NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 3 Chapter 6

Chapter 6

Reuni Saat Salju Turun


Pagi hari, Ren menatap langit cerah dari balik jendela kamarnya. Saat itulah, Lezard datang menyapanya.

"Selamat pagi. Terima kasih sudah menjaga Licia kemarin."

"Tidak perlu sungkan. Kemarin juga jadi pengalaman berharga bagiku."

Dua hari yang lalu, Ren resmi menjadi seorang pengguna Gouken.

Kemarin, ia membawa Licia untuk melakukan latihan melawan monster. Licia berkali-kali berseru "Hebat!" atau "Memang Ren yang terbaik!", ia ikut senang seolah-olah dirinyalah yang baru saja menguasai teknik itu.

Ren sempat menjelaskan tentang sensasi Matoi saat ditanya olehnya; ia menggambarkannya seperti mendapatkan zirah atau otot yang tak kasatmata.

"Bagaimana dengan Mana? Apa terkuras banyak?" tanya Licia kemarin.

"Tidak sebanyak yang kubayangkan. Kalau Nona Licia yang punya jumlah Mana lebih banyak dariku, mungkin akan lebih mudah lagi," jawab Ren.

Latihan kemarin berjalan lancar sambil diiringi obrolan dengan Licia yang sangat antusias terhadap Gouken-gi. Bahkan setelah pulang ke kediaman pun, mereka terus mengobrol hingga larut malam.

"Omong-omong Ren, kudengar hari ini kau punya rencana."

"Iya. Aku berniat pergi ke Ibu Kota. Aku ingin mengambil formulir pendaftaran sebelum tahun ini berakhir."

"Begitu ya. Akademi Militer Kekaisaran, kah?"

Tujuannya adalah mengambil formulir untuk ujian masuk. Bagi Ren yang memutuskan untuk mengambil ujian kelas beasiswa, dokumen ini tidak boleh terlambat diserahkan.

Licia yang sudah lebih dulu memutuskan untuk ikut ujian telah menyelesaikan prosedurnya.

◇◇◇

Begitu tiba di stasiun Ibu Kota, Ren langsung terjun ke tengah keramaian.

Di tengah hiruk-pikuk stasiun yang sibuk sejak pagi, ia berjalan untuk berpindah jalur kereta magis.

Mantel berdesain modern yang dibelinya setelah pindah ke Erendill berkibar tertiup angin dingin.

Tiba-tiba, sebuah suara yang memanggilnya bergema di sekitar.

"Ooh! Bocah yang ba—maksudku, bukannya ini Ren?!"

Suara berat yang menggelegar itu milik Werlich. Ia berjalan sambil membawa kantong kertas di kedua tangannya, sepertinya baru pulang belanja.

Ren segera menghampiri Werlich di antara kerumunan dan mengambil alih satu kantong kertas darinya.

"Anda mau pulang ke distrik pandai besi?"

"Tentu saja! Maaf ya, malah merepotkanmu."

"Tidak apa-apa. Lagipula itu pasti mengganggu saat berjalan."

Ren menganggap pertemuan ini sebagai jodoh, jadi ia memutuskan membantu Werlich sebelum pergi ke Akademi Militer Kekaisaran. Mereka berjalan bersisian di stasiun dan naik ke kereta magis menuju arah distrik pandai besi.

Setibanya di stasiun distrik pandai besi, mereka berjalan menuju bengkel Werlich.

"Sebentar lagi bahan yang itu akan sampai, ya."

"Sepertinya begitu. Tapi aku dengar pengirimannya sedikit terlambat karena salju."

"Yah, mau bagaimana lagi. Anggap saja itu waktu tambahan untuk persiapan."

"Dulu aku juga pernah berpikir begini, tapi Pak Werlich ini meski bilang benci bekerja, sebenarnya sangat tulus dalam pekerjaan, ya."

"Gahahahaha! Jangan salah paham! Aku hanya ingin mengerjakan pekerjaan yang ingin aku lakukan saja!"

Ren tertawa mendengar jawaban yang sangat khas Werlich itu. Setelah sampai di bengkel, Werlich menjamunya sebagai rasa terima kasih, dan Ren menghabiskan waktu melihat-lihat karya lama sang pandai besi.

 

Ren baru meninggalkan bengkel sekitar jam tiga sore. Begitu keluar, ia mengembuskan napas pendek yang langsung memutih karena udara musim dingin.

Saat menengadah ke langit, salju tipis mulai turun. Di musim dingin, matahari terbenam lebih cepat, dan ufuk langit perlahan mulai tergerus oleh warna biru gelap yang pekat.

Mungkin saat ia sampai di Akademi Militer Kekaisaran dan pulang membawa dokumen, hari sudah benar-benar gelap.

Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit, pemandangan orang-orang di sekitarnya mulai berubah.

Banyak remaja putra dan putri yang mengenakan seragam, terkadang terlihat juga orang dewasa yang tampaknya adalah pengajar.

Meski liburan musim dingin, rupanya banyak yang tetap datang untuk kelas tambahan.

(..........)

Di luar dugaan, Ren tidak merasa tegang. Ia hanya berjalan seperti biasa.

Ia tidak tersesat maupun berhenti dalam perjalanannya menuju Akademi Militer Kekaisaran.

Di antara remaja yang berpapasan dengannya, mulai terlihat mereka yang mengenakan seragam sekolah tersebut.

Ren terus berjalan, bahkan ia masih sempat terpikirkan menu makan malam apa yang menantinya hari ini.

"Ada keperluan apa di akademi kami?" tanya penjaga yang berdiri di gerbang depan Akademi Militer Kekaisaran yang memiliki lahan sangat luas itu.

Tentu saja pertanyaan itu wajar diajukan kepada seorang remaja yang datang sendirian tanpa seragam.

"Saya datang untuk mengambil dokumen yang diperlukan untuk ujian masuk."

"Baiklah. Boleh saya lihat kartu identitas atau dokumen pembuktian diri?"

"Iya, sudah saya siapkan."

Setelah memeriksa surat rekomendasi singkat yang ditulis oleh Lezard, penjaga itu berkata, "Mari saya antar," lalu berjalan di depan Ren.

Tempat yang mereka tuju adalah salah satu bangunan yang terhubung dengan gedung sekolah.

Ini adalah aula semacam ruang tamu untuk orang luar, seperti wali murid atau pedagang yang berkunjung.

Gedung itu begitu mengagumkan, bahkan tak kalah dengan kediaman bangsawan kelas atas.

Ren melangkah masuk sambil mengagumi gedung kebanggaan akademi yang mulai diselimuti salju tipis.

Cahaya jingga dari lampu kristal menghiasi ruangan dengan suasana yang hangat.

"Silakan tunggu di sini."

Ren duduk di sofa yang ditunjukkan. Penjaga itu pamit pergi untuk memanggil petugas administrasi. Ren hanya menunggu selama beberapa menit.

"Maaf membuat Anda menunggu."

Seorang staf akademi menghampirinya dan mengantar Ren menuju konter luas di bagian dalam aula.

Di samping konter tersebut, terdapat jendela kaca besar yang memberikan kesan terbuka.

Sesaat Ren menatap ke arah koridor penghubung yang biasa digunakan untuk berpindah gedung, lalu seorang staf lain dari balik konter menyapanya.

"Dokumen terkait ujian masuk, benar begitu?"

◇◇◇

Akademi Militer Kekaisaran memiliki perpustakaan besar dengan koleksi buku yang sangat langka di seantero Reomel. Saat ini, Fiona baru saja keluar dari perpustakaan tersebut.

Caranya mengenakan seragam sangat sempurna hingga setiap langkahnya tampak seperti sebuah lukisan.

Meski libur musim dingin, murid-murid lain yang datang untuk belajar mandiri—baik laki-laki maupun perempuan—tak bisa menahan diri untuk tidak menatapnya dengan penuh kekaguman.

Gadis yang menjadi pusat perhatian itu bergumam pelan.

"Saljunya cantik sekali."

Perpustakaan itu adalah gedung terpisah yang terhubung dengan gedung utama melalui koridor penghubung.

Saat menatap salju dari balik jendela koridor, kenangan setahun yang lalu melintas di kepalanya. Itu adalah hal yang sering ia ingat setiap kali musim dingin tiba.

Fiona ingat betul hari-hari di Pegunungan Baldur terasa sangat berat dan pahit. Tidak ada hal yang menyenangkan sama sekali di sana.

Namun, bertemu dengan Ren dan mendapatkan Star Agate darinya saat pulang adalah kenangan yang sangat berharga.

Tangan Fiona menyentuh kalung di dadanya. Saat ia menggenggamnya erat, ia merasa dadanya pun ikut sesak oleh rasa rindu.

"...Ren-kun."

Ia ingin bertemu dengannya. Karena rasa bersalah telah merepotkan Ren, ia kehilangan hitungan berapa kali ia ingin mengirim surat namun akhirnya mengurungkan niat.

Meski begitu, ia tetap ingin berterima kasih. Jadi, ia selalu menitipkan pesannya setiap kali Ulysses mengirim surat.

Walaupun ia tidak sanggup menuliskan kata "aku ingin bertemu" atau "datanglah ke Eupeheim".

Fiona menggigit bibirnya, menengadah ke langit musim dingin, lalu memejamkan mata perlahan.

Saat melakukannya, kenangan waktu musim dingin bersama Ren terus bermunculan di balik kelopak matanya.

Namun, ia tidak bisa terus begini. Fiona memantapkan hatinya dan mulai berjalan menuju asrama putri. Langkahnya terasa berat, seolah mewakili perasaannya yang pilu.

"...?"

Tiba-tiba ia berhenti. Ia kembali menoleh ke jendela yang tadi ia lihat, namun kali ini ia menatap lurus ke arah aula tamu yang berada di balik taman luas.

Mungkin itu hanya halusinasi karena ia terus memikirkannya. Atau mungkin, itu hanyalah ilusi yang diciptakan hatinya untuk menertawakan dirinya sendiri.

Fiona bergumam, "Eh?"

Di bawah cahaya jingga di sana, sosok Ren terlihat nyata. Ia berkali-kali mengucek matanya, namun sosok itu tidak hilang.

Tanpa sempat memakai mantelnya, Fiona berlari melewati koridor penghubung menuju aula tamu.

Begitu sampai, ia membuka pintu tanpa sempat mengatur napas. Ia merasa ingin memuji dirinya sendiri karena berhasil membukanya tanpa menimbulkan suara keras.

Namun, Ren tidak ada di sana. Ia melihat ke arah konter tempat pemuda itu berada tadi, mencari ke kursi-kursi di sekitarnya, namun sosok itu tetap tidak ditemukan.

Fiona berjalan berkeliling aula tamu. Ternyata, itu memang hanya salah lihat.

Dengan perasaan kecewa, Fiona meninggalkan tempat itu. Alih-alih kembali ke koridor, ia justru melangkah ke luar.

"Ternyata sosok Ren tadi cuma halusinasi yang lahir dari kelemahan hatiku."

Sambil menertawakan diri sendiri, setidaknya ia ingin melihat salju.

Ia ingin merasakan kembali suasana Pegunungan Baldur, meski hanya sedikit. Ia berjalan sambil mengembuskan napas putih.

Di tengah taman, terdapat sebuah pohon besar.

Sebelum pergantian tahun, pohon itu dihiasi oleh cahaya dari alat magis, menciptakan pemandangan indah bersama cahaya jingga dari jendela gedung sekolah.

Fiona menengadah menatap pohon itu. Tidak ada orang di sekitarnya. Lagi pula ini libur musim dingin, dan jam segini memang tidak ada siapa-siapa.

"...Melihat halusinasi adalah bukti kalau hatimu lemah, Fiona."

Sejak insiden di Pegunungan Baldur, Fiona terus berusaha keras dalam segala hal.

Ia terus menyesal karena telah banyak merepotkan Ren saat itu, sehingga ia bertekad menjadi kuat agar bisa melindungi dirinya sendiri.

Itulah alasan kenapa ia tidak mencoba pergi menemui Ren secara langsung. Ia takut akan merepotkan Ren lagi seperti dulu.

"Tapi, aku memang ingin bertemu dengannya..."

Hari ini, tak apa jika perasaan jujurnya meluap sedikit. Air mata hampir menetes, namun ia berusaha keras menahannya.

Air mata itu hanya menggenang di pelupuk matanya, tidak sampai tumpah.

Bahu Fiona gemetar. Karena keluar tanpa mantel, ia mulai merasa kedinginan dan hampir bersin.

Meski ia ahli sihir es dan percaya diri tahan terhadap dingin, berdiri di luar saat puncak musim dingin tanpa mantel tetap saja menyiksa tubuhnya.

Ia benar-benar harus segera kembali. Saat ia memeluk bahunya sendiri dan hendak beranjak dari pohon itu—

Tiba-tiba, sesuatu yang hangat menyelimuti bahunya.

Sebuah mantel yang bukan miliknya membungkus lengan yang sedang memeluk bahu itu.

Fiona yang kebingungan menoleh, dan di sana, pemuda itu berdiri.

"Nanti Anda bisa masuk angin, Nona Fiona."

Ia tersenyum lembut, sama seperti dulu.

"Ren-kun...?"

"Sudah lama tidak bertemu. Aku Ren Ashton."

Semuanya adalah kenyataan yang tak terbantahkan.

Kehangatan yang merambat dari mantel yang dipakaikannya, juga suaranya. Bukan ilusi maupun mimpi, dia benar-benar ada di dekatnya.

Tangan Fiona yang tadi memeluk bahu turun sedikit, lalu mencengkeram ujung mantel Ren.

"—Aku benar-benar, benar-benar senang bisa bertemu denganmu lagi."

Air mata yang tadi hampir tumpah akhirnya mengalir melewati pipinya. Pipinya merona tanpa sadar.

Fiona yang tersenyum manis di depan Ren memiliki kilau kecantikan yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sebelumnya, sebuah kecantikan yang sanggup membuat siapa pun menahan napas.

Fiona sekuat tenaga menahan keinginannya untuk langsung memeluk Ren. Air mata yang kini jatuh adalah air mata kebahagiaan.

"Nona Fiona?! Kenapa Anda menangis?!"

"Tidak... bukan apa-apa! Hanya saja, banyak hal yang terjadi, jadi jangan khawatir!"

Setelah menyeka air matanya, mata Fiona berkilau bagaikan permata. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah hampir satu tahun.

Ren yang memang memiliki pertumbuhan fisik yang cepat, kini terlihat lebih tinggi dan wajahnya tampak jauh lebih dewasa.

Tinggi mereka yang dulu hampir sama, kini membuat Fiona harus sedikit mendongak untuk menatapnya.

Menyadari perubahan itu, Fiona sedikit membungkukkan punggungnya untuk menyembunyikan pipinya yang semakin memerah.

"O-oh, iya! Kenapa Ren-kun ada di sini?!" tanya Fiona setelah akhirnya mulai tenang.

"Aku datang untuk mengambil dokumen ujian masuk."

Alasan itu cukup untuk mengejutkan Fiona, namun ia juga penasaran kenapa Ren bisa muncul di taman ini.

"Aku datang ke depan pohon ini karena tadi melihat Nona Fiona."

"Melihat... aku?"

"Iya. Saat mau pulang, aku tidak sengaja melihat Nona Fiona. ...Lagipula, kalau tidak pakai mantel begini nanti bisa masuk angin, lho. Kenapa Anda ada di sini?"

"—Itu, karena aku pikir aku mungkin bisa bertemu denganmu..."

Fiona menunduk, sengaja menjawab dengan suara pelan agar tidak terdengar.

Memanfaatkan suara dahan pohon yang bergoyang tertiup angin untuk menyamarkan kata-katanya, ia lalu berkata:

"Hehe, rahasia, dong."

Ia menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya. Tingkah laku Fiona itu membuatnya tampak seperti peri nakal yang sedang bermain di tengah salju.

"Tapi aku benar-benar terkejut. Selain karena bisa bertemu denganmu, aku tidak menyangka Ren-kun akan mendaftar ke akademi ini."

"Eh? Aku kira Anda sudah dengar dari Tuan Ulysses."




"Eh!? Ja-jadi, Anda menjalin kontak dengan Ayahanda!?"

"Bukan sekadar kontak, kami benar-benar bertemu dan mengobrol langsung, lho."

"……Ayah ini sungguh keterlaluan. Aku sama sekali tidak diberi tahu soal itu."

Meski Ren menyebutkan pertemuannya dengan Ulysses musim panas lalu, Fiona rupanya tidak tahu apa-apa. Bahkan sampai detik ini, dia tidak menyadari kalau Ren berada di Erendil.

(Kukira dia sudah bilang…… tapi kenapa dia diam saja, ya?)

Ulysses sebenarnya hanya bertindak sesuai prinsipnya sendiri. Dia tahu perasaan Fiona terhadap Ren, namun dia tidak ingin memaksakan reuni mereka demi kepentingannya sendiri.

Dia juga menghormati keberadaan Licia yang selama ini berada di sisi Ren. Ini hanyalah bentuk sportivitas khas dirinya, sesuatu yang tidak butuh pemahaman orang lain.

Bahkan jika ditanya pun, Ulysses pasti hanya akan memberikan jawaban yang samar.

"Ngh……"

Angin salju yang kencang mendadak bertiup, menyapu rambut hitam panjang Fiona. Melihat gadis itu tersiksa hawa dingin sesaat, Ren yang merasa khawatir pun mengajaknya bicara sambil berjalan.

"Omong-omong, kenapa Kamu tidak memakai mantel?"

"……Aku meninggalkannya di akademi."

"……Di hari bersalju seperti ini?"

"I-iya! Sepertinya aku sedang melamun tadi!"

Ren menyadari adanya gelagat kebohongan yang nyata. Namun, karena Fiona tampak tidak ingin ditanya lebih lanjut, Ren pun urung mencari tahu.

Saat Fiona hendak mengambil mantelnya, lampu di koridor penghubung menuju perpustakaan mendadak padam. Mereka berdua pun mengeluarkan suara terkejut di saat yang bersamaan.

Karena sedang libur musim dingin, jam tutup perpustakaan memang lebih awal dari biasanya.

"Apa Kamu punya mantel lain di asrama?"

"Ya…… ada beberapa pasang, tapi……"

"Kalau begitu, biarkan aku mengantarmu sampai asrama. Aku ini tipe yang tahan panas, jadi aku tidak apa-apa."

Ren langsung melangkah pergi begitu saja. Fiona merasa dirinya lagi-lagi hanya bisa bermanja pada pemuda itu.

Namun, saat Ren mengajaknya dengan kalimat "Ayo pergi", Fiona akhirnya mengangguk pelan seolah didorong oleh kehangatannya.

"……Terima kasih banyak."

Situasi di mana dia dikawal oleh Ren membuat Fiona tidak sanggup menolak. Terlalu sungkan juga hanya akan menginjak-injak kebaikan hati pemuda itu, maka dia pun mengikuti Ren dengan langkah malu-malu.

Hanya dengan menatap punggung Ren saja, pipinya sudah merona karena rasa bahagia yang meluap.

"Kalau dipikir-pikir, apa pengawalmu tidak apa-apa?"

Fiona mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan itu.

"Di dalam area akademi tidak ada pengawal, dan jalan menuju asrama juga dijaga oleh ksatria patroli, jadi aman."

"Jadi tidak selamanya ada seseorang di sisimu saat berangkat sekolah, ya."

"Iya, begitulah adanya."

Entah apakah Fiona sebenarnya dijaga dari tempat yang tidak terlihat atau tidak. Namun di sisi lain, daerah ini memang banyak dipatroli oleh para ksatria.

Karena banyaknya putra dan putri bangsawan di sini, sistem keamanan telah dipastikan sangat ketat sejak lama. Jalan keluar sekolah menuju asrama pun bisa dibilang sangat aman.

Fiona yang tampak sangat senang karena bisa berbincang lagi setelah sekian lama, berulang kali mengajak Ren bicara dengan suara yang ceria.

"Anu, anu!" serunya dengan nada bersemangat, setiap percakapan itu terasa menghangatkan hatinya. Dunia yang hingga kemarin terasa kelabu, kini tampak berkilauan di matanya.

"Tidak menyangka Anda juga pergi ke Markas Besar Ksatria Suci. Mungkin saja kita pernah berpapasan di jalan."

"Bisa jadi. Aku juga terkadang pergi ke restoran di sepanjang jalan utama, jadi saat Fiona-sama pulang, mungkin saja────"

"Be-benarkah!?"

Fiona juga bercerita bahwa dia merasa pernah melihat Ren sebelumnya. Ren pun mengingat hari yang dimaksud dan berpikir bahwa mungkin itu memang benar terjadi.

Saat Fiona menyesali kejadian hari itu dan mengeluarkan suara "Ugh……" yang menggemaskan, Ren pun berkata:

"Tapi sekarang, kita sudah bisa bertemu seperti ini."

Ren melemparkan senyum tulus kepada Fiona. Hatinya dihangatkan oleh kelembutan itu, dan jiwanya seolah tercuri oleh senyuman sang pemuda.

Fiona pun mengangguk malu-malu dan tersenyum simpul, "……Iya!"

Semakin dekat mereka dengan asrama, suasana hati Fiona perlahan mulai meredup. Itu karena waktu perpisahan dengan Ren sudah semakin dekat.

"……Apa kita bisa mengobrol lagi?"

"Ibukota dan Erendil itu sangat dekat, aku bisa menjadi teman bicaramu kapan saja."

Suara Ren terdengar santai, seperti biasanya. Mendengar hal itu, segala kebimbangan yang dirasakan Fiona seolah sirna, seperti embusan angin segar yang menyejukkan hatinya.

Di dalam benaknya, kini muncul kata-kata terang yang berbeda dari sebelumnya.

(────Aku juga, boleh berjuang, kan?)

Gumamnya yang tersapu angin salju adalah tanda perubahan yang terjadi di dalam hatinya.

◇◇◇

Setelah berjalan beberapa menit, mereka tiba di depan asrama. Fiona mengembalikan mantel yang dipinjamnya kepada Ren, dan saat mereka hendak berpisah────

Dengan langkah ringan seolah ingin menari, dia melangkah beberapa tindak di depan Ren.

"Mulai besok, aku akan berjuang lebih keras lagi."

Fiona mengatakannya dengan nada penuh makna tanpa menatap Ren. Saat dia berbalik dengan rok yang berkibar tertiup angin, butiran salju tampak menari di sekelilingnya seperti serpihan diamond dust.

Di hadapan Fiona yang tersenyum, rambut hitamnya yang sehalus sutra tampak melambai.

"Berjuang?"

Ren bertanya heran mendengar kata-kata yang tiba-tiba itu, dan Fiona menjawabnya dengan suara yang riang. Di akhir kalimatnya, Fiona berujar, "Karena────"

"Aku benar-benar ingin Anda melirikku."

Dengan ekspresi cantik penuh tekad yang belum pernah dia perlihatkan pada siapa pun.

Dia mengucapkannya dengan suara yang bermartabat, sebuah bukti dari perasaannya yang tak tergoyahkan.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close