NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 13


Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Dasi dan Kentang Goreng


 

Aku berada di sebuah toko burger di dekat Stasiun Toyohashi, tepat di samping Toko Buku Seibunkan.

 

Yang duduk mengelilingi meja yang sama denganku adalah Ayano Mitsuki dan Sakurai Hiroto.

 

Ayano mengangkat gelas kertas, lalu menatap wajahku dan Sakurai-kun.

 

"Kalau begitu, sebagai perayaan kerja keras kita di pemilihan OSIS──bersulang!"

 

"Bersulang!"

 

Kami saling membenturkan gelas kertas sambil berseru. Pertemuan misterius ini digagas oleh Ayano, sebagai acara perayaan setelah pemilihan OSIS.

 

Entah pantas atau tidak mantan lawan dan kawan berkumpul seperti ini, tapi sekarang setelah Sakurai-kun masuk OSIS, sepertinya semuanya sudah dianggap selesai.

 

"Kalian berdua sudah bekerja keras di pemilihan OSIS."

 

Entah kenapa Ayano menjepit kentang goreng lalu menyodorkannya ke arahku.

 

Dengan terpaksa aku memasukkannya ke dalam mulut, dan rasa asin serta minyak menyebar di lidahku, tanpa bisa dicegah wajah Yanami langsung melintas di pikiranku.

 

Sakurai-kun tersenyum kecut sambil memasukkan kentang ke mulutnya.

 

"Kali ini kami benar-benar dikalahkan oleh Nukumizu-kun dan Basori-chan. Pidato dukungan itu mustahil dilawan."

 

"Aku merasa justru bagian punyaku malah diambil alih oleh Shikiya-senpai."

 

Tawa kecil keluar dari Ayano dan Sakurai-kun.

 

"Yumeko-san memang mengkhawatirkan Basori-chan. Aku tidak menyangka dia sampai melakukan hal seperti itu."

 

Entah kenapa Sakurai-kun juga menjepit kentang lalu menyodorkannya kepadaku, jadi aku memasukkannya ke mulut.

 

Padahal aku juga memesan kentang, kenapa dua orang ini terus menyuruhku makan dari punya mereka.

 

Saat percakapan sempat terputus, Ayano tiba-tiba berkata seperti ini.

 

"Ngomong-ngomong, kenapa Yanami-san jadi penjamin Sakurai?"

 

...Memang itu juga membuatku penasaran.

 

Sakurai-kun melepaskan mulutnya dari sedotan dengan ekspresi sedikit bingung.

 

"Aku juga tidak terlalu mengerti. Dia tiba-tiba bilang ingin membuat Nukumizu-kun sadar, jadi ingin menjadi penjamin."

 

Padahal kepadaku dia bilang ingin jadi wakil ketua supaya bisa mengatur anggaran sesuka hati, tapi ternyata di depan Sakurai-kun dia berpura-pura polos. Mendengar itu, kacamata Ayano berkilat.

 

"...Begitu ya, seperti biasa Nukumizu memang tidak bisa diremehkan."

 

"Maksudmu apa?"

 

"Ya maksudnya begitu. Lagi pula, hubunganmu dengan Basori-san itu sebenarnya apa?"

 

Kenapa tiba-tiba membahas Tiara-san. Aku sempat waspada, tapi karena tadi kami sedang membicarakan pemilihan OSIS, mungkin tidak ada maksud khusus. Aku berpura-pura tenang sambil meraih kentang.

 

"Ya... bisa dibilang teman. Cuma itu saja."

 

"Akhir-akhir ini kalian sering jalan bareng di sekolah, kan. Jangan-jangan kalian pacaran?"

 

...Orang ini biasanya bebal, tapi soal beginian malah jeli.

 

Aku minum cola seteguk sambil berusaha menyembunyikan kegugupan.

 

"Karena anak kelas satu klub sastra masuk OSIS, aku cuma mendengar banyak hal darinya. Soalnya OSIS tahun ini cuma beranggotakan tiga orang, jadi aku penasaran apakah semuanya berjalan lancar."

 

Aku mengalihkan pandangan seolah menutupinya, dan Sakurai-kun mengangguk pelan.

 

"Aku dan Basori-chan sudah tahun kedua, dan Shiratama-san juga bekerja dengan baik. Sejak dia datang, anggota bagian putra jadi sangat kooperatif."

 

Hee, mungkin dia banyak membantu atau mengambil inisiatif... entah kenapa terasa menakutkan....

 

Sakurai-kun yang tadi bercerita tentang Shiratama-san tiba-tiba menatap jauh.

 

"...Tapi akibatnya, keluhan dari para siswi justru menumpuk ke tempatku."

 

Sakurai-kun memang tidak pernah lepas dari kesibukan. Saat aku mencoba menghiburnya sambil menggali cerita, ternyata Shiratama-san juga akrab dengan Ai-san. Kedua orang itu tampaknya tidak punya kesamaan, jadi cukup mengejutkan.

 

Saat aku merasa sedikit lega, Sakurai-kun menatapku dengan pandangan bermakna.

 

"Tapi akan sangat membantu kalau sebelum Festival Tsuwabuki ada satu anggota lagi."

 

"Cari di tempat lain saja."

 

Melihat ekspresiku yang benar-benar menolak, Sakurai-kun tertawa seolah menyerah.

 

"Festival Tsuwabuki tahun ini akan dijalankan terutama oleh panitia pelaksana, jadi seharusnya masih bisa berjalan."

 

Festival Tsuwabuki, ya. Tahun lalu Komari membuat seluruh isi pameran, tapi tahun ini bagaimana ya.

 

Selain Yakishio, akhir-akhir ini Komari berhenti menulis, Yanami cuma bisa makan, Shiratama-san imut dan harum──

 

Saat aku melamun, tiba-tiba ponsel Sakurai-kun berbunyi.

 

Setelah melihat layar, Sakurai-kun berdiri sambil tersenyum kecut.

 

"Maaf, tunggu sebentar ya."

 

Dia pergi ke sudut ruangan sambil membawa ponselnya, lalu tampaknya menelepon seseorang.

 

"Sudah kubilang aku punya janji dengan teman──iya, aku mengerti. Sampai nanti."

 

Setelah menutup telepon, Sakurai-kun kembali ke kursinya sambil menghela napas kecil.

 

"Maaf ya, jadi berisik."

 

"Tidak apa-apa, tapi jangan-jangan Hokobaru-senpai?"

 

"Ah... bukan Hiba-nee, tapi pacarku. Aku sudah bilang kalau hari ini ada rencana."

 

Hee, pacar ya. Sampai menelepon meskipun pacarnya sedang ada urusan, lucu juga──

 

"Tunggu, kamu punya pacar?!"

 

Aku refleks meninggikan suara, dan Sakurai-kun menggaruk pipinya dengan canggung.

 

"Iya..."

 

"Koharu-san, kan. Memangnya Nukumizu tidak tahu?"

 

Ayano menggoyang es di dalam gelasnya sambil berkata seolah itu hal yang biasa.

 

Eh, Ayano juga tahu? Cuma aku yang tidak tahu? Sedih juga rasanya.

 

"Aku baru tahu...."

 

"Aku tidak berniat menyembunyikannya. Kami beda sekolah, jadi tidak ada kesempatan untuk membicarakannya."

 

"Hee... sejak kapan kalian pacaran?"

 

"Sejak SD, jadi mungkin lebih seperti hubungan yang sudah lama."

 

Apa?! Pacaran sejak SD?

 

Aku tertegun melihat perbedaan mencolok antara diriku yang dulu hanya berdebar melihat ilustrasi light novel, tapi kemudian sebuah pikiran melintas.

 

──Ternyata bukan Hokobaru-senpai.

 

Tentu saja aku tahu mereka bukan dalam hubungan seperti itu. Namun, tidak diragukan bahwa mereka saling menganggap satu sama lain istimewa.

 

Melihat kami terdiam, Ayano membuka suara.

 

"Sakurai selalu terdengar ragu kalau membahas pacarnya. Ada sesuatu?"

 

"Karena hubungan kami sudah lama, justru tidak banyak yang bisa dibicarakan. Kami akur, tapi──"

 

Sakurai-kun mengalihkan pandangannya seolah mencari kata-kata.

 

"Pacaran itu tidak selalu berisi hal-hal baik saja."

 

Mendengar kata-kata itu, bahkan pria paling bebal pun terdiam.

 

"Maaf ya, suasananya jadi aneh. Nanti kalau ada kesempatan, akan kuperkenalkan dia kepada kalian."

 

"Ah, aku juga minta maaf. Nanti kita coba triple date saja."

 

Ayano berkata dengan nada merasa bersalah. Ngomong-ngomong, apakah aku harus ikut sendirian nanti.

 

Tapi, apakah wajar kalau siswa SMA punya pacar seperti itu...?

 

Aku menggigit sedotan kertas yang mulai lembek, sambil tenggelam dalam pikiran.

 

────Pacar. Cepat atau lambat, aku harus memberi jawaban pada pengakuan Tiara-san.

 

Yang ingin menunda adalah Tiara-san. Meski begitu, aku juga tidak berpikir membiarkannya seperti ini adalah hal yang baik, tapi untuk sekarang aku memanfaatkan kata-katanya.

 

Tidak, tunggu dulu. Kalau terus dibiarkan ambigu seperti ini, ada kemungkinan Tiara-san justru akan menolakku lebih dulu.

 

Kalau begitu, berarti aku yang akan diputuskan...?

 

Sambil memikirkan hal sepele seperti itu, aku sekaligus memasukkan kentang goreng yang sudah dingin ke dalam mulutku.



Previous Chapter | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close