NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Short Story


Penerjemah:
Flykitty

Proofreader: Flykitty

Kami Menunggu Satu Suara Bersih Anda.


Di ruang OSIS SMA Tsuwabuki, dua siswi berdiri saling berhadapan.

 

"—Seharusnya aku sudah mengatakan bahwa proposal ini ditolak."

 

Yang satu adalah ketua OSIS, Basori Tiara. Ia mengembalikan kertas yang dipegangnya kepada siswi di depannya.

 

"Lagipula, mencoba menghidupkan kembali sesuatu seperti kontes kecantikan—produk zaman dulu—menurutku tidak pantas."

 

Menghadapi Tiara yang tampak kesal, siswi satunya melambaikan tangan sambil tersenyum.

 

Rok pendek, kamera tergantung di leher. Ia adalah Koikawa Tsukushi dari klub jurnalistik.

 

"Tidak, tidak, makanya aku sudah merevisi proposalnya. Nih, coba dibaca baik-baik."

 

Ia menepuk-nepuk proposal yang sedang dipegang Tiara dengan ujung jarinya.

 

"Dulu kan, di Festival Tsuwabuki ada pemilihan Miss Tsuwabuki dan Mister Tsuwabuki. Jadi—"

 

"Dan sekarang ingin menghidupkannya kembali, bukan? Sejujurnya, rasanya kurang sesuai dengan zaman sekarang."

 

"Ah—bagian itu ya."

 

Tak memedulikan sikap dingin Tiara, Koikawa mengangguk-angguk.

 

"Makanya kali ini namanya ‘Pemilihan Umum Tsuwabuki’. Tanpa memandang gender, kita memilih siswa teladan SMA Tsuwabuki lewat pemungutan suara."

 

"Hah… lalu, untuk apa itu semua?"

 

Tiara memiringkan kepala, benar-benar tidak mengerti.

 

"Kami ingin kamu membantu liputan dan publikasinya. Klub kami cuma klub hobi, jadi sering dipandang sebelah mata. Permintaan wawancara juga sering ditolak."

 

Nada suaranya terdengar seperti menertawakan diri sendiri, membuat Tiara tampak sedikit iba.

 

—Sekarang waktunya menyerang.

 

Yakin akan hal itu, Koikawa memasang senyum sedih yang mengundang simpati.

 

"Aku ingin menghidupkan kembali aktivitas klub koran, dan berharap teman-teman lama mau kembali. Aku juga nggak mungkin sendirian terus, kan…?"

 

"...Aku mengerti maksudmu."

 

Sambil menekan pelipisnya, Tiara kembali melihat proposal itu.

 

"Secara konkret, bagaimana rencananya?"

 

"Nah, begitu dong!"

 

Koikawa membuka kursi lipat, lalu duduk mengangkang menghadap sandaran.

 

"Pertama, kami mengumpulkan kandidat lewat rekomendasi diri sendiri atau orang lain, lalu memuat artikel wawancara di koran sekolah. Setelah itu, baru diadakan pemungutan suara."

 

"Hmm… sepertinya tidak masalah. Oh, dan rokmu hampir memperlihatkan isinya."

 

"Ah, rok itu kan layanan ekstra. Oke deh, aku mulai wawancara kandidat sekarang ya."

 

Mendengar itu, Tiara memasang wajah curiga.

 

"Bukankah seharusnya mencari kandidat dulu?"

 

"Pemungutan suara pendahuluan sudah selesai. Nih, ini daftar kandidatnya."

 

Alis Tiara terangkat.

 

"…Namaku juga ada ya."

 

"Siapa pun yang dapat satu suara saja masuk daftar. Shiratama dari OSIS juga ada, kan?"

 

"Kenapa semuanya nama perempuan? Ada maksud tertentu?"

 

"Mungkin suara pendahuluannya timpang. Tapi nanti pemilihannya bebas tulis nama, jadi nggak masalah."

 

"Tapi—"

 

Sambil menggosok pelipisnya, Tiara menatap daftar itu. Banyak nama yang dikenalnya. Saat membalik halaman, tangannya berhenti.

 

"…Ada dua siswa SMP."

 

Yang ditunjuk Tiara adalah Nukumizu Kaju dan Gondo Asami.

 

"Mereka jadi bahan pembicaraan karena lucu waktu acara penjelasan sekolah. Mereka juga berniat masuk ke sini, jadi nggak apa-apa, kan?"

 

"Masalah. Tolong keluarkan dua orang ini dari daftar."

 

"Oke, oke, siap."

 

…Begitu pemungutan suara dimulai, semua akan berjalan sesuai rencana. Koikawa mengangguk patuh.

 

Setelah membaca sampai akhir, Tiara mengembalikan daftar itu.

 

"Nama Tsukinoki juga ada. Orang ini sudah lulus."

 

"Dia punya penggemar rahasia di kalangan siswi. Pilihan tak biasa, tapi boleh, kan?"

 

"Yah, bahkan ada nama guru juga… selama ada izin dari yang bersangkutan—"

 

Dengan setengah menyerah, Tiara menggelengkan kepala.

 

"Mohon buat artikel yang adil dan tidak bertentangan dengan kehendak narasumber. Untuk para guru, aku yang akan bicara—hya?!"

 

Tiba-tiba kamera berbunyi. Tiara refleks menggeliat.

 

"Bagus banget ekspresinya. Ambil satu lagi ya?"

 

"Apa-apaan tiba-tiba! Jangan ambil foto tanpa izin!"

 

"Kan perlu nulis artikel kandidat."

 

Koikawa mengarahkan lensa kamera ke Tiara.

 

"Aku bilang jangan ambil fotoku!"

 

"‘Liputan yang adil’, kan? Bisa rokmu dipendekin dikit?"

 

"Hah? Rok? Memangnya itu benar-benar perlu? Eh?"

 

"Iya, iya. Bagus. Liputan yang adil butuh ini. Sekarang coba lepas jaketnya. Wah, mantap mantap!"

 

"Hah? Eh…?"

 

Klik klik klik. Suara rana kamera menggema di ruang OSIS. Pemotretan terus berlanjut sampai Tiara, yang menuruti saja dan melepas jaketnya, akhirnya sadar kembali.

 

 

Pemilihan Umum Tsuwabuki – Kandidat No.1: Basori Tiara

 

Koikawa Tsukushi menundukkan kepala ringan.

 

"Baik, kita mulai wawancaranya."

 

"…Tolong jangan seperti tadi lagi."

 

"Tenang, tenang. Santai aja."

 

Mengabaikan nada tajam Tiara, Koikawa mengeluarkan buku catatan dan pena.

 

"Baik, sebutkan nama dan usia."

 

"Basori Tiara, 16 tahun. Tapi… nama saya kan sudah kamu tahu?"

 

"Wawancara memang begitu. Lalu, tinggi badan, berat badan, dan ukuran tiga serangkai?"

 

"Tinggi 163 dan berat—tunggu, ini benar-benar perlu?!"

 

"Sabar, sabar," kata Koikawa menenangkan.

 

"Kalau ada angka konkret, pembaca merasa lebih dekat. Dasar-dasar jurnalistik."

 

"Hmm… begitu ya."

 

Melihat Tiara akhirnya menerima, Koikawa kembali menyiapkan pena.

 

"Lanjut ya. Sekarang punya pacar? Kalau ada, kapan terakhir bertemu?"

 

"…Tidak ada. Ini juga benar-benar perlu?"

 

"Cerita cinta itu diminati cewek. Kamu ketua OSIS, kan? Penting supaya siswi lain bisa merasa relate."

 

"B-begitu ya…"

 

Mengabaikan tatapan curiga Tiara, Koikawa memutar pena di jarinya.

 

"Oh iya, pita yang dilepas waktu pemotretan tadi, boleh dipakai lagi."

 

"…Memangnya pita itu perlu dilepas?"

 

Koikawa hanya tersenyum tanpa menjawab, lalu melanjutkan.

 

"Seragam itu SMA Tsuwabuki, kan? Boleh lihat buku siswanya?"

 

"Ini wawancara apa sih sebenarnya?!"

 

Koikawa mengangkat bahu, seolah lelah.

 

"Kan harus menulis artikel yang diinginkan pembaca. Basori-san itu kategori seksi, jadi harus memenuhi ekspektasi."

 

"Tidak ada ekspektasi seperti itu?!"

 

Teriakan Basori Tiara menggema di ruang OSIS.

 

Dan begitulah, tirai Pemilihan Umum Tsuwabuki pun mulai terbuka—

 

Pemilihan Umum Tsuwabuki – Kandidat No.2: Yanami Anna

 

"Eh, aku?"

 

Begitu berkata, Yanami Anna menelan ogura sandwich yang sedang dimakannya.

 

"Iya, iya. Yanami-san itu cukup populer, lho. Kamu kandidat kuat."

 

Di ruang klub sastra, Koikawa Tsukushi membuka buku catatannya sambil menyilangkan kaki.

 

"Aku ingin menulis artikel tentangmu, jadi mau minta wawancara—"

 

"Lihat, Nukumizu-kun. Kalau aku serius, ya segini ini sih."

 

Siswa laki-laki yang disapa Yanami mengangkat wajahnya dari buku yang sedang ia baca.

 

"…Hah? Ngomongin apa sih?"

 

Yang menjawab dengan nada benar-benar tidak tertarik adalah Nukumizu Kazuhiko, si "musuh para perempuan".

 

Kenapa cowok yang kelihatannya polos dan tidak berbahaya ini bisa punya reputasi seperti itu…Sambil menatap dengan penuh minat, Koikawa melihat Yanami menepuk-nepuk Nukumizu.

 

"Aku katanya jadi nomor satu di voting popularitas!"

 

"Belum ada voting, sih."

 

Koikawa meluruskan, tapi dua orang itu tetap ribut sendiri.

 

"Ehm… boleh nggak aku mulai wawancaranya?"

 

"Ah, maaf. Terus, tadi apa ya? Kalau soal roti enak, aku punya rankingnya, lho."

 

"Yang itu sih nggak perlu."

 

Begitu ya, jadi ini Yanami Anna.

 

Dengan penampilan dan kepribadiannya yang ceria, ia sempat jadi favorit para siswa laki-laki—sampai akhirnya disalip begitu saja oleh murid pindahan misterius.

 

Koikawa Tsukushi mengangguk-angguk mendengarkan ocehan Yanami, lalu bergumam pelan.

 

"…Aku ngerti sekarang."

 

Pemilihan Umum Tsuwabuki – Kandidat No.3: Komari Chika

 

Akhirnya selesai juga wawancara Yanami.

 

Pandangan Koikawa beralih ke makhluk kecil yang sedang menatap layar ponsel di sudut ruangan.

 

"Baiklah, berikutnya Komari-san, ya."

 

"Uwa?!"

 

Komari mencengkeram ponselnya sambil mengeluarkan suara aneh, sementara Koikawa mendekat.

 

"Ini pertama kalinya kita bertemu, ya, Komari-san."

 

"N-nm, a-aku—"

 

"Hm? Kenapa?"

 

Komari mencoba mengetik di ponselnya, tapi jarinya gemetar dan tak kunjung berhasil. Saat itu, Nukumizu menyela di antara mereka.

 

"Ah, Komari bilang, ‘Kenapa aku diwawancarai?’"

 

Koikawa sempat terdiam, lalu kembali tersenyum sambil membuka buku catatan.

 

"Kamu dapat beberapa suara di voting pendahuluan. Mau ceritakan semangatmu menghadapi Pemilihan Umum Tsuwabuki?"

 

"S-s-s, i-itu, e-eh…"

 

"Dia bilang, ‘Aku nggak ngerti kenapa dipilih.’"

 

Mendengar terjemahan Nukumizu, Komari mengangguk cepat.

 

"Oh, begitu. Ngomong-ngomong, entah kenapa suara untuk Komari-san selalu disertai pesan yang… lengket—eh, maksudku penuh semangat. Ada yang terlintas di pikiranmu?"

 

"Siapa pengirimnya?"

 

Entah kenapa, Nukumizu langsung condong ke depan.

 

"Eh? Itu anonim, jadi nggak tahu sih…"

 

"Kalau dicek dari asal aksesnya bisa ketahuan. Aku kenal orang yang jago soal begitu."

 

Komari menendang Nukumizu dengan ringan.

 

"Nu—Nukumizu, kenapa kamu ikut campur begitu?"

 

"Ya soalnya Komari itu tipe yang digemari kalangan tertentu. Kamu harusnya lebih sadar diri."

 

"M-mati aja!"

 

"Makanya jangan nendang!"

 

Melihat mereka berdua bertengkar, Koikawa mengangguk besar dalam hati.

 

…Komari Chika memang kelihatannya punya pasar tersendiri.

 

Merasakan firasat bisa dimonetisasi, hati Koikawa pun bergetar.

 

 

Pemilihan Umum Tsuwabuki – Kandidat No. 4: Yakishio Lemon

 

"Eh, aku?"

 

Di sela latihan klub, Yakishio yang sedang minum di pinggir lapangan membelalakkan matanya.

 

"Iya. Yakishio-san termasuk peringkat atas di voting pendahuluan. Boleh aku menulis artikel pengenalan tentangmu?"

 

Menghadapi Koikawa yang berbicara penuh semangat, Yakishio melambaikan tangan sambil tersenyum kecut.

 

"Hmm, aku nggak terlalu suka yang begitu. Pertandingan sudah dekat, jadi nggak mau terganggu."

 

"Aku nggak bakal mengganggu. Kalau begitu, boleh ambil beberapa foto—"

 

Saat Koikawa mengangkat kamera, seorang siswi berdiri menghalangi.

 

"Kalau mau meliput klub atletik, bisa lewat aku dulu?"

 

Yang muncul melindungi Yakishio adalah ketua klub atletik putri, Kurata Ritsuko.

 

Koikawa menurunkan kamera sambil tersenyum canggung.

 

"Maaf mengganggu latihan. Sebenarnya ini proyek bernama Pemilihan Umum Tsuwabuki, dan aku meliput Yakishio-san secara pribadi."

 

"…Pemilihan umum?"

 

Setelah mendengar penjelasan singkat, Kurata mengangguk-angguk kagum.

 

"Oh begitu. Jadi itu alasannya. Oh…"

 

Ia mulai memainkan poninya dengan gelisah.

 

"Kalau foto, di sini nggak apa-apa?"

 

"E-eh, ketua klub sebenarnya tidak masuk nominasi…"

 

Mendengar kata-kata Koikawa yang ragu-ragu, Kurata langsung berhenti bergerak.

 

"Eh… o-oh, begitu ya."

 

"Kami juga menerima pencalonan diri sendiri sih… bagaimana?"

 

Wajah Kurata memerah, ia melambaikan tangan kuat-kuat.

 

"N-nggak tertarik sama begituan! Aku balik latihan dulu!"

 

"Aku juga balik latihan! Maaf ya, Koikawa-san!"

 

"Eh, tunggu—"

 

Dua siswi atletik itu segera menjauh.

 

Tertinggal sendirian, Koikawa menghela napas lalu kembali mengangkat kamera.

 

"…Ya sudahlah, yang penting dapat foto."

 

 

Pemilihan Umum Tsuwabuki – Kandidat No. 5: Asagumo Chihaya

 

…Dapat foto yang bagus.

 

Sambil melihat layar kamera dan berjalan kembali ke gedung sekolah, sesuatu berkilau di sudut pandang Koikawa.

 

Yang mengintip dari balik bayangan gedung adalah—Asagumo Chihaya.

 

Saat Koikawa terdiam, Asagumo berlari kecil mendekat.

 

"Sedang meliput Lemon-san?"

 

"A-ah, iya! Wawancara!"

 

Koikawa refleks meluruskan punggungnya, membuat Asagumo terkikik.

 

"Kita kan teman. Santai saja. —Nih."

 

Asagumo mengulurkan kedua tangannya.

 

"Eh?"

 

"Boleh lihat kameranya?"

 

"Silakan!"

 

Setelah memeriksa foto-foto yang diambil, Asagumo mengembalikan kamera sambil tersenyum.

 

"Foto-fotonya bagus. Mau dimuat di koran sekolah sebagai artikel klub atletik?"

 

"E-eh, sebenarnya kami sedang merencanakan Pemilihan Umum Tsuwabuki…"

 

Setelah mendengar penjelasan, dahi Asagumo tampak berkilau.

 

"Begitu. Tolong jangan sampai mengganggu Lemon-san, ya. Ini masa yang sangat penting baginya."

 

"Iya, aku akan hati-hati. Sebenarnya…."

 

Koikawa ragu-ragu mengangkat kamera.

 

"Bolehkah aku juga menulis artikel tentang Asagumo-san?"

 

"…Aku?"

 

Asagumo berkedip, terlihat terkejut.

 

"Asagumo-san juga cukup populer, lho. Tentu artikelnya akan diperlihatkan dulu sebelum terbit."

 

"Begitu ya…"

 

"Kalau begitu, satu foto ya."

 

Saat kamera diarahkan padanya, mata Asagumo bergerak gelisah.

 

"Ada apa?"

 

"Tidak… rasanya aneh berada di sisi yang difoto."

 

Reaksi yang tak terduga itu membuat Koikawa terkejut.

 

"Asagumo-san kan imut, pasti nggak masalah. Oke, aku ambil fotonya!"

 

Klik, klik, klik. Suara rana terdengar.

 

"…Ehm, masih lanjut?"

 

"Bagus banget. Kalau begini bisa dijual mahal—"

 

"Tolong hentikan."

 

"Ah, i-iya…"

 

Menghadapi senyum Asagumo, Koikawa hanya bisa mengangguk dengan ekspresi kaku.

 

Pemilihan Umum Tsuwabuki – Kandidat No. 6: Hokobaru Hibari

 

Di ruang audio-visual SMA Tsuwabuki, Hokobaru mengibaskan rambut panjangnya.

 

"Aku sudah paham ceritanya. Tapi, bagaimana bisa siswi kelas tiga sepertiku ikut pemilihan?"

 

Melihat wajah Hokobaru yang tampak serius, Koikawa tersenyum lelah.

 

"Guru dan alumni senior juga masuk sebagai kandidat, jadi mohon jangan dipikirkan."

 

"Begitu ya. Ngomong-ngomong, Koikawa-kun, wajahmu terlihat agak pucat."

 

"Barusan sempat diancam… eh, bukan, ada macam-macam, jadi perutku agak bermasalah."

 

"Oh, itu tidak baik. Kalau sakit perut—kubis itu manjur."

 

"Eh?"

 

Koikawa mengira itu bercanda, tapi Hokobaru terlihat sangat serius.

 

"Kami menanam kubis sendiri di rumah. Akan kukirimkan. Kamu perlu berapa?"

 

"E-eh, aku tinggal sendiri, jadi satu saja…"

 

"Baik, tunggu sebentar."

 

Hokobaru mengeluarkan ponsel lalu menelepon seseorang.

 

"Ayah, aku mau minta tolong kirimkan kubis ke junior di sekolah. Ya, satu kotak saja cukup."

 

"Eh? Bukan satu kotak, tapi satu—"

 

"Makasih, ya. Kutunggu."

 

Setelah menutup telepon, Hokobaru tersenyum segar.

 

"Katanya akan diantar malam ini. Kalau habis, bilang saja kapan pun."

 

"A-ah, iya… kalau begitu, mohon wawancaranya."

 

"Oh ya, kubis itu kaya vitamin U yang bagus untuk melindungi lambung. Enzim diastase juga membantu pencernaan—"

 

"B-bukan itu, maksudku ingin bertanya tentang senior."

 

"Ceritaku sendiri mungkin tidak terlalu menarik, tapi… silakan tanya apa saja."

 

"A-ah, baik…"

 

…Orang ini juga cukup unik.

 

Sambil merasakan perutnya makin tidak enak, Koikawa membuka buku catatannya.

 

 

Pemilihan Umum Tsuwabuki – Kandidat No. 7: Shikiya Yumeko

 

"—Begitu ya. Jadi itu yang membuatmy tertarik pada Tsuwabuki."

 

Hokobaru mengangguk sambil menyibakkan rambutnya.

 

"Sepertinya aku kebanyakan bicara. Wawancaranya sudah cukup?"

 

"Ya, terima kasih banyak."

 

Koikawa menutup buku catatan dan membungkuk di atas kursi.

 

"Artikel mantan ketua itu banyak peminatnya, jadi—hya?!"

 

Tak heran ia berteriak.

 

Ada jari dingin yang mengusap tengkuknya.

 

"Kamu… siapa…?"

 

Dari belakang, wajah yang mendekat perlahan adalah mantan sekretaris OSIS, Shikiya Yumeko.

 

Saat Koikawa hendak berdiri, Shikiya dengan licin melingkarkan kedua lengannya ke leher Koikawa dari belakang.

 

"E-eh, aku Koikawa dari klub koran! Hari ini aku meliput Hokobaru-senpai—"

 

"Klub koran…?"

 

Shikiya mengencangkan pelukannya.

 

"Klub pengamat burung… anak… nakal…"

 

"Aku tidak melakukan hal buruk sekarang?! Lihat, aku datang sebagai klub koran hari ini!"

 

Koikawa berhasil melepaskan diri dan mengambil jarak. Meski hanya sebentar, tubuhnya terasa dingin sampai ke tulang.

 

"E-eh, sebenarnya Shikiya-senpai juga kandidat, jadi aku ingin mewawancarai—"

 

Saat ia mengatakannya dengan hati-hati, Shikiya menatap paha Koikawa dengan mata putihnya.

 

"Eh, ada apa?"

 

Koikawa refleks menahan roknya, sementara Shikiya menggelengkan kepala perlahan.

 

"Rok… pendek…"

 

"Ah, kupikir yang pendek lebih imut. Lagipula Shikiya-senpai juga pendek, kan?"

 

"Mm… karena imut…"

 

Nada bicara seperti anak kecil itu membuat Koikawa akhirnya sedikit lega.

 

"Shikiya-senpai memang stylish. Bolehkah aku bertanya soal make-up hari ini?"

 

"Boleh… aku dandanin…"

 

"B-bukan itu, maksudku bicara—hyaa?!"

 

Ia benar-benar lengah. Entah sejak kapan Shikiya mendekat dan, meski gerakannya lambat, mencengkeram bahu Koikawa dengan kuat.

 

"Baiklah, aku pulang dulu. Shikiya, bisa tolong kunci ruangan?"

 

"Eh?! Hokobaru-senpai, pulang sekarang?! T-tunggu, aku juga—"

 

Ucapan Koikawa terhenti ketika mulutnya ditutup telapak tangan Shikiya.

 

"Serahkan… padaku… takkan kubiarkan… siapa pun… masuk…"

 

"Baik, kuserahkan padamu."

 

Dengan satu kibasan rambut, Hokobaru keluar dari ruangan.

 

"Mmm! Mmm—!"

 

Saat Koikawa meronta, lengan Shikiya melilit tubuhnya.

 

"Wawancara… kita mulai… ya?"

 

 

Pemilihan Umum Tsuwabuki – Kandidat No. 8: Amanatsu Konami

 

Di UKS, Amanatsu Konami yang duduk di kursi bundar menatap Koikawa dengan wajah curiga.

 

"Aku yang diwawancarai?"

 

"Iya. Kami akan mengadakan Pemilihan Umum Tsuwabuki, dan di voting pendahuluan, ada suara untuk Sensei."

 

"Untuk aku…?"

 

"Iya, Konami. Tinggal sebentar, diam ya."

 

Sambil berkata begitu, Konuki membersihkan lutut Amanatsu dengan kapas beralkohol. Amanatsu baru saja terjatuh dan lututnya tergores.

 

Setelah memasang kasa dan plester, perawatan selesai. Amanatsu memutar kursinya menghadap Koikawa.

 

"Baik! Tanya apa saja!"

 

"Sensei lulusan SMA Tsuwabuki, ya? Aku ingin dengar cerita waktu dulu."

 

"Oh, cerita lama? Oh iya, sejak angkatan guru, seragamnya jadi seperti sekarang. Awalnya unik, jadi di jalan juga mencolok."

 

"Bagus tuh. Cerita begitu terusin dong. Ada foto-foto lama nggak?"

 

"Mungkin ada di rumah. Nanti kubawakan beberapa."

 

Saat berbicara dengan semangat, pandangan Amanatsu tiba-tiba tertuju ke leher Koikawa.

 

"…Hm? Lehermu digigit serangga, ya?"

 

"Eh, ada bekasnya?"

 

Amanatsu memanggil Konuki.

 

"Konuki-chan, coba lihat lehernya anak ini."

 

"Ada apa?"

 

 

Pemilihan Umum Tsuwabuki – Kandidat No. 9: Konuki Sayo

 

Konuki menghentikan beres-beres alat dan menatap leher Koikawa dengan saksama.

 

"Tuh, kan. Ada bekas aneh."

 

"…Itu bekas ciuman."

 

""?!""

 

Terkejut hingga tak bisa berkata-kata, bahu Koikawa ditepuk lembut oleh Konuki.

 

"Aduh, di sekolah tapi aktif sekali ya. Sensei jadi teringat masa lalu."

 

"B-bukan begitu! Ini tadi karena keadaan memaksa, atau lebih tepatnya dipaksa—ini kelihatan jelas ya?!"

 

"Nggak apa. Sensei dukung kok. Mau dengar cerita masa laluku juga?"

 

"Memang aku ingin mewawancarai Sensei juga, tapi pokoknya ini bukan seperti itu, ya? Lawannya perempuan, dan bukan hal yang—"

 

"Oh begitu. Sensei rasa itu tidak masalah."

 

…Tidak, salah. Salah total. Apa pun yang dikatakan hanya akan menambah salah paham. Saat Koikawa kehabisan kata-kata, Amanatsu menyela.

 

"Oi, Konuki-chan. Jangan ngomporin begitu."

 

"Berbagi cinta itu hal yang indah. Kalau di UKS tidak apa-apa, silakan dipakai kapan saja."

 

"…Ah, iya. Kalau darurat, aku titip ya."

 

Menyerah pada segalanya, Koikawa hanya bisa mengangguk dengan senyum lelah.

 

Pemilihan Umum Tsuwabuki – Kandidat No.10: Nukumizu Kaju

 

Ruang OSIS SMP Kota Momozono.

 

Wakil ketua OSIS, Nukumizu Kaju, memiringkan kepalanya dengan imut sambil memegang kartu nama yang baru saja diterimanya.

 

"Pemilihan Umum Tsuwabuki… ya?"

 

"Iya. Kaju-chan masuk peringkat atas di pemungutan suara pendahuluan. Jadi kami ingin membuat artikel tentangmu."

 

Kepada Koikawa yang sedang mengarahkan kamera, Kaju melirik dengan sedikit kebingungan.

 

"Padahal aku bukan murid Tsuwabuki, apa tidak apa-apa?"

 

"Kakakmu kan murid Tsuwabuki. Kalau dibilang masih ada hubungannya, ya tidak sepenuhnya salah juga."

 

Kakak. Begitu mendengar kata itu, mata Kaju langsung berbinar-binar.

 

"Berarti Onii-sama juga ikut terdaftar, ya! Apakah Kaju juga punya hak suara?"

 

"Eeh, di pemungutan awal sih belum masuk, tapi kami juga menerima nominasi dari orang lain."

 

"Kalau begitu aku mencalonkan Onii-sama! Dan aku juga akan memilihnya!"

 

Terdesak oleh semangat Kaju, Koikawa mengangguk-angguk.

 

"Ba-baiklah. Akan kuatur nanti. Kalau begitu, boleh langsung mulai wawancaranya?"

 

"Ya, saya mengerti!"

 

Kaju duduk di kursi dengan bunyi petan.

 

"Makanan favorit Onii-sama itu hanpen putih! Terus Onii-sama bilang kopi buatan Kaju yang paling enak, dan kalau sudah tidur, dia tidak bangun sampai pagi—"

 

Kaju berbicara tanpa henti, hingga Koikawa menenangkannya dengan tangan.

 

"Eh, kalau bisa aku ingin dengar cerita tentang Kaju-chan sendiri…"

 

"Tapi cerita Kaju pasti akan jadi cerita tentang Onii-sama."

 

"…Kenapa?"

 

"Memang begitu. Lagi pula, aku sudah hafal siklus tidur Onii-sama, jadi meskipun ada seseorang menyusup ke tempat tidurnya—"

 

"Oh begitu ya. Aku ambil fotonya dulu, ya."

 

Yah, ini juga tidak berpengaruh pada penjualan foto anak ini sih… Sambil berpikir begitu, Koikawa mengintip ke dalam bidik kamera.

 

 

Pemilihan Umum Tsuwabuki – Kandidat No.11: Gondo Asami

 

"Nuku-chan, daftar permintaan pembelian perlengkapan tolong serahkan ke guru, ya—"

 

Gondo Asami membuka pintu ruang OSIS, tapi langsung berhenti saat melihat ada tamu.

 

"Oh, ada tamu ya. Aku balik lagi nanti deh."

 

"Tunggu, kamu Gondo-san, kan?"

 

Dipanggil tiba-tiba oleh Koikawa, Gon-chan menatapnya dengan heran.

 

"Iya, benar… Anda dari Tsuwabuki?"

 

"Iya. Aku Koikawa dari klub koran. Kamu juga terdaftar di Pemilihan Umum Tsuwabuki, jadi aku ingin wawancara sedikit."

 

"Pemilihan…?"

 

Saat Gon-chan melirik ke arah Kaju, Kaju langsung mengangguk besar dengan wajah puas.

 

"Berarti aku dan Gon-chan dua suara untuk Onii-sama!"

 

"Ngomongin apa sih…?"

 

Entah kenapa, tapi kalau sudah melibatkan Kakak, Kaju memang tidak bisa diajak logika.

 

"Ehm, Koikawa-san. Pemilihan umum itu maksudnya apa?"

 

Saat Gon-chan melemparkan pertanyaan, Koikawa mengangguk-angguk.

 

"Iya, dua suara ya. Kalau begitu, boleh aku ambil foto kalian berdua? Kakaknya juga akan melihat, jadi tolong senyum terbaiknya."

 

"Baik, serahkan pada kami! Ayo Gon-chan, foto bareng!"

 

"Eeh…"

 

Kalau sudah begini, tidak bisa dihentikan lagi.

 

Gon-chan yang sudah sangat paham situasi ini pun menyerah, lalu berdiri di samping Kaju dengan senyum di wajahnya.

 

 

Pemilihan Umum Tsuwabuki – Kandidat No.12: Tsukinoki Koto

 

Sebuah gudang sake yang terletak tidak jauh dari SMA Tsuwabuki. Di ruang tamu kantor, Koto menyuguhkan teh kepada Koikawa yang duduk di sana.

 

"Padahal permintaannya mendadak, terima kasih banyak."

 

"Kebetulan aku sedang pulang ke Toyohashi. Tapi kenapa aku yang sudah lulus diwawancarai?"

 

"Masalahnya—"

 

Setelah mendengar penjelasan singkat, Koto mengangguk kagum sambil memegang cangkir teh.

 

"Menarik juga yang kalian lakukan. Kalau ada yang bisa aku ceritakan sebagai alumni, silakan tanya apa saja."

 

Mendengarnya, Koikawa merendahkan suaranya.

 

"Kalau cerita waktu jadi pengurus OSIS dulu… tidak apa-apa?"

 

"…Kalau kamu tanya itu, berarti kamu sudah tahu sedikit, ya."

 

Koto mengangkat bahu, seolah pasrah.

 

"Sudahlah, tidak ada gunanya disembunyikan sekarang. Terserah kamu."

 

Koikawa mengangguk dan membuka buku catatannya—

 

…Sekitar 30 menit kemudian.

 

Koikawa menutup buku catatan yang penuh dengan berbagai cerita, entah benar atau tidak, yang keluar dari mulut Koto.

 

"Ngomong-ngomong, liburan musim panas di universitas cepat sekali ya."

 

"Hah? Liburan musim panas masih lama, kok."

 

Kalau begitu, kenapa dia ada di Toyohashi hari kerja seperti ini?

 

"Jadi senpai pulang-pergi dari sini ke kampus?"

 

Sekilas ia melirik ke arah orang-orang yang bekerja di kantor, lalu berbisik pelan.

 

"…………Ya."

 

Sepertinya lebih baik tidak bertanya lebih jauh. Tsukinoki Koto memang persis seperti yang diceritakan orang-orang.

 

Dengan rasa akrab yang aneh, Koikawa menyesap teh yang sudah dingin.

 

 

Pemilihan Umum Tsuwabuki – Kandidat No.13: Shiratama Riko

 

Kembali lagi ke ruang OSIS SMA Tsuwabuki.

 

Shiratama Riko menampilkan senyum sempurna, lalu duduk di hadapan Koikawa tanpa suara.

 

"Merupakan suatu kehormatan bisa dinominasikan dalam Pemilihan Umum Tsuwabuki."

 

"Shiratama-san kan populer banget di kalangan cowok. Pasti laris, ya?"

 

Pertanyaan langsung itu dibalas Shiratama dengan senyum profesional.

 

"Tidak juga, kok. Mungkin para cowok tidak menganggapku sebagai perempuan."

 

"Ah, masa sih. Cewek juga suka yang imut, kan? Kamu sering dipuji lucu sama teman cewekmu juga, kan?"

 

"Hmm… aku hampir tidak punya teman cewek. Lebih gampang ngobrol sama cowok, sih."

 

Shiratama menjulurkan lidahnya sedikit.

 

"Mungkin aslinya aku ini cowok, ya."

 

"Oh… begitu…"

 

—Perempuan ini licik. Terlalu licik.

 

Tapi Koikawa tidak bisa terus-terusan terseret oleh ‘teater Shiratama’. Dengan senyum santai, Koikawa melontarkan pertanyaan lagi.

 

"Kalau tipe yang kamu suka, seperti apa?"

 

"Tidak ada tipe khusus, sih. Orang yang aku sukai, itulah tipenya."

 

"Ah… bisa jadi."

 

…Mungkin mustahil mengupas topeng perempuan ini.

 

Saat hampir menyerah, Shiratama menambahkan dengan suara pelan:

 

"—Tapi aku memang mengagumi orang yang lebih tua dan bisa diandalkan."

 

"Oh begitu. Iya ya, orang yang bisa diandalkan itu bagus."

 

—Akhirnya terlihat sekilas wajah asli Shiratama Riko.

 

Saat Koikawa menahan rasa antusias dan mencari pertanyaan berikutnya, Shiratama kembali bicara.

 

"Orang seperti kakekku itu yang paling ideal. Aku ini cucu kesayangan kakek."

 

"Oh… yang itu, ya…"

 

Semangat Koikawa langsung turun. Shiratama Riko pun berdiri.

 

"Ada teh herbal yang enak, mau coba? Akhir-akhir ini aku lagi suka."

 

"Kalau begitu, aku terima."

 

Koikawa menutup buku catatannya, tanda menyerah.

 

Tetap saja, Shiratama Riko adalah—perempuan yang paling dibenci oleh para siswi Tsuwabuki, peringkat No.1 yang tak tergoyahkan.

 

 

Pemilihan Umum Tsuwabuki – Kandidat No.14: Himemiya Karen

 

Di ruang kelas kosong sepulang sekolah, Koikawa Tsukushi menggosok-gosok matanya.

 

"Ada apa, Koikawa-san?"

 

"Entah kenapa, penglihatanku terasa silau…"

 

"Itu berbahaya. Mau ke UKS bersama?"

 

"Tidak apa-apa, mungkin mataku saja yang lelah. Kita langsung wawancara saja ya."

 

Kandidat terakhir adalah Himemiya Karen.

 

Gadis tercantik nomor satu di Tsuwabuki, berkepribadian baik, murid teladan, bilingual—seorang selebritas yang diberkahi segalanya oleh langit.

 

Dibandingkan orang-orang aneh yang sudah diwawancarai sebelumnya, dia benar-benar seperti malaikat. Merasa lega, Koikawa membuka buku catatannya yang sudah kusut.

 

"Kamu pindah sekolah Mei tahun lalu, lalu ada rumor akan pindah lagi bulan Juli, kan?"

 

"Iya. Ayahku ditugaskan ke Inggris, tapi aku memaksa supaya aku saja yang tetap tinggal."

 

"Oh, begitu ya."

 

Dan alasan ‘memaksa’ itu pasti karena pacar tampannya.

 

Sekarang tinggal bagaimana cara menggali cerita tentang pacarnya—

 

"Karen, ternyata kamu di sini."

 

Seorang siswa laki-laki bertubuh tinggi masuk ke kelas. Pacar Himemiya, Hakamada Sousuke.

 

Melihat mereka berdua, ia mengangkat satu tangan di depan wajahnya seolah minta maaf.

 

"Maaf, lagi sibuk ya."

 

"Maaf ya, Sousuke. Bisa tunggu sebentar?"

 

Saat Hakamada hendak keluar, Koikawa buru-buru memanggilnya.

 

"Maaf sudah mengambil waktu pacarmu. Kalau tidak keberatan, kamu juga boleh ikut."

 

"Katanya begitu. Sousuke, silakan duduk di sini."

 

Diajak langsung oleh Himemiya, Hakamada duduk di sebelahnya dengan wajah canggung.

 

"Ini wawancara, kan? Aku tidak mengganggu?"

 

"Tidak sama sekali. Malah kehormatan bisa mewawancarai pasangan terkenal. Boleh aku pasang foto kalian di koran sekolah?"

 

Saat Koikawa mengangkat kamera, Himemiya menutup wajahnya dengan malu.

 

"Foto agak memalukan… kan masuk koran sekolah."

 

"Kamu bakal kelihatan luar biasa. Sayang kalau kecantikannya tidak dimanfaatkan."

 

"Ah, meski kamu bilang begitu, tidak dapat apa-apa kok."

 

Sambil tersipu, Himemiya tersenyum ke arah Hakamada.

 

"Aku ingin lihat Karen tampil di koran sekolah."

 

"Hm, jadi kamu tidak masalah kalau aku dilihat semua orang?"

 

Hakamada menusuk pipi Himemiya yang sengaja tersenyum.

 

"Mungkin sedikit cemburu. Aku ingin Karen tetap jadi milikku saja."

 

"Fufu, Sousuke itu lho."

 

Mereka berdua mulai berpegangan tangan, bermesraan.

 

"Ehm… kalian berdua?"

 

"Ah, maaf! Wawancaranya sudah sampai mana tadi?"

 

"Baru sampai soal kepindahan sekolah tahun lalu. Kalau boleh, bisa ceritakan awal kalian bertemu?"

 

"Pertemuan pertama itu—Karen turun dari langit."

 

Menahan tawa, Sousuke menggenggam tangan Karen.

 

"Itu karena kamu berdiri di tempat yang aneh, kan?"

 

"Aku silau oleh cahaya malaikat, sampai tidak bisa bergerak."

 

"Dasar Sousuke."

 

Mesra lagi. Sangat mesra.

 

"Ehm… halo…?"

 

Di depan Koikawa pun mereka tidak berhenti bermesraan.

 

…Orang-orang yang berhubungan dengan SMA Tsuwabuki ini benar-benar terlalu unik.

 

Sambil mengecek foto-foto yang sudah diambil, sepertinya lebih baik menunggu sampai mereka puas.

 

Tiba-tiba ia merasakan angin. Saat menoleh, angin dari jendela terbuka mengayunkan tirai.

 

Seekor burung kecil bertengger di kusen jendela.

 

"Oh, itu pelatuk kecil…"

 

Koikawa Tsukushi dengan cepat membidik bayangan burung itu dan menekan tombol rana.

 



Previous Chapter | 

0

Post a Comment

close