Chapter 12
Usulan Ian
"Albert. Bagaimana perkembangan penaklukan Benteng
Anglin?"
"Siap,
tampaknya akan memakan waktu sekitar dua bulan lagi."
Archduke Fried
mengerutkan keningnya.
"Masih belum
jatuh juga? Anglin itu hanya negara kecil dibanding wilayah Uebel kita. Kenapa
bisa memakan waktu selama itu?"
"Ayahanda.
Mohon jangan berkata semustahil itu. Meski Anglin negara kecil, prajurit mereka
sangat kuat, persatuan rakyatnya kokoh, dan para jenderalnya adalah veteran
perang yang tak bisa diremehkan. Lagipula, Benteng Anglin adalah titik
strategis dunia. Itu adalah fasilitas pertahanan yang punya rekam jejak mampu
menahan serangan negara besar selama bertahun-tahun. Tidak mungkin bisa jatuh
dengan semudah itu."
"Aku tahu
hal semacam itu. Aku hanya meminta laporan perkembangan. Jangan terus-terusan
menceramahi Aku dengan fakta yang sudah umum diketahui begitu."
Setelah berkata
demikian, sang Archduke Uebel melanjutkan makannya dengan diam dan raut wajah
tidak senang. Albert hanya bisa menghela napas.
(Aduh-aduh.
Ayahanda benar-benar sedang uring-uringan. Dia terus begini sejak mendengar kabar Noah
berhasil merebut Kruck.)
"Oya,
oyaaa. Anda terlihat sangat gelisah ya, Archduke Uebel."
Sebuah
suara yang terdengar licin dan menjijikkan menyapa telinga mereka.
"Suara ini... Lord Liberio, ya."
Sang
Archduke melirik tajam ke arah pria yang baru datang itu. Albert pun ikut
mengernyitkan dahi.
(Sialan.
Padahal suasana hati Ayahanda sudah buruk, malah si brengsek ini yang datang.)
Lord
Liberio adalah bangsawan dengan pengaruh terbesar di antara para pengikut
Archduke Uebel.
Karena
dulunya dia adalah pengikut yang berjasa, Archduke selalu mengistimewakannya
dan memberinya hadiah lebih banyak dibanding pengikut lain. Namun belakangan
ini, kesewenang-wenangannya semakin menjadi-jadi.
Terutama
setelah kematian penguasa sebelumnya, keangkuhannya meningkat drastis. Karena
dia adalah favorit penguasa terdahulu, Archduke tidak bisa begitu saja
mendepaknya, dan tanpa sadar membiarkannya lepas kendali.
Dia tidak
datang meski dipanggil ke pertemuan resmi, tidak patuh saat diperintahkan
mengirim pasukan, seenaknya menjalin hubungan dan negosiasi dengan negara
asing, serta tidak mematuhi hukum yang ditetapkan Archduke.
Namun
yang paling membuat Archduke muak adalah, meski melakukan berbagai tindakan
pembangkangan itu, kekuatannya justru terus meluas.
(Sialan. Dasar
ulat parasit yang hidup di tanahku. Jika saja Aku punya sedikit lebih banyak
waktu, uang, dan pasukan, sudah kupastikan akan kupelintir kepalamu sampai
hancur saat ini juga.)
Namun, Archduke
tahu dia tidak bisa melakukannya. Saat ini, perang dengan Anglin masih berlanjut, dan negara-negara
tetangga pun tidak bisa lengah.
Jika Lord Liberio memberontak sekarang,
kerugiannya akan sangat besar, dan dalam skenario terburuk, dia bisa saja kalah
telak.
"Ada
urusan apa, Lord Liberio?"
"Oya,
oya. Sungguh sambutan yang dingin. Bertanya ada urusan apa kepada pengikut Anda
yang manis ini."
"Kamu
bukan tipe orang yang datang hanya untuk menyapa tanpa ada urusan. Cepat katakan."
"Hahaha.
Tenang saja, bukan urusan besar kok. Aku hanya ingin menyampaikan ucapan
selamat."
"Selamat?"
"Tentu saja
soal putra Anda. Bukankah Noah-sama dikabarkan berhasil menjatuhkan Kastil
Kruck?"
(Ah, oi, jangan
bahas topik itu sekarang……)
Sesuai
kekhawatiran Albert, urat kemarahan muncul di dahi sang Archduke.
"Yah,
selamat ya. Bukankah itu pencapaian yang luar biasa? Keinginan terbesar seorang
pria yang lahir di era kekacauan ini. Tidak banyak yang bisa melakukannya.
Sebagai Ayahandanya, Anda pasti merasa sangat bangga, kan?"
"Hm? Ah, oh.
Begitulah. Haha."
"Tapi,
justru itu yang sangat disayangkan. Melepaskan putra Anda dan membuangnya ke
tempat terpencil. Belakangan ini, tidak ada berita militer yang membanggakan
dari wilayah Archduke kita. Bukankah ini sebuah kesalahan besar dari
Anda?"
"Lord
Liberio. Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?"
"Bahwa
urusan militer Anda sedang mandek," jawab Lord Liberio dengan nada
menghina kepada Albert yang berusaha menggertak.
"Menjatuhkan
benteng sekecil itu saja butuh waktu berbulan-bulan. Padahal punya Gift Holy
Knight, tapi jujur saja, sebagai komandan, Anda benar-benar kurang
memuaskan."
(Itu
karena Kamu terus menghambatku, dasar parasit sialan!) jerit sang Archduke
dalam hati.
"Bukankah
sebaiknya Aku saja yang mengambil alih komando sebagai Panglima
Tertinggi?"
Lord
Liberio melangkah maju mendesak sang Archduke.
"Lord
Liberio. Masalah wewenang komando tertinggi pasukan Uebel adalah keputusan
Ayahanda. Tuntutan seperti itu adalah bentuk ketidaksopanan!"
"Oya,
oya. Anda bicara seolah-olah Aku ini pengkhianat. Apa Anda pikir Aku akan
memberontak?"
Albert
menggertakkan giginya kuat-kuat. Lord Liberio dipercaya memimpin lima Kastil
dan merupakan salah satu orang terkuat di wilayah Archduke ini. Albert tahu
betul betapa merepotkannya jika menjadikannya musuh. Dia tidak bisa begitu saja
melabelinya sebagai pembangkang.
"Lapor!"
Pintu terbuka
dengan keras dan Ksatria Vernon menerobos masuk.
"Oya,
bukankah ini Ksatria Vernon?"
"Ada apa? Di
saat seperti ini."
"Ada hal
yang harus segera saya laporkan mengenai wilayah Arcloy……"
Ksatria Vernon
kini benar-benar sudah seperti diplomat yang khusus menangani urusan Arcloy.
"Nanti saja.
Saat ini kita sedang tidak punya waktu untuk mengurusi masalah yang dibuat si
konyol itu."
"Yah, tidak
apa-apa kan? Ksatria Vernon sudah sampai terengah-engah datang kemari. Mari
kita dengarkan saja."
Lord
Liberio menanggapi dengan nada tertarik.
(Berisik lo,
gurita. Gue tonjok pake awalan baru tahu rasa lo!)
"Ksatria
Vernon, katakanlah."
"Noah-sama
telah menaklukkan Kastil Luke. Beliau mengalahkan Duke Luke dan telah
menyatukan wilayah Luke ke dalam wilayahnya sendiri."
"「!?」"
"Wilayah
Luke? Bukankah itu tempat yang memiliki benteng yang konon tidak bisa ditembus?
Bagaimana dengan benteng itu?" tanya Lord Liberio.
"Benar.
Bukankah si konyol itu dulu lari terbirit-birit dan menanggung malu di depan
benteng itu?"
"Apa dia
menggunakan semacam tipu muslihat untuk merebutnya?"
"Tidak,
kabarnya benteng itu ditaklukkan hanya dalam satu hari melalui pertempuran
fisik."
"Mustahil. Bagaimana bisa..."
"Bagaimana caranya?"
"Lagi-lagi berkat kepemimpinan luar biasa dari Ophelia,
serta pengembangan senjata baru oleh pasukan pemanah yang membuahkan
hasil."
"Oya, oyaaa. Lagi-lagi pencapaian luar biasa dari
Noah-sama. Sekarang dia sudah punya
dua Kastil. Dan itu hasil jerih payahnya sendiri. Wah, Albert-sama, Anda
sudah tersusul ya. Apalagi Noah-sama mendapatkan keduanya dengan kekuatannya
sendiri. Benar-benar dengan kekuatannya sendiri."
(Noah
punya dua Kastil. Dan itu dengan menaklukkan Benteng Luke?)
Bahkan
Albert yang biasanya tenang pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Lord
Liberio, apa kamu tidak dengar laporan Vernon? Yang berperan adalah pasukan pemanah dan Ophelia.
Itu bukan kekuatan Noah."
"Keberuntungan
juga bagian dari kekuatan, Archduke-sama."
"Gunu-nu..."
"Yah,
intinya ini adalah zaman di mana bahkan orang konyol sekalipun bisa memperluas
wilayah. Pasukan kita tidak boleh santai-santai terus. Bukankah sebaiknya
segera meninjau ulang struktur kita dan menyerahkan komando pada orang yang
lebih kompeten? Hanya itu yang ingin kukatakan. Kalau begitu, permisi."
Lord Liberio
melangkah keluar melewati pintu.
"Ayahanda,
apa Anda akan membiarkannya bicara seperti itu?"
"Aku tahu.
Pengikut durhaka itu... suatu saat akan kubuat dia bertekuk lutut. Tapi
sekarang situasinya buruk. Kamu pun pasti mengerti itu."
"Tapi,
Ayahanda……"
"Astaga.
Ayahanda dan Kakak benar-benar memalukan. Hanya karena pengikut durhaka dan
adik bodoh itu sedikit naik daun saja sudah sepanik ini."
Putra kedua, Ian,
berkata dengan nada sangat tenang sambil membetulkan posisi kacamata.
"Ian. Apa
kamu sadar? Jika kita membiarkan pengikut itu, ini bisa berujung pada
pemberontakan. Dan itu semua karena kesuksesan Noah yang terlalu cepat."
"Aduh, aduh.
Apa kalian berdua berpikir momentum adik bodoh itu akan bertahan
selamanya?"
"……Apa kamu
tahu sesuatu, Ian?"
"Sehebat apa
pun ekspansi militer, jika urusan dalam negeri mulai retak, sebuah negara tidak
akan bertahan. Begitulah intinya."
Ian tersenyum
sinis sambil menaikkan kacamatanya.
"Dari nada
bicaramu, sepertinya kamu tahu sesuatu?"
"Negara yang
tumbuh terlalu cepat pasti akan mengalami keretakan di dalam negerinya. Begitu
juga dengan negara Noah. Arcloy baru saja berganti penguasa, dan dalam waktu
kurang dari setahun, wilayahnya meluas lebih dari tiga kali lipat. Biaya
perang, imbalan untuk prajurit berjasa, lahan pertanian yang terbengkalai. Di
balik pencapaian yang terlihat megah, situasi internalnya pasti sedang kacau
balau."
"Jadi apa
maksudmu?"
"Ian. Jangan
bertele-tele. Cepat katakan kesimpulannya!"
"Aduh, aduh.
Baiklah kalau begitu. Biar kubilang dengan cara yang mudah dimengerti. Siapa
sebenarnya yang menyokong kesuksesan Noah sejauh ini?"
Sang Archduke
tersentak.
"Ophelia?"
"Benar. Saat
ini, Noah pasti sedang pusing memikirkan bagaimana cara menangani Ophelia. Dia
membiarkan Ophelia meraih terlalu banyak prestasi. Namun, jika dia memberi
terlalu banyak wilayah, dia akan takut dikhianati. Hubungan mereka berdua pasti
sedang sangat tegang."
"Fumu. Jika
begitu, mungkin kita bisa menarik Ophelia ke pihak kita."
Mendengar
kata-kata sang Archduke, Albert tersentak. Menarik Ophelia ke pasukannya sendiri. Alangkah
indahnya jika itu terjadi.
Dia tidak bisa
menahan diri untuk membayangkan sosok Ophelia yang berdiri di jajaran stafnya,
memberikan instruksi dengan cekatan.
Sekarang, setelah
dia menjadi pengikut penting Noah, Albert merasa sangat heran kenapa dulu dia
tidak melakukannya.
"Tepat
sekali, Ayahanda. Apalagi gadis itu, Ophelia, hanyalah berasal dari kasta
pelayan. Jika kita mengandalkan otoritas Archduke dan imbalan yang melimpah,
dia pasti akan dengan mudah berpihak pada kita."
"Ayahanda,
mari kita lakukan sekarang juga!" seru Albert.
"Jangan
terburu-buru. Bukankah Ian baru saja bilang? Keretakan hubungan mereka baru
akan dimulai dari sekarang. Lebih baik kita biarkan dulu mereka untuk sementara
waktu."
Albert melipat
tangannya dengan wajah tidak puas dan terdiam. Sebagai Albert, dia ingin segera
merekrut gadis itu ke pasukannya dan menjadikannya jenderal utama.
(Hanya saja,
benar juga. Untuk bersiap menghadapi pembelotan Ophelia yang akan datang, kita
perlu menjalin koneksi dari sekarang.)
Archduke berpikir
demikian dan mempertimbangkan siapa yang akan menjalankan misi ini.
Albert terlalu
jujur, negosiasi sensitif seperti ini mungkin terlalu berat baginya. Jika
begitu, apakah akan menyerahkannya pada putra kedua Ian atau putra ketiga
Rudolf?
"Baiklah.
Albert, Ian. Masalah ini biar Aku yang tangani dulu. Jangan sampai bocor ke luar. Ksatria Vernon, Aku akan memberimu
instruksi nanti. Untuk sementara, kerja bagus."
Ksatria Vernon
merasa sangat bimbang. Pasalnya, pemikiran Ian dan sang Archduke terasa jauh
terlalu optimis baginya.
Pertama-tama,
Ophelia sebenarnya bukan berasal dari kasta pelayan.
Orang tuanya
adalah ksatria terhormat. Archduke-lah yang memanfaatkan statusnya yang masih
di bawah umur untuk menurunkan statusnya menjadi rakyat jelata, merampas
tanahnya, dan menjadikannya pelayan.
Meskipun secara
hukum prosedurnya benar, cara yang seperti menipu gadis polos ini sudah menjadi
perdebatan di kalangan ksatria sejak dulu. Di tempat yang tidak terdengar oleh
Archduke, semua orang saling berbisik membicarakannya.
Ditambah lagi,
Archduke mengabaikan keinginan tulus Ophelia yang ingin menjadi ksatria dan
mengabdi pada wilayah Archduke.
Dengan kata lain,
alih-alih tunduk pada otoritas Archduke, ada kemungkinan Ophelia justru
menyimpan dendam.
Alasannya merawat
Noah dengan penuh kasih sayang hanyalah semata-mata karena rasa sayang dan
hutang budi pada mendiang ibu Noah, serta kesetiaannya yang luar biasa.
Dan ibu Noah pun,
pada akhirnya diperlakukan dingin oleh sang Archduke.
Lalu, soal
perselisihan imbalan antara Noah dan Ophelia, benarkah itu akan terjadi?
Sejauh pengamatan
Ksatria Vernon, hingga saat ini tidak ada tanda-tanda seperti itu di antara
mereka berdua.
Malah sebaliknya,
Ophelia berinisiatif mengambil sikap rendah hati dan berusaha tidak meminta
imbalan berlebihan kepada penguasanya.
Bahkan ada kabar
bahwa dia sendiri yang memperingatkan bawahannya agar tidak menuntut terlalu
banyak.
Selain itu,
Archduke dan putra-putranya terlalu meremehkan suasana di wilayah Noah. Sebagai
ksatria yang sering pergi ke berbagai negara asing karena tugas, Vernon bisa
merasakan atmosfer setiap negara.
Namun, suasana
penuh semangat di wilayah Arcloy benar-benar membuatnya terpukau.
Baik atau buruk,
Noah telah menjadi pusat badai yang membawa angin perubahan di era kekacauan
ini, menciptakan gairah hidup yang luar biasa tanpa memandang kasta.
Ian bilang lahan
pertanian Arcloy pasti terbengkalai, namun Vernon sama sekali tidak melihat
tanda-tanda itu.
Sebaliknya,
lihatlah atmosfer yang menyesakkan dan suram saat dia kembali ke wilayah
Archduke. Orang-orang berwajah muram karena stagnasi yang tak berujung.
Menurutnya, untuk
sementara waktu, wilayah Noah tidak akan hancur karena ketidakstabilan politik
atau kelelahan akibat perang.
Dan yang
terpenting, ia merasa ada ikatan yang sangat kuat antara Noah dan Ophelia yang
tidak bisa diukur oleh orang lain.
Ophelia memiliki
kesetiaan yang tak tergoyahkan pada Noah, dan Noah menghabiskan hampir seluruh
waktunya saat masih di bawah umur untuk membesarkan Ophelia.
Noah seolah sudah
memprediksi bahwa dia akan menjadi jenderal besar, dan memiliki keyakinan penuh
bahwa dia tidak akan pernah berkhianat.
Faktanya,
kesetiaan Ophelia pada Noah terasa sangat dalam, hampir menyentuh batas
kegilaan.
Namun, melihat
situasi ini, Archduke pasti akan memerintahkan Vernon untuk melakukan diplomasi
yang salah sasaran lagi. Dia akan kembali pergi ke wilayah Arcloy membawa
urusan yang tidak pada tempatnya dan menanggung malu lagi.
Memikirkannya
saja sudah membuatnya merasa sangat depresi. Namun sebagai pengabdi istana, dia
tidak punya pilihan lain selain melakukannya.



Post a Comment