NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 3 Prolog

Prolog


Erendil, Kota Doa.

Sebuah kota tenang yang berjarak sekitar satu jam perjalanan menggunakan kereta magis dari Ibukota Kekaisaran.

Raja Singa, sang pendiri Kekaisaran Leomel, selalu mempersembahkan doa di tempat ini sebelum berangkat ke medan perang. Itulah alasan mengapa Erendil dijuluki sebagai Kota Doa.

Meski skalanya tidak bisa disebut sebagai kota metropolitan, Erendil dikelilingi oleh tembok kota yang cukup tinggi dengan pemandangan dataran hijau nan subur di sekitarnya.

Jalanannya dilapisi ubin batu abu-abu, dihiasi air mancur besar, menara jam, hingga taman alam.

Fasilitas utama seperti serikat petualang dan bangunan penting lainnya berderet di sepanjang jalan protokol.

Pemandangan kota ini terasa jauh lebih modern dan metropolis jika dibandingkan dengan Clausel.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Baron Clausel, yang menerima wilayah ini dari Kaisar beberapa tahun lalu, tidak berniat meninggalkan Clausel sampai putri sang Saintess tumbuh dewasa.

Karena itu, ia menunjuk seorang wakil penguasa untuk mengelola kota ini.

◇◇◇

Suatu hari, di Erendil yang seperti itu.

Tampak dua orang remaja laki-laki sedang bercakap-cakap di sebuah tikungan gang sempit di tengah kota.

"Dokumennya akan kukirim ke kediaman Clausel nanti. Tolong tanda tangani dan kirim balik ke serikat."

"Hanya itu?"

"Ya. Sisanya, kau cukup menerima pembayaran yang terkait dengan permintaan itu, itu sudah lebih dari cukup."

Setelah itu, keduanya terus melanjutkan percakapan tanpa memperlihatkan wajah satu sama lain.

Mereka berbincang tentang kegiatan sehari-hari, hingga obrolan santai yang tak tentu arah selama belasan menit.

Salah satu dari mereka melirik jam tangan, lalu berujar, "Sudah waktunya."

"Aku harus segera pulang. Waktu yang sangat berharga, aku berterima kasih."

"Sama-sama. Kalau begitu, aku juga pergi sekarang."

Keduanya melepaskan punggung yang sedari tadi bersandar di dinding, lalu mulai melangkah ke arah yang berlawanan.

Tiba-tiba, seorang gadis muncul entah dari mana.

Remaja yang tadi melihat jam tangan menyapa gadis itu.

"Mirei, aku menemukan pria yang menarik."

"Nya? Apa dia penyair yang menggubah puisi jenaka, Nyaa?"

"Jangan bicara sembarangan. Kau sendiri juga melihatnya tadi, kan?"

Gadis itu berhenti berpura-pura bodoh.

"Yang Mulia, apakah Anda begitu menyukai pemuda itu, Nyaa?"

"Bisa dibilang aku terpikat padanya. Kecerdasan dan ketangkasan yang terlihat hanya dari cara bicaranya. Serta permainan pedang sengit yang melampaui itu semua──── yang terpenting, keberaniannya telah menyalakan api yang belum pernah kurasakan di dalam hatiku."

"Nya-nya-nya!? Yang Mulia!? Apa yang Anda katakan, Nyaa!?"

"Tenanglah. Ini bukan perasaan asmara, tapi ketertarikan pada kepribadian pria itu. Lagi pula, ini adalah yang pertama kalinya. Belum pernah ada satu pun orang yang bersikap begitu santai kepadaku sampai sekarang."

Suara yang menyatu dalam keheningan gang itu mengandung nada kegembiraan yang nyata.

"Meskipun Anda bilang begitu, bukankah Yang Mulia sendiri yang bilang tidak apa-apa bersikap santai, Nyaa?"

"Tapi, belum pernah ada yang mau menuruti permintaanku itu sampai sekarang."

"Itu karena dia tidak tahu kalau Anda adalah seorang pangeran, Nyaa. Tapi, jika Anda punya perasaan sedalam itu, kenapa tadi Anda bicara tanpa saling melihat wajah, Nyaa?"

"Begitu saja sudah cukup. Lagi pula, kami akan segera mengobrol sambil bertatap muka dalam waktu dekat, jadi aku hanya ingin mempertahankan nuansa pertemuan hari ini sampai akhir."

"……Ya ampun, aku benar-benar tidak mengerti hati laki-laki, Nyaa."

"Aku juga tidak mengerti hati perempuan, jadi kita impas."

Ucap Radius sambil membayangkan sosok Ren.

"Pria itu, dia pengguna pedang hebat yang luar biasa."

Ia bergumam sambil menoleh ke arah di mana Ren pergi.

◇◇◇

Sementara itu, Ren berjalan sendirian menyusuri gang.

Ia mengembuskan napas, lalu mendongak menatap langit sempit yang terlihat dari celah di antara atap-atap bangunan.

Ia tersenyum kecut, seolah merasakan firasat akan datangnya kekacauan baru.

Mungkin karena selama ini ia sudah terbiasa terlibat dalam berbagai peristiwa besar, ia sama sekali tidak gentar dan tetap bersikap tenang seperti biasanya...

"Sepertinya, semuanya akan menjadi ramai lagi."

Kalimat itu meluncur dari bibirnya, menyambut lembaran baru dalam kehidupannya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close