Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Mari Berteman
Gedung barat SMA Tsuwabuki.
Di
sudut gudang yang sempit, seorang siswi sedang menghadap laptop.
Siswi
itu adalah murid kelas dua klub jurnalistik, Koikawa Tsukushi.
Ruangan
gelap tanpa jendela. Cahaya layar samar-samar menerangi wajahnya.
Setelah
menyelesaikan pembaruan koran sekolah, ia mengangkat wajah dari laptop dan
meregangkan tubuh.
Ia
masih memiliki satu wawancara lagi yang harus dilakukan.
"…Baiklah,
waktunya cari penghasilan tambahan lagi."
Sambil
bergumam seolah menyemangati diri sendiri, Koikawa berdiri sambil mengambil
kamera DSLR.
Target
uangnya tinggal sedikit lagi. Jika sudah tercapai, ia akan membeli perlengkapan
yang dibutuhkan dan memulai kembali dari awal.
Ia
berjalan mendekati papan gantungan papan nama di dinding lalu menatapnya.
Di
sana tergantung papan nama berbentuk pita dengan cakram kecil yang menunjukkan
status kehadiran di atasnya.
Beberapa
papan nama berjajar, tetapi hanya satu yang menunjukkan status
"Hadir".
Koikawa
mengubah status papan namanya menjadi "Keluar", lalu meninggalkan
ruangan.
Suara
kunci pintu ditutup menjadi bunyi terakhir, dan gudang yang kosong kembali
sunyi. Sesekali ada murid yang lewat di depan ruangan, tetapi tidak ada yang
berhenti.
──Di
sudut ruangan, ada papan kayu tergeletak bertuliskan, "Klub Pengamat
Burung".
◇
Di
ruang siaran setelah jam sekolah, seorang siswi duduk sendirian.
Hari
ini tampaknya klub penyiaran tidak ada kegiatan, dan tidak terlihat murid lain.
Cahaya redup dari peralatan di sekitarnya memantul samar di dahinya.
──Asagumo
Chihaya.
Ia
menatap lurus ke depan dengan tenang. Seolah-olah ia tahu apa yang akan
terjadi.
Beberapa
menit berlalu.
Pintu
ruang siaran terbuka, dan seorang siswi dengan kamera tergantung di lehernya
menampakkan wajah.
"Halo,
terima kasih sudah mau meluangkan waktu hari ini!"
Siswi
yang masuk dengan sapaan ringan itu adalah Koikawa Tsukushi dari kelas 2-A. Rok
pendeknya berkibar ringan, dengan senyum profesional terpampang di wajahnya.
"Wah,
aku senang sekali. Murid peringkat satu seperti Asagumo-san mau membantu
wawancara."
"Semoga
aku bisa membantu. Silakan duduk."
Setelah
memastikan Koikawa duduk di depannya, Asagumo tersenyum tipis.
"Belakangan
ini, koran sekolah tampaknya cukup populer."
"Yah,
di saat seperti ini harus meningkatkan popularitas dan mengumpulkan prestasi.
Baiklah, mari mulai."
Koikawa
mengeluarkan buku catatan dan bolpoin, lalu condong ke depan dengan antusias.
"Tapi
metode belajarku apa benar bisa berguna? Katanya sih tidak terlalu disukai
orang."
"Itu
tergantung cara menulisnya. Kalau populer nanti aku juga bayar honor, dan kalau
artikelnya terkumpul banyak, kita bisa buat edisi khusus."
"Oh,
jadi kalian menarik uang dari pembaca?"
Asagumo
bertanya polos, membuat Koikawa tersenyum kecut.
"Soalnya
klub jurnalistik cuma perkumpulan, jadi tidak ada dana klub. Kami harus mencari
biaya kegiatan sendiri."
"Memang
ya, klub jurnalistik itu sebenarnya cuma satu orang."
Mendengar
kata-kata itu, senyum Koikawa menegang.
"…Iya,
begitulah. Tapi kalau sudah naik status jadi klub resmi, semua orang pasti
kembali."
Pendahulu
klub jurnalistik adalah Klub Pengamat Burung.
Karena
menimbulkan masalah, klub itu dibekukan sementara tanpa batas waktu, lalu
diizinkan bertahan sebagai perkumpulan klub jurnalistik.
"Guru
tidak mengatakan apa-apa? Katanya ada banyak artikel yang cukup berani."
"Makanya
sebelum dimarahi guru, kami lepas artikelnya, lalu pembaca bisa membaca versi
berbayarnya. Berkat pemilihan OSIS, lumayan laris."
Koikawa
membuat lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Artikel
itu memang luar biasa ya. Analisis pemilihannya juga hebat."
"Aku
melakukan riset dengan benar. Yah, soal hubungan antar orang, aku sedikit
menambahkan spekulasi, tapi masih dalam batas dramatisasi."
Koikawa
tersenyum penuh makna, membuat Asagumo memiringkan kepala.
"Orang
yang melaporkan berita, boleh melakukan hal seperti itu?"
"Itu
namanya kebebasan pers. Wajar saja kalau sudut pandang penulis masuk dalam
artikel."
"Ada
juga istilah kebebasan untuk tidak melaporkan. Aku pribadi kurang menyukai
istilah itu."
Mungkin
mulai mencium suasana mencurigakan, Koikawa menunjukkan wajah gelisah.
"Hei,
boleh kita mulai wawancaranya?"
"Tidakkah
kau berpikir begitu──Kaju-san?"
Kemunculan
mendadak orang ketiga.
Koikawa
terkejut dan menoleh, melihat seorang gadis berambut panjang mengenakan seragam
sekolah lain berdiri di sana.
"Benar,
Asagumo-senpai. Di dunia ini ada hal-hal yang tidak boleh disentuh."
Koikawa
menelan ludah.
…Ia
sama sekali tidak merasakan kehadirannya.
Bahkan
sekarang pun, jika lengah, sosok gadis itu seakan bisa menghilang dalam
kegelapan ruang siaran. Di dalam bayangan gelap, rambut panjangnya bergoyang
pelan.
Saat
Koikawa masih terjebak dalam sensasi seperti mimpi, Kaju perlahan mengangkat
satu tangan.
"Ngomong-ngomong,
senpai, aku menemukan benda ini jatuh."
Di
ujung jari Kaju terdapat sebuah SD card. Koikawa terkejut lalu melihat
kameranya. Penutup slot kartu terbuka.
"Itu
punyaku!"
Ia
buru-buru merebut SD card itu lalu memasukkannya ke slot kamera. Menyadari
dirinya sedang ditatap, Koikawa memaksakan senyum.
"Wah,
terima kasih. Soalnya berisi foto-foto yang baru aku ambil."
Asagumo
menepukkan kedua tangan dengan gembira.
"Oh,
syukurlah. Jadi SD card itu milik Koikawa-san."
"Iya,
benar! Tapi kenapa bisa jatuh dari kamera──"
Kata-katanya
menghilang begitu saja di ujung lidah.
Monitor
yang mengelilingi ruang siaran tiba-tiba menampilkan gambar secara bersamaan.
Yang
muncul adalah foto-foto siswi SMA Tsuwabuki.
Foto-foto
dengan sudut pengambilan berbahaya, disusun sedemikian rupa hingga keluar dari
pandangan objek.
Artinya,
dari sudut pandang para siswi itu──mereka tidak melihat lensa kamera.
Gambar
berganti satu per satu seperti slideshow.
Saat
foto Yakishio muncul, dahi Asagumo berkilat tajam.
"…Kaju-san,
apa ini?"
"Iya,
gambar yang sedang ditampilkan sekarang berasal dari SD card itu."
Di
belakang Koikawa yang membeku, Kaju tersenyum lembut. Rambut hitamnya
memantulkan cahaya monitor, berkilau samar dan bergoyang mencurigakan.
"Begitu
ya. Ngomong-ngomong, SD card itu milik Koikawa-san, kan?"
Sambil
berkata begitu, Asagumo memainkan sebuah remote kecil di tangannya.
"E-eh…
iya… mungkin…"
"Kau
tahu? Rekaman ruang siaran bisa ditampilkan di monitor ruang guru. Lihat, kalau
tombol ini ditekan──"
"Tunggu!"
Koikawa
berdiri setengah bangkit, tetapi Asagumo menatapnya tanpa ekspresi.
"Klub
jurnalistik──atau lebih tepatnya, Klub Pengamat Burung, apakah semua anggotanya
tahu tentang ini?"
"Itu…
aku…"
Keringat
mengalir di pipi Koikawa.
Asagumo
menyentuhkan jari telunjuk ke dagunya sambil melihat monitor dengan heran.
"Ketua
Klub Pengamat Burung… atau sekarang mantan ketua ya. Tidak kusangka dia punya
hobi seperti ini. Di kelas, dia terlihat sangat serius."
Saat
pembicaraan tentang ketua muncul, wajah Koikawa berubah pucat.
"Dia
tidak ada hubungannya! Semua ini aku lakukan sendiri!"
Melihat
Asagumo menatapnya dalam diam, Koikawa kehilangan tenaga dan jatuh terduduk di
kursi.
"…Apa
tujuan kalian? Kalau uang, aku bisa memberikan sedikit…"
"Aku
tidak butuh uang."
Asagumo
tertawa tanpa suara, lalu berdiri perlahan.
"──Kami
hanya ingin berteman dengan Koikawa-san."
Setelah
mengatakan itu, Asagumo perlahan mengulurkan tangan kanannya.
…Hening
sejenak.
Dahi
Asagumo berkilau samar, dan rambut hitam Kaju bergoyang pelan dalam kegelapan…
Koikawa
Tsukushi menelan ludah──lalu dengan tangan gemetar, membalas genggaman tangan
Asagumo.



Post a Comment