NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Hikichi ni Tsuihō Sareta Utsuke Ryōshu Kantei Sukiru de Saikyō no Haika-tachi to Tomo ni Chō Taikoku o Tsukuru Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Alasan di Balik Loyalitas


Noah kembali menggunakan Appraisal untuk memeriksa statistik Ophelia sekali lagi.

Ophelia

Leadership: C → S

Strategy: C → A

Melee: C → A

Field Battle: C → A

Loyalty: C → S

(Gadis ini... apa dia semacam karakter curang?!)

Potensi masa depan untuk Leadership, Strategy, Melee, dan Field Battle semuanya berada di peringkat A ke atas.

Tadi saja, seseorang dengan Leadership C sudah bisa memimpin unit berisi seratus orang tanpa kesulitan.

Lalu, seberapa banyak yang bisa dipimpin oleh seseorang dengan Leadership S? Seribu orang? Sepuluh ribu? Atau malah seratus ribu pasukan?

Strategy-nya juga peringkat A. Jika dia bisa memimpin seratus ribu pasukan sambil menyusun strategi dan bertindak sendiri, dia akan menjadi pahlawan yang tak tertandingi! Bahkan jika seluruh pasukan di benua ini berkumpul untuk menghadangnya, mereka mungkin tidak akan bisa menghentikannya.

Bakat ini saja sudah cukup untuk menjadikannya Jenderal Besar yang langka dalam sejarah, namun ditambah lagi, potensi Loyalty-nya juga S.

Masalah utama dari jenderal yang sangat berbakat adalah kemungkinan pengkhianatan. Sejarah mencatat banyak sekali kegagalan ekspedisi militer hanya karena penguasa dan jenderalnya saling menaruh curiga.

Tapi, bagaimana jika aku bisa menjadikannya jenderal dengan status yang mentok?

Seorang jenderal jenius yang patuh, atau Napoleon yang tidak akan pernah melakukan kudeta. Aku bisa menyerahkan seluruh urusan perang kepadanya, sementara aku sebagai penguasa bisa fokus sepenuhnya pada urusan politik.

Mungkin aku benar-benar bisa mengukir lembaran baru dalam sejarah dunia ini.

"Ada apa, Tuan Muda?"

Ophelia memandang Noah dengan heran, karena Noah menatapnya sambil membelalakkan mata.

"Ah, tidak apa-apa."

Maukah kamu mencoba menguasai benua ini bersamaku?

Noah hampir saja mengatakannya, namun ia segera menahan diri.

(Sekarang bukan waktunya untuk mengatakan itu.)

Ia tidak yakin Ophelia memang ingin menjadi jenderal. Lagipula, ia ragu ayahnya, Duke Fried, akan memercayakan pasukan kepada putra keempat dari seorang selir.

Setidaknya untuk saat ini, Noah tidak boleh egois dengan menyuruhnya menjadi jenderal.

"Ngomong-ngomong..."

"Iya, ada apa?"

"Berapa umurmu, Ophelia?"

"Empat belas tahun."

(Ternyata seumuran denganku...)

Noah mengira dia adalah kakak perempuan yang lebih tua, mengingat tingginya yang sudah melampaui 180 sentimeter.

(Kalau sekarang saja setinggi itu, bakal seberapa raksasa dia di masa depan nanti?)

Pada akhirnya, gadis itu memang tumbuh menjadi wanita perkasa dengan tinggi lebih dari 190 sentimeter.

◆◇◆

Seiring dengan evolusi Skill Appraisal yang membuat penerjemahan bahasa antara dunia lama dan dunia barunya menjadi lancar, rasa sakit kepala Noah mulai menghilang.

Namun, hidup dengan paparan teks yang lebih banyak dari orang normal akibat malfungsi skill tetap saja melelahkan.

"Ophelia, bacakan buku untukku."

"Lagi?"

"Mataku lelah kalau membaca tulisan. Tolong bacakan untukku."

"Baiklah. Buku mana yang ingin Anda dengar?"

"Sejarah benua Giftia."

"Baik, Tuan Muda."

Ophelia membuka sebuah buku yang sangat tebal. Meskipun buku itu sangat berat, di tangan Ophelia yang tinggi besar, buku itu tampak mungil seperti mainan.

"Dahulu, hampir seluruh wilayah benua Giftia ini diperintah oleh Kerajaan Suci yang perkasa. Para bangsawan, penguasa wilayah, dan ksatria bersumpah setia kepada Raja, menjalin kontrak pengabdian, dan bekerja demi Sang Raja. Raja pun membalas jasa para pengikutnya dengan memberikan imbalan yang melimpah."

"Namun, terjadi sebuah insiden yang meruntuhkan tatanan tersebut: invasi ras iblis. Di bawah pimpinan Raja Iblis yang kuat, pasukan iblis menyerang secara serentak dan mengalahkan Kerajaan Suci. Kerajaan itu kehilangan harga diri serta sebagian besar wilayahnya."

"Melihat Kerajaan Suci kalah tanpa perlawanan berarti, para bangsawan merasa perlu melakukan pertahanan mandiri. Mereka mulai membentuk pasukan tanpa izin Kerajaan Suci dan lebih memprioritaskan kepentingan wilayah sendiri di atas kepentingan pusat."

"Seiring dengan hancurnya katedral-katedral di berbagai tempat oleh iblis, Paus pun mulai meninggalkan Kerajaan Suci. Hal ini ditandai dengan dibukanya akses Gift. Dahulu, ritual penetapan Gift hanya diberikan kepada keluarga kerajaan, namun kemudian mulai diterapkan kepada para bangsawan daerah."

"Tak butuh waktu lama sampai ritual itu juga diberlakukan untuk penguasa wilayah kecil dan ksatria. Hasilnya, diketahui bahwa pemilik Gift seperti Holy Knight atau Great Sage ternyata ada juga di luar keluarga kerajaan. Hal ini mempercepat perpecahan."

"Meskipun umat manusia sempat berhasil memukul mundur invasi iblis berkat terbukanya akses Gift, jatuhnya wibawa Kerajaan Suci tidak bisa dihentikan lagi. Kerajaan tidak mampu memberikan imbalan yang cukup kepada mereka yang berjasa dalam perang. Para bangsawan mulai menuntut kemerdekaan, dan Paus menyetujuinya."

"Kerajaan Suci secara de facto bubar. Saat ini dunia berada dalam era kekacauan, di mana semua orang mengandalkan mereka yang memiliki kekuatan. Paus pernah berkata: 'Siapa pun yang memiliki kekuatan boleh mengaku sebagai penguasa'. Otoritas lama bertumbangan satu per satu, dan kekuatan-kekuatan baru lahir setiap harinya."

Ophelia menghela napas sambil menutup buku itu.

"Kudengar di garis depan perbatasan wilayah iblis, bahkan wanita dan anak-anak pun mengangkat pedang untuk bertarung. Meskipun Tuan Muda adalah keturunan bangsawan, posisi Anda belum tentu aman. Anda harus menjadi kuat."

Sambil berkata begitu, Ophelia mengelus kepala Noah dengan lembut.

◆◇◆

Suatu hari, saat Noah sedang beristirahat di tengah latihan pedang, ia menyadari Ophelia menatap tempat latihan itu dengan tatapan sedih.

(Apakah Ophelia tidak berlatih pedang?)

Dengan potensi Melee peringkat A, Ophelia pasti bisa menjadi ahli pedang jika dilatih. Seingat Noah, dulu Ophelia pernah ikut latihan pedang bersama anak laki-laki sebayanya.

Saat itu pun dia sudah sangat tinggi dan bertenaga, sehingga kekuatannya tak tertandingi dan mampu mendominasi anak-anak lelaki lainnya.

Noah menghampiri Ophelia dan menyapanya.

"Ophelia, apakah kamu tidak ingin mengayunkan pedang?"

"Iya. Saya tertarik, karena kedua orang tua saya dulunya adalah ksatria."

Ophelia menunduk sedih.

(Ah, benar juga. Kedua orang tuanya sudah...)

Orang tua Ophelia adalah ksatria yang melayani keluarga Ubel, namun mereka gugur dalam perang dan tak pernah kembali. Mungkin alasan dia sangat bersimpati kepada Noah adalah karena mereka memiliki nasib yang serupa.

"Saya pernah memohon kepada Yang Mulia Duke agar diizinkan menjadi ksatria keluarga Ubel. Namun, beliau menjawab dengan dingin, 'Memangnya yatim piatu sepertimu tahu caranya bersumpah setia kepada orang lain?'"

(Serius? Kejam sekali Ayah.)

Meski begitu, di dunia ini, perkataan tersebut bukanlah hal yang aneh. Walaupun ini adalah dunia fantasi dengan sihir, sistem sosialnya masih bersifat feodal abad pertengahan yang kental.

Status yatim piatu sangat memengaruhi posisi sosial dan kredibilitas seseorang. Tapi di sisi lain, Noah merasa perlakuan itu sangat tidak pantas bagi putri dari ksatria yang mati demi negara.

Duke mungkin sudah melupakan orang tua Ophelia. Terdengar tidak punya perasaan, tapi memang begitulah ayahnya.

(Baiklah, kalau begitu...)

Noah tiba-tiba berdiri dan melepaskan belati yang tersampir di pinggangnya.

"Ophelia. Aku memberikan pedang ini kepadamu."

"!?"

"Bersumpahlah demi pedang ini untuk menjadi ksatriaku."

Ophelia tersenyum lembut.

"Fufu. Anda ingin menjadikan saya ksatria Anda, Tuan Muda?"

"Iya."

"Tapi, Tuan Muda belum cukup umur untuk melantik seorang ksatria. Bagaimana ini?"

"Ugh. Kalau soal itu... begini saja. Begitu aku dewasa dan menerima wilayah kekuasaan, aku akan melantikmu sebagai ksatria pertamaku."

"Jadi semacam janji masa depan ya? Terima kasih telah memilih saya sebagai ksatria pertama Anda. Saya sangat merasa terhormat. Tapi..."

Ophelia menatap pedang itu dengan sedih.

"Saya tidak memiliki kualifikasi untuk menerima pedang ini."

Ophelia mengembalikan pedang itu kepada Noah.

(Tidak punya kualifikasi untuk menerima pedang... ya?)

Sejak saat itu, Noah terus memikirkan hal tersebut.

(Apa maksudnya? Apa Ophelia sudah bersumpah setia kepada orang lain selain aku?)

Tapi jika benar begitu, dedikasi yang dia tunjukkan sehari-hari pada Noah tidak masuk akal. Noah mencoba memeriksa skill Ophelia lagi.

Ophelia

Loyalty: C → S

Kesetiaannya memiliki potensi peringkat S. Artinya, itu masih dalam tahap perkembangan.

Statistik Loyalty adalah skill yang menunjukkan nilai aslinya saat seseorang menemukan pemimpin yang layak ia layani. Sebaliknya, sebelum pemimpin itu muncul, kesetiaan tersebut akan tetap tersembunyi.

Ophelia bilang dia tidak punya kualifikasi. Itu artinya dia merasa belum pantas menjadi ksatria.

Namun, mungkin alasan sebenarnya adalah Noah sendiri yang belum memenuhi kriteria sebagai seorang pemimpin. Noah yang sekarang mungkin layak untuk menerima kesetiaan kelas C, tapi belum cukup hebat untuk memicu kesetiaan peringkat S.

(Baiklah, kalau begitu...)

Noah memutuskan untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin kepada Ophelia. Kesempatan itu datang lebih cepat dari perkiraan: ia mendengar bahwa pasukan utama pertama yang dipimpin Albert sedang diganggu oleh serangan perampok.

◆◇◆

Saat itu, Albert sudah dewasa dan sedang menjalankan tugas ekspedisi. Namun, jalur logistik antara garis depan dan markas besar terancam oleh perampok, sehingga ekspedisinya terhambat.

Noah mengusulkan pembentukan unit tentara bayaran kepada Albert. Menghadapi perampok paling efektif menggunakan kavaleri. Namun, di pasukan reguler Ubel, orang berstatus rendah dilarang memimpin kavaleri.

Jika begitu, kenapa tidak menggunakan kavaleri dari kalangan rakyat jelata sebagai tentara bayaran tambahan? Noah ingin membantu pasukan utama Albert sekaligus melindungi rakyat dari jarahan perampok.

Albert, yang memang peduli pada rakyat kecil, menerima usulan Noah. Ia juga ingin memberi kesempatan pada Noah untuk memperbaiki reputasinya di depan ayah mereka.

Awalnya, mereka menggunakan nama perwakilan lain agar Noah tidak terlalu menonjol. Sang Duke sempat keberatan, namun akhirnya setuju setelah diyakinkan bahwa ini hanyalah unit pembantu logistik yang bisa dibubarkan kapan saja.

Noah segera membentuk unit tersebut. Dengan kemampuannya melihat potensi Cavalry, ia berhasil mengumpulkan seratus ksatria berkuda yang mahir bertarung dalam sebulan.

Mereka tidak hanya menghalau perampok, tapi juga memburu hingga ke sarang-sarangnya dan membasmi mereka sampai ke akar.

"Aksi yang luar biasa, Tuan Noah," puji Ophelia dengan tulus. "Melihat Anda bekerja demi rakyat, Anda sungguh hebat. Benar-benar putra Yang Mulia Duke."

Ophelia

Loyalty: B ()

(Loyalty-nya naik. Benar, semakin aku menunjukkan kapasitas sebagai pemimpin, semakin tinggi kesetiaannya.)

Saat Noah menawarkan Ophelia untuk memimpin tentara bayaran, gadis itu menerimanya dengan antusias. Kemampuan komando dan ketajaman insting Ophelia bahkan membuat Noah merinding.

Logistik Albert menjadi lancar, dan situasi perang membaik. Sejak saat itu, Ophelia sering bergabung di kamp Albert sebagai pengawal sekaligus kapten tentara bayaran. Di sana, ia mulai menyadari betapa cerobohnya pengelolaan administrasi di kubu Albert.

◆◇◆

Meski Noah dan Ophelia berhasil memulihkan wilayah dan meningkatkan pendapatan pajak melalui keamanan yang terjaga, kesuksesan ini berakhir mendadak.

Sang Duke mengetahui bahwa Noah adalah pemimpin asli unit tentara bayaran tersebut. Sepertinya ada yang mengadu.

Duke Fried memerintahkan pembubaran unit tersebut tanpa membayar gaji yang dijanjikan. Akibatnya, para tentara bayaran yang kelaparan justru berubah menjadi perampok sungguhan.

Dengan kuda dan kemampuan bertarung yang diberikan Noah, mereka menyerang jalur logistik Albert, membuat situasi perang kembali memburuk.

Sang Duke murka dan bertanya siapa yang memberikan kuda pada para tentara itu. Albert menjawab jujur bahwa itu adalah perbuatan Noah karena Noah melihat bakat mereka. Niat Albert adalah memuji Noah, namun di mata sang Duke, citra Noah justru semakin hancur.

◆◇◆

"Sepertinya wilayah Anglin mulai menggunakan rakyat jelata sebagai kavaleri," lapor Ophelia yang kini kembali menjadi pelayan sambil menuangkan teh.

"Mereka juga merombak sistem komando; jika dulu satu ksatria memimpin sepuluh infanteri, kini satu ksatria memimpin seratus prajurit."

Ophelia menghela napas. "Padahal itu semua adalah ide Tuan Noah, sungguh disayangkan musuh justru yang menerapkannya lebih dulu."

Saat ini, skill Leadership dan Strategy Ophelia telah meningkat tajam. Sebagai pelayan, ia kini mampu memahami berita militer dengan sangat cepat.

Namun, di sisi lain, nilai Loyalty Ophelia turun kembali ke C.

Ophelia

Loyalty: C ()

Noah mulai paham mekanismenya. Jika Noah bertindak sebagai pemimpin yang layak, kesetiaannya naik. Tapi jika Noah tunduk pada kehendak Duke Fried, kesetiaannya turun.

Sepertinya Ophelia sedang mencari sosok pria yang berani melawan Duke Ubel. Sosok yang bisa mengalahkan ayahnya dan membebaskan dirinya.

(Ayah... ya.)

Noah mencoba menggali ingatan samar tentang orang tuanya di kehidupan lampau. Ia lahir di keluarga kaya, tapi hidupnya tidak bahagia karena ia hanya hidup menuruti keinginan orang tuanya.

Ayahnya ingin dia jadi elite, ibunya ingin dia mahir bermusik. Ia menahannya demi mereka, tapi akhirnya gagal di keduanya. Ia tidak berbakat di sana. Akhirnya orang tuanya bercerai karena kecewa padanya, dan sisa hidupnya dihabiskan dalam kegalauan sampai ia mati dalam penyesalan.

Pelajaran yang ia petik: menuruti kata orang tua tidak menjamin kebahagiaan. Orang tua tidak bisa bertanggung jawab atas kegagalan hidup anaknya.

Lalu bagaimana dengan hidup kali ini? Duke Fried hanya ingin Noah hidup tenang sebagai putra keempat yang tidak menonjol. Apakah ada gunanya menuruti keinginan ayahnya jika itu berarti harus menginjak-injak kesetiaan calon Jenderal Besar seperti Ophelia?

"Baiklah. Aku sudah memutuskan."

"Tuan Muda?"

"Ophelia, aku berniat mandiri dari keluarga ini."

"Mandiri!?"

"Terus bekerja di bawah Ayah tidak akan membuatku lebih kuat. Aku tidak bisa melatih bawahan atau bekerja untuk rakyat. Aku akan membangun jalanku sendiri."

Ophelia terpana. Ia terkesan melihat tekad Noah. Sebagai bangsawan, Noah bisa saja hidup manja mengandalkan kekayaan ayahnya seperti saudara-saudaranya yang lain. Tapi Noah justru sudah meninggalkan kepercayaan pada ayahnya bahkan sebelum ia dewasa.

Noah mengambil pedangnya dan mengulurkannya pada Ophelia.

"Aku tanya sekali lagi. Ophelia, aku berikan pedang ini padamu. Maukah kamu bersumpah demi pedang ini untuk menjadi ksatriaku?"

Ophelia menatap pedang itu dengan terpesona, namun ia sempat ragu kembali.

(Aku tidak mungkin mengatakannya... bahwa aku bersumpah setia padamu sambil membenci ayahmu.)

"Tapi, jika Anda menjadikanku ksatria, Anda akan semakin dibenci oleh Yang Mulia Duke."

"Jika Ayah menghalangi, aku akan melawannya."

"Tuan Muda..."

"Kamu punya kualifikasi untuk menerima pedang ini dan menjadi ksatriaku. Tidak peduli apa pun kata Ayah."

Pada saat itu, di mata Ophelia, Noah tampak seperti sosok yang telah melampaui kebesaran sang Duke.

"Atas nama Noah von Ubel, aku memerintahkanmu. Ksatria Ophelia, bersumpahlah setia selamanya kepadaku."

(Setia selamanya.)

Secara alami, Ophelia berlutut di depan Noah dan menerima pedang itu.

◆◇◆

Sejak saat itu, Ophelia berlatih pedang dengan gila-gilaan. Noah mengatur segalanya agar Ophelia bisa masuk ke tempat latihan militer keluarga Ubel.

Jika biasanya ia bersikap lembut, saat memegang pedang, Ophelia berubah menjadi orang yang berbeda. Dengan jangkauan tangan yang panjang, tenaga besar, dan kecepatan luar biasa, ia menumbangkan semua pria di tempat latihan dalam waktu sebulan.

Ia juga mulai terjun ke medan perang sesungguhnya di bawah komando Albert atas rekomendasi Noah. Di sana ia belajar membunuh. Albert mengakui kehebatannya dan selalu membawanya berperang, namun Ophelia menolak semua hadiah dari Albert. Ia hanya mengakui Noah sebagai satu-satunya tuannya.

Noah dan Ophelia pun mulai menyusun rencana kemandirian secara rahasia. Mereka membutuhkan tanah yang jauh dari jangkauan sang Duke, dan pilihan mereka jatuh pada wilayah terpencil Arcloy.

Arcloy adalah tanah tandus yang luas, cocok untuk keahlian Field Battle Ophelia. Di sana juga tinggal kaum Kijin (Manusia Iblis) yang mahir kavaleri, sangat pas dengan pengetahuan Noah dalam melatih pasukan berkuda.

Mereka pun diam-diam menghasut Rudolf agar mengusulkan pengiriman Noah ke Arcloy guna menyingkirkan satu saingan.

◆◇◆

Enam tahun berlalu sejak saat itu. Hari ini, di Hari Keberangkatan, Ophelia berlutut di depan Noah sebagai ksatrianya.

(Akhirnya tiba saatnya. Sekarang aku bisa melayani Tuan Noah sepenuhnya.)

Selesai dengan ritual pengabdian, Ophelia menatap Noah dengan penuh kekaguman. Noah kini sedang menjalani ritual serah terima wilayah Arcloy di depan pendeta.

"Noah, kini telah ditetapkan bahwa kamu akan menerima wilayah Arcloy. Atas kehendak Tuhan, jadilah penguasa yang memimpin rakyat dan bersumpahlah untuk melindungi tanah ini dari musuh. Apakah kamu bersumpah untuk menyerahkan dirimu demi melindungi tanah ini sebagai wakil Tuhan?"

"Ya. Saya bersumpah."




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close