Chapter 3
Alasan di Balik
Loyalitas
Noah kembali menggunakan Appraisal untuk memeriksa
statistik Ophelia sekali lagi.
Ophelia
Leadership: C → S
Strategy: C → A
Melee: C → A
Field Battle: C → A
Loyalty: C → S
(Gadis ini... apa dia semacam karakter curang?!)
Potensi masa depan untuk Leadership, Strategy,
Melee, dan Field Battle semuanya berada di peringkat A ke atas.
Tadi saja, seseorang dengan Leadership C sudah bisa
memimpin unit berisi seratus orang tanpa kesulitan.
Lalu, seberapa banyak yang bisa dipimpin oleh seseorang
dengan Leadership S? Seribu orang? Sepuluh ribu? Atau malah seratus ribu
pasukan?
Strategy-nya juga peringkat A. Jika dia bisa memimpin
seratus ribu pasukan sambil menyusun strategi dan bertindak sendiri, dia akan
menjadi pahlawan yang tak tertandingi! Bahkan jika seluruh pasukan di benua ini
berkumpul untuk menghadangnya, mereka mungkin tidak akan bisa menghentikannya.
Bakat ini saja sudah cukup untuk menjadikannya Jenderal
Besar yang langka dalam sejarah, namun ditambah lagi, potensi Loyalty-nya
juga S.
Masalah utama dari jenderal yang sangat berbakat adalah
kemungkinan pengkhianatan. Sejarah mencatat banyak sekali kegagalan ekspedisi
militer hanya karena penguasa dan jenderalnya saling menaruh curiga.
Tapi, bagaimana jika aku bisa menjadikannya jenderal dengan
status yang mentok?
Seorang jenderal jenius yang patuh, atau Napoleon yang tidak
akan pernah melakukan kudeta. Aku bisa menyerahkan seluruh urusan perang
kepadanya, sementara aku sebagai penguasa bisa fokus sepenuhnya pada urusan
politik.
Mungkin aku benar-benar bisa mengukir lembaran baru dalam
sejarah dunia ini.
"Ada apa,
Tuan Muda?"
Ophelia memandang
Noah dengan heran, karena Noah menatapnya sambil membelalakkan mata.
"Ah, tidak
apa-apa."
Maukah kamu
mencoba menguasai benua ini bersamaku?
Noah hampir saja
mengatakannya, namun ia segera menahan diri.
(Sekarang
bukan waktunya untuk mengatakan itu.)
Ia tidak yakin
Ophelia memang ingin menjadi jenderal. Lagipula, ia ragu ayahnya, Duke Fried,
akan memercayakan pasukan kepada putra keempat dari seorang selir.
Setidaknya untuk
saat ini, Noah tidak boleh egois dengan menyuruhnya menjadi jenderal.
"Ngomong-ngomong..."
"Iya, ada apa?"
"Berapa
umurmu, Ophelia?"
"Empat belas
tahun."
(Ternyata
seumuran denganku...)
Noah mengira dia
adalah kakak perempuan yang lebih tua, mengingat tingginya yang sudah melampaui
180 sentimeter.
(Kalau
sekarang saja setinggi itu, bakal seberapa raksasa dia di masa depan nanti?)
Pada akhirnya,
gadis itu memang tumbuh menjadi wanita perkasa dengan tinggi lebih dari 190
sentimeter.
◆◇◆
Seiring dengan
evolusi Skill Appraisal yang membuat penerjemahan bahasa antara
dunia lama dan dunia barunya menjadi lancar, rasa sakit kepala Noah mulai
menghilang.
Namun, hidup
dengan paparan teks yang lebih banyak dari orang normal akibat malfungsi skill
tetap saja melelahkan.
"Ophelia,
bacakan buku untukku."
"Lagi?"
"Mataku
lelah kalau membaca tulisan. Tolong bacakan untukku."
"Baiklah.
Buku mana yang ingin Anda dengar?"
"Sejarah
benua Giftia."
"Baik, Tuan
Muda."
Ophelia membuka
sebuah buku yang sangat tebal. Meskipun buku itu sangat berat, di tangan
Ophelia yang tinggi besar, buku itu tampak mungil seperti mainan.
"Dahulu,
hampir seluruh wilayah benua Giftia ini diperintah oleh Kerajaan Suci yang
perkasa. Para bangsawan, penguasa wilayah, dan ksatria bersumpah setia kepada
Raja, menjalin kontrak pengabdian, dan bekerja demi Sang Raja. Raja pun
membalas jasa para pengikutnya dengan memberikan imbalan yang melimpah."
"Namun,
terjadi sebuah insiden yang meruntuhkan tatanan tersebut: invasi ras iblis. Di
bawah pimpinan Raja Iblis yang kuat, pasukan iblis menyerang secara serentak
dan mengalahkan Kerajaan Suci. Kerajaan itu kehilangan harga diri serta
sebagian besar wilayahnya."
"Melihat
Kerajaan Suci kalah tanpa perlawanan berarti, para bangsawan merasa perlu
melakukan pertahanan mandiri. Mereka mulai membentuk pasukan tanpa izin
Kerajaan Suci dan lebih memprioritaskan kepentingan wilayah sendiri di atas
kepentingan pusat."
"Seiring
dengan hancurnya katedral-katedral di berbagai tempat oleh iblis, Paus pun
mulai meninggalkan Kerajaan Suci. Hal ini ditandai dengan dibukanya akses Gift.
Dahulu, ritual penetapan Gift hanya diberikan kepada keluarga kerajaan,
namun kemudian mulai diterapkan kepada para bangsawan daerah."
"Tak butuh
waktu lama sampai ritual itu juga diberlakukan untuk penguasa wilayah kecil dan
ksatria. Hasilnya, diketahui bahwa pemilik Gift seperti Holy Knight
atau Great Sage ternyata ada juga di luar keluarga kerajaan. Hal ini
mempercepat perpecahan."
"Meskipun
umat manusia sempat berhasil memukul mundur invasi iblis berkat terbukanya
akses Gift, jatuhnya wibawa Kerajaan Suci tidak bisa dihentikan lagi.
Kerajaan tidak mampu memberikan imbalan yang cukup kepada mereka yang berjasa
dalam perang. Para bangsawan mulai menuntut kemerdekaan, dan Paus
menyetujuinya."
"Kerajaan
Suci secara de facto bubar. Saat ini dunia berada dalam era kekacauan, di mana
semua orang mengandalkan mereka yang memiliki kekuatan. Paus pernah berkata:
'Siapa pun yang memiliki kekuatan boleh mengaku sebagai penguasa'. Otoritas
lama bertumbangan satu per satu, dan kekuatan-kekuatan baru lahir setiap
harinya."
Ophelia menghela
napas sambil menutup buku itu.
"Kudengar di
garis depan perbatasan wilayah iblis, bahkan wanita dan anak-anak pun
mengangkat pedang untuk bertarung. Meskipun Tuan Muda adalah keturunan
bangsawan, posisi Anda belum tentu aman. Anda harus menjadi kuat."
Sambil berkata
begitu, Ophelia mengelus kepala Noah dengan lembut.
◆◇◆
Suatu hari, saat
Noah sedang beristirahat di tengah latihan pedang, ia menyadari Ophelia menatap
tempat latihan itu dengan tatapan sedih.
(Apakah
Ophelia tidak berlatih pedang?)
Dengan potensi Melee
peringkat A, Ophelia pasti bisa menjadi ahli pedang jika dilatih. Seingat Noah,
dulu Ophelia pernah ikut latihan pedang bersama anak laki-laki sebayanya.
Saat itu pun dia
sudah sangat tinggi dan bertenaga, sehingga kekuatannya tak tertandingi dan
mampu mendominasi anak-anak lelaki lainnya.
Noah menghampiri
Ophelia dan menyapanya.
"Ophelia,
apakah kamu tidak ingin mengayunkan pedang?"
"Iya. Saya
tertarik, karena kedua orang tua saya dulunya adalah ksatria."
Ophelia menunduk
sedih.
(Ah, benar
juga. Kedua orang tuanya sudah...)
Orang tua Ophelia
adalah ksatria yang melayani keluarga Ubel, namun mereka gugur dalam perang dan
tak pernah kembali. Mungkin alasan dia sangat bersimpati kepada Noah adalah
karena mereka memiliki nasib yang serupa.
"Saya pernah
memohon kepada Yang Mulia Duke agar diizinkan menjadi ksatria keluarga Ubel.
Namun, beliau menjawab dengan dingin, 'Memangnya yatim piatu sepertimu tahu
caranya bersumpah setia kepada orang lain?'"
(Serius? Kejam
sekali Ayah.)
Meski begitu, di
dunia ini, perkataan tersebut bukanlah hal yang aneh. Walaupun ini adalah dunia
fantasi dengan sihir, sistem sosialnya masih bersifat feodal abad pertengahan
yang kental.
Status yatim
piatu sangat memengaruhi posisi sosial dan kredibilitas seseorang. Tapi di sisi
lain, Noah merasa perlakuan itu sangat tidak pantas bagi putri dari ksatria
yang mati demi negara.
Duke mungkin
sudah melupakan orang tua Ophelia. Terdengar tidak punya perasaan, tapi memang
begitulah ayahnya.
(Baiklah,
kalau begitu...)
Noah tiba-tiba
berdiri dan melepaskan belati yang tersampir di pinggangnya.
"Ophelia.
Aku memberikan pedang ini kepadamu."
"!?"
"Bersumpahlah
demi pedang ini untuk menjadi ksatriaku."
Ophelia tersenyum
lembut.
"Fufu. Anda
ingin menjadikan saya ksatria Anda, Tuan Muda?"
"Iya."
"Tapi, Tuan
Muda belum cukup umur untuk melantik seorang ksatria. Bagaimana ini?"
"Ugh. Kalau
soal itu... begini saja. Begitu aku dewasa dan menerima wilayah kekuasaan, aku
akan melantikmu sebagai ksatria pertamaku."
"Jadi
semacam janji masa depan ya? Terima kasih telah memilih saya sebagai ksatria
pertama Anda. Saya sangat merasa terhormat. Tapi..."
Ophelia menatap
pedang itu dengan sedih.
"Saya tidak
memiliki kualifikasi untuk menerima pedang ini."
Ophelia
mengembalikan pedang itu kepada Noah.
(Tidak punya
kualifikasi untuk menerima pedang... ya?)
Sejak saat itu,
Noah terus memikirkan hal tersebut.
(Apa
maksudnya? Apa Ophelia sudah bersumpah setia kepada orang lain selain aku?)
Tapi jika benar
begitu, dedikasi yang dia tunjukkan sehari-hari pada Noah tidak masuk akal.
Noah mencoba memeriksa skill Ophelia lagi.
Ophelia
Loyalty: C → S
Kesetiaannya
memiliki potensi peringkat S. Artinya, itu masih dalam tahap perkembangan.
Statistik Loyalty
adalah skill yang menunjukkan nilai aslinya saat seseorang menemukan pemimpin
yang layak ia layani. Sebaliknya, sebelum pemimpin itu muncul, kesetiaan
tersebut akan tetap tersembunyi.
Ophelia
bilang dia tidak punya kualifikasi. Itu artinya dia merasa belum pantas menjadi ksatria.
Namun, mungkin
alasan sebenarnya adalah Noah sendiri yang belum memenuhi kriteria sebagai
seorang pemimpin. Noah yang sekarang mungkin layak untuk menerima kesetiaan
kelas C, tapi belum cukup hebat untuk memicu kesetiaan peringkat S.
(Baiklah,
kalau begitu...)
Noah memutuskan
untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin kepada Ophelia. Kesempatan itu
datang lebih cepat dari perkiraan: ia mendengar bahwa pasukan utama pertama
yang dipimpin Albert sedang diganggu oleh serangan perampok.
◆◇◆
Saat itu, Albert
sudah dewasa dan sedang menjalankan tugas ekspedisi. Namun, jalur logistik
antara garis depan dan markas besar terancam oleh perampok, sehingga
ekspedisinya terhambat.
Noah mengusulkan
pembentukan unit tentara bayaran kepada Albert. Menghadapi perampok paling
efektif menggunakan kavaleri. Namun, di pasukan reguler Ubel, orang berstatus rendah dilarang
memimpin kavaleri.
Jika begitu,
kenapa tidak menggunakan kavaleri dari kalangan rakyat jelata sebagai tentara
bayaran tambahan? Noah ingin membantu pasukan utama Albert sekaligus melindungi
rakyat dari jarahan perampok.
Albert, yang
memang peduli pada rakyat kecil, menerima usulan Noah. Ia juga ingin memberi
kesempatan pada Noah untuk memperbaiki reputasinya di depan ayah mereka.
Awalnya, mereka
menggunakan nama perwakilan lain agar Noah tidak terlalu menonjol. Sang Duke
sempat keberatan, namun akhirnya setuju setelah diyakinkan bahwa ini hanyalah
unit pembantu logistik yang bisa dibubarkan kapan saja.
Noah segera membentuk unit tersebut. Dengan kemampuannya
melihat potensi Cavalry, ia berhasil mengumpulkan seratus ksatria
berkuda yang mahir bertarung dalam sebulan.
Mereka tidak hanya menghalau perampok, tapi juga memburu
hingga ke sarang-sarangnya dan membasmi mereka sampai ke akar.
"Aksi yang
luar biasa, Tuan Noah," puji Ophelia dengan tulus. "Melihat Anda bekerja demi
rakyat, Anda sungguh hebat. Benar-benar putra Yang Mulia Duke."
Ophelia
Loyalty: B (↖)
(Loyalty-nya
naik. Benar, semakin
aku menunjukkan kapasitas sebagai pemimpin, semakin tinggi kesetiaannya.)
Saat Noah
menawarkan Ophelia untuk memimpin tentara bayaran, gadis itu menerimanya dengan
antusias. Kemampuan komando dan ketajaman insting Ophelia bahkan membuat Noah
merinding.
Logistik
Albert menjadi lancar, dan situasi perang membaik. Sejak saat itu, Ophelia
sering bergabung di kamp Albert sebagai pengawal sekaligus kapten tentara
bayaran. Di sana, ia mulai menyadari betapa cerobohnya pengelolaan administrasi
di kubu Albert.
◆◇◆
Meski
Noah dan Ophelia berhasil memulihkan wilayah dan meningkatkan pendapatan pajak
melalui keamanan yang terjaga, kesuksesan ini berakhir mendadak.
Sang Duke
mengetahui bahwa Noah adalah pemimpin asli unit tentara bayaran tersebut.
Sepertinya ada yang mengadu.
Duke
Fried memerintahkan pembubaran unit tersebut tanpa membayar gaji yang
dijanjikan. Akibatnya, para tentara bayaran yang kelaparan justru berubah
menjadi perampok sungguhan.
Dengan
kuda dan kemampuan bertarung yang diberikan Noah, mereka menyerang jalur
logistik Albert, membuat situasi perang kembali memburuk.
Sang Duke
murka dan bertanya siapa yang memberikan kuda pada para tentara itu. Albert
menjawab jujur bahwa itu adalah perbuatan Noah karena Noah melihat bakat
mereka. Niat Albert adalah memuji Noah, namun di mata sang Duke, citra Noah
justru semakin hancur.
◆◇◆
"Sepertinya
wilayah Anglin mulai menggunakan rakyat jelata sebagai kavaleri," lapor
Ophelia yang kini kembali menjadi pelayan sambil menuangkan teh.
"Mereka
juga merombak sistem komando; jika dulu satu ksatria memimpin sepuluh
infanteri, kini satu ksatria memimpin seratus prajurit."
Ophelia
menghela napas. "Padahal itu semua adalah ide Tuan Noah, sungguh
disayangkan musuh justru yang menerapkannya lebih dulu."
Saat ini,
skill Leadership dan Strategy Ophelia telah meningkat tajam.
Sebagai pelayan, ia kini mampu memahami berita militer dengan sangat cepat.
Namun, di sisi
lain, nilai Loyalty Ophelia turun kembali ke C.
Ophelia
Loyalty: C (↘)
Noah mulai paham
mekanismenya. Jika Noah bertindak sebagai pemimpin yang layak, kesetiaannya
naik. Tapi jika Noah tunduk pada kehendak Duke Fried, kesetiaannya turun.
Sepertinya
Ophelia sedang mencari sosok pria yang berani melawan Duke Ubel. Sosok yang
bisa mengalahkan ayahnya dan membebaskan dirinya.
(Ayah... ya.)
Noah mencoba
menggali ingatan samar tentang orang tuanya di kehidupan lampau. Ia lahir di
keluarga kaya, tapi hidupnya tidak bahagia karena ia hanya hidup menuruti
keinginan orang tuanya.
Ayahnya ingin dia
jadi elite, ibunya ingin dia mahir bermusik. Ia menahannya demi mereka, tapi
akhirnya gagal di keduanya. Ia tidak berbakat di sana. Akhirnya orang tuanya
bercerai karena kecewa padanya, dan sisa hidupnya dihabiskan dalam kegalauan
sampai ia mati dalam penyesalan.
Pelajaran yang ia
petik: menuruti kata orang tua tidak menjamin kebahagiaan. Orang tua tidak bisa
bertanggung jawab atas kegagalan hidup anaknya.
Lalu bagaimana
dengan hidup kali ini? Duke Fried hanya ingin Noah hidup tenang sebagai putra
keempat yang tidak menonjol. Apakah ada gunanya menuruti keinginan ayahnya jika
itu berarti harus menginjak-injak kesetiaan calon Jenderal Besar seperti
Ophelia?
"Baiklah.
Aku sudah memutuskan."
"Tuan
Muda?"
"Ophelia,
aku berniat mandiri dari keluarga ini."
"Mandiri!?"
"Terus
bekerja di bawah Ayah tidak akan membuatku lebih kuat. Aku tidak bisa melatih
bawahan atau bekerja untuk rakyat. Aku akan membangun jalanku sendiri."
Ophelia terpana.
Ia terkesan melihat tekad Noah. Sebagai bangsawan, Noah bisa saja hidup manja
mengandalkan kekayaan ayahnya seperti saudara-saudaranya yang lain. Tapi Noah
justru sudah meninggalkan kepercayaan pada ayahnya bahkan sebelum ia dewasa.
Noah mengambil
pedangnya dan mengulurkannya pada Ophelia.
"Aku tanya
sekali lagi. Ophelia, aku berikan pedang ini padamu. Maukah kamu bersumpah demi
pedang ini untuk menjadi ksatriaku?"
Ophelia menatap
pedang itu dengan terpesona, namun ia sempat ragu kembali.
(Aku tidak
mungkin mengatakannya... bahwa aku bersumpah setia padamu sambil membenci
ayahmu.)
"Tapi, jika
Anda menjadikanku ksatria, Anda akan semakin dibenci oleh Yang Mulia Duke."
"Jika Ayah
menghalangi, aku akan melawannya."
"Tuan
Muda..."
"Kamu punya
kualifikasi untuk menerima pedang ini dan menjadi ksatriaku. Tidak peduli apa
pun kata Ayah."
Pada saat itu, di
mata Ophelia, Noah tampak seperti sosok yang telah melampaui kebesaran sang Duke.
"Atas nama
Noah von Ubel, aku memerintahkanmu. Ksatria Ophelia, bersumpahlah setia
selamanya kepadaku."
(Setia
selamanya.)
Secara alami,
Ophelia berlutut di depan Noah dan menerima pedang itu.
◆◇◆
Sejak saat itu,
Ophelia berlatih pedang dengan gila-gilaan. Noah mengatur segalanya agar
Ophelia bisa masuk ke tempat latihan militer keluarga Ubel.
Jika biasanya ia
bersikap lembut, saat memegang pedang, Ophelia berubah menjadi orang yang
berbeda. Dengan jangkauan tangan yang panjang, tenaga besar, dan kecepatan luar
biasa, ia menumbangkan semua pria di tempat latihan dalam waktu sebulan.
Ia juga mulai
terjun ke medan perang sesungguhnya di bawah komando Albert atas rekomendasi
Noah. Di sana ia belajar membunuh. Albert mengakui kehebatannya dan selalu
membawanya berperang, namun Ophelia menolak semua hadiah dari Albert. Ia hanya
mengakui Noah sebagai satu-satunya tuannya.
Noah dan Ophelia
pun mulai menyusun rencana kemandirian secara rahasia. Mereka membutuhkan tanah
yang jauh dari jangkauan sang Duke, dan pilihan mereka jatuh pada wilayah
terpencil Arcloy.
Arcloy adalah tanah tandus yang luas, cocok untuk keahlian Field
Battle Ophelia. Di sana juga tinggal kaum Kijin (Manusia Iblis) yang mahir
kavaleri, sangat pas dengan pengetahuan Noah dalam melatih pasukan berkuda.
Mereka pun diam-diam menghasut Rudolf agar mengusulkan
pengiriman Noah ke Arcloy guna menyingkirkan satu saingan.
◆◇◆
Enam tahun berlalu sejak saat itu. Hari ini, di Hari
Keberangkatan, Ophelia berlutut di depan Noah sebagai ksatrianya.
(Akhirnya tiba saatnya. Sekarang aku bisa melayani Tuan
Noah sepenuhnya.)
Selesai dengan ritual pengabdian, Ophelia menatap Noah
dengan penuh kekaguman. Noah kini sedang menjalani ritual serah terima wilayah
Arcloy di depan pendeta.
"Noah, kini telah ditetapkan bahwa kamu akan menerima
wilayah Arcloy. Atas kehendak Tuhan, jadilah penguasa yang memimpin rakyat dan
bersumpahlah untuk melindungi tanah ini dari musuh. Apakah kamu bersumpah untuk
menyerahkan dirimu demi melindungi tanah ini sebagai wakil Tuhan?"
"Ya. Saya bersumpah."



Post a Comment