NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 3 Chapter 1

Chapter 1

Pemandangan yang Dirindukan


April telah berlalu, dan wilayah Clausel mulai diselimuti oleh hangatnya suasana musim semi.

Musim dingin yang baru saja lewat menyisakan banyak kenangan.

Berkat material dari Thief Wolfen yang diburu Ren, nyawa seorang putri bangsawan berhasil diselamatkan.

Dia adalah Fiona Ignat, putri tunggal dari Marquis Ignat—sosok yang seharusnya menjadi Last Boss dan mengibarkan bendera pemberontakan melawan Leomel dalam legenda Seven Heroes I.

Ren bertemu dengannya di Pegunungan Balder karena suatu alasan, dan berakhir harus bertarung demi melindunginya.

Kala itu, Pegunungan Balder tengah menjadi lokasi ujian akhir bagi Kelas Khusus kebanggaan Institusi Militer Kekaisaran.

Insiden di mana seluruh peserta dijebak oleh Kultus Raja Iblis tersebut masih meninggalkan sisa-sisa kegemparan di berbagai penjuru Kekaisaran Leomel hingga saat ini.

 

Setelah insiden tersebut, Ren sesekali bertukar surat dengan Marquis Ignat.

Mengenai informasi tentang Kultus Raja Iblis, Ren memberikan laporan bohong bahwa ia hanya tidak sengaja mencuri dengar rumor di Serikat Petualang.

Beruntung, Marquis Ignat tidak bertanya lebih jauh. Belum pasti apakah sang Marquis enggan merusak hubungannya dengan Ren, atau karena ia memang sudah menaruh kepercayaan penuh padanya.

Meski begitu, sejujurnya Ren tetap tidak akan bisa menjawab jika dimintai informasi lebih mendalam.

Sebagai seseorang yang hanya memainkan gimnya sampai seri Seven Heroes II, ia tidak tahu lebih banyak tentang Kultus Raja Iblis.

Walau ia ingat beberapa lokasi di mana mereka akan muncul, sulit untuk memberitahukannya di tahap ini, apalagi situasi sekarang sudah berubah menjadi tidak terduga akibat adanya irregular.

 

Ren yang sedang teringat berbagai hal itu kini berada di bangunan lama kediaman Clausel. Sebagai sosok yang dipercaya mengelola gedung lama ini, ia berniat untuk segera mulai menyapu area dalamnya.

Sambil bermandikan cahaya matahari siang yang menembus jendela, ia merenung.

"……Rasanya api Asval itu jauh lebih menyilaukan daripada sinar matahari ini."

Saat insiden musim dingin, Naga Merah Asval sempat bangkit kembali dalam kondisi tidak sempurna berkat kekuatan Fiona.

Kekuatan itu disebut Black Priestess. Menurut Fiona, Black Priestess adalah sosok yang setara dengan Saintess bagi para monster.

Seharusnya itu bukanlah kekuatan untuk membangkitkan orang mati menjadi undead. Namun, mungkin karena Asval memiliki kekuatan yang sangat jauh melampaui monster lain, ia bisa bangkit kembali.

Bisa jadi efek 'memberikan kekuatan kepada monster' milik Black Priestess memberikan pengaruh ajaib tertentu.

Sebagai gantinya, Asval hanya bangkit secara tidak sempurna.

Tetap saja, naga yang melegenda sejak era Seven Heroes masih hidup itu tetap sangat kuat meski belum pulih sepenuhnya. Jika Asval bangkit dengan kekuatan aslinya, Ren pasti tidak akan bisa menang.

 

"Aku juga ikut diperkuat oleh kekuatan Nona Fiona, ya."

Ren kembali mengenang.

Saat itu, darah hitam yang mengalir dari tubuh Fiona memberikan semacam kekuatan kepada Ren.

"Sebenarnya itu apa, ya?"

Dunia yang ia masuki saat kehilangan kesadaran, serta Pedang Iblis hitam yang ia temukan di sana.

Ditambah lagi fakta bahwa Pedang Iblis api yang didapat dari Magic Stone milik Asval telah berubah nama menjadi Flame Sword Asval—semuanya masih menjadi misteri.

Bagi Ren, ia tidak punya pilihan selain menganggap hal-hal itu terpengaruh oleh kekuatan Black Priestess.

Apalagi mengingat mana pemberi kekuatan pada monster—yang merupakan bagian dari kekuatan Black Priestess—telah lenyap sejak insiden itu, ia merasa semua ini saling berkaitan.

 

Ketika cahaya jingga mulai menyelinap masuk dari luar jendela, Ren mengistirahatkan tubuhnya sejenak di kursi yang ada di lorong lantai dua gedung lama.

Cahaya matahari yang kian miring selagi ia asyik bersih-bersih kini terpantul di gelang milik Ren.

Ia mengalihkan pandangan ke gelang tersebut, menatap tulisan yang terpampang pada kristalnya.

Kekuatan Ren telah mengalami perubahan signifikan dibandingkan sebelum musim dingin berakhir.

Di Pegunungan Balder, ia tidak hanya mendapatkan proficiency dari Asval, tapi juga dari Iron-Eater Gargoyle.

Ditambah lagi, ia sudah mengumpulkan banyak proficiency dari hasil berburu lainnya.

Setelah pertarungan melawan Asval yang meningkatkan level Magic Sword Summoning, ia mendapatkan satu informasi yang menarik perhatiannya.

Level 5: Membuka Evolusi Pedang Iblis.

Level Wooden Magic Sword miliknya sempat berhenti meningkat meski proficiency sudah terkumpul penuh.

Jika itu memang karena syarat evolusi, maka semuanya menjadi masuk akal.



***

[NAMA]

Ren Ashton

[JOB] Putra Sulung Keluarga Ashton

[ SKILL ]

Magic Sword Summon Lv. 1 (0 / 0)

Magic Sword Summoning Arts Lv. 4 (2549 / 3500)

  • Memperoleh kemahiran dengan menggunakan pedang sihir yang dipanggil.
  • Level 1: Dapat memanggil [Satu] pedang sihir.
  • Level 2: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Small)] saat memanggil gelang.
  • Level 3: Dapat memanggil [Dua] pedang sihir.
  • Level 4: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Medium)] saat memanggil gelang.
  • Level 5: Membuka Evolusi Pedang Sihir.
  • Level 6: ********************

[MAGIC SWORDS YANG DIPEROLEH]

Wooden Magic Sword Lv. 2 (1000 / 1000)

  • Memungkinkan serangan setingkat Nature Magic (Small).
  • Jangkauan efek serangan akan meluas seiring meningkatnya level.

Iron Magic Sword Lv. 3 (2390 / 4500)

  • Ketajaman meningkat seiring dengan kenaikan level.

Thief's Magic Sword Lv. 1 (0 / 3)

  • Merampas item secara acak dari target serangan dengan probabilitas tertentu.

Shield Magic Sword Lv. 2 (0 / 5)

  • Membentangkan dinding sihir pelindung.
  • Kekuatannya meningkat dan jangkauan efeknya meluas seiring kenaikan level.

Flame Magic Sword Lv. 1 (1 / 1)

  • Api nerakanya adalah perwujudan dari kemurkaan naga, sebuah manifestasi dari kekuatan murni.

***

Namun, sulit membayangkan pedang iblis api bisa berevolusi.

(Rasanya Flame Sword Asval punya mekanisme yang berbeda.)

Tak seperti pedang iblis lainnya, pedang iblis api tidak bisa lagi mendapatkan proficiency. Penyebabnya sederhana; sosok Asval sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Kukira, perubahan pada pedang iblis api ini pasti ada sangkut pautnya dengan kekuatan Fiona atau pedang iblis hitam itu.

"Reeennn!"

Sebuah teriakan sampai ke telinganya dari luar jendela.

Saat jendela dibuka, tampak sosok Licia yang tengah mendongak sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Rambutnya yang berwarna ungu kecubung masih sehalus sutra, dan matanya yang mengingatkan orang pada batu safir yang telah dipoles itu berkilau indah hari ini.

Setelah melewati musim semi, pesona dan kecantikan gadis itu tampak semakin bersinar.

"Ayah memanggilmu. Kalau ada waktu, bisa datang ke gedung utama? Beliau bilang, kalau kau mau, mari makan malam bersama!"

"Baik! Aku akan membersihkan diri dulu sebelum ke sana!"

Mendengar jawaban Ren, Licia pun menyunggingkan senyum yang sangat manis.

◇◇◇

Di meja makan, pesta ulang tahun Ren yang ke-12—yang baru saja berakhir beberapa hari lalu—menjadi topik pembicaraan.

Tahun lalu, Licia sangat menyesal karena tidak bisa merayakan ulang tahun Ren. Itulah sebabnya tahun ini ia berinisiatif memimpin jalannya pesta tersebut.

"Ren, mulai minggu depan kau boleh libur bekerja untuk sementara."

Lessard Clausel, sang pemegang gelar Baron, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

"────Jangan-jangan, Anda berniat memecatku..."

"Mana mungkin aku mengatakan itu bahkan sebagai lelucon. Ini soal rencana yang kita bicarakan saat musim dingin lalu."

"Musim dingin…… Ah! Soal aku pulang kampung, ya?"

"Umu," Lessard mengangguk setuju.

"Seperti yang kubilang sebelumnya, ada beberapa proyek konstruksi yang sedang berjalan di sekitar desa keluarga Ashton. Mulai dari jalan raya hingga tembok yang mengelilingi desa."

"Jadi, aku boleh pergi membantu desa?"

"Ya. Hubunganku dengan Marquis Ignat sekarang juga sudah semakin akrab. Untuk saat ini, sulit membayangkan desa keluarga Ashton akan diserang lagi. Karena itu, kau tidak perlu menyembunyikan identitasmu dan pergi sebagai ksatria kiriman. Jangan cemaskan apa pun, nikmatilah kepulanganmu."

Sebenarnya Lessard ingin Ren pulang lebih awal, namun insiden di Pegunungan Balder saat musim dingin membuat rencananya tertunda.

"Selama waktu itu, kami juga tidak akan ada di Clausel, jadi bersantailah tanpa perlu merasa sungkan."

"Ayah? Siapa yang Ayah maksud dengan 'kami'?"

"Tentu saja, termasuk Licia."

Sepertinya Licia juga belum diberitahu apa-apa, karena ia memiringkan kepalanya dengan imut.

"Aku harus pergi ke Erendil. Seperti yang kalian tahu, berbagai faksi sedang sibuk setelah keributan kemarin, ditambah lagi ada urusan Viscount Given tahun lalu. Sudah saatnya aku menunjukkan batang hidungku di sana."

Erendil adalah kota yang terletak di dekat Ibukota Kekaisaran.

Dulu, Ren pernah memiliki prasangka kuat bahwa di sanalah seharusnya letak wilayah keluarga Clausel.

(Berarti, mereka akan lewat wilayah bangsawan lain lalu naik kapal magis, ya?)

Lessard dan rombongannya akan menuju ke kota di sisi selatan Clausel—wilayah bangsawan lain yang berjarak sepuluh hari perjalanan kuda—lalu naik kapal magis dari sana menuju Erendil.

Hal ini dikarenakan Erendil memiliki dermaga kapal magis, sama seperti Ibukota.

"Hei, hei, Ren juga mau coba pergi ke Erendil?"

Saat ditanya, Ren menyilangkan tangan dan menatap langit-langit.

(Erendil, ya—)

Bisa dibilang, tempat itu hampir seperti Ibukota.

Bagi Ren yang selama ini menghindari Institusi Militer Kekaisaran, tempat itu menimbulkan rasa enggan yang sama besarnya dengan Pegunungan Balder.

Meski begitu, jika ditanya apakah ia bisa terus menghindarinya di masa depan...

(Sepertinya mustahil.)

Selama Ren masih mengabdi di keluarga Clausel, rasanya sulit untuk mengabaikan Erendil.

Apalagi sekarang ia punya koneksi dengan Marquis Ignat. Jangan lupakan juga pertemuan dramatisnya dengan Fiona saat insiden sebelumnya.

"Kalau kubilang tidak tertarik, mungkin aku berbohong."

"Benarkah? Kalau begitu, lain kali kita pergi bersama, ya!"

Jika ada kesempatan bagi Licia untuk pergi ke sana, pada akhirnya Ren tidak akan bisa mengelak.

Ditambah lagi dengan ancaman Kultus Raja Iblis yang baru saja menyerang, ia merasa lebih mudah melindungi Licia jika ia berada di sisinya. Tak mungkin baginya untuk membiarkan Licia sendirian sekarang.

"Nantikan saja, ya. Erendil itu kota yang sangat cantik."

"Licia, mengingat Ren adalah anak yang tekun, bukankah dia mungkin sudah tahu soal Erendil?"

"Iiiih, Ayah! Padahal aku sudah susah payah ingin memberitahunya...!"

"Haha, tapi ya begitulah Ren, kan?"

Karena penasaran dengan kenyataannya, Licia menatap Ren lekat-lekat.

Karena Licia tampak sangat ingin mengajarinya, rasanya tidak enak jika ia menjawab tahu segalanya dari sudut ke sudut. Setelah bimbang, Ren akhirnya memilih kata-katanya.

"Aku dengar di sana ada tempat berburu yang efisien."

Mendengar ucapannya, Licia dan Lessard hanya bisa memasang ekspresi melongo.

◇◇◇

Di hari kepulangan Ren, ia keluar dari gedung lama didampingi Licia yang ingin mengantarnya.

"Kasihan anak itu, tapi selama aku dan Ren pergi, dia harus tinggal bersama Yuno dulu."

Saat Licia merendahkan suaranya dengan nada menyesal, Ren pun mengangguk dengan nada serupa, "Benar juga."

Tak lama kemudian Weiss datang, dan mereka bertiga menaiki kuda melewati gerbang menuju luar kediaman.

Sambil memacu kuda di tengah kota menuju gerbang luar Clausel, ketiganya saling berbincang.

"Namun, ini benar-benar disayangkan."

Saat Weiss berujar seolah baru teringat sesuatu, Licia memiringkan kepalanya sedikit.

"Ada apa tiba-tiba?"

"Soal insiden Asval. Aku dan Tuan Besar merasa sangat menyesal karena tidak bisa mengumumkan pencapaian anak muda ini kepada publik. ……Yah, aku baru saja teringat hal itu."

Hanya segelintir orang di seluruh Leomel yang tahu soal insiden Asval.

Selain Ren dan Fiona, ada Weiss, Licia, Lessard, Marquis Ignat, serta kepala pelayannya, Edgar.

Karena Kultus Raja Iblis terlibat, informasi tersebut diputuskan untuk dikelola dengan sangat hati-hati.

Tentu saja, detail selain soal Asval sudah dibagikan kepada pihak berwenang.

"Mengingat kekuatan Nona Fiona juga, lebih baik semuanya tetap rahasia agar semua orang bahagia," Ren tertawa kecut.

Kekuatan Black Priestess yang dimiliki Fiona adalah informasi yang dirahasiakan oleh Marquis Ignat demi keselamatannya.

Lebih baik menyembunyikan keterkaitannya dengan Asval yang bangkit secara tidak sempurna itu.

"Lagi pula, meskipun kebangkitannya tidak sempurna, lawannya adalah Asval, lho. Kenapa kalian berdua langsung percaya saat mendengar aku yang mengalahkannya?"

Ini levelnya berbeda jauh dari Thief Wolfen atau Iron-Eater Gargoyle.

Musuhnya adalah Asval. Meski tidak sempurna, dia tetaplah sesosok legenda.

"Karena Ren yang mengatakannya. Tidak ada alasan untuk ragu, kan?"

Pertama, Licia menunjukkan wajah tenang seolah hal itu adalah sesuatu yang sudah sewajarnya.

Kalimat Weiss berikutnya barulah terasa seperti jawaban normal yang dicari Ren.

"Nona Muda Ignat sendiri yang bilang bahwa ia diselamatkan olehmu. Para ksatria dan petualang memang tidak melihat Asval, tapi mereka melihat api yang menyerang jembatan gantung di pegunungan itu."

Melihat situasi dan informasi yang ada, tidak ada ruang untuk ragu.

"Meski begitu, para ksatria dan petualang itu tetap dalam kesalahpahaman."

Para ksatria, petualang, serta peserta ujian yang ada di Pegunungan Balder saat itu mengira gunung berapi yang tertidur telah dibangkitkan oleh pengikut Kultus Raja Iblis.

Mereka tidak punya cara untuk tahu bahwa Asval pernah ada di sana.

"Tapi aku penasaran, kekuatan seperti apa yang kau gunakan untuk menjatuhkan Asval."

"Weiss, jangan."

"Aku mengerti. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak berniat memaksa bertanya."

Weiss buru-buru meralat ucapannya dengan nada sedikit panik.

"Kekuatan istimewa akan menarik perhatian orang. Terlalu banyak bicara dan membeberkan kelemahan adalah hal yang harus dihindari."

Jika Ren sampai menderita kerugian karena dirinya…… memikirkan hal itu saja sudah membuat Weiss merasa lancang jika harus bertanya lebih jauh.

Sambil terus berbincang, ketiganya sampai di dekat gerbang kota.

"Sepertinya sudah waktunya," ucap Licia dengan nada sedih.

Dari sini, Ren akan menuju luar kota bersama para ksatria yang sudah menunggu di gerbang.

Kuda yang dulunya milik Jerukku dan kini diberi nama Io oleh Ren itu meringkik pelan sambil menatap ke luar gerbang.

"Hati-hati di jalan ya, Ren."

"Nona Licia juga, semoga perjalanan ke Erendil aman."

◇◇◇

Semenjak meninggalkan Clausel, Ren melewati beberapa desa.

Hal itu bukan permintaan Lessard, melainkan usul dari Ren sendiri.

Mengunjungi desa-desa di dalam wilayah kekuasaan pastilah merupakan salah satu tugas penting, seperti saat Licia mengunjungi desa keluarga Ashton dulu.

Karena itu, Ren menyempatkan diri singgah di desa-desa tersebut, terkadang memburu monster, atau membantu pekerjaan fisik warga.

Seiring berjalannya waktu, desa keluarga Ashton pun semakin dekat.

"Tuan Ren, silakan lihat ke sana."

Di tengah dataran luas di bawah langit cerah, salah satu ksatria berujar sambil memacu kuda.

Melihat jalan raya baru yang mulai tampak di hadapan mereka, Ren berseru kagum, "Ooh!"

"Apa itu jalan raya yang sedang dibangun?"

"Benar. Sepertinya pengerjaannya sudah hampir sampai ke desa."

Jika sudah sampai sini, berarti desa keluarga Ashton sudah di depan mata.

Meskipun jalan raya tidak menjamin keamanan mutlak, standarnya jalan tersebut dirawat sedemikian rupa agar monster sulit muncul.

Untuk menuju desa keluarga Ashton, mereka juga harus melewati hutan.

Karena jalan raya tersebut menembus hutan menuju desa, Ren bisa melihat bahwa ini adalah proyek konstruksi skala besar.

Sambil terus memacu kuda, Batu Tsurugi yang dirindukan pun mulai terlihat.

Kenangan saat ia bertarung melawan Thief Wolfen di tempat itu masih teringat jelas.

Rombongan mereka tidak melewati sisi Batu Tsurugi, melainkan menyusuri jalan raya yang baru dibangun.

Dulu tempat ini hanya berupa jalan setapak hewan yang agak lebar, tapi sekarang sudah menjadi jalan yang sangat layak.

"Hei! Di sebelah sana!"

Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah yang sedikit melenceng dari jalan raya.

Mendengar suara itu, Ren saling bertukar pandang dengan para ksatria dan mengangguk.

Mereka memacu kuda ke arah suara tersebut, dan dalam hitungan menit...

"Hari ini jumlahnya banyak sekali!"

"Tuan Roy! Tolong jangan memaksakan diri!"

"Ah! Aku tahu!"

Begitu mendengar suara itu, Ren sempat menduga, dan suara yang semakin jelas tersebut mengonfirmasinya.

"Ayah!?"

Ren menarik tali kekang Io agar berlari lebih cepat. Karena Io adalah kuda yang memiliki darah monster, ia melesat sangat cepat hingga meninggalkan kuda-kuda para ksatria jauh di belakang.

Ren melesat ke arah sumber suara.

Tampak Roy bersama dua ksatria lainnya tengah menghadapi belasan ekor Little Boar.

Dengan gerakan lincah bak angin, Ren melompat menggunakan pepohonan di sekitar sebagai tumpuan dan menghabisi para Little Boar tersebut dalam sekejap mata.

Roy dan yang lainnya hanya bisa melongo karena terkejut dengan kejadian yang sangat tiba-tiba itu.

Begitu Ren berhenti setelah menyelesaikan pembasmian, Roy segera berlari menuju putra tercintanya dan memeluknya erat.

"Ayah, berbahaya kalau memelukku saat masih memegang pedang."

Sambil sedikit menutupi rasa malunya, Ren pun merentangkan tangan ke punggung ayahnya, merayakan reuni mereka setelah sekian lama.

Roy tertawa gembira sambil mengusap salah satu matanya. Air mata tampak menggenang di sudut matanya karena rasa sukacita yang meluap.

"Untuk ukuran anakku, ini benar-benar kepulangan yang meriah!"

"Aku juga kaget, tahu. Begitu sampai, tiba-tiba saja ada banyak Little Boar."

"Ah, di desa mana pun begitu. Saat jalan raya sedang dibangun, monster-monster akan merasa terusik. Tidak bisa dihindari."

Ren yang sudah menduga hal itu hanya bisa mengembuskan napas.

Para ksatria yang tertinggal karena Ren memacu Io terlalu cepat akhirnya sampai dan tersenyum lega.

Namun, sebuah kejadian kecil merusak suasana. Seekor Little Boar muncul dari celah pepohonan dan dengan nekat mengincar punggung Ren.

Saat Ren dan Roy baru saja hendak bergerak untuk mengatasinya dengan mudah...

Whinny!

Io, yang sedari tadi ditunggangi Ren, mengangkat kaki belakangnya dan menendang Little Boar itu hingga terpental dengan mudahnya.

Setelah itu, ia meringkik bangga dan mulai mengunyah rumput di tanah.

Melihat Little Boar yang terpental itu, Ren dan Roy hanya bisa berdiri termangu.

◇◇◇

Di tengah perjalanan menuju desa, Roy bercerita.

"Apa kau ingat jembatan yang memisahkan desa dan hutan? Itu lho, tempatku melarikan diri saat diserang Thief Wolfen dulu."

"Aku ingat. Ada apa dengan jembatan itu?"

"Jembatan itu baru saja diperkuat baru-baru ini. Tadi aku berniat menuju ke hulu sungai itu, tapi tiba-tiba gerombolan Little Boar muncul."

"Mungkin mereka gelisah karena pembangunan jalan raya?"

"Entahlah. Sebenarnya tadi aku belum sempat mengatakannya, tapi sepertinya bukan cuma itu."

Ren menatap wajah Roy dengan bingung. "Eh? Apa maksud Ayah?"

"Aku kurang mengerti, tapi belakangan ini banyak Little Boar yang melarikan diri dari hulu sungai. Menurut para tukang bangunan yang datang ke desa, sepertinya ini bukan sekadar karena pembangunan jalan."

"Jangan-jangan, ada monster kuat lagi yang datang?"

"Hmm…… sepertinya tidak. Aku belum pernah dengar ada laporan kerusakan di sekitar sini."

Bukannya tidak percaya pada Roy, tapi Ren merasa ia harus pergi mengeceknya sendiri demi berjaga-jaga. Tidak ada keraguan sedikit pun saat ia menarik tali kekang Io.

"Tunggu, tunggu! Biar kami saja yang cek! Kau baru saja sampai, jangan langsung bekerja begitu, dong!"

"Meskipun Ayah bilang begitu, aku tetap penasaran!"

Para ksatria yang ikut dari Clausel menawarkan diri untuk menemani.

Namun Ren meminta mereka untuk menjaga keamanan desa saja demi mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

Bagi para ksatria, Ren adalah subjek yang harus dilindungi, namun mereka akhirnya mengangguk karena tertekan oleh aura yang terpancar dari kata-kata Ren.

◇◇◇

Melewati area dekat Batu Tsurugi, Ren menyusuri jalan setapak hewan di sepanjang sungai menuju bagian hutan yang lebih dalam.

Setiap langkah Io membuat pepohonan di sekitar bergoyang tertiup angin yang dihasilkan.

Begitu sampai di hulu sungai, yang terlihat di depan mata Ren adalah sebuah kolam air terjun yang besar. Tidak ada tanda-tanda keberadaan monster di sekitar sana.

Hanya suara aliran air jernih yang bergema, menyajikan pemandangan alam yang sangat asri.

Ia turun dari Io dan mencoba mencari-cari, namun tetap tidak menemukan apa pun.

Mungkin hanya perasaannya saja bahwa para Little Boar melarikan diri dari hulu ke arah desa. Tepat saat Ren hendak menyimpulkan demikian, tubuhnya mendadak kaku.

Ia menyiapkan pedang iblis besinya, lalu mengernyitkan dahi sambil menatap tajam ke arah kolam air terjun.

(────)

Ada sesuatu. Sesuatu yang sangat besar.

Sambil menahan napas, ia mendekati kolam air terjun tersebut.

"Hm?"

Kira ia akan menemukan monster di dalam air, namun yang ia temukan adalah sesuatu yang tenggelam dan memancarkan kilauan yang sangat indah.

Ren memanggil Wooden Magic Sword dan menggunakan sihir alam untuk menciptakan jalan dari akar pohon di atas permukaan air. Ia mendekati air terjun dan memastikan identitas kilauan indah tersebut.

"Star Agate?"

Kilauan permata yang ia lihat di Pegunungan Balder saat musim dingin lalu benar-benar ada di dasar air.

Ren mengayunkan pedang iblis kayunya ke arah dasar kolam, menciptakan sulur-sulur tanaman yang melilit Star Agate tersebut.

Ia mencengkeram sulur-sulur itu dengan kedua tangannya dan mencoba menariknya ke atas, namun rasanya luar biasa berat.

Ia mengerahkan seluruh tenaga di lengan, kaki, dan pinggangnya.

Sedikit demi sedikit…… Star Agate itu mendekat ke permukaan, hingga akhirnya────

"Eh…… EEEHHH────!?"

Terseret keluar dari kolam, Star Agate itu ternyata memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan Ren.

Sebagian besar permata itu ternyata terkubur di dasar kolam. Ukurannya kira-kira setara dengan empat ekor kuda yang dijajarkan.

Meskipun ada bagian yang hancur di sana-sini, bentuknya panjang, melintir, dan memiliki ujung yang tajam.

Sulit dibayangkan berapa harga yang pantas untuk Star Agate sebesar ini.

Neigh!

Io yang menunggu pun ikut terkejut dan meringkik di samping Ren.

"Besar sekali. Tapi kenapa ada Star Agate di dekat desa…… Seharusnya ini hanya bisa terbentuk di lingkungan khusus seperti di Pegunungan Balder……"

Ren memiringkan kepala sambil bersedekap menatap Star Agate tersebut.

Matanya beralih dari ujung yang tajam ke sisi sebaliknya. Di sana, kerusakannya jauh lebih parah dibandingkan bagian lain, bahkan terlihat bekas irisan tajam yang memotong permata tersebut, namun...

(────!)

Tiba-tiba suara naga terngiang di benak Ren.

Mungkinkah, pikirnya sambil mendekati penampang Star Agate tersebut. Rasanya ia pernah melihat bentuk potongan seperti ini.

Sebuah retakan menjalar di Star Agate tersebut. Lapisan permata yang menutupi bagian itu hancur.

Jika benda semacam ini ada di kolam air terjun, pantas saja para Little Boar ketakutan dan melarikan diri.

"……Lalu, bagaimana ceritanya tanduk ini bisa hanyut dari Pegunungan Balder sampai ke sini?"

Ren berjongkok dan terhanyut dalam pemikiran yang dalam untuk waktu yang cukup lama.

Memikirkan bagaimana bisa tanduk Asval yang ia patahkan bisa terdampar di tempat ini.

◇◇◇

Karena tidak mungkin membawa tanduk yang ditemukannya ke desa sendirian, Ren memanggil para ksatria ke hulu sungai.

"Sungguh Star Agate yang luar biasa indah."

"Tapi, apa ini? Apa benda ini menempel pada material monster yang sudah lapuk atau semacamnya?"

Kepada para ksatria yang terheran-heran di depan tanduk tersebut, Ren mengajukan permintaan.

"Karena ada alasan tertentu, aku ingin membawa ini ke Clausel."

"Hmm…… Untungnya saat ini sedang ada pembangunan jalan raya dan tembok luar. Kereta barang yang mengangkut material ukurannya lebih besar dari kereta biasa, jadi jika kita menggabungkan dua kereta, kita bisa memuat benda ini."

"Jika diletakkan di atas kereta yang digabung lalu ditutup rapat dengan kain, sepertinya tidak akan terlalu mencolok."

Bagi Ren, ini adalah soal keterkaitannya dengan Asval. Bagi para ksatria, ini adalah soal kelangkaan Star Agate tersebut.

Setelah selesai membicarakan detail pengangkutan Star Agate dengan para ksatria, mereka berkata:

"Tuan Ren, serahkan sisanya kepada kami. Silakan nikmati kepulangan Anda dengan tenang."

"Baik! Kalau begitu, aku serahkan sisanya pada kalian!"

Ren memacu Io sendirian menuju desa.

Jalan menuju desa mulai ditata rapi seperti jalan raya, dan tembok batu yang akan melindungi seluruh desa dari ancaman luar juga sedang dalam proses pembangunan.

Sambil memacu kudanya membelah angin, Ren merasa senang dan terharu melihat pemandangan desa yang berbeda dari sebelumnya.

Jalan di tengah desa kini dilapisi ubin batu. Tidak ada lagi jalan setapak ladang yang berubah jadi kubangan lumpur saat hujan.

Itu adalah jalan megah yang menuju ke arah rumah besar baru yang berdiri di atas bukit kecil di bagian dalam desa.

Hampir semua rumah tua juga sudah dibangun kembali. Kampung halamannya tengah mengalami pemulihan yang luar biasa.

Melihat Ren memacu kuda melewati jalan tersebut, orang-orang desa yang tengah bekerja di ladang menyapanya.

Ren membalas sapaan mereka dengan senyuman sambil terus memacu Io.

Gerbang rumah besar yang baru mulai terlihat. Gerbang kayu reyot yang dulu bisa roboh kapan saja kini telah digantikan dengan gerbang batu yang kokoh.

Di luar gerbang tersebut, kedua orang tuanya sudah berdiri menunggu kedatangannya.

"────Ren!"

Mireille berlari menghampiri Ren, mendahului Roy yang sudah bertemu lebih dulu.

Begitu Ren turun dari Io di dekat gerbang, Mireille langsung memeluknya erat-erat karena tak sanggup lagi menahan rindu.

"Ibu! Aku pulang!"

"Iya! Selamat datang di rumah!"

Bertemu kembali setelah sekian lama membuat Mireille tak kuasa membendung air matanya.

Di dalam area rumah, kini terdapat kandang kuda yang dulu tidak ada.

Ren memberi tahu Mireille bahwa sebaiknya ia membawa Io ke sana dulu.

"Tapi kuda ini punya fisik yang sangat bagus, ya."

"……I-iya, bagus sekali ya…… hehe……"

"Lho, ada apa? Kenapa tiba-tiba memalingkan muka begitu?"

Itu karena Io adalah kuda milik si pelaku yang dulu menyerang desa ini.

Saat Ren sedang bingung bagaimana menjelaskannya...

"Kuda ini dulunya milik si Beast Tamer yang menyerang rumah kita, kan? Kau berhasil merebut kuda yang hebat, ya."

"Ayah!? Bagaimana Ayah bisa tahu soal itu!?"

"Tentu saja karena aku mendengarnya dari ksatria yang datang ke desa ini sebelumnya. Ksatria itu perhatian padamu, dia pikir kau mungkin akan sulit mengatakannya sendiri, jadi dia memberitahuku."

"Kuda tidak punya dosa. Ren tidak perlu merasa tidak enak, kok."

Mireille bahkan mengusap surai Io yang tampak ingin bermanja-manja dengannya.

◇◇◇

Masakan di rumah kini sudah berbeda. Selain daging Little Boar hasil buruan di hutan, berbagai macam bahan makanan lain juga mulai digunakan.

Usai makan, Ren memandangi ruang makan yang baru di rumah tersebut.

Dinding bercat putih, lantai kayu cokelat tua, dan dapur baru yang lengkap. Ruang makan ini tidak lagi memiliki area lantai tanah yang langsung terhubung ke luar seperti dulu.

"Aku mau menaruh barang-barangku di kamar dulu."

"Oh, kalau begitu biar kami bantu."

Mireille bilang ia akan membereskan peralatan makan. Meski Ren dan Roy menawarkan bantuan, ia hanya tertawa sambil berkata "tidak apa-apa".

Saat Ren keluar dari ruang makan dan berjalan di koridor bersama Roy, tidak terdengar lagi suara lantai yang berderit seperti dulu.

"Rumah ini benar-benar jadi baru, ya."

"Berkat kau dan Tuan Baron. Tapi karena semua buku habis terbakar, hanya ruang perpustakaan yang belum bisa dibangun ulang."

"Mau bagaimana lagi. Apinya memang sebesar itu."

Struktur rumah baru ini mirip dengan rumah yang lama. Meski begitu, koridor yang seharusnya menuju perpustakaan kini terputus di tengah jalan dan digantikan dengan jendela yang lebar.

"Bicara soal buku, buku-buku di kamarku juga ikut terbakar, ya."

Di tengah tangga menuju kamar Ren di lantai dua, Roy berujar sambil menghela napas.

"Memangnya ada buku di kamar Ayah?"

"Jumlahnya memang sedikit. Aku menyimpan buku harian kakekmu dan buku-buku peninggalan leluhur."

"He~, buku peninggalan leluhur itu isinya tentang apa?"

"Entah itu kisah nyata atau cuma karangan, semacam catatan petualangan leluhur kita. Sepertinya leluhur keluarga Ashton dulu adalah seorang petualang. Dia pergi ke benua langit, mencari kota kuno yang katanya tertidur di dasar laut, dan semacamnya."

Hingga akhirnya mereka sampai di depan kamar Ren.

"Nah, kamarmu juga sudah baru, lho."

Kamar barunya terasa sedikit lebih luas dibandingkan yang lama.

Penataan perabot dan tampilannya dibuat sama persis seperti sebelum rumah itu terbakar, membuat Ren merasa tenang.

Satu-satunya yang berubah adalah ukuran tempat tidurnya yang kini lebih besar menyesuaikan pertumbuhan Ren. Sambil merasa terharu melihat kamar barunya, Ren bertanya.

"Ayah, tolong lanjutkan ceritanya."

Mendengar Ren yang berkata demikian sambil membuka jendela kamarnya, Roy menjawab, "Ah, iya."

"Selain itu, kalau tidak salah ada juga cerita tentang Tetua Naga."

Mengingat soal tanduk Asval tadi, jantung Ren berdegup kencang sesaat.

"Katanya dia naga tua yang sangat kuat, sangat suka bertarung, dan selalu mencari lawan yang tangguh."

"…………"

"Hm? Kenapa tiba-tiba diam?"

Melihat Ren yang tidak berkata apa-apa, Roy bertanya.

"Kalau kau tidak enak badan atau lelah, ceritanya bisa dilanjutkan nanti────"

"Ti-tidak, tidak, tidak! Aku baik-baik saja, jadi tolong ceritakan!"

Mendengar Ren yang panik, Roy menjawab, "Kalau begitu baiklah," lalu melanjutkan.

"Leluhur kita katanya pernah bertarung dengan Tetua Naga itu. Karena dia sangat menginginkan tanduk naga itu, dia menundukkan kepala dan memohon agar diberikan kepingannya saja."

"He-he~…… tanduknya…… lalu bagaimana?"

"Tetua Naga itu menolak, dan leluhur kita tentu saja tertunduk lesu. Tapi, Tetua Naga itu malah berujar 'Coba rebutlah dariku dengan kekuatan'."

Ren mendengarkan sambil memasang senyum kecut.

"Lalu, leluhur kita menerima tantangan itu dan berhasil menebas putus satu tanduk utuhnya."

Mendengar cerita itu, Ren hanya bisa menyahut dengan gaya linglung, "O-oh... begitu ya..."

"Leluhur kita memenangkan pertarungan itu, lalu berteman dengan si Tetua Naga."

"Berteman? Lalu ceritanya selesai begitu saja?"

"Iya. Seingatku, cuma itu yang tertulis di catatan petualangan yang tersisa di rumah kita."

"O-oooh... Tapi tetap saja, itu pertarungan yang luar biasa heboh, kan?"

"Makanya aku tidak tahu itu nyata atau cuma karangan. Entah naga macam apa yang dia lawan, tapi kalau memang sekuat itu, harusnya namanya terukir dalam sejarah Leomel. Aneh kalau keluarga kita tidak menjadi keluarga ternama."

Kata-kata Roy terdengar masuk akal, sehingga Ren tidak bisa begitu saja menganggapnya sebagai lelucon.

"Sayaaaang! Ksatria memanggilmuuu!"

Mendengar suara Mireille dari lantai bawah, Roy pun bergegas meninggalkan kamar.

Tinggal sendirian, Ren menyandarkan tubuhnya di bingkai jendela.

Sambil merasakan angin musim semi di punggungnya dan bersedekap, ia teringat kembali kata-kata yang diucapkan Asval.

'────Ashton? Kenapa…… rasanya nama itu terdengar sangat akrab.'

'……Eh? Kau tahu…… nama keluargaku?'

'Aku tidak ingat apa pun…… tapi, aku tidak suka makhluk lemah sepertimu mengucapkan nama itu.'

Fakta bahwa salah satu tanduk Asval sudah patah sejak awal menjadi masuk akal jika memang leluhurnya yang mematahkannya.

Secara kronologis, itu pasti terjadi sebelum para Pahlawan menaklukkan Asval.

Ren teringat betapa ia harus berjuang mati-matian untuk mematahkan tanduk yang tersisa setelah menyadari bahwa Asval akan melemah jika tanduknya patah.

Saat itu pun, ia baru bisa melakukannya karena Asval bangkit dalam kondisi tidak sempurna.

Di sisi lain, leluhur keluarga Ashton kabarnya berhasil menang melawan Asval di masa kejayaannya.

"Wajar saja kalau aku disebut makhluk lemah…… tapi kenapa ini tidak tercatat dalam sejarah, ya?"

Jangankan di buku sejarah, dalam pengetahuan dari masa saat ia masih memainkan gim pun tidak ada informasi mengenai leluhurnya.

Sangat janggal jika seseorang dengan kemampuan sehebat itu sama sekali tidak muncul namanya dalam catatan sejarah.

"Sengaja tidak dicatat…… mungkin?"

Ia memikirkan kemungkinan bahwa nama itu dihapus dari sejarah Leomel karena alasan tertentu.

Namun jika begitu, ada kejanggalan lain: mengapa keluarga Ashton masih bertahan hingga sekarang?

Jika leluhurnya dihapus dari sejarah, pasti ada alasan yang sangat kuat. Alasan itu kemungkinan besar adalah sesuatu yang merugikan pihak Leomel.

Fakta bahwa keluarga Ashton masih diperbolehkan eksis terasa kontradiktif dengan kemungkinan tersebut.

◇◇◇

Keesokan paginya, Ren bangun dengan perasaan yang sangat segar. Meski ini rumah baru dan ia belum merasa terlalu akrab, tetap saja kampung halaman adalah yang terbaik.

Begitu membuka jendela, angin yang membelai ladang membawa aroma tanah dan rumput ke arahnya.

"Belakangan ini, pedagang juga mulai datang ke sini, lho."

Saat mereka sedang menikmati sarapan bersama, Mireille berujar seolah baru teringat, dan Roy menyambungnya.

"Berbeda dengan dulu, sekarang sebulan sekali mereka pasti mampir. Ini sangat membantu."

"Pedagang itu datang untuk mengirim material bangunan?"

"Bukan cuma itu. Mereka datang untuk berdagang secara resmi. Lihat saja, bahan makanan kita sekarang ada yang berbeda dari sebelumnya, kan? Karena jalan raya mulai tertata, para pedagang merasa lebih mudah untuk datang ke sini."

Di dalam wilayah Clausel yang dianggap pelosok pun, desa keluarga Ashton terletak di bagian yang paling terpencil.

Karena itulah, sebelumnya para pedagang merasa tidak ada gunanya membuang waktu ke sana. Namun...

"Desa ini bisa menjadi titik persinggahan baru. Jika jalan raya sudah jadi, perjalanan akan jauh lebih aman daripada sebelumnya."

Bagi para pedagang dan petualang yang berkeliling dari kota Clausel menuju pemukiman sekitar hingga ke bekas wilayah Viscount Given, pembangunan di sekitar desa ini sangatlah menguntungkan.

Jika desa menjadi ramai oleh petualang, para pedagang pun akan berdatangan untuk mencari peluang bisnis.

Selain itu, meski monster yang hidup di sekitar desa tergolong lemah, material mereka tetap selalu dibutuhkan.

Contohnya material dari Little Boar; kulitnya bisa menjadi alat penahan dingin yang murah, dan dagingnya pun lezat.

Material dari monster lemah biasanya diperdagangkan dengan harga murah, namun itu tetap penting karena menopang kehidupan rakyat jelata.

Roy bilang, ini adalah pekerjaan sampingan yang bagus bagi petualang muda maupun petualang veteran untuk mencari uang saku.

"Sebagai gantinya, pekerjaan Ayah sepertinya bakal bertambah, nih."

"Hah?"

"Kalau desa makin ramai, pekerjaan juga makin banyak. Apalagi kalau pedagang dan petualang mulai sering mampir."

"Gawat. Aku benar-benar lupa soal itu."

Roy memegangi kepalanya. Melihat tingkah ayahnya yang memang tidak suka pekerjaan administratif itu, Ren pun tersenyum.

Ren merasa ia tidak bisa hanya sekadar mengirim uang saku lalu selesai. Sebagai anggota keluarga Ashton, ia juga harus memikirkan masa depan desa ini.

"Ngomong-ngomong Ren, kudengar di Pegunungan Balder terjadi banyak hal, ya?"

"Kami juga sudah dengar ceritanya. Awalnya kami kaget sekali, tapi kau hebat ya! Katanya kau melindungi putri dari keluarga Marquis?"

"Kultus Raja Iblis, ya? Aku tidak terlalu paham, tapi cerita soal orang-orang aneh yang membangkitkan gunung berapi itu benar-benar mengejutkan. Tapi aku lebih terkejut lagi karena Ren bisa melindungi gadis itu sampai akhir! Hahaha! Memang anakku!"

"Ahaha…… iya. Benar-benar banyak yang terjadi saat itu……"

Kedua orang tuanya memang sudah tahu soal insiden itu karena Lessard telah mengirimkan laporan.

Namun, bagian yang melibatkan kekuatan Fiona tetap dirahasiakan—termasuk fakta tentang kemunculan sosok bernama Asval.

Yang orang tuanya ketahui terbatas pada ancaman dari Kultus Raja Iblis.

Sebenarnya Ren ingin menggali lebih dalam soal kisah Petualang Ashton, tapi karena tidak ada catatan yang tersisa, ia tidak bisa berharap banyak selain cerita kemarin.

Malah, ia merasa hal itu lebih baik karena kemungkinan besar berkaitan dengan informasi yang memang sengaja dirahasiakan.

◇◇◇

Beberapa hari kemudian, di Erendil, kota yang terletak dekat dengan Ibukota.

Licia tengah berjalan menyusuri kota bersama Weiss di bawah sinar matahari siang.

"Memang jauh berbeda dengan Clausel, ya."

"Ini adalah kota bersejarah yang perkembangannya sangat pesat. Saya tidak sabar menantikan hari saat Nona Muda mewarisinya."

"Lho, bisa saja aku menunjuk pejabat pengganti seperti yang dilakukan Ayah, kan?"

"Bagi bangsawan yang memiliki beberapa wilayah kekuasaan, hal itu sudah sewajarnya. Namun, fakta bahwa Nona adalah penguasa tempat ini tidak akan berubah. Karena itu, Nona juga sebaiknya menuntut ilmu di sebuah institusi pendidikan."

"……Contohnya, seperti Institusi Militer Kekaisaran?"

"Benar. Jika Nona lulus dari akademi itu, martabat Nona sebagai pewaris Erendil akan semakin diakui."

Licia mengangguk mendengar ucapan Weiss, lalu bergumam lirik.

"────Ngomong-ngomong, kenapa ya Ren dulu sangat menghindari akademi itu?"

Tepat saat ia bergumam sambil memiringkan kepalanya, terdengar suara keributan dari salah satu sudut jalan besar.

Licia segera berlari bersama Weiss menuju sumber suara.

Di sana, ia melihat kerumunan orang yang tengah menatap ke arah gang sempit. Sepertinya seorang pencopet baru saja melarikan diri ke dalam gang tersebut.

Orang-orang di sekitar bilang ada seorang gadis yang mengejarnya.

"Weiss, ayo!"

"N-Nona Muda────! Aduh, mau bagaimana lagi!"

Sebelum Weiss sempat mencegahnya, Licia sudah melesat masuk ke dalam gang sempit tempat pencopet itu kabur.

Suara langkah kaki beberapa orang bergema di jalan yang sempit itu. Riuh rendah jalan besar tiba-tiba lenyap, seolah-olah mereka telah melangkah ke dunia lain.

Licia mendengarkan arah langkah kaki si pencopet, lalu ia berlari ke arah yang berbeda.

"Kita akan memutar ke depannya."

"Saya mengerti. Kita jepit dia dari dua arah."

Licia memutuskan untuk mempercayai orang-orang yang sudah mengejar lebih dulu dan memilih untuk menghadang di depan.

Begitu sampai di titik penghadangan, Licia dan Weiss bersiap dengan pedang di tangan.

Sesuai dugaan, si pencopet muncul dan terkejut melihat kehadiran mereka.

"A-Apa-apaan kalian!?"

Pria itu tampak seperti mantan petualang, terlihat dari perlengkapan yang terbuat dari material monster yang dikenakannya.

Sambil mendekap tas mewah yang tampaknya hasil curian, ia mencabut pisau dan memasang kuda-kuda.

"Hei Weiss, apa keamanan di Erendil ini buruk?"

"Tidak juga. Sama seperti di Clausel, orang yang berniat jahat bisa ada di mana saja."

"Kalau begitu, mau bagaimana lagi."

Licia berujar sambil menghela napas, lalu melangkah maju.

Sebelum Weiss sempat bergerak, Licia sudah menodongkan tangannya ke depan. Seketika, kilatan cahaya yang sangat terang memancar dari tangannya.

Itu hanya cahaya biasa tanpa daya bunuh, namun kilatan tiba-tiba itu membuat mata si pria silau hingga langkah kakinya tersandung.

"G-Guaaaakh!?"

Pria itu terjatuh berguling di tanah, tepat di depan kaki Weiss.

Weiss segera mengulurkan tangan sebelum pria itu sempat bangkit, lalu mengunci tangannya ke belakang dan mengikatnya kuat-kali.

"A-aduh-duh-duuuh!" Si pria merintih payah.

"Sepertinya orang yang mengejarnya juga sudah sampai."

Terdengar suara langkah kaki yang mendekat.

Sebagai putri dari penguasa kota ini, Licia merasa harus berterima kasih kepada orang yang telah bersusah payah mengejar si pencopet.

Awalnya ia berniat langsung membawa pria itu ke kantor keamanan, namun begitu melihat gadis yang muncul, Licia tersenyum kecil. "Eh?"

"Jangan harap bisa lari la────"

Gadis yang tadi berteriak dengan penuh semangat itu mendadak terhenti saat melihat Licia.

"L-L-Licia Clausel!? Kenapa kau bisa ada di sini!?"

Suaranya melengking karena terkejut, dan wajah cantiknya tampak syok.

Sambil mengatur napasnya yang terengah-engah setelah mengejar si pencopet, ia merapikan rambut cokelatnya yang berantakan dengan jari-jarinya lalu membetulkan posisinya.

Melihat gadis berambut cokelat itu, Licia membuka suara.

"Sudah lama ya, Saila."

Licia menyebutkan nama gadis itu.

◇◇◇

Setelah menyerahkan si pencopet ke pos penjagaan ksatria...

"Saila, terima kasih sudah membantu. Aku sangat menghargainya."

"Aku tidak melakukan apa-apa, kok. Lagipula, sebagai anggota keluarga Duke, sudah sewajarnya aku melakukan ini."

Di antara Seven Heroes, ada seorang pendekar pedang bernama Gazil Riohard.

Dia adalah pria yang dikatakan melampaui sang Pahlawan dalam hal teknik pedang murni, dan banyak berjasa dalam perjalanan menaklukkan Raja Iblis.

Keluarga Riohard adalah salah satu dari tujuh keluarga Duke yang agung, dan Saila adalah putri dari keluarga tersebut.

Dalam legenda Seven Heroes, dia menjabat sebagai main heroine dan merupakan gadis populer karena kepribadiannya yang ceria.

"Sudah berapa tahun, ya? Sejak terakhir kali aku kalah darimu…… sudah cukup lama berlalu."

Pertama kali mereka bertemu adalah saat pesta yang diadakan di Ibukota beberapa tahun lalu.

Saila, yang kemampuannya dalam berpedang sudah dipuji sejak kecil, menantang Licia—sang White Saintess yang reputasinya tak kalah hebat—untuk menguji kemampuan.

Namun dalam duel yang diadakan di kediaman keluarga Riohard di Ibukota keesokan harinya, Saila justru kalah telak oleh Licia.

Sejak saat itulah mereka berdua saling mengakui kemampuan masing-masing dan menjalin hubungan persahabatan hingga sekarang.

"Aku kaget sekali. Aku datang ke kota ini karena urusan pekerjaan Ayah, tak menyangka akan bertemu Saila."

"Aku juga. Aku baru saja mengantar Vain jalan-jalan lalu kejadian tadi terjadi, dan malah bertemu Licia."

"Vain?"

"Dia temanku sekaligus penolongku. Saat aku pergi ke dekat desanya, Vain menyelamatkanku saat aku hampir diserang monster. Kami datang ke Erendil bersama-sama, tapi tadi kami terpisah."

Wajah Saila tampak melunak dengan cara yang imut saat menceritakan hal itu.

"Diserang monster? Ke mana pengawalmu?"

"……Aku pikir aku bisa bertarung sendiri jadi aku masuk ke hutan, tapi ternyata aku tidak bisa bertarung dengan baik……"

Licia hampir saja menghela napas dan berujar "Kau bodoh ya," dengan nada jengkel.

Namun, ia teringat bahwa dirinya pun pernah melakukan hal serupa dan merepotkan Ren, jadi ia mengurungkan niatnya.

"Nona Riohard. Jika Anda berkenan, biarkan ksatria kami membantu mencari teman Anda."

Mendengar usulan Weiss, Saila mengangguk senang dan menyebutkan ciri-ciri pemuda bernama Vain itu.

Usianya sebaya dengan Saila, tubuhnya sedikit lebih tinggi darinya dan ramping. Rambut cokelat pekat dan matanya berwarna hijau.

Weiss pun undur diri menuju ksatria yang berjaga di depan pos penjagaan.

"Hei Licia, mumpung ada kesempatan, ayo temani aku."

Saila melangkah masuk ke dalam pos penjagaan.

"Akan kutunjukkan seberapa kuat aku setelah berkembang sejak hari itu! Mari pinjam tempat latihan di pos ini!"

Karena faksi keluarga mereka berbeda, Licia sebenarnya bimbang untuk berduel di tempat yang jauh dari pengawasan orang tua.

Nanti bisa saja ada komplain yang merepotkan──── walau kalau Saila yang melakukannya, rasanya ia tidak akan mengadu……

"……Kalau pulang ke Clausel nanti, aku harus minta maaf pada Ren."

Perasaan yang ia rasakan saat ini mungkin mirip dengan apa yang dirasakan Ren dulu saat menghadapinya.

Karena bimbang, akhirnya Licia pun terpaksa melangkah masuk ke dalam pos penjagaan.

 

Beberapa puluh menit kemudian, Vain, pemuda yang datang ke Erendil bersama Saila, tiba di pos penjagaan.

Ia terkejut melihat Saila yang terduduk lemas dengan wajah linglung di atas lantai tempat latihan di dalam pos tersebut.

"Sampai jumpa, Saila."

Licia melambaikan tangan dengan anggun sambil berjalan pergi.

Setelah memamerkan selisih kekuatan yang bahkan lebih besar daripada pertemuan mereka sebelumnya, Licia pun meninggalkan tempat itu.

Pemandangan itu bagaikan sebuah ilustrasi dari gim Seven Heroes Legend.

Sebuah adegan di mana Saila—sang main heroine—dan pemuda yang membantunya—sang protagonis, Vain—mengantar kepergian Licia dengan pandangan mata mereka.

◇◇◇

Sekitar satu bulan kemudian, setelah Ren dan Licia kembali ke Clausel, tepatnya sesudah sesi latihan mereka berakhir.

Licia duduk di bangku kayu di taman, menceritakan pengalamannya di Erendil kepada Ren.

"────Begitulah kejadiannya."

Mendengar cerita itu, Ren mencoba tetap tenang meski dalam hati berujar "Begitu ya~".

Di dalam gim pun, Vain memang melindungi Saila Riohard yang berkunjung ke dekat desanya.

Saat itulah kekuatan Pahlawan di dalam tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan, sehingga ia menarik perhatian orang tua Saila.

Mengingat kembali event yang terjadi di pos penjagaan ksatria itu, Ren merasakan kerinduan yang mendalam.

"Hei Ren, kau dengar tidak?"

"Maaf. Aku cuma terpana mendengar betapa luar biasanya kota besar."

Ren menatap Licia dan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.

"Terima kasih."

"Sama-sama. Jadi, Anda berduel dengan Nona Riohard, ya?"

"Cuma sebentar, tapi beberapa kali. Padahal begitu, tapi, haaa……"

Sambil mengerucutkan bibirnya dan menatap wajah Ren, Licia merasakan perbedaan tinggi badan mereka yang semakin mencolok.

"……Kau makin keren saja tanpa izin."

Ia bergumam pelan agar tidak terdengar oleh Ren.

"Saila itu ksatria yang punya reputasi hebat di Ibukota, tapi aku bisa menang telak melawannya."

"Itu pasti buah dari usaha keras Nona Licia selama ini. Aku juga ikut senang."

"Ih! Bukan itu maksudku!"

Licia semakin mendekatkan jaraknya dengan Ren, hingga jarak mereka sangat dekat sampai-sampai ia bisa menghitung jumlah bulu mata Ren.

"Maksudku, aku yang sekuat itu saja bisa kalah telak melawan Ren! Baru beberapa menit lalu! Seperti biasanya!"

Ia menatap Ren dengan wajah sedikit kesal namun tanpa amarah.

Sikap Licia saat ini entah kenapa terasa seperti sedang bermanja-manja.

"Ren, kau makin kuat lagi, kan?"

"Eh, anu?"

"Jangan memalingkan muka! Jangan mengalihkan pembicaraan, lihat aku baik-baik!"

Begitu Ren menuruti permintaannya dan menatapnya, pandangan mata mereka bertemu tepat di depan satu sama lain.

Barulah saat itu Licia menyadari betapa dekat jarak mereka, dan seketika wajahnya memerah padam. Karena malu, ia buru-buru mundur dengan panik.

Yuno, pelayan yang mengamati kejadian itu dari jendela kediaman, tersenyum simpul dari balik kaca.

"Tiba-tiba menatapku begitu kan curang namanya!"

Ren hanya bisa tertawa kecut menanggapi protes Licia yang tidak masuk akal itu.

"Tapi aku lega mendengar situasi tidak menjadi gawat akibat masalah Viscount Given."

"Soal itu, Saila sudah berkali-kali minta maaf padaku."

Karena Viscount Given bergerak dengan sangat cerdik, Saila baru mengetahui seluruh duduk perkaranya setelah kejadian itu berakhir.

Begitu mendengar ceritanya, Saila sangat marah dan mencoba berkali-kali untuk menghubungi keluarga Clausel, namun...

"Sepertinya Marquis Ignat menekan keluarga Duke itu agar tidak bisa bergerak. Ditambah lagi faksi mereka sedang kacau karena masalah Viscount Given, orang tua Saila mati-matian menahannya demi melindunginya."

"Ah~ kalau Marquis Ignat yang melakukannya, aku tidak heran."

Ternyata memiliki Marquis Ignat sebagai sekutu benar-benar menenangkan hati.

Entah seberapa besar kekuatan yang ia kerahkan hingga keluarga Duke sekalipun dibuat tidak berkutik.

"Sepertinya Nona Riohard sangat mencemaskan Anda, ya."

"Iya. Anak itu memang baik hati."

Bagi Licia yang tidak punya kesan baik terhadap faksi Pahlawan, meskipun ia tidak bisa membenci Saila secara pribadi, ada perasaan rumit tak terbendung yang bergejolak di dalam hatinya.

Meski disebut satu faksi, ternyata mereka tidaklah sejalan, dan semakin dipikirkan, situasinya terasa semakin kompleks.

"Hei, hei! Sekarang gantian ceritakan tentangmu! Bagaimana keadaan di desa?"

Mendengar pertanyaan dengan nada ceria itu, Ren pun mulai menceritakan kenangannya dengan semangat.

◇◇◇

Malam harinya, Weiss datang ke ruang kerja tempat Ren dan Lessard sedang berbincang dengan ekspresi yang sangat serius.

"Semuanya sesuai dengan laporan Tuan Muda. Tanduk itu memang milik Asval."

Mendengar itu, Lessard yang sedang duduk di sofa tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha! Aku sudah tidak kaget lagi! Apa pun yang Ren lakukan, aku hanya perlu menertawakannya! Malah, aku merasa senang benda itu terdampar di desa keluarga Ashton."

"Baguslah kalau benda itu tidak mencolok, tapi pertanyaannya kenapa bisa terdampar di desaku?"

"Lihatlah ini. Kemungkinan besar, benda itu terbawa aliran sungai bawah tanah."

Lessard membentangkan peta di atas meja di depan sofa.

Pada peta yang menggambarkan topografi wilayah kekuasaan itu, terdapat banyak garis biru yang digambar.

Sungai tersebut adalah jalan keluar yang bisa dicapai melalui jalur bawah tanah Star Agate—sebuah hidden map di Pegunungan Balder yang dulu dituju Ren saat melarikan diri bersama Fiona.

"Sungai bawah tanah di sekitar sana terhubung dengan urat air besar yang ada di wilayah kita."

"Memang masuk akal jika tanduk itu hanyut ke sana…… tapi apa bisa terdampar di desaku secara kebetulan?"

"Sejujurnya aku juga merasa ini terlalu kebetulan sampai-sampai terasa seperti disengaja. Tapi nyatanya memang begitu. Fakta bahwa benda itu terdampar di desa keluarga Ashton tidak bisa dibantah."

Tidak ada penjelasan lain yang lebih masuk akal.

(Mungkin karena ada ikatan dengan keluarga Ashton, jadi benda itu tertarik ke sana…… atau semacamnya.)

Meski itu pun terdengar tidak masuk akal, ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja mengingat besarnya kekuatan Asval.

Masalah utamanya sekarang adalah apa yang harus dilakukan terhadap tanduk berharga yang nilainya tidak terkira ini.

Sulit untuk menjualnya ke pasar. Mengingat jenis materialnya serta masalah yang melibatkan Marquis Ignat dan Fiona, ia ingin menghindari konflik tidak perlu yang mungkin timbul jika benda ini beredar di pasar umum.

"Sepertinya aku harus berkonsultasi langsung dengan Marquis Ignat nanti."

"Berarti Anda akan pergi ke Eupeheim?"

"Tidak, di musim panas nanti akan ada pesta yang diadakan oleh seorang bangsawan rekan dekat Marquis Ignat. Beliau yang memintanya agar kami punya kesempatan untuk bicara."

Marquis Ignat sengaja menggunakan perantara bangsawan lain karena faksi mereka berbeda dengan keluarga Clausel.

Setelah urusan dengan Marquis Ignat dianggap beres, Ren masih punya hal lain yang ingin ia bicarakan.

"Maaf, aku ingin mengganti topik pembicaraan."

Ren menceritakan apa yang ia dengar dari Roy kepada Lessard. Termasuk apa yang pernah diucapkan oleh Asval, karena ia merasa bisa mempercayai kedua orang ini.

"Petualang yang merupakan leluhur keluarga Ashton…… sayangnya aku belum pernah mendengarnya. Bagaimana denganmu, Weiss?"

"Saya juga belum pernah mendengarnya. Namun, sulit untuk tidak menghubungkan kata-kata Asval dengan cerita Tuan Roy. Hanya saja, sangat aneh jika identitas leluhur sehebat itu tidak diketahui sama sekali."

"Benar. Seharusnya namanya terukir dalam sejarah."

Keduanya pun mengaku tidak ingat pernah membaca buku yang menyebutkan hal tersebut di perpustakaan kediaman.

"Dulu, setelah keributan Viscount Given berakhir, aku sempat menyelidiki ulang tentang desa Ren. Aku mencari alasan kenapa desa itu menjadi incaran, tapi tidak menemukan informasi apa pun. Apa para tetua di desa tidak tahu apa-apa?"

"Aku sudah mencoba bertanya secara tersirat kepada Nenek Ligg, sang tabib desa, tapi sepertinya dia juga tidak tahu apa-apa."

"……Kalau begitu, mungkin memang tidak ada cara untuk menyelidikinya."

"Hanya sedikit pihak di Leomel ini yang mampu menghapus nama pemenang atas Asval dari sejarah. Mungkin ada latar belakang yang sangat rumit di baliknya."

"Jika benar begitu, mungkin informasinya hanya tersisa di Ruang Buku Terlarang."

Ternyata di Perpustakaan Kekaisaran yang juga bisa dikunjungi dalam gim Seven Heroes Legend, ada sebuah area yang disebut Ruang Buku Terlarang.

Disebut 'katanya', karena itu bukanlah tempat yang bisa dimasuki oleh pemain. Tempat itu berada di bawah pengawasan yang sangat ketat sesuai namanya, sehingga pemain hanya mengetahuinya lewat informasi saja.

"Begitu ya."

"Tuan Besar, kenapa Anda malah tersenyum?"

"Karena akhirnya aku mulai mengerti sedikit. Weiss pun pasti tahu siapa saja orang yang memiliki otoritas untuk memasuki Ruang Buku Terlarang."

"Jangan-jangan maksud Anda saat Viscount Given masih menjabat sebagai Wakil Menteri Kehakiman?"

"Tepat sekali. Selain kepala perpustakaan, hanya ada segelintir orang yang bisa masuk ke sana. Kaisar, Putra Mahkota yang belum ditentukan, Menteri Kehakiman, dan Wakilnya."

Memikirkan kembali alasan kenapa dulu Viscount Given mengincar desa keluarga Ashton.

(Viscount Given mengetahui sesuatu tentang keluarga Ashton di Ruang Buku Terlarang, lalu sengaja mengincar wilayah pelosok itu.)

Hanya saja, ia tidak tahu apa 'sesuatu' itu. Hal itu benar-benar membuatnya gemas.

"Punya leluhur yang bahkan bisa mendominasi Asval. Wajar saja jika ia mengincar Ren yang lahir di keluarga Ashton. Bisa jadi dia malah berpikir bahwa keluarga kalian mewarisi darah Pahlawan Ruin."

(Kalau yang itu sih salah besar~.)

Dalam hati Ren membantah hal itu sambil membayangkan sosok Vain, sang protagonis asli Seven Heroes Legend.

Sambil tersenyum kecut, ia berkata.

"Meskipun ada kemungkinan informasinya tersisa di sana, kalau di Ruang Buku Terlarang sih kita tidak bisa berbuat apa-apa, ya."

Kecuali jika Ren atau kenalannya bisa menjadi sosok yang punya otoritas masuk ke sana, ceritanya akan berbeda.

"Informasi ini sebaiknya kita bagikan juga kepada Marquis Ignat untuk berjaga-jaga."

"Sepertinya itu ide yang bagus."

Ren dan Lessard pun saling bertukar sepakat.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close