Penerjemah: Taksaka
Proffreader: Manahan
Chapter 4
Vanishing Twin di Malam Bintang Jatuh
1
"Mungkin bisa melihat Gerhana Bulan Sebagian yang sedang viral? Camp Langit Berbintang Anak-anak 3 Hari 2 Malam!".
Alasan aku berpartisipasi dalam acara itu adalah karena aku dipaksa oleh orang tuaku yang tidak tahan melihatku belum menyentuh tugas penelitian mandiri liburan musim panas.
Kala itu, aku sama sekali tidak tertarik pada alam semesta atau bintang. Acara yang diadakan pada bulan Agustus itu diselenggarakan oleh pengelola perkemahan. Rencananya, pada siang hari kami menikmati kegiatan luar ruangan seperti barbekyu, lalu saat malam tiba, kami menerima penjelasan tentang langit malam musim panas dari staf perkemahan. Jika bisa terjaga sampai larut malam, ada kemungkinan kami bisa melihat gerhana bulan sebagian.
Itu adalah acara yang sangat membantu baik bagi orang tua maupun anak, karena hanya dengan merangkum apa yang dialami, tugas penelitian mandiri pun selesai.
Aku bertemu "gadis itu" pada malam kedua acara. Hari yang diramalkan akan terjadi gerhana bulan sebagian. Itu adalah saat-saat terakhir sebelum acara berakhir keesokan paginya.
Setelah penjelasan bintang dari staf selesai, anak-anak kecil sudah tertidur. Hanya tersisa sedikit anak yang menggosok mata kantuk mereka sambil memandang gerhana. Aku meninggalkan orang tuaku yang menguap di dalam tenda dan berdiri sendirian di luar menatap bulan. Tanpa sadar, "gadis itu" sudah berdiri di sampingku.
"Selamat malam. Kamu Ryuuichi-kun, kan?"
Aku tersentak kaget karena dipanggil nama oleh anak perempuan yang tidak kukenal. Tapi kalau dipikir-pikir, semua peserta memang punya waktu untuk memperkenalkan diri pada hari pertama, jadi tidak aneh jika dia tahu namaku.
Sebaliknya, aku tidak tahu namanya. Ada sekitar 20 pasang orang tua dan anak yang ikut, apalagi sekolah kami berbeda-beda, jadi aku merasa tidak akan bertemu lagi setelah acara berakhir dan tidak berniat menghafal namanya meski dia memperkenalkannya.
"Apa kamu suka alam semesta atau bintang? Aku lumayan tahu banyak, lho."
Anak perempuan itu berkata dengan sok akrab dan mulai menjelaskan tentang gerhana bulan yang sedang terlihat saat ini.
Sesuai dengan kesombongannya, cara bicaranya jauh lebih hidup daripada penjelasan staf perkemahan. Hanya dengan mendengarkan, hubungan posisi antara bulan, matahari, dan bumi secara alami tergambar sebagai visual di dalam kepalaku. Topiknya tidak terbatas pada gerhana bulan saja, tapi meluas ke alam semesta secara umum.
"Lalu ya, kalau kamu menemukan komet baru, kamu bisa memberinya namamu sendiri. Hebat, kan? Namamu akan terus, teee-ruuus terbang di alam semesta ini. Jauh lebih lama dari umur manusia, ratusan tahun, ribuan tahun, atau mungkin lebih dari itu."
Padahal dia seumuran denganku, kenapa dia bisa tahu hal seperti itu?
Aku tidak terlalu paham apakah meninggalkan nama selamanya itu sehebat itu, tapi aku mengerti bahwa anak ini mengatakan sesuatu yang sangat dewasa.
"Memangnya apa gunanya menemukan komet baru? Tidak ada manfaatnya, kan."
Tanpa sengaja aku menyahut dengan ketus.
"Kalau aku pikir, komet mendekat ke bumi itu mungkin karena mereka ingin ditemukan oleh seseorang. Pasti kesepian terbang sendirian di alam semesta. Kalau begitu, kita ingin menemukannya, kan?"
Profil wajahnya yang menatap langit berbintang tampak tersenyum penuh arti. Merasa sedikit kalah dalam berargumen, aku menatap langit dan tiba-tiba menyadari ada titik cahaya yang bergerak di dekat bulan yang sedang sabit.
"Lihat, bintang itu! Bergerak cepat sekali! Bintang jatuh? Jangan-jangan itu komet!?"
Aku merasakan sedikit rasa superior karena menemukan kejanggalan di langit lebih cepat daripada gadis itu.
"Fufu. Bukan, itu satelit buatan. Komet tidak bisa ditemukan semudah itu, tahu."
Dia membantahku dengan tenang sambil terkikik. Wajahku terasa panas karena kegembiraan yang salah sasaran itu. Mata gadis itu yang tertuju pada diriku yang sedang malu terasa sangat lembut sampai-sampai membuatku kesal.
"Aku dan kamu akan berpisah malam ini, tapi... suatu saat nanti, temukanlah aku juga, ya."
Bersamaan dengan kata-kata itu, bibir gadis itu mendarat di pipi kiriku. Selagi aku terpaku tercengang, gadis itu sudah berjalan pergi menuju tendanya sendiri.
Saat menyentuh pipi kiri, rasanya panas membara. Namun, setelah keterkejutan awal mendingin, aku merasa kesal karena terus-menerus dipermainkan oleh anak perempuan yang tak dikenal. Aku berlari ke arah punggungnya menghilang dan segera menyusulnya.
"Tu, tunggu dulu!"
Saat aku mencengkeram bahunya, dia berbalik dengan wajah terkejut. Sepertinya dia tidak menyangka aku akan mengejarnya.
"A, ada apa?"
Ekspresi wajahnya sekarang terlihat kurang dewasa dibanding tadi, suasananya lebih sesuai dengan usianya. Karena itu, aku bisa menjadi sedikit lebih berani.
"...Pasti, akan kutemukan. Baik komet baru, maupun dirimu!"
Kala itu aku tidak tahu betapa mustahilnya hal itu, dan itu hanyalah gertakan belaka karena tidak mau kalah. Sebuah deklarasi perang untuk memuaskan harga diri kecilku agar tidak berakhir hanya dengan dipermainkan oleh seorang gadis.
"Janji, ya!"
Setelah mengatakannya secara sepihak, aku langsung berlari pergi tanpa mendengarkan suaranya yang memanggilku kembali ke tendaku.
Keesokan paginya, staf perkemahan memberikan gantungan kunci berbentuk bintang sebagai kenang-kenangan, dan aku langsung pulang. Di kursi belakang mobil yang dikemudikan ayahku, aku menggenggam gantungan kunci itu. Sudut-sudut bintang itu terus menusuk telapak tanganku untuk waktu yang lama.
Sejak saat itu, agar bisa bertemu lagi dengan "gadis itu", aku mulai belajar tentang alam semesta dan bintang. Suatu saat nanti aku akan menemukan komet yang belum diketahui dan membuatnya menyesal.
Semuanya bermula dari motivasi yang dangkal seperti itu. Pengetahuan astronomi pada awalnya hanyalah alat untuk bertemu "gadis itu", tapi perlahan aku mulai menyadari pesonanya. Jadi, entah baik atau buruk, aku yang sekarang ada karena pengaruh "gadis itu".
Aku sendiri tidak menyadarinya, tapi mungkin itu adalah cinta pertamaku.
2
Pada hari kamp pelatihan, tempat berkumpulnya adalah di tempat parkir staf sekolah. Di sana, kami mengeluarkan perlengkapan yang diperlukan dari ruang klub, memasukkannya ke dalam mobil SUV pribadi Inou-sensei, lalu berangkat. Rencananya adalah menuju perkemahan yang berada di atas gunung di prefektur lain.
Untuk sementara, semua anggota Klub Astronomi berkumpul tepat waktu. Mihare memakai kardigan warna khaki yang tidak mudah kotor sebagai luaran, dan celana trekking hitam. Dengan menutupi kulitnya menggunakan lengan panjang dan celana panjang, dia telah mempersiapkan diri dengan baik melawan udara dingin. Dan sosok Kunitomo, di mata siapa pun, terlihat jelas sedang sakit parah. Meski sudah memakai jaket berlapis-lapis, seluruh tubuhnya menggigil hebat, wajah di balik maskernya pucat pasi, dan tatapannya kosong menerawang. Kondisinya berada di level "bagaimana bisa dia sampai ke tempat kumpul ini?".
"Sebagai pembina, Sensei tidak bisa mengizinkanmu ikut kamp dengan kondisi kesehatan seperti ini."
Ujar Inou-sensei yang mengenakan setelan jersey, langsung menegaskan begitu melihat Kunitomo. Mihare pun ikut menyetujui.
"Benar kata Sensei, kamu harus istirahat! Jumlah keringat dan gemetar tubuhmu itu sudah seperti orang yang baru saja lari maraton sekuat tenaga!"
"...Nggak apa-apa, kok. Aku... juga suka lari maraton..."
Suara yang keluar darinya terdengar serak dan layu, seolah-olah dia baru saja membuka kotak terlarang Urashima Taro yang membuatnya menua seketika. Karena tidak mungkin membiarkannya ikut dalam kondisi begini, aku pun ikut angkat bicara karena mengkhawatirkannya.
"Lagipula, warna wajahmu itu pucat kebiruan seperti bintang Spica di rasi Virgo."
"...Perumpamaan itu... aku sedikit tidak paham."
"Pokoknya, hari ini kamu istirahat."
Sensei menimpali dengan sikap dewasa yang tegas.
Sebagai ketua klub, aku pun harus tega.
"Aku menghargai semangatmu, tapi ini benar-benar tidak mungkin. Ikutlah di kesempatan berikutnya."
"Tapi, tapi... kita... kekurangan orang..."
Meski begitu, Kunitomo sepertinya masih belum bisa menerima kenyataan. Memang benar absennya Kunitomo akan menurunkan kekuatan tempur kami secara drastis, tapi mau bagaimana lagi.
Tepat saat aku memantapkan hati bahwa aku harus bekerja berkali-kali lipat lebih keras untuk menutupi kekosongan itu...
"Ah, syukurlah. Kalian belum berangkat, ya."
Entah kenapa, aku merasa sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Onee-chan?"
Sayuki-san muncul di tempat parkir, mengenakan jaket unisex abu-abu tua dengan celana denim panjang yang menonjolkan kakinya yang jenjang. Gaya kasual yang terlihat cocok baik untuk di kota maupun kegiatan luar ruangan.
"Ini, Mihare. Ketinggalan, kan? Bukannya ini mau dipakai buat kamp?"
Yang dia ulurkan dengan tangan kanan putihnya adalah sesuatu yang tampak seperti sebuah kantong kecil (pouch).
Mihare terperanjat, merogoh isi ransel di punggungnya, dan menunjukkan ekspresi wajah yang seolah memunculkan efek suara jreng!.
"Benar, aku lupa! Maaf, Onee-chan. Padahal aku rasa sudah mengeceknya sebelum berangkat tadi."
"Syukurlah sempat. Kalian mau berangkat sekarang, kan? Semuanya, hati-hati di jalan, ya."
Mendengar kata-kata Sayuki-san, keheningan yang canggung menyelimuti tempat itu.
"Eh, sepertinya suasananya tidak mendukung, ya?"
Seolah menyadari hawa di sana, Sayuki-san tersenyum kecut. Pandangannya menyapu sekeliling dan langsung berhenti pada Kunitomo.
"Yuria-chan, wajahmu pucat sekali."
"A-aku tidak apa-apa."
"Tapi, tidak ada gunanya kalau kamu memaksakan diri lalu malah jatuh sakit, kan?"
"..."
Ekspresi Kunitomo yang memang sudah suram, kini tingkat kecerahannya semakin meredup.
"Begini, kalau kalian tidak keberatan, bagaimana kalau aku yang ikut untuk menggantikan Yuria-chan? Aku sering pergi berkemah dengan keluarga, jadi setidaknya aku tidak akan menjadi beban."
Mari kita ambil tawaran Sayuki-san ini.
Kunitomo tidak akan merasa tenang jika tidak ada solusi pengganti seperti ini. Biar bagaimanapun, dia itu tipe orang yang punya rasa tanggung jawab tinggi.
"Ah, aku tidak keberatan. Kunitomo, kalau Sayuki-san ikut, kami bisa menanganinya. Jadi, kamu istirahatlah dengan tenang tanpa perlu khawatir."
Kunitomo mengarahkan tatapan kosongnya yang sayu karena demam tinggi, bergantian menatapku dan Sayuki-san.
Tak lama, dia menundukkan kepalanya perlahan ke arah Sayuki-san.
"...Maaf. Aku titip... Klub Astronomi... tolong bantuannya..."
Dia jadi seperti karakter yang gugur bersama musuh sebelum pertarungan melawan bos terakhir, lalu menitipkan wasiat kepada rekannya.
Setelah situasi terkendali, Sensei bertepuk tangan dengan keras.
"Baiklah, sebelum menuju perkemahan, mari kita antar Kunitomo-chan pulang ke rumahnya dulu."
Sayuki-san mengangkat satu tangannya.
"Maaf, sensei. Setelah mengantar Yuria-chan, bolehkah mampir ke rumah kami sebentar? Saya ingin membawa beberapa perlengkapan untuk kamp."
"Oh, Sayuki-chan kan peserta dadakan, tentu saja ada barang yang ingin dibawa. Tentu boleh! Ayo semuanya, cepat naik!"
Mengikuti instruksinya, kami memasukkan barang bawaan masing-masing ke bagasi SUV Sensei, lalu naik ke kursi penumpang. Aku duduk di samping sopir, sementara ketiga gadis itu duduk di kursi belakang dengan Kunitomo berada di tengah-tengah.
"Nah, ini buatmu, Ketua."
Tepat sebelum berangkat, Sensei yang berada di kursi kemudi tiba-tiba memanggilku dan melemparkan sesuatu.
"Apaan nih, Sensei?"
"Yah, kegiatan yang dilakukan di dalam mobil saat menuju kamp pelatihan itu kan sudah jelas."
Sambil bingung, aku memastikan benda yang diberikan padaku.
Ternyata itu mikrofon karaoke.
"Maksudnya saya disuruh nyanyi? Ini bukan bus darmawisata anak SD, lho. Biasanya rekreasi dalam mobil begini kan dimulainya pas sudah masuk jalan tol, kan?"
"Tapi, kan cuma sekarang ini saatnya Kunitomo-chan ada di sini? Saya ingin setidaknya dia merasakan suasana kamp sedikit saja. Jadi, ayo Ketua, buat suasana jadi meriah!"
Tugas itu bukannya lebih cocok buat "Ketua Seksi Hiburan" daripada Ketua Klub?
Tapi, melihat suasana tiga orang di kursi belakang yang sudah seperti sedang di rumah duka, aku pun berpikir ulang. Wajar saja mereka lesu karena ada anggota yang tiba-tiba batal ikut. Terjepit di antara si kembar, Kunitomo terlihat diam membisu seperti mayat, mungkin karena kombinasi antara sakit dan rasa bersalah.
Kalau membiarkan Kunitomo pulang dalam keadaan begini, suasana hati yang lain pun akan tetap kacau. Mungkin benar kata Sensei, lebih baik menaikkan suasana secara paksa.
"Haa... baiklah, saya mengerti."
"Ooh, mantap, Ketua! Tenang saja, Saya sudah siapkan lagu yang sangat cocok untuk saat seperti ini."
Baru kali ini aku melihat Sensei se-bersemangat ini. Jangan-jangan beliau tipe orang yang kepribadiannya berubah total saat memegang setir?
Tak lama, intro lagu mengalir dari pengeras suara di dalam mobil. Aku langsung mengenalinya.
"...Tentai Kansoku (Pengamatan Benda Langit) dari BUMP."
Pilihan lagunya terlalu umum, sampai-sampai malah jadi tak terduga. Namun, karena aku sudah telanjur bilang akan melakukannya, aku tidak bisa melepaskan mikrofon begitu saja. Meski aku agak kurang percaya diri dengan lirik bagian bait keduanya.
"Iyeaaay! Semuanya, ini adalah konser tunggal Ketua! Ayo, tepuk tangan!"
"Saya tahu Anda semangat, tapi Sensei jangan ikut tepuk tangan, ya!"
Nyaliku ciut saat melihat tangan yang memegang setir itu sempat akan terangkat sejenak.
Mengikuti instruksi Sensei, suara tepuk tangan yang agak garing bergema di dalam mobil.
"Ngomong-ngomong, ini mungkin pertama kalinya aku mendengar Ryuuichi-kun menyanyi. Aku menantikannya lho, Yuria."
Mataku bertemu dengan Mihare melalui kaca spion tengah.
"...Iya."
Kunitomo yang duduk di sampingnya juga perlahan mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk. Meski tertutup masker, aku ingin percaya bahwa dia terlihat sedikit senang, dan itu bukan sekadar perasaanku saja.
Sayuki-san, yang memandangi Kunitomo yang mulai sedikit bersemangat, juga tampak lega. Apakah Sayuki-san sudah menduga hal ini sejak awal? Apa dia sengaja muncul di waktu yang tepat itu karena tahu Kunitomo akan batal ikut, sehingga dia bisa hadir sebagai pengganti? Rasanya terlalu berlebihan jika berpikir sejauh itu.
Andai pun itu disengaja, apa tujuannya sampai segitunya ingin ikut?
Niat aslinya selalu tersembunyi di balik senyum lembutnya itu. Sama seperti sisi belakang bulan yang tidak bisa diamati, meski aku menyipitkan mata sekuat tenaga pun, hal-hal yang disembunyikan tidak akan terlihat.
Begitu juga dengan hati orang lain, bahkan hatiku sendiri.
3
Setelah mengantar Kunitomo pulang ke rumahnya, kami menuju apartemen keluarga Asada untuk mengambil barang-barang Sayuki-san, lalu melesat di jalan tol. Kemudian kami melewati terowongan, sempat mampir di supermarket lokal untuk membeli bahan makanan segar, lalu menanjak melewati jalan pegunungan yang berkelok-kelok.
"Wah, syalnya lucu sekali!"
Mihare membuka hadiah yang diberikan Kunitomo saat berpisah tadi dan berseru gembira.
"Itu syal kasmir. Saat waktu hujan meteor nanti suhu akan turun drastis, jadi syal itu akan sangat membantu karena terasa hangat."
Mihare mengangguk berkali-kali menanggapi perkataan Sayuki-san, lalu segera melilitkan syal itu di lehernya.
"Iya, hangat sekali! ...Tapi, dipikir-pikir lucu juga ya, kita yang kembar malah menonton hujan meteor Gemini bersama-sama."
"Fufu, benar juga ya."
"Kapan terakhir kali aku pergi berkemah bareng Onee-chan, ya? Dulu waktu kecil kita sering pergi liburan keluarga."
Mendengar percakapan kakak-beradik dari kursi belakang, aku pun menoleh dan ikut nimbrung.
"Sekarang sudah tidak pernah pergi lagi?"
"Habisnya ada kegiatan klub, ada janji main sama teman, mana bisa kami terus-terusan menemani hobi Ayah."
"Ayah merasa kesepian karena sudah susah payah beli peralatan kemah baru tapi tidak ada yang mau ikut. Jadi mau tidak mau, belakangan ini beliau sepertinya sering solo camping."
"Heh, aku memang sering melihat Ayah pergi sendirian di hari libur, ternyata beliau melakukan itu ya."
Jawab Mihare dengan nada tidak terlalu tertarik.
Aku membayangkan punggung Ayah mereka yang tampak melankolis sambil menusuk-nusuk api unggun sendirian, dan aku jadi merasa sedikit kasihan.
"Dengar, Mihare. Tidak baik mengabaikannya terus seperti itu, bagaimana kalau mulai sekarang kamu yang menemani Ayah?"
Kata Sayuki-san kepada adiknya. Namun, Mihare langsung memasang wajah cemberut.
"Eeeh, tidak mau, merepotkan. Kalau Onee-chan bilang begitu, kenapa tidak Onee-chan saja yang lakukan? Onee-chan kan selalu cekatan menyiapkan perlengkapan kemah dan sering dipuji Ayah."
"Justru sebaliknya. Karena aku melakukan semuanya sendiri tanpa perlu diajari, Ayah malah terlihat bosan. Ayah itu kalau sedang berkemah, inginnya mengajari orang ini-itu atau dipuji karena ketangkasannya. Jadi, Mihare lebih cocok untuk itu."
"Dulu kan Onee-chan juga suka berkemah? Padahal dulu Onee-chan yang suka menyeret keluarga untuk pergi ke perkemahan ini-itu."
Kalau Ayah mereka tahu kedua putrinya saling melempar tugas untuk menemaninya, beliau pasti akan menangis.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita ambil jalan tengah dengan meminta Ryuuichi-kun yang pergi? Biarkan sesama lelaki berbicara dari hati ke hati."
"Tunggu sebentar, sebelah mananya yang dibilang jalan tengah, Onee-chan?"
Melihatku yang panik, Sayuki-san menunjukkan senyum penuh arti.
"Bukannya bagus? Karena bagaimanapun, suatu saat nanti dia mungkin akan menjadi ayah mertuamu, kan?"
"D-duh, Onee-chan! Hentikan, memalukan tahu!"
Wajah Mihare memerah padam sambil memukul-mukul bahu Sayuki-san dengan gemas.
Hari ini, perilaku Sayuki-san benar-benar mirip dengan Kunitomo. Apakah dia sedang mencoba menjembatani hubunganku dan Mihare sebagai pengganti Kunitomo yang berhalangan hadir?
Sambil memikirkan hal itu dan memandangi senyum tenang Sayuki-san, akhirnya perkemahan yang menjadi tujuan kami mulai terlihat. Tempat itu terletak di lembah pegunungan yang kaya akan alam dan dikelilingi hijaunya pepohonan. Karena letaknya tinggi dan udaranya jernih, langit berbintang akan terlihat sangat cantik di malam hari, menjadikannya tempat populer untuk pengamatan astronomi.
Bagiku, ini juga merupakan tempat perkemahan kenangan di mana aku bertemu dengan "gadis itu". Tapi alasan aku memilih tempat ini untuk kamp pelatihan sebenarnya sederhana saja, karena lokasinya relatif dekat dari kota tempat tinggal kami, tidak ada maksud mendalam lainnya.
Ya, meski keinginan untuk bisa bertemu "gadis itu" lagi memang ada, yah, walau cuma sedikit sekali.
Begitu berhenti di tempat parkir, getaran mesin yang sedari tadi mengguncang bokong kami pun berhenti.
"Wah, langitnya terasa dekat sekali!"
Mihare, yang turun dari mobil paling awal, mendongak menatap langit luas.
"Nnngh, udaranya juga segar!"
Semangat Mihare tampak melonjak drastis, dia kegirangan seperti seekor anak anjing.
Setelah itu, kami masing-masing memanggul barang bawaan dan menuju area perkemahan. Di area tenda, sudah berdiri berbagai macam tenda besar dan kecil. Karena daya tarik utama perkemahan ini adalah langit berbintang yang indah, ditambah lagi puncak hujan meteor Gemini yang sudah dekat, sepertinya banyak pengunjung lain yang datang dengan tujuan pengamatan astronomi sama seperti kami.
Hampir semua orang mengalungkan teropong di leher mereka, dan tidak jarang terlihat kamera dengan tripod atau teleskop besar berdiri di depan tenda-tenda. Peralatan yang dipamerkan beragam bagaikan pameran dagang; mulai dari perangkat rumahan yang terjangkau hingga alat berteknologi tinggi nan mahal yang bisa melacak bintang secara otomatis.
"Nah, mari kita pasang tenda di sekitar sini."
Ucap Sayuki-san yang membuat kami menghentikan langkah. Area itu memiliki ruang kosong yang cukup luas dengan hamparan rumput yang landai. Di atas kepala pun tidak ada dahan pohon yang menghalangi, sehingga sangat cocok untuk pengamatan astronomi.
"Setuju, kalau begitu mari kita pilih tempat ini."
Aku menurunkan barang-barang bawaan ke tanah. Di tengah kesibukan itu, Inou-sensei membuang ranselnya dengan suara dentum yang keras. Beliau merentangkan tangan dan kakinya, lalu berbaring telentang membentuk huruf 'X' di atas tanah.
"Aduh, capeknya... saya sudah lemas banget, nih."
"Yah, karena Sensei sudah menyetir terus dalam waktu lama, istirahat saja dulu. Sementara itu, biarkan kami yang merakit tendanya dengan cepat."
"Wah, memang Ketua bisa diandalkan. Kamu mengerti saja."
Sahut Sensei dengan wajah senang. Padahal sebenarnya, itu adalah pengumuman halus kalau beliau sudah 'dibebastugaskan' dari urusan pasang tenda.
"Kalau begitu, mari kita mulai pasang tenda untuk perempuan dulu. Tenda ini lebih besar dan memakan tempat. Mihare, bisa bantu Onee-chan?"
"Baik! Kasih tahu saja apa yang harus kulakukan!"
Mihare dengan penuh semangat menanggapi instruksi Sayuki-san.
Maka, pemasangan tenda pun dimulai.
Pertama adalah tenda wanita. Kami membuka tas dan mengeluarkan lembaran kain tenda serta tiang penyangga. Melihat komponen tenda yang berjajar satu demi satu di tanah, Mihare tampak terkejut.
"Hee, ternyata cukup besar ya."
"Sepertinya ini dibeli saat anggota Klub Astronomi masih lumayan banyak. Ini tenda tipe keluarga yang bisa memuat empat orang."
Tenda ini disebut tunnel-style two-room tent. Kapasitasnya besar dan kokoh, namun sebagai gantinya, merakitnya pun butuh perjuangan ekstra. Di saat Sayuki-san merakit tiang dengan cekatan seolah sudah sangat ahli, Mihare justru tampak kebingungan dan hanya mondar-mandir.
"Mihare, kamu bantu aku memasang pasak saja. Masukkan pasak ini ke lubang tali yang menjuntai dari tenda, lalu pukul dengan palu sampai tertanam ke tanah."
Aku memberikan contoh dengan memukul pasak sampai terdengar suara kan-kon.
"Dimengerti!"
Mihare tampak riang karena akhirnya diberi tugas.
Kami pun mulai memasang pasak dari sisi tenda yang berlawanan. Karena sudah terbiasa, aku bisa melakukannya tanpa masalah. Namun bagi pemula seperti Mihare, sepertinya sulit. Suara palu yang terdengar dari sisinya tidak beraturan, dan sesekali terdengar suara kasun—bunyi palu yang meleset dari pasak.
"Oi, kamu baik-baik saja?"
Teriakku ke arah sisi tenda satunya.
"A-aman kok, cuma begini saja mah!"
Sesaat setelah jawaban sok kuat dari Mihare itu, tiba-tiba terdengar teriakan kecil yang tidak enak didengar, "Higya!"
Aku segera melemparkan palu dan berlari memutar ke balik tenda. Di sana, aku melihat Mihare sedang memegangi tangan kirinya. Kelopak mata dan bibirnya terkatup rapat menahan sakit.
"Kena ya?"
"...Kena."
Dia mengulurkan tangan kirinya; ujung jempolnya tampak sedikit memerah. Sepertinya saat memegangi pasak, dia tidak sengaja mengayunkan palu ke jempolnya sendiri. Kesalahan yang lumrah bagi pemula. Aku juga pernah mengalaminya. Dan jujur, itu rasanya sakit sekali.
"Sini lihat."
"Eh? A-wa-wa..."
Aku mengambil tangan kiri kecil Mihare dengan lembut.
"Sakit?"
"E-enggak, kok. Sama sekali enggak. Cuma kena dikit."
"Tapi mukamu sampai merah begitu, beneran aman?"
"Aman, kubilang! Kamu tuh terlalu khawatir, tahu!"
Entah kenapa dia malah sedikit marah dan menepis tanganku.
"Mihare? Kamu tidak apa-apa?"
Sayuki-san datang menghampiri dan menatap tangan kiri adiknya.
"Aduh, kalian semua berlebihan deh. Cuma kena pukul sedikit kok."
"Tetap saja, bukankah lebih baik dikompres? Ada toilet tidak jauh dari sini, pergilah cuci jarimu dengan air mengalir di sana sebentar."
"Eeeh, tidak usahlah. Aku kan bukan anak kecil lagi."
Mihare membantah dengan wajah tidak puas. Namun, Inou-sensei yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana, menggelengkan kepalanya.
"Saya setuju dengan kakakmu. Meski kelihatannya tidak parah, lebih baik didinginkan dengan air bersih supaya tenang. Ayo, Saya temani."
"...Sudah kubilang aku tidak apa-apa..."
Mihare memang punya sisi keras kepala. Mungkin dia merasa tidak enak karena tidak bisa membantu memasang tenda. Menyadari hal itu, Sayuki-san memberikan sebuah usul.
"Kalau begitu, setelah mendinginkan jari, bisakah kamu membawakan kayu bakar? Kita butuh itu untuk api unggun nanti, jadi mari kita siapkan selagi sempat."
Setelah diberi tugas pengganti, akhirnya Mihare mau mengalah dan pergi menuju toilet ditemani Sensei.
"Dulu aku... apakah aku seceroboh itu ya?"
Sayuki-san menatap punggung Mihare yang menjauh dengan tatapan sedikit heran.
Saat itu, Sayuki-san tampak mengusap jempol kirinya sendiri, seolah ikut merasakan sakitnya. Pasti di "kehidupan pertama", dia juga mengalami hal yang sama. Dia seolah sedang mengingat kembali rasa sakit itu.
"Mihare memang punya kesan seperti itu sejak dulu, kok. Dia selalu bersungguh-sungguh dan serius, tapi terkadang memang agak ceroboh."
Walau begitu, bagiku itu bukanlah kekurangan, melainkan sisi manis dari Mihare.
"...Uuuh, jadi Ryuuichi-kun juga menganggapku begitu, ya."
Sayuki-san menutupi pipinya yang memerah dengan kedua tangan. Dia tampak malu seolah hal itu terjadi pada dirinya sendiri. Yah, bukan "seolah", tapi memang itu adalah dirinya.
"Melihat kecerobohanku di masa lalu rasanya seperti sedang menggali kembali aib masa lalu (kurorekishi)."
"Tapi, Sayuki-san yang sekarang menurutku sangat bisa diandalkan. Tadi saat memasang tenda, ketangkasanmu sangat membantu. Masa lalu ya masa lalu, sekarang ya sekarang."
"Kalau kamu bilang begitu, rasanya aku sedikit terselamatkan. Karena bagaimanapun, aku sudah berusaha semampu mungkin untuk membuat kehidupan kedua ini menjadi lebih baik."
"Untuk hal itu, kamu boleh lebih percaya diri. Perkembanganmu sangat luar biasa sampai-sampai aku tidak percaya kalau kamu adalah 'Mihare' di kehidupan kedua."
"Fufu, terima kasih. Kalau begitu, sebelum Mihare kembali, mari kita selesaikan pemasangan tendanya."
Sayuki-san mengambil pasak dan palu yang ditinggalkan Mihare, dan seperti ucapannya, dia menyelesaikannya dalam sekejap mata. Sulit dipercaya bahwa ini adalah sosok masa depan dari Mihare yang baru saja memukul jarinya sendiri dengan palu.
Pasak yang tertancap dalam dengan sudut enam puluh derajat terhadap tanah itu menahan tali tenda dengan sangat kokoh. Ada rasa stabil yang tidak akan goyah sedikit pun meski diterjang angin kencang. Bisa dibilang, itu adalah pemasangan tenda yang ideal.
"Serius, Anda hebat sekali, Sayuki-san. Berkat bantuanmu, tendanya sudah selesai dipasang."
Saat aku memujinya, Sayuki-san tersenyum agak malu-malu dan memalingkan wajahnya.
"Tapi, Mihare dan yang lainnya lama sekali, ya. Sudah sampai mana mereka? Toilet seharusnya tidak sejauh itu."
Aku pun mengarahkan pandangan ke arah mereka pergi, namun tidak terlihat tanda-tanda keberadaan siapa pun.
"Mumpung mereka belum ada, ada sesuatu yang ingin kutanyakan."
"Apa itu?"
"Apakah keikutsertaan Sayuki-san dalam kamp kali ini adalah sebuah kebetulan? Atau memang ada tujuan tertentu, dan Anda sengaja mengatur agar situasinya menjadi seperti ini?"
Aku memberanikan diri melontarkan pertanyaan yang terus mengusik pikiranku sejak dalam perjalanan menuju perkemahan tadi.
"Yang kedua. Saat di kehidupan pertamaku dulu, Yuria-chan juga batal ikut karena flu. Jadi aku berpikir, jika aku bergerak dengan benar, aku bisa ikut sebagai penggantinya. Dan ternyata semuanya berjalan sesuai perkiraanku."
"Jadi, dugaanku benar ya."
"Iya. Karena aku pikir, jika ingin memberimu peringatan, aku harus berada di dekatmu."
"Peringatan?"
Saat aku membeo, Sayuki-san berbalik menatapku dengan ekspresi serius. Sambil menahan rambutnya yang tertiup angin dengan tangan, tatapan matanya menusuk lurus ke arahku.
"Karena kamp pelatihan inilah awal mula kita... maksudku, kamu dan 'Mihare' mulai berjalan berlawanan arah."
Aku merasa ada sesuatu yang lebih dingin daripada udara gunung yang baru saja mengusap tengkukku.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Sederhana saja. Karena Yuria-chan tidak ada, kami kekurangan tenaga. Persiapan kamp dan pengamatan tidak sempat selesai tepat waktu, dan semuanya jadi berantakan. Padahal hujan meteor terlihat sangat indah saat itu, tapi pada akhirnya tidak ada satu pun yang berhasil terekam... Kamu dan 'aku' yang dulu benar-benar merasa sangat terpuruk."
Bagaimanapun juga, sebagai ketua klub, aku sudah merencanakan dan menyiapkan hari ini sejak jauh-jauh hari. Kalau semuanya gagal, wajar saja jika aku merasa depresi.
"Kegagalan saat itu menjadi pengalaman pahit di antara kami, dan sejak saat itu, suasana selalu terasa canggung setiap kali kami melakukan pengamatan bintang."
"Be-begitukah?"
"Iya. Sejak saat itu, Ryuuichi-kun tidak pernah lagi mau menyerahkan persiapan pengamatan bintang kepadaku."
"...Memang terdengar seperti sesuatu yang mungkin aku lakukan."
Itu artinya, aku hanya memperlakukan Mihare—yang sudah susah payah masuk Klub Astronomi—sebagai "tamu", dan tidak melihatnya sebagai anggota klub yang sesungguhnya. Akibatnya, waktu yang dihabiskan di Klub Astronomi pasti menjadi sangat tidak nyaman.
Aku membayangkan diriku yang sibuk mengatur kamera dan teleskop dalam diam, sementara di belakangku, Mihare berusaha keras mencairkan suasana yang canggung dengan melempar berbagai topik pembicaraan. Gambaran yang menyedihkan itu sangat mudah terbayang di kepalaku.
Di garis waktu ini, aku tidak ingin klub menjadi seperti itu. Entah kenapa, aku menyukai Klub Astronomi yang sekarang. Mengajari Mihare yang ceroboh, lalu kegirangan berdua melihat bintang yang tampak samar, sambil digoda oleh Kunitomo; aku sama sekali tidak membenci waktu yang bising seperti itu.
"Anu, maaf ya. Sepertinya diriku di masa depan telah membuatmu merasa tidak nyaman."
Berkat Sayuki-san yang terkekeh pelan, rasa bersalahku sedikit berkurang.
"Lagipula, Ryuuichi-kun yang sekarang tidak perlu minta maaf. Kamu yang ada di sini tidak melakukan kesalahan apa pun."
"Tapi, kalau aku berada di situasi yang sama, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Jadi, meski bukan sebagai permintaan maaf, kali ini aku tidak akan membiarkan kegagalan yang sama terjadi."
"Iya, aku menantikannya."
"Kalian berdua, maaf membuat menunggu!"
Tiba-tiba Mihare kembali dengan wajah penuh semangat. Rasa sedihnya tadi entah hilang ke mana, kini ekspresinya tampak cerah ceria.
"Maaf ya lama. Jariku sudah dikompres dengan benar jadi sudah tidak apa-apa. Lebih penting lagi, lihat, aku sudah bawakan kayu bakarnya seperti yang diminta. Dan lihat, banyak sekali!"
Sambil berseru "Tadaaa!", dia memamerkan tumpukan kayu bakar yang dipeluknya dengan kedua tangan. Di dalam dekapan lengan Mihare, dahan dan ranting dengan berbagai ukuran menumpuk tinggi. Jika dilihat lebih teliti, beberapa kayu itu masih memiliki daun hijau yang menempel. Firasat buruk terlintas di kepalaku.
Saat aku melirik Sayuki-san, ternyata di saat yang bersamaan dia juga menatapku dengan cemas. Tatapan kami bertemu, dan kami seolah berkomunikasi lewat pikiran.
Sayuki-san mengambil sebatang kayu dari tumpukan yang dibawa Mihare, lalu angkat bicara dengan nada berat.
"Mihare. Kayu bakar sebanyak ini, kamu dapat dari mana?"
"Eh? Tentu saja aku memungutnya di hutan dekat sini. Kalau sebanyak ini, apinya pasti bakal besar, kan? Aku dan Sensei sudah berjuang keras mengumpulkannya, lho!"
Di belakang Mihare, Sensei tampak sedikit membusungkan dada.
"Aduh, berkat itu pinggangku rasanya mau copot. Tapi ya, demi kenangan muridku yang manis, ini sih bukan masalah."
"Ah... dugaanku benar."
Aku spontan menepuk dahiku sendiri. Kemudian, Sayuki-san bicara dengan nada seolah tidak enak hati.
"Begini, Mihare. Saat aku memintamu membawakan kayu bakar, maksudku bukan menyuruhmu memungutnya, tapi memintamu membelinya di kantor pengelola perkemahan. Di sini kita bisa membeli kayu bakar yang memang sudah disediakan."
Mendengar penjelasan Sayuki-san, mata Mihare membelalak.
"Eeeh! Begitu ya?"
"Maafkan aku. Ini karena aku tidak menyampaikannya dengan jelas."
Di kantor pengelola perkemahan bagian depan, sebenarnya ada papan pengumuman bertuliskan "Menjual Kayu Bakar", tapi sepertinya baik Mihare maupun Sensei sama sekali tidak menyadarinya.
"Tapi... tapi kan karena kita bisa memungut sendiri, kita jadi hemat uang kayu bakar, kan? Lebih untung, lho."
"Sayangnya, semua yang kamu pungut itu kayu mentah, Mihare. Maksudnya, kayu yang baru saja patah dan belum kering total. Kalau masih ada sisa air di dalamnya, kayu itu susah terbakar. Kalaupun terbakar, asapnya akan banyak sekali dan mengganggu orang-orang di sekitar, jadi tidak bisa dipakai."
"Jreeeng!"
Hasil dari usahanya menebus kesalahan saat memasang tenda justru berakhir sia-laki lagi. Mihare begitu syok sampai matanya memutih. Bagaimana ya mengatakannya... dia benar-benar anak yang ceroboh sekaligus malang.
Tenaga hilang dari kedua tangan Mihare, dan tumpukan kayu mentah yang pasti dia kumpulkan dengan susah payah itu jatuh berantakan di kaki mereka. Suara jatuhnya kayu itu bergema hampa di area perkemahan.
4
Pada akhirnya, kayu bakar dibeli dari kantor pengelola. Kayu perkemahan yang sudah kering sempurna itu terbakar dengan baik, menyelimuti tungku dengan jubah berwarna oranye.
"...Padahal sudah capek-capek ngumpulin sebanyak itu," gumam Inou-sensei sambil duduk memeluk lutut di depan api unggun.
Sambil melirik Sensei yang sedang merajuk karena kerja kerasnya mencari kayu berakhir sia-sia, kami bertiga terus melanjutkan persiapan memasak.
Sebenarnya yang dilakukan cukup sederhana; hanya menusukkan daging sapi sirloin Amerika yang dibeli di supermarket secara bergantian dengan sayuran hijau dan kuning ke tusukan sate.
Mihare dan Sayuki-san, yang merupakan nona muda dari keluarga terpandang, sempat meminta daging sapi lokal (Wagyu) saat membeli, namun aku menolaknya karena masalah anggaran. Lagi pula, kalau untuk barbekyu, daging Amerika lebih cocok daripada Wagyu.
"Yah, kalau ada waktu, aku bisa merendamnya dulu dengan saus campuran shio-koji supaya jauh lebih enak."
Ucap Mihare yang suka memasak, sambil mengangkat tusukan dagingnya dengan nada kurang puas.
"Fokus utama kamp kali ini adalah pengamatan hujan meteor Gemini, bukan makanan kemah. Kalau waktu kita habis buat masak lalu melewatkan momen pengamatan, bukankah itu malah terbalik tujuannya?"
"Aku tahu sih, tapi tetap saja..."
"Kalau begitu, bagaimana kalau seperti ini?"
Begitu mendengar suara Sayuki-san, sebuah sendok tiba-tiba dijejalkan ke mulutku. Sendok itu segera ditarik keluar dengan licin, meninggalkan cairan dengan rasa asam segar dan manis di dalam mulutku.
Enak.
Melihat reaksiku, Sayuki-san tampak senang dan membusungkan dadanya yang besar dengan bangga.
"Aku memotong kecil-kecil nanas kalengan yang dibeli untuk pencuci mulut, lalu mencampurnya ke saus barbekyu. Hanya dengan merendamnya sebentar saja, enzim dari nanas seharusnya bisa membuat dagingnya sedikit lebih empuk. Bagaimana menurutmu? Waktu sebanyak itu pasti ada, kan?"
Sedari tadi aku memperhatikan dia mencampur berbagai bumbu di piring kertas dan mencicipinya, aku sempat bingung apa yang dia lakukan, ternyata dia membuat ramuan itu.
"Kalau tidak memakan waktu lama tapi bisa membuat makanan jadi enak, itu yang terbaik. Mihare juga pasti puas dengan ini, kan?"
Tentu saja, tadinya aku mengira akan mendengar jawaban riang, namun Mihare malah terdiam seribu bahasa.
"Ada apa? Kamu tidak puas?"
"...Itu kan sendok yang dipakai Onee-chan buat mencicipi tadi."
Mihare menatap tajam ke arah sendok di tangan Sayuki-san yang baru saja mengantar saus ke mulutku. Mendengar itu, Sayuki-san tampak terkejut dan menutupi mulut dengan tangannya.
"Ah, benar juga. Ryuuichi-kun, maaf ya. Sepertinya aku membuat kita melakukan ciuman tidak langsung."
Senyumnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.
"Ti-tidak, kok. Sama sekali tidak masalah bagi saya."
Aku mengatakannya, tapi aku bisa merasakan wajahku memerah karena malu.
"Ryuuichi-kun! Cicipi yang ini juga! Nih!"
"Tenang, Mihare! Mana bisa aku mencicipi kalau kamu mengarahkan tusukan sate kosong ke arahku! Berhenti, jangan pasang kuda-kuda seperti sedang main anggar!"
Sambil mengabaikan kami, Sayuki-san kembali mengambil sesendok saus barbekyu buatannya, lalu mencicipinya sendiri.
"Nnng, enak."
Setelah melewati berbagai drama, persiapan barbekyu akhirnya selesai selagi matahari masih terlihat. Meski agak terlalu awal untuk makan malam, kami harus makan sekarang karena setelah ini akan ada pengamatan astronomi.
Lemak menetes dari sate daging di atas panggangan, membuat bara arang yang menerimanya meletup kecil. Aroma harum daging dan saus yang terpanggang memenuhi udara, merangsang nafsu makan.
"Baiklah semuanya, sudah pegang daging masing-masing? Itadakimasu."
"Itadakimasu!"
Ketiga orang lainnya menyahut serentak mengikuti aba-abaku, dan pesta barbekyu pun dimulai.
"Enak banget ya ini. Jujur, karena dagingnya murah aku tidak terlalu berharap banyak, tapi tekstur empuk dan kenyalnya pas sekali."
Ujar Inou-sensei yang lebih dulu melahap sate dagingnya sambil mengangguk puas.
Aku pun menyusul menggigit daging di tusukanku, dan ternyata ulasan rasa dari Sensei cukup tepat sasaran. Karena ini daging tanpa lemak, memang ada sedikit tekstur keras, tapi bukan tipe keras yang berkualitas rendah sampai susah dikunyah. Semakin dikunyah, rasa gurih yang khas semakin keluar.
"Ini berkat saus barbekyu campur nanas itu. Membuat dagingnya jadi cukup empuk."
Sayuki-san dan Mihare menggunakan sumpit untuk melepas daging dari tusukannya dengan hati-hati, lalu memakannya dengan anggun. Cara makan seperti itu sebenarnya membuat fungsi tusukan sate jadi hilang, tapi apakah mereka melakukannya dengan sadar?
"Iya. Meski sedikit keras, kalau untuk barbekyu mungkin tekstur seperti ini justru bagus."
Kata Sayuki-san sambil mengangguk. Sepertinya nilainya lulus di matanya. Di sisi lain, wajah Mihare masih mendung sambil menunduk.
"Ada apa, Mihare? Masih kurang? Mau daging lagi?"
"E-eh, enggak kok. Sama sekali enggak. Menurutku ini enak sekali meski dibuat dalam waktu singkat. Onee-chan memang hebat ya. Sebagai adiknya, aku bangga sekali. Aku mau makan satu tusuk lagi ah!"
Mihare yang tiba-tiba mendongak panik, segera mengulurkan tangan ke tusukan sate yang baru.
Tak lama kemudian, setelah api barbekyu padam, kami semua berbagi tugas untuk membereskan sisa-sisa makanan.
Di perkemahan yang mengandalkan keindahan langit malam ini, hampir tidak ada lampu jalan yang dipasang agar tidak mengganggu cahaya bintang. Karena itu, jika matahari sudah terbenam, keadaan akan menjadi benar-benar gelap gulita. Kami harus menyelesaikan pembersihan selagi sisa semburat senja masih ada di langit.
"Aku yang bagian buang sampah dan cuci piring ya! Ryuuichi-kun siapkan peralatan observasi saja bareng Onee-chan."
Sambil berkata begitu, Mihare memegang kantong sampah yang sudah menggembung penuh dan tumpukan peralatan makan bekas pakai.
"Mana mungkin kamu bisa bawa sebanyak itu sendirian?"
"Aman kok, segini doang mah. Aku kan rutin latihan fisik."
Tanpa mendengarkan laranganku, dia langsung pergi menuju tempat pencucian piring seolah-olah sedang melarikan diri.
"Kenapa dia tampak begitu terburu-buru ya?"
"Mungkin, karena dia merasa tidak berguna tadi, jadi dia pikir dia harus berkontribusi sekarang?"
Mungkin saja.
Saat aku menatap ke arah perginya Mihare, tiba-tiba Inou-sensei berdiri.
"Kalau begitu, biar Saya yang pergi melihat keadaannya. Lagipula persiapan observasi tidak butuh tiga orang, kan?"
"Maaf, tolong bantuannya ya, sensei."
"Baiklah, mari kita lakukan bagian kita. Pertama, bisa tolong keluarkan Equatorial Mount-nya?"
Begitulah, aku dan Sayuki-san mulai menyiapkan kamera untuk pemotretan benda langit di depan tenda.
Orang-orang di sekitar pun sudah mulai menyelesaikan persiapan mereka, berulang kali mendongak ke langit dengan penuh harap. Antusiasme dan kegembiraan yang meluap terasa menyebar di seluruh area perkemahan.
Di langit barat, warna jingga kemerahan masih tersisa sedikit. Aku mengarahkan aplikasi astronomi di ponsel ke arah langit yang bergradasi itu untuk memastikan titik radian hujan meteor Gemini.
Setelah memasang kamera SLR pada tripod ke arah sana, aku mengatur sensitivitas dan sudutnya, lalu menyelesaikan persiapan. Tanpa perlu kuberi instruksi, Sayuki-san bergerak dengan sangat cekatan, sehingga pekerjaan selesai lebih cepat dari perkiraanku. Dengan begini, kapan pun hujan meteor turun, kami sudah siap.
Kegagalan di kehidupan pertama yang dikhawatirkan Sayuki-san seharusnya sudah berhasil dihindari sepenuhnya sekarang. Memang banyak masalah yang terjadi, tapi jika Sayuki-san tidak datang membantu di kamp ini, kami mungkin akan kekurangan tenaga dan jatuh ke lubang yang sama.
"Dengan begini, kita tidak akan ketinggalan momen pemotretannya."
"Ini semua berkat bantuan Sayuki-san yang datang sebagai penyelamat. Terima kasih banyak."
"Sama-sama. Aku juga merasa lega bisa membalas kegagalan di hari itu."
Sayuki-san memandangi kamera dan teleskop yang sudah terpasang dengan tatapan rindu. Namun, aku masih punya satu hal lagi yang harus dilakukan.
Acara utama hari ini: Memberikan kado ulang tahun untuk Mihare. Kadonya sudah siap. Tinggal masalah kapan harus memberikannya. Jika memungkinkan, akan lebih romantis jika diberikan di tempat yang sepi saat hanya ada kami berdua.
"Lho, Mihare-chan belum kembali juga?"
Di tengah kebimbanganku, Inou-sensei kembali sambil melihat ke sekeliling.
"Belum, Sensei. Bukannya Sensei yang pergi melihatnya tadi?"
"Iya. Tadi mereka berdua sempat mencuci piring sebentar, tapi dia selesai lebih dulu jadi Saya suruh duluan. Seharusnya itu sekitar 10 menit yang lalu."
Dari tempat pencucian piring ke tenda ini seharusnya tidak memakan waktu selama itu.
"Apa dia mampir ke suatu tempat ya?"
Inou-sensei bersedekap sambil memiringkan kepala.
"Apa ada tempat yang terpikirkan?"
Tanyaku pada Sayuki-san.
Sayuki-san mengedarkan pandangannya ke udara sejenak sebelum menjawab.
"...Mungkin, di hutan kecil dekat sini."
Mendengar jawaban itu, Inou-sensei berseru kaget.
"Hah? Walaupun masih ada sedikit cahaya, di dalam hutan sekarang pasti sudah cukup gelap dan menyeramkan, lho. Rasanya bukan tempat yang cocok buat jalan-jalan."
"Anak itu suka tempat-tempat redup seperti itu. Karena di sana tidak ada orang lewat, cocok untuk saat dia ingin sendirian. Pasti itu tempat yang paling nyaman bagi Mihare sekarang. Aku yakin dia ada di sana."
Cara bicaranya seolah dia pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya. Jangan-jangan hal yang sama juga terjadi di kehidupan pertama Sayuki-san? Dari apa yang kudengar, kamp mereka dulu sangat canggung, jadi mungkin dia juga menyendiri di hutan itu karena merasa terpuruk.
Jika Mihare yang sekarang juga ada di sana...
"Baiklah. Aku coba cari dia sebentar."
Aku kembali ke tenda sejenak, lalu menyampirkan tas ransel berisi kado di bahuku. Kuharap dengan memberikan ini, dia bisa sedikit lebih ceria.
"Maaf, aku akan segera kembali."
Setelah berpamitan pada Inou-sensei dan Sayuki-san yang tampak cemas, aku menuju ke arah hutan kecil tersebut.
Suara zak-zak dari dedaunan kering yang terinjak sol sepatuku terdengar jelas. Itu adalah bukti bahwa aku telah melangkah keluar dari rumput perkemahan yang rapi menuju hutan yang hampir tidak tersentuh tangan manusia.
Hutan yang dipenuhi pepohonan jarum itu tampak suram dan rimbun, bahkan cahaya matahari yang hampir tenggelam pun tidak bisa menembusnya. Jika siang hari tempat ini cukup ramai dengan orang yang berjalan-jalan, sekarang saat hari mulai gelap, tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia sama sekali.
Aku menyalakan senter di ponsel dan mengamati keadaan sekitar.
"Ooooii, Mihare! Kamu di sana?"
Teriakanku tidak memantul, melainkan terserap jauh ke dalam hutan. Apa dia benar-benar ada di sini?
Saat aku mulai ragu apakah dugaanku salah, tiba-tiba...
"Ryuuichi-kun, kenapa kamu di tempat seperti ini?"
Mihare muncul dari balik bayangan pohon. Aku merasa sedikit lega dan menjawab.
"Itu pertanyaanku. Sebentar lagi akan semakin gelap, bahaya lho berada di dalam hutan tanpa lampu jalan begini."
"A-ahahaha, sudah jam segini ya. Maaf ya, malah membuatmu repot-repot menjemput."
Dia memberikan senyuman yang terlihat dipaksakan.
"Ada alasan tertentu kamu sendirian di tempat seperti ini?"
"...Nggak ada apa-apa, kok. Yuk, buruan balik ke tenda."
Mihare menjawab seolah ingin mengalihkan pembicaraan, lalu meraih tanganku mencoba keluar dari hutan. Namun, aku tetap berdiri mematung di tempat.
"Ryuuichi-kun? Ayolah, kalau tidak cepat..."
"Sebelum itu, ada sesuatu yang ingin kuberikan pada Mihare."
"Eh?"
Wajah Mihare sedikit mendung, tampak cemas. Untuk mencerahkan ekspresi itu, aku membuka tas yang sedari tadi kupanggul. Peralatan kemah, perlengkapan observasi... aku telah membawa berbagai macam beban sepanjang hari ini, tapi di antara semuanya, benda inilah yang paling berat—dan yang paling berharga.
Demi hari ini, demi momen ini, aku terus memikirkan apa yang harus kuberikan. Setelah dilanda berbagai keraguan, akhirnya aku mengeluarkan hadiah yang kupilih dengan tangan yang gemetar karena gugup.
"Mihare, selamat ulang tahun."
Mihare menatap hadiah yang kuulurkan itu dengan tatapan kosong.
"...Ini, ...boneka?"
Seperti yang dikatakan Mihare, yang kusiapkan adalah sebuah boneka beruang besar.
"Iya. Aku sempat berpikir ini mungkin kekanak-kanakan, tapi waktu kita ke departemen store dulu, kamu terus-menerus bilang ini lucu, jadi kupikir kamu akan senang."
Aku tanpa sadar melontarkan kata-kata yang terdengar seperti pembelaan diri. Sementara itu, Mihare masih menatap boneka di depannya dengan wajah terpana. Kedua lengannya terkulai lemas di sisi tubuhnya, bahkan tidak ada tanda-tanda dia akan menerimanya.
"Jangan-jangan... kamu tidak suka?"
"Ti-tidak mungkin! Aku senang kok! Terima kasih!"
Kedua tangan Mihare terjulur, menerima boneka itu dariku lalu memeluknya erat di depan dada. Kepala besar si beruang menyembunyikan kepala kecil Mihare yang memerah padam.
"..."
Ke-kenapa Mihare diam saja? Apakah dia benar-benar tidak menyukainya? Rasa cemas muncul bertubi-tubi seperti air mancur, membuat kepalaku panik.
"Ma-maafkan aku!"
Tiba-tiba, Mihare menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Eh, apa? Apa aku baru saja diputuskan?"
"Bu-bukan! Aku... aku sempat memikirkan hal yang sangat jahat. Karena itu aku jadi merajuk, dan aku merasa sangat bersalah pada Ryuuichi-kun..."
Mihare membenamkan wajahnya di belakang kepala boneka itu untuk menyembunyikan wajahnya yang merona, lalu mengoceh dengan cepat dan tidak keruan.
"Tunggu, tenanglah. Jelaskan pelan-pelan dari awal."
"...Sejak Ryuuichi-kun kenal dengan Onee-chan, aku merasa kalian berdua jadi semakin akrab... Hari ini pun kalian terus terlihat kompak, dan waktu Yuria memberikan kadonya tadi, aku tidak sengaja mendengar bisikan darinya kalau Ryuuichi-kun berkonsultasi dengan Onee-chan soal kado untukku..."
Mihare melanjutkan kata-katanya sambil memainkan ujung syal merah pemberian Kunitomo.
"Aku berpikir, kalau terus begini Ryuuichi-kun bakal direbut oleh Onee-chan. Makanya hari ini aku berusaha keras untuk pamer, tapi semuanya tidak berjalan lancar. Aku jadi merasa kalau pacar yang pantas untuk Ryuuichi-kun itu memang Onee-chan, dan akhirnya aku terpuruk sendiri."
Begitu rupanya. Alasan dia begitu bersemangat yang tidak seperti biasanya adalah karena itu.
"Dalam keadaan begini, kalau aku diberi kado hasil pilihan bersama Onee-chan, aku pasti tidak bisa merasa senang dengan tulus. Makanya, kalau tadi aku menerima kado ulang tahun dari Ryuuichi-kun... aku berniat untuk minta putus."
Aku mengingat kembali ekspresi Mihare tepat sebelum aku memberikan kado tadi. Jadi, itu adalah wajah seseorang yang telah membulatkan tekad untuk berpisah denganku? Hatiku terasa sesak mengetahui betapa aku telah menyudutkan Mihare sampai sejauh itu.
"Tapi... Ryuuichi-kun memberikan kado yang kamu pilih sendiri, jadi aku merasa sangat senang..."
"...Bagaimana kamu bisa tahu kalau boneka ini pilihan aku sendiri?"
Melihatku yang kebingungan, Mihare terkekeh pelan.
"Tentu saja tahu. Kalau ada saran dari Onee-chan, dia pasti tidak akan membiarkanmu memilih boneka. Pasti jadinya kosmetik atau sarung tangan."
Tepat sekali.
"Maaf ya, punya pacar yang selera pilih kadonya payah."
"Bu-bukan begitu maksudku! Karena Ryuuichi-kun sudah bingung, berpikir keras, dan memilihkan kado ini dari sekian banyak pilihan khusus untukku... aku merasa sangat, sangat senang... Karena itu, aku... sepertinya aku masih ingin tetap jadi pacar Ryuuichi-kun. Boleh, kan?"
Akhirnya, Mihare mengangkat wajahnya. Pipinya memerah, dan matanya sedikit berkaca-kaca. Sepasang mata yang lembap itu menatapku penuh harap.
"Hal itu justru aku yang ingin memintanya."
"...Iya, terima kasih. Maafkan aku ya karena sempat berpikiran jahat."
"Akulah yang harus minta maaf. Sebenarnya, aku juga sempat berpikir untuk mengikuti saran Sayuki-san. Tapi, aku sadar kalau begitu nanti jadinya bukan kado dariku..."
Sesaat sebelum menjatuhkan pilihan, yang terlintas di benakku adalah sosok Kunitomo. Mengingat bagaimana dia begitu peduli bahkan sampai soal kertas kado dan pita demi hadiah Mihare, aku sadar bahwa yang penting bukanlah apa yang diberikan, melainkan perasaan yang terkandung di dalamnya.
"Lalu, maaf juga karena membiarkan Mihare sendirian dan malah asyik mengobrol dengan Sayuki-san. Aku tidak tahu kalau kamu sampai segalau itu..."
"Fufu, yah mau bagaimana lagi. Tanpa membela keluarga sendiri pun, Onee-chan memang cantik, nyambung kalau bicara dengan Ryuuichi-kun, dan hari ini pun dukungannya hebat sekali, kan?"
Mihare tertawa kecil.
"Benar, aku tidak bisa membantah itu. Mengobrol dengannya menyenangkan, dia bisa diandalkan, dan dia orang baik."
"Dadanya juga besar, kan?"
"..."
"Iya, kan?"
Te-tekanan tatapannya kuat sekali.
"...Iya."
Aku berdehem sekali untuk mengembalikan pembicaraan.
"Anu... Sayuki-san memang sosok yang mau tidak mau akan langsung terlihat, seperti bintang magnitudo satu yang paling silau di langit malam. Tapi, hanya sebatas itu. Aku... ingin terus melihat Mihare, yang selalu berusaha keras untuk bersinar, dari jarak yang paling dekat."
Tujuan teleskop diarahkan tidak selalu harus ke bintang yang paling terang. Justru bintang yang sulit dilihat dengan mata telanjanglah yang membuat kita penasaran dan ingin mengintipnya melalui teleskop. Rasa ingin tahu itu tidak pernah berhenti; di arah mana ia mengapung hari ini, seberapa terang ia bersinar, hingga membuat kita lupa waktu.
Bagiku, itulah Asada Mihare.
"I-itu, anu... terima kasih."
"......Mihare adalah orang yang bisa berjuang 1,41 kali lebih cepat daripada orang lain. Orang seperti itulah yang kubutuhkan di sisiku."
"1-1,41 kali? Bukannya itu angka yang nanggung ya?"
Mihare memasang wajah sangsi.
"Bukan begitu. Jika kecepatan benda yang terbang dengan Kecepatan Orbit Pertama bertambah 1,41 kali, ia akan menjadi cukup cepat untuk melepaskan diri dari gravitasi Bumi dan pergi ke tempat yang jauh. Tapi, tidak ada yang menyadari hal itu. Semua orang sudah kewalahan hanya untuk terbang di Kecepatan Orbit Pertama, dan akhirnya hanya berputar-putar tanpa bisa kabur dari medan gravitasi Bumi.......Makanya, Mihare itu hebat."
Alasan aku menerima pengakuan cinta dari Mihare adalah karena aku sedikit tertarik pada bagian dirinya yang seperti itu. Aku berharap jika itu Mihare, dia bisa membawaku—yang masih tertahan oleh sosok "gadis itu" dalam ingatan—pergi ke tempat yang berbeda.
"A-aku tidak terlalu paham, tapi aku tahu kalau kamu sedang memujiku."
Mihare tampak malu-malu dan memeluk bonekanya dengan sangat erat.
"Karena itu, aku ingin kamu tetap menjadi pacarku, dulu maupun sekarang."
Setelah mengutarakan perasaan itu dalam kata-kata, rasa malu tiba-tiba menyergapku. Tapi memalingkan wajah di saat seperti ini rasanya tidak tulus. Aku harus menatap mata Mihare dalam-dalam. Mihare pun menatapku balik, seolah ingin memastikan perasaanku.
Untuk sesaat tatapan kami beradu, hingga akhirnya Mihare mengangguk pelan.
"......Iya. Aku mungkin masih banyak kekurangan, tapi mohon bantuannya."
Sudah tidak ada lagi yang menghalangi kami. Tanpa ada yang memulai, kami saling mendekat perlahan.
Di dalam hutan, hanya keheningan yang terasa semakin menebal. Mata Mihare berkaca-kaca seolah menginginkanku, dan bibirnya yang gemetar sedikit maju. Seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata, aku mendekati Mihare. Napas kami saling beradu, bercampur, melebur, dan tepat sebelum bibir kami bersentuhan—
"Mihare—? Ryuuichi-kun—? Kalian di sana—?"
Diiringi suara langkah kaki gasagasa, Sayuki-san memecah keheningan. Seketika, kekuatan yang tadi menarik bibirku dan Mihare berbalik arah, menjadi gaya tolak seperti magnet dengan kutub yang sama, dan menjauhkan tubuh kami. Tubuh Mihare terpental sekitar tiga meter ke belakang.
"O-Onee-chan! Sudah lama tidak bertemu!"
Mihare, yang sudah mengambil jarak jauh dariku, bersikap dengan sangat dibuat-buat. Mihare tetap saja tidak pandai berpura-pura di saat seperti ini. Yah, aku juga tidak lebih baik sih.
Jika itu Sayuki-san, dia pasti langsung menyadari apa yang hampir kami lakukan. Pasti dia akan menggoda kami lagi.
"Mihare? Itu, boneka itu...?"
Namun, dugaanku meleset. Sayuki-san membelalakkan matanya saat melihat beruang di dalam pelukan Mihare.
Kalau dipikir-pikir, aku memang belum memberitahu Sayuki-san bahwa aku mengembalikan kado Mihare menjadi boneka beruang, jadi pemandangan ini mungkin di luar dugaannya.
"I-ini kado ulang tahun dari Ryuuichi-kun. Lucu, kan?"
Melihat boneka beruang yang disodorkan Mihare, Sayuki-san sempat kehilangan kata-kata untuk beberapa saat.
"......E-eh, iya. Syukurlah ya, Mihare. Ayo, kalian berdua cepat kembali ke tenda, pertunjukan langitnya akan segera dimulai."
"Be-benar juga! Harus buru-buru!"
"O-oke!"
Meski ada sedikit rasa sesal meninggalkan waktu berdua dan keheningan tadi, tapi karena Sayuki-san sudah datang, mau bagaimana lagi.
Aku dan Mihare saling bertatapan lalu tertawa kecut. Dan tanpa sadar, kami saling bergandengan tangan, lalu bergegas keluar dari hutan sebelum kegelapan total menyelimuti.
5
Kembali ke depan tenda, Inou-sensei yang duduk di kursi kemah tampak terbungkus selimut sambil menghangatkan diri di depan api unggun.
"Maaf sudah membuat sensei menunggu."
"Ya ampun, kalian tepat waktu. Bintang-bintang sudah mulai terlihat satu per satu."
Di langit timur yang ditunjuk Sensei, butiran cahaya kecil mulai bertaburan. Debu berlian yang mengapung dengan latar belakang tirai hitam. Mihare menahan napas melihat pemandangan jernih yang tidak akan pernah bisa dilihat di langit kota yang kusam.
"Wah, cantiknya..."
Matanya yang terbuka lebar bersinar tak kalah terang dari langit berbintang. Aku menunjuk bintang paling terang yang mengambang di langit malam.
"Yang terlihat paling bersinar itu adalah Sirius dari rasi Canis Major. Dengan mata telanjang Sirius terlihat seperti satu bintang, tapi sebenarnya itu adalah bintang biner di mana dua bintang saling mengorbit satu sama lain. Bintang biner seperti itu juga sering disebut sebagai bintang kembar."
"......Ehe. Katanya bintang kembar lho, Kak."
Mihare menatap bintang tetap yang paling terang di langit musim dingin itu dengan penuh haru, lalu menoleh ke arah kakak kembarnya.
"Iya, aku tahu. Tapi walaupun disebut bintang kembar, ukuran dan kecerahan kedua bintang tetap itu benar-benar berbeda. Bintang utamanya, Sirius A, bersinar sangat terang hingga bisa dilihat mata telanjang, sementara bintang pendampingnya, Sirius B, sangat redup hingga tidak bisa dilihat tanpa teleskop."
"Hmm, ternyata tidak mirip sama sekali ya. Rasanya seperti kita."
Mendengar penjelasan Sayuki-san, Mihare kembali menatap langit dengan tatapan penuh empati.
Di sampingnya, aku kembali menunjuk. Dulu aku adalah pihak yang diajari oleh "gadis itu", tapi sekarang aku berada di pihak yang mengajar. Aku merasa sedikit senang bisa merasakan pertumbuhanku sendiri.
"Bintang yang bersinar merah di atas Sirius itu adalah Betelgeuse dari rasi Orion. Jika kamu menarik garis dari keduanya, titik yang membentuk puncak segitiga adalah Procyon dari rasi Canis Minor. Ketiganya adalah Segitiga Musim Dingin."
"Eh, tunggu-tunggu. Kasih tahu sekali lagi!"
Mihare merapatkan tubuhnya padaku agar bisa melihat arah tanganku dengan jelas.
"Nah, itu, kelihatan tidak?"
"U-uh, iya? Yang itu ya?"
Ujung jariku yang terulur dan milik Mihare bersentuhan ringan di udara. Di ujung jari kami, terdapat bintang yang sama.
"Iya, benar, yang itu."
"Berarti, yang itu dan yang itu membentuk segitiga!"
"Di sebelah kiri segitiga itu ada rasi Gemini. Hujan meteor kali ini akan memancar dari sekitar sana, jadi sebaiknya kamu perhatikan area sekeliling itu dengan santai."
"Oke, aku mengerti! Memang kalau melihat langit bintang yang asli, semangat jadi menggebu-gebu ya."
Aku dan Mihare berbaring di atas alas tikar yang dibentangkan di atas rumput, memandang langit malam yang luas. Orang-orang di sekitar juga duduk di kursi atau tikar, semuanya mendongak ke atas.
Seluruh area perkemahan diselimuti suasana romantis. Tinggal menunggu kedatangan hujan meteor saja. Di tengah suasana seperti itu, tiba-tiba terdengar suara cemas Sayuki-san.
"Anu, Ryuuichi-kun. Baterai kameranya lemah. Mungkin tidak akan tahan sampai lima menit lagi."
"Eh, serius?"
Aku buru-buru berdiri dan memeriksa kamera. Seperti kata Sayuki-san, ikon baterai sudah berubah menjadi merah.
"Benar. Kenapa cepat sekali habisnya? Padahal seingatku sudah kuisi penuh."
Aku segera kembali ke tenda untuk mengambil baterai cadangan. Dalam pemotretan benda langit, kamera harus terus menyala, jadi konsumsi baterainya sangat boros. Karena itu, aku sudah menyiapkan cadangan untuk mengantisipasi baterai habis.
Aku membuka penutup kamera dan mengganti baterainya. Seharusnya ikon baterai sekarang sudah kembali normal.
"Lho? Kok tidak bisa? Baterainya masih merah."
Bahkan setelah itu, layarnya malah menjadi gelap total, tidak merespons sama sekali. Aku sudah mencoba melepas dan memasang baterai berkali-kali, tapi tidak ada perubahan.
"Ke-ke-kenapa jadi begini?"
Mihare yang ikut mengintip kamera di sampingku juga ikut panik. Aku teringat akan satu hal.
"...Waktu sesi pengamatan di atap sekolah kemarin kan hujan? Saat itu kameranya lumayan basah, mungkin karena itu sekarang rusak."
"Ti-tidak mungkin!"
"Kamera ini model lama yang sudah dipakai turun-temurun di klub astronomi. Tidak heran kalau rusak setelah terkena air hujan."
"Ma-maafkan aku. Padahal aku merasa sudah mengelapnya sampai benar-benar kering dengan handuk..."
Wajah Mihare menjadi pucat, seolah-olah dialah yang telah merusaknya.
"Tidak, Mihare sudah mengelapnya dengan baik. Pasti sebelum itu tetesan airnya sudah merembes ke bagian dalam. Jangan dipikirkan. Lagi pula, meski tidak ada kamera SLR, ponsel zaman sekarang pun kalau pengaturannya benar bisa memotret dengan cukup bagus kok."
Aku tidak bermaksud sekadar menghiburnya, itu adalah perkataanku yang tulus. Jika ini untuk memotret komet baru yang belum diketahui mungkin lain cerita, tapi malam ini hanyalah pemotretan benda langit biasa. Namun, Mihare yang didera rasa bersalah tampak seperti hampir menangis. Apa pun yang kukatakan sepertinya tidak masuk ke telinganya.
"Ma-maaf, sungguh, maafkan aku. Ini semua gara-gara aku."
Suara pilu yang terus berulang itu membuat hatiku perih hanya dengan mendengarnya.
Aku merasakan firasat buruk. Mungkinkah ini "ramalan" yang dikatakan Sayuki-san? Aku merasa kata-kata Sayuki-san bahwa kamp ini akan menjadi pemicu perpisahan kami sedang mulai menjadi kenyataan.
Ini adalah krisis terbesar hari ini. Apa yang harus kulakukan? Menghibur Mihare? Tapi sekarang, apa pun yang kukatakan sepertinya tidak akan bisa menghentikan air matanya. Tapi, menyediakan peralatan pengganti kamera SLR di saat seperti ini juga mustahil...
"Kalau begitu, mau pakai kamera yang kubawa?"
Seketika semua pandangan tertuju pada Sayuki-san.
"Sebenarnya, aku meminjam kamera Ayah."
"I-itu sekarang ada di mana?"
Aku langsung menyambar tawaran itu bagaikan mendapat bantuan di saat terjepit.
"Masih ada di mobil Sensei, jadi bisa segera kuambil. Sensei, boleh pinjam kuncinya?"
"Tentu saja. Tapi, kebetulan sekali ya kamu membawanya?"
Diberi pertanyaan yang wajar oleh Sensei yang menyerahkan kunci mobil, Sayuki-san menunjukkan senyuman yang hanya kumengerti maknanya.
"Yah, perasaanku sedikit tidak enak tadi."
"Kalau begitu, aku ikut. Bahaya kalau perempuan sendirian ke tempat parkir di tengah kegelapan begini."
"Kalau begitu, aku juga ikut!"
Mihare ikut bersuara menyusulku.
"Terima kasih. Kalau begitu biar Ryuuichi-kun saja yang membantuku, Mihare tunggu di sini ya."
"Tapi..."
"Selagi menunggu, pergilah cuci mukamu. Lihat, matamu sampai bengkak karena menangis begitu. Kamu kan bukan anak kecil lagi."
Bagaikan sedang membujuk adik yang usianya terpaut jauh, Sayuki-san menyeka air mata Mihare dengan saputangan. Diperlakukan seperti itu, Mihare tidak bisa membantah lagi. Wajahnya setelah diseka dengan saputangan itu memerah karena campuran rasa malu dan rasa bersalah.
"I-iya. Terima kasih, Onee-chan."
Begitulah, aku dan Sayuki-san meninggalkan tenda menuju tempat parkir. Semakin kami berjalan, keberadaan orang semakin berkurang. Sepertinya semua orang berkumpul di area tenda yang pandangannya terbuka untuk melihat hujan meteor Gemini.
"Anda sudah tahu hal ini akan terjadi, kan?"
Mendengar pertanyaanku, Sayuki-san yang berjalan di sampingku tersenyum.
"Iya. Karena aku sudah pernah mengalaminya."
Setelah sampai di tempat parkir yang sepi, kami mencapai mobil SUV Sensei dengan mengandalkan sedikit cahaya. Dia membuka pintu belakang dan mengeluarkan tas kamera dari bagasi.
Saat aku memeriksa isinya, ternyata itu adalah kamera SLR yang jauh lebih mewah daripada milik klub astronomi.
"Ini sangat membantu. Dengan begini, Mihare bisa merasa tenang."
"Syukurlah hari ini tidak menjadi kenangan sedih bagi kalian berdua. Sepertinya kadonya juga sukses diberikan ya."
Sambil memberikan senyum lembut yang manis, aku pun terburu-buru menundukkan kepala.
"A-anu... ma-maafkan saya."
"Kenapa minta maaf?"
"Habisnya, padahal Anda sudah susah payah membantu saya memilih kado, tapi akhirnya tidak jadi saya berikan."
"Tidak usah dipikirkan. Mihare kan senang, jadi bukankah itu bagus?"
Dalam senyumannya itu, tidak terasa sedikit pun ada tanda-tanda kemarahan. Aku merasa sedikit lega, dan baru tersadar akan satu hal lagi.
"Anu, Sayuki-san juga, selamat ulang tahun."
"Eh?"
"Karena Anda adalah kakak kembar Mihare, berarti hari ini adalah ulang tahun Sayuki-san juga, kan? Jadi, selamat ulang tahun....Kalau boleh, sarung tangan yang kita beli bersama itu, ingin saya berikan kepada Sayuki-san. Apakah Anda mau menerimanya?"
"Benda itu, untukku?"
"Iya....Anu, meski kedengarannya seperti kado bekas pakai, saya benar-benar minta maaf. Tapi, waktu itu Sayuki-san sepertinya juga menginginkannya... lagi pula, saat dicoba kemarin, itu sangat cocok untuk Anda."
"......"
Ugh, dia terdiam dengan ekspresi wajah yang tampak sendu.
"Maaf, ternyata itu tidak sopan ya! Lain kali, saya akan memberikan kado lain yang lebih pantas!"
"......Kalau begitu, aku punya sesuatu yang kuinginkan."
Tiba-tiba, sepasang matanya menatapku tajam seolah menembus sukaku.
"Apakah itu?"
"Boneka beruang."
Sesaat, aku tidak bisa memahami apa yang dia katakan.
"Ta-tapi itu kan kekanak-kanakan..."
"Benar, boneka itu memang kekanak-kanakan untuk siswi SMA, kuno, dan... tapi, bagi 'aku' di kehidupan pertama, itu adalah benda yang tak tergantikan. Makanya, aku sedikit berharap jika Mihare yang sekarang diberi kado lain, aku bisa mendapatkan boneka itu sebagai gantinya."
"Kenapa sampai begitu..."
"Karena, akulah yang menerima boneka itu di kehidupan pertama. Aku tidak ingin benda itu jatuh ke tangan orang lain. Jika kehilangan itu juga, aku bukan lagi 'Mihare'. Aku akan kehilangan kualifikasi sebagai pacar Ryuuichi-kun."
"......"
Aku tidak menyadarinya. Sama sekali tak menyangka kalau Sayuki-san menginginkan boneka itu. Apakah alasan dia menyarankanku menyiapkan kado lain adalah karena dia ingin menerima boneka itu untuk dirinya sendiri? Tatapan memohon Sayuki-san terasa menjeratku. Terasa lebih panas dari biasanya, seolah bisa membakarku.
"Aku menyukai Ryuuichi-kun. Makanya, di kehidupan kedua pun, aku ingin menjadi pacarmu... Aku ingin masuk ke dalam peran itu, dan sejak lama, hanya hal itulah yang kupikirkan."
"Sejak lama?"
Apa maksudnya sejak pertama kali kami bertemu? Atau sejak dia masuk SMA? Seolah membaca kebingungan di kepalaku, Sayuki-san menjawab.
"......Sejak kehidupan keduaku dimulai."
"Jangan-jangan, maksud Anda sejak Anda lahir?"
"Iya. Supaya suatu saat nanti bisa ditemukan oleh Ryuuichi-kun, supaya bisa menjadi pacar yang sempurna untukmu, aku terus berjuang keras sejak aku lahir."
Senyumannya tampak malu sekaligus menghina diri sendiri. Aku teringat cerita Mihare dan Kunitomo tentang masa kecil Sayuki-san.
Tentang dia yang selalu memakai payung untuk menjaga kulit dari sinar UV, belajar dan olahraga hingga selalu jadi yang terbaik di angkatan, bahkan melakukan senam pembesar payung demi bentuk tubuh di masa depan, dan mulai tertarik pada astronomi.
Apakah itu semua hanya demi menarik perhatianku saat kami bertemu di SMA nanti?
"Meski begitu, Ryuuichi-kun tetap memilih Mihare yang di sana?"
Kata-kata itu membuat hatiku goyah sesaat.
Orang ini, benar-benar datang sejauh ini hanya karena ingin menjadi kekasihku sekali lagi. Perasaanku hampir saja hanyut, namun senyuman Mihare terlintas di benak dan menahanku.
"......Bagaimanapun, pacarku yang sekarang adalah... Mihare."
"Bagaimana dengan komet itu? Bukannya kamu berniat menemukan komet dan bertemu kembali dengan gadis cinta pertamamu?"
Pertanyaan itu menimbulkan riak kecil di hatiku. Sayup-sayup, aku seolah mendengar suara "gadis itu" memanggilku dari kejauhan. Namun, suara itu segera hilang.
"Keinginan untuk bertemu 'gadis itu' memang ada. Tapi sekarang aku punya Mihare. Aku sadar ada orang yang harus lebih kuhargai daripada gadis dalam kenangan."
Seperti yang pernah dikatakan Sayuki-san, itu mungkin memang cinta pertama. Tapi, aku tidak lagi merasa menyesal. Kenangan itu biarlah tetap indah, tersimpan rapi di dalam kotak harta karun di hatiku.
Seolah membaca keteguhan hatiku, Sayuki-san memasang senyum kesepian.
"Begitu ya. Ternyata memang berakhir begini."
"Iya. Maafkan saya."
"Jangan minta maaf, ini kan pilihan yang Ryuuichi-kun buat."
Sayuki-san menatap ke langit bintang. Namun bagiku, dia tampak seperti sedang menahan air mata.
Apa yang harus kukatakan padanya?
Selagi aku bimbang, Sayuki-san menghela napas panjang, lalu berbalik menatapku lagi. Wajahnya kini hanya dihiasi senyum lembut seperti biasa, tanpa ada bekas air mata.
"......Kalau begitu, sebagai balasan kado ulang tahun dariku yang baru saja ditolak ini, aku akan memberimu sesuatu."
"Ti-tidak usah, saya tidak bisa menerimanya."
Tanpa memedulikan penolakanku, Sayuki-san melangkah mendekat tanpa suara. Belum sempat aku merasa tegang karena jarak yang mendadak dekat, wajah Sayuki-san sudah berada tepat di depanku, dan bibirnya menyentuh pipi kiriku. Di pipi yang dingin karena udara musim dingin, seolah-olah ada percikan api yang menyala. Sentuhan yang lembut dan hangat.
Aku dicium di pipi. Tekstur bibirnya yang menyentuh perlahan terasa sangat nyata hingga mengejutkanku. Manis, dan terasa sedikit lembap.
"......!"
Hanya sebuah sentuhan, tapi dadaku berdegup kencang dan panas. Seolah-olah ada sesuatu yang meledak sekaligus di lubuk hatiku. Sensasi sekilas dari musim panas itu—yang coba kulupakan tapi tak pernah bisa—kini bangkit kembali.
Di dunia nyata, wajah Sayuki-san yang baru saja mencium pipiku perlahan menjauh. Kemudian, dia meninggalkan satu kalimat yang menggantung seperti sisa nada yang manis.
"......Padahal aku sudah bilang, 'suatu saat nanti, temukan aku juga'."
Kata-kata yang dibisikkan tepat di telingaku itu membuat napasku tercekat. Di tengah sisa sensasi manis itu, guncangan yang dibawanya terasa dingin dan tajam, menusuk dadaku.
"Sa-Sayuki-san?"
Saat aku memanggilnya dengan suara bergetar, dia tersenyum sedikit malu, namun entah kenapa terasa provokatif. Ekspresi itu tumpang tindih dengan sempurna dengan senyuman "gadis itu".
"Gadis di perkemahan yang kamu temui dulu itu... sebenarnya adalah aku."
Memang, aku pernah mencurigai hal itu. Pengetahuan astronominya, pembawaannya yang dewasa, senyumannya yang memikat, mata yang seolah bisa melihat menembus segalanya; terlalu banyak kemiripan dengan gadis dalam kenanganku.
"Ta-tapi, waktu aku menunjukkan gantungan kunci kenang-kenangan itu, Anda bilang tidak tahu, kan?"
"Maafkan aku, waktu itu aku benar-benar tidak tahu."
"Ka-kalau begitu, tidak mungkin itu Sayuki-san. Kalau Anda ada di perkemahan saat itu, Anda pasti ikut acaranya dan tahu soal itu."
Melihatku yang mati-matian menyangkal, Sayuki-san menatapku dengan tatapan yang seolah menganggapku lucu.
"Bukan begitu. Aku pergi ke perkemahan itu untuk liburan keluarga. Aku bukan peserta acara tersebut, jadi baik aku maupun Mihare tidak mendapatkan kenang-kenangan itu."
"......Ah."
Kalau dipikir-pikir, itu hal yang wajar. Aku selama ini berasumsi bahwa "gadis itu" juga peserta acara, padahal tidak aneh jika ada orang lain yang mengunjungi perkemahan tanpa ada sangkut pautnya dengan acara tersebut.
"Ja-jadi, saat itu aku benar-benar bertemu dengan Sayuki-san?"
"Iya.......Padahal aku ingin Ryuuichi-kun sendiri yang menemukanku. Dasar tidak peka."
Dia tertawa tampak menyesal, sosok "gadis itu" yang kini telah dewasa.
"......Pertemuan kita saat itu, bukan sebuah kebetulan, kan?"
Mendengar pertanyaan itu, Sayuki-san sedikit menunduk, bayangan jatuh di wajahnya bagaikan gerhana bulan. Setelah ragu sejenak, dia mengangguk.
"Iya."
Aku sudah merasakannya.
"Karena di kehidupan pertama, aku dengar kamu bertemu gadis yang pintar soal luar angkasa saat libur musim panas SD. Karena aku tahu itu adalah cinta pertamamu, dan kamu terus mengejar komet demi bertemu kembali dengannya.......Makanya, di kehidupan kedua ini, aku memutarbalikkan sejarah dan berusaha menjadi sosok 'gadis itu'."
Dulu, Sayuki-san pernah bilang. Aliran waktu yang besar tidak bisa diubah. Yang bisa dilakukan paling-paling hanyalah mengubah "pemerannya". Ternyata dia sudah mempraktikkannya. Sayuki-san telah menggantikan peran sebagai cinta pertamaku.
Apakah alasan Sayuki-san menemani hobi kemah ayahnya sejak kecil juga demi bertemu denganku? Kata-kata Sayuki-san tadi terngiang kembali di benakku.
'Supaya suatu saat nanti bisa ditemukan oleh Ryuuichi-kun, supaya bisa menjadi pacar yang sempurna untukmu, aku terus berjuang keras sejak aku lahir.'
Tepat seperti ucapannya. Dari awal hingga sekarang, bukankah seluruh kehidupan kedua Sayuki-san adalah kehidupan yang dipersembahkan sepenuhnya untukku? Demi bersatu denganku suatu saat nanti, dia terus melakukan segala upaya dan persiapan.
Sosok "gadis itu" dalam ingatanku yang selama ini kabur, kini perlahan menjadi jelas, seperti lensa teleskop yang akhirnya menemukan fokusnya. Sosok itu, benar-benar memiliki rupa Sayuki-san.
"Tapi, kenapa... sampai segitunya demi orang sepertiku..."
"......Karena, aku hanya punya Ryuuichi-kun."
Sambil berkata begitu, Sayuki-san mendongak menatapku dengan tawa yang lemah. Ekspresi itu baru saja kulihat beberapa saat yang lalu. Benar-benar serupa dengan Mihare.
Senyum cemas Mihare saat dia ingin putus karena merasa tidak pantas denganku, dan senyuman Sayuki-san saat ini, terlihat tumpang tindih tanpa celah sedikit pun.
"Kehidupan keduaku sebagai 'Sayuki' benar-benar berbeda dibanding saat aku menjadi 'Mihare'. Setelah kehilangan sahabat yang berharga, aku baru sadar betapa berartinya hidup sebagai 'Mihare'. Tapi, menyesal pun sudah terlambat.......Satu-satunya yang tersisa bagiku sekarang hanyalah kamu."
Suaranya kecil, namun entah kenapa terdengar seperti teriakan.
Sayuki-san kemudian ambruk dan menyandarkan tubuhnya padaku. Berat badannya yang kutangkap secara spontan terasa sangat ringan, hingga aku takut dia akan lenyap seperti salju karena suhu tubuhku.
"......Maafkan aku. Aku egois kan......"
Air mata mengalir di pipi Sayuki-san. Butiran air mata yang jatuh itu bersinar pedih dan terus mengalir satu demi satu. Persis seperti hujan meteor Gemini yang akan kami lihat nanti. Tanganku yang hendak memeluk punggungnya yang bergetar terhenti di saat terakhir.
Bolehkah aku melakukannya? Benarkah ini benar?
"......Aku tidak ingin... berpisah dengan Ryuuichi-kun dengan cara seperti itu.......Makanya aku sangat, sangat ingin memperbaikinya...... Dan karena itu......"
Setelah itu, suara Sayuki-san tidak lagi membentuk kata-kata. Itu adalah cerita masa depan yang tidak kuketahui.
Cerita kehidupan pertama Sayuki-san. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Tapi melihat Sayuki-san yang menangis tersedu-sedu, aku bisa merasakan bahwa hubungan kami berakhir dengan cara yang sangat tragis. Karena itulah, Sayuki-san mencoba memperbaiki segalanya di kehidupan kedua. Terus-menerus melawan gaya pemulihan waktu.
Selama ini aku mengira Sayuki-san—meski mengaku sebagai Mihare dari kehidupan kedua—adalah orang yang sama sekali tidak mirip dengan Mihare. Tapi aku salah. Sayuki-san... tanpa diragukan lagi, adalah "Mihare".
Ceroboh, bersungguh-sungguh, tulus, dan selalu memikirkanku. Mihare yang berusaha keras melakukan ini-itu agar berguna saat berkemah, namun berakhir sia-sia. Sayuki-san yang mempertaruhkan seluruh hidupnya di kehidupan kedua demi menjadi kekasihku kembali.
Aku tidak bisa membedakan keduanya. Di hadapanku, Mihare dari kehidupan kedua sedang menangis. Bagiku, hanya itu yang bisa kupikirkan. Bukankah baru saja aku mengatakannya kepada Mihare yang sekarang? Bahwa aku ingin dia tetap menjadi kekasihku, dulu maupun selamanya. Jika Sayuki-san adalah "masa depan" dari Mihare...
"......Ryuuichi-kun."
Dia memanggil namaku seolah memohon. Di saat yang sama, wajahnya perlahan mendekat. Aku tahu bahwa tujuan bibirnya kali ini bukanlah pipiku. Aku tahu, tapi aku tidak bisa menghentikannya. Aku tidak mencoba menghentikannya. Dan akhirnya, aku memanggil Sayuki-san dengan nama itu.
"......'Mihare'."
Kini tak ada lagi yang menghalangi kami.
"---! Ry-Ryuuichi-kun!"
Sayuki-san memanggil namaku sambil menangis. Kemudian bibirnya menyentuh bibirku. Sensasi yang segar dan lembut. Ciuman pertama itu terasa seperti rasa air mata. Persentuhan bibir itu tidak berlangsung lama, lalu kami perlahan saling menjauh tanpa ada yang memulai.
"......"
Dalam waktu yang seolah berhenti, tatapan kami saling menjerat. Begitu jeda singkat itu berakhir, Sayuki-san kembali menginginkanku. Wajah Sayuki-san yang tampak mabuk kepayang merapat seketika. Dia melingkarkan lengannya erat-erat di leherku, seolah tidak akan pernah melepaskanku lagi. Bibir kami bertautan kembali. Namun, ini bukan lagi ciuman lugu seperti sentuhan bulu tadi. Ini kasar, seolah ingin melahap, dengan suara kecipak air yang kental terus terdengar —sebuah tata krama orang dewasa. Aku membiarkan diriku pasrah saat bibir dan lidahku dihisap.
Aku tidak tahu kapan harus mengambil napas. Di saat aku menghirup udara, aku juga menelan saliva Sayuki-san. Tapi, aku rasa Sayuki-san pun melakukan hal yang sama. Karena merasa sesak, kami melepaskan bibir sejenak dan air liur kami membentuk benang tipis. Jembatan saliva yang terbentang di antara mulut kami memantulkan cahaya bintang di tengah kegelapan, tampak seperti Bima Sakti yang mengapung. Lalu kami kembali merapatkan wajah, tenggelam dalam ciuman.
Tadinya kupikir jika aku bertemu kembali dengan "gadis itu", aku bisa memutus daya tarik kenangan itu dengan bersih. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Dengan bertemu kembali, aku justru terjebak dalam kekuatan yang jauh lebih dahsyat.
Mungkin sejak hari libur musim panas itu, aku memang sudah tertangkap oleh Sayuki-san, dan sejak awal tidak pernah ada cara untuk melarikan diri.
Lengan Sayuki-san yang melingkar di punggungku terasa lebih kuat dari lubang hitam, seolah tidak akan melepaskanku. Hisapan bibir Sayuki-san yang menginginkanku dengan lebih hebat lagi memperlihatkan obsesi yang telah meninggalkan akal sehat.
Dibutuhkan sedalam ini oleh orang ini... saat memikirkan hal itu, rasa senang mengalahkan rasa takut. Menyerahkan diri pada Sayuki-san, yang adalah "gadis itu" sekaligus "Mihare", dan tenggelam sedalam mungkin bersamanya, terasa sangat nikmat hingga tak tertahankan.
Di atas kepala, Segitiga Musim Dingin berkedip-kedip, seolah menertawakan kebodohanku.




Post a Comment