NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 14

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Angin yang Mudah Berubah


Aku turun dari Shinkansen ke peron, lalu menatap langit biru di sela-sela musim hujan melalui kabel listrik di atas rel.

 

Sekitar dua puluh menitan dari Stasiun Toyohashi, kami berempat dari kelas dua klub sastra SMA Tsuwabuki kini berada di Stasiun Nagoya.

 

Kami datang untuk mengunjungi Tsukinoki-senpai dan Tamaki-senpai yang melanjutkan pendidikan ke Nagoya sejak musim semi, dengan rencana menginap selama dua hari satu malam.

 

"Ah, kalau cuma diam saja bahuku jadi pegal. Gerbang tiketnya yang mana, ya?"

 

Yakishio meregangkan badan sambil melihat sekeliling.

 

"Ikuti saja arus orang, mungkin. Semua sudah lengkap belum?"

 

Komari muncul dari balik tubuh Yakishio.

 

"A-aku di sini. Yanami ke mana?"

 

"Yanami-san tadi ada di sana──"

 

Eh, tidak ada. Jangan-jangan dia kelewatan naik kereta.

 

Kalau begitu, Yanami sendirian harus makan takoyaki di Osaka.

 

Saat aku melihat sekeliling peron, aku menemukan punggung Yanami di depan toko mie kishimen berdiri.

 

"Ternyata di sini. Ayo cepat ke gerbang tiket."

 

Yanami berbalik perlahan, lalu menunjukkan secarik kertas dengan wajah merasa bersalah.

 

"...Aku sudah beli kupon makanan."

 

Begitu ya, sudah beli....

 

Mungkin menyadari ekspresi lelah dari kami bertiga, Yanami melambaikan tangan ke samping.

 

"Soalnya, kalau ke Nagoya ya harus makan kishimen, kan?! Begitu turun dari Shinkansen, tokonya langsung ada di depan mata! Ya pasti beli kupon, dong."

 

"Tidak ada selain Yanami-san yang membelinya."

 

Mendengar komentarku yang datar, Yanami membuka telapak tangannya.

 

"Lima menit... tidak, tiga menit saja! Aku makan cepat!"

 

Setelah berkata begitu, dia masuk ke toko makan berdiri itu.

 

Yanami keluar dengan bibir berkilau──dua menit lima puluh detik setelah masuk.

 

Entah kenapa dia memasang ekspresi bangga, dan kami pun bertepuk tangan saja untuk sementara.

 

 

Di depan department store yang terhubung dengan Stasiun Meitetsu, ada tempat pertemuan paling terkenal di Nagoya.

 

──Patung Nana-chan.

 

Sebuah manekin raksasa setinggi lebih dari 6 meter, dengan kehadiran yang tidak akan terlupakan oleh siapa pun yang pernah melihatnya.

 

Yanami menatap Nana-chan dengan mulut ternganga.

 

"Sudah lama tidak melihatnya, tapi tetap besar ya."

 

"Katanya beratnya sekitar 600 kilogram."

 

"Hee, berarti sekitar dua puluh kali berat badanku."

 

Oh, dua puluh kali Yanami. 600 dibagi 20 berarti──

 

"...Apa tidak terlalu berlebihan? Hati nuranimu tidak menegur?"

 

"Tidak menegur. Secara perasaan sih segitu."

 

Di samping percakapan kosong kami, Yakishio melihat jam.

 

"Waktu janjian dengan para senior sudah lewat, kan?"

 

Sudah lewat lima menit dari waktu janji, tapi lawannya Tsukinoki-senpai. Sepertinya memang biasa seperti ini.

 

Saat aku menatap tubuh putih Nana-chan, Komari mulai melambaikan tangan dengan penuh semangat.

 

"S-senpai! Di sini!"

 

"Oh, maaf-maaf. Aku jadi terlambat."

 

Yang muncul sambil tertawa santai adalah alumni klub sastra, Tsukinoki Koto.

 

Sambil melihat Tsukinoki-senpai melambaikan tangan dengan Komari yang berlari mendekat, aku mencari sosok alumni laki-laki.

 

"Eh, Tamaki-senpai tidak datang?"

 

Anggota perempuan akan menginap di rumah Tsukinoki-senpai, dan aku di rumah Tamaki-senpai. Kalau orang itu tidak ada, bisa-bisa aku harus pulang dengan kereta terakhir sendirian....

 

Sambil mengacak rambut Komari, Tsukinoki-senpai tersenyum.

 

"Katanya laporan praktikumnya belum selesai, jadi dia menyusul nanti. Wah, ternyata mahasiswa juga cukup sibuk ya."

 

"Senpai, kamu benar-benar masuk kelas kan?"

 

Sambil memikirkan kesulitan pacarnya, aku melihat Yanami dan Yakishio yang sedang berfoto dengan Nana-chan.

 

──Nagoya, kota terbesar di Prefektur Aichi.

 

Di tangan kota ini, bahkan manekin raksasa misterius bisa menjadi objek wisata.

 

Menurutku Toyohashi juga tidak kalah menarik, tapi kenyataan bahwa Shinkansen Nozomi tidak berhenti di sana terasa cukup menyakitkan.

 

"Kalian setelah ini ingin ke kawasan pertokoan Osu, kan? Kalau begitu kita naik subway."

 

Setelah puas menikmati Komari, Tsukinoki-senpai memanggil kami semua.

 

Subway. Moda transportasi yang hanya dimiliki kota besar. Tapi Toyohashi punya trem, tahu....

 

Sambil menyalakan rasa persaingan dalam hati, aku mengikuti arahan menuju stasiun subway.

 

 

Kami berganti jalur subway di Fushimi, lalu turun di Stasiun Kamimaezu.

 

Dari sini sampai Osu Kannon terdapat beberapa jalan pertokoan yang berjejer, dan seluruh kawasan ini menjadi tempat wisata.

 

Begitu sampai di pintu masuk Jalan Banshoji, Yanami menghela napas besar.

 

"Ah… serius deh, ini sudah keterlaluan...."

 

"Eh... apa maksudnya?"

 

Aku bertanya karena kewajiban, dan Yanami menunduk sedikit sambil menempelkan jari ke dahinya, lalu menggeleng seolah pasrah.

 

"Lihat, Nukumizu-kun. Di pintu masuk jalan itu──ada, kan?"

 

"Hm. Ada toko onigiri panggang dan toko kastanye manis."

 

"Aku sudah mempersiapkan diri untuk musim panas, tapi kalau ada hal seperti ini, jadi repot."

 

Yanami menyibakkan rambutnya sambil melewati toko-toko itu.

 

"Oh, jadi Yanami-san lagi gemu──maksudku, lagi diet ya."

 

"...Kamu tadi hampir bilang sesuatu, kan?"

 

"Tidak."

 

Tapi akhir-akhir ini Yanami sering memakai pakaian kasual yang menyamarkan bentuk tubuh, mungkin memang begitu....

 

Saat aku menahan tekanan dari tatapan Yanami, Yakishio melambai dari kejauhan.

 

"Di sana ada sesuatu yang sepertinya disukai Yana-chan! Ayam panggang utuh. Katanya makanan khas Osu!"

 

"Apa itu, bisa dimakan sambil jalan tidak?!"

 

Ayam panggang utuh makanan khas Osu...? Tidak begitu paham sih, tapi ini Nagoya, jadi mungkin memang begitu.

 

Menerima apa pun dan tidak terlalu memikirkan detail. Itulah Nagoya.

 

"Ya-Yakishio, jangan lari-lari...."

 

Komari yang sudah lelah mengejar dua orang yang berlari itu.

 

Saat aku melihat pemandangan itu dengan senyum, Tsukinoki-senpai berdiri di sampingku sambil memegang botol teh.

 

"Bagaimana, kampung halaman keduaku?"

 

"Awalnya aku kira suasananya mirip Osaka karena terasa ramai dan campur aduk, tapi ternyata agak berbeda ya."

 

"Oh? Maksudnya?"

 

Nada bicara Tsukinoki-senpai terdengar penasaran.

 

"Entah kenapa ada penjual kebab, ada juga restoran Brasil, rasanya tidak punya kesatuan tema."

 

Aku melihat sekeliling jalan.

 

"Warung okonomiyaki di sana juga menulis gaya Nagoya, tapi aku tidak tahu itu seperti apa, rasanya agak serba asal atau──"

 

Aku memutar otak, mencari kata yang tepat.

 

"...Ini sangat Nagoya sekali, ya."

 

Aku menyerah. Nagoya memang sulit dipahami.

 

"Aku setuju. Aku juga baru pindah, jadi tidak bisa bicara seolah tahu segalanya. Rasanya seperti punya momentum dan daya meyakinkan yang misterius."

 

Aku tanpa sadar melirik kafe maid yang kami lewati.

 

Jadi maid di toko itu katanya robot maid yang datang dari masa depan... begitu ya....

 

"Kalau tinggal di sini, Nagoya itu tempat yang bagus. Nukumizu-kun, bagaimana kalau kamu ke sini dua tahun lagi?"

 

"Hahaha, Nagoya ya."

 

Aku menjawab seadanya karena perhatianku masih tertuju pada maid, lalu senpai tiba-tiba menunjukkan wajah serius.

 

"Nukumizu-kun, tahun depan kamu sudah kelas tiga, kan. Kamu harus mulai memikirkan masa depan dari sekarang."

 

Mendengar itu dari orang ini rasanya agak sulit diterima, tapi memang benar. Kalau memikirkan ujian masuk, mungkin lebih baik menentukan arah sejak kelas dua.

 

"Benar juga. Orang tuaku bilang setelah lulus aku harus keluar dari rumah."

 

"Oh, mereka sudah membicarakan itu?"

 

"Iya. Mereka bilang aku harus siap tidak kembali ke rumah, dan pergi sejauh mungkin."

 

Mendengar itu, kacamata Tsukinoki-senpai berkilat tajam.

 

"Oho, pembukaannya mirip manga BL bertema desa adat yang kubaca kemarin. Orang tua si protagonis berusaha membuat pemuda itu kabur dari desa."

 

"Lalu apa yang terjadi dengan protagonisnya?"

 

"Dia tertangkap dan mengalami hal yang luar biasa dengan kepala desa tampan. Tertarik?"

 

"Tidak. Kenapa senpai mengambil ponsel? Tolong jangan buka aplikasinya."

 

Orang ini bahkan setelah jadi mahasiswa tidak berubah. Malah makin parah....

 

Menahan pelecehan dari alumni juga bagian dari tugas ketua klub. Saat aku menanggapinya dengan pikiran kosong, Yakishio kembali berlari.

 

"Loh, Komari-chan tidak ada di sini?"

 

"Tidak ada. Bukannya tadi mengejar Yakishio ya?"

 

"Itu dia, entah sejak kapan dia menghilang. Mungkin ada di sekitar sini?"

 

Yakishio menunduk cemas sambil mengintip ke bawah gerobak di depan toko.

 

Dia bukan kucing, masa ada di situ──ya, mungkin saja ada kemungkinan kecil.

 

"Kalau terpisah, bukannya bisa dihubungi saja?"

 

Saat aku mengeluarkan ponsel, Tsukinoki-senpai menunjukkan wajah bingung.

 

"Anak itu sekarang tidak membawa ponsel. Katanya dia meninggalkannya di tas yang disimpan di loker koin."

 

Timing yang benar-benar buruk.

 

Saat aku memikirkan harus bagaimana, Yanami muncul sambil mengunyah sesuatu.

 

"Fo-fita no? Faifufemo ofofifa."

 

Habiskan dulu baru bicara.

 

"Jangan bilang kamu habis makan ayam panggang utuh?"

 

Yanami menelan isi mulutnya, lalu mengangkat bahu sebagai bentuk protes.

 

"Sebanyak apa pun aku, tidak akan makan satu ekor utuh. Aku cuma makan masakan Brasil yang namanya tidak kuketahui."

 

Begitu ya, kalau tidak tahu namanya berarti tidak dihitung untuk diet. Aku menyelesaikan dengan logika ala Yanami, lalu menjelaskan situasi sekarang.

 

"Oh iya, terakhir kali aku lihat Komari-chan sedang mengejar kucing liar."

 

"Kucing liar?"

 

Kesaksian sudah didapat. Artinya──tidak ada petunjuk ke mana Komari pergi.

 

 

Di sisi selatan Osu, seorang gadis kecil berjalan sendirian di Jalan Higashi Niomon.

 

"Uweh... i-ini di mana...?"

 

Dengan tubuh gemetar kecil, berjalan membungkuk sambil melihat sekitar dari balik poni adalah Komari Chika.

 

Saat mengejar kucing liar, dia tersesat ke tempat yang tidak dikenalnya.

 

Daerah Osu memiliki banyak jalan pertokoan yang saling bersilangan, jadi jika lengah sedikit saja, sangat mudah tersesat.

 

Di saat seperti ini, ponselnya tidak ada di tangan, dan dia juga tidak tahu harus menuju ke arah mana.

 

Saat melewati papan bertuliskan taiyaki alami, tiba-tiba patung kucing keberuntungan besar muncul di depan matanya.

 

Kejadian mendadak seperti ini memang khas Nagoya, tapi Komari tidak punya waktu memikirkannya.

 

Sementara dia menangkupkan tangan di depan patung kucing itu,

 

"...Komari-chan?"

 

Suara yang dulu sangat dikenalnya terdengar.

 

"Uweh?! T-Tamaki-senpai?!"

 

Yang berdiri di sana adalah Tamaki Shintarou. Sambil mengusap mata mengantuknya, dia mendekati Komari.

 

"Kamu sendirian? Koto dan yang lain ke mana?"

 

"E-eh... aku, tidak bawa ponsel, jadi terpisah...."

 

Setelah memahami situasinya, Tamaki mengeluarkan ponselnya, dan ada pesan dari Koto.

 

"Oh, sepertinya mereka membagi kelompok untuk mencari. Tenang saja, aku akan bilang sudah ketemu."

 

Tamaki menahan menguap sambil membalas pesan, lalu memasukkan ponselnya ke saku.

 

"Kalian mau ke Osu Kannon untuk berdoa, kan. Mau pergi bareng?"

 

"E-eh, tidak apa-apa kalau tidak bergabung dengan yang lain?"

 

"Tidak apa kok. Aku sudah bilang kita ketemu langsung di tujuan. Tujuannya sama, kan."

 

Saat Tamaki memberi isyarat dengan tangan, Komari berlari kecil mendekat.

 

Sambil berjalan berdampingan, mereka saling berbagi kabar terbaru.

 

"T-Tamaki-senpai, bagaimana kehidupan kuliahnya?"

 

"Praktikum dan laporan sudah berat sejak awal. Aku khawatir bisa lulus atau tidak."

 

"M-mahasiswa ternyata berat ya."

 

Komari melirik wajah Tamaki dari samping, lalu memalingkan pandangan dengan malu.

 

"Aku dengar Komari-chan juga bekerja keras. Pemilihan OSIS kemarin pasti berat, ya."

 

"I-itu Nukumizu yang sembarangan──"

 

Komari menghentikan kata-katanya sejenak, lalu berbicara lagi dengan nada kesal.

 

"N-Nukumizu itu gampang tergoda perempuan, cepat tersipu, dan suka pamer. T-Tolong, senpai juga tegur dia."

 

Melihat Komari mengerucutkan bibir sambil protes, Tamaki menahan tawa.

 

Para adik kelas yang manis memang tetap manis seperti dulu.

 

"Mungkin itu juga sisi baik Nukumizu. Kamu pasti repot ya, Komari-chan."

 

"Feh?! A-aku tidak... aku cuma wakil ketua klub."

 

Komari memerah sambil memainkan poninya.

 

Ups, mungkin aku sedikit terlalu menggoda. Tamaki menatap bola emas besar misterius yang menggantung di arcade, lalu mengganti topik.

 

"Komari-chan juga sudah kelas dua, pasti bukan cuma klub, pelajaran juga berat, kan."

 

"Uweh... pelajarannya cepat sekali, berat...."

 

"Aku dulu hampir tidak belajar, jadi waktu kelas tiga kesulitan. Kalau Komari-chan sih sepertinya tidak masalah, tapi kalau sudah punya tujuan universitas──"

 

"A-aku!"

 

Komari tiba-tiba bersuara keras. Tamaki berhenti melangkah karena terkejut, dan Komari berbicara dengan suara gemetar.

 

"S-Setelah lulus──aku ingin pergi ke Tokyo."

 

"Mau masuk universitas di Tokyo?"

 

Komari mengangguk kuat.

 

"K-Keluargaku tidak mampu swasta, jadi aku sedang mencari beasiswa atau asrama."

 

Setelah mengatakan semuanya sekaligus, Komari menarik napas panjang.

 

"A-aku ingin mengatakan ini pada seseorang. Tapi belum benar-benar pasti. Jadi ini rahasia saja."

 

Setelah selesai bicara, Komari kembali menundukkan wajah dengan malu.

 

...Kenapa tiba-tiba dia membicarakan ini? Bahkan Komari sendiri tidak tahu. Tapi saat ini, dia benar-benar ingin orang di depannya mendengarnya.

 

Orang yang dulu pernah dia sukai──

 

Tamaki terkejut mendengar pengakuan mendadak itu, lalu menepuk kepala Komari.

 

"Baiklah. Ini rahasia antara aku dan Komari-chan saja."

 

Komari mengangguk berulang kali, lalu berjalan cepat dengan wajah memerah.

 

Sambil berjalan di belakangnya, Tamaki kembali berpikir.

 

──Komari memang adik kelas yang manis.

 

 

Setelah mendapat kabar bahwa Komari sudah ditemukan, aku menuju tempat pertemuan di Osu Kannon.

 

Berjalan sendirian di jalan pertokoan yang asing justru terasa menyenangkan seperti sedang bepergian.

 

Saat memikirkan hal itu, aku melihat punggung Tsukinoki-senpai di depan.

 

Saat hendak memanggilnya dan mendekat, senpai membetulkan kacamatanya sambil bergumam.

 

"Anginnya──berisik."

 

Sudah jadi mahasiswa tapi masih berkata seperti itu, orang ini.

 

Saat aku ragu memanggilnya, dia sepertinya menyadari kehadiranku lalu berbalik.

 

"Oh, Nukumizu-kun, ada apa?"

 

"Itu yang ingin kutanyakan. Apa maksud gumaman tadi?"

 

"Aku tidak tahu, tapi entah kenapa hatiku gelisah...."

 

Mungkin karena Komari tersesat, dia merasa khawatir. Orang ini ternyata punya perasaan juga.

 

"Kalau soal Komari, dia bersama Tamaki-senpai, kan. Tidak perlu khawatir."

 

"Benar juga, kalau bersama dia pasti aman──"

 

Tsukinoki-senpai yang hampir menyelesaikan kalimatnya, lalu menyilangkan tangan sambil berpikir.

 

"Ada apa?"

 

"...Aku tetap merasa tidak tenang, jadi aku akan menyusul mereka dulu. Sampai nanti!"

 

Sambil menelepon, Tsukinoki-senpai berlari menjauh.

 

Begitu ya, jadi inilah yang disebut manajemen krisis ala heroine pemenang. Semoga yang lain juga bisa mencontohnya.

 

Namun aneh, orang yang sedang dicari tidak kunjung ditemukan, tapi orang yang tidak ada urusan malah mudah sekali ditemui. Kalau mengikuti alur ini, orang berikutnya yang akan kutemui adalah──

 

"Eh, bukannya itu Nukumizu-kun?"

 

Dari antrian toko dango, Yanami melambaikan tangan dengan heboh.

 

Mengabaikannya malah terasa merepotkan, jadi aku mendekat, lalu Yanami menunjuk ke bagian paling belakang antrian.

 

"Nukumizu-kun, kalau mau beli, tolong antri yang benar yaa."

 

"Aku tidak beli. Yanami-san, bukannya kamu sedang diet?"

 

Serangan ringan dariku dibalas Yanami dengan menggelengkan jari.

 

"Di sana tertulis ‘Spesialitas Osu Mitara­shi Dango’, kan? Kalau sudah begitu, sebagai warga Toyohashi, aku tidak bisa tinggal diam."

 

Memang benar, Toyohashi terkenal dengan mitarashi dango manis pedas yang menggunakan kecap tamari. Sebagai budak karbohidrat, tentu saja Yanami tidak bisa mengabaikannya.

 

"Ngomong-ngomong, ini penelitian, jadi kalorinya bisa diabaikan."

 

"Tidak bisa."

 

Sambil mengobrol begitu, kami pun sampai di bagian depan antrian.

 

"Permisi! Satu mitarashi dango dan satu kinako dango ya!"

 

"Penelitian kinako dango juga perlu ya?"

 

"Soalnya kelihatannya enak. Nih, terima kasih banyaaak!"

 

Dengan masing-masing tangan memegang dango, Yanami tampak sangat senang.

 

Sudah SMA tapi bisa sebahagia ini hanya karena dango, mungkin justru itu sebuah bakat.

 

"Kenapa menatapku begitu? Mau coba satu gigitan?"

 

"Hari ini Yanami-san kelihatan sangat bersemangat."

 

Mendengar pertanyaanku yang polos, Yanami menghela napas seolah berkata "ya ampun".

 

"Soalnya, setiap kali pergi main sama Nukumizu-kun, biasanya kita terseret masalah, kan?"

 

"Ada ya, hal yang seperti itu?"

 

Kalau dipikir-pikir, apa pernah aku pergi jalan dengan Yanami tanpa masalah…?

 

Yanami menggoyang-goyangkan tusuk dango, lalu mulai mengingat masa lalu.

 

"Pernah terseret drama Asagumo-san, pernah menyeret Basori-san ke karaoke, bahkan pernah menguntit adikmu di Toyokawa Inari, kan?"

 

"Itu dihitung sebagai jalan-jalan?"

 

Yanami sudah menghabiskan dangonya, lalu membuang tusuknya ke tabung di depan toko.

 

"Setidaknya untuk perjalanan ke Nagoya kali ini, menurutku tidak apa-apa kalau kita main tanpa memikirkan apa pun. Makan dua tusuk dango juga tidak masalah."

 

"Iya, ya. Sudahlah, ayo kita jalan."

 

Sambil menanggapi Yanami seadanya, aku memasuki jalan bertuliskan Osu Kannon-dori.

 

"Ngomong-ngomong, kenapa kita datang ke Osu Kannon tadi?"

 

"Lemon-chan yang ingin datang ke sini. Katanya ingin berdoa ke dewa yang bikin pintar."

 

Dewa yang bikin pintar. Kedengarannya sangat bodoh.

 

Sambil berjalan berdampingan, aku mengulang kata-kata Yanami di dalam kepalaku.

 

──Pergi main tanpa kekhawatiran atau tujuan khusus.

 

Sepertinya selama ini jarang sekali ada kesempatan seperti itu…

 

"Nukumizu-kun, ada yang jual ubi bakar! Gimana?"

 

"Tidak bagaimana-bagaimana. Ayo cepat, yang lain sudah menunggu."

 

Pikiran bahwa hal seperti ini juga tidak buruk──aku buru-buru menepis pikiran itu.

 

 

Osu Kannon katanya termasuk salah satu dari tiga Kannon terbesar di Jepang, dan juga memuja Tenjin, dewa ilmu pengetahuan.

 

Aku memasukkan koin 500 yen ke kotak persembahan di aula utama, lalu berdoa agar Kaju lulus ujian masuk SMA.

 

Kaju memang berprestasi, tapi ujian masuk SMA adalah pertaruhan satu kali. Aku ingin para dewa dan Buddha membantu Kaju sepenuhnya.

 

Saat membuka mata setelah selesai berdoa, entah sejak kapan Yakishio sudah berdiri di sampingku.

 

"Nukkun, harus tepuk tangan berapa kali ya?"

 

"Ini kuil Buddha, jadi tidak perlu tepuk tangan. Itu biasanya dilakukan di kuil Shinto sebagai salam untuk dewa."

 

"Tenjin itu dewa Sugawara, kan? Kenapa kalau di kuil Buddha tidak perlu tepuk tangan ya?"

 

Kalau dipikir-pikir, kenapa ya. Saat aku memiringkan kepala, Yakishio menyatukan tangan dan menundukkan kepala dalam-dalam.

 

"Oke, kalau begitu, ujian berikutnya pasti lancar."

 

"Belajar tetap perlu, ya."

 

Sambil menuruni tangga aula utama bersama Yakishio, aku meliriknya sekilas. Seperti biasa, tidak terlihat tegang sama sekali.

 

"Tapi cukup mengejutkan. Bukannya kamu tidak suka mengandalkan doa seperti ini?"

 

"Memang sih. Tapi kalau sudah memutuskan melakukannya, kupikir tidak apa-apa meminjam kekuatan apa pun."

 

Melompat menuruni beberapa anak tangga terakhir, Yakishio mengedipkan mata.

 

"Loh, Komari-chan ke mana ya?"

 

"Hilang lagi?"

 

Saat melihat sekeliling halaman kuil, Yanami sedang menatap makanan burung merpati, pasangan Tsukinoki sedang menulis ema. Lalu──di sudut halaman, ada gumpalan merpati yang bergerak-gerak ramai.

 

"Entah kenapa, dari gumpalan itu terdengar jeritan."

 

"Syukurlah. Komari-chan kelihatannya baik-baik saja."

 

Iya, syukurlah. Kalau jeritannya sudah berhenti, baru kita selamatkan.

 

"Nukkun, setelah ini kita mau ke mana?"

 

"Ehm, setelah makan siang, kita ke rumah Tsukinoki-senpai, kan. Katanya mau menyiapkan makan malam bersama."

 

"Oh iya, benar."

 

Sikap Yakishio seperti ingin mengatakan sesuatu.

 

"Ada apa? Ada tempat yang ingin kamu datangi?"

 

"Hmm, untuk sekarang tidak apa-apa."

 

Setelah bergumam penuh makna, Yakishio membuka mulut lebar-lebar.

 

"Ah. Suara Komari-chan sudah tidak terdengar."

 

"Sepertinya sudah waktunya kita menyelamatkannya."

 

Aku dan Yakishio saling berpandangan, lalu berlari menuju gumpalan merpati itu.

 

 

Tsukinoki-senpai mengangkat panci dalam rice cooker, lalu menuangkan nasi yang baru matang ke dalam ember kayu.

 

Kemudian, sambil menambahkan cuka campur ke nasi yang masih mengepul, ia mengaduknya dengan spatula seperti memotong.

 

Ia sedang membuat nasi sushi untuk hand roll sushi makan malam.

 

Kamar senpai cukup luas, tipe 1LDK. Sambil menikmati pencapaian bisa masuk kamar mahasiswi, aku menatap deretan poster BL yang memenuhi dinding.

 

Tamaki-senpai sering datang ke sini ya. Posternya cukup ekstrim…

 

"Nukumizu-kun, aku akan memasak 5 kg lagi, bisa tolong cuci berasnya?"

 

"Baik. Tapi memasak sebanyak itu tidak apa-apa?"

 

"Soalnya ada Yanami-san, kan."

 

Alasan yang sangat meyakinkan. Saat aku dengan patuh mencuci beras, Tsukinoki-senpai bertanya dengan penasaran.

 

"Makan siang benar-benar tidak apa-apa cuma di Sugakiya? Di Toyohashi juga ada, kan?"

 

"Kalau makan di Nagoya, rasanya lebih spesial. Ramen yang sama seperti di Toyohashi pun, sejarahnya jadi bumbu spesial──kata Yanami-san."

 

"Kata Yanami-san ya."

 

Lagi-lagi Yanami. Kalau soal makanan, Yanami memang selalu terlibat.

 

Ngomong-ngomong, Tsukinoki-senpai sangat cekatan.

 

"Peralatan seperti ember sushi, kok bisa punya barang seperti ini?"

 

"Yang seperti ini banyak sekali di rumah keluargaku. Yakishio-chan, tolong bawa ini ke meja."

 

"Baik!"

 

Yakishio membawa ember kayu berisi nasi sushi ke arah Yanami yang sudah menunggu sambil memegang kipas. Untuk menghilangkan panas dan menguapkan kelembapan berlebih.

 

"Terima kasih sudah mencuci beras. Aku akan mengatur takaran airnya, sisanya biar aku yang urus."

 

"Ah, baik. Tolong ya."

 

Karena sudah tidak ada kerjaan, aku pergi melihat Komari yang sedang membuat telur dadar.

 

Seperti yang kuduga, tangannya juga cukup cekatan.

 

"Ke, kenapa senyum-senyum begitu?"

 

"Aku cuma kagum. Kamu memang sering masak untuk anak-anak kecil itu ya?"

 

"Te, telur itu menu andalan. O, omurice juga, kuat."

 

Dengan senyum bangga, ia memutar gulungan telur dadar itu dengan cekatan.

 

Kalau dilihat begini, Tsukinoki-senpai dan Komari sama-sama pandai memasak dan terlihat keibuan. Tamaki-senpai mungkin sebenarnya beruntung soal wanita. Atau mungkin juga tidak.

 

Saat aku bimbang di antara dua penilaian yang bertolak belakang itu, aku menyadari sosok Tamaki-senpai yang sedang termenung di balkon.

 

Sesekali mendengar cerita mesranya mungkin bisa menyeimbangkan pikiranku…

 

Aku keluar ke balkon dan berdiri di samping Tamaki-senpai.

 

Kamar ini berada di lantai delapan apartemen, di kawasan perumahan dekat kampus. Selain beberapa apartemen yang berjajar di sepanjang jalan, tidak ada bangunan tinggi lain, sehingga pemandangan luas terbentang di depan mata.

 

"Senpai, kelihatannya kurang bersemangat ya. Ada apa?"

 

"Teman sekelompok praktekku kena flu dan tumbang. Tiba-tiba jatah laporanku jadi bertambah…"


Turut berduka. Orang ini mungkin memang punya bakat menarik kesulitan.

 

"Jadi mahasiswa ternyata berat ya. Aku kira isinya cuma bersenang-senang."

 

"Itu tergantung orangnya sih. Ada juga yang──"

 

Tamaki-senpai melirik pelan ke arah pacarnya yang ada di dapur. Kesulitan yang sudah dipesan tampaknya ada di sana.

 

Tamaki-senpai tersenyum pahit, lalu kembali memandang pemandangan luar.

 

"Ya, memang berat, tapi menyenangkan. Kalau punya tujuan, rasanya bisa terus berusaha."

 

Di arah pandangan senpai, bangunan kampus terlihat sesekali. Aku ragu sejenak sebelum membuka mulut.

 

"Kalau nanti, senpai akan meneruskan pabrik sake milik Tsukinoki-senpai?"

 

"Masih belum tahu sih. Tapi aku sudah kenal orang tua Koto sejak dulu. Bahkan mereka terlihat lebih bersemangat, atau mungkin lebih tepatnya menekanku…"

 

Orang tua Tsukinoki-senpai, meskipun cara mendidik anaknya begitu, tampaknya punya mata yang bagus dalam memilih menantu.

 

"Mereka bilang setelah lulus akan mengenalkanku pada perusahaan pembuat sake kenalan mereka, jadi untuk sementara kupikir aku akan belajar di sana."

 

"Loh, bukan langsung bekerja di tempat Tsukinoki-senpai?"

 

"Aku harus mengenal dunia luar dulu dan jadi profesional. Kalau orang baru masuk sebagai menantu, orang sekitar pasti tidak nyaman."

 

Ternyata pembicaraannya sudah sampai sejauh itu. Tamaki-senpai benar-benar mengambil keputusan besar.

 

………Keputusan besar. Apa tidak sebaiknya dipikirkan lagi?

 

Meski bukan urusanku, aku tetap merasa cemas. Tamaki-senpai lalu berjongkok di depan pot tanaman di balkon.

 

Sebuah tanaman hias kecil. Senpai menyentuh tanahnya dengan ujung jari, lalu kembali ke dalam kamar untuk mengambil air dalam gelas.

 

"Koto ini malas menyiram air. Kalau begini terus, tanamannya bisa mati."

 

Tamaki-senpai menuangkan air sambil mengomel pelan.

 

Melihat betapa terbiasanya dia berada di rumah pacarnya membuatku agak deg-degan…

 

Sambil melihat Tamaki-senpai merawat tanaman itu dengan penuh perhatian, aku kembali mengulang dalam hati.

 

Mungkin dia memang sebaiknya memikirkannya sedikit lebih lama.

 

 

Saat matahari hampir terbenam, pesta hand roll sushi pun dimulai.

 

Nasi sushi dalam jumlah besar di dalam ember kayu, bersama tumpukan nori dan berbagai bahan isi.

 

Sebagai pembawa elemen "jumlah besar", Yanami menaruh nasi dan bahan isi setinggi gunung di atas nori, bahkan sudah menghapus unsur "menggulung" dari temaki sushi itu sendiri.

 

"Yanami-san, ini hand roll sushi, setidaknya pura-pura menggulung sedikit dong?"

 

"Nukumizu-kun ini detail sekali. Hand roll sushi itu simbol kebebasan. Isi sebanyak mungkin."

 

Sambil berkata begitu, Yanami langsung melahapnya. Bahkan tanpa mencelupkan ke kecap, benar-benar terlalu bebas.

 

Meski begitu, melihat Yanami tidak akan membuat perutku kenyang. Baiklah, aku mau mengisi apa ya…

 

Bahan yang disiapkan ada tuna, salmon, mentimun, telur dadar, tuna mayo, crab stick, dan sosis ikan──semuanya standar.

 

"…Sosis ikan?"

 

Aku tanpa sadar bergumam, lalu Yanami menatapku tajam.

 

"Nukumizu-kun, kalau hand roll sushi ya harus pakai sosis ikan. Cocok banget sama tuna mayo."

 

Kalau keluarga Yanami begitu, mau bagaimana lagi. Melawan juga percuma.

 

"Kalau begitu, mayo jagung juga rasa khas keluarga Yanami?"

 

"Ma, mayo jagung itu wajib, kan."

 

Mayo jagung ternyata tradisi keluarga Komari.

 

Sepertinya mayones memang tidak bisa dipisahkan dari temaki sushi. Buktinya, Yakishio juga memasukkan pasta putih ke dalam temaki sushi miliknya──

 

"Loh? Itu bukan mayones, kan?"

 

"Itu krim keju. Di rumahku, ini sudah standar."

 

Keluarga Yanami dan Komari pakai mayones, keluarga Yakishio pakai krim keju. Sambil merasakan kesenjangan sosial, aku menaruh daging tuna di atas nasi. Berikutnya──

 

"Nih, ini juga rekomendasiku."

 

Yanami menyendok tenkasu (potongan adonan tepung goreng) dan menaburkannya ke temaki sushi milikku.

 

"Jangan memasukkan sesuatu ke punyaku tanpa izin."

 

"Semua makanan jadi rasa tempura, jadi untung."

 

"Justru bermasalah kalau semuanya jadi rasa tempura."

 

Untuk percobaan pertama, aku memutuskan tuna, mentimun, dan telur dadar. Tenkasu memang tambahan yang tidak perlu, tapi biarlah.

 

"Shintarou, jangan main ponsel saat makan."

 

"Tunggu sebentar, sepertinya ada satu lagi anggota kelompok praktikku yang hampir tumbang."

 

Seperti biasa, orang ini tidak pernah lepas dari kesulitan.

 

…Melihat kami semua makan sushi bersama begini, aku jadi teringat pertemuan keluarga besar.

 

Dulu aku tidak bisa berbaur dengan anak-anak lain, sampai Kaju mengkhawatirkanku.

 

Bahkan dengan kerabat saja aku seperti itu, tapi sekarang aku makan temaki sushi bersama orang-orang yang bukan keluarga.

 

Entah kenapa rasanya seperti sedang bermimpi, dan aku memandang kosong ke arah semua orang di meja.

 

Yanami dengan semangat melahap bukan hand roll sushi melainkan sushi terbuka, Yakishio dan Komari saling menambahkan bahan rekomendasi ke sushi masing-masing.

 

Tamaki-senpai menggulung salmon sambil dihibur Tsukinoki-senpai.

 

Masing-masing menjalani kehidupan yang berbeda, tapi bisa duduk bersama mengelilingi satu meja makan.

 

──Masih terasa sedikit memalukan, tapi malam seperti ini juga tidak buruk.

 

Aku menaruh sosis ikan, mayo jagung, dan krim keju, lalu menggulungnya dengan nori.

 

 

Pesta hand roll sushi sudah memasuki babak akhir.

 

5 kg nasi sushi sudah habis, dan nasi sushi di ember kedua juga sudah berkurang cukup banyak. Penyebabnya jelas, tapi nasi ini cepat sekali habis…

 

"Ah, norinya sudah habis ya."

 

"Benar juga. Masih ada kok, tunggu sebentar ya."

 

Tsukinoki-senpai berdiri untuk menyiapkan nori tambahan.

Sepertinya tidak bisa menunggu, Yanami langsung menaruh nasi sushi di piring, lalu mulai menyusun isian di atasnya.

 

"Yanami-san, tidak bisa menunggu sampai norinya datang? Tahan sedikit lagi yuk."

 

"…Nukumizu-kun, aku kepikiran sesuatu. Sebenarnya, hand roll sushi itu perlu nori tidak sih?"

 

"Hah?"

 

Maksudnya apa ini. Apa dia mulai aneh karena kebanyakan makan?

 

"Kalau tidak ada nori, memang tidak bisa digulung, kan?"

 

"Ada istilah bumbu di dalam mulut, kan? Jadi maksudnya, bisa digulung di dalam mulut──atau malah di dalam perut."

 

Kabar buruk──Yanami benar-benar mulai aneh. Aku tersenyum ramah sambil menanggapi ucapannya.

 

"Iya ya, mungkin begitu."

 

"Kalau dipikir lagi, rasanya walau tanpa isian pun hand roll sushi tetap bisa ada. Kalau ditarik sampai akhir, hand roll sushi paling sempurna itu cuma nasi saja."

 

"Itu cuma nasi sushi biasa, kan?"

 

Sial, aku refleks menimpali.

 

Yanami langsung melahap hand roll sushi (?) di piringnya, lalu mengangguk dengan wajah serius.

 

"Iya, ini jelas hand roll sushi. Nukumizu-kun juga coba dong."

 

"Tidak mau. Dan jangan menaruh sesuatu ke piringku tanpa izin."

 

Saat aku beradu tangan dengan Yanami, Tsukinoki-senpai meletakkan piring berisi nori di meja.

 

"Nih, tambahan nori untuk semua."

 

"Terima kasih!"

 

Yanami langsung mengambil nori dan menaruh nasi sushi setinggi gunung di atasnya.

 

"Jadi pakai nori juga. Terus pembicaraan tadi itu apa?"

 

"Kalau ada ya dimakan. Senpai, nori ini enak ya."

 

"Oh, kamu bisa tahu? Itu nori bagus yang dipanen dari Teluk Mikawa."

 

Sambil melihat mereka berdua asyik ngobrol soal bahan makanan kering, aku saling bertatapan dengan Tamaki-senpai.

 

…Kita sama-sama berjuang ya.

 

 

Hah, Yanami terus menyuruhku makan, jadi aku kebanyakan makan…

 

Saat keluar dari toilet, aku berpapasan dengan Yakishio yang sedang menuju pintu masuk.

 

"Mau keluar?"

 

"Aku lupa bawa sikat gigi. Mau beli di minimarket."

 

"Oh, begitu."

 

Saat hendak kembali ke ruang tamu, Yakishio menatapku dengan mata menyipit.

 

"Dengar ya, ada cewek mau keluar malam-malam. Tidak ada yang mau kamu bilang?"

 

"Ah, iya. Hati-hati di jalan malam."

 

Meski jawabanku sudah sempurna, Yakishio malah menghela napas panjang.

 

"Haa… biasanya dalam situasi begini, kamu ikut jadi bodyguard, kan?"

 

Bodyguard…? Aku yang jelas lebih lemah dari Yakishio, bisa menjalankan peran itu tidak ya. Walau ragu, suasananya tidak terlihat seperti bisa menolak.

 

"Eh, kalau begitu aku ambil ponsel dulu──"

 

Saat aku hendak kembali ke ruang tamu, Yakishio menarik tanganku.

 

"Ayo cepat. Nanti bilang ke yang lain belakangan saja."

 

"Eh, tapi…"

 

"Iya iya, pergi sebelum ketahuan."

 

Aku akhirnya mengikuti saja dan memasukkan kaki ke sepatu.

 

…Jangan melawan yang lebih kuat. Itu prinsip hidupku.

 

 

Aku berjalan berdampingan dengan Yakishio di trotoar sepanjang jalan besar dua lajur.

 

Matahari sudah tenggelam, trotoar diterangi lampu jalan dan lampu mobil yang lalu-lalang.

 

Di sepanjang jalan ada apartemen dan pom bensin, dan para pejalan kaki yang berpapasan mungkin penduduk yang sedang pulang. Suasananya terasa agak sibuk.

 

"Kalau matahari sudah tenggelam, enak ya rasanya."

 

"Kalau pakai lengan pendek mungkin agak dingin."

 

Yakishio terlihat sangat ceria. Ia melangkah seperti menari di depanku, lalu berputar menghadapku.

 

"Hei, mau lomba lari sampai minimarket?"

 

"Tidak mau. Jalan mundur begitu berbahaya loh."

 

"Iya iya. Nukkkun seperti ibuku saja deh."

 

Yakishio berkata dengan nada kesal, lalu berjalan meninggalkanku.

 

Aku berjalan di belakangnya dengan menjaga jarak, sambil tanpa sadar memandangi punggungnya.

 

──Yakishio Lemon. Kulit tangan dan kakinya yang kecokelatan, tubuhnya yang terlatih.

 

Ia menyatukan jari tangannya di belakang punggung, dan entah kenapa punggung itu terlihat seperti ingin diajak bicara. Apa aku cuma terlalu percaya diri ya?

 

"Eh… latihan klub atletik hari ini tidak apa-apa?"

 

Kalimatku sendiri terasa membosankan, tapi ingatlah, yang ada di sini adalah aku.

 

Punggung Yakishio sedikit bergoyang, ia tetap berjalan tanpa menoleh.

 

"Latihan hari ini sudah selesai, dan pelatih juga bilang besok harus benar-benar libur."

 

"Oh, begitu."

 

Eh, percakapannya selesai. Apa aku salah bicara ya…

 

Sambil mengadakan rapat evaluasi dalam kepala, aku menyadari kami sudah cukup jauh dari apartemen.

 

"Minimarketnya masih jauh?"

 

"Hm, sedikit lagi mungkin."

 

Yakishio menjawab santai sambil mempercepat langkah.

 

Aku hanya mengikuti dalam diam, sampai kami tiba di persimpangan besar. Di seberang persimpangan terlihat bangunan besar dengan suasana berbeda dari apartemen.

 

Itu kampus tempat Tamaki-senpai kuliah.

 

"Di arah sini sepertinya tidak ada minimarket. Apa sebaiknya kita kembali?"

 

Yakishio tidak menjawab, malah mengeluarkan ponselnya.

 

"…Ah, masih sempat."

 

"Sempat apa?"

 

"Lihat, lampunya mau ganti."

 

Yakishio berlari menuju penyeberangan. Entah kenapa, tapi sepertinya minimarket yang dia tuju ada di depan sana. Saat aku mengejarnya dan menyeberang, Yakishio berhenti di depan halte bus.

 

"Eh… kita mau ke minimarket, kan?"

 

"Tunggu sebentar ya."

 

Yakishio melihat jadwal bus.

 

Di belakang halte ada bangunan yang terlihat seperti apartemen, dan jelas ini tidak terlihat seperti tujuan minimarket.

 

Tiba-tiba, sebuah bus kota berhenti dengan suara berderak di depan kami.

 

Tunggu, kami bukan penumpang. Saat aku hendak mundur selangkah, Yakishio menarik tanganku.

 

"Nukkun, kita naik bus ini."

 

Eh, pergi ke minimarket naik bus? Ini Nagoya, kota besar, loh.

 

Tanpa mempedulikan kebingunganku, Yakishio menarikku naik ke dalam bus. Begitu kami duduk di kursi berdua, bus langsung mulai berjalan.

 

"Ini jelas bukan ke minimarket, kan. Kita mau ke mana?"

 

Melihatku yang masih bingung dengan perkembangan mendadak ini, Yakishio tersenyum nakal di kursi sempit di sampingku.

 

"──Rahasia."

 

 

Setelah bergoyang di dalam bus selama 30 menit, kami tiba di Sakae, kawasan hiburan terbesar di Nagoya.

 

Taman Hisaya-Odori yang memanjang sempit dari utara ke selatan di pusat kawasan itu dipenuhi cahaya lampu, dan arus pejalan kaki tak pernah berhenti.

 

Di sepanjang jalur pejalan kaki berjajar kafe dan restoran bergaya, dan setelah matahari terbenam, suasana orang dewasa mulai terasa.

 

"Wah, indah banget. Lihat, ada menara!"

 

"Yakishio, hati-hati lihat ke depan, bahaya."

 

Di tengah taman berdiri menara televisi raksasa yang mengingatkan pada Menara Eiffel, sekaligus menjadi simbol kota.

 

Sambil mengejar Yakishio yang memanggil-manggil dengan riang, aku mengutak-atik kerah kausku. Dari tubuhku tercium aroma segar seperti citrus.

 

…Tidak ada hal mencurigakan, jadi izinkan aku memberi alasan dulu.

 

Kursi bus umum itu tidak terlalu luas. Kalau duduk berdua, wajar saja tubuh saling bersentuhan.

 

Setiap kali bus bergoyang, kami pasti saling menempel, dan karena sudah masuk bulan Juli, pakaian Yakishio jadi semakin tipis, jadi wajar saja aku merasakan garis tubuhnya di lenganku. Sekian, alasan selesai.

 

"Nukkun, sini sini! Kita foto bareng!"

 

"O-oke…"

 

Saat aku berdiri di samping Yakishio seperti yang diminta, di hadapan kami terbentang permukaan air yang berkilauan memantulkan pemandangan malam.

 

Permukaan air itu tampak seperti kolam persegi panjang besar, tapi sebenarnya bukan kolam.

 

Air hanya dialirkan di atas permukaan ubin, dan di ujung permukaan air sepanjang puluhan meter itu berdiri menara televisi yang diterangi cahaya lampu.

 

Pemandangan malam—cahaya lampu—permukaan air berkilauan—

 

Pantulan cahaya dari air menerangi Yakishio dari bawah.

 

Dengan semua elemen yang begitu fotogenik, bahkan aku yang biasanya sinis pun tak bisa menahan hatiku untuk tidak goyah.

 

"Nih, Nukkun lihat lensa. Ayo, lebih dekat sedikit, kalau nggak nanti nggak masuk frame."

 

"Eh, a-aku mengerti."

 

Lagi pula, aku sedang selfie pemandangan malam bersama gadis yang manis. Di hadapan kenyataan itu, prinsip atau keyakinan pribadiku terasa seperti hal sepele.

 

"Bagus banget hasilnya. Aku kirim ke semua orang, ya."

 

"Tunggu, itu berbahaya, kan?! Bisa disalahpahami banget!"

 

Saat aku panik, Yakishio menatapku dengan mata cokelat tua miliknya.

 

"Disalahpahami… disalahpahami apa?"

 

"Itu…"

 

Melihatku yang kehabisan kata, Yakishio tertawa senang.

 

"Bercanda kok. Kita sudah sampai sini, mau naik menara televisinya?"

 

"Jam segini?"

 

"Hari ini kan Sabtu, buka sampai malam."

 

Begitu ya. Yakishio kelihatannya tahu detail sekali.

 

Kalau sudah sejauh ini, rasanya memang harus lanjut saja. Kami berjalan melewati deretan kafe terbuka yang ramai menuju menara televisi.

 

Ngomong-ngomong, Yakishio keluar kamar dengan alasan mau ke minimarket. Kalau malah main di tempat seperti ini, apa yang lain tidak akan khawatir?

 

Saat aku melirik Yakishio, dia menatapku seolah sudah menunggu.

 

"Hm, kenapa?"

 

"A-ah, tidak apa-apa…"

 

Nada suaranya entah kenapa terasa seperti memancing, membuatku tanpa sadar tertekan dan mengalihkan pandangan.

 

…Mungkin tidak apa-apa membuat mereka sedikit khawatir. Entah kenapa aku merasa begitu.

 

 

Begitu keluar dari lift, pemandangan malam Nagoya terbentang di depan kami.

 

Dari balik kaca ruang observasi, taman yang tadi kami lewati terlihat kecil di bawah sana.

 

"Wah, indah banget! Lihat, Nukkun!"

 

Yakishio berseru riang dan memanggilku.

 

Kalimat "pemandangan malam memang indah, tapi kamu lebih indah" sempat terlintas di kepalaku, tapi itu cuma pengaruh anime yang kutonton kemarin, jadi tentu saja tidak aku ucapkan.

 

Sambil berdiri berdampingan memandangi pemandangan malam, aku membuka topik lain.

 

"Ngomong-ngomong, katanya waktu kecil Yanami pernah ditipu ayahnya, dikira ini Menara Tokyo. Terus—"

 

"Baik, nyawa cadangan Nukkun berkurang satu."

 

Tiba-tiba Yakishio berkata begitu dengan nada tidak senang.

 

Padahal ini bukan kencan, masa tidak boleh membicarakan gadis lain…?

 

"Kalau nyawa cadangannya habis, apa yang terjadi?"

 

"Kalau begitu, Nukkun bakal dimakan."

 

Itu masalah besar. Meskipun aku siswa SMA laki-laki, kalau diserahkan ke Yanami, mungkin dalam beberapa hari sudah habis dimakan—

 

…Ups, tidak boleh. Baru saja aku dimarahi karena membawa-bawa gadis lain.

 

"Baiklah, aku akan berhati-hati mulai sekarang."

 

"Bagus, aku maafkan."

 

Setelah berkata begitu dan tertawa senang, Yakishio kembali menatap pemandangan malam.

 

Profil wajahnya terlihat sedikit lebih dewasa dibanding Yakishio yang biasa kukenal. Aku jadi merasa agak canggung, lalu ikut mengalihkan pandangan ke pemandangan malam.

 

Pusat kota Nagoya tidak terlalu banyak gedung tinggi, jadi cahaya kota tampak terus membentang sejauh mata memandang.

 

"…Yakishio, kamu ingin melihat ini, ya."

 

Yakishio menjawab dengan nada setengah ragu.

 

"Hm, setengah benar."

 

"Setengah?"

 

"Akhir-akhir ini aku jarang punya kesempatan ngobrol berdua dengan Nukkun, jadi kupikir sesekali begini juga tidak apa-apa."

 

Sambil berkata begitu, Yakishio sedikit mencondongkan tubuh ke arah kaca.

 

"Kamu kan sering datang ke rumahku. Untuk… pinjam shower."

 

"Itu pinjam dari adikmu. Kalau cuma ada Nukkun saja, aku tidak datang, kan?"

 

Mungkin benar, tapi tetap saja fakta bahwa teman sekelas perempuan meminjam kamar mandi rumahku tidak berubah.

 

Rasanya agak mengganggu, jadi sebaiknya dia menahan diri. Bukan berarti aku menyuruhnya berhenti.

 

"Tapi kemarin kamu tidur di tempat tidurku, kan. Untung Kaju ada di rumah, tapi itu berbahaya."

 

"Waktu itu maaf ya. Aku cuma agak capek—"

 

Yakishio yang hampir menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba menatapku dengan ekspresi terkejut.

 

"Kamu bilang tidak apa-apa karena Kaju ada di rumah, kalau dia tidak ada, memangnya bakal bagaimana?"

 

"Kalau kamu tidur di kamar laki-laki di rumah kosong—"

 

"Kalau tidur, memangnya bakal bagaimana?"

 

…Tunggu, ini topik yang sangat sensitif.

 

Jawabannya bisa meninggalkan masalah di masa depan. Aku berdehem pelan.

 

"Yakishio, dengarkan baik-baik. Tidur di kamar laki-laki dengan pakaian yang hampir seperti pakaian dalam itu terlalu ceroboh. Apalagi kalau cuma berdua di rumah, nanti tetangga bisa menyebarkan gosip yang tidak baik."

 

—Tetangga. Cara licik untuk mengubah topik sensitif menjadi tekanan sosial yang tidak langsung.

 

Tapi tampaknya cukup efektif bagi Yakishio. Wajahnya memerah dan dia menunduk malu.

 

"Jadi… kamu mengerti?"

 

"…Nukkun. Waktu itu kamu melihat pakaianku, ya."

 

Soalnya memang kelihatan.

 

"Tidak, maksudku… tubuhmu keluar dari futon. Kamu tetap pakai pakaian, kan."

 

"I-iya, benar. Karena tetap pakai, berarti aman—"

 

Yakishio yang hampir menyelesaikan ucapannya menutup wajah dengan kedua tangannya dan berjongkok.

 



"…Bukan. Itu pakaian dalam."

 

Eh, itu pakaian dalam ternyata. Tapi dia sering berkeliaran dengan pakaian yang mirip seperti itu, kan…

 

"Itu kan yang disebut ‘pakaian dalam yang boleh diperlihatkan’, kan?"

 

"Nggak ada yang begituan, tahu?!"

 

Begitu ya, ternyata memang tidak ada. Kalau begitu, pakailah pakaian yang benar.

 

"Aku juga tidak menatapnya terlalu serius, kok."

 

"Bisa tidak kita akhiri pembicaraan ini?!"

 

Ya, mungkin itu yang terbaik. Yakishio berdiri sambil menarik napas dalam-dalam.

 

"…Aku tadi sedang membicarakan apa, ya?"

 

"Tentang kamu ingin bicara denganku. Ada sesuatu kah?"

 

"Hm… cuma merasa akhir-akhir ini suasana di sekitar Nukkun agak ramai."

 

Selama setahun ini rasanya memang selalu ramai.

 

Tunggu, kalau bicara soal kejadian besar belakangan ini—

 

"…Yakishio, kamu tahu sampai sejauh mana?"

 

Saat aku bertanya dengan nada serius, Yakishio menatapku dengan pandangan dingin.

 

"Jadi memang benar, ya. Kamu musuh para perempuan."

 

"Memangnya kamu bicara soal apa?"

 

"Coba pegang dadamu sendiri dan pikirkan."

 

Jangan-jangan Yakishio tahu soal pengakuan perasaan dari Tiara…?

 

Tidak, tunggu. Bisa juga dia tahu soal aku berpura-pura pacaran dengan Shiratama, atau mungkin dia melihatku pergi ke toko bunga bersama Shikiya tempo hari. Atau mungkin dia tahu waktu aku diajak Kepala Klub Kurata ke kafe dekat pos polisi minggu lalu—

 

Kali ini aku tidak boleh salah menjawab. Aku membuka mulut dengan hati-hati.

 

"Jadi… yang mana maksudmu?"

 

"Memang musuh perempuan, ya."

 

Sial, aku salah memilih opsi. Yakishio menghela napas panjang seperti mengosongkan paru-parunya.

 

"Sebenarnya tidak apa-apa sih. Tapi Nukkun suatu saat… bakal pergi ke tempat yang tidak bisa aku kejar, ya."

 

…Aku yang menjauh dari Yakishio? Eh, mungkin aku salah dengar.

 

Yang selalu berlari jauh di depanku itu Yakishio, bersinar di tempat yang bahkan sulit kugapai.

 

Yakishio menatapku dengan mata yang seolah melihat adik yang kurang bisa diandalkan.

 

"Ngomong-ngomong, kamu bicara soal rencana masa depan dengan Tsukinoki-senpai, kan?"

 

Kok dia tahu. Orang itu memang tidak bisa menjaga rahasia deh.

 

"Ya… setelah lulus, aku mungkin akan lanjut kuliah dan keluar dari rumah."

 

"Hmm, Nukkun juga bakal pergi keluar, ya."

 

Kalau dia bilang "juga", berarti Yakishio tentu memikirkan hal yang sama. Sambil mengamati reaksinya, aku membuka mulut.

 

"Yakishio mau ke mana?"

 

"Hm, setelah kualifikasi wilayah Tokai, ada beberapa tempat yang sudah menghubungiku. Tim yang kuat di ekiden."

 

Wah, tawaran datang secepat itu, ya.

 

Selama ini Yakishio adalah atlet yang tidak dikenal, bahkan belum pernah tampil di tingkat nasional. Situasi itu bisa berubah total hanya karena satu penampilan bagus.

 

"Melanjutkan pendidikan juga berhubungan dengan pekerjaan, kan. Aku ingin terus berlari selamanya, tapi kalau ingin menjadikannya pekerjaan, aku harus memikirkan masa depan dari sekarang."

 

Yakishio menatap pantulan dirinya di kaca, tampak sedikit gelisah.

 

"Belum lama ini kita masih SMP, masih anak-anak. Bahkan sekarang pun rasanya masih anak-anak, tapi kita sudah harus menentukan masa depan."

 

Yakishio menarik napas, lalu menghembuskannya.

 

"Menurutmu… kita sudah jadi orang dewasa, ya?"

 

"…Entahlah."

 

Entah sudah dewasa atau belum.

 

Kita tetap harus berpura-pura menjadi orang dewasa, padahal belum pernah mengalaminya. Dan mungkin, saat terus berpura-pura seperti itu, tanpa sadar kita benar-benar menjadi orang dewasa.

 

Yakishio sedikit memiringkan tubuhnya ke arahku dan berbisik.

 

"Aku ingin… sedikit lebih lama menjadi anak-anak."

 

Makna kata-kata itu, dan perasaan Yakishio yang sebenarnya,

aku tidak bisa memahaminya sepenuhnya, dan Yakishio juga pasti sudah tahu itu.

 

Ada aku yang tidak mengerti, dan ada dia yang tidak bisa dimengerti sepenuhnya.

 

Sambil membiarkan hati kami larut dalam pemandangan malam yang berkilauan, kami berdiri diam di tempat itu.

 

 

Saat keluar ke dek yang lebih tinggi dari ruang observasi, angin malam yang lembap menyapu tubuh kami.

 

Sambil menahan poni yang tertiup angin, Yakishio berseru riang.

 

"Wah, anginnya enak banget ya~!"

 

Sikap ceria yang membuat suasana muram tadi terasa seperti kebohongan.

 

Ketinggian dek ini tidak jauh berbeda dari ruang observasi, tapi dipenuhi langit dan aroma malam. Sambil menahan perasaan melayang, aku memandangi pemandangan malam melewati pagar pengaman.

 

Pemandangan yang sama seperti tadi terasa berbeda hanya karena tidak terhalang kaca.

 

—Di balik setiap cahaya, ada orang-orang dan maknanya masing-masing.

 

Dari sana, mungkin kami hanya terlihat seperti bagian dari cahaya lampu yang tidak jelas.

 

Meskipun tidak terlihat, di sini ada siswi SMA biasa yang sedang bingung memikirkan masa depan. Dan ada aku, yang bahkan belum bisa melihat masa depan sejauh itu untuk merasa bingung.

 

Sambil membalas senyum Yakishio yang ceria, aku membiarkan perasaan yang dibawa angin malam mengalir begitu saja.

 

…Tiba-tiba, aku berhenti di depan sebuah plakat batu kecil.

 

Di situ tertulis "Tempat Suci Para Kekasih", dan di pagar belakangnya tergantung banyak kartu pesan berbentuk hati.

 

Saat kulihat dengan rasa penasaran, di kartu-kartu itu tertulis nama dan pesan dari para pasangan.

 

Semuanya penuh cinta. Syukurlah aku tidak membawa Yanami ke sini…

 

Yah, biasanya laki-laki dan perempuan yang bahkan tidak pacaran tidak datang melihat pemandangan malam di menara televisi, jadi memikirkan hal seperti ini mungkin terlalu berlebihan.

 

Setelah mengakhiri lamunan yang agak menyindir diri sendiri, aku mencari Yakishio dan melihatnya sedang mengutak-atik sesuatu di depan pagar agak jauh.

 

…? Apa dia juga terpengaruh pesan cinta para pasangan itu?

 

"Yakishio, ada yang menarik?"

 

"!! Tidak ada apa-apa kok. Sudah mulai dingin, kita turun saja."

 

Begitu ya? Rasanya ruang observasi yang ber-AC malah lebih sejuk dari sini.

 

"Sebelum itu, boleh pinjam ponselmu? Aku ingin memotret pemandangan malam."

 

"Boleh—eh, kenapa kamu ke sini?!"

 

Saat aku mencoba mendekat ke arah Yakishio tadi, dia entah kenapa menghalangiku mati-matian.

 

"Kenapa ya… aku cuma ingin memotret pemandangan malam dari sana."

 

"Kalau begitu, dari ruang observasi bawah malah kelihatan lebih bagus kan! Ayo turun!"

 

"Tapi kalau di bawah, pantulannya kena kaca—"

 

"Iya iya, Nukkun ayo!"

 

Yakishio mendorong punggungku dengan kuat. Eh… kenapa dia berusaha keras menjauhkan aku dari pagar itu?

 

Tanpa benar-benar mengerti apa yang terjadi, aku didorong masuk ke tangga yang menuju ruang observasi.

 

 

Begitu turun dari bus, aku memastikan pijakan kakiku di tanah.

 

──Harusnya cuma pergi ke minimarket. Tapi entah bagaimana, aku malah berakhir melihat pemandangan malam berdua dengan Yakishio.

 

Perasaan melayang seperti habis bermimpi itu masih belum hilang sepenuhnya.

 

"Menurutmu yang lain tidak khawatir ya?"

 

"Aku sudah bilang kok. Aku bilang mau jalan-jalan sebentar sama Nukkun."

 

Kalau dibilang jalan-jalan, rasanya agak terlalu lama, ya.

 

Waktunya sudah lewat jauh dari pukul 21.00. Begitu kembali, Yanami dan Komari pasti bakal ribut…

 

Tanpa mempedulikan kekhawatiranku, Yakishio berjalan dengan suasana hati yang sangat baik, melompat-lompat di atas pinggir trotoar.

 

"Yakishio, berbahaya tahu. Jangan jalan di situ."

 

"Nukkun itu khawatiran banget, ya."

 

Walaupun berkata begitu, Yakishio turun dari trotoar dan berjalan di sampingku.

 

Sambil berjalan di jalan malam menuju apartemen Tsukinoki-senpai, aku mengingat waktu yang barusan kami lewati.

 

Di tempat yang berbeda dari biasanya, membuka isi hati kepada seseorang.

 

Mungkin Yakishio memang membutuhkan waktu seperti itu.

 

Tapi ada satu hal yang masih tidak kupahami──

 

"Nukkun, kenapa?"

 

Aku berhenti berjalan dan menatap mata Yakishio.

 

"Yakishio, kenapa kamu mengajakku keluar?"

 

"Aku sudah bilang tadi, kan. Akhir-akhir ini kita jarang ngobrol berdua."

 

"Itu memang benar, tapi…"

 

Yakishio memutar langkahnya hingga berdiri di depanku, lalu menampilkan senyum cerahnya yang biasa.

 

"Nukkun kan ketua klub, dan harus mengurus Anna-chan, Komari-chan, sekarang juga Tama-chan, kan? Makanya aku ingin… membawa Nukkun…"

 

Kali ini Yakishio justru terdiam.

 

"Aku… kenapa?"

 

"──Siapa tahu."

 

Yakishio tersenyum malu, lalu menyentil ujung hidungku dengan jarinya sebelum berbalik.

 

──Di antara aku dan Yakishio, memang ada semacam perasaan.

 

Tapi aku tidak sebodoh itu sampai mengira dia menyukaiku.

 

Bagi Yakishio, aku hanyalah teman yang sedikit aneh.

 

Dan karena itu, mungkin aku dipilih menjadi teman jalan dalam malam yang aneh seperti ini.

 

Yakishio berjalan dengan langkah tenang sambil berbisik pelan.

 

"Nukkun kan punya Komari-chan dan Anna-chan."

 

Komari dan Yanami? Kenapa tiba-tiba menyebut dua nama itu…?

 

Sebelum sempat memutuskan untuk menanyakannya, ponsel Yakishio berbunyi. Setelah melihat layar, Yakishio tersenyum kecut sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

 

"Iya iya, ada apa, Anna-chan?"

 

Wah, akhirnya Yanami menelepon.

 

Dilihat dari cara Yakishio berbicara sambil tertawa, suasana hati Yanami terlihat bagus──tidak, dari suara Yanami yang bocor dari ponsel, sepertinya belum tentu juga.

 

Yanami dan Komari itu, kalau melihat aku terlalu manis ke Yakishio pasti marah. Aku paham mereka khawatir pada Yakishio, tapi aku tidak mungkin mencoba merayunya…

 

Tahun lalu di Festival Tsuwabuki, ada cowok yang salah paham karena Yakishio terlalu dekat dan akhirnya hancur total. Aku tidak mau mengulang kejadian itu.

 

"Makanya, aku cuma pinjam Nukkun sebentar."

 

Suara Yakishio saat menelepon mulai meninggi.

 

…Yanami dan Yakishio sebenarnya sedang membicarakan apa, ya.

 

Saat aku mencuri dengar dengan gugup, aku menyadari sesuatu.

 

Yakishio menatapku lurus sambil tetap menempelkan ponsel di telinganya.

 

Eh… kenapa…? Dalam posisi itu, Yakishio menatapku dan berkata,

 

"────Selingkuh."

 

Setelah mengatakan itu, Yakishio menutup telepon.

 

…Hah? Selingkuh? Dia tadi bicara apa dengan Yanami?

 

Yakishio melihatku yang kebingungan, lalu tertawa kecil.

 

"Nukkun, sudah malam. Kita pulang, yuk."

 

"Eh? Ah, iya."

 

Yakishio entah kenapa bersenandung pelan sambil berjalan menuju apartemen tempat Yanami dan yang lain menunggu.

 

──Selingkuh. Kata yang agak berbahaya itu entah kenapa membuat jantungku berdebar.

 

Kalau kembali sekarang, Yanami pasti bakal ribut. Apa aku langsung ke rumah Tamaki-senpai saja untuk menginap malam ini…

 

Sambil berjalan setengah melamun, kami tiba di depan apartemen Tsukinoki-senpai.

 

Aku menghentikan Yakishio yang hendak langsung masuk ke gedung.

 

"Yakishio, tidak jadi mampir ke minimarketnya?"

 

"Iya, sudah malam, sih."

 

…Lho, bukannya tadi mau beli sikat gigi?

 

Sambil mengikuti Yakishio masuk ke lobi, aku meliriknya diam-diam.

 

Jangan-jangan sejak awal ajakan ke minimarket itu memang semua sudah direncanakan Yakishio…?

 

"Ada apa, Nukkun?"

 

"Ah, tidak… bukan apa-apa."

 

…Tidak, lebih baik tidak kupikirkan.

 

Di hadapan senyum Yakishio, memikirkan hal seperti itu terasa──terlalu tidak peka.

 



Previous Chapter | Next Chapter


0

Post a Comment

close