Kata Penutup
Terima
kasih banyak karena telah membeli buku “Penguasa Konyol yang Diasingkan ke
Pelosok, Membangun Negara Adidaya Bersama Para Bawahan Terkuat Melalui Skill
Appraisal”.
Karya ini
ditulis dengan inspirasi dari “As a Reincarnated Aristocrat, I'll Use My
Appraisal Skill to Rise in the World” serta beberapa karya ‘Narou’ lainnya,
terutama yang bergenre pengasingan dan perjuangan dari nol (rise from zero).
Mengenai
tema manajemen dan pengembangan sumber daya manusia menggunakan skill Appraisal,
ini sebenarnya adalah karya kedua saya setelah sebelumnya sempat menulis “The
Exiled S-Class Appraiser Creates the Strongest Guild”. Namun, karena merasa
masih ada hal yang belum sempat saya lakukan di karya tersebut, saya selalu
ingin menulis sekali lagi tentang skill Appraisal.
Kali ini
saya memberanikan diri mencoba genre simulasi strategi perang dan sejarah
dengan latar dunia yang kacau, tapi ternyata sulit sekali ya.
Karya ini
tentu belum bisa menandingi bobot, kemegahan, dan ketelitian dari karya idola
saya, “Legend of the Galactic Heroes”.
Sejujurnya,
memadukan beratnya sejarah dengan pengumpulan kekuatan militer ala video game,
taktik dan negosiasi, hingga kekacauan dunia perang, membuat saya harus
memikirkan banyak hal secara terus-menerus. Saya sudah mengerahkan seluruh kemampuan hanya
untuk merangkai semua itu menjadi satu kesatuan.
Noah yang
diasingkan ke pelosok, mengandalkan skill Appraisal hanya dengan modal
badan dan sedikit meminjam wibawa ayahnya untuk naik kasta—bagaimana menurut
Anda kisah ini?
Ini adalah kisah
tentang perjuangan dari kondisi tanpa dukungan, menyatukan kelompok di daerah
terpencil, menjadi penguasa satu Kastil, hingga akhirnya membangun kekuatan
regional yang membentang di beberapa Kastil dan negara. Apakah wibawa Noah
sebagai "pemimpin para pemimpin" dan kesetiaan Ophelia sebagai
jenderal berhasil tersampaikan kepada para pembaca sekalian?
Omong-omong,
mengenai pengaturan Command (Kepemimpinan) di dalam cerita, secara
pribadi saya merasa prinsip bahwa "setiap orang memiliki batas jumlah
prajurit yang bisa dipimpin" sebenarnya cukup relevan dengan dunia nyata.
Saya percaya setiap individu memiliki batas maksimal dalam mengoordinasi orang
di medan tempur.
Dalam militer
modern yang sangat terorganisir dan mekanis, perasaan ini mungkin sulit
dipahami. Namun, dari cerita-cerita yang sesekali terdengar, saya merasa faktor
ini tidak bisa diabaikan begitu saja.
Bukankah
pertempuran yang terasa sangat sulit atau berlarut-larut padahal ada perbedaan
kekuatan yang mencolok merupakan salah satu bentuk perwujudan dari hal
tersebut?
Namun,
kenyataannya, meskipun seseorang memiliki bakat untuk menggerakkan sepuluh ribu
prajurit, tidak semudah itu baginya untuk langsung menduduki posisi atas dalam
organisasi.
Sama seperti
kisah jenderal Tiongkok kuno, Han Xin, yang hanya menjadi perwira tak dikenal
saat melayani Xiang Yu, namun mendadak menjadi pahlawan tanpa tanding setelah
melayani Liu Bang. Saya rasa di masyarakat modern pun, di mana pendidikan wajib
sudah merata dan peluang tampak terbuka bagi siapa saja, kasus seperti ini
masih banyak terjadi.
Tema lain tentang
hubungan antara penguasa dan jenderal adalah masalah kesetiaan. Bagaimana
seorang jenderal yang dipercaya memegang urusan militer negara melayani
penguasanya, dan bagaimana cara ia menunjukkan kesetiaannya?
Selain itu,
sejauh mana seorang penguasa harus memercayai jenderal yang memiliki kesetiaan
tinggi? Saya rasa ujung dari masalah ini adalah teori tentang
"ketidakperluan sosok nomor dua".
Dalam “Legend of the Galactic Heroes”, sosok nomor
dua keluar dari panggung lebih awal sebelum dampak negatifnya muncul. Namun
dalam buku ini, Noah mengadopsi metode pemberian wewenang yang sangat besar
kepada sosok nomor dua sejak awal. Saya mencoba menggambarkan betapa
berisikonya menempatkan sosok nomor dua dalam sebuah organisasi.
Saya berharap bisa terus mengeksplorasi tema ini di masa
mendatang.
Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada editor yang telah menghubungi saya untuk menerbitkan
buku ini, semua pihak yang terlibat dalam proses produksi, serta ilustrator
Tetsubuta-sensei yang telah bersabar menghadapi berbagai permintaan egois saya.
Saya sangat berharap kita bisa bertemu kembali di volume kedua.



Post a Comment