Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Angin yang Mudah Berubah
Aku turun dari Shinkansen ke peron, lalu menatap langit biru di sela-sela musim hujan melalui kabel listrik di atas rel.
Sekitar
dua puluh menitan dari Stasiun Toyohashi, kami berempat dari kelas dua klub
sastra SMA Tsuwabuki kini berada di Stasiun Nagoya.
Kami
datang untuk mengunjungi Tsukinoki-senpai dan Tamaki-senpai yang melanjutkan
pendidikan ke Nagoya sejak musim semi, dengan rencana menginap selama dua hari
satu malam.
"Ah,
kalau cuma diam saja bahuku jadi pegal. Gerbang tiketnya yang mana, ya?"
Yakishio
meregangkan badan sambil melihat sekeliling.
"Ikuti
saja arus orang, mungkin. Semua sudah lengkap belum?"
Komari
muncul dari balik tubuh Yakishio.
"A-aku
di sini. Yanami ke mana?"
"Yanami-san
tadi ada di sana──"
Eh,
tidak ada. Jangan-jangan dia kelewatan naik kereta.
Kalau
begitu, Yanami sendirian harus makan takoyaki di Osaka.
Saat
aku melihat sekeliling peron, aku menemukan punggung Yanami di depan toko mie
kishimen berdiri.
"Ternyata
di sini. Ayo cepat ke gerbang tiket."
Yanami
berbalik perlahan, lalu menunjukkan secarik kertas dengan wajah merasa
bersalah.
"...Aku
sudah beli kupon makanan."
Begitu
ya, sudah beli....
Mungkin
menyadari ekspresi lelah dari kami bertiga, Yanami melambaikan tangan ke
samping.
"Soalnya,
kalau ke Nagoya ya harus makan kishimen, kan?! Begitu turun dari Shinkansen,
tokonya langsung ada di depan mata! Ya pasti beli kupon, dong."
"Tidak
ada selain Yanami-san yang membelinya."
Mendengar
komentarku yang datar, Yanami membuka telapak tangannya.
"Lima
menit... tidak, tiga menit saja! Aku makan cepat!"
Setelah
berkata begitu, dia masuk ke toko makan berdiri itu.
Yanami
keluar dengan bibir berkilau──dua menit lima puluh detik setelah masuk.
Entah
kenapa dia memasang ekspresi bangga, dan kami pun bertepuk tangan saja untuk
sementara.
◇
Di
depan department store yang terhubung dengan Stasiun Meitetsu, ada tempat
pertemuan paling terkenal di Nagoya.
──Patung
Nana-chan.
Sebuah
manekin raksasa setinggi lebih dari 6 meter, dengan kehadiran yang tidak akan
terlupakan oleh siapa pun yang pernah melihatnya.
Yanami
menatap Nana-chan dengan mulut ternganga.
"Sudah
lama tidak melihatnya, tapi tetap besar ya."
"Katanya
beratnya sekitar 600 kilogram."
"Hee,
berarti sekitar dua puluh kali berat badanku."
Oh,
dua puluh kali Yanami. 600 dibagi 20 berarti──
"...Apa
tidak terlalu berlebihan? Hati nuranimu tidak menegur?"
"Tidak
menegur. Secara perasaan sih segitu."
Di
samping percakapan kosong kami, Yakishio melihat jam.
"Waktu
janjian dengan para senior sudah lewat, kan?"
Sudah
lewat lima menit dari waktu janji, tapi lawannya Tsukinoki-senpai. Sepertinya
memang biasa seperti ini.
Saat
aku menatap tubuh putih Nana-chan, Komari mulai melambaikan tangan dengan penuh
semangat.
"S-senpai!
Di sini!"
"Oh,
maaf-maaf. Aku jadi terlambat."
Yang
muncul sambil tertawa santai adalah alumni klub sastra, Tsukinoki Koto.
Sambil
melihat Tsukinoki-senpai melambaikan tangan dengan Komari yang berlari
mendekat, aku mencari sosok alumni laki-laki.
"Eh,
Tamaki-senpai tidak datang?"
Anggota
perempuan akan menginap di rumah Tsukinoki-senpai, dan aku di rumah
Tamaki-senpai. Kalau orang itu tidak ada, bisa-bisa aku harus pulang dengan
kereta terakhir sendirian....
Sambil
mengacak rambut Komari, Tsukinoki-senpai tersenyum.
"Katanya
laporan praktikumnya belum selesai, jadi dia menyusul nanti. Wah, ternyata
mahasiswa juga cukup sibuk ya."
"Senpai,
kamu benar-benar masuk kelas kan?"
Sambil
memikirkan kesulitan pacarnya, aku melihat Yanami dan Yakishio yang sedang
berfoto dengan Nana-chan.
──Nagoya,
kota terbesar di Prefektur Aichi.
Di
tangan kota ini, bahkan manekin raksasa misterius bisa menjadi objek wisata.
Menurutku
Toyohashi juga tidak kalah menarik, tapi kenyataan bahwa Shinkansen Nozomi
tidak berhenti di sana terasa cukup menyakitkan.
"Kalian
setelah ini ingin ke kawasan pertokoan Osu, kan? Kalau begitu kita naik
subway."
Setelah
puas menikmati Komari, Tsukinoki-senpai memanggil kami semua.
Subway.
Moda transportasi yang hanya dimiliki kota besar. Tapi Toyohashi punya trem,
tahu....
Sambil
menyalakan rasa persaingan dalam hati, aku mengikuti arahan menuju stasiun
subway.
◇
Kami
berganti jalur subway di Fushimi, lalu turun di Stasiun Kamimaezu.
Dari
sini sampai Osu Kannon terdapat beberapa jalan pertokoan yang berjejer, dan
seluruh kawasan ini menjadi tempat wisata.
Begitu
sampai di pintu masuk Jalan Banshoji, Yanami menghela napas besar.
"Ah…
serius deh, ini sudah keterlaluan...."
"Eh...
apa maksudnya?"
Aku
bertanya karena kewajiban, dan Yanami menunduk sedikit sambil menempelkan jari
ke dahinya, lalu menggeleng seolah pasrah.
"Lihat,
Nukumizu-kun. Di pintu masuk jalan itu──ada, kan?"
"Hm.
Ada toko onigiri panggang dan toko kastanye manis."
"Aku
sudah mempersiapkan diri untuk musim panas, tapi kalau ada hal seperti ini,
jadi repot."
Yanami
menyibakkan rambutnya sambil melewati toko-toko itu.
"Oh,
jadi Yanami-san lagi gemu──maksudku, lagi diet ya."
"...Kamu
tadi hampir bilang sesuatu, kan?"
"Tidak."
Tapi
akhir-akhir ini Yanami sering memakai pakaian kasual yang menyamarkan bentuk
tubuh, mungkin memang begitu....
Saat
aku menahan tekanan dari tatapan Yanami, Yakishio melambai dari kejauhan.
"Di
sana ada sesuatu yang sepertinya disukai Yana-chan! Ayam panggang utuh. Katanya
makanan khas Osu!"
"Apa
itu, bisa dimakan sambil jalan tidak?!"
Ayam
panggang utuh makanan khas Osu...? Tidak begitu paham sih, tapi ini Nagoya,
jadi mungkin memang begitu.
Menerima
apa pun dan tidak terlalu memikirkan detail. Itulah Nagoya.
"Ya-Yakishio,
jangan lari-lari...."
Komari
yang sudah lelah mengejar dua orang yang berlari itu.
Saat
aku melihat pemandangan itu dengan senyum, Tsukinoki-senpai berdiri di
sampingku sambil memegang botol teh.
"Bagaimana,
kampung halaman keduaku?"
"Awalnya
aku kira suasananya mirip Osaka karena terasa ramai dan campur aduk, tapi
ternyata agak berbeda ya."
"Oh?
Maksudnya?"
Nada
bicara Tsukinoki-senpai terdengar penasaran.
"Entah
kenapa ada penjual kebab, ada juga restoran Brasil, rasanya tidak punya
kesatuan tema."
Aku
melihat sekeliling jalan.
"Warung
okonomiyaki di sana juga menulis gaya Nagoya, tapi aku tidak tahu itu seperti
apa, rasanya agak serba asal atau──"
Aku
memutar otak, mencari kata yang tepat.
"...Ini
sangat Nagoya sekali, ya."
Aku
menyerah. Nagoya memang sulit dipahami.
"Aku
setuju. Aku juga baru pindah, jadi tidak bisa bicara seolah tahu segalanya.
Rasanya seperti punya momentum dan daya meyakinkan yang misterius."
Aku
tanpa sadar melirik kafe maid yang kami lewati.
Jadi
maid di toko itu katanya robot maid yang datang dari masa depan... begitu
ya....
"Kalau
tinggal di sini, Nagoya itu tempat yang bagus. Nukumizu-kun, bagaimana kalau
kamu ke sini dua tahun lagi?"
"Hahaha,
Nagoya ya."
Aku
menjawab seadanya karena perhatianku masih tertuju pada maid, lalu senpai
tiba-tiba menunjukkan wajah serius.
"Nukumizu-kun,
tahun depan kamu sudah kelas tiga, kan. Kamu harus mulai memikirkan masa depan
dari sekarang."
Mendengar
itu dari orang ini rasanya agak sulit diterima, tapi memang benar. Kalau
memikirkan ujian masuk, mungkin lebih baik menentukan arah sejak kelas dua.
"Benar
juga. Orang tuaku bilang setelah lulus aku harus keluar dari rumah."
"Oh,
mereka sudah membicarakan itu?"
"Iya.
Mereka bilang aku harus siap tidak kembali ke rumah, dan pergi sejauh
mungkin."
Mendengar
itu, kacamata Tsukinoki-senpai berkilat tajam.
"Oho,
pembukaannya mirip manga BL bertema desa adat yang kubaca kemarin. Orang tua si
protagonis berusaha membuat pemuda itu kabur dari desa."
"Lalu
apa yang terjadi dengan protagonisnya?"
"Dia
tertangkap dan mengalami hal yang luar biasa dengan kepala desa tampan.
Tertarik?"
"Tidak.
Kenapa senpai mengambil ponsel? Tolong jangan buka aplikasinya."
Orang
ini bahkan setelah jadi mahasiswa tidak berubah. Malah makin parah....
Menahan
pelecehan dari alumni juga bagian dari tugas ketua klub. Saat aku menanggapinya
dengan pikiran kosong, Yakishio kembali berlari.
"Loh,
Komari-chan tidak ada di sini?"
"Tidak
ada. Bukannya tadi mengejar Yakishio ya?"
"Itu
dia, entah sejak kapan dia menghilang. Mungkin ada di sekitar sini?"
Yakishio
menunduk cemas sambil mengintip ke bawah gerobak di depan toko.
Dia
bukan kucing, masa ada di situ──ya, mungkin saja ada kemungkinan kecil.
"Kalau
terpisah, bukannya bisa dihubungi saja?"
Saat
aku mengeluarkan ponsel, Tsukinoki-senpai menunjukkan wajah bingung.
"Anak
itu sekarang tidak membawa ponsel. Katanya dia meninggalkannya di tas yang
disimpan di loker koin."
Timing
yang benar-benar buruk.
Saat
aku memikirkan harus bagaimana, Yanami muncul sambil mengunyah sesuatu.
"Fo-fita
no? Faifufemo ofofifa."
Habiskan
dulu baru bicara.
"Jangan
bilang kamu habis makan ayam panggang utuh?"
Yanami
menelan isi mulutnya, lalu mengangkat bahu sebagai bentuk protes.
"Sebanyak
apa pun aku, tidak akan makan satu ekor utuh. Aku cuma makan masakan Brasil
yang namanya tidak kuketahui."
Begitu
ya, kalau tidak tahu namanya berarti tidak dihitung untuk diet. Aku
menyelesaikan dengan logika ala Yanami, lalu menjelaskan situasi sekarang.
"Oh
iya, terakhir kali aku lihat Komari-chan sedang mengejar kucing liar."
"Kucing
liar?"
Kesaksian
sudah didapat. Artinya──tidak ada petunjuk ke mana Komari pergi.
◇
Di
sisi selatan Osu, seorang gadis kecil berjalan sendirian di Jalan Higashi
Niomon.
"Uweh...
i-ini di mana...?"
Dengan
tubuh gemetar kecil, berjalan membungkuk sambil melihat sekitar dari balik poni
adalah Komari Chika.
Saat
mengejar kucing liar, dia tersesat ke tempat yang tidak dikenalnya.
Daerah
Osu memiliki banyak jalan pertokoan yang saling bersilangan, jadi jika lengah
sedikit saja, sangat mudah tersesat.
Di
saat seperti ini, ponselnya tidak ada di tangan, dan dia juga tidak tahu harus
menuju ke arah mana.
Saat
melewati papan bertuliskan taiyaki alami, tiba-tiba patung kucing keberuntungan
besar muncul di depan matanya.
Kejadian
mendadak seperti ini memang khas Nagoya, tapi Komari tidak punya waktu
memikirkannya.
Sementara
dia menangkupkan tangan di depan patung kucing itu,
"...Komari-chan?"
Suara
yang dulu sangat dikenalnya terdengar.
"Uweh?!
T-Tamaki-senpai?!"
Yang
berdiri di sana adalah Tamaki Shintarou. Sambil mengusap mata mengantuknya, dia
mendekati Komari.
"Kamu
sendirian? Koto dan yang lain ke mana?"
"E-eh...
aku, tidak bawa ponsel, jadi terpisah...."
Setelah
memahami situasinya, Tamaki mengeluarkan ponselnya, dan ada pesan dari Koto.
"Oh,
sepertinya mereka membagi kelompok untuk mencari. Tenang saja, aku akan bilang
sudah ketemu."
Tamaki
menahan menguap sambil membalas pesan, lalu memasukkan ponselnya ke saku.
"Kalian
mau ke Osu Kannon untuk berdoa, kan. Mau pergi bareng?"
"E-eh,
tidak apa-apa kalau tidak bergabung dengan yang lain?"
"Tidak
apa kok. Aku sudah bilang kita ketemu langsung di tujuan. Tujuannya sama,
kan."
Saat
Tamaki memberi isyarat dengan tangan, Komari berlari kecil mendekat.
Sambil
berjalan berdampingan, mereka saling berbagi kabar terbaru.
"T-Tamaki-senpai,
bagaimana kehidupan kuliahnya?"
"Praktikum
dan laporan sudah berat sejak awal. Aku khawatir bisa lulus atau tidak."
"M-mahasiswa
ternyata berat ya."
Komari
melirik wajah Tamaki dari samping, lalu memalingkan pandangan dengan malu.
"Aku
dengar Komari-chan juga bekerja keras. Pemilihan OSIS kemarin pasti berat,
ya."
"I-itu
Nukumizu yang sembarangan──"
Komari
menghentikan kata-katanya sejenak, lalu berbicara lagi dengan nada kesal.
"N-Nukumizu
itu gampang tergoda perempuan, cepat tersipu, dan suka pamer. T-Tolong, senpai
juga tegur dia."
Melihat
Komari mengerucutkan bibir sambil protes, Tamaki menahan tawa.
Para
adik kelas yang manis memang tetap manis seperti dulu.
"Mungkin
itu juga sisi baik Nukumizu. Kamu pasti repot ya, Komari-chan."
"Feh?!
A-aku tidak... aku cuma wakil ketua klub."
Komari
memerah sambil memainkan poninya.
Ups,
mungkin aku sedikit terlalu menggoda. Tamaki menatap bola emas besar misterius
yang menggantung di arcade, lalu mengganti topik.
"Komari-chan
juga sudah kelas dua, pasti bukan cuma klub, pelajaran juga berat, kan."
"Uweh...
pelajarannya cepat sekali, berat...."
"Aku
dulu hampir tidak belajar, jadi waktu kelas tiga kesulitan. Kalau Komari-chan
sih sepertinya tidak masalah, tapi kalau sudah punya tujuan universitas──"
"A-aku!"
Komari
tiba-tiba bersuara keras. Tamaki berhenti melangkah karena terkejut, dan Komari
berbicara dengan suara gemetar.
"S-Setelah
lulus──aku ingin pergi ke Tokyo."
"Mau
masuk universitas di Tokyo?"
Komari
mengangguk kuat.
"K-Keluargaku
tidak mampu swasta, jadi aku sedang mencari beasiswa atau asrama."
Setelah
mengatakan semuanya sekaligus, Komari menarik napas panjang.
"A-aku
ingin mengatakan ini pada seseorang. Tapi belum benar-benar pasti. Jadi ini
rahasia saja."
Setelah
selesai bicara, Komari kembali menundukkan wajah dengan malu.
...Kenapa
tiba-tiba dia membicarakan ini? Bahkan Komari sendiri tidak tahu. Tapi saat
ini, dia benar-benar ingin orang di depannya mendengarnya.
Orang
yang dulu pernah dia sukai──
Tamaki
terkejut mendengar pengakuan mendadak itu, lalu menepuk kepala Komari.
"Baiklah.
Ini rahasia antara aku dan Komari-chan saja."
Komari
mengangguk berulang kali, lalu berjalan cepat dengan wajah memerah.
Sambil
berjalan di belakangnya, Tamaki kembali berpikir.
──Komari
memang adik kelas yang manis.
◇
Setelah
mendapat kabar bahwa Komari sudah ditemukan, aku menuju tempat pertemuan di Osu
Kannon.
Berjalan
sendirian di jalan pertokoan yang asing justru terasa menyenangkan seperti
sedang bepergian.
Saat
memikirkan hal itu, aku melihat punggung Tsukinoki-senpai di depan.
Saat
hendak memanggilnya dan mendekat, senpai membetulkan kacamatanya sambil
bergumam.
"Anginnya──berisik."
Sudah
jadi mahasiswa tapi masih berkata seperti itu, orang ini.
Saat
aku ragu memanggilnya, dia sepertinya menyadari kehadiranku lalu berbalik.
"Oh,
Nukumizu-kun, ada apa?"
"Itu
yang ingin kutanyakan. Apa maksud gumaman tadi?"
"Aku
tidak tahu, tapi entah kenapa hatiku gelisah...."
Mungkin
karena Komari tersesat, dia merasa khawatir. Orang ini ternyata punya perasaan
juga.
"Kalau
soal Komari, dia bersama Tamaki-senpai, kan. Tidak perlu khawatir."
"Benar
juga, kalau bersama dia pasti aman──"
Tsukinoki-senpai
yang hampir menyelesaikan kalimatnya, lalu menyilangkan tangan sambil berpikir.
"Ada
apa?"
"...Aku
tetap merasa tidak tenang, jadi aku akan menyusul mereka dulu. Sampai
nanti!"
Sambil
menelepon, Tsukinoki-senpai berlari menjauh.
Begitu
ya, jadi inilah yang disebut manajemen krisis ala heroine pemenang. Semoga yang
lain juga bisa mencontohnya.
Namun
aneh, orang yang sedang dicari tidak kunjung ditemukan, tapi orang yang tidak
ada urusan malah mudah sekali ditemui. Kalau mengikuti alur ini, orang
berikutnya yang akan kutemui adalah──
"Eh,
bukannya itu Nukumizu-kun?"
Dari
antrian toko dango, Yanami melambaikan tangan dengan heboh.
Mengabaikannya
malah terasa merepotkan, jadi aku mendekat, lalu Yanami menunjuk ke bagian
paling belakang antrian.
"Nukumizu-kun,
kalau mau beli, tolong antri yang benar yaa."
"Aku
tidak beli. Yanami-san, bukannya kamu sedang diet?"
Serangan
ringan dariku dibalas Yanami dengan menggelengkan jari.
"Di
sana tertulis ‘Spesialitas Osu Mitarashi Dango’, kan? Kalau sudah begitu,
sebagai warga Toyohashi, aku tidak bisa tinggal diam."
Memang
benar, Toyohashi terkenal dengan mitarashi dango manis pedas yang menggunakan
kecap tamari. Sebagai budak karbohidrat, tentu saja Yanami tidak bisa
mengabaikannya.
"Ngomong-ngomong,
ini penelitian, jadi kalorinya bisa diabaikan."
"Tidak
bisa."
Sambil
mengobrol begitu, kami pun sampai di bagian depan antrian.
"Permisi!
Satu mitarashi dango dan satu kinako dango ya!"
"Penelitian
kinako dango juga perlu ya?"
"Soalnya
kelihatannya enak. Nih, terima kasih banyaaak!"
Dengan
masing-masing tangan memegang dango, Yanami tampak sangat senang.
Sudah
SMA tapi bisa sebahagia ini hanya karena dango, mungkin justru itu sebuah
bakat.
"Kenapa
menatapku begitu? Mau coba satu gigitan?"
"Hari
ini Yanami-san kelihatan sangat bersemangat."
Mendengar
pertanyaanku yang polos, Yanami menghela napas seolah berkata "ya
ampun".
"Soalnya,
setiap kali pergi main sama Nukumizu-kun, biasanya kita terseret masalah,
kan?"
"Ada
ya, hal yang seperti itu?"
Kalau
dipikir-pikir, apa pernah aku pergi jalan dengan Yanami tanpa masalah…?
Yanami
menggoyang-goyangkan tusuk dango, lalu mulai mengingat masa lalu.
"Pernah
terseret drama Asagumo-san, pernah menyeret Basori-san ke karaoke, bahkan
pernah menguntit adikmu di Toyokawa Inari, kan?"
"Itu
dihitung sebagai jalan-jalan?"
Yanami
sudah menghabiskan dangonya, lalu membuang tusuknya ke tabung di depan toko.
"Setidaknya
untuk perjalanan ke Nagoya kali ini, menurutku tidak apa-apa kalau kita main
tanpa memikirkan apa pun. Makan dua tusuk dango juga tidak masalah."
"Iya,
ya. Sudahlah, ayo kita jalan."
Sambil
menanggapi Yanami seadanya, aku memasuki jalan bertuliskan Osu Kannon-dori.
"Ngomong-ngomong,
kenapa kita datang ke Osu Kannon tadi?"
"Lemon-chan
yang ingin datang ke sini. Katanya ingin berdoa ke dewa yang bikin
pintar."
Dewa
yang bikin pintar. Kedengarannya sangat bodoh.
Sambil
berjalan berdampingan, aku mengulang kata-kata Yanami di dalam kepalaku.
──Pergi
main tanpa kekhawatiran atau tujuan khusus.
Sepertinya
selama ini jarang sekali ada kesempatan seperti itu…
"Nukumizu-kun,
ada yang jual ubi bakar! Gimana?"
"Tidak
bagaimana-bagaimana. Ayo cepat, yang lain sudah menunggu."
Pikiran
bahwa hal seperti ini juga tidak buruk──aku buru-buru menepis pikiran itu.
◇
Osu
Kannon katanya termasuk salah satu dari tiga Kannon terbesar di Jepang, dan
juga memuja Tenjin, dewa ilmu pengetahuan.
Aku
memasukkan koin 500 yen ke kotak persembahan di aula utama, lalu berdoa agar
Kaju lulus ujian masuk SMA.
Kaju
memang berprestasi, tapi ujian masuk SMA adalah pertaruhan satu kali. Aku ingin
para dewa dan Buddha membantu Kaju sepenuhnya.
Saat
membuka mata setelah selesai berdoa, entah sejak kapan Yakishio sudah berdiri
di sampingku.
"Nukkun,
harus tepuk tangan berapa kali ya?"
"Ini
kuil Buddha, jadi tidak perlu tepuk tangan. Itu biasanya dilakukan di kuil
Shinto sebagai salam untuk dewa."
"Tenjin
itu dewa Sugawara, kan? Kenapa kalau di kuil Buddha tidak perlu tepuk tangan
ya?"
Kalau
dipikir-pikir, kenapa ya. Saat aku memiringkan kepala, Yakishio menyatukan
tangan dan menundukkan kepala dalam-dalam.
"Oke,
kalau begitu, ujian berikutnya pasti lancar."
"Belajar
tetap perlu, ya."
Sambil
menuruni tangga aula utama bersama Yakishio, aku meliriknya sekilas. Seperti
biasa, tidak terlihat tegang sama sekali.
"Tapi
cukup mengejutkan. Bukannya kamu tidak suka mengandalkan doa seperti ini?"
"Memang
sih. Tapi kalau sudah memutuskan melakukannya, kupikir tidak apa-apa meminjam
kekuatan apa pun."
Melompat
menuruni beberapa anak tangga terakhir, Yakishio mengedipkan mata.
"Loh,
Komari-chan ke mana ya?"
"Hilang
lagi?"
Saat
melihat sekeliling halaman kuil, Yanami sedang menatap makanan burung merpati,
pasangan Tsukinoki sedang menulis ema. Lalu──di sudut halaman, ada gumpalan
merpati yang bergerak-gerak ramai.
"Entah
kenapa, dari gumpalan itu terdengar jeritan."
"Syukurlah.
Komari-chan kelihatannya baik-baik saja."
Iya,
syukurlah. Kalau jeritannya sudah berhenti, baru kita selamatkan.
"Nukkun,
setelah ini kita mau ke mana?"
"Ehm,
setelah makan siang, kita ke rumah Tsukinoki-senpai, kan. Katanya mau
menyiapkan makan malam bersama."
"Oh
iya, benar."
Sikap
Yakishio seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Ada
apa? Ada tempat yang ingin kamu datangi?"
"Hmm,
untuk sekarang tidak apa-apa."
Setelah
bergumam penuh makna, Yakishio membuka mulut lebar-lebar.
"Ah.
Suara Komari-chan sudah tidak terdengar."
"Sepertinya
sudah waktunya kita menyelamatkannya."
Aku
dan Yakishio saling berpandangan, lalu berlari menuju gumpalan merpati itu.
◇
Tsukinoki-senpai
mengangkat panci dalam rice cooker, lalu menuangkan nasi yang baru matang ke
dalam ember kayu.
Kemudian,
sambil menambahkan cuka campur ke nasi yang masih mengepul, ia mengaduknya
dengan spatula seperti memotong.
Ia
sedang membuat nasi sushi untuk hand roll sushi makan malam.
Kamar
senpai cukup luas, tipe 1LDK. Sambil menikmati pencapaian bisa masuk kamar
mahasiswi, aku menatap deretan poster BL yang memenuhi dinding.
Tamaki-senpai
sering datang ke sini ya. Posternya cukup ekstrim…
"Nukumizu-kun,
aku akan memasak 5 kg lagi, bisa tolong cuci berasnya?"
"Baik.
Tapi memasak sebanyak itu tidak apa-apa?"
"Soalnya
ada Yanami-san, kan."
Alasan
yang sangat meyakinkan. Saat aku dengan patuh mencuci beras, Tsukinoki-senpai
bertanya dengan penasaran.
"Makan
siang benar-benar tidak apa-apa cuma di Sugakiya? Di Toyohashi juga ada,
kan?"
"Kalau
makan di Nagoya, rasanya lebih spesial. Ramen yang sama seperti di Toyohashi
pun, sejarahnya jadi bumbu spesial──kata Yanami-san."
"Kata
Yanami-san ya."
Lagi-lagi
Yanami. Kalau soal makanan, Yanami memang selalu terlibat.
Ngomong-ngomong,
Tsukinoki-senpai sangat cekatan.
"Peralatan
seperti ember sushi, kok bisa punya barang seperti ini?"
"Yang
seperti ini banyak sekali di rumah keluargaku. Yakishio-chan, tolong bawa ini
ke meja."
"Baik!"
Yakishio
membawa ember kayu berisi nasi sushi ke arah Yanami yang sudah menunggu sambil
memegang kipas. Untuk menghilangkan panas dan menguapkan kelembapan berlebih.
"Terima
kasih sudah mencuci beras. Aku akan mengatur takaran airnya, sisanya biar aku
yang urus."
"Ah,
baik. Tolong ya."
Karena
sudah tidak ada kerjaan, aku pergi melihat Komari yang sedang membuat telur
dadar.
Seperti
yang kuduga, tangannya juga cukup cekatan.
"Ke,
kenapa senyum-senyum begitu?"
"Aku
cuma kagum. Kamu memang sering masak untuk anak-anak kecil itu ya?"
"Te,
telur itu menu andalan. O, omurice juga, kuat."
Dengan
senyum bangga, ia memutar gulungan telur dadar itu dengan cekatan.
Kalau
dilihat begini, Tsukinoki-senpai dan Komari sama-sama pandai memasak dan
terlihat keibuan. Tamaki-senpai mungkin sebenarnya beruntung soal wanita. Atau
mungkin juga tidak.
Saat
aku bimbang di antara dua penilaian yang bertolak belakang itu, aku menyadari
sosok Tamaki-senpai yang sedang termenung di balkon.
Sesekali
mendengar cerita mesranya mungkin bisa menyeimbangkan pikiranku…
Aku
keluar ke balkon dan berdiri di samping Tamaki-senpai.
Kamar
ini berada di lantai delapan apartemen, di kawasan perumahan dekat kampus.
Selain beberapa apartemen yang berjajar di sepanjang jalan, tidak ada bangunan
tinggi lain, sehingga pemandangan luas terbentang di depan mata.
"Senpai,
kelihatannya kurang bersemangat ya. Ada apa?"
"Teman
sekelompok praktekku kena flu dan tumbang. Tiba-tiba jatah laporanku jadi
bertambah…"
Turut
berduka. Orang ini mungkin memang punya bakat menarik kesulitan.
"Jadi
mahasiswa ternyata berat ya. Aku kira isinya cuma bersenang-senang."
"Itu
tergantung orangnya sih. Ada juga yang──"
Tamaki-senpai
melirik pelan ke arah pacarnya yang ada di dapur. Kesulitan yang sudah dipesan
tampaknya ada di sana.
Tamaki-senpai
tersenyum pahit, lalu kembali memandang pemandangan luar.
"Ya,
memang berat, tapi menyenangkan. Kalau punya tujuan, rasanya bisa terus
berusaha."
Di
arah pandangan senpai, bangunan kampus terlihat sesekali. Aku ragu sejenak
sebelum membuka mulut.
"Kalau
nanti, senpai akan meneruskan pabrik sake milik Tsukinoki-senpai?"
"Masih
belum tahu sih. Tapi aku sudah kenal orang tua Koto sejak dulu. Bahkan mereka
terlihat lebih bersemangat, atau mungkin lebih tepatnya menekanku…"
Orang
tua Tsukinoki-senpai, meskipun cara mendidik anaknya begitu, tampaknya punya
mata yang bagus dalam memilih menantu.
"Mereka
bilang setelah lulus akan mengenalkanku pada perusahaan pembuat sake kenalan
mereka, jadi untuk sementara kupikir aku akan belajar di sana."
"Loh,
bukan langsung bekerja di tempat Tsukinoki-senpai?"
"Aku
harus mengenal dunia luar dulu dan jadi profesional. Kalau orang baru masuk
sebagai menantu, orang sekitar pasti tidak nyaman."
Ternyata
pembicaraannya sudah sampai sejauh itu. Tamaki-senpai benar-benar mengambil
keputusan besar.
………Keputusan
besar. Apa tidak sebaiknya dipikirkan lagi?
Meski
bukan urusanku, aku tetap merasa cemas. Tamaki-senpai lalu berjongkok di depan
pot tanaman di balkon.
Sebuah
tanaman hias kecil. Senpai menyentuh tanahnya dengan ujung jari, lalu kembali
ke dalam kamar untuk mengambil air dalam gelas.
"Koto
ini malas menyiram air. Kalau begini terus, tanamannya bisa mati."
Tamaki-senpai
menuangkan air sambil mengomel pelan.
Melihat
betapa terbiasanya dia berada di rumah pacarnya membuatku agak deg-degan…
Sambil
melihat Tamaki-senpai merawat tanaman itu dengan penuh perhatian, aku kembali
mengulang dalam hati.
Mungkin
dia memang sebaiknya memikirkannya sedikit lebih lama.
◇
Saat
matahari hampir terbenam, pesta hand roll sushi pun dimulai.
Nasi
sushi dalam jumlah besar di dalam ember kayu, bersama tumpukan nori dan
berbagai bahan isi.
Sebagai
pembawa elemen "jumlah besar", Yanami menaruh nasi dan bahan isi
setinggi gunung di atas nori, bahkan sudah menghapus unsur
"menggulung" dari temaki sushi itu sendiri.
"Yanami-san,
ini hand roll sushi, setidaknya pura-pura menggulung sedikit dong?"
"Nukumizu-kun
ini detail sekali. Hand roll sushi itu simbol kebebasan. Isi sebanyak
mungkin."
Sambil
berkata begitu, Yanami langsung melahapnya. Bahkan tanpa mencelupkan ke kecap,
benar-benar terlalu bebas.
Meski
begitu, melihat Yanami tidak akan membuat perutku kenyang. Baiklah, aku mau
mengisi apa ya…
Bahan
yang disiapkan ada tuna, salmon, mentimun, telur dadar, tuna mayo, crab stick,
dan sosis ikan──semuanya standar.
"…Sosis
ikan?"
Aku
tanpa sadar bergumam, lalu Yanami menatapku tajam.
"Nukumizu-kun,
kalau hand roll sushi ya harus pakai sosis ikan. Cocok banget sama tuna
mayo."
Kalau
keluarga Yanami begitu, mau bagaimana lagi. Melawan juga percuma.
"Kalau
begitu, mayo jagung juga rasa khas keluarga Yanami?"
"Ma,
mayo jagung itu wajib, kan."
Mayo
jagung ternyata tradisi keluarga Komari.
Sepertinya
mayones memang tidak bisa dipisahkan dari temaki sushi. Buktinya, Yakishio juga
memasukkan pasta putih ke dalam temaki sushi miliknya──
"Loh?
Itu bukan mayones, kan?"
"Itu
krim keju. Di rumahku, ini sudah standar."
Keluarga
Yanami dan Komari pakai mayones, keluarga Yakishio pakai krim keju. Sambil
merasakan kesenjangan sosial, aku menaruh daging tuna di atas nasi.
Berikutnya──
"Nih,
ini juga rekomendasiku."
Yanami
menyendok tenkasu (potongan adonan tepung goreng) dan menaburkannya ke temaki
sushi milikku.
"Jangan
memasukkan sesuatu ke punyaku tanpa izin."
"Semua
makanan jadi rasa tempura, jadi untung."
"Justru
bermasalah kalau semuanya jadi rasa tempura."
Untuk
percobaan pertama, aku memutuskan tuna, mentimun, dan telur dadar. Tenkasu
memang tambahan yang tidak perlu, tapi biarlah.
"Shintarou,
jangan main ponsel saat makan."
"Tunggu
sebentar, sepertinya ada satu lagi anggota kelompok praktikku yang hampir
tumbang."
Seperti
biasa, orang ini tidak pernah lepas dari kesulitan.
…Melihat
kami semua makan sushi bersama begini, aku jadi teringat pertemuan keluarga
besar.
Dulu
aku tidak bisa berbaur dengan anak-anak lain, sampai Kaju mengkhawatirkanku.
Bahkan
dengan kerabat saja aku seperti itu, tapi sekarang aku makan temaki sushi
bersama orang-orang yang bukan keluarga.
Entah
kenapa rasanya seperti sedang bermimpi, dan aku memandang kosong ke arah semua
orang di meja.
Yanami
dengan semangat melahap bukan hand roll sushi melainkan sushi terbuka, Yakishio
dan Komari saling menambahkan bahan rekomendasi ke sushi masing-masing.
Tamaki-senpai
menggulung salmon sambil dihibur Tsukinoki-senpai.
Masing-masing
menjalani kehidupan yang berbeda, tapi bisa duduk bersama mengelilingi satu
meja makan.
──Masih
terasa sedikit memalukan, tapi malam seperti ini juga tidak buruk.
Aku
menaruh sosis ikan, mayo jagung, dan krim keju, lalu menggulungnya dengan nori.
◇
Pesta
hand roll sushi sudah memasuki babak akhir.
5
kg nasi sushi sudah habis, dan nasi sushi di ember kedua juga sudah berkurang
cukup banyak. Penyebabnya jelas, tapi nasi ini cepat sekali habis…
"Ah,
norinya sudah habis ya."
"Benar
juga. Masih ada kok, tunggu sebentar ya."
Tsukinoki-senpai
berdiri untuk menyiapkan nori tambahan.
Sepertinya
tidak bisa menunggu, Yanami langsung menaruh nasi sushi di piring, lalu mulai
menyusun isian di atasnya.
"Yanami-san,
tidak bisa menunggu sampai norinya datang? Tahan sedikit lagi yuk."
"…Nukumizu-kun,
aku kepikiran sesuatu. Sebenarnya, hand roll sushi itu perlu nori tidak
sih?"
"Hah?"
Maksudnya
apa ini. Apa dia mulai aneh karena kebanyakan makan?
"Kalau
tidak ada nori, memang tidak bisa digulung, kan?"
"Ada
istilah bumbu di dalam mulut, kan? Jadi maksudnya, bisa digulung di dalam
mulut──atau malah di dalam perut."
Kabar
buruk──Yanami benar-benar mulai aneh. Aku tersenyum ramah sambil menanggapi
ucapannya.
"Iya
ya, mungkin begitu."
"Kalau
dipikir lagi, rasanya walau tanpa isian pun hand roll sushi tetap bisa ada.
Kalau ditarik sampai akhir, hand roll sushi paling sempurna itu cuma nasi
saja."
"Itu
cuma nasi sushi biasa, kan?"
Sial,
aku refleks menimpali.
Yanami
langsung melahap hand roll sushi (?) di piringnya, lalu mengangguk dengan wajah
serius.
"Iya,
ini jelas hand roll sushi. Nukumizu-kun juga coba dong."
"Tidak
mau. Dan jangan menaruh sesuatu ke piringku tanpa izin."
Saat
aku beradu tangan dengan Yanami, Tsukinoki-senpai meletakkan piring berisi nori
di meja.
"Nih,
tambahan nori untuk semua."
"Terima
kasih!"
Yanami
langsung mengambil nori dan menaruh nasi sushi setinggi gunung di atasnya.
"Jadi
pakai nori juga. Terus pembicaraan tadi itu apa?"
"Kalau
ada ya dimakan. Senpai, nori ini enak ya."
"Oh,
kamu bisa tahu? Itu nori bagus yang dipanen dari Teluk Mikawa."
Sambil
melihat mereka berdua asyik ngobrol soal bahan makanan kering, aku saling
bertatapan dengan Tamaki-senpai.
…Kita
sama-sama berjuang ya.
◇
Hah,
Yanami terus menyuruhku makan, jadi aku kebanyakan makan…
Saat
keluar dari toilet, aku berpapasan dengan Yakishio yang sedang menuju pintu
masuk.
"Mau
keluar?"
"Aku
lupa bawa sikat gigi. Mau beli di minimarket."
"Oh,
begitu."
Saat
hendak kembali ke ruang tamu, Yakishio menatapku dengan mata menyipit.
"Dengar
ya, ada cewek mau keluar malam-malam. Tidak ada yang mau kamu bilang?"
"Ah,
iya. Hati-hati di jalan malam."
Meski
jawabanku sudah sempurna, Yakishio malah menghela napas panjang.
"Haa…
biasanya dalam situasi begini, kamu ikut jadi bodyguard, kan?"
Bodyguard…?
Aku yang jelas lebih lemah dari Yakishio, bisa menjalankan peran itu tidak ya.
Walau ragu, suasananya tidak terlihat seperti bisa menolak.
"Eh,
kalau begitu aku ambil ponsel dulu──"
Saat
aku hendak kembali ke ruang tamu, Yakishio menarik tanganku.
"Ayo
cepat. Nanti bilang ke yang lain belakangan saja."
"Eh,
tapi…"
"Iya
iya, pergi sebelum ketahuan."
Aku
akhirnya mengikuti saja dan memasukkan kaki ke sepatu.
…Jangan
melawan yang lebih kuat. Itu prinsip hidupku.
◇
Aku
berjalan berdampingan dengan Yakishio di trotoar sepanjang jalan besar dua
lajur.
Matahari
sudah tenggelam, trotoar diterangi lampu jalan dan lampu mobil yang
lalu-lalang.
Di
sepanjang jalan ada apartemen dan pom bensin, dan para pejalan kaki yang
berpapasan mungkin penduduk yang sedang pulang. Suasananya terasa agak sibuk.
"Kalau
matahari sudah tenggelam, enak ya rasanya."
"Kalau
pakai lengan pendek mungkin agak dingin."
Yakishio
terlihat sangat ceria. Ia melangkah seperti menari di depanku, lalu berputar
menghadapku.
"Hei,
mau lomba lari sampai minimarket?"
"Tidak
mau. Jalan mundur begitu berbahaya loh."
"Iya
iya. Nukkkun seperti ibuku saja deh."
Yakishio
berkata dengan nada kesal, lalu berjalan meninggalkanku.
Aku
berjalan di belakangnya dengan menjaga jarak, sambil tanpa sadar memandangi
punggungnya.
──Yakishio
Lemon. Kulit tangan dan kakinya yang kecokelatan, tubuhnya yang terlatih.
Ia
menyatukan jari tangannya di belakang punggung, dan entah kenapa punggung itu
terlihat seperti ingin diajak bicara. Apa aku cuma terlalu percaya diri ya?
"Eh…
latihan klub atletik hari ini tidak apa-apa?"
Kalimatku
sendiri terasa membosankan, tapi ingatlah, yang ada di sini adalah aku.
Punggung
Yakishio sedikit bergoyang, ia tetap berjalan tanpa menoleh.
"Latihan
hari ini sudah selesai, dan pelatih juga bilang besok harus benar-benar
libur."
"Oh,
begitu."
Eh,
percakapannya selesai. Apa aku salah bicara ya…
Sambil
mengadakan rapat evaluasi dalam kepala, aku menyadari kami sudah cukup jauh
dari apartemen.
"Minimarketnya
masih jauh?"
"Hm,
sedikit lagi mungkin."
Yakishio
menjawab santai sambil mempercepat langkah.
Aku
hanya mengikuti dalam diam, sampai kami tiba di persimpangan besar. Di seberang
persimpangan terlihat bangunan besar dengan suasana berbeda dari apartemen.
Itu
kampus tempat Tamaki-senpai kuliah.
"Di
arah sini sepertinya tidak ada minimarket. Apa sebaiknya kita kembali?"
Yakishio
tidak menjawab, malah mengeluarkan ponselnya.
"…Ah,
masih sempat."
"Sempat
apa?"
"Lihat,
lampunya mau ganti."
Yakishio
berlari menuju penyeberangan. Entah kenapa, tapi sepertinya minimarket yang dia
tuju ada di depan sana. Saat aku mengejarnya dan menyeberang, Yakishio berhenti
di depan halte bus.
"Eh…
kita mau ke minimarket, kan?"
"Tunggu
sebentar ya."
Yakishio
melihat jadwal bus.
Di
belakang halte ada bangunan yang terlihat seperti apartemen, dan jelas ini
tidak terlihat seperti tujuan minimarket.
Tiba-tiba,
sebuah bus kota berhenti dengan suara berderak di depan kami.
Tunggu,
kami bukan penumpang. Saat aku hendak mundur selangkah, Yakishio menarik
tanganku.
"Nukkun,
kita naik bus ini."
Eh,
pergi ke minimarket naik bus? Ini Nagoya, kota besar, loh.
Tanpa
mempedulikan kebingunganku, Yakishio menarikku naik ke dalam bus. Begitu kami
duduk di kursi berdua, bus langsung mulai berjalan.
"Ini
jelas bukan ke minimarket, kan. Kita mau ke mana?"
Melihatku
yang masih bingung dengan perkembangan mendadak ini, Yakishio tersenyum nakal
di kursi sempit di sampingku.
"──Rahasia."
◇
Setelah
bergoyang di dalam bus selama 30 menit, kami tiba di Sakae, kawasan hiburan
terbesar di Nagoya.
Taman
Hisaya-Odori yang memanjang sempit dari utara ke selatan di pusat kawasan itu
dipenuhi cahaya lampu, dan arus pejalan kaki tak pernah berhenti.
Di
sepanjang jalur pejalan kaki berjajar kafe dan restoran bergaya, dan setelah
matahari terbenam, suasana orang dewasa mulai terasa.
"Wah,
indah banget. Lihat, ada menara!"
"Yakishio,
hati-hati lihat ke depan, bahaya."
Di
tengah taman berdiri menara televisi raksasa yang mengingatkan pada Menara
Eiffel, sekaligus menjadi simbol kota.
Sambil
mengejar Yakishio yang memanggil-manggil dengan riang, aku mengutak-atik kerah
kausku. Dari tubuhku tercium aroma segar seperti citrus.
…Tidak
ada hal mencurigakan, jadi izinkan aku memberi alasan dulu.
Kursi
bus umum itu tidak terlalu luas. Kalau duduk berdua, wajar saja tubuh saling
bersentuhan.
Setiap
kali bus bergoyang, kami pasti saling menempel, dan karena sudah masuk bulan
Juli, pakaian Yakishio jadi semakin tipis, jadi wajar saja aku merasakan garis
tubuhnya di lenganku. Sekian, alasan selesai.
"Nukkun,
sini sini! Kita foto bareng!"
"O-oke…"
Saat
aku berdiri di samping Yakishio seperti yang diminta, di hadapan kami
terbentang permukaan air yang berkilauan memantulkan pemandangan malam.
Permukaan
air itu tampak seperti kolam persegi panjang besar, tapi sebenarnya bukan
kolam.
Air
hanya dialirkan di atas permukaan ubin, dan di ujung permukaan air sepanjang
puluhan meter itu berdiri menara televisi yang diterangi cahaya lampu.
Pemandangan
malam—cahaya lampu—permukaan air berkilauan—
Pantulan
cahaya dari air menerangi Yakishio dari bawah.
Dengan
semua elemen yang begitu fotogenik, bahkan aku yang biasanya sinis pun tak bisa
menahan hatiku untuk tidak goyah.
"Nih,
Nukkun lihat lensa. Ayo, lebih dekat sedikit, kalau nggak nanti nggak masuk
frame."
"Eh,
a-aku mengerti."
Lagi
pula, aku sedang selfie pemandangan malam bersama gadis yang manis. Di hadapan
kenyataan itu, prinsip atau keyakinan pribadiku terasa seperti hal sepele.
"Bagus
banget hasilnya. Aku kirim ke semua orang, ya."
"Tunggu,
itu berbahaya, kan?! Bisa disalahpahami banget!"
Saat
aku panik, Yakishio menatapku dengan mata cokelat tua miliknya.
"Disalahpahami…
disalahpahami apa?"
"Itu…"
Melihatku
yang kehabisan kata, Yakishio tertawa senang.
"Bercanda
kok. Kita sudah sampai sini, mau naik menara televisinya?"
"Jam
segini?"
"Hari
ini kan Sabtu, buka sampai malam."
Begitu
ya. Yakishio kelihatannya tahu detail sekali.
Kalau
sudah sejauh ini, rasanya memang harus lanjut saja. Kami berjalan melewati
deretan kafe terbuka yang ramai menuju menara televisi.
Ngomong-ngomong,
Yakishio keluar kamar dengan alasan mau ke minimarket. Kalau malah main di
tempat seperti ini, apa yang lain tidak akan khawatir?
Saat
aku melirik Yakishio, dia menatapku seolah sudah menunggu.
"Hm,
kenapa?"
"A-ah,
tidak apa-apa…"
Nada
suaranya entah kenapa terasa seperti memancing, membuatku tanpa sadar tertekan
dan mengalihkan pandangan.
…Mungkin
tidak apa-apa membuat mereka sedikit khawatir. Entah kenapa aku merasa begitu.
◇
Begitu
keluar dari lift, pemandangan malam Nagoya terbentang di depan kami.
Dari
balik kaca ruang observasi, taman yang tadi kami lewati terlihat kecil di bawah
sana.
"Wah,
indah banget! Lihat, Nukkun!"
Yakishio
berseru riang dan memanggilku.
Kalimat
"pemandangan malam memang indah, tapi kamu lebih indah" sempat
terlintas di kepalaku, tapi itu cuma pengaruh anime yang kutonton kemarin, jadi
tentu saja tidak aku ucapkan.
Sambil
berdiri berdampingan memandangi pemandangan malam, aku membuka topik lain.
"Ngomong-ngomong,
katanya waktu kecil Yanami pernah ditipu ayahnya, dikira ini Menara Tokyo.
Terus—"
"Baik,
nyawa cadangan Nukkun berkurang satu."
Tiba-tiba
Yakishio berkata begitu dengan nada tidak senang.
Padahal
ini bukan kencan, masa tidak boleh membicarakan gadis lain…?
"Kalau
nyawa cadangannya habis, apa yang terjadi?"
"Kalau
begitu, Nukkun bakal dimakan."
Itu
masalah besar. Meskipun aku siswa SMA laki-laki, kalau diserahkan ke Yanami,
mungkin dalam beberapa hari sudah habis dimakan—
…Ups,
tidak boleh. Baru saja aku dimarahi karena membawa-bawa gadis lain.
"Baiklah,
aku akan berhati-hati mulai sekarang."
"Bagus,
aku maafkan."
Setelah
berkata begitu dan tertawa senang, Yakishio kembali menatap pemandangan malam.
Profil
wajahnya terlihat sedikit lebih dewasa dibanding Yakishio yang biasa kukenal.
Aku jadi merasa agak canggung, lalu ikut mengalihkan pandangan ke pemandangan
malam.
Pusat
kota Nagoya tidak terlalu banyak gedung tinggi, jadi cahaya kota tampak terus
membentang sejauh mata memandang.
"…Yakishio,
kamu ingin melihat ini, ya."
Yakishio
menjawab dengan nada setengah ragu.
"Hm,
setengah benar."
"Setengah?"
"Akhir-akhir
ini aku jarang punya kesempatan ngobrol berdua dengan Nukkun, jadi kupikir
sesekali begini juga tidak apa-apa."
Sambil
berkata begitu, Yakishio sedikit mencondongkan tubuh ke arah kaca.
"Kamu
kan sering datang ke rumahku. Untuk… pinjam shower."
"Itu
pinjam dari adikmu. Kalau cuma ada Nukkun saja, aku tidak datang, kan?"
Mungkin
benar, tapi tetap saja fakta bahwa teman sekelas perempuan meminjam kamar mandi
rumahku tidak berubah.
Rasanya
agak mengganggu, jadi sebaiknya dia menahan diri. Bukan berarti aku menyuruhnya
berhenti.
"Tapi
kemarin kamu tidur di tempat tidurku, kan. Untung Kaju ada di rumah, tapi itu
berbahaya."
"Waktu
itu maaf ya. Aku cuma agak capek—"
Yakishio
yang hampir menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba menatapku dengan ekspresi
terkejut.
"Kamu
bilang tidak apa-apa karena Kaju ada di rumah, kalau dia tidak ada, memangnya
bakal bagaimana?"
"Kalau
kamu tidur di kamar laki-laki di rumah kosong—"
"Kalau
tidur, memangnya bakal bagaimana?"
…Tunggu,
ini topik yang sangat sensitif.
Jawabannya
bisa meninggalkan masalah di masa depan. Aku berdehem pelan.
"Yakishio,
dengarkan baik-baik. Tidur di kamar laki-laki dengan pakaian yang hampir
seperti pakaian dalam itu terlalu ceroboh. Apalagi kalau cuma berdua di rumah,
nanti tetangga bisa menyebarkan gosip yang tidak baik."
—Tetangga.
Cara licik untuk mengubah topik sensitif menjadi tekanan sosial yang tidak
langsung.
Tapi
tampaknya cukup efektif bagi Yakishio. Wajahnya memerah dan dia menunduk malu.
"Jadi…
kamu mengerti?"
"…Nukkun.
Waktu itu kamu melihat pakaianku, ya."
Soalnya
memang kelihatan.
"Tidak,
maksudku… tubuhmu keluar dari futon. Kamu tetap pakai pakaian, kan."
"I-iya,
benar. Karena tetap pakai, berarti aman—"
Yakishio
yang hampir menyelesaikan ucapannya menutup wajah dengan kedua tangannya dan
berjongkok.
"…Bukan.
Itu pakaian dalam."
Eh,
itu pakaian dalam ternyata. Tapi dia sering berkeliaran dengan pakaian yang
mirip seperti itu, kan…
"Itu
kan yang disebut ‘pakaian dalam yang boleh diperlihatkan’, kan?"
"Nggak
ada yang begituan, tahu?!"
Begitu
ya, ternyata memang tidak ada. Kalau begitu, pakailah pakaian yang benar.
"Aku
juga tidak menatapnya terlalu serius, kok."
"Bisa
tidak kita akhiri pembicaraan ini?!"
Ya,
mungkin itu yang terbaik. Yakishio berdiri sambil menarik napas dalam-dalam.
"…Aku
tadi sedang membicarakan apa, ya?"
"Tentang
kamu ingin bicara denganku. Ada sesuatu kah?"
"Hm…
cuma merasa akhir-akhir ini suasana di sekitar Nukkun agak ramai."
Selama
setahun ini rasanya memang selalu ramai.
Tunggu,
kalau bicara soal kejadian besar belakangan ini—
"…Yakishio,
kamu tahu sampai sejauh mana?"
Saat
aku bertanya dengan nada serius, Yakishio menatapku dengan pandangan dingin.
"Jadi
memang benar, ya. Kamu musuh para perempuan."
"Memangnya
kamu bicara soal apa?"
"Coba
pegang dadamu sendiri dan pikirkan."
Jangan-jangan
Yakishio tahu soal pengakuan perasaan dari Tiara…?
Tidak,
tunggu. Bisa juga dia tahu soal aku berpura-pura pacaran dengan Shiratama, atau
mungkin dia melihatku pergi ke toko bunga bersama Shikiya tempo hari. Atau
mungkin dia tahu waktu aku diajak Kepala Klub Kurata ke kafe dekat pos polisi
minggu lalu—
Kali
ini aku tidak boleh salah menjawab. Aku membuka mulut dengan hati-hati.
"Jadi…
yang mana maksudmu?"
"Memang
musuh perempuan, ya."
Sial,
aku salah memilih opsi. Yakishio menghela napas panjang seperti mengosongkan
paru-parunya.
"Sebenarnya
tidak apa-apa sih. Tapi Nukkun suatu saat… bakal pergi ke tempat yang tidak
bisa aku kejar, ya."
…Aku
yang menjauh dari Yakishio? Eh, mungkin aku salah dengar.
Yang
selalu berlari jauh di depanku itu Yakishio, bersinar di tempat yang bahkan
sulit kugapai.
Yakishio
menatapku dengan mata yang seolah melihat adik yang kurang bisa diandalkan.
"Ngomong-ngomong,
kamu bicara soal rencana masa depan dengan Tsukinoki-senpai, kan?"
Kok
dia tahu. Orang itu memang tidak bisa menjaga rahasia deh.
"Ya…
setelah lulus, aku mungkin akan lanjut kuliah dan keluar dari rumah."
"Hmm,
Nukkun juga bakal pergi keluar, ya."
Kalau
dia bilang "juga", berarti Yakishio tentu memikirkan hal yang sama.
Sambil mengamati reaksinya, aku membuka mulut.
"Yakishio
mau ke mana?"
"Hm,
setelah kualifikasi wilayah Tokai, ada beberapa tempat yang sudah
menghubungiku. Tim yang kuat di ekiden."
Wah,
tawaran datang secepat itu, ya.
Selama
ini Yakishio adalah atlet yang tidak dikenal, bahkan belum pernah tampil di
tingkat nasional. Situasi itu bisa berubah total hanya karena satu penampilan
bagus.
"Melanjutkan
pendidikan juga berhubungan dengan pekerjaan, kan. Aku ingin terus berlari
selamanya, tapi kalau ingin menjadikannya pekerjaan, aku harus memikirkan masa
depan dari sekarang."
Yakishio
menatap pantulan dirinya di kaca, tampak sedikit gelisah.
"Belum
lama ini kita masih SMP, masih anak-anak. Bahkan sekarang pun rasanya masih
anak-anak, tapi kita sudah harus menentukan masa depan."
Yakishio
menarik napas, lalu menghembuskannya.
"Menurutmu…
kita sudah jadi orang dewasa, ya?"
"…Entahlah."
Entah
sudah dewasa atau belum.
Kita
tetap harus berpura-pura menjadi orang dewasa, padahal belum pernah
mengalaminya. Dan mungkin, saat terus berpura-pura seperti itu, tanpa sadar
kita benar-benar menjadi orang dewasa.
Yakishio
sedikit memiringkan tubuhnya ke arahku dan berbisik.
"Aku
ingin… sedikit lebih lama menjadi anak-anak."
Makna
kata-kata itu, dan perasaan Yakishio yang sebenarnya,
aku
tidak bisa memahaminya sepenuhnya, dan Yakishio juga pasti sudah tahu itu.
Ada
aku yang tidak mengerti, dan ada dia yang tidak bisa dimengerti sepenuhnya.
Sambil
membiarkan hati kami larut dalam pemandangan malam yang berkilauan, kami
berdiri diam di tempat itu.
◇
Saat
keluar ke dek yang lebih tinggi dari ruang observasi, angin malam yang lembap
menyapu tubuh kami.
Sambil
menahan poni yang tertiup angin, Yakishio berseru riang.
"Wah,
anginnya enak banget ya~!"
Sikap
ceria yang membuat suasana muram tadi terasa seperti kebohongan.
Ketinggian
dek ini tidak jauh berbeda dari ruang observasi, tapi dipenuhi langit dan aroma
malam. Sambil menahan perasaan melayang, aku memandangi pemandangan malam
melewati pagar pengaman.
Pemandangan
yang sama seperti tadi terasa berbeda hanya karena tidak terhalang kaca.
—Di
balik setiap cahaya, ada orang-orang dan maknanya masing-masing.
Dari
sana, mungkin kami hanya terlihat seperti bagian dari cahaya lampu yang tidak
jelas.
Meskipun
tidak terlihat, di sini ada siswi SMA biasa yang sedang bingung memikirkan masa
depan. Dan ada aku, yang bahkan belum bisa melihat masa depan sejauh itu untuk
merasa bingung.
Sambil
membalas senyum Yakishio yang ceria, aku membiarkan perasaan yang dibawa angin
malam mengalir begitu saja.
…Tiba-tiba,
aku berhenti di depan sebuah plakat batu kecil.
Di
situ tertulis "Tempat Suci Para Kekasih", dan di pagar belakangnya
tergantung banyak kartu pesan berbentuk hati.
Saat
kulihat dengan rasa penasaran, di kartu-kartu itu tertulis nama dan pesan dari
para pasangan.
Semuanya
penuh cinta. Syukurlah aku tidak membawa Yanami ke sini…
Yah,
biasanya laki-laki dan perempuan yang bahkan tidak pacaran tidak datang melihat
pemandangan malam di menara televisi, jadi memikirkan hal seperti ini mungkin
terlalu berlebihan.
Setelah
mengakhiri lamunan yang agak menyindir diri sendiri, aku mencari Yakishio dan
melihatnya sedang mengutak-atik sesuatu di depan pagar agak jauh.
…?
Apa dia juga terpengaruh pesan cinta para pasangan itu?
"Yakishio,
ada yang menarik?"
"!!
Tidak ada apa-apa kok. Sudah mulai dingin, kita turun saja."
Begitu
ya? Rasanya ruang observasi yang ber-AC malah lebih sejuk dari sini.
"Sebelum
itu, boleh pinjam ponselmu? Aku ingin memotret pemandangan malam."
"Boleh—eh,
kenapa kamu ke sini?!"
Saat
aku mencoba mendekat ke arah Yakishio tadi, dia entah kenapa menghalangiku
mati-matian.
"Kenapa
ya… aku cuma ingin memotret pemandangan malam dari sana."
"Kalau
begitu, dari ruang observasi bawah malah kelihatan lebih bagus kan! Ayo
turun!"
"Tapi
kalau di bawah, pantulannya kena kaca—"
"Iya
iya, Nukkun ayo!"
Yakishio
mendorong punggungku dengan kuat. Eh… kenapa dia berusaha keras menjauhkan aku
dari pagar itu?
Tanpa
benar-benar mengerti apa yang terjadi, aku didorong masuk ke tangga yang menuju
ruang observasi.
◇
Begitu
turun dari bus, aku memastikan pijakan kakiku di tanah.
──Harusnya
cuma pergi ke minimarket. Tapi entah bagaimana, aku malah berakhir melihat
pemandangan malam berdua dengan Yakishio.
Perasaan
melayang seperti habis bermimpi itu masih belum hilang sepenuhnya.
"Menurutmu
yang lain tidak khawatir ya?"
"Aku
sudah bilang kok. Aku bilang mau jalan-jalan sebentar sama Nukkun."
Kalau
dibilang jalan-jalan, rasanya agak terlalu lama, ya.
Waktunya
sudah lewat jauh dari pukul 21.00. Begitu kembali, Yanami dan Komari pasti
bakal ribut…
Tanpa
mempedulikan kekhawatiranku, Yakishio berjalan dengan suasana hati yang sangat
baik, melompat-lompat di atas pinggir trotoar.
"Yakishio,
berbahaya tahu. Jangan jalan di situ."
"Nukkun
itu khawatiran banget, ya."
Walaupun
berkata begitu, Yakishio turun dari trotoar dan berjalan di sampingku.
Sambil
berjalan di jalan malam menuju apartemen Tsukinoki-senpai, aku mengingat waktu
yang barusan kami lewati.
Di
tempat yang berbeda dari biasanya, membuka isi hati kepada seseorang.
Mungkin
Yakishio memang membutuhkan waktu seperti itu.
Tapi
ada satu hal yang masih tidak kupahami──
"Nukkun,
kenapa?"
Aku
berhenti berjalan dan menatap mata Yakishio.
"Yakishio,
kenapa kamu mengajakku keluar?"
"Aku
sudah bilang tadi, kan. Akhir-akhir ini kita jarang ngobrol berdua."
"Itu
memang benar, tapi…"
Yakishio
memutar langkahnya hingga berdiri di depanku, lalu menampilkan senyum cerahnya
yang biasa.
"Nukkun
kan ketua klub, dan harus mengurus Anna-chan, Komari-chan, sekarang juga
Tama-chan, kan? Makanya aku ingin… membawa Nukkun…"
Kali
ini Yakishio justru terdiam.
"Aku…
kenapa?"
"──Siapa
tahu."
Yakishio
tersenyum malu, lalu menyentil ujung hidungku dengan jarinya sebelum berbalik.
──Di
antara aku dan Yakishio, memang ada semacam perasaan.
Tapi
aku tidak sebodoh itu sampai mengira dia menyukaiku.
Bagi
Yakishio, aku hanyalah teman yang sedikit aneh.
Dan
karena itu, mungkin aku dipilih menjadi teman jalan dalam malam yang aneh
seperti ini.
Yakishio
berjalan dengan langkah tenang sambil berbisik pelan.
"Nukkun
kan punya Komari-chan dan Anna-chan."
Komari
dan Yanami? Kenapa tiba-tiba menyebut dua nama itu…?
Sebelum
sempat memutuskan untuk menanyakannya, ponsel Yakishio berbunyi. Setelah
melihat layar, Yakishio tersenyum kecut sambil menempelkan ponsel ke
telinganya.
"Iya
iya, ada apa, Anna-chan?"
Wah,
akhirnya Yanami menelepon.
Dilihat
dari cara Yakishio berbicara sambil tertawa, suasana hati Yanami terlihat
bagus──tidak, dari suara Yanami yang bocor dari ponsel, sepertinya belum tentu
juga.
Yanami
dan Komari itu, kalau melihat aku terlalu manis ke Yakishio pasti marah. Aku
paham mereka khawatir pada Yakishio, tapi aku tidak mungkin mencoba merayunya…
Tahun
lalu di Festival Tsuwabuki, ada cowok yang salah paham karena Yakishio terlalu
dekat dan akhirnya hancur total. Aku tidak mau mengulang kejadian itu.
"Makanya,
aku cuma pinjam Nukkun sebentar."
Suara
Yakishio saat menelepon mulai meninggi.
…Yanami
dan Yakishio sebenarnya sedang membicarakan apa, ya.
Saat
aku mencuri dengar dengan gugup, aku menyadari sesuatu.
Yakishio
menatapku lurus sambil tetap menempelkan ponsel di telinganya.
Eh…
kenapa…? Dalam posisi itu, Yakishio menatapku dan berkata,
"────Selingkuh."
Setelah
mengatakan itu, Yakishio menutup telepon.
…Hah?
Selingkuh? Dia tadi bicara apa dengan Yanami?
Yakishio
melihatku yang kebingungan, lalu tertawa kecil.
"Nukkun,
sudah malam. Kita pulang, yuk."
"Eh?
Ah, iya."
Yakishio
entah kenapa bersenandung pelan sambil berjalan menuju apartemen tempat Yanami
dan yang lain menunggu.
──Selingkuh.
Kata yang agak berbahaya itu entah kenapa membuat jantungku berdebar.
Kalau
kembali sekarang, Yanami pasti bakal ribut. Apa aku langsung ke rumah
Tamaki-senpai saja untuk menginap malam ini…
Sambil
berjalan setengah melamun, kami tiba di depan apartemen Tsukinoki-senpai.
Aku
menghentikan Yakishio yang hendak langsung masuk ke gedung.
"Yakishio,
tidak jadi mampir ke minimarketnya?"
"Iya,
sudah malam, sih."
…Lho,
bukannya tadi mau beli sikat gigi?
Sambil
mengikuti Yakishio masuk ke lobi, aku meliriknya diam-diam.
Jangan-jangan
sejak awal ajakan ke minimarket itu memang semua sudah direncanakan Yakishio…?
"Ada
apa, Nukkun?"
"Ah,
tidak… bukan apa-apa."
…Tidak,
lebih baik tidak kupikirkan.
Di
hadapan senyum Yakishio, memikirkan hal seperti itu terasa──terlalu tidak peka.
Previous Chapter | Next Chapter



Post a Comment