Putri Sentuhan
Ini adalah kisah
dari masa yang sangat lama.
Di sebuah menara
batu yang dijaga dengan sangat ketat, seorang gadis dikurung dalam kesunyian.
Wajahnya yang
dipenuhi keelokan dan kecantikan luar biasa sanggup menawan hati lawan jenis
mana pun. Beberapa orang yang pernah melihatnya bahkan memujinya lebih berkilau
dibandingkan seluruh bunga dan permata yang ada di dunia.
Namun, di dalam
tubuh itu, ia menyemayamkan sebuah kekuatan langka dan dahsyat yang mampu
menggerogoti apa pun.
Kekuatan itu
begitu mengerikan; hanya dengan mendekat saja, ia akan melahap vitalitas,
merusak kulit, bahkan menginvasi otak hingga merenggut kewarasan korbannya.
Karena itulah,
sang gadis hampir tidak pernah memiliki pengalaman berbicara dengan orang lain,
hingga suatu ketika────
Ada seseorang
yang menyapanya.
"Selamat
malam."
Sosok itu adalah
seorang pria yang datang menyelinap di bawah pengawasan penjaga malam demi
malam, lalu menyapanya melalui jendela kecil tempat dunia luar terlihat samar.
Dua bulan telah
berlalu sejak pria itu mulai melangkahkan kaki menuju menara batu tersebut.
Selama waktu itu,
meski sang gadis mendengarkan suara si pria, ia tidak pernah memberikan balasan
sekali pun.
Baru setelah satu
bulan berikutnya berlalu, sang gadis akhirnya menyahut.
"Kenapa kamu
tidak menjadi gila?"
Pria yang ditanya
secara tiba-tiba itu tidak panik sedikit pun.
"Karena aku
kuat. Kekuatan selevel Anda tidak akan bisa menggerogotiku."
Ia menjawab
dengan nada santai, seolah tanpa beban, lalu menunggu sang gadis mengucapkan
kata-kata selanjutnya.
"Bohong.
Kamu pasti menggunakan semacam kekuatan untuk menahannya sedikit. Kamu datang
kemari untuk mengambil hatiku karena diperintah oleh Ayah, kan?"
"Tidak,
bukan seperti itu."
"Kalau
begitu, coba ulurkan tanganmu dari jendela kecil itu. Jika kamu bisa
menyentuhku tanpa rasa takut, aku akan memercayai kata-katamu."
"Jika
hanya dengan begitu Anda bisa percaya, dengan senang hati."
Pria itu
menyusupkan tangannya melalui jendela kecil.
Gadis itu
terkejut. Padahal ia sendiri yang memintanya, namun ia tidak berani
menyentuhkan tangannya pada tangan pria itu dan buru-buru menjauh dari jendela.
Berniat menguji
si pria, ia justru merasa seolah dialah yang sedang diuji balik.
"Apa kamu
bodoh? Atau kamu tolol?"
"Aku tidak
mengerti bedanya dua kata yang bermakna sama itu, tapi aku bukan
keduanya."
"……Kalau
begitu, kamu nekat. Sudah cukup, tarik kembali tanganmu sebelum
terlambat."
Namun, pria itu
tidak berniat menarik tangannya.
Alih-alih
mengintip ke dalam lewat jendela kecil, ia justru menggerak-gerakkan lengannya,
berusaha keras mencoba menjangkau sang gadis agar bisa menyentuhnya.
Melihat itu, sang
gadis bergumam, "Ternyata kamu benar-benar bodoh, ya."
"Itu
menyakitkan hati. Anda sendiri yang memintaku untuk mencoba menyentuh Anda. Jika Anda menyebutku bodoh, maka
itu artinya Anda menyebut diri Anda sendiri bodoh."
"Baru
kamu orang pertama yang berani mengataiku bodoh."
"Suatu
kehormatan bagiku."
"……Aku
tidak sedang memujimu. Sudah cukup, tarik tanganmu."
"Tidak
mau. Aku tidak akan menariknya sampai aku bisa menyentuh Anda."
Sang
gadis mengembuskan napas panjang.
Ia
menjauh dari jendela kecil agar helaan napasnya pun tidak mengenai tangan si
pria.
Menyadari suara
sang gadis menjauh, tangan pria itu terkulai lemas dengan lesu.
"Tidak akan
ada hal baik yang terjadi meski kamu menyentuhku."
"Ada,
kok."
Suara pria itu
yang tanpa ragu membuat sang gadis tertegun sejenak.
Namun, ia segera
menguasai diri kembali.
"Ka…… Kalau memang ada hal baik, coba katakan."
"Setidaknya, Anda akan memahami bahwa aku berbeda dari
orang lain."
"Itu
tidak perlu. Ini yang terakhir kali. Jika kamu tidak ingin aku berteriak
memanggil ksatria, tarik tanganmu dan pergilah."
Lengan
pria itu tidak bergerak sedikit pun, ia tampak bingung harus melakukan apa.
Lalu,
seolah baru saja mendapatkan ide cemerlang, pria itu bertanya dengan tidak tahu
malunya:
"Apa
yang harus kulakukan agar Anda mau menyambut tanganku?"
Gadis itu
kembali mengembuskan napas panjang dan berseru kasar, "Aah, sudah
cukup!"
Menghadapi
kegigihan pria itu, sang gadis memutuskan untuk memberikan syarat yang mustahil
demi mengakhiri pembicaraan.
"Jika kamu
bisa membawakanku sesuatu untuk menekan kekuatanku, aku akan menyambut
tanganmu. Bertemu tatap muka dan mengecup tanganmu pun tidak masalah."
Karena menghadapi
pria yang keras kepala, nada bicaranya menjadi kasar dan terkesan angkuh.
Itu bukan
cara bicara asli sang gadis. Ia sendiri pun merasa sedikit terkejut dengan
perubahan sikapnya yang tidak biasa itu.
Hatinya
terasa sakit karena berbicara kasar, tapi ia melakukan ini demi membuat si pria
menyerah.
"Katakan
padaku apa yang harus kubawa. Aku pasti akan menyediakannya."
"……Kamu
serius?"
Mendengar pria
itu menjawab "Aku serius," sang gadis pun mengembuskan napas.
"Begitu, ya.
Kalau begitu akan kuberitahu."
Gadis itu
mengucapkan kembali kata-kata yang pernah ia dengar dari seorang pengrajin alat
magis ternama.
Kalau tidak
salah, seorang wanita bernama Mirim Altea pernah berkata seperti ini:
"Bawakan aku
pecahan tanduk Raja Naga, darah Phoenix penguasa benua langit, dan air mata
raksasa yang tertidur di dasar laut."
Mendengar itu,
pria itu akhirnya menarik tangannya dari jendela kecil.
Sang gadis merasa
lega karena mengira si pria akhirnya menyerah, namun di saat yang sama, ia
dirundung emosi kompleks berupa rasa kecewa karena benar-benar ditinggalkan.
Akan tetapi, sang
gadis salah paham.
"Terima
kasih sudah memberitahuku."
Pria itu tidak
mengintip lewat jendela, melainkan tertawa senang di bawah cahaya bulan.
"Aku akan
membawakan semuanya dalam waktu satu tahun."
"Eh, ah────
Tu-tunggu sebentar! Tunggu dulu!"
"Ini janji
kita, ya. Mohon tunggu sebentar lagi. Jangan sampai Anda membatalkan janji yang
baru saja kita buat."
"Makanya,
tunggu dulu! Itu────!"
Hawa keberadaan
pria itu telah lenyap.
Tanpa disadari,
ia menghilang secara tiba-tiba bagaikan kabut.
Gadis itu
kebingungan dengan kenyataan tersebut, lalu terduduk lemas di lantai.
"……Pembohong.
Mana mungkin bisa dilakukan."
Gadis itu
bergumam demikian, namun di dalam hati, ia berdoa agar pria itu bukan seorang
pembohong.
Menemukan sosok
yang mau berbicara begitu dekat dan lama dengannya untuk pertama kali dalam
hidup, ia pun memanjatkan sebuah keinginan.
Tidak perlu
membawakan barang-barang yang kupinta itu juga tidak apa-apa.
Karena itu,
aku harap orang itu mau datang lagi menemuiku────



Post a Comment