NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Hikichi ni Tsuihō Sareta Utsuke Ryōshu Kantei Sukiru de Saikyō no Haika-tachi to Tomo ni Chō Taikoku o Tsukuru Volume 1 Chapter 18

Chapter 18

Hiasan Rambut dan Gaun


Noah mengintip ke dalam ruang istirahat Kastil. Itu adalah area yang ia buka khusus untuk para bawahan yang tidak punya tempat tujuan saat hari libur.

Di antara para penghuni Kastil yang sedang berkumpul, Noah merasa puas melihat Lucy sedang bersantai di depan perapian.

(Bagus, bagus. Dia benar-benar istirahat.)

"Oh, Tuan Penguasa."

Saat Noah duduk di sudut ruang istirahat, Lucy menghampirinya untuk menyapa.

"Yo, Lucy. Sepertinya kamu benar-benar mengambil libur ya."

"Iya. Akhir-akhir ini saya merasa meskipun membawa banyak barang, penghasilan tidak bertambah drastis. Saya sudah belajar untuk menunggu."

"Sip. Itu hal yang bagus."

"Belakangan ini, saya juga mulai sedikit berfoya-foya, lho."

"Hoo. Memangnya kamu beli apa?"

"Lihat ini. Saya membeli kaus kaki baru."

Lucy sedikit mengangkat ujung rok panjangnya, menunjukkan kaus kaki berwarna krem yang sangat sederhana.

(Itu kan cuma barang kebutuhan sehari-hari...)

"Kaus kaki sebelumnya sudah agak tipis karena aus. Berkat kaus kaki baru ini, kaki saya terasa hangat bahkan saat terbang di langit yang dingin."

(Apalagi belinya buat dipakai kerja...)

"Lucy, libur besok, temani aku belanja."

Pada hari libur berikutnya, Noah dan Lucy pergi menyamar mengunjungi kios-kios yang menjual pernak-pernik wanita.

Ternyata Lucy pun punya rasa ketertarikan; ia melihat aksesori wanita yang dipajang di toko dengan rasa penasaran.

Namun, pada akhirnya pandangannya selalu tersedot ke label harga. Ia memegang label tersebut sambil menaruh tangan di dagu, tampak asyik menghitung sesuatu dalam kepalanya. Noah menghela napas.

Gadis ini benar-benar gila kerja sampai ke tulang.

"Oi, Lucy. Ini hari libur, lho."

"Wa-waa. Maafkan saya."

"Nah, coba pakai ini."

Noah memasangkan sebuah hiasan rambut di kepala Lucy. Hiasan bermotif bunga itu benar-benar memberikan sentuhan manis pada penampilan Lucy yang biasanya polos. Lucy tampak malu-malu melihat pantulan dirinya di cermin.

"A-awa-wa. Memakai hiasan rambut begini hanya akan mengganggu saat terbang."

"Tidak apa-apa. Kamu harus belajar sedikit cara menghamburkan uang. Pakai itu setiap hari libur, ya."

Meski merasa canggung, Lucy menerima hiasan rambut tersebut. Sejak saat itu, setiap hari libur, ia akan muncul di hadapan Noah dengan hiasan rambut terpasang meski wajahnya memerah malu.

Suatu hari, Ophelia menyadari Lucy memakai hiasan rambut yang tidak biasa dan terlihat manis.

(Hooo.)

"Tumben sekali, Lucy. Kamu memakai hiasan rambut secantik itu."

"Ehehe. Ini dibelikan oleh Tuan Penguasa."

Lucy menjawab sambil merona. Seketika itu juga, ekspresi Ophelia berubah masam dan ia menjadi tidak senang.

"Aku juga sering diberi hadiah pedang atau tanah oleh Tuan Penguasa, tahu?"

"......Kenapa Anda malah bersaing untuk hal yang tidak jelas begitu?"

Meski saat itu ia berpisah dengan Lucy tanpa perdebatan lebih lanjut, rasa cemburu perlahan mulai meluap di hati Ophelia. Kalau dipikir-pikir, selama ini barang yang ia terima dari Noah hanyalah pedang, tanah, atau penghargaan yang berkaitan dengan jasa perang. Ia belum pernah diberi sesuatu yang "khas perempuan".

Mengingat hal itu, rasa irinya terhadap Lucy semakin membengkak.

(Tuanku juga keterlaluan. Kenapa beliau malah memberi hiasan rambut semanis itu kepada Lucy duluan daripada kepadaku?)




Selama beberapa hari berikutnya, Ophelia mencoba memasang wajah tidak senang di depan Noah, namun Noah sama sekali tidak menyadari kekesalannya. Karena itu, ia menyusun sebuah rencana untuk "merayu" tuannya.

"Tuanku, pada perjamuan malam nanti, aku juga ingin menghadirinya."

"Hm? Kamu mau ikut juga? Tentu saja boleh."

"Hanya saja, itu... aku tidak punya pakaian yang layak untuk dipakai," ujar Ophelia dengan wajah yang memerah malu.

Sebenarnya, bagi dirinya, mengajukan permintaan seperti ini kepada tuannya adalah hal yang cukup memalukan mengingat statusnya sebagai bawahan.

Padahal ia menerima penghasilan yang sangat cukup, namun rasa cemburu yang tak terbendunglah yang mendorongnya melakukan ini.

"Pakaian yang layak?"

"Iya. Itu... sepertinya sudah saatnya aku memiliki pakaian untuk acara sosial. Bukankah lebih baik jika aku memakai hal semacam itu sesekali?"

(Kalau dipikir-pikir, dia memang selalu memakai seragam pelayan atau baju zirah perang saja.)

"Apa ini? Kamu juga sudah masuk usia di mana kamu tertarik pada hal-hal seperti itu, ya?" tanya Noah sambil menyeringai menggoda.

"Iya. Begitulah kira-kira. Hanya saja, aku tidak tahu harus memilih yang seperti apa."

Pipi Ophelia memerah padam seolah wajahnya akan mengeluarkan api.

"Jadi, jika tidak keberatan... aku akan sangat berterima kasih jika Tuan Penguasa mau memilihakannya untukku."

Dengan sikap gelisah, ia akhirnya berhasil mengutarakan keinginan itu.

"Dengan kekuasaan yang kamu miliki sekarang, bukankah kamu tinggal meminta pedagang untuk membawakan apa pun yang kamu mau?"

"Anu, itu..."

(Uuuh, Tuanku. Kenapa Anda hanya bersikap jahil kepadaku saja?)

Sebenarnya, karena jarang melihat Ophelia yang biasanya tegas menjadi sangat malu-malu seperti ini, Noah ingin menikmati momen ini sedikit lebih lama.

"Intinya, aku ingin Tuanku yang memilihnya! Sudah... kumohon, ampuni aku sampai di sini saja."

Ophelia menutupi wajahnya dengan kedua tangan lalu berjongkok karena malu.

"Baiklah, aku mengerti. Aku yang akan memilihkan gaunmu."

"I-iya. Terima kasih banyak."

Setelah itu, Noah memanggil para pedagang kain dan memerintahkan mereka menyiapkan gaun yang sesuai dengan perawakan tinggi Ophelia.

Ia menghadiahkan sebuah gaun merah tua yang elegan serta bros emas. Ophelia sangat terharu melihat keindahan gaun itu dan perhatian dari Noah.

Saat mengenakan gaun tersebut, dipadukan dengan tubuhnya yang tinggi semampai, Ophelia berubah menjadi wanita cantik yang memancarkan aura luar biasa.

Sejak saat itu, setiap kali Noah menjamu tamu atau mengadakan acara sosial, Ophelia akan mengenakan gaun itu dan membuat para tamu terpesona.

Beberapa tamu pria ada yang mencoba menggoda wanita cantik yang baru mereka lihat itu, namun begitu menyadari bahwa dia adalah Ophelia—"Pedang Kesayangan" Duke Arcloy—wajah mereka langsung pucat pasi dan bersikap sangat hormat.

Ophelia yang menyadari Noah sering melirik kaki jenjangnya yang terlihat dari balik belahan gaun, sengaja mengubah posisi silangan kakinya.

Ia berusaha memastikan paha kencangnya menjadi "pemandangan indah" bagi sang penguasa. Setiap kali Noah menatap pahanya dengan penuh minat, ia merasa puas karena telah berhasil membalas kejahilan tuannya sebelumnya.

Di tengah kehangatan suasana rumah tangga yang penuh canda tawa itu, Ksatria Vernon dari wilayah Archduke datang berkunjung.

◆◇◆

Kejadian ini bermula saat Ophelia masih menjadi pelayan yang mengabdi pada Noah di wilayah Archduke. Kala itu, Ophelia memperhatikan dari balik pilar dengan perasaan gelisah saat Noah bernegosiasi dengan Albert.

"Apakah tidak ada cara lain, Kakanda?"

"Noah, kamu ini gigih sekali ya."

"Cara Kakanda merampas tanah dan statusnya adalah tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh bangsawan tinggi. Jika hal ini sampai diketahui publik, keluarga kita akan menjadi bahan tertawaan dunia. Ini menyangkut harga diri keluarga Uebel. Tolong kembalikan tanahnya dan kembalikan status ksatria miliknya."

"Tapi itu adalah keputusan Ayahanda. Membatalkannya berarti memaksa Ayahanda sebagai Archduke untuk mengakui kesalahannya. Mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada seorang gadis pelayan adalah tindakan yang sangat tidak pantas bagi seorang penguasa. Para bangsawan pengikut pasti akan menentangnya."

"Bukankah di situlah gunanya kebijaksanaan politik? Kita tidak perlu menundukkan kepala. Kita hanya perlu mengembalikan tanah, hak, dan status yang memang seharusnya ia terima. Jika kita membuat alasan yang masuk akal, hal itu tidak akan sulit."

"Apa tidak cukup jika kita menggantinya dengan uang?"

"Kakanda, itu namanya penipuan. Tolong perlakukan dia sebagaimana layaknya seorang dari kelas ksatria."

"Aku tidak mengerti. Kenapa kamu begitu terobsesi pada gadis itu?"

"Dia adalah sosok dengan kesetiaan yang murni. Semakin kita membalas kesetiaannya, semakin kuat pula loyalitas yang akan ia berikan."

"Bagaimana kamu bisa tahu hal seperti itu? Di zaman kekacauan ini, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan."

"Masa depan bisa diprediksi sampai batas tertentu dari masa lalu dan masa kini. Dia tidak pernah sekalipun mengkhianati keluarga ini maupun aku sebagai tuannya. Sebaliknya, dia telah berkontribusi lebih dari yang bisa dibayangkan."

"Tidak bisa. Saat ini dia hanyalah seorang pelayan. Aku tidak bisa memberinya perlakuan istimewa."

Ophelia mendengarkan percakapan itu sambil meneteskan air mata. Rasa sakit di dadanya bukan karena sikap dingin Albert, melainkan karena pengabdian Noah terhadap dirinya.

(Noah-sama bertarung melawan kakak dan ayahnya sendiri demi hal yang sama sekali tidak menguntungkan baginya. Semata-mata hanya untuk melindungi kehormatanku dan orang tuaku.)

Pada akhirnya, Noah gagal membujuk Albert dan kembali menemui Ophelia.

"Maafkan aku, Ophelia. Sayangnya aku tidak bisa membujuk Kakanda."

"Noah-sama, ini sudah cukup. Anda sudah berjuang keras demi saya. Sekarang giliran saya yang memberikan kesetiaan kepada Anda. Mulai sekarang, saya adalah ksatria yang hanya akan mengabdi demi Anda seorang."

◆◇◆

"Selamat datang, Ksatria Vernon."

Noah menyambut kedatangan Ksatria Vernon dengan sikap yang murah hati.

"Bagaimana kabar Ayahanda dan Kakak-kakakku?"

"Sangat sehat, Tuan."

"Lalu, soal masalah dengan Kruck itu, apakah Ayahanda sudah mengoreksi keputusannya?"

"Anu... Archduke Uebel sedang sangat sibuk dengan penaklukan benteng Anglin dan meredam kerusuhan yang dipicu oleh negara musuh, sehingga sepertinya beliau belum sempat mengurus hal itu."

"……Begitu ya."

Noah menghela napas panjang. Ia sudah tahu tentang kegagalan Albert dalam penaklukan benteng, serta kerusuhan yang disebabkan oleh kegagalan pemerintahan Ian.

Ia juga tahu bahwa sang Archduke sedang bersusah payah menutupi hal itu di dalam negeri.

Noah pun menyadari bahwa kemungkinan besar ayahnya enggan mengakui kegagalan tersebut karena masalah gengsi dan terus menundanya.

(Duh, Ayahanda benar-benar merepotkan. Malah sibuk menyokong kegiatan Kakak-kakakku yang tidak ada harapan, dan mengabaikan stabilitas wilayah yang sudah berhasil dikuasai.)

Kruck sendiri masih berada di wilayah Archduke Neagle dan masih sehat, bahkan terus bergerak menyusun rencana untuk merebut kembali tanahnya.

Alasan sisa tiga negara Arcloy tetap memusuhi Noah adalah karena mereka pikir mereka bisa memanfaatkan situasi di mana sang Archduke tidak mengakui prestasi Noah.

Noah sebenarnya ingin perintah pengembalian wilayah yang lahir dari kesalahpahaman itu segera dicabut, namun sepertinya ia akan dibiarkan begitu saja sampai kakak-kakaknya meraih kesuksesan tertentu.

"Ya sudahlah. Tolong ingatkan Ayahanda untuk segera mencabutnya."

"Akan saya usahakan semaksimal mungkin."

(Tapi omong-omong……)

Ksatria Vernon sangat terkejut melihat perubahan wilayah Arcloy dan kota di sekitar Kastil yang sudah lama tidak ia lihat. Keramaiannya tidak kalah dengan wilayah pusat Archduke Uebel.

Bahkan terasa lebih bersemangat daripada pusat kota wilayah Archduke sendiri. Para pedagang yang keluar masuk Kastil adalah orang-orang dari serikat dagang besar yang bahkan Vernon kenal.

(Bukan hanya perang, ternyata Noah-sama juga sangat mahir dalam urusan pemerintahan internal……)

Ini bukan terlihat seperti kemakmuran sementara. Perkembangannya terasa sangat kokoh dan stabil. Vernon tidak bisa menahan perasaan campur aduk di hatinya.

Di satu sisi ia senang kerabat tuannya makmur, namun di sisi lain, ia harus memberikan laporan yang mungkin akan kembali merusak suasana hati sang Archduke.

"Omong-omong Noah-sama. Di mana Nona Ophelia?"

"Ophelia ada di ruangan ini kok."

"Hah? Tapi sejauh penglihatan saya, di sini tidak ada... ah!"

(Mungkinkah... wanita anggun ini?)

Vernon kembali tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Saat memakai seragam pelayan dia memang manis, dan saat menjadi ksatria dia adalah wanita cantik yang berwibawa, namun siapa sangka saat memakai gaun dia akan menjadi secantik ini.

Sebagai ksatria berpengalaman, Vernon memang hanya melirik sekilas saat pertama masuk, namun ia sama sekali tidak menyadari bahwa itu adalah Ophelia. Ophelia yang melihat reaksi Vernon pun tertawa kecil.

"Saya benar-benar pangling. Siapa sangka Nona Ophelia terlihat begitu mempesona dalam balutan gaun. Bahkan di seluruh penjuru wilayah Archduke Uebel pun, rasanya sulit menemukan wanita secantik ini."

"Ah, Anda bisa saja memuji."

"Ada urusan apa kamu menemui Ophelia?"

"Hamba bermaksud membicarakan suatu hal secara empat mata dengan Nona Ophelia nanti."

"? Tidak bisakah dibicarakan di sini saja?"

"Saya menerima perintah tegas untuk menyampaikannya hanya kepada Nona Ophelia saja."




"Padahal Ophelia adalah ksatriaku?"

"Benar. Ini adalah perintah tegas dari Yang Mulia Albert dan Ian."

Noah menunjukkan ekspresi masam karena bisa menebak apa isi urusan tersebut. Ophelia pun ikut mengernyitkan dahi, merasa terganggu.

Hanya saja, akan terasa tidak enak bagi Vernon yang sudah jauh-jauh datang. Jika mereka terlibat perselisihan dengan tamu sang Archduke, itu hanya akan memberi angin segar bagi tiga negara musuh yang sudah sangat memusuhi mereka.

Noah menekan rasa tidak senangnya dan bersikap murah hati.

"Baiklah kalau begitu. Ophelia, jangan terlalu memasang muka galak, dengarkan saja apa yang ingin dia sampaikan nanti."

"……"

Ophelia memalingkan wajahnya dari Vernon tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Vernon berhasil melewati situasi sulit itu dan sukses menciptakan kesempatan untuk berbicara empat mata dengan Ophelia.

◆◇◆

"Jadi? Apa sebenarnya urusanmu denganku?"

Ophelia bertanya dengan nada ketus kepada Ksatria Vernon.

Namun, ia tidak lagi memperlihatkan balutan gaun cantiknya; ia telah berganti kembali ke seragam ksatria.

"Saya membawa pesan dari Yang Mulia Albert dan Yang Mulia Ian. Beliau bertanya apakah Anda memiliki niat untuk kembali ke Wilayah Archduke. Anda diizinkan untuk bergabung sebagai staf militer pribadi Yang Mulia Albert. Jika Anda bersedia kembali, sebagai penghargaan, tanah milik mendiang orang tua Anda akan dikembalikan sepenuhnya."

Alis Ophelia terangkat tajam karena marah, bahunya bergetar hebat.

(Mengembalikan tanah orang tuaku? Bukankah itu tanah yang memang seharusnya menjadi milikku sejak awal?)

Lagipula, di Arcloy ini, Ophelia sudah menerima tanah dari Noah sebagai penghargaan atas jasa perangnya—tanah yang luasnya berkali-kali lipat dari milik orang tuanya.

Ia juga sudah menorehkan prestasi militer yang jauh melampaui si Albert itu. Kenapa sekarang ia harus menjadi bawahan Albert? Jika dipikir-pikir lagi, perlakuannya di Wilayah Archduke dulu tidak lebih dari sebuah penghinaan.

Mengambil tanahnya secara diam-diam di tengah kekacauan kematian orang tuanya, lalu menurunkan derajatnya menjadi seorang pelayan. Mereka memanfaatkan kesetiaan pribadinya kepada Noah.

Sekarang, setelah ia menerima kasih sayang dan posisi terhormat dari Noah di Arcloy, hampir tidak ada alasan baginya untuk kembali ke sana.

Mereka memberikan syarat yang begitu meremehkan, pasti karena jauh di dalam lubuk hati mereka, orang-orang itu masih menganggapnya sebagai seorang pelayan.

Namun, yang paling membuatnya murka adalah fakta bahwa mereka masih berpikir bisa memancingnya dengan materi.

Ophelia hampir saja meneriaki Ksatria Vernon, namun ia menahan diri di detik terakhir. Tidak ada gunanya memarahi Vernon yang hanya seorang utusan.

Lagipula, di antara pengikut Archduke, Vernon termasuk orang yang memiliki nurani dan selalu bersikap baik kepadanya sejak ia masih di Wilayah Archduke.

Ophelia menekan amarahnya dan hanya menyunggingkan senyum dingin.

"Benar-benar ya. Sepertinya aku dipandang sangat rendah oleh mereka."

Vernon terdiam, tidak mampu membalas kata-kata itu.

"Sampaikan pada kedua Yang Mulia. Daripada membuang waktu untuk membujukku, lebih baik mereka berusaha keras agar tidak menjadi beban bagi Noah-sama. Aku tidak punya niat untuk meninggalkan tempat ini. Seperti yang sudah kunyatakan di kediaman tadi, aku akan terus melayani Noah-sama selamanya."

◆◇◆

Sesuai dugaan, pertemuan dengan Ophelia berakhir gagal. Vernon meninggalkan ruangan dengan langkah gontai. Saat berjalan di lorong, ia berpapasan dengan seorang gadis yang membawa sapu.

(Penyihir itu... mungkinkah dia Lucy?)

Lucy tersenyum ramah hingga lesung pipitnya terlihat, lalu membungkuk sopan. Penampilannya pun berubah drastis hingga sulit dikenali.

Saat masih melayani Ian, dia hanyalah gadis suram yang terus-menerus mengais sampah, tapi manusia memang bisa berubah.

Sekarang ia memakai hiasan rambut yang manis; jika saja ia tidak memegang sapu, orang pasti percaya jika ia disebut sebagai putri bangsawan dari suatu tempat.

Meski masih tampak agak kikuk, sepertinya ia mulai sadar akan pandangan laki-laki dan—meski agak terlambat—mulai terbangun sisi "perempuan"-nya. Sudah jelas pandangan siapa yang sedang ia pedulikan.

Vernon memiliki intuisi bahwa gadis inilah yang berperan besar dalam keramaian di kota benteng ini.

Dan juga, fakta bahwa Noah-lah yang telah membangkitkan kekuatannya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close