Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Pesta Piyama yang Penuh Kesalahan
Di rumah keluarga Nukumizu, tiba-tiba muncul sebuah masalah. Kedua orang tua kami harus pergi menghadiri pernikahan kerabat, sehingga aku dan Kaju harus menghabiskan satu malam berdua saja di rumah.
Sepertinya
mereka sangat khawatir jika anak-anak ditinggal sendirian di rumah. Orang tuaku
lalu menyuruh kami mengadakan acara menginap dengan mengundang teman.
Meskipun
menurutku menambah jumlah anak saja tidak terlalu berarti dari sisi keamanan,
entah kenapa orang tuaku bersikeras agar pesta menginap itu harus melibatkan
pihak ketiga.
Kaju
sangat menolak ide pesta menginap itu, tetapi ketika orang tua kami bahkan
sampai mengatakan akan membuat Kaju bolos sekolah dan ikut bersama mereka,
akhirnya dia menyerah.
Begitulah,
pesta piyama gadis-gadis klub sastra yang diprakarsai Kaju pun diputuskan untuk
diadakan.
Ngomong-ngomong,
aku sempat mengusulkan bagaimana kalau mengundang Gon-chan alias Gondo Asami,
tapi katanya dia menolak dengan alasan "beban yang harus ditanggung
terlalu besar"...
◇
──Pesta
piyama.
Ini
adalah acara wajib dalam light novel dan anime.
Ngomong-ngomong,
dalam "peringkat hal-hal yang kulihat di light novel tapi tidak yakin ada
di dunia nyata" versiku, acara ini dengan bangga menempati peringkat
ketiga.
Pada
hari pesta, aku melirik Kaju yang sedang menyiapkan makan malam di dapur, lalu
mengecek jam dinding.
Waktu
sudah lewat pukul 17.00, dan tersisa kurang dari satu jam sebelum waktu
berkumpul.
Aku
berpura-pura santai dan keluar dari ruang tamu menuju lorong.
Rencananya
adalah keluar rumah sebelum para gadis klub sastra datang, lalu kembali setelah
mereka semua tertidur.
...Pesta
piyama adalah jamuan yang hanya diperbolehkan untuk gadis cantik dua dimensi.
Terlepas dari ketebalan tubuh para gadis klub sastra itu, setidaknya aku
sebagai laki-laki jelas tidak seharusnya ikut.
Lagi
pula, pasti bakal diajak ribut dan jadi merepotkan.
Dengan
keyakinan kuat, aku membuka pintu masuk rumah dengan pelan, dan di sana kulihat
makhluk kecil yang berdiri membeku dengan tangan terulur ke arah bel pintu.
"Ueh?!
Eh, anu..."
"Komari,
sudah datang?"
Rencanaku
langsung kacau sejak awal. Untuk sementara aku masukkan Komari ke dalam rumah,
lalu saat dia lengah aku menghilang saja──
"Loh,
Nukkun dan Komari-chan. Kenapa tidak masuk?"
Menyusul
kemudian Yakishio yang mengenakan celana pendek dan kaos, sambil menyeka
keringat di dahinya.
Rencana
pelarianku langsung runtuh...
"Eh,
aku keluar karena merasa ada orang datang. Kalian berdua, silakan masuk."
Aku
berbohong dengan lancar lalu mengantar mereka ke ruang tamu. Begitu melihat
tamu datang, Kaju menghentikan masakannya dan berlari mendekat.
"Selamat
datang! Mohon bantuannya hari ini ya!"
Kaju
dengan gerakan halus memberikan teh barley kepada Yakishio, lalu seketika
merapikan rambut Komari.
Kalau
sudah begini, tidak ada pilihan. Aku harus membuat mereka cepat melupakan
keberadaanku, lalu kabur saat ada kesempatan.
Saat
aku duduk di sofa sambil menahan kehadiranku, Komari duduk di sampingku.
"Ada
apa, Komari?"
Komari
tidak berkata apa-apa dan hanya mengangkat dagunya.
Saat
aku mengikuti arah pandangannya, Yakishio yang menerima handuk dari Kaju
melambaikan tangan.
"Nukkun,
aku berkeringat, jadi aku mandi dulu ya."
"A-ah..."
Yakishio
keluar dari ruang tamu sambil bersenandung.
Saat
aku berusaha merobek sayap imajinasiku yang mulai mengembang, Komari diam-diam
menendang kakiku.
"K-kenapa
Yakishio selalu mandi di rumahmu?"
"Kamu
dulu juga pernah mandi di rumahku, kan?"
Grek.
Komari menginjak kakiku.
"Itu...
keadaan memaksa."
Kalau
begitu, mandi karena berkeringat juga sama saja, bukan?
Yah,
aku mengerti kalau ada yang berpendapat dia seharusnya mandi di rumahnya
sendiri, atau setidaknya sedikit menahan diri.
Aku
mengerti, tapi menyadari sisa aroma sampo yang tertinggal di kamar mandi itu
adalah momen yang sangat puitis.
Sebagai
anggota klub sastra, aku hanya tidak ingin melupakan emosi sesaat itu. Hanya
itu──
"A-ada
apa, tiba-tiba wajahmu jadi menjijikkan sambil bergumam begitu?"
Waduh
gawat, ternyata keluar dari mulutku ya.
"Ngomong-ngomong,
kenapa kamu datang se awal ini, Komari?"
"Eh,
anu... aku ingin membantu masakan Kaju-chan."
Setelah
berkata begitu, Komari menggaruk pipinya dengan sedikit malu.
"Itu
bagus sekali. Kalau begitu segera bantu saja. Ayo, jangan sungkan."
"A-apa
maksudnya? Kalau aku di sini, ada masalah ya?"
Komari
menatapku dengan mata setengah menyipit.
Sepertinya
dia sadar aku mencoba mengusirnya. Aku langsung menegangkan ekspresiku.
"Tidak,
bukan begitu. Duduk berdampingan di sofa seperti ini benar-benar... anu...
semacam penyembuhan, ya."
"Ueh...
b-begitu ya."
Komari
menunduk sambil gelisah.
Eh,
reaksinya beda dari yang kubayangkan. Tadinya aku kira dia bakal melontarkan
hinaan seperti biasa, lalu aku bisa menyerahkannya pada Kaju secara halus, tapi
Komari justru tidak bergerak dari tempatnya.
Jarum
jam sudah melewati pukul 17.30. Aku harus keluar rumah sebelum Yanami dan
Shiratama-san datang...
Terpaksa
aku melirik wajah samping Komari sambil mencari topik pembicaraan yang aman.
"Ngomong-ngomong,
hari ini pesta menginap, kan? Kamu juga bakal pakai piyama?"
Rasanya
topik ini hanya aman di permukaan.
Saat
aku bersiap menerima hinaan, Komari memainkan poninya sambil berbisik pelan.
"A-aku
pakai sih. Mau lihat...?"
"Eh."
Kalau
dipikir lagi, bukan berarti aku tidak tertarik. Saat kegiatan menginap klub
sastra dia memakai pakaian olahraga, jadi nuansa pribadi dari piyama jelas
beda.
...Tapi
aku pernah lihat dia pakai piyama saat ke rumahnya, kan. Yang terasa sangat
seperti pakaian rumahan.
"Yang
motif bintang itu?"
"A-aku
beli yang baru."
Begitu
ya, versi terbaru.
Tapi
dia baru akan berganti piyama setelah makan dan mandi, saat waktunya tinggal
tidur. Bertahan di sini hanya untuk melihat piyama para anggota perempuan
terlalu berisiko...
Saat
aku menghitung untung rugi dalam pikiranku, hidungku digelitik aroma sampo.
"Kalian
berdua, kenapa tiba-tiba diam?"
Yakishio
yang sudah selesai mandi duduk di sofa, menjepit Komari di tengah.
Yakishio
mengenakan piyama lucu bernuansa kuning dan hijau, dan kaki yang terlihat dari
celana pendek musim panasnya terasa menyilaukan.
"Kamu
sudah ganti piyama ya."
"Soalnya
tinggal makan terus tidur saja, kan."
Yakishio
menyalakan televisi, dan layar menampilkan pemandangan bangunan di atas air.
"Oh
ya, tempat seperti ini memang ada ya. Komari-chan, pernah ke sana?"
"A-aku
pernah sekali, waktu liputan. M-makan yang manis."
"Enak
banget. Nanti kita pergi bareng yuk."
"I-iya."
Percakapan
tanpa arah ini entah kenapa tidak buruk, seperti pembukaan komik empat panel
yang imut. Mungkin di kehidupan selanjutnya, bereinkarnasi jadi kursi ruang
klub juga tidak buruk...
Saat
aku membayangkan rencana masa depan yang megah, tanpa sadar waktu tinggal
kurang sepuluh menit sebelum pukul 18.00.
Tidak
ada waktu lagi. Saat mereka asyik mengobrol, aku berdiri pelan lalu keluar dari
ruang tamu.
...Bagus,
aku bisa meninggalkan tempat duduk tanpa menarik perhatian siapa pun. Sekarang
tinggal keluar rumah saja.
Sambil
memastikan tidak ada yang mengikuti, aku memakai sepatu lalu membuka pintu
masuk dengan pelan agar tidak bersuara──
"Lho.
Ketua klub, datang menjemput kami ya?"
...Shiratama
Riko berdiri di sana. Ia menggenggam tanganku yang terkejut, lalu tersenyum
manis.
"B-bukan,
aku kebetulan mau keluar..."
"Kalau
begitu, ini takdir ya."
Mungkin
saja. Tangan Shiratama-san juga halus sekali. Lalu Yanami yang muncul dari
belakang menepuk tanganku.
"Baiklah,
di klub sastra dilarang menyentuh."
"Oh,
Yanami-san juga ada ya."
"Yanami-chan
ada di sini, loh."
Entah
kenapa Yanami tampak sedang kesal, lalu menyodorkan kantong kertas kepadaku.
"Nih,
aku beli imagawayaki (kue pasta kacang merah). Nukumizu-kun, tolong siapkan teh
ya."
Begitulah,
aku gagal melarikan diri.
◇
──Jamuan
makan malam berakhir dalam suasana hangat.
Masakan
Jepang buatan Kaju mendapat pujian besar dari para gadis. Bagi Yanami,
"masakan Jepang tidak bikin gemuk", jadi dia bahkan menambah nasi
sampai empat mangkuk dengan suasana hati yang sangat baik.
Kekhawatiran
terbesar, yaitu hubungan Kaju dan Shiratama-san, juga tampaknya tidak
bermasalah. Mereka terus saling memuji, jadi mungkin mereka sudah akrab di luar
sepengetahuanku. Semoga saja begitu.
Sambil
menyeruput teh setelah makan, aku mencuri dengar percakapan dua orang yang
sedang membereskan piring.
"Kaju-chan,
masakan hari ini benar-benar enak."
"Masakan
seperti ini sudah biasa bagiku, jadi tidak sampai pantas dipuji."
Menanggapi
kerendahan hati Kaju, Shiratama-san menggeleng.
"Tidak
kok. Chawanmushi-nya terasa seperti makan di restoran. Ada rahasianya?"
"Tidak
ada, hanya dibuat dengan teliti saja. Kalau menggunakan bahan mahal hanya demi
gengsi, itu tidak akan bisa dipertahankan."
Kaju
berkata begitu sambil mengelap piring.
Shiratama-san
tetap tersenyum sambil membuat busa sabun dengan spons.
"Aku
juga suka mitsuba dan ayam suwir dengan saus ume. Bagaimana bisa menghasilkan
rasa sedalam itu?"
"Ya,
rahasianya menambahkan sedikit miso putih."
"Oh
begitu, yang itu ada rahasianya ya."
Shiratama-san
terkekeh sambil mencuci mangkuk. Kaju tetap diam sambil memperdalam senyumnya.
...Ya,
mereka akrab.
"Ngomong-ngomong,
hebat sekali Kaju-chan. Dengan kemampuan seperti ini, kamu bisa menikah kapan
saja."
"Kaju
tidak punya rencana untuk menikah."
Kaju
menumpuk piring yang sudah dikeringkan. Shiratama memasukkan piring yang sudah
dibilas ke rak pengering.
"Tapi
siapa tahu kamu tiba-tiba bertemu orang yang luar biasa? Kalau begitu, Ketua
Klub juga pasti merasa tenang."
"Entahlah.
Aku tidak bisa membayangkan orang yang lebih luar biasa daripada
Onii-sama."
"Ketua
Klub memang luar biasa. Aku juga ingin menjadi istri orang seperti itu."
Glek.
Kaju menumpuk piring dengan bunyi keras.
"Semoga
saja kamu menemukan orang seperti itu. Karena Onii-sama hanya ada satu."
"Satu
saja sudah cukup, kan?"
"..."
Kaju
memasukkan piring ke lemari dengan suara berderak, lalu Shiratama-san kembali
berbicara.
"Tapi
orang yang akan menjadi istri Ketua Klub pasti berat ya. Soalnya bakal
dibandingkan dengan Kaju-chan, pasti jadi tekanan."
"Tidak
perlu khawatir. Kaju akan mengajarkan rasa khas keluarga Nukumizu dengan
baik."
"Kalau
begitu lega ya. Tapi Ketua Klub juga pasti akan cepat terbiasa dengan rasa
masakan istrinya nanti."
Shiratama-san
menyelesaikan mencuci piring terakhir dengan senyum cerah, lalu Kaju
memiringkan kepala.
"Oh,
Shiratama-san. Cara mencuci piring tadi──"
"Kaju-chan,
ada yang salah?"
"Tidak,
kalau Shiratama-san tidak masalah, ya tidak apa-apa. Aku hanya berpikir
ternyata kamu selalu seperti itu."
"Begitu
ya, kalau tidak masalah berarti bagus. Fufu."
Ufufufufu,
mereka tertawa bersama.
...Mereka
sedang asyik membicarakan diriku, tapi tetap saja, mereka pasti akrab.
Aku
menyimpan kecemasan dengan rapi di rak hati, lalu memperhatikan tiga mantan
anggota klub yang sedang minum teh di meja.
Makhluk
bernama gadis mungkin sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Seolah
pemandangan di dapur tidak terlihat, mereka masing-masing menikmati waktunya
sendiri.
Yakishio
dan Komari sedang menonton video di ponsel bersama, sementara Yanami dengan
lancar menumpuk kulit jeruk.
...Tunggu,
dia makan terlalu banyak jeruk. Bahkan lapisan putihnya juga dimakan. Saat aku
menatapnya tanpa sadar, Yanami menatapku dengan pandangan tajam.
"Silakan,
Nukumizu-kun. Kalau ada yang ingin kamu katakan."
"Eh,
bukan soal jumlahnya sih... tapi kamu juga makan lapisan putihnya? Kamu lapar
banget ya?"
Yanami
mengangkat bahu dengan ekspresi pasrah.
"Nukumizu-kun,
kamu tahu burung shoebill?"
"Burung
besar yang jarang bergerak itu, kan?"
Pertanyaan
apa ini tiba-tiba? Yanami mengangguk sambil meraih natsumikan keempat.
"Benar.
Shoebill berdiri diam di tepi air, lalu menangkap ikan yang muncul ke permukaan
untuk bernapas."
"Ikan
bernapas?"
Menanggapi
pertanyaanku yang wajar, Yanami memasang ekspresi sok tahu.
"Ada
ikan bernama lungfish yang bernapas dengan paru-paru. Shoebill akan menelannya
bulat-bulat. Jadi ini──"
Yanami
memasukkan satu potong jeruk ke mulut tanpa mengupas lapisan putihnya.
"Ini
diet yang memanfaatkan ekologi shoebill. Bisa disebut Shoebill-ette."
Tidak
masuk akal dan juga tidak enak didengar. Jadi maksudnya...
"Menelan
ikan mentah bulat-bulat? Bahkan kamu sebaiknya tetap memasaknya dulu."
"Aku
tidak menelannya bulat-bulat. Begini, shoebill yang menelan lungfish akan
menggunakan 40% kalori yang didapat untuk pencernaan."
Oh
begitu. Saat aku terkesan, Yanami memasang wajah bangga.
"Artinya,
kalau makan sesuatu yang sulit dicerna, tubuh akan membakar kalori. Jadi kalau
makan jeruk bersama lapisan putihnya, kalorinya jadi nol."
Oh
begitu ya. Sebentar lagi dia pasti bilang kalau makan kulit luarnya juga bisa
bikin kurus.
"Kalau
makan kulit luarnya, malah bisa bikin kurus."
Tepat
seperti dugaan. Entah kenapa akhir-akhir ini aku bisa memahami ucapan Yanami
tanpa perlu mendengarnya. Kalau ini cerita isekai, pasti aku bakal diusir dari
party karena punya skill terlemah.
"Benar
juga, kalau nasi dibungkus kulit jeruk, berarti nol kalori dan tidak bikin
gemuk. Ini bisa didaftarkan sebagai metode diet, kan?"
"Ah
iya, mungkin bisa."
Sambil
setengah mendengarkan teori buatan Yanami, aku mulai mengupas jeruk yang
disodorkan kepadaku dengan santai.
◇
Setelah
selesai membereskan dapur, Kaju melepas celemeknya lalu memanggil semua orang.
"Baik
semuanya, silakan tamu mandi terlebih dahulu."
...Akhirnya
datang juga. Pertempuran pembuka pesta piyama, acara mandi.
Dalam
light novel, ini biasanya jadi momen keberuntungan, tapi di dunia nyata hal
seperti itu tidak akan terjadi. Malah kalau terjadi bakal sangat canggung.
Yakishio, tolong ingat itu.
"Kalau
begitu, para senior silakan duluan."
Setelah
Shiratama-san berkata begitu, Yanami berdiri sambil meregangkan tubuh.
"Lemon-chan
sudah mandi, kan? Kalau begitu Komari-chan, kita mandi bareng yuk."
"Ueh?!
B-bareng?"
Mandi
bersama teman mungkin jadi tantangan besar bagi Komari yang kurang pandai
bersosialisasi.
...Tunggu
dulu. Aku yang hendak menghentikan Yanami menelan kata-kataku.
Kalau
dipikir seperti ilustrasi pembuka light novel, kombinasi Yanami dan Komari
terasa aneh. Kalau aku editor, aku tidak akan memilih pasangan itu.
Komari
lebih cocok sendiri, sedangkan Yanami lebih cocok dipasangkan dengan Yakishio
atau Shiratama-san.
Karena
tubuh Komari yang datar tanpa lekuk itu sudah merupakan bentuk kesempurnaan
tersendiri. Bahkan lebih cocok menonjolkan kesan seksi yang sehat dengan
pakaian seperti camisole, yang menekankan kesan rata itu.
Maksudnya,
karena ini dunia nyata, mungkin justru kombinasi Yanami dan Komari yang tidak
akan dipilih dalam karya fiksi adalah "jawaban yang benar"──
"Nukkun,
dari tadi kamu menatap langit-langit, kenapa?"
"...Tidak,
tidak apa-apa. Aku cuma membiarkan hatiku berenang di lautan imajinasi."
"Wah,
kedengarannya keren."
Tentu
saja aku tidak memandang para gadis klub sastra dengan niat aneh. Tidak begitu,
tapi fakta bahwa siswi sekolah masuk ke kamar mandi rumahku tetap membuat
perasaanku campur aduk. Tolong mengerti.
Saat
aku gelisah, Yanami memainkan rambut Komari sambil berkata.
"Ah,
tapi kalau berdua mungkin agak sempit ya."
Yanami,
jangan menambah masalah.
Saat
aku sempat berpikir mungkin lebih baik dia menambah berat badan sedikit, Kaju
menepuk tangannya.
"Kamar
mandi di rumah kami cukup luas, jadi berdua juga tidak masalah."
"Oh
begitu. Kamar mandi luas memang enak ya."
Melihat
Yanami berbicara dengan wajah gembira, Kaju membalasnya dengan senyum ramah.
"Ya,
bak mandinya cukup luas kok, jadi masih muat kalau Onii-sama dan aku masuk
bersama."
"""Eh?"""
Tiga
gadis itu mengeluarkan suara serak. Gawat, ucapan itu bisa bikin salah paham.
"Dulu!
Ini cerita lama banget!"
Huh,
nyaris saja. Krisis berhasil dihindari.
…Berhasil,
kan? Tolong jangan menatapku dengan tatapan seperti itu.
"Ehm,
aku akan masuk terakhir sendirian, jadi kalian silakan santai dulu."
Aku
menunduk ke arah ponsel, seolah kabur dari tatapan di sekeliling. Untuk
mengusir suasana aneh yang memenuhi ruang tamu, Yakishio mulai bicara.
"Bak
mandi di rumah Nukkun kan besar."
"I-iya,
baknya cukup luas, jadi berdua juga nggak masalah."
"Kalau
begitu, lain kali kita masuk bareng saja?"
"Ke-kenapa
harus bareng…?"
Yanami,
yang mendengarkan percakapan santai Yakishio dan Komari, bergumam pelan.
"…Kalian
berdua sudah pernah mandi di sini, ya?"
Keduanya
mengangguk.
Entah
kenapa, setelah melirikku tajam, Yanami membuat Komari berdiri.
"Oke,
Komari-chan, di kamar mandi kamu harus cerita rahasia, ya."
"Eeh?!
A-aku nggak punya rahasia apa pun kok!"
Aku
hanya menatap dengan tenang Komari yang diseret pergi tanpa diberi kesempatan
membela diri.
Memang
sedikit berbeda dari "event" yang kubayangkan, tapi ya begitulah
kenyataan.
Saat
aku sedang mengubah kejadian ini dengan filter light novel di kepalaku,
Shiratama tersenyum pada Kaju.
"Kalau
begitu, Kaju-chan, bagaimana kalau kita mandi bareng?"
"Tidak,
terima kasih. Onii-sama sebaiknya mandi bersama Kaju saja."
"Nggak
mau! Aku dan Kaju nggak mandi bareng!"
Aku
menegaskannya dengan suara keras agar semua orang mendengar.
Sejak
Kaju masuk SMP, mandi bersama kakak-adik di keluarga Nukumizu sudah sepenuhnya
dilarang. Aku hampir menambahkan penjelasan itu—tapi berhenti tepat sebelum
mengatakannya.
Tidak
ada alasan khusus. Hanya insting liar saja.
Dengan
suara riuh para anggota klub perempuan sebagai BGM, aku kembali mengalihkan
pandangan ke ponselku.
◇
Pet-pet-pet.
Suara
para perempuan yang baru selesai mandi menepuk-nepuk pipi mereka tanpa ekspresi
terdengar saat mereka mengelilingi meja.
Sambil
menuangkan isi botol ke telapak tangannya, Yanami mengangkat wajah.
"Nukumizu-kun,
kenapa kamu menatap terus?"
"Eh,
aku cuma penasaran… itu sedang ngapain?"
"Kami
lagi mengaplikasikan toner ke wajah. Perawatan kulit itu ribet, tahu, buat
cewek."
Yanami
kembali menepuk-nepuk pipinya. Di sampingnya, Komari juga ikut menepuk
pelan-pelan, dan Shiratama yang baru saja keluar dari kamar mandi juga menepuk
pipinya dengan gerakan lincah.
Aku
sebenarnya bertahan di ruang tamu untuk memastikan piyama mereka, tapi entah
kenapa suasananya agak beda dari yang kubayangkan….
Aku
pura-pura melihat ponsel sambil mengamati para anggota klub perempuan.
Piyama
Yanami berupa set dua potong berwarna putih lembut. Bagian dadanya diikat pita.
Desain yang sangat feminim—entah kenapa aku langsung mengalihkan pandangan.
Sebaliknya,
Komari mengenakan piyama terusan. Kesan rapi dan kesederhanaannya berpadu
dengan pas. Rasanya seperti cocok kalau dia berada di taman bunga sambil
membuat mahkota bunga.
Lalu
piyama Shiratama berupa atasan tanpa lengan mirip kamisol. Dari celah outer
yang dikenakannya, bahunya yang ramping sedikit terlihat—sangat menggemaskan.
Saat
aku mengamati mereka, perawatan kulit masuk ke fase dua. Kali ini mereka dengan
serius mengoleskan cairan putih ke kulit.
"Kalau
sudah SMA, cewek memang repot ya…"
Aku
bergumam, lalu Kaju yang sedang membagikan teh barley dingin mendekat dan
menatap wajahku.
"Kaju
juga melakukan perawatan kulit, tahu."
"Eh,
serius? Aku sama sekali nggak pernah lihat."
"Perempuan
itu akan menjaga gengsi di depan laki-laki."
Begitu
ya. Berarti aku memang tidak dianggap sebagai ‘laki-laki’ oleh mereka.
Saat
aku mengangguk paham, Kaju mengibaskan rambutnya yang baru dicuci dengan
lembut.
"Kaju
sudah mandi, jadi Onii-sama juga silakan."
"Oh,
iya. Aku akan mandi."
Baiklah,
piyama para anggota klub perempuan sudah aku cek, jadi aku sudah tak punya
urusan di sini.
Lebih
baik cepat mandi lalu balik ke kamar buat ambil reward harian game gacha—
Aku
meninggalkan ruang tamu, menyisakan para anggota klub perempuan yang masih
mengusap-usap pipi mereka.
◇
Masuk
mandi paling terakhir berarti—aku akan menggunakan air bekas yang dipakai para
anggota klub perempuan.
Tentu
saja, tidak ada maksud aneh di balik itu. Tidak ada, tapi wajar saja kalau ada
perasaan tertentu yang muncul. Aku kan sedang puber.
Dengan
persiapan mental seperti itu, aku membuka pintu kamar mandi—dan mendapati bak
mandi yang sudah dicuci bersih serta diisi ulang dengan air baru. Aku
benar-benar berterima kasih atas perhatian Kaju.
Mungkin
dia melakukan ini agar aku tidak merasa canggung dengan para gadis klub sastra.
Aku
mencuci tubuh dengan biasa saja, lalu merendamkan diri ke dalam air yang segar.
Jadi
dia mengganti airnya dan sekaligus membersihkan kamar mandi, ya… begitu….
Sambil
meresapi perhatian Kaju, aku terus menatap uap air yang melayang dengan kosong.
◇
Saat
aku selesai mandi, lampu ruang tamu sudah padam.
Mereka
pasti pindah ke kamar Kaju, yang menjadi lokasi pesta.
Ketika
aku naik tangga untuk kembali mengurung diri di kamar, terdengar suara tawa
dari kamar Kaju.
Jadi
pesta piyama benar-benar sedang berlangsung di rumahku sekarang, ya….
Hari
ini entah kenapa bikin capek secara mental, jadi sebelum terseret ke dalamnya,
lebih baik aku tidur cepat saja.
Aku
masuk ke kamarku dan langsung masuk ke bawah selimut tanpa menyalakan lampu.
……
………Eh.
Ada
Kaju di dalam tempat tidur.
Wajar
saja sih. Dia sudah capek menyiapkan makanan untuk enam orang dan persiapan
menginap. Mungkin dia mengantuk sebelum pesta dimulai dan numpang tidur
sebentar di ranjangku.
Tapi
kalau ada yang melihat ini, pasti bakal salah paham. Lebih baik aku pindahkan
dia ke kamar orang tua saja….
Aku
membuka selimut dan langsung mengangkat Kaju—
—dan
seketika itu juga, sensasi di lenganku membuat kepalaku kosong.
Ini
bukan tubuh Kaju.
Lebih
tinggi, dan otot yang lentur membungkus rangkanya.
Saat
mataku mulai terbiasa dengan gelap, bulu mata panjang yang bergetar masuk ke
dalam pandanganku.
"……Nukkun?"
"Yakishio?!"
Benar,
yang tidur di tempat tidurku adalah Yakishio. Dengan mata setengah terpejam,
dia menatapku lalu berkata,
"Hmm…
mimpi ya…."
Dia
kembali memejamkan mata dan melingkarkan kedua tangannya ke leherku.
"Tu-tunggu?!
Ini bukan mimpi! Kenapa kamu ada di ranjangku—"
Klik.
Bersamaan dengan suara kering itu, lampu kamar menyala.
Keringat
mengalir di punggungku. Aku merasakan kehadiran orang di belakang.
Dengan
takut-takut aku menoleh—dan mendapati Yanami dan empat perempuan lainnya
berdiri di sana dengan tangan melipat.
"……Nukumizu-kun,
kamu lagi ngapain?"
Yanami
bertanya dengan suara rendah yang menusuk.
"B-bukan,
itu, soalnya Yakishio ada di sini… jadi mau kupindahkan—"
"Mau
dipindahkan ke mana?!"
"M-mati
aja!"
Tolong
jangan teriak-teriak, nanti mengganggu tetangga.
Mungkin
akhirnya benar-benar terbangun oleh keributan itu, Yakishio mengedarkan
pandangan dengan bingung.
"……Eh?
Ada apa nih? Kalian kenapa?"
"Lemon-chan,
Nukumizu-kun nggak ngapa-ngapain kamu, kan?!"
Mendengar
teriakan Yanami, Yakishio justru mengencangkan pelukan di leherku.
"……Nukkun,
kamu ngapain ke aku?"
"Nggak
ngapa-ngapain, tahu?!"
Iya,
aku memang tidak melakukan apa pun. Tapi kenapa Yanami dan Komari menatapku
seperti sedang melihat penjahat?
Kaju
malah berbinar-binar sambil mengangguk-angguk, dan Shiratama—karena dia
baik—menatapku dengan senyum hangat.
……Eh,
tunggu. Mata Shiratama nggak tersenyum. Kenapa dia juga menatapku begitu?
Ke
arahku yang ketakutan, Shiratama berbicara tanpa menghapus senyum di bibirnya.
"──Ketua,
sampai kapan mau menggendong ala putri begitu?"
◇
Diselenggarakan
oleh Nukumizu Kaju.
Pesta
Piyama Keluarga Nukumizu ke-1
Mengenakan
piyama yang serasi dengan kakaknya, Kaju duduk "plop" di atas futon
lalu menunduk pada para gadis klub sastra.
"Baiklah
semuanya, terima kasih atas kerja keras hari ini. Mulai sekarang, ini adalah
waktu khusus perempuan!"
Tepuk
tangan serentak menggema sebagai pembukaan pesta.
Kamar
Kaju berukuran sekitar sepuluh tatami. Ada satu ranjang semi-double, dan hari
ini, tiga set futon digelar di lantai khusus untuk pesta.
Sambil
ikut bertepuk tangan, Kaju menatap sekeliling ruangan dengan waspada. Tak salah
lagi, para perempuan di sini adalah kandidat calon istri Onii-sama (kecuali
sekitar satu orang). Ini kesempatan bagus untuk menilai kepribadian mereka—
Pertama,
dia mengalihkan pandangan ke ranjang. Di sana duduk Yakishio dan Komari.
Mereka
akan tidur bersama di ranjang itu, tapi Komari belum mengetahuinya. Dia pasti
bertanya-tanya kenapa jumlah futon kurang satu.
Yakishio,
yang sedang menyisir rambut Komari, menunjukkan ekspresi seperti menyadari
sesuatu.
"Komari-chan,
rambutmu kelihatan lebih bagus dari sebelumnya, ya."
"Eh,
u-um, akhir-akhir ini aku merawat rambutku sedikit…."
Melihat
Komari menunduk malu, Kaju menambahkan satu poin di buku penilaian mentalnya.
Rambut
adalah nyawa perempuan. Lagi pula, Onii-sama sangat menyukai rambut panjang
Kaju.
"Komari-senpai,
mau coba hair oil yang kupakai?"
Shiratama
mengeluarkan botol semprot kecil.
"O-oil?"
"Iya,
ini membantu mengurangi kerusakan rambut."
Hmm,
hair oil memang mungkin cocok untuk rambut Komari yang mudah rusak. Tapi ikut
campur soal tekstur rambut senior itu kurang sopan.
Catatan
penilaian mental: Shiratama Riko -1 poin.
Tanpa
disadari, semua sudah mengelilingi Komari dan mulai merawat rambutnya
bersama-sama.
Kaju
sedikit menjauh dan mengamati para gadis klub sastra.
Yakishio
membiarkan Komari memangku kepalanya sambil menggodanya dari bawah. Tingkahnya
seperti anak SD, tapi sikap tanpa kepura-puraan ini menunjukkan kepribadiannya
yang jujur. +1 poin.
Tentu
saja, Komari yang memberikan bantal paha juga +1 poin.
Shiratama
yang sedang mengoleskan hair oil ke ujung rambut Komari—untuk saat ini -3 poin.
Saat
Kaju mengalihkan pandangan ke Yanami, gadis itu terlihat mengunyah sesuatu di
atas futon. Banyak yang ingin dikomentari, tapi karena tidak menumpahkan apa
pun, nilainya ±0.
Ketika
Kaju sedang menghitung hasil di papan penilaian dalam kepalanya, Yakishio
menguap lebar.
"Yakishio-san,
sudah mengantuk?"
"Iya.
Pagi ini aku juga bangun cepat. Terus tadi ketiduran di kamar Nukkun, sampai
kebangun karena digendong."
Sambil
mengusap mata, Yakishio berkata begitu. Yanami membuka mulut dengan agak
sungkan.
"E-eh…
Lemon-chan, yang tadi itu kurang baik, tahu. Walaupun kelihatannya begitu,
Nukumizu-kun tetap laki-laki."
"Ah,
kalau Nukkun kan gentleman, aman kok."
Jawab
Yakishio santai sambil menyesuaikan posisi bantal pahanya.
"Lagian,
ke-kenapa harus kamar Nukumizu?"
"Soalnya
aku kadang pakai ranjang Nukkun. Udah kebiasaan aja."
Lampu
"perlu dibahas" menyala di atas kepala Yanami dan yang lain, tapi
sepertinya mereka memutuskan untuk mengabaikannya.
Para
gadis klub sastra saling bertukar pandang lalu mengangguk.
"……Yah,
Nukumizu-kun juga nggak punya nyali sebesar sih."
"I-iya,
pengecut."
"Benar,
ketua itu gentleman."
Tepat
saat para gadis hampir sepenuhnya yakin, Kaju tanpa sadar membuka mulut.
"Tidak,
semuanya. Onii-sama juga seorang pria. Dalam kondisi tertentu, dia bisa berubah
menjadi binatang buas!"
──Binatang
buas. Mendengar kata itu, wajah Yanami langsung pucat dan ia condong ke depan.
"Eh?!
Jangan-jangan, adik kecil! Nukumizu-kun ngapain kamu?!"
"Tidak,
sayangnya tidak terjadi apa-apa."
Para
gadis klub sastra menghela napas lega.
"Tapi,
akhir-akhir ini Onii-sama—aku merasakan tanda-tanda cinta."
Ucapan
Kaju membuat ketegangan para gadis berpiyama perlahan meningkat.
Bangkit
dari bantal paha, Yakishio bertanya pada Kaju.
"Tanda-tanda
cinta? Ada sesuatu yang berubah dari Nukkun?"
"Iya.
Belakangan ini, Onii-sama sering mencari tentang hubungan pria dan wanita di
internet. Wajar jika diasumsikan dia sedang membayangkan berpacaran dengan
seseorang secara spesifik."
"Nukumizu-kun…?"
Yanami
melemparkan pandangan menyelidik ke yang lain.
Yakishio
berbinar penuh rasa ingin tahu, sementara Komari menunduk ketakutan.
Shiratama
menampakkan ekspresi senang dan menepukkan kedua tangannya.
"Kalau
begitu, sekarang waktunya ngobrol soal cinta, ya."
──Obrolan
cinta.
Mereka
juga sedang berada di masa puber. Mendengar kata "obrolan cinta", mau
tak mau semangat mereka langsung naik.
Yanami
menyeringai lalu mengeluarkan sebungkus keripik kentang.
"Oke,
sepertinya malam ini bakal panjang!"
…Pesta
keripik di atas futon.
Kaju
sempat berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk menerima semuanya apa adanya.
Seleksi
calon istri Onii-sama masih baru saja dimulai—kecuali satu orang.
◇
Aroma
manis yang membungkus tubuhku menarikku kembali dari tepi tidur ke dunia nyata.
Sambil
menatap langit-langit dengan pandangan kosong, aku menyadari bahwa itu adalah
aroma Yakishio yang tertinggal di futon.
Pesta
piyama di kamar sebelah rupanya sudah berakhir, dan rumah kami kini diselimuti
keheningan.
Di
luar masih gelap. Saat aku menyipitkan mata ke arah kegelapan, jam dinding
menunjukkan waktu lewat pukul dua dini hari.
…Haus.
Dengan
sedikit rasa enggan, aku merangkak keluar dari futon dan turun ke lantai satu
sambil menahan langkah agar tak berisik.
Aku
penasaran, apa saja yang mereka bicarakan di pesta piyama tadi. Rasanya aku
sempat mendengar namaku sesekali dari balik dinding, tapi semoga itu cuma
perasaanku saja….
Dengan
kepala masih berkabut oleh kantuk, aku meneguk habis segelas air keran di
dapur.
Air
yang mudah diminum itu meresap lembut ke tubuhku yang masih setengah sadar.
"Eh,
Nukumizu-kun masih bangun?"
Suara
tiba-tiba datang dari ruang tamu yang gelap. Sosok yang duduk di sofa
melambaikan tangan memanggilku.
"Cuma
haus sedikit. Yanami-san sendiri masih bangun?"
"Entah
kenapa aku jadi terjaga."
Saat
aku mendekat, Yanami menepuk-nepuk bagian sofa di sebelahnya. Aku sempat
berpikir sebentar, lalu duduk dengan jarak sekitar setengah.
"Entah
kenapa, ini bikin ingat waktu itu ya."
Sambil
berkata begitu, Yanami memeluk lutut kanannya.
──Waktu
itu.
Malam
saat Yakishio kabur dan kami semua pergi menjemputnya di pegunungan Shinjo.
Di
bawah cahaya bulan yang masuk dari jendela atap, malam ketika Yanami tersenyum
padaku.
"…Hampir
setahun ya sejak saat itu."
Kenangan
yang bahkan terasa nostalgia.
Sejak
saat itu, banyak hal terjadi—bersama Yanami, Komari, dan banyak orang lainnya.
Saat aku tenggelam dalam ingatan, Yanami membuka mulut dengan ragu-ragu.
"…Ngomong-ngomong,
Nukumizu-kun, akhir-akhir ini kamu kelihatan dekat sama Basori-san ya."
"Ya…
sedikit ngobrol sih."
Sudah
berapa kali aku ditanya soal hubunganku dengan Tiara-san, ya.
Di
dalam gelap, waktu berlalu dengan suasana saling menguji.
"Yanami-san,
ada apa dengan Basori-san?"
Saat
aku justru bertanya balik, Yanami menjawab dengan nada setengah menggantung,
"Nggak ada apa-apa sih."
Di
OSIS ada Shiratama-san, dan memang dia yang memberitahuku soal keadaan Yanami.
Tapi
selain itu, sebenarnya tidak ada banyak hubungan antara OSIS dan klub sastra.
Jadi alasan Tiara-san sering mendekatiku bukan sebagai ketua OSIS—melainkan…
"Nukumizu-kun—sebenarnya
kamu memandang Basori-san itu gimana?"
Pertanyaan
yang selangkah lebih jauh itu membuat napasku tertahan.
──Bagaimana
perasaanku terhadap Tiara-san.
Itu
memang masalah yang sedang kuhadapi sekarang. Meski mencoba mencari jawaban,
rasanya tidak mudah.
"Kenapa
kamu penasaran soal itu?"
Mendengar
jawabanku yang terkesan menghindar, Yanami tampak ragu sejenak sebelum akhirnya
bicara.
"…Kalau
Nukumizu-kun memang berniat begitu, kan kami nggak boleh mengganggu."
Setelah
mengatakannya, Yanami memeluk kedua lututnya dengan canggung.
"Mengganggu—"
"Makanya,
kupikir lebih baik tahu dulu perasaanmu soal itu."
Wajah
Yanami yang tertunduk tak bisa kulihat ekspresinya.
…Apa
aku membuat Yanami-san jadi sungkan, ya?
Aku
memang sedang bimbang soal pengakuan Tiara-san.
Mungkin
kegundahan itu sampai terasa oleh orang-orang di sekitarku.
──Kalau
aku menyukai Tiara-san, mereka tidak akan mengganggu.
Itulah
yang Yanami katakan.
Tidak
mengganggu berarti… ya, begitu maksudnya.
Aku
menyingkirkan perasaan yang masih kusut dan berkata tegas.
"──Basori-san
itu temanku."
Iya,
teman. Tiara-san adalah temanku, dan Yanami juga temanku. Tapi aku dan
Tiara-san tidak bisa selamanya berada di posisi seperti ini.
"Aku
juga jadi dekat dengannya waktu pemilihan, terus dia juga sempat ngajak aku
masuk OSIS."
"…Kamu
mau masuk?"
Aku
menggelengkan kepala.
"Nggak.
Aku sudah punya klub sastra."
"Hm…"
Yanami
tetap menunduk dan terdiam.
Di
ruang tamu yang gelap, hanya suara napas kami berdua dan detik jam yang pelan
terdengar.
"…Basori-san
itu teman, ya."
Yang
memecah keheningan panjang adalah Yanami.
Saat
ia perlahan mengangkat wajahnya, ekspresi usil yang biasa itu kembali muncul.
"Eh,
iya… memang."
"Dulu,
cuma jadi temanku saja kamu sudah heboh setengah mati. Kamu berubah juga
ya."
"Bukan,
itu—"
Waktu
itu, aku bahkan belum benar-benar paham apa arti ‘teman’.
Saat
aku terdiam kehabisan kata, Yanami dengan wajah menyeringai menusuk-nusukku
pelan.
"Itu
apa? Maksudnya gimana?"
"Ya,
maksudku, waktu itu aku masih muda… atau bisa dibilang kenakalan masa
muda."
"Apa
maksudnya itu?!"
"Bukan,
maksudku—"
Entah
sejak kapan, tusukan kecil itu berubah jadi tepukan keras.
Sambil
menenangkan Yanami, aku menyadari bahwa di dalam hatiku muncul rasa lega yang
samar.
◇
Minggu
pagi. Kaju meletakkan roti panggang spesial yang baru matang di tengah meja.
"Baik
semuanya, silahkan dinikmati!"
Menu
sarapan hari ini adalah telur dengan ham, salad, dan sup minestrone. Untuk
pencuci mulut, ada potongan melon dan grapefruit.
"Baik,
selamat makan!"
Pemilik
suara yang begitu bersemangat itu tentu saja Yanami.
Ia
mengoleskan selai aprikot buatan tangan dengan melimpah ke atas roti tawar yang
baru dipotong. Saat aku menatap lahapnya dia makan, Yanami menatap balik.
"Ada
apa? Kalau mau, aku kasih nih."
"Jangan
tawarin yang sudah kamu gigit."
Sambil
menaruh selai citrus oleh-oleh dari Yanami ke atas rotiku, aku menyeruput kopi
panas.
Komari
meneguk susu dengan lahap, sementara Yakishio—yang sudah selesai jogging
pagi—menuangkan yogurt tawar ke atas buah-buahannya.
Shiratama-san
yang sedang makan salad menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut.
"Kaju-chan,
lobak ini enak sekali. Buatan sendiri ya?"
"Iya,
ibu yang menanamnya. Cocok di lidah?"
"Iya,
enak banget. Sepertinya aku bisa akrab dengan ibu Kaju-chan."
"Ah,
semoga saja ada kesempatan seperti itu."
Senyum
lebar, senyum lebar, senyum lebar.
Setiap
kali dua orang ini berbicara, mereka selalu tersenyum penuh seperti itu.
Entah
kenapa terasa agak menyeramkan, jadi aku mengalihkan pandangan—dan malah
bertemu dengan tatapan Komari.
"Ke-kenapa
dari tadi kamu melotot gitu sih?"
"Ah…
bisa tolong ambilin saus yang itu?"
Sambil
menerima wadah saus, aku menatap orang-orang yang duduk mengelilingi meja.
Anggota
klub, teman, junior—dan adik perempuan.
Dengan
berbagai macam status, kami duduk mengelilingi meja makan yang sama.
Lima
perempuan bercakap-cakap dengan ramai.
Dari
sudut pandang masing-masing, orang-orang di sini kira-kira memakai
"label" apa ya?
"Nukkun,
nggak makan?"
Yakishio,
temanku, bertanya dengan wajah heran.
Sepertinya
aku melamun sambil memegang roti.
Tanpa
berkata apa-apa, aku menggigit roti yang sudah kuolesi selai.
Rasa manis pahit menyebar memenuhi mulutku.



Post a Comment