NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 18

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Kota Tempat Anemone Tertidur


 Sore setelah hujan mewarnai pepohonan dan rerumputan di sekitar dengan warna jingga kemerahan, dan seakan tak sabar menunggu sela musim hujan, suara serangga mulai memenuhi udara.

 

Sakurai Hiroto memarkir sepeda di samping pintu masuk rumahnya, lalu mengangkat tas dari keranjang.

 

"Hiroto, pas sekali."

 

"Hiba-nee ya. Ada apa?"

 

Yang muncul tepat waktu adalah sepupunya, Hokobaru Hibari.

 

Ia menyerahkan kantong kertas yang dibawanya kepada Sakurai, rambutnya bergoyang tertiup sinar matahari senja.

 

"Ini okra dan mentimun yang dipanen dari kebun rumah kami. Kupikir persediaan di rumahmu sudah hampir habis."

 

"Makasih, Ibu pasti senang."

 

Hokobaru melirik ke arah lampu jendela melewati bahu Sakurai.

 

"Ngomong-ngomong, apa bibi ada di rumah? Aku ingin mengucapkan terima kasih soal upacara peringatan beberapa hari lalu."

 

"Mobilnya ada, jadi sepertinya sudah pulang. Ngomong-ngomong, dia juga bilang ingin membicarakan soal festival musim panas."

 

"Kalau begitu, aku akan mampir sekarang."

 

Sakurai mengangguk dan hendak membuka pintu, tapi seolah teringat sesuatu, tangannya berhenti.

 

"Ada apa, Hiroto?"

 

"...Eh, sebentar lagi Koharu mau datang main."

 

──Koharu. Mendengar nama itu, Hokobaru menampilkan senyum kecut.

 

"Kalau Koharu datang dan aku ada di rumah, rasanya tidak baik. Aku akan datang lagi lain waktu."

 

Setelah menepuk bahu Sakurai, Hokobaru berbalik.

 

Setelah sempat ragu sejenak, Sakurai memanggilnya.

 

"Koharu juga bilang sudah lama tidak bertemu Hiba-nee. Kalau berkenan──"

 

"Jangan membuatku berkata hal yang tidak perlu. Aku juga tidak ingin mengganggu."

 

"Hiba-nee──maaf."

 

Hokobaru melambaikan tangan sambil tertawa lalu meninggalkan tempat itu.

 

Warna jingga di langit yang ia tatap perlahan berubah menjadi biru gelap. Sambil menyusuri jalan pulang, Hokobaru teringat suara Sakurai yang terdengar penuh rasa bersalah.

 

"...Sepertinya aku diperlakukan dengan cara yang membuat orang merasa harus meminta maaf padaku."




 

Di tengah jalan dari rumah Sakurai menuju rumah Hokobaru, terdapat ladang kubis yang luas.

 

Sepertinya saat ini tidak ada yang ditanam, dan barisan bedengan terlihat rapi.

 

Hokobaru sempat hendak melewatinya, tapi seperti berubah pikiran lalu berhenti.

 

Ia masih ragu beberapa saat, namun setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, ia berjalan melalui jalan setapak di sisi ladang menuju bagian dalam.

 

Di ujung jalan sempit yang berlumpur terdapat rumpun pepohonan, dan dari luar tidak mungkin melihat keadaan di dalamnya.

 

Begitu memasuki pepohonan itu, tak lama ia tiba di sebuah ruang terbuka.

 

Tidak terlalu luas, tetapi bagian tengahnya berbentuk persegi dan lebih rendah satu tingkat, tampak tidak wajar seolah terpisah dari sekelilingnya.

 

Mungkin dulu pernah berdiri sebuah gubuk di sana.

 

Hokobaru berdiri terpaku di tempat itu.

 

Tanpa mengubah ekspresi, seolah membiarkan dirinya terekspos pada sesuatu.

 

Angin yang menembus pepohonan menggoyangkan rambut Hokobaru. Sambil merapikan rambutnya yang berantakan, ia bergumam dengan nada menyindir diri sendiri.

 

"...Belum juga sampai umur untuk bernostalgia tentang masa lalu."

 

Dengan kelanjutan pendidikan yang sudah di depan mata, hanya masa depan yang ada untuknya.

 

Perasaan dan emosi yang dulu pernah ada, akan ia tinggalkan di tempat ini. Jika begitu, suatu saat semuanya akan menjadi kenangan yang samar.

 

Hal itu sudah berkali-kali ia katakan pada dirinya sendiri.

 

Hokobaru kembali dari pepohonan menuju ladang, lalu menapaki jejak kakinya sendiri yang tercetak di tanah berlumpur akibat hujan panjang.

 

Saat berjalan sambil menunduk, telinga Hokobaru menangkap suara yang dikenalnya.

 

"Hibari, sedang apa?"

 

Pemilik suara itu adalah ibu Hokobaru.

 

Melihat sosok ibunya yang menatap dengan wajah cemas dari jalan, Hokobaru tersenyum seolah mengatakan tidak apa-apa.

 

"Aku cuma jalan-jalan sebentar. Ibu sendiri kenapa?"

 

"Aku dengar dari pamanmu kalau kamu masuk ke sini."

 

Hokobaru mencoba menyembunyikan senyum kecutnya, tapi akhirnya membiarkannya terlihat.

 

Ia pikir tidak ada orang yang melihat, tapi ternyata tidak semudah itu.

 

"Tidak ada apa-apa kok. Ayo cepat pulang."

 

Hokobaru keluar dari jalan berlumpur dan kembali ke jalan raya.

 

"Hari ini Ibu mau mengajariku masak, kan? Aku sudah menantikannya."

 

"Benar, Hibari kan perempuan, setidaknya harus bisa memasak."

 

Memasak tidak ada hubungannya dengan laki-laki atau perempuan. Tapi ia juga tidak ingin menjadikannya alasan untuk tidak bisa.

 

Hibari tidak mengatakan apa-apa dan berjalan berdampingan dengan ibunya.

 

Suara serangga.

 

Suara televisi dari rumah yang dilewati.

 

Dari kejauhan terdengar tangisan anak kecil yang dimarahi.

 

"...Maaf ya, Hibari."

 

Tiba-tiba ibunya mengatakan hal itu.

 

Hokobaru menanggapi permintaan maaf yang samar itu dengan jawaban samar bahwa ibunya tidak bersalah.

 

Hiroto maupun ibunya tidak melakukan sesuatu yang perlu mereka minta maaf. Tidak ada yang dilakukan pada dirinya yang pantas membuat orang meminta maaf.

 

Ia hanya ingin mereka berhenti mengarahkan rasa bersalah dan kekeruhan hati itu kepadanya.

 

Mungkin ibunya tanpa sadar tidak suka dengan keheningan yang berlanjut. Ibunya menatap kaki Hokobaru lalu berkata dengan nada sedih.

 

"Sepatumu jadi penuh lumpur ya."

 

Mungkin karena berjalan di jalan berlumpur. Sepatu barunya kini benar-benar kotor.

 

Hokobaru tetap menatap ke depan sambil membuka mulut.

 

"──Tidak apa-apa kok. Cepat atau lambat memang akan kotor juga."

 

Angin selatan yang lembap melilit rambutnya.

 

Hokobaru mengibaskan rambutnya dengan kuat, seolah mengusir aroma laut yang menempel.




Previous Chapter | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close