Epilog
Kehidupan di Erendil
berlalu dalam sekejap mata karena banyaknya hal yang harus dilakukan selain
belajar untuk ujian.
Di tengah
kesibukan itu, sebuah peristiwa besar terjadi bagi keluarga Clausel.
Lessard dipanggil
ke istana untuk dianugerahi gelar Viscount sebagai bentuk penghargaan
atas jasa-jasanya selama ini.
Bukan hanya
bantuan saat insiden musim panas, tetapi kemampuan administrasinya dalam
mengelola Erendil—wilayah yang sebelumnya menjadi sumber masalah—juga diakui.
Dalam upacara
yang diadakan di Ruang Audiensi Istana Kekaisaran, sang Kaisar sendiri yang
mendeklarasikannya.
Kaisar yang
jarang memuji itu bahkan sempat berujar, "Aku menaruh harapan
padamu," yang membuat peristiwa tersebut menjadi bahan pembicaraan hangat
di kalangan bangsawan.
Selain itu, ulang
tahun Licia pun dirayakan dengan sederhana hanya bersama keluarga, sama seperti
ulang tahun Ren.
Ujian tahap
ketiga berakhir pada musim gugur, tahap keempat selesai sebelum musim dingin,
dan setelah pergantian tahun, ujian akhir pun tuntas.
Ren terus giat
belajar bersama Licia dengan sesekali dibantu oleh Fiona. Di hari lain, Ren
pergi ke Ibukota bersama Radius sesuai janji mereka.
Ada saat di mana Licia
harus meninggalkan kediaman selama sebulan untuk mengurus pekerjaan keluarga
Clausel, serta munculnya perubahan dalam hubungan antara Licia dan Fiona.
Benar-benar banyak hal yang telah terjadi.
◇◇◇
Hingga tibalah
suatu hari di musim semi, setelah melewati hari-hari yang panjang itu.
"Ayah!"
Licia untuk
pertama kalinya memamerkan penampilannya dalam balutan seragam Institusi
Militer Kekaisaran, lengkap dengan lencana Kelas Khusus.
Melihat itu,
Lessard tersenyum penuh haru dan merayakan hari bersejarah ini.
Ia juga menatap
Ren yang mengenakan seragam serupa dan tersenyum tulus.
"Kalian
berdua sangat cocok memakainya, selamat atas kelulusan kalian."
"Terima
kasih banyak. Tapi anu... rasanya bagian bahu ini agak sempit, ya."
"Namanya
juga seragam baru, memang begitu rasanya. Lama-kelamaan kainnya akan melemas
dan pas dengan tubuhmu."
Pada hari upacara
penerimaan siswa baru ini, langit biru tanpa awan membentang luas memenuhi
cakrawala.
◇◇◇
Warna perak,
merah tua, dan emas mendominasi.
Aula besar yang
menjadi kebanggaan Institusi Militer Kekaisaran sangatlah luas.
Jika menatap ke
atas dari kursi lantai satu, mata akan dimanjakan oleh deretan lampu gantung
emas yang berjajar di langit-langit yang sangat tinggi.
Dinding
interior berwarna perak terlihat agung, serasi dengan karpet merah tua yang
mencolok.
Kursi penonton
tersusun melingkar mengikuti bentuk kipas hingga ke lantai lima.
Selain tamu
undangan, seluruh siswa lama pun hadir tanpa pengecualian dalam upacara ini.
Di atas panggung terdalam, berdirilah seorang wanita cantik
bak permata—Chronoa Highland.
Setelah menyelesaikan tugas panjangnya dan kembali ke
Leomel, ia berdiri di sana hari ini untuk menyambut para siswa baru.
Ren Ashton terpilih sebagai perwakilan siswa laki-laki,
sementara Licia Clausel menjadi perwakilan siswa perempuan.
Saat upacara mencapai puncaknya, mereka berdua bangkit dari
kursi yang bersebelahan dan melangkah menuju tempat Chronoa menunggu di atas
panggung.
"Ren, kau gugup?"
"Sebenarnya, sedikit."
"Syukurlah. Aku juga sama."
Keduanya bertukar senyum sambil berbisik lirih.
Mereka melangkah di atas karpet merah yang tebal, lalu
berdiri di hadapan mimbar yang megah.
(Tak kusangka, aku akan berdiri di sini bersama Nona Licia.)
Cahaya dari lampu gantung yang menyorot panggung terasa
menyilaukan.
Di tengah kilauan itu, Ren teringat kembali memori yang
terpatri di balik kelopak matanya.
"Bisa kau lihat, kan? Akulah yang telah
membunuhnya."
Ingatan tentang Ren Ashton yang membunuh Saintess Licia dan
berujar demikian sambil mendekap jasadnya.
Pemandangan di mana darah yang menetes dari tubuh sang Saintess
yang telah membeku itu membasahi lantai panggung.
Meski didera
perasaan yang rumit, kakinya tidak berhenti.
Tap, tap, suara sol sepatu kulitnya yang mengetuk
lantai panggung bergema saat ia berjalan perlahan.
Lalu, sosok yang
menunggu mereka, Chronoa, juga merupakan tokoh yang nyawanya direnggut oleh Ren
Ashton dalam legenda Seven Heroes. Sang penyihir terhebat di dunia.
Dengan rambut
pirang keemasannya yang bergoyang, ia tampak senang menyambut kedatangan Ren
dan Licia.
Ia mengenakan
topi penyihir bertepi lebar dan jubah yang terlihat sangat pas di tubuhnya.
Kepada dua orang
yang berdiri di hadapannya, ia memberikan senyuman yang lebih indah dari
permata mana pun.
"Salam
kenal, Nona Saintess. Dan lama tidak berjumpa, Tuan Pahlawan."
Licia merasa
tegang saat disapa seperti itu oleh Chronoa.
Namun, ia segera
terheran ketika Chronoa memanggil Ren dengan sebutan "Tuan Pahlawan".
Terlebih lagi, Chronoa jelas-jelas bilang "lama tidak berjumpa".
Licia menoleh ke
arah Ren dengan bingung, hanya untuk melihat Ren yang juga tampak terperangah.
(Lama tidak
berjumpa...?)
Ren mencoba
berpikir tenang di tengah situasi ini, mencari tahu kapan dan di mana mereka
pernah bertemu.
Chronoa tidak
mungkin berbohong. Ia memutar otaknya untuk mengingat kembali di mana ia pernah
bertemu dengannya di masa lalu.
Dalam versi gim,
Chronoa adalah sosok yang istimewa bagi Ren, sama seperti Licia. Jika ia pernah
bertemu dengan orang sepenting itu, tidak mungkin ia lupa, tapi...
Dua perwakilan
yang sudah sampai di panggung itu terdiam di hadapan Chronoa. Namun, para
hadirin tidak merasa aneh dengan hal itu.
Siswa baru, siswa
lama, hingga tamu undangan salah paham dan mengira bahwa mereka sedang
membicarakan sesuatu yang penting.
"Apakah kita
pernah bertemu di suatu tempat?"
"Ya. Mungkin
sekitar dua tahun yang lalu. Aku dan kamu bahkan pernah mengobrol, lho."
Hanya itu
yang ia butuhkan.
Itu terjadi pada
hari ketika ia memburu Iron-Eater Gargoyle.
Serta saat ia
berkeliling desa di wilayah kekuasaan bersama Licia.
(Ternyata benar,
orang itu adalah dia.)
Dugaannya tepat
sasaran.
Kala itu, Ren
diajak oleh Chronoa untuk datang ke Ibukota.
"Ada banyak
hal yang terjadi, tapi Kepala Sekolah────"
"Panggil
saja Chronoa. Aku tidak suka embel-embel 'Nyonya' atau semacamnya."
Chronoa
memotong kalimat Ren dengan nada jenaka.
Di sisi
lain, Ren menyinggung kembali kata-kata yang pernah ia ucapkan kepada Chronoa
di Serikat Petualang Clausel.
"────Sesuai
harapan Anda, Chronoa-san, akhirnya saya datang ke Ibukota."
"Ehehe!
Aku senang kau mengingatnya."
"R-Ren!?
D-Di mana kalian pernah
bertemu...?"
Licia tidak bisa
berbuat ricuh di atas panggung.
Meskipun ia
berusaha tampak tenang dari belakang, ekspresi terkejut di wajahnya jelas
terlihat oleh Chronoa yang berdiri di depan dan Ren yang ada di sampingnya.
Ren melirik
Chronoa, memberi isyarat apakah ia boleh menceritakannya.
Chronoa
mengangguk kecil.
"Saat kita
berkeliling desa di Clausel dulu, ada saat di mana Anda tiba-tiba harus pulang,
kan?"
"Maksudmu
saat orang yang kau temui di kota entah kenapa berada di dalam hutan, lalu kau
bertemu lagi dengannya?"
"Benar. Sepertinya orang itu adalah Chronoa-san."
"Ahaha…… saat itu aku sedang mencari lokasi yang cocok
untuk ujian masuk. Bertemu Ren-kun
dua kali di Clausel itu murni kebetulan, lho."
Licia
yang terkejut, berbanding terbalik dengan Ren yang justru tidak terlalu kaget.
Bagi Ren, semua
kepingan teka-teki kini telah menyatu, dan ia malah merasa lega.
"Aku
sudah mendengar tentang Ren-kun dari Marquis Ignat. Sebenarnya aku ingin mampir
ke kediaman Clausel untuk menyapa, tapi..."
Karena ujian
masuk akademi ini sangat istimewa, hal itu tidak terlaksana. Chronoa berniat
meminta maaf atas insiden di Pegunungan Balder, namun ia memutuskan untuk
mencari waktu lain karena upacara ini akan memakan waktu lama jika dibahas
sekarang.
"Nanti kita
bicara santai lagi, ya. Sekarang, biarkan aku bekerja sedikit sebagai kepala
sekolah."
Ujar Chronoa.
Kepada dua
perwakilan di depannya, dan kepada seluruh siswa baru yang duduk di kursi di
belakang mereka.
Pada hari ini, ia
mengucapkan selamat atas keberhasilan mereka masuk ke Institusi Militer
Kekaisaran dengan tulus, dan berdoa agar hari-hari mereka di akademi ini
menjadi masa yang produktif.
◇◇◇
Ia merentangkan
kedua tangannya seperti sayap────
"Nah,
semuanya."
Saat ia
menjentikkan jari tangan kanannya, embusan angin bertiup di dalam aula besar.
Langit-langit,
dinding, bahkan lantai. Segalanya—kecuali perabotan dan kursi—menjadi
transparan dan berubah menjadi cakrawala biru yang membentang tanpa batas.
Pemandangan
awan yang berarak di langit dan burung-burung putih yang beterbangan silih
berganti.
Bersamaan
dengan cahaya matahari yang berkilau dari puncak langit, pemandangan mistis itu
hadir mengiringi kata-kata Chronoa.
"Selamat
datang di Institusi Militer Kekaisaran! Selamat datang di tempat belajar
terbaik di dunia!"
Jika dunia para
dewa itu ada, mungkin tempatnya akan seperti ini.
Seluruh hadirin
tanpa pengecualian berseru takjub, yang perlahan berubah menjadi sorak-sorai.
Di tengah ruang
penuh sukacita yang bercampur dengan tepuk tangan dan teriakan kegembiraan itu,
Ren dan Licia yang berada di atas panggung juga ikut memandang sekeliling.
"Kalian
berdua, selamat untuk hari ini!"
Di sana, Chronoa
menyapa mereka di tengah keriuhan itu.
Saat Ren dan Licia
menoleh, Chronoa menunjukkan senyuman yang sangat manis.
"Lain kali,
mari kita mengobrol di ruang kepala sekolah—di ruanganku, ya!"
Ren dan Licia
sempat ragu apakah mereka boleh diajak ke tempat sepenting itu dengan begitu
santai, namun yang mengajak adalah Chronoa, sosok yang memiliki pengaruh lebih
besar daripada bangsawan kelas atas mana pun.
Menolak adalah
hal yang mustahil, dan Ren pun ingin menanyakan dengan jelas tentang kejadian
di Clausel dulu.
Begitu mereka
berdua menjawab "Baik" dengan agak sungkan, Chronoa tersenyum
malu-malu dengan gembira.
◇◇◇
Setelah upacara
penerimaan berakhir, seluruh penjuru sekolah menjadi ramai.
Pemandangan
orang-orang yang berkumpul dan bercengkerama di aula besar, taman, hingga dekat
gerbang utama adalah pemandangan yang rutin terlihat setiap tahun.
Para
bangsawan mempererat hubungan dan membicarakan rencana masa depan.
Warga
biasa juga saling menyapa sesama siswa baru untuk mencari teman, sementara
mereka yang berbakat didekati oleh siswa senior atau keluarga mereka agar bisa
direkrut sebagai pengikut atau pejabat sipil sejak dini.
Hal ini
sangat mencolok di sekitar mereka yang mengenakan lencana Kelas Khusus;
kerumunan orang selalu terlihat di sekitar para elit yang menonjol ini.
Karena
menyadari hal itu, Licia berdiri di dekat gerbang utama. Dengan memberi kesan
bahwa ia akan segera pulang, ia berusaha menghindari terbentuknya kerumunan
massa di sekitarnya.
"Licia!"
Suara itu
berasal dari Saila Riohard.
Ia datang
menemui Licia bersama Vain, merasa senang karena mulai sekarang mereka akan
belajar di kelas yang sama.
Vain
berdiri memperhatikan mereka dengan senyuman cerah di wajahnya.
"Sampai
saat terakhir lokasi ujian kita selalu berbeda…… tapi mulai sekarang, kita berada di kelas yang
sama!"
"Iya. Mohon
bantuannya mulai sekarang. ────Anu, kalau tidak salah namamu Vain-kun,
kan?"
"I-iya! Salam kenal! Saya Vain! Saya tidak punya nama
keluarga, tapi sekarang saya berada di bawah asuhan keluarga Riohard……!"
Vain merasa tegang di hadapan kecantikan Licia dan bicaranya
agak kaku.
Saila tampak memanyunkan bibirnya seolah tidak puas dengan
sikap Vain, tapi reaksi Vain itu wajar saja. Licia dalam balutan seragam
terlihat sangat mempesona bagi siapa pun, bahkan hanya berdiri di sampingnya
saja sudah membuat gugup.
Saila sendiri adalah gadis yang cantik, namun dalam kasus Licia,
mungkin bisa disebut sebagai wibawa sang Saintess.
"Mohon
bantuannya juga untukmu, ya."
Setelah berkata
demikian, Licia melirik jam tangannya.
Itu adalah jam
tangan pemberian Ren sebagai hadiah ulang tahun di musim panas lalu.
Jam tangan dengan
warna pink gold yang manis itu sangat cocok untuk Licia yang tampak
anggun dengan dial jam berwarna putih bersih.
"Aku ingin
mengobrol lebih lama, tapi aku harus segera pergi."
Telah diputuskan
sejak lama bahwa hari ini Ulysses akan mengadakan perjamuan perayaan.
Radius juga akan
hadir secara rahasia, menjadikannya sebuah perjamuan yang cukup formal.
Karena itu, Licia
memanggil Ren yang sedang disapa oleh siswa baru lainnya di dekatnya.
"Ren, ayo berangkat. Ayah sudah menunggu."
Ren menoleh,
memperlihatkan wajahnya kepada Vain dan Saila.
Keduanya
mengerjap berkali-kali, lalu ingatan tentang malam musim panas itu kembali
muncul di benak mereka.
"Eh────?"
"Lho────?"
Kepada dua orang
yang akhirnya mencapai puncak keterkejutan itu, Ren berujar santai, "Lama
tidak berjumpa."
Licia yang sudah
mendengar seluruh ceritanya tertawa kecil dengan pasrah dan kembali berkata,
"Ayo jalan." Ia juga berpamitan kepada Saila dan Vain, lalu melangkah
pergi bersama Ren.
Tepat saat Ren
dan yang lainnya berbalik dan mulai berjalan...
"A-A-Anu,
jangan-jangan kamu adalah...!"
"K-Kamu
tidak mungkin────!?"
Suara terkejut
kedua orang itu mencapai punggung Ren dan Licia.
"Bohong!?
Jadi anak laki-laki yang dibilang Licia lebih kuat darinya itu──── be-benar
juga! Dia adalah orang yang menjadi perwakilan siswa bersama Licia……!"
"A-Ah benar! Kalau begitu, dia memang benar-benar si 'Rumor' itu……!"
Mendengar
suara yang masih terdengar itu, Licia bertanya kepada Ren dengan nada riang.
"Tadi
aku yang mengajakmu pergi, tapi apa menurutmu sebaiknya kita bicara dulu dengan
mereka berdua?"
"Tidak
perlu, toh kita akan berada di kelas yang sama, jadi akan ada banyak kesempatan
untuk bicara. Untuk hari ini,
mari kita prioritaskan apa yang harus diprioritaskan."
"Fufu────
iya. Mari kita lakukan itu."
Di
samping Licia yang berjalan dengan langkah ringan...
(Benar-benar
banyak yang berubah, ya.)
Seharusnya,
perwakilan siswa dijabat oleh murid lain. Kehadiran Ren telah mengubah hal itu,
dan segalanya—mulai dari pertemuan dengan Chronoa hingga reuni dengannya—adalah
perkembangan yang baru.
Ren tidak
lagi merasakan ketakutan terhadap Institusi Militer Kekaisaran seperti yang ia
rasakan dulu.
Sekarang,
keinginan untuk tumbuh yang sudah lama bersemayam di hatinya serta kesiapan
untuk menghadapi ujian yang menanti justru semakin menguat.
"Ren, kau
kelihatan senang sekali."
"Aku
memang senang. Rasanya sangat antusias."
Karena,
ini baru dimulai.
Kisah
hingga Ren masuk ke akademi berakhir sampai di sini.
Bisa
dibilang, ini adalah bab pembuka baginya.
Karena
cerita utama dimulai dari saat ia masuk sekolah setelah event awal di
gim Seven Heroes Legend I berakhir, maka kejadian sejauh ini pastilah
bab pembuka.
Meskipun
ini bukan di dalam gim, setidaknya itulah yang ia rasakan di dalam hatinya.
"Ren-kun!
Selamat atas penerimaanmu!"
Para siswa lama
terkejut melihat Fiona yang tampak senang menyapa seorang lawan jenis.
"Aku melihat
pidato perwakilanmu tadi, lho."
"Kalau
dibilang begitu secara resmi, rasanya agak malu. Apa tadi kakiku tidak
gemetar?"
"Aduh, mana
mungkin begitu."
Kehadiran Fiona
pun sama. Dia yang seharusnya kehilangan nyawa, kini masih hidup.
Sama seperti
sebelumnya, pasti akan ada cerita baru yang menanti di masa depan.
(……Tapi, bab
pembukanya panjang sekali, ya.)
Ia telah
bertarung berkali-kali, melewati pertempuran hidup dan mati.
Hal-hal yang
tidak akan dialami oleh orang yang hidup normal pun sudah ia rasakan
berkali-kali.
◇◇◇
Jadi, bagaimana
kalau awal dari cerita utama ini dimulai seperti ini?
Sebuah awal yang
jauh lebih penuh gejolak dibandingkan orang lain, namun diiringi dengan
kebahagiaan yang sepadan.
Angin musim semi
yang nyaman membelai rambut Ren.
Seolah menyatu
dengan keriuhan di sekitarnya, Ren bergumam dengan suara lirih.
Itu pastilah
kata-kata untuk menegaskan kembali perasaannya. Untuk membenarkan cara hidupnya
selama ini, dan agar kehidupannya ke depan dipenuhi dengan cahaya.
Terhadap segala
hal yang telah ia lakukan, Ren menuangkan seluruh perasaannya ke dalam
kata-kata.
"Baiklah────
Mari kita mulai cerita utamanya."
Terlahir kembali
sebagai karakter antagonis di balik layar, inilah takdir aneh yang ia hadapi.
Awal yang sesungguhnya pasti dimulai pada hari ini.



Post a Comment