Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Dasi dan Kentang Goreng
Aku
berada di sebuah toko burger di dekat Stasiun Toyohashi, tepat di samping Toko
Buku Seibunkan.
Yang
duduk mengelilingi meja yang sama denganku adalah Ayano Mitsuki dan Sakurai
Hiroto.
Ayano
mengangkat gelas kertas, lalu menatap wajahku dan Sakurai-kun.
"Kalau
begitu, sebagai perayaan kerja keras kita di pemilihan OSIS──bersulang!"
"Bersulang!"
Kami
saling membenturkan gelas kertas sambil berseru. Pertemuan misterius ini
digagas oleh Ayano, sebagai acara perayaan setelah pemilihan OSIS.
Entah
pantas atau tidak mantan lawan dan kawan berkumpul seperti ini, tapi sekarang
setelah Sakurai-kun masuk OSIS, sepertinya semuanya sudah dianggap selesai.
"Kalian
berdua sudah bekerja keras di pemilihan OSIS."
Entah
kenapa Ayano menjepit kentang goreng lalu menyodorkannya ke arahku.
Dengan
terpaksa aku memasukkannya ke dalam mulut, dan rasa asin serta minyak menyebar
di lidahku, tanpa bisa dicegah wajah Yanami langsung melintas di pikiranku.
Sakurai-kun
tersenyum kecut sambil memasukkan kentang ke mulutnya.
"Kali
ini kami benar-benar dikalahkan oleh Nukumizu-kun dan Basori-chan. Pidato
dukungan itu mustahil dilawan."
"Aku
merasa justru bagian punyaku malah diambil alih oleh Shikiya-senpai."
Tawa
kecil keluar dari Ayano dan Sakurai-kun.
"Yumeko-san
memang mengkhawatirkan Basori-chan. Aku tidak menyangka dia sampai melakukan
hal seperti itu."
Entah
kenapa Sakurai-kun juga menjepit kentang lalu menyodorkannya kepadaku, jadi aku
memasukkannya ke mulut.
Padahal
aku juga memesan kentang, kenapa dua orang ini terus menyuruhku makan dari
punya mereka.
Saat
percakapan sempat terputus, Ayano tiba-tiba berkata seperti ini.
"Ngomong-ngomong,
kenapa Yanami-san jadi penjamin Sakurai?"
...Memang
itu juga membuatku penasaran.
Sakurai-kun
melepaskan mulutnya dari sedotan dengan ekspresi sedikit bingung.
"Aku
juga tidak terlalu mengerti. Dia tiba-tiba bilang ingin membuat Nukumizu-kun
sadar, jadi ingin menjadi penjamin."
Padahal
kepadaku dia bilang ingin jadi wakil ketua supaya bisa mengatur anggaran sesuka
hati, tapi ternyata di depan Sakurai-kun dia berpura-pura polos. Mendengar itu,
kacamata Ayano berkilat.
"...Begitu
ya, seperti biasa Nukumizu memang tidak bisa diremehkan."
"Maksudmu
apa?"
"Ya
maksudnya begitu. Lagi pula, hubunganmu dengan Basori-san itu sebenarnya
apa?"
Kenapa
tiba-tiba membahas Tiara-san. Aku sempat waspada, tapi karena tadi kami sedang
membicarakan pemilihan OSIS, mungkin tidak ada maksud khusus. Aku berpura-pura
tenang sambil meraih kentang.
"Ya...
bisa dibilang teman. Cuma itu saja."
"Akhir-akhir
ini kalian sering jalan bareng di sekolah, kan. Jangan-jangan kalian
pacaran?"
...Orang
ini biasanya bebal, tapi soal beginian malah jeli.
Aku
minum cola seteguk sambil berusaha menyembunyikan kegugupan.
"Karena
anak kelas satu klub sastra masuk OSIS, aku cuma mendengar banyak hal darinya.
Soalnya OSIS tahun ini cuma beranggotakan tiga orang, jadi aku penasaran apakah
semuanya berjalan lancar."
Aku
mengalihkan pandangan seolah menutupinya, dan Sakurai-kun mengangguk pelan.
"Aku
dan Basori-chan sudah tahun kedua, dan Shiratama-san juga bekerja dengan baik.
Sejak dia datang, anggota bagian putra jadi sangat kooperatif."
Hee,
mungkin dia banyak membantu atau mengambil inisiatif... entah kenapa terasa
menakutkan....
Sakurai-kun
yang tadi bercerita tentang Shiratama-san tiba-tiba menatap jauh.
"...Tapi
akibatnya, keluhan dari para siswi justru menumpuk ke tempatku."
Sakurai-kun
memang tidak pernah lepas dari kesibukan. Saat aku mencoba menghiburnya sambil
menggali cerita, ternyata Shiratama-san juga akrab dengan Ai-san. Kedua orang
itu tampaknya tidak punya kesamaan, jadi cukup mengejutkan.
Saat
aku merasa sedikit lega, Sakurai-kun menatapku dengan pandangan bermakna.
"Tapi
akan sangat membantu kalau sebelum Festival Tsuwabuki ada satu anggota
lagi."
"Cari
di tempat lain saja."
Melihat
ekspresiku yang benar-benar menolak, Sakurai-kun tertawa seolah menyerah.
"Festival
Tsuwabuki tahun ini akan dijalankan terutama oleh panitia pelaksana, jadi
seharusnya masih bisa berjalan."
Festival
Tsuwabuki, ya. Tahun lalu Komari membuat seluruh isi pameran, tapi tahun ini
bagaimana ya.
Selain
Yakishio, akhir-akhir ini Komari berhenti menulis, Yanami cuma bisa makan,
Shiratama-san imut dan harum──
Saat
aku melamun, tiba-tiba ponsel Sakurai-kun berbunyi.
Setelah
melihat layar, Sakurai-kun berdiri sambil tersenyum kecut.
"Maaf,
tunggu sebentar ya."
Dia
pergi ke sudut ruangan sambil membawa ponselnya, lalu tampaknya menelepon
seseorang.
"Sudah
kubilang aku punya janji dengan teman──iya, aku mengerti. Sampai nanti."
Setelah
menutup telepon, Sakurai-kun kembali ke kursinya sambil menghela napas kecil.
"Maaf
ya, jadi berisik."
"Tidak
apa-apa, tapi jangan-jangan Hokobaru-senpai?"
"Ah...
bukan Hiba-nee, tapi pacarku. Aku sudah bilang kalau hari ini ada
rencana."
Hee,
pacar ya. Sampai menelepon meskipun pacarnya sedang ada urusan, lucu juga──
"Tunggu,
kamu punya pacar?!"
Aku
refleks meninggikan suara, dan Sakurai-kun menggaruk pipinya dengan canggung.
"Iya..."
"Koharu-san,
kan. Memangnya Nukumizu tidak tahu?"
Ayano
menggoyang es di dalam gelasnya sambil berkata seolah itu hal yang biasa.
Eh,
Ayano juga tahu? Cuma aku yang tidak tahu? Sedih juga rasanya.
"Aku
baru tahu...."
"Aku
tidak berniat menyembunyikannya. Kami beda sekolah, jadi tidak ada kesempatan
untuk membicarakannya."
"Hee...
sejak kapan kalian pacaran?"
"Sejak
SD, jadi mungkin lebih seperti hubungan yang sudah lama."
Apa?!
Pacaran sejak SD?
Aku
tertegun melihat perbedaan mencolok antara diriku yang dulu hanya berdebar
melihat ilustrasi light novel, tapi kemudian sebuah pikiran melintas.
──Ternyata
bukan Hokobaru-senpai.
Tentu
saja aku tahu mereka bukan dalam hubungan seperti itu. Namun, tidak diragukan
bahwa mereka saling menganggap satu sama lain istimewa.
Melihat
kami terdiam, Ayano membuka suara.
"Sakurai
selalu terdengar ragu kalau membahas pacarnya. Ada sesuatu?"
"Karena
hubungan kami sudah lama, justru tidak banyak yang bisa dibicarakan. Kami akur,
tapi──"
Sakurai-kun
mengalihkan pandangannya seolah mencari kata-kata.
"Pacaran
itu tidak selalu berisi hal-hal baik saja."
Mendengar
kata-kata itu, bahkan pria paling bebal pun terdiam.
"Maaf
ya, suasananya jadi aneh. Nanti kalau ada kesempatan, akan kuperkenalkan dia
kepada kalian."
"Ah,
aku juga minta maaf. Nanti kita coba triple date saja."
Ayano
berkata dengan nada merasa bersalah. Ngomong-ngomong, apakah aku harus ikut
sendirian nanti.
Tapi,
apakah wajar kalau siswa SMA punya pacar seperti itu...?
Aku
menggigit sedotan kertas yang mulai lembek, sambil tenggelam dalam pikiran.
────Pacar.
Cepat atau lambat, aku harus memberi jawaban pada pengakuan Tiara-san.
Yang
ingin menunda adalah Tiara-san. Meski begitu, aku juga tidak berpikir
membiarkannya seperti ini adalah hal yang baik, tapi untuk sekarang aku
memanfaatkan kata-katanya.
Tidak,
tunggu dulu. Kalau terus dibiarkan ambigu seperti ini, ada kemungkinan
Tiara-san justru akan menolakku lebih dulu.
Kalau
begitu, berarti aku yang akan diputuskan...?
Sambil
memikirkan hal sepele seperti itu, aku sekaligus memasukkan kentang goreng yang
sudah dingin ke dalam mulutku.



Post a Comment