Prolog
Di dalam ruang perawatan yang serba putih, aku memandangi
tetesan infus yang jatuh perlahan.
Di
sampingku, monitor jantung mengukir suara detak yang kian melemah.
Tanpa alat bantu
pernapasan, menghirup udara pun terasa begitu menyesakkan.
Aku akan segera
mengakhiri kehidupan yang sunyi ini dalam ketenangan.
Jika dipikir
kembali, ini adalah hidup yang sangat hampa.
Aku selalu
membaca situasi melalui ekspresi wajah orang lain, mencoba menyesuaikan diri,
dan menahan segala keinginan pribadi.
Sebenarnya aku
memiliki rencana dan gambaran masa depan sendiri, namun tak satu pun yang
benar-benar aku wujudkan.
Semua itu adalah
akibat karena aku terlalu memedulikan pandangan masyarakat dan orang tua.
Padahal aku sudah
hidup dengan memprioritaskan kepentingan orang lain, tetapi di saat maut
menjemput seperti ini, tidak ada satu pun orang di sisiku.
Sebenarnya, apa
arti hidupku selama ini?
Aku tidak bisa
berhenti memikirkan hal itu.
Andai tahu akan
begini, seharusnya aku hidup sesuka hatiku saja.
Jika memang ada
kehidupan selanjutnya, meskipun akan ditertawakan, aku akan mengejar apa pun
yang ingin kulakukan.
Aku ingin
menjalani kehidupan yang seperti itu.
Bahkan jika aku
dijuluki sebagai si bodoh sekalipun, aku akan terus mengejar potensi yang
kutemukan dengan lurus.
Kehidupan yang
seperti itu....
Entah apakah
permohonan ini tersampaikan atau tidak.
Jiwaku dituntun menuju dunia Giftia yang dipenuhi pusaran peperangan, dan bereinkarnasi sebagai putra keempat dari Kadipaten Grand Duke Ubel, Noah von Ubel.



Post a Comment