Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Kupersembahkan Semangkuk Ini dan
Tambahannya Untukmu
──Diet.
Bagiku,
itu adalah peristiwa yang tidak ada hubungannya denganku.
Secara
umum, itu berarti mengontrol makanan dan olahraga untuk menurunkan berat badan,
tapi kalau diterapkan ke kehidupan sehari-hariku, mungkin setara dengan
membatasi light novel dan anime.
Penderitaannya
sulit diungkapkan dengan kata-kata, dan pasti mustahil dilakukan tanpa tekad
yang luar biasa.
Pembukaannya
jadi panjang, tapi intinya, dalam Operasi Balas Dendam Besar Shiratama Riko
beberapa waktu lalu, Yanami berhasil menjalani diet.
Meski
sekarang sudah mengalami rebound jadi bisa saja dianggap tidak pernah terjadi,
tapi di tengah proses itu aku membuat janji dengan Yanami.
──Aku
akan mentraktirmu, jadi mau pergi makan ramen?
Aku
benar-benar terbawa suasana. Bisa dibilang hanya dorongan sesaat.
Mengajak
gadis makan bersama, dipikir bagaimana pun rasanya aku tidak sedang waras.
Tentu
saja ini adalah bentuk penghargaan untuk Yanami yang telah berkorban demi klub
sastra, dan sama sekali bukan mengajaknya kencan.
Lagipula
Yanami juga sering seenaknya memanggilku, jadi ini benar-benar tidak dihitung.
Dia juga pasti tidak menganggap ini kencan, paling hanya makan bersama atau
semacam jamuan.
Setelah
menyimpulkan begitu, aku melihat tampilan digital jam tanganku.
──11:45.
Waktu janji temu.
Tempat
bertemunya di sini, lantai satu toko buku Seibunkan cabang utama, tapi Yanami
ada di mana ya…
Saat
melihat-lihat area dekat pintu masuk, aku melihat punggung yang familiar.
"Yanami──"
Aku
terdiam, dan itu wajar saja. Yanami bukan sedang melihat rak buku, melainkan
menatap tajam toko burger yang berada di dalam gedung itu. Keluarga yang sedang
mengantri di kasir sampai terlihat ketakutan.
Aku
sempat mempertimbangkan meninggalkan uang saja lalu pulang, tapi aku
mengurungkan niat saat melihat pakaian Yanami.
Dia
mengenakan blus lengan pendek dan rok lipit selutut.
Aku
tidak terlalu mengerti soal fashion, tapi samar-samar aku bisa memahami bahwa
itu termasuk pakaian kategori "bergaya".
Sepertinya
dia sangat menantikan ramen. Rasanya terlalu kejam kalau membiarkannya begitu
saja.
…Tidak
ada pilihan. Saat aku hendak memutari dan menyapanya, aku kembali
mempertimbangkan untuk pulang.
Melihat
Yanami menatap hamburger sambil menahan air liur dengan sapu tangan.
◇
Dalam
perjalanan menuju toko, Yanami menatapku dengan tatapan penuh keluhan.
"Nukumizu-kun,
kenapa kamu tidak menyapaku?"
"Kamu
kelihatan lagi fokus, jadi aku pikir tidak enak mengganggumu."
Dengan
kata-kata yang dipilih hati-hati, Yanami mengerucutkan bibirnya.
"Aku
cuma lihat sebentar kok. Kalau terlalu serius melihat hamburger orang,
kelihatan seperti orang bodoh kan."
Iya,
memang kelihatan bodoh.
Aku
tidak mengatakannya dan hanya menanggapinya seadanya, perlahan suasana hati
Yanami juga membaik.
"Hari
ini kamu akan mentraktir ramen favoritmu, kan?"
Sambil
berkata begitu, Yanami melihat sekeliling.
"Di
sekitar sini ada kedai ramen?"
"Bukan
kedai ramen. Hari ini aku pikir kita makan di sini saja."
Aku
berhenti di depan sebuah toko. Beberapa menit berjalan dari Seibunkan, sebuah
kedai udon lama. Ada beberapa cabangnya di kota, tapi bangunan bersejarah ini
adalah cabang utama.
Yanami
memiringkan kepala dengan heran.
"…Di
sini? Maksudnya kita makan kari udon sebagai makanan pembuka?"
"Tidak.
Ayo kita antri."
Setelah
menulis nama di daftar tunggu, kami segera dipersilakan ke meja. Begitu duduk,
Yanami melihat-lihat interior toko dengan rasa penasaran.
"Yanami-san,
ini pertama kalinya kamu ke sini?"
"Ke
cabang utama belum pernah sih. Tapi ke cabang Tsutsujigaoka aku sering pergi
sama keluarga."
Yanami
membuka menu sambil bersenandung kecil.
Lalu,
pandangannya berhenti di satu bagian.
"Ah,
mungkin ini? Yang namanya chuka soba."
"Iya,
aku sudah suka sejak dulu. Mumpung begini, aku pikir kita pesan ini saja."
Entah
kenapa, kata-kata biasa itu membuat Yanami tersenyum.
"Eh,
kenapa?"
"Hee,
kamu ingin aku mencoba rasa favoritmu ya. Hee."
Senyum
licik itu semakin melebar.
"Bukan,
kamu sendiri yang bilang ingin aku memilihkan ramen favoritku."
"Tidak
usah malu-malu. Permisi, kami pesan dua chuka soba porsi besar!"
"Permisi,
yang satu porsi biasa saja!"
Entah
sudah berapa kali percakapan seperti ini terjadi.
Aku
menghela napas lelah sambil menyeruput teh, sementara Yanami menopang pipinya
dengan kedua tangan dan menatapku sambil menyeringai.
…Harusnya
tadi aku tinggalkan saja dia di Seibunkan.
◇
Chuka
soba yang disajikan di depan kami adalah kuah shoyu sederhana. Topping klasik
seperti menma, telur rebus, kamaboko, dan chashu dihiasi daun bawang hijau.
Yanami
mengangguk puas lalu mematahkan sumpit sekali pakainya.
"Ah,
ini dia. Yang seperti ini memang paling enak."
Aku
tidak tahu dia berbicara dari sudut pandang apa, tapi sepertinya dia
menyukainya.
Dia
menyesap kuah dengan sendok, lalu langsung menyeruput mi kuning berukuran
sedang.
Hal
berikutnya yang dia ambil dengan sumpit adalah chashu. Dia menjepitnya lalu
menatapnya lekat-lekat.
"Chashu
di sini terasa seperti yakiniku ya."
"Iya,
itu cocok dengan kuah yang agak manis."
Gerakan
Yanami berhenti saat menggigit setengah chashu.
"Eh,
enak──"
Aku
tidak melewatkan saat pandangannya beralih ke menu.
"Mau
pesan nasi?"
Anggukan
cepat berulang kali. Aku mengangkat tangan memanggil pelayan.
"Tolong
nasi porsi besar, dan──chashu satu porsi terpisah."
Bukk.
Yanami berdiri setengah dari kursinya.
"Boleh
pesan yang terpisah juga?! Nukumizu-kun, kamu menemukan dompet atau apa?"
Tidak.
Dan kalau menemukan, harus diserahkan ke kantor polisi.
"Anggap
saja ini jamuan──bukan, maksudku semacam pesta penghargaan untuk Yanami-san.
Ayo makan sebelum mienya dingin."
"…Iya."
Yanami
duduk kembali lalu mulai memakan chuka soba dengan tenang.
Tiba-tiba
dia jadi pendiam, ada apa ya. Agak menakutkan…
Saat
aku menyeruput mi dengan cemas, chashu terpisah dan nasi porsi besar disajikan
di meja. Sayuran hijau dan irisan lemon di piring terlihat kontras indah dengan
chashu berwarna cokelat.
"Yanami-san,
tidak dimakan?"
"Eh,
kelihatannya enak──eh."
Entah
kenapa Yanami terlihat canggung di depan chashu dan nasi porsi besar.
Apa
ini masih kurang…?
Saat
aku mulai khawatir, Yanami perlahan mengangkat wajahnya lalu berkata.
"Nukumizu-kun,
kamu suka aku…?"
"Apa-apaan
tiba-tiba?!"
Apa
yang dia bicarakan.
Melihat
aku terkejut, Yanami membungkuk ke arah meja.
"Soalnya
ini chashu dan nasi lho?! Kalau tidak suka aku, tidak mungkin memesan ini
kan?!"
"Hah,
emangnya gitu ya?!"
Setelah
aku menyangkal mati-matian, akhirnya dia tampak mengerti.
Yanami
menatap kembali chashu dan nasi.
"Benarkah…?
Aku boleh makan tanpa memikirkan apa-apa?"
"Iya,
makan saja tanpa sungkan. Tambah lagi juga boleh."
"Kalau
begitu, aku makan ya!"
Yanami
mulai memakan chashu nasi dengan senyum lebar.
Sambil
merasakan detak jantungku yang anehnya berdebar, aku kembali melanjutkan chuka
soba milikku.
…Mengira
daging dan nasi sebagai pengakuan cinta, bukankah Yanami terlalu gampang
sekali.
Tentu
saja kalau Yanami punya pacar, aku harus memberi selamat. Tapi aku tidak mau
kalau dia terjebak pria aneh lalu mengeluh padaku. Sebagai penanggung jawab
Yanami, mungkin aku harus lebih berkomitmen──
Merasa
haus, aku meneguk air dari gelas.
Saat
melirik, Yanami menempelkan butiran nasi di pipinya sambil memegang mangkuk
chuka soba dengan satu tangan dan meminumnya seperti sup miso.
"…Hm?
Nukumizu-kun, kenapa?"
"Oh,
ada nasi menempel di pipimu."
Aku
tersenyum kecut sambil memasukkan menma ke mulut.
Mungkin
masih butuh waktu sedikit lagi sebelum Yanami punya pacar──



Post a Comment