NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 3 Chapter 3

Chapter 3

Lion Saintess Palace


Daun-daun pohon peneduh di Ibukota telah berubah warna, menciptakan pemandangan indah saat mereka berguguran di atas jalan berbatu.

Ren kembali menempuh perjalanan jauh yang sama seperti sebelumnya; berangkat dari Clausel menuju wilayah lain, lalu menyambung dengan kapal magis hingga akhirnya tiba di Ibukota.

Hari ini, ia memiliki janji untuk bertemu dengan Edgar, kepala pelayan Ulysses, tepat setelah tengah hari.

Ren membeli tiket seharga 500G di stasiun terdekat, lalu menunggu kereta magis di peron tanpa perlu melihat jadwal keberangkatan.

Kereta magis yang segera tiba itu memiliki bodi aerodinamis dengan jajaran pipa yang menonjol, memberikan kesan retro seperti lokomotif uap, namun anehnya tetap terlihat futuristik.

Sekitar dua puluh menit ia habiskan di dalam kereta magis.

"Jangan bilang begitu. Aku bisa menjadi diriku yang sekarang karena terus berlatih tanding denganmu, Ren."

Sambil sedikit terayun di dalam gerbong yang melaju di atas rel, Ren teringat kembali percakapan malam itu.

"Ren tidak perlu khawatir. Kurasa aku juga akan sibuk untuk sementara waktu, ya?"

Segera setelah Ren memutuskan untuk berangkat dari Clausel, Licia pun membulatkan tekad untuk mengikuti ujian masuk Institusi Militer Kekaisaran.

Demi menembus kelas beasiswa khusus, Licia harus mencurahkan waktu untuk belajar persiapan ujian.

Ujian tersebut akan dimulai pada musim semi tahun depan. Bukannya Licia tidak belajar sampai sekarang, tapi mulai saat ini, ia harus berusaha jauh lebih keras dari sebelumnya.

"……Ayo semangat."

Begitu keluar melewati gerbang tiket stasiun tujuan, Ren disambut pemandangan alun-alun dengan air mancur raksasa yang mencolok.

Edgar sudah berdiri menunggu di depan air mancur tersebut.

"Sudah lama tidak berjumpa."

Sekitar satu setengah tahun yang lalu, Edgar berada di Clausel saat insiden Viscount Given pecah.

Namun saat itu Ren sedang dalam kondisi koma sehingga mereka tidak sempat berbincang, dan beberapa hari lalu pun Ulysses selalu ada di dekat mereka, jadi Ren belum banyak bicara dengan Edgar.

Bagi mereka berdua, ini bisa dibilang seperti pertemuan pertama.

"Mohon bantuannya untuk lima hari ke depan."

"Serahkan pada saya. Saya pun sudah menantikan hari ini. Mari, Tuan Ren, lewat sini."

Edgar memandu jalan di depan.

Mereka tidak naik kereta kuda, melainkan berjalan santai menyusuri distrik perkantoran yang tenang.

(Di daerah sini, banyak orang yang berpakaian sangat rapi, ya.)

Banyak orang yang bekerja di institusi penting berlalu-lalang di sekitar sana. Ada juga orang-orang yang tampak seperti bangsawan, pemandangan yang mustahil ditemukan di Clausel.

◇◇◇

Setelah melewati jajaran gedung besar yang khas, Lion Saintess Palace pun terlihat.

Gedung itu menyerupai kuil yang menjulang tinggi di atas lahan yang sangat luas, saking luasnya hingga mungkin bisa menampung seluruh desa tempat tinggal Ren.

Penampilan luar Lion Saintess Palace berwarna hitam pekat dan tampak agung.

Dalam Seven Heroes Legend, ini adalah tempat yang tidak pernah bisa ia injaki.

(Lagipula, Great Sword Technique memang khusus digunakan oleh musuh.)

Bukan berarti Lion Saintess Palace adalah markas penjahat. Tempat ini hanyalah fasilitas penting yang berkaitan dengan sang Lion King.

"Tuan Ren, ada apa?"

"Maaf. Aku terpukau melihatnya."

"Wajar saja. Tempat ini adalah salah satu lokasi paling istimewa di Leomel. Karena merupakan institusi yang berkaitan dengan Lion King, orang tanpa izin—bahkan bangsawan sekalipun—tidak boleh menginjakkan kaki di sini."

Alasan Ren mendapatkan izin tidak lain adalah karena kekuasaan Ulysses.

"Mari segera masuk."

Pintu masuk Lion Saintess Palace tidak memiliki daun pintu, melainkan sebuah ruang terbuka luas dengan pilar-pilar tebal yang berjejer hingga ke bagian dalam.

Pilar dan jalan berbatunya terbuat dari batu hitam yang dipoles mengkilap, memberikan aura tekanan yang kuat.

Di sana berjaga para ksatria yang mengenakan armor hitam pekat, berbeda dengan ksatria patroli kota maupun Ksatria Ordo.

Biasanya ksatria di kota besar banyak diisi oleh elit muda yang gagah, baik di Erendil maupun di kota Clausel.

Namun ksatria di Lion Saintess Palace terasa sangat berbeda. Mereka memancarkan wibawa dan intimidasi yang jauh melampaui ksatria lainnya.

Sesaat setelah mereka berdua masuk ke dalam, para ksatria yang berjaga di luar diam-diam menatap punggung Ren.

"Anak laki-laki tadi, sungguh luar biasa."

Begitu salah satu dari mereka bergumam, suara-suara lain menyahut setuju.

"Aku melihat sesuatu yang bagus. Dia memiliki 'inti' yang kokoh di dalam tubuhnya, sekuat logam Orichalcum."

"Dia dibawa oleh Tuan Edgar. Mungkin dia memiliki bakat yang sangat langka."

"Apa ada alasan kenapa para ksatria Lion Saintess Palace memakai armor hitam?"

"Itu karena pengaruh Lion King. Beliau adalah sosok yang sangat menyukai warna hitam."

Ren juga bertanya kenapa bagian dalam Lion Saintess Palace begitu hening.

Ternyata tidak ada alasan khusus, kemungkinan besar itu karena suasana agung yang terpancar dari bangunan tersebut.

"Lalu, kenapa Lion Saintess Palace tidak memiliki gerbang yang berat atau pintu masuk yang dijaga ketat?"

"Ada dua alasan. Pertama, sebenarnya ada banyak Magic Item penjaga yang dipasang di tempat-tempat yang tidak terlihat."

Langkah kaki mereka terus bergema di lorong.

"Kedua, ksatria yang menjaga Lion Saintess Palace semuanya adalah pengguna Great Sword Technique. Tingkatan ksatria di sini minimal adalah Swordsman-class, sehingga keberadaan mereka lebih kuat daripada gerbang sekokoh apa pun."

"H-hah…… m-minimal Swordsman-class!?"

"Benar. Lagipula, jika dibandingkan dengan aliran ternama seperti Holy Sword Technique, tingkatan dalam Great Sword Technique biasanya dihitung satu tingkat lebih tinggi. Secara teknis, ksatria di sini setara dengan Great Swordsman-class di aliran lain."

Tentu saja Sword King adalah pengecualian. Lima orang terkuat di dunia itu berada di level yang berbeda.

Jenjang tingkatan ahli pedang menempatkan Sword King di puncak, diikuti oleh Sword Saintess, Great Swordsman, Swordsman, High-rank Knight, dan Knight tanpa memandang aliran.

Karena ini adalah Ibukota kebanggaan Imperium Leomel dan fasilitas penting bagi sang pendiri negara, wajar jika tempat ini dijaga oleh ksatria yang sangat kuat.

◇◇◇

Setelah menyusuri koridor luas dengan pilar-pilar besar, Edgar berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu batu raksasa.

"Ada beberapa tempat latihan lain, tapi selama beberapa hari ke depan, kita akan menyewa tempat ini secara khusus."

"Baik──── eh, kita?"

"Benar. Hanya ada kita berdua, saya dan Tuan Ren."

Edgar tersenyum ramah seperti kakek-kakek baik hati sambil mengulurkan tangan ke pintu batu itu. Pintu hitam pekat setinggi sepuluh meter itu terbuka.

Begitu pintu terbuka sempurna, Ren melihat ruang yang terbentang di depannya.

Biru. Lantai batu dan pilar-pilar melengkung di keempat sisi dinding semuanya berwarna biru, dan materialnya sendiri memancarkan cahaya putih.

"Hari ini kita akan membagi waktu sama rata antara teori dan praktik."

Edgar melepas jas yang ia kenakan.

Di baliknya, ia memakai kemeja putih bersih dengan suspender yang sangat cocok dengannya. Setelah melepas jas, tubuhnya yang ramping namun kencang terlihat jelas oleh Ren.

"Yang akan bertanggung jawab membimbing Tuan Ren dalam Great Sword Technique adalah saya sendiri, Edgar."

Di pinggang Edgar tersampir beberapa bilah pedang panjang.

"Sebuah kehormatan bisa dibimbing langsung oleh kepala pelayan keluarga Ignat."

Ren menyadarinya justru karena perubahan aura Edgar setelah melepas jas.

Edgar pastinya sangat kuat.

Meskipun Ren tidak bisa memastikan apakah aura kekuatannya melampaui Asval, Edgar memiliki kegarangan yang tidak bisa dibandingkan dengan pendekar pedang mana pun yang pernah Ren temui sebelumnya.

Ia adalah pria yang dipercaya sepenuhnya oleh Ulysses. Usia tuanya sama sekali bukan halangan.

Edgar mengeluarkan dua buah buku dari balik pakaiannya dan menyerahkan satu kepada Ren.

"Apakah semua orang yang belajar Great Sword Technique harus memulai dari teori?"

"Itu tergantung pada gurunya, termasuk di aliran lain. Dalam kasus saya, saya berpendapat bahwa praktik harus disertai dengan teori."

Karena Roy, ayahnya, adalah tipe praktisi murni, Ren sama sekali tidak akrab dengan teori.

Setelah itu ia belajar pedang dari Weiss, tapi Weiss pun tidak mengajarkan teori. Edgar mulai membuka bukunya.

"Seperti yang Anda ketahui, Combat Arts adalah konsep yang ada di setiap aliran. Ini adalah kekuatan yang bisa melengkapi seseorang meskipun mereka tidak terlahir dengan Skill sihir."

Menggunakan mana di dalam tubuh untuk melepaskan teknik melalui pedang. Itulah Combat Arts.

"Misalnya, dalam Holy Sword Technique, ada teknik bernama Rayfall."

"Aku pernah merasakannya sendiri secara langsung dulu."

"Maksud Anda anggota Kultus Iblis yang muncul di Pegunungan Balder, ya?"

Rayfall menggunakan mana yang melapisi pedang untuk melemahkan pertahanan sihir lawan dan menyudutkannya.

Teknik ini hanya bisa digunakan oleh mereka yang berada di level Great Swordsman-class ke atas dalam Holy Sword Technique.

"Yang dimaksud pertahanan sihir adalah kekuatan yang dimiliki logam khusus seperti Mythril, atau pelindung yang dibuat dengan sihir. Logam tersebut mengandung mana sehingga lebih keras dari logam biasa dan memiliki resistansi terhadap sihir."

Namun, lanjut Edgar.

"Dalam Great Sword Technique, kami tidak menganggap karakteristik itu sebagai Combat Arts. Itu adalah kekuatan yang harus bisa diatasi dengan tebasan biasa."

"Ha…… hah?"

"Dalam konsep Great Sword Technique, Anda dituntut untuk bisa melukai pertahanan sihir meski tanpa teknik khusus. Mengasah kemahiran hingga bisa menembusnya adalah hal mendasar."

Ren mendengarkan dengan patuh, namun isi pembicaraannya sangat luar biasa hingga ia merasa bingung.

"Bagaimana caranya agar kekuatan itu bisa disalurkan ke pedang?"

"Dengan mengolah mana di dalam tubuh hingga menjadi jauh lebih halus daripada serat otot. Melapisi seluruh tubuh dengan mana tersebut…… konsep khas Great Sword Technique yang disebut Shrouding adalah dasar dari segalanya. Tanpa menguasai Shrouding, Anda tidak akan bisa menguasai Combat Arts dalam aliran ini."

Dari awal sampai akhir, Ren sama sekali tidak paham.

"Selain itu, Shrouding bukan hanya untuk menyerang. Sama halnya dengan logam mengandung mana yang menjadi kuat, teknik ini akan menjadi pelindung tak terlihat yang menjaga tubuh Anda."

Ren sulit membayangkan bagaimana cara mencapai tingkatan yang dijelaskan Edgar tersebut.

"Ini sama dengan melatih Skill. Mari kita mulai Great Sword Technique dengan mencoba merasakan kekuatan yang saya jelaskan tadi."

Ren mengangguk, lalu mengajukan pertanyaan.

"Sepertinya Shrouding sangat penting dalam Great Sword Technique, tapi bagaimana aliran lain menggunakan Combat Arts?"

"Secara teknis, pendekar pedang aliran lain juga mengolah mana untuk menggunakan teknik."

Perbedaan besarnya terletak pada teknik halus dalam mengelola mana.

Jika aliran seperti Holy Sword Technique menggunakan mana yang diolah lewat pedang atau pelindung sebagai media, Great Sword Technique melapisi mana itu langsung ke seluruh tubuh, jadi ini benar-benar hal yang berbeda.

Karena mana harus terus melapisi tubuh, dibutuhkan pengendalian halus yang mengikuti gerakan otot dan pernapasan.

Antara pelindung yang menutupi tubuh dengan tubuh itu sendiri, Edgar bilang keduanya mirip namun berbeda.

"Berbeda dengan aliran lain yang menggunakan media seperti senjata atau pelindung, kita melapisi segala sesuatu yang menjadikan diri kita 'diri kita sendiri'. Kita menggunakan teknik tanpa bergantung pada peralatan."

"Jadi Great Sword Technique menganggap tubuh sendiri sebagai senjata dan pelindung, begitu ya?"

"Tepat sekali. Bakat untuk menggunakan mana yang diolah dengan cara itulah yang merupakan prasyarat bagi Great Sword Technique."

Itulah alasan kenapa pengguna Great Sword Technique tetap kuat meski tanpa menggunakan teknik khusus.

"Silakan ambil ini. Ini sudah saya siapkan untuk hari ini."

Edgar merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil. Botol cantik itu ditutup dengan gabus, dan di dalamnya terdapat satu bola kristal bulat.

Ren menerima botol itu dan memutar bola kristal di dalamnya hingga berbunyi klentang.

"Ini botol biasa dengan bola kristal khusus yang bereaksi terhadap mana. Dalam latihan harian, cobalah untuk memberi goresan pada bola kristal tersebut."

"Tidak boleh membuka tutupnya lalu menggoresnya, kan?"

"Tentu saja. Cukup genggam di telapak tangan Anda tanpa menggunakan sihir."

Ren benar-benar bingung diminta melakukan hal yang seperti trik sulap ini.

"Mengendalikan mana yang telah diasah dengan bebas, lalu melalui telapak tangan, menembus botol dan memberi pengaruh pada bola kristal. Itu sangat mirip dengan cara penggunaan mana dalam Great Sword Technique."

"Apa semua orang bisa menggunakan mana seperti itu?"

"Tidak, mana murni tidak akan mengeluarkan kekuatan seperti itu. Di dalam botol adalah bola kristal yang diproses secara khusus untuk mengukur tingkat kemahiran dalam mengelola mana."

"Jadi kalau aku tidak bisa menggores kristal di dalam, artinya aku tidak punya bakat Great Sword Technique, ya."

Ren memegang botol itu di telapak tangannya dan mencoba membayangkan "mana, mana..." di dalam hatinya, tapi tidak ada tanda-tanda bola kristal di dalam botol itu tergores.

Mungkin karena merasa sedikit cemas melihat tidak ada perubahan, ia menatap Edgar.

"Wajar jika ini memakan waktu."

Bahkan Edgar sendiri dulu hanya sanggup memberikan goresan tipis di permukaan kristal saat ia masih muda.

Ren memasukkan botol itu ke saku jaket yang tadi ia lepas.

"Mulai sekarang, saya akan membimbing Anda dengan demonstrasi langsung."

Beberapa pedang latihan berjejer di dinding. Ren memilih satu dan kembali ke tempatnya, sementara Edgar sudah bersiap dengan pedang panjang di kedua tangannya.

Sambil melakukan pemanasan, Ren bertanya.

"Aku lupa bertanya, Tuan Edgar sendiri berada di tingkat apa dalam Great Sword Technique?"

"Seperti yang Anda lihat, saya sudah tua. Sekarang pekerjaan utama saya adalah kepala pelayan, jadi saya tidak sehebat masa muda saya dulu, tapi……"

Edgar melanjutkan.

"────Saya adalah seorang Sword Saintess."

Ren tersenyum lebar. Ia tidak menyangka Edgar ternyata adalah orang sehebat itu.

"Pertama-tama, tunjukkanlah permainan pedang Anda."

Ren tidak ingat pernah mengayunkan pedang dengan sungguh-sungguh sejak mendapatkan Physical Ability UP (Medium).

"Mohon bimbingannya."

Ia ingin melihat sejauh mana kemampuannya bisa menghadapi seorang Sword Saintess, namun—

(T-tunggu────!?)

Ren terpukau oleh teknik Edgar yang menangkis pedangnya dengan sangat ringan, serta kemampuan fisiknya yang tidak bergeming sedikit pun.

Di dalam tempat latihan, suara benturan pedang mereka yang sangat keras seolah mengguncang udara, menunjukkan betapa besarnya kekuatan Ren. Namun, Edgar menangkisnya dengan santai seolah itu bukan apa-apa.

Setelah saling bertukar serangan berkali-kali, Edgar mulai beralih menyerang.

"Mari kita berlatih tanding dengan ayunan pedang biasa, yang bisa dibilang dasar dari Great Sword Technique."

Artinya, ia tidak menggunakan Combat Arts, melainkan hanya kekuatan khas dari aliran tersebut.

Seperti apa "biasa" bagi seseorang di tingkat Sword Saintess──── Ren merasakannya langsung dengan tubuhnya.

"Saya datang."

Dalam satu hentakan kaki yang tajam, Ren sempat kehilangan jejak sosok Edgar.

Sadar-sadar, pria tua itu sudah ada di depan matanya dan melancarkan satu tebasan tajam ke arah pedang Ren.

Saat menangkisnya, sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan menjalar di lengan Ren.

Jadi inilah kekuatan Great Sword Technique yang sebenarnya.

Rasa kesemutan yang hebat tidak berhenti di lengan, tapi menjalar dari dada hingga ke kaki.

Rasa lelah yang luar biasa, seolah baru saja menggerakkan tubuh selama berjam-jam, langsung menyerang seluruh tubuhnya.

Ini bukan kelelahan karena menahan kekuatan fisik. Sensasi seolah kekuatan terkuras dari dasar tubuh terjadi hanya karena satu ayunan pedang.

"Jangan memaksakan diri!"

"Aku masih bisa!"

"Oho! Anda sangat gigih!"

Setiap kali pedang mereka beradu, suara logam yang memekakkan telinga bergema. Setiap kali menahan serangan beruntun Edgar, kekuatan Ren seolah terus menguap dari tubuhnya.

Ia merasa seolah sedang dipelototi oleh seekor singa sungguhan yang merampas seluruh nyalinya.

Bahkan dinding dan lantai tempat latihan ini terasa bergetar, seolah ruang itu sendiri sedang menjerit.

(……Tahan dengan benar setidaknya sekali──── Ren!)

Ren meneriakkan semangat di dalam hatinya.

"Meskipun ini pertama kalinya, saya tidak menyangka Anda bisa bertahan sejau────"

Pada satu momen, Edgar meragukan matanya sendiri.

"A────pa!?"

Edgar terperangah melihat Ren yang sudah kelelahan ternyata sanggup menangkis serangannya, dan ia membelalak saat merasakan tangannya sendiri kesemutan.

Saat Edgar menatap wajah Ren dengan penuh kekaguman, ia sedikit bergidik.

Ia merasa melihat sekilas aura keberanian yang tak dikenal pada diri Ren yang sudah berlutut sambil mengatur napas yang memburu.

"Haha…… kalau aku tidak menunjukkan sedikit harga diri, itu akan memalukan."

Ren terduduk di lantai dalam kondisi sangat lelah. Keringat bercucuran di wajah dan lehernya, namun saat ia tersenyum sambil mengatur napas, kekuatan yang Edgar rasakan tadi sudah tidak terlihat sedikit pun.

"Tepat di sebelah kiri pintu keluar ada tempat untuk mandi. Mari beristirahat sejenak sebelum saya antar."

Edgar berniat mengantar Ren keluar, namun Ren segera berdiri.

"Tidak, aku sudah bisa bergerak, jadi aku akan pergi sendiri."

Padahal ia baru saja terkuras habis, tapi ia sanggup membuka pintu batu yang berat itu sendirian dan berjalan keluar.

"……Tuan, sepertinya Tuan Ren bukan diseret ke panggung utama."

Edgar bergumam sendirian sebelum mengenakan jasnya kembali.

"Dia memang ditakdirkan untuk muncul di sana. Dan lagi, penampilannya tadi benar-benar seperti────"

Di luar Lion Saintess Palace, lonceng tanda jam tiga sore berbunyi. Gumaman Edgar tertutup oleh suara lonceng tersebut.

◇◇◇

Pada hari terakhir latihan.

"Jika Tuan Ren berkenan, saya bersedia terus membimbing Anda di masa depan. Di bagian terdalam Lion Saintess Palace ada tempat latihan terbesar dengan langit-langit terbuka. Saat saya tidak ada, Anda boleh ikut bergabung dalam latihan para ksatria."

Edgar sering bepergian antara Ibukota dan Eupeheim. Saat Ren merasa khawatir itu akan merepotkan, Edgar hanya tersenyum sopan.

"Saya hanya perlu naik kapal magis dan kereta magis."

Eupeheim adalah kota terbesar kedua setelah Ibukota, dan di sudut kota itu terdapat dermaga kapal magis. Jaraknya jauh berbeda dengan perjalanan Ren yang tinggal di Clausel.

"Hari ini, terakhir, saya akan menunjukkan satu Combat Arts dari Great Sword Technique."

Edgar pergi keluar sebentar. Kurang dari beberapa menit ia kembali bersama seorang ksatria Lion Saintess Palace yang biasa berjaga di depan.

"Lion King tidak pernah terkalahkan di medan perang. Dikatakan bahwa Beliau tidak pernah mundur di hadapan penyihir dan sanggup menahan berbagai macam sihir."

Bergantung pada pedang saat melawan sihir biasanya dianggap langkah yang salah, tapi itu tidak berlaku bagi sang Lion King.

"Silakan."

Edgar memberi aba-aba pada ksatria itu. Sang ksatria mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

Dengan ayunan tajam, ia menebas ke bawah, menciptakan angin kencang yang berubah menjadi bilah-bilah tajam menuju ke arah Ren dan Edgar.

Edgar melakukan tebasan menyamping dengan pedangnya.

Angin yang menerjang itu terbelah oleh tebasan menyamping tersebut, berubah menjadi angin kencang biasa yang hanya meniup rambut Ren.

"Biasanya, sihir dilawan dengan memberikan dampak yang sama besar untuk menetralisirnya. Namun, Great Sword Technique tidak menetralisir. Kami memiliki teknik untuk memotong sihir itu sendiri."

Tergantung kemahirannya, pengguna Great Sword Technique bisa memberikan dampak tebasan bahkan pada sihir, melemahkannya, atau jika sudah ahli, bahkan bisa membatalkannya sepenuhnya. Meski perbedaan kekuatan juga berpengaruh besar, ini tetaplah sebuah teknik yang destruktif.

Nama teknik barusan adalah, Star-Slasher.

Dahulu, bintang-bintang di langit malam pun dianggap sebagai hasil dari sihir. Legenda mengatakan bahwa Lion King memberi nama itu karena ia berniat menjatuhkan bintang-bintang tersebut.

◇◇◇

Dua hari kemudian, Edgar kembali ke kediaman Marquis Ignat di Eupeheim. Ulysses yang sudah menunggunya segera menyambutnya.

"Bagaimana menurutmu tentang Ren Ashton?"

Banyak kata pujian yang terlintas di kepala Edgar, namun tidak ada yang terasa pas.

Ia memeras otak mencari kata pujian yang paling cocok untuk Ren.

Kemudian, ia teringat dengan ekspresi terkejut saat ia pertama kali melatih Ren.

"Rasanya, saya merasakan kekuatan yang mirip seperti seekor Singa."

Jika diartikan secara harfiah, mungkin kesannya hanya gagah berani. Namun bagi pengguna Great Sword Technique, kata "Singa" memiliki arti yang jauh lebih dalam sebagai kesepakatan tak tertulis di antara mereka.

Itu berarti, kekuatan yang menyamai sang pendiri Great Sword Technique, Lion King.

"Seorang pengguna Great Sword Technique tidak akan sembarangan memberi penilaian 'Singa', tapi ternyata kau memberinya nilai setinggi itu, ya."

Ulysses kembali tertawa dengan suasana hati yang sangat baik.

◇◇◇

Sudah hampir satu bulan sejak Ren meninggalkan kediaman Clausel. Pada siang hari saat ia tiba di gedung lama, ia disambut di pintu masuk.

"Bagaimana di Ibukota?" tanya Licia yang menjemputnya bahkan sampai ke pintu masuk kota Clausel.

Sambil membongkar barang bawaannya, Ren menjawab.

"Tuan Edgar bilang aku punya bakat dalam Great Sword Technique. Karena beliau bersedia mengajariku lagi, aku berencana untuk pergi ke Ibukota lagi di waktu yang tepat."

"Benarkah!?"

Dahulu, Ren pernah diberitahu oleh komandan Ksatria Ordo yang mengunjungi Clausel bahwa ia tidak berbakat dalam Holy Sword Technique.

Itu terjadi satu setengah tahun yang lalu. Mendengar Ren ternyata punya bakat pedang yang istimewa, Licia merasa senang seolah itu terjadi pada dirinya sendiri.

Licia mendengarkan cerita Ren tentang kesehariannya di Ibukota dengan mata berbinar. Ia membayangkan suatu saat nanti dirinya juga bisa mempelajari Great Sword Technique seperti Ren.

Setelah selesai mendengar cerita tentang Ibukota, Licia berkata, "Ada yang ingin kukonsultasikan."

"Bolehkan kali ini aku ikut dalam perburuanmu?"

"Eh? Tiba-tiba sekali."

"Ujian akhir kelas beasiswa khusus akan dilakukan di tempat yang ada monster-monsternya, kan? Aku ingin mulai membiasakan diri dari sekarang. Tapi jangan salah paham ya, bukan berarti aku meremehkan ujian tertulisnya."

"Aku mengerti. Persiapan itu memang penting."

Ren sama sekali tidak punya alasan untuk menolak.

"Selama diizinkan oleh Tuan Lessard, aku tidak keberatan."

"Iya. Aku sudah bicara dengan Ayah, jadi tidak apa-apa."

Isi ujian akhir kelas beasiswa khusus Institusi Militer Kekaisaran telah diubah sejak insiden di Pegunungan Balder. Awalnya lokasi ujian dirahasiakan demi keadilan, namun sekarang lokasi akan diumumkan terlebih dahulu demi keamanan.

Kembali ke masalah latihan melawan monster, Ren merasa bimbang tentang Hutan Timur.

"Kalau di Hutan Timur, mungkin tidak akan menjadi latihan yang bagus."

"Kenapa?"

"Karena untuk Licia-sama yang sekarang, monster di Hutan Timur terlalu lemah."

"Tapi Ren, bukankah untuk awal lebih baik yang ringan dulu?"

"Tidak salah sih, tapi di Hutan Timur Anda tidak akan merasakan ketegangan bertarung."

Ren berpikir ada batasnya jika ingin menambah pengalaman bertarung melawan monster di sana. Ia merasa lebih baik Licia berlatih tanding dengannya saja.

"Aku sarankan di sekitar Erendil. Daerah itu dekat dengan Ibukota jadi tidak ada monster yang terlalu kuat, tapi tetap lebih kuat daripada Hutan Timur Clausel."

"Di dekat Erendil…… benar juga, mungkin itu lebih baik."

Karena Licia juga harus giat belajar, ia harus menggunakan waktunya seefisien mungkin.

"Tapi kau tahu banyak ya, Ren."

"Haha……"

Namun, jika memikirkan waktu belajar, pergi ke Erendil mungkin bukan ide yang bagus karena memakan waktu perjalanan. Ren pun angkat bicara.

"Maaf. Jika memikirkan waktu pulang-pergi, mungkin itu tidak efisien."

"Tidak apa-apa, jangan khawatir soal itu. Ayah dan aku sudah berdiskusi bahwa sebaiknya aku memindahkan basis kegiatanku ke Erendil untuk ke depannya."

"Artinya────"

Itu berarti Licia akan meninggalkan Clausel dan pindah ke kota besar.

"Kalau tinggal di Erendil, tidak ada masalah kan."

Tidak realistis jika Ren harus bolak-balik antara Clausel dan Ibukota berkali-kali untuk belajar pedang. Jadi ini adalah solusi untuk mereka berdua.

"Akan merepotkan kalau kita berdua harus pergi ke Ibukota atau Erendil secara terpisah terus-menerus, kan?"

"Aku sih tidak apa-apa. Tapi, membiarkan Licia-sama pergi sendirian itu rasanya…… apa ya…… um……"

"…? Apa?"

"Karena kamu terlihat sangat tidak bisa diandalkan," tentu saja kata-kata itu tidak mungkin terucap.

Melihat Ren yang tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya, Licia seolah bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran pemuda itu.

Dengan senyuman manis nan menawan layaknya seorang malaikat, gadis itu melangkah maju mendekat.

Ren refleks memalingkan wajah dan menatap ke arah lain, namun Licia menjulurkan tangan, menangkup kedua pipi Ren dengan lembut, lalu memaksanya untuk menatap kembali ke arahnya.

"Ada apa?"

Pertanyaan yang sama diulang sekali lagi.

"Tidak, itu... anu..."

"Ah, aku tahu. Aku akan menyeduhkan teh untukmu. Kamu pasti belum sempat beristirahat sejak pulang dari Ibukota, kan?"

"Sebenarnya, aku ingin segera mengerjakan tugas-tugas di gedung lama..."

"Liscia Clausel memberikan izin bagimu untuk beristirahat."

Jika sudah dikatakan seperti itu oleh putri dari majikan tempatnya mengabdi, Ren yang biasanya gigih pun tidak bisa membantah lagi.

"Kalau begitu... aku terima tawaranmu," jawab Ren pasrah, yang disambut Licia dengan nada suara riang tanda puas. "Nah, begitu dong."

Gadis itu berbalik hendak menuju dapur gedung lama, namun baru beberapa langkah, ia tiba-tiba menoleh kembali.

"......K-kamu tidak merasa tersinggung, kan?"

"Eh? Kenapa?"

"Habisnya, barusan aku seperti menyalahgunakan kekuasaanku... meskipun cuma bercanda..."

Rupanya ia baru menyadari tindakannya dan menatap ekspresi Ren dengan sedikit cemas. Sifatnya yang peka itu sangat khas Licia, membuat Ren tersenyum lembut.

"Sama sekali tidak terpikirkan olehku. Aku yang seharusnya minta maaf karena hampir melontarkan lelucon aneh."

"O-oh, syukurlah! Kalau itu Ren, aku malah sebetulnya sena──── ehem! Maksudku, jangan dipikirka──── eh, jadi kamu memang mau mengatakan sesuatu yang aneh tadi!?"

Jarang-jarang Ren yang justru melakukan kesalahan dan malah membongkar niatnya sendiri.

Namun, tidak ada ketegangan sedikit pun di antara mereka; keduanya malah tertawa lepas bersama.

Setelah menikmati teh, Ren menyerahkan sebuah botol kecil kepada Licia. Itu adalah botol kedua yang dititipkan oleh Edgar khusus untuk Licia sebelum Ren meninggalkan Lion Saintess Palace.

"Jadi, aku harus memberi goresan pada bola kristal di dalam ini sebagai latihan Great Sword Technique?"

"Sepertinya begitu. Katanya, Tuan Edgar yang seorang Sword Saintess pun butuh waktu lama sampai akhirnya bisa memberikan goresan tipis di permukaannya."

Licia memutar-mutar bola kristal di dalam botol itu dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

◇◇◇

Sesaat kemudian.

Pintu yang menghadap ke lobi gedung lama diketuk, dan terbuka setelah Ren memberikan jawaban.

Baru saja Yuno, sang pelayan, melongokkan kepalanya, sesosok hewan kecil langsung melesat masuk dari celah pintu yang terbuka.

"Kyuuuuuuu!"

Makhluk kecil yang tampak seperti perpaduan kucing dan rubah itu seluruh tubuhnya ditutupi oleh bulu yang sangat lembut.

Hewan kecil itu mengeluarkan suara kicauan yang imut sambil terbang melayang di dekat Ren dan Licia. Ukurannya kira-kira sebesar kucing dewasa.

"Aku pulang, Kukur."

"Kyu!"

"Selama Ren tidak ada, dia terlihat sangat kesepian, lho," ujar Licia sambil mengulurkan tangan ke arah hewan yang dipanggil Kukur itu.

Kukur adalah monster yang tinggal di kediaman Clausel sejak sebelum musim semi tahun ini.

Kejadiannya bermula tak lama setelah Ren kembali ke Clausel. Kekuatan dari pecahan tanduk Asval yang ada di saku jubahnya ditarik oleh Aquamarine of Selakia, dan hasilnya, lahirlah monster kecil ini.

Itulah Kukur. Monster yang kini telah menjadi bagian dari keluarga besar Clausel.

"Apa kamu jadi anak baik selama aku pergi?"

"Kyu kyu!"

Kukur mengangguk mantap menjawab pertanyaan itu.

"Begitu ya. Syukurlah kalau begitu."

Kukur terbang berputar-putar mengelilingi Ren, lalu berpindah mengelilingi Licia.

Sambil memandangi tingkahnya, Ren teringat kembali pada musim semi saat Kukur baru saja menetas.

Keluarga Clausel sempat berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan pada monster yang lahir itu—bahkan sempat mempertanyakan apakah benda itu awalnya adalah telur atau bukan—dan akhirnya mereka memutuskan untuk memeliharanya.

Bukan hanya bangsawan, banyak rakyat jelata yang juga memelihara monster.

Ada yang menjadikannya penarik kereta menggantikan kuda, atau pembantu dalam pekerjaan tani. Biasanya monster-monster yang dipelihara adalah jenis yang jinak.

Kasus bangsawan kaya yang memelihara monster kuat dengan bantuan Magic Item pengekang memang ada, tapi itu sangat langka.

Namun, karena Ren sendiri tidak tahu Kukur ini jenis monster apa, ia tidak bisa berkomentar banyak saat itu.

◇◇◇

Pada akhirnya, pihak Guild memeriksa ras Kukur melalui gelombang mananya.

Berdasarkan data informasi yang telah dikumpulkan selama ini, Guild menyimpulkan bahwa Kukur adalah seekor 'Spirit Beast Ratatoskr'.

Spirit Beast adalah monster langka yang memiliki sifat gabungan antara Spirit (roh) dan binatang buas. Jenis ini sangat jarang ditemukan di belahan dunia mana pun.

Ren menduga bahwa Kukur kemungkinan adalah 'Unique Monster' dari jenis Spirit Beast.

Jika tidak, mustahil makhluk ini bisa bertahan hidup di daerah Selakia yang sangat dingin di Benua Iblis, apalagi sampai menyulitkan sang Raja Iblis.

Kemungkinan besar, Aquamarine of Selakia tersebut adalah telur dari varian unik Spirit Beast.

Dan ia menetas berkat persembahan kecil berupa pecahan tanduk Asval.

Spirit Beast memiliki sifat yang sangat ramah pada manusia, dan Kukur pun tidak terkecuali; ia sangat disayangi di keluarga Clausel.

Dulu saat baru lahir, Kukur masih sangat lemah bahkan untuk sekadar melayang di udara, dan tubuhnya sekecil anak kucing.

Sekarang, ia telah tumbuh sebesar kucing dewasa dan bisa terbang melayang dengan anggun.

"Sepertinya sudah saatnya Kukur dimandikan," ujar Ren tiba-tiba saat menyadari bulu Kukur sedikit kotor.

"Benar juga. Terakhir kali kita memandikannya saat musim panas. Kita harus membersihkan bulunya."

"Kyu... kyu!?"

Begitu Kukur mencoba kabur sambil melayang, Yuno dengan sigap segera menutup pintu.

Detik berikutnya, Licia langsung memeluk Kukur dari belakang.

"Tidak boleh, Kukur. Kamu itu perempuan, jadi harus tetap cantik dan bersih, ya."

"......Kyu."

Begitu dipeluk oleh Licia, Kukur langsung lemas dan menundukkan kepalanya tanpa ada niat untuk melawan sedikit pun.

Pemuda pengguna pedang sihir yang berdiri di samping mereka hanya bisa tertawa getir.

(……Jadi monster yang menyulitkan Raja Iblis ini ternyata cuma hewan kecil yang takut mandi, ya.)

Konon katanya, saat menetas, makhluk ini akan bersumpah setia sepenuhnya kepada tuannya. Namun, sosoknya saat ini tak lebih dari seekor hewan peliharaan imut yang membenci air.

Saat dibawa pergi oleh Licia, Kukur menoleh ke arah Ren melewati bahu Licia, menjulurkan cakarnya seolah sedang meminta pertolongan.

Ren, dengan tega, hanya melambaikan tangan mengantar kepergian mereka.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close