Chapter 1
Si Bodoh dari Wilayah Kadipaten
Giftia, sebuah
benua tempat kesucian dan sihir bercampur baur.
Di salah satu
sudut benua tersebut, berdiri dengan kokoh sebuah negara bernama Kadipaten
Agung Ubel.
Negara yang
dipimpin oleh Penguasa Fried von Ubel ini memiliki wilayah yang luas, membawahi
kota-kota dagang yang maju serta tujuh belas benteng pertahanan yang kuat.
Bahkan di era
perang di mana banyak negara bangkit lalu hancur layaknya komet, wilayah ini
tetap membanggakan kemakmuran yang stabil dan dikenal sebagai salah satu
kekuatan besar di benua tersebut.
Hari ini, di
kediaman sang Duke, Penguasa Fried mengundang para pengikut utama dan
anak-anaknya ke ruang audiensi.
Sudah menjadi
tradisi di keluarga Ubel bahwa setiap anak yang mencapai usia dewasa akan
diberikan kepercayaan untuk mengelola dan memerintah sebagian wilayah.
Rencananya, hari
ini akan dilaksanakan upacara kedewasaan bagi putra ketiga, Rudolf, dan putra
keempat, Noah.
Duke Fried
menyapa para pengikut dan putra-putranya yang telah berkumpul. Senyum
tersungging dari mulutnya yang terlihat di balik janggut putihnya.
"Wahai para
pengikut yang menyokong negara ini. Terima kasih telah berkumpul hari ini. Aku telah mendengar semua
kontribusi yang kalian berikan setiap harinya."
"Saat
perang tiba, kalian menjadi pahlawan yang setara dengan seribu prajurit untuk
menumpas musuh. Saat memerintah, kalian menjadi abdi yang bijak untuk
menenangkan rakyat."
"Berkat
kalian, klan kita semakin berkuasa, rakyat menikmati kelimpahan, dan negara ini
pun makmur. Di tengah dunia yang dilanda badai peperangan, negara kita tetap
tenang layaknya laut yang teduh."
"Nah,
tujuan utama aku mengumpulkan kalian hari ini tidak lain adalah karena putra
ketigaku, Rudolf, dan putra keempatku, Noah, akan menjalani upacara kedewasaan
bersama-sama."
"Selain
itu, aku juga bermaksud memperkenalkan kembali kedua putraku yang sudah dewasa
setelah memberikan konfirmasi atas wilayah kekuasaan baru mereka. Kalian mungkin berpikir aku terlalu
memanjakan anak, tapi tolong ikuti saja acara ini."
Para pengikut pun
bersorak, menunjukkan persetujuan atas kebijakan sang penguasa.
"Hidup Duke
Fried!"
"Jayalah
wilayah Ubel!"
"Semoga
kebahagiaan selalu menyertai pemerintahan Yang Mulia Duke!"
"Semoga
berkat Tuhan tercurah kepada Yang Mulia Duke dan keempat putranya!"
Puas
dengan reaksi para pengikutnya, sang Duke mengangkat tangan, mengisyaratkan
mereka untuk tenang.
Para
bawahan itu seketika berhenti bersorak dan bersikap khidmat.
"Terima
kasih semuanya. Kalau begitu, mari langsung saja kuperkenalkan mereka. Pertama,
Putra Pertama, Albert."
"Siap."
Bahu yang lebar
dan perawakan tubuh yang kokoh terlihat jelas dari zirah yang ia kenakan. Di
atas zirah itu, terpampang wajah dengan ekspresi yang lembut.
Albert, si putra
sulung yang memiliki penampilan bak ksatria keadilan sejati, melangkah maju ke
hadapan sang Duke.
"Albert.
Kamu adalah sosok yang adil dan penuh kasih sayang terhadap sesama, benar-benar
memiliki bakat sebagai seorang penguasa."
"Kamu
memberikan hadiah kepada bawahan yang berjasa dan tak pernah lupa memperhatikan
rakyat jelata. Dalam
hal rasa tanggung jawab dan popularitas, tidak ada yang bisa menandingimu.
Sebagai putra tertua, kepribadianmu adalah teladan bagi adik-adikmu. Ayah
bangga padamu."
"Gift
yang kamu terima saat upacara kedewasaan pun sangat luar biasa, yaitu Holy
Knight. Kamu sudah mengelola Benteng Flugen, titik kunci pertahanan kita
yang berbatasan dengan negara musuh, Anglin."
"Kudengar,
meskipun kamu adalah jenderal dari sebuah pasukan, kamu tetap berdiri di garis
terdepan dan telah memenangkan duel satu lawan satu berkali-kali. Kali ini,
sebagai imbalan atas jasa itu, aku juga akan memercayakan penjagaan Benteng
Banus kepadamu."
"Aku
berharap kamu terus berupaya keras sebagai pewaris yang akan meneruskan wilayah
ini."
"Baik. Saya
akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa memenuhi harapan Ayahanda."
Sorak-sorai membahana dari kubu Albert.
"Hidup Tuan Albert!"
"Kemuliaan
bagi Benteng Flugen!"
"Wahai
Dewa Perang! Berikanlah
kemenangan bagi calon penguasa kami selanjutnya!"
Sang Duke
mengangguk dalam, merasa puas dengan reaksi para pengikutnya.
"Lalu, mari
kita lanjut. Putra Kedua, Ian."
"Ya."
Sosok yang maju
adalah seorang pemuda kurus berwajah tirus yang mengenakan jubah pendeta dan
kacamata, memberikan kesan seorang cendekiawan.
Ian, si putra
kedua yang penampilannya sangat mencerminkan seorang jenius, melangkah ke
depan.
"Ian. Kamu
unggul dalam studi dan berwawasan luas. Pengetahuanmu sedalam lautan dan
setinggi gunung. Statusmu sebagai pemuka agama pun sudah dipastikan."
"Aku ingin
kamu memanfaatkan kebijaksanaan hebat itu dalam urusan dalam negeri dan
membantu Albert. Gift yang kamu terima saat upacara kedewasaan pun tak
tercela, yaitu Great Sage."
"Kamu sudah
kupercayakan untuk memerintah Benteng Raun dan wilayah di mana katedral
terbesar di negara ini berada. Kudengar, kemampuan administrasi dalam negerimu
yang luar biasa telah berhasil melipatgandakan pendapatan pajak wilayah."
"Kali ini,
sebagai imbalan atas jasa tersebut, aku juga akan menunjukmu sebagai penguasa
Benteng Nils. Aku berharap pengetahuanmu dapat mengelola urusan domestik di
wilayah ini, serta menjadi penasihat yang baik bagi saudara-saudaramu, para
pengikut, dan rakyat."
"Baik. Saya
menerima tugas ini dengan penuh hormat."
Kubu putra kedua,
Ian, bersorak gembira.
"Hidup Tuan
Ian!"
"Kemuliaan
bagi Benteng Raun!"
"Wahai Dewa
Kebijaksanaan! Berikanlah hikmat abadi kepada cendekiawan kami!"
Dukungan itu
terutama berasal dari kalangan pendeta, cendekiawan, serta pihak-pihak yang
berhubungan dengan agama dan universitas.
Sang Duke pun
merasa puas dengan reaksi para pengikutnya.
"Selanjutnya,
Putra Ketiga, Rudolf."
"Ya."
Seorang pemuda
yang mengenakan topi dengan hiasan bulu mewah melangkah maju dengan langkah
yang ringan.
Ia tampak
berbakat, namun raut wajahnya terlihat sedikit licik.
Dia adalah
Rudolf, putra ketiga yang benar-benar memberikan kesan sebagai bangsawan muda
yang angkuh.
"Rudolf.
Kamu penuh akal, tajam dalam melihat keuntungan, dan memiliki kecerdasan yang
luar biasa. Cara-caramu merespons perubahan sungguh sangat adaptif."
"Jika saja
kamu lahir sebagai rakyat jelata dan bukan bangsawan, kamu pasti sudah menjadi
pedagang besar. Untungnya, sekarang adalah era perang. Di zaman di mana musuh
kemarin bisa menjadi teman hari ini, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan
menjadi semakin penting."
"Aku ingin
kamu memanfaatkan bakat itu untuk menangani diplomasi negara kita. Kudengar,
kamu sudah mendekati tokoh-tokoh penting di berbagai negara dan sedang
merencanakan aliansi persahabatan dengan sepuluh negara."
"Kali ini,
aku menghargai upayamu itu dan berniat memercayakan pengelolaan Kota Cosmo,
kota internasional terbesar di wilayah kita, beserta bentengnya kepadamu. Masa
depan negara ini sepenuhnya bergantung pada kemampuan diplomasimu. Aku
mengandalkanmu."
"Baik. Saya
akan menjalankan tugas ini dengan sepenuh hati agar tidak mengecewakan harapan
Ayahanda."
Kubu putra
ketiga, Rudolf, bersorak-sorai.
"Hidup Tuan
Rudolf!"
"Kemuliaan
bagi Benteng Cosmo!"
"Wahai Dewa
Keberuntungan! Sinarilah jalan bagi pemandu kami!"
Dukungan
ini terutama datang dari para pedagang, utusan luar negeri, dan pihak eksternal
lainnya.
Sang Duke
pun merasa puas dengan reaksi mereka.
"Nah,
sekarang tinggal yang terakhir. Huft."
Nada
bicara sang Duke yang tadinya ceria berubah drastis menjadi berat.
Seiring
dengan itu, suasana di dalam ruangan pun mulai terasa mendung dan suram.
"Putra
Keempat, Noah."
"Ya."
Melangkah maju ke depan, si bungsu Noah yang membawa atmosfer tenang dan santai.
Wajah Noah yang tampak mengantuk itu seolah-olah berkata,
"Kapan pembicaraan ini berakhir?", memancarkan aura bosan yang luar
biasa.
Hal itu
seketika membuat sang Duke merasa jengkel.
"Noah, kamu
ini... bagaimana ya mengatakannya. Sejak dulu kamu hanya melakukan hal-hal
aneh, si bodoh... maksudku, itu... menyuruh pelayan memegang pedang, menyuruh
pelayan mempelajari teknik penyihir, menyuruh pelayan berbicara dengan naga....
Entah itu disebut nyeleneh atau memang aku tidak tahu apa yang ada di
pikiranmu...."
Sang Duke yang
tadinya bicara dengan lancar tentang kasih sayang keluarga, kini mendadak
bicara terbata-bata seperti ada sesuatu yang mengganjal di giginya.
(G-Gawat. Aku
sama sekali tidak bisa memikirkan kata-kata untuk memuji anak ini.)
Di antara
saudara-saudaranya, hanya Noah yang tidak menunjukkan prestasi maupun
kecerdasan yang menonjol.
Keberanian,
kecerdasan, maupun bakat, tidak ada satu pun yang patut dicatat.
"Karena Yang
Mulia Duke tampak lelah, izinkan saya yang mengambil alih bagian ini."
Nona Irina,
keponakan sang Duke sekaligus primadona di keluarga itu, melangkah maju.
"Tuan Noah
adalah sosok yang berjiwa besar dan memiliki imajinasi yang tak terduga. Skala
pemikirannya begitu luas hingga mampu menutupi langit. Pemikiran yang mendobrak
adat itu sanggup membalikkan bumi. Beliau berada di tempat yang tidak terjangkau
oleh imajinasi orang biasa."
"Justru
karena bakatnya yang meluap-luap itulah, beliau masih menjadi permata yang
belum terasah. Beliau pasti akan menjadi yang paling lambat mekar di antara
semua, namun akan menjadi bunga yang paling besar dan indah."
"Hm.
Benar. Begitu. Itu dia! Aku
juga sebenarnya ingin mengatakan hal seperti itu. Kerja bagus, Irina."
(Anak ini
benar-benar pandai bicara. Dia memang sudah terbiasa melontarkan rayuan manis.)
"Yah,
pokoknya bakatmu masih belum terukur. Namun, jika tidak diasah, bakat hanya
akan berkarat. Teruslah berusaha tanpa henti."
Noah terus
menatap wajah ayahnya dengan tatapan kosong selama beberapa saat, lalu
tiba-tiba tersadar saat menyadari suasana di sekitarnya mendadak sunyi.
"……Hm? Ah, ceritanya sudah selesai? Kalau begitu, saya permisi dulu ya."
(Cih. Si bodoh
ini. Padahal Irina sudah membantunya dengan susah payah.)
"Noah,
wilayah yang akan dibagikan untukmu masih ditangguhkan. Kita akan melihat Gift-mu
dalam upacara kedewasaan setelah ini, lalu aku akan memberikan jabatan dan
wilayah yang sesuai. Sampai saat itu, tetaplah di sini. Jangan pergi ke
mana-mana sesukamu!"
Sang Duke
mengatakannya dengan nada yang terdengar kesal.
Entah Noah
mendengarkan atau tidak, dia hanya berusaha menahan kantuknya.
Ruangan itu sunyi
senyap.
Pada akhirnya,
teriakan "Hidup Tuan Noah!" sama sekali tidak terdengar dari para
pengikut.
Upacara kedewasaan adalah ritual yang wajib dijalani oleh
putra-putri bangsawan di dunia ini saat mereka mencapai usia dewasa.
Melalui ritual ini, mereka akan diberitahu tentang Gift
yang berupa bakat alami, gelar, serta roh pelindung. Mereka juga akan menyadari alasan mereka lahir ke
dunia ini, misi, bakat, serta keahlian yang cocok untuk dipelajari.
Bagi kelas
bangsawan yang mementingkan garis keturunan, Gift ini sangatlah krusial.
Para penguasa wilayah tidak pernah berhenti berdoa agar putra-putri mereka
dianugerahi Gift yang luar biasa.
Di era peperangan
sekarang ini, pentingnya Gift semakin meningkat dan diposisikan sebagai
indikator untuk meramal masa depan wilayah, tren peperangan, hingga pengaruh
terhadap para bawahan.
Menerima Gift
saat dewasa dianggap sebagai hal yang ideal, dan saat ini hal tersebut menjadi
hak istimewa bagi kaum bangsawan.
Pemberian
Gift dilakukan di katedral gereja dan diumumkan oleh pendeta.
Duke
Fried membawa putra-putranya pindah dari ruangan pengumuman wilayah tadi menuju
katedral yang berada tepat di sebelahnya, lalu melaksanakan upacara kedewasaan
untuk Rudolf dan Noah.
"Kalau
begitu, Rudolf, sentuhlah kristal ini."
Saat
pendeta mengatakannya, Rudolf melangkah maju ke depan kristal.
"Oke."
"Ooh!
Ini!"
Mata sang
pendeta membelalak.
"Luar
biasa, betapa membahagiakannya hari ini. Bisa melihat dua Gift langka
sekaligus."
"Maksudmu?"
Sang Duke
mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Lihatlah
tulisan ini."
Itu adalah
tulisan suci yang hanya bisa dibaca oleh pendeta.
Meski begitu,
jika disalin, hal itu bisa menjadi bukti yang sah.
Putra kedua, Ian,
yang sudah dipastikan akan mendapat posisi tinggi di gereja, juga ikut
membetulkan posisi kacamatanya sambil menatap tajam ke arah tulisan suci
tersebut.
"Yang Mulia Duke,
bersenanghatilah. Gift yang diterima Tuan Rudolf adalah Millionaire
dan Pegasus Blessing."
"Apa!
Benarkah itu?!"
"Demi Tuhan,
ini tidak salah lagi. Tulisan suci ini, dilihat dari sudut mana pun, hanya bisa
dibaca sebagai Millionaire dan Pegasus Blessing."
"Ayahanda,
apa yang dikatakan pendeta itu benar. Aku sendiri yang akan menjaminnya."
Ian memberikan
kepastian atas diagnosis sang pendeta.
"Rudolf!
Betapa berbaktinya kamu kepada orang tuamu!"
Saking
terharunya, sang Duke sampai memeluk Rudolf.
"Hahaha.
Berhentilah, Ayahanda. Ayah terlalu berlebihan."
"Tentu saja
tidak. Dengan ini, masa depanmu sudah bisa dipastikan terjamin. Ayah bangga
padamu!"
Bukan hanya sang Duke,
para pengikut juga memberikan tepuk tangan meriah kepada Rudolf.
Rudolf merespons
dengan melambaikan tangan kepada para pengikut, tampak sangat menikmati
perhatian tersebut.
Sikap sang Duke
yang tadinya kesal pun melunak, kini ia tersenyum ramah dengan penuh
kegembiraan.
Rudolf
mendapatkan Gift yang luar biasa.
Jika
begini, Noah juga pasti akan mendapatkan Gift yang bagus.
Yah,
meski Noah adalah si bodoh yang selalu bertingkah aneh dan memiliki banyak
kekurangan baik dalam kepribadian maupun kemampuan, asalkan Gift-nya
bagus, hal itu akan menutupi semua poin negatifnya dan membawa keuntungan besar
bagi Kadipaten Agung Ubel.
"Nah, kalau
begitu, sekarang giliran Noah. Wahai pendeta, cepat tentukan Gift cemerlang milik putra
bungsu-ku ini."
"Baik. Kalau
begitu, putra Tuhan, Noah, majulah dan sentuh kristal ini."
"Ya."
Noah menyentuh
kristal itu dengan sikap yang terlihat lebih serius dari biasanya.
Sang Duke
mengawasi momen itu dengan senyuman yang sangat ramah.
Sikap
neurotik yang ia tunjukkan pada Noah sebelumnya seolah-olah hanya bohong
belaka.
Tulisan suci
muncul di permukaan kristal.
Mata sang pendeta
terbuka lebar.
Ia menatap
kristal itu begitu dalam seolah-olah ingin melubanginya.
Ia memandang
kristal tersebut dengan sangat intens, hingga membuat orang khawatir matanya
akan copot.
Sikapnya tampak
seperti sedang mencari sesuatu dengan putus asa.
Garis-garis merah
halus bermunculan di matanya, dan bibirnya bergetar.
"Ada apa,
pendeta? Tulisan sucinya sudah muncul, bukan? Cepat beritahu semua orang tentang Gift
milik Noah."
"……Baik."
Setelah
dipanggil oleh sang Duke, akhirnya pendeta itu mengalihkan pandangannya dari
kristal.
Sesaat,
ia memberikan tatapan kasihan kepada Noah, lalu berbalik menghadap sang Duke.
"Yang
Mulia Duke. Tolong dengarkan ini dengan tenang. Gift yang diberikan
kepada putra Anda adalah Appraiser."
"Hm.
Begitu ya. Ada lagi?"
"Tidak
ada lagi."
Katedral
itu seketika menjadi sunyi senyap seperti disiram air.
"Jadi,
kamu ingin mengatakan bahwa Gift yang diberikan kepada Noah hanyalah Appraiser?"
Sang Duke
akhirnya bersuara sambil bibirnya gemetar.
"Benar.
Tepat sekali seperti itu. Gift yang diberikan kepada Tuan Noah adalah Appraiser.
Hanya itu saja."
"Yah,
akhirnya cuma Appraiser ya."
Suara santai Noah
bergema dengan sangat jelas di katedral yang sunyi itu.
"Kalau cuma
begini, harusnya tidak perlu pakai ritual segala—"
"Dasar
kurang ajar!"
Sang Duke
menghantamkan tongkat di tangannya ke samping wajah Noah sekuat tenaga.
"Akh!"
Noah tersungkur
ke lantai.
"Berani-beraninya
kamu bilang begitu padahal cuma dapat Appraiser?! Untuk apa mendapatkan Gift
yang tidak berguna seperti itu! Dasar bodoh! Di saat saudara-saudaramu yang
lain mendapatkan Gift yang hebat, hanya kamu satu-satunya yang
mendapatkan Gift sampah seperti ini!"
Noah
bangkit sambil menyeka darah yang keluar dari bibirnya yang robek.
Meskipun
baru saja dipukul, wajahnya justru menunjukkan senyum menantang.
"Heh.
Maaf saja, Ayahanda. Tapi Gift apa pun, jika tidak bisa dikuasai, hanya
akan menjadi harta yang sia-sia."
"Bisa-bisanya
kamu mempermalukanku di tempat para pengikut berkumpul seperti ini!"
"Sebaliknya,
Gift apa pun itu, jika bisa dikuasai dengan benar, siapa pun bisa
menjadi orang hebat!"
"Dasar kamu
ini selalu saja begini! Hanya bisa merepotkanku saja, dasar si bodoh!"
"Wah,
pembicaraannya jadi tidak nyambung ya," ucap Irina dengan nada geli.
"Ya. Kalau
sudah begini, bicara apa pun kepada Ayahanda akan sia-sia saja," ucap Ian
dengan pasrah.
"Aku sudah
tidak tahan lagi. Noah, mulai hari ini, kamu diusir dari wilayah ini!"
"Tunggu
dulu, Ayahanda."
Putra pertama,
Albert, melangkah maju ke hadapan sang Duke.
"Meskipun
adikku ini bodoh, dia tetap putra bungsu keluarga Ubel. Meskipun dia adalah
anak dari selir, hukuman pengusiran rasanya akan memberikan citra yang buruk
bagi keluarga."
Mendengar
saran dari Albert, sang Duke yang murka pun terpaksa mendengarkan dan mencoba
untuk tenang.
"Fuu....
Memang benar. Pengusiran mungkin terlalu berlebihan. Tapi, bagaimana? Aku tidak
bisa memberikan wilayah kepada orang yang hanya memiliki Gift tidak
berguna seperti Appraiser ini."
"Ayahanda,
saya punya sebuah rencana."
Rudolf
melangkah maju dengan senyum licik di wajahnya.
"Bagaimana jika kita memberikan wilayah terpencil
Arcloy kepada Noah?"
"Arcloy? Ha! Begitu ya. Aku mengerti apa yang ingin
kamu katakan. Kamu ingin membuang si pembuat masalah ini ke tanah tandus yang
tidak menghasilkan apa-apa itu, kan?"
"Benar. Arcloy adalah wilayah kantong di Kadipaten
Agung Ubel yang sulit dikelola, bahkan kabarnya dihuni oleh iblis. Namun, jika dibiarkan begitu saja, itu
akan merusak reputasi kita. Jika direbut musuh, orang akan bilang negara kita
kalah. Jika terjadi pemberontakan rakyat, keluarga kita akan dicemooh sebagai
orang bodoh yang digigit anjing peliharaannya sendiri. Tapi jika kita
menjadikannya sebagai wilayah yang dibagikan kepada si bodoh ini...."
"Maka jika
wilayah itu diserang musuh atau terjadi pemberontakan, kita bisa dengan mudah
melemparkan tanggung jawabnya kepada si bodoh ini. Fuhaha! Luar biasa, Rudolf.
Itu strategi yang cukup bagus. Baiklah. Noah, aku akan memberimu wilayah
terpencil Arcloy. Tidak ada keberatan, kan?"
Sorak-sorai
membahana di katedral.
"Selamat,
Tuan Noah!"
"Hidup Tuan
Noah!"
"Kemuliaan bagi wilayah terpencil Arcloy!"
"Wah, syukurlah. Dua masalah besar langsung selesai
sekaligus."
"Dengan begini, wilayah kita akan tetap aman."
Setelah itu, acara jamuan diadakan. Keluarga Duke dan para
pengikut menikmati makanan dan bersosialisasi dalam suasana yang hangat.
Seolah-olah anggota keluarga yang bermasalah itu tidak
pernah ada sejak awal.
◆◇◆
Sehari setelah upacara kedewasaan. Para pelayan yang bekerja
di kediaman Duke berkumpul di ruang tunggu depan aula utama dengan perasaan
gelisah yang tidak biasa.
Mereka saling
bertukar pandang satu sama lain, tampak asyik berbisik-bisik.
Wajar jika para
pelayan merasa bersemangat.
Sebab hari ini
adalah hari pengambilan keputusan besar bagi mereka.
Hari di mana
keempat putra Duke akan meninggalkan kediaman ini menuju wilayah masing-masing,
atau yang biasa disebut "Hari Keberangkatan".
Dalam acara
tradisi keluarga Ubel ini, sang penguasa mengizinkan anak-anaknya membawa
pengikut sebagai bekal keberangkatan.
Tentu saja, para
pengikut akan memilih untuk mengikuti saudara yang dianggap paling menjanjikan
masa depannya.
Bagi para
pelayan, ini adalah pilihan hidup yang sangat penting.
Bagi mereka yang
praktis tidak memiliki kebebasan memilih profesi, inilah satu-satunya momen
dalam hidup mereka di mana mereka bisa menentukan jalan hidup sendiri.
Selain itu, bagi
gadis-gadis muda yang suka bermimpi, jika mereka berhasil menarik perhatian di
sini, ada peluang untuk "menikah dengan orang kaya". Kalaupun tidak
sampai ke sana, setidaknya ini adalah kesempatan untuk mencalonkan diri menjadi
wanita simpanan tuan muda bangsawan.
Karena itulah
mereka sangat bersemangat menghadapi Hari Keberangkatan ini.
Bagi putra-putra
penguasa, acara megah ini juga merupakan ritual peralihan yang tidak boleh
dianggap remeh.
Sebab, ada
tidaknya jiwa kepemimpinan merupakan indikator penting untuk mengukur masa
depan mereka sebagai keturunan bangsawan, terutama di era perang seperti
sekarang.
Yang terpenting,
Hari Keberangkatan ini adalah momen di mana ayah mereka, Duke Fried, akan
menilai popularitas dan kualitas mereka secara ketat. Penilaian di sini
benar-benar akan memengaruhi masa depan mereka.
Demi hari ini,
putra-putra penguasa telah melakukan berbagai kampanye politik di dalam
kediaman ini untuk mempromosikan diri mereka.
Putra pertama,
Albert, dan putra kedua, Ian, sebenarnya sudah memiliki wilayah dan pernah
mengalami Hari Keberangkatan sebelumnya, namun mereka tetap tidak boleh lengah.
Bawahan
yang kompeten tidak akan pernah cukup. Terlebih lagi, para tetua yang telah
melayani keluarga ini secara turun-temurun masih tinggal di kediaman ini dan
belum sepenuhnya mengakui kemampuan Albert maupun Ian.
Akan
sangat memalukan jika pengikut yang sebelumnya ikut dengan mereka malah
berpindah haluan ke saudara yang lain.
Secara
teknis, itu adalah sebuah kegagalan di hadapan sang Duke.
Oleh
karena itu, baik Albert maupun Ian tidak bersantai meskipun lawan mereka adalah
adik sendiri. Mereka telah
melakukan persiapan yang matang demi hari ini.
"Hm.
Sepertinya persiapannya sudah selesai."
Sang Duke
yang berdiri di ujung aula berkata sambil memperhatikan anak-anaknya yang
sedang bersiap.
"Benar.
Persiapan para tuan muda sudah selesai."
Pelayan kepala
kediaman berkata dengan hormat.
"Tidak
ada yang terlewat, kan?"
"Benar.
Seluruh pengikut dan pelayan sudah bersiap di dalam, dan di luar juga sudah
disediakan kereta kuda untuk mengantar mereka."
"Baiklah.
Mulai!"
"Siap!"
Pintu-pintu
ruang tunggu terbuka, dan para pengikut serta pelayan bergegas menghampiri
putra-putra penguasa pilihan mereka.
"Tuan
Albert. Tolong izinkan saya menggunakan nyawa ini demi Anda."
"Tuan
Ian. Apakah Anda masih ingat
saya? Saya adalah teman seangkatan Anda yang dulu bersaing nilai di akademi.
Kali ini, saya ingin mengabdi sebagai tangan kanan Anda...."
"Tuan
Rudolf! Saya akan mengikuti Anda ke mana pun!"
Para pelayan pun
tidak mau kalah.
Tentu saja mereka
tidak melakukan hal seronok, namun satu per satu atau dalam kelompok kecil,
mereka menyatakan niat mereka untuk melayani dengan sepenuh hati.
Para pengikut dan
pelayan berkumpul di bawah tuan yang ingin mereka layani dan membentuk barisan.
Popularitas putra
sulung, Albert, sangatlah kokoh.
Bagaimanapun, dia
adalah calon penerus utama.
Para ksatria yang
ambisius dan pahlawan yang ingin pergi ke medan perang berkumpul di bawahnya.
Kebanyakan dari mereka adalah ksatria berbaju zirah, namun pelayan yang percaya
diri dengan kemampuannya pun berkumpul di sana.
Putra kedua, Ian,
juga tidak bisa diabaikan.
Sebagai seorang
jenius, dia dianggap sebagai pilihan yang sangat aman dan menguntungkan.
Fakta bahwa
wilayahnya berada jauh dari medan perang juga tidak bisa dilewatkan. Kebanyakan
yang mengantre di depannya adalah cendekiawan dan pendeta, namun pelayan yang
mencari keamanan juga ikut mengantre di sana.
Putra ketiga,
Rudolf, juga tidak boleh diremehkan.
Di zaman apa pun,
pasti ada orang yang suka berspekulasi. Bagi para penjudi, pria inilah yang
dianggap paling berpotensi untuk sukses besar.
Dengan bakatnya,
dia tampaknya bisa naik jabatan dengan cepat hanya dengan menangkap sedikit
peluang. Banyak
pedagang, pihak eksternal, dan orang-orang yang baru bekerja di keluarga ini
yang mengantre di barisannya.
Selain itu, dia
adalah pria paling modis dan tampan di keluarga ini. Para pelayan yang
memimpikan cinta romantis dengan pangeran impian benar-benar terpesona olehnya.
Sang Duke merasa
puas melihat keadaan di aula.
(Hm. Ketiganya
tampak melakukannya dengan baik. Memang benar-benar anakku.)
Lalu ia melirik
sekilas ke arah Noah.
Di saat ketiga
saudaranya dikelilingi banyak orang, tidak ada satu pun orang yang mengantre di
barisan Noah.
Tentu saja itu
hal yang wajar.
Masa depan para
pengikut dan pelayan juga menjadi taruhannya.
Siapa yang mau
mengikuti si bodoh yang dibuang ke wilayah terpencil yang dihuni iblis?
Siapa pun pasti
berpikir bahwa mereka tidak ingin meninggalkan negara yang makmur ini hanya
untuk pergi ke daerah terpencil.
Mereka berusaha
sebisa mungkin tidak menatap Noah dan sibuk merayu saudara-saudaranya yang
lain.
Noah berdiri
sendirian, tampak bingung karena tidak ada yang harus dilakukan.
Para pengikut
sudah berbaris di salah satu barisan, dan pemilihan tuan baru pun hampir
berakhir.
Namun, di tengah
suasana itu, seorang pelayan berjalan menghampiri Noah.
(Hm?)
Sang Duke
tanpa sadar memperhatikan gadis itu.
Tingginya
mungkin mencapai 190 sentimeter.
Dengan
tubuh yang luar biasa tinggi, ia memiliki rambut hitam panjang yang dikuncir
kuda.
Di
pinggangnya terselip sebuah pedang yang gagah.
Cara
berjalannya yang bermartabat memberikan kesan karisma tersendiri.
Sang Duke
sempat terpesona sejenak, namun ia baru tersadar saat gadis itu hendak
bergabung ke barisan Noah.
"Hei."
Dipanggil
oleh sang Duke, pelayan itu pun berbalik.
Tatapannya sangat
tegas.
"Namamu...
siapa?"
"Nama saya
Ophelia."
"Ophelia ya.
Seingatku kamu bertugas sebagai pengawal Albert, kan?"
"Benar.
Lebih tepatnya, atas perintah tuan saya, Tuan Noah, saya dipinjamkan kepada
Tuan Albert untuk menjadi pengawalnya. Karena itu, tugas asli saya adalah
pelayan pribadi Tuan Noah."
"Hm. Begitu
rupanya. Tapi, itu adalah barisan bagi mereka yang akan ikut ke wilayah Noah.
Jika kamu berbaris di sana, kamu akan pergi ke wilayah terpencil Arcloy bersama
Noah. Apakah kamu yakin tidak apa-apa?"
"Iya."
Ophelia menjawab
dengan senyuman yang tulus.
Malahan,
senyumnya yang merekah seolah-olah berkata bahwa dia sudah sangat tidak sabar
menantikan hari ini.
Sang Duke
terburu-buru melanjutkan kata-katanya.
"Bagi
seorang pengikut, memilih tuan adalah hal yang sangat penting. Itu akan
menentukan kesuksesanmu, bahkan bisa memisahkan antara hidup dan mati.
Lagipula, jika tidak melayani tuan yang hebat, kamu tidak akan bersemangat
dalam bekerja, kan? Jika kamu ikut dengannya hanya karena merasa berhutang
budi, kamu tidak perlu memaksakan diri. Aku, penguasa Kadipaten Agung Ubel,
menjamin hal itu. Kalian para pengikut diberikan hak untuk bekerja di bawah
tuan yang kalian sukai. Ayo, pilihlah, Ophelia. Kamu mau ikut dengan
siapa?"
Sang Duke
mengatakannya sambil menunjuk ke arah ketiga putra lainnya selain Noah.
"Terima
kasih atas perhatian Anda, Yang Mulia Duke. Namun, dari lubuk hati yang paling
dalam, saya benar-benar ingin melayani Tuan Noah. Ini adalah kejujuran saya
yang tanpa dusta. Mohon berikan izin bagi saya untuk menjadi pengikut Tuan
Noah."
"Fuu-mu.
Begitu ya."
(Ternyata ada
juga orang yang seleranya aneh.)
Saat sang Duke
masih ragu, Ophelia berlutut di depan Noah dengan satu kaki, menyatukan kedua
tangannya, dan mengambil posisi sumpah ksatria.
"Tuan Noah.
Setiap hari saya selalu mengagumi dan merindukan Anda. Oleh karena itu, mohon
terimalah saya sebagai pengikut Anda. Izinkan saya untuk mendampingi
Anda sampai ke wilayah terpencil Arcloy."
Melihat ketulusan kata-kata pengabdiannya yang menyentuh
hati, sang Duke benar-benar merasa tertekan dan tidak bisa menyela lagi.
Noah mengulurkan tangannya ke arah gadis itu dan tersenyum.
"Ya. Tentu
saja. Aku akan menerimamu sebagai ksatria utamaku."
"Terima
kasih banyak. Saya akan melayani Anda dengan segenap jiwa dan raga."
Ophelia meraih
tangan Noah dan mencium punggung tangannya.
(Cih.
Apa-apaan mereka, berani sekali melanjutkan pembicaraan sesuka hati tanpa
memedulikanku.)
Di dalam
hati, sang Duke terus mengumpat pada Noah sendirian.



Post a Comment