Chapter 5
Belajar dari Pedang Sang Raja Singa
Suatu
hari di musim dingin, Ren mengunjungi bengkel Werlich di Ibu Kota Kekaisaran. Dalam perjalanan pulang, ia memutuskan
untuk mampir ke Ordo Singa Suci.
"Sudah lama
tidak berjumpa, Tuan Ren."
Seorang ksatria
muda dari Ordo Singa Suci menyambut Ren.
Meski sosoknya
tampak mengintimidasi dengan zirah yang dikenakannya, ksatria itu justru
menunjukkan senyum lembut yang bertolak belakang dengan penampilannya.
"Apakah
hari ini Anda datang sendirian?"
"Benar.
Aku dengar dari Pak Edgar kalau aku boleh memakai tempat latihan di dalam.
Jadi, kalau waktunya pas, aku berniat melihat latihan kalian sekalian belajar
sendiri."
"Kebetulan
Pak Edgar juga ada di sini hari ini, jadi saya kira Anda sudah punya janji
dengannya. Tadi pagi begitu sampai, beliau langsung bilang ingin bersiap-siap
untuk memberi bimbingan pada Tuan Ren."
"Itu
hanya kebetulan. Aku sedang beruntung saja."
Langkah kaki Ren
kembali memasuki Ordo Singa Suci setelah sekian lama. Suasananya masih sama
seperti dulu; megah dan sunyi.
Tempat latihan
yang ia tuju berada di ujung koridor luas.
Setelah berjalan
sedikit, ia bisa melihat tempat latihan luas di bawah sana melalui pagar
pembatas.
Tempat itu
dibangun di lantai semi-basement dengan cahaya matahari yang menyiram masuk
melalui langit-langit kaca yang tinggi.
Ren merasakan
tekanan kuat yang dipancarkan para ksatria yang sedang berlatih hingga ke
pori-pori kulitnya. Ia kembali menyadari bahwa ini adalah tempat yang spesial.
"Oh?"
Edgar,
yang sedang berbincang dengan para ksatria, menyadari kehadiran Ren dan segera
berlari menghampiri.
Di sisi
lain, Ren yang dipandu oleh ksatria tadi menuruni tangga menuju lantai bawah
dan bertemu Edgar di bordes tangga.
"Anda
bisa memanggil saya, maka saya yang akan menjemput Anda."
Jika
ingin memanggil Edgar, Ren cukup menghubungi lokasi yang sudah ditentukan.
Selama
tinggal di Ibu Kota, Edgar biasanya menginap di penginapan yang sama.
"Hari
ini aku datang karena ingin melihat latihan, atau mungkin kalau ada yang mau
meminjamkan tenaga untuk melatihku."
"Itu bagus.
Kebetulan hari ini saya ada di sini, jadi biarkan saya yang menemani
Anda."
Karena musim ini
penuh dengan pesta di Ibu Kota, majikannya, Ulysses, tidak terkecuali. Tidak seperti biasanya, Edgar jadi
lebih sering berada di Ibu Kota.
Ren pun
melangkahkan kakinya ke tempat latihan luas yang berada di bawah area terbuka
tersebut.
◇◇◇
"Jadi
Anda yang bernama Tuan Ren."
Seorang
pria bertubuh besar dan berwibawa menghampiri dan menyapa Ren.
"Iya. Nama
saya Ren Ashton."
Ren menjawab
tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Melihatmu
secara langsung, kau memang terlihat menjanjikan di masa depan, tapi ini
membuatku sedikit bimbang."
"Bimbang,
maksudnya?"
"Pak Edgar
memintaku untuk menjadi lawan tanding jika Tuan Ren datang. Tapi, aku khawatir
akan membuatmu terluka."
Ksatria lain pun
ikut menimpali.
"Jika kau
adalah ksatria di sini, kami tidak akan sungkan. Tapi jika menggunakan Gouken-gi,
staminamu akan terkuras habis."
"Meski
begitu, aku dengar dia bisa menahan pedang Pak Edgar, jadi..."
Para ksatria yang
berkumpul satu per satu itu setuju, namun keraguan terpancar jelas di wajah
mereka.
Edgar membuka
suara untuk menenangkan situasi.
"Biar saya
yang menjawab keraguan mereka. Tuan Ren, silakan bersiap-siap. Ada pedang
latihan yang berjejer di dinding, pilihlah yang Anda sukai."
Begitu Ren
mengangguk dan pergi, Edgar menceritakan bagaimana Ren telah menghancurkan
kristal di dalam botol kecil hingga menjadi debu.
Para ksatria
terdiam seribu bahasa, mereka hanya bisa terpaku keheranan.
Bukannya tidak
percaya, tapi karena rasa ketertarikan pada Ren, pria bertubuh raksasa itu
tertawa dan berkata.
"Tuan Ren,
jika boleh, bertandinglah denganku."
Ren yang sudah
kembali menatap wajah Edgar, menyerahkan keputusan padanya.
"Mari kita
gunakan format di mana saya akan mengamati cara bertarung Tuan Ren, lalu
memberikan saran teknis di setiap jedanya."
Ren
merasa jantungnya berdebar penuh semangat karena bisa langsung bertanding.
Menghadapi
pengguna Gouken yang memegang pedang raksasa di depan matanya, ia sama
sekali tidak menunjukkan rasa takut dan langsung memasang kuda-kuda.
Seketika,
atmosfer di sekitar para ksatria berubah.
Secara
insting, mereka menyadari bahwa bakat Ren adalah sesuatu yang nyata.
◇◇◇
Pertandingan
antara pria bertubuh raksasa itu dan Ren segera dimulai.
Gerakan
Ren jauh lebih tajam dan cepat dari yang dibayangkan pria itu.
Pria itu
membelalakkan mata. Meski tubuhnya besar, ia bergerak lincah dan memasang
pedang raksasanya secara horizontal untuk menahan serangan pedang Ren dari
depan.
"Gkh...
ini...!"
Tidak ada
guncangan khas Gouken-gi yang menyerang bagian inti tubuhnya.
Ren
tampaknya belum menguasai teknik Matoi, tapi justru itu yang mengerikan.
Padahal belum menguasai Matoi,
tapi dampaknya seperti menerima tebasan dari pengguna Gouken—
Keringat mulai
muncul di dahi pria itu saat membayangkan seberapa kuat Ren jika ia sudah
menguasai teknik tersebut.
"Sepertinya
kekhawatiranku soal melukaimu itu sangat tidak sopan!"
Menyadari
kekuatan Ren dalam sekejap, pria itu membalas dengan mengayunkan pedang
raksasanya.
Meski ada
perbedaan postur yang jauh, kekuatan otot inti Ren membuat tubuhnya tidak
terpental jauh. Pedang raksasa yang diayunkan pria itu mengarah tajam ke arah
pinggang Ren.
Ren memasang
pedangnya secara horizontal untuk menahan tebasan yang kecepatannya seolah
meninggalkan suara belahan udara tersebut.
(—!)
Wajah Ren sesaat
meringis karena guncangan yang menggetarkan seluruh tubuhnya.
Terlebih lagi,
tubuhnya terlempar ke depan oleh tenaga pria itu. Ia berguling beberapa kali di
tanah sebelum akhirnya memperbaiki posisi.
Tidak ada rasa
sakit. Meski tangannya terasa sangat mati rasa, ia memaksa dirinya untuk
kembali mengangkat pedang.
"Belum
selesai!"
"Tsk...
Meski aku sudah menahan diri, kau bisa langsung bangkit setelah menerima
serangan pedang raksasa level Kenkaku!"
Kekuatan yang
dilepaskan oleh pedang raksasa level Kenkaku secara harfiah mampu
mengguncang tubuh hingga ke sumsum tulang. Jika ini adalah Ren di musim panas
lalu, ia pasti tidak akan bisa merespons pedang raksasa lawan seperti itu.
(—Sepertinya, ada
sesuatu yang mulai tertangkap.)
Kalau
dipikir-pikir, saat ia beradu pedang dengan Edgar pun begitu.
Saat menahan Gouken-gi,
ia tidak hanya sekadar merasakan guncangan yang belum pernah dialami sebelumnya
tanpa berpikir. Setiap kali tubuhnya merasakan guncangan itu, entah bagaimana
tubuhnya mulai belajar.
Sambil
tetap menjaga jarak, Ren menyeka keringat di dahinya.
"Bisa minta
tolong sekali lagi?"
Permintaan itu
membuat para ksatria terkejut.
◇◇◇
Setelah
menyelesaikan latihan dan kembali ke Erendill, Ren hampir saja tertidur di bak
mandi kamarnya.
Sambil menyeret
tubuhnya yang terasa berat sehabis berendam, ia bersiap-siap dan ikut makan
malam bersama Licia dan Lezard yang baru pulang malam itu.
"Ren? Kamu
kelihatan capek sekali, ada apa?"
"Tadi mampir
ke Ordo Singa Suci saat jalan pulang. Karena tubuhku terasa lebih lincah
dibanding musim panas lalu, aku jadi kebablasan berlatih."
Mendengar itu,
Licia tertawa kecil dan berkata, "Itu sangat khas dirimu, ya."
Lezard kemudian
berujar.
"Aku tahu
Licia juga ingin menggerakkan tubuh, tapi tolong bersabarlah sebentar. Dengan
adanya keributan faksi kemarin, aku ingin sebisa mungkin menyelidiki pergerakan
para bangsawan. Kita juga harus menghadiri pesta."
"Iya, aku
mengerti."
Licia mengangguk
meski terlihat agak kecewa.
◇◇◇
Keesokan harinya,
meski masih pagi buta, banyak ksatria sudah berada di tempat latihan Ordo Singa
Suci seperti kemarin.
Pria bertubuh besar yang sama menyapanya.
"Kau datang awal sekali."
"Karena aku masih dalam tahap pelatihan, aku harus
bekerja keras selagi bisa."
"Sikap yang bagus. Aku ingin para ksatria resmi yang
muda-muda mendengarnya juga."
Meski tidak semua
ksatria muda seperti itu, pria itu menambahkan.
"Tidak
sedikit yang menganggap menjadi ksatria resmi adalah garis finis. Menyedihkan sekali rasanya sampai ingin
mempertanyakan jati diri kami sebagai ksatria. Itu benar-benar 'lemak' yang
tumbuh di dalam hati."
Ini hanyalah
pendapatnya tanpa memandang aliran pedang mana pun.
Ren yang
mendengarkan dengan antusias mulai melakukan pemanasan mengikuti pria tersebut.
Selama itu,
langit pagi musim dingin yang gelap perlahan-lahan mulai terang.
—Hari-hari
seperti itu berlalu selama dua hari, tiga hari, hingga satu minggu.
Ren tetap
tenggelam dalam latihan Gouken-gi.
Awalnya
ada rencana latihan melawan monster bersama Licia, tapi karena Licia dan Lezard
terlalu sibuk dengan tugas bangsawan, jadwal mereka jadi saling menguntungkan.
Meskipun
Edgar tidak bisa selalu berada di sisi Ren, Ren terus mengasah kemampuannya
melawan para pengguna Gouken di Ordo Singa Suci ini.
Suatu
pagi, Edgar yang datang melihat keadaan Ren mengelus jenggotnya sambil
bergumam, "Hmm."
"Apa
Anda menyadarinya, Pak Edgar?"
Seorang
ksatria mendekatinya dan bertanya.
"Sejak
kapan?"
"Sejak
kemarin. Tuan Ren bekerja keras setiap hari sampai tubuhnya tidak bisa
digerakkan lagi. Sepertinya saat ini dia sedang mencoba mendapatkan semacam
pencerahan."
"Pantas saja
auranya terasa berbeda."
Tubuh Ren pasti
sudah sangat terkuras karena terus menahan serangan Gouken, tapi ia
tidak pernah menyerah dan terus tenggelam dalam latihannya.
"Aku merasa
dia akan menguasai Matoi dengan kecepatan yang luar biasa."
"Itu tidak
mengherankan. Mengingat bakat Tuan Ren yang pernah saya ceritakan, ditambah
kepribadiannya yang tidak kenal lelah dalam berusaha, tidak ada yang aneh sama
sekali."
"Dengan
terus-menerus menahan Gouken, tubuhnya pasti mulai mengingat sensasi
itu."
Mendengar
perkataan ksatria itu, Edgar segera berbalik dan berjalan keluar.
"Anda
tidak ingin bicara dengannya?"
"Ya.
Mungkin lebih baik jika saat ini saya tidak menyapanya."
Melihat
Ren yang mandi keringat dan berlutut di depan serangan Gouken namun
tetap menunjukkan semangat membara, Edgar merasa tidak sabar menantikan
hasilnya.
Saat ini,
Ren sedang berjuang mati-matian untuk menangkap sesuatu.
Ia tidak
sanggup menyela dan mengganggu momen itu.
◇◇◇
Setelah
siang berlalu.
"Sedikit
lagi, rasanya aku hampir menangkap sesuatu, tapi..."
Karena
ada rencana di sore hari, Ren meninggalkan Ordo Singa Suci lebih awal dari
biasanya.
Meski
berlatih sampai tidak bisa bergerak, berkat kemampuan pemulihan Ren yang luar
biasa, saat pulang ia sudah bisa berjalan sendiri tanpa masalah.
Sejak hari di
mana ia merasa akan mendapatkan pencerahan, perasaannya masih tetap tidak
sabar. Belakangan ini, saat makan, sebelum tidur, bahkan saat mandi pun ia
hanya memikirkan tentang Gouken.
Di kediaman,
Licia sering memberinya kata-kata perhatian.
"Tolong,
jangan sampai terluka, ya?"
Bisa dibilang,
kelembutan Licia yang selalu mengawasinya itulah yang mendukung Ren untuk tetap
fokus pada pedangnya.
Ren berjalan
menyusuri jalan utama sambil masih ingin melamun sedikit. Ia ingin makan ringan di restoran
yang ada di gang di depan sana sambil merenungkan latihan hari ini.
Tak lama setelah
Ren meninggalkan jalan utama menuju restoran.
Meskipun sedang
masa libur musim dingin, gadis-gadis yang bersekolah di Akademi Militer
Kekaisaran yang bergengsi tampak berjalan di dekat sana.
Mungkin mereka
ada kelas tambahan atau semacamnya. Di antara mereka, seorang gadis yang sangat
cantik menarik perhatian semua orang, baik pria maupun wanita.
Fiona Ignat.
Gadis cantik yang
berjalan dengan rambut hitam yang berkilau sehalus sutra.
"—Eh?"
Ia menghentikan
langkahnya karena merasa melihat sosok Ren di sudut matanya.
Fiona yang
mendadak berhenti itu menoleh ke seberang jalan utama.
Sulit untuk
menemukan seorang anak laki-laki di tengah keramaian jalan utama Ibu Kota
Kekaisaran.
Namun, didorong
oleh rasa penasaran, Fiona mulai berlari. Ia mencoba menuju seberang jalan
melawan arus orang-orang, tapi sosok Ren sudah tidak ada.
"Cuma salah
lihat... ya?"
Suaranya
terdengar lesu, dan dadanya terasa sesak.
"Nona Ignat!
Ada apa mendadak lari begitu!?"
"Ma... maaf.
Bukan apa-apa, kok."
Saat ia meminta
maaf kepada teman-teman sekelasnya dengan senyum yang dipaksakan, rasa sakit di
dadanya terasa semakin kuat.
Ia menengadah ke
langit. Langit Ibu Kota tertutup banyak awan, persis seperti hari-hari yang ia
habiskan di Pegunungan Baldur.
Fiona berusaha
menenangkan diri dan berjalan menyusuri jalan utama bersama teman-temannya
sambil membicarakan banyak hal.
Mulai dari urusan
akademi, lingkungan bangsawan, dan berbagai hal lainnya. Hingga kemudian,
ketiga temannya mulai merasa sedih saat membicarakan topik baru.
"Katanya
beliau adalah seorang uskup yang sangat taat. Sudah lama sejak beliau
menghilang, orang-orang khawatir beliau diserang oleh Kultus Raja
Iblis..."
"Aku juga
pernah dengar. Katanya beliau dibawa pergi ke suatu tempat."
"Kejam sekali... Padahal Uskup Lenidas adalah orang
yang sangat aktif tidak hanya di Ibu Kota, tapi juga sampai ke daerah-daerah...
Kenapa orang seperti beliau jadi incaran Kultus Raja Iblis..."
Sambil mendengarkan suara teman-temannya, Fiona membatin.
"Semoga ancaman Kultus Raja Iblis segera menghilang
secepat mungkin."
Mengingat pengalamannya menghadapi dua orang pengikut Kultus
Raja Iblis di Pegunungan Baldur, Fiona merasakan hal itu dengan sangat kuat.
◇◇◇
Keesokan harinya,
Edgar berencana menemani latihan Ren seharian penuh.
Ia menyapa pria
bertubuh besar yang sedang berlatih dengan ksatria lain, lalu memintanya untuk
melakukan duel latihan sebagai tinjauan ulang.
Duel hari ini
terasa sama seperti sebelumnya, namun entah kenapa terasa berbeda.
Ren masih
kesulitan menghadapi tenaga lawan dan kekuatan Gouken-gi, tapi
gerakannya sudah berubah total.
Meski masih ada
sisa kelelahan di tubuhnya, tidak ada kekakuan lagi. Kelonggaran yang ada pada
tebasan pedangnya berhasil menepis guncangan dari pedang raksasa.
Berbeda dari
sebelumnya, Ren kini memiliki sedikit celah saat menahan pedang raksasa, dan
pusat gravitasinya pun lebih stabil.
Di tengah adu
kekuatan yang entah sudah keberapa kalinya.
Saat pedang
raksasa diayunkan ke bawah, untuk pertama kalinya Ren menahan kekuatan itu
tepat dari depan.
(Tadi itu...)
Ia tidak tahu.
Berbeda dengan
sebelumnya, kenapa kali ini ia bisa menahan pedang raksasa itu sepenuhnya?
Edgar yang
mengawasi merasa kagum dan menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
Pria yang menjadi
lawannya bergumam, "Akhirnya, ya."
Tubuh Ren sedikit
goyah. Karena terus berlatih tanpa henti, tubuhnya mulai menuntut istirahat.
"Cukup
sampai di sini. Mari kita lanjutkan setelah makan siang."
Ren mengucapkan
terima kasih pada pria yang menjadi lawan tandingnya, lalu meninggalkan tempat
latihan mengikuti Edgar. Karena tidak ada kantin di Ordo Singa Suci, mereka
pergi ke luar.
Ksatria lain
menghampiri pria yang menjadi lawan Ren tadi.
"Hei, yang
terakhir tadi itu, jangan-jangan..."
"Ya... tidak
salah lagi."
Di tangan pria
itu, masih tersisa rasa mati rasa yang tajam.
Tanpa tahu bahwa
mereka sedang membicarakan hal itu, Ren tetap bungkam sambil mengikuti Edgar,
pikirannya hanya terisi oleh Gouken-gi.
Panas yang
dirasakan Ren saat mencoba mengejar "sesuatu" yang ia rasakan tadi
pagi.
Kekuatan yang
mirip dengan guncangan saat ia menerima Gouken-gi di lubuk hatinya, kali
ini terasa muncul dari tangan Ren sendiri.
Sesuatu memenuhi
ujung jari dan tangannya yang menggenggam pedang.
"...Apakah
ini?"
Otot-ototnya yang
kelelahan menahan denyutan hebat, dan panas yang menumpuk seketika lenyap.
Rasa lelah
menghilang dari tangannya, ujung jarinya, dan seluruh tubuhnya yang tadi sangat
terkuras.
"Kau sudah
membuka pintunya?"
Edgar yang
melihat pertandingan itu bergumam. Ksatria lain yang mulai menyadari perubahan
pada Ren juga ikut menahan napas sambil mengawasi.
Di tengah
tempat latihan, Ren yang sedang mengayunkan pedang mendadak berhenti dan
berdiri terpaku.
"Bisa minta
tolong sekali lagi?"
"Tentu! Mari
kita mulai!"
Tanpa sadar, pria
itu mengerahkan lebih banyak tenaga pada tangan yang menggenggam pedang
raksasa.
Tanpa sadar pula,
seluruh tubuhnya menjadi semakin panas membara.
Ren yang menunggu
ayunan tajam pedang raksasa itu bergerak dengan tenang, namun di saat yang sama
ia menunjukkan kontradiksi dengan memasang kuda-kuda dalam sekejap mata, lalu
menahannya sambil tetap berdiri tegak.
"Ap—?!"
Pedang beradu
dengan pedang, menciptakan dentuman keras yang memekakkan telinga.
Tangan Ren yang
menahan hantaman pedang raksasa itu tidak bergeming sedikit pun. Sebaliknya,
justru pria yang mengayunkan pedang raksasa itulah yang terdorong mundur.
Kali ini, Ren
mengubah posisi pegangan pedangnya dan merangsek maju menghadapi pria itu.
"Haaaaaaaaaaaaaakh!"
Tepat saat pria
itu menahan satu tebasan dari Ren.
Gelombang kejut
yang mengguncang udara memancar dari sela-sela benturan mereka, memenuhi
seluruh area terbuka di tempat latihan tersebut.
Pria itu
menjatuhkan pedang raksasanya ke tanah dengan bunyi dentang nyaring. Sambil
mengatur napasnya yang terputus-putus, ia menyeringai lebar hingga
memperlihatkan giginya yang putih.
"Tak
disangka, kau bisa mencapainya secepat ini."
Momen ini
hanyalah buah dari kerja keras Ren yang menghabiskan hari-harinya demi melatih Gouken-gi.
Tentu saja, bakat
yang ia miliki juga berperan besar di sana.
Setelah melewati
adu pedang dengan Edgar, dan melalui duel-duel latihan hingga hari ini...
"Pak
Edgar, apakah ini—"
"Benar.
Tidak salah lagi."
Sensasi
yang selama ini terasa nyaris tergapai, akhirnya kini telah jatuh ke dalam
genggamannya.
Pemuda
yang terus mengasah pedangnya itu, kini—
"——Mulai
hari ini, Tuan Ren adalah seorang pengguna Gouken."
Pedang
sang pendiri, sang Raja Singa.
Seorang pengguna Gouken yang baru, kini telah lahir di Ordo Singa Suci.



Post a Comment