NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 2

Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty

Yanami – Jelajah Kuliner Ramen


 Sebuah kedai ramen bernama Kadowara, terletak tidak jauh dari Taman Toyohashi.

 

Dari luar, tampilannya yang bergaya terlihat seperti kafe, dengan tirai noren putih yang berkibar tertiup angin.

 

Saat jam makan siang puncak telah lewat, dua perempuan muda duduk di kursi konter.

 

Melihat mereka mengenakan seragam yang berbeda, kemungkinan mereka berasal dari sekolah yang berbeda.

 

Sambil menerima handuk basah, keduanya memesan dengan sikap yang sudah terbiasa.

 

"Yanamin, ngomong-ngomong, sudah lama ya kita tidak ke sini?"

 

Yang menggosok wajahnya dengan handuk basah adalah wakil ketua klub drama SMA Kirinoki, Niina Sanae.

 

Ia adalah teman Yanami Anna sejak SMP sekaligus rekan berburu kuliner.

 

"Banyak hal terjadi, dengar ya, Niina."

 

Yanami menaruh gelas kosongnya dengan bunyi don di atas konter.

 

"Aku sudah dengar kok. Pasti lagi soal si Nukumizu yang hambar itu, kan?"

 

Entah sudah berapa kali ia mendengar cerita itu. Niina menahan keinginan untuk mengatakan cepat jadian saja, lalu meraih bumbu di atas meja.

 

"Tidak, tidak. Kali ini bukan karena dendam pribadiku. Justru Nukumizu-kun sendiri yang mengajakku makan ramen bareng."

 

Gerakan Niina yang sedang melihat bahan-bahan bumbu sempat berhenti sejenak.

 

"Oho, akhirnya dia mengajakmu kencan?"

 

"Bukan kencan atau semacamnya. Lebih seperti ucapan terima kasih… atau karena situasi saja? Pokoknya aku diajak."

 

Yanami memutar rambutnya di ujung jari.

 

"…Yah, aku juga tidak tahu sih dia sebenarnya berpikir apa."

 

"Jangan-jangan aku sedang mendengar cerita pamer kebahagiaan? Hari ini kau yang traktir ya."

 

Niina memainkan botol tabasco dengan ujung jarinya.

 

"Ceritanya belum selesai. Jadi begini, dia yang mengajak, tapi Nukumizu-kun sama sekali tidak menyinggung lagi soal itu. Dia bilang akan pergi setelah urusan kali ini selesai── tapi sudah lebih dari sebulan berlalu, tahu?!"

 

Yanami meneguk habis gelas air keduanya, lalu melanjutkan.

 

"Makanya aku juga berusaha memberi isyarat, seperti memperlihatkan artikel ramen di majalah. Aku bahkan bilang tertarik dengan ramen di tempat ini, tapi kenapa tidak mengarah ke pembicaraan seperti ‘kalau begitu lain kali kita coba ke sana’? Memangnya Nukumizu-kun seberapa tidak tertariknya dia padaku?!"

 

"Oho, jadi Yanamin ingin si Nukumizu yang hambar itu tertarik padamu."

 

"Aku tidak bilang begitu!”




 Setelah mengatakan semua itu dan merasa sedikit tenang, Yanami menuangkan air ke dalam gelasnya.

 

"…Yah, Nukumizu-kun memang punya sisi seperti itu, jadi mau bagaimana lagi. Tapi aku juga ingin dia memikirkan betapa repotnya aku yang selalu mengurusnya."

 

"Oho, si Nukumizu yang hangat-hangat itu ternyata pria yang penuh dosa, ya."

 

"Bukan seperti itu, tahu?"

 

Saat itu, seorang pelayan wanita yang ceria meletakkan piring di depan mereka berdua.

 

"Dua porsi karaage, sudah ditunggu!"

 

Seketika, ekspresi Yanami berubah seperti seorang prajurit.

 

"Niina, kita mulai."

 

"Oke, siap."

 

Mereka mengambil sumpit dan menyatukan tangan di depan wajah, seperti doa untuk nyawa yang telah mereka rampas.

 

Karaage di restoran ini terkenal dengan teksturnya yang renyah dan kelezatan dagingnya.

 

Gaya Yanami adalah mencicipi satu gigitan terlebih dahulu tanpa saus apa pun.

 

Pada saat itu, yang melintas di otaknya adalah kelezatan yang terasa nyaris seperti serangan brutal. Ujung bibirnya yang berkilau oleh minyak tanpa sadar terangkat.

 

Setelah menikmati sepenuhnya kelezatan kulit dan dagingnya, ia mencelupkannya ke bumbu spesial di sudut piring, lalu menggigitnya lagi.

 

Aroma yang menyebar di hidung dan perpaduan rasa gurih membuatnya hampir kehilangan kesadaran sejenak.

 

Menahan godaan untuk menyerahkan dirinya pada kenikmatan itu, Yanami meraih bumbu lain.

 

"…Yanamin, sudah lanjut ke tahap berikutnya?"

 

Niina bertanya dengan ekspresi penuh kenikmatan.

 

Yanami mengangguk tanpa berkata apa-apa, lalu menaburkan isi botol kecil ke karaage kedua.

 

Pada label botol itu tertulis "Lemosco".

 

Lemosco──bumbu berbahan dasar perasan lemon yang dicampur cuka dan cabai.

 

Kulit karaage yang tipis namun kenyal berpadu dengan keasaman Lemosco, menarik kesadaran Yanami yang hampir tenggelam kembali ke dunia nyata.

 

Yanami menelan potongan ayam itu, lalu meletakkan sumpit dengan bunyi pachiri di piring. Karaage-nya sudah habis.

 

Sambil menghela napas puas, Niina di sampingnya mengambil botol kecil bertuliskan "Yuzusco".

 

"Ah, aku lupa mencoba yang itu."

 

"Eits, tidak kubagi."

 

Niina menjauhkan piringnya dari Yanami, lalu menaburkan isi botol itu ke karaage.

 

Tanpa memedulikan tatapan Yanami, ia menghabiskannya, lalu meletakkan sumpitnya dengan bunyi pachin.

 

"Ah, tadi kita ngomongin apa ya? Jadi si Nukumizu tidak mengajakmu kencan, lalu Yanamin jadi bad mood, begitu ya?"

 

"Tidak, aku sudah diajak, tahu. Walaupun bukan kencan."

 

Niina menyeringai melihat Yanami yang tersinggung, lalu tiba-tiba menunjukkan ekspresi serius.

 

"Tapi tetap saja, aku senang akhir-akhir ini kau terlihat lebih ceria."

 

Yanami yang hendak tersenyum pahit langsung menyerah dan melunakkan ekspresinya.

 

"…Maaf sudah membuatmu khawatir waktu itu."

 

"Aku benar-benar khawatir saat kau sampai tidak memesan porsi besar ataupun tambahan mie."

 

──Waktu itu aku sedang diet.

 

Yanami hampir mengatakannya, tapi hanya tersenyum. Wanita yang anggun tidak mengatakan segalanya.

 

"Kalau begitu, ini semua juga berkat si Nukumizu, ya."

 

"Ah, mungkin juga."

 

Melihat reaksi Yanami, Niina terlihat sedikit terkejut.

 

"Oh, jujur sekali."

 

"Nukumizu-kun itu, bagaimanapun juga, orang yang harus kuurus, kan? Rasanya aku tidak punya waktu untuk terpuruk, atau lebih tepatnya… ada orang yang lebih merepotkan dariku."

 

"Ooh… oh… ooh?"

 

Kalau terus berkata seperti itu, nanti lagi──

 

Saat Niina sedang menahan kata-kata yang hampir keluar, seorang pria berpenampilan elegan dengan topi hitam──pemilik restoran, meletakkan mangkuk ramen di konter.

 

"Ramen daging asin porsi besar dan ramen tomat porsi besar dengan topping keju, silakan."

 

"…"

 

"Dua porsi nasi kecil, permisi!"

 

"…………!"

 

Serangan tambahan dari pelayan wanita membuat mereka berdua langsung masuk ke mode pertempuran.

 

Dengan cepat mereka mengikat rambut ke belakang, lalu menyatukan tangan secara bersamaan.

 

──Mulai dari sini, kata-kata sudah tidak diperlukan.

 

Di depan Yanami terdapat ramen daging asin. Sup beningnya berisi lobak dan tulang rawan babi yang dimasak lama.

 

Yanami menahan keinginan yang menggebu, lalu menyendok sup dengan sendok.

 

──Kelezatan yang menenangkan. Gumaman tanpa kata keluar dari mulutnya.

 

Rasa kaldu dan kekentalan kolagen menyelimuti lidah, memenuhi tenggorokan dengan kenikmatan.

 

Tidak terasa berat, tetapi juga tidak membuat remaja 16 tahun yang sedang tumbuh merasa kurang puas.

 

──Aku sedang dipermainkan. Ia menyadarinya, namun tidak merasa tidak nyaman.

 

Ia ingin meneguk habis supnya sekaligus, tetapi menahan dorongan itu dan mulai menyedot mie.

 

Mie tipis yang terbalut sup meluncur turun ke tenggorokan sekaligus. Kebahagiaan.

 

…Tidak. Masih terlalu cepat untuk tenggelam sepenuhnya.

 

Yanami memasukkan potongan lobak berbentuk dadu ke mulutnya. Lobak yang meresap bumbu memancarkan sari kelezatan di dalam mulut.

 

Saat potongan daging babi masuk menyusul, serangan rasa sepenuhnya menguasai otaknya.

 

…………Ia telah tenggelam.

 

Ia tidak punya pilihan selain mengakuinya.

 

Ia hanya terus mengambil mie, menyedotnya, lalu mengunyah lobak dan daging.

 

Mengulanginya tanpa henti hingga akhirnya ujung sumpitnya menyentuh dasar mangkuk. Ia telah menghabiskannya.

 

"…Yanamin, sudah selesai?"

 

Yanami tersenyum kepada rekan seperjuangannya yang sedang menyedot ramen tomat dengan keringat di dahinya, lalu mengangkat tangannya.

 

"──Tambahan potong balik, tolong."

 

Potong balik. Salah satu variasi tambahan mie andalan restoran ini. Selain mie, tambahan ini berisi saus dan topping tantanmen.

 

Artinya, dengan menambahkan potong balik, ramen asin akan berubah menjadi ramen tantan asin. Bagi Yanami yang telah berubah menjadi malaikat jatuh, menghabiskan mangkuk kedua bukanlah hal sulit.

 

Ia segera menghabiskan mie potong balik, lalu memasukkan nasi kecil yang ia sisakan ke dalam sisa sup.

 

Setelah menghabiskan semua yang bisa dimakan di mangkuk, Yanami menghela napas panjang.

 

…Kemenangan sempurna.

 

Ia telah mengerahkan segalanya dan melahap semuanya.

 

Saat menikmati rasa lelah yang membahagiakan, pandangannya menangkap rekannya di samping yang sedang melakukan sesuatu.

 

Niina menuangkan sup ramen tomat ke nasi kecil, lalu menambahkan topping keju dengan hati-hati.

 

Melihat semesta kecil yang tercipta di dalam mangkuk itu, tenggorokan Yanami menelan ludah.

 

"…Kelihatannya enak."

 

"Tidak kubagi."

 

"Hei, kapan aku pernah menginginkan makanan orang lain?"

 

"Cukup sering, tahu?"

 

Niina berkata tegas, lalu dengan cepat menghabiskan isi mangkuk dan menyedot mie.

 

Sepertinya ia sudah terbiasa. Sambil menjauhkan mangkuk dari Yanami, ia terus makan tanpa mempedulikan tatapannya.

 

Beberapa menit setelah Yanami, Niina juga menghabiskan makanannya dan menyatukan tangan.

 

"Terima kasih atas makanannya."

 

"…Terima kasih atas makanannya."

 

Yanami yang jelas masih belum puas juga menyatukan tangan dengan sedikit rasa enggan.

 

Setelah mengelap mulut dengan saputangan, Niina berdiri dan menatap Yanami dengan tatapan menantang.

 

"Yanamin, kau masih sanggup, kan?"

 

"…Menurutmu aku siapa?"

 

Yanami berdiri perlahan dengan butiran nasi masih menempel di pipinya.

 

"Ngomong-ngomong, ada kupon diskon dari Marugen Ramen. Bagaimana, Yanamin?"

 

"…Aku pesan nikusoba dan nasi goreng telur di atas hot plate."

 

Seolah tidak perlu ditanya lagi, Yanami langsung menjawab.

 

"Porsi besar, tidak apa-apa?"

 

"Tentu saja──porsi besar."

 

Suatu siang akhir pekan.

 

Perjalanan kuliner Yanami Anna dan Niina Sanae baru saja dimulai.




Previous Chapter | Next Chapter

0

Post a Comment

close