NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no ane wa 2-shu-me no kanojo V1 Interlude 4

 Penerjemah: Taksaka

Proffreader: Manahan


Interlude 4


"Ryuichi-kuun? Onee-chan? Kalian di mana? Sebentar lagi hujan meteornya turun, lho!"


Aku sengaja mengeraskan suaraku dengan nada ceria untuk mengusir rasa takut berjalan di kegelapan yang remang-remang. Hanya berjalan sedikit dari area perkemahan, keramaian orang sudah benar-benar hilang.


Setelah selesai mencuci muka di wastafel toilet wanita dan merasa segar, aku menunggu mereka berdua kembali, tapi mereka tidak kunjung muncul. Karena mereka tidak mengangkat telepon, aku jadi khawatir mereka tersesat, makanya aku datang mencari mereka ke sini. Sebenarnya aku ingin Inou-sensei ikut menemaniku, tapi wajah tidurnya terlihat sangat nyenyak, jadi aku tidak tega membangunkannya. 


Sambil merasa kesepian, aku melangkah maju satu demi satu.


"Halo, kalian berdua! Kalau begini terus, kalian bakal melewatkan pemandangan indahnya, lho!"


Meski sudah memanggil, tidak ada suara yang menyahut. Bahkan desis angin pun terasa menyeramkan. Padahal siang tadi aku begitu terkesan dengan kekayaan alam di sini, tapi sekarang aku sangat merindukan cahaya buatan manusia.


Saat aku terus berjalan gontai di dalam area parkir, aku menemukan dua bayangan manusia di balik mobil Sensei. Akhirnya aku bisa merasakan keberadaan orang lain dan merasa lega. Siluet itu tanpa ragu lagi adalah Ryuichi-kun dan Sayuki Onee-chan.


"Kalian berdua, tidak apa-apa? Maaf ya sudah merepotkan gara-gara aku—"


Ucapanku terhenti, kakiku terpaku di tempat saat hendak berlari menghampiri. Untuk ukuran orang yang sedang mengobrol, bayangan mereka berdua terlalu dekat. Tampak hampir menyatu.


Apa yang sedang mereka lakukan? 


Karena tertutup kegelapan yang tipis, aku tidak bisa melihat dengan jelas, tapi itu terlihat seolah-olah... tidak, tidak mungkin. Aku hanya terlalu banyak berpikir. Aku mencoba membuang imajinasi buruk itu dari kepalaku.


"......Nngh, ......haa......"


Saat itu, angin malam membawa sebuah suara. Suara yang seolah-olah terlepas karena tidak sanggup lagi ditahan itu menggelitik telingaku, dan seluruh tubuhku seketika membeku. Justru karena tidak bisa melihat dengan mata, imajinasiku malah menjadi liar. Ini pertama kalinya aku mendengar suara Onee-chan yang seperti itu.


Dia selalu menjadi orang yang dewasa, keren, dan tenang. Karena itulah aku merasa dia sulit didekati, tapi di saat yang sama aku juga menghormatinya. Tadi pun, dia dengan tenang dan lembut membantuku menutupi kesalahanku yang ceroboh. Namun, suara yang terdengar dari balik kegelapan sekarang benar-benar berbeda dari Onee-chan yang biasanya. Begitu penuh gairah hingga telingaku terasa seperti terbakar, dan nada suaranya terdengar seperti sedang bermanja. Dan, yang terdengar bersahutan dengan itu adalah suara beratnya. Aku tidak percaya bahwa suara kasar yang mirip geraman binatang itu berasal dari dia yang lembut yang kukenal. 


Tapi, itu berarti Onee-chan lah yang telah mengubahnya menjadi seperti itu. Ada sosok mereka berdua yang tidak kukenal di sana, terkurung dalam dunia yang hanya milik mereka sendiri. Tidak ada ruang bagiku untuk masuk ke sana. Yang bisa kulakukan hanyalah mencuri dengar embusan napas kasar yang terlepas dari dua orang yang sedang berlekatan itu.


Sebaliknya, napasku sendiri terasa sunyi seolah-olah telah berhenti.


Apa sebutan untuk perasaan ini? Penyesalan? Kecemburuan? Dengki? Amarah? Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, tidak tahu, tidak tahu. Semuanya terasa cocok, tapi semuanya juga terasa salah.


Ekspresi yang mereka berdua tunjukkan padaku selama ini muncul lalu menghilang di benakku. Aku tahu kalau mereka berdua memang lebih serasi. Hari ini pun begitu. Sepanjang waktu di kamp, Onee-chan lah yang jauh lebih berguna.


Onee-chan jauh lebih cantik dariku, bentuk tubuhnya lebih bagus, dan dia wanita yang penuh perhatian. Dari seratus orang, seratus orang pasti akan memilih Onee-chan.


Sesak. Bukan napas, tapi dadaku yang terasa sesak. Terasa sakit seolah sedang robek.


Dari kejauhan, terdengar suara sorak-sorai banyak orang. 


"Wah, hebat!", 

"Cantik sekali!".


Mendengar kekaguman itu, aku pun tanpa sadar menengadah ke langit. 


Di langit malam yang bertaburan butiran cahaya, sebuah garis putih melintas dengan cepat. Seolah-olah datang untuk menertawakanku, hujan meteor Gemini turun dengan indahnya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close