NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 16


Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Kupersembahkan Semangkuk Ini dan Tambahannya Untukmu


──Diet.

 

Bagiku, itu adalah peristiwa yang tidak ada hubungannya denganku.

 

Secara umum, itu berarti mengontrol makanan dan olahraga untuk menurunkan berat badan, tapi kalau diterapkan ke kehidupan sehari-hariku, mungkin setara dengan membatasi light novel dan anime.

 

Penderitaannya sulit diungkapkan dengan kata-kata, dan pasti mustahil dilakukan tanpa tekad yang luar biasa.

 

Pembukaannya jadi panjang, tapi intinya, dalam Operasi Balas Dendam Besar Shiratama Riko beberapa waktu lalu, Yanami berhasil menjalani diet.

 

Meski sekarang sudah mengalami rebound jadi bisa saja dianggap tidak pernah terjadi, tapi di tengah proses itu aku membuat janji dengan Yanami.

 

──Aku akan mentraktirmu, jadi mau pergi makan ramen?

 

Aku benar-benar terbawa suasana. Bisa dibilang hanya dorongan sesaat.

 

Mengajak gadis makan bersama, dipikir bagaimana pun rasanya aku tidak sedang waras.

 

Tentu saja ini adalah bentuk penghargaan untuk Yanami yang telah berkorban demi klub sastra, dan sama sekali bukan mengajaknya kencan.

 

Lagipula Yanami juga sering seenaknya memanggilku, jadi ini benar-benar tidak dihitung. Dia juga pasti tidak menganggap ini kencan, paling hanya makan bersama atau semacam jamuan.

 

Setelah menyimpulkan begitu, aku melihat tampilan digital jam tanganku.

 

──11:45. Waktu janji temu.

 

Tempat bertemunya di sini, lantai satu toko buku Seibunkan cabang utama, tapi Yanami ada di mana ya…

 

Saat melihat-lihat area dekat pintu masuk, aku melihat punggung yang familiar.

 

"Yanami──"

 

Aku terdiam, dan itu wajar saja. Yanami bukan sedang melihat rak buku, melainkan menatap tajam toko burger yang berada di dalam gedung itu. Keluarga yang sedang mengantri di kasir sampai terlihat ketakutan.

 

Aku sempat mempertimbangkan meninggalkan uang saja lalu pulang, tapi aku mengurungkan niat saat melihat pakaian Yanami.

 

Dia mengenakan blus lengan pendek dan rok lipit selutut.

 

Aku tidak terlalu mengerti soal fashion, tapi samar-samar aku bisa memahami bahwa itu termasuk pakaian kategori "bergaya".

 

Sepertinya dia sangat menantikan ramen. Rasanya terlalu kejam kalau membiarkannya begitu saja.

 

…Tidak ada pilihan. Saat aku hendak memutari dan menyapanya, aku kembali mempertimbangkan untuk pulang.

 

Melihat Yanami menatap hamburger sambil menahan air liur dengan sapu tangan.

 

 

Dalam perjalanan menuju toko, Yanami menatapku dengan tatapan penuh keluhan.

 

"Nukumizu-kun, kenapa kamu tidak menyapaku?"

 

"Kamu kelihatan lagi fokus, jadi aku pikir tidak enak mengganggumu."

 

Dengan kata-kata yang dipilih hati-hati, Yanami mengerucutkan bibirnya.

 

"Aku cuma lihat sebentar kok. Kalau terlalu serius melihat hamburger orang, kelihatan seperti orang bodoh kan."

 

Iya, memang kelihatan bodoh.

 

Aku tidak mengatakannya dan hanya menanggapinya seadanya, perlahan suasana hati Yanami juga membaik.

 

"Hari ini kamu akan mentraktir ramen favoritmu, kan?"

 

Sambil berkata begitu, Yanami melihat sekeliling.

 

"Di sekitar sini ada kedai ramen?"

 

"Bukan kedai ramen. Hari ini aku pikir kita makan di sini saja."

 

Aku berhenti di depan sebuah toko. Beberapa menit berjalan dari Seibunkan, sebuah kedai udon lama. Ada beberapa cabangnya di kota, tapi bangunan bersejarah ini adalah cabang utama.

 

Yanami memiringkan kepala dengan heran.

 

"…Di sini? Maksudnya kita makan kari udon sebagai makanan pembuka?"

 

"Tidak. Ayo kita antri."

 

Setelah menulis nama di daftar tunggu, kami segera dipersilakan ke meja. Begitu duduk, Yanami melihat-lihat interior toko dengan rasa penasaran.

 

"Yanami-san, ini pertama kalinya kamu ke sini?"

 

"Ke cabang utama belum pernah sih. Tapi ke cabang Tsutsujigaoka aku sering pergi sama keluarga."

 

Yanami membuka menu sambil bersenandung kecil.

 

Lalu, pandangannya berhenti di satu bagian.

 

"Ah, mungkin ini? Yang namanya chuka soba."

 

"Iya, aku sudah suka sejak dulu. Mumpung begini, aku pikir kita pesan ini saja."

 

Entah kenapa, kata-kata biasa itu membuat Yanami tersenyum.

 

"Eh, kenapa?"

 

"Hee, kamu ingin aku mencoba rasa favoritmu ya. Hee."

 

Senyum licik itu semakin melebar.

 

"Bukan, kamu sendiri yang bilang ingin aku memilihkan ramen favoritku."

 

"Tidak usah malu-malu. Permisi, kami pesan dua chuka soba porsi besar!"

 

"Permisi, yang satu porsi biasa saja!"

 

Entah sudah berapa kali percakapan seperti ini terjadi.

 

Aku menghela napas lelah sambil menyeruput teh, sementara Yanami menopang pipinya dengan kedua tangan dan menatapku sambil menyeringai.

 

…Harusnya tadi aku tinggalkan saja dia di Seibunkan.

 

 

Chuka soba yang disajikan di depan kami adalah kuah shoyu sederhana. Topping klasik seperti menma, telur rebus, kamaboko, dan chashu dihiasi daun bawang hijau.

 

Yanami mengangguk puas lalu mematahkan sumpit sekali pakainya.

 

"Ah, ini dia. Yang seperti ini memang paling enak."

 

Aku tidak tahu dia berbicara dari sudut pandang apa, tapi sepertinya dia menyukainya.

 

Dia menyesap kuah dengan sendok, lalu langsung menyeruput mi kuning berukuran sedang.

 

Hal berikutnya yang dia ambil dengan sumpit adalah chashu. Dia menjepitnya lalu menatapnya lekat-lekat.

 

"Chashu di sini terasa seperti yakiniku ya."

 

"Iya, itu cocok dengan kuah yang agak manis."

 

Gerakan Yanami berhenti saat menggigit setengah chashu.

 

"Eh, enak──"

 

Aku tidak melewatkan saat pandangannya beralih ke menu.

 

"Mau pesan nasi?"

 

Anggukan cepat berulang kali. Aku mengangkat tangan memanggil pelayan.

 

"Tolong nasi porsi besar, dan──chashu satu porsi terpisah."

 

Bukk. Yanami berdiri setengah dari kursinya.

 

"Boleh pesan yang terpisah juga?! Nukumizu-kun, kamu menemukan dompet atau apa?"

 

Tidak. Dan kalau menemukan, harus diserahkan ke kantor polisi.

 

"Anggap saja ini jamuan──bukan, maksudku semacam pesta penghargaan untuk Yanami-san. Ayo makan sebelum mienya dingin."

 

"…Iya."

 

Yanami duduk kembali lalu mulai memakan chuka soba dengan tenang.

 

Tiba-tiba dia jadi pendiam, ada apa ya. Agak menakutkan…

 

Saat aku menyeruput mi dengan cemas, chashu terpisah dan nasi porsi besar disajikan di meja. Sayuran hijau dan irisan lemon di piring terlihat kontras indah dengan chashu berwarna cokelat.

 

"Yanami-san, tidak dimakan?"

 

"Eh, kelihatannya enak──eh."

 

Entah kenapa Yanami terlihat canggung di depan chashu dan nasi porsi besar.

 

Apa ini masih kurang…?

 

Saat aku mulai khawatir, Yanami perlahan mengangkat wajahnya lalu berkata.

 

"Nukumizu-kun, kamu suka aku…?"

 

"Apa-apaan tiba-tiba?!"

 

Apa yang dia bicarakan.

 

Melihat aku terkejut, Yanami membungkuk ke arah meja.

 

"Soalnya ini chashu dan nasi lho?! Kalau tidak suka aku, tidak mungkin memesan ini kan?!"

 

"Hah, emangnya gitu ya?!"

 

Setelah aku menyangkal mati-matian, akhirnya dia tampak mengerti.

 

Yanami menatap kembali chashu dan nasi.

 

"Benarkah…? Aku boleh makan tanpa memikirkan apa-apa?"

 

"Iya, makan saja tanpa sungkan. Tambah lagi juga boleh."

 

"Kalau begitu, aku makan ya!"

 

Yanami mulai memakan chashu nasi dengan senyum lebar.

 

Sambil merasakan detak jantungku yang anehnya berdebar, aku kembali melanjutkan chuka soba milikku.

 

…Mengira daging dan nasi sebagai pengakuan cinta, bukankah Yanami terlalu gampang sekali.

 

Tentu saja kalau Yanami punya pacar, aku harus memberi selamat. Tapi aku tidak mau kalau dia terjebak pria aneh lalu mengeluh padaku. Sebagai penanggung jawab Yanami, mungkin aku harus lebih berkomitmen──

 

Merasa haus, aku meneguk air dari gelas.

 

Saat melirik, Yanami menempelkan butiran nasi di pipinya sambil memegang mangkuk chuka soba dengan satu tangan dan meminumnya seperti sup miso.

 

"…Hm? Nukumizu-kun, kenapa?"

 

"Oh, ada nasi menempel di pipimu."

 

Aku tersenyum kecut sambil memasukkan menma ke mulut.

 

Mungkin masih butuh waktu sedikit lagi sebelum Yanami punya pacar──



Previous Chapter | Next Chapter

0

Post a Comment

close