak akan bicara."

"Nanase."

Aku memeras suara tangis yang penuh permohonan.

"Peran di klub teater juga akan aku ganti. Aku akan menundukkan kepalaku pada Haruka dan Ucchi."

"Nanase."

Aku tahu aku telah membuang hak dan kualifikasiku untuk mengatakan hal-hal seperti ini.

"Sampai hari di mana kamu memaafkanku, aku tidak akan pernah datang ke rumah ini lagi."

"Nanase."

Namun, keberadaanmu terlalu besar bagiku untuk bisa mundur dengan begitu saja.

"Jadi, kumohon."

Gugh, hih. Sambil terisak seolah ingin muntah, aku tetap menggantungkan secercah harapan terakhir──.

"Tolong, jangan benci aku."

Tanpa mempedulikan rasa malu atau apa pun, aku membenamkan wajahku di dadamu dan bergantung padamu.

"Tolong jangan hapus aku dari hidupmu."

Aku memohon, mengerang, sambil melepaskan isak tangis yang menyesakkan.

"……Jangan, benci aku."

"──NANASE YUZUKI!!!"

Chitose membentakku, seolah-olah suaranya menampar pipiku.

Ah, sampai di sini rupanya. Mendengar suara yang terdengar seperti penolakan itu, aku memantapkan hati.

Aku bukanlah orang yang sudah lama menghabiskan waktu bersamamu sejak kelas satu.

Aku bukan orang yang selalu mendampingi keseharianmu.

Aku bukan orang yang terikat ikatan kuat melalui olahraga, bukan pula teman masa kecil yang kau kagumi.

Alasan kenapa aku bisa berada di sisi Chitose selama ini adalah karena kau menganggapku sebagai orang yang serupa dengamu.

Alasan kenapa kau membiarkanku masuk ke rumah ini adalah karena kau percaya bahwa aku adalah orang yang tidak akan salah paham dan melampaui batas.

──Dua orang yang serupa.

Bahkan satu-satunya alasan agar aku bisa berada di sisimu itu pun telah kulepaskan di malam ini.

Diriku yang sekarang hanyalah "orang asing" tak bernama yang tidak memiliki hubungan istimewa maupun sesuatu yang bisa kuberikan sebagai balasan, namun malah merasa tinggi hati hanya karena sedikit kebaikan dan mengonsumsi sang Hero, Chitose Saku, tanpa tahu diri.

Pasti aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang muncul di hidupmu, lalu berlalu begitu saja, dan segera dilupakan.

Di mana letak kesalahanku?

Padahal aku hanya ingin jatuh cinta dengan tulus.

Apakah saat aku hancur di atap sekolah itu?

Apakah saat aku memutuskan untuk menggunakan sisi "wanita" yang kusembunyikan ini?

Apakah saat aku memalingkan mata dari keindahan?

Atau saat aku salah mengartikan keindahan itu sendiri?

Sebenarnya di suatu tempat aku sudah menyadarinya.

Pada akhirnya, ini pun hanyalah sebuah kepalsuan.

Setelah dihadapkan pada tekadmu yang begitu tajam, aku hanya berakting seadanya dengan teknik murahan karena merasa terdesak.

Warna merah pinjaman ternyata tidak mampu mewarnai hatimu, ya.

Namun──aku memejamkan mata, dan air mata yang besar kembali mengalir di pipiku.

──Aku tidak mau berakhir seperti ini.




Aku mencintai dirimu yang indah.

Aku ingin menjadi sosok yang cukup indah agar pantas berada di sisimu.

Aku merasa bangga karena kita bisa menjadi cerminan satu sama lain.

Aku tidak ingin kau menganggapku kotor.

Aku tidak ingin itu menjadi sosok terakhirku yang tertinggal di ingatanmu.

"Aku tidak mau, hiks..."

"Kau tidak kotor, kok."

Perlahan, ujung jari Chitose yang hangat menyentuh pipiku.

"Eh...?"

Aku mendongak dengan ragu seolah mencari makna di balik kata-katanya.

Chitose mengulanginya sekali lagi dengan tatapan mata yang begitu lembut, meski ia tersenyum dengan raut sedikit bingung.

"Kau tidak kotor."

"Jadi, jangan katakan hal yang menyedihkan seperti itu."

Seolah sedang menelusuri garis takdir, Chitose mengusap air mataku dengan ibu jarinya. Lalu, tanpa diduga ia menyentuh bibir bawahku.

"Nngh."

Ia membelai bagian dalamnya dengan lembut.

Aku segera membuka mulut karena malu dengan suaraku yang lagi-lagi terdengar manja di saat yang tidak tepat.

"Ma-maafkan ak—"

──Chupo.

Tanpa ragu, Chitose memasukkan ibu jarinya yang masih basah itu ke dalam mulutnya sendiri.

"──Nngh…!"

Sontak aku menahan napas dan mencengkeram tangannya. Terlepas dari air mataku, itu adalah jari yang masih terkena air liurku.

Meski ia baru saja menghapusnya, rasa sedih kembali meluap dari sudut mataku.

"Hentikan, Chitose!"

Meski aku berusaha menarik tangannya dengan sekuat tenaga, ia tetap bergeming seolah itu adalah perwujudan dari tekad Chitose sendiri.

"Kumohon, itu kotor!"

──Chiu, chuu.

Lalu, dengan santai seolah sedang menikmati es krim batangan, ia melepas jari yang baru saja diisapnya itu.

"Dasar bodoh."

Ia tertawa kecil seolah sedang menutupi rasa malunya.

"Sudah kubilang, kan? Kau tidak kotor."

Chitose menurunkan sudut matanya tipis-tipis dan melanjutkan dengan suara tenang.

"Aku tidak pernah sekalipun menganggap Nanase kotor."

Sambil menyeka air mataku lagi dengan ibu jari tangannya yang lain, ia berkata seolah-olah bisa melihat menembus segalanya.

"──Baik tubuhmu, maupun hatimu."

"Ah, aa, hiks..."

Lagi-lagi, pikirku.

Lagi-lagi kau mengabaikan perasaanmu sendiri demi menjadi sang Hero, Chitose Saku. Kau mencoba memikul kelemahanku dan menganggap segalanya tidak pernah terjadi.

Padahal saat itu, aku seharusnya merasa sangat kesal pada diriku sendiri yang hanya bisa dilindungi. Namun yang terjadi justru sebaliknya, aku malah melukaimu.

──Dengan cara yang sama seperti pria yang tidak akan pernah bisa kuterima itu.

Karena itulah, kebaikanmu saat ini terasa begitu pedih, hingga membuatku ingin lenyap saja di malam ini.

"Maafkan aku."

Sekali lagi aku menundukkan kepala sedalam-dalamnya, lalu aku merosot jatuh dari sofa. Lututku terantuk lantai dengan keras hingga rasa kebas menjalar ke betis dan pahaku.

Tanpa sadar, rok dengan belahan tinggi itu tersingkap dengan berantakan. Tali gaun one-shoulder-ku merosot sampai ke bahu, mengekspos bagian dadaku yang pada akhirnya tidak kau sentuh sedikit pun.

Baru sekarang rasa malu menyergapku saat menyadari betapa buruknya penampilanku di depan pria yang kucintai.

Setelah merapikan rok dan menaikkan kembali tali gaun, aku berdiri; rasa perih kembali menyayat hati karena menyadari betapa menyedihkannya diriku yang tak punya tempat tujuan.

──Aku benar-benar seperti orang bodoh.

Lalu tiba-tiba, sebuah kejujuran lain dari dalam hatiku menangis kesepian. Ah, begitu ya, aku menggigit bibirku.

──Sebenarnya, aku sempat sedikit berharap.

Sambil berdalih ingin menyentuh hatimu, sambil berpura-pura bahwa menggunakan sisi wanitaku hanyalah sekadar sarana belaka. Sambil beralasan bahwa membuatmu menyadariku saja sudah cukup bermakna meski berakhir dengan kegagalan, sambil berbisik bahwa saat ini aku adalah Nana.

──Di suatu tempat di hatiku, aku merasa tinggi hati dan berpikir mungkin saja kau akan menerimaku.

Karena itulah aku membeli pakaian dalam baru berwarna biru kesukaanmu, merapikan kuku tangan dan kaki, serta membersihkan bulu hingga ke tengkuk tanpa terlewat.

Aku mencuci seluruh bagian tubuh dengan teliti, menghabiskan waktu lama untuk menyikat gigi, dan membagi aroma parfum di pinggang ke pergelangan tangan serta leher.

Aku memakai pemulas bibir yang lebih mahal dari biasanya, bahkan bersiap untuk menginap. Aku membayangkan akan membuatkanmu kopi serta menggoreng bakon dan telur mata sapi yang renyah jika aku bangun lebih dulu.

──Aku ingin mencakar dadaku sendiri karena segalanya tidak berjalan sesuai rencana.

Meski aku datang hari ini memang dengan niat itu, seharusnya masih ada banyak cara menggoda yang lebih elegan. Aku bisa saja menarik diri dalam batas permainan iseng sambil mengamati reaksimu.

Provokasi yang menggoda pun seharusnya punya etiket tersendiri. Namun, begitu aku melampaui batas, aku malah dikendalikan oleh hawa nafsu dan menjadi begitu agresif seperti binatang, menjadi begitu liar, dan—

──Secara harfiah, aku hanya memuaskan diri sendiri.

Apakah kau menganggapku sebagai wanita rendahan? Apakah kau merasa jemu padaku sebagai wanita yang tidak bisa mengendalikan nafsu rendahnya?

Sambil mendengarkan suaraku yang tinggi dan manis, mungkinkah selama ini ekspresi wajahmu terus mengeras? Mungkinkah selama ini matamu terus menatapku dengan dingin?

──Aku benar-benar seperti orang bodoh.

Aku memejamkan mata rapat-rapat sambil mengepalkan tangan hingga terasa sakit.

Meski ada sedikit harapan layaknya mimpi, akal sehatku sebenarnya tahu bahwa peluang untuk kita bisa bersatu malam ini hampir nol.

Sekeras apa pun aku menggunakan sisi wanitaku, pria rumit sepertimu tidak akan semudah itu terbawa suasana tanpa memberi nama pada perasaanmu sendiri.

Karena itu, entah karena kau akan menceramahiku atau memarahiku, aku seharusnya sudah siap jika kau tidak menerimaku sampai akhir.

──Tapi aku tidak menyangka bahwa ditolak oleh pria yang kucintai akan terasa sesesak ini.

Seolah-olah kau sedang mengatakanku tidak menarik. Seolah-olah kau sedang menasihatiku bahwa kau tidak bisa melihatku sebagai wanita. Seolah-olah kau sedang meminta maaf karena tidak bisa bereaksi padaku.

──Harga diriku sebagai wanita yang telah kupupuk selama ini rasanya runtuh seketika dari bawah kakiku.

Aku pun merasa muak pada diriku sendiri yang masih saja memikirkan perasaanku sendiri alih-alih perasaanmu setelah melakukan kesalahan besar.

Nanase Yuzuki telah mati di malam ini. Di sinilah tirai panggungku diturunkan.

"──Nngh…!"

Aku berlari menuju pintu depan seolah ingin melarikan diri dari kesunyian yang tak tertahankan ini, namun—

"──Nanase!"

Lenganku ditarik dengan kuat, dan—

"Jangan pergi dulu."

Kau memelukku erat dengan kedua lenganmu dari belakang.

Hanya sesaat, aku merasa lega karena kau mengejarku. Itu membuatku merasa seperti wanita murahan yang sengaja berpamitan padahal tahu akan ditahan.

"Lepaskan!"

Aku berteriak sambil berusaha meronta sekuat tenaga.

"Tenanglah, Nanase."

Chitose mengeluarkan suara lembut di telingaku.

"Tidak mau!"

Aku menggelengkan kepala dengan kasar seolah ingin menolaknya.

"Kenapa? Padahal aku sudah melakukan hal seburuk ini padamu!"

Meski aku tahu aku tidak punya hak untuk meninggikan suara, meski aku sadar bahwa seharusnya aku bersyukur atas kebaikan ini, namun emosi yang meluap ini tidak bisa dibendung.

"Kalau kau bahkan tidak mau memelukku, jangan sentuh aku dengan kebaikan setengah matangmu itu!"

Aku melontarkan kalimat yang seharusnya tidak boleh kuucapkan, dan lengan yang melingkariku itu tersentak kaku.

"Maaf, tapi..."

Chitose kembali mengeratkan pelukannya sekali lagi.

"──Aku memang tidak bisa memeluk Nana, tapi setidaknya aku bisa mendekap Nanase Yuzuki."

Ia mengatakannya dengan suara yang seolah mengampuni segalanya.

"Hiks, Chitose..."

Berkat itu, akhirnya aku kembali tersadar akan rasa bersalahku. Meskipun aku merasa seperti wanita yang merepotkan dengan emosi yang tidak stabil begini.

"……Maafkan aku, maaf."

Aku menggenggam lengan yang mendekapku itu dengan kedua tangan yang gemetar, dan menempelkan dahi seolah sedang menyesal.

"Maafkan aku karena telah menodaimu dengan cara yang paling rendah."

Tiba-tiba, tawa kecil Chitose menyentuh telingaku.

"Kau tidak menodaiku, mau aku buktikan sekali lagi?"

Melihat jarinya yang mendekat ke bibirku, aku segera menggelengkan kepala dengan panik dan bergantung pada lenganmu.

"……Tapi aku, hiks, aku sudah menjadi sama seperti pria itu."

Chitose meletakkan salah satu tangannya di kepalaku dengan lembut.

"Kalian tidak sama."

Sambil menyisir rambutku dengan ujung jarinya seolah sedang mencurahkan kasih sayang, ia berkata seolah sedang menempatkan kembali rembulan yang kusembunyikan ke langit malam.

"──Selama ini, bukankah Nanase selalu menyentuh hatiku?"

Dada bagian dalamku terasa sesak hingga membuatku sulit bernapas.

"Benarkah? Kita tidak sama? Apa aku benar-benar tidak melukaimu?"

"Dasar bodoh, kau ini kenapa sih hari ini."

Chitose berkata begitu, lalu perlahan menyandarkan dagunya di bahuku.

"Tidak ada pria yang akan terluka karena dipancing oleh wanita yang ia sukai."

" Nngh…, Chito, se..."

Jika aku menerimanya mentah-mentah, itu adalah kalimat yang bisa membuatku salah paham.

Tapi aku yakin, itu karena dia adalah aku. Karena ia percaya bahwa aku akan menangkap maksud di balik kata-katanya itu dengan benar.

──Demi diriku, ia sengaja memilih gaya bicara seperti itu.

Kepercayaan yang masih tersisa itu terasa begitu hangat saat ini.

Seluruh kekuatanku rasanya hilang, dan aku terduduk lemas di sana. Chitose mematikan lampu bulan sabit, lalu ikut duduk di sampingku sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.

Karena ia masih memelukku dari belakang, posisiku jadi seolah bersandar di dadanya. Ujung hidungmu sesekali menyentuh bagian belakang kepalaku, rasanya sedikit geli.

Kakimu yang ditekuk sedikit terjulur seolah sedang mengurungku. Kehangatan lenganmu yang menyelimutiku layaknya syal terasa meresap perlahan ke dalam hati.

Tok, tok, tok. Detak jantungku mulai tenang dan teratur.

Di ruang tengah yang hanya diterangi cahaya bulan, lagu Norah Jones yang berjudul 'Shoot The Moon' terus mengalir sunyi dari pengeras suara.

"Ah..." Aku mengeluarkan suara lemah diiringi desah napas.

"Besok, apa aku sanggup menatap wajahmu dan teman-teman yang lain?"

Napas Chitose yang tertawa pelan sedikit menggelitik rambutku.

"Bukankah malam itu tertutup?"

Kalimat saat aku sedang dikuasai gairah tadi terasa sedikit memalukan, dan aku mengangguk pelan.

"……Iya."

"Kalau begitu," lanjut Chitose dengan nada sedikit mencela diri sendiri.

"Ini adalah rahasia kita berdua."

"Begitu ya," jawabku sambil ikut mencela diri sendiri.

"Si wanita tidak tahu malu ini."

"Dan si pria yang menyedihkan ini."

Beginilah dia, pikirku, dan tanpa sadar kekakuan di hatiku mulai mencair. Lagi-lagi kau melakukannya, tanpa kusadari kau telah mengubah masalahku menjadi masalah kita.

Chitose sedikit mengeratkan pelukannya.

"Boleh aku bertanya sesuatu?"

Tentu saja aku tidak perlu mengonfirmasi apa pertanyaannya. Aku mendekatkan pipiku ke lengan Chitose seolah sedang menutup mulutku dengan syal.

"Wanita pun punya malam di mana mereka ingin memeluk."

"Sama seperti pria yang punya malam di mana mereka ingin dipeluk, ya."

Apakah kita masih bisa menjadi dua orang yang serupa? Aku menyipitkan mata, merasa lega karena jawaban yang ia berikan tanpa ragu.

Lalu kami kembali menjadi Chitose Saku dan Nanase Yuzuki, sambil tertawa kecil. Setiap kali bahu kami berguncang, aroma kami berdua bercampur dan melayang di udara malam.

Detak jantung yang tumpang tindih secara perlahan terasa seperti jarum detik yang saling berdampingan. "Hei," ucapku hampir tanpa sadar.

"Boleh aku mengajukan pertanyaan jahil juga?"

"Jangan susah-susah ya."

Aku membelai lengan Chitose dengan lembut dan melanjutkan.

"Kenapa kau tidak menolakku lebih awal?"

Bikut. Dari punggungku, aku bisa merasakan tanda-tanda keguncangan darinya.

"……Itu benar-benar pertanyaan yang jahil."

"Fufu," aku menjawab dengan tawa jenaka.

"Lagipula, jawabannya akan kutinggalkan di malam ini."

Mendengar itu, sebuah desah napas pasrah lolos dari bibirnya.

"Nanase, pakaian ini sangat cocok untukmu."

"Baru bilang sekarang?"

"Habisnya, tadi aku terus memalingkan muka."

"Aku membelinya sambil memikirkanmu, tahu."

"Karena itulah..."

Chitose sedikit melonggarkan pelukannya, lalu menyandarkan pipinya ke tengkukku seolah sedang bermanja.

"Aku juga pria, apalagi lawannya adalah Nanase."

Ujung hidungmu yang mancung menyentuh kulitku, dan aku sempat-sempatnya berpikir—untunglah tadi aku sudah membersihkan bulu di sini.

"Bohong kalau aku bilang aku tidak goyah."

Ia melanjutkan dengan datar, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.




"Mana mungkin aku bisa tetap tenang dalam situasi seperti itu?"

Sejenak, Chitose sempat kelu sebelum akhirnya mendengus pelan.

"……Bahkan ada saat di mana aku hampir melepaskan rasionalitasku."

"Begitu ya," gumamku, merasa sedikit terselamatkan mendengarnya.

"Aku sempat berpikir untuk membiarkan diri ini tenggelam saja di malam ini."

Chitose membisikkan hal itu seolah ia merasa malu pada dirinya sendiri.

"Seperti yang kau katakan, mungkin saja jika itu kita, kita bisa menarik garis pembatas dengan cara seperti itu."

Garis pembatas antara siang dan malam, antara hati dan tubuh.

"Aku sempat berpikir, mungkin itu akan terasa lebih melegakan."

Namun, ia mengembuskan napas panjang. Dadanya yang menempel di punggungku naik-turun dengan drastis.

"Tapi itu justru akan membuat kita semakin menderita. Baik aku, maupun kau."

Lalu, ia bergumam dengan suara rapuh yang terdengar begitu ketakutan.

"Setiap kali tubuh kita bersatu, aku yakin cinta kita akan kian terkikis habis."

Sasu, suara gesekan kain terdengar sunyi di ruangan itu.

"Lagipula, sebenarnya kau sendiri terlihat tidak menginginkan hal seperti ini."

"Eh……?"

Saat aku merespons tanpa sadar, ia mengatakannya seolah itu adalah hal yang lumrah.

"Karena itulah kau menyisakan jalan keluar sampai detik terakhir, kan? Meski hal itu hanyalah sisi lain dari rasa cemasmu akan sebuah jawaban."

" Nngh………"

"Dan yang terpenting," lanjut Chitose dengan nada yang kian pilu.

"Aku merasa jika aku menerima malam ini, Nanase Yuzuki yang sangat kucintai tidak akan bisa kembali lagi dari sosok Nana."

Seolah ingin menahan kepergianku, Chitose memelukku erat-erat agar aku tidak terlepas darinya.

"──Padahal, sosok yang ada di dalam hatiku sejak hari itu adalah Nanase Yuzuki."

"Chito, se……?"

Saat aku hampir menoleh ke arahnya, ia menempelkan pipinya dengan lembut seolah ingin menghentikanku. Seakan-akan ia sedang memohon agar aku tidak melihat wajahnya saat ini.

Aku tahu ada Yuko di dalam hati Chitose. Ada juga Ucchi, Haru, Nishino-senpai, dan tentu saja diriku──.

Aku mempercayainya layaknya sebuah permohonan. Aku menyadarinya layaknya sebuah doa. Aku mengetahuinya layaknya sebuah harapan.

Namun, kau mengatakannya dengan cara seperti ini.

──Kau bilang, kau sangat mencintaiku.

──Kau bilang, aku ada di dalam hatimu.

Polori, air mata yang jauh lebih hangat dari sebelumnya kini menetes. Di tempat pipi kita bersentuhan, sebuah genangan kecil tercipta, lalu meluap dan mengalir di antara kita berdua.

Seberapa kuat pun aku berpura-pura tegar, sebenarnya aku selalu merasa cemas. Aku merasa wanita sepertiku—yang tidak punya ikatan istimewa atau sesuatu untuk diberikan sebagai balasan, yang hanya diselamatkan secara sepihak—mungkin tidak punya tempat di hatimu.

Karena itulah,

──Kata-kata yang menyentuh bibirmu itu terasa jauh lebih membahagiakan daripada ciuman mana pun.

Ternyata aku ada di sana. Ternyata tempatku benar-benar ada. Kau menyampaikannya dengan jujur padaku. Aku pun ingin memberi nama pada perasaan ini bersamamu.

"Hei, Nanase?"

"──I-iya."

Suaraku meninggi tanpa sadar saat kau tiba-tiba memanggil namaku. Chitose melepaskan pelukannya, lalu menangkup kedua pipiku dengan tangannya.

"Kau adalah wanita hebat, kan? Kau adalah Nanase Yuzuki, kan?"

"── Nngh…!"

Itu adalah kata-kata yang dulu kurangkai untuk mendorong punggungmu saat kau sedang bimbang.

"Tidak peduli seberapa miripnya kau dengan Yuko belakangan ini, atau semirip Asu-nee, atau semirip Yua."

Ah, dugaanku benar. Ternyata kau memang sudah menyadarinya sejauh itu. Chitose terus menyeka air mataku yang tak kunjung berhenti dengan kedua tangannya.

"Nanase bukan Yuko, bukan Asu-nee, dan bukan Yua. Tentu saja kau bukan Haru, dan bukan pula Nana."

Seberapa jauh pun melangkah, cermin tetaplah cermin.

"Jadi kumohon, jangan mencoba menjadi orang lain."

"Tapi," gumamku sambil menggigit bibir tanpa sadar. Suara senggukan yang memalukan terdengar saat aku menghirup napas. Dengan suara tangis yang masih tertahan, aku melanjutkan.

"Aku tahu itu, tapi──"

Aku mencengkeram lenganmu dengan erat.

"Kalau aku tetap menjadi Nanase Yuzuki, perasaanku tidak akan pernah sampai padamu. Selama aku berusaha hidup dengan indah, aku tidak akan bisa membuang segalanya demi dirimu."

"Kebenaran Nanase Yuzuki bukanlah kebenaranku. Aku pasti akan menyesal. Seharusnya aku tidak peduli pada pandangan orang lain, seharusnya aku tidak takut untuk melukai siapapun. Seharusnya aku tidak ragu untuk menusuk dari belakang. Seharusnya aku tidak menyisakan jalan keluar dan memelukmu saja saat itu."

Begitu diucapkan, penyesalan tentang apa yang telah menghancurkanku, apa yang kupikirkan, dan tekad apa yang membawaku ke sini hari ini kembali meluap.

Padahal aku sudah bersumpah untuk meninggalkan persahabatan, rasa simpati, kebaikan, kepedihan, bahkan sosok Nanase Yuzuki.

Jika aku menarik kembali langkah yang sudah kuambil ini, bukankah segalanya akan terulang kembali?

Bukankah aku tidak akan bisa melawan nasib dengan kekuatanku sendiri?

"Nanase……"

"Hei, Chitose?"

Suaraku parau, meninggalkan jejak air mata di lengan Chitose.

"Jika kau bilang aku yang sekarang ini salah. Jika kau, Chitose Saku, tetap mau mendekap Nanase Yuzuki. Jika kau berharap aku tidak berubah."

Aku menjeda kalimatku sejenak, menelan ludah sebelum melanjutkan.

"Tolong beri aku petunjuk jalan, ya?"

"Maaf," gumamnya pelan.

"Aku tidak tahu apakah Nanase yang sekarang benar atau salah. Aku yakin itu pun merupakan sebuah bentuk keindahan bagi seseorang. Karena itulah, aku hanya bisa menyampaikan apa yang ada di hatiku."

Sambil terisak kecil, aku mengulang kata-katanya.

"Hatimu..."

"Satu hal yang pasti."

Chitose kembali melingkarkan lengannya dengan lembut.

"──Aku jatuh cinta pada Nanase Yuzuki yang terus berusaha untuk tetap menjadi Nanase Yuzuki."

Ia memelukku erat-erat, seolah tidak ingin kami terpisah di tengah lautan malam yang luas ini.

Shinshin, shinshin, air mata yang putih bersih kian menumpuk.

Ah, perasaan itu, hati itu...

──Adalah petunjuk jalan dari cahaya bulan yang paling nyata bagiku.

Jika kau menginginkanku,

──Maka itulah alasan keberadaan Nanase Yuzuki.

"Karena itulah," ucap Chitose dengan suara yang seolah akan menangis.

"……Akulah yang harus berubah."

Saat aku menumpangkan tanganku di atas tangannya, ia menggenggamnya balik dengan erat seolah sedang bergantung padaku.

"Maaf aku membuat Nanase melakukan hal ini, maaf aku menyudutkan cara hidupmu yang indah. Aku tahu semuanya adalah salahku."

Dalam setiap desah napasnya yang terdengar sesak dan pilu, terkandung perasaan tulus darinya.

"Tapi, aku ingin memberi nama pada perasaan ini hanya di saat-saat terakhir nanti."

Setetes cairan mengalir di tengkukku.

"Aku ingin menelusuri waktu yang kita lalui dengan saksama, mencocokkannya dengan hatiku berulang kali, membayangkan masa depan yang akan kita sambut berdua, mengunci satu per satu kemungkinan jika kita tidak bisa bersama, mengeluarkannya lagi karena merasa ada yang salah, menghadapinya setiap kali malam tiba, dan memulainya lagi setiap pagi menjelang."

Suaranya mengandung ketulusan yang murni.

"Setelah bimbang dan berpikir sedalam mungkin, aku ingin meraupnya perlahan dengan kedua tanganku seolah sedang mengucap janji setia selamanya."

"Agar sekali nama itu diberikan, aku tidak akan pernah mengubahnya lagi."

Layaknya sedang melepas kelopak bunga yang berguguran, Chitose berkata seolah-olah ini adalah latihan untuk sebuah perpisahan.

"──Aku akan memberikan jawabannya sebelum bunga sakura berikutnya mekar."

"Tolong tunggu aku, sebentar lagi saja."

Karena itulah, seolah sedang menebalkan kembali nama yang diberikan untuk perasaan ini, aku pun menjawab.

"Iya."

Seolah-olah ini adalah awal dari cinta terakhirku.

Karan, sekeping hati milik kita berdua bergulir jatuh.

Shuwaa, udara malam yang menyesakkan seolah menguap pergi, layaknya kelereng yang baru saja ditenggelamkan ke dalam botol ramune.

Ketegangan di tubuh Chitose lenyap, dan tanpa sadar air mataku pun sudah berhenti mengalir.

Puku-puku, tawa yang meletup seperti buih kecil lolos dari bibir kami entah dari siapa duluan.

Lalu, seolah ingin sedikit melangkahi garis yang baru saja kami tarik bersama dengan susah payah, aku pun membuka suara dengan nada jahil.

"Hei, Chitose?"

Chitose tersentak, bahunya menegang kaku.

"A-ano, itu... lama-lama aku jadi takut mendengarnya..."

Hebat juga, sepertinya ia menyadari kalau aku sengaja menggunakan cara memulai percakapan yang sama dengan tadi.

Karena posisiku membelakanginya, aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku yakin sudut bibirnya pasti sedang berkedut.

Demi memenuhi ekspektasi itu, aku pun melanjutkan.

"Boleh aku bertanya satu hal terakhir?"

Chitose tertawa pelan, suaranya terdengar seperti embusan napas pendek yang pasrah.

"Kumohon, jangan susah-susah ya."

Dengan suara yang sengaja dibuat tinggi dan manis serta nada yang menggoda, aku berbisik.

"──Hei, apa kau tadi sempat... bereaksi padaku?"

Tsutsuu, jemariku mengusap lututnya yang terjulur begitu saja dengan gerakan menggoda.

"Oi!"

Chitose langsung membalas dengan suara datar yang menusuk.

"Tadi Nana kan sudah dibuat malu habis-habisan. Tidak ada salahnya kan, kau memberitahuku setidaknya soal itu?"

"Kalau begitu, minimal bisakah kau ganti dulu perannya, jangan jadi Nana?"

Ini adalah permainan kata-kata yang biasa dilakukan oleh Chitose Saku dan Nanase Yuzuki.

Meski ada setetes kejujuran yang meresap di sana, atau justru karena kejujuran itu selalu meresap ke dalamnya────.

"Astaga..." Dari balik punggungku, aku merasakan Chitose sedang menggaruk-garuk kepalanya dengan frustrasi.

Lihat kan, akhirnya kau menerima godaanku juga.

Setelah jeda yang terasa seperti ia sedang mencoba memikirkan kata-kata yang tepat, Chitose membuka suara dengan nada yang sangat serius.

"Nanase, kalau begitu aku juga punya satu permintaan. Maukah kau... mendengarkannya?"

"Tentu saja, aku akan mendengarkan apa pun permintaanmu."

Saat aku menyahut untuk menyesuaikan suasana, ia menarik napas dalam-dalam seolah akan membocorkan rahasia negara yang sangat besar.

"──Dengar ya, kau jangan pernah memundurkan pinggulmu lebih dari itu, atau harga diri Chitose Saku akan hancur lebur!!!"

Ia mengucapkannya dengan sangat cepat dan terdengar sangat konyol.

Aku yang menangkap maksud ucapannya itu berusaha sekuat tenaga menahan tawa dan memutuskan untuk tetap diam.

Satu detik, dua detik, tiga detik...

Chitose yang akhirnya tidak tahan lagi menepuk-nepuk bahuku berkali-kali.

"……A-ano, bisakah kau katakan sesuatu?"

Setelah memberinya waktu yang cukup untuk merasakan rasa cemas yang sama seperti yang kurasakan tadi, aku pun menjawab.

"……Fufu, kerja bagus."

Tanpa menoleh, aku hanya mengulurkan tangan ke belakang dan mengusap-usap kepalamu dengan lembut.

Puhah, Chitose mengembuskan napas lega seolah baru saja mendapatkan nilai sempurna di kertas ujiannya.

"Sial, semuanya jadi berantakan kan."

"Untuk mengakhiri malam seperti ini, kita butuh lelucon yang tidak garing, kan?"

"Itu namanya lelucon mesum yang tidak sopan, tahu."

Mungkin saja, pikirku sambil mengangkat sudut bibirku sedikit.

Lagi-lagi kau mengkhawatirkanku dan memilih untuk menjadi badut sesaat. Lagi-lagi kau merendahkan dirimu demi mengangkat perasaanku.

Namun untuk saat ini saja, aku merasa itu tidak masalah.

Jika kau adalah aku. Jika Chitose Saku dan Nanase Yuzuki adalah cerminan dari satu sama lain.

Kau pasti tidak akan bisa berbohong jika kebenaran itu akan melukaiku dengan sangat dalam.

Dan kau pasti sudah menyisipkan setidaknya setetes kejujuran di dalam sana.

"Hup," aku menggeliat dan mengubah posisiku. Chitose sontak membuka mulutnya dengan kaget.

"Oi, bodoh! Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan tadi?"

"Aku kan cuma memiringkan tubuh saja."

"Jangan cari-cari alasan."

"Lagipula gairahnya kan sudah mulai mendingin."

"Masih ada sisa baranya, tahu!"

"Bagaimana kalau aku pakai batang kayu lalu kutiup-tiup supaya baranya menyala lagi?"

"Jangan bicara dengan nada yang ambigu begitu!"

"Biarkan baranya menyulut api kembali!"

"Sudah cukup, sudah selesai!"

Melihatnya yang seolah menyerah, kami berdua pun tertawa terbahak-bahak.

Hira-hira, kuru-kuru, bayangan kami menari-nari dan bergoyang saling bertumpuk di sudut malam.

Napas yang indah, suara yang indah, senyum yang indah, dan dirimu yang begitu indah.

Aku memastikan kembali garis luar dari sesuatu yang hampir saja menghilang, dan menyimpannya di dalam hati agar kali ini benar-benar tidak ternoda.

Setelah puas melakukannya, aku menyandarkan tubuhku di dada Chitose dengan lembut. Aku bergerak sedikit untuk mencari posisi yang nyaman, seolah sedang beradu pipi dengannya.

Chitose pun tidak mengatakan hal-hal yang merusak suasana lagi, ia melingkarkan lengannya dengan lembut seolah sedang menyelimutiku alih-alih memelukku.

Bagaimanapun juga, ini adalah malam di mana kami tidak bisa kembali menjadi sekadar pria dan wanita biasa.

Aku mendengarkan detak jantung yang sudah kembali tenang sambil membuka suara.

"Akan segera dimulai ya, festival sekolah kita."

"Festival sekolah kita yang pertama, sekaligus yang terakhir."

"Maukah kau berkeliling festival bersamaku?"

"Tentu saja. Mari kita cari apel karamel yang tidak ada racunnya."

Perlahan, aku meletakkan tanganku di dada Chitose.

"Sebelum memberi nama."

"Demi memberi sebuah nama."

Sambil merasakan suhu tubuh yang menyentuh ujung jariku, tiba-tiba aku teringat cerita tentang Kura-sen yang kudengar dari Chitose.

Memilih cara hidup, ya...

Menurutku itu adalah sebuah alasan jatuh cinta yang sangat indah—memilih ingin berada di samping siapa dan ingin menjadi sosok seperti apa.

Sekarang setelah aku kembali menjadi Nanase Yuzuki, aku benar-benar bisa meresapi kata-kata itu.

Jika memilih seorang pria adalah cara untuk memilih jalan hidupku sendiri, maka──

──Nanase Yuzuki ingin menjadi sosok seperti apa saat berada di samping Chitose Saku?

Lalu, aku meremas pelan kemeja Chitose, memikirkan sisi lainnya.

──Sosok seperti apakah yang bisa ditunjukkan Chitose Saku saat berada di samping Nanase Yuzuki?

Shin-shin, malam yang tertutup ini semakin larut.

Cahaya bulan yang masuk dari jendela memantulkan bayangan kami yang saling bersandar layaknya sebuah layar perak di bioskop.

Kedipan mata kami yang serupa seolah saling bertemu dan menyatu.

Saat kau menyisir rambutku dengan lembut, kesunyian di kegelapan ini terasa mengalir pelan. Dada yang naik-turun seiring dengan helaan napas yang selaras terasa bergoyang layaknya buaian bayi.

Warna ungu semu yang kutinggalkan di lehermu telah memudar menjadi warna futaai—perpaduan pilu antara biru milikmu dan merah milikku yang saling mewarnai.

Tanpa sadar, jemari kita yang saling bertautan terus saling mencari dengan rasa gelisah, layaknya ciuman rahasia di balik tirai, namun tetap tanpa mengikat sebuah janji.

Sambil memunggungi malam yang tidak membiarkanku tenggelam, sambil didekap oleh malam yang telah membuatku tenggelam.

Layaknya mengupas kulit apel beracun menjadi satu helaian panjang tanpa terputus, layaknya melepas kepergian bintang jatuh, layaknya mewarnai garis takdir yang kau telusuri dengan warna merah, aku pun berpikir.

Cermin, oh cermin.

──Seandainya saja aku adalah rembulan yang tenang itu.



Uploader: Gua Salut ama orang yang habis baca nih chapter, padahal 200 halaman jir wkwk. Selemat membaca.

Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close