NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Hikichi ni Tsuihō Sareta Utsuke Ryōshu Kantei Sukiru de Saikyō no Haika-tachi to Tomo ni Chō Taikoku o Tsukuru Volume 1 Chapter 15

Chapter 15

Penyihir Suci


Seiring Lucy menguasai seni perdagangan, jumlah transaksi dan jenis barang yang ia tangani meningkat pesat.

Meski begitu, ia tidak pernah mengambil uang yang dititipkan Noah, kecuali untuk bagian gajinya.

Ia selalu melaporkan hasil pengelolaan dana dengan jujur, dan kapan pun Noah ingin menarik dana, Lucy akan menyerahkan jumlah yang diminta tepat sampai ke koin terakhir.

(Ternyata dia memang orang yang serius.)

Berkat itu, Noah bisa segera melunasi utang-utangnya kepada para lintah darat, bahkan mendapatkan pinjaman yang lebih besar lagi.

Di kalangan dunia bawah, Noah dianggap sebagai nasabah unggulan yang selalu mengembalikan pinjaman tepat waktu, sehingga ia bisa mendapatkan modal dengan syarat yang lebih menguntungkan.

Semakin tinggi tingkat Storage milik Lucy, semakin banyak pula dana yang digelontorkan Noah kepadanya.

Awalnya, Ophelia menunjukkan keberatan atas aktivitas baru Noah ini. Namun, saat Noah menunjukkan sekantong penuh koin emas dan menjelaskan bahwa itu adalah dana untuk kemandirian di masa depan, wajahnya langsung berubah drastis karena terkejut.

"Luar biasa, Tuan Muda. Di usia semuda ini Anda sudah bisa mengumpulkan dana militer sebanyak ini. Saya benar-benar mengagumi bakat Anda."

Meski dengan berat hati, ia akhirnya mengakui kemampuan Lucy. Sebagai bentuk apresiasi, Noah memberikan hadiah baru berupa pedang, buku-buku strategi perang, dan seekor kuda untuk Ophelia.

Ophelia memeluk hadiah-hadiah itu dengan ekspresi terpesona dan penuh kasih sayang.

Meskipun pembinaan Lucy dan bisnis baru mereka berjalan lancar, Lucy mulai merasa tidak puas.

Ia ingin menyimpan lebih banyak barang, namun ia kesulitan menemukan barang yang cukup untuk mengisi ruang penyimpanannya. Noah kemudian menyarankannya untuk mempelajari Skill Flight.

"Jika kamu menguasai Flight, kamu bisa pergi ke luar wilayah kekuasaan dan mengambil barang dari mana saja."

Noah menelusuri berbagai koneksi di dunia bawah untuk mendapatkan sebuah Sapu Penyihir (Noah sudah menjadi sosok yang disegani di dunia hitam, mulai dari kalangan rentenir hingga mafia) dan menyerahkannya kepada Lucy.

Awalnya Lucy kesulitan mempelajari Flight, namun suatu ketika, ia bertemu dengan seorang penyihir yang sedang terbang di hutan dan disukai olehnya.

Lucy pun menjadi murid penyihir tersebut dengan bayaran batu permata, dan kemampuan Flight-nya meningkat pesat.

Kini ia bisa mengambil barang dari luar wilayah Archduke, dan karena tidak perlu membayar bea cukai, keuntungannya pun melonjak. Namun, Lucy kembali merasa tidak puas.

"Ksatria dan pihak Gereja selalu menyerangku!"

Ia ingin terbang dan berdagang dengan lebih bebas.

Namun, ia harus terbang sembunyi-sembunyi agar tidak terlihat oleh Gereja maupun pihak Kastil, sehingga titik pendaratannya terbatas.

Untuk mengakses pasar, ia harus menghindari mendarat langsung di pusat kota agar tidak tertangkap, dan itu membuatnya harus menempuh jalan memutar.

Pada saat ini, Lucy sudah menjadi seorang kikir yang tidak tertolong lagi.

"Kalau saja mereka tidak ada, aku pasti bisa menghasilkan lebih banyak uang!"

Melihat kesempatan yang sudah matang, Noah pun mengungkapkan rencananya.

"Lucy, di masa depan, aku berencana untuk mandiri dari wilayah Archduke dan membangun negara di mana perdagangan bisa dilakukan dengan lebih bebas."

Noah menceritakan konsep kepemilikannya atas wilayah pelosok Arcloy kepada Lucy.

"Kamu mau ikut?"

"Mau!"

Lucy menjawab seketika. Begitulah, Lucy menjadi ksatria yang bersumpah setia pada Noah. Namun, tak lama kemudian, perbuatan Noah yang menjadikan Lucy seorang penyihir ketahuan oleh Ian.

Tentu saja Ian mengamuk dan hubungan mereka memburuk. Meski Noah berdalih bahwa itu adalah "satu-satunya cara menyelamatkannya dari kekikiran," sayangnya Ian tidak mau mengerti.

Akhirnya, karena ingin meningkatkan kemampuan Flight-nya lebih jauh, Lucy berhenti berdagang sementara waktu untuk berguru secara serius, hingga tiba saatnya Noah menjalani upacara kedewasaan.

Dan sekarang, Lucy telah menjadi penyihir yang hebat dan berdiri di depan Noah.

Lucy Flight: A Storage: S Resupply: C Greed: A

(Kemampuan Flight dan Storage-nya sudah mencapai level maksimal. Sepertinya sejak saat itu dia terus melatih kemampuannya demi mencari uang.)

"Jadi, Noah-sama. Sekarang setelah Anda berhasil mandiri, bisnis besar apa yang akan kita mulai?"

"Untuk saat ini, garam dan besi. Sebenarnya sekarang aku sedang diblokade secara ekonomi oleh para penguasa tetangga. Inflasi dan kelangkaan barang membuat ketidakpuasan rakyat sudah di tahap berbahaya."

"Blokade ekonomi ya? Wah, itu tidak boleh dibiarkan."

"Aku ingin kamu menggunakan Flight dan Storage-mu untuk menembus kepungan mereka, membeli garam dan besi, lalu memasoknya ke wilayah Arcloy ini."

"Begitu ya. Itu memang tugas yang tepat untuk kemampuanku. Tapi, bukannya jualan garam dan besi itu tidak terlalu untung?"

"Tenang saja. Di wilayah yang dikelola oleh Sang Saintessini, ada sebuah kota pelabuhan."

"Pelabuhan! Bagus sekali. Berbagai macam barang akan berkumpul di sana dalam jumlah besar."

"Kebetulan sekarang aku mau ke gereja untuk bernegosiasi dengan Santa-sama."

"Ugh. Jadi kita tetap harus ke gereja ya?"

"Tenang saja. Tuanku sudah menjinakkan Sang Saintessitu. Dia tidak akan menyerangmu tiba-tiba."

"Uuuh. Benarkah tidak apa-apa?"

Ketiganya pun melangkah masuk ke dalam gereja. Lucy, yang sepertinya memiliki trauma mendalam terhadap gereja, menempel di belakang Noah dengan wajah cemas saat memasuki bangunan tersebut.

"Jadi begitu ya. Anda ingin menyelesaikan masalah kelangkaan garam dan besi dengan Flight dan Storage?"

SaintessAemilia berbicara sambil mengelus cincin baru yang melingkar di jarinya. Itu adalah hadiah perkenalan dari Lucy. Aemilia mengelus cincin itu dengan ekspresi terpesona.

Melihat sikapnya, Lucy merasa sedikit kehilangan kata-kata.

(Oalah. Ternyata Saintessini sangat lemah terhadap uang ya.)

"Itu memang ide yang bagus. Kelangkaan garam dan besi adalah masalah yang sangat serius."

"Karena itu, aku ingin Santa-sama mengizinkan Lucy masuk ke Distrik Diara yang berada di bawah otoritas Anda."

"Fumu. Baiklah, boleh saja."

"Sekalian juga menara gereja itu. Izinkan kami menggunakannya. Itu sangat strategis untuk dijadikan titik pendaratan saat terbang."

"!? Itu tidak bisa! Saya, sebagai hamba Tuhan, tidak bisa membiarkan seorang penyihir menginjakkan kaki di area suci!"

"Tenang saja, kami akan berhati-hati agar tidak ketahuan."

"Tidak boleh. Atas nama Tuhan, saya tidak bisa mengizinkan hal seperti itu."

"Kamu bisa dapat untung dari bea cukai, lho."

"Untung? Memangnya kira-kira berapa?"

Noah menunjukkan catatan rekam jejak perdagangan Lucy. Aemilia segera menggenggam tangan Noah.

"Tuhan pasti akan mengampuni dosa-dosa Anda. Saya mengizinkan Nona Lucy memasuki menara dan menggunakannya sebagai titik pendaratan."

Noah dan Sang Saintessbersalaman dengan erat.

(Benar-benar ya, uang bisa melicinkan segalanya.)

"Hei, bukankah tadi dibilang penyihir dilarang masuk, SaintessMata Duitan?"

Ophelia tidak tahan untuk tidak menyindir.

"Saya akan memberinya gelar Penyihir Suci. Dengan begitu, dia diizinkan secara khusus untuk memasuki gereja di wilayah yurisdiksi saya."

"Penyihir Suci……?"

(Konsep kontradiktif apa itu... seperti judul film dewasa kategori 'polos tapi nakal' saja……)

Begitulah, Lucy yang telah diberikan surat izin khusus kini diperbolehkan keluar masuk gereja.

Noah dan Ophelia menunggu di menara sambil minum teh selama satu jam. SaintessAemilia pun datang membawa Lucy yang sudah selesai berganti pakaian.

"Jaa-jaan! Lihat pakaian ini. Terlihat seperti Penyihir Suci, kan?"

Mendengar perkenalan Aemilia, Lucy tampak malu-malu.

(Hm. Memang terlihat sedikit punya aura suci sih.)

Pakaian Lucy yang tadinya serba hitam kini telah diganti menjadi serba putih. Topi runcingnya pun berubah putih, dengan bordiran lambang gereja pada topi dan pakaiannya.

Pakaian itu sangat mirip dengan jubah pendeta; kecuali orang itu sangat ahli dalam pakaian keagamaan, ia tidak akan menyadari bahwa itu palsu, apalagi mengenali Lucy sebagai penyihir. Dengan begini, keluar masuk gereja tidak akan terasa janggal.

◆◇◆

Beberapa hari kemudian.

"Tuanku, apakah Anda benar-benar berniat pergi sendiri?"

Ophelia bertanya sambil menatap Noah yang sudah duduk di belakang Lucy di atas sapu terbang.

"Ya. Ini pertama kalinya Lucy ke pelabuhan. Untuk transaksi besar, jaminan dari penguasa wilayah sangat diperlukan, kan?"

"Saya sudah mengirim surat ke gereja di kota pelabuhan yurisdiksi saya. Saat Duke Arcloy dan Lucy tiba, mereka pasti sudah siap menyambut," ujar Aemilia.

"Lucy. Jangan sampai Kamu menjatuhkan Tuanku, ya."

"Hehe. Tenang saja. Aku akan terbang dengan aman."

(Aku khawatir……)

Di bawah pengawasan Ophelia dan Aemilia, Lucy dan Noah pun lepas landas. Mereka terbang melewati wilayah kekuasaan Duke Finen dan Duke Viek menuju kota pelabuhan.

"Ooooh! Jadi ini yang namanya pelabuhan!"

Mata Lucy berbinar melihat pelabuhan untuk pertama kalinya. Sebuah kapal layar besar baru saja bersandar. Para pelaut tampak sibuk turun dari kapal dan mulai menurunkan muatan di dermaga.

Lucy menatap penuh kekaguman pada tumpukan barang di dalam kotak kayu dan gentong-gentong.

Barang-barang yang diturunkan tidak berhenti di situ. Satu per satu kapal masuk dan mulai menurunkan muatan.

Barang-barang yang dibawa ke pasar segera dilelang oleh para pedagang. Mata Lucy semakin berbinar. Jika ia bisa menjual semua barang yang diturunkan di sini, entah berapa banyak kekayaan yang bisa ia hasilkan.

"Wah. Benar-benar pemandangan yang hebat."

"Ah, lihat Noah-sama! Bukankah itu pasar yang menjual besi?"

"Oh, benar. Ayo kita coba tawarkan kerja sama."

Noah menyapa seorang pria yang tampaknya adalah pedagang besi.

"Halo, apakah benar di sini tempat menjual besi?"

"Yo. Benar, akulah orang yang menangani besi di sini. Aku belum pernah melihat wajahmu, anak muda. Apa kamu datang dari luar negeri?"

"Ya. Aku adalah penguasa dari Arcloy."

"Hoo. Suatu kehormatan besar seorang penguasa mau jauh-jauh datang ke tempat yang semrawut ini."

Pria itu tetap berbicara dengan santai meski tahu Noah adalah seorang penguasa. Sepertinya di pasar ini, status sosial tidak terlalu berpengaruh.

"Yah, mumpung ada penguasa yang datang, aku kasih pelayanan deh. Sebenarnya belum waktunya jualan, tapi aku bisa siapkan beberapa untuk Anda."

"Oh, itu sangat membantu."

"Bagaimana? Khusus untuk Tuan Penguasa, aku akan jual satu unit besi seharga lima Gra."

Pedagang besi itu tersenyum licik.

"Berapa unit yang mau Anda beli?"

"Tentu saja semakin banyak aku beli, harganya semakin murah, kan?"

"Hoo. Untuk seorang bangsawan, Anda cukup mengerti ya. Untuk setiap sepuluh unit, aku potong satu Gra."

"Kalau begitu, jika aku beli seratus unit, diskonnya bertambah lagi, kan?"

"Seratus unit? Berani juga ya. Baiklah. Untuk setiap seratus unit, aku beri potongan tambahan sepuluh Gra."

"Kalau bayar tunai, harusnya bisa lebih murah lagi, kan?"

"Haha. Aku menyerah. Tuan Penguasa, Anda pintar berdagang juga ya."

"Bagaimana kalau bayar tunai seluruhnya?"

"Boleh juga. Kalau bayar tunai tanpa surat utang, aku diskon sepuluh persen."

"Bagus. Senang mendengarnya. Aku akan bayar tunai seluruhnya di sini."

"Jadi? Berapa banyak besi yang Anda mau?"

"Beri aku sepuluh ribu unit."

Mendengar itu, pedagang besi itu mengernyitkan dahi.

"Anu, Anak Muda……"

Pedagang besi itu menghela napas sambil mencoba menjelaskan. Sikapnya seolah ingin berkata, inilah susahnya bicara dengan anak bangsawan.

"Apa Anda tahu artinya membeli sepuluh ribu unit besi? Itu artinya biaya transportasi dan penyimpanan akan sangat besar! Bukan cuma itu. Kapal pengangkut bisa karam di tengah jalan, jadi Anda harus bayar asuransi. Biaya bongkar muat juga tidak gratis. Ada biaya gudang. Prosesnya butuh waktu berhari-hari, dan karena tidak bisa dibawa sekaligus, barang harus keluar masuk gudang berkali-kali. Biaya tenaga kerja untuk penyortiran juga mahal. Ada risiko hilang karena kesalahan kerja atau dicuri perampok. Pada saat barang sampai di wilayah Anda, harganya harus Anda naikkan sepuluh kali lipat lebih hanya untuk balik modal, karena biayanya membengkak dan—"

"Artinya, jika biaya transportasi, penyimpanan, dan penyortiran itu bisa kami tangani sendiri, harganya bisa diskon lebih besar lagi, kan?"

"Apaaa?"

Pedagang besi itu kini tidak bisa lagi bersikap tenang.

"Anda terdengar sangat percaya diri, tapi apa Anda sudah menyiapkan kapal, gerobak, kuli, gudang, dan rute perdagangan? Lagipula, apa Anda punya uangnya?"

"Uangnya sudah siap di sini. Lihat."

Noah menyerahkan kantong berisi koin emas. Memang benar, di dalamnya ada uang yang cukup untuk sepuluh ribu unit besi.

"Apa Anda sadar? Mengeluarkan uang sebanyak ini tapi gagal membawanya pulang akan membuat Anda rugi besar!"

"Jangan banyak cincong, cepat siapkan saja. Aku sudah bilang aku bayar tunai, kan?"

(Cih. Dasar anak bangsawan……)

"Ah, aku ingat sekarang. Penguasa baru di wilayah pelosok Arcloy. Anda adalah putra keempat Archduke Uebel yang terkenal bodoh itu, kan? Kudengar akhir-akhir ini Anda hobi cari gara-gara dengan negara tetangga. Karena itu Anda kesulitan besi dan garam, kan?"

"Kalau sudah tahu, urusannya jadi cepat. Cepat siapkan barangnya."

"Orang kalau sudah kepepet memang jadi tumpul pikirannya ya. Apa Anda sudah tidak mengerti logika karena terdesak? Atau memang otak Anda kosong dari awal?"

"Yang otaknya tumpul itu kamu. Kamu tidak akan paham apa yang mau kulakukan, jadi cepat keluarkan barangnya."

(Benar-benar orang bodoh seperti rumornya.)

"Hei, Pedagang Besi. Jangan sampai Kamu bilang tidak bisa menyiapkan barangnya setelah sombong begitu. Sepuluh ribu unit, jangan kurang satu pun."

"Cih. Jangan sampai merepotkan para pekerja, ya."

"Jangan remehkan aku. Sepuluh ribu unit besi itu akan ludes terjual dengan mudah."

"Berani sekali bicara begitu. Jika sisa satu unit saja, aku akan tagih biaya gudang sampai ke koin terkecil."

"Boleh saja. Bahkan aku akan titipkan uang jaminan kalau-kalau biaya gudangnya membengkak."

"Cih. Uangnya memang banyak sekali ya."

Bagaimanapun, sebagai pedagang besi, ia tidak bisa mundur setelah ditantang seperti itu. Lucy sendiri merasa sangat kagum.

(Jadi begitu cara bernegosiasi ya.)

Noah berhasil memancing informasi dari pedagang besi tanpa membocorkan kartu as mereka sedikit pun. Tanpa memberitahu tentang Skill Storage milik Lucy, Noah justru mendapatkan informasi tentang berapa harga yang terbentuk jika barang dikirim secara konvensional. Dengan begitu, mereka tahu kisaran harga jual di Arcloy nanti. Menurut pedagang besi, harga sepuluh kali lipat pun belum tentu balik modal.

Artinya, meski mereka menjual dengan harga sepuluh kali lipat, tidak akan ada pesaing di wilayah pelosok Arcloy.

(Berada di dekat Noah-sama memang selalu banyak pelajaran baru ya.)

◆◇◆

Setelah menandatangani kontrak jual beli sepuluh ribu unit besi dengan Noah, pedagang besi itu memberikan instruksi ke gudang.

"Hei, penyortiran hari ini akan sangat sibuk. Kerjakan lebih cepat!"

"Siap, Bos!"

(Dasar penguasa bodoh. Akan kuperas uang gudangnya banyak-banyak.)

Besi yang masuk awalnya dimasukkan ke gudang yang disewa pedagang tersebut. Namun, jika tidak diambil dalam waktu satu hari, akan dikenakan biaya tambahan. Pedagang itu yakin si penguasa bodoh akan butuh waktu berbulan-bulan untuk mengangkut besi itu, sehingga ia bisa meraup untung dari biaya tambahan. Namun, setelah sekian lama, ia tidak kunjung menerima laporan bahwa gudang sudah penuh.

(Lho? Sedang apa mereka? Apa para pelaut juga ikut malas-malasan?)

Saat ia mendatangi gudang, ternyata gudangnya kosong melompong. Ia bertanya pada pekerja di sana.

"Hei, seharusnya besi untuk Noah von Arcloy dimasukkan ke sini, kan? Kenapa masih kosong?"

"Hah? Proses pemindahan ke gudang seharusnya sudah selesai kok."

"Ah, itu sudah kami ambil semuanya~"

Ujar seorang gadis bertopi runcing putih.

"Kamu... yang bersama penguasa itu tadi, kan?"

"Nama saya Lucy. Besi yang ada di sini sudah kami ambil semua, jadi tidak ada masalah. Ini surat bukti serah terimanya."

"Eh? Ah, oh..."

Pedagang besi itu menatap surat yang ditandatangani Noah dan Lucy dengan bingung.

(Cepat sekali diambilnya. Apa mereka mengerjakannya dengan sangat efisien?)

Dalam perjalanan terbang pulang, Noah dan Lucy mengobrol dengan seringai licik.

"Hehehe. Tuan Penguasa. Pedagang besi tadi bilang harga jual sepuluh kali lipat pun tidak akan balik modal, lho."

"Ya, itu informasi yang bagus."

"Jadi, kita mau jual besi ini berapa kali lipat?"

"Jangan terlalu memeras rakyat. Jual lima kali lipat saja."

"Lima kali lipat!? Itu artinya profit kotor empat ratus persen!? Bukankah itu terlalu untung? Apa tidak apa-apa semahal itu?"

"Harga belinya adalah rahasia perusahaan."

"Nanti aku akan laporkan harga beli yang lebih mahal ke Aemilia-sama, ya."

"Oho, kamu jahat juga ya."

"Hehe, tidak lebih jahat dari Tuan Penguasa sendiri, kok."

Keduanya terbang kembali menuju wilayah Arcloy dengan wajah penuh rencana licik.

◆◇◆

Keesokan harinya, pasar besi dibuka di sekitar gereja. Blok-blok besi berjejer memenuhi alun-alun. Para pengrajin senjata lokal dan konsumen yang membutuhkan besi datang berbondong-bondong karena kelangkaan akhirnya teratasi, namun mereka terkejut melihat harganya.

"Hah? Apa ini? Murah sekali!"

"Uwooo! Luar biasa Tuan Penguasa. Beliau memasok besi dengan harga semurah ini!"

"Terima kasih, Tuan Penguasa!"

Besi terjual sangat cepat. Keesokan harinya, pasar garam juga dibuka. Rakyat dan pengrajin lokal kembali terkejut dengan harganya yang murah, dan garam pun ludes seketika.

Kelangkaan besi dan garam di wilayah tersebut segera teratasi, bahkan pasokan menjadi melimpah.

Hampir tidak ada yang tahu bagaimana Noah dan Lucy mendapatkan garam dan besi sebanyak itu, apalagi berapa besar keuntungan yang mereka kantongi di tengah prosesnya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close