NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no ane wa 2-shu-me no kanojo V1 Chapter 2

 Penerjemah: Taksaka

Proffreader: Manahan


Chapter 2

Di Bawah Langit Berbintang Palsu


1


Kegiatan klub astronomi kami tidak hanya sebatas pengamatan benda langit. Tentu saja, pengamatan langsung adalah kegiatan yang penting, tetapi izin untuk memonopoli atap sekolah hingga larut malam tidaklah mudah didapat. Ditambah lagi, meski sudah mendapat izin, kegiatan sering kali dibatalkan tergantung cuaca, seperti kejadian sebelumnya.


Oleh karena itu, sekitar sebulan sekali, ada hari di mana kami pergi ke planetarium. Di sana, kami bisa memandangi langit berbintang dengan saksama tanpa terpengaruh cuaca, dan ini juga menjadi latihan kecil untuk pengamatan berikutnya. Karena program pertunjukannya berubah sebulan sekali, rasanya selalu segar dan menyenangkan tidak peduli berapa kali pun kami datang.


Setelah bergoyang di dalam kereta selama sepuluh menit lebih, seluruh anggota klub astronomi tiba di planetarium tujuan. Di sana, bukan hanya kelompok pelajar seperti kami, tapi terlihat juga pasangan pekerja kantoran—mungkin karena di sini orang bisa tenggelam dalam suasana romantis dengan mudah di tengah kota.


"Hari ini, aku senang Yuria bisa ikut bergabung dengan klub astronomi."


Sambil menunggu Inou-sensei yang pergi membeli tiket hari itu kembali, Mihare menyapa Kunitomo Yuria yang ada di sampingnya.

Gadis berambut pendek dengan kulit cokelat terbakar matahari yang tampak sehat itu, Kunitomo, membalas dengan tawa ceria.


"Beneran, maaf ya soal kemarin. Aku benar-benar kelelahan setelah latihan lari sekuat tenaga. Tapi, bukannya pengamatan hari itu hujan lebat? Kalau gitu, mungkin aku beruntung karena tidak ikut."


Keduanya adalah teman masa kecil sejak sebelum masuk SD, dan mereka sangat akrab hingga sekarang pun berada di klub atletik yang sama. Berkat Mihare yang mengajak Kunitomo untuk bergabung di klub astronomi sebagai klub sampingan, syarat jumlah anggota minimal tiga orang terpenuhi, dan klub ini berhasil lolos dari ancaman pembubaran.


"Daripada itu... kalian berdua tidak mau pakai Premium Seat saja?"


Kunitomo menunjuk iklan di papan digital di dinding sambil menyeringai.


"Ah, soal itu..." 


Saat Mihare ragu-ragu menjawab karena malu, aku yang menjawab sebagai gantinya.


"Mana mungkin kami duduk di sana, kursi itu memalukan sekali. Alih-alih melihat bintang, kami malah jadi tontonan."


Premium Seat adalah kursi di barisan paling depan di planetarium. Berbeda dengan kursi umum yang hanya untuk satu orang, tipe ini adalah sofa yang bisa diduduki dua orang atau lebih. Intinya, itu adalah kursi khusus pasangan dengan harga yang juga sedikit "premium".


Di sekitar kursi premium tersebut tidak ada penghalang pandangan, bahkan posisinya lebih rendah dari kursi umum, sehingga rasanya seperti dipamerkan di depan umum.


"Tapi kalian bisa berdekatan secara sah di kegelapan, lho? Kalian berdua pasti sedikit tertarik, kan?"


Sebagai teman masa kecil Mihare, Kunitomo tentu tahu hubungan kami. Itulah sebabnya, rasanya merepotkan karena dia selalu menggoda kami setiap ada kesempatan.


"A-aku juga merasa kursi itu... agak kurang nyaman karena terlihat jelas oleh orang sekitar."


Aku lega ternyata Mihare punya perasaan yang sama denganku.


"Hah, kalian berdua kolot sekali ya."


Jangan bicara seenaknya hanya karena ini urusan orang lain.


"Semuanya, maaf membuat menunggu. Tiketnya sudah kubeli."


Selagi kami berbincang, Inou-sensei kembali sambil mengibas-ngibaskan tiket di satu tangannya.


"Karena kursi sudah banyak terisi oleh reservasi, sepertinya tidak mungkin bagi kita semua untuk duduk berkelompok."


"Mihare, kursimu di mana? Aku di D-3."


"Aku di D-2."


Kedua gadis itu saling memperlihatkan tiket yang dibagikan secara acak oleh Sensei. Mereka duduk bersebelahan.


"Shibukawa?"


Kunitomo menoleh ke arahku dengan tatapan yang seolah mengharapkan sesuatu.

"Aku di B-1."


Begitu aku menjawab, Kunitomo langsung menepuk dahinya sambil berseru, "Yah..."


"Terpisah dari Mihare, ya? Kamu nggak beruntung banget, Shibukawa. Nah, ini."


Tiket milikku direbut, dan sebagai gantinya, tiket milik Kunitomo dijejalkan ke tanganku.


"Kamu ingin duduk berdampingan, kan?"


"Bukannya aku merasa tidak enak atau apa..."


"Sudah, tidak apa-apa. Sebagai gantinya, jangan lakukan hal aneh-aneh pada Mihare hanya karena tempatnya gelap, ya. Yah, kalau cuma sekadar pegangan tangan sih, aku izinkan."


"Kamulah yang berpikiran aneh!"


"Kalau begitu, sisanya kuserahkan pada pasangan muda ini."


Anak ini, dia malah mengabaikanku.


"Ayo, ayo, semuanya berangkat—"


Inou-sensei memandu kami menuju pintu masuk planetarium seperti seorang guru yang sedang memimpin karyawisata. Tunggu, dia memang benar-benar guru pembimbing kami. 


Bagian dalam planetarium terasa remang-remang, musik yang menenangkan mengalun lembut, membuat siapa pun melupakan hiruk-pikuk kota dan kelelahan sehari-hari. Sebuah ruang luar biasa yang terisolasi dari rutinitas. 


Kami berjalan masuk, menemukan kursi kami, lalu duduk. Banyak orang mengira planetarium hanyalah tempat untuk menatap gambar langit berbintang, namun belakangan ini teknologinya telah berkembang pesat. Dengan memanfaatkan peralatan audio untuk memutar musik relaksasi secara bersamaan, atau menampilkan visual khusus hasil kolaborasi dengan anime populer, tempat ini telah menjadi fasilitas yang mirip seperti bioskop dengan nuansa berbeda.


Karena pertunjukan belum dimulai, ruangan itu dipenuhi oleh suara bisik-bisik.


"Kalau begitu, sampai nanti."


Kunitomo dan Inou-sensei yang tempat duduknya terpisah berpamitan di tengah jalan, sementara aku dan Mihare duduk berdampingan.


Barisan paling depan adalah Premium Seat yang tadi dibicarakan. Pasangan muda yang duduk di sofa menyerupai awan tampak bermesraan tanpa memedulikan pandangan orang sekitar. Mengejutkannya, kursi-kursi itu penuh. Semuanya diisi oleh pasangan. Sepertinya lebih banyak orang yang tidak peduli dengan pandangan sekitar daripada yang aku duga.


"Orang-orang itu, apa mereka tidak malu padahal dilihat oleh semua orang?" 


Gumam Mihare dengan canggung sambil melihat ke arah pasangan di kursi "awan" itu.


"Dasar, padahal mereka sudah dewasa."


Bukannya aku ingin mengintip, tapi warna putih dari kursi premium itu sangat mencolok di dalam ruangan yang gelap. Ditambah lagi posisinya di barisan terdepan, sehingga mau tidak mau masuk ke dalam jarak pandangku.


Pasangan itu tampak hanya melihat satu sama lain, mereka saling menatap dalam-dalam. Lalu tanpa kata, seolah-olah sudah direncanakan, wajah keduanya saling mendekat dan...


"U-wah."


Di sampingku, Mihare kehilangan kata-kata. Aku pun sama.


Ini pertama kalinya aku melihat ciuman secara langsung. Di film atau drama itu adalah hal biasa, tapi saat melihatnya di dunia nyata, aku tidak menyangka pertemuan antara bibir dan bibir bisa terasa begitu "hidup".


"..."


Percakapan dengan Mihare terhenti total, suasana canggung pun menyelimuti kami.


Tepat saat dudukan kursi tiba-tiba terasa tidak nyaman, bel tanda dimulainya pertunjukan menggema di dalam ruangan, menjadi penyelamat bagi kami. Aku tidak pernah menyangka akan tiba harinya di mana kalimat formal seperti "Terima kasih telah berkunjung ke sini" terasa begitu melegakan.


Aku dan Mihare mengembuskan napas lega dan sedikit mengangkat pandangan kami. Langit berbintang diproyeksikan ke kubah, bersamaan dengan suara narasi yang mulai terdengar. Tema hari ini adalah rasi bintang musim gugur yang kini memenuhi seluruh pandangan. Persegi besar musim gugur yang dibentuk oleh rasi bintang Pegasus dan Andromeda, serta mitologi yang menjadi asal-usul rasi bintang tersebut diperkenalkan. Visual planetarium ini benar-benar layak tonton.


Sambil menatap langit berbintang dan mendengarkan penjelasan tentang benda langit, aku teringat saat pertama kali bertemu dengan "gadis itu". Hari itu, di perkemahan malam hari, aku menatap langit malam musim panas bersama "gadis itu", mengamati bulan purnama yang perlahan-lahan mulai tertutup. Gaya bicaranya yang penuh percaya diri masih terngiang di telingaku.


Hanya saja, mungkin saat itu yang aku pandangi dengan sungguh-sungguh bukanlah gerhana bulan, melainkan profil wajahnya dari samping.


'Katanya kalau kita menemukan komet baru, kita bisa memberinya nama kita sendiri, hebat ya. Nama kita akan terus, teruuus melintasi alam semesta ini. Selama ratusan tahun, ribuan tahun, atau mungkin lebih dari itu.'


Meski usia kami hampir sama, dia yang berbicara dengan lancar tentang alam semesta dan bintang-bintang tampak jauh lebih dewasa bagiku. Aku tidak bisa menatap matanya secara langsung, jadi aku hanya mencuri pandang. Itulah sebabnya sosok "gadis itu" dalam ingatanku selalu kabur, seperti melihat melalui teropong yang fokusnya tidak pas.


Aku merasa tegang dan tidak ingat banyak tentang apa yang kami bicarakan. Namun, yang aku ingat dengan sangat jelas adalah saat kami akan berpisah untuk kembali ke tenda masing-masing.


'Suatu saat nanti, temukan aku juga, ya.'


Kata-kata yang seolah mengharapkan pertemuan kembali, dan bibirnya yang menyentuh ringan pipi kiriku.


Dia mencium pipiku.


Aku baru menyadari kenyataan itu setelah punggungnya tidak lagi terlihat. Pipi kiriku terasa panas seolah-olah terbakar. Di saat yang sama, aku sadar bahwa dari awal sampai akhir, akulah yang terbawa oleh langkahnya, dan itu membuatku merasa kesal. Aku merasa tidak keren. Karena itulah, setelah itu...


"Hei, apa tidak apa-apa kalau tidak pegangan tangan?"


Di pipi kiri tempat sisa sensasi ciuman "gadis itu" terukir, sebuah hembusan napas dan suara yang menggoda menyentuhku. Seketika kesadaranku ditarik kembali ke kenyataan, dan aku menoleh ke arah kiri dengan panik. Wajah yang ada di sana memiliki struktur yang mirip dengan Mihare namun terasa sangat berbeda. Dan wajah itu berada jauh lebih dekat daripada yang kubayangkan.


Sa-Sayuki-san!?


"Fufu, kamu terkejut?"


Sayuki-san berbisik dengan volume suara yang sangat kecil hingga samar tertutup oleh narasi planetarium, sambil tersenyum nakal. Meskipun di dalam kegelapan ruangan, alasan aku tidak menyadari Sayuki-san duduk di sampingku adalah karena dia mengenakan pakaian biasa.


Blus putih tipis dipadukan dengan celana panjang denim, gaya busana perkotaan yang mungkin dipakai oleh wanita karier di hari libur. Aku sudah berpikir dia terlihat dewasa, tapi dengan pakaian seperti ini, kesan "kakak perempuan" itu semakin kuat dan membuatku merasa ciut.


"Ke-kenapa Anda ada di sini?"


Sambil merendahkan suaraku, aku melirik pelan ke arah Mihare yang ada di sebelah kananku. Mihare sedang menatap langit planetarium dengan mata berbinar-binar penuh keseriusan, sepertinya dia tidak menyadari keberadaan Sayuki-san.


"Sesuai janji, aku datang untuk mendukung Ryuuichi-kun yang pemalu. Aku sudah bilang kan akan memberimu saran?"


"Duduk bersebelahan begini benar-benar sebuah kebetulan ya."


"Bukan kebetulan, kok. Karena aku tahu di mana kursi yang akan Ryuuichi-kun duduki, jadi aku sudah memesan kursi di sebelahnya sejak awal."


"Itu juga... ingatan dari kehidupan pertama Anda?"


"Tepat sekali. Ryuuichi-kun cepat tanggap, ya."


Sayuki-san yang ada di sebelah kiriku adalah sosok dari kehidupan kedua Mihare yang ada di sebelah kananku.


Sebelumnya, saat dia menceritakan hal itu, aku masih setengah percaya. Namun, sekarang dia kembali melakukan sesuatu yang sulit dianggap sebagai kebetulan belaka. Ternyata orang ini memang...


"Lalu, kenapa kamu tidak pegangan tangan dengan Mihare?"


Wajah Sayuki-san mendekat dengan tenang, membuatku refleks menarik tubuh dan menjauh darinya.


"Ti-tidak perlu sekarang, kan."


"Justru karena situasinya sedang sangat mendukung begini, kamu harus melakukannya."


"Tapi tadi Mihare tampak malu saat melihat pasangan yang bermesraan, kan? Bukannya dia akan merasa tidak nyaman jika diperlakukan seperti itu?"


"Memang tadi aku malu, tapi aku sendiri pun merasa ingin menjadi sedikit lebih berani, lho."


Aku, katanya.


Rasanya sangat aneh saat perasaan Mihare yang duduk di sebelah kananku diceritakan melalui sudut pandang orang pertama oleh Sayuki-san yang ada di hadapanku sekarang.


"Ta-tapi..."


"Duh, kamu ini tidak sabaran sekali. Lihat, kamu hanya perlu melakukannya seperti ini."


Saat itu juga, sebuah sensasi lembut menindih tangan kiriku. Rasanya kecil, empuk, dan seolah menghisap permukaan punggung tanganku. Terasa sedikit dingin, namun nyaman. Butuh waktu bagiku untuk menyadari bahwa itu adalah tangan kanan Sayuki-san.


"Sa-Sayuki-san, tung-tunggu, berhenti..."


Suara yang keluar dari mulutku terdengar sangat melengking, sampai-sampai aku tidak mengenalinya sebagai suaraku sendiri. 


Sayuki-san memejamkan satu matanya, lalu meletakkan jari telunjuk kirinya di depan bibir.


"Sst."


Begitu aku terdiam dengan panik, Sayuki-san tersenyum seolah memuji anak kecil yang pintar, lalu membisikkan kata-kata tepat di telingaku.


"Menghadaplah ke depan. Kalau kamu terus menatap ke sini, bisa ketahuan Mihare."


Terhipnotis oleh bisikan yang bercampur dengan hembusan napas manis itu, aku menatap lurus ke depan dengan pikiran linglung.


"Tangan Ryuuichi-kun, masih tetap besar seperti dulu. Sedikit keras, benar-benar terasa seperti tangan anak laki-laki. Rasanya rindu sekali bisa menggenggam tanganmu seperti ini."


"Meski Anda bilang rindu, aku sama sekali tidak punya ingatan tentang itu."


"Begitu ya, jadi bagi Ryuuichi-kun ini adalah yang pertama? Fufu. Kamu baru saja melakukan 'pengalaman pertama' denganku bahkan sebelum melakukannya dengan Mihare."


"Ja-jangan mengatakannya dengan cara yang aneh begitu."


"Tenang saja. Aku akan mengajarimu semuanya."


Bantahanku seolah terkunci oleh bisikan yang manis dan meleleh itu.

Tangan Sayuki-san bergerak seolah memiliki nyawanya sendiri, membalikkan tanganku, dan kali ini merekatkan telapak tangan kami. Sensasi kulit yang menempel erat. Detak jantungku pun berdegup semakin kencang.


"Awalnya, cukup tumpukan tanganmu dengan lembut. Lalu, buatlah telapak tangan kalian bersentuhan secara alami seperti ini, dan setelah beberapa saat, masukkan jarimu di sela-sela jarinya seperti ini."


Kelima jari ramping Sayuki-san menyelinap masuk ke sela-sela jariku, melilit erat seperti seekor tarantula yang sedang menangkap mangsanya. Tangan kiriku yang digenggam erat terasa mati rasa, seolah-olah ada racun yang dialirkan ke dalamnya.


"Ryuuichi-kun juga, cobalah balas menggenggamnya."


"Ta-tapi..."


"Jangan-jangan, kalau bukan dengan gadis cinta pertamamu itu, kamu bahkan tidak bisa menggenggam tangan?"


Karena terpancing oleh kata-katanya, tanpa sadar aku membalas genggamannya dengan emosi.


"Ngh. Sedikit terlalu kuat, lho."


"Ma-maafkan aku."


Aku terburu-buru melonggarkan kekuatan jariku.


"Fufu, tidak apa-apa. Tidak sakit, kok. Hanya saja, kalau kamu melakukannya pada Mihare yang sekarang, dia mungkin akan terkejut. Jangan terlalu tegang. Lakukanlah dengan lembut. Nah, ayo coba sekali lagi."


Se-sekali lagi?


Tangan Sayuki-san yang kukira sudah menjauh, kembali menindih tanganku. Di tengah keremangan yang membuat kami sulit melihat satu sama lain, kami bersentuhan dalam waktu yang lama.


Hingga batas antara mana tanganku dan mana tangannya menjadi kabur, seolah tanganku telah meleleh dan menyatu dengan tangan Sayuki-san. Lalu, kali ini suara bisikan datang dari Mihare di sebelah kananku.


"Ryuuichi-kun, ada apa? Kamu berkeringat banyak sekali."


Wajah yang menoleh ke arahku itu memancarkan rona kecemasan.


"Ah, tidak, aku tidak apa-apa."


"Kamu sama sekali tidak terlihat baik-baik saja. Apa perutmu sakit? Atau pusing?"


Gawat, aku tidak akan bisa mengelabuhinya.


"...Se-sebenarnya, aku merasa sedikit kurang enak badan."


"Sudah kuduga! Ayo kita keluar sekarang!"


Refleks, tangan kananku menangkap tangan Mihare yang hendak berdiri.


"Ti-tidak apa-apa. Pertunjukannya tinggal sebentar lagi, aku masih bisa menahannya."


"...Benarkah?"


Mihare duduk kembali di kursinya setelah aku berkata begitu, jadi aku pun melepaskan tangan yang tadi kutangkap dengan paksa.


"Tapi, jangan memaksakan diri ya."


Ekspresi cemas di wajah Mihare belum juga hilang.


"Kalau keluar sekarang, rasanya akan mengganggu penonton lain."


"...Iya, aku mengerti. Tapi kalau benar-benar tidak kuat, jangan dipaksakan."


Hampir saja. Jika Mihare berdiri tadi, dia pasti akan melihat dengan jelas kalau aku sedang bergandengan tangan dengan Sayuki-san di sebelah kiriku. Hatiku merasa perih karena harus berbohong pada Mihare yang begitu tulus mengkhawatirkanku... bahkan saat aku berinteraksi dengan Mihare, Sayuki-san tidak menghentikan gerakan tangannya. Malah, dia semakin mengeratkan lilitan jarinya, seolah-olah mendesakku untuk segera menggenggam tangan Mihare juga.


Maksudku, itu tidak mungkin dilakukan. Akan terasa sangat tidak alami jika aku tiba-tiba mengajak pegangan tangan tepat setelah aku bilang sedang tidak enak badan.


Saat aku berteriak dalam hati seperti itu, sebuah tangan dengan lembut menindih tangan kananku.


"Tidak apa-apa. Aku ada di sini bersamamu."


Itu adalah tangan Mihare.


Tangan Mihare yang diletakkan di atas punggung tanganku untuk menenangkanku terasa seperti selimut yang diselimutkan dengan lembut kepada anak kecil yang sedang tidur.


"Mihare, maaf ya."


"Tidak apa-apa. Jangan dipikirkan."


Mihare menunjukkan gigi putihnya dan tersenyum malu-malu.


"......Ehehe, akhirnya kita pegangan tangan untuk pertama kalinya ya."


Setelah itu, hingga pertunjukan berakhir, Mihare terus meletakkan tangannya di atas tangan kananku, terkadang mengelusnya seolah sedang menidurkan anak kecil. Sambil berbisik lembut, "Kamu tidak apa-apa? Jangan dipaksakan ya," atau "Katakan saja kapan pun kalau terasa sakit."


Aku merasa sangat bersalah pada Mihare, tapi alih-alih tangan Mihare yang menindih lembut tangan kananku, pikiranku justru dipenuhi oleh tangan Sayuki-san yang melilit lembap di tangan kiriku.


Sayuki-san tidak melepaskan tanganku sampai akhir. Malah, seolah ingin memprovokasiku, lilitannya terasa semakin pekat. Rasanya seperti permen yang diputar-putar oleh lidah, terus-menerus diemut tanpa henti. Gara-gara itu, sensasi tangan kekasih yang kugenggam untuk pertama kalinya seolah-olah meleleh sepenuhnya dari ingatanku.


2


"Syukurlah, sepertinya wajahmu sudah tidak pucat lagi."


Setelah keluar dari planetarium saat pertunjukan berakhir dan kembali ke tempat terang setelah sekian lama, Mihare mengamati wajahku dan mengembuskan napas lega.


"Ah, iya. Sudah agak mendingan. Maaf ya sudah membuatmu khawatir."


Setelah meminta maaf pada Mihare, aku segera mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di sekitar sini, banyak pengunjung lain yang juga baru keluar dari planetarium sedang berjalan. Namun, sosok Sayuki-san tidak terlihat di mana pun.


Saat pertunjukan selesai dan ruangan menjadi terang, dia sudah menghilang dari sisi kiriku. Jika dia pergi agar tidak berpapasan dengan Mihare, kecil kemungkinan dia masih berada di dekat sini.


"Hm? Ada apa dengan Shibukawa?"


Kunitomo yang tidak tahu apa-apa bergabung dengan kami dan memiringkan kepalanya bingung melihat interaksi kami.


"Iya, tadi saat di dalam planetarium, sepertinya kondisi Ryuuichi-kun kurang baik."


"Serius? Kamu tidak apa-apa?"


Kunitomo juga menatapku dengan tatapan khawatir.


"Sekarang sudah tidak apa-apa, jangan dipikirkan."


Ternyata Kunitomo yang biasanya sibuk menggodaku pun bisa sangat perhatian di saat seperti ini. Dadaku terasa sedikit nyeri karena telah membuat mereka khawatir.


"Wah, aku tidur nyenyak sekali. Rasa lelah sehari-hari rasanya hilang semua."


Inou-sensei melakukan peregangan dengan wajah yang tampak segar.


Sensei, bukankah seharusnya Anda sedikit lebih memperhatikan murid Anda?


"Ryuuichi-kun, jangan lengah, lebih baik kamu minum air yang banyak." 


Kata Mihare sambil menyodorkan botol minuman olahraga, namun ia segera menariknya kembali dengan wajah memerah.


"A-ah, maaf. Ini bekas kuminum. Aku akan belikan yang baru ya."


"Tidak usah. Kalau cuma itu, aku bisa beli sendiri. Semuanya, tunggu saja di sekitar sini."


Aku menahan Mihare yang hendak berlari, lalu pergi mencari mesin penjual otomatis sendiri.


Sebenarnya kondisiku benar-benar tidak buruk, tapi karena terus-menerus mengucurkan keringat dingin sedari tadi, rasanya cairan di sekujur tubuhku terkuras dan tenggorokanku sangat kering.


Setelah berjalan beberapa saat dan menemukan mesin penjual otomatis, tiba-tiba pundakku ditepuk.


"Kerja bagus, Ryuuichi-kun. Kamu sudah berjuang hari ini."


Di tempat terang begini, gaya busana Sayuki-san yang dewasa tampak lebih menonjol. Aku baru menyadari bahwa lengan blus putihnya berbahan transparan. Lengan atas Sayuki-san yang ramping terlihat samar-samar. Aku tahu itu memang model pakaiannya, tapi aku merasa tegang karena seolah-olah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat.


"Lho, jangan-jangan kamu sedang marah?"


Padahal aku hanya memalingkan muka karena canggung, tapi dia salah paham dan mengira aku marah. Yah, tidak sepenuhnya salah juga sih.


"Kenapa Anda melakukan hal seperti tadi?"


"Tentang terus-menerus memegang tanganmu? Ahaha. Maaf ya. Habisnya, reaksi polos Ryuuichi-kun sangat membuatku rindu. Tapi, pada akhirnya bagus juga kan, kamu jadi bisa pegangan tangan dengan Mihare."


"Yah, mungkin saja begitu, tapi..."


"Lagipula, Ryuuichi-kun yang jadi kaku hanya karena pegangan tangan itu juga masalah, lho. Apa kamu akan baik-baik saja? Padahal ke depannya kalian akan melakukan hal-hal yang jauh lebih ekstrem... Ah, ini masih cerita masa depan ya."


Dia menutup mulutnya dengan tangan seolah-olah keceplosan.


Hal yang lebih ekstrem. Tindakan yang jauh melampaui sekadar pegangan tangan. Aku jadi terpikirkan macam-macam.


Tidak, aku harus sadar. Sayuki-san hanya sedang mempermainkanku.


"Sayuki-san, padahal Anda sudah bersusah payah kembali ke masa lalu, apa tidak ada hal lain yang ingin Anda lakukan? Kalau di film atau manga, biasanya ada tujuan yang sangat besar, kan? Seperti menyelamatkan nyawa orang tercinta atau menyelamatkan dunia."


Saat aku melontarkan pertanyaan itu, ekspresi Sayuki-san berubah menjadi serius.


"Hmm, ini sebenarnya hanya hipotesis pribadiku, tapi sepertinya waktu itu memiliki 'daya pemulih'."


"Daya pemulih?"


"Iya. Meskipun aku mencoba mengubah masa lalu, ada kekuatan yang bekerja secara berlawanan untuk mengembalikan semuanya ke keadaan semula. Walaupun tidak kembali secara sempurna, semuanya akan dipulihkan ke kondisi yang mendekati aslinya. Akhirnya, arus besar sejarah tidak bisa diubah. Yang bisa kulakukan hanyalah sedikit mengubah 'peran' dari para tokohnya."


Jika orang ini benar-benar Mihare dari kehidupan kedua, dia pasti sudah mencoba menghindari berbagai tragedi setelah kembali ke masa lalu. Namun, dari ceritanya barusan, sepertinya tidak semuanya berjalan lancar.


"Yah, sepertinya seberapa besar pun campur tangan dari manusia yang 'seharusnya tidak ada' seperti Asada Sayuki, masa lalu tidak akan banyak berubah."


"Hm? Apa maksudnya 'seharusnya tidak ada'?"


"Di kehidupan pertamaku, maksudnya saat aku menjalani hidup sebagai 'Mihare', tokoh bernama Asada Sayuki itu tidak ada. Sejak awal, Asada Mihare adalah anak tunggal."


Seketika, pikiranku berhenti bekerja.


"Hah? Tu-tunggu sebentar. Tapi sekarang Sayuki-san ada di sini, dan eksis sebagai kakak perempuan Mihare, kan?"


"Meskipun kamu bilang begitu, ya kenyataannya memang begini, mau bagaimana lagi? Asada Mihare tidak punya kakak perempuan, itulah sejarah yang kuketahui."


"Bukankah itu yang namanya... Paradoks Waktu?"


"Benar. Aku ini benar-benar sebuah keberadaan yang kontradiktif. Keren, kan?"


Sayuki-san memasang wajah bangga yang entah mengapa terlihat sangat percaya diri.


"Tapi, jika seorang kakak perempuan kembar yang seharusnya tidak ada tiba-tiba lahir, bukankah hidup Mihare seharusnya berubah drastis?"


"Ternyata tidak terlalu berubah. Meskipun sejak kecil aku sudah menyuruhnya belajar, dia sama sekali tidak mendengarkan. Kusuruh memakai payung karena matahari bisa membuat bintik hitam di kulit, dia tetap tidak mau memakainya. Akhirnya, Mihare tetap berjalan di atas rel yang sama dengan diriku yang dulu.......Haa."


Sambil mengembuskan napas panjang, bahunya merosot lesu. Mungkin karena tahu masa depan, dia jadi ingin mengatur banyak hal. Apalagi jika sasarannya adalah dirinya sendiri di masa lalu, perasaan itu pasti jauh lebih kuat. 


Aku pun sama, jika bisa kembali ke masa lalu, ada gunanya banyak hal yang ingin kukatakan pada diriku yang dulu. Misalnya, meminta kado saham Nv*dia kepada Santa Claus. Namun dari sudut pandang Mihare, dia tidak akan pernah bermimpi bahwa itu adalah peringatan dari dirinya di masa depan, jadi wajar saja jika dia hanya menganggapnya sebagai omelan kakak perempuan yang berisik.


"Nah, mari kita kesampingkan soal itu. Mari kita pikirkan rencana selanjutnya agar kamu bisa lebih akrab dengan Mihare."


Seolah memberi aba-aba untuk mengganti topik, Sayuki-san menepukkan kedua tangan putihnya yang ramping.


"Langsung saja ya, Ryuuichi-kun, kamu itu sama sekali tidak punya selera dalam memilih hadiah untuk pacar."


"Wah, tiba-tiba sekali saya dihina."


"Kamu berniat memberi Mihare boneka beruang besar untuk hadiah ulang tahunnya, kan?"


Tebakannya yang tepat sasaran membuatku terhuyung mundur satu langkah.


"Ba-bagaimana Anda bisa tahu? Padahal aku berniat memberikannya saat kamp pelatihan pengamatan bulan depan."


"Tentu saja tahu, karena aku menerimanya di kehidupan pertama dulu. Saat kamp pengamatan hujan meteor Gemini bulan depan."


Rasanya sangat canggung saat isi kado yang bahkan belum kuberikan sudah diketahui orang lain. Terlebih lagi, rasanya lebih sakit saat dikatakan langsung di depan muka bahwa seleraku buruk.


"Tapi, saat aku pergi ke mall bersama Mihare, dia terus-menerus memeluk boneka beruang besar itu sambil bilang 'lucu'. Makanya, sekarang boneka itu sedang dalam posisi 'siaga' di dalam lemari pakaianku."


"Oalah, ternyata sudah terlanjur dibeli ya. Tapi dengar ya Ryuuichi-kun, 'lucu' dan 'ingin memiliki' itu berbeda. Ya, boneka itu memang besar, empuk, dan hangat, sampai-sampai aku merasa tidak bisa tidur kalau tidak memeluknya, sih..."


"Berarti dia senang sekali, kan!"


Rasanya usahaku memberi kado jadi terasa berharga, meski sebenarnya belum kuberikan.


"Tapi! Sebagai kado pertama dari pacar, itu agak kurang pas! Boneka itu terlalu kekanak-kanakan, tidak bisa dibawa-bawa, dan kasihan kan kalau cuma ditinggal di rumah terus."


"Haa, kalau begitu, kado seperti apa yang bagus?"


"Tenang saja, aku sudah memikirkan beberapa kandidat. Bagaimana kalau kosmetik seperti ini?"


Sambil memegang ponselnya, Sayuki-san secara alami memperkecil jarak denganku dan memperlihatkan layarnya. Itu adalah situs mewah yang memperkenalkan rekomendasi kosmetik dan fesyen—jenis situs yang tidak akan pernah diakses oleh laki-laki.


Tunggu, ini terlalu dekat!


Saat tubuh kami bersentuhan, aku jadi salah fokus dan tidak bisa berkonsentrasi mencari kado. Aroma lavender yang lembut dari rambut Sayuki-san, sensasi bahu yang sesekali bersentuhan... informasi terus mengalir deras ke panca inderaku tanpa henti.


"Selain kosmetik, barang-barang kecil seperti dompet atau gantungan kunci mungkin juga bagus.......Omong-omong, gantungan kunci yang kamu perlihatkan tempo hari itu apa? Yang ada bintangnya itu."


Sayuki-san yang sedang menggeser layar ponsel berhenti tepat saat gambar dompet kunci yang lucu muncul, lalu ia menatapku seolah baru teringat sesuatu.


"Itu, anu... semacam barang kenangan..."


"......Jangan-jangan, itu barang dari 'gadis itu'?"


Karena aku bicara dengan ragu, dia langsung bisa menebaknya.


"Yah, kurang lebih begitu."


"Hei, bolehkah aku melihatnya sekali lagi?"


Apa yang membuatnya begitu penasaran?


Meski begitu, aku tidak punya alasan untuk menolak, jadi aku mengeluarkan gambar dari ponselku.


"Ini adalah cendera mata dari acara pengamatan bintang yang kuikuti waktu kecil. Jika dia ada di perkemahan waktu itu, kupikir 'gadis itu' juga ikut serta, jadi mungkin saja dia mendapatkan barang yang sama..."


"Ah. Jadi begitu rupanya."


Dia mengangguk seolah sudah paham.


"Ternyata ada juga hal yang tidak Sayuki-san ketahui ya. Padahal ini sudah kehidupan kedua."


Aku merasa sedikit lega karena selama ini kupikir aku selalu berada di bawah kendali telapak tangannya. Sayuki-san mengerucutkan bibirnya seperti sedang merajuk.


"Habisnya, Ryuuichi-kun di kehidupan pertama sama sekali tidak mau bercerita tentang 'gadis itu' padaku. Aku tidak tahu kalau kalian punya gantungan kunci kembaran seperti ini."


"Ma-maafkan aku."


Karena ditatap dengan pandangan menuduh, refleks aku menundukkan kepala. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, apakah ini benar-benar hal yang mengharuskan aku meminta maaf?


"......Tapi, meski dia ada di perkemahan, belum tentu dia memilikinya, kan?"


Hm? Apa maksudnya itu?


Baru saja aku hendak bertanya balik, sebuah suara yang penuh energi menusuk gendang telingaku.


"Aah, ternyata kalian ada di sini!"


Pandanganku beralih ke sumber suara.


"Kalian sedang apa sih? Semuanya sudah menunggu! Mihare bahkan sampai hampir menangis dan berlarian ke sana kemari karena takut kamu pingsan di suatu tempat!"


Yang muncul adalah Kunitomo. Dia berlari mendekat dengan pipi menggembung kesal, namun langkahnya terhenti mendadak saat menyadari keberadaan Sayuki-san di sampingku.


"Ah, eh, anu... apa kalian saling kenal?"


"......"


Sayuki-san memalingkan wajahnya. Namun, akhirnya seolah menyerah, ia kembali menghadap Kunitomo.


"Lama tidak bertemu ya, Yuria-chan."


Kunitomo yang namanya dipanggil mengerutkan dahi sambil menatap wajah Sayuki-san dalam-lama. Setelah melewati waktu loading sejenak, ia akhirnya berteriak.


"Sa-Sayuki-san! Sedang apa di tempat seperti ini?"


"Kebetulan aku juga sedang di planetarium. Lalu aku melihat Ryuuichi-kun dan keasyikan mengobrol."


"Begitu ya, Sayuki-san memang suka bintang juga sih. Eh, tapi tunggu, kenal dengan Shibukawa?"


"Tentu saja kenal, dia kan pacar adikku."


"Ah, benar juga. Tentu saja ya. Ahahaha......"


Kalau dipikir-pikir, karena Kunitomo adalah teman masa kecil Mihare, wajar saja jika dia juga mengenal Sayuki-san yang merupakan kakak kembar Mihare. 


Seharusnya, Kunitomo dan Sayuki-san pun memiliki hubungan sebagai teman masa kecil. Namun, aku merasakan ada dinding di antara mereka berdua. Ada kecanggungan di sana, seperti dua orang yang terpaksa berduaan padahal tidak terlalu akrab setelah teman bersama mereka tiba-tiba pergi.


Meski begitu, Kunitomo mengangkat wajahnya seolah telah membulatkan tekad.


"Anu, kurasa tidak baik jika Sayuki-san bersikap terlalu akrab dengan Shibukawa."


"......Eh?"


Kepada Sayuki-san yang jarang-jarang membelalakkan matanya terkejut, Kunitomo melanjutkan kata-katanya.


"Sayuki-san itu orang yang sangat memikat, jadi siapa pun pasti bisa jatuh cinta kalau didekati secara mendadak seperti itu.......Iya kan?"


Pandangannya beralih padaku, yang langsung kuhindari seketika.


"Makanya, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk, sekecil apa pun kemungkinannya. Jika Mihare harus kehilangan hal lain lagi karena direbut oleh Sayuki-san, kasihan sekali dia..."


"......Merebut?"


Mendengar kata itu, ujung alis Sayuki-san berkedut, dan aura dingin mulai terpancar dari sekujur tubuhnya. Rasanya suhu di sekitar kami mendadak turun drastis sekitar sepuluh derajat.


"Aku tidak pernah sekali pun merebut apa pun dari Mihare, kan? Saat bermain peran, aku memberikan peran Heroine padanya. Saat lari di luar, aku berulang kali meminjamkan krim tabir suryaku karena kubilang itu baik agar kulitnya tidak terbakar matahari. Kupikir Yuria-chan tahu soal itu."


Nada bicaranya terdengar lembut, tapi jelas dia sedang emosional. Bukan ledakan amarah, melainkan kemarahan sunyi yang seolah membekukan segala sesuatu di sekitarnya.


Kunitomo sempat gentar, namun ia tetap membalas.


"Ma-maafkan aku jika aku berkata lancang. Tentu saja, ini bukan berarti Sayuki-san jahat. Hanya saja, karena Sayuki-san memiliki segalanya, Mihare terus menderita karena hal itu..."


Tiba-tiba, tangan Kunitomo terulur ke telingaku dan menjewernya sekuat tenaga.


"A-aw, sakit!"


"Tapi, hanya laki-laki ini satu-satunya pacar pertama yang Mihare miliki. Mihare sangat menyayangi Shibukawa. Aku tidak ingin hubungan mereka rusak, makanya..."


"......Baiklah, aku mengerti."


Sayuki-san berkata demikian sambil menarik kembali auranya, lalu tersenyum getir dengan tenang.


"Maksudmu aku terlalu gegabah mendekati pacar adikku sendiri, kan? Aku menyesal. Perasaan Yuria-chan sudah tersampaikan dengan sangat baik padaku, dan aku akan berhati-hati mulai sekarang. Mari kita akhiri pembicaraan ini."


"Iya, syukurlah kalau begitu."


Melihat pipi Kunitomo yang sedikit mengendur, Sayuki-san pun membalas senyumannya.


"Terima kasih banyak karena selalu menyayangi Mihare."


"Tentu saja, dia kan sahabat terbaikku sejak kecil."


Kunitomo membusungkan dadanya dengan sedikit bangga.


"Tapi, sepertinya aku tidak masuk dalam kategori 'sahabat' itu, ya. Padahal secara teknis kita ini teman masa kecil yang sama."


Saat Sayuki-san bergumam sedih, Kunitomo mendadak panik.


"I-itu karena... sejak dulu aku sangat mengagumi Sayuki-san karena Anda luar biasa. Kata-kataku tadi memang lancang, tapi ini serius. Makanya, aku merasa tidak enak jika memanggil Anda sahabat begitu saja. Anda itu rasanya seperti orang yang berada di atas awan bagi saya."


Pastinya, kata-kata Kunitomo itu tidak bermaksud jahat. Karena Sayuki-san tampak sangat dewasa sejak kecil, Kunitomo mungkin berniat memujinya.


"......Apa yang Yuria-chan katakan mungkin ada benarnya. Karena sejak dulu, memang ada sesuatu yang ingin kurebut dari Mihare."


"I-itu apa?"


"......Yuria-chan, dirimu. Aku selalu merasa iri pada Mihare karena dia memiliki sahabat sepertimu."


Kunitomo tertegun sejenak.


"A-aku? Ahahaha. Aku bukan orang yang sehebat itu, lho! Tidak ada nilainya bagi Sayuki-san untuk menginginkanku!"


Meskipun berkata begitu, wajahnya merona merah karena senang. Sayuki-san menatap Kunitomo dengan ekspresi wajah seperti seseorang yang sedang memilah-milah baju lama masa kecil untuk dibuang. 


Akhirnya, ketika menyadari tatapanku, ia memasang senyum buatan.


"Ryuuichi-kun, maaf ya untuk banyak hal hari ini."


"Ah, tidak, justru saya yang berterima kasih."


Sayuki-san kembali menatap Kunitomo.


"Sampai jumpa lagi, Yuria-chan. Mainlah ke rumah kapan saja."


"Iya, tentu saja!"


Setelah punggung Sayuki-san yang pergi tidak lagi terlihat, Kunitomo yang tadinya tegang akhirnya bisa melemaskan ekspresi wajahnya.


"Hah. Benar-benar deh, Shibukawa, apa sih yang kamu lakukan berbisik-bisik dengan Sayuki-san?"


"Apa maksudmu? Dia yang menyapaku, jadi aku sekadar minta saran tentang hadiah ulang tahun Mihare."


"Eh? Bukannya kamu bilang mau memberi boneka beruang? Kupikir itu sudah bagus."


Kalau diingat-ingat, aku memang pernah berkonsultasi dengan Kunitomo soal itu.


"Aku berubah pikiran karena merasa itu terlalu kekanak-kanakan untuk diberikan pada siswi SMA. Karena dia kakak kembarnya, kupikir dia lebih tahu selera Mihare, jadi aku hanya mendengarkan sarannya. Kamu saja yang terlalu banyak berpikiran aneh."


"Ah—maaf, aku memang sadar kalau tadi aku bicara agak berlebihan."


Oh, sikapnya jadi lebih rendah hati.


"Sayuki-san kan teman masa kecilmu juga sama seperti Mihare, tapi kenapa kamu bersikap sangat kaku padanya? Sikapmu benar-benar berbeda dibanding saat bersama Mihare."


Saat aku membalas begitu, Kunitomo memasang wajah seperti orang yang baru pertama kali makan ketumbar dalam hidupnya.


"......Memang begitu, tapi sejak dulu aku merasa agak kurang nyaman dengannya."


"Mengejutkan. Ternyata orang sepertimu punya tipe orang yang membuatmu tidak nyaman juga ya."


"Tentu saja punya. Memangnya Shibukawa pikir aku ini apa?"


Monster komunikasi yang tidak peka, pikirku dalam hati, meski tidak kuucapkan.


"Kamu mungkin sudah tahu, tapi Sayuki-san itu sebenarnya seumuran dengan kita."


"Tentu saja, dia kan kakak kembar Mihare."


"Tapi, dia sudah sangat dewasa sejak dulu. Bayangkan, sejak kecil dia selalu membawa payung lipat dan mengoleskan krim tabir surya ke seluruh tubuhnya. Jauh sebelum anak perempuan lain mulai peduli soal kulit, dia sudah melakukan perlindungan sinar UV tingkat dewa!"


"Pantas saja kulitnya seputih itu. Sekarang aku paham."


"Bukan itu saja. Menurut Mihare, dia rutin minum susu kedelai dua kali sehari, setiap pagi dan sebelum tidur. Ditambah lagi, dia tidak pernah absen melakukan pijat pengencang dada!"


"I-itu benar-benar luar biasa."


"Waktu kecil mereka mirip sekali, benar-benar terasa seperti anak kembar. Tapi sekarang, lihat saja 'perbedaan individu' yang terjadi di antara mereka. Itu membuatku sadar betapa pentingnya kerja keras."


Kunitomo menatap ke arah perginya Sayuki dengan pandangan yang menerawang jauh.


"Makanya, Sayuki-san itu punya citra orang yang bahkan lebih dewasa daripada orang dewasa. Meski kami teman masa kecil, dia sulit didekati, dan aku hampir tidak punya ingatan bermain bersama dengannya. Mungkin Mihare juga sama. Kurasa waktu yang dihabiskan Mihare bermain denganku jauh lebih lama daripada waktu yang ia habiskan bersama kakak kandungnya sendiri."


"......Jangan-jangan, hubungan si kembar itu buruk?"


"Bukan begitu, tapi Mihare punya kompleks rendah diri yang aneh. Yah, kakak perempuannya punya nilai akademik terbaik seangkatan, jago olahraga, terpilih jadi anggota OSIS, sudah begitu dia cantik, anggun, dan rendah hati pula. Kalau punya keluarga seperti itu, wajar saja jika Mihare merasa minder."


Pasti kalau sudah menjalani hidup untuk kedua kalinya, seseorang bisa melakukan segalanya dengan jauh lebih efisien. Seperti gim, permainan kedua pasti lebih lancar daripada permainan pertama.


Sayuki-san bilang sulit untuk mengubah sejarah, tapi jika itu menyangkut hidupnya sendiri, seharusnya ia punya kebebasan penuh untuk memilih tanpa batasan. Di saat kita semua dipaksa menjalani hidup di "permainan pertama", dia seorang diri bisa melakukan hal seperti itu. Benar-benar seperti cheat player. Aku sangat iri padanya.


"Hei, Shibukawa.......Jangan pernah mengkhianati Mihare, ya."


Saat itu, suara dan ekspresi yang ia tunjukkan kepadaku begitu serius, sangat tidak mirip dengan Kunitomo yang biasanya.


"Hah? Apa maksudmu?"


"Mihare jadi sangat ceria sejak mulai berpacaran denganmu. Makanya, biar begini, aku mendukung hubungan kalian."


"Tapi kalau mendukung, kenapa kamu sering bersikap galak padaku?"


"Itu namanya apa ya, pecutan cinta?"


Sedikit senyum khas Kunitomo kembali muncul.


"Mihare mungkin selalu terlihat seperti gadis yang ceria dan energik di depanmu, tapi sebenarnya dia sangat sensitif dan sering memendam perasaannya sendiri. Tolong, perhatikan dia baik-baik."


Tatapannya yang mendongak ke arahku saat mengatakan itu sangat bersungguh-sungguh. Meski Kunitomo terkadang merepotkan, tapi kasih sayangnya kepada Mihare adalah hal yang nyata.


"Aku mengerti. Kamu ternyata orang yang cukup baik juga ya."


"Fufufu. Tentu saja, kamu boleh memujiku lebih banyak lagi."


Seolah lega dengan jawabanku, suasana serius tadi menguap dan ia kembali membusungkan dada dengan bangga.


"Karena aku sudah berjuang keras demi kalian berdua, tentu saja aku harus diundang ke pernikahan nanti. Serahkan urusan pidato padaku. Aku akan menceritakan awal mula cinta kalian selama tiga jam penuh!"


"Bodoh, itu masih terlalu jauh."


"Oh? Berarti, suatu saat nanti bakal...?"


"Jangan bicara sembarangan. Ayo kembali ke tempat Sensei dan Mihare."


Aku yang merasa lelah dengan ocehannya mulai berjalan meninggalkan Kunitomo.


"Ahaha, dia malu, dia malu!"


Benar-benar pelari dari klub atletik. Dia langsung bisa menyusul langkahku dalam sekejap.


Pada akhirnya, sampai kami bertemu kembali dengan Mihare dan yang lain di pintu keluar planetarium, Kunitomo tidak beranjak dari belakangku barang sedetik pun.


"Ah! Syukurlah kamu tidak apa-apa, Ryuuichi-kun!"


Melihatku, wajah Mihare langsung berbinar ceria.


Setelah akhirnya berkumpul, kami membangunkan Sensei yang kembali mengunjungi "negeri mimpi" di bangku pinggir jalan, lalu kami pun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.


Saat keluar, hari sudah sore. Di langit timur, cahaya bintang mulai bermunculan satu per satu. Langit malam yang dilihat dari tengah kota terasa lebih sulit diamati dan entah mengapa tampak keruh jika dibandingkan dengan langit buatan yang ada di planetarium.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close