Chapter 2
Komandan Great Saint Hall
Surat dari Ulysses Ignat tiba di kediaman keluarga Clausel
pada malam itu.
Yuno, pelayan yang ikut pindah ke Erendil bersama Ren dan
yang lainnya, menerima beberapa pucuk surat dari utusan keluarga Ignat.
Karena
salah satunya ditujukan untuk Ren, Yuno pun segera melangkah menuju kamar
pemuda itu.
"Kuu?"
Melihat
Yuno, Cukul yang sedang melayang santai di lorong menunjukkan ketertarikannya
pada amplop tersebut.
Cukul
adalah monster yang menetas dari Azure Bead milik Serakia setelah
persembahan berupa pecahan tanduk Asvar diberikan pasca-insiden di Pegunungan
Baldur.
Ukurannya
sebesar kucing dewasa, dengan seluruh tubuh yang diselimuti bulu halus nan
lembut.
Kini,
ia menjadi sosok maskot yang bebas berkeliaran di kediaman keluarga Clausel.
Berdasarkan
pengetahuan tentang Legenda Tujuh Pahlawan yang hanya diketahui Ren, makhluk
ini menyimpan kekuatan dahsyat yang konon pernah menyulitkan Raja Iblis.
"Selamat
malam, Cukul. Apa kamu sudah makan?"
"Kuu!
Kuu kuu!"
"Syukurlah
kalau begitu. Kalau begitu, aku pergi ke kamar Tuan Ren dulu, ya."
"Kuu~!"
Sepertinya
baru saja selesai makan, Cukul pergi menjauh dengan perasaan yang sangat
gembira.
Setelah
melepas kepergian Cukul, Yuno mengunjungi kamar Ren dan menyerahkan surat itu
saat si penghuni kamar membuka pintu.
"Ini
dari Marquis Ignat."
"Terima
kasih. ...Tapi, ada apa ya Tuan Ulysses mengirim surat?"
Setelah
memeriksa isi surat tersebut, Ren segera melangkahkan kaki menuju ruang kerja
Lezard.
◇◇◇
Di
ruang kerja Lezard, ternyata ada Licia.
Ini
waktu yang tepat, mengingat apa yang ingin Ren sampaikan sekarang.
"Ren,
ya. Ada apa?"
"Tadi
ada surat yang datang dari Tuan Ulysses, ada yang ingin kubicarakan
sedikit."
Isi
surat itu tertulis, 'Selama periode Festival Lion King, aku ingin meminta
sedikit waktumu. Ah, tapi kalau kau berpartisipasi dalam kompetisi, kau boleh
memprioritaskan hal itu.'
"Apa
alasannya tidak tertulis di sana?"
"Beliau
menulis akan menyampaikannya segera setelah semuanya diputuskan, tapi hanya
sebatas itu."
"Begitu.
Lalu, bagaimana menurutmu, Ren?"
"Aku
ingin memprioritaskan undangan Tuan Ulysses. Lagipula, aku tidak punya
keinginan khusus untuk ikut berkompetisi."
Meski
alasannya berbeda, Licia pun merasakan hal yang sama.
"Berarti
sama denganku, kamu tidak akan ikut kompetisi, ya."
"Eh,
apa Nona Licia juga tidak berpartisipasi?"
"Iya.
Sejak Ayah menjadi Viscount, banyak orang yang menyapa kami, kan? Karena akan
banyak tamu yang datang selama Festival Lion King, aku berniat menemani Ayah
menyambut mereka."
"Padahal
aku sudah bilang padanya untuk tidak usah dipikirkan."
"Tidak
boleh begitu. Ini adalah periode penting untuk memperkuat fondasi keluarga
Clausel."
Jika
situasinya begini, Ren kemungkinan besar tetap tidak akan ikut kompetisi meski
tanpa undangan Ulysses. Melindungi Lezard dan Licia jauh lebih penting baginya.
"Apa
tidak apa-apa? Padahal ini Festival Lion King yang berharga, Nona Licia juga
sebaiknya menikmatinya..."
Licia
menggelengkan kepalanya pelan.
Dari
ekspresinya, tidak terlihat ambisi khusus untuk mengikuti kompetisi di Festival
Lion King.
"Festival Lion King kan berlangsung selama seminggu?
Jadi, asalkan aku bisa berkeliling bersama Ren saat ada waktu senggang, itu
sudah cukup."
"Baiklah.
Kalau begitu, izinkan aku menemani Anda."
"Tapi,
bagaimana denganmu sendiri, Ren? Apa kamu tidak ingin memamerkan pedang yang
sudah kamu asah selama ini?"
"Tidak
juga, aku tidak mengasah pedangku hanya untuk dipamerkan."
Lagipula, Ulysses yang sering
membantu Ren telah bersusah payah mengirim surat.
Akan menjadi pilihan yang
salah jika ia tidak memprioritaskan persahabatan dengan sang "Lengan
Perkasa" itu.
◇◇◇
Keesokan
harinya, saat jam istirahat siang.
"Begitulah
penjelasannya!"
Di
depan Ren yang dipanggil ke ruang Kepala Sekolah, Chronoa berkata sambil
membusungkan dada dan melipat tangan dengan bangga.
Licia, yang datang bersama Ren, hanya bisa tersenyum pahit
melihat tingkahnya.
"Nona Chronoa, bagian
mana yang 'begitulah'?"
"Aku akan menjelaskannya dengan benar! Jadi Ren-kun dan Licia-chan,
ayo, ayo! Kita bicara santai di sana!"
Atas
desakan Chronoa, keduanya duduk di sofa ruang Kepala Sekolah.
"Apa
kalian sudah terbiasa dengan akademi ini?"
Ren
memberi isyarat mata pada Licia, dan gadis itu menjawab lebih dulu.
"Kami
mulai terbiasa sedikit demi sedikit."
"Aku juga."
Mendengar kejujuran mereka, Chronoa tersenyum lebar dan
merasa lega.
"Kalau begitu, langsung ke topik utama. Sebenarnya ada sesuatu
yang ingin kukonsultasikan pada kalian berdua."
"...Oh."
"Uwah... Ren-kun, jangan
pasang wajah malas begitu, dong..."
"Maaf. Habisnya, kalau
mendengar konsultasi dari orang yang disebut sebagai salah satu penyihir
terbaik di dunia, aku refleks berpikir kesulitan macam apa yang akan
datang."
"Te-Tenang
saja! Aku ini Kepala Sekolah, tahu! Mana mungkin aku memaksakan tugas mustahil
pada murid-muridku yang manis!"
Chronoa
merogoh saku dalam jubahnya dan mengeluarkan selembar kertas.
Karena
ia berkata, "Licia-chan juga silakan lihat," Licia pun tanpa ragu
ikut membaca tulisan di kertas itu bersama Ren.
"Ini
tentang Festival Lion King, ya."
Ucap
Ren.
Di
sana tertulis jadwal Festival Lion King, ditambah informasi detail mengenai
kompetisi mana saja yang akan diikuti oleh murid akademi ini.
Meski
begitu, belum diputuskan siapa yang akan mengikuti kompetisi apa. Karena ada
batasan jumlah peserta di beberapa cabang, ke depannya akan diadakan seleksi
untuk menentukan perwakilan Akademi Militer Kekaisaran.
"Akademi
kita ini kan termasuk sekolah ternama, jadi syukurnya murid-murid di sini
biasanya bersemangat ikut kompetisi. Di sekolah lain mungkin banyak yang cuma
mau menikmati festivalnya saja, tapi di sini aku tidak kekurangan
peserta."
"Aku mengerti. Tapi, aku dan Nona Licia berniat untuk
tidak berpartisipasi."
"Benarkah?! Kalian tidak berniat ikut?!"
Biasanya, seorang Kepala Sekolah akan lebih senang jika muridnya ikut berpartisipasi. Namun, Chronoa justru mencondongkan tubuhnya ke meja dengan wajah yang berbinar cerah.
"Tentu saja! Akademi kita memperbolehkan partisipasi
sukarela sepenuhnya, lagipula memaksa orang itu tidak akan menyenangkan, kan!
Aku ingin kalian berdua menikmati festival ini, jadi jangan khawatir... aku
tidak akan bersikap sok berkuasa dan menyuruh kalian ikut!"
"Te-Terima kasih
banyak... Omong-omong, kenapa Anda malah terlihat senang?"
Mendengar pertanyaan Licia,
Chronoa mengembuskan napas panjang. Raut wajahnya berubah drastis dari
sebelumnya, kini ia tampak lelah seperti sedang memikul beban berat setiap
harinya.
"────Itu
karena, hal ini berkaitan dengan bantuan yang ingin kuminta dari kalian."
Keduanya
menunggu kelanjutan kalimatnya dengan wajah bingung. Mereka tak bisa
memalingkan mata dari Chronoa yang berbicara dengan nada yang tidak biasa,
terdengar suram dan berat.
"Setiap
tahun, aku benar-benar kesulitan menemukan orang yang mau menjadi panitia
pelaksana..."
Rupanya
Chronoa ingin meminta bantuan mereka. Ia mengeluarkan lembaran kertas baru dari
balik jubahnya dan menyerahkannya kepada mereka berdua.
Di
sana tertulis, 'Mengenai Persiapan dan Komite Pelaksana Festival Lion King'.
"Singkatnya,
panitia pelaksana, ya?"
"Iya.
Tepat seperti yang dikatakan Ren-kun."
Dalam
Legenda Tujuh Pahlawan, ini adalah peran yang tidak bisa dipilih. Meski namanya
panitia pelaksana, tugasnya bukan mengelola seluruh operasional Festival Lion
King, melainkan peran untuk mengoordinasi berbagai urusan di Akademi Militer
Kekaisaran.
Tugasnya
mencakup negosiasi di dalam akademi serta membantu para staf pengajar dalam
mengolah informasi. Pada hari H festival pun masih ada beberapa pekerjaan,
namun karena saat itu tidak akan terlalu sibuk, sepertinya tidak akan merusak
jadwal Ren dan Licia.
"Untuk
posisi seperti ini, apakah tidak ada sistem pendaftaran sukarela?"
"Tentu
saja ada. Mulai besok aku akan meminta tolong para guru untuk membuka
pendaftaran selama beberapa hari... tapi sepertinya tahun ini harapannya sangat
tipis. Makanya, kalau kalian tidak keberatan, aku memanggil kalian agar kalian
mau mempertimbangkannya sekali saja."
Chronoa
menjawab sambil tersenyum kecut. Pada titik ini, Ren belum sepenuhnya memahami
apa yang ingin disampaikan Chronoa. Begitu pula dengan Licia, yang merasa heran
saat mendengarkan penjelasan itu.
Jawabannya
baru akan mereka ketahui beberapa hari kemudian, sepulang sekolah di ruang
Kepala Sekolah yang sama.
Sesuai
perkataan Chronoa, periode pendaftaran panitia pelaksana pun dibuka, namun
jumlah pendaftarnya nol. Ren merasa heran karena jumlah murid di sini cukup
banyak, lalu Chronoa pun menjelaskan alasannya.
Itu
terjadi dua hari setelah pembicaraan pertama mengenai panitia pelaksana.
"Di
sini, semuanya lebih memilih untuk ikut kompetisi. Lagipula, panitia pelaksana
itu banyak pekerjaan administratifnya, jadi tidak populer..."
Posisi
duduk Ren dan Licia di sofa yang berhadapan dengan Chronoa masih sama seperti
kemarin.
"Tapi
jika menjabat posisi seperti itu di akademi ini, bukankah akan memberikan
pengaruh baik bagi masa depan setelah lulus?"
"Benar!
Aku juga sempat memikirkan hal yang sama dengan Ren-kun sampai beberapa waktu
lalu!"
Meski
mengatakannya dengan tegas, raut wajah Chronoa tetap tidak ceria.
"Tapi
dalam kasus akademi kita, lulus dari sini saja sudah merupakan keuntungan yang
cukup besar. Karena itu, banyak anak yang berpikir, 'Lebih baik aku mencetak
prestasi bagus di kompetisi saja!'"
"Jadi
meski tidak terpilih sebagai perwakilan di kompetisi keahlian mereka, mereka
tetap lebih memilih ikut kompetisi yang tidak memiliki batasan jumlah peserta,
ya."
"Begitulah..."
Chronoa tertunduk lesu.
Selama periode Festival Lion
King, banyak kesempatan untuk berkenalan dengan petinggi ksatria maupun
bangsawan. Ini adalah kesempatan penting tidak hanya bagi bangsawan, tapi juga
bagi anak-anak rakyat jelata.
Hal ini sangat mencolok
terutama di kelas beasiswa, sehingga hampir tidak ada alasan bagi mereka untuk
repot-repot menjadi panitia pelaksana. Justru karena ada tempat di mana mereka
bisa menunjukkan nilai diri lebih baik daripada menjadi panitia, para murid di
akademi ini tidak melirik posisi itu sama sekali────tidak, tepatnya mereka
terlalu sibuk dengan hal lain sehingga tidak punya waktu luang untuk menjadi
panitia.
Mengingat karakteristik
Akademi Militer Kekaisaran, lebih alami bagi para murid untuk berusaha meraih
hasil memuaskan dalam kompetisi.
(Jadi karena itulah Anda meminta bantuan kami, Nona Chronoa.)
(Sepertinya begitu. Ekspresinya setelah rapat waktu itu pasti karena hal
ini.)
Ren
dan Licia saling bertukar pandang untuk berbagi pikiran, lalu tersenyum tipis
sebelum menatap Chronoa. Licia yang sudah melihat dokumen tersebut berpikiran
sama dengan Ren; urusan keluarga Clausel di sekitar waktu festival sepertinya
tidak akan bermasalah, jadi ia mengangguk dan menyerahkan jawaban kepada Ren.
"Biasanya,
berapa banyak orang yang dikumpulkan untuk menjadi panitia?"
Tubuh
Chronoa bergerak perlahan. Jika diibaratkan mesin, gerakannya terasa kaku
seolah seluruh roda gigi di tubuhnya berderit keras.
Ia bangkit dan berdiri di depan jendela tempat angin musim
semi masuk. Setiap kali angin hangat menggoyangkan rambutnya, aroma bunga yang
manis menyebar dari sana.
"...Sekitar sepuluh orang, mungkin."
Mendengar bisikan itu, pipi Ren dan Licia berkedut. Meski
tidak melihat mereka, Chronoa yang merasakan reaksi keduanya langsung berbalik
dengan panik.
"Ta-Tapi tenang saja! Tugas panitia pelaksana itu
merangkum komunikasi antar murid, sedangkan untuk pembagian materi atau
penyesuaian jadwal akhir, semuanya akan kami urus di sini!"
"Tapi, kalau cuma aku dan Nona Licia, berarti kurang
delapan orang lagi."
Itu adalah teguran yang tajam... tidak, sebenarnya itu hanya
komentar yang wajar dari Ren. Licia kemudian menyambung.
"Lagipula Nona Chronoa, tahun ini tamu yang datang dari
dalam maupun luar negeri akan lebih banyak dari sebelumnya, kan?"
"Iya... karena sebelumnya kita tidak mengundang tamu,
hanya mengadakan kompetisi antar murid saja."
"Eh?"
Ren merasa heran mendengar suara mereka berdua.
"Apakah Festival Lion King yang sebelumnya berbeda dari
biasanya?"
Festival Lion King yang diketahui Ren seharusnya sangat
meriah. Penyelenggaraan sebelumnya terjadi sesaat sebelum Ren pertama kali
menginjakkan kaki di Ibukota.
Vane dan Sera yang saat itu belum berstatus murid pun
seharusnya menjadikan acara itu sebagai penyemangat untuk berusaha lebih keras.
"Itu karena insiden di Pegunungan Baldur. Kekacauan itu
berdampak ke akademi lain juga, jadi demi keamanan, tahun itu acaranya hanya
terbatas untuk murid saja."
"Ah, pantas saja waktu itu Tuan Lezard sama sekali tidak
menyinggung soal Festival Lion King."
"Begitulah. Karena itu, sepertinya banyak orang yang
menganggap tahun ini adalah Festival Lion King pertama setelah empat
tahun."
Empat tahun lalu, saat Festival Lion King sebelumnya lagi
diadakan, Lezard baru saja dipercaya mengelola Erendil sehingga ia tidak punya
waktu luang.
Erendil yang dekat dengan Ibukota sangat sibuk karena hampir
seluruh penginapan penuh, sehingga terlalu kejam jika menyerahkan semuanya pada
Lezard yang baru saja memimpin kota besar.
Saat itu, pejabat sipil istana dan bangsawan lain berbagi
tugas untuk menangani pekerjaan yang diperlukan.
"Ini hanya prediksiku, tapi karena ini Festival Lion
King yang kembali meriah setelah sekian lama, kurasa banyak anak yang ingin
menikmatinya dengan kekuatan penuh."
Ditambah dengan karakteristik akademi, tahun ini jumlah
pendaftarnya masih nol.
"Aku sudah bersiap kalau Festival Lion King tahun ini
akan jadi begini... tapi tidak menyangka kalau pendaftarnya akan nol
orang..."
Siapa pun yang masuk ke akademi ini pasti memiliki ambisi
yang tinggi. Itu hal yang wajar jika mengingat tujuan mereka berjuang
memenangkan ujian masuk yang berat.
...Bagi Tuan Lezard, pekerjaan Festival Lion King kali ini
adalah yang pertama baginya.
Jika begitu, Ren tidak berniat pelit memberikan bantuan.
Dengan dirinya menjadi panitia pelaksana, ia berharap bisa sedikit membantu
meski hanya dari posisi seorang murid.
"...Tapi tidak apa-apa. Kalau keadaan mendesak, aku akan
bekerja untuk porsi sepuluh orang."
Meski terdengar tidak realistis, Chronoa punya pemikiran
sendiri. Chronoa dan staf pengajar lainnya tinggal membantu saja; kenyataannya
jika panitia kurang, jumlah staf yang membantu akan bertambah.
Tugas
panitia pelaksana terutama adalah sebagai koordinator dan perwakilan dari para
murid.
Sebaiknya
tidak terlalu banyak staf pengajar yang terlibat, tapi jika tidak ada pilihan
lain, itu masalah beda.
Tidak
ada kegagalan yang lebih buruk daripada tidak bisa mempersiapkan Festival Lion
King.
(Apakah Nona Chronoa
sesibuk itu selama Festival Lion King berlangsung?)
Ren mencoba mengingat Legenda
Tujuh Pahlawan tentang apa yang terjadi selama periode festival. Ia merasa
tidak tega jika harus membiarkan Chronoa yang sudah sibuk bekerja sendirian.
"Bagaimana menurut Anda,
Nona Licia?"
"Aku sudah sering
membantu pekerjaan keluarga Clausel, dan Ren juga terkadang membantuku
menangani dokumen. Kurasa kita bisa menangani pekerjaan administratif lebih baik daripada
anak-anak seusia kita."
Meski
begitu, akan lebih baik jika jumlah personilnya ditambah. Apalagi jika harus
bersikap sebagai perwakilan murid, mereka yang masih tahun pertama akan merasa
kurang meyakinkan.
Ren
menengadah ke langit-langit sambil berpikir, lalu menyampaikan hal yang perlu
dikonsultasikan selain masalah jumlah orang.
"Aku
dan Nona Licia bersedia menerimanya."
"────Benarkah!?"
"Tapi,
ada yang ingin kami konsultasikan."
Ren
menceritakan permintaan Ulysses dan situasi keluarga Clausel secara terbuka
kepada Chronoa. Seketika itu juga, Chronoa panik sambil melambaikan kedua
tangannya. "Ma-Maaf ya! Kalau begitu jangan dipaksakan!"
"Ah,
bukan begitu! Asalkan pada hari H kami diberikan waktu luang, itu sudah
cukup!"
"Aku
dan Ren ingin membantu, asalkan Anda mengizinkan kami untuk sesekali
meninggalkan pos!"
Bagi Ren dan Licia, ini bukan tawaran yang buruk.
Daripada hanya menjalankan permintaan Ulysses atau urusan
keluarga Clausel, terlibat dalam pekerjaan Festival Lion King akan berdampak
baik bagi masa depan mereka.
Tidak
diragukan lagi ini akan membantu mereka membangun reputasi dan jaringan
koneksi.
Menjadi
sibuk memang tidak terelakkan, tapi selama jadwal bisa disesuaikan, itu bukan
masalah besar.
"Lagipula
sejujurnya, aku merasa bekerja di balik layar sepertinya menyenangkan."
"Aku
juga. Karena ini festival yang berharga, aku senang jika bisa ikut terlibat
seperti ini."
"Hal-hal
seperti ini, masa persiapannya lah yang paling menyenangkan."
Mendengar
jawaban mereka, Chronoa tersenyum lebar dan membungkuk dalam-dalam untuk
berterima kasih. Namun, karena hanya berdua tentu akan berat, mereka harus
mengumpulkan orang.
Mengingat
tidak ada pendaftar dalam beberapa hari terakhir, mereka tidak bisa berharap
ada orang lain yang mencalonkan diri secara sukarela, tapi...
◇◇◇
"Begitulah
situasinya, apa kamu punya seseorang yang bisa diperkenalkan?"
"Entahlah.
Kenapa kamu tidak terpikir untuk memintaku saja?"
Tempat
yang didatangi Ren setelah menghubungi Radius adalah taman yang terletak di
atap akademi.
"Boleh
aku memintamu, Radius?"
Keduanya
berbicara sambil memandang langit yang berwarna jingga kemerahan.
"Aku
malah tidak mengerti kenapa kamu harus ragu."
"Habisnya,
kamu kan Pangeran Ketiga. Aku merasa agak tidak enak kalau menugaskan atau
meminta Pangeran menjadi panitia pelaksana."
"Itu
tidak ada hubungannya."
"Begitukah?
Tapi, kupikir Radius juga akan ikut kompetisi seperti debat atau
semacamnya."
"Kalau bilang tidak tertarik, aku bohong. Tapi selama
periode Festival Lion King, aku juga punya urusan sendiri. Aku berencana
berbincang dengan tamu dari negara lain, atau bahkan memandu mereka tergantung
siapa orangnya."
Karena itulah Radius tidak mendaftar sebagai panitia, dan ia
juga tidak berniat mengikuti kompetisi apa pun. Namun, ajakan dari Ren adalah
masalah lain.
"Kamu
punya tugas keluarga kekaisaran, apa benar-benar tidak apa-apa?"
"Jangan
khawatir. Aku tidak bekerja sepanjang waktu, jadi aku masih bisa menangani
pekerjaan itu dengan baik."
Pemuda
ini sepertinya tipe yang tetap bisa menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna
sesibuk apa pun dia. Ren merasa tidak enak jika terus bertanya dengan
ragu-ragu, jadi ia bicara dengan nada biasanya.
"Kalau
begitu, aku minta tolong, ya."
"Serahkan
padaku. Dengan ini panitia pelaksananya jadi tiga orang, kan?"
"Kudengar
biasanya ada sekitar sepuluh orang, jadi sepertinya masih kurang."
"Entahlah.
Aku yakin kita bisa melakukan pekerjaan yang cukup meski hanya bertiga."
(Kalau dipikir-pikir, memang benar juga.)
Jika ada Radius, sudah pasti beres. Tapi, lebih banyak tenaga
tentu akan lebih baik.
Karena Ren dan Licia punya waktu-waktu di mana mereka tidak
bisa membantu, ia tidak berniat melemparkan semua tanggung jawab kepada Radius
secara tidak bertanggung jawab.
Meskipun
Radius sepertinya bisa menyelesaikan semuanya sendirian, sebagai teman, itu
rasanya tidak benar. Ren tidak suka mengajak orang lalu membiarkannya bekerja
sendirian.
"Besok
siang adalah batas akhir pendaftaran. Mengingat sekarang masih nol, kita tidak
bisa mengharap pendaftar sukarela. Artinya, kita harus bergerak sendiri untuk
mengumpulkan teman."
"Kamu
juga berpikir begitu?"
"Tentu
saja. Tapi, kamu akan mengajak Fiona Ignat juga, kan?"
"Rencananya
begitu. Aku sempat mencarinya sebelum ke tempatmu, tapi Nona Fiona sudah pulang
ke asrama."
Karena
Fiona adalah nona muda yang belajar di bawah bimbingan Ulysses, dia pasti akan
sangat membantu.
Namun,
ia mungkin punya tugas dari keluarga Ignat, sehingga ada kemungkinan ia tidak
punya waktu untuk menjadi panitia. Ren mengkhawatirkan hal itu.
"Kurasa
Nona Fiona juga sibuk."
"Apa
yang kamu katakan. Mana mungkin dia menolak jika kamu yang meminta."
"Tidak,
tidak, kenapa kamu bisa seyakin itu?"
"────... Haa, pria ini
benar-benar."
Radius mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat
sengaja.
"Eh,
apa itu barusan?"
"Jangan
dipikirkan. Itu cuma helaan napas dan gumaman yang sengaja kubuat agar
terdengar olehmu."
"Menyuruhku
tidak memikirkannya itu sangat tidak mungkin!"
Radius
tidak mengatakan hal-hal yang tidak perlu dan menelan kata-kata lanjutannya.
Sambil diterpa angin sore, ia tersenyum tipis mendengar kata-kata Ren.
"Kuku... entah kenapa
bahkan sang King of Swords pun sampai bergerak. Mungkin jika Ren yang meminta,
siapa pun akan menuruti kata-katamu, bukan?"
"Kalau
kamu bilang begitu, aku cuma bisa jawab kalau aku pun tidak mengerti soal King
of Swords itu."
Maksud
sebenarnya dari King of Swords yang meminjamkan kekuatannya saat insiden Menara
Jam besar musim panas lalu masih menjadi misteri. Mau Radius yang bertanya
ataupun Kaisar, dia hanya menjawab satu kalimat: 'Karena aku tertarik'. Menurut
Kaisar, ditanya berapa kali pun dia tidak akan menjawab.
"Sisanya...
benar juga, aku akan coba mengajak satu orang lagi."
Ren duduk di bangku terdekat dan menyandarkan punggungnya.
Radius bersandar pada pagar atap dan menghadap ke arah Ren.
"Temanmu?"
"Aku tidak tahu apa istilah 'teman' itu tepat, tapi dia
adalah teman masa kecil yang sudah melayaniku sejak lama. Tahun ini, dia naik
ke tingkat empat."
Ren mencoba mencari ingatannya, apakah ada sosok seperti itu
di dekat Radius. Sudah empat belas tahun berlalu sejak Ren lahir di dunia ini,
sehingga akhir-akhir ini terasa sulit untuk menggali ingatan sebelum itu.
Setelah berusaha keras mencari ingatan yang mulai memudar, ia
tidak menemukan sosok yang dimaksud Radius. Karena Radius mati di Legenda Tujuh
Pahlawan I, informasi yang didapat memang terbatas.
"Dia putri dari keluarga
Count Archeise. Pernah dengar?"
"Maaf. Sepertinya tidak."
"Keluarga Archeise dulunya adalah faksi Hero hingga
beberapa tahun sebelum aku lahir, namun karena perbedaan pendapat di dalam
faksi, mereka pindah menjadi anggota faksi Keluarga Kekaisaran."
"Hee...
keluarga seperti apa itu?"
"Mereka
adalah keluarga pejabat sipil ternama yang pernah melahirkan Perdana Menteri di
masa lalu. Kepala keluarga saat ini menjabat sebagai asisten Baginda Kaisar.
Itulah alasan mengapa putri mereka berada di sisiku."
Tampaknya
mereka adalah kumpulan pejabat sipil yang sangat hebat, termasuk kepala
keluarganya. Pantas saja mereka tetap menempatkan orang di sisi keluarga
kekaisaran meski berpindah faksi, pikir Ren dengan penuh minat.
"Entah
kenapa, aku punya kesan kalau dia orang yang sangat kompeten."
"...Kompeten,
yah... memang kompeten. Dia melakukan pekerjaan yang cukup baik dalam kasus
Menara Jam tahun lalu, dan saat kamu menghancurkan markas pemuja Raja Iblis
pun, dia menunjukkan kekuatannya di sisiku."
"Ooh,
ternyata dia orang yang lebih hebat dari dugaanku."
"Kalau
soal kompetensi, tidak ada yang perlu dikeluhkan. Tahun lalu dia bahkan
menjabat sebagai ketua OSIS di akademi ini, jadi dia pasti akan sangat
membantu. ────Tapi, itu hanya sebatas kompetensinya saja, ya."
Sejak
tadi, perkataan Radius sering kali mengandung kalimat yang aneh.
Jarang
sekali dia memuji seseorang dengan begitu tinggi, namun tambahan kalimat aneh
itu meninggalkan kesan misterius yang kuat bagi Ren.
Kira-kira,
wanita seperti apa dia? Tapi Ren bisa membayangkan bahwa dia adalah sosok yang
sangat dipercaya oleh Pangeran Ketiga ini.
"Kenapa
kamu harus menekankan 'sebatas kompetensinya saja'?"
"Katakan
saja dia punya kepribadian yang unik, tapi kemampuannya nyata."
"Ah...
oke, paham."
Meski
banyak kata-kata yang bikin penasaran, karena Radius sampai bilang begitu,
kemampuannya pasti tidak perlu diragukan lagi.
"Mengingat
ini praktis adalah Festival Lion King pertama dalam empat tahun, aku tidak
yakin perhatian murid-murid akan tertuju pada panitia pelaksana. Nilai
tambahnya pun tidak seberapa. Besok siang, kurasa panitianya akan ditetapkan
dengan lima orang ini."
Ren mengangguk setuju. "Mungkin saja." Meskipun
jumlahnya hanya setengah dari biasanya, Ren tidak merasa cemas.
...Itu kalau Nona Fiona dan yang lainnya setuju, sih.
Meski
kekhawatiran itu pasti akan berakhir sia-sia.
"Jadi
panitia pelaksana akan terdiri dari faksi Netral dan faksi Keluarga Kekaisaran,
ya."
"Apa
faksi Hero tidak akan protes soal itu?"
"Mana
mungkin. Nilai panitia pelaksana tidak setinggi yang kamu bayangkan. Memang cukup
mencolok, tapi tidak bisa dibandingkan dengan berpartisipasi dalam
kompetisi."
Jika bekerja dengan baik memang akan mendapat penilaian, tapi
berprestasi di kompetisi tetaplah yang utama.
Selain itu, meraih nilai bagus di ujian akademi juga jauh
lebih berharga berkali-kali lipat. Untuk pekerjaan yang diambil secara sukarela, sisi
pekerjaan serabutan di panitia pelaksana ini terlalu kuat.
"Selagi
kita bicara begini, lihat, ada orang dari keluarga Eishaku di sana."
"Eh?
Mana?"
"Itu
di sana. Lihat pohon di sudut lapangan sekolah."
Radius
menunjuk dengan matanya ke sudut lapangan. Ren bangkit dari bangku dan
melihat ke arah tersebut.
"Teman sekelas Ren...
Vane, kalau tidak salah namanya. Murid laki-laki yang bersamanya itu adalah
orang dari keluarga Eishaku."
Saat melihat ke arah yang
ditunjuk Radius, memang benar mereka ada di sana. Yang satu adalah Vane yang
berhasil masuk ke kelas beasiswa bersama Ren, dan yang satu lagi adalah kakak
kelas yang baru saja naik ke tingkat dua tahun ini.
Namanya Kaito Leonard. Dia
tinggi dengan perawakan tubuh yang atletis dan berotot.
Seragam akademi ini
diperbolehkan untuk dipakai dengan gaya yang cukup bebas, dan Kaito berada di
sana dengan penampilan santai; hanya mengenakan kaos di atas celana panjang
kainnya.
(Oh, ini event pertemuan pertama Kaito dan Vane, ya.)
Vane
akan mulai berkenalan dengan orang-orang dari keluarga Eishaku di akademi ini,
dan yang pertama ia temui adalah Kaito yang setahun lebih tua.
Dia
pria yang sangat menyenangkan dengan kepribadian segar yang seolah bisa
menertawakan apa pun.
Di
final turnamen bela diri Festival Lion King, Vane akan menghadapi Kaito dalam
sebuah 'kekalahan terencana' (lose event) sebelum akhirnya Kaito bergabung ke
dalam party protagonis.
Alasan
Kaito menjadi seorang tanker berkaitan erat dengan leluhur keluarga
Leonard. Itu karena leluhurnya, salah satu dari Tujuh Pahlawan, melindungi
pahlawan lainnya dengan sebuah perisai besar.
"Serahkan
saja kehormatan akademi pada mereka. Orang-orang dari keluarga Eishaku pasti
akan memberikan hasil yang memuaskan dalam kompetisi praktis."
Radius
mengatakannya dengan tenang seolah tidak peduli.
"Kupikir
ini akan berpengaruh pada persaingan antar faksi, tapi ternyata tidak apa-apa
ya."
"Aku
tidak bilang tidak berpengaruh, tapi bukan berarti faksi Keluarga Kekaisaran
akan tertinggal. Kami unggul dalam bidang seperti debat, jadi tidak perlu
sampai naik pitam."
"Jadi perbedaan bidang keahlian, ya."
"Iya. Orang yang tadi kubilang akan kuajak juga
memenangkan kompetisi debat di Festival Lion King sebelumnya."
Pangeran Ketiga melanjutkan.
"Lagipula, orang-orang yang membawa urusan bangsawan ke
tempat murid memamerkan kemampuan itu sebenarnya sudah tidak waras.
────Meskipun aku tahu itu hanyalah sebuah idealisme."
Radius yang menyebut kata idealisme itu tertawa mengejek
dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Ren menyadari bahwa waktu telah berlalu
lebih lama dari dugaannya.
"Aku pergi dulu, ya."
Saat Ren memberi isyarat untuk pulang, Radius
menghentikannya. "Tunggu."
"Soal kasus Synclines tempo hari, aku sudah memeriksa
berbagai hal menggunakan kekuatanku dan alat sihir. Sepertinya tidak ada
hubungannya dengan pemuja Raja Iblis."
"Berarti itu cuma kebetulan, ya?"
"Sepertinya begitu. Hal biasa jika monster yang kalah
dalam perebutan wilayah menyeberangi lautan. Mungkin saja seperti itu."
Ren mengangguk dan merasa lega karena kasus tempo hari
sepertinya tidak akan membesar.
"Beri tahu aku lagi kalau ada perkembangan."
"Ya."
Kali ini Ren benar-benar berpisah dengan Radius, meninggalkan
atap, dan menuju lorong yang mengarah ke pintu keluar akademi. Di sana, Licia
yang sudah menunggu tersenyum saat melihat Ren.
"Sudah selesai bicaranya?"
"Hasilnya, Radius bersedia membantu kita."
"Apa tidak apa-apa? Meminta bantuan kepada Yang Mulia
Pangeran Ketiga."
"Karena dia sendiri yang bilang jangan khawatir, kurasa
tidak apa-apa."
Mendengar bahwa Radius terlihat antusias, Licia pun tidak
merasa perlu menghentikannya.
◇◇◇
Di waktu yang hampir bersamaan,
"Ka-rena itu! Aku bilang dia benar-benar kuat!"
Vane
dan Kaito Leonard masih berada di lapangan sekolah. Sera yang datang menjemput
Vane pun ikut bergabung, dan mereka sedang asyik membicarakan sesuatu.
"Tidak
salah lagi! Kaito juga lihat di upacara penerimaan kan? Itu lho, Ren Ashton!
Dia mengalahkan para pemuja Raja Iblis itu dalam sekejap!"
"Nwa-ha-ha-ha-ha! Sera, apa kamu sudah gila?"
Putra
mahkota keluarga Leonard, Kaito, menyahut dengan tawa keras.
"Dia
seumuran denganku, bahkan masih tingkat satu, tapi pengguna pedang yang hebat?
Mana mungkin! Apa karena aku selalu dapat nilai merah di ujian tulis, jadi kamu
mengejekku?"
"Makanya
aku serius────tunggu Kaito, kamu selalu dapat nilai merah? Kok bisa naik ke
tingkat dua?"
"Aku
menambalnya dengan mata pelajaran lain. Tapi Ayah dan yang lainnya selalu marah
setiap kali ujian."
"...Pantas
saja."
Sera
dan Kaito memang sudah saling kenal. Itu karena para ahli waris dari Tujuh
Keluarga Eishaku memiliki hubungan yang cukup dekat sehingga bisa saling
memanggil nama. Ditambah perbedaan usia yang hanya satu tahun, mereka bisa
bicara tanpa sungkan.
"Kembali
ke topik. Pertama-tama, alasan Sera itu tidak masuk akal. Apalagi dibilang
teknik pedang hebat. Mana mungkin anak seumuran kita bisa pakai teknik dari
aliran khusus yang gila seperti itu?"
"Aku akan mengatakannya berulang kali. Dia benar-benar
sekuat itu."
"Yah, kalau Saintess dari keluarga Clausel sih mungkin
saja aku percaya. Tapi dia bukan, kan? Tetap saja aku tidak tahu cerita itu
benar atau tidak."
"Haa...
sudahlah. Ayo pergi, Vane."
Sera
berbalik membelakangi Kaito sambil mengembuskan napas panjang.
"Se-Sera!
Kaito-senpai ditinggal begitu saja!?"
"Biarkan
saja si otot itu. Kurasa dia tidak akan percaya sampai melihatnya dengan mata
kepala sendiri."
Karena
bosan ceritanya tidak didengar, Sera memalingkan wajah dan mulai berjalan.
Kaito menjawab ke arah punggung mereka berdua. Suaranya masih santai seperti
tadi.
"Entahlah
ya. Biarpun melihat pun mungkin tidak akan berubah."
"Terserah.
Memang dasar orang Leonard, yang selalu membanggakan tamengnya bisa menahan
segalanya."
Langkah Sera tiba-tiba terhenti. Vane yang berjalan di
sampingnya pun ikut berhenti.
"Belum pernah ada orang yang sanggup menghancurkan
perisai besar milik keluarga Leonard."
Sera berbicara pada Kaito dengan nada suara yang berbeda dari
tadi, terdengar seperti sebuah peringatan.
"Itu
adalah kebanggaan kalian. Keluarga Liohard maupun aku menaruh hormat pada hal
itu."
Ia berbalik menatap Kaito dan berkata sambil menghela napas.
"Tidak. Perisai itu pernah hancur oleh pedang Raja
Iblis, kan? Kalau tidak salah itu kemudian diperbaiki."
"Ugh, kamu menusuk tepat di bagian yang sakit..."
"Aku bukan mengejekmu. Kekuatan Leonard-lah yang
melindungi sang Pahlawan, dan berkat itu Pahlawan bisa menebas Raja Iblis. Aku
hanya bilang, tidak menutup kemungkinan hal yang sama bisa terjadi lagi."
"Hah?
Ren Ashton itu Raja Iblis, maksudmu?"
Mendengar reaksi yang begitu di luar nalar, Vane hampir saja
menyemburkan tawa.
Sera
juga sempat terpaku heran, mana mungkin hal seperti itu benar. Bagaimana bisa
Raja Iblis ternyata adalah keturunan ksatria yang melayani keluarga Clausel dan
sekarang berada di sisi Licia?
"Bukan
itu maksudku! Maksudku, kalau kamu meremehkan Ren Ashton, perisai besarmu itu
bisa-bisa hancur juga."
"Tuh kan, berarti dia memang Raja Iblis!"
Sera mengembuskan napas pendek.
"……Kenapa sih kamu tidak bisa membayangkan kalau dia itu
punya kekuatan setingkat Lion King?"
"Ya habisnya... leluhurku kan tidak pernah bertarung
melawan Lion King, dan kami juga tidak pernah hancur perisainya oleh pengguna
pedang hebat mana pun."
"Makanya, aku sedang bilang 'bagaimana kalau sampai
hancur'!"
"Sera, tenanglah sedikit... ayo, tarik napas
dalam-dalam."
Ditegur oleh Vane, Sera menengadah ke langit dan mengikuti
instruksinya untuk menarik napas berkali-kali.
"Syuuu...
haaa... terima kasih, aku sudah agak tenang."
Bahu
Sera yang tadi gemetar karena emosi kini mulai rileks kembali.
"Mungkin
Ren Ashton akan menjadi pengguna pedang hebat pertama yang sanggup
menghancurkan perisai besar keluarga Leonard."
Sera
hanya ingin menyampaikan dengan jelas sekuat apa sosok Ren yang telah ia
saksikan sendiri.
"Maaf,
ya. Tadi aku cuma ingin bercanda sedikit kok."
"Sudah
kuduga. Kamu kan bukan tipe orang yang suka meremehkan lawan seperti orang
bodoh."
"Hanya
saja, aku memang terkejut. Kamu bilang Ren Ashton jauh lebih kuat daripada si Saintess
yang mengalahkanmu telak itu? Jelas saja itu terdengar seperti omong
kosong."
Kini
ganti Kaito yang mulai melangkah. Ia menguap lebar-lebar sebelum akhirnya
meninggalkan tempat itu.
Beberapa
waktu lalu, setiap melihat embun beku di pagi hari, sisa-sisa musim dingin
masih terasa sangat kental.
Namun
kini, hawa dingin di pagi hari hanya terasa tipis-tipis, pertanda hari untuk
berganti ke seragam musim panas sudah semakin dekat.
Ren
yang berangkat sekolah lebih awal dari biasanya berpisah dengan Licia di kelas,
lalu pergi meminjam buku di perpustakaan.
Saat
melangkah keluar, ia mendadak menghentikan kakinya dan menoleh ke satu arah. Di
sana seharusnya terdapat area latihan khusus sihir.
...Hawa ini.
Ren
merasakan sebuah keberadaan di sana. Karena tidak bisa mengabaikannya, ia pun
melangkahkan kaki menuju area latihan sihir tersebut.
Butuh
waktu beberapa menit untuk sampai, karena area latihan sihir terletak di sudut
area akademi. Bangunannya berbentuk silinder raksasa dengan warna putih
porselen yang memancarkan kesan agung.
Begitu
Ren membuka pintu besar dan masuk ke dalam, hawa dingin yang menusuk langsung
berhembus dari dalam aula yang luas.
Ren
berjalan membelah kabut putih dingin yang mengalir di bawah kakinya. Di
hadapannya, terhampar pemandangan luar biasa berupa tumpukan es yang memenuhi
interior aula.
Sihir
Es. Terlebih lagi, ini adalah sihir dengan tingkat kemahiran yang sangat
tinggi.
Pilar-pilar
es berwarna biru kobalt yang mengingatkan pada laut dalam menciptakan
pemandangan seolah-olah hutan belantara telah membeku seketika.
Dunia es────di tengah ruang fantastis itu, Fiona berdiri
sendirian. Ia tampak kelelahan.
"────Aku harus... berusaha lebih keras lagi."
Ia menyemangati dirinya sendiri, memancarkan hawa dingin
untuk mencoba merapal sihir es yang baru.
Kekuatan 'Black Priestess' yang dimiliki Fiona sejak lahir
memberinya bakat sihir yang luar biasa, namun di masa lalu, mana yang
meluap-luap itu sempat menggerogoti tubuh mungilnya. Belum lagi keterlibatannya
dalam kebangkitan Asvar.
Namun, keberhasilannya menguasai sihir sekuat ini murni
merupakan hasil dari kerja kerasnya sendiri. Fiona tersentak saat menyadari ada
kehadiran orang lain di aula yang seharusnya kosong itu.
"Eh?"
Saat melihat Ren, ia terkejut sejenak namun langsung berubah
menjadi gembira. Sihir yang dirapal Fiona perlahan menghilang, mengubah kembali
dunia es itu menjadi aula latihan berlantai batu.
Fiona berlari kecil mendekati Ren.
"Selamat
pagi! Kapan Anda datang?"
"Baru
saja. Aku merasa sepertinya ini sihir Nona Fiona."
Suara
Fiona terdengar agak lelah, tidak seperti biasanya, namun nada bicaranya tetap
riang karena senang bisa bertemu Ren di pagi hari.
"Sedang
latihan, ya?"
"Iya,
begitulah," jawab Fiona seraya menjelaskan bahwa ia sebisa mungkin datang
ke aula latihan untuk mengasah sihirnya.
"Aku tidak ingin hanya sekadar dilindungi seperti waktu
itu."
Yang ia maksud adalah saat bertarung melawan Asvar di
Pegunungan Baldur. Kejadian saat itu selalu terbayang dengan jelas di benaknya.
Di balik suaranya yang lembut, terpancar keteguhan hati dan ketabahan Fiona.
Ren tersenyum tipis. "Anda tidak hanya dilindungi
kok."
Kenyataannya, Ren bisa menggunakan kekuatan spesial saat
melawan Asvar justru karena bantuan dari Fiona.
"Ngomong-ngomong..."
Fiona
bertanya, masih memikirkan perkataan Ren tadi.
"Tadi
Anda bilang sudah tahu kalau ini sihirku, ya?"
"Iya.
Aku tidak terlalu paham sihir orang lain, tapi kalau sihir Nona Fiona, aku bisa
langsung tahu."
"?
Kenapa begitu?"
"...Mungkin
karena kualitas mana-nya. Rasanya jernih dan indah seperti Nona Fiona, atau
bagaimana ya bilangnya..."
Sebagai
seorang pengguna pedang yang semakin mahir mengendalikan mana, Ren menjadi
lebih peka merasakannya. Meski begitu, ia sulit mengungkapkannya dengan
kata-kata. Baginya, kalimat tadi sudah mewakili segalanya.
Fiona
tertegun dengan wajah polos. Secara tidak langsung ia dipuji indah────bukan, ia
memang baru saja dipuji begitu.
Begitu
menyadari hal itu, Fiona sangat terkejut. Ia membelakangi Ren dan menekan kedua
tangannya ke dada.
"Nona
Fiona?"
"Ti...
Tidak ada apa-apa! Tolong jangan dipikirkan!"
Ren
yang mengetahui masa lalu Fiona sempat panik, namun Fiona segera menoleh
sedikit untuk meyakinkan Ren bahwa ia baik-baik saja.
"……Tapi, yang tadi itu benar-benar serangan
mendadak."
Ia tidak menjelaskan apa yang mendadak dan efek apa yang ia
rasakan.
Sambil
meninggalkan aula latihan sihir menuju gedung sekolah, mereka membicarakan soal
panitia pelaksana. Meski jumlah murid yang berangkat sekolah mulai meningkat,
mereka berjalan di area yang sepi sehingga bisa berbicara dengan leluasa.
"Begitulah
situasinya, jadi aku ingin Nona Fiona juga ikut bergabung."
"Dengan senang hati!"
Fiona menyetujui dengan senyum manis yang menyilaukan.
"Padahal aku yang mengajak, tapi apa benar tidak
apa-apa? Kalau
Nona Fiona punya rencana ikut kompetisi tertentu, prioritaskan itu saja tidak
apa-apa, lho!"
"Kalau
itu, tidak masalah. Guru wali kelasku memang menyuruhku ikut... tapi aku
sendiri tidak terlalu tertarik."
"Berarti Anda punya urusan dengan keluarga Ignat?"
"Tidak
juga. Urusan itu pun tidak seberapa kok."
Ren
terkejut dengan jawaban yang begitu santai, namun di saat yang sama ia merasa
senang karena mendapatkan bantuan.
"Terima kasih banyak," ucap Ren sambil tersenyum.
"Jarang
sekali ya. Kudengar hampir semua murid di sini ikut kompetisi."
"Ahaha...
mungkin saja, tapi aku ingin menikmati festival bersama Ren-kun────"
Fiona
berkali-kali melirik profil wajah Ren yang berjalan di sampingnya. Ia berniat
melakukannya secara sembunyi-sembunyi, namun mendadak mata mereka bertemu.
Pipinya sedikit memerah dan ia langsung membuang muka dengan panik.
"Ti-ti-tidak ada apa-apa! Sepertinya tahun ini aku
sedang tidak ingin berkompetisi saja!"
"Sedang tidak ingin,
ya... Anda bilang seolah-olah itu urusan orang lain saja. Tapi kalau Nona Fiona bersedia
membantu, aku jadi merasa tenang."
"Aku
akan berusaha keras memenuhi harapanmu. Jadi... selain aku, Ren-kun, Nona Licia,
dan Yang Mulia Pangeran Ketiga, apa hanya ada kita berempat?"
"Tidak, Radius akan mengajak satu orang lagi. Kalau tidak salah nona
muda dari keluarga Archeise."
"Aku tahu dia! Anda mengajak orang yang luar biasa
ya!"
Fiona mulai membagikan informasi yang tidak diketahui Ren. Semakin didengar, sosok
itu ternyata sama hebatnya dengan Radius.
"Saat
ujian masuk saja, dia ikut dari ujian tahap pertama hanya untuk tes kemampuan,
dan lulus dengan nilai sempurna di semua tahap. Sejak masuk pun, kudengar dia
tidak pernah mendapat nilai selain sempurna di setiap ujian. Bahkan setelah
berhenti jadi ketua OSIS, kabarnya banyak guru yang memohon padanya untuk
menjabat lagi."
Namun,
dia sudah tidak menjadi ketua OSIS lagi. Tahun lalu saat Radius baru masuk, ia
menyelesaikan segala tugas dengan sempurna. Tapi jika ia ingin menghabiskan
lebih banyak waktu di sisi Radius, jabatan ketua OSIS justru akan menjadi
penghalang. Itulah sebabnya ia mengundurkan diri tahun lalu.
"...Ternyata
dia lebih hebat dari dugaanku."
"Benar kan. Oh iya, kudengar dia juga sering bekerja di
istana."
Sepertinya Fiona beberapa kali pernah berpapasan dengannya di
akademi. Di sisi lain, mereka belum pernah mengobrol. Konon saat nona dari
keluarga Archeise itu berada di samping Radius, ia selalu fokus menjaga
martabat tuannya dan tidak pernah membuka mulut sendiri.
(Mungkin dia sengaja menjaga jarak saat aku sedang bersama
Radius?)
Menurut Radius, saat insiden Menara Jam ia bergerak dengan
sigap. Sepertinya ia memang sengaja tidak menampakkan diri karena tidak ingin
mengganggu waktu bermain dua anak laki-laki itu.
Ren
menguap pelan karena merasa rileks. Fiona memang sudah latihan sejak subuh,
tapi Ren juga sudah mengayunkan pedangnya di Great Saint Hall sejak pagi buta.
Begitu merasa santai, rasa kantuk pun menyerang.
"Ups,
maaf."
"Tidak
apa-apa. Itu bukti kalau Ren-kun sudah bekerja keras."
Menunjukkan
celah di depan orang lain adalah bukti bahwa Ren sudah mulai terbuka padanya.
Fiona merasa senang di dalam hati.
"Haha...
karena Nona Licia menggunakan sihir suci padaku, setidaknya staminaku sudah
agak pulih."
Kalau
tidak, mungkin ia akan terlihat jauh lebih lelah. Dan mungkin karena
pembicaraan soal kondisi fisik ini, Ren menatap Fiona dan bertanya.
"Bicara
soal kondisi tubuh, kesehatan Nona Fiona tidak ada masalah kan sejak 'saat
itu'?"
"'Saat
itu'... maksudmu sejak kejadian Asvar?"
"Iya.
Aku sudah dengar dari Tuan Ulysses kalau Anda baik-baik saja, tapi aku
penasaran bagaimana kondisi Anda akhir-akhir ini."
"Aku
baik-baik saja kok. Sejak saat itu, mana yang biasanya bergejolak karena
kekuatan 'Black Priestess' juga sudah menghilang."
Fiona
menatap profil wajah Ren yang tampak lega mendengar jawabannya. Hatinya
menghangat dan pipinya merona tipis karena tahu pemuda itu mengkhawatirkannya.
"Anda
mengkhawatirkanku ya."
Begitu
Ren menjawab lugas "Tentu saja," Fiona tertawa pelan sambil berujar
"Fufu, terima kasih banyak."
Lalu
segera setelah itu,
"Beri
tahu aku ya kalau ada perkembangan soal panitia pelaksana. Aku ada di asrama
putri, jadi Anda boleh datang kapan saja!"
Begitu
masuk ke gedung sekolah, keduanya berpisah di depan tangga.
Dari arah depan Ren, muncul Licia
dan Sera. Melihat Licia yang berlari kecil mendekati dan menyapa Ren, Sera yang
datang menyusul berujar sambil mengangkat bahu.
"Kalian
berdua masih saja akrab ya."
"Aduh... tiba-tiba
bilang apa sih."
Licia tampak agak tersipu
malu, tapi dari raut wajahnya terlihat jelas ia senang dibilang akrab.
"Lalu
Ren, apa kamu lihat Vane?"
"Kalau
Vane, tadi aku melihatnya menuju lantai dua."
"Terima
kasih. Kalau begitu aku pergi dulu, kalian berdua jangan sampai terlambat masuk
kelas ya."
Sera
yang berjalan melewati mereka mendadak berhenti dan berbalik.
"Bulan Mei nanti akan ada seleksi atlet untuk berbagai
cabang di Festival Lion King, kan?"
"Iya,
kenapa memangnya?"
"Apa
kalian berdua akan ikut seleksi juga?"
"Tidak. Aku dan Ren tidak ikut."
"Kenapa!?
Padahal aku sangat menantikan bisa bertarung melawan kalian berdua di
sana!"
Namun
setelah dijelaskan alasannya, Sera pun mengangguk paham. Mendengar ada yang
bersedia menjadi panitia pelaksana di Akademi Militer Kekaisaran, orang-orang
yang berpartisipasi dalam kompetisi seperti Sera tentu akan sangat berterima
kasih.
Sera
membungkuk sopan untuk menunjukkan rasa terima kasihnya, lalu berkata:
"Tapi,
sebentar lagi kelas ilmu pedang akan dimulai, aku sudah tidak sabar."
Di
akademi ini, terutama kelas beasiswa memiliki kebebasan tinggi dalam memilih
mata pelajaran.
Selain
pilihan mata pelajaran yang lebih banyak dari kelas reguler, mereka juga punya
wewenang luas untuk menentukan kelas mana yang ingin mereka ambil.
Selama
nilai kredit wajib tidak bermasalah, mereka bisa fokus pada bidang yang ingin
mereka kembangkan.
Salah
satunya adalah kelas ilmu pedang, kelas yang paling dinantikan oleh Sera.
Saat
siang tiba, pendaftaran panitia pelaksana pun ditutup. Sesuai dugaan, lima
orang termasuk Ren resmi ditetapkan sebagai panitia pelaksana.
Setelah
kelas berakhir, Licia bilang ingin berbelanja dulu bersama Sera sebelum pulang.
Akademi Militer Kekaisaran tidak melarang muridnya mampir ke toko atau jajan di
luar.
Selama
tidak melakukan hal yang merusak martabat akademi, tidak akan ada masalah.
Dan
untuk mereka berdua, kekhawatiran semacam itu tidak perlu ada.
Sore
harinya, Ren berkunjung sendirian ke bengkel milik Werlich di distrik pandai
besi.
"Selanjutnya,
aku harus membuatkan pelindung tubuh yang menyesuaikan pertumbuhan badanmu,
Ren."
Werlich.
Seorang Dwarf langka yang berprofesi sebagai pandai besi sekaligus teknisi
kapal sihir. Ren mengenalnya di Ibukota. Sejak saat itu, melalui perantara
Ulysses, ia dipercaya untuk menangani perbaikan kapal sihir keluarga Clausel.
Pelindung
tubuh pertama yang dibuat dari tanduk Asvar adalah Flame King's Gauntlet
yang sudah selesai lebih dulu.
"Maaf
ya kalau pelindung tubuhmu jadi agak lama pengerjaannya."
"Aku
tidak keberatan kok. Kan aku sendiri yang minta untuk memprioritaskan perbaikan
kapal sihir Lemuria. Lagipula Paman Werlich juga sudah bilang, kan?"
"Oh?
Bilang apa?"
"Paman
sedang mencari material monster untuk pelindung tubuhku yang berikutnya,
kan?"
"Yah,
begitulah. Tapi setelah bicara dengan si bocah tengik Ulysses itu, akhirnya
materialnya akan segera sampai."
"Artinya,
begitu materialnya sampai, Paman bisa langsung mulai?"
"Tentu
saja! Aku akan bekerja keras untuk menebus waktu menunggumu. Nantikan saja
pelindung tubuh buatanku. Nah, kalau begitu hari ini kita ke taman gantung lagi
untuk memperbaiki Lemuria!"
Werlich
menepuk otot lengannya yang sebesar kepala anak kecil dengan tangan satunya,
lalu tertawa lebar.
"Ini
sudah hampir petang, lho?"
"Material
untuk suku cadang baru akan sampai. Sudah jadi sifat pria untuk ingin segera
melihat barang baru!"
Ren keluar dari bengkel bersama Werlich. Werlich mengunci
bengkelnya, lalu mulai melangkah lebar-lebar sambil menguap santai. Ren mengikuti dari
belakang.
"Bagaimana
sekolahmu?"
"Biasa
saja. Rasanya seperti mengikuti pelajaran seperti biasa setiap hari."
"Apa-apaan
itu, masa tidak ada cerita yang lebih... berjiwa muda?"
"Memangnya
cerita seperti apa yang Paman harapkan?"
"Misalnya,
bagaimana dengan kelas ilmu pedangmu?"
"Kalau
itu, sepertinya akan segera dimulai."
Tepat
setelah masuk sekolah memang ada beberapa kelas yang belum dimulai, dan kelas
ilmu pedang adalah salah satunya. Itu karena murid baru ternyata punya banyak
hal yang harus dilakukan.
"Hooo...
tapi ya, mungkin Ren tidak perlu ikut juga tidak apa-apa. Di kelas beasiswa
akademi itu, selama nilai ujianmu bagus, sisanya tidak terlalu dipermasalahkan.
Lebih baik bolos dan belajar mandiri untuk mata pelajaran lain."
Secara
tersirat ia mengatakan bahwa bagi Ren yang setiap hari mengasah pedang di Great
Saint Hall, kelas ilmu pedang di akademi tidak akan memberikan pelajaran baru
apa pun. Begitu juga bagi Licia.
"Malah
lebih baik kalau kamu yang jadi pengajarnya."
"Jangan bercanda, mengajar itu punya tingkat kesulitan
tersendiri. Seandainya
Paman diminta negara untuk mengajarkan teknik Paman kepada anak muda, apa yang
akan Paman lakukan?"
"Gwahahaha!
Tidak mungkin dan sia-sia! Mana mungkin aku bisa mengajar orang!"
"Aku
juga tidak tahu akan jadi seperti apa, tapi aku merasakan hal yang sama."
"Ooh,
begitu ya..."
Werlich
yang sedari tadi menatap langit mengganti topik pembicaraan.
"Omong-omong Ren, apa kamu sudah dengar kalau pasukan
militer akan pulang dari Benua Martel?"
"Tidak,
sama sekali tidak tahu. Ini pertama kalinya aku dengar kalau militer Leomel
melakukan ekspedisi ke Benua Martel."
Benua
Martel terletak di sebelah timur Benua Elfen. Skalanya lebih kecil dari Benua
Elfen.
Negara-negara
di sana pun kebanyakan negara kecil yang tidak sebanding dengan negara di Benua
Elfen, dan konflik di sana tidak pernah berhenti.
Di
zaman game dulu, Ren tidak pernah punya kesempatan ke sana, jadi ia hanya tahu
informasi tersebut.
Namun
sejak Ren hidup di dunia ini, ia mendapatkan informasi tambahan dari belajar
untuk ujian dan kesempatan lainnya.
Mulai
dari persentase bahasa yang digunakan, hingga komposisi ras penduduknya.
"Kenapa
militer Leomel dikirim ke sana?"
"Kabarnya
tim bantuan kemanusiaan yang dikirim oleh Holy Land ke Benua Martel terjebak
konflik beserta markas operasional mereka. Karena Holy Land meminta bantuan
pasukan pada Leomel, maka Leomel mengirim pasukan demi mendapatkan rasa hutang
budi dari Holy Land dan markas pusat mereka, Silver Holy Palace."
"Kalau
begitu masa tugasnya pasti lama ya."
"Kira-kira
hampir dua tahun sejak sebelum kamu pindah ke sini? Kekuatan tempur yang
dikirim sekitar puluhan orang, harusnya sekitar satu peleton."
"Eh,
sepertinya jumlahnya sedikit sekali ya."
Ren
sempat berpikir apa yang bisa dilakukan oleh jumlah segitu di wilayah konflik.
Namun, setelah mendengar kalimat berikutnya, Ren pun mengangguk paham sebagai
hal yang wajar.
"Soalnya
tidak ada satu pun dari mereka yang bukan elit dari Great Saint Hall. Sekalian
saja buat ajang pamer kekuatan, kan."
"────Ternyata
lebih dari cukup."
"Apalagi
yang memimpin adalah Komandan Great Saint Hall sendiri. Kalau si 'Kakak
Besar' itu ada, konflik antar negara kecil saja mungkin bisa dia bereskan
sendirian."
Mendengar kata 'Komandan', mata Ren bergetar sesaat.
"Meskipun
ada alasan mendesak, orang sehebat itu sampai meninggalkan negara selama hampir
dua tahun ya."
"Ngh?
Dipikir-pikir benar juga ya."
Seandainya
itu perang yang sangat krusial mungkin masuk akal, tapi sepertinya bukan itu
masalahnya.
Mungkin
ada sesuatu yang disembunyikan sehingga berujung pada pengiriman jangka
panjang, namun Ren yang baru saja mendengar ceritanya tidak bisa membayangkan
apa pun. Apapun itu, ini adalah informasi yang menarik.
"Omong-omong,
Ren sepertinya cukup tahu tentang si Kakak Besar itu ya."
"E-etoo... aku sering mendengar nama dan rumor tentang
kekuatannya."
Tentu saja itu pengetahuan dari zaman game, dan ia harus
berusaha keras mengingat memori yang mulai memudar. Yang jelas, komandan
tersebut adalah sosok yang sangat kuat. Ren mencoba mengingat kembali sambil
berjalan bersama Werlich.
Komandan Great Saint Hall, Estelle Osroes Drake.
Ksatria nomor satu di Leomel yang memiliki julukan 'Death Eater'. Karena
King of Swords tidak berada dalam posisi ksatria resmi, secara teknis
Estelle-lah yang berada di puncak.
Ia pertama kali muncul setelah cerita utama Seven Heroes
Legend I berakhir.
Secara kronologi, itu adalah cerita saat musim dingin tahun
pertama para protagonis.
Jika diletakkan dalam situasi Ren saat ini, itu berarti musim
dingin mendatang.
Keturunan dari Tujuh Pahlawan memang sudah muncul semua di
tahap I, namun angkatan di bawah mereka tidak bergabung dalam party. Itu
adalah masa di mana protagonis membentuk party dengan rekan seangkatan
dan kakak kelas.
Syarat memicu event-nya adalah menyelesaikan seluruh
sub-story Seven Heroes Legend I setelah cerita utama tamat. Saat pergi
ke depan ruang Kepala Sekolah sepulang sekolah, suara Estelle akan terdengar
dari dalam.
'Aku akan pergi sekarang. Baginda sudah memanggilku.'
'Ya. Sampai jumpa lagi, Estelle.'
Sosok
yang muncul dari ruang Kepala Sekolah itulah Estelle. Estelle hanya melirik
sekilas ke arah para protagonis dan langsung pergi tanpa ada percakapan khusus.
Di
akhir event, pemain akan mendapatkan achievement 【Descendant of the Hero】, yang menandakan Seven Heroes
Legend I telah tamat dalam arti yang sesungguhnya.
Kemunculannya
berikutnya ada di Seven Heroes Legend II.
Setelah
insiden Ren Ashton pecah, ia mulai mengejar Kultus Raja Iblis dan Ren Ashton
secara terpisah dari kelompok protagonis, dan ada beberapa event di mana
mereka bertemu dan berbincang.
Ia
adalah sosok yang tidak menjadi kawan maupun lawan, dan kekuatannya yang
sebenarnya tetap menjadi rahasia di tahap II, selain dari apa yang tertulis di
profil karakternya.
"Ren,
kenapa tiba-tiba melamun?"
"Maaf.
Aku sedang membayangkan seperti apa sosok beliau."
"Ooh,
begitu ya. Hmm... Ren, apa kamu ingin bertemu dengannya?"
"Itu
pilihan yang sulit, tapi sepertinya beliau bukan orang yang bisa ditemui dengan
mudah────tunggu, Paman Werlich, dari tadi Paman memanggilnya 'Kakak Besar'
terus, ya?"
"Estelle
itu salah satu pelangganku. Begitu pulang pasti dia akan langsung datang ke
tempatku, atau kalau tidak, bukankah kamu bisa bertemu dengannya di Great Saint
Hall?"
Mendengar hal itu, Ren tertegun sejenak sebelum akhirnya
mengangguk mengerti. Kemampuan Werlich memang tidak perlu diragukan lagi. Ren
tidak menyangka bahwa selain King of Swords, Komandan Great Saint Hall pun
adalah pelanggannya. Tapi dipikir-pikir, memang masuk akal.
"Kalau ketemu, beri salam yang sopan ya."
"...Akan kulakukan."
Setelah topik itu berakhir, keheningan menyelimuti mereka
selama belasan detik sebelum Werlich kembali menguap. Ia melihat ke arah
distrik pandai besi seolah sedang mengamati situasi.
"Distrik pandai besi akan mulai ramai lagi. Selalu
begitu kalau sudah mendekati Festival Lion King."
"Bukankah senjata dan pelindung yang dipakai murid sudah
disiapkan oleh panitia Festival Lion King?"
"Kalau
untuk itu memang iya, tapi ini untuk para pengunjung. Di Ibukota kan banyak pandai
besi terkenal."
Werlich menunjuk ke arah deretan bengkel pandai besi ternama
di distrik itu.
Di sana tidak hanya terlihat para murid, tapi juga banyak
bangsawan dan orang kaya. Bahkan sudah terlihat beberapa orang yang tampaknya
adalah turis dari luar negeri.
"Kudengar bengkel yang sedang ramai itu menambah stok
barang untuk para tamu yang datang saat Festival Lion King nanti."
"Memang waktunya mencari untung ya. Tapi, Paman Werlich
sendiri sepertinya tidak bekerja?"
"Gwahahaha!
Ren, kamu sudah mulai memahamiku ya! Baiklah! Nanti akan kuberikan pisau masak
yang kubuat kemarin! Dipikir-pikir, aku kan tidak memasak sendiri!"
Pasti
koki di rumah akan senang menerimanya.
Kapal
sihir yang menuju Leomel sedang membelah langit malam. Di tengah perjalanan,
beberapa kapal sihir berhenti di udara, menghubungkan jembatan khusus agar
orang-orang bisa saling menyeberang.
"Jenderal!
Dari sini ke depan kita akan memasuki wilayah udara Leomel!"
Beberapa
pengguna pedang hebat menyapa seorang wanita jangkung. Rambutnya sangat panjang
hingga hampir mencapai pinggang.
Rambut berwarna merah scarlet
yang lebat itu memancarkan kesan elegan. Dengan wajah yang rupawan, ia memiliki
kekuatan yang tak terlukiskan serta aura intimidasi khas pengguna pedang hebat.
Dialah Komandan Great Saint
Hall, Estelle Osroes Drake.
Para ksatria Great Saint Hall
yang baru pertama kali melihat sosoknya lagi setelah sekian lama, hanya bisa
menahan napas menghadapi wibawa yang terpancar darinya.
Si wanita tangguh itu
berkata.
"Kalian semua adalah
orang-orang yang akan berangkat ke Benua Martel setelah ini, ya."
Estelle mengenakan seragam militer hitam pekat yang menjuntai
hampir menyentuh lantai dengan sangat sempurna. Terpaan angin malam di
ketinggian itu membuat seragamnya berkibar layaknya sepasang sayap.
Ksatria Great Saint Hall menyahut suara Estelle.
"Siap! Kami diperintahkan untuk menuju ke sana sebagai
pasukan bantuan!"
Itulah
alasan mengapa mereka sengaja melakukan pertemuan di udara. Orang-orang di
sekitar yang berlalu-lalang di atas kapal sihir sedang sibuk berbagi berbagai
informasi.
"Bagaimana keadaan Great Saint Hall selama aku tidak
ada? Apakah kalian semua tetap tekun mengasah diri tanpa
bermalas-malasan?"
Dari barisan ksatria yang ditanya, seorang pria maju mewakili
untuk angkat bicara. Ia adalah ksatria bertubuh raksasa yang membanggakan
kekuatannya, sosok yang juga sering beradu pedang dengan Ren saat pemuda itu
berlatih di Great Saint Hall.
Bahkan pria segarang dia pun merasa tubuhnya kaku karena
ketegangan yang sudah lama tidak ia rasakan saat berdiri di depan Estelle.
"Tentu saja. Akhir-akhir ini, ada alasan yang membuat
kami harus berlatih lebih keras dari sebelumnya."
"Jangan-jangan────kalian
telah melakukan kelalaian di hadapan Keluarga Kekaisaran?"
Hawa
keberadaan yang menyelimuti Estelle berubah. Para ksatria Great Saint Hall
memang memiliki kesetiaan yang luar biasa kepada Keluarga Kekaisaran, namun
kesetiaan Estelle jauh melampaui mereka semua.
Oleh
karena itu, ia mengkhawatirkan kemungkinan bawahannya melakukan kesalahan,
sehingga suaranya kini mengandung tekanan intimidasi.
Menghadapi
tekanan tersebut, sang ksatria menelan ludah, namun ia segera menyampaikan
maksud aslinya.
"Kami
hanya menyadari kekurangan kekuatan kami saat berhadapan dengan bakat
baru."
"Bakat
baru, katamu?"
Ksatria
itu menceritakan tentang Ren Ashton yang mulai datang ke Great Saint Hall atas
rekomendasi Ulysses Ignat, serta tentang Licia Clausel.
Mendengar
cerita itu, Estelle tampaknya menaruh minat tidak hanya pada Licia, tetapi juga
pada Ren.
"Saya
yakin Yang Mulia Komandan akan langsung paham jika melihatnya sendiri."
Lalu,
ksatria lainnya ikut bicara.
"Tuan
Ren sudah berada di level Ksatria Pedang, dan musim panas lalu ia mengangkat
pedang di sisi Yang Mulia Pangeran Ketiga, menunjukkan pencapaian luar biasa
dalam insiden Menara Jam. Mungkin hari di mana ia menjadi Master Pedang tidak
akan lama lagi."
"Anak
laki-laki yang menjadi teman Yang Mulia Radius, ya. Aku memang pernah mendengar
rumornya."
Sambil
memikirkan Ren Ashton, Estelle mengarahkan wajahnya ke arah tanah airnya,
Leomel.
Namun,
ia mengembuskan napas sambil berpikir bahwa segalanya hanya bisa dinilai
setelah melihatnya secara langsung. Ia meletakkan tangan di bahu bawahannya
yang akan berangkat ke Benua Martel menggantikannya.
"Aku
mendengar cerita yang menarik. Aku serahkan sisanya pada kalian."
"Siap!"
Setelah
memberikan kobaran semangat, Estelle pun melanjutkan perjalanan pulangnya
menuju tanah air yang ia cintai.
Keesokan
harinya. Ada banyak hal yang berkecamuk di pikirannya setelah sekian lama
meninggalkan rumah. Perasaan hangat bergejolak saat ia menatap pemandangan sore
tanah airnya dari jendela kapal sihir.
Pesawat
militer yang ia tumpangi mendarat di pangkalan kapal sihir milik militer di
pinggiran Ibukota. Dari sana, ia menaiki kereta sihir yang berjalan di atas rel
khusus menuju stasiun dekat Great Saint Hall. Begitu turun dari kereta sihir,
ia langsung menuju Istana Kekaisaran.
Saat
langit mulai berada di ambang antara sore dan malam, Estelle tiba di istana dan
melakukan audiensi dengan Kaisar. Setelah menerima kata-kata penghargaan dari
Kaisar, ia bertanya tentang insiden di Erendil musim panas lalu.
Namun,
Kaisar menyuruhnya untuk bertanya langsung kepada Radius. Kaisar menambahkan
bahwa hal itu akan lebih praktis, mengingat ada alasan sebenarnya di balik misi
ekspedisi jangka panjang tersebut.
Begitu
Estelle keluar dari ruang audiensi, ia melihat Radius yang sedang menyandarkan
punggungnya di dinding koridor.
"Yang
Mulia Radius! Sudah lama sekali!"
Sosok Radius terlihat sangat serasi di koridor marmer hitam
yang interiornya mirip dengan Great Saint Hall.
Mendengar suara Estelle, Radius menjauhkan punggungnya dari
dinding dan melangkah mendekati Estelle yang sedang berjalan ke arahnya.
Melihat itu, Estelle bergegas hendak berlutut, namun karena
Radius berkata "Santai saja," ia pun mengurungkan niatnya dan
merapikan postur berdirinya.
"Padahal
aku bilang santai saja."
"Bagi
saya, ini adalah posisi yang paling santai. Mohon maklumi."
"Ya
ampun... kamu tidak berubah ya."
Radius
menepuk bahu Estelle pelan.
"Bagi orang yang sangat mencintai Leomel sepertimu,
ekspedisi jangka panjang ini pasti terasa berat di hati."
"Sama
sekali tidak. Tidak ada kehormatan yang lebih tinggi daripada menerima misi
rahasia dari Baginda Kaisar dan Yang Mulia Radius."
"Maafkan
aku. Tapi kudengar misi itu membuahkan hasil."
"Benar. Saya sudah
melapor kepada Baginda. Saya juga sangat ingin menyampaikannya kepada Yang Mulia
Radius."
Keduanya
mulai berjalan beriringan seolah sudah direncanakan. Cahaya jingga yang masuk
dari jendela mulai memudar di tengah percakapan mereka.
"Yang
Mulia Radius meminta bantuan saya pada musim semi dua tahun lalu, bukan?"
"Benar.
Beberapa bulan sebelum itu, aku banyak merenung tentang insiden yang pecah di
Pegunungan Baldur. Fokus utamanya adalah apakah keberadaan Kultus Raja Iblis
hanya mengincar negara kita saja atau tidak."
"Dan
pada saat itu, permintaan bantuan dari Holy Land datang di waktu yang sangat
tepat."
Radius
mengangguk, lalu berkata sambil mengenang masa itu.
"Bagi
kita, itu bisa membuat mereka berhutang budi. Ditambah lagi, kita bisa
melakukan sedikit pamer kekuatan."
"Namun,
tujuan sebenarnya berbeda."
Kalimat
tegas Estelle itulah alasan mengapa sosok sehebat dirinya sampai meninggalkan
tanah air selama hampir dua tahun.
"Baginda
dan Yang Mulia Radius memiliki tujuan tertentu dan memberikan misi rahasia
kepada saya. Selama meninggalkan tanah air, saya mengikuti perintah itu dan
telah menyelidiki banyak hal."
Isi
misi rahasia itu adalah penyelidikan. Secara formal, ia memimpin pasukan
bantuan ksatria Great Saint Hall, dan memang benar ia bekerja sama dalam
bantuan kemanusiaan di wilayah konflik.
Namun,
ia tidak meninggalkan tanah air hanya untuk hal itu saja. Estelle memiliki
misi, sebuah misi rahasia untuk menyelidiki apakah Kultus Raja Iblis terlibat
dalam konflik di wilayah tersebut, serta mencari informasi sekecil apa pun
mengenai Kultus Raja Iblis.
Estelle
bahkan sempat menjelajahi Benua Martel sendirian. Itulah alasan utama mengapa
orang dengan kedudukan setinggi dirinya absen selama hampir dua tahun.
Memang
lebih baik memiliki banyak kekuatan tempur untuk melindungi Keluarga Kekaisaran
dan Ibukota.
Estelle
sempat merasa bimbang dengan misi jangka panjang ini karena alasan tersebut,
namun Leomel memiliki King of Swords.
Jika
situasi sudah tidak bisa ditangani oleh King of Swords, maka keberadaan Estelle
pun tidak akan mengubah keadaan.
Kaisar
dan Radius pun sempat mengalami pergolakan batin. Meskipun ini adalah
penyelidikan yang sangat penting, mereka sempat ragu untuk mengirim orang
sehebat Estelle ke luar negeri selama dua tahun.
Namun,
justru karena ini adalah tugas yang sangat penting, maka Estelle-lah yang harus
melakukannya.
"Saya
telah melanjutkan aktivitas penyelidikan di Benua Martel dan berhasil
mendapatkan informasi mengenai orang-orang yang diduga sebagai petinggi Kultus
Raja Iblis."
Jika
demikian, maka pengirimannya bisa dikatakan membuahkan hasil yang berarti. Ini
adalah bukti bahwa Leomel tidak meremehkan keberadaan Kultus Raja Iblis, dan
jika ia bisa menunjukkan nilai dari misi rahasia ini, seharusnya tidak ada yang
akan memprotes.
"Meskipun
laporan rutin selalu sampai, aku sudah sangat tidak sabar untuk mendengarnya
secara langsung."
Ada
juga informasi yang didapat dari Lenidas, orang yang menyerang Menara Jam
Erendil musim panas lalu. Dari hasil interogasi, diketahui bahwa Kultus Raja
Iblis telah menyerang sebuah kuil dan mencuri artefak suci bernama Elfen's
Tear yang disimpan di sana.
Saat
itu, Lenidas dan para pemuja Raja Iblis kabarnya dipimpin oleh seseorang yang
disebut Pemimpin Kultus. Informasi-informasi ini juga telah dibagikan kepada
Estelle yang berada di Benua Martel yang jauh dari Leomel.
Estelle mengeluarkan selembar kertas dari balik seragam
militernya. Radius
menerimanya dan mulai membaca, sementara Estelle melanjutkan.
"────Bagaimana
Anda bisa sampai pada nama pria ini?"
"Semuanya
adalah kesimpulan berdasarkan informasi yang didapat dari Kultus Raja
Iblis."
"Kamu bertarung dengan mereka?"
"Benar. Tampaknya mereka juga beraksi di balik layar di
wilayah konflik, dan saya sempat beberapa kali bertemu dengan Kultus Raja Iblis
saat melakukan penyelidikan di sana. Namun, saya tidak bertarung dengan pria
yang tertulis di sana."
Estelle
telah beradu pedang berkali-kali dengan para pemuja Raja Iblis, namun ia
menyelesaikan semua pertempuran itu tanpa luka sedikit pun.
Dengan
menginterogasi lawan dan mengumpulkan informasi-informasi kecil dari barang
bawaan mereka selama kurang lebih dua tahun, ia akhirnya sampai pada satu
sosok.
"Pria
itu diduga adalah sang Pemimpin Kultus."
"...Menurut
legenda, dia adalah salah satu orang yang menjabat sebagai ajudan Raja Iblis,
bukan?"
"Tidak
ada catatan pasti yang menyatakan pria itu sudah mati. Yang ada hanyalah
catatan bahwa ia menghilang tepat saat Raja Iblis tewas."
Radius
menggumam "Memang benar begitu" sambil berjalan, matanya menatap
tajam ke arah kertas perkamen tersebut. Estelle yang berjalan
setengah langkah di belakangnya berkata sambil tetap memperhatikan sang
pangeran.
"Apakah Yang Mulia masih ingat tentang kuil yang dulu
diserang oleh mereka?"
"Maksudmu tempat di mana Elfen's Tear dicuri? Aku
ingat, memangnya kenapa?"
"Saya berhasil bertemu dengan petualang yang sempat
berkunjung ke kuil tersebut. Menurutnya, pada saat itu, ada dua orang ajudan
yang mendampingi sosok yang diduga Pemimpin Kultus tersebut."
"Informasi itu bahkan tidak bisa didapat dari Lenidas.
Apa ada informasi mengenai penampilan mereka berdua?"
"Tidak ada. Baik orang-orang di Holy Land maupun para
petualang yang ada di sana mengatakan bahwa sosok yang diduga Pemimpin Kultus
dan kedua ajudannya itu mengenakan jubah dan menyembunyikan wajah mereka dengan
topeng."
Dulu, Ren pernah bergerak untuk membagikan informasi tentang
Kultus Raja Iblis berdasarkan pemikirannya sendiri.
Informasi yang ia miliki tentang Kultus Raja
Iblis────meskipun lokasi kemunculan mereka sudah tidak bisa dijadikan patokan
lagi, informasi yang bisa dibagikan sangatlah sedikit. Informasi yang ia
bagikan kepada Ulysses saat insiden Pegunungan Baldur adalah hampir seluruh
informasi yang Ren ketahui.
"Begitu informasi ini dirangkum, aku harus
menyampaikannya kepada Ren dan Ulysses."
Ren juga sudah tahu tentang keberadaan sosok yang disebut
Pemimpin Kultus, dan informasi itu telah dibagikan.
Ren sebenarnya sudah mengetahui keberadaan Pemimpin Kultus
karena sosok tersebut menampakkan diri di akhir cerita Seven Heroes Legend
II. Itulah
sebabnya ia mengernyitkan dahi saat mendengar kata "Pemimpin Kultus"
pada insiden musim panas lalu.
Namun, karena Pemimpin Kultus yang dilihat Ren
pun menyembunyikan sosoknya seperti dalam laporan Estelle, maka ini akan
menjadi pertama kalinya Ren mengetahui nama, ras, serta keberadaan dua petinggi
utama mereka.
"Aku ingin mendengar lebih banyak lagi. Apa boleh?"
"Tentu saja. Tidak mungkin saya pulang ke kediaman tanpa
memberikan laporan lengkap."
"Maaf ya. Aku sudah memesan hasil bumi dari kampung
halamanmu, Drake, dan Gunung Osroes. Mari kita dengarkan perlahan sambil makan."
Setelah
mengatakan itu, Radius bergumam.
"...Kita
akan menjadi sangat sibuk."
Setelah
pembicaraan dengan Estelle berakhir, Radius menuju kamarnya untuk membaca
laporan. Sementara itu, Estelle yang sedang berjalan di dalam istana mendadak
dipanggil oleh ksatria pengawal untuk kembali ke ruang audiensi.
Di
sana, ia menerima perintah baru dari Kaisar, dan sebelum meninggalkan ruangan,
ia diberikan satu perintah tegas.
Isi
dari tugas baru ini tidak boleh diketahui oleh siapa pun. Bahkan oleh Radius
ataupun Permaisuri sekalipun. Meskipun Estelle merasa heran dengan isi tugas
tersebut, ia tetap menjawab "Serahkan pada saya" kepada Kaisar.
"Beliau
memberikan tugas yang tidak biasa lagi."
Malam semakin larut. Setelah keluar dari istana, Estelle menatap langit yang penuh bintang, lalu memulai perjalanan pulangnya menuju kediamannya sendiri setelah sekian lama.



Post a Comment