NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 3 Short Story 1

Putri Sentuhan


Ini adalah kisah dari masa yang sangat lama.

Di sebuah menara batu yang dijaga dengan sangat ketat, seorang gadis dikurung dalam kesunyian.

Wajahnya yang dipenuhi keelokan dan kecantikan luar biasa sanggup menawan hati lawan jenis mana pun. Beberapa orang yang pernah melihatnya bahkan memujinya lebih berkilau dibandingkan seluruh bunga dan permata yang ada di dunia.

Namun, di dalam tubuh itu, ia menyemayamkan sebuah kekuatan langka dan dahsyat yang mampu menggerogoti apa pun.

Kekuatan itu begitu mengerikan; hanya dengan mendekat saja, ia akan melahap vitalitas, merusak kulit, bahkan menginvasi otak hingga merenggut kewarasan korbannya.

Karena itulah, sang gadis hampir tidak pernah memiliki pengalaman berbicara dengan orang lain, hingga suatu ketika────

Ada seseorang yang menyapanya.

"Selamat malam."

Sosok itu adalah seorang pria yang datang menyelinap di bawah pengawasan penjaga malam demi malam, lalu menyapanya melalui jendela kecil tempat dunia luar terlihat samar.

Dua bulan telah berlalu sejak pria itu mulai melangkahkan kaki menuju menara batu tersebut.

Selama waktu itu, meski sang gadis mendengarkan suara si pria, ia tidak pernah memberikan balasan sekali pun.

Baru setelah satu bulan berikutnya berlalu, sang gadis akhirnya menyahut.

"Kenapa kamu tidak menjadi gila?"

Pria yang ditanya secara tiba-tiba itu tidak panik sedikit pun.

"Karena aku kuat. Kekuatan selevel Anda tidak akan bisa menggerogotiku."

Ia menjawab dengan nada santai, seolah tanpa beban, lalu menunggu sang gadis mengucapkan kata-kata selanjutnya.

"Bohong. Kamu pasti menggunakan semacam kekuatan untuk menahannya sedikit. Kamu datang kemari untuk mengambil hatiku karena diperintah oleh Ayah, kan?"

"Tidak, bukan seperti itu."

"Kalau begitu, coba ulurkan tanganmu dari jendela kecil itu. Jika kamu bisa menyentuhku tanpa rasa takut, aku akan memercayai kata-katamu."

"Jika hanya dengan begitu Anda bisa percaya, dengan senang hati."

Pria itu menyusupkan tangannya melalui jendela kecil.

Gadis itu terkejut. Padahal ia sendiri yang memintanya, namun ia tidak berani menyentuhkan tangannya pada tangan pria itu dan buru-buru menjauh dari jendela.

Berniat menguji si pria, ia justru merasa seolah dialah yang sedang diuji balik.

"Apa kamu bodoh? Atau kamu tolol?"

"Aku tidak mengerti bedanya dua kata yang bermakna sama itu, tapi aku bukan keduanya."

"……Kalau begitu, kamu nekat. Sudah cukup, tarik kembali tanganmu sebelum terlambat."

Namun, pria itu tidak berniat menarik tangannya.

Alih-alih mengintip ke dalam lewat jendela kecil, ia justru menggerak-gerakkan lengannya, berusaha keras mencoba menjangkau sang gadis agar bisa menyentuhnya.

Melihat itu, sang gadis bergumam, "Ternyata kamu benar-benar bodoh, ya."

"Itu menyakitkan hati. Anda sendiri yang memintaku untuk mencoba menyentuh Anda. Jika Anda menyebutku bodoh, maka itu artinya Anda menyebut diri Anda sendiri bodoh."

"Baru kamu orang pertama yang berani mengataiku bodoh."

"Suatu kehormatan bagiku."

"……Aku tidak sedang memujimu. Sudah cukup, tarik tanganmu."

"Tidak mau. Aku tidak akan menariknya sampai aku bisa menyentuh Anda."

Sang gadis mengembuskan napas panjang.

Ia menjauh dari jendela kecil agar helaan napasnya pun tidak mengenai tangan si pria.

Menyadari suara sang gadis menjauh, tangan pria itu terkulai lemas dengan lesu.

"Tidak akan ada hal baik yang terjadi meski kamu menyentuhku."

"Ada, kok."

Suara pria itu yang tanpa ragu membuat sang gadis tertegun sejenak.

Namun, ia segera menguasai diri kembali.

"Ka…… Kalau memang ada hal baik, coba katakan."

"Setidaknya, Anda akan memahami bahwa aku berbeda dari orang lain."

"Itu tidak perlu. Ini yang terakhir kali. Jika kamu tidak ingin aku berteriak memanggil ksatria, tarik tanganmu dan pergilah."

Lengan pria itu tidak bergerak sedikit pun, ia tampak bingung harus melakukan apa.

Lalu, seolah baru saja mendapatkan ide cemerlang, pria itu bertanya dengan tidak tahu malunya:

"Apa yang harus kulakukan agar Anda mau menyambut tanganku?"

Gadis itu kembali mengembuskan napas panjang dan berseru kasar, "Aah, sudah cukup!"

Menghadapi kegigihan pria itu, sang gadis memutuskan untuk memberikan syarat yang mustahil demi mengakhiri pembicaraan.

"Jika kamu bisa membawakanku sesuatu untuk menekan kekuatanku, aku akan menyambut tanganmu. Bertemu tatap muka dan mengecup tanganmu pun tidak masalah."

Karena menghadapi pria yang keras kepala, nada bicaranya menjadi kasar dan terkesan angkuh.

Itu bukan cara bicara asli sang gadis. Ia sendiri pun merasa sedikit terkejut dengan perubahan sikapnya yang tidak biasa itu.

Hatinya terasa sakit karena berbicara kasar, tapi ia melakukan ini demi membuat si pria menyerah.

"Katakan padaku apa yang harus kubawa. Aku pasti akan menyediakannya."

"……Kamu serius?"

Mendengar pria itu menjawab "Aku serius," sang gadis pun mengembuskan napas.

"Begitu, ya. Kalau begitu akan kuberitahu."

Gadis itu mengucapkan kembali kata-kata yang pernah ia dengar dari seorang pengrajin alat magis ternama.

Kalau tidak salah, seorang wanita bernama Mirim Altea pernah berkata seperti ini:

"Bawakan aku pecahan tanduk Raja Naga, darah Phoenix penguasa benua langit, dan air mata raksasa yang tertidur di dasar laut."

Mendengar itu, pria itu akhirnya menarik tangannya dari jendela kecil.

Sang gadis merasa lega karena mengira si pria akhirnya menyerah, namun di saat yang sama, ia dirundung emosi kompleks berupa rasa kecewa karena benar-benar ditinggalkan.

Akan tetapi, sang gadis salah paham.

"Terima kasih sudah memberitahuku."

Pria itu tidak mengintip lewat jendela, melainkan tertawa senang di bawah cahaya bulan.

"Aku akan membawakan semuanya dalam waktu satu tahun."

"Eh, ah──── Tu-tunggu sebentar! Tunggu dulu!"

"Ini janji kita, ya. Mohon tunggu sebentar lagi. Jangan sampai Anda membatalkan janji yang baru saja kita buat."

"Makanya, tunggu dulu! Itu────!"

Hawa keberadaan pria itu telah lenyap.

Tanpa disadari, ia menghilang secara tiba-tiba bagaikan kabut.

Gadis itu kebingungan dengan kenyataan tersebut, lalu terduduk lemas di lantai.

"……Pembohong. Mana mungkin bisa dilakukan."

Gadis itu bergumam demikian, namun di dalam hati, ia berdoa agar pria itu bukan seorang pembohong.

Menemukan sosok yang mau berbicara begitu dekat dan lama dengannya untuk pertama kali dalam hidup, ia pun memanjatkan sebuah keinginan.

Tidak perlu membawakan barang-barang yang kupinta itu juga tidak apa-apa.

Karena itu, aku harap orang itu mau datang lagi menemuiku────




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close