Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Karen-sensei yang Berbahaya☆
"Sousuke,
selamat datang!"
Karen
membuka pintu depan bersamaan dengan suaranya yang ceria.
Hari
ini ia mengadakan sesi belajar menjelang ujian bersama pacarnya, Hakamada
Sousuke.
"Permisi.
Hari ini mohon bantuannya."
Sousuke
menurunkan tasnya yang terlihat berat ke lantai.
"Aku
juga mohon bantuannya. Tas itu──"
Tas
Boston berwarna hitam mengilap itu tampaknya penuh sesak dengan barang.
Glek.
Tenggorokan Karen bergerak.
"……Kau
membawa banyak sekali ya."
"Iya,
cuma buku pelajaran dan buku referensi yang kubutuhkan untuk belajar ujian,
tapi sudah jadi sebanyak ini."
Sousuke
melepas sepatu sambil tersenyum segar.
"Oh,
begitu ya."
"Hm?
Karen, ada apa?"
"Ti-tidak!
Ayo, cepat masuk!"
Benar,
hari ini adalah sesi belajar yang sehat dan serius. Tidak boleh lepas kendali
sebelum ujian.
Sambil
mengulang-ulang hal itu dalam hati, Karen masuk ke ruang tamu, dan angin sejuk
masuk dari jendela yang terbuka.
"Silakan
masuk."
"Makasih.
Rumah Karen memang di lantai paling atas, jadi sejuk ya."
Apartemen
tempat Himemiya Karen tinggal sendirian memiliki sembilan lantai. Di depannya
ada taman yang dipisahkan jalan, dan SMA Tsubaki juga bisa ditempuh dengan
berjalan kaki.
Saat
Sousuke melihat ke luar, Karen berdiri di sampingnya dengan jarak bahu hampir
bersentuhan.
"Hari
ini agak panas ya. Kamu boleh pakai shower kok, kalau mau."
"Maaf,
aku bau keringat ya?"
"Eh?
Aku tidak keberatan sih──"
Sousuke
mengeluarkan tisu basah penghapus keringat dari tasnya lalu mulai menyeka
tubuhnya.
Melihat
itu, Karen menatapnya dengan perasaan campur aduk… lalu Sousuke membalas
tatapannya dengan bingung.
"Ada
apa? Kenapa menatap terus?"
"Tidak!
Aku ambilkan teh dulu ya."
Sambil
berlari ke kulkas, Karen menempelkan tangan ke dadanya dan menarik napas
dalam-dalam.
Benar,
hari ini murni sesi belajar. Sama sekali tidak boleh lepas kendali──
◇
"Ya,
benar."
Karen
mengusap kepala Sousuke sambil menulis catatan di buku referensi dengan tangan
satunya.
"Karena
bagian awalnya mengacu pada kata temptation, berarti Lilith yang mengundangnya
masuk ke rumah."
"Begitu
ya. Cara mengajar Karen-sensei memang mudah dipahami."
Saat
Sousuke berkata setengah bercanda, Karen mencolek pipinya.
"Mungkin
karena muridnya pintar. Mau kuberi hadiah?"
"Kalau
begitu, boleh pinjam lanjutan novel asli yang kupinjam waktu itu?"
"Sudah
kamu baca ya?"
Karen
tampak terkejut, sementara Sousuke menggaruk hidung dengan malu.
"Ada
bagian yang tidak kumengerti sih, tapi untuk sementara aku ingin memperbanyak
bacaan. Dialognya, orang luar negeri benar-benar bicara seperti itu ya?"
"Hmm,
tergantung tempat dan zamannya, cara bicaranya bisa berubah. Misalnya bagian
ini──"
Karen
menunjuk buku referensi.
"Kalau
aku mungkin pakai kata seduce. Perbedaannya cuma nuansa kecil sih."
Sesi
belajar berdua itu berjalan lancar.
Ketika
jam menunjukkan pukul 16.00, Karen meregangkan tubuh sambil membusungkan
dadanya.
Sousuke
tampaknya masih fokus belajar. Ia menatap buku referensi dan catatan dengan
wajah serius.
"Sousuke,
haus nggak? Mau kubuatkan teh?"
"Masih
ada ini, jadi tidak apa-apa."
Sousuke
menggoyangkan botol teh plastiknya, tapi Karen tetap berdiri.
"Aku
ingin minum yang hangat. Aku buatkan teh ya."
Saat
berdiri di dapur, Karen mengenakan celemek lucu berwarna merah muda.
"Padahal
cuma bikin teh, sampai pakai celemek."
"Soalnya
Sousuke suka celemek, kan?"
Mungkin
mengira itu lelucon, Sousuke tertawa senang.
"Apa
maksudnya itu? Aku memang punya citra seperti itu ya?"
"Soalnya
setiap kau melihatku di dapur, kau selalu menggodaku."
Sambil
berkata begitu, Karen mulai menyiapkan teh. Saat menuangkan air ke ketel dan
melirik, Sousuke tetap fokus belajar.
"Sousuke,
aku pakai air panas, jadi jangan menggodaku ya."
"Iya,
aku tahu."
Tanpa
mengangkat wajah, Sousuke terus belajar. Ia benar-benar tenggelam dalam
pelajaran.
"Tidak
boleh yaa."
"…………"
Sousuke
membalik halaman kamus Inggris-Jepang tanpa berkata apa-apa. Tidak terlihat
tanda konsentrasinya terputus.
Benar,
ini akhir pekan penting sebelum ujian semester. Tidak ada waktu untuk
bermain-main. Karen menenangkan diri dan menyeduh teh, lalu meletakkan cangkir
di depan Sousuke.
"Nih,
hati-hati panas ya."
"Makasih.
Kamu juga membuatkan untukku ya."
Karen
tanpa sadar menatap bibir Sousuke saat ia minum teh, lalu tersentak dan menepuk
kedua pipinya sendiri.
"Baik!
Hari ini kita belajar untuk ujian, ya!"
Deklarasi
yang agak terlambat itu membuat Sousuke membelalakkan mata.
"Tentu
saja. Karen, ada apa hari ini?"
"Tidak,
tidak apa-apa kok. Baiklah, ayo kita bereskan sedikit!"
"I-iya."
Sousuke
kembali belajar dengan kebingungan.
Melihat
itu, Karen meneguhkan tekadnya. Sebagai pacar, ia harus bersikap dengan cara
yang tidak memalukan bagi Sousuke.
Pertama-tama,
ia harus menyingkirkan pikiran liar dan fokus belajar.
Saat
meminum seteguk teh dengan semangat baru, ia menyadari ada notifikasi di
ponselnya.
Ternyata
pesan dari Yanami.
──Besok,
mau belajar untuk ujian bareng?
Undangan
dari sahabatnya membuat Karen tersenyum.
──Besok
aku bisa dari pagi
Karen
hampir menekan tombol kirim, tapi berhenti tepat sebelum itu dan melirik
Sousuke.
……Sousuke
sedang menatap buku referensi dengan wajah serius. Jakun yang bergerak pelan.
Lengan berotot yang membalik halaman kamus──
"……Sousuke,
hari ini kau mau makan malam di sini?"
Sousuke
mengangkat wajah dengan terkejut mendengar tawaran mendadak itu.
"Tidak
apa-apa kah? Karen juga sibuk, kan."
"Ada
bahan makanan, dan kupikir bisa jadi penyegaran."
"Makasih.
Aku kabari rumah kalau tidak perlu makan malam."
"Iya,
mungkin akan agak larut juga. Kalau begitu, kita lanjut belajar yang
semangat!"
Karen
mengepalkan kedua tangannya, membangkitkan semangat lagi.
Sousuke
menatapnya dengan senyum hangat.
"Karen,
semangatmu tinggi sekali ya."
"Iya,
hari ini aku agak termotivasi."
Karen
tersenyum seperti bunga, lalu menulis ulang balasan untuk Yanami.
──Besok
aku bisa kalau mulai siang



Post a Comment