NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 19


Penerjemah:
Flykitty

Proofreader: Flykitty

Pesta Piyama yang Penuh Kesalahan

Di rumah keluarga Nukumizu, tiba-tiba muncul sebuah masalah. Kedua orang tua kami harus pergi menghadiri pernikahan kerabat, sehingga aku dan Kaju harus menghabiskan satu malam berdua saja di rumah.

 

Sepertinya mereka sangat khawatir jika anak-anak ditinggal sendirian di rumah. Orang tuaku lalu menyuruh kami mengadakan acara menginap dengan mengundang teman.

 

Meskipun menurutku menambah jumlah anak saja tidak terlalu berarti dari sisi keamanan, entah kenapa orang tuaku bersikeras agar pesta menginap itu harus melibatkan pihak ketiga.

 

Kaju sangat menolak ide pesta menginap itu, tetapi ketika orang tua kami bahkan sampai mengatakan akan membuat Kaju bolos sekolah dan ikut bersama mereka, akhirnya dia menyerah.

 

Begitulah, pesta piyama gadis-gadis klub sastra yang diprakarsai Kaju pun diputuskan untuk diadakan.

 

Ngomong-ngomong, aku sempat mengusulkan bagaimana kalau mengundang Gon-chan alias Gondo Asami, tapi katanya dia menolak dengan alasan "beban yang harus ditanggung terlalu besar"...

 

 

──Pesta piyama.

 

Ini adalah acara wajib dalam light novel dan anime.

 

Ngomong-ngomong, dalam "peringkat hal-hal yang kulihat di light novel tapi tidak yakin ada di dunia nyata" versiku, acara ini dengan bangga menempati peringkat ketiga.

 

Pada hari pesta, aku melirik Kaju yang sedang menyiapkan makan malam di dapur, lalu mengecek jam dinding.

 

Waktu sudah lewat pukul 17.00, dan tersisa kurang dari satu jam sebelum waktu berkumpul.

 

Aku berpura-pura santai dan keluar dari ruang tamu menuju lorong.

 

Rencananya adalah keluar rumah sebelum para gadis klub sastra datang, lalu kembali setelah mereka semua tertidur.

 

...Pesta piyama adalah jamuan yang hanya diperbolehkan untuk gadis cantik dua dimensi. Terlepas dari ketebalan tubuh para gadis klub sastra itu, setidaknya aku sebagai laki-laki jelas tidak seharusnya ikut.

 

Lagi pula, pasti bakal diajak ribut dan jadi merepotkan.

 

Dengan keyakinan kuat, aku membuka pintu masuk rumah dengan pelan, dan di sana kulihat makhluk kecil yang berdiri membeku dengan tangan terulur ke arah bel pintu.

 

"Ueh?! Eh, anu..."

 

"Komari, sudah datang?"

 

Rencanaku langsung kacau sejak awal. Untuk sementara aku masukkan Komari ke dalam rumah, lalu saat dia lengah aku menghilang saja──

 

"Loh, Nukkun dan Komari-chan. Kenapa tidak masuk?"

 

Menyusul kemudian Yakishio yang mengenakan celana pendek dan kaos, sambil menyeka keringat di dahinya.

 

Rencana pelarianku langsung runtuh...

 

"Eh, aku keluar karena merasa ada orang datang. Kalian berdua, silakan masuk."

 

Aku berbohong dengan lancar lalu mengantar mereka ke ruang tamu. Begitu melihat tamu datang, Kaju menghentikan masakannya dan berlari mendekat.

 

"Selamat datang! Mohon bantuannya hari ini ya!"

 

Kaju dengan gerakan halus memberikan teh barley kepada Yakishio, lalu seketika merapikan rambut Komari.

 

Kalau sudah begini, tidak ada pilihan. Aku harus membuat mereka cepat melupakan keberadaanku, lalu kabur saat ada kesempatan.

 

Saat aku duduk di sofa sambil menahan kehadiranku, Komari duduk di sampingku.

 

"Ada apa, Komari?"

 

Komari tidak berkata apa-apa dan hanya mengangkat dagunya.

 

Saat aku mengikuti arah pandangannya, Yakishio yang menerima handuk dari Kaju melambaikan tangan.

 

"Nukkun, aku berkeringat, jadi aku mandi dulu ya."

 

"A-ah..."

 

Yakishio keluar dari ruang tamu sambil bersenandung.

 

Saat aku berusaha merobek sayap imajinasiku yang mulai mengembang, Komari diam-diam menendang kakiku.

 

"K-kenapa Yakishio selalu mandi di rumahmu?"

 

"Kamu dulu juga pernah mandi di rumahku, kan?"

 

Grek. Komari menginjak kakiku.

 

"Itu... keadaan memaksa."

 

Kalau begitu, mandi karena berkeringat juga sama saja, bukan?

 

Yah, aku mengerti kalau ada yang berpendapat dia seharusnya mandi di rumahnya sendiri, atau setidaknya sedikit menahan diri.

 

Aku mengerti, tapi menyadari sisa aroma sampo yang tertinggal di kamar mandi itu adalah momen yang sangat puitis.

 

Sebagai anggota klub sastra, aku hanya tidak ingin melupakan emosi sesaat itu. Hanya itu──

 

"A-ada apa, tiba-tiba wajahmu jadi menjijikkan sambil bergumam begitu?"

 

Waduh gawat, ternyata keluar dari mulutku ya.

 

"Ngomong-ngomong, kenapa kamu datang se awal ini, Komari?"

 

"Eh, anu... aku ingin membantu masakan Kaju-chan."

 

Setelah berkata begitu, Komari menggaruk pipinya dengan sedikit malu.

 

"Itu bagus sekali. Kalau begitu segera bantu saja. Ayo, jangan sungkan."

 

"A-apa maksudnya? Kalau aku di sini, ada masalah ya?"

 

Komari menatapku dengan mata setengah menyipit.

 

Sepertinya dia sadar aku mencoba mengusirnya. Aku langsung menegangkan ekspresiku.

 

"Tidak, bukan begitu. Duduk berdampingan di sofa seperti ini benar-benar... anu... semacam penyembuhan, ya."

 

"Ueh... b-begitu ya."

 

Komari menunduk sambil gelisah.

 

Eh, reaksinya beda dari yang kubayangkan. Tadinya aku kira dia bakal melontarkan hinaan seperti biasa, lalu aku bisa menyerahkannya pada Kaju secara halus, tapi Komari justru tidak bergerak dari tempatnya.

 

Jarum jam sudah melewati pukul 17.30. Aku harus keluar rumah sebelum Yanami dan Shiratama-san datang...

 

Terpaksa aku melirik wajah samping Komari sambil mencari topik pembicaraan yang aman.

 

"Ngomong-ngomong, hari ini pesta menginap, kan? Kamu juga bakal pakai piyama?"

 

Rasanya topik ini hanya aman di permukaan.

 

Saat aku bersiap menerima hinaan, Komari memainkan poninya sambil berbisik pelan.

 

"A-aku pakai sih. Mau lihat...?"

 

"Eh."

 

Kalau dipikir lagi, bukan berarti aku tidak tertarik. Saat kegiatan menginap klub sastra dia memakai pakaian olahraga, jadi nuansa pribadi dari piyama jelas beda.

 

...Tapi aku pernah lihat dia pakai piyama saat ke rumahnya, kan. Yang terasa sangat seperti pakaian rumahan.

 

"Yang motif bintang itu?"

 

"A-aku beli yang baru."

 

Begitu ya, versi terbaru.

 

Tapi dia baru akan berganti piyama setelah makan dan mandi, saat waktunya tinggal tidur. Bertahan di sini hanya untuk melihat piyama para anggota perempuan terlalu berisiko...

 

Saat aku menghitung untung rugi dalam pikiranku, hidungku digelitik aroma sampo.

 

"Kalian berdua, kenapa tiba-tiba diam?"

 

Yakishio yang sudah selesai mandi duduk di sofa, menjepit Komari di tengah.

 

Yakishio mengenakan piyama lucu bernuansa kuning dan hijau, dan kaki yang terlihat dari celana pendek musim panasnya terasa menyilaukan.

 

"Kamu sudah ganti piyama ya."

 

"Soalnya tinggal makan terus tidur saja, kan."

 

Yakishio menyalakan televisi, dan layar menampilkan pemandangan bangunan di atas air.

 

"Oh ya, tempat seperti ini memang ada ya. Komari-chan, pernah ke sana?"

 

"A-aku pernah sekali, waktu liputan. M-makan yang manis."

 

"Enak banget. Nanti kita pergi bareng yuk."

 

"I-iya."

 

Percakapan tanpa arah ini entah kenapa tidak buruk, seperti pembukaan komik empat panel yang imut. Mungkin di kehidupan selanjutnya, bereinkarnasi jadi kursi ruang klub juga tidak buruk...

 

Saat aku membayangkan rencana masa depan yang megah, tanpa sadar waktu tinggal kurang sepuluh menit sebelum pukul 18.00.

 

Tidak ada waktu lagi. Saat mereka asyik mengobrol, aku berdiri pelan lalu keluar dari ruang tamu.

 

...Bagus, aku bisa meninggalkan tempat duduk tanpa menarik perhatian siapa pun. Sekarang tinggal keluar rumah saja.

 

Sambil memastikan tidak ada yang mengikuti, aku memakai sepatu lalu membuka pintu masuk dengan pelan agar tidak bersuara──

 

"Lho. Ketua klub, datang menjemput kami ya?"

 

...Shiratama Riko berdiri di sana. Ia menggenggam tanganku yang terkejut, lalu tersenyum manis.

 

"B-bukan, aku kebetulan mau keluar..."

 

"Kalau begitu, ini takdir ya."

 

Mungkin saja. Tangan Shiratama-san juga halus sekali. Lalu Yanami yang muncul dari belakang menepuk tanganku.

 

"Baiklah, di klub sastra dilarang menyentuh."

 

"Oh, Yanami-san juga ada ya."

 

"Yanami-chan ada di sini, loh."

 

Entah kenapa Yanami tampak sedang kesal, lalu menyodorkan kantong kertas kepadaku.

 

"Nih, aku beli imagawayaki (kue pasta kacang merah). Nukumizu-kun, tolong siapkan teh ya."

 

Begitulah, aku gagal melarikan diri.

 

 

──Jamuan makan malam berakhir dalam suasana hangat.

 

Masakan Jepang buatan Kaju mendapat pujian besar dari para gadis. Bagi Yanami, "masakan Jepang tidak bikin gemuk", jadi dia bahkan menambah nasi sampai empat mangkuk dengan suasana hati yang sangat baik.

 

Kekhawatiran terbesar, yaitu hubungan Kaju dan Shiratama-san, juga tampaknya tidak bermasalah. Mereka terus saling memuji, jadi mungkin mereka sudah akrab di luar sepengetahuanku. Semoga saja begitu.

 

Sambil menyeruput teh setelah makan, aku mencuri dengar percakapan dua orang yang sedang membereskan piring.

 

"Kaju-chan, masakan hari ini benar-benar enak."

 

"Masakan seperti ini sudah biasa bagiku, jadi tidak sampai pantas dipuji."

 

Menanggapi kerendahan hati Kaju, Shiratama-san menggeleng.

 

"Tidak kok. Chawanmushi-nya terasa seperti makan di restoran. Ada rahasianya?"

 

"Tidak ada, hanya dibuat dengan teliti saja. Kalau menggunakan bahan mahal hanya demi gengsi, itu tidak akan bisa dipertahankan."

 

Kaju berkata begitu sambil mengelap piring.

 

Shiratama-san tetap tersenyum sambil membuat busa sabun dengan spons.

 

"Aku juga suka mitsuba dan ayam suwir dengan saus ume. Bagaimana bisa menghasilkan rasa sedalam itu?"

 

"Ya, rahasianya menambahkan sedikit miso putih."

 

"Oh begitu, yang itu ada rahasianya ya."

 

Shiratama-san terkekeh sambil mencuci mangkuk. Kaju tetap diam sambil memperdalam senyumnya.

 

...Ya, mereka akrab.

 

"Ngomong-ngomong, hebat sekali Kaju-chan. Dengan kemampuan seperti ini, kamu bisa menikah kapan saja."

 

"Kaju tidak punya rencana untuk menikah."

 

Kaju menumpuk piring yang sudah dikeringkan. Shiratama memasukkan piring yang sudah dibilas ke rak pengering.

 

"Tapi siapa tahu kamu tiba-tiba bertemu orang yang luar biasa? Kalau begitu, Ketua Klub juga pasti merasa tenang."

 

"Entahlah. Aku tidak bisa membayangkan orang yang lebih luar biasa daripada Onii-sama."

 

"Ketua Klub memang luar biasa. Aku juga ingin menjadi istri orang seperti itu."

 

Glek. Kaju menumpuk piring dengan bunyi keras.

 

"Semoga saja kamu menemukan orang seperti itu. Karena Onii-sama hanya ada satu."

 

"Satu saja sudah cukup, kan?"

 

"..."

 

Kaju memasukkan piring ke lemari dengan suara berderak, lalu Shiratama-san kembali berbicara.

 

"Tapi orang yang akan menjadi istri Ketua Klub pasti berat ya. Soalnya bakal dibandingkan dengan Kaju-chan, pasti jadi tekanan."

 

"Tidak perlu khawatir. Kaju akan mengajarkan rasa khas keluarga Nukumizu dengan baik."

 

"Kalau begitu lega ya. Tapi Ketua Klub juga pasti akan cepat terbiasa dengan rasa masakan istrinya nanti."

 

Shiratama-san menyelesaikan mencuci piring terakhir dengan senyum cerah, lalu Kaju memiringkan kepala.

 

"Oh, Shiratama-san. Cara mencuci piring tadi──"

 

"Kaju-chan, ada yang salah?"

 

"Tidak, kalau Shiratama-san tidak masalah, ya tidak apa-apa. Aku hanya berpikir ternyata kamu selalu seperti itu."

 

"Begitu ya, kalau tidak masalah berarti bagus. Fufu."

 

Ufufufufu, mereka tertawa bersama.

 

...Mereka sedang asyik membicarakan diriku, tapi tetap saja, mereka pasti akrab.

 

Aku menyimpan kecemasan dengan rapi di rak hati, lalu memperhatikan tiga mantan anggota klub yang sedang minum teh di meja.

 

Makhluk bernama gadis mungkin sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Seolah pemandangan di dapur tidak terlihat, mereka masing-masing menikmati waktunya sendiri.

 

Yakishio dan Komari sedang menonton video di ponsel bersama, sementara Yanami dengan lancar menumpuk kulit jeruk.

 

...Tunggu, dia makan terlalu banyak jeruk. Bahkan lapisan putihnya juga dimakan. Saat aku menatapnya tanpa sadar, Yanami menatapku dengan pandangan tajam.

 

"Silakan, Nukumizu-kun. Kalau ada yang ingin kamu katakan."

 

"Eh, bukan soal jumlahnya sih... tapi kamu juga makan lapisan putihnya? Kamu lapar banget ya?"

 

Yanami mengangkat bahu dengan ekspresi pasrah.

 

"Nukumizu-kun, kamu tahu burung shoebill?"

 

"Burung besar yang jarang bergerak itu, kan?"

 

Pertanyaan apa ini tiba-tiba? Yanami mengangguk sambil meraih natsumikan keempat.

 

"Benar. Shoebill berdiri diam di tepi air, lalu menangkap ikan yang muncul ke permukaan untuk bernapas."

 

"Ikan bernapas?"

 

Menanggapi pertanyaanku yang wajar, Yanami memasang ekspresi sok tahu.

 

"Ada ikan bernama lungfish yang bernapas dengan paru-paru. Shoebill akan menelannya bulat-bulat. Jadi ini──"

 

Yanami memasukkan satu potong jeruk ke mulut tanpa mengupas lapisan putihnya.

 

"Ini diet yang memanfaatkan ekologi shoebill. Bisa disebut Shoebill-ette."

 

Tidak masuk akal dan juga tidak enak didengar. Jadi maksudnya...

 

"Menelan ikan mentah bulat-bulat? Bahkan kamu sebaiknya tetap memasaknya dulu."

 

"Aku tidak menelannya bulat-bulat. Begini, shoebill yang menelan lungfish akan menggunakan 40% kalori yang didapat untuk pencernaan."

 

Oh begitu. Saat aku terkesan, Yanami memasang wajah bangga.

 

"Artinya, kalau makan sesuatu yang sulit dicerna, tubuh akan membakar kalori. Jadi kalau makan jeruk bersama lapisan putihnya, kalorinya jadi nol."

 

Oh begitu ya. Sebentar lagi dia pasti bilang kalau makan kulit luarnya juga bisa bikin kurus.

 

"Kalau makan kulit luarnya, malah bisa bikin kurus."

 

Tepat seperti dugaan. Entah kenapa akhir-akhir ini aku bisa memahami ucapan Yanami tanpa perlu mendengarnya. Kalau ini cerita isekai, pasti aku bakal diusir dari party karena punya skill terlemah.

 

"Benar juga, kalau nasi dibungkus kulit jeruk, berarti nol kalori dan tidak bikin gemuk. Ini bisa didaftarkan sebagai metode diet, kan?"

 

"Ah iya, mungkin bisa."

 

Sambil setengah mendengarkan teori buatan Yanami, aku mulai mengupas jeruk yang disodorkan kepadaku dengan santai.

 

 

Setelah selesai membereskan dapur, Kaju melepas celemeknya lalu memanggil semua orang.

 

"Baik semuanya, silakan tamu mandi terlebih dahulu."

 

...Akhirnya datang juga. Pertempuran pembuka pesta piyama, acara mandi.

 

Dalam light novel, ini biasanya jadi momen keberuntungan, tapi di dunia nyata hal seperti itu tidak akan terjadi. Malah kalau terjadi bakal sangat canggung. Yakishio, tolong ingat itu.

 

"Kalau begitu, para senior silakan duluan."

 

Setelah Shiratama-san berkata begitu, Yanami berdiri sambil meregangkan tubuh.

 

"Lemon-chan sudah mandi, kan? Kalau begitu Komari-chan, kita mandi bareng yuk."

 

"Ueh?! B-bareng?"

 

Mandi bersama teman mungkin jadi tantangan besar bagi Komari yang kurang pandai bersosialisasi.

 

...Tunggu dulu. Aku yang hendak menghentikan Yanami menelan kata-kataku.

 

Kalau dipikir seperti ilustrasi pembuka light novel, kombinasi Yanami dan Komari terasa aneh. Kalau aku editor, aku tidak akan memilih pasangan itu.

 

Komari lebih cocok sendiri, sedangkan Yanami lebih cocok dipasangkan dengan Yakishio atau Shiratama-san.

 

Karena tubuh Komari yang datar tanpa lekuk itu sudah merupakan bentuk kesempurnaan tersendiri. Bahkan lebih cocok menonjolkan kesan seksi yang sehat dengan pakaian seperti camisole, yang menekankan kesan rata itu.

 

Maksudnya, karena ini dunia nyata, mungkin justru kombinasi Yanami dan Komari yang tidak akan dipilih dalam karya fiksi adalah "jawaban yang benar"──

 

"Nukkun, dari tadi kamu menatap langit-langit, kenapa?"

 

"...Tidak, tidak apa-apa. Aku cuma membiarkan hatiku berenang di lautan imajinasi."

 

"Wah, kedengarannya keren."

 

Tentu saja aku tidak memandang para gadis klub sastra dengan niat aneh. Tidak begitu, tapi fakta bahwa siswi sekolah masuk ke kamar mandi rumahku tetap membuat perasaanku campur aduk. Tolong mengerti.

 

Saat aku gelisah, Yanami memainkan rambut Komari sambil berkata.

 

"Ah, tapi kalau berdua mungkin agak sempit ya."

 

Yanami, jangan menambah masalah.

 

Saat aku sempat berpikir mungkin lebih baik dia menambah berat badan sedikit, Kaju menepuk tangannya.

 

"Kamar mandi di rumah kami cukup luas, jadi berdua juga tidak masalah."

 

"Oh begitu. Kamar mandi luas memang enak ya."

 

Melihat Yanami berbicara dengan wajah gembira, Kaju membalasnya dengan senyum ramah.

 

"Ya, bak mandinya cukup luas kok, jadi masih muat kalau Onii-sama dan aku masuk bersama."

 

"""Eh?"""

 

Tiga gadis itu mengeluarkan suara serak. Gawat, ucapan itu bisa bikin salah paham.

 

"Dulu! Ini cerita lama banget!"

 

Huh, nyaris saja. Krisis berhasil dihindari.

 

…Berhasil, kan? Tolong jangan menatapku dengan tatapan seperti itu.

 

"Ehm, aku akan masuk terakhir sendirian, jadi kalian silakan santai dulu."

 

Aku menunduk ke arah ponsel, seolah kabur dari tatapan di sekeliling. Untuk mengusir suasana aneh yang memenuhi ruang tamu, Yakishio mulai bicara.

 

"Bak mandi di rumah Nukkun kan besar."

 

"I-iya, baknya cukup luas, jadi berdua juga nggak masalah."

 

"Kalau begitu, lain kali kita masuk bareng saja?"

 

"Ke-kenapa harus bareng…?"

 

Yanami, yang mendengarkan percakapan santai Yakishio dan Komari, bergumam pelan.

 

"…Kalian berdua sudah pernah mandi di sini, ya?"

 

Keduanya mengangguk.

 

Entah kenapa, setelah melirikku tajam, Yanami membuat Komari berdiri.

 

"Oke, Komari-chan, di kamar mandi kamu harus cerita rahasia, ya."

 

"Eeh?! A-aku nggak punya rahasia apa pun kok!"

 

Aku hanya menatap dengan tenang Komari yang diseret pergi tanpa diberi kesempatan membela diri.

 

Memang sedikit berbeda dari "event" yang kubayangkan, tapi ya begitulah kenyataan.

 

Saat aku sedang mengubah kejadian ini dengan filter light novel di kepalaku, Shiratama tersenyum pada Kaju.

 

"Kalau begitu, Kaju-chan, bagaimana kalau kita mandi bareng?"

 

"Tidak, terima kasih. Onii-sama sebaiknya mandi bersama Kaju saja."

 

"Nggak mau! Aku dan Kaju nggak mandi bareng!"

 

Aku menegaskannya dengan suara keras agar semua orang mendengar.

 

Sejak Kaju masuk SMP, mandi bersama kakak-adik di keluarga Nukumizu sudah sepenuhnya dilarang. Aku hampir menambahkan penjelasan itu—tapi berhenti tepat sebelum mengatakannya.

 

Tidak ada alasan khusus. Hanya insting liar saja.

 

Dengan suara riuh para anggota klub perempuan sebagai BGM, aku kembali mengalihkan pandangan ke ponselku.

 

 

Pet-pet-pet.

 

Suara para perempuan yang baru selesai mandi menepuk-nepuk pipi mereka tanpa ekspresi terdengar saat mereka mengelilingi meja.

 

Sambil menuangkan isi botol ke telapak tangannya, Yanami mengangkat wajah.

 

"Nukumizu-kun, kenapa kamu menatap terus?"

 

"Eh, aku cuma penasaran… itu sedang ngapain?"

 

"Kami lagi mengaplikasikan toner ke wajah. Perawatan kulit itu ribet, tahu, buat cewek."

 

Yanami kembali menepuk-nepuk pipinya. Di sampingnya, Komari juga ikut menepuk pelan-pelan, dan Shiratama yang baru saja keluar dari kamar mandi juga menepuk pipinya dengan gerakan lincah.

 

Aku sebenarnya bertahan di ruang tamu untuk memastikan piyama mereka, tapi entah kenapa suasananya agak beda dari yang kubayangkan….

 

Aku pura-pura melihat ponsel sambil mengamati para anggota klub perempuan.

 

Piyama Yanami berupa set dua potong berwarna putih lembut. Bagian dadanya diikat pita. Desain yang sangat feminim—entah kenapa aku langsung mengalihkan pandangan.

 

Sebaliknya, Komari mengenakan piyama terusan. Kesan rapi dan kesederhanaannya berpadu dengan pas. Rasanya seperti cocok kalau dia berada di taman bunga sambil membuat mahkota bunga.

 

Lalu piyama Shiratama berupa atasan tanpa lengan mirip kamisol. Dari celah outer yang dikenakannya, bahunya yang ramping sedikit terlihat—sangat menggemaskan.

 

Saat aku mengamati mereka, perawatan kulit masuk ke fase dua. Kali ini mereka dengan serius mengoleskan cairan putih ke kulit.

 

"Kalau sudah SMA, cewek memang repot ya…"

 

Aku bergumam, lalu Kaju yang sedang membagikan teh barley dingin mendekat dan menatap wajahku.

 

"Kaju juga melakukan perawatan kulit, tahu."

 

"Eh, serius? Aku sama sekali nggak pernah lihat."

 

"Perempuan itu akan menjaga gengsi di depan laki-laki."

 

Begitu ya. Berarti aku memang tidak dianggap sebagai ‘laki-laki’ oleh mereka.

 

Saat aku mengangguk paham, Kaju mengibaskan rambutnya yang baru dicuci dengan lembut.

 

"Kaju sudah mandi, jadi Onii-sama juga silakan."

 

"Oh, iya. Aku akan mandi."

 

Baiklah, piyama para anggota klub perempuan sudah aku cek, jadi aku sudah tak punya urusan di sini.

 

Lebih baik cepat mandi lalu balik ke kamar buat ambil reward harian game gacha—

 

Aku meninggalkan ruang tamu, menyisakan para anggota klub perempuan yang masih mengusap-usap pipi mereka.

 

 

Masuk mandi paling terakhir berarti—aku akan menggunakan air bekas yang dipakai para anggota klub perempuan.

 

Tentu saja, tidak ada maksud aneh di balik itu. Tidak ada, tapi wajar saja kalau ada perasaan tertentu yang muncul. Aku kan sedang puber.

 

Dengan persiapan mental seperti itu, aku membuka pintu kamar mandi—dan mendapati bak mandi yang sudah dicuci bersih serta diisi ulang dengan air baru. Aku benar-benar berterima kasih atas perhatian Kaju.

 

Mungkin dia melakukan ini agar aku tidak merasa canggung dengan para gadis klub sastra.

 

Aku mencuci tubuh dengan biasa saja, lalu merendamkan diri ke dalam air yang segar.

 

Jadi dia mengganti airnya dan sekaligus membersihkan kamar mandi, ya… begitu….

 

Sambil meresapi perhatian Kaju, aku terus menatap uap air yang melayang dengan kosong.

 

 

Saat aku selesai mandi, lampu ruang tamu sudah padam.

 

Mereka pasti pindah ke kamar Kaju, yang menjadi lokasi pesta.

 

Ketika aku naik tangga untuk kembali mengurung diri di kamar, terdengar suara tawa dari kamar Kaju.

 

Jadi pesta piyama benar-benar sedang berlangsung di rumahku sekarang, ya….

 

Hari ini entah kenapa bikin capek secara mental, jadi sebelum terseret ke dalamnya, lebih baik aku tidur cepat saja.

 

Aku masuk ke kamarku dan langsung masuk ke bawah selimut tanpa menyalakan lampu.

 

……

………Eh.

 

Ada Kaju di dalam tempat tidur.

 

Wajar saja sih. Dia sudah capek menyiapkan makanan untuk enam orang dan persiapan menginap. Mungkin dia mengantuk sebelum pesta dimulai dan numpang tidur sebentar di ranjangku.

 

Tapi kalau ada yang melihat ini, pasti bakal salah paham. Lebih baik aku pindahkan dia ke kamar orang tua saja….

 

Aku membuka selimut dan langsung mengangkat Kaju—

 

—dan seketika itu juga, sensasi di lenganku membuat kepalaku kosong.

 

Ini bukan tubuh Kaju.

 

Lebih tinggi, dan otot yang lentur membungkus rangkanya.

 

Saat mataku mulai terbiasa dengan gelap, bulu mata panjang yang bergetar masuk ke dalam pandanganku.

 

"……Nukkun?"

 

"Yakishio?!"

 

Benar, yang tidur di tempat tidurku adalah Yakishio. Dengan mata setengah terpejam, dia menatapku lalu berkata,

 

"Hmm… mimpi ya…."

 

Dia kembali memejamkan mata dan melingkarkan kedua tangannya ke leherku.

 

"Tu-tunggu?! Ini bukan mimpi! Kenapa kamu ada di ranjangku—"

 

Klik. Bersamaan dengan suara kering itu, lampu kamar menyala.

 

Keringat mengalir di punggungku. Aku merasakan kehadiran orang di belakang.

 

Dengan takut-takut aku menoleh—dan mendapati Yanami dan empat perempuan lainnya berdiri di sana dengan tangan melipat.

 

"……Nukumizu-kun, kamu lagi ngapain?"

 

Yanami bertanya dengan suara rendah yang menusuk.

 

"B-bukan, itu, soalnya Yakishio ada di sini… jadi mau kupindahkan—"

 

"Mau dipindahkan ke mana?!"

 

"M-mati aja!"

 

Tolong jangan teriak-teriak, nanti mengganggu tetangga.

 

Mungkin akhirnya benar-benar terbangun oleh keributan itu, Yakishio mengedarkan pandangan dengan bingung.

 

"……Eh? Ada apa nih? Kalian kenapa?"

 

"Lemon-chan, Nukumizu-kun nggak ngapa-ngapain kamu, kan?!"

 

Mendengar teriakan Yanami, Yakishio justru mengencangkan pelukan di leherku.

 

"……Nukkun, kamu ngapain ke aku?"

 

"Nggak ngapa-ngapain, tahu?!"

 

Iya, aku memang tidak melakukan apa pun. Tapi kenapa Yanami dan Komari menatapku seperti sedang melihat penjahat?

 

Kaju malah berbinar-binar sambil mengangguk-angguk, dan Shiratama—karena dia baik—menatapku dengan senyum hangat.

 

……Eh, tunggu. Mata Shiratama nggak tersenyum. Kenapa dia juga menatapku begitu?

 

Ke arahku yang ketakutan, Shiratama berbicara tanpa menghapus senyum di bibirnya.

 

"──Ketua, sampai kapan mau menggendong ala putri begitu?"

 

 

Diselenggarakan oleh Nukumizu Kaju.

 

Pesta Piyama Keluarga Nukumizu ke-1

 

Mengenakan piyama yang serasi dengan kakaknya, Kaju duduk "plop" di atas futon lalu menunduk pada para gadis klub sastra.

 

"Baiklah semuanya, terima kasih atas kerja keras hari ini. Mulai sekarang, ini adalah waktu khusus perempuan!"

 

Tepuk tangan serentak menggema sebagai pembukaan pesta.

 

Kamar Kaju berukuran sekitar sepuluh tatami. Ada satu ranjang semi-double, dan hari ini, tiga set futon digelar di lantai khusus untuk pesta.

 

Sambil ikut bertepuk tangan, Kaju menatap sekeliling ruangan dengan waspada. Tak salah lagi, para perempuan di sini adalah kandidat calon istri Onii-sama (kecuali sekitar satu orang). Ini kesempatan bagus untuk menilai kepribadian mereka—

 

Pertama, dia mengalihkan pandangan ke ranjang. Di sana duduk Yakishio dan Komari.

 

Mereka akan tidur bersama di ranjang itu, tapi Komari belum mengetahuinya. Dia pasti bertanya-tanya kenapa jumlah futon kurang satu.

 

Yakishio, yang sedang menyisir rambut Komari, menunjukkan ekspresi seperti menyadari sesuatu.

 

"Komari-chan, rambutmu kelihatan lebih bagus dari sebelumnya, ya."

 

"Eh, u-um, akhir-akhir ini aku merawat rambutku sedikit…."

 

Melihat Komari menunduk malu, Kaju menambahkan satu poin di buku penilaian mentalnya.

 

Rambut adalah nyawa perempuan. Lagi pula, Onii-sama sangat menyukai rambut panjang Kaju.

 

"Komari-senpai, mau coba hair oil yang kupakai?"

 

Shiratama mengeluarkan botol semprot kecil.

 

"O-oil?"

 

"Iya, ini membantu mengurangi kerusakan rambut."

 

Hmm, hair oil memang mungkin cocok untuk rambut Komari yang mudah rusak. Tapi ikut campur soal tekstur rambut senior itu kurang sopan.

 

Catatan penilaian mental: Shiratama Riko -1 poin.

 

Tanpa disadari, semua sudah mengelilingi Komari dan mulai merawat rambutnya bersama-sama.

 

Kaju sedikit menjauh dan mengamati para gadis klub sastra.

 

Yakishio membiarkan Komari memangku kepalanya sambil menggodanya dari bawah. Tingkahnya seperti anak SD, tapi sikap tanpa kepura-puraan ini menunjukkan kepribadiannya yang jujur. +1 poin.

 

Tentu saja, Komari yang memberikan bantal paha juga +1 poin.

 

Shiratama yang sedang mengoleskan hair oil ke ujung rambut Komari—untuk saat ini -3 poin.

 

Saat Kaju mengalihkan pandangan ke Yanami, gadis itu terlihat mengunyah sesuatu di atas futon. Banyak yang ingin dikomentari, tapi karena tidak menumpahkan apa pun, nilainya ±0.

 

Ketika Kaju sedang menghitung hasil di papan penilaian dalam kepalanya, Yakishio menguap lebar.

 

"Yakishio-san, sudah mengantuk?"

 

"Iya. Pagi ini aku juga bangun cepat. Terus tadi ketiduran di kamar Nukkun, sampai kebangun karena digendong."

 

Sambil mengusap mata, Yakishio berkata begitu. Yanami membuka mulut dengan agak sungkan.

 

"E-eh… Lemon-chan, yang tadi itu kurang baik, tahu. Walaupun kelihatannya begitu, Nukumizu-kun tetap laki-laki."

 

"Ah, kalau Nukkun kan gentleman, aman kok."

 

Jawab Yakishio santai sambil menyesuaikan posisi bantal pahanya.

 

"Lagian, ke-kenapa harus kamar Nukumizu?"

 

"Soalnya aku kadang pakai ranjang Nukkun. Udah kebiasaan aja."

 

Lampu "perlu dibahas" menyala di atas kepala Yanami dan yang lain, tapi sepertinya mereka memutuskan untuk mengabaikannya.

 

Para gadis klub sastra saling bertukar pandang lalu mengangguk.

 

"……Yah, Nukumizu-kun juga nggak punya nyali sebesar sih."

 

"I-iya, pengecut."

 

"Benar, ketua itu gentleman."

 

Tepat saat para gadis hampir sepenuhnya yakin, Kaju tanpa sadar membuka mulut.

 

"Tidak, semuanya. Onii-sama juga seorang pria. Dalam kondisi tertentu, dia bisa berubah menjadi binatang buas!"

 

──Binatang buas. Mendengar kata itu, wajah Yanami langsung pucat dan ia condong ke depan.

 

"Eh?! Jangan-jangan, adik kecil! Nukumizu-kun ngapain kamu?!"

 

"Tidak, sayangnya tidak terjadi apa-apa."

 

Para gadis klub sastra menghela napas lega.

 

"Tapi, akhir-akhir ini Onii-sama—aku merasakan tanda-tanda cinta."

 

Ucapan Kaju membuat ketegangan para gadis berpiyama perlahan meningkat.

 

Bangkit dari bantal paha, Yakishio bertanya pada Kaju.

 

"Tanda-tanda cinta? Ada sesuatu yang berubah dari Nukkun?"

 

"Iya. Belakangan ini, Onii-sama sering mencari tentang hubungan pria dan wanita di internet. Wajar jika diasumsikan dia sedang membayangkan berpacaran dengan seseorang secara spesifik."

 

"Nukumizu-kun…?"

 

Yanami melemparkan pandangan menyelidik ke yang lain.

 

Yakishio berbinar penuh rasa ingin tahu, sementara Komari menunduk ketakutan.

 

Shiratama menampakkan ekspresi senang dan menepukkan kedua tangannya.

 

"Kalau begitu, sekarang waktunya ngobrol soal cinta, ya."

 

──Obrolan cinta.

 

Mereka juga sedang berada di masa puber. Mendengar kata "obrolan cinta", mau tak mau semangat mereka langsung naik.

 

Yanami menyeringai lalu mengeluarkan sebungkus keripik kentang.

 

"Oke, sepertinya malam ini bakal panjang!"

 

…Pesta keripik di atas futon.

 

Kaju sempat berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk menerima semuanya apa adanya.

 

Seleksi calon istri Onii-sama masih baru saja dimulai—kecuali satu orang.

 

 

Aroma manis yang membungkus tubuhku menarikku kembali dari tepi tidur ke dunia nyata.

 

Sambil menatap langit-langit dengan pandangan kosong, aku menyadari bahwa itu adalah aroma Yakishio yang tertinggal di futon.

 

Pesta piyama di kamar sebelah rupanya sudah berakhir, dan rumah kami kini diselimuti keheningan.

 

Di luar masih gelap. Saat aku menyipitkan mata ke arah kegelapan, jam dinding menunjukkan waktu lewat pukul dua dini hari.

 

…Haus.

 

Dengan sedikit rasa enggan, aku merangkak keluar dari futon dan turun ke lantai satu sambil menahan langkah agar tak berisik.

 

Aku penasaran, apa saja yang mereka bicarakan di pesta piyama tadi. Rasanya aku sempat mendengar namaku sesekali dari balik dinding, tapi semoga itu cuma perasaanku saja….

 

Dengan kepala masih berkabut oleh kantuk, aku meneguk habis segelas air keran di dapur.

 

Air yang mudah diminum itu meresap lembut ke tubuhku yang masih setengah sadar.

 

"Eh, Nukumizu-kun masih bangun?"

 

Suara tiba-tiba datang dari ruang tamu yang gelap. Sosok yang duduk di sofa melambaikan tangan memanggilku.

 

"Cuma haus sedikit. Yanami-san sendiri masih bangun?"

 

"Entah kenapa aku jadi terjaga."

 

Saat aku mendekat, Yanami menepuk-nepuk bagian sofa di sebelahnya. Aku sempat berpikir sebentar, lalu duduk dengan jarak sekitar setengah.

 

"Entah kenapa, ini bikin ingat waktu itu ya."

 

Sambil berkata begitu, Yanami memeluk lutut kanannya.

 

──Waktu itu.

 

Malam saat Yakishio kabur dan kami semua pergi menjemputnya di pegunungan Shinjo.

 

Di bawah cahaya bulan yang masuk dari jendela atap, malam ketika Yanami tersenyum padaku.

 

"…Hampir setahun ya sejak saat itu."

 

Kenangan yang bahkan terasa nostalgia.

 

Sejak saat itu, banyak hal terjadi—bersama Yanami, Komari, dan banyak orang lainnya. Saat aku tenggelam dalam ingatan, Yanami membuka mulut dengan ragu-ragu.

 

"…Ngomong-ngomong, Nukumizu-kun, akhir-akhir ini kamu kelihatan dekat sama Basori-san ya."

 

"Ya… sedikit ngobrol sih."

 

Sudah berapa kali aku ditanya soal hubunganku dengan Tiara-san, ya.

 

Di dalam gelap, waktu berlalu dengan suasana saling menguji.

 

"Yanami-san, ada apa dengan Basori-san?"

 

Saat aku justru bertanya balik, Yanami menjawab dengan nada setengah menggantung, "Nggak ada apa-apa sih."

 

Di OSIS ada Shiratama-san, dan memang dia yang memberitahuku soal keadaan Yanami.

 

Tapi selain itu, sebenarnya tidak ada banyak hubungan antara OSIS dan klub sastra. Jadi alasan Tiara-san sering mendekatiku bukan sebagai ketua OSIS—melainkan…

 

"Nukumizu-kun—sebenarnya kamu memandang Basori-san itu gimana?"

 

Pertanyaan yang selangkah lebih jauh itu membuat napasku tertahan.

 

──Bagaimana perasaanku terhadap Tiara-san.

 

Itu memang masalah yang sedang kuhadapi sekarang. Meski mencoba mencari jawaban, rasanya tidak mudah.

 

"Kenapa kamu penasaran soal itu?"

 

Mendengar jawabanku yang terkesan menghindar, Yanami tampak ragu sejenak sebelum akhirnya bicara.

 

"…Kalau Nukumizu-kun memang berniat begitu, kan kami nggak boleh mengganggu."

 

Setelah mengatakannya, Yanami memeluk kedua lututnya dengan canggung.

 

"Mengganggu—"

 

"Makanya, kupikir lebih baik tahu dulu perasaanmu soal itu."

 

Wajah Yanami yang tertunduk tak bisa kulihat ekspresinya.

 

…Apa aku membuat Yanami-san jadi sungkan, ya?

 

Aku memang sedang bimbang soal pengakuan Tiara-san.

 

Mungkin kegundahan itu sampai terasa oleh orang-orang di sekitarku.

 

──Kalau aku menyukai Tiara-san, mereka tidak akan mengganggu.

 

Itulah yang Yanami katakan.

 

Tidak mengganggu berarti… ya, begitu maksudnya.

 

Aku menyingkirkan perasaan yang masih kusut dan berkata tegas.

 

"──Basori-san itu temanku."

 

Iya, teman. Tiara-san adalah temanku, dan Yanami juga temanku. Tapi aku dan Tiara-san tidak bisa selamanya berada di posisi seperti ini.

 

"Aku juga jadi dekat dengannya waktu pemilihan, terus dia juga sempat ngajak aku masuk OSIS."

 

"…Kamu mau masuk?"

 

Aku menggelengkan kepala.

 

"Nggak. Aku sudah punya klub sastra."

 

"Hm…"

 

Yanami tetap menunduk dan terdiam.

 

Di ruang tamu yang gelap, hanya suara napas kami berdua dan detik jam yang pelan terdengar.

 

"…Basori-san itu teman, ya."

 

Yang memecah keheningan panjang adalah Yanami.

 

Saat ia perlahan mengangkat wajahnya, ekspresi usil yang biasa itu kembali muncul.

 

"Eh, iya… memang."

 

"Dulu, cuma jadi temanku saja kamu sudah heboh setengah mati. Kamu berubah juga ya."

 

"Bukan, itu—"

 

Waktu itu, aku bahkan belum benar-benar paham apa arti ‘teman’.

 

Saat aku terdiam kehabisan kata, Yanami dengan wajah menyeringai menusuk-nusukku pelan.

 

"Itu apa? Maksudnya gimana?"

 

"Ya, maksudku, waktu itu aku masih muda… atau bisa dibilang kenakalan masa muda."

 

"Apa maksudnya itu?!"

 

"Bukan, maksudku—"

 

Entah sejak kapan, tusukan kecil itu berubah jadi tepukan keras.

 

Sambil menenangkan Yanami, aku menyadari bahwa di dalam hatiku muncul rasa lega yang samar.

 

 

Minggu pagi. Kaju meletakkan roti panggang spesial yang baru matang di tengah meja.

 

"Baik semuanya, silahkan dinikmati!"

 

Menu sarapan hari ini adalah telur dengan ham, salad, dan sup minestrone. Untuk pencuci mulut, ada potongan melon dan grapefruit.

 

"Baik, selamat makan!"

 

Pemilik suara yang begitu bersemangat itu tentu saja Yanami.

 

Ia mengoleskan selai aprikot buatan tangan dengan melimpah ke atas roti tawar yang baru dipotong. Saat aku menatap lahapnya dia makan, Yanami menatap balik.

 

"Ada apa? Kalau mau, aku kasih nih."

 

"Jangan tawarin yang sudah kamu gigit."

 

Sambil menaruh selai citrus oleh-oleh dari Yanami ke atas rotiku, aku menyeruput kopi panas.

 

Komari meneguk susu dengan lahap, sementara Yakishio—yang sudah selesai jogging pagi—menuangkan yogurt tawar ke atas buah-buahannya.

 

Shiratama-san yang sedang makan salad menutup mulutnya dengan ekspresi terkejut.

 

"Kaju-chan, lobak ini enak sekali. Buatan sendiri ya?"

 

"Iya, ibu yang menanamnya. Cocok di lidah?"

 

"Iya, enak banget. Sepertinya aku bisa akrab dengan ibu Kaju-chan."

 

"Ah, semoga saja ada kesempatan seperti itu."

 

Senyum lebar, senyum lebar, senyum lebar.

 

Setiap kali dua orang ini berbicara, mereka selalu tersenyum penuh seperti itu.

 

Entah kenapa terasa agak menyeramkan, jadi aku mengalihkan pandangan—dan malah bertemu dengan tatapan Komari.

 

"Ke-kenapa dari tadi kamu melotot gitu sih?"

 

"Ah… bisa tolong ambilin saus yang itu?"

 

Sambil menerima wadah saus, aku menatap orang-orang yang duduk mengelilingi meja.

 

Anggota klub, teman, junior—dan adik perempuan.

 

Dengan berbagai macam status, kami duduk mengelilingi meja makan yang sama.

 

Lima perempuan bercakap-cakap dengan ramai.

 

Dari sudut pandang masing-masing, orang-orang di sini kira-kira memakai "label" apa ya?

 

"Nukkun, nggak makan?"

 

Yakishio, temanku, bertanya dengan wajah heran.

 

Sepertinya aku melamun sambil memegang roti.

 

Tanpa berkata apa-apa, aku menggigit roti yang sudah kuolesi selai.

 

Rasa manis pahit menyebar memenuhi mulutku.


Previous Chapter | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close