NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Hikichi ni Tsuihō Sareta Utsuke Ryōshu Kantei Sukiru de Saikyō no Haika-tachi to Tomo ni Chō Taikoku o Tsukuru Volume 1 Chapter 4

Chapter 4

Wilayah Arcloy


Setelah pemilihan pelayan selesai, para putra penguasa mulai memuat barang bawaan mereka ke kereta kuda dan bersiap untuk berangkat.

Noah juga hendak berangkat, namun Albert memanggilnya.

"Noah. Kurasa ke depannya akan berat bagimu, tapi jangan terlalu berkecil hati."

"Kakak. Aku sama sekali tidak merasa tertekan. Kakak sendiri, pertarungan sengit dengan negara tetangga, Anglin, sudah menantimu. Tolong berhati-hatilah."

"Noah..."

Tampaknya sudut mata Albert mulai panas, ia menutupi matanya dengan tangan.

"Pokoknya, bertahanlah. Setelah misiku saat ini selesai, aku pasti akan datang membantumu. Saat itu, kemarahan Ayah pasti sudah mereda."

Noah tertawa kecut di dalam hati.

Jika dia hanya mengandalkan bantuan Albert, nasibnya pasti hanya akan berakhir menderita di wilayah terpencil itu.

Namun, karena Albert jelas-jelas mengkhawatirkannya, Noah memutuskan untuk berterima kasih dengan tulus.

"Kakak, terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi, begini... jika aku boleh bersikap egois, bolehkah aku meminta jubah merah tua yang dipajang di kamarmu?"

"Jubah merah tua? Untuk apa kamu menginginkan barang seperti itu?"

"Itu adalah jubah yang dulu dikenakan oleh jenderal yang menaklukkan Arcloy. Setelah sekian lama, ketika sebagian Arcloy diserahkan kepada wilayah Uebel kita, jubah itu ikut dipersembahkan kepada keluarga Uebel."

"Kudengar di wilayah terpencil itu, otoritas dari jubah tersebut masih diakui. Kupikir jika aku memakainya ke sana, akan lebih mudah untuk mendapatkan kerja sama dari penduduk setempat."

"Hmm. Jadi jubah itu punya sejarah seperti itu? Pengetahuanmu tentang hal-hal aneh cukup luas juga. Baiklah. Anggap saja ini hadiah perpisahan dariku. Bawalah."

"Terima kasih banyak."

◆◇◆

Sambil melirik saudara-saudaranya yang masih kerepotan memuat barang ke kereta, Noah dan Ophelia hanya membawa barang seperlunya.

Mereka memacu kuda dengan gagah, meninggalkan kediaman tersebut.

Pada hari yang sama, mereka keluar dari wilayah utama dan melewati pos pemeriksaan.

Berikut adalah kekuatan para putra penguasa pada titik ini:

Albert

•       Kastil: 2

•       Ksatria: 2.000 orang

•       Kekuatan Militer: 20.000 orang

•       Pendapatan Pajak: 20.000 Gura

•       Aliansi: 3

 

Ian

•       Kastil: 2

•       Ksatria: 500 orang

•       Kekuatan Militer: 5.000 orang

•       Pendapatan Pajak: 40.000 Gura

•       Aliansi: 3

 

Rudolph

•       Kastil: 1

•       Ksatria: 300 orang

•       Kekuatan Militer: 3.000 orang

•       Pendapatan Pajak: 5.000 Gura

•       Aliansi: 3 + 10 (Rencana)

 

Noah

•       Kastil: Tidak ada

•       Ksatria: 1 orang

•       Kekuatan Militer: 1 orang

•       Pendapatan Pajak: 0 Gura

•       Aliansi: Tidak ada

 

Sebagai catatan, satu Kastil biasanya mampu menampung 1.000 ksatria dan menghasilkan pendapatan pajak sebesar 10.000 Gura. Selain itu, sudah menjadi tradisi untuk memobilisasi 9 prajurit untuk setiap 1 ksatria (total 10 orang termasuk ksatria itu sendiri).

Berkat popularitasnya, Albert menampung 2.000 ksatria di dua Kastil, dan memobilisasi militer hingga batas maksimal 20.000 orang.

Ian, dengan kemampuan administrasi dalam negeri yang luar biasa, memperoleh pendapatan pajak 40.000 Gura, dua kali lipat dari biasanya meski hanya memiliki dua Kastil.

Rudolph memang kalah dari kedua kakaknya dalam hal jumlah ksatria dan pajak, namun lewat kemampuan diplomasinya, ia berencana menjadikan 10 negara sahabat sebagai sekutu.

Hanya Noah yang berangkat menuju wilayahnya sendiri tanpa memiliki apa pun untuk diandalkan, selain Ophelia.

◆◇◆

Setelah keluar dari wilayah Grand Duke, Noah dan Ophelia memacu kuda mereka secepat mungkin menuju wilayah terpencil Arcloy melewati negara tetangga yang bersahabat.

Udara kota yang semrawut mulai menipis, digantikan pemandangan pedesaan yang membentang luas. Kepadatan penduduk terlihat jelas menurun, digantikan oleh suasana yang semakin tenang.

Lama-kelamaan, sawah dan ladang pun menghilang. Setelah melewati beberapa tanah gersang, mereka akhirnya tiba di wilayah terpencil Arcloy yang rimbun oleh ilalang.

Saat mereka menyibak tanaman tinggi sejenis rumput susuki, terhamparlah pemandangan rumah-rumah beratap jerami yang tersebar di antara ladang yang luas.

Sekilas pemandangannya tampak tenang, namun di sana-sini terlihat jejak kehancuran pada bangunan rumah. Di pinggir ladang, tombak-tombak disandarkan untuk mengusir musuh dari luar.

Terlihat jelas bahwa wilayah terpencil ini pun tidak luput dari gejolak zaman perang.

Di seberang jalan setapak, mengikuti tanjakan landai yang berliku, tampak sebuah rumah besar di atas bukit kecil. Meski terlihat agak usang, gerbangnya jauh lebih megah dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya.

Tak salah lagi, itu adalah kediaman yang disiapkan untuk pejabat daerah atau penguasa yang memerintah Arcloy.

"Segalanya berjalan sesuai rencana ya. Seperti dugaan Noah-sama, Ayahanda pada akhirnya memberikan Arcloy kepadamu..."

"Yah, meski tidak diberikan pun, aku akan merebutnya dengan cara apa pun."

Saat Noah memacu kudanya menuju rumah besar itu, para penduduk mulai gaduh.

Semua orang terperangah saat melihat jubah merah tua yang ia kenakan.

"Oi, lihat itu."

"Dia datang."

"Jangan-jangan, itu adalah..."

Kegaduhan itu menyebar dari rumah ke rumah, dari orang ke orang layaknya riak air, hingga akhirnya berkembang menjadi gelombang besar.

Noah sudah mengirim surat kepada tokoh-tokoh berpengaruh setempat tentang kedatangannya, dan tampaknya berita itu telah tersampaikan kepada seluruh penduduk tanpa terlewat.

Para penduduk mengikuti kuda Noah dengan mata yang berbinar penuh harap.

Saat Noah tiba di alun-alun, penduduk sudah berkumpul dalam jumlah yang sangat banyak, hingga ia bertanya-tanya dari mana asalnya semua orang ini.

Di antara mereka, ada orang-orang yang memiliki tanduk. Tak salah lagi, mereka adalah kaum demi-human setengah iblis, yang biasa disebut Kijin (Manusia Iblis).

Kijin A

Cavalry Battle: EB

Melee: DB

 

Kijin B

Cavalry Battle: DB

Shooting: EB

 

Kijin C

Cavalry Battle: DB

Field Battle: CB

(Wuih. Ada banyak. Mereka yang punya bakat kavaleri tinggi.)

Noah pernah dengar kalau kaum Kijin banyak yang berbakat dalam kavaleri, tapi ini di luar dugaannya. Dengan ini, ia bisa mengamankan kekuatan kavaleri yang mumpuni.

Sesuai target Noah, jubah merah tua itu juga dianggap sebagai simbol semangat dari penguasa baru.

Beberapa orang tua bahkan langsung berlutut dan memanjatkan doa seolah sedang memohon pada Tuhan hanya dengan melihat jubah itu.

"Apakah itu penguasa baru kita?"

"Dia memakai jubah merah tua."

"Bukankah dia terlihat sangat berwibawa?"

"Pengikutnya juga punya perawakan yang luar biasa tinggi."

"Bukankah ini berarti kita bisa berharap banyak?"

(Ini lebih dari yang kudengar.)

Noah merasa puas dengan reaksi yang melampaui ekspektasinya.

Dia tidak mengatakannya pada Albert, tapi jubah merah tua ini memiliki arti lain.

"Menaklukkan wilayah terpencil dengan kekuatan militer." Itulah cara penduduk Arcloy memandang jubah merah tua tersebut.

Kenyataannya, penduduk Arcloy merasa cemas di dunia yang dilanda perang ini, dan mereka sangat merindukan kehadiran penguasa yang mampu memimpin mereka dengan kekuatan militer.

Mereka sering mengalami invasi dan penjarahan dari negara tetangga maupun iblis jahat. Meski mereka mencoba melawan seadanya, Arcloy tidak memiliki pemegang otoritas yang bisa menyatukan para ksatria.

Penduduk sudah berulang kali meminta Grand Duke untuk mengirim perwakilan, namun permintaan itu selalu diabaikan.

Di tengah situasi itu, berita bahwa putra kandung sang penguasa—meski anak dari selir—akan datang memerintah, membuat penduduk sangat antusias.

Noah dituntun oleh penduduk menuju podium yang terletak di tengah alun-alun, lalu ia memulai pidatonya.

"Semuanya, terima kasih sudah berkumpul di pagi buta ini. Aku adalah putra keempat Grand Duke Uebel, Noah, yang mulai hari ini akan memerintah tanah Arcloy."

"Aku sangat memahami kesulitan kalian. Meski wilayah ini terancam oleh invasi negara lain dan serangan iblis, kalian kesulitan merespons karena tidak ada yang bisa menyatukan para ksatria lokal."

"Tapi, kalian boleh tenang karena aku sudah datang. Aku berjanji akan segera membentuk pasukan mulai hari ini untuk mengatasi masalah tersebut."

"Aku akan segera merekrut pasukan. Siapa pun yang percaya pada kemampuannya, entah itu ksatria maupun rakyat jelata, silakan mendaftar."

"Dalam sekejap, aku akan memperkuat Arcloy dan memukul mundur negara tetangga serta para iblis yang berani menginvasi kita!"

"UOOOOOOOOOOOOO!"

Para penduduk bersorak mendengar pidato penguasa baru yang tidak mengecewakan ekspektasi mereka.

Pada hari itu juga, para sukarelawan mulai berdatangan, tidak hanya dari sekitar kediaman tapi juga dari desa-desa tetangga.

Noah menempatkan para sukarelawan tersebut di bawah komando Ophelia.

Dan sejak saat ini, namanya bukan lagi Noah von Uebel, melainkan Noah von Arcloy, dan ia akan mulai menyebut dirinya sebagai Archduke Arcloy.

Noah von Arcloy

•       Kastil: Tidak ada

•       Ksatria: 1 orang

•       Kekuatan Militer: 10.000 orang (+9.999)

•       Pendapatan: ?

•       Aliansi: Tidak ada




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close