Chapter 3
Kemampuan Berpedang
"Selamat
pagi," ucap salah satu ksatria Great Saint Hall.
Sapaan
itu terucap saat fajar belum sepenuhnya menyingsing, di kala langit masih
diselimuti keremangan.
"Apakah
Saintess tidak datang?"
"Nona
Licia sedang ada urusan dengan keluarga Clausel. Sepertinya beliau baru bisa
mengejar waktu pelajaran, tapi tidak bisa ikut latihan pagi."
Ren
mengangguk sopan kepada ksatria tersebut, lalu melangkah masuk lebih dalam.
Di area latihan. Seperti biasa, Ren berlatih hingga
bermandikan peluh.
Sudah beberapa jam ia terus mengasah pedang bersama para
ksatria berbaju zirah hitam pekat. Meski telah melewati serangkaian duel tanpa
henti, Ren yang mulai kehabisan napas tetap terus mengayunkan pedangnya.
Dalam kondisi seperti ini, beberapa ksatria dewasa pun mulai
ada yang menyerah. Satu per satu mereka meninggalkan bagian tengah panggung
latihan dan duduk tersungkur di lantai.
Namun, tak ada yang bisa menyebut mereka sebagai orang lemah
hanya karena kalah dari seorang remaja. Setiap harinya, Ren terus tumbuh dengan
kecepatan yang benar-benar tidak manusiawi.
Meskipun para ksatria Great Saint Hall adalah orang-orang
berbakat, pemuda pengguna pedang sihir itu tetap berada selangkah di depan
mereka.
Para ksatria mulai berbisik-bisik.
"Akhir-akhir ini, aura Tuan Ren terasa lebih kuat dari
sebelumnya ya..."
"Katanya
sih, ini karena pengaruh Festival Lion King. Karena waktu untuk datang sepulang
sekolah akan berkurang, sepertinya ia berusaha datang sepagi mungkin."
Di
ujung pandangan para ksatria, Ren tampak begitu tulus hanya untuk mengayunkan
pedangnya. (Lebih kuat lagi.)
Ia
benar-benar tenggelam dalam ayunan pedangnya. Tepat saat ia sedang mengerahkan
seluruh kekuatannya yang bergejolak sambil menyebarkan butiran keringat—
"Mungkinkah
sosok itu adalah...!?"
"Se-sejak
kapan beliau pulang!?"
Para ksatria terkejut, dan mereka yang tadinya duduk langsung
bergegas berdiri. Di atas balkon yang menghadap langsung ke area latihan bawah
tanah yang luas, muncul sesosok figur yang membuat semua orang langsung
menegakkan punggung.
Seketika,
suasana menjadi sunyi senyap. Bahkan lawan tanding Ren pun menghentikan
gerakannya dan mendongak ke arah balkon tersebut.
Melihat itu, Ren mengira lawan tandingnya memberikan kode
menyerah.
"Tolong, lanjutkan pertandingannya!"
Ia berseru dengan penuh semangat sambil menunggu penantang
berikutnya. Tanpa
kenal lelah ia mengayunkan pedang demi meningkatkan kemahiran teknik Cloak.
Di
tengah ambisi Ren untuk menjadi Sword Saint, tiba-tiba terdengar suara
wanita dari ketinggian.
"Menurut
ajaran Elfen, kegigihan adalah salah satu semangat yang paling agung. Dan
kabarnya, jika kegigihan itu disertai kekuatan yang luar biasa, orang-orang
akan memujinya sebagai keberanian yang gagah perkasa."
Merasakan
wibawa yang luar biasa dari suara itu, secara tidak sadar Ren mendongak ke arah
balkon. Di sana, sosok itu berdiri.
"────Ternyata
di Great Saint Hall-ku, ada pemuda yang sangat bersemangat ya."
Wanita
itu ada di sana. Inkarnasi dari ketegasan dan gairah tempur, sedang menatap
rendah ke arah mereka dari atas.
(Ke...
kenapa...?)
Ren
sama sekali tidak menyangka dia akan muncul secepat ini tanpa peringatan apa
pun. Sosok itu tampak seolah menertawakan Ren yang terpaku heran, lalu berseru
dengan lantang kepada para ksatria.
"Kalian
semua, lanjutkan latihan! Kecuali jika kalian tidak merasa menyesal telah
dikalahkan oleh bocah yang bahkan belum cukup umur."
Suara
langkah sepatu kulitnya bergema setiap kali ia melangkah. Sambil memancarkan
kehadiran yang lebih kuat dari siapa pun, wanita itu berjalan ke tengah area
latihan dan bicara pada Ren.
"Sebutkan
namamu."
Di
tengah area latihan itu, tekanan yang ia berikan terasa sangat nyata melalui
suaranya. Dipadukan dengan aura yang membuat kulit terasa perih, Ren hampir
saja menelan ludah, namun ia segera menenangkan diri dan membuat wanita itu
terkesan.
"Nama
saya Ren Ashton."
"Sudah
kuduga."
Ren
tidak gentar sedikit pun menghadapi tatapan tajam wanita itu yang seolah
menembus sukma.
"Namaku
Estelle. Aku adalah Komandan Great Saint Hall ini."
Nama
itu sesuai dengan dugaan Ren. Melihat Estelle secara langsung, Ren dilingkupi
rasa tegang yang sudah lama tidak ia rasakan.
(Seingatku
tidak ada kabar soal parade penyambutan pasukan yang kembali... yah, mungkin
tidak selalu diadakan setiap saat.)
Namun, Ren yang kemudian melirik jam refleks berteriak kecil.
Waktu untuk bersiap-siap pergi ke akademi sudah hampir habis.
Begitu menyadari dirinya terlalu asyik mengayunkan pedang, ia
hampir saja memegangi kepalanya karena panik. Meski begitu, ia bimbang apakah
sopan meninggalkan sosok sehebat Estelle begitu saja hanya demi sekolah.
"Komandan, Tuan Ren harus segera pergi ke akademi."
Salah satu ksatria memberikan bantuan, dan seketika sikap
Estelle berubah drastis.
"Ren, kau akan pergi ke sekolah dengan benar, kan?"
"I-iya!
Tapi karena saya merasa harus memberi salam terlebih dahulu, saya jadi sulit
mengatakannya!"
"Umu.
Niat yang luar biasa. Bagaimanapun pelajaran itu penting, apalagi di musim
seperti ini."
Tanpa
diduga, Estelle mengizinkannya pergi dengan begitu mudah hingga membuat Ren
terpaku. Setelah membungkuk hormat, Ren bergegas meninggalkan area latihan dengan
langkah seribu.
Sambil menatap punggung Ren yang menjauh, Estelle bergumam.
"Boleh juga. Dia pemuda yang punya pendirian
teguh."
Estelle
kemudian tertawa kecil. "Meskipun, tentu saja tidak sehebat suamiku."
◇◇◇
"────Begitulah
kejadiannya."
Ren
menceritakan apa yang terjadi di Great Saint Hall kepada Licia di dalam kelas. Mereka sedang
berbincang sambil berdiri di dekat kursi mereka masing-masing.
Sera yang baru saja tiba di sana tampak menunjukkan senyum
yang kaku.
"Ja-jadi
Komandan itu sudah kembali ya..."
"Aku
sendiri belum pernah bertemu beliau, tapi apa Sera punya kenangan buruk
dengannya?" tanya Licia.
"Bukan
aku, tapi ayahku. Yah, tidak bisa dibilang kenangan buruk juga sih."
Beberapa
saat sebelum Ren dan Licia datang ke Erendil, ayah Sera—Earl Riohard saat
ini—pernah bertanding pedang dengan Estelle. Bukan karena perselisihan yang
berbahaya, melainkan murni untuk menguji kemampuan satu sama lain.
"Kalah telak. Benar-benar telak."
"Benarkah? Padahal ayahmu juga berada di level Sword
Saint, kan?"
"Iya. Aku yang melihat dari pinggir saja sampai tidak
paham apa yang terjadi. Ayahku yang bertarung saja bilang dia kalah bahkan
sebelum menyadari apa yang menyerangnya."
Sera
menambahkan sambil mencoba mengingat kejadian saat itu.
"Licia
juga pasti tahu kan, Sword Saint pengguna Great Sword itu jauh
lebih kuat daripada aliran lain. Lagi pula, di tingkat Sword Saint,
perbedaan kekuatannya adalah yang paling besar."
Itu
karena Sword Saint adalah satu tingkat tepat di bawah Sword King.
Karena di atas itu hanya ada Sword King, sulit untuk membuat
perbandingan, sehingga perbedaan kekuatan di antara sesama Sword Saint
pun sering kali sangat mencolok.
Apalagi bagi pengguna Great Sword Skill yang memiliki
karakteristik unik.
"Ah! Ngomong-ngomong, ada yang ingin kutanyakan pada Licia!"
"Kenapa tiba-tiba?"
"Soal Great Sword
Skill! Bagaimana perkembangannya? Aku dengar Licia juga sering ke Great
Saint Hall untuk berlatih, jadi beri tahu aku seberapa kuat kamu
sekarang!"
Bagi Sera yang menganggap Licia sebagai rival sekaligus target yang harus dilampaui, ia benar-benar penasaran dengan tingkat kekuatan Licia saat ini.
"Aku baru bisa
menggunakan teknik tempur level Sword Fighter sekitar akhir tahun lalu,
dan sekarang sedang mengincar level Sword Great Master."
Mendengar jawaban santai dari
sahabatnya itu, senyum Sera membeku.
"……Harusnya aku tidak
usah tanya."
Itu setara dengan level Sword
Great Master di aliran lain. Apalagi hal itu sudah dicapainya sejak akhir
tahun lalu, membuat Sera benar-benar merasa tak berdaya.
Sera merebahkan tubuhnya di
atas meja Licia, lalu mulai menghentak-hentakkan kakinya di bawah meja.
Sepertinya…… atau lebih
tepatnya sudah pasti, dia menyadari jarak kemampuan di antara mereka telah
melebar dan hal itu membuatnya sangat terpukul.
"……Nona
Licia."
"Jangan
dipikirkan. Sera ini meski terlihat begini, dia punya mental baja kok."
"Apa
maksudmu 'terlihat begini'! Memangnya aku kelihatan lemah?"
"Secara
fisik, iya. Habisnya Sera punya pinggang yang sangat ramping, kan?"
"Itu terdengar seperti sindiran bagiku. Aku tidak mau
mendengarnya dari gadis yang lebih langsing dariku."
Setelah saling melempar gurauan, keduanya tersenyum bersama.
Tepat saat Licia menopang dagu dengan wajah pasrah, Ren
mendadak bergumam, "Lho?"
"Ngomong-ngomong, Vane tidak ada ya."
Kata-kata
itu seketika membuat ketegangan merambat di antara ketiganya.
Terutama
karena sikap Sera yang berubah drastis, membuat Ren hanya bisa terpaku heran.
"Siapa
itu? Aku tidak kenal nama orang itu."
"……Eh."
Melihat Ren yang kebingungan karena suara dingin Sera, gadis
itu malah memalingkan wajah ke luar jendela dengan sikap ketus.
Licia pun berbisik ke telinga Ren. Sesaat, aroma manis dari tubuh Licia
tercium olehnya.
"Dia
sepertinya dipanggil oleh kakak kelas. Katanya seorang gadis dari keluarga Earl
di tingkat dua, dan dia sangat cantik."
"Ah, aku pernah mendengar rumornya."
"Sera jadi tidak senang gara-gara itu."
"Begitu ya. Sepertinya aku baru saja menyentuh hal yang
tidak boleh disentuh."
Licia
hanya bisa tersenyum pahit sambil berkata, "Kurasa jangan terlalu
dipikirkan."
"……Ren
juga ingin bertemu kakak kelas itu?"
"Tidak juga."
Jawaban instan itu malah
membuat Licia yang tercengang.
Di
sisi lain, Ren diam-diam merenung.
(Sepertinya memang ada event seperti itu.)
Tak lama setelah masuk sekolah, selagi Vane mempererat
hubungan dengan orang-orang dari keluarga Earl, ia akan bertemu dengan gadis
kelas dua yang berstatus sebagai sub-heroine.
Sesuai kata Licia, dia memang
gadis yang cantik.
(Tapi apa dulu Tuan
Riohard sampai sebal begini ya?)
Mungkin apa yang dialami Ren
sekarang adalah sisi di balik layar dari event tersebut.
Meski Ren sering mengingatkan
diri sendiri bahwa mencampuradukkan gim dengan kenyataan adalah hal bodoh, ia
tetap terpikirkan jika menemukan kemiripan seperti ini.
"Oh
iya! Mulai siang ini kan! Pelajaran yang kita ikuti akan dimulai!"
Sera
yang tadi kesal langsung mengganti topik pembicaraan dengan agak memaksa demi
mengubah suasana hatinya.
Itu
adalah pelajaran ilmu pedang yang paling ia nantikan.
Pelajaran
umum seperti ilmu pedang tidak terbatas untuk kelas beasiswa saja, terkadang
murid dari kelas reguler pun ikut bergabung.
Ketiganya
dijadwalkan mengikuti pelajaran yang sama siang nanti.
"Tapi
Sera, seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak keberatan kalau kita latihan
bersama di luar akademi."
"Aku
ingat kok, tapi aku memang sengaja ingin menunggu hari di mana kita bisa beradu
pedang di akademi."
"Memangnya
ada artinya?"
"Ini
masalah perasaan. Aku ingin menunjukkan diriku yang sudah lebih kuat daripada
saat kalah telak di markas ksatria dulu, di panggung yang megah ini."
Karena
Sera memiliki pemikirannya sendiri, Ren maupun Licia memutuskan untuk
menghormatinya.
Saat
Vane kembali ke kelas, Sera menyambutnya dengan wajah ketus.
Ren
yang melihat punggung Vane yang tampak kebingungan hanya bisa tersenyum dalam
hati sambil membatin, "Semangat ya."
Setelah
makan siang dan sebelum menuju area latihan, Sera memamerkan suasana hati yang
jauh lebih ceria daripada pagi tadi di dalam ruang ganti.
"Aku harus bersiap-siap dengan teliti."
"Jangan
sampai menghabiskan terlalu banyak tenaga saat pemanasan, ya."
"Aku
tahu kok!"
Karena
Akademi Militer Kekaisaran tidak menetapkan pakaian olahraga khusus, para murid
bebas mengenakan pakaian yang menurut mereka nyaman untuk bergerak dan bisa
membangkitkan semangat.
Setelah
selesai berganti pakaian, keduanya keluar dari ruang ganti menuju area latihan
ilmu pedang.
Area
latihan itu tampak seperti arena pertarungan kecil, dengan fasilitas yang
rasanya terlalu mewah untuk sebuah institusi pendidikan. Bahkan di
sekelilingnya disediakan kursi penonton.
Di
sana sudah ada sekitar sepuluh murid yang berkumpul. Vane terlihat sudah ada di
sana, namun Ren belum menampakkan batang hidungnya.
"Ren
sepertinya belum datang ya," ujar Sera, yang langsung dijawab oleh Licia.
"Ren
akan datang terlambat. Dia ada tugas panitia Festival Lion King, jadi baru bisa
ikut pelajaran siang di sesi kedua."
"Eh?
Kalau begitu bukankah Licia juga harus pergi?"
"Seharusnya
begitu."
"Seharusnya?
Apa maksudnya?"
"Jangan dipikirkan. Ini urusanku."
Tugas Ren sebenarnya bukan hal besar, hanya membereskan
beberapa dokumen ringan.
Ren
merasa kasihan jika Licia harus ikut repot. Ia tidak ingin membuat Sera, yang
sudah menantikan pelajaran hari ini, menunggu lebih lama lagi.
Licia
pun merahasiakan hal itu dan mulai melakukan pemanasan sebelum pelajaran
dimulai.
Saat ia sedang melemaskan tubuh, Vane datang menghampiri Sera
dan Licia.
"Katanya Ren bakal datang terlambat."
"Kalau
urusan panitia sih mau bagaimana lagi, kita juga harus berterima kasih
padanya."
"Ya.
Jadi, um... hari ini kamu berpasangan dengan Nona Clausel?"
"Tentu
saja."
Sambil
melakukan pemanasan dan berbincang, waktu yang dinantikan pun tiba.
Seorang instruktur pria yang mengampu pelajaran ini datang ke
area latihan. Ia menatap sekitar dua puluh murid yang berkumpul lalu mulai
bicara.
"Selamat
datang di kelas Ilmu Pedang Kekaisaran."
Di
akademi ini, murid juga bisa memilih mata pelajaran lain seperti teknik pedang
suci. Selama mengambil Ilmu Pedang Kekaisaran yang menjadi dasar, nilai kredit
ilmu pedang tidak akan bermasalah, sisanya tergantung pada kebijakan
masing-masing murid.
"Di
Leomel, Ilmu Pedang Kekaisaran ditetapkan sebagai dasar dari segala teknik
pedang. Murid kelas beasiswa maupun kelas reguler pasti sudah mempelajari dasar
penggunaan pedang sampai batas tertentu."
Para murid mengangguk dalam diam.
"Pertama-tama,
aku ingin memastikan sejauh mana kemampuan kalian. Silakan cari pasangan sesuka
hati dan mulailah mengayunkan pedang."
Di
saat para murid mulai mencari pasangan, pasangan Licia dan Sera menjadi pusat
perhatian yang paling menonjol.
Selain
karena kecantikan mereka yang luar biasa, keduanya adalah gadis yang kemahiran
pedangnya sudah tersohor. Sang instruktur pun merasa tertarik untuk melihat
seberapa kuat mereka berdua.
Keduanya melangkah ke tengah area latihan yang secara tidak
sadar dihindari oleh murid lain. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang, mereka
memasang kuda-kuda dengan pedang latihan.
Licia, yang setiap harinya berlatih melawan Ren atau ksatria
Great Saint Hall, tampak sangat tenang dan santai.
Ini adalah bagian dari pelajaran, waktu bagi instruktur untuk
mengukur level para murid. Namun, karena merasa ini adalah mereka berdua, dan
karena memiliki pemikiran lain, sang instruktur tidak berniat menghentikan duel
mereka.
Meski ini hanyalah bagian dari pelajaran, Sera mengayunkan
pedangnya seolah-olah ia sama sekali tidak memedulikan hal itu. Hentakan kaki dan ayunan
pedangnya jelas bukan milik gadis biasa.
"Hah!"
Tekanan
yang seolah membelah udara merambat ke seluruh area latihan. Gerakan tubuh,
ketajaman pedang, semuanya menunjukkan kemampuan yang sanggup meruntuhkan rasa
percaya diri murid-murid lainnya.
Namun,
perhatian yang tadinya tertuju pada Sera yang memamerkan teknik pedang warisan
keluarga Earl Riohard, mulai beralih.
Dibandingkan
dengan Sera yang tampil agresif, kehebatan Licia yang sanggup menangkis
semuanya mulai terlihat lebih menonjol.
"Aneh!
Licia, kamu jadi makin kuat lagi ya! Tapi kenapa!? Kenapa kamu cuma
terus-menerus mengamati gerak-gerikku!"
"Tidak
boleh?"
"Bukannya
tidak boleh, tapi jangan bilang kamu sedang meremehkanku!"
"Mana mungkin. Aku hanya
sedang mencoba membaca gerakanmu."
Seolah membuktikan
kata-katanya, dalam sekejap gerakan Licia berubah total. Pedang Sera yang
secepat angin hanya menyambar tepat di samping pedang yang dipasang Licia.
Tiba-tiba, saat Sera
kehilangan keseimbangan, ia buru-buru memasang posisi bertahan.
"────Eh!?"
Di sana, pedang Licia sudah
mendekat. Gerakannya jauh lebih cepat daripada pedang Sera yang tadinya
dianggap secepat angin.
Sera berhasil menangkisnya,
namun serangannya sangat berat hingga kakinya hampir goyah.
Meski begitu, Licia tidak
menggunakan konsep Cloak yang merupakan ciri khas teknik Great Sword
Skill. Ia
merasa sulit menentukan apakah itu termasuk teknik tempur atau bukan, dan
merasa hal itu tidak sesuai dengan tujuan pelajaran kali ini.
"Kamu
pasti bisa lebih cepat lagi, kan! Tunjukkan kecepatan pedang asli Licia
padaku!"
"Ya!
Tentu saja!"
Satu
tingkat, lalu satu tingkat lagi, Licia meningkatkan kecepatan ayunannya hingga
akhirnya mencapai kecepatan yang biasa ia gunakan saat menghadapi Ren.
Jika
kekuatan Great Sword Skill ditambahkan di sana, pasti levelnya akan jauh
berbeda. Berat maupun kecepatan pedangnya akan bertransformasi menjadi sesuatu
yang lain sama sekali, dan ia akan menunjukkan sosok dengan kasta yang berbeda
pula.
Namun,
tanpa menggunakan kekuatan itu pun, Licia berhasil mendominasi Sera.
Hentakan
kaki Sera yang menahan serangan pertama pun goyah oleh benturan baru. Saat
mencoba menangkis serangan kedua pun, Sera tidak sempat memulihkan posisinya
sehingga lengannya merentang lebar, meninggalkan celah besar di sisi tubuhnya.
Pada
serangan ketiga, Sera akhirnya tidak bisa melakukan apa-apa, dan pedang di
tangannya terpental jauh.
Tak
lama kemudian, pedang Licia sudah tertuju di depan Sera yang jatuh bertumpu
pada lututnya di lantai.
Meski
menderita kekalahan, Sera tampak tersenyum. Rasa sesak karena jarak kemampuan
yang semakin lebar dibanding duel terakhir memang sulit diungkapkan dengan
kata-kata, namun ada perasaan bergejolak saat menghadapi kekuatan gadis yang ia
jadikan target tersebut.
"Ayo,
Sera."
Licia
mengulurkan tangannya.
"Terima kasih. Hah……
Padahal ini baru teknik pedang biasa, kan? Bagaimana jadinya kalau kamu memakai
Great Sword Skill."
"Tapi Sera kan punya teknik Holy Sword Skill."
"Kalau bicara begitu, Licia juga sebentar lagi bisa
memakai Holy Magic, kan?"
Sera tidak mengatakan itu dengan nada tidak senang. Senyum
yang tersungging di pipinya membuktikan bahwa ia merasa puas dengan pertarungan
tadi.
Kenyataannya,
ia berterima kasih pada Licia. Pedang yang ditunjukkan Licia di akhir tadi
adalah kecepatan maksimal yang bisa ia kerahkan tanpa menggunakan Cloak.
Lebih
dari itu, pertarungan tadi akan berubah menjadi pertarungan yang sesungguhnya.
Jadi, itulah batasan maksimal yang bisa Licia tunjukkan di sini.
"Sekali
lagi! Masih ada waktu, kan?" ujar Sera.
"Aku
sih tidak keberatan, tapi bagaimana dengan Vane-kun?"
"Tenang
saja! Aku sudah bilang pada Vane kalau hari ini aku mau bertarung dengan Licia!"
Sera
yang menjulurkan lidahnya itu masih tampak penuh semangat, dan dalam latihan
selanjutnya pun ia terus mengayunkan pedang melawan Licia tanpa patah semangat.
Selama
pelajaran berlangsung, ada beberapa murid laki-laki yang mencoba mengajak Licia
berduel. Mereka adalah orang-orang yang sebelumnya tertarik pada kecantikan Licia.
Meski
mereka tampak percaya diri dengan kemampuannya,
"Maaf
ya. Hari ini aku sudah berjanji untuk berlatih dengan Sera."
Meski
Licia menolak dengan halus, murid-murid laki-laki itu tidak langsung menyerah.
"Kalau
begitu bagaimana dengan pelajaran berikutnya? Aku dengar Ashton yang selalu
bersamamu itu cukup mahir, tapi aku juga sangat ingin berduel denganmu."
"Aku
juga yakin bisa menjadi lawan latihan yang lebih baik daripada anak ksatria
rendahan itu!"
Mereka
pasti melakukannya secara tidak sadar. Tanpa niat menghina Ren, kata-kata itu
keluar begitu saja karena rasa putus asa ingin akrab dengan Licia.
Sera
yang mendengar percakapan itu di sampingnya hanya bisa tersenyum pahit. Sambil
membatin apa yang mereka katakan, ia memahami bahwa wajar saja jika mereka
tidak tahu kekuatan Ren, lalu ia melirik wajah Licia.
Adapun
Licia,
"Terima
kasih atas tawarannya. Tapi aku tidak apa-apa, jadi maaf ya."
Setelah
mengatakannya dengan senyum manis, ia menoleh ke arah Sera.
"Ayo
kita lanjutkan."
"Ya."
Kedua
murid laki-laki tadi tidak bisa lagi menyela dan hanya bisa terpaku melihat
permainan pedang mereka. Begitu instruktur memerintahkan untuk melanjutkan,
mereka akhirnya menyerah dan kembali ke tempat masing-masing.
Di
sisi lain, Licia melanjutkan pembicaraan seolah tidak terganggu.
"Ngomong-ngomong,
bukankah mereka tadi anak-anak bangsawan dari faksi Kerajaan dan faksi
Pahlawan?"
"Akhir-akhir ini memang banyak yang seperti itu. Sejak
kejadian di Pegunungan Baldur, interaksi lintas faksi kan jadi meningkat. Ada
yang masih terus bertikai, ada juga yang tidak."
"Hmm…… begitu ya."
Pada
paruh pertama pelajaran siang, kedua gadis ini menjadi pusat perhatian utama.
Vane pun tidak kalah menarik perhatian, ia menunjukkan kemampuannya di hadapan
pemuda-pemudi seangkatannya.
Meskipun
kemampuan pedangnya belum menyamai Sera, namun jika melibatkan kekuatan fisik
dan faktor lainnya, ia setara atau mungkin sedikit melampaui gadis itu.
Ren baru tiba sesaat sebelum pelajaran berakhir. Tak lama
kemudian lonceng tanda berakhirnya pelajaran berbunyi, dan instruktur ilmu
pedang memberikan isyarat selesai.
Murid-murid yang berkeringat mulai meninggalkan area latihan
sedikit demi sedikit. Ada yang beristirahat, ada yang tetap tinggal untuk
mengobrol. Ada pula yang memperhatikan Ren yang baru datang, mengamati dengan
penuh rasa ingin tahu apakah dia juga akan mengayunkan pedang.
Termasuk dua orang yang mengajak Licia tadi, masih ada
sekitar setengah dari jumlah murid yang tersisa.
"Maaf ya. Padahal aku harusnya ikut membantu pekerjaanmu
juga."
"Tidak apa-apa. Aku juga merasa tidak enak jika harus
membuat Tuan Riohard menunggu lebih lama lagi."
Licia
menjawab perhatian Ren dengan suara riang, "Terima kasih."
Saat
mereka sedang berbicara,
"Ashton,
Clausel."
Sang
instruktur memanggil mereka.
"Aku
ingin memastikan kemampuan Ashton juga. Clausel, tolong jadilah lawan
tandingnya."
Saat
pelajaran dimulai, sang instruktur memang memiliki niat tertentu sehingga ia
membiarkan duel Licia dan Sera, namun Ren pun tidak luput dari pengamatannya.
Para
murid yang masih tersisa di area latihan mulai menyadari situasi antara Ren dan
Licia. Dua orang yang sebelumnya menyapa Licia tadi mulai berbisik,
"Apa
dia benar-benar kuat?"
"Katanya
saat ujian akhir pun dia hanya diam saja, jadi entahlah."
Sera
yang mendengar suara itu dari kursi penonton menopang dagu dengan sikut
bertumpu pada sandaran kursi di depannya. Vane yang duduk di sampingnya pun
tampak pasrah.
"Katanya
Ren sama sekali tidak menunjukkan kekuatannya saat ujian akhir dan hanya fokus
pada tugas pendukung."
"Aku
dengar begitu. Meski monster muncul pun, dia mengalahkannya dengan ayunan
pedang yang santai, jadi kekuatan aslinya tidak diketahui."
"Benar.
Makanya aku menantikan ini. Aku ingin melihat lagi dengan mata kepalaku sendiri
seberapa kuat dia sebenarnya."
Tanpa
menyadari percakapan rahasia kedua temannya, Ren dan Licia saling berhadapan
dan merapikan posisi mereka. Keduanya berjalan ke tengah area latihan tanpa
rasa tegang, tampak seperti biasanya. Seperti saat mereka akan latihan di Great
Saint Hall.
"Bagaimana
dengan pemanasan?"
"Tidak
apa-apa, aku akan melemaskan tubuh sambil mengayunkan pedang seperti
biasa."
"Ya.
Baiklah."
Di
depan Licia yang baru saja menunjukkan teknik pedang sehebat itu, pemuda ini
ingin melemaskan tubuh dalam format pertarungan sungguhan? Murid-murid lain
terkejut, menganggap Ren mungkin terlalu meremehkan Licia.
Namun,
begitu duel dimulai, hentakan kaki dan kecepatan ayunan pedang yang ditunjukkan
Licia hampir sama persis dengan saat ia menghadapi Sera. Semua orang
membayangkan Ren yang memasang kuda-kuda santai itu akan langsung tumbang,
tapi—
────Segala
imajinasi itu meleset jauh.
"Bo-bohong, kan?"
"Tadi... apa yang terjadi...?"
Gadis-gadis yang menonton mulai bergumam kaget. Kapan dia
menangkis pedang itu? Tidak ada yang terlihat. Begitulah raut wajah mereka
seolah ingin berteriak.
Yang disaksikan para murid adalah pemandangan di mana pedang Licia
ditangkis dengan begitu mudahnya. Bukan hanya tangan Ren yang menangkis, bahkan posisi
tubuhnya sama sekali tidak goyah. Sera dan Vane yang cukup percaya diri dengan
kemampuannya pun ikut terkejut.
"Benar-benar
berbeda jauh dibanding musim panas lalu ya."
"Ya."
Dua
orang yang pernah melihat kekuatan Ren itu teringat kembali pada musim panas
tersebut.
Murid-murid
lainnya tampak terpana, benar-benar menahan napas dan lupa berkedip.
Dua
orang yang menyapa Licia tadi bahkan sampai bungkam seribu bahasa.
Kecepatan
ayunan pedang Licia meningkat, suara dentuman pedang yang beradu menusuk
telinga semua orang.
Licia
mempererat genggamannya pada pedang, lalu menarik napas panjang.
Pemuda
di hadapannya, Ren Ashton, juga mengubah cara bertarungnya yang tadinya hanya
menangkis pedang Licia────.
Seketika, suara dentuman benturan pedang bergema dengan
dahsyat. Dari tangan Ren yang mengubah cara menangkisnya, getaran hebat
merambat hingga ke tangan Licia.
Tekanan pedang yang mereka berdua tunjukkan bertransformasi
dalam sekejap mata.
Meski pedang Licia yang berubah suasananya itu semakin ganas,
Ren menghadapinya tanpa kesulitan.
Padahal Licia yang menyerang, namun ia yang justru terdorong
mundur setelah serangannya ditangkis. Meski begitu, ia tidak mau kalah dan
memperkuat genggamannya.
Ia menghindari balasan pedang Ren dengan gerakan tubuh yang
ringan, lalu melancarkan tebasan mengalir yang menjadi keahliannya dengan lebih
tajam dari sebelumnya.
Murid-murid di sekelilingnya tidak bisa membayangkan
bagaimana cara menangkis atau mengalihkan serangan semacam itu.
Kecepatan
maupun kekuatan fisiknya memang luar biasa, tapi…… Ren dengan mudah menepis
serangan itu dari depan, dan di saat yang sama, ia mengarahkan pedangnya ke
arah Licia yang kehilangan keseimbangan.
Pertarungan
singkat yang hampir terjadi dalam sekejap itu merampas kata-kata dari mereka
yang menonton.
Licia
memecah keheningan yang memenuhi ruangan.
"Padahal
tadi aku cukup percaya diri lho."
Begitu
Licia melepaskan genggamannya, pedangnya terjatuh ke lantai. Ren tersenyum
pahit karena berhasil mengambil poin dengan mudah alih-alih hanya bertahan,
lalu menurunkan pedangnya pelan.
Kata
"melampaui level pelajar" pun rasanya sama sekali tidak cukup untuk
menggambarkannya.
Mereka
berdua menunjukkan betapa orang yang mengasah pedang di Great Saint Hall bisa
mengerahkan kekuatan yang luar biasa bahkan tanpa menggunakan Cloak
maupun teknik tempur. Kini, tidak ada satu pun orang di sana yang meragukan
kemampuan Ren.
Instruktur ilmu pedang mendekati Ren dan Licia dengan wajah
serius. Ia
juga salah satu orang yang sempat kehilangan kata-kata melihat permainan pedang
mereka dan mulai memikirkan banyak hal.
"Ada
yang ingin kubicarakan. Ikut aku."
Sang
instruktur berkata demikian lalu membawa mereka berdua meninggalkan tempat itu.
Para
murid yang tadinya termangu hanya bisa menatap punggung mereka dalam diam,
namun belasan detik kemudian, seolah baru bisa bernapas lagi, mereka semua
mulai bicara riuh secara bersamaan.
Keduanya dibawa oleh sang instruktur menuju ruang persiapan
instruktur di dekat area latihan. Setelah disuruh duduk, sang instruktur pun
ikut duduk di hadapan mereka.
Instruktur itu sudah mendengar bahwa mereka berdua adalah
pengguna Great Sword Skill.
Banyak orang tahu bahwa mereka berdua sering berkunjung ke
Great Saint Hall. Meski tak sedikit yang mengira Ren datang ke sana hanya
sebagai pengawal Licia.
Pengguna Great Sword
sangatlah sedikit dibandingkan aliran lain. Great Saint Hall adalah pusatnya,
namun di luar sana, pengguna aliran ini sangat jarang ditemui.
Sang instruktur pun sudah
lama tidak melihat sesama pengguna Great Sword saling beradu pedang.
"Sepertinya kita perlu
membicarakan rencana ke depannya," ucap instruktur itu dengan wajah
serius.
◇◇◇
Sepulang sekolah, instruktur
tersebut kembali ke ruang guru dan berbincang dengan profesor mata pelajaran
lain.
"Apa
Anda tahu dua orang perwakilan murid baru itu?"
"Tentu
saja. Mereka mengikuti pelajaran Biologi Monster yang kuampu dengan sangat
antusias."
Menyusul
jawaban profesor wanita itu, seorang profesor pria lainnya menyahut,
"Kalau bicara soal Ren Ashton, baru beberapa hari lalu ia membantuku
merapikan barang setelah pelajaran selesai. Ah, di hari lain ia juga membantuku
menyiapkan peralatan."
"Memangnya
kenapa tiba-tiba bertanya? Apa dia melakukan sesuatu di kelas ilmu
pedang?"
Sang instruktur menjawab, "Iya, sedikit."
Pada paruh kedua pelajaran tadi, sang instruktur memang
memberikan panduan Ilmu Pedang Kekaisaran kepada semua orang, namun ia terpaksa
mengakui bahwa Licia tidak akan mendapatkan apa pun dari pelajaran itu. Dari
duel setelah pelajaran berakhir pun, jelas bahwa Ren juga mengalami hal yang
sama.
Meskipun bagi keduanya meninjau kembali teknik dasar mungkin
masih ada artinya, namun bagi para staf pengajar, hal itu tidak bisa dibiarkan
begitu saja.
Para staf pengajar yang mendengar hal itu mulai berdiskusi.
"Di kelas ilmu pedang setiap tahunnya, biasanya ada beberapa murid
berbakat yang bergabung dengan kakak kelas. Bagaimana kalau mereka ikut di
kelas ilmu pedang tahun kedua, ketiga, atau sekalian saja tahun keempat?"
Instruktur ilmu pedang menggelengkan kepala. "Hasilnya akan sama
saja."
Sambil
mengangkat bahu, ia berkata dengan nada seolah tidak ada pilihan lain.
"Ilmu
pedang adalah mata pelajaran wajib, jadi mereka tetap harus ikut ujian.
Untungnya, mata pelajaran ini tidak memiliki poin kehadiran, jadi itu bukan
masalah. Seperti yang kalian tahu, ini bukan perlakuan istimewa. Faktanya,
murid yang hanya ikut ujian saja sudah ada sejak dulu."
Werlich
pun pernah mengatakan hal yang sama pada Ren sebelumnya.
Mempertimbangkan
sifat akademi ini, banyak hambatan yang akan muncul jika tidak diberikan
fleksibilitas tertentu.
Oleh
karena itu, ada beberapa mata pelajaran yang lebih mementingkan ujian daripada
kehadiran di kelas.
Sebagai gantinya, tingkat kesulitan ujiannya tidak bisa
dibandingkan dengan institusi pendidikan lain.
Jika nilainya buruk, tidak peduli apakah dia bangsawan atau
anggota keluarga kerajaan negara lain, mereka akan tetap tidak diluluskan tanpa
ampun. Jadi,
kenyataannya dibutuhkan alasan yang kuat jika ingin tidak menghadiri kelas.
Saat
semua orang sedang membicarakan Ren dan Licia, Chronoa menampakkan diri di
ruang guru. Setelah mendengar penjelasan dari instruktur, Chronoa tersenyum
manis.
"Selama
mereka tetap mengikuti ujian dengan benar, pertanyaannya adalah bagaimana
mereka menghabiskan waktu saat jam pelajaran ilmu pedang itu ya."
Sama
seperti contoh murid-murid lainnya, ada beberapa murid yang hanya ikut ujian
saja seperti mereka berdua.
Kebanyakan
dari mereka adalah murid teladan yang memiliki pengetahuan setara atau bahkan
melampaui lulusan akademi di bidang tersebut.
Biasanya
mereka belajar di perpustakaan atau meminta tugas tambahan dari profesor mata
pelajaran lain. Ini adalah contoh yang sering ditemukan pada murid kelas
beasiswa yang memiliki tingkat kebebasan tinggi.
Chronoa
merasa mengikuti contoh tersebut adalah pilihan terbaik bagi Ren dan Licia.
"Aku
ingin kalian berdiskusi dengan guru-guru lain dan memberikan usulan kepada
mereka berdasarkan peraturan yang ada. Berapa kali Ren-kun mengambil kelas ilmu
pedang dalam seminggu?"
"Hanya
Ilmu Pedang Kekaisaran yang merupakan mata pelajaran wajib, jadi seharusnya dua
kali seminggu di sore hari."
◇◇◇
Cahaya
jingga yang menyinari gedung sekolah sepulang sekolah juga menerpa tiga orang
yang sedang berbincang di atap.
"Aku
juga dulu begitu," ucap Fiona seolah baru teringat, siluetnya membelakangi
matahari terbenam.
"Saat
aku di tahun pertama, guru botani menyarankanku untuk mengambil tugas dari mata
pelajaran lain saja."
Fiona
mengenang masa-masa tahun pertamanya sambil menyandarkan punggung pada pagar
pembatas atap di samping Ren.
Dulu
ia memiliki fisik yang lemah, sehingga ia menghabiskan banyak waktu untuk
mempelajari botani demi kesehatannya sendiri. Pengetahuan yang ia pupuk hingga
hari ini dinilai sangat tinggi, bahkan melampaui lulusan kelas beasiswa dan
tidak kalah dari para ahli di bidangnya.
"Lalu
apa yang Nona Fiona lakukan saat itu?" tanya Ren.
"Aku
menerima tugas mandiri dari profesor lain. Karena aku sering harus mengurusi
pekerjaan keluarga Ignat, aku pikir cara itu lebih baik daripada memaksakan
diri ikut kelas lain."
"Begitu ya... Kalau
begitu, kita bisa memanfaatkan waktu dengan lebih efisien selain untuk belajar
saja."
"Benar. Lagipula,
tugas-tugas yang diberikan sangat bermanfaat untuk dipelajari, dan para
profesor juga akan membimbing dengan ramah di waktu luang mereka."
Mendengar itu, Ren melirik ke arah Licia. Gadis itu sedang
duduk di bangku taman yang ada di dekat mereka.
Ia
mendongak menatap Ren, lalu berkata, "Mungkin sebaiknya kita juga
melakukan hal yang sama."
"Setuju.
Tinggal masalahnya apakah kita bisa mendapatkan tugas dari para profesor atau
tidak."
"Kalau
soal itu, jangan khawatir. Akhir-akhir ini ada beberapa orang yang seperti
kalian, dan dulu kalau tidak salah... ada seorang siswa laki-laki yang begitu
masuk sekolah langsung memiliki pengetahuan setara atau lebih dari lulusan di
empat mata pelajaran sekaligus."
"Orang
seperti apa dia?"
Mendengar
pertanyaan Ren, Fiona hanya tersenyum pahit sebelum mengucapkan kalimat yang
membuat Ren dan Licia langsung paham.
"Dia adalah...
Ayahku."
Rasa
terkejut itu tidak perlu. Mereka berdua paham dalam sekejap.
"Kalau
Marquis Ignat, mau bagaimana lagi ya."
"Kedengarannya
sangat masuk akal."
Terlepas
dari itu, Ren dan Licia tetap ingin memanfaatkan waktu mereka dengan efektif.
Sambil memutuskan profesor mana yang akan mereka mintai tugas nanti, ada satu
hal lagi yang harus ditentukan: di mana mereka akan belajar.
(Secara realistis, menerima tugas mandiri adalah satu-satunya pilihan...
Tapi kalau tugas panitia pelaksana mulai sibuk, mungkin aku bisa mengerjakan
itu di waktu kosong tersebut.)
Pada
dua hari dalam seminggu saat mereka tidak ikut kelas ilmu pedang, Fiona
ternyata juga tidak memiliki jadwal kelas di siang hari.
Berdasarkan
alasan yang ia sebutkan tadi, ia biasanya menghabiskan waktu siang untuk
belajar di perpustakaan, atau terkadang di sudut taman yang berada di dalam
lingkungan akademi.
Mendengar
hal itu, Licia bertanya, "Bolehkah kami bergabung?" dan Fiona
menjawab, "Tentu saja, dengan senang hati."
Ren
bisa melihat bahwa sejak insiden Menara Jam, hubungan kedua gadis itu menjadi
jauh lebih akrab dari sebelumnya.
"Nanti
kita harus konsultasi dengan guru, ya, Ren."
"Iya.
Kita harus memikirkan mata pelajaran apa yang akan diambil."
Tepat
setelah Ren dan Licia selesai berbincang, sebuah suara menyapa mereka.
"Ren,
ternyata kau di sini."
Radius
yang baru saja tiba di atap membuka pintu dan memanggilnya.
"Eh?
Apa sudah waktunya?"
"Belum.
Aku hanya datang lebih awal karena bosan menunggu waktu janji kita, lalu
kebetulan melihat kalian bertiga di sini."
Ren
memang punya janji untuk membahas soal pelajaran ilmu pedang dengan Radius,
tapi waktu janjinya masih dua puluh menit lagi.
Karena
ia sudah memberitahu Licia dan Fiona sejak awal, Ren pun berpamitan.
"Maaf, aku duluan ya," ucapnya sambil melangkah menjauh dari kedua
gadis itu.
"Radius
juga punya waktu luang tanpa kelas, ya?"
"Misalnya
siang ini. Karena urusan resmi kekaisaran sering mendadak, aku sengaja
mengosongkan jadwal kelas di siang hari pada hari ini."
"Heh—berarti
soal tidak ada kelas siang, kita sama dong."
Melihat
kedua pemuda itu meninggalkan atap sambil berbincang, Licia dan Fiona
memikirkan hal yang sama di saat yang bersamaan, lalu saling berpandangan.
"...Bagaimana
menurut Nona Licia?"
"Tentu
saja, aku sangat tidak puas."
"Benar,
kan! Jika dibandingkan dengan Pangeran Ketiga, status putri Marquis seharusnya
tidak ada apa-apanya, kan...!"
"Kalau
bicara soal itu, aku ini cuma putri Viscount, jadi rasanya jauh lebih sesak
lagi..."
Keduanya
memiliki pemikiran yang sama. Yaitu tentang bagaimana Ren memanggil Radius
dengan sebutan nama saja tanpa gelar, dan bersikap santai sebagai teman seperti
sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan sikap Ren terhadap mereka berdua...
"...Haaah."
Meski keduanya pernah meminta Ren untuk bersikap lebih
santai, mereka adalah sesama "korban" yang permintaannya ditolak
mentah-mentah oleh pemuda itu.
Meski
saingan cinta, setidaknya untuk urusan ini mereka merasa senasib, dan akhirnya
hanya bisa mengembuskan napas panjang bersama-sama.
Setelah
berpisah dari kedua gadis itu, Ren mendadak bersin.
"Hatsyi!"
"Ada
apa? Tiba-tiba sekali."
"Entahlah,
tiba-tiba saja keluar."
"Meski
cuaca musim semi terasa hangat, jangan sampai kau masuk angin."
"Hmm...
padahal aku tidak merasa lengah, sih."
"Baguslah
kalau begitu. Tapi yah, kalau kau sampai sakit, aku akan datang menjengukmu.
Saat itu, aku akan menceritakan dongeng lama yang kudengar dari Ayah dan
Ibuku."
Ren
merasa dirinya sudah bukan anak kecil lagi, dan ia tidak enak hati membiarkan
Pangeran Ketiga melakukan hal semacam itu.
"Ngomong-ngomong,
dongeng lama yang seperti apa?"
Ren
bertanya sambil menggaruk rambutnya dengan ekspresi agak sungkan, sementara
Radius menunjukkan senyum tipis di wajahnya yang tampan.
"Kau
penasaran?"
"Tentu
saja. Aku penasaran dongeng seperti apa yang digunakan keluarga kekaisaran
untuk menenangkan anak-anak mereka."
"Kalau
begitu, akan kuceritakan sedikit."
Sambil
berjalan di atas rumput yang terpangkas rapi, angin musim semi di waktu senja
membuat rambut Radius berkibar.
"Dulu,
di sebuah negara tertentu, hiduplah seorang gadis."
"Oh,
pembukaan yang terdengar umum juga—"
"Ngomong-ngomong,
judul dongengnya adalah Mushibami Hime (Putri Pengikis)."
"────Seketika
suasananya jadi suram."
Radius
tertawa melihat perubahan reaksi Ren.
"Gadis
yang terlahir sebagai Putri Pengikis itu kabarnya memiliki mana yang bisa
mengikis apa pun, bahkan orang tuanya sendiri pun tidak bisa
menyentuhnya."
Syuuung— Angin senja membelai rerumputan di sekitar mereka. Kadang-kadang, suara
para siswa yang masih berada di akademi terdengar sampai ke telinga mereka.
"Apa
itu semacam penyakit Vessel Crack?"
Ren
bertanya karena merasa itu mirip dengan penyakit yang diderita Fiona sewaktu
kecil, namun Radius menggelengkan kepala.
"Vessel
Crack mengikis tubuh penggunanya sendiri, tapi mana milik Putri Pengikis
mengikis dirinya sendiri dan juga orang lain. Terlebih lagi, karena Sang Putri
tidak bisa mengendalikannya, ayahnya terpaksa mengurungnya di dalam
menara."
Radius
tidak menceritakan dongeng itu kata per kata, melainkan hanya merangkum
poin-poin pentingnya saja.
Mendengar cerita itu, Ren merasa iba dengan nasib Sang Putri.
Ia juga bertanya-tanya mengapa anak kecil di keluarga kekaisaran diberi dongeng
sesedih itu. Namun, saat mendengar kelanjutannya, dongeng itu memiliki akhir
yang selayaknya sebuah cerita lama.
"Lalu, muncullah seorang pria. Pria itu kabarnya tidak
terpengaruh oleh kekuatan Sang Putri."
"Kalau begitu, berarti pria itu yang akan beraksi
ya."
"Benar.
Si pria mengumpulkan tiga harta karun yang dibutuhkan untuk menekan kekuatan
Sang Putri, lalu melamarnya."
Dalam
dongeng tersebut, bagian tentang pengumpulan harta karun hanya disebutkan
sepintas saja. Detailnya tidak dijelaskan, seolah-olah itu hanyalah syarat
formal dalam sebuah cerita. Radius sendiri tidak terlalu ambil pusing karena itu
hanya dongeng.
"Lalu, bagaimana akhirnya?"
"Sang Putri sempat menolak karena takut kekuatannya akan
kambuh lagi, tapi si pria membawanya keluar dari menara dengan paksa."
Dan
kemudian...
"Saat
para penjaga menara menyadari keanehan dan mengejar mereka, Sang Putri berkata,
'Suatu saat kekuatanku mungkin akan kambuh lagi. Atau orang-orang yang ingin
membawaku kembali mungkin akan mengayunkan pedang padamu.' Namun, si pria menepis kata-kata itu. Ia hanya tertawa
dan berkata 'Aku tidak peduli', lalu bertanya, 'Apakah kau benci jika aku
berada di sisimu seperti ini?'"
Sang
Putri tidak menjawab pertanyaan itu, melainkan berkata:
"Bersamaku
tidak akan membuatmu bahagia. Suatu saat, aku maupun kau mungkin akan diserang
oleh pengejar baru."
Namun,
pria itu mengucapkan kalimat yang akhirnya membuat Sang Putri mengungkapkan
perasaan aslinya.
"Kalau
saat itu tiba, aku hanya perlu mempertaruhkan nyawaku untuk melindungimu."
Mungkin
itu terdengar seperti kalimat klise, tapi itulah kata-kata yang paling ingin
didengar oleh Sang Putri.
"Sang
Putri pun berkata, 'Kalau begitu, kuberikan segalanya untukmu. Jadi,
perlihatkanlah dunia yang pernah kau lihat padaku,' dan ia pun memutuskan untuk
hidup di samping pria itu. Dikatakan bahwa keduanya melarikan diri ke tempat
yang jauh dan hidup bahagia selamanya."
"Bagaimana
menurutmu?" Radius menatap Ren sambil tersenyum.
"Cerita
yang bagus. Tapi ada beberapa hal yang membuatku penasaran, boleh?"
"Tentu,
ada apa?"
"Karena dipanggil Putri, berarti statusnya cukup tinggi,
ya?"
"Karena ini hanya dongeng, detailnya tidak jelas. Di
desa-desa terpencil, terkadang anak dari ksatria yang menjaga desa pun
dipanggil putri, jadi sulit dipastikan."
"Ngomong-ngomong, tidak tahu juga dari negara mana
cerita ini berasal?"
"Informasi
semacam itu sama sekali tidak ada. Tapi
yah, namanya juga dongeng. Daripada mencari konsistensi cerita, ini lebih
seperti kisah kepahlawanan (Heroic Tale) yang diceritakan sebelum tidur.
Selama anak-anak senang, itu sudah cukup."
"Jadi seperti legenda
rakyat, ya."
"Begitulah.
Karena itu aku pun tidak terlalu memikirkan detailnya."
Keduanya terus berjalan sambil berbincang santai. Katanya,
gadis-gadis di keluarga kekaisaran yang mendengar cerita Putri Pengikis ini
cenderung memiliki impian yang sama: impian agar suatu saat sosok pria seperti
itu muncul di hadapan mereka.
Langkah
mereka terhenti di sebuah sudut taman yang sepi.
"Kurasa
di sini cukup oke."
Mereka
berdua duduk di kursi teras. Sosok mereka tersembunyi oleh pagar tanaman di
sekitarnya.
"Cukup
soal dongengnya. Bagaimana dengan pelajaran ilmu pedang tadi? Ceritakan lebih
banyak."
Tidak
banyak yang bisa Ren ceritakan. Ia hanya bercerita bahwa ia datang terlambat
karena tugas panitia, lalu berakhir dengan beradu pedang melawan Licia, yang
kemudian membuat instruktur membawa mereka ke ruang terpisah.
Saat
Ren menceritakan soal konsultasi untuk rencana ke depan di ruang tersebut,
Radius pun tertawa.
Setelah
berbincang selama tiga puluh menit, ujung langit mulai menggelap. Di saat
itulah Ren merasakan kehadiran seseorang yang mendekat.
"Hmm?"
Dari balik pagar tanaman, terdengar suara seorang wanita.
"Yang Mulia, ini saya-nyan."
Mengikuti suara tersebut, muncullah seorang gadis manis
blasteran antara Cait Sith dan manusia. Ren menyadari gadis ini adalah
kenalan Radius karena ia memanggilnya "Yang Mulia".
"Saya dengar sudah waktunya Anda pulang, tapi karena
Anda tidak terlihat, saya mencari Anda-nyan. Maaf karena sudah mengganggu
obrolan Anda-nyan."
"Wah, maaf sudah membuatmu repot—ah, benar juga. Ren,
izinkan aku memperkenalkannya."
Radius melambaikan tangan memanggil gadis itu. Melihat
keanggunan yang terpancar darinya, Ren mengira dia adalah seorang bangsawan.
Dan dugaan itu tepat.
"Dia adalah Mirei Archeise. Putri dari keluarga Earl
Archeise yang pernah aku ceritakan, dan tahun lalu ia menjabat sebagai Ketua
OSIS."
"Ah!
Yang Radius bilang mau diajak jadi panitia pelaksana!"
"Salam
kenal-nyan. Beberapa hari lalu Yang Mulia mengajak saya, dan rencananya saya
akan membantu panitia pelaksana semampu saya-nyan."
Saat
memperkenalkan diri, Mirei mengatakan bahwa seperti yang terlihat, ia memiliki
darah kaum Demi-human. Kedua orang tuanya adalah manusia murni, tapi ia
sendiri adalah kasus Atavisme (kemunculan sifat nenek moyang). Telinga
kucing yang menghiasi wajah manisnya mengingatkan orang pada ras Cait Sith.
"Salam
kenal. Terima kasih sudah bersedia membantu."
Saat
Ren memperkenalkan diri, telinga kucing di kepala Mirei bergoyang
"pyokon" saat ia tertawa "Nyahaha".
"Panggil
saja saya Mirei-nyan."
"Mana
mungkin. Saya tidak bisa memanggil putri Earl tanpa gelar."
Ren
mengusulkan panggilan lain, misalnya dengan tambahan "-sama". Namun,
Mirei menolak mentah-mentah.
"Kalau
begitu, panggil pakai '-san' saja sudah cukup-nyan. Saya mohon jangan panggil
pakai '-sama' kepada teman Yang Mulia-nyan."
"……E-eh."
Ren
melirik Radius, dan setelah melihat Radius mengangguk tanda setuju, ia pun
mengiyakannya. Sementara itu, Mirei memang menyukai gaya bicara uniknya
tersebut dan tetap mempertahankannya.
"Saya
sudah tahu soal Tuan Ren sejak lama, jadi saya merasa akrab-nyan."
"Apa karena Anda sering memperhatikan dari dekat
Radius?"
"Kadang-kadang
saja-nyan. Misalnya, setelah misi khusus tahun lalu-nyan."
"Maksudnya saat aku mengobrol dengan Radius di gang
belakang Erendil?"
"Tepat
sekali-nyan."
Bagi
Ren, kemudahan Mirei untuk diajak bicara sangatlah membantu. Ia merasa senang
bisa menyapa dengan santai seperti ini.
"Mirei,
bagaimana soal ruangan kosong yang aku minta?"
"Tidak
masalah-nyan. Hanya saja, karena selama ini dipakai sebagai gudang akademi,
kita perlu memindahkan barang-barang ke gudang lain dan
merapikannya-nyan."
"Kalau
cuma itu tidak masalah. Kita kerjakan bersama pasti cepat selesai."
Mendengar
hal itu, Ren memiringkan kepalanya sedikit. Ia ragu apakah ia boleh ikut campur
dalam pembicaraan tersebut.
Melihat
itu, Radius segera menatap Ren. "Ini soal panitia pelaksana," ucapnya
langsung.
"Pihak
akademi memang memberikan ruang kelas kosong untuk panitia, tapi aku ingin
tempat lain yang lebih tenang untuk bekerja. Karena itu, aku meminta Mirei
mencarinya berdasarkan pengalamannya sebagai Ketua OSIS."
"Ooh,
begitu," Ren mengangguk, lalu bertanya lagi, "Di mana ruangan
itu?"
"Ruangan
yang saya ajukan adalah sebuah kamar kecil di bagian dalam perpustakaan-nyan.
Karena sudah jadi gudang sejak beberapa tahun lalu, kita meminjamnya dengan
syarat kita sendiri yang membersihkannya-nyan."
Katanya
meski berdebu, kalau dibersihkan pasti masih sangat layak pakai. Setelah tugas
panitia selesai pun, selama tidak ada pengajuan dari orang lain, mereka
diperbolehkan tetap memakainya.
Saat
Ren berpikir apakah prosedurnya semudah itu, Radius menambahkan:
"Ini
juga akan menguntungkanmu, Ren. Jika kau menggunakan jam pelajaran ilmu pedang
untuk belajar mata pelajaran lain, tempat itu akan menjadi lokasi yang sangat
pas."
"Berarti
boleh dipakai selain untuk urusan kerja juga ya."
"Tidak
masalah," jawab Radius.
Ren
teringat percakapannya dengan Licia dan Fiona di atap tadi, dan ia pun
tersenyum. Namun...
"Ah."
Tiba-tiba
ekspresi senyumnya membeku.
"Ada
apa?"
"Maaf.
Tiba-tiba saja aku teringat kejadian tadi pagi."
"Tadi
pagi?"
"Tadi
pagi aku bertemu dengan Yang Mulia Komandan Great Saint Hall, tapi karena waktu
itu sudah mepet jam sekolah, aku tidak sempat memberi salam dengan benar. Aku
juga langsung buru-buru berangkat ke akademi."
Radius
yang mendengarkan hal itu sempat mengernyitkan alis sesaat sebelum tersenyum
tipis.
"Kau mendadak berpapasan dengan Estelle yang baru saja
pulang?"
"Iya.
Begitulah."
Namun,
Radius melanjutkan kalimatnya.
"Mengetahui
sifat Estelle, begitu dia dengar sekolah akan dimulai, bukankah dia yang
menyuruhmu untuk segera berangkat?"
Ren
mengingat kembali percakapan saat itu, lalu berkata, "Kok kau tahu?"



Post a Comment