Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Kami Menunggu Satu Suara Bersih
Anda.
Di ruang OSIS SMA Tsuwabuki, dua siswi berdiri saling berhadapan.
"—Seharusnya
aku sudah mengatakan bahwa proposal ini ditolak."
Yang
satu adalah ketua OSIS, Basori Tiara. Ia mengembalikan kertas yang dipegangnya
kepada siswi di depannya.
"Lagipula,
mencoba menghidupkan kembali sesuatu seperti kontes kecantikan—produk zaman
dulu—menurutku tidak pantas."
Menghadapi
Tiara yang tampak kesal, siswi satunya melambaikan tangan sambil tersenyum.
Rok
pendek, kamera tergantung di leher. Ia adalah Koikawa Tsukushi dari klub
jurnalistik.
"Tidak,
tidak, makanya aku sudah merevisi proposalnya. Nih, coba dibaca
baik-baik."
Ia
menepuk-nepuk proposal yang sedang dipegang Tiara dengan ujung jarinya.
"Dulu
kan, di Festival Tsuwabuki ada pemilihan Miss Tsuwabuki dan Mister Tsuwabuki.
Jadi—"
"Dan
sekarang ingin menghidupkannya kembali, bukan? Sejujurnya, rasanya kurang
sesuai dengan zaman sekarang."
"Ah—bagian
itu ya."
Tak
memedulikan sikap dingin Tiara, Koikawa mengangguk-angguk.
"Makanya
kali ini namanya ‘Pemilihan Umum Tsuwabuki’. Tanpa memandang gender, kita
memilih siswa teladan SMA Tsuwabuki lewat pemungutan suara."
"Hah…
lalu, untuk apa itu semua?"
Tiara
memiringkan kepala, benar-benar tidak mengerti.
"Kami
ingin kamu membantu liputan dan publikasinya. Klub kami cuma klub hobi, jadi
sering dipandang sebelah mata. Permintaan wawancara juga sering ditolak."
Nada
suaranya terdengar seperti menertawakan diri sendiri, membuat Tiara tampak
sedikit iba.
—Sekarang
waktunya menyerang.
Yakin
akan hal itu, Koikawa memasang senyum sedih yang mengundang simpati.
"Aku
ingin menghidupkan kembali aktivitas klub koran, dan berharap teman-teman lama
mau kembali. Aku juga nggak mungkin sendirian terus, kan…?"
"...Aku
mengerti maksudmu."
Sambil
menekan pelipisnya, Tiara kembali melihat proposal itu.
"Secara
konkret, bagaimana rencananya?"
"Nah,
begitu dong!"
Koikawa
membuka kursi lipat, lalu duduk mengangkang menghadap sandaran.
"Pertama,
kami mengumpulkan kandidat lewat rekomendasi diri sendiri atau orang lain, lalu
memuat artikel wawancara di koran sekolah. Setelah itu, baru diadakan
pemungutan suara."
"Hmm…
sepertinya tidak masalah. Oh, dan rokmu hampir memperlihatkan isinya."
"Ah,
rok itu kan layanan ekstra. Oke deh, aku mulai wawancara kandidat sekarang
ya."
Mendengar
itu, Tiara memasang wajah curiga.
"Bukankah
seharusnya mencari kandidat dulu?"
"Pemungutan
suara pendahuluan sudah selesai. Nih, ini daftar kandidatnya."
Alis
Tiara terangkat.
"…Namaku
juga ada ya."
"Siapa
pun yang dapat satu suara saja masuk daftar. Shiratama dari OSIS juga ada,
kan?"
"Kenapa
semuanya nama perempuan? Ada maksud tertentu?"
"Mungkin
suara pendahuluannya timpang. Tapi nanti pemilihannya bebas tulis nama, jadi
nggak masalah."
"Tapi—"
Sambil
menggosok pelipisnya, Tiara menatap daftar itu. Banyak nama yang dikenalnya.
Saat membalik halaman, tangannya berhenti.
"…Ada
dua siswa SMP."
Yang
ditunjuk Tiara adalah Nukumizu Kaju dan Gondo Asami.
"Mereka
jadi bahan pembicaraan karena lucu waktu acara penjelasan sekolah. Mereka juga
berniat masuk ke sini, jadi nggak apa-apa, kan?"
"Masalah.
Tolong keluarkan dua orang ini dari daftar."
"Oke,
oke, siap."
…Begitu
pemungutan suara dimulai, semua akan berjalan sesuai rencana. Koikawa
mengangguk patuh.
Setelah
membaca sampai akhir, Tiara mengembalikan daftar itu.
"Nama
Tsukinoki juga ada. Orang ini sudah lulus."
"Dia
punya penggemar rahasia di kalangan siswi. Pilihan tak biasa, tapi boleh,
kan?"
"Yah,
bahkan ada nama guru juga… selama ada izin dari yang bersangkutan—"
Dengan
setengah menyerah, Tiara menggelengkan kepala.
"Mohon
buat artikel yang adil dan tidak bertentangan dengan kehendak narasumber. Untuk
para guru, aku yang akan bicara—hya?!"
Tiba-tiba
kamera berbunyi. Tiara refleks menggeliat.
"Bagus
banget ekspresinya. Ambil satu lagi ya?"
"Apa-apaan
tiba-tiba! Jangan ambil foto tanpa izin!"
"Kan
perlu nulis artikel kandidat."
Koikawa
mengarahkan lensa kamera ke Tiara.
"Aku
bilang jangan ambil fotoku!"
"‘Liputan
yang adil’, kan? Bisa rokmu dipendekin dikit?"
"Hah?
Rok? Memangnya itu benar-benar perlu? Eh?"
"Iya,
iya. Bagus. Liputan yang adil butuh ini. Sekarang coba lepas jaketnya. Wah,
mantap mantap!"
"Hah?
Eh…?"
Klik
klik klik. Suara rana kamera menggema di ruang OSIS. Pemotretan terus berlanjut
sampai Tiara, yang menuruti saja dan melepas jaketnya, akhirnya sadar kembali.
◇
Pemilihan
Umum Tsuwabuki – Kandidat No.1: Basori Tiara
Koikawa
Tsukushi menundukkan kepala ringan.
"Baik,
kita mulai wawancaranya."
"…Tolong
jangan seperti tadi lagi."
"Tenang,
tenang. Santai aja."
Mengabaikan
nada tajam Tiara, Koikawa mengeluarkan buku catatan dan pena.
"Baik,
sebutkan nama dan usia."
"Basori
Tiara, 16 tahun. Tapi… nama saya kan sudah kamu tahu?"
"Wawancara
memang begitu. Lalu, tinggi badan, berat badan, dan ukuran tiga
serangkai?"
"Tinggi
163 dan berat—tunggu, ini benar-benar perlu?!"
"Sabar,
sabar," kata Koikawa menenangkan.
"Kalau
ada angka konkret, pembaca merasa lebih dekat. Dasar-dasar jurnalistik."
"Hmm…
begitu ya."
Melihat
Tiara akhirnya menerima, Koikawa kembali menyiapkan pena.
"Lanjut
ya. Sekarang punya pacar? Kalau ada, kapan terakhir bertemu?"
"…Tidak
ada. Ini juga benar-benar perlu?"
"Cerita
cinta itu diminati cewek. Kamu ketua OSIS, kan? Penting supaya siswi lain bisa
merasa relate."
"B-begitu
ya…"
Mengabaikan
tatapan curiga Tiara, Koikawa memutar pena di jarinya.
"Oh
iya, pita yang dilepas waktu pemotretan tadi, boleh dipakai lagi."
"…Memangnya
pita itu perlu dilepas?"
Koikawa
hanya tersenyum tanpa menjawab, lalu melanjutkan.
"Seragam
itu SMA Tsuwabuki, kan? Boleh lihat buku siswanya?"
"Ini
wawancara apa sih sebenarnya?!"
Koikawa
mengangkat bahu, seolah lelah.
"Kan
harus menulis artikel yang diinginkan pembaca. Basori-san itu kategori seksi,
jadi harus memenuhi ekspektasi."
"Tidak
ada ekspektasi seperti itu?!"
Teriakan
Basori Tiara menggema di ruang OSIS.
Dan
begitulah, tirai Pemilihan Umum Tsuwabuki pun mulai terbuka—
Pemilihan
Umum Tsuwabuki – Kandidat No.2: Yanami Anna
"Eh,
aku?"
Begitu
berkata, Yanami Anna menelan ogura sandwich yang sedang dimakannya.
"Iya,
iya. Yanami-san itu cukup populer, lho. Kamu kandidat kuat."
Di
ruang klub sastra, Koikawa Tsukushi membuka buku catatannya sambil menyilangkan
kaki.
"Aku
ingin menulis artikel tentangmu, jadi mau minta wawancara—"
"Lihat,
Nukumizu-kun. Kalau aku serius, ya segini ini sih."
Siswa
laki-laki yang disapa Yanami mengangkat wajahnya dari buku yang sedang ia baca.
"…Hah?
Ngomongin apa sih?"
Yang
menjawab dengan nada benar-benar tidak tertarik adalah Nukumizu Kazuhiko, si
"musuh para perempuan".
Kenapa
cowok yang kelihatannya polos dan tidak berbahaya ini bisa punya reputasi
seperti itu…Sambil menatap dengan penuh minat, Koikawa melihat Yanami
menepuk-nepuk Nukumizu.
"Aku
katanya jadi nomor satu di voting popularitas!"
"Belum
ada voting, sih."
Koikawa
meluruskan, tapi dua orang itu tetap ribut sendiri.
"Ehm…
boleh nggak aku mulai wawancaranya?"
"Ah,
maaf. Terus, tadi apa ya? Kalau soal roti enak, aku punya rankingnya,
lho."
"Yang
itu sih nggak perlu."
Begitu
ya, jadi ini Yanami Anna.
Dengan
penampilan dan kepribadiannya yang ceria, ia sempat jadi favorit para siswa
laki-laki—sampai akhirnya disalip begitu saja oleh murid pindahan misterius.
Koikawa
Tsukushi mengangguk-angguk mendengarkan ocehan Yanami, lalu bergumam pelan.
"…Aku
ngerti sekarang."
◇
Pemilihan
Umum Tsuwabuki – Kandidat No.3: Komari Chika
Akhirnya
selesai juga wawancara Yanami.
Pandangan
Koikawa beralih ke makhluk kecil yang sedang menatap layar ponsel di sudut
ruangan.
"Baiklah,
berikutnya Komari-san, ya."
"Uwa?!"
Komari
mencengkeram ponselnya sambil mengeluarkan suara aneh, sementara Koikawa
mendekat.
"Ini
pertama kalinya kita bertemu, ya, Komari-san."
"N-nm,
a-aku—"
"Hm?
Kenapa?"
Komari
mencoba mengetik di ponselnya, tapi jarinya gemetar dan tak kunjung berhasil.
Saat itu, Nukumizu menyela di antara mereka.
"Ah,
Komari bilang, ‘Kenapa aku diwawancarai?’"
Koikawa
sempat terdiam, lalu kembali tersenyum sambil membuka buku catatan.
"Kamu
dapat beberapa suara di voting pendahuluan. Mau ceritakan semangatmu menghadapi
Pemilihan Umum Tsuwabuki?"
"S-s-s,
i-itu, e-eh…"
"Dia
bilang, ‘Aku nggak ngerti kenapa dipilih.’"
Mendengar
terjemahan Nukumizu, Komari mengangguk cepat.
"Oh,
begitu. Ngomong-ngomong, entah kenapa suara untuk Komari-san selalu disertai
pesan yang… lengket—eh, maksudku penuh semangat. Ada yang terlintas di
pikiranmu?"
"Siapa
pengirimnya?"
Entah
kenapa, Nukumizu langsung condong ke depan.
"Eh?
Itu anonim, jadi nggak tahu sih…"
"Kalau
dicek dari asal aksesnya bisa ketahuan. Aku kenal orang yang jago soal
begitu."
Komari
menendang Nukumizu dengan ringan.
"Nu—Nukumizu,
kenapa kamu ikut campur begitu?"
"Ya
soalnya Komari itu tipe yang digemari kalangan tertentu. Kamu harusnya lebih
sadar diri."
"M-mati
aja!"
"Makanya
jangan nendang!"
Melihat
mereka berdua bertengkar, Koikawa mengangguk besar dalam hati.
…Komari
Chika memang kelihatannya punya pasar tersendiri.
Merasakan
firasat bisa dimonetisasi, hati Koikawa pun bergetar.
◇
Pemilihan
Umum Tsuwabuki – Kandidat No. 4: Yakishio Lemon
"Eh,
aku?"
Di
sela latihan klub, Yakishio yang sedang minum di pinggir lapangan membelalakkan
matanya.
"Iya.
Yakishio-san termasuk peringkat atas di voting pendahuluan. Boleh aku menulis
artikel pengenalan tentangmu?"
Menghadapi
Koikawa yang berbicara penuh semangat, Yakishio melambaikan tangan sambil
tersenyum kecut.
"Hmm,
aku nggak terlalu suka yang begitu. Pertandingan sudah dekat, jadi nggak mau
terganggu."
"Aku
nggak bakal mengganggu. Kalau begitu, boleh ambil beberapa foto—"
Saat
Koikawa mengangkat kamera, seorang siswi berdiri menghalangi.
"Kalau
mau meliput klub atletik, bisa lewat aku dulu?"
Yang
muncul melindungi Yakishio adalah ketua klub atletik putri, Kurata Ritsuko.
Koikawa
menurunkan kamera sambil tersenyum canggung.
"Maaf
mengganggu latihan. Sebenarnya ini proyek bernama Pemilihan Umum Tsuwabuki, dan
aku meliput Yakishio-san secara pribadi."
"…Pemilihan
umum?"
Setelah
mendengar penjelasan singkat, Kurata mengangguk-angguk kagum.
"Oh
begitu. Jadi itu alasannya. Oh…"
Ia
mulai memainkan poninya dengan gelisah.
"Kalau
foto, di sini nggak apa-apa?"
"E-eh,
ketua klub sebenarnya tidak masuk nominasi…"
Mendengar
kata-kata Koikawa yang ragu-ragu, Kurata langsung berhenti bergerak.
"Eh…
o-oh, begitu ya."
"Kami
juga menerima pencalonan diri sendiri sih… bagaimana?"
Wajah
Kurata memerah, ia melambaikan tangan kuat-kuat.
"N-nggak
tertarik sama begituan! Aku balik latihan dulu!"
"Aku
juga balik latihan! Maaf ya, Koikawa-san!"
"Eh,
tunggu—"
Dua
siswi atletik itu segera menjauh.
Tertinggal
sendirian, Koikawa menghela napas lalu kembali mengangkat kamera.
"…Ya
sudahlah, yang penting dapat foto."
◇
Pemilihan
Umum Tsuwabuki – Kandidat No. 5: Asagumo Chihaya
…Dapat
foto yang bagus.
Sambil
melihat layar kamera dan berjalan kembali ke gedung sekolah, sesuatu berkilau
di sudut pandang Koikawa.
Yang
mengintip dari balik bayangan gedung adalah—Asagumo Chihaya.
Saat
Koikawa terdiam, Asagumo berlari kecil mendekat.
"Sedang
meliput Lemon-san?"
"A-ah,
iya! Wawancara!"
Koikawa
refleks meluruskan punggungnya, membuat Asagumo terkikik.
"Kita
kan teman. Santai saja. —Nih."
Asagumo
mengulurkan kedua tangannya.
"Eh?"
"Boleh
lihat kameranya?"
"Silakan!"
Setelah
memeriksa foto-foto yang diambil, Asagumo mengembalikan kamera sambil
tersenyum.
"Foto-fotonya
bagus. Mau dimuat di koran sekolah sebagai artikel klub atletik?"
"E-eh,
sebenarnya kami sedang merencanakan Pemilihan Umum Tsuwabuki…"
Setelah
mendengar penjelasan, dahi Asagumo tampak berkilau.
"Begitu.
Tolong jangan sampai mengganggu Lemon-san, ya. Ini masa yang sangat penting
baginya."
"Iya,
aku akan hati-hati. Sebenarnya…."
Koikawa
ragu-ragu mengangkat kamera.
"Bolehkah
aku juga menulis artikel tentang Asagumo-san?"
"…Aku?"
Asagumo
berkedip, terlihat terkejut.
"Asagumo-san
juga cukup populer, lho. Tentu artikelnya akan diperlihatkan dulu sebelum
terbit."
"Begitu
ya…"
"Kalau
begitu, satu foto ya."
Saat
kamera diarahkan padanya, mata Asagumo bergerak gelisah.
"Ada
apa?"
"Tidak…
rasanya aneh berada di sisi yang difoto."
Reaksi
yang tak terduga itu membuat Koikawa terkejut.
"Asagumo-san
kan imut, pasti nggak masalah. Oke, aku ambil fotonya!"
Klik,
klik, klik. Suara rana terdengar.
"…Ehm,
masih lanjut?"
"Bagus
banget. Kalau begini bisa dijual mahal—"
"Tolong
hentikan."
"Ah,
i-iya…"
Menghadapi
senyum Asagumo, Koikawa hanya bisa mengangguk dengan ekspresi kaku.
Pemilihan
Umum Tsuwabuki – Kandidat No. 6: Hokobaru Hibari
Di
ruang audio-visual SMA Tsuwabuki, Hokobaru mengibaskan rambut panjangnya.
"Aku
sudah paham ceritanya. Tapi, bagaimana bisa siswi kelas tiga sepertiku ikut
pemilihan?"
Melihat
wajah Hokobaru yang tampak serius, Koikawa tersenyum lelah.
"Guru
dan alumni senior juga masuk sebagai kandidat, jadi mohon jangan
dipikirkan."
"Begitu
ya. Ngomong-ngomong, Koikawa-kun, wajahmu terlihat agak pucat."
"Barusan
sempat diancam… eh, bukan, ada macam-macam, jadi perutku agak bermasalah."
"Oh,
itu tidak baik. Kalau sakit perut—kubis itu manjur."
"Eh?"
Koikawa
mengira itu bercanda, tapi Hokobaru terlihat sangat serius.
"Kami
menanam kubis sendiri di rumah. Akan kukirimkan. Kamu perlu berapa?"
"E-eh,
aku tinggal sendiri, jadi satu saja…"
"Baik,
tunggu sebentar."
Hokobaru
mengeluarkan ponsel lalu menelepon seseorang.
"Ayah,
aku mau minta tolong kirimkan kubis ke junior di sekolah. Ya, satu kotak saja
cukup."
"Eh?
Bukan satu kotak, tapi satu—"
"Makasih,
ya. Kutunggu."
Setelah
menutup telepon, Hokobaru tersenyum segar.
"Katanya
akan diantar malam ini. Kalau habis, bilang saja kapan pun."
"A-ah,
iya… kalau begitu, mohon wawancaranya."
"Oh
ya, kubis itu kaya vitamin U yang bagus untuk melindungi lambung. Enzim
diastase juga membantu pencernaan—"
"B-bukan
itu, maksudku ingin bertanya tentang senior."
"Ceritaku
sendiri mungkin tidak terlalu menarik, tapi… silakan tanya apa saja."
"A-ah,
baik…"
…Orang
ini juga cukup unik.
Sambil
merasakan perutnya makin tidak enak, Koikawa membuka buku catatannya.
◇
Pemilihan
Umum Tsuwabuki – Kandidat No. 7: Shikiya Yumeko
"—Begitu
ya. Jadi itu yang membuatmy tertarik pada Tsuwabuki."
Hokobaru
mengangguk sambil menyibakkan rambutnya.
"Sepertinya
aku kebanyakan bicara. Wawancaranya sudah cukup?"
"Ya,
terima kasih banyak."
Koikawa
menutup buku catatan dan membungkuk di atas kursi.
"Artikel
mantan ketua itu banyak peminatnya, jadi—hya?!"
Tak
heran ia berteriak.
Ada
jari dingin yang mengusap tengkuknya.
"Kamu…
siapa…?"
Dari
belakang, wajah yang mendekat perlahan adalah mantan sekretaris OSIS, Shikiya
Yumeko.
Saat
Koikawa hendak berdiri, Shikiya dengan licin melingkarkan kedua lengannya ke
leher Koikawa dari belakang.
"E-eh,
aku Koikawa dari klub koran! Hari ini aku meliput Hokobaru-senpai—"
"Klub
koran…?"
Shikiya
mengencangkan pelukannya.
"Klub
pengamat burung… anak… nakal…"
"Aku
tidak melakukan hal buruk sekarang?! Lihat, aku datang sebagai klub koran hari
ini!"
Koikawa
berhasil melepaskan diri dan mengambil jarak. Meski hanya sebentar, tubuhnya
terasa dingin sampai ke tulang.
"E-eh,
sebenarnya Shikiya-senpai juga kandidat, jadi aku ingin mewawancarai—"
Saat
ia mengatakannya dengan hati-hati, Shikiya menatap paha Koikawa dengan mata
putihnya.
"Eh,
ada apa?"
Koikawa
refleks menahan roknya, sementara Shikiya menggelengkan kepala perlahan.
"Rok…
pendek…"
"Ah,
kupikir yang pendek lebih imut. Lagipula Shikiya-senpai juga pendek, kan?"
"Mm…
karena imut…"
Nada
bicara seperti anak kecil itu membuat Koikawa akhirnya sedikit lega.
"Shikiya-senpai
memang stylish. Bolehkah aku bertanya soal make-up hari ini?"
"Boleh…
aku dandanin…"
"B-bukan
itu, maksudku bicara—hyaa?!"
Ia
benar-benar lengah. Entah sejak kapan Shikiya mendekat dan, meski gerakannya
lambat, mencengkeram bahu Koikawa dengan kuat.
"Baiklah,
aku pulang dulu. Shikiya, bisa tolong kunci ruangan?"
"Eh?!
Hokobaru-senpai, pulang sekarang?! T-tunggu, aku juga—"
Ucapan
Koikawa terhenti ketika mulutnya ditutup telapak tangan Shikiya.
"Serahkan…
padaku… takkan kubiarkan… siapa pun… masuk…"
"Baik,
kuserahkan padamu."
Dengan
satu kibasan rambut, Hokobaru keluar dari ruangan.
"Mmm!
Mmm—!"
Saat
Koikawa meronta, lengan Shikiya melilit tubuhnya.
"Wawancara…
kita mulai… ya?"
◇
Pemilihan
Umum Tsuwabuki – Kandidat No. 8: Amanatsu Konami
Di
UKS, Amanatsu Konami yang duduk di kursi bundar menatap Koikawa dengan wajah
curiga.
"Aku
yang diwawancarai?"
"Iya.
Kami akan mengadakan Pemilihan Umum Tsuwabuki, dan di voting pendahuluan, ada
suara untuk Sensei."
"Untuk
aku…?"
"Iya,
Konami. Tinggal sebentar, diam ya."
Sambil
berkata begitu, Konuki membersihkan lutut Amanatsu dengan kapas beralkohol.
Amanatsu baru saja terjatuh dan lututnya tergores.
Setelah
memasang kasa dan plester, perawatan selesai. Amanatsu memutar kursinya
menghadap Koikawa.
"Baik!
Tanya apa saja!"
"Sensei
lulusan SMA Tsuwabuki, ya? Aku ingin dengar cerita waktu dulu."
"Oh,
cerita lama? Oh iya, sejak angkatan guru, seragamnya jadi seperti sekarang.
Awalnya unik, jadi di jalan juga mencolok."
"Bagus
tuh. Cerita begitu terusin dong. Ada foto-foto lama nggak?"
"Mungkin
ada di rumah. Nanti kubawakan beberapa."
Saat
berbicara dengan semangat, pandangan Amanatsu tiba-tiba tertuju ke leher
Koikawa.
"…Hm?
Lehermu digigit serangga, ya?"
"Eh,
ada bekasnya?"
Amanatsu
memanggil Konuki.
"Konuki-chan,
coba lihat lehernya anak ini."
"Ada
apa?"
◇
Pemilihan
Umum Tsuwabuki – Kandidat No. 9: Konuki Sayo
Konuki
menghentikan beres-beres alat dan menatap leher Koikawa dengan saksama.
"Tuh,
kan. Ada bekas aneh."
"…Itu
bekas ciuman."
""?!""
Terkejut
hingga tak bisa berkata-kata, bahu Koikawa ditepuk lembut oleh Konuki.
"Aduh,
di sekolah tapi aktif sekali ya. Sensei jadi teringat masa lalu."
"B-bukan
begitu! Ini tadi karena keadaan memaksa, atau lebih tepatnya dipaksa—ini
kelihatan jelas ya?!"
"Nggak
apa. Sensei dukung kok. Mau dengar cerita masa laluku juga?"
"Memang
aku ingin mewawancarai Sensei juga, tapi pokoknya ini bukan seperti itu, ya?
Lawannya perempuan, dan bukan hal yang—"
"Oh
begitu. Sensei rasa itu tidak masalah."
…Tidak,
salah. Salah total. Apa pun yang dikatakan hanya akan menambah salah paham.
Saat Koikawa kehabisan kata-kata, Amanatsu menyela.
"Oi,
Konuki-chan. Jangan ngomporin begitu."
"Berbagi
cinta itu hal yang indah. Kalau di UKS tidak apa-apa, silakan dipakai kapan
saja."
"…Ah,
iya. Kalau darurat, aku titip ya."
Menyerah
pada segalanya, Koikawa hanya bisa mengangguk dengan senyum lelah.
Pemilihan
Umum Tsuwabuki – Kandidat No.10: Nukumizu Kaju
Ruang
OSIS SMP Kota Momozono.
Wakil
ketua OSIS, Nukumizu Kaju, memiringkan kepalanya dengan imut sambil memegang
kartu nama yang baru saja diterimanya.
"Pemilihan
Umum Tsuwabuki… ya?"
"Iya.
Kaju-chan masuk peringkat atas di pemungutan suara pendahuluan. Jadi kami ingin
membuat artikel tentangmu."
Kepada
Koikawa yang sedang mengarahkan kamera, Kaju melirik dengan sedikit
kebingungan.
"Padahal
aku bukan murid Tsuwabuki, apa tidak apa-apa?"
"Kakakmu
kan murid Tsuwabuki. Kalau dibilang masih ada hubungannya, ya tidak sepenuhnya
salah juga."
Kakak.
Begitu mendengar kata itu, mata Kaju langsung berbinar-binar.
"Berarti
Onii-sama juga ikut terdaftar, ya! Apakah Kaju juga punya hak suara?"
"Eeh,
di pemungutan awal sih belum masuk, tapi kami juga menerima nominasi dari orang
lain."
"Kalau
begitu aku mencalonkan Onii-sama! Dan aku juga akan memilihnya!"
Terdesak
oleh semangat Kaju, Koikawa mengangguk-angguk.
"Ba-baiklah.
Akan kuatur nanti. Kalau begitu, boleh langsung mulai wawancaranya?"
"Ya,
saya mengerti!"
Kaju
duduk di kursi dengan bunyi petan.
"Makanan
favorit Onii-sama itu hanpen putih! Terus Onii-sama bilang kopi buatan Kaju
yang paling enak, dan kalau sudah tidur, dia tidak bangun sampai pagi—"
Kaju
berbicara tanpa henti, hingga Koikawa menenangkannya dengan tangan.
"Eh,
kalau bisa aku ingin dengar cerita tentang Kaju-chan sendiri…"
"Tapi
cerita Kaju pasti akan jadi cerita tentang Onii-sama."
"…Kenapa?"
"Memang
begitu. Lagi pula, aku sudah hafal siklus tidur Onii-sama, jadi meskipun ada
seseorang menyusup ke tempat tidurnya—"
"Oh
begitu ya. Aku ambil fotonya dulu, ya."
Yah,
ini juga tidak berpengaruh pada penjualan foto anak ini sih… Sambil berpikir
begitu, Koikawa mengintip ke dalam bidik kamera.
◇
Pemilihan
Umum Tsuwabuki – Kandidat No.11: Gondo Asami
"Nuku-chan,
daftar permintaan pembelian perlengkapan tolong serahkan ke guru, ya—"
Gondo
Asami membuka pintu ruang OSIS, tapi langsung berhenti saat melihat ada tamu.
"Oh,
ada tamu ya. Aku balik lagi nanti deh."
"Tunggu,
kamu Gondo-san, kan?"
Dipanggil
tiba-tiba oleh Koikawa, Gon-chan menatapnya dengan heran.
"Iya,
benar… Anda dari Tsuwabuki?"
"Iya.
Aku Koikawa dari klub koran. Kamu juga terdaftar di Pemilihan Umum Tsuwabuki,
jadi aku ingin wawancara sedikit."
"Pemilihan…?"
Saat
Gon-chan melirik ke arah Kaju, Kaju langsung mengangguk besar dengan wajah
puas.
"Berarti
aku dan Gon-chan dua suara untuk Onii-sama!"
"Ngomongin
apa sih…?"
Entah
kenapa, tapi kalau sudah melibatkan Kakak, Kaju memang tidak bisa diajak
logika.
"Ehm,
Koikawa-san. Pemilihan umum itu maksudnya apa?"
Saat
Gon-chan melemparkan pertanyaan, Koikawa mengangguk-angguk.
"Iya,
dua suara ya. Kalau begitu, boleh aku ambil foto kalian berdua? Kakaknya juga
akan melihat, jadi tolong senyum terbaiknya."
"Baik,
serahkan pada kami! Ayo Gon-chan, foto bareng!"
"Eeh…"
Kalau
sudah begini, tidak bisa dihentikan lagi.
Gon-chan
yang sudah sangat paham situasi ini pun menyerah, lalu berdiri di samping Kaju
dengan senyum di wajahnya.
◇
Pemilihan
Umum Tsuwabuki – Kandidat No.12: Tsukinoki Koto
Sebuah
gudang sake yang terletak tidak jauh dari SMA Tsuwabuki. Di ruang tamu kantor,
Koto menyuguhkan teh kepada Koikawa yang duduk di sana.
"Padahal
permintaannya mendadak, terima kasih banyak."
"Kebetulan
aku sedang pulang ke Toyohashi. Tapi kenapa aku yang sudah lulus
diwawancarai?"
"Masalahnya—"
Setelah
mendengar penjelasan singkat, Koto mengangguk kagum sambil memegang cangkir
teh.
"Menarik
juga yang kalian lakukan. Kalau ada yang bisa aku ceritakan sebagai alumni,
silakan tanya apa saja."
Mendengarnya,
Koikawa merendahkan suaranya.
"Kalau
cerita waktu jadi pengurus OSIS dulu… tidak apa-apa?"
"…Kalau
kamu tanya itu, berarti kamu sudah tahu sedikit, ya."
Koto
mengangkat bahu, seolah pasrah.
"Sudahlah,
tidak ada gunanya disembunyikan sekarang. Terserah kamu."
Koikawa
mengangguk dan membuka buku catatannya—
…Sekitar
30 menit kemudian.
Koikawa
menutup buku catatan yang penuh dengan berbagai cerita, entah benar atau tidak,
yang keluar dari mulut Koto.
"Ngomong-ngomong,
liburan musim panas di universitas cepat sekali ya."
"Hah?
Liburan musim panas masih lama, kok."
Kalau
begitu, kenapa dia ada di Toyohashi hari kerja seperti ini?
"Jadi
senpai pulang-pergi dari sini ke kampus?"
Sekilas
ia melirik ke arah orang-orang yang bekerja di kantor, lalu berbisik pelan.
"…………Ya."
Sepertinya
lebih baik tidak bertanya lebih jauh. Tsukinoki Koto memang persis seperti yang
diceritakan orang-orang.
Dengan
rasa akrab yang aneh, Koikawa menyesap teh yang sudah dingin.
◇
Pemilihan
Umum Tsuwabuki – Kandidat No.13: Shiratama Riko
Kembali
lagi ke ruang OSIS SMA Tsuwabuki.
Shiratama
Riko menampilkan senyum sempurna, lalu duduk di hadapan Koikawa tanpa suara.
"Merupakan
suatu kehormatan bisa dinominasikan dalam Pemilihan Umum Tsuwabuki."
"Shiratama-san
kan populer banget di kalangan cowok. Pasti laris, ya?"
Pertanyaan
langsung itu dibalas Shiratama dengan senyum profesional.
"Tidak
juga, kok. Mungkin para cowok tidak menganggapku sebagai perempuan."
"Ah,
masa sih. Cewek juga suka yang imut, kan? Kamu sering dipuji lucu sama teman
cewekmu juga, kan?"
"Hmm…
aku hampir tidak punya teman cewek. Lebih gampang ngobrol sama cowok,
sih."
Shiratama
menjulurkan lidahnya sedikit.
"Mungkin
aslinya aku ini cowok, ya."
"Oh…
begitu…"
—Perempuan
ini licik. Terlalu licik.
Tapi
Koikawa tidak bisa terus-terusan terseret oleh ‘teater Shiratama’. Dengan
senyum santai, Koikawa melontarkan pertanyaan lagi.
"Kalau
tipe yang kamu suka, seperti apa?"
"Tidak
ada tipe khusus, sih. Orang yang aku sukai, itulah tipenya."
"Ah…
bisa jadi."
…Mungkin
mustahil mengupas topeng perempuan ini.
Saat
hampir menyerah, Shiratama menambahkan dengan suara pelan:
"—Tapi
aku memang mengagumi orang yang lebih tua dan bisa diandalkan."
"Oh
begitu. Iya ya, orang yang bisa diandalkan itu bagus."
—Akhirnya
terlihat sekilas wajah asli Shiratama Riko.
Saat
Koikawa menahan rasa antusias dan mencari pertanyaan berikutnya, Shiratama
kembali bicara.
"Orang
seperti kakekku itu yang paling ideal. Aku ini cucu kesayangan kakek."
"Oh…
yang itu, ya…"
Semangat
Koikawa langsung turun. Shiratama Riko pun berdiri.
"Ada
teh herbal yang enak, mau coba? Akhir-akhir ini aku lagi suka."
"Kalau
begitu, aku terima."
Koikawa
menutup buku catatannya, tanda menyerah.
Tetap
saja, Shiratama Riko adalah—perempuan yang paling dibenci oleh para siswi
Tsuwabuki, peringkat No.1 yang tak tergoyahkan.
◇
Pemilihan
Umum Tsuwabuki – Kandidat No.14: Himemiya Karen
Di
ruang kelas kosong sepulang sekolah, Koikawa Tsukushi menggosok-gosok matanya.
"Ada
apa, Koikawa-san?"
"Entah
kenapa, penglihatanku terasa silau…"
"Itu
berbahaya. Mau ke UKS bersama?"
"Tidak
apa-apa, mungkin mataku saja yang lelah. Kita langsung wawancara saja ya."
Kandidat
terakhir adalah Himemiya Karen.
Gadis
tercantik nomor satu di Tsuwabuki, berkepribadian baik, murid teladan,
bilingual—seorang selebritas yang diberkahi segalanya oleh langit.
Dibandingkan
orang-orang aneh yang sudah diwawancarai sebelumnya, dia benar-benar seperti
malaikat. Merasa lega, Koikawa membuka buku catatannya yang sudah kusut.
"Kamu
pindah sekolah Mei tahun lalu, lalu ada rumor akan pindah lagi bulan Juli,
kan?"
"Iya.
Ayahku ditugaskan ke Inggris, tapi aku memaksa supaya aku saja yang tetap
tinggal."
"Oh,
begitu ya."
Dan
alasan ‘memaksa’ itu pasti karena pacar tampannya.
Sekarang
tinggal bagaimana cara menggali cerita tentang pacarnya—
"Karen,
ternyata kamu di sini."
Seorang
siswa laki-laki bertubuh tinggi masuk ke kelas. Pacar Himemiya, Hakamada
Sousuke.
Melihat
mereka berdua, ia mengangkat satu tangan di depan wajahnya seolah minta maaf.
"Maaf,
lagi sibuk ya."
"Maaf
ya, Sousuke. Bisa tunggu sebentar?"
Saat
Hakamada hendak keluar, Koikawa buru-buru memanggilnya.
"Maaf
sudah mengambil waktu pacarmu. Kalau tidak keberatan, kamu juga boleh
ikut."
"Katanya
begitu. Sousuke, silakan duduk di sini."
Diajak
langsung oleh Himemiya, Hakamada duduk di sebelahnya dengan wajah canggung.
"Ini
wawancara, kan? Aku tidak mengganggu?"
"Tidak
sama sekali. Malah kehormatan bisa mewawancarai pasangan terkenal. Boleh aku
pasang foto kalian di koran sekolah?"
Saat
Koikawa mengangkat kamera, Himemiya menutup wajahnya dengan malu.
"Foto
agak memalukan… kan masuk koran sekolah."
"Kamu
bakal kelihatan luar biasa. Sayang kalau kecantikannya tidak
dimanfaatkan."
"Ah,
meski kamu bilang begitu, tidak dapat apa-apa kok."
Sambil
tersipu, Himemiya tersenyum ke arah Hakamada.
"Aku
ingin lihat Karen tampil di koran sekolah."
"Hm,
jadi kamu tidak masalah kalau aku dilihat semua orang?"
Hakamada
menusuk pipi Himemiya yang sengaja tersenyum.
"Mungkin
sedikit cemburu. Aku ingin Karen tetap jadi milikku saja."
"Fufu,
Sousuke itu lho."
Mereka
berdua mulai berpegangan tangan, bermesraan.
"Ehm…
kalian berdua?"
"Ah,
maaf! Wawancaranya sudah sampai mana tadi?"
"Baru
sampai soal kepindahan sekolah tahun lalu. Kalau boleh, bisa ceritakan awal
kalian bertemu?"
"Pertemuan
pertama itu—Karen turun dari langit."
Menahan
tawa, Sousuke menggenggam tangan Karen.
"Itu
karena kamu berdiri di tempat yang aneh, kan?"
"Aku
silau oleh cahaya malaikat, sampai tidak bisa bergerak."
"Dasar
Sousuke."
Mesra
lagi. Sangat mesra.
"Ehm…
halo…?"
Di
depan Koikawa pun mereka tidak berhenti bermesraan.
…Orang-orang
yang berhubungan dengan SMA Tsuwabuki ini benar-benar terlalu unik.
Sambil
mengecek foto-foto yang sudah diambil, sepertinya lebih baik menunggu sampai
mereka puas.
Tiba-tiba
ia merasakan angin. Saat menoleh, angin dari jendela terbuka mengayunkan tirai.
Seekor
burung kecil bertengger di kusen jendela.
"Oh,
itu pelatuk kecil…"
Koikawa
Tsukushi dengan cepat membidik bayangan burung itu dan menekan tombol rana.



Post a Comment