NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Side Story

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Menyimpan Rahasia di Dalam Saku


 Sepulang sekolah, ketika ujian berkala sudah semakin dekat.


Di ruang klub sastra, tampak dua siswi perempuan.

 

Salah satunya adalah Yanami Anna dari kelas 2-C.

 

Sambil menggigit cumi asap, ia menuliskan sesuatu di buku pelajaran matematika. Gerakannya menyapu remah cumi yang jatuh terlihat sangat terbiasa.

 

Yang satu lagi adalah Yakishio Lemon dari kelas 2-E.

 

Ia memiringkan kepala sambil bergantian melihat ponsel dan buku pelajaran.

 

"Hei, Yana-chan. Kamu punya lembar jawaban kuis matematika yang kemarin?"

 

"Kuis kecil?"

 

Yanami mengeluarkan selembar kertas dari sela-sela bukunya.

 

"Kita beda kelas sih, tapi yang ini nggak apa-apa kan?"

 

"Ah, ini dia. Kata orang sih setengah soal Takahashi-sensei keluar dari sini, jadi kalau dipelajari bisa terhindar dari nilai merah."

 

"Oh, gitu."

 

Sambil mengunyah cumi, Yanami kembali menatap bukunya.

 

Setelah belajar beberapa saat, Yanami memasukkan tangannya ke dalam bungkus cumi dan membuka mulut.

 

"Info soal ujian itu kamu dapat dari mana? Asagumo-san?"

 

"Hmm… ya, kurang lebih."

 

Yakishio mengaburkan jawabannya sambil terus menulis di buku.

 

Saat Yanami menatapnya seakan ingin bertanya sesuatu, Yakishio berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

 

"Yana-chan, perjalanan ke Nagoya kemarin seru ya."

 

"Seru. Makanan Nagoya itu cokelat semua dan bikin tenang."

 

Sambil terus mengunyah cumi, Yanami kembali menatap Yakishio.

 

"…Eh, kamu pergi ke suatu tempat sama Nukumizu-kun malam itu kan?"

 

"Iya, pengen lihat lampu Menara TV."

 

Yakishio menjawab dengan santai dan terus menggerakkan pensil mekaniknya.

 

Setelah memastikan tak ada kelanjutan kata-kata, Yanami menyambung pembicaraan dengan nada seolah biasa saja.

 

"Enak ya. Harusnya aku juga diajak."

 

"Sudah malam, dan semua lagi makan. Kupikir nggak enak kalau ngajak."

 

Jawaban Yakishio terdengar bahkan lebih santai.

 

"Ah, kalau Nukumizu-kun sih nggak bakal keberatan, kan."

 

"Nukkun memang baik."

 

"Mungkin ya."

 

Klik klik klik. Yanami menekan-nekan pensil mekaniknya.

 

Keheningan berlanjut.

 

Yanami yang tangannya sempat berhenti, tiba-tiba membuka mulut.

 

"…Ya, Nukumizu-kun kan juga laki-laki."

 

"Hm?"

 

Yakishio mengangkat wajahnya dengan heran. Yanami menambahkan seolah baru teringat.

 

"Maksudku, jalan malam-malam itu lebih aman kalau sama cowok, kan."

 

"Ah, iya juga ya. Aku nggak kepikiran."

 

Yakishio tertawa tanpa suara dan kembali belajar.

 

Percakapan terputus.

 

Hanya terdengar suara pensil dan halaman dibalik.

 

Saat jarum menit jam dinding telah melewati beberapa angka—

 

Krek. Terdengar suara isi pensil patah.

 

"Kalau kamu penasaran, kenapa nggak sekalian ngajak Yana-chan juga ya?"

 

Yanami mengangkat wajahnya sambil berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

 

"E-eh… bukan begitu sih. Cuma rasanya aneh aja kalau sengaja ngajak."

 

Klik klik klik. Yakishio menekan pensil sambil tersenyum.

 

"Eh, nggak apa-apa dong. Kamu benci Nukkun ya?"

 

"Bukan benci, tapi kami ketemu tiap hari di kelas."

 

"Kalau gitu, karena aku beda kelas, aku boleh ngajak ya."

 

Dengan nada ringan, Yakishio berkata begitu sambil membalik halaman buku catatannya.

 

Melihat Yanami terdiam tak bisa menjawab, Yakishio melanjutkan.

 

"Habis ujian kan ada festival kembang api. Tahun ini pengen pergi, ya."

 

Tahun lalu, jadwal kemah klub sastra sepertinya tabrakan dengan festival kembang api.

 

Yanami langsung membuka mulut, merasa mendapat peluang.

 

"Kalau begitu, kita ajak semua anggota klub sastra—"

 

"Aku ajak Nukkun aja kali ya."

 

"Eh?"

 

Gerakan Yanami pun terhenti.


 


"Tidak, maksudku… Lemon-chan tidak pergi dengan orang-orang dari klub atletik?"

 

"Kalau dengan klub atletik, nanti anak laki-lakinya ikut juga, rasanya agak ribet."

 

Akhirnya Yakishio mengangkat wajahnya, lalu tersenyum tipis ke arah Yanami.

 

"Oh iya, Nukkun juga laki-laki, ya."

 

"Begitu… ya."

 

Yanami membalas dengan senyum yang agak kaku. Melihat itu, Yakishio tampak puas dan kembali melanjutkan belajarnya.

 

"Lagipula, saat musim festival kembang api biasanya latihan lagi sibuk-sibuknya, jadi aku tidak akan pergi juga."

 

"Eh, begitu ya."

 

"…Makanya. Kalau nanti baru panik, aku tidak mau tahu."

 

Percakapan pun terhenti di sana. Yang terdengar di ruang klub yang sunyi hanyalah suara pena yang bergerak di atas buku catatan Yakishio.

 

Yanami, yang tangannya masih terhenti, ragu-ragu hendak membuka mulut ketika pintu ruang klub terbuka.

 

"Ka-kalian… masih di sini?"

 

Yang masuk sambil berkata begitu adalah Komari Chika. Begitu menyadari suasana ruangan, wajahnya langsung tampak cemas.

 

"A-ada apa?"

 

Yakishio tersenyum dan menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.

 

"Lagi capek belajar buat ujian. Komari-chan sendiri kenapa belum pulang?"

 

"A-aku piket di perpustakaan. Yakishio, ini."

 

Duduk di samping Yakishio, Komari meletakkan satu set perlengkapan sikat gigi di atas meja.

 

"I-ini kan tertinggal di rumah Tsukinoki-senpai."

 

"Kamu sampai repot-repot mengantarkannya?"

 

"A-aku dikirimi banyak buku, jadi sekalian saja…"

 

Senyum licik yang tidak bisa ia sembunyikan. Buku apa itu, sudah bisa ditebak.

 

Saat Yakishio mulai menggoda Komari, Yanami berdiri tanpa bersuara.

 

"Aku mau beli minuman dulu. Kalian mau sesuatu?"

 

Setelah memastikan keduanya menggeleng, Yanami meninggalkan ruang klub.

 

Seolah-olah melarikan diri.

 

 

Yanami yang sampai di mesin penjual otomatis dekat taman dalam, menempelkan dahinya ke panel mesin itu dengan bunyi duk.

 

"Aku ini… lagi ngapain sih…"

 

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

 

Saat ia hendak menghela napas, sebuah suara menyapanya dari belakang.

 

"Loh, Yanami-san. Kenapa di sini?"

 

"!"

 

Yang menyapanya tak lain adalah Nukumizu Kazuhiko—musuh alami para gadis kebanggaan SMA Tsuwabuki.

 

Melihat Yanami terdiam sesaat, Nukumizu mengangguk besar seolah mengerti.

 

"Oh, uangmu habis, ya."

 

"Ada, tahu."

 

Yanami menghela napas yang sudah ia siapkan, lalu memasukkan koin ke mesin.

 

"Nukumizu-kun, kamu pikir aku cewek yang ceroboh soal uang, ya?"

 

Nukumizu tidak menjawab, hanya tersenyum ambigu. Pasti dia sedang memikirkan sesuatu yang tidak sopan.

 

Yanami menekan tombol teh susu lalu menabrakkan bahunya ringan ke bahu Nukumizu.

 

"Nukumizu-kun, kamu mau ke ruang klub kah?"

 

"Iya. Perpustakaan sudah ramai, jadi kupikir belajar di ruang klub saja."

 

Setelah membeli kopi rendah gula, Nukumizu berbisik sesuatu dan hendak pergi.

 

"Tunggu, aku ikut."

 

Yanami berjalan berdampingan dengannya menuju ruang klub.

 

"Ehm, Yanami-san. Materi ujian kali ini luas, belajarmu lancar?"

 

Menanggapi topik ringan itu, Yanami membusungkan dada.

 

"Nukumizu-kun, luasnya materi itu sama buat semua orang."

 

"Hah."

 

"Artinya, kalau aku belajar seperti biasa, nilainya juga akan kurang lebih sama seperti biasa."

 

"Ooh…"

 

Respon dingin khas Nukumizu Kazuhiko.

 

Yanami yang hampir mengeluh, melirik sekeliling.

 

"Yanami-san, kenapa?"

 

"…Soal malam waktu kita ke Nagoya kemarin."

 

—Begitu mendengar kata Nagoya, tubuh Nukumizu tersentak.

 

"M-malam di Nagoya itu… ada apa?"

 

Gerak-geriknya jelas mencurigakan. Langkah Yanami pun terhenti.

 

"…Kamu pergi lihat pemandangan malam dengan Lemon-chan, kan."

 

"Eh, a-ah, iya."

 

Yanami berdiri tepat di depannya, menatap wajahnya tajam dari bawah.

 

"Itu kan masa penting sebelum Inter-High. Kalau terjadi apa-apa, kamu tidak bisa tanggung jawab, kan?"

 

"Iya, benar."

 

…Aneh, patuh sekali.

 

Dalam situasi seperti ini, Nukumizu pasti menyembunyikan sesuatu—Yanami Anna tahu itu.

 

Yanami mencondongkan wajahnya, menatap mata Nukumizu yang menghindar.

 

"Kamu… ada sesuatu dengan Lemon-chan, kah?"

 

"Tidak ada apa-apa, kok?!"

 

Yanami terus menatapnya tanpa berkata apa pun.

 

Ini—kasus ‘tidak terjadi apa-apa’ yang diputar satu lingkaran penuh. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti akan berusaha menutupinya dan malah ketahuan. Begitulah Nukumizu Kazuhiko.

 

Entah kenapa merasa lega, Yanami kembali berjalan di sampingnya.

 

"Pokoknya hati-hati, ya. Kamu itu ketua klub sastra."

 

"Iya, iya. Beneran tidak ada apa-apa, jadi sudahi saja topik ini."

 

…Atau jangan-jangan malah ada sesuatu.

 

Saat ia kembali memikirkan malam itu, sesuatu menyentuh tangan Yanami. Di samping tangan itu, Nukumizu menunduk dengan wajah canggung.

 

"?"

 

…Tangan? Barusan dia mau menggandeng tanganku?

 

Yanami buru-buru menatap wajahnya.

 

"Nukumizu-kun? Eh, kenapa tiba-tiba?"

 

"A-ah… soalnya di ruang klub ada orang lain."

 

"!?"

 

Sudah pasti. Yanami Anna, 16 tahun—sebuah event akan terjadi padanya.

 

Yanami gelisah, merapikan rambut sambil melihat sekeliling.

 

"Ini kan sekolah… setidaknya suasananya, atau gimana gitu…"

 

"Tapi Yanami-san biasanya tidak peduli soal begituan, kan?"

 

"Peduli, tahu?! Lagipula, harusnya kita sepakat dulu, kan?!"

 

Nukumizu memasang wajah kebingungan.

 

"Waktu makan di Nagoya, rasanya enak. Kupikir Yanami-san juga suka."

 

"Hah…?"

 

Apa aku baru saja dibilangi sesuatu yang sangat buruk? Berbagai pikiran berputar di kepala Yanami.

 

"Nukumizu-kun, kamu ngomongin apa sih…?"

 

"Makanya, aku mau kasih monaka."

 

"…Monaka?"

 

Yang disodorkan Nukumizu adalah shachi monaka—kue khas Nagoya berbentuk shachihoko. Yang dulu disajikan sebagai camilan di rumah Tsukinoki-senpai.

 

"Kenapa tiba-tiba soal monaka…?"

 

"Kamu kan waktu pulang dari Nagoya mau beli tapi tidak punya uang."

 

"Iya, terus."

 

"Aku beli buat oleh-oleh rumah, jadi kupikir mau kubagi ke kamu…"

 

"…Oh?"

 

Yanami bergantian menatap monaka dan wajah Nukumizu dengan perlahan.

 

"Yanami-san, kenapa?"

 

"Tidak-tidak, kenapa kamu menyerahkannya diam-diam begitu?! Aku kira—"

 

"Kira?"

 

Diam. Seolah waktu berhenti, Yanami berhenti bergerak.

 

"E-eh, Yanami-san…?"

 

"Itu dia masalahnya, Nukumizu-kun!"

 

Yanami berkata begitu lalu berjalan cepat meninggalkannya.

 

Sekarang giliran Nukumizu yang kebingungan, mengejarnya tanpa mengerti apa-apa.

 

"Soalnya cuma bawa satu, jadi kupikir kalau ketahuan orang lain rasanya tidak enak…"

 

Tetap saja, tidak perlu memberikannya dengan cara seperti itu. Rasanya seperti dia benar-benar sangat malu—

 

Saat menyadari itu, Yanami tiba-tiba berhenti.

 

Nukumizu sengaja memilih oleh-oleh yang Yanami tidak sempat beli, lalu hanya membawa bagiannya untuk dirinya sendiri.

 

Tanpa menatapnya, Yanami mengulurkan tangan.

 

"…Kasih sini."

 

"Hah? Oh, ini."

 

Yanami menerima monaka itu dan langsung memasukkannya ke saku.

 

"Lho, tidak dimakan?"

 

"Katanya rahasia dari yang lain, kan?"

 

Seolah melupakan kekesalannya tadi, Yanami melangkah pergi dengan langkah ringan.




Previous Chapter | Next Chapter

0

Post a Comment

close