NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 12


Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Karen-sensei yang Berbahaya☆


 

"Sousuke, selamat datang!"

 

Karen membuka pintu depan bersamaan dengan suaranya yang ceria.

 

Hari ini ia mengadakan sesi belajar menjelang ujian bersama pacarnya, Hakamada Sousuke.

 

"Permisi. Hari ini mohon bantuannya."

 

Sousuke menurunkan tasnya yang terlihat berat ke lantai.

 

"Aku juga mohon bantuannya. Tas itu──"

 

Tas Boston berwarna hitam mengilap itu tampaknya penuh sesak dengan barang.

 

Glek. Tenggorokan Karen bergerak.

 

"……Kau membawa banyak sekali ya."

 

"Iya, cuma buku pelajaran dan buku referensi yang kubutuhkan untuk belajar ujian, tapi sudah jadi sebanyak ini."

 

Sousuke melepas sepatu sambil tersenyum segar.

 

"Oh, begitu ya."

 

"Hm? Karen, ada apa?"

 

"Ti-tidak! Ayo, cepat masuk!"

 

Benar, hari ini adalah sesi belajar yang sehat dan serius. Tidak boleh lepas kendali sebelum ujian.

 

Sambil mengulang-ulang hal itu dalam hati, Karen masuk ke ruang tamu, dan angin sejuk masuk dari jendela yang terbuka.

 

"Silakan masuk."

 

"Makasih. Rumah Karen memang di lantai paling atas, jadi sejuk ya."

 

Apartemen tempat Himemiya Karen tinggal sendirian memiliki sembilan lantai. Di depannya ada taman yang dipisahkan jalan, dan SMA Tsubaki juga bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

 

Saat Sousuke melihat ke luar, Karen berdiri di sampingnya dengan jarak bahu hampir bersentuhan.

 

"Hari ini agak panas ya. Kamu boleh pakai shower kok, kalau mau."

 

"Maaf, aku bau keringat ya?"

 

"Eh? Aku tidak keberatan sih──"

 

Sousuke mengeluarkan tisu basah penghapus keringat dari tasnya lalu mulai menyeka tubuhnya.

 

Melihat itu, Karen menatapnya dengan perasaan campur aduk… lalu Sousuke membalas tatapannya dengan bingung.

 

"Ada apa? Kenapa menatap terus?"

 

"Tidak! Aku ambilkan teh dulu ya."

 

Sambil berlari ke kulkas, Karen menempelkan tangan ke dadanya dan menarik napas dalam-dalam.

 

Benar, hari ini murni sesi belajar. Sama sekali tidak boleh lepas kendali──

 

 

"Ya, benar."

 

Karen mengusap kepala Sousuke sambil menulis catatan di buku referensi dengan tangan satunya.

 

"Karena bagian awalnya mengacu pada kata temptation, berarti Lilith yang mengundangnya masuk ke rumah."

 

"Begitu ya. Cara mengajar Karen-sensei memang mudah dipahami."

 

Saat Sousuke berkata setengah bercanda, Karen mencolek pipinya.

 

"Mungkin karena muridnya pintar. Mau kuberi hadiah?"

 

"Kalau begitu, boleh pinjam lanjutan novel asli yang kupinjam waktu itu?"

 

"Sudah kamu baca ya?"

 

Karen tampak terkejut, sementara Sousuke menggaruk hidung dengan malu.

 

"Ada bagian yang tidak kumengerti sih, tapi untuk sementara aku ingin memperbanyak bacaan. Dialognya, orang luar negeri benar-benar bicara seperti itu ya?"

 

"Hmm, tergantung tempat dan zamannya, cara bicaranya bisa berubah. Misalnya bagian ini──"

 

Karen menunjuk buku referensi.

 

"Kalau aku mungkin pakai kata seduce. Perbedaannya cuma nuansa kecil sih."

 

Sesi belajar berdua itu berjalan lancar.

 

Ketika jam menunjukkan pukul 16.00, Karen meregangkan tubuh sambil membusungkan dadanya.

 

Sousuke tampaknya masih fokus belajar. Ia menatap buku referensi dan catatan dengan wajah serius.

 

"Sousuke, haus nggak? Mau kubuatkan teh?"

 

"Masih ada ini, jadi tidak apa-apa."

 

Sousuke menggoyangkan botol teh plastiknya, tapi Karen tetap berdiri.

 

"Aku ingin minum yang hangat. Aku buatkan teh ya."

 

Saat berdiri di dapur, Karen mengenakan celemek lucu berwarna merah muda.

 

"Padahal cuma bikin teh, sampai pakai celemek."

 

"Soalnya Sousuke suka celemek, kan?"

 

Mungkin mengira itu lelucon, Sousuke tertawa senang.

 

"Apa maksudnya itu? Aku memang punya citra seperti itu ya?"

 

"Soalnya setiap kau melihatku di dapur, kau selalu menggodaku."

 

Sambil berkata begitu, Karen mulai menyiapkan teh. Saat menuangkan air ke ketel dan melirik, Sousuke tetap fokus belajar.

 

"Sousuke, aku pakai air panas, jadi jangan menggodaku ya."

 

"Iya, aku tahu."

 

Tanpa mengangkat wajah, Sousuke terus belajar. Ia benar-benar tenggelam dalam pelajaran.

 

"Tidak boleh yaa."

 

"…………"

 

Sousuke membalik halaman kamus Inggris-Jepang tanpa berkata apa-apa. Tidak terlihat tanda konsentrasinya terputus.

 

Benar, ini akhir pekan penting sebelum ujian semester. Tidak ada waktu untuk bermain-main. Karen menenangkan diri dan menyeduh teh, lalu meletakkan cangkir di depan Sousuke.

 

"Nih, hati-hati panas ya."

 

"Makasih. Kamu juga membuatkan untukku ya."

 

Karen tanpa sadar menatap bibir Sousuke saat ia minum teh, lalu tersentak dan menepuk kedua pipinya sendiri.

 

"Baik! Hari ini kita belajar untuk ujian, ya!"

 

Deklarasi yang agak terlambat itu membuat Sousuke membelalakkan mata.

 

"Tentu saja. Karen, ada apa hari ini?"

 

"Tidak, tidak apa-apa kok. Baiklah, ayo kita bereskan sedikit!"

 

"I-iya."

 

Sousuke kembali belajar dengan kebingungan.

 

Melihat itu, Karen meneguhkan tekadnya. Sebagai pacar, ia harus bersikap dengan cara yang tidak memalukan bagi Sousuke.

 

Pertama-tama, ia harus menyingkirkan pikiran liar dan fokus belajar.

 

Saat meminum seteguk teh dengan semangat baru, ia menyadari ada notifikasi di ponselnya.

 

Ternyata pesan dari Yanami.

 

──Besok, mau belajar untuk ujian bareng?

 

Undangan dari sahabatnya membuat Karen tersenyum.

 

──Besok aku bisa dari pagi

 

Karen hampir menekan tombol kirim, tapi berhenti tepat sebelum itu dan melirik Sousuke.

 

……Sousuke sedang menatap buku referensi dengan wajah serius. Jakun yang bergerak pelan. Lengan berotot yang membalik halaman kamus──

 

"……Sousuke, hari ini kau mau makan malam di sini?"

 

Sousuke mengangkat wajah dengan terkejut mendengar tawaran mendadak itu.

 

"Tidak apa-apa kah? Karen juga sibuk, kan."

 

"Ada bahan makanan, dan kupikir bisa jadi penyegaran."

 

"Makasih. Aku kabari rumah kalau tidak perlu makan malam."

 

"Iya, mungkin akan agak larut juga. Kalau begitu, kita lanjut belajar yang semangat!"

 

Karen mengepalkan kedua tangannya, membangkitkan semangat lagi.

 

Sousuke menatapnya dengan senyum hangat.

 

"Karen, semangatmu tinggi sekali ya."

 

"Iya, hari ini aku agak termotivasi."

 

Karen tersenyum seperti bunga, lalu menulis ulang balasan untuk Yanami.

 

──Besok aku bisa kalau mulai siang




Previous Chapter | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close