Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Yanami – Jelajah Kuliner Ramen
Sebuah kedai ramen bernama Kadowara, terletak tidak jauh dari Taman Toyohashi.
Dari
luar, tampilannya yang bergaya terlihat seperti kafe, dengan tirai noren putih
yang berkibar tertiup angin.
Saat
jam makan siang puncak telah lewat, dua perempuan muda duduk di kursi konter.
Melihat
mereka mengenakan seragam yang berbeda, kemungkinan mereka berasal dari sekolah
yang berbeda.
Sambil
menerima handuk basah, keduanya memesan dengan sikap yang sudah terbiasa.
"Yanamin,
ngomong-ngomong, sudah lama ya kita tidak ke sini?"
Yang
menggosok wajahnya dengan handuk basah adalah wakil ketua klub drama SMA
Kirinoki, Niina Sanae.
Ia
adalah teman Yanami Anna sejak SMP sekaligus rekan berburu kuliner.
"Banyak
hal terjadi, dengar ya, Niina."
Yanami
menaruh gelas kosongnya dengan bunyi don di atas konter.
"Aku
sudah dengar kok. Pasti lagi soal si Nukumizu yang hambar itu, kan?"
Entah
sudah berapa kali ia mendengar cerita itu. Niina menahan keinginan untuk
mengatakan cepat jadian saja, lalu meraih bumbu di atas meja.
"Tidak,
tidak. Kali ini bukan karena dendam pribadiku. Justru Nukumizu-kun sendiri yang
mengajakku makan ramen bareng."
Gerakan
Niina yang sedang melihat bahan-bahan bumbu sempat berhenti sejenak.
"Oho,
akhirnya dia mengajakmu kencan?"
"Bukan
kencan atau semacamnya. Lebih seperti ucapan terima kasih… atau karena situasi
saja? Pokoknya aku diajak."
Yanami
memutar rambutnya di ujung jari.
"…Yah,
aku juga tidak tahu sih dia sebenarnya berpikir apa."
"Jangan-jangan
aku sedang mendengar cerita pamer kebahagiaan? Hari ini kau yang traktir
ya."
Niina
memainkan botol tabasco dengan ujung jarinya.
"Ceritanya
belum selesai. Jadi begini, dia yang mengajak, tapi Nukumizu-kun sama sekali
tidak menyinggung lagi soal itu. Dia bilang akan pergi setelah urusan kali ini
selesai── tapi sudah lebih dari sebulan berlalu, tahu?!"
Yanami
meneguk habis gelas air keduanya, lalu melanjutkan.
"Makanya
aku juga berusaha memberi isyarat, seperti memperlihatkan artikel ramen di
majalah. Aku bahkan bilang tertarik dengan ramen di tempat ini, tapi kenapa
tidak mengarah ke pembicaraan seperti ‘kalau begitu lain kali kita coba ke
sana’? Memangnya Nukumizu-kun seberapa tidak tertariknya dia padaku?!"
"Oho,
jadi Yanamin ingin si Nukumizu yang hambar itu tertarik padamu."
"Aku
tidak bilang begitu!”
Setelah mengatakan semua itu dan merasa sedikit tenang, Yanami menuangkan air ke dalam gelasnya.
"…Yah,
Nukumizu-kun memang punya sisi seperti itu, jadi mau bagaimana lagi. Tapi aku
juga ingin dia memikirkan betapa repotnya aku yang selalu mengurusnya."
"Oho,
si Nukumizu yang hangat-hangat itu ternyata pria yang penuh dosa, ya."
"Bukan
seperti itu, tahu?"
Saat
itu, seorang pelayan wanita yang ceria meletakkan piring di depan mereka
berdua.
"Dua
porsi karaage, sudah ditunggu!"
Seketika,
ekspresi Yanami berubah seperti seorang prajurit.
"Niina,
kita mulai."
"Oke,
siap."
Mereka
mengambil sumpit dan menyatukan tangan di depan wajah, seperti doa untuk nyawa
yang telah mereka rampas.
Karaage
di restoran ini terkenal dengan teksturnya yang renyah dan kelezatan dagingnya.
Gaya
Yanami adalah mencicipi satu gigitan terlebih dahulu tanpa saus apa pun.
Pada
saat itu, yang melintas di otaknya adalah kelezatan yang terasa nyaris seperti
serangan brutal. Ujung bibirnya yang berkilau oleh minyak tanpa sadar
terangkat.
Setelah
menikmati sepenuhnya kelezatan kulit dan dagingnya, ia mencelupkannya ke bumbu
spesial di sudut piring, lalu menggigitnya lagi.
Aroma
yang menyebar di hidung dan perpaduan rasa gurih membuatnya hampir kehilangan
kesadaran sejenak.
Menahan
godaan untuk menyerahkan dirinya pada kenikmatan itu, Yanami meraih bumbu lain.
"…Yanamin,
sudah lanjut ke tahap berikutnya?"
Niina
bertanya dengan ekspresi penuh kenikmatan.
Yanami
mengangguk tanpa berkata apa-apa, lalu menaburkan isi botol kecil ke karaage
kedua.
Pada
label botol itu tertulis "Lemosco".
Lemosco──bumbu
berbahan dasar perasan lemon yang dicampur cuka dan cabai.
Kulit
karaage yang tipis namun kenyal berpadu dengan keasaman Lemosco, menarik
kesadaran Yanami yang hampir tenggelam kembali ke dunia nyata.
Yanami
menelan potongan ayam itu, lalu meletakkan sumpit dengan bunyi pachiri di
piring. Karaage-nya sudah habis.
Sambil
menghela napas puas, Niina di sampingnya mengambil botol kecil bertuliskan
"Yuzusco".
"Ah,
aku lupa mencoba yang itu."
"Eits,
tidak kubagi."
Niina
menjauhkan piringnya dari Yanami, lalu menaburkan isi botol itu ke karaage.
Tanpa
memedulikan tatapan Yanami, ia menghabiskannya, lalu meletakkan sumpitnya
dengan bunyi pachin.
"Ah,
tadi kita ngomongin apa ya? Jadi si Nukumizu tidak mengajakmu kencan, lalu
Yanamin jadi bad mood, begitu ya?"
"Tidak,
aku sudah diajak, tahu. Walaupun bukan kencan."
Niina
menyeringai melihat Yanami yang tersinggung, lalu tiba-tiba menunjukkan
ekspresi serius.
"Tapi
tetap saja, aku senang akhir-akhir ini kau terlihat lebih ceria."
Yanami
yang hendak tersenyum pahit langsung menyerah dan melunakkan ekspresinya.
"…Maaf
sudah membuatmu khawatir waktu itu."
"Aku
benar-benar khawatir saat kau sampai tidak memesan porsi besar ataupun tambahan
mie."
──Waktu
itu aku sedang diet.
Yanami
hampir mengatakannya, tapi hanya tersenyum. Wanita yang anggun tidak mengatakan
segalanya.
"Kalau
begitu, ini semua juga berkat si Nukumizu, ya."
"Ah,
mungkin juga."
Melihat
reaksi Yanami, Niina terlihat sedikit terkejut.
"Oh,
jujur sekali."
"Nukumizu-kun
itu, bagaimanapun juga, orang yang harus kuurus, kan? Rasanya aku tidak punya
waktu untuk terpuruk, atau lebih tepatnya… ada orang yang lebih merepotkan
dariku."
"Ooh…
oh… ooh?"
Kalau
terus berkata seperti itu, nanti lagi──
Saat
Niina sedang menahan kata-kata yang hampir keluar, seorang pria berpenampilan
elegan dengan topi hitam──pemilik restoran, meletakkan mangkuk ramen di konter.
"Ramen
daging asin porsi besar dan ramen tomat porsi besar dengan topping keju,
silakan."
"Dua
porsi nasi kecil, permisi!"
"…………!"
Serangan
tambahan dari pelayan wanita membuat mereka berdua langsung masuk ke mode
pertempuran.
Dengan
cepat mereka mengikat rambut ke belakang, lalu menyatukan tangan secara
bersamaan.
──Mulai
dari sini, kata-kata sudah tidak diperlukan.
Di
depan Yanami terdapat ramen daging asin. Sup beningnya berisi lobak dan tulang
rawan babi yang dimasak lama.
Yanami
menahan keinginan yang menggebu, lalu menyendok sup dengan sendok.
──Kelezatan
yang menenangkan. Gumaman tanpa kata keluar dari mulutnya.
Rasa
kaldu dan kekentalan kolagen menyelimuti lidah, memenuhi tenggorokan dengan
kenikmatan.
Tidak
terasa berat, tetapi juga tidak membuat remaja 16 tahun yang sedang tumbuh
merasa kurang puas.
──Aku
sedang dipermainkan. Ia menyadarinya, namun tidak merasa tidak nyaman.
Ia
ingin meneguk habis supnya sekaligus, tetapi menahan dorongan itu dan mulai
menyedot mie.
Mie
tipis yang terbalut sup meluncur turun ke tenggorokan sekaligus. Kebahagiaan.
…Tidak.
Masih terlalu cepat untuk tenggelam sepenuhnya.
Yanami
memasukkan potongan lobak berbentuk dadu ke mulutnya. Lobak yang meresap bumbu
memancarkan sari kelezatan di dalam mulut.
Saat
potongan daging babi masuk menyusul, serangan rasa sepenuhnya menguasai
otaknya.
…………Ia
telah tenggelam.
Ia
tidak punya pilihan selain mengakuinya.
Ia
hanya terus mengambil mie, menyedotnya, lalu mengunyah lobak dan daging.
Mengulanginya
tanpa henti hingga akhirnya ujung sumpitnya menyentuh dasar mangkuk. Ia telah
menghabiskannya.
"…Yanamin,
sudah selesai?"
Yanami
tersenyum kepada rekan seperjuangannya yang sedang menyedot ramen tomat dengan
keringat di dahinya, lalu mengangkat tangannya.
"──Tambahan
potong balik, tolong."
Potong
balik. Salah satu variasi tambahan mie andalan restoran ini. Selain mie,
tambahan ini berisi saus dan topping tantanmen.
Artinya,
dengan menambahkan potong balik, ramen asin akan berubah menjadi ramen tantan
asin. Bagi Yanami yang telah berubah menjadi malaikat jatuh, menghabiskan
mangkuk kedua bukanlah hal sulit.
Ia
segera menghabiskan mie potong balik, lalu memasukkan nasi kecil yang ia
sisakan ke dalam sisa sup.
Setelah
menghabiskan semua yang bisa dimakan di mangkuk, Yanami menghela napas panjang.
…Kemenangan
sempurna.
Ia
telah mengerahkan segalanya dan melahap semuanya.
Saat
menikmati rasa lelah yang membahagiakan, pandangannya menangkap rekannya di
samping yang sedang melakukan sesuatu.
Niina
menuangkan sup ramen tomat ke nasi kecil, lalu menambahkan topping keju dengan
hati-hati.
Melihat
semesta kecil yang tercipta di dalam mangkuk itu, tenggorokan Yanami menelan
ludah.
"…Kelihatannya
enak."
"Tidak
kubagi."
"Hei,
kapan aku pernah menginginkan makanan orang lain?"
"Cukup
sering, tahu?"
Niina
berkata tegas, lalu dengan cepat menghabiskan isi mangkuk dan menyedot mie.
Sepertinya
ia sudah terbiasa. Sambil menjauhkan mangkuk dari Yanami, ia terus makan tanpa
mempedulikan tatapannya.
Beberapa
menit setelah Yanami, Niina juga menghabiskan makanannya dan menyatukan tangan.
"Terima
kasih atas makanannya."
"…Terima
kasih atas makanannya."
Yanami
yang jelas masih belum puas juga menyatukan tangan dengan sedikit rasa enggan.
Setelah
mengelap mulut dengan saputangan, Niina berdiri dan menatap Yanami dengan
tatapan menantang.
"Yanamin,
kau masih sanggup, kan?"
"…Menurutmu
aku siapa?"
Yanami
berdiri perlahan dengan butiran nasi masih menempel di pipinya.
"Ngomong-ngomong,
ada kupon diskon dari Marugen Ramen. Bagaimana, Yanamin?"
"…Aku
pesan nikusoba dan nasi goreng telur di atas hot plate."
Seolah
tidak perlu ditanya lagi, Yanami langsung menjawab.
"Porsi
besar, tidak apa-apa?"
"Tentu
saja──porsi besar."
Suatu
siang akhir pekan.
Perjalanan kuliner Yanami Anna dan Niina Sanae baru saja dimulai.



Post a Comment