NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 4 Chapter 1

Chapter 1

Di Musim Semi Tahun Pertama


Akademi Militer Kekaisaran dalam beberapa tahun terakhir ini menarik perhatian lebih besar dari dalam maupun luar negeri dibandingkan sebelumnya.

Angkatan yang masuk dua tahun lalu menjadi sorotan bukan hanya karena insiden di Pegunungan Baldur, tetapi juga karena keterlibatan putri dari Ulysses Ignat yang tersohor itu.

Selain itu, tahun lalu ada dua anak dari keluarga Great British yang mendaftar, dan tahun ini bertambah dua orang lagi.

Di antara mereka, ada Vane yang mewarisi darah Sang Pahlawan, Ruin. Namun, saat ini belum ada yang mengetahui hal itu selain Ren.

 

Pertengahan April, saat para murid baru mulai terbiasa dengan kehidupan akademi dan beberapa pelajaran mulai berjalan dengan sungguh-sungguh.

Di Akademi Militer Kekaisaran saat ini, ada dua orang yang paling mencuri perhatian murid laki-laki maupun perempuan. Mereka kebetulan berpapasan di depan gerbang sekolah.

Licia yang akan genap berusia empat belas tahun pada musim panas nanti, dan Fiona yang hampir menginjak enam belas tahun. Keduanya adalah gadis-gadis jelita yang kecantikannya tak tertandingi.

Kepolosan Licia kini makin terasah, tubuhnya pun semakin tinggi dan mulai menunjukkan kedewasaan. Begitu pula dengan Fiona. Kecantikannya yang sudah menjadi pusat perhatian sejak pendaftaran kini kian memukau, ditambah keimutan yang tak boleh dilupakan, benar-benar memikat mata lawan jenis.

Mereka adalah gadis-gadis dengan aura misterius, memiliki perpaduan antara keimutan dan kecantikan dalam keseimbangan yang sempurna.

"Licia-sama."

Saat mereka melangkahkan kaki ke dalam gedung sekolah, Fiona memanggil Licia.

Dia merasa heran karena tidak melihat sosok Ren dan bertanya-tanya apakah terjadi sesuatu.

"Apakah Ren-kun absen hari ini?"

"Dia bilang kalau sempat, dia akan datang siang nanti. Aku tidak tahu alasannya, tapi sepertinya dia memutuskannya setelah bicara dengan Ayah pagi tadi. —Entahlah, aku benar-benar tidak tahu alasannya."

"……Mengatakan hal yang sama sampai dua kali, berarti Licia-sama sedang tidak puas, ya."

Fiona tersenyum kecut namun tetap terlihat cantik. Di sampingnya, Licia yang sedikit mengerucutkan bibir juga tampak menawan bagaikan lukisan.

Mereka berniat mengobrol sejenak sebelum pelajaran dimulai. Setelah mampir ke ruang guru, mereka memutuskan untuk berjalan menuju atap sekolah.

"Padahal aku pikir kami akan berangkat bersama, tapi tiba-tiba saja cuma Ren yang dipanggil ke ruang kerja Ayah…… Lalu saat Ren keluar, dia langsung bilang kalau dia akan absen di jam pagi!"

Di akademi ini, sebenarnya tidak perlu melapor satu per satu jika ingin absen. Namun karena ini baru awal semester dan Ren menjabat sebagai perwakilan murid baru bersama Licia, dia merasa setidaknya harus memberi kabar.

Fiona yang mendengarkan penjelasan itu tampak berpikir heran sambil meletakkan tangan di bibirnya.

"Bahkan tidak memberi tahu alasannya kepada Licia-sama…… Apalagi setelah bicara dengan Viscount Clausel, aku merasa pasti terjadi sesuatu."

"Benar, kan…… Mengingat kejadian Menara Jam Besar musim panas lalu juga."

"Tapi, Viscount Clausel juga tidak memberi tahu Anda?"

"Iya. Ayah cuma bilang 'jangan dipikirkan' kepadaku."

Tiba-tiba, mereka mendengar suara murid-murid perempuan di taman tengah.

"Eh, kamu dengar tidak? Anak-anak kelas satu itu kabarnya hebat banget di Guild. Katanya kemarin mereka sudah naik ke D-Rank."

"Wah, hebat! Padahal masih kelas satu tapi sudah sekuat itu!"

"Yah, namanya juga putri dari keluarga Riohard. Katanya anak laki-laki di sampingnya itu juga seimbang atau mungkin lebih kuat darinya. Makanya mereka langsung aktif begitu masuk sekolah."

Mendengar nama Riohard, sepertinya mereka sedang membicarakan anak-anak dari Tujuh Keluarga Bangsawan Besar yang ada di akademi ini.

Tujuh Keluarga Bangsawan Besar adalah klan yang memiliki leluhur Tujuh Pahlawan yang berhasil menaklukkan Raja Iblis. Sebagai bangsawan agung Leomel yang dikenal sebagai pemimpin faksi pahlawan, mereka memang selalu menjadi pusat perhatian.

Topik pembicaraan murid-murid itu segera beralih ke arah Licia dan Ren.

"Kalau kelas satu, Saintess dari Clausel juga hebat, sih. Terus dengar-dengar anak laki-laki yang jadi perwakilan murid baru itu juga kelihatan menjanjikan."

"Kalau soal Saintess, aku sudah sering dengar dia hebat. Tapi kalau anak laki-laki itu, bagaimana ya?"

"Adikku masuk kelas beasiswa dan dia bilang, waktu ujian masuk, hampir semua monster dikalahkan oleh Saintess. Anak laki-laki itu katanya jarang pakai pedang. Kalaupun pakai, monsternya sudah lemah jadi kekuatannya tidak kelihatan."

Mendengar percakapan itu, Fiona berbicara kepada Licia.

"Saat ujian akhir dulu, apakah Ren-kun memang jarang bertarung?"

"Iya. Ren lebih banyak mengawasi sekitar agar peserta ujian lain tidak terluka."

Tak perlu dikatakan lagi bahwa Ren sangat berperan di Pegunungan Baldur, namun saat ujian, dia memang lebih banyak mengambil peran pendukung. Para penguji melihat tindakan Ren tersebut dengan baik, sehingga hal itu tercermin dalam nilainya.

"Katanya tahun depan anggota keluarga bangsawan besar lainnya juga akan masuk ke sini."

Bisa dibilang, Sarah dan yang lainnya adalah sosok yang menerima pujian di panggung utama.

Sebaliknya, peran Ren maupun Radius mungkin lebih seperti pahlawan di balik layar.

Rakyat Clausel dan penduduk desa tempat Ren lahir memang tahu kehebatannya. Namun jika bicara soal siapa yang lebih menarik perhatian publik, jelas itu adalah keturunan Tujuh Pahlawan atau kelompok Vane.

Meski begitu, Licia dan Fiona tampak tidak peduli.

Sebagai sesama orang yang nyawanya pernah diselamatkan oleh Ren, mereka bangga karena mengetahui kekuatan Ren lebih baik daripada siapa pun.

 

Setibanya di depan ruang guru, Licia masuk sendirian.

Dia memberi tahu wali kelas bahwa Ren tidak datang ke akademi saat ini dan baru akan hadir siang nanti jika ada waktu.

"Ah, aku mengerti situasinya."

Karena akademi ini berisi bangsawan dan bangsawan dari negara lain, banyak murid yang absen tanpa menjelaskan alasannya secara detail.

Wali kelas sudah terbiasa dengan hal itu, jadi dia tidak bertanya lebih dalam dan hanya mengangguk pelan.

Tepat sebelum Licia keluar dari ruang guru, percakapan para staf pengajar terdengar di telinganya.

"Pangeran Ketiga akan datang paling cepat siang nanti, atau absen jika tidak memungkinkan."

"Mungkin urusan resmi kekaisaran."

Licia bergumam, "Pangeran Ketiga juga?" lalu keluar dari ruangan.

Dia tampak berpikir keras di depan Fiona yang menunggu di koridor, lalu berkata "Ayo pergi" dan mulai berjalan menuju atap.

Kemudian Fiona bertanya,

"Ada apa?"

Dia menyadari ada yang berbeda dari sikap Licia dibanding sebelumnya.

"Aku tidak sengaja mendengar di ruang guru, sepertinya Pangeran Ketiga juga absen."

"……Di hari yang sama dengan Ren-kun?"

Mendengar itu, Fiona memikirkan hal yang sama dengan Licia.

Alih-alih sekadar berpikir, mereka berdua tampak sangat yakin dan berseru bersamaan, "Jangan-jangan……"

"Licia-sama."

"Fiona-sama."

Suara mereka kembali beradu saat mereka berdua membuka pintu atap secara bersamaan.

"Tidak mungkin cuma kebetulan kalau Ren-kun dan Pangeran Ketiga absen di hari yang sama!"

"Apalagi katanya dia diberi tugas oleh Ayah—pasti mereka sedang menyembunyikan sesuatu!"

Karena tidak ada murid lain di atap, mereka berdua mengutarakan pendapat dengan suara yang agak keras.

Sudah jelas dan bisa ditebak, mereka memiliki pemikiran yang sama. Mengingat insiden Menara Jam Besar, tidak mungkin absennya Ren dan Radius secara bersamaan ini tidak saling berkaitan.

Mereka saling menatap dan mengangguk satu sama lain.

……Lagi-lagi, sepertinya mereka melakukan sesuatu tanpa memberi tahu kita, ya.

Kalimat yang benar-benar identik itu kembali terucap hampir secara bersamaan.

Melihat Licia dan Fiona bisa datang ke akademi tanpa masalah, sepertinya kejadian yang sedang berlangsung bukanlah keributan yang sangat besar.

 

Di saat yang sama, jauh di dalam pegunungan yang terpisah dari Ibu Kota Kekaisaran dan Erendil.

Di tempat yang penuh dengan tebing terjal dan bebatuan tajam, seorang pemuda berdiri bersama dua orang ksatria.

Pertarungan mereka melawan monster yang ada di hadapan mereka sudah hampir mencapai akhir.

(……Aku harus menyelesaikannya sekarang!)

Ren membatin dengan kuat.

Dia yang berusia empat belas tahun—sedikit lebih tua dari Licia—memiliki paras rupawan yang mewarisi kelembutan wajah ibunya, Mireille, serta ketegasan wajah ayahnya, Roy. Penampilan androginusnya itu sering kali mencuri perhatian murid-murid perempuan.

"Tuan Ren!"

"Makhluk itu berniat terbang ke atas!"

Mendengar teriakan para ksatria yang mengenakan zirah hitam pekat itu, Ren berlari menaiki dinding batu.

Permukaan batu yang tajam itu bisa dengan mudah menembus tubuh manusia jika ada yang terpeleset dan jatuh.

Namun, Ren menggerakkan kakinya tanpa rasa takut sedikit pun. Dia mengejar sang monster yang terbang ke atas seolah sedang membelai lereng yang curam.

"Tuan Ren!? Jangan-jangan—!"

Monster yang dia kejar adalah burung raksasa dengan dua pasang sayap lebar.

Seluruh bulu dan sayap monster itu berwarna hijau pekat.

 

Waktu berputar kembali ke pagi hari, sebelum Ren berpisah dengan Licia.

Sejak pagi, utusan dari Pangeran Ketiga Radius datang ke kediaman Clausel dan meninggalkan sepucuk surat.

"Ada monster kuat yang terbang ke tempat terpencil. Informasinya belum dipublikasikan, tapi tadi malam ada petualang yang terluka. Namun, sebelum meminta bantuan militer atau Guild untuk menaklukkannya, aku ingin memantau situasinya di bawah komandoku. Karena belum lama sejak keributan di Menara Jam Besar, aku ingin ini selesai secepat mungkin."

Karena ada kemungkinan keterlibatan Kultus Raja Iblis, Radius ingin meminjam kekuatan Ren.

Saat ini tingkat bahayanya tidak terlalu tinggi, tetapi mereka ingin segera mengambil tindakan. Lezard pun memanggil Ren yang baru saja selesai sarapan ke ruang kerjanya sebelum berangkat ke akademi.

"────Begitulah situasinya."

"Aku mengerti. Aku akan pergi untuk memastikannya, demi berjaga-jaga."

Karena di surat itu tertulis ajakan untuk bertemu di Ibu Kota, Ren berangkat ke akademi bersama Licia seperti biasa, lalu berpisah dengannya di luar gerbang.

"……Tugas dari Ayah?"

"Kami membicarakannya sebelum meninggalkan kediaman. Kalau lancar, aku akan masuk sekolah siang nanti."

Licia tampak heran, namun akhirnya dia mengangguk kepada Ren.

 

Saat Ren berjalan sendirian di Ibu Kota, seorang ksatria dari Biro Singa Suci memanggilnya.

Dipandu oleh ksatria tersebut, Ren menuju sebuah kereta kuda yang terparkir diam-diam di sebuah gang tersembunyi. Di dalamnya, Radius sudah menunggu.

"Terima kasih sudah datang."

"Tidak masalah. Jadi, detailnya?"

"Ini datanya. Tolong periksa."

Data yang diterima Ren berisi informasi tentang monster bernama "Shinrin-Krai".

Berdasarkan indikator Guild, kekuatannya setara dengan C-Rank tingkat bawah.

Itu adalah monster kuat yang biasanya tidak mendiami wilayah sekitar sini.

"Nafsu makannya sangat besar. Sesuai namanya, dia bisa melahap habis seluruh isi hutan."

"Iya, aku pernah dengar."

"Normalnya, monster ini tidak akan muncul di dekat Ibu Kota. Jika kita berhasil menaklukkannya, aku ingin menggunakan skill Analyze milikku untuk memeriksa apakah ada hal yang mencurigakan. Tentu saja, aku tidak berniat membiarkanmu sendirian. Aku akan menyertakan ksatria Biro Singa Suci. Unit lain juga sudah diterjunkan ke berbagai titik."

Secara umum, untuk melawan monster D-Rank dibutuhkan setidaknya lima ksatria dewasa.

Meski kekuatan monster dalam peringkat yang sama bisa berbeda-beda, Ren pernah mendengar saat insiden Thief Wolfen bahwa itu adalah jumlah minimum yang diperlukan.

Lalu bagaimana dengan C-Rank? Tentu saja jumlah personelnya harus disiapkan beberapa kali lipat lebih banyak.

Tentu saja, ceritanya akan berbeda bagi ksatria atau petualang yang memiliki kekuatan luar biasa.

"Monster ini peringkatnya lumayan tinggi, apa kau sanggup bertarung?"

Bagi Ren maupun ksatria Biro Singa Suci, perhitungannya berbeda.

Dengan segelintir ksatria elit dan pengguna pedang hebat yang melampaui mereka, rasa takut tidaklah diperlukan.

"Tenang saja. Tidak masalah."

Sebagai pengguna Great Sword yang sudah mencapai tingkat Master, dan setelah melewati musim panas itu kekuatannya kian bertambah, tidak ada keraguan sedikit pun dalam suara Ren.

 

Dan sekarang.

Ren mengayunkan pedang sihir besinya ke udara, melepaskan tekanan pedang yang membelah langit.

Shinrin-Krai kehilangan keseimbangan di udara. Pada saat itulah monster itu melihat Ren mendekat dengan kecepatan tinggi setelah menendang dinding gunung dengan kuat.

"GRAAAAAAAA!"

Shinrin-Krai memekik nyaring yang menusuk telinga, sambil mengepakkan sayapnya dengan paksa.

Kilatan listrik ungu yang menyelimuti permukaan sayapnya menyambar ke arah Ren dengan suara berderak.

Ren sama sekali tidak merasa terancam. Hanya dengan satu ayunan pedang sihir besi, dia menggunakan Arts: Star Slasher untuk melenyapkan semuanya.

"Maaf. Aku tidak bisa melepaskan monster yang sudah menyerang manusia."

Shinrin-Krai mengerahkan sisa kekuatannya menghadapi vonis Ren.

Karena serangan sihirnya tidak mempan, monster itu melawan balik menggunakan seluruh tubuhnya sebagai senjata, mulai dari sayap hingga paruhnya.

"GRUUUUUU!"

Tentu saja serangan itu membuktikan kekuatannya yang sesuai dengan reputasi di Guild.

Saat cakar di ujung sayapnya melesat melewati sisi tubuh Ren, tekanan anginnya menciptakan luka sayatan di lengan pemuda itu.

Namun, serangan berikutnya berhasil dibaca oleh Ren. Sebaliknya, sebagian besar sayap monster itu justru tertebas oleh pedang sihir besi miliknya.

Serangan terakhir Shinrin-Krai yang habis-habisan itu terasa kuat bahkan bagi Ren yang sudah berkembang.

Kekuatan fisik yang tidak dimiliki Thief Wolfen maupun Steel-Eating Gargoyle kini memberikan sensasi baru bagi Ren.

Setiap kali sayap raksasa itu bergerak, badai angin tercipta, dan cakar di ujungnya terus mengincar Ren.

Shinrin-Krai menyadari dia tidak akan bisa kabur selama Ren masih ada. Dengan segala serangan yang tersisa, dia mencoba mengempaskan Ren hingga menabrak dinding gunung.

Meski begitu, Shinrin-Krai tidak menggunakan kesempatan ini untuk lari.

Entah kenapa, dia merasa Ren yang berada di balik kepulan debu itu tidak akan pernah melepaskannya.

"GRRRUUUUUAAAAAA—!"

Oleh karena itu, demi menghabisi Ren, monster itu menerjang meski keseimbangannya goyah akibat sayap yang tersayat.

Seluruh tubuhnya diselimuti listrik ungu, dengan ujung paruh tajam yang diarahkan ke dinding batu tempat Ren terbentur.

Namun, upaya itu sia-sia.

Kilatan pedang bersinar jauh di atas kepala para ksatria, dan Shinrin-Krai pun terhenti di udara.

Tepat sebelum jatuh karena gravitasi, tubuh Shinrin-Krai terbelah secara vertikal mulai dari dada, leher, paruh, hingga kepalanya.

Para ksatria yang berada di titik jatuh melihat Ren di balik kepulan debu.

Dia berdiri bersandar pada pedang sihir besinya di atas dinding batu yang hancur, sambil tersenyum.

 

Setelah pertempuran usai, Ren dan Radius menaiki kereta sihir menuju akademi.

"────Sudah kubilang berkali-kali, kau terlalu nekat."

Ucap Radius di dalam ruang privat yang biasa digunakan kaum bangsawan.

"Eh? Apanya?"

Saat Ren bertanya dengan nada santainya yang biasa, alis Radius sedikit berkedut.

"Maka dari itu, menurutmu untuk apa aku menyertakan ksatria bersamamu! Aku tahu kau bisa mengalahkan C-Rank, tapi aku menyertakan dua ksatria supaya kau tidak terluka!"

"Maaf, maaf. Karena aku tidak mau dia kabur, jadi aku kelepasan."

"Haa…… Sudahlah. Karena tidak terjadi sesuatu yang serius, anggap saja masalah selesai."

Dua ksatria yang mendampingi Ren tadi sudah bekerja cukup baik sebelum Shinrin-Krai terbang.

Karena Shinrin-Krai menyadari kekalahannya dan mencoba terbang menjauh, Ren yang tidak ingin monster itu kabur walau hanya satu persen pun, akhirnya memamerkan kekuatan kasarnya.

(……Lagi pula, Pedang Sihir Api sangat boros energi.)

Tiba-tiba, pintu ruangan mereka diketuk.

Melalui jendela kaca pintu, terlihat sosok seorang ksatria.

"Aku keluar sebentar."

"Sip, oke."

Karena ksatria di luar memanggil Radius, Ren kini sendirian di dalam gerbong.

Di sana, dia memeriksa poin kemahiran (Mastery) yang baru saja didapatkannya dari pertarungan hari ini.

Dia kembali menyadari bahwa kecepatan perolehan kemahirannya melambat belakangan ini, terutama karena dia lebih fokus sebagai peserta ujian.

Hal ini berkaitan dengan bertambahnya waktu belajar untuk ujian sejak dua tahun lalu, serta berkurangnya kesempatan berburu ke luar kota dibandingkan saat dia masih di Clausel.

Sebagai gantinya, sejak dia mulai mengasah pedang di Biro Singa Suci, dia berhasil mendapatkan berbagai Arts dan kemampuan berpedangnya telah berkembang pesat dibandingkan sebelumnya.

Selain itu, ini adalah hal yang sangat mencolok terutama sejak dia mengalahkan Asval.

Berbeda dengan saat dia mengalahkan monster lemah seperti Little Boar, kini sering kali muncul perbedaan antara poin kemahiran yang didapat oleh teknik pemanggilan pedang sihir (Magic Sword Summoning) dengan poin yang didapat oleh pedang sihir itu sendiri.




***

[NAMA]

Ren Ashton

[JOB] Putra Sulung Keluarga Ashton


[ SKILL ]

Magic Sword Summon Lv. 1 (0 / 0)

Magic Sword Summoning Arts Lv. 5 (3129 / 5000)

  • Memperoleh kemahiran dengan menggunakan pedang sihir yang dipanggil.
  • Level 1: Dapat memanggil [Satu] pedang sihir.
  • Level 2: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Small)] saat memanggil gelang.
  • Level 3: Dapat memanggil [Dua] pedang sihir.
  • Level 4: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Medium)] saat memanggil gelang.
  • Level 5: Membuka Evolusi Pedang Sihir.
  • Level 6: Mendapatkan efek [Physical Ability UP (Large)] saat memanggil gelang.
  • Level 7: ********************

[MAGIC SWORDS YANG DIPEROLEH]

Great Tree Magic Sword Lv. 3 (1328 / 2000)

  • Memungkinkan serangan setingkat Nature Magic (Medium).
  • Jangkauan efek serangan akan meluas seiring meningkatnya level.

Iron Magic Sword Lv. 3 (4253 / 4500)

  • Ketajaman meningkat seiring dengan kenaikan level.

Thief's Magic Sword Lv. 1 (0 / 3)

  • Merampas item secara acak dari target serangan dengan probabilitas tertentu.

Shield Magic Sword Lv. 2 (0 / 5)

  • Membentangkan dinding sihir pelindung.
  • Kekuatannya meningkat dan jangkauan efeknya meluas seiring kenaikan level.

Flame Magic Sword Lv. 1 (1 / 1)

  • Api nerakanya adalah perwujudan dari kemurkaan naga, sebuah manifestasi dari kekuatan murni.


"Yah... begini sajalah."

Ren bergumam sambil menghela napas panjang, tepat saat Radius kembali ke hadapannya.

"Kenapa menghela napas begitu? Ada masalah?"

"Tidak ada. Lalu, bagaimana dengan urusanmu?"

"Ah, sebelum berangkat tadi, para ksatria sedang berkoordinasi dengan Guild. Mereka datang untuk melaporkan rangkuman informasi itu kepadaku."

"Koordinasi dengan Guild soal apa?"

Radius kembali duduk di hadapan Ren.

Di tangannya terdapat beberapa lembar kertas. Sambil menyilangkan kaki, ia menyentuh isi yang tertulis di lembar pertama.

"Mengingat korban luka kemarin adalah seorang petualang, kami tidak bisa tidak melapor pada Guild. Memang merepotkan, tapi aku sudah menjelaskan semuanya, termasuk bagaimana masalah ini ditangani."

"Heh—aku pikir kau bakal menggunakan wewenangmu untuk merahasiakannya."

"Bisa saja, tapi bukankah sudah kukatakan kalau korbannya petualang? Pihak Guild memang belum mengumumkannya, tapi mereka sudah hampir mengeluarkan surat buronan."

Namun, poin utamanya adalah Ren telah menumbangkan target tersebut sebelum surat buronan itu sempat disebarkan.

"Jadi, aku butuh tanda tanganmu di beberapa dokumen. Sisanya biar aku yang urus."

"Tanda tangan untuk apa?"

"Karena mereka sudah hampir merilis surat buronan, artinya persetujuan hadiah dan biaya lainnya sudah turun di internal Guild. Terlepas dari imbalan pribadi dariku, kau berhak menerima berbagai hadiah tersebut."

"Ah, begitu ya. Tapi—"

"Para ksatria sedang dalam tugas resmi, jadi mereka tidak punya hak menerima imbalan itu. Sebagai gantinya, aku akan memberikan tunjangan yang cukup bagi mereka, jadi kau tidak perlu merasa tidak enak."

"Hebat ya. Semua yang kupikirkan langsung kau tebak."

"Ini kan soal kau. Aku sudah bisa menduga sebagian besar isi kepalamu."

Ada beberapa dokumen di sana; hadiah penyelesaian permintaan, estimasi biaya dari penjualan bahan baku Shinrin-Krai, serta izin pembayaran untuk semua itu. Adapun batu sihir Shinrin-Krai tidak masuk hitungan karena hancur setelah Ren menyerap kekuatannya.

Bahan baku dari Shinrin-Krai akan dibeli borong oleh pihak istana. Radius akan memeriksa jasadnya nanti untuk memastikan apakah ada keterlibatan dengan Pemuat Raja Iblis atau tidak.

Meskipun menggunakan standar penilaian Guild, total nominal yang tertera tetap saja sangat fantastis.

"Aku bisa dapat sebanyak ini?"

"Gunakan saja untuk biaya sekolah—ah, tidak. Kau kan sudah menyiapkan biaya sekolah sendiri. Mungkin untuk kampung halamanmu juga bagus."

"Benar juga, tapi belakangan ini ayah dan ibu menyuruhku menggunakan uangku untuk diri sendiri. Mereka bilang sudah tidak perlu kiriman uang lagi."

"Kalau begitu tabung saja. Suatu saat nanti pasti akan berguna."

Ren memutuskan untuk mengikuti saran itu dan membubuhkan tanda tangannya.

Namun, selain dokumen terkait penjualan, ada hal lain yang memerlukan tanda tangan Ren. Saat Ren memeriksanya, ternyata itu mengenai peringkat Guild.

"Sepertinya peringkat Guild-ku naik."

"Tentu saja. Sebelum masuk akademi pun kau sudah mengambil banyak pekerjaan di Guild, kan? Kalau tidak salah, ada juga permintaan dari Ulysses."

"Iya. Seperti tugas mengawal pedagang kenalan Nona Ulysses."

Jadi, ini adalah laporan yang menyatakan peringkat Guild Ren telah berubah.

'Dengan ini mengakui individu berikut sebagai peringkat B.'

Karena kelelahan setelah ujian masuk, Ren sesekali mengambil pekerjaan di Guild selama musim dingin lalu untuk penyegaran, yang membuatnya naik ke peringkat C.

Kini, berkat penumpasan kali ini, peringkatnya naik satu tingkat lagi.

(Pelajaran sore sepertinya aku masih bisa ikut di tengah-tengah.)

Di balik lengan kemeja yang dikenakan Ren, tampak perban melilit pergelangan tangannya. Itu adalah bekas luka sayat dari pertarungan hari ini yang sudah diobati dengan ramuan, lalu dibalut perban untuk berjaga-jaga.

Namun, dia tidak terlalu memikirkannya.

Sambil menatap pemandangan ibu kota kekaisaran yang membentang di luar jendela kereta, dia mulai berpikir... apa ya pelajaran sore ini?

◇◇◇

Sore ini adalah jadwal pelajaran Farmakologi, yang dilaksanakan di ruang kelas khusus.

"Dalam Farmakologi, tungku distilasi dan tungku alkimia adalah hal yang sangat krusial. Kalian semua pasti tahu bahwa keduanya wajib ada dalam pembuatan ramuan."

Di salah satu sudut gedung Akademi Militer Kekaisaran, tepatnya di ruang kelas Farmakologi.

Begitu Ren berdiri di depan pintu kelas, suara profesor yang mengajar terdengar dari dalam.

Setelah mengatur napas, Ren membuka pintu perlahan dan melangkah masuk.

Di ruangan yang dipenuhi rak tabung reaksi serta berbagai tanaman obat dalam pot itu, seorang profesor tua yang tampak bersahaja langsung menoleh ke arah Ren.

Kemudian, sekitar tiga puluh murid kelas beasiswa mengikuti arah pandangannya.

"Mohon maaf, saya terlambat."

"Aku sudah mendengar kabarnya. Ayo, segera duduk."

Ren berjalan melintasi kelas menuju kursinya yang berada di sebelah Ricia.

Begitu Ren duduk, Ricia memberikan tatapan yang seolah ingin mengatakan sesuatu. Diam-diam, agar tidak terlihat orang sekitar, dia menarik lengan baju Ren.

Saat menyadari ada perban yang melilit di sana, Ricia menyunggingkan senyuman yang sangat manis.

Namun anehnya, senyuman itu terasa penuh tekanan.

"Nanti ceritakan padaku, ya?"

"......Baik."

Karena sekarang sedang pelajaran, Ricia akan mendengarnya nanti saja—tekad kuat itu tersampaikan dengan sangat jelas kepada Ren.

"Alasan mengapa tungku distilasi dan tungku alkimia wajib ada dalam pembuatan ramuan adalah—"

Dari sekian banyak murid, profesor memilih Ren—sang perwakilan siswa saat upacara penerimaan—untuk menjawab.

"Ashton, maaf ya padahal kau baru saja sampai. Aku ingin bertanya padamu. Tahukah kau alasan penggunaan tungku distilasi dalam pembuatan ramuan?"

Ditunjuk seperti itu, Ren langsung berdiri dan menjawab tanpa ragu.

"Untuk memisahkan kandungan air dari komponen aktif yang dimiliki oleh tanaman obat."

"Bagus sekali. Semuanya, apa yang dia jawab adalah dasar dari pembuatan ramuan. Kalian pasti sudah mempelajarinya saat ujian masuk. Namun, di kelas ini, aku ingin kalian mempelajari pengetahuan yang lebih mendalam."

Sambil tersenyum ramah, profesor itu kembali menatap Ren.

"Omong-omong Ashton, bagaimana cara meningkatkan khasiat dari komponen yang telah dipisahkan tersebut?"

"Itu bervariasi, tergantung pada komponen yang diekstraksi dari tanaman obatnya."

"Lalu, apakah kau tahu metode apa saja yang bisa digunakan?"

"Saya tahu beberapa. Misalnya—"

Seiring dengan mengalirnya pengetahuan yang melampaui kurikulum tahun pertama dari mulut Ren, profesor itu mengelus janggut putihnya sambil tersenyum lebar.

"Luar biasa. Tampaknya Ashton sudah belajar dengan sangat baik."

Suara lonceng bergema.

Mendengar tanda berakhirnya pelajaran, profesor itu bergumam, "Baiklah."

"Cukup sampai di sini untuk hari ini. Jangan lupa mengulas kembali pelajaran ini untuk pertemuan berikutnya."

Setelah meninggalkan pesan itu, sang profesor keluar dari kelas.

Mengikuti murid-murid lain yang mulai berdiri satu per satu, Ricia dan Ren pun ikut bangkit.

"Ren, ayo pergi."

Karena Radius bilang boleh menceritakan kejadian hari ini kepada Ricia dan yang lainnya, Ren tidak berniat menyembunyikannya.

Begitu berdiri, Ricia tersenyum kecil.

"Yang tadi itu juga hasil belajarmu?"

"Dulu di desa ada nenek apoteker bernama Rigu. Aku banyak mendengar berbagai hal darinya."

"Fufu, begitu ya."

Ren yang membalas dengan tawa canggung akhirnya meninggalkan kelas bersama Ricia.

Setelah pergi ke ruang kelas kosong agar tidak menarik perhatian, Ricia menginstruksikan Ren untuk menyingsingkan lengan bajunya.

"Diam ya, biar kusembuhkan."

Ricia menempelkan tangannya di lengan Ren, lalu menggunakan Holy Magic untuk memulihkan lukanya.

Luka sayat yang tersembunyi di balik perban itu terbungkus cahaya. Rasa panas dan nyeri yang tadi dirasakan Ren seketika sirna tanpa sisa.

"Nona Ricia, bukankah Holy Magic Anda jauh lebih kuat dari sebelumnya?"

"Ah, mungkin saja."

Ricia mengatakan bahwa peningkatannya terasa sangat nyata sejak musim panas tahun lalu.

Ren bertanya-tanya, seberapa jauh gadis ini akan tumbuh dengan kecepatan yang bisa dibilang drastis ini?

"Bagaimana lukanya? Sudah tidak sakit lagi?"

"Sudah tidak apa-apa. Malah rasanya lebih segar dibanding tadi pagi."

"Jangan bicara yang aneh-aneh. Hanya karena aku bisa menyembuhkanmu, bukan berarti kau boleh bertindak nekat, tahu."

Keduanya tertawa bersama.

Namun, sebelum Ren sempat menceritakan apa yang dia lakukan tadi, perhatian mereka teralih oleh suara murid-murid yang terdengar dari balik jendela yang terbuka.

—Nanti pulang lewat mana? —Mau belanja dulu tidak? —Setuju! Ayo, ayo!

Murid-murid sebaya mereka sedang membicarakan rencana setelah sekolah usai.

Ren dan Ricia berdiri di dekat jendela, menatap ke luar di antara tirai yang bergoyang tertiup angin.

Lalu, tanpa sadar Ricia bergumam.

"Hei, Ren. Tidakkah kau merasa lucu kita bisa sekolah bersama di akademi ini?"

Ren segera memahami makna di balik kata-kata itu.

"Padahal dulu aku menolak ajakan Viscount Given, tapi sekarang malah berangkat sekolah bersama Nona Ricia."

"Kan? Aku merasa benar-benar banyak hal yang sudah terjadi."

Mengingat masa lalu yang menjadi landasan bagi masa kini, Ren pun merasa sangat terenyuh.

Ricia tertawa senang, lalu menatap profil wajah Ren dari samping.

"Tapi kita kan hampir selalu bersama sejak kecil. Wajar saja kalau banyak hal yang terjadi."

Mengenang hari-hari hingga saat ini, memang banyak hal yang telah dilalui, namun rasanya juga berlalu dalam sekejap.

Tentu saja hal itu tidak hanya berlaku bagi Ren dan Ricia, tapi juga bagi Fiona.

Setelah mendengar cerita Ren hari itu, keduanya tidak terlalu terkejut karena isinya hampir sesuai dengan dugaan mereka.

Namun, mungkin ini sudah takdir bagi mereka yang jatuh hati.

Rasa penasaran yang tak tertahankan sebelum mendengarnya langsung dari mulut Ren adalah sesuatu yang tidak bisa mereka hindari.

◇◇◇

Ren masih bisa mengingat dengan jelas hari pertama dia menginjakkan kaki di Istana Singa Suci.

Hari itu, Ren bertemu Edgar di ibu kota dan masuk ke sana atas bimbingannya.

Rasa terkejut dan ketertarikan karena bisa memasuki ruang yang tidak bisa diakses dalam 'Legend of the Seven Heroes' sempat terlupakan sejenak di depan kedahsyatan pedang yang luar biasa. Hingga kini, dia selalu terpukau oleh kewibawaan bangunan tersebut setiap kali berkunjung.

Pagi-pagi buta, Ren dan Ricia sudah mengayunkan pedang di Istana Singa Suci sebelum berangkat ke akademi.

Saat Ren yang kelelahan berbaring telentang di lantai, Ricia mendekat. Dia berjongkok di sampingnya dan memberikan handuk dingin kepada Ren.

Rasanya sangat sejuk dan nyaman saat menyentuh kulit.

"Bisa ikut pelajaran dengan benar, tidak?"

"Serahkan padaku... aku pasti siap."

"Syukurlah. Kalau begitu latihan pagi ini sudah selesa—"

"Istirahat sebentar lagi, lalu satu kali lagi sebelum selesai."

"—Kan sudah kubilang cukup. Kalau dipaksakan, kau bisa ketiduran saat pelajaran nanti."

Teguran Ricia yang memotong perkataannya itu sangatlah benar.

"......Benar juga."

Jari telunjuk Ricia menyentuh dahi Ren.

Butiran cahaya kecil yang memancar dari ujung jarinya melenyapkan rasa lelah yang mendekam di sekujur tubuh Ren.

"Kau pasti tahu, kan? Ini bukan supaya kau bisa mengayunkan pedang sekali lagi."

Sinar matahari pagi mulai turun menaungi Ricia yang tersenyum pasrah dan Ren.

Padahal saat mereka sampai tadi fajar belum menyingsing, ternyata waktu sudah berlalu cukup lama.

"Kalian berdua sangat bersemangat hari ini."

Para ksatria Istana Singa Suci menyapa mereka.

"Jadi teringat kejadian di Menara Jam Besar. Tekanan kalian bahkan melebihi saat Tuan Ren berkata malam itu, 'Aku akan menjadi singa yang menundukkan semua musuh'."

"Kami yang dewasa malah kalah duluan. Stamina kalian berdua benar-benar tidak ada habisnya."

Setelah berbincang sebentar dengan para ksatria, Ren membawa Ricia meninggalkan tempat latihan bawah tanah.

Mereka harus segera mandi dan bersiap ke akademi agar tidak terlambat. Di tengah perjalanan menuju tempat mandi, Ricia membuka suara.

Senyum seindah permata tersungging di wajahnya.

"Ternyata kau bilang mau jadi singa tepat di depan orang yang mewarisi darah Lion King, ya."

"......Saat itu kurasa aku sedang terbawa suasana."

Namun, saat itu pun tidak ada yang mencibir kata-kata Ren sebagai bentuk kesombongan, dan hingga kini pun tidak ada.

Itu murni karena kecepatan pertumbuhan Ren dan sikapnya terhadap latihan.

Ksatria Istana Singa Suci umumnya disebut monster atau elit pilihan, namun Ren dan Ricia dipenuhi bakat yang bahkan membuat para ksatria itu meragukan bakat mereka sendiri.

Mendengar perkataan Ren yang malu-malu, Ricia tersenyum kecil.

"Apakah jalan menuju Sword Saint masih jauh?"

"Iya. Meskipun sudah hampir setahun menjadi Swordmaster, aku merasakan dinding penghalang terbesar yang pernah ada."

"Sudah kuduga. Di aliran mana pun, transisi dari Swordmaster ke Sword Saint memang yang paling berat."

Sword Saint adalah segelintir praktisi kuat yang berada di atas peringkat Swordmaster, Swordsman, dan beberapa tingkatan di bawahnya. Di atas Sword Saint hanya ada Sword King yang jumlahnya hanya lima orang di dunia, sehingga secara teknis dianggap sebagai peringkat tertinggi yang bisa dicapai.

"Jika Ren terus bertambah kuat seperti ini, mungkinkah suatu saat nanti kau bisa menjadi Sword King?"

"Entahlah. Sword King itu monster yang luar biasa, jadi rasanya kurang realistis jika aku bisa mencapainya."

Ren mengingat kembali kekuatan yang dia saksikan di akhir insiden Menara Jam Besar.

Jika itu Ren yang dulu, dia pasti akan langsung bersikap pasrah dan berkata 'Mustahil!'. Tapi sekarang sedikit berbeda.

Hanya saja...

"Jika akhir dari asahan pedangku adalah Sword King—tidak apa-apa kan kalau aku sedikit membayangkannya?"

Setidaknya, dia sudah bisa mengatakan hal seperti itu untuk menyemangati diri.

"Untuk itu, pertama-tama harus jadi Sword Saint dulu."

"Begitulah. Dinding yang sangat tinggi dan kokoh sedang menghadangku, jadi Nona Ricia, nantikan saja perkembanganku."

"Tentu. Aku juga akan segera mengejarmu."

Ren berucap dengan nada bercanda yang menantang, membuat Ricia tertawa.

◇◇◇

Setelah pelajaran pagi berakhir, diadakan pertemuan seluruh siswa di Akademi Militer Kekaisaran.

Tempatnya adalah aula besar yang juga digunakan saat upacara penerimaan. Di sekitar pintu masuk setiap lantai, terlihat banyak murid berkumpul.

Waktu sebelum pertemuan dimulai diramaikan oleh suara orang-orang yang bercengkrama.

"Benar-benar terbantu berkat Ren... kurasa tugas berikutnya bisa aku atasi."

Yang berbicara adalah Vain. Pemuda yang dalam 'Legend of the Seven Heroes' berperan sebagai protagonis dengan segudang prestasi, sekaligus satu-satunya pewaris darah Pahlawan Ruin.

Ren yang berjalan di sampingnya menyahut.

"Sama-sama. Tapi kalau tidak diulas lagi, kau bakal cepat lupa."

"Aku tahu. Tapi pelajaran itu terlalu sulit. Kenapa harus sekompleks itu?"

"Aku hanya bisa bilang, 'memang sudah begitu darinya'."

"Kh... benar juga! Ren, ajari aku bagaimana caramu belajar!"

Karena Ren dan Vain sudah saling kenal sebelum masuk sekolah, mereka sering mengobrol seperti ini setelah masuk akademi.

Meskipun hubungan mereka belum bisa dibilang sahabat karib, mereka cukup akrab.

"Kalau kau membaca buku referensi sekitar sepuluh kali, kurasa sebagian besar isinya akan hafal."

"Kau bercanda, kan?"

"Tidak, aku serius. Karena aku bukan tipe orang yang serba bisa, lebih banyak hal yang kuingat dengan cara mengulanginya berkali-kali."

Dalam hal studi, Ren lebih suka belajar dengan repetisi. Dengan cara ini, dia bisa meraih nilai luar biasa dalam ujian tulis.

"Karena perwakilan siswa yang mengatakannya, pasti itu benar."

"Sebenarnya aku agak ragu mengatakan ini, tapi jika ada cara lain yang lebih praktis, lebih baik pakai itu saja."

"Tidak juga. Aku pun harus berusaha lebih keras lagi."

Keduanya melangkah masuk ke aula besar sambil terus mengobrol.

Saat menaiki tangga menuju kursi tahun pertama mereka—

—Kira-kira pertemuan hari ini soal apa ya? —Kakak kelas juga ada, pasti soal 'itu'. —Itu? Soal apa?

Suara murid-murid tahun pertama lainnya terdengar.

Tampaknya beberapa orang sudah menyadari tujuan pertemuan ini, dan Ren pun bergumam pelan, "Memang tidak salah lagi, pasti soal itu."

Di sisi lain, Vain tampak tidak mengerti dan memiringkan kepalanya.

"Vain! Di sini!"

Tiba-tiba terdengar suara siswi, membuat Ren dan Vain menoleh.

Di hadapan mereka berdiri Sarah Riohard.

Gadis yang lahir dari keluarga bangsawan agung itu adalah teman Ricia sejak mereka bertanding pedang di masa kecil.

Rambut cokelatnya berkilau elegan, dengan mata yang menyerupai batu ambar. Wajahnya yang cantik memancarkan ketegasan, sosok nona muda yang sangat menarik perhatian.

"Kalau begitu Vain, sampai nanti."

"Ah, terima kasih yang tadi ya."

Ren menuju ke beberapa baris di depan kursi Vain. Di sana terdapat kursi Ren yang berdampingan dengan Ricia.

"Habis belajar?"

"Vain bilang ada yang tidak dia mengerti, jadi cuma sebentar."

Beberapa menit setelah Ren berbincang ringan dengan Ricia, aula besar menjadi hening.

Seorang wanita dengan rambut indah layaknya benang emas, Kepala Akademi Chronoa Highland, berjalan menuju panggung dan menarik perhatian seluruh murid.

Ujung topi penyihirnya yang runcing bergoyang setiap kali dia melangkah.

Di depan seluruh murid yang berkumpul di aula besar, Chronoa menyunggingkan senyum di wajah cantiknya yang terpahat sempurna.

"Pertama-tama, untuk para murid baru—"

Awalnya dia menyinggung tentang kehidupan para murid baru, menanyakan apakah mereka sudah terbiasa dengan kehidupan akademi atau belum.

Kemudian dia berbicara tentang tahun kedua dan ketiga, dan terakhir tentang tahun keempat sebagai tingkat tertinggi.

Setelah membicarakan kehidupan akademi, Chronoa menyampaikan beberapa pengumuman rutin lainnya.

Sepuluh menit berlalu sejak Chronoa berdiri di panggung, para murid mulai tampak gelisah.

"Ibu juga akan membicarakan hal yang kalian tunggu-tunggu, kok."

Namun dia tidak lupa memberikan peringatan lembut dengan menempelkan jari telunjuk di bibirnya.

Setelah melihat para murid tenang, Chronoa melanjutkan.

"Karena tahun ini akan diadakan Festival Lion King dua tahunan, sudah saatnya kita mulai bersiap-siap!"

"Waaah!" Sorakan besar bergema dari setiap lantai.

Tanpa memberikan teguran, Chronoa terus berbicara sambil tersenyum lebar.

Sambil mendengarkan, Ren membatin tanpa suara.

(Sudah kuduga.)

Festival Lion King yang disebutkan Chronoa adalah perhelatan yang pasti melibatkan hampir seluruh murid akademi ini.

Misalnya sihir, pedang, hingga debat.

Ini adalah festival di mana perwakilan murid dari berbagai lembaga pendidikan di ibu kota bersaing dalam berbagai bidang, yang diadakan setiap dua tahun sekali.

Karena skalanya yang besar, acara ini tidak hanya berpusat pada pelajar, tapi juga menjadi acara nasional utama yang diselenggarakan oleh Kerajaan Leomel.

Berbagai panggung dan kedai akan memenuhi setiap sudut ibu kota, dan kota Erendil yang terletak dekat ibu kota pun akan ikut ramai. Banyak bangsawan dan hartawan dari dalam maupun luar negeri dipastikan akan berkunjung.

Bahkan setelah pertemuan berakhir, para murid masih tampak antusias.

Ada yang masih mengobrol di aula besar, ada pula yang sudah keluar untuk berbincang seperti Ren, Ricia, dan Fiona.

Di dekat para murid yang tampak senang itu, Chronoa melangkah pergi sambil tersenyum.

Namun Fiona, juga Ren dan Ricia, memiringkan kepala saat melihat senyuman Chronoa tiba-tiba tampak sedikit kaku.

"Apakah terjadi sesuatu...?"

"Mungkin ada hal yang dikhawatirkan soal Festival Lion King... Bagaimana Ren? Kau tidak mendengar apa-apa?"

"Tidak... tidak ada," jawab Ren sambil menggelengkan kepala.

"Sedikit mengkhawatirkan ya," sahut Fiona dengan tawa canggung yang disetujui oleh keduanya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close