Prolog
Erendil, Kota Doa.
Sebuah kota tenang yang berjarak sekitar satu jam perjalanan
menggunakan kereta magis dari Ibukota Kekaisaran.
Raja Singa, sang pendiri Kekaisaran Leomel, selalu
mempersembahkan doa di tempat ini sebelum berangkat ke medan perang. Itulah
alasan mengapa Erendil dijuluki sebagai Kota Doa.
Meski skalanya tidak bisa disebut sebagai kota metropolitan,
Erendil dikelilingi oleh tembok kota yang cukup tinggi dengan pemandangan
dataran hijau nan subur di sekitarnya.
Jalanannya dilapisi ubin batu abu-abu, dihiasi air mancur
besar, menara jam, hingga taman alam.
Fasilitas
utama seperti serikat petualang dan bangunan penting lainnya berderet di
sepanjang jalan protokol.
Pemandangan
kota ini terasa jauh lebih modern dan metropolis jika dibandingkan dengan
Clausel.
Sudah
menjadi rahasia umum bahwa Baron Clausel, yang menerima wilayah ini dari Kaisar
beberapa tahun lalu, tidak berniat meninggalkan Clausel sampai putri sang Saintess
tumbuh dewasa.
Karena itu, ia
menunjuk seorang wakil penguasa untuk mengelola kota ini.
◇◇◇
Suatu
hari, di Erendil yang seperti itu.
Tampak
dua orang remaja laki-laki sedang bercakap-cakap di sebuah tikungan gang sempit
di tengah kota.
"Dokumennya
akan kukirim ke kediaman Clausel nanti. Tolong tanda tangani dan kirim balik ke
serikat."
"Hanya
itu?"
"Ya.
Sisanya, kau cukup menerima pembayaran yang terkait dengan permintaan itu, itu
sudah lebih dari cukup."
Setelah itu,
keduanya terus melanjutkan percakapan tanpa memperlihatkan wajah satu sama
lain.
Mereka berbincang
tentang kegiatan sehari-hari, hingga obrolan santai yang tak tentu arah selama
belasan menit.
Salah satu dari
mereka melirik jam tangan, lalu berujar, "Sudah waktunya."
"Aku harus
segera pulang. Waktu yang sangat berharga, aku berterima kasih."
"Sama-sama.
Kalau begitu, aku juga pergi sekarang."
Keduanya
melepaskan punggung yang sedari tadi bersandar di dinding, lalu mulai melangkah
ke arah yang berlawanan.
Tiba-tiba,
seorang gadis muncul entah dari mana.
Remaja yang tadi
melihat jam tangan menyapa gadis itu.
"Mirei, aku
menemukan pria yang menarik."
"Nya? Apa
dia penyair yang menggubah puisi jenaka, Nyaa?"
"Jangan
bicara sembarangan. Kau sendiri juga melihatnya tadi, kan?"
Gadis itu
berhenti berpura-pura bodoh.
"Yang
Mulia, apakah Anda begitu menyukai pemuda itu, Nyaa?"
"Bisa
dibilang aku terpikat padanya. Kecerdasan dan ketangkasan yang terlihat hanya
dari cara bicaranya. Serta permainan pedang sengit yang melampaui itu semua────
yang terpenting, keberaniannya telah menyalakan api yang belum pernah kurasakan
di dalam hatiku."
"Nya-nya-nya!?
Yang Mulia!? Apa yang Anda katakan, Nyaa!?"
"Tenanglah.
Ini bukan perasaan asmara, tapi ketertarikan pada kepribadian pria itu. Lagi
pula, ini adalah yang pertama kalinya. Belum pernah ada satu pun orang yang
bersikap begitu santai kepadaku sampai sekarang."
Suara yang
menyatu dalam keheningan gang itu mengandung nada kegembiraan yang nyata.
"Meskipun
Anda bilang begitu, bukankah Yang Mulia sendiri yang bilang tidak apa-apa
bersikap santai, Nyaa?"
"Tapi, belum
pernah ada yang mau menuruti permintaanku itu sampai sekarang."
"Itu karena
dia tidak tahu kalau Anda adalah seorang pangeran, Nyaa. Tapi, jika Anda
punya perasaan sedalam itu, kenapa tadi Anda bicara tanpa saling melihat wajah,
Nyaa?"
"Begitu saja
sudah cukup. Lagi pula, kami akan segera mengobrol sambil bertatap muka dalam
waktu dekat, jadi aku hanya ingin mempertahankan nuansa pertemuan hari ini
sampai akhir."
"……Ya ampun,
aku benar-benar tidak mengerti hati laki-laki, Nyaa."
"Aku juga
tidak mengerti hati perempuan, jadi kita impas."
Ucap
Radius sambil membayangkan sosok Ren.
"Pria
itu, dia pengguna pedang hebat yang luar biasa."
Ia
bergumam sambil menoleh ke arah di mana Ren pergi.
◇◇◇
Sementara
itu, Ren berjalan sendirian menyusuri gang.
Ia
mengembuskan napas, lalu mendongak menatap langit sempit yang terlihat dari
celah di antara atap-atap bangunan.
Ia
tersenyum kecut, seolah merasakan firasat akan datangnya kekacauan baru.
Mungkin
karena selama ini ia sudah terbiasa terlibat dalam berbagai peristiwa besar, ia
sama sekali tidak gentar dan tetap bersikap tenang seperti biasanya...
"Sepertinya,
semuanya akan menjadi ramai lagi."
Kalimat itu meluncur dari bibirnya, menyambut lembaran baru dalam kehidupannya.



Post a Comment