NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 4 Chapter 6

Chapter 6

Dia Itu Tidak Peka


Sehari sebelum libur panjang berakhir, Licia bertolak dari Erendil menggunakan kapal sihir untuk urusan resmi.

Malam harinya, Ren baru saja pulang setelah menyelesaikan latihan teknik baru dan rutinitasnya di Markas Besar Ksatria Suci (Shishi Seitou).

Tak lama setelah ia selesai mandi, suara Licia terdengar dari balik jendela kamarnya.

Begitu Ren menuju aula utama, ia melihat sosok Licia yang baru saja tiba. Gadis itu langsung berlari kecil menghampirinya begitu melihat keberadaan Ren.

"Aku pulang. Aku bawa oleh-oleh, nanti dimakan ya."

"Selamat datang kembali. Terima kasih, Anda pasti lelah karena pekerjaan mendadak ini."

"Tidak kok, aku tidak apa-apa. Lalu, apa saja yang kau lakukan, Ren?"

"Seperti biasa, berburu dan mengayunkan pedang."

Mendengar itu, Licia tertawa. "Itu benar-benar gaya khasmu."

"Hei, hei."

Suara Licia terdengar riang.

"Besok mau jalan-jalan ke kota setelah sekian lama? Ayah bilang besok aku bebas melakukan apa saja."

"Tentu saja boleh. Kalau dipikir-pikir, belakangan ini kita memang tidak sempat berjalan-jalan santai di Erendil."

"Iya! Sepertinya banyak toko baru yang buka, jadi mari kita pergi menyegarkan diri bersama!"

Licia tersenyum lebar. "Aku sangat menantikannya!" ucapnya sebelum beranjak pergi.

Bertepatan dengan kepergiannya, Lezard datang menghampiri Ren. Di belakangnya, Weiss tampak berjaga dengan jarak yang sedikit agak jauh.

"Aku menerima laporan di dalam kapal sihir saat perjalanan pulang tadi. Ini mengenai kabar terbaru dari desa keluarga Ashton."

Lezard mengeluarkan sepucuk surat dari balik saku jaketnya dan menyerahkannya kepada Ren. Merasakan suasana yang mengizinkannya untuk segera memeriksa, Ren membuka segel surat itu di hadapan Lezard.

Mungkin karena sengaja meminta bantuan pelukis, di dalam surat itu terdapat gambar keadaan desa. Sebuah fasilitas yang menjadi pusat bagi para pedagang telah dibangun di sana.

Perbaikan jalan pun terus berjalan, membuat desa dan wilayah sekitarnya mulai semakin ramai.

 

Keesokan paginya, Ren dan Licia berkumpul di aula utama yang sama saat waktu sudah menunjukkan lewat jam sembilan pagi.

Tidak ada pengawal di sekitar mereka. Ada Ren di samping Licia, dan Licia sendiri yang seharusnya dilindungi kini sudah menjadi pengguna Great Sword yang hebat di level Swordman.

"Sudah bisa berangkat?" tanya Licia yang mengenakan pakaian kasual.

Blus putih polos yang ia kenakan di tubuh bagian atas menonjolkan pesona keanggunannya.

Di rambutnya yang indah, tersemat hiasan rambut berbentuk sayap berbahan platina.

Setiap kali ia melangkah, ujung roknya bergoyang dengan ringan.

"Bahkan rasanya aku ingin berangkat lebih awal."

"Dasar kau ini. Kau sedang lapar, kan?"

"Ah, ketahuan ya."

"Tentu saja. Kalau begitu, mari kita pergi."

Sebelum mereka meninggalkan kediaman, Lezard kebetulan lewat di dekat mereka.

"Hati-hati di jalan. Ren, maaf merepotkan, tapi aku titip Licia ya."

Ren tidak bisa begitu saja menjawab 'serahkan padaku', ia hanya membalasnya dengan senyum kecut. Sementara itu, Licia tampak cemberut.

"Muu……"

Meski tampak tidak puas, Licia segera menarik tangan Ren dengan paksa untuk keluar dari kediaman.

 

Begitu keluar, sinar matahari di pertengahan bulan Juni terasa menyilaukan.

Sesaat setelah meninggalkan kediaman, Licia melepaskan tangan Ren.

Ia sempat berpikir betapa bahagianya jika bisa terus bergandengan tangan seperti itu di tempat umum, namun ia tahu hal itu masih sulit dilakukan.

Di pinggang Licia yang berpakaian kasual, hari ini pun tersemat sebuah pedang.

Pedang ternama yang menjadi simbol dirinya, Hakuen. Sedangkan Ren membawa pedang sihir besi di pinggangnya.

Sarung pedangnya adalah barang pesanan khusus yang dibuatkan oleh Wellrich tempo hari.

Karena pedang sihir itu ukurannya berubah mengikuti pertumbuhan fisik Ren, sarung pedang itu baru bisa disiapkan belakangan ini setelah ukurannya mulai stabil.

"……?"

Licia menyadari tatapan Ren.

"Kau penasaran dengan pedangku?"

"Aku hanya berpikir, Nona Licia tetap terlihat seperti lukisan yang indah meski membawa pedang dengan pakaian kasual."

"Apa-apaan? Tiba-tiba sekali memberiku pujian setinggi langit."

"Tidak, tidak! Itu bukan pujian kosong kok!"

Keduanya tertawa, lalu membuka gerbang dan keluar menuju jalan besar. Berbeda dengan kediaman di Clausel, rumah di sini terletak di pinggir jalan besar sehingga sangat mencolok.

Karena mereka hampir setiap hari berjalan bersama saat pergi ke akademi, pemandangan mereka berdua yang bersama sudah menjadi hal biasa bagi penduduk Erendil yang tinggal di sekitar sana.

 

Tujuan mereka adalah sebuah kafe di pinggir jalan besar. Mereka menuju meja bundar putih yang membelakangi tanaman pagar, lalu memesan paket menu favorit setelah mengamati daftar menu selama beberapa menit.

Sambil menunggu pesanan datang—

"Aku ingin bertanya untuk berjaga-jaga."

"? Apa?"

"Jika terjadi sesuatu, Anda akan mencabut pedang, kan?"

"Aku menyiapkannya memang untuk itu. Ren juga sama, kan? Meski berpakaian kasual, kau tetap membawa pedang di pinggangmu."

"Kalau aku, kan sekalian berperan sebagai pengawal Nona Licia."

Mereka membicarakan hal-hal ringan sambil menikmati makanan yang dihidangkan. Setelah selesai makan, mereka beristirahat sejenak.

"Suasana di Erendil sini juga mulai berubah ya."

"Katanya karena pengaruh Festival Lion King, pesanan penginapan hampir semuanya penuh."

Di Erendil pun persiapan Festival Lion King sedang berjalan di mana-mana.

Sebagai kota yang dekat dengan ibukota, Erendil dipadati oleh tamu penginapan maupun pengunjung yang datang menggunakan kapal sihir.

Di antara pejalan kaki, banyak juga yang terlihat seperti datang dari luar negeri. Ada yang berpenampilan seperti hewan, ada yang menyerupai reptil, hingga kaum bersayap (Winged Human).

Sambil memandangi pemandangan itu dengan cangkir teh di tangan, Licia berkata.

"Setelah ini, bagaimana kalau ke toko buku? Ren, kau bilang ada buku yang membuatmu penasaran, kan?"

"Tapi, tidak apa-apa jika kita pergi ke tempat yang ingin Nona Licia kunjungi dulu?"

"Fufu, tidak apa-apa kok."

Licia melanjutkan tanpa jeda.

"Jika tempat yang ingin kukunjungi semuanya adalah tempat di mana aku bersama Ren, maka dari mana pun kita mulai, hasilnya akan sama saja."

Ren tertawa mendengar kata-kata yang sangat khas Licia itu.

"Jika memang benar begitu, sepertinya akan sangat praktis ya."

"Kan?"

Licia ikut tertawa. Ia menumpukan kedua tangannya yang saling bertaut di atas meja sambil memiringkan kepala dengan riang.

"Sudah diputuskan ya. Setelah istirahat sebentar, kita akan pergi ke toko buku dulu."

Suaranya terdengar sangat bersemangat. Setelah meninggalkan toko, mereka menikmati hari libur sambil melihat-lihat suasana kota yang ramai.

 

Saat sedang berjalan, tiba-tiba Ren berkata.

"Lho."

"Ada apa?"

"Aku melihat teman seangkatan yang tidak biasa terlihat di sini."

"Teman seangkatan yang tidak biasa?"

Licia mengikuti arah pandangan Ren dan menyadari siapa orang itu.

Nona muda dari keluarga Althea, salah satu dari Seven Great Archdukes, sedang berjalan di jalan besar Erendil bersama orang-orang dewasa yang mengenakan pakaian kerja. Menyadari keberadaan mereka berdua, Nemu berlari kecil menghampiri.

"Ya, ya! Selamat pagi, kalian berdua!"

Ren baru pertama kali berbincang dengan Nemu beberapa hari yang lalu, namun Licia sudah jauh lebih akrab dengannya karena sudah beberapa kali mengobrol sejak masuk akademi.

"Ini pertama kalinya aku bertemu Nemu di Erendil."

"Iya ya. Nemu mau pergi ke Menara Jam sekarang. Kalian sedang belanja?"

Menara Jam yang dikelilingi taman alam di pinggiran kota itu adalah tempat yang pernah dikunjungi Ren bersama Radius dulu.

Menurut Nemu, ia beberapa kali datang memantau keadaan sejak insiden tahun lalu.

Sebelumnya, pelayan sekaligus teknisi keluarga Althea yang melakukannya, namun kali ini Nemu yang memegang tanggung jawab itu.

Mendengar hal itu, Ren dan Licia menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih, namun Nemu tertawa. "Tidak apa-apa, tidak apa-apa!"

"Lagipula ini kan buatan leluhurku. Jadi aku harus mengelolanya dengan baik!"

"……Nemu ternyata hebat juga ya."

"Hmm? Apanya, apanya?"

"Kau sudah bisa mengelola fasilitas sekaligus Magic Tool sebesar itu."

"Ahaha! Nemu sudah utak-atik Magic Tool sejak umur satu tahun lho. Aku juga punya tujuan untuk membuat penemuan yang melampaui leluhurku, jadi serahkan saja padaku!"

Mendengar percakapan mereka, Ren yang melihat ada ksatria di pinggir jalan pun melangkah menjauh sedikit dari kedua gadis itu.

"Ada pesan yang dititipkan Tuan Lezard, aku pergi sebentar ya."

Ren menjauh sekitar belasan meter. Dengan jarak seperti itu, ia bisa kembali dalam sekejap jika terjadi sesuatu. Setelah Ren menjauh, Nemu mendekatkan wajahnya ke arah Licia.

"Ada hal yang sangat membuatku penasaran, boleh aku tanya?"

"Apa itu?"

"Anu," ucap Nemu.

"Kencan?"

Kata-kata ringan yang rasanya tidak mungkin keluar dari mulut seorang bangsawan itu justru diucapkan oleh putri keluarga Althea. Mendengar pertanyaan itu, Licia merenungkan kata-kata barusan.

(……Kencan?)

Jika Nemu yang ada di depannya bertanya seperti itu, maka pasangan kencan yang dimaksud pastilah orang yang baru saja berada di samping Licia. Setelah mencerna jawaban yang sudah jelas itu selama belasan detik, Licia langsung kaku.

"Ugh~~!?"

Mulai dari pipi, daun telinga, hingga lehernya memerah dalam sekejap dan ia mengerjap-ngerjap dengan cepat.

Licia mengambil jarak setengah langkah dari Nemu, melipat tangan, dan membuang muka ke arah lain sambil berusaha bersikap tenang. Ia menyibakkan rambut sutranya dengan tangan.

"Bisa tidak jangan bertanya hal-hal yang tidak jelas?"

Ia mencoba berlagak kuat. Namun kepura-puraan yang ia paksakan itu langsung terbongkar oleh putri keluarga Althea.

"Waduh, jadi ternyata bukan ya."

Memang kenyataannya bukan…… namun saat dikatakan dengan nada kecewa yang sejelas itu, perasaan Licia pun mulai keluar dari mulutnya. Ketenangannya yang tadi langsung lenyap.

"A-apa tidak boleh kalau bukan!? Lagipula, apa maksudmu dengan 'waduh' tadi! Apa ada masalah bagi Nemu!?"

"Tidak ada kok~ Tapi kalian terlihat sangat akrab saat bermain di hari libur begini, jadi dari jarak kalian saja aku merasa seperti itu. Ren-kun juga akrab dengan nona muda keluarga Ignart, kan~? Makanya aku penasaran situasinya bagaimana."

"Uuuh~~……!"

"Ma-maaf deh! Jangan menatapku dengan wajah imut seperti itu!"

Mata Licia mulai berkaca-kaca, ia menatap tajam ke arah Nemu dengan wajah yang merah padam.

Rasa malunya sudah hampir mencapai batas, ia bisa saja mencubit pipi Nemu kapan saja.

"Sebagai gantinya, Nemu akan memberimu panduan asmara, jadi jangan menatapku seperti itu lagi…… bagaimana?"

Mendengar kata-kata Nemu, Licia kembali tenang dan teringat informasi tertentu untuk menyerang balik Nemu.

"Nemu yang dulu bilang kalau tidak punya pengalaman cinta dan hanya berhubungan dengan lawan jenis seperti teman biasa itu?"

"Akh! Kau mengatakannya ya!? Kau mengatakan hal yang tidak boleh dikatakan pada gadis seusiaku ya!?"

"Ya. Makanya renungkan dulu ucapanmu tadi."

"Kalau itu sih beda cerita. Tapi coba dengarkan dulu, siapa tahu ini informasi yang berguna untuk Licia-chan!"

Dengan suara riang, Nemu memamerkan pengetahuan yang entah didapat dari mana.

Yang keluar dari mulut gadis yang biasanya memberi pengetahuan berguna soal Magic Tool itu ternyata adalah kata-kata yang bisa dipahami oleh Licia.

"Dengar ya? Pertama-tama adalah gaya bicara!"

"Gaya bicara…… maksudmu gaya bicaraku dan Ren sekarang?"

"Iya! Jarak antara kalian itu sangat penting, tapi untuk kalian berdua seharusnya bisa lebih santai lagi! Misalnya, minta Ren-kun berhenti pakai bahasa formal, atau minta dia mengubah cara memanggil Licia-chan!"

"……Aku sudah pernah mengatakannya soal gaya bicara dulu, tapi dia bilang tidak bisa karena dia anak seorang ksatria. Lagipula, sekarang pun dia sudah memanggil namaku, kan?"

"Tapi Ren-kun memanggil Licia-chan pakai tambahan '-sama' (Nona), kan?"

"Kalau begitu…… maksudmu minta dipanggil 'Licia' saja tanpa sebutan?"

"Betul, betul! Seperti Vane-kun dan Sera-chan!"

Nemu mengacungkan jempolnya dengan kuat untuk memberi penegasan.

"Ren memanggilku 'Licia'……"

Hanya dengan membayangkan Ren memanggil namanya seperti itu, Licia langsung menutupi pipinya dengan kedua tangan dan menggeliat malu.

Berbagai perasaan berkecamuk di hatinya, namun semuanya didasari oleh rasa senang.

"Tapi ya, antara minta dipanggil nama saja atau minta berhenti pakai bahasa formal, mana yang lebih sulit itu tidak tahu ya~"

"Iya! Dua-duanya kan sulit!"

"Ngomong-ngomong," ucap Licia.

"Nemu, dari mana kau dengar hal-hal seperti itu?"

"Biar kuberitahu, dari novel romantis!"

"Haa…… sudah kuduga pasti begitu."

"Tapi, itu informasi yang bagus, kan?"

Licia tidak bisa membantah dan mengangguk malu sambil berucap "Iya".

Masalahnya adalah kemungkinan Ren setuju pada keduanya sangatlah rendah, namun Licia memutar otak bagaimana cara mempraktikkannya.

 

Nemu melihat jam dan berkata sudah waktunya pergi. Mendengar itu, Ren yang tadi menunggu waktu yang tepat pun kembali menghampiri Licia.

Melihat wajah Licia yang masih memerah, Ren memiringkan kepala dengan heran, namun Licia tidak menjawab. Nemu juga tidak menjelaskan apa yang terjadi dan hanya tertawa.

"Sampai jumpa kalian berdua! Ketemu lagi di akademi!"

Nemu pun pergi meninggalkan mereka, dan Ren kehilangan kesempatan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

"Apa Anda…… demam?"

"…………"

"Nona Licia?"

"……Peka sedikit dong."

Meski berkata begitu, Licia sadar ada bagian yang tidak tersampaikan karena kurangnya sifat agresif dari dirinya sendiri. Licia mengatakannya dengan nada sedikit tidak puas, lalu segera tersenyum malu-malu yang menggemaskan.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close