Chapter 13
Perubahan Hati sang Saintess
Elsa lahir dari
keluarga pengrajin, bukan dari kalangan ksatria. Dia sangat suka membuat
perkakas dan menghabiskan hari-harinya membantu keluarganya membuat furnitur.
Namun, suatu
ketika, sebuah insiden terjadi di keluarga ksatria kerabat jauhnya yang
menyebabkan mereka kehilangan ahli waris.
Demi
mempertahankan tanah kekuasaan, rapat kerabat pun digelar untuk menentukan
pewaris baru.
Namun, di bawah
kondisi wilayah Arcloy yang tidak stabil, tak ada seorang pun yang mau menjadi
ksatria. Hasil dari aksi saling lempar tanggung jawab itu akhirnya menjatuhkan
pilihan pada Elsa.
Elsa pun diadopsi
agar status kasta ksatrianya tetap terjaga. Dia bergabung dengan ksatria lokal
dan berusaha keras menahan diri dalam latihan, meski hari-harinya terasa berat
karena ia tidak terbiasa dengan pelatihan tempur fisik.
Ketika Duke
Arcloy menjabat kembali setelah puluhan tahun dan mendeklarasikan penaklukan
Arcloy dengan kekuatan militer, penduduk lokal bersorak gembira, namun hati
Elsa tidak ikut merasa senang.
Saat Ophelia
menjabat sebagai komandan dan segera meraih prestasi militer di wilayah Kruck
serta Dressen, sudah bisa ditebak, Elsa tidak memiliki kesempatan untuk unjuk
gigi.
Malah,
orang-orang mulai mencibirnya.
Di saat petani
dan rakyat jelata saja bisa naik pangkat menjadi kapten peleton, mengapa
seseorang dari kasta ksatria tidak mampu meraih prestasi?
Elsa pun dicap
sebagai produk gagal oleh kerabatnya sendiri.
(Mau dibilang
begitu pun, aku memang tidak berbakat mengayunkan pedang atau berlari cepat.)
Titik baliknya
terjadi setelah ia dipanggil oleh Noah. Ia diperintahkan mengembangkan senjata
baru dan merancang busur bersama Noah.
Proses
pengembangan itu sangat menyenangkan. Menembak ternyata sangat cocok dengan
kepribadiannya, dan ia bisa merasakan kemampuan memanahnya meningkat pesat
dalam sekejap.
Hingga akhirnya,
kesempatan pertempuran sesungguhnya tiba. Sebagai pemanah, Elsa berhasil
menumbangkan Hekaton Si [Tangan Besi] dan menunjukkan kontribusi luar biasa
dalam penaklukan benteng.
Kini, ia sedang
dianugerahi penghargaan oleh Noah sebagai pemegang jasa kelas satu dalam
penaklukan benteng tersebut.
(Tuanku……)
Awalnya ia
mengira Noah adalah orang yang aneh, tapi sekarang ia hanya merasakan rasa
syukur.
Setelah dipaksa
menjalani pekerjaan ksatria yang tidak ia kuasai dan dicibir oleh kerabat serta
tetangganya, ia akhirnya bisa membersihkan nama baiknya melalui pencapaian ini.
Semua itu berkat
Noah yang berhasil menemukan bakat Development senjata dan Marksmanship
miliknya.
(Aku ingin...
lebih dekat lagi dengan Noah-sama.)
Sambil menerima
pedang pusaka dari Noah, Elsa mulai berbicara dengan raut wajah penuh tekad.
"Anu,
Noah-sama."
Elsa berbicara
dengan wajah tegang. Jika ia melewatkan kesempatan ini, mungkin selamanya ia
tidak akan bisa mendekati Noah.
"Penaklukan
benteng kali ini... strategi Anda benar-benar luar biasa. Bisa menang
dengan begitu gemilang... Anda benar-benar putra Archduke yang hebat. Anda
pasti sosok yang dipilih oleh Tuhan. Aku belum pernah melihat orang yang
diberkati dengan kewibawaan sebesar ini. Karena itu, anu……"
Noah terkekeh
pelan.
"Kamu
ternyata pandai menjilat juga ya."
Wajah Elsa
memerah padam.
(Apa yang
kupikirkan, sih?)
Di depannya
adalah seorang pemuda bangsawan terhormat dari Archduchy Uebel.
Dia pasti punya
lingkaran pergaulan kelas atas yang tak sebanding dengannya, dan sudah pasti
terbiasa dengan basa-basi di dunia sosial.
(Mencoba
mengambil hatinya dengan sanjungan picik seperti itu...)
Ia jadi
merasa sangat sadar diri bahwa dirinya hanyalah gadis desa. Elsa tertunduk
malu.
"Itu...
maaf. Aku hanya berpikir bagaimana caranya agar bisa lebih dekat dengan Tuan
Penguasa. Aku juga ingin dekat dengan Anda seperti Ophelia-sama. Apa yang harus
kulakukan agar bisa lebih berguna bagi Anda?"
"Fumu.
Begitu ya."
Faktanya,
Noah pun memang ingin menaruh Elsa di dekatnya. Potensi Rank A
untuk Siege, Marksmanship, dan Development. Dia
jelas-jelas pemilik bakat yang sangat berguna.
"Elsa. Apakah kamu mau menjadi ajudan pribadiku
juga?"
"I-iya!
Dengan senang hati! Izinkan saya mengabdi di sisi Anda!"
"Baiklah.
Aku akan mempekerjakanmu
lebih keras dari sebelumnya."
"Siap!"
Begitu pemberian
penghargaan di Kastil Luke selesai, Noah dan Ophelia segera membereskan
sisa-sisa urusan pertempuran. Ophelia berdiri di hadapan para prajurit
eks-wilayah Luke yang baru saja bergabung ke pasukan Arcloy dan berkata dengan
lantang.
"Kalian
semua sepertinya punya kaki dan pinggang yang agak lemah ya."
Maka, orang-orang
Luke pun menjalani latihan neraka dari Ophelia sambil disatukan ke dalam
pasukannya.
Bagi mereka yang
menunjukkan tanda-tanda pembangkangan, Ophelia sengaja memberikan tugas militer
di daerah yang jauh dari benteng agar mereka tidak bisa membentuk komplotan
untuk memberontak.
Selain itu,
diketahui bahwa banyak orang di wilayah Luke yang memiliki Skill
menembak yang tinggi.
Noah
memerintahkan Elsa dan pengrajin senjata untuk membagikan busur hasil
pengembangan baru tersebut serta memberikan bimbingan teknis kepada mereka.
Sedangkan untuk
bentengnya, diputuskan untuk dihancurkan. Noah tidak mau repot jika nanti ada
yang mencoba bertahan di sana lagi.
Setelah urusan di
wilayah Luke tuntas, Noah bersama Ophelia dan yang lainnya menempuh perjalanan
pulang menuju Kastil Kruck.
Di tengah jalan,
mereka berpapasan dengan Saintess Aemilia. Sepertinya dia memang sudah menunggu
Noah lewat.
"Kudengar
Anda telah menaklukkan wilayah Luke. Duke Arcloy, Tuhan pasti akan mengampuni dosa-dosa Anda. Sebagai
permulaan…… ah, tunggu!"
Noah mengabaikan
Aemilia dan terus berjalan maju.
"Tunggu
duluuu! Kenapa Anda mengabaikanku, Noah-sama? Ah, saya tahu! Anda pasti
menyimpan dendam karena kemarin saya bersikap agak dingin, kan? Aduh, ngambek
begitu... manis sekali sih. Tenang saja, saya tidak akan memperlakukan Anda dengan buruk lagi, kok!
Anda juga anak Tuhan. Sebagai hamba Tuhan, saya akan menerima dosa-dosa Anda
dengan hati yang luas."
Ophelia merasa
muak melihat perubahan sikap Aemilia yang begitu cepat.
(Begitu
tahu Paus mengakui Tuanku dan Archduke tidak bisa sembarangan bergerak, dia
langsung begini. Benar-benar
oportunis.)
"Ophelia!"
"Siap!"
"Kemenangan
kali ini adalah berkat kontribusi pasukan pemanah. Karena itu, berikan bonus
pada pasukan pemanah. Ada keberatan?"
"Tidak ada,
Tuanku."
"Elsa,
kaulah pemegang jasa utama. Terimalah imbalanmu."
"Wah! Terima
kasih banyak!"
Elsa
bersorak gembira dengan polosnya.
"Selanjutnya
Ophelia, kinerjamu juga luar biasa. Leadership saat pengepungan dan
serangan ke markas musuh setelahnya benar-benar hebat. Kau adalah pemegang jasa
kedua."
"Siap,
pujian Anda terlalu berlebihan bagi saya."
"Sisanya
seperti biasa. Berikan imbalan lebih bagi mereka yang pertama kali menembus
benteng sesuai jasanya, dan beri hadiah pada mereka yang kinerjanya
menonjol."
"Siap.
Dimengerti."
"Itu saja.
Sekarang, ayo cepat kembali ke Kastil Kruck."
"Siap!"
"Okeee!"
"Woi, tunggu
duluuu!"
Aemilia akhirnya
berteriak karena merasa benar-benar dicueki.
"Beraninya
Anda mengabaikanku dengan begitu cantiknya! Ah, aku tahu! Anda pasti sedang
malu, kan? Seekor anak domba malang yang seumur hidupnya belum pernah diakui
oleh sosok suci. Tidak apa-apa, kok! Tuhan juga akan memaafkan rasa pemalumu
itu. Ayo, larilah ke pelukanku!"
"Ophelia!"
"Siap!"
"Bagaimana
pergerakan tiga negara yang tersisa di Arcloy?"
"Mereka
masih belum mengirim utusan dan belum mengakui kewibawaan Tuanku."
"Kedepannya
kita harus menyusun strategi untuk menghadapi ketiga negara ini. Awasi setiap
pergerakan musuh, jangan sampai lengah sedikit pun."
"Siap!"
"Elsa,
pertempuran pengepungan tidak akan bisa dihindari kedepannya. Aku sangat
berharap pada kemampuan menembakmu. Terus asah kemampuan memanahmu, ya."
"Siap!
Dimengerti!"
"Bagus.
Kalau begitu, kita pulang."
"Oiii,
halo?! Kenapa saya diabaikan lagi dengan begitu cantiknya?! Ah, tunggu! Tunggu
duluuu!"
"Guakh!
Apa-apaan..."
Sang Saintessmenerjang
dan memeluk Noah hingga mereka berdua jatuh ke tanah.
"Aku punya target... Aku punya target yang harus
dicapai!"
"Tar-target?"
"Aku tidak mau dipindah tugaskan ke pelosok lagi,
huaaaa!"
"Santa-sama.
Tolong tenanglah."
Ophelia berusaha
menarik sang Saintessagar menjauh dari Noah.
"Uuu...
hiks..."
"Apa
maksudnya target itu? Ceritakan padaku."
"Kami para Saintess
masing-masing memiliki wilayah tugas, dan kami harus menyetorkan pajak yang
terkumpul dari sana kepada Paus. Ada target yang ditentukan untuk tiap wilayah,
dan aku sudah gagal mencapainya sejak tahun lalu dan tahun sebelumnya lagi.
Kalau terus begini, aku akan dibuang ke tempat yang lebih terpencil lagi!"
"Begitu
ya. Ternyata gereja punya sistem target juga."
"Kenapa
rakyat tidak mau membayar pajak padamu?"
Ophelia
melontarkan pertanyaan yang sangat masuk akal.
"Itulah masalahnya, mereka semua jahat! Mereka pasti meremehkanku yang merupakan utusan Tuhan ini. Terutama orang-orang di wilayah Luke. Mereka yang terburuk! Mentang-mentang punya benteng, mereka bahkan menolakku masuk ke wilayah mereka dan bilang, 'Kami tidak butuh mengadu pada Tuhan, benteng ini yang akan melindungi kami', atau semacamnya!"
"Tapi,
bukankah sebagai seorang Saintess, Kamu seharusnya bisa menghasut para pengikut
untuk menekan penguasa yang tidak beriman? Kenapa Kamu tidak melakukan itu
saja?"
"Itu...
entah kenapa, orang-orang tidak terlalu mau mendengarkan khotbahku."
Sang Saintess
menunduk lesu.
"Begitu
rupanya."
(Intinya, Saintessini
sama sekali tidak punya wibawa ya.)
Ophelia bergumam
dalam hati.
(Ternyata dia
cuma Saintessproduk gagal yang menyedihkan.)
Noah pun ikut
membatin hal yang sama.
"Tapi,
hari-hari penderitaanku karena target setoran itu sudah berakhir. Orang-orang
Luke yang menyebalkan itu sudah hancur. Mereka menerima azab karena telah
meremehkanku. Nah, Kamu tahu kan apa yang harus dilakukan sekarang? Noah,
katakanlah satu patah kata pada rakyatmu. Perintahkan mereka untuk mendengarkan
kata-kata sang Santa. Katakan agar mereka bersyukur pada Tuhan dan memberikan
persembahan. Dengan
begitu, rakyat akan dengan senang hati menyetorkan pajak padaku dan—oi, halo?! Mau ke mana, woi!"
Noah dan yang
lainnya sudah mulai berjalan pergi meninggalkan sang Santa.
"Tadi itu
bukannya sudah masuk alur di mana Kamu seharusnya menolongku? Kenapa Kamu malah
mencoba meninggalkanku lagi?!"
"Tiba-tiba
datang menyerbu, kupikir ada apa, ternyata ujung-ujungnya cuma soal duit. Aku
tidak punya waktu buat meladeni itu."
"Tunggu,
tunggu dulu dong! Apa Kamu tidak mau diselamatkan oleh Tuhan?"
"Terima
kasih, tapi aku tidak butuh hal semacam itu sekarang."
"Ini
akan menghambat urusan dalam negerimu, lho!"
"Ugh."
Noah terdiam
karena ucapannya tepat mengenai sasaran. Meskipun kondisi wilayahnya tidak
separah yang dikatakan putra kedua, Ian, namun karena perluasan yang terlalu
cepat, penataan sistem pemerintahan memang agak sedikit keteteran. Noah
mencoba menggunakan Appraisal pada Aemilia.
Aemilia
Gift: Saint
Faith: C → C
Politics: B → B
(Begitu ya. Sesuai
dugaannya, kemampuan Politics miliknya lumayan tinggi.)
Karena Faith
miliknya hanya Rank C, melakukan pidato untuk menghasut rakyat atau
pengikut jelas mustahil baginya.
Namun,
dia mungkin bisa sangat berguna sebagai pejabat administratif. Tergantung cara
pemakaiannya, dia bisa diperlakukan sebagai birokrat handal yang tidak akan
memicu masalah dengan menghasut simpatisan secara aneh.
"Fuu...
baiklah, Saintess Aemilia. Aku akan membantumu kali ini."
"Benarkah!?"
"Ya, aku
akan mengatur agar pemungutan pajak di wilayah Luke bisa berjalan lancar.
Sebagai gantinya, Kamu harus membantuku dalam urusan pemerintahan."
"Horeee!
Dengan begini aku bisa makan daging mahal setiap hari!"
(Benar-benar
Saintessyang sangat duniawi.)
Ophelia
mengernyitkan dahi melihat sisi materialistis dari sang Saintesstersebut.
"Kalau
begitu, izinkan saya mengatakannya sekali lagi. Wahai Penguasa Noah, pimpinlah
wilayah Luke sebagai anak Tuhan, dan bekerjalah demi Tuhan. Maka Tuhan akan
mengampuni dosa-dosamu."
(Dia
benar-benar tidak mau menyerah untuk tetap bersikap angkuh, ya.)
Setelah
itu, Noah mengatur segalanya agar Saintess Aemilia bisa memungut pajak di bekas
wilayah Luke.
Ia
memerintahkan perbaikan gereja agar para penganut bisa berkunjung dengan nyaman
dan memberikan donasi, serta melakukan survei untuk memetakan pendapatan
rakyat.
Aemilia,
dengan kemampuan Politics yang mumpuni, segera mengeluarkan kebijakan
untuk memastikan pemungutan pajak berjalan efektif.
Dalam beberapa
kesempatan, ia juga memberikan saran kepada Noah untuk membantu jalannya
pemerintahan.
Noah sendiri
mendukung penuh aktivitas Aemilia dan memberikan pidato di depan umum untuk
menyokongnya, demi mendapatkan dukungan rakyat.
Di antara rakyat,
ada yang mulai memandang Noah dengan cara berbeda; melihat Noah begitu antusias
dalam kegiatan keagamaan, mereka sadar bahwa tuan mereka bukanlah sekadar pria
kasar yang haus perang.
Namun, tetap saja
khotbah Aemilia tidak populer (karena kurangnya rasa iman, ucapannya terdengar
mencurigakan dan tidak menyentuh hati).
Seberapa keras
pun ia mencoba menjelaskan ajaran Tuhan yang mulia, tidak banyak orang yang
berkumpul. Bahkan
mereka yang sudah datang pun sering kali pulang di tengah-tengah khotbah.



Post a Comment