Chapter 2
Teknik Bertarung dan Surat Undangan
Daun-daun
di pepohonan yang menghiasi jalan utama Ibu Kota mulai berguguran satu demi
satu, membuat dahan-dahannya perlahan kehilangan jubah musim gugurnya.
Berdasarkan
pengalaman di musim panas lalu, Ren dan Licia merasa harus lebih serius lagi
dalam menjalani latihan mereka.
Waktu yang
mereka habiskan di Erendil, di akademi, dan di Biro Saint Lion terus berlalu
hari demi hari, membawa sebuah perubahan tertentu di tengah proses tersebut.
Di area
latihan yang terletak di bagian terdalam Biro Saint Lion, Ren yang sedang
beristirahat tampak menyeka keringatnya.
...Benar-benar
bukan mimpi, ya.
Sebuah
kejadian yang terasa seperti mimpi.
Meski begitu,
kata "mimpi" di sini tidak bermakna positif, melainkan sebuah
perasaan yang campur aduk.
Namun, tidak
salah lagi bahwa waktu yang mereka lalui di dalam Time Cage adalah
kenyataan. Pertarungan melawan Sword Demon itu nyata. Bukan bohong,
bukan pula ilusi.
Kekuatan
fisik yang didapatnya dari Level 6 memberikan tenaga otot yang jauh melampaui
kemampuannya sebelumnya, baik dalam pertarungan maupun latihan.
Lalu, saat
mencapai Level 7 nanti, dia akan bisa memanggil tiga bilah pedang magis
sekaligus.
Mengingat dia hanya punya dua tangan, Ren berpikir mungkin pedang ketiga cukup dipanggil lalu disimpan di dalam sarungnya saja, meski perjalanan menuju ke sana masihlah panjang.
[NAMA]
Ren
Ashton
[JOB] Putra Sulung Keluarga Ashton
[ SKILL ]
■ Magic Sword Summon Lv. 1
(0 / 0)
■ Magic Sword Summoning Arts Lv.
6 (586 / 6500)
- Mendapatkan kemahiran dengan menggunakan pedang sihir yang dipanggil.
- Level 1: Dapat memanggil
[Satu] pedang sihir.
- Level 2: Mendapatkan
efek [Physical Ability UP (Small)] saat memanggil gelang.
- Level 3: Dapat memanggil
[Dua] pedang sihir.
- Level 4: Mendapatkan
efek [Physical Ability UP (Medium)] saat memanggil gelang.
- Level 5: Membuka Evolusi
Pedang Sihir.
- Level 6: Mendapatkan
efek [Physical Ability UP (Large)] saat memanggil gelang.
- Level 7: Dapat memanggil
[Tiga] pedang sihir.
- Level 8: ********************
[MAGIC SWORDS YANG DIPEROLEH]
■ Great Tree Magic Sword Lv.
4 (1726 / 3500)
- Memungkinkan serangan setingkat Nature Magic
(Medium).
- Jangkauan efek serangan akan
meluas seiring meningkatnya level.
■ Mithril Magic Sword Lv. 4
(2151 / 6500)
- Ketajaman meningkat seiring dengan kenaikan level.
■ Thief's Magic Sword Lv. 1
(0 / 3)
- Merampas item secara acak dari target serangan dengan
probabilitas tertentu.
■ Shield Magic Sword Lv. 2
(0 / 5)
- Membentangkan dinding sihir pelindung.
- Kekuatannya meningkat dan
jangkauan efeknya meluas seiring kenaikan level.
■ Flame Magic Sword Lv. 1
(1 / 1)
- Api nerakanya adalah perwujudan
dari kemurkaan naga, sebuah manifestasi dari kekuatan murni.
![]()
Ada
satu hal lagi, informasi yang tidak bisa diintip melalui kristal gelang
miliknya.
Eksistensi
itu baru bisa ia konfirmasi setelah pertempuran di Roses Kaitas berakhir.
Sebuah
kekuatan yang didapatkan karena telah menembus batu sihir sang Sword Demon.
Sesuatu yang ia peroleh terpisah dari pedang sihir itu sendiri untuk pertama
kalinya—secara konsep, itu mungkin adalah Arts.
Saat ia
mencoba mengingat kembali momen ketika ia menyadarinya,
"Sedang
istirahat, ya?"
Ren disapa
dari belakang. Itu adalah suara Estelle Oslos Drake, Panglima Biro Saint Lion
yang tiba-tiba muncul di area latihan.
Ren
mengalihkan pandangan dari gelangnya dan menatap wanita itu.
"Terima
kasih atas kerja kerasnya."
"Umu.
Senang melihatmu tekun berlatih hari ini. Tapi, bicara soal itu—"
Estelle
sempat mengamati latihan semua orang sejenak, lalu bergumam, "Fumu."
"Ren,
ada yang ingin kubicarakan sedikit."
"Baik—eh!?"
Tanpa
aba-aba, tubuh Ren ditarik kuat oleh Estelle. Ren terkejut karena pundaknya
dirangkul secara paksa.
"Tiba-tiba
ada apa ini!?"
"Sudah
diam saja dan beritahu aku."
"I-iya,
aku mengerti! Tapi serius,
kenapa mendadak sekali!?"
"Tenanglah,
aku akan bicara baik-baik."
"Kalau
ingin aku tenang, tolong ajak bicara dengan cara yang lebih tenang juga!"
"Oh,
kalau dipikir-pikir benar juga."
Kepada Ren
yang menghela napas, Estelle yang lebih tinggi darinya bertanya,
"Di mana
Licia?"
Hari ini
Licia juga berada di Biro Saint Lion dan sedang mengayunkan pedang bersama Ren.
Licia
sesekali melirik dari sudut matanya ke arah Ren yang tiba-tiba diganggu oleh
Estelle, sambil tetap melanjutkan latihannya.
"Apanya
yang di mana?"
"Belakangan
ini, dia sama sekali tidak menggunakan Holy Magic, kan? Padahal aku sudah
mengizinkan penggunaan sihir dalam latihan tertentu. Kenapa?"
Ren tahu
alasannya, tapi ia tidak bisa menjawab jujur sehingga ia memilih untuk
berdalih.
"Katanya
karena dia terlalu bergantung pada Holy Magic, sehingga kemampuan pedangnya
jadi terbengkalai."
"Ho,
begitu rupanya! Umu! Dia sangat rajin, bagus sekali!"
Pundaknya
akhirnya dilepaskan. Si pengguna pedang sihir itu pun menghela napas lega.
Licia
menyelesaikan duelnya dengan rekan latihan, lalu melangkah menghampiri mereka.
"Terima
kasih atas kerja kerasnya, Estelle-sama. Lalu, soal itu..."
"Tenang
saja, aku tidak berniat memakan Ren, kok."
"A-ahahaha...
Estelle-sama, bicara apa sih."
"Benarkah?
Padahal kau tampak terus memperhatikan ke sini sambil mengayunkan pedang."
"……Ukh."
Licia tidak
bisa berbohong di hadapan Estelle yang tersenyum penuh kemenangan itu.
"Kukuku,
jangan harap bisa mengecohku. Meski begitu, kemenangan telakmu tadi luar biasa,
tapi hati-hati jangan sampai terluka. Selanjutnya, waspadalah."
"……Ternyata
Anda tahu semuanya, ya. Maaf. Ke depannya, aku akan berhati-hati."
Licia
mengangguk malu dengan ekspresi yang tampak kikuk.
Ren
melirik jam tangannya dan angkat bicara.
"Estelle-sama,
kami harus segera..."
"Ah.
Pulanglah dengan hati-hati."
Karena
mereka datang berlatih setelah sekolah usai, waktu memang sudah berlalu cukup
lama.
Ren
dan Licia mandi sejenak untuk membersihkan diri, lalu meninggalkan Biro Saint
Lion menuju stasiun.
Rasa
hangat setelah mandi perlahan mereda tertiup angin musim dingin yang mulai
mendekat.
Keduanya
berjalan mengenakan mantel di atas seragam mereka. Biasanya, mereka akan
langsung menuju stasiun dan kembali ke Erendil.
Berhubung
waktu sudah lewat jam sembilan malam, seharusnya hari ini pun begitu.
"Bisa
kita mampir sebentar?"
Namun
Licia berucap seperti biasa, meski dengan senyum yang tampak sedikit rapuh.
Ren
mengamati ekspresi Licia, lalu mengangguk tanpa ragu.
"Kita
mau ke mana?"
"Aku
hanya merasa ingin berjalan lebih jauh satu stasiun dari biasanya."
Daerah ini
adalah kawasan perkantoran pemerintah, jadi suasananya tetap ramai meski di
malam hari. Selain pegawai sipil, banyak juga ksatria yang sedang sif malam,
sehingga banyak restoran yang melayani mereka.
Di sana,
sepasang remaja itu terlihat sedikit mencolok.
"Hei,
apa yang kau bicarakan dengan Estelle-sama tadi?"
Itu bukan
pertanyaan karena cemburu.
Licia
kemungkinan besar sudah bisa menebak arah pembicaraannya.
"Beliau bertanya kenapa Licia
tidak menggunakan Holy Magic."
Sudah kuduga, pikir Licia sambil
tersenyum kecut.
"Ternyata
ketahuan, ya."
"Karena
itu Estelle-sama, aku rasa cepat atau lambat pasti akan begini."
"……Iya.
Aku mengerti."
"Aku
sudah bilang padanya kalau itu karena Licia merasa pedangmu terbengkalai karena
terlalu fokus pada Holy Magic. Sekadar informasi, itu bukan maksud asliku,
ya."
"Fufu,
aku tahu, kok. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
Pemandangan
bintang-bintang di langit malam musim gugur tampak sedikit berbeda namun juga
terasa sama dengan musim panas.
Embusan napas
putih tipis keluar dari mulut Licia.
"Sejujurnya,
aku masih merasa takut."
Itu adalah
senyum tegar namun rapuh yang hanya ia tunjukkan kepada Ren.
"Sejak
saat itu, aku tidak ingin menggunakan Holy Magic karena takut hal yang sama
akan terulang lagi."
Kejadian saat
bertarung melawan Sword Demon, monster yang menjabat sebagai jenderal pasukan
Raja Iblis di Roses Kaitas, selalu terbayang di benaknya.
Jika bukan
karena suara Ren yang menyelamatkannya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi
setelah itu.
Itulah
sebabnya sejak saat itu, Licia tidak pernah menggunakan Holy Magic sekalipun.
"Karena
aku... tidak ingin menjadi seperti itu lagi."
Mendengar
ketakutan itu, Ren menatap langit malam dan mengembuskan napas putih yang sama
dengan Licia.
"Tidak
apa-apa, kok."
"────Ren?"
"Aku
memang tidak tahu alasan kenapa terjadi keanehan pada tubuh Licia,
tapi..."
Senyum lembut
yang tidak berubah sejak dulu.
Bahkan jika
ia tidak tahu alasannya, dan bahkan jika itu dianggap sebagai kepercayaan diri
tanpa dasar.
Ren
mengubahnya menjadi keyakinan yang absolut.
"Aku
pasti akan menghentikanmu. Berapa kali pun, apa pun yang terjadi."
"……Bodoh."
Licia merasa
senang, tapi juga merasa khawatir.
"Kalau
sampai ada yang kedua kalinya, dan kali ini aku menyerang Ren, bagaimana?"
Musim panas
itu, saat Licia sadar dari situasi misterius tersebut, ia menggambarkannya
seolah-olah batu sihir itu patuh karena diperintah oleh Ren.
Hal yang sama
mungkin tidak akan terjadi lagi, atau mungkin saja bisa terjadi.
"Kekuatanku
saat itu, bahkan bisa mengalahkan Sword Demon sendirian dengan mudah,
kan?"
"Itu
memang benar, tapi tetap saja tidak apa-apa."
"Lalu,
kenapa kau bisa seyakin itu?"
"Karena
bagaimanapun juga, aku jauh lebih kuat daripada Licia. Jadi, aku pasti bisa
mengatasinya."
Licia
yang tertegun mengerjap berkali-kali.
Ia
melupakan sedikit kecemasannya tadi dan bersikap manja.
"Apakah
ini tantangan bagi diriku yang baru saja tumbuh dewasa tempo hari? Kau tidak
tahu, kan, mungkin saja sebentar lagi aku akan menyalipmu, Ren."
"Tenang
saja. Aku juga berusaha keras agar tidak tersalip, kok."
"H-hei,
kau sudah mengatakannya, ya!"
"Aku
mengatakannya karena aku ingin kau tahu kalau aku serius."
Kata-kata
yang mendekap dari sisi Ren.
Seolah-olah
si pengguna pedang sihir itu merangkul White Saintess.
"Aku
akan selalu berdiri di depan Licia. Agar kau merasa tidak ada yang perlu
ditakuti, aku akan selalu berdiri satu langkah di depanmu."
"…………"
"Kau
tidak percaya dengan ucapanku?"
Licia meremas
ujung mantel Ren dan menatapnya.
"……Jangan
membuatku mengatakannya. Ini sangat memalukan, tahu...?"
◇◇◇
Keesokan
harinya, saat jam istirahat pagi.
"Wah!?"
Bahu Ren
hampir bertabrakan dengan Kepala Sekolah Chronoa yang muncul dari balik
tikungan koridor.
Saat Chronoa
hampir jatuh terjengkang, topi penyihir besarnya melayang di udara.
Ren yang
memegang minuman di wadah kertas di satu tangannya, segera mengulurkan tangan
lainnya untuk menahan Chronoa.
"M-maafkan
saya!"
"Ups—ah,
ternyata Ren-kun."
Tanpa
disadari, topi Chronoa berhenti melayang di udara, dan tubuh Chronoa pun tetap
diam di posisinya seperti topi itu meski tanpa ditahan oleh Ren.
Namun,
Chronoa tampak senang karena Ren mencoba membantunya.
Wanita cantik
berambut pirang itu menatap Ren dan bertanya.
"Ren-kun,
pelajaran setelah ini kau akan ikut seperti biasa, kan?"
"Tentu saja, saya berencana
begitu."
Siang hari ini tidak ada pelajaran,
hanya ada jam wali kelas singkat yang durasinya kurang dari separuh biasanya.
Banyak murid di sekitar yang tampak
bersemangat dan lebih ceria karena sekolah berakhir setengah hari.
"Kalau
begitu, mau makan siang bersamaku? Mari mengobrol santai! Ajak juga Licia-chan
dan Fiona-chan kalau bisa!"
"Sayang
sekali, Licia bilang dia mau ke kantin bersama teman-teman
perempuannya..."
"U-ugh..."
"Fiona-sama
juga langsung pergi untuk urusan keluarga Ignat tepat setelah pelajaran pertama
selesai."
Saat itu,
Fiona menyampaikan pesan dari Ulysses kepada Ren. Pesan itu berisi tentang
rencana kunjungan Ulysses ke kediaman Clausel dalam waktu dekat.
"Uaaaa...
seolah-olah cuma aku yang pengangguran di sini—"
"Bicara
apa sih... padahal Anda selalu terlihat sibuk."
"……Kalau
begitu, di waktu luang yang jarang ada ini, maukah Ren-kun menemaniku
mengobrol?"
"Kalau
saya boleh, saya akan menemani seberapa pun Anda ma—"
"Terima
kasih! Kalau begitu, mari mengobrol lagi setelah pelajaran selesai!"
"────Baiklah."
Tawaran
mendadak itu tidak memiliki maksud mendalam, hanya menonjolkan keimutan Chronoa
yang biasanya suka bermanja-manja.
◇◇◇
Setelah
pelajaran usai, Ren menuju tempat yang ditentukan tanpa membawa apa-apa.
Ia melangkah
masuk ke taman di belakang gedung sekolah dan menghampiri Chronoa yang menunggu
di sudut. Tepat di samping Chronoa yang duduk di
pinggiran air mancur.
Wanita itu
menyerahkan kantong kertas berukuran sedang kepada Ren.
"Makanannya,
aku yang traktir."
Ren
menerimanya sambil berucap, "Terima kasih."
Di dalam
kantong kertas itu ada beberapa roti. Ada yang berisi sayuran dan daging. Dilihat dari logo pada kantongnya, itu
adalah barang dari toko populer di jalan utama.
Sesaat
setelah mereka mulai makan siang, Chronoa bertanya kepada Ren.
"Belakangan
ini, bagaimana perkembangan latihan pedangmu?"
"Aku
hanya terus berpikir kalau aku harus berusaha lebih keras lagi."
Hari-hari
mengayunkan pedang di Biro Saint Lion tidak berubah, namun belakangan ini Ren
merasa tidak mengalami pertumbuhan yang dramatis seperti sebelumnya.
Mungkin
karena Edgar sang Sword Saint sangat sibuk, sehingga kesempatan untuk beradu
pedang dengannya berkurang. Ren tidak pernah menganggap itu sebagai penyebab
utama, namun faktanya itu memang berpengaruh.
Sambil
mengunyah roti, Ren menatap langit dan berpikir bahwa ia tidak punya pilihan
selain terus berusaha.
"Ngomong-ngomong, bagaimana
Chronoa-san mengasah kemampuan sihir Anda?"
Meski bidang pedang dan sihir itu
berbeda, ia ingin menjadikan cara berusaha dan proses menjadi kuat milik
Chronoa sebagai referensi.
"Aku?
Aku rasa aku sering menggunakan sihir dan belajar dengan giat."
"Hanya
itu? Apa tidak ada hari-hari latihan yang luar biasa berat atau
semacamnya..."
Chronoa
tidak menceritakan masa lalunya seolah ingin menyombongkan diri, melainkan
menceritakan hasil dari usahanya yang bagi Ren sudah tidak ada tandingannya.
Tidak ada keangkuhan atau kebohongan di sana.
"Belajar
dengan giat, lalu berlatih sihir dengan lebih giat lagi... aku hanya terus
mengulang hal-hal seperti itu, dan akhirnya aku menjadi diriku yang
sekarang."
"Memang
pantas disebut sebagai salah satu penyihir terbaik di dunia."
"Hei,
hei. Tidak boleh menggoda kakakmu ini, lho."
Chronoa
tertawa malu sambil memegang sebuah roti dengan kedua tangannya dan membawanya
ke mulut. Bagian bawah wajahnya hampir tertutup seluruhnya oleh roti.
"Oh
iya, tadi pagi Estelle sempat bilang ingin mengajak Ren-kun dan yang
lainnya."
Ren
sama sekali tidak mengerti maksudnya.
Mungkin
karena Estelle sedang libur, tapi jika itu ajakan darinya, mungkinkah itu
latihan pedang?
"Kalau
Estelle-sama, sepertinya bukan ajakan makan-makan, ya."
"Aku
juga sedang dalam perjalanan ke akademi, jadi tidak mendengar banyak. Katanya
beliau akan pergi keluar kota sebentar, dan berpikir untuk mengajak Ren-kun dan
Licia-chan."
"Mengajakku
dan Licia keluar kota... ada apa ya?"
"Setahu
aku, Estelle libur hari ini dan besok. Jadi, beliau bilang akan pergi ke
Erendil dulu."
Mungkin
ia pergi ke Erendil untuk mengajak Ren dan Licia. Atau mungkin pergi bicara
dengan Lezard sebagai wali mereka berdua.
Orang
yang menyapa Ren dan Licia setelah keluar dari akademi adalah seorang wanita
tinggi yang tampak gagah dan muda.
Dia
adalah ksatria pengguna pedang hebat yang sudah mereka kenal, yang biasanya
selalu berada di sisi Estelle. Karena zirah hitam legamnya pasti akan terlalu
mencolok, ia berdiri di sana mengenakan pakaian sipil.
Keduanya
disapa saat sedang dalam perjalanan menuju stasiun.
"Jika
memungkinkan, silakan datang ke bengkel Tuan Werlich—begitu pesan dari
Panglima."
Ren
bertukar pandang dengan Licia, lalu mengangguk.
"Baiklah."
Karena
Ren sudah memberitahu Licia sebelumnya bahwa Estelle mungkin akan mengajak
mereka, Licia tidak menunjukkan keberatan atau keterkejutan. Wanita yang menyampaikan pesan itu
berucap, "Kalau begitu," lalu meninggalkan tempat itu.
Licia menatap
Ren.
"Ayo
pergi?"
Angin musim
gugur membuat roknya berkibar sedikit. Beberapa helai daun kering berguling di
atas jalanan batu di sekitar mereka dengan suara kering.
"Pasti
ini ajakan yang dimaksud oleh Chronoa-sama tadi, ya."
"Sepertinya
begitu. Karena siang ini luang, mari kita tanya langsung saja."
"Iya.
Aku juga penasaran apa maksudnya."
Tak lama
setelah mereka mulai berjalan, Ren teringat sesuatu.
"Ngomong-ngomong, apa Licia pernah
ke bengkel Werlich-san sebelumnya?"
Licia menggelengkan kepala dan
menjawab, "Belum."
Dulu, saat ia
baru mulai tinggal di Erendil, seharusnya ia punya kesempatan untuk ke sana.
Namun rencana itu batal karena insiden di lokasi konstruksi, yang justru
berujung pada pertemuan kembalinya dengan Fiona.
"Aku
menantikannya. Kira-kira bengkel seperti apa, ya?"
"……Bisa
dibilang, itu bengkel yang luar biasa berantakan."
Terutama
suasana di dalamnya yang kacau balau.
Setelah
berjalan kaki beberapa saat dari kawasan akademi, Estelle terlihat berada di
pintu masuk distrik pandai besi. Hanya dengan berdiri angkuh di sana seperti
biasanya, ia sudah menarik perhatian orang-orang yang lewat.
"Kalian
datang juga."
Ia
menyeringai lebar saat melihat keduanya.
"Saya
kira Anda menunggu di bengkel Werlich-san."
"Memang
begitu rencananya, tapi kupikir lebih baik menunggu di sini sambil berdiri
gagah. Bagaimana? Mudah ditemukan, kan?"
Ia
berkata demikian lalu mulai berjalan memandu mereka melewati distrik pandai
besi.
Ren
dan Licia berjalan satu langkah di belakangnya.
"Apakah
kalian luang setelah ini?"
"Kami
sedang luang, tapi ada apa?"
Mendengar
itu, Estelle mengangguk kuat dengan puas.
"Umu!"
"Kalau
begitu, ikutlah denganku! Aku ingin memberikan pengalaman baru bagi kalian
berdua yang belakangan ini makin semangat berlatih!"
"E-Estelle-sama?
Ke mana Anda akan membawa saya dan Ren?"
"Ke
langit! Anginnya akan terasa sangat segar!"
Ren dan Licia
memiringkan kepala secara bersamaan, saling menatap dan berkomunikasi lewat
mata tanpa perlu kata-kata.
……Ren,
apa maksudnya dengan langit? ……Saya juga kurang mengerti. ……Syukurlah. Ternyata bukan aku
saja.
Namun
karena Estelle terus berjalan dengan langkah lebar, mereka terpaksa mengekor.
"Tadi
siang saya dengar dari Chronoa-san kalau mungkin akan diajak oleh
Estelle-sama!"
"Oh! Itu
sangat membantu karena aku tidak perlu menjelaskan lagi!"
"Bukan,
bukan! Saya sama sekali tidak mendengar detail lainnya, lho!?"
"Tenanglah.
Aku sudah ke Erendil sejak pagi tadi dan mendapatkan izin langsung dari
Viscount Clausel. Selama ada aku, tidak ada yang perlu ditakutkan."
Estelle
benar-benar melakukan apa yang diprediksi Ren tadi siang.
Namun, bukan
itu poin permasalahannya.
"Saya
dan Licia juga tidak merasa takut, kok."
"Mu?
Lalu kenapa kalian bertanya seperti tadi?"
"Tentu
saja karena kami tidak tahu akan ke mana, dan jika jawabannya hanya 'langit',
saya dan Licia jadi bingung."
"Uuumu...
mungkin kau ada benarnya. Aku rasa aku terlalu terbawa suasana."
Bukan sekadar
"ada benarnya", tapi "sangat benar". Namun Ren memilih
diam.
Licia pun
tidak mencoba memperpanjangnya. Ia hanya bisa pasrah terbawa oleh aura Estelle
yang luar biasa.
Sesaat
kemudian, mereka sampai di bengkel Werlich yang terletak di sudut distrik
pandai besi. Estelle mengulurkan tangan ke pintu tua yang tampak seolah akan
hancur kapan saja.
"Hei,
Werlich! Aku datang!"
Brakk! Saat ia membuka pintu dengan
kencang, debu dan jelaga berterbangan dari dalam bengkel.
Werlich
yang berada di dalam menatap Estelle tanpa merasa terkejut. Pintu yang dibuka
dengan kasar itu ternyata terbuat dari kayu yang sangat kokoh, tidak
menunjukkan tanda-tanda akan hancur meski penampilannya usang. Malah bekas kenakalan Ulysses saat
kecil justru lebih menonjol di sana.
"Oh,
Kakanda! Aku sudah menunggu!"
Werlich,
sang Pandai Besi merangkap Teknisi Kapal Magis.
Postur
tubuhnya kecil khas Dwarf, namun siluetnya gempal dan berotot. Sambil mengelus
jenggotnya, ia menatap Ren dan Licia yang mengikuti Estelle.
"Hah?
Kenapa dua bocah ini ada di sini juga?"
"Karena
kami diajak oleh Estelle-sama... ngomong-ngomong, kami sama sekali belum dengar
apa yang akan terjadi setelah ini."
"Apa-apaan,
begitu ya. Kalau begitu penjelasannya jadi lebih singkat."
Ren tidak
mengerti bagaimana bisa dibilang "singkat" padahal mereka belum tahu
apa-apa, tapi ia memutuskan untuk tidak memusingkannya.
"Penjelasan singkat... e-eh...
Ren...?"
"Jangan
dipikirkan, anggap saja memang begini gayanya."
Licia
memang belum punya banyak kesempatan bicara dengan Werlich, tapi ia sedikit
paham kepribadiannya, jadi ia hanya bisa tersenyum kecut dalam kebingungannya.
Meskipun
merasa ditinggalkan oleh kevulgaran mereka, ia tidak bisa membenci sifat
blak-blakan tersebut.
"Baiklah
kalau begitu, ayo berangkat, kalian berdua."
"Umu.
Kita akan segera menuju Erendil dan lepas landas ke langit!"
"────Sebenarnya,
kenapa kita harus ke langit?"
Saat Ren mencoba bertanya, Werlich
menjawab.
"Kita
akan mengambil bahan yang dibutuhkan untuk memperbaiki Lemuria. Aku yang
meminta bantuan Kakanda, dan beliau merelakan hari liburnya yang berharga untuk
ini."
Masalah
Lemuria memang dirahasiakan sampai batas tertentu, tapi Estelle tentu saja
mengetahuinya.
Di sisi lain,
Estelle tidak diberitahu bahwa mereka menggunakan bahan dari Naga Merah, Asvar.
"Begitulah.
Berburu itu menyenangkan, lho."
"Perbaikannya
berjalan lancar. Sisanya tinggal mengisi beberapa bagian yang butuh bahan
tambahan, maka semuanya beres. ……Masalahnya tinggal suku cadang untuk pusat
tungku sihirnya saja, sih."
Ren mengerti
soal Lemuria. Itu adalah kapal magis yang ditinggalkan di Taman Gantung,
stasiun raksasa kebanggaan Erendil.
Kapal yang
diberikan kepada keluarga Clausel saat mereka dipercaya mengelola Erendil.
Werlich sudah terlibat dalam perbaikannya sejak lama, dan bahan untuk itu
memang diperlukan... itu bisa ia pahami.
Yang paling
membuat Ren dan Licia penasaran adalah,
"Apakah
kami akan berburu di langit?"
Itulah
pertanyaan yang keluar dari mulut Licia.
"Benar.
Kita akan berangkat ke langit menggunakan kapal milik keluarga Drake-ku."
Ren dan Licia
sama sekali tidak keberatan jika itu berhubungan dengan perbaikan Lemuria.
Mereka justru ingin tahu monster jenis apa yang akan mereka buru.
Setelah
keluar dari bengkel, barulah Estelle mulai menceritakan detailnya.
"Ini
setengah pekerjaan. Belakangan ini, sekawanan Lesser Griffin ditemukan. Mereka
adalah monster target pemusnahan yang ditetapkan oleh Leomel. Ren, tahu
alasannya?"
"Karena
mereka agresif. Lesser Griffin akan menjadi jauh lebih liar saat membentuk
kawanan, dan tidak jarang mereka memangsa monster peringkat C ke atas yang
setara dengan mereka. Seharusnya sudah banyak laporan manusia yang diserang
juga."
"Jawaban
yang bagus. Benar sekali."
Estelle yang
tampak puas melanjutkan penjelasannya.
"Mereka
adalah monster berkepala burung dengan tubuh menyerupai singa seperti Griffin
murni. Ukuran dewasanya bisa sebesar bak kereta kuda. Meski jauh lebih lemah
dibanding spesies murni peringkat B, mereka tetap bertenaga besar dan
berbahaya."
Biasanya
Leomel akan mengirim tentara untuk membasmi mereka.
Terkadang
pihak Guild Petualang yang menanganinya, tapi kasus itu tidak terlalu banyak.
Kali ini
perintah pemusnahan memang belum turun, tapi Estelle mendapatkan informasi
tentang Lesser Griffin, dan Werlich yang mendengarnya menginginkan bahan
mereka, sehingga mereka memutuskan untuk berburu.
Sekarang
mereka menuju ke wilayah tempat monster itu terlihat.
"Bahan
Lesser Griffin itu akan digunakan untuk bagian apa?"
"Untuk
mengolah bahan Griffin murni. Bahan dari spesies murni tidak bisa diolah dengan
baik jika tidak menggunakan api yang dihasilkan dari bahan Lesser Griffin. Itu
semacam kecocokan sihir."
Jika
dipikirkan baik-baik, bagi kapal yang menggunakan bahan Asvar yang pernah
dihadapi Ren dan Fiona di Pegunungan Baldor, bahan sekelas Lesser Griffin
memang kalah kelas.
Karena
spesies murni adalah pengecualian, Ren mengangguk mengerti bahwa bahan itu akan
digunakan untuk pengolahan yang lebih lanjut.
"Lokasinya
di daerah pegunungan yang berjarak tiga jam perjalanan dengan kapal magis.
Begitu kita mendekat, mereka pasti akan langsung menyerang. Sudah ada beberapa
korban manusia yang jatuh. Kalian boleh bertarung tanpa ragu."
"Apakah
tidak apa-apa jika aku ikut?"
"Apa
masalahnya? Coba katakan, Licia."
"Tentu
saja, kemampuan bertarungku."
"Kalau
itu, tidak perlu khawatir. Menurutku Ren dan Licia sanggup menanganinya sendiri, dan yang paling
penting, ada aku di sini."
"Kakanda!
Jika saatnya tiba, aku juga bisa bertarung lumayan hebat, lho!"
"Begitulah.
Lagipula mereka cuma peringkat C, aku bisa mengalahkannya dengan satu tangan
sambil menguap."
Werlich
pun tertawa terbahak-bahak.
"Berburulah
sepuas kalian!"
Kapal
magis keluarga Drake sedang berlabuh di Taman Gantung Erendil. Ukurannya satu
tingkat lebih kecil dibandingkan kapal komersial untuk transportasi warga,
namun ketangguhannya berada di level yang jauh berbeda.
Saat
mereka sampai di tujuan, langit sudah berwarna jingga kemerahan, dan malam
mulai merayap dari balik cakrawala.
Meski
tidak sedahsyat Pegunungan Baldor, permukaannya tampak terjal dan tajam. Tidak
ada satu pun pohon yang tumbuh, pegunungan itu terlihat seperti bongkahan batu
raksasa.
Di
sanalah Lesser Griffin membangun sarangnya, di dalam kawah yang terbentuk di
puncak gunung.
Mendengar
suara kapal magis yang mendekat, Lesser Griffin mulai mengepakkan sayap mereka.
Jumlah
individu dalam kawanan itu tidak sampai dua puluh ekor. Semuanya langsung
menatap kapal magis, terus berteriak mengintimidasi seolah-olah siap menyerang
kapan saja.
Sambil
menggenggam pedang sihir Mithril miliknya, Ren bertanya kepada Estelle.
"Apakah
kawanan Lesser Griffin yang harus dibasmi itu bisa muncul secara
tiba-tiba?" tanya Ren.
"Tidak
juga. Di Leomel, kalau sampai ada dua kali kejadian dalam setahun, itu sudah
termasuk sering. Tahun ini adalah tahun Glacier Crossing, jadi mungkin
itu ada pengaruhnya."
Ren memiringkan kepala mendengar
istilah Glacier Crossing.
Selagi mereka berbincang, Lesser
Griffin yang terbang ke atas menatap tajam dari posisi yang lebih tinggi dari
semua orang yang berdiri di geladak kapal magis.
Beberapa ekor mulai membentangkan sayap
lebar-lebar, lalu meluncur memanfaatkan aliran angin.
"Aku tidak keberatan menjelaskan,
tapi kalau kalian lengah, kalian bisa terluka, lho."
Di
depan Estelle yang tersenyum penuh percaya diri, Ren dan Licia mengangguk
mantap.
Lesser
Griffin tidak hanya mengandalkan kemampuan terbang; mereka juga sangat bangga
dengan kekuatan fisik mereka.
Selain bisa
menciptakan angin kencang dengan kepakan sayap, mereka juga bisa menyemburkan
api dari mulut.
Seekor Lesser
Griffin meluncur dengan kecepatan tinggi menuju arah Ren.
Monster
itu menyemburkan api, mengincar Ren yang bersiap menyambutnya dari depan.
Namun—
"Apa
kau tidak tertarik padaku?"
Suara
tenang Licia bergema di otak Lesser Griffin itu dengan kekuatan yang tidak
wajar.
“Gruuuuuh——!!”
Lesser
Griffin itu tiba-tiba kehilangan kendali terbangnya.
Bulu-bulu
sayap utamanya habis terpotong, membuatnya kehilangan keseimbangan meski ia
mencoba menggerakkan sayapnya.
Ia
mengangkat kaki depannya, mencoba meremukkan wajah cantik Licia dengan cakar
tajamnya, namun itu sudah mustahil.
Tanpa
disadari, ujung cakar Lesser Griffin itu sudah lenyap. Pedang perak di tangan
Licia, Byakuen, telah menebasnya dalam sekejap.
"Boleh
juga," puji Estelle dari kejauhan sambil bersiul.
Lesser
Griffin yang tertegun itu pun segera diakhiri oleh Ren dengan tusukan tepat di
tenggorokan.
"Kau
tampak tenang sekali, Licia."
"Terima
kasih. Ini pertama kalinya aku melawan monster seperti ini, tapi ternyata aku
bisa mengatasinya."
"Apalagi
setelah kita melalui pertarungan 'itu', ya."
Ren secara
tersirat merujuk pada pertarungan melawan Sword Demon.
Mereka berdua
tersenyum namun tidak menjadi tinggi hati. Pengalaman di musim panas lalu telah
membuat mereka tumbuh beberapa tingkat; Lesser Griffin kini bukan lagi
tandingan yang berarti.
Namun, poin pengalaman yang didapat
dari medan perang seperti ini tetaplah tak ternilai harganya.
“Kruuuu……”
“Gaah! Gaah!”
Mereka telah
meremehkan musuh.
Lesser
Griffin itu awalnya mengira lawan mereka hanyalah manusia kecil yang lemah.
Kini, kawanan
itu serentak meningkatkan aura tempur mereka. Dengan tatapan yang lebih tajam
dan gerakan yang lebih presisi, mereka mulai mengincar Ren dan Licia.
Luncuran
mereka menjadi jauh lebih cepat, dan angin dari kepakan sayap mereka pun
semakin kuat. Api yang disemburkan dari mulut lebar mereka juga semakin ganas,
namun api itu adalah sejenis sihir.
"Yang
itu biar aku saja."
"Iya,
hari ini aku mengandalkanmu."
Jika
ada pengguna pedang hebat yang menguasai Arts setingkat Swordmaster ke
atas, ceritanya akan berbeda. Begitu Ren menebas sihir tersebut dengan Hoshisogi,
semburan api itu langsung buyar seketika.
Meski
monster-monster yang terkejut itu mencoba menyerang dengan kaki mereka, Licia
menghindarinya dengan gerakan minimal.
Pedang
sihir Mithril, evolusi dari pedang sihir besi, memantulkan cahaya matahari
senja.
Warna
biru yang menyerupai lapis lazuli menyamarkan sisa-sisa hitam dari pedang besi
sebelumnya. Darah segar Lesser Griffin membal memantul dari bilah pedangnya,
sehingga Ren tidak perlu melakukan gerakan chiburi (membersihkan darah).
Saat ini Ren
bertarung dengan sangat santai tanpa harus menunjukkan seluruh kekuatannya.
Untuk memamerkan kekuatan pedang Mithril pun, Lesser Griffin ini terasa terlalu
rapuh.
"Ren!
Licia!" panggil Estelle yang mengawasi mereka bertarung.
"Akan
kuberitahu soal Glacier Crossing! Itu adalah fenomena yang hanya terjadi
belasan tahun sekali di bagian utara Benua Elfen dan Benua Martel!"
Ketika musim
dingin yang sangat ekstrem tiba, gletser yang berbeda dari biasanya akan hanyut
di lautan.
Fenomena ini
terjadi saat Benua Langit, yang melayang tinggi di angkasa, melintasi langit di
atas wilayah laut tersebut.
"Cahaya
matahari yang jatuh ke wilayah laut itu berkurang drastis karena terhalang
Benua Langit, sehingga gletser menjadi lebih tebal dan areanya meluas!
Kemudian, hal yang menarik terjadi; beberapa monster di kedua benua mulai
bergerak dengan sangat aktif!"
"Kenapa
bisa begitu?"
"Lho,
kenapa gletser bisa memberikan pengaruh sebesar itu?"
"Karena
banyak monster menggunakan jalur gletser itu untuk menyeberang dan berpindah di
antara kedua benua! Banyak monster mencari mangsa demi evolusi, entah karena
mengikuti insting atau karena mereka cukup bodoh untuk sengaja
melakukannya!"
Namun,
bukan berarti monster-monster yang menyeberang itu akan menjadi predator
mutlak.
Meski
monster yang menyeberangi gletser itu kuat, ada banyak monster lain yang justru
menganggap mereka sebagai mangsa baru.
"Lesser
Griffin juga pasti terpengaruh! Mereka melihat monster lain mulai aktif
bergerak, sehingga insting bertarung mereka pun ikut terpicu!"
Itulah
Glacier Crossing. Sebuah fenomena alam yang terjadi belasan tahun
sekali.
Bagi
Leomel, kejadian ini biasanya melibatkan negara tetangga, sehingga mereka
jarang harus menangani dampak Glacier Crossing secara langsung.
Mereka
memprioritaskan kepentingan negara sendiri, dan baru mempertimbangkan bantuan
jika diminta oleh negara lain.
Lesser
Griffin terus bertumbangan tanpa mampu memberikan satu luka pun pada Ren dan
Licia.
Sifat ganas
mereka yang tidak mau melarikan diri dan terus mengincar mangsa menjadi alasan
kuat kenapa negara menetapkan mereka sebagai target pemusnahan.
Nafsu
makan dan kebuasan yang tak terpuaskan mendorong Lesser Griffin untuk terus
bertindak kejam. Meski jumlah mereka di sini sudah berkurang drastis, situasi
tetap tidak berubah.
Werlich,
yang sedari tadi mengawasi, mendongak ke langit.
"Nng?"
Seekor
Lesser Griffin besar mengepakkan sayapnya untuk menyerang Werlich. Itu adalah
pemimpin kawanan, individu terbesar dengan kemampuan paling hebat.
Begitu
Werlich yang menjadi incaran mengeluarkan suara, Lesser Griffin lainnya bersiap
mengikuti sang pemimpin.
Meski
begitu, Werlich tetap tenang dan tidak takut.
"Kakanda,
aku serahkan padamu."
"Kalau
kulihat baik-baik, bukankah itu monster yang masuk daftar buruan? Kebetulan
sekali."
Estelle
melangkah maju dengan jubah panjangnya yang berkibar.
Ia
melewati Werlich, lalu menghunus pedang besar hitam legam yang ia panggul.
Nama
pedang itu adalah Koku-i (Keagungan Hitam). Sebuah
pedang ternama yang ditempa oleh Werlich.
Koku-i
di tangannya diselimuti oleh gelombang cahaya berwarna biru keunguan. Sesekali,
suara tajam seperti petir ungu yang memercik terdengar dari pedang itu. Seiring
berjalannya waktu, gelombang itu semakin pekat dan mendistorsi pemandangan di
sekitar bilah pedangnya.
Salah satu Arts khusus yang
hanya bisa dikuasai oleh tingkat Sword Saint, kini dikeluarkan.
"Lenyaplah."
Estelle mengayunkan pedang yang
diselimuti gelombang itu secara horizontal.
Ini adalah puncak dari ketidakadilan
yang digunakan para Sword Saint pengguna pedang hebat—di mana setiap tebasan
berubah menjadi serangan mematikan yang mutlak.
Lesser Griffin yang terbang di udara
seluruh tubuhnya dihantam oleh tekanan pedang hitam legam yang menerjang.
Tekanan itu meluncur di udara seolah-olah menembus tubuh para Lesser Griffin.
Keadaan para monster yang terkena
tekanan pedang—gelombang tersebut—berubah seketika.
Tanpa satu pun pengecualian, kecepatan
terbang mereka langsung melemah, mereka kehilangan vitalitas, cahaya di mata
mereka padam, dan mereka jatuh terjerembap ke bawah.
...Itu
dia.
Bukti
dari seorang Sword Saint pengguna pedang hebat.
Ren
tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pemandangan di depan matanya.
"Ternyata
cuma burung, ya."
Kalimat
dingin itu keluar dari mulut Estelle layaknya embusan napas.
Apa yang baru
saja ia tunjukkan adalah Arts yang sifatnya akan berubah total
tergantung siapa penggunanya—mulai dari warna gelombang, kekuatan serangan,
hingga karakteristiknya.
Jika
digunakan oleh orang tertentu, setiap kali melukai musuh, kekuatan fisik
penggunanya akan meningkat. Jika digunakan oleh orang lain, serangan itu bisa
memberikan luka berkelanjutan pada lawan.
Ada juga yang
bisa membuat musuh tidak bisa menggunakan sihir; gelombang yang menyelimuti
pedang itu tampak seperti perubahan wujud atau lapisan kekuatan. Karakteristiknya sangat bergantung
pada individu masing-masing.
Meski
kekuatan karakteristiknya berbeda-beda, Estelle termasuk yang paling unik di
antara para Sword Saint.
Hakikat
sebenarnya dari Arts yang dilepaskan oleh wanita berjuluk "Si
Pemakan Maut" ini tidak diketahui oleh siapa pun selain dirinya sendiri.
Kekuatan
Panglima Biro Saint Lion ini bahkan tidak diberitahukan kepada anggota keluarga
kekaisaran sekalipun.
Setelah
Panglima Biro Saint Lion menunjukkan serangan singkatnya yang masih
meninggalkan kesan mendalam itu.
"Anu,
Kakanda, ini agak sulit dikatakan, tapi..."
Tiba-tiba
Werlich berucap... sambil mengelus jenggotnya dengan ekspresi yang tampak
kikuk.
"Ada
apa, Werlich? Apa kau terpesona oleh kekuatanku?"
"Yah,
daripada terkejut, memang lebih ke arah terpesona, sih."
"Umu
umu, kau jujur sekali... mu, tapi kenapa kau malah tersenyum kecut? Kalau ada
yang ingin kau katakan, jangan sungkan. Jangan seperti orang asing saja."
"Kalau
begitu aku akan mengatakannya."
Entah karena
lupa tujuan awal datang ke sini, atau karena ingin memamerkan kekuatan dan
memberi stimulasi pada Ren dan Licia.
Werlich
menggaruk pipinya, masih tampak kesulitan untuk mengatakannya.
"Itu...
kalau kau menjatuhkan mereka seperti itu, bahannya jadi..."
Jawaban dari sang Panglima Biro Saint
Lion... sang Sword Saint adalah—
"…………Ah."
Dari jawaban yang membutuhkan waktu
lama itu, terlihat jelas bahwa Estelle memang benar-benar lupa.
Ekspresi konyolnya saat ini sama sekali
tidak terlihat seperti orang yang baru saja menunjukkan Arts yang luar
biasa dahsyat.
◇◇◇
Malam sudah
larut ketika mereka kembali ke Erendil.
"Baiklah,
aku pulang duluan."
Setelah turun
dari kapal magis dan sebelum pindah ke kereta magis, Werlich berpamitan.
Sama sekali
tidak terlihat rasa lelah di pipinya.
"Sisanya,
kalau aku sudah bisa mendapatkan bahan Rampaging Treant King dan
membereskan urusan tungkunya, aku rasa kita bisa sampai ke tahap uji
coba."
Sambil
mempertimbangkan penggunaan bahan alternatif jika terpaksa, Werlich pun kembali
ke Ibu Kota.
Dalam
perjalanan pulang ke kediaman, Ren dan Licia asyik membicarakan Arts
yang ditunjukkan Estelle.
Hari ini,
Estelle tampak tidak mengeluarkan kekuatan penuhnya; ia terlihat seperti
mengayunkan pedang dengan santai. Padahal, dia sangat kuat.
Hal itu
meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi mereka.
"Tapi,
Estelle-sama itu lucu, ya."
Licia
menatap ke langit sambil tersenyum.
"Sampai
rela kembali sendirian untuk mengambil bahan-bahannya."
"Benar
juga. Kalau beliau
kembali ke sana sekarang, jam berapa kira-kira beliau baru sampai rumah?"
"Fufu,
pasti besok pagi."
Demi
mengambil bahan Lesser Griffin yang jatuh ke hutan, Estelle kembali lagi ke
tempat itu sendirian. Alasan ia sengaja melakukannya adalah agar bangkai Lesser
Griffin tersebut tidak dimakan oleh monster lain.
"Aku
akan membantu juga."
"Jangan.
Aku tidak enak pada wali kalian berdua. Aku tidak mengizinkan kalian pulang terlambat."
"Itu
benar, Ren. Lagipula ini semua salah Kakanda yang terlalu semangat bertarung
tadi."
"Gukh...
mau bagaimana lagi! Sebagai orang yang lebih tua, aku ingin menunjukkannya
kepada anak muda yang sudah berusaha keras! Biarkan aku bergaya sesekali!"
"Gahahah!
Aku mengerti, Kakanda!"
Karena
itu adalah bahan yang akan digunakan untuk memperbaiki kapal magis Lemuria, Ren
dan Licia sebenarnya ingin tetap tinggal membantu. Namun jika begitu, mereka akan pulang lewat tengah malam.
Itu bukan keinginan Estelle.
Estelle
mengantar Ren dan Licia kembali ke Erendil, lalu pergi lagi ke tempat tadi
dengan kapal magisnya. Entah apakah Estelle sebenarnya perlu repot-repot
kembali ke Erendil dulu atau tidak. Mungkin itu murni karena ia ingin menjalankan tanggung jawabnya sebagai
pendamping.
"Besok
aku juga libur. Berburu itu bisa jadi selingan untuk menyegarkan pikiran, jadi
bukan hal buruk juga."
Bagi
Estelle, itu akan menjadi hari libur yang menyenangkan. Karena itu, Ren dan Licia pun menerima kebaikan hatinya
dengan tulus.
Sambil
berjalan diterpa angin malam, Licia tiba-tiba memikirkan sesuatu.
"Hei
hei, kira-kira gelombang kita akan berwarna apa ya?"
Mendengar
suara Licia yang ceria, Ren balik bertanya.
Topik itu
juga menarik baginya.
"Maksudmu
saat kita sudah bisa menggunakan Arts setingkat Sword Saint nanti?"
"Iya.
Aku merasa gelombangku nanti akan berwarna putih."
"Mungkin
saja. Kalau kasusku——"
Entah kenapa,
api Asvar terbayang di benaknya. Ia kerap mengingat pengalaman melewati masa
kritis dengan kekuatan yang diwariskan oleh sang Naga Tua tersebut.
Apakah
gelombangnya akan berwarna merah tua, atau mungkin keemasan seperti api? Memang
tidak ada bukti pasti, tapi—
"Mungkin
merah?"
Saat ia
mengatakannya, Licia mengungkit kejadian musim panas lalu.
"Kalau
merah, mirip dengan kekuatan yang menyelimuti pedang Sword Demon, ya."
"……Kalau
begitu, sepertinya lebih baik warna selain merah saja."
"Duh,
Ren ini ada-ada saja."
Estelle
pernah bilang bahwa warna gelombang yang muncul dari Arts tersebut akan
bermanifestasi sebagai warna yang menunjukkan identitas individu, mulai dari
kepribadian hingga karakteristik Magic. Ren tidak bisa memaksa atau
mengubah warnanya hanya dengan perasaan.
Kini, ia
memutuskan untuk menantikannya saat ia menjadi Sword Saint nanti.
"Apakah
yang Ren gunakan saat melawan Sword Demon itu juga sebuah Arts?"
"Yang
mana maksudmu?"
"Pedang
sihir api, kalau tidak salah? Api yang kau gunakan pada pedang sihir itu.
Rasanya kau menggunakan api yang memiliki kekuatan seperti Hoshisogi."
Teringat
bahwa ia belum sempat berbagi cerita secara formal hingga hari ini, Ren mulai
membahas Arts yang ia ciptakan sendiri.
Mengenai
bagaimana api yang dikeluarkan pedang sihir api menunjukkan kekuatan yang mirip
dengan Arts: Hoshisogi.
"Saat
aku mengingat kembali Arts yang pernah ditunjukkan Edgar-san dulu, entah
kenapa aku jadi bisa mengeluarkan api yang mirip seperti itu."
"Membuat
Arts milik sendiri... apakah semudah itu?"
Mungkin
mustahil, Ren menelan
kata-kata itu dan tersenyum kecut.
Mungkin itu
adalah Arts yang bisa tercipta karena kecocokan yang sangat baik antara
kekuatan pedang sihir api dan berbagai faktor lainnya.
"Sebagai
ganti bisa menggunakan Arts tanpa nama itu, Hoshisogi jadi agak
sulit digunakan di sana."
"Maksudmu
terbatas pada pedang sihir api saja?"
"Kira-kira
begitu."
Bukan
berarti tidak bisa menggunakan Arts lain. Ren bingung bagaimana cara
menggambarkannya, tapi ia merasa pedang sihir api itu memiliki ego yang kuat.
Mungkin karena pedang sihir api didapat dari batu sihir Asvar, pedang itu
selalu mencoba membuatnya bergantung pada api.
Jika
diingat kembali, sejak pedang sihir Mithril masih berupa pedang sihir besi, ada
sedikit perbedaan efek dan jumlah Magic yang dikonsumsi antara pedang
besi dan pedang api meski menggunakan Arts yang sama.
"Jadi
Hoshisogi lebih mudah digunakan di pedang sihir Mithril, ya."
"Iya...
Mungkin bagus juga karena kegunaannya jadi terbagi."
Pedang sihir
api dengan Arts tanpa nama itu, dan pedang sihir Mithril dengan Arts
lainnya.
Mungkin ke
depannya, ia juga bisa menciptakan Arts baru pada pedang sihir pohon
raksasa atau pedang lainnya, jadi lebih baik berasumsi untuk membagi penggunaan
Arts berdasarkan jenis pedang sihirnya.
Licia menatap
Ren dan melanjutkan, "Hei, hei."
"Karena
itu adalah Arts yang dibuat sendiri oleh Ren, apa kau tidak mau
memberinya sebutan... atau nama?"
"Nama...
aku tidak pernah memikirkannya."
Itu adalah
usulan yang sangat wajar dan masuk akal... namun Ren berpikir sejenak setelah
mendengar ucapan Licia, lalu berkata:
"Karena
aku sama sekali tidak punya selera dalam memberi nama, maukah Licia yang
memikirkannya?"
"A-aku?
Anu... aku juga tidak merasa punya selera yang bagus, sih..."
Meskipun
berkata demikian, Licia tetap mencoba memikirkannya.
Karena sudah
bilang tidak punya selera, ia mengatakannya hanya seperti candaan ringan, bukan
dengan perasaan serius.
"Karena
apinya merah, bagaimana kalau... Sekken
(Pedang Merah)?"
Ucapnya
sambil tersenyum malu. Ia
sendiri sadar bahwa nama itu terlalu sederhana.
Mendengar
usulan itu, Ren mengerjap berkali-kali.
"…………"
"H-hei!
Jangan diam saja! Aku kan sudah bilang tidak mengatakannya dengan serius! Aku
cuma mencoba bercanda sedikit!"
"Tidak,
ayo kita pakai nama itu."
"……Eh?
Serius?"
"Aku
serius."
Namanya mudah
dimengerti, dan ia juga tidak membenci pelafalannya.
Ren
menetapkan nama Arts yang diciptakan dari pedang sihir api itu sebagai Sekken,
dan memutuskan untuk menyebutnya demikian mulai sekarang.
Nama Arts
sebenarnya tidak terlalu penting, tapi kalau ada namanya, akan lebih mudah dan
nyaman saat memikirkannya nanti.
"Cepat
sekali!? Coba pikirkan sedikit lagi!"
"Meski
kau bilang begitu, aku tidak punya keluhan sama sekali, kok. Tidak apa-apa.
Meski dipikirkan lama-lama pun, belum tentu akan muncul nama yang lebih baik
dari ini."
Ia
menanggapinya dengan santai dan tidak terlalu ambil pusing.
Melihat
Ren yang tetap tenang tanpa kehilangan ritmenya, Licia menghela napas lalu
tertawa.
"Ya
sudah kalau begitu."
"Hmph~...
Begitu sampai
rumah, tiba-tiba rasa lelahnya terasa."
Licia
meregangkan tubuhnya sambil berjalan, lalu menatap Ren.
"Sampai
rumah nanti aku harus segera mandi, lalu menyelesaikan PR sebelum tidur."
"Ah...
ternyata ada hal semacam itu ya."
Ren
benar-benar lupa soal itu. Meski disebut PR, isinya tidak terlalu berat. Namun,
mungkin karena kelelahan mental, Ren mengeluarkan suara yang sedikit
menyedihkan.
"Kita
harus semangat, kan?"
Suara riang
Licia pun sampai ke telinganya.
◇◇◇
Suatu hari,
di pagi yang masih sangat awal, Ulysses Ignat datang ke Erendil.
Ia disambut
oleh jajaran keluarga Clausel, lalu surat undangan pun diserahkan kepada Ren
dan yang lainnya. Sang "Tangan Besi" berbicara di ruang kerja
kediaman Clausel.
"Ini
adalah undangan untuk Guardiknight. Sebelum resmi dibuka untuk umum,
akan diadakan seremoni bagi pihak-pihak terkait."
"Saya
sudah mendengar desas-desusnya, tapi Anda mengundang kami ke sana?"
"Tentu
saja."
Ulysses
mengangguk sambil tersenyum menanggapi pertanyaan Lezard.
"Tidak
mungkin kami tidak mengundang penguasa Erendil, kota di mana Taman Gantung yang
menjadi stasiun pertama Guardiknight berdiri. Saya sangat berharap Anda
berdua dari keluarga Clausel, serta Ren Ashton, berkenan hadir."
Lezard
bertukar pandang dengan Ren, lalu mengangguk mantap.
"Tentu
saja."
"Ah,
syukurlah! Mohon nantikan hari pelaksanaannya nanti!"
Ren
yang beradu pandang dengan Ulysses yang tampak gembira itu pun bertanya.
"Apakah
ada banyak orang yang diundang?"
"Iya.
Para bangsawan tanpa memandang faksi, serta pihak terkait lainnya seperti
pemilik tanah dan sebagainya. Kali ini aku benar-benar mengerahkan tenaga agar
kalian bisa menikmati perjalanan dua hari penuh menuju Eupeheim."
Perjalanan
kereta api yang elegan itu dijadwalkan pada bulan November. Acara ini diadakan
khusus untuk pihak terkait satu minggu sebelum dibuka untuk umum.
Ulysses
mengatakan kepada semua orang bahwa ia akan senang jika setelah perjalanan
kereta berakhir, mereka bisa menghabiskan waktu sejenak di Eupeheim.
Alasan
kenapa kabar ini baru sampai sekarang adalah karena butuh waktu untuk
pemeriksaan akhir kereta dan hal-hal lainnya, ditambah lagi ada beberapa
masalah kecil terkait hak-hak tertentu. Ulysses meminta maaf karena sebenarnya
ia ingin menghubungi sebulan lebih awal.
Karena
skala bisnisnya yang besar, Lezard dan yang lainnya bisa memaklumi. Ia meminta
Ulysses agar tidak terlalu memikirkannya.
Lezard
melihat jadwal yang tertera di surat undangan.
"Sepertinya
kami diundang saat libur panjang bulan November, ya."
"Dengan
begitu, putri kami dan juga Ren Ashton bisa bersantai tanpa rasa
terbebani!"
Menurut
Ulysses, ada beberapa hal lain yang ingin ia tunjukkan selain kereta api
tersebut.
Sepertinya
ia telah sibuk mengerjakan berbagai proyek besar di Eupeheim, dan ia sangat
ingin Ren dan yang lainnya ikut menikmatinya.
Pada hari
yang sama di akademi, saat jam istirahat di sela-sela pelajaran.
"Jadi
begitulah, orang tuaku marah besar. Biar begini aku ini kan pewaris keluarga
Leonard, jadi aku harus berusaha sedikit lebih keras lagi..."
Kaito
Leonard. Remaja yang lahir di salah satu dari keluarga Tujuh Great Duke itu
sedang menceritakan soal ujiannya tempo hari kepada Ren yang setahun lebih muda
darinya.
Wajah Kaito
tampak lesu.
"Kaito-senpai,
bukankah nilai Anda sempurna untuk mata pelajaran pedang atau aktivitas fisik
lainnya?"
"Oh! Itu
kan memang kelebihanku!"
"Belajar
di balik meja juga pasti tidak apa-apa, kok. Sama seperti latihan fisik, aku
rasa kalau terus diulang, nanti akan terbiasa dengan sendirinya."
"Kalau
semudah itu aku tidak akan kesulitan begini..."
"Ngomong-ngomong, bagian mana yang
paling sulit?"
"Saat harus terus duduk menghadap
meja, rasanya seluruh tubuhku jadi gatal-gatal. Itu menyiksa sekali."
"……Oh."
Mungkin itu
masalah kecocokan atau kepribadian. Tapi karena Kaito itu orang yang serius,
Ren yakin dia pasti bisa melaluinya.
"Bicara soal hal lain, apa Ashton
diundang ke acara peresmian Guardiknight?"
"Iya. Saya diundang bersama
keluarga Clausel."
"Sudah kuduga. Ashton sepertinya
memang akrab dengan keluarga Ignat, ya. Ngomong-ngomong, keluargaku juga
diundang, lho."
Setelah berkata demikian, Kaito menguap
dan menatap ke arah kejauhan dengan suara yang terdengar mengantuk.
"Selain soal belajar, belakangan
ini pihak Gereja Elfen juga terus menghubungiku, jadi aku kurang tidur..."
"Dari Gereja Elfen? Apa itu ada
hubungannya dengan relasi Tujuh Great Duke?"
"Oh, kau
cepat sekali tanggap. Segel di Roses Kaitas kan terlepas musim panas lalu.
Ditambah lagi, di generasiku, generasimu, dan satu generasi di bawah kita,
anggota Tujuh Great Duke semuanya sudah lengkap."
Ren
mengangguk mengerti. Ia sudah bisa menebak kira-kira ke mana arah
pembicaraannya.
"Maksudmu,
pihak Gereja menganggap insiden musim panas lalu adalah keajaiban yang
diberikan oleh Dewa Utama Elfen untuk melawan pemuja Raja Iblis yang muncul
kembali?"
"Kira-kira
begitu. Makanya, mereka jadi heboh menduga jangan-jangan garis keturunan
Pahlawan Ruin juga sudah muncul di suatu tempat. Padahal ditanya begitu pun
kami mana tahu."
"Yah...
mungkin saja keturunan Pahlawan Ruin memang ada di suatu tempat, kan?"
Tiba-tiba
Kaito mendekatkan tubuhnya ke arah Ren.
Ia
merendahkan suaranya, berhati-hati agar tidak terdengar oleh orang lain.
"Menurutku,
kekuatan Vain yang pernah dilihat Sarah dulu itu mencurigakan."
"Jadi
Anda berpikir kalau Vain mungkin saja keturunan Pahlawan Ruin?"
"Hahaha!
Memang begitu pemikiranku, tapi—ng? Ashton, kau tidak tertawa?"
"Tidak,
kenapa aku harus tertawa?"
"Karena
aku sendiri sadar. Apa yang kukatakan ini terdengar konyol dan mengada-ada,
kan?"
Informasi
untuk menyebut Vain sebagai keturunan Pahlawan Ruin memang terlalu sedikit.
Apalagi garis
keturunan keluarganya konon dikutuk oleh Raja Iblis dan tidak diberkati oleh
leluhur mereka.
Mengatakan
bahwa dialah orangnya, apalagi dia hanya anak laki-laki yang ditemui Sarah
secara tidak sengaja di desa terpencil, mungkin terdengar terlalu dipaksakan.
Namun karena
Ren tahu kebenarannya, kasus itu tidak berlaku baginya.
"Itu
bukan sesuatu yang pantas ditertawakan atau diabaikan begitu saja. Riohard-san
juga bilang kalau beliau melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, kan?"
"Oh!
Benar juga ya!"
Wajah Kaito
tampak sumringah karena pendapatnya tidak dibantah.
Ia
kemudian merangkul bahu Ren dengan gembira. Namun, Kaito segera menghela napas
panjang saat mendengar bel tanda pelajaran akan dimulai berbunyi beberapa menit
kemudian.



Post a Comment