NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Elf Watanabe Volume 2 Chapter 5

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Chapter 5

Dengkuran tidur Watanabe Fuka memiliki suara yang khas


Yukuto Oki adalah seorang siswa SMA laki-laki yang sehat dan biasa saja, tipe yang bisa ditemukan di mana pun di Jepang, dan ia tidak menjalani hidup asketis yang mencurahkan seluruh waktunya hanya untuk kamera dan belajar.

 

Ia memang sudah bukan atlet, tetapi masih menonton olahraga seperti voli, dan juga menonton Piala Dunia atau Olimpiade dengan semangat penonton awam—selama bisa ditonton, ia akan menontonnya.

 

Ia juga menikmati film, drama, anime, manga, dan novel seperti kebanyakan orang. Banyak yang ia beli karena sesuai seleranya sendiri, dan tak terhitung pula yang ia tonton karena terbawa rekomendasi teman atau penilaian publik.

 

Dan tentu saja, di antara berbagai media itu, ada pula konten yang dinikmati dengan hasrat khas remaja.

 

"Hmm… ini nggak boleh. Yang ini juga nggak. Aduh, foto Hayashida-senpai semuanya nggak bisa dipakai. Punya Kijima-kun juga… ini mepet tapi tetap nggak."

 

Konten yang belum sampai kategori dewasa, tapi cukup sensual, bertebaran di dunia ini. Saat pertama kali Fuka datang ke kamarnya, ada beberapa benda semacam itu yang sengaja ia singkirkan ke dalam lemari lebih dulu.

 

"Ah—lagu ini enak. Bikin kerja lancar. Oke, yang ini hasil jepretan Kotaki-san…"

 

Sejak saat itu, Yukuto tidak lagi bisa menerima secara realistis banyak adegan klise yang sering muncul dalam genre yang disebut komedi romantis.

 

Yukuto mengenakan headphone dan mengerjakan pengeditan foto klub voli sambil memutar musik dengan volume keras.

 

Kalau tidak begitu, ia akan mendengar suara Fuka yang sedang melakukan sesuatu di kamar mandi.

 

Pria yang menghentikan seorang gadis yang ingin mandi bukanlah manusia.

 

Karena itu, Yukuto mengerahkan energi setara bersih-bersih besar akhir tahun untuk membersihkan kamar mandi, menjelaskan cara penggunaan ruang ganti sekaligus wastafel dan kamar mandi rumah Oki, lalu tanpa benar-benar mendengar balasan Fuka, ia kabur ke ruang tamu.

 

Awalnya ia berniat menyelesaikan pengeditan foto selagi Fuka mandi.

 

Namun kenyataannya, dari ruang tamu, kamar mandi yang jaraknya bahkan kurang dari tiga meter—meski pintunya tertutup—tetap memperdengarkan suara Fuka bergerak atau bergumam sendiri.

 

Lalu suara pintu dibuka dan ditutup. Suara air shower menyembur. Suara, suara, suara.

 

Suara yang muncul dari kamar mandi rumah biasa memang normalnya terdengar sampai luar.

 

Sebaliknya, dalam banyak komedi romantis, sering muncul adegan di mana tokoh utama remaja membuka pintu saat heroine sedang ganti baju, atau tanpa sadar masuk ke kamar mandi dalam keadaan telanjang karena tidak menyadari ada orang yang sedang mandi.

 

"Mana mungkin nggak sadar! Kupingnya busuk apa!"

 

Pasti kamar mandi dan ruang cuci di rumah tokoh utama komedi romantis punya peredaman suara setingkat bunker nuklir bawah tanah.

 

Yukuto mencoba mengatasi suara shower Fuka yang tetap terdengar meski pintu ruang tamu ditutup, dengan menyalakan TV atau mengoperasikan mesin pencuci piring—yang sebenarnya ingin ia jalankan tengah malam saat tarif listrik lebih murah—demi menutupi suara.

 

Tapi tetap terdengar. Mau tidak mau tetap terdengar. Telinganya malah seakan ingin mendengarkan.

 

Suara Fuka terkena shower! Suara ia menggosok rambutnya! Suara air lembut saat ia berendam dengan santai!

 

Kalau begini, sudah tidak tertolong. Kenapa kamar mandi rumahku bukan spesifikasi bunker nuklir sih.

 

Ia sempat terpikir kabur ke kamar pribadinya di lantai dua, tapi sebagai pemilik rumah—bahkan sebelum sebagai laki-laki—ia merasa punya kewajiban berada di tempat yang mudah dipanggil kalau Fuka butuh bantuan.

 

Namun kalau ia terus mendengar "suara kehidupan" Fuka dari ruang tamu, rasanya ia bisa benar-benar gila, jadi Yukuto memutuskan untuk berkonsentrasi bekerja sambil memutar suara lewat headphone dengan volume sedang.

 

Dengan begitu, suara biasa tidak akan terdengar, tapi kalau dipanggil dengan suara keras, ia masih bisa mendengarnya.

 

Lagipula, ia sudah meletakkan handuk mandi dan handuk wajah cadangan dalam jumlah banyak di tempat yang mudah terlihat, serta menyambungkan pengering rambut ke stopkontak dan menyiapkannya.

 

Saat membersihkan kamar mandi, ia juga sudah memastikan sisa sampo, kondisioner, dan sabun mandi masih cukup, serta menjelaskan cara menggunakan panel pemanas air dan tempat meletakkan handuk bekas pakai.

 

Karena sudah awal musim panas, ia juga menyiapkan kipas angin untuk berjaga-jaga kalau tubuh kepanasan, dan mengeluarkan sebotol air mineral dari kulkas.

 

Selama mandi dilakukan dengan wajar, seharusnya tidak ada situasi di mana Fuka membutuhkan bantuan Yukuto.

 

Jangan bilang ia sengaja meniadakan semua peluang "kejadian tak sengaja yang menggoda". Inilah bentuk keramahtamahan yang masuk akal dalam menjamu tamu.

 

"Fokus, fokus, fokus… yang diambil Kotaki-san ini lumayan parah ya… ini juga nggak. Ini juga… hmm."

 

"Oki-kun."

 

"Kalau punyaku sendiri juga… meski waktu itu lagi ribut, tetap saja gagal. Ini juga nggak."

 

"Oki-kun. Aku sudah selesai."

 

"Hmm, tadinya kupikir seragam pertandingan lebih bagus, tapi kalau yang bukan pemain inti nggak punya seragam… ah, tapi masa iya sih."

 

"Oki-kun!"

 

"Eh? Ah!"

 

Suara Fuka yang keras terdengar tepat di telinganya meski terhalang headphone, membuat Yukuto terkejut dan buru-buru melepas headphone-nya.

 

Saat ia menoleh, Fuka berdiri di sana sambil mengintip wajahnya, membawa kantong besar—mungkin berisi pakaian kotor dan perlengkapan pribadinya—serta botol air mineral yang telah ia siapkan.

 

"Aku sudah selesai mandi. Airnya juga sudah kuminum. Terima kasih."

 

"A-ah… i-iya…"

 

Rambut Watanabe Fuka versi elf biasanya mengembang ringan, seperti ditiup angin.

 

Namun setelah mandi, rambut Fuka terlihat lembap dan lebih tenang, sehingga telinga elf-nya tampak lebih panjang dan besar dari biasanya.

 

"E-eto… c-cocok, ya… piyamamu."

 

Dan itu adalah pemandangan yang sama sekali belum pernah ia lihat: Fuka mengenakan piyama.

 

Setelan berbahan lembut, berlengan lima-perempat dan bercelana delapan-persepuluh, berwarna hijau muda dengan potongan longgar.

 

"B-benarkah? …Terima kasih."

 

Setelah berkata begitu, Yukuto tanpa sadar mengalihkan pandangan.

 

Bahan piyama pada dasarnya dirancang agar lembut dan tidak membebani tubuh.

 

Justru karena itu, garis tubuh Fuka tampak jauh lebih jelas dibandingkan saat mengenakan pakaian biasa atau seragam, dan kehangatan samar setelah mandi membuat aroma sabun mandi dan sampo—yang seharusnya sudah akrab—terasa sama sekali berbeda.

 

Tidak, ini jelas berbeda. Ada aroma lain yang bercampur, aroma yang tidak ia kenal.

 

"Kamu pakai parfum atau semacamnya?"

 

Ada aroma segar yang mengingatkan pada citrus, manis tapi ringan. Mendengar itu, ekspresi Fuka berubah menjadi campuran antara cemberut dan senang.

 

"Sepertinya indra penciuman Oki-kun cukup tajam."

 

"Hah?"

 

"Mungkin itu aroma hair oil. Tidak sekuat parfum, sih. Menurutmu bagaimana?"




"Bagaimana" itu maksudnya apa.

 

Menyuruhku menghirup dengan sadar, begitu? Apa dia pikir remaja laki-laki bisa melakukannya dengan santai?

 

"…K-kurasa tidak masalah."

 

"Syukurlah."

 

Fuka, yang tak bisa menebak maksud sebenarnya, mengangguk puas lalu menatap PC yang sedang dioperasikan oleh Yukuto.

 

"Masih butuh waktu sedikit lagi?"

 

"Ah, tidak, ini sudah hampir selesai."

 

"Benarkah? Tapi kelihatannya masih tersisa sekitar setengahnya."

 

Karena topik pembicaraan berpindah ke foto, Yukuto merasa ini kesempatan yang tepat dan segera mengalihkan pikirannya ke mode kerja.

 

"Ya. Sebenarnya aku seharusnya mengerjakan semuanya dengan rapi untuk semua orang, tapi yang ini—yang diambil oleh Kotaki-san—sekitar setengahnya, arah pandangannya, tuh…"

 

"Benar juga, melenceng ya."

 

Sekitar setengah dari foto yang diambil Izumi ternyata arah pandang matanya bergeser ke atas atau ke bawah.

 

"Padahal saat pemotretan rasanya semua orang sudah menghadap ke depan dengan benar. Kenapa ya?"

 

"Mungkin sih, dia berusaha memotret dengan hati-hati sampai jarak antar jepretan terlalu lama. Kamu pasti pernah merasakannya, menatap lensa kamera terus-menerus itu cukup melelahkan. Tapi ada juga beberapa yang rasanya tidak bisa dijelaskan hanya dengan itu saja. Aduh, gimana ya. Kalau nantinya seragamnya diseragamkan, mungkin lebih baik diberi sedikit sudut. Memang cuma perbedaan kecil dan soal selera, tapi kadang hasilnya jadi lebih bagus kalau subjek diminta melihat sedikit ke atas dari lensa."

 

"Oh, begitu ya?"

 

"Iya. Eh? Atau itu cuma berlaku buat anak-anak ya. Gimana ya… Ah, tapi lihat, foto Amami-senpai ini—bukan sampai dibilang melirik ke atas, tapi dia melihat sedikit ke arah atas… hm."

 

"Oki-kun?"

 

"Ah, bukan apa-apa… itu kan… foto Amami-senpai ini diambil oleh Kotaki-san, ya…?"

 

Mungkin karena kelelahan akibat ucapan Fuka yang terlalu tak terduga. Seolah gangguan kamera klub itu menular, fokus matanya mendadak tidak jelas, dan foto Rio tampak buram.

 

Ia menggosok matanya, tapi tak ada perbaikan. Bagian lain dari software pengeditan terlihat jelas, jadi jelas bukan masalah pada layar PC.

 

"Amami-senpai… tubuhnya kelihatan agak ramping…"

 

"Oki-kun? Kamu nggak apa-apa? Wajahmu kelihatan pucat."

 

"Eh!? A-ah, iya, aku baik-baik saja."

 

"Ah, sudah kembali normal."

 

Tiba-tiba Fuka mendekat dan mengintip wajah Yukuto dari jarak yang sangat dekat, membuat fokus matanya langsung tertuju jelas pada mata Fuka yang indah.

 

"A-ah, bukan apa-apa kok. Sepertinya aku terlalu fokus sampai capek. Aku sudahi saja."

 

Yukuto menutup software itu tanpa melihat lebih jauh foto Rio, lalu mematikan PC.

 

"Iya. Kita juga belum sempat ngobrol yang penting, jadi lebih baik istirahat saja. Oh iya, Oki-kun juga mau mandi bagaimana?"

 

"Iya, akan aku lakukan. Oh, Watanabe-san, kamu mau sikat gigi sekarang? Kalau iya, aku tunggu sebentar."

 

"Makasih. Tidak apa-apa kok, aku sudah sikat gigi setelah mandi."

 

"Baiklah. Kalau begitu aku mandi sebentar. Kamu boleh menunggu di sini, atau di kamarku."

 

"Iya. Aku tidak apa-apa, silahkan mandi dengan santai."

 

Yukuto mengangguk, lalu supaya tidak sampai berjalan-jalan di lorong dengan pakaian dalam, ia membawa pakaian dalam dan piyama baru dari kamarnya ke kamar mandi.

 

Di depan Fuka, ia sengaja memilih kaus dan celana pendek, bukan ‘piyama set lengkap’, sebuah pilihan yang lahir dari gengsi bawah sadar khas remaja laki-laki.

 

Saat ia masuk ke kamar mandi, terdengar samar bunyi langkah ringan menaiki tangga. Sepertinya Fuka memilih menunggu di kamar Yukuto.

 

"Ah, ngomong-ngomong… Watanabe-san tidur di mana ya?"

 

Bukan berarti tidak ada futon tamu, tapi sudah lama sekali tidak dijemur.

 

Sambil melepas pakaian, entah kenapa ia melipat cucian dengan agak lebih rapi dari biasanya dan menyimpannya di keranjang, membayangkan Fuka akan menggunakannya besok pagi.

 

"Gawat…"

 

Padahal tidak terjadi apa-apa, tapi Yukuto malah memegangi kepalanya dan berjongkok di ruang ganti.

 

"Kenapa baunya enak banget sih…!"

 

Aroma citrus dari produk bernama hair oil—kosmetik yang sama sekali belum pernah muncul dalam hidup Yukuto—melayang di kamar mandi sebagai sisa kehadiran Fuka.

 

"Kipas ventilasi harus dinyalakan 24 jam…"

 

Kalau aroma ini masih tersisa saat ibunya pulang, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan.

 

Dengan langkah goyah, Yukuto masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya, lalu berendam. Saat ia menyadari bahwa beberapa menit yang lalu Fuka berada di tempat yang sama, ia kembali meronta sendirian dalam kebingungan batin.

 

 

"Oki-kun!? Kamu kelihatan lemes, nggak apa-apa!?"

 

"Sepertinya cuma sedikit kepanasan."

 

"Tapi wajahmu malah kelihatan pucat banget, seperti kedinginan!"

 

Ia tidak perlu mengatakan bahwa ia menutupnya dengan mandi air dingin untuk memusnahkan imajinasi liar yang meledak di kamar mandi.

 

"Aku nggak sakit kok. Itu nanti saja. Yang penting sekarang kita harus pikirkan Watanabe-san tidur di mana."

 

Menghadapi situasi di mana seorang gadis dengan pakaian tidur pasca-mandi berada di kamarnya, meski sudah berusaha menenangkan diri sepenuhnya, suaranya tetap saja meninggi.

 

"Itu tidak perlu dipikirkan. Aku tidur di lantai saja."

 

"Sudah kuduga kamu bakal bilang begitu. Tapi jelas tidak bisa begitu."

 

"T-tapi, tiba-tiba aku harus menggunakan tempat tidur Oki-kun itu… secara mental juga berat buatku."

 

Tolong jangan memerah sambil bilang ‘tempat tidur Oki-kun’. Aku bisa mati.

 

"B-bukan begitu maksudku! Aku punya futon tamu! Memang tidak dijemur jadi mungkin agak keras, tapi menurutku itu lebih baik!"

 

"Tidak apa-apa! Aku sudah bilang kan, aku datang dengan persiapan."

 

Sambil berkata begitu, Fuka menarik tas sekolahnya ke dekat, lalu tiba-tiba mengeluarkan benda besar berbahan tebal dengan suara diseret.

 

"Aku bawa sleeping bag untuk musim panas! Sudah termasuk bantal, barang unggulan lho!"

 

"O-oh… ini benar-benar di luar dugaan."

 

"Iya. Sudah lama tidak dipakai sih, tapi supaya bisa dipakai saat panas, di dalamnya ada kipas angin!"

 

"Kipas angin!? Wah, ada yang seperti ini ya. Watanabe-san sering berkemah?"

 

"Sebetulnya setelah beli, aku cuma pakai sekali. Oki-kun, kamu tahu bunga gekkabijin?"

 

"Yang katanya cuma mekar satu malam dalam setahun saat bulan purnama, kan?"

 

"Iya, itu. Tepatnya, gekkabijin di Bumi sebenarnya tidak harus mekar saat bulan purnama dan bisa berbunga beberapa kali setahun tergantung kondisi. Tapi di Natche Riviera ada bunga dengan sifat mirip itu. Dalam bahasa sana namanya ‘Pedang Ksatria Malam’. Aku benar-benar ingin melihat bunganya mekar, jadi aku habiskan uang sakuku buat beli ini."

 

"Namanya keren banget ya. Waktu itu, kamu bisa melihat bunganya?"

 

"Iya. Bunganya sangat indah, tapi karena aku sama sekali tidak mau melewatkannya, akhirnya aku tetap terjaga semalaman di dalam sleeping bag. Jadi sebenarnya sleeping bag-nya jadi tidak terlalu berguna."

 

Sambil tersenyum, Fuka dengan wajah penuh kegembiraan menyusupkan tubuhnya ke dalam sleeping bag.

 

Konon ada sleeping bag yang bisa dipakai sambil berjalan, tapi sleeping bag milik Fuka—selain kipas anginnya—adalah model standar seperti kepompong.

 

Melihat Fuka yang benar-benar seperti kepompong sambil memasang wajah bangga terasa lucu, dan sedikit saja, pikiran-pikiran kacau dalam diri Yukuto pun tersingkir.

 

"Ngomong-ngomong, Watanabe-san, soal penghalang itu…"

 

"Sudah kupasang saat Oki-kun mandi. Sudah lewat jam sembilan juga. Kalau ada orang yang mencoba masuk dari luar, mereka akan tertangkap oleh penghalang itu dan seluruh tubuhnya akan mati rasa, tidak bisa bergerak."

 

Hal yang seharusnya menjadi topik utama hari ini malah ditangani dengan santainya, seperti menaruh alat pembasmi hama rumah tangga baru.

 

"Jadi, meski agak cepat, ayo kita tidur. Oki-kun juga kelihatannya capek, kan. Lagipula, kalau sampai ada pencuri yang datang lagi, aku pasti akan mengusirnya!"

 

"Dalam banyak arti, aku benar-benar tidak ingin itu terjadi sih… tapi kamu benar-benar tidur di lantai?"

 

"Eh? Iya. Oki-kun tahu kan? Di kamarku tidak ada tempat tidur, jadi aku selalu tidur pakai futon. Ini cuma futonnya berubah jadi sleeping bag, jadi tidak jauh beda dari biasanya."

 

Begitu selesai bicara, Fuka yang seperti kepompong itu tanpa ragu langsung menjatuhkan diri dan berbaring di lantai kayu kamar Yukuto.

 

"Kelihatannya seru ya."

 

"Iya! Ini praktis pertama kalinya aku tidur pakai sleeping bag ini!"

 

"O-oh begitu. Ya sudah, kalau Watanabe-san tidak masalah…"

 

"Ah, tapi!"

 

Ia tiba-tiba bangkit dengan kecepatan luar biasa, seperti ulat pengukur.

 

"Walaupun aku itu… model eksklusifnya Oki-kun, memotret wajah tidurku tetap terhitung dosa besar, ya."

 

"A-aku tidak akan melakukan itu! Lagipula kameranya lagi bermasalah!"

 

"…Kedengarannya seperti kalau kameranya tidak bermasalah, kamu bakal melakukannya?"

 

"Tidak akan!"

 

"Hehe, kalau begitu tidak apa-apa. Baiklah, selamat malam."

 

Lalu ia kembali menjatuhkan diri ke lantai, seperti tiang yang roboh.

 

Melihat antusiasme Fuka yang seperti anak kecil yang kegirangan karena pertama kali menginap, ditambah ia mulai terbiasa dengan aroma hair oil yang memenuhi ruangan, ketegangan Yukuto pun akhirnya mengendur.

 

"Kalau begitu aku matikan lampunya ya. Lampu kecilnya mau dinyalakan?"

 

"Aku bisa tidur baik dalam gelap total maupun dengan lampu kecil, jadi ikut Oki-kun saja."

 

"Kalau begitu, aku nyalakan lampu kecilnya saja."

 

Biasanya Yukuto juga tipe yang mematikan semua lampu, tapi kalau ia terbangun tengah malam dan ingin ke toilet lalu tanpa sengaja menendang Fuka, itu bisa jadi masalah besar.

 

Saat Yukuto mematikan lampu dan kembali ke tempat tidur, Fuka menyapanya dari lantai.

 

"Selamat malam, Oki-kun."

 

"Iya, selamat malam, Watanabe-san."

 

Tidur dengan seseorang lain di dalam kamar terasa aneh.

 

Dan fakta bahwa orang itu adalah Fuka—bahkan seorang elf—membuat perasaan itu semakin kuat.

 

Beberapa menit berlalu dalam keheningan, lalu—

 

"Bukan itu!"

 

Yukuto tersentak bangun, menegur dirinya sendiri, lalu berdiri dan menyalakan kembali lampu.

 

"Penaklukan Raja Iblis! Watanabe-san! Belajar untuk penaklukan Raja Iblis maksudnya apa sih—eh, sudah tidur!!"

 

Padahal baru beberapa menit berlalu, Fuka sudah tersenyum puas sambil mengeluarkan suara napas tidur yang ringan dan teratur.

 

Bahkan saat Yukuto ribut sendiri, alis Fuka tak bergerak sedikit pun. Melihat elf itu tidur nyenyak,

 

"…Telinga elf juga bisa tidur menyamping ya."

 

Dengan perasaan lemas, Yukuto hanya bisa memikirkan hal sepele seperti itu, lalu menyerah, mematikan lampu, dan kembali ke tempat tidur.

 

Berbaring menyamping di tepi ranjang, ia menatap punggung Fuka yang membelakanginya sambil terus menghela napas tidur yang teratur.

 

"Besok bisa kutanyakan sih. Tapi… tidak mungkin dia berangkat sekolah dari rumahku, kan. Pasti pulang dulu, dan kalau begitu harus pagi-pagi sekali… mungkin tidak sempat. Dan dia juga pasti belum cerita ke Kotaki-san tentang kejadian hari ini…"

 

Yukuto membalikkan badan, membelakangi Fuka, dan benar-benar bersiap untuk tidur.

 

Mungkin karena bentuk sleeping bag-nya yang unik, meski napas tidur Fuka terdengar sangat dekat, ia tidak merasa terlalu tegang. Bahkan aroma citrus itu memberi efek menenangkan. Setelah semua kejadian hari ini menguras tenaganya, rasa kantuk pun datang dengan cepat.

 

Yang terdengar hanya suara mobil di kejauhan dan bunyi halus kipas kecil dari dalam sleeping bag Fuka.

 

"Penaklukan Raja Iblis, ya…"

 

Ia menarik selimut musim panas yang tipis sedikit lebih tinggi dan menghembuskan napas panjang.

 

"Aku tidak punya hak atau kekuatan untuk menghentikan Watanabe-san, tapi… kalau dia pergi ke tempat yang jauh… aku tidak suka."

 

Lalu ia memejamkan mata lebih dalam.

 

Beberapa waktu kemudian—

 

"……"

 

Kepompong itu bangun tanpa suara, memutar tubuh bagian atasnya untuk menatap punggung Yukuto, lalu berbisik.

 

"Oki-kun, kamu bilang begitu karena tahu aku masih bangun?"

 

Yukuto, yang menghela napas tidur dengan teratur, tidak menjawab.

 

"Walaupun versi musim panas, tetap saja panas ya. Kipasnya juga tidak terlalu bikin dingin… haa."

 

Berusaha tidak membangunkan Yukuto, Fuka perlahan mengeluarkan tubuh bagian atasnya dari sleeping bag, berdiri pelan, mendekati sisi tempat tidur, lalu berlutut. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah kepala Yukuto dan berhenti tepat sebelum menyentuh wajahnya.

 

"Setidaknya… kamu sempat tegang sedikit, kan."

 

Sudut bibirnya melonggar, seolah merasa geli.

 

"Itu karena aku? Atau kalau perempuan mana pun juga begitu…?"

 

Yang menjawab hanyalah suara napas tidur.

 

Fuka menarik kembali tangannya, lalu menjatuhkan kepalanya perlahan di atas kasur.

 

"Baunya Oki-kun… haa."

 

Ia menatap bagian belakang kepala Yukuto hanya dengan matanya.

 

"Maaf sudah membuatmu khawatir dengan banyak hal. Tapi aku tidak akan pergi ke mana-mana. Soalnya aku adalah model eksklusif Oki-kun, dan aku ingin… Oki-kun menyukaiku lagi…"

 

Lalu ia buru-buru menjauh dari tempat tidur dan kembali berbaring di tempat semula.

 

Setelah itu, ia kembali mengeluarkan napas tidur, namun untuk sementara waktu kakinya bergerak-gerak di dalam sleeping bag, membuat suara halus shaka-shaka dari bahan tebalnya.

 

 

Saat membuka mata, tanpa melihat jam pun ia tahu itu bukan waktu biasanya ia bangun.

 

Cahaya yang masuk dari celah tirai masih putih dengan warna ungu samar. Melihat jam di ponsel yang diisi daya di dekat bantal, ternyata masih belum jam lima pagi.

 

Memang terlalu pagi, tapi mengingat waktu ia tidur tadi malam, bangun pada jam segini juga tidak aneh.

 

Ia melirik ke samping—tentu saja tidak ada kejadian Fuka bangun setengah sadar lalu naik ke ranjangnya di tengah malam. Yang ada hanyalah elf kepompong yang terbaring sedikit lebih dekat dari yang ia ingat, tidur dengan wajah bahagia.

 

"Berarti semalaman tidak terjadi apa-apa ya. Haa… membangunkan orang tidur juga tidak enak, tapi bangun juga masih terlalu pagi… tidur lagi kali ya."

 

Entah kenapa, dalam situasi seperti ini, justru sulit untuk kembali tidur. Lalu saat sudah waktunya benar-benar mulai beraktivitas, rasa kantuk malah datang menyerang.

 

"Tidak bisa tidur."

 

Yukuto langsung bangun, mengambil kamera DSLR klub yang diletakkan di samping PC di meja belajarnya, lalu menyalakannya ke mode siap memotret.

 

"Baterainya masih aman. Tapi kalau tiba-tiba fokusnya bermasalah lagi, repot juga. Kalau sampai rusak di angkatanku, rasanya bersalah sama para senior."

 

Namun saat iseng mengintip melalui viewfinder ke dalam kamar, melihat perabot kecil dan rak buku, autofokusnya tampak bekerja normal.

 

"Apa tadi malam cuma hal aneh itu ya? Seperti AC rusak tapi begitu teknisinya datang malah normal."

 

"…supyo… supyo…"

 

"Serius deh, napas tidur macam apa itu? Ah."

 

Saat itu, kebetulan suara burung pipit atau semacamnya dari luar bertumpuk dengan napas tidur Fuka, dan tanpa sadar Yukuto menoleh ke arahnya sambil tetap mengintip viewfinder.

 

Ia teringat bahwa semalam ia dilarang keras memotret wajah tidur Fuka dan hendak segera memalingkan wajahnya, tapi ia menyadari sesuatu yang aneh.

 

"Hah?"

 

Fokusnya tidak mengenai Fuka. Tepatnya, fokus tidak mengenai wajah Fuka.

 

"Apa ini?"

 

Sleeping bag-nya terfokus dengan jelas. Tapi Fuka sendiri tidak.

 

"Tidak, tunggu, ini aneh."

 

Apa yang terlihat di viewfinder kamera DSLR modern adalah gambar yang sudah diproses secara digital melalui lensa.

 

Kalau begitu, sosok Fuka yang terlihat di viewfinder seharusnya adalah Fuka versi manusia Jepang.

 

Namun yang ada di dalam viewfinder sekarang, meski buram seolah tertutup noise digital dan tidak fokus, tampak seperti Fuka sang elf.

 

"Eh? Eh? Kenapa?"

 

Dalam kasus viewfinder kamera film yang itu, fungsinya hanya seperti alat bidik sederhana, jadi meskipun yang terlihat adalah Fuka versi elf, tidak ada masalah.

 

"Kalau pakai ponsel, hasilnya normal seperti biasa."

 

Dengan panik, Yukuto segera menyalakan kamera ponselnya dan mengarahkannya ke Fuka. Di layar, tampak wajah Fuka versi manusia Jepang yang sedang tidur sambil mengeluarkan napas supyo-supyo.

 

Sambil meminta maaf dalam hati, ia mencoba memotret dengan ponsel, dan benar saja—gambar yang terekam juga Fuka versi manusia Jepang.

 

Lalu ia kembali mengintip melalui viewfinder kamera DSLR, dan sekali lagi, hanya bagian wajah yang dipenuhi noise.

 

"……"

 

Tidak ada bukti pasti yang bisa langsung ia pegang.

 

Namun, sebagai seseorang yang punya pengalaman memotret dengan kamera DSLR lebih banyak daripada kebanyakan orang, Yukuto mengalihkan pandangan dari viewfinder dan mengarahkan lensa ke Fuka sambil melihat layar kamera yang resolusinya jelas lebih rendah daripada model terkini.

 

"……"

 

Kemudian, untuk pertama kalinya sejak ia mulai menggunakan kamera itu, ia mengarahkan lensa ke Fuka sambil mengintip viewfinder dengan mata kiri, menekan shutter satu kali, lalu menurunkan kamera ke atas lututnya dan menghela napas panjang.

 

"………………Hah?"

 

Perasaan meluap yang tak terkatakan dan rasa takut terhadap situasi yang tak dikenal saling bertabrakan—dan rasa takut sedikit lebih unggul.

 

Rasa kantuk Yukuto sudah lenyap sepenuhnya. Dengan kamera di tangan kiri, ia menggosok matanya yang kini sama sekali tidak mengantuk dengan tangan kanan—saat itulah—

 

"Ubiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!"

 

Teriakan aneh yang sama sekali tidak pernah ia dengar sebelumnya, seasing napas tidur Fuka, tiba-tiba menembus jendela dan menghantam telinganya.

 

"Haah—!"

 

Pada saat yang sama, Fuka terbangun dengan suara khas orang baru bangun tidur. Mungkin karena lupa bahwa dirinya masih terbungkus sleeping bag, ia terhuyung dan hampir terjatuh ke depan hingga wajahnya membentur lantai.

 

"Bahaya!"

 

Yukuto meloncat keluar dari tempat tidur dengan gerakan akrobatik dan menangkap Fuka dari bawah, mencegah kecelakaan yang mengerikan.

 

"O-oh, selamat pagi, Oki-kun! Maaf bikin kaget dari pagi!"

 

"Syukurlah kamu tidak apa-apa! Tapi tadi suara itu—"

 

"Ada seseorang yang terjebak di penghalang! Ma-maaf, Oki-kun! Bisa tolong bukakan resleting sleeping bag-nya? Tanganku tidak bisa keluar!"

 

"Resletingnya keras banget! Kenapa kamu pakai seketat ini padahal musim panas?!"

 

"Awalnya panas, tapi malamnya jadi agak dingin!"

 

Padahal sedang membuka bagian depan pakaian tidur seorang gadis yang menginap, tapi entah kenapa jantungnya sama sekali tidak berdebar.

 

"Puhah! Terima kasih, Oki-kun! Aku keluar sebentar!"

 

"T-tunggu, lewat jendela!?"

 

"Aku elf, jadi tidak apa-apa! Oki-kun, kalau sempat, tolong ambil foto bukti pakai kamera itu!"

 

Masih dengan pakaian tidur, Fuka melompati tempat tidur Yukuto, berpegangan pada jendela, lalu langsung melompat keluar.

 

"Watanabe-san!"

 

Yukuto mencondongkan tubuh untuk mengejar dengan pandangan. Fuka mendarat di taman yang menghadap ke jendela ruang tamu yang pecah, rambutnya berantakan entah karena rambut tidur atau karena angin sihir.

 

Di tangannya, entah sejak kapan, tergenggam pedang yang lahir dari sulur tanaman—persis seperti yang pernah ia lihat dulu di Natche Riviera.

 

"Itu…"

 

Di taman, tergeletak seseorang bertubuh besar yang tampaknya terjebak oleh penghalang. Fuka mendekat dengan waspada, pedang terangkat siap siaga.

 

"T-tunggu, Watanabe-san, berhenti di situ!"

 

Karena orang itu tergeletak tengkurap, wajahnya tidak terlihat. Namun seseorang yang menyusup ke halaman rumah orang lain pada jam seperti ini jelas bukan orang normal.

 

Yukuto mengangkat kamera, memastikan Fuka tidak masuk ke dalam frame, lalu memotret agar terlihat jelas bahwa tempat itu adalah halaman rumah keluarga Oki—termasuk pepohonan taman, pot bunga, dan penyusup yang terjatuh.

 

"Sial… mataku…!"

 

Masih setengah terbangun, ditambah ketegangan dan rasa takut, penglihatannya terasa semakin kabur.

 

Dari atas jendela, penyusup itu tampak mengenakan topi rajut hitam, kaus lengan panjang hitam ketat, dan celana panjang hitam ramping—penampilan mencurigakan yang terlalu sempurna.

 

Dengan tinggi badannya yang melebihi Fuka, Yukuto sempat mengira itu pria, tapi—

 

"Hah?"

 

Hasil foto yang ia ambil dengan panik mematahkan kesan tersebut.

 

"Eh? Perempuan?"

 

Siluet tubuh yang terlihat di layar kamera jelas memiliki garis tubuh perempuan.

 

"Oki-kun! Hubungi polisi!"

 

"A-ah, i-iya!"

 

Mendapat teriakan Fuka, Yukuto menarik kepalanya dari jendela dan mengambil ponsel, tapi karena tegang, ia kesulitan membuka daftar kontak.

 

"Sial! Nomor detektif itu…!"

 

"Eh!? Serius!?"

 

Dan tampaknya penyusup itu juga tidak pingsan selamanya sesuai harapan.

 

Saat Yukuto kembali menoleh ke luar karena suara tajam Fuka, penyusup berbaju hitam itu sudah berlutut dan mencoba bangkit.

 

"Oki-kun! Jangan keluar! Orang ini… bukan orang dari sini!"

 

"Hah!?"

 

"Kalau orang biasa langsung terkena penghalang itu, tidak mungkin bisa berdiri secepat ini! Kalau manusia biasa dari sini yang kena, efeknya cukup untuk melumpuhkan mereka selama sekitar seminggu!"

 

"Kalau penghalangnya seseram itu, tolong bilang dari awal dong!?"

 

Kalau penyusup itu manusia Bumi, kondisinya akan seperti kena taser, dan bisa-bisa justru mereka yang dituduh melakukan pembelaan berlebihan.

 

"Kamu siapa? Orang Natche Riviera, kan. Kalau kamu tim inspeksi yang dikirim untuk mengawasiku, ini sudah kelewatan. Dengan maksud apa kamu berniat menyakiti orang yang penting bagiku dan keluarganya?"

 

"……"

 

Penyusup itu tidak sebodoh itu untuk menjawab pertanyaan Fuka.

 

Namun tampaknya dampak dari penghalang—yang seharusnya melumpuhkan orang biasa selama seminggu—perlahan mulai berkurang, dan lawan itu pun berdiri sepenuhnya dengan waspada.

 

"Jangan kira kamu bisa kabur. Penghalang ini tidak bisa ditembus dari dalam kecuali oleh penyihir yang memasangnya. Kalau penyihirnya tidak melepasnya, kamu tidak bisa—kabur!?"

 

Entah kenapa, Fuka sudah merasa hal ini akan terjadi.

 

Jika lawannya memang orang Natche Riviera, maka seharusnya sudah diperhitungkan bahwa mereka memiliki kekuatan yang tidak dimiliki manusia Bumi.

 

"Aku kurang makan, jadi satu hantaman tadi malah merusak penghalangnya!"

 

Ternyata alasannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan identitas atau kekuatan lawan.

 

Bagaimanapun, Yukuto sejak awal sudah membayangkan kemungkinan lawan melarikan diri. Hampir secara refleks, ia berlari menuruni tangga, melesat keluar lewat pintu depan—

 

"Oki-kun!?"

 

"Ugh!"

 

"Gah!"

 

Dengan kamera masih terangkat, dia berdiri menghadang sosok mencurigakan berpakaian hitam itu.

 

Teriakan Fuka, serta suara erangan Yukuto dan orang mencurigakan yang bertabrakan.

 

Yukuto yang kalah secara fisik terpental akibat benturan tersebut, dan sementara Fuka berlari menghampiri Yukuto yang terjatuh, orang mencurigakan itu dengan gerakan ringan melompati dinding dan berhasil melarikan diri.

 

"Oki-kun! Kamu nggak apa-apa!? Tidak terluka!? Kenapa nekat melakukan hal seperti itu! Lagian, matamu! Jangan-jangan kamu dipukul!?"

 

Tak heran jika Fuka panik. Di sekitar mata kanan Yukuto tampak memerah.

 

"Aduh… sakit… wah, ini kayaknya bakal jadi memar."

 

Sambil meringis, Yukuto menyentuh mata kanannya, lalu segera menarik jarinya seperti saat menyentuh api.

 

"Jangan disentuh! Aku sembuhkan!"

 

"Eh, ah…"

 

Saat Fuka menempelkan tangannya menutupi mata kanan Yukuto dengan wajah hampir menangis, terasa sedikit kehangatan dan samar-samar tercium aroma hutan itu.

 

"Gimana, sakitnya sudah hilang? Matamu nggak apa-apa?"

 

"Makasih, sudah nggak apa-apa kok. Aku bukan dipukul, cuma viewfinder kamera yang kena cukup keras saja…"

 

"Cuma kena viewfinder… kenapa kamu sampai keluar rumah! Aku sudah bilang berbahaya, kan! Dan kamu keluar sambil mengarahkan kamera juga! Sudah menelepon polisi belum!? Jangan bertindak bodoh! Kamu nggak tahu dia bisa melakukan apa saja! Astaga!"

 

"Wa—Watanabe-san?"

 

"Jangan bikin aku kaget… kalau sampai sesuatu terjadi pada Oki-kun, aku…"

 

Dengan rambut acak-acakan, piyama bangun tidur, dan pedang rumput di tangannya—

 

Elf bernama Fuka Watanabe itu meneteskan air mata bagaikan permata dari mata indahnya, lalu terisak sambil memeluk kepala Yukuto.

 

Anehnya, jantung Yukuto tidak berdebar hebat. Justru kesadaran bahwa dirinya telah bertindak nekat dan membuat Fuka sedih membuat pikirannya menjadi dingin dan tenang.

 

"Kenapa kamu melakukan hal sebodoh ini? Aku benar-benar marah, tahu? Kalau bukan karena alasan yang sangat kuat, aku tidak akan memaafkanmu."

 

"Ada sesuatu yang benar-benar ingin aku pastikan. Dan untuk itu, aku harus memotret wajahnya dari depan… mau lihat?"

 

Saat Yukuto sedikit bergerak, Fuka secara alami melepaskan pelukannya dan menatap tangan Yukuto.

 

Di tangan kanan Yukuto ada kamera DSLR, dan di tangan kirinya sebuah ponsel.

 

"Memotret maling itu dari depan… nggak bisa dari dalam rumah saja?"

 

"Agak terlalu jauh. DSLR mungkin masih bisa, tapi kalau pakai ponsel rasanya nggak akan tertangkap dengan baik. Dan sepertinya, aksi nekat tadi memang ada hasilnya. Walau cuma sedikit, aku sempat mendengar suara orang itu."

 

"Suara?"

 

"Iya. Tapi sebelum lanjut, kita balik ke dalam rumah dulu. Dengan pakaian seperti ini, di luar agak dingin."

 

Saat Yukuto berdiri, Fuka pun berdiri dan dengan kekuatan sihirnya menghilangkan pedang rumput itu.

 

Di ruang tamu yang masih remang khas pagi buta meski lampu dinyalakan, mereka duduk berdampingan seperti kemarin.

 

Yukuto mengubah layar DSLR ke mode peninjauan file dan menunjukkannya pada Fuka.

 

"Eto…"

 

Fuka tampak bingung.

 

Yang tampil di sana—wajar mengingat situasi kacau tadi—adalah foto yang benar-benar buram, tak fokus, dan penuh guncangan.

 

Wajahnya sama sekali tak bisa dikenali; satu-satunya hal yang bisa dipastikan hanyalah bahwa dari bentuk tubuhnya, orang itu tampak perempuan.

 

"Perempuan?"

 

"Kamu nggak sadar waktu berhadapan langsung?"

 

"Sama sekali nggak. Teriakannya melengking, jadi aku nggak tahu, dan waktu berhadapan langsung, dia jauh lebih tinggi dariku dan tubuhnya kekar, jadi aku langsung mengira dia laki-laki."

 

Dengan ekspresi terkejut, Fuka menatap foto-foto itu dengan serius.

 

Saat membuka foto-foto berikutnya, terlihat serangkaian gambar buram hasil jepretan beruntun. Tak satu pun memperlihatkan wajah, namun meski buram, lekuk tubuh yang feminin tampak jelas di beberapa bagian, sehingga hampir bisa dipastikan bahwa orang mencurigakan itu adalah seorang perempuan.

 

"Kalau begitu, berarti dugaan kita kemarin di ruang klub bareng Izumi-chan benar-benar meleset."

 

"Dugaan?"

 

"Soal kemungkinan Amami-senpai atau Hasegawa-san adalah tim inspeksi. Soalnya Amami-senpai laki-laki, dan tinggi Hasegawa-san kan kira-kira sama denganku."

 

"……"

 

"Oki-kun?"

 

Yukuto tidak menjawab panggilan Fuka yang tampak sedang berpikir, melainkan mengecek jam di ponselnya.

 

"Watanabe-san. Hari ini aku ingin berangkat ke sekolah agak lebih awal, boleh?"

 

"Eh? Iya, boleh sih. Dari awal aku memang berencana datang lebih pagi untuk melihat kondisi taman bunga."

 

"Makasih. Lalu, setelah jam enam lewat, tolong telepon Kotaki-san."

 

"Izumi-chan? Kamu ingin dia juga datang ke sekolah lebih pagi?"

 

"Bukan Kotaki-sannya, tapi… barang yang kutitipkan padanya."

 

"!"

 

Fuka menahan napas.

 

"Maksudmu apa? Bukannya itu masih—"

 

"Kalau kelamaan, mungkin mereka akan mengambil langkah antisipasi. Tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal berbahaya lagi. Tapi sebagai gantinya, ada sesuatu yang ingin kuminta kamu lakukan sebelum kita berangkat ke sekolah."

 

"U-um… kalau itu sesuatu yang bisa kulakukan…"

 

"Syukurlah. Kalau begitu, meski agak cepat, aku siapkan sarapan dulu."

 

Fuka merasa heran melihat Yukuto yang tampak sangat percaya diri, namun begitu mendengar kata sarapan, perutnya langsung berbunyi dan wajahnya pun memerah seketika.

 

"Kamu pakai sihirmu untuk menyembuhkan mataku, kan? Terima kasih. Sarapannya bakal banyak kok—aku sudah masak nasi banyak tadi malam, jadi tenang saja."

 

"Itu kabar yang baik…"

 

Dengan ucapan terbata-bata, Fuka mengalihkan pandangan dari Yukuto.

 

"Ngomong-ngomong, setelah sarapan… maaf, tapi boleh aku minta satu hal lagi?"

 

"Eh? Belum sembuh sepenuhnya? Masih sakit?"

 

"Bukan begitu."

 

Yukuto menggeleng, lalu kembali mengusap mata kanannya seolah menahan kantuk, dan berkata dengan suara rendah:

 

"Aku ingin mengambil foto yang bagus. Demi Watanabe-san."

 

"Demi… aku?"

 

"Iya. Dan kalau hari ini aku berhasil mendapatkan foto yang bagus, aku ingin kamu memberitahuku. Tentang ‘penaklukan Raja Iblis’-mu, Watanabe-san."

 

Tak mampu mengikuti lompatan topik pembicaraan itu, Fuka hanya bisa berkedip-kedip kebingungan.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close