NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 5 Chapter 3

Chapter 3

Perjalanan dengan Kapal Guardiknight


Setelah perayaan Festival Lion King usai, Radius sering menggunakan ruangan tersebut.

Sore itu, sepulang sekolah, ia sedang sendirian di sana.

Mata Radius bertemu dengan mata Ren yang berkunjung seorang diri.

"Sendirian?"

"Ya. Mireille baru saja keluar sebentar."

"Oh, begitu."

Ren melangkah masuk dan duduk di kursi yang biasa ia tempati. Ia memberitahu Radius bahwa ia telah menerima undangan Guardiknight dari Ulysses dan akan melakukan perjalanan kereta pada bulan November.

"Kira-kira, apakah di saat itu aku bisa diperkenalkan kepada orang yang waktu itu kau bicarakan?"

"Tentu," Radius langsung mengangguk setuju.

Selama berada di Eupeheim, jadwalnya tidaklah padat. Sebagian besar waktu Ren, Licia, dan Lezard dialokasikan untuk bersantai... bisa dikatakan mereka akan menghabiskan waktu libur di sana. Jadi, tidak ada masalah jika Ren pergi keluar sebentar.

"Aku akan memberitahu pihak sana tentangmu. Aku juga akan menampakkan diri di hari itu."

"Boleh?"

"Ya. Ada hal yang ingin kubicarakan dengannya. Sekalian saja, aku akan mengatur agar kita bisa menuju Eupeheim dengan kapal magis."

"Artinya, kau tidak naik Guardiknight."

"Aku akan menghadiri upacara peresmiannya, tapi kalau aku ikut masuk ke gerbong, semua orang pasti tidak akan bisa tenang. Lagipula, aku punya urusan lain."

Suaranya masih terdengar sama seperti tempo hari, lelah karena terlalu banyak berpikir. Sepertinya ini bukan masalah merepotkan seperti Pemuja Raja Iblis.

Melihat Radius menghela napas setelah bicara, Ren pun bertanya.

"Kelihatannya berat... urusan apa?"

"Singkatnya, urusan keluarga."

Nada bicaranya mengandung makna mendalam, seolah ia baru saja bisa mengungkapkan hal itu. Ren tidak bisa menggali lebih dalam soal urusan keluarga keluarga kekaisaran, jadi ia menjawab seperti biasa.

"Kurasa tidak ada urusan keluarga yang lebih berat daripada urusan keluargamu, Radius."

"Ya, aku pun berpikir begitu."

Radius langsung mengangguk setuju.

◇◇◇

Beberapa hari berlalu. Stasiun terbesar di Ibu Kota dipenuhi keramaian yang tidak biasa.

Mereka yang berada di sekitar peron adalah para tamu undangan Ulysses yang datang dari berbagai penjuru Leomel tanpa memandang faksi.

Bodi kereta Guardiknight yang tengah menjadi pembicaraan itu jauh lebih besar dibandingkan kereta magis konvensional. Berbeda dengan model lama, kereta ini memiliki dua lantai dan lebarnya dibuat semaksimal mungkin. Desainnya yang aerodinamis seolah menegaskan bahwa kendaraan ini berbeda dari kereta-kereta sebelumnya.

Dalam upacara tersebut, Radius menyampaikan kata sambutan sebagai perwakilan dari keluarga kekaisaran. Tak lama kemudian, para tamu undangan mulai menaiki Guardiknight.

"Terimalah ini."

Seorang ksatria pengawal menyerahkannya kepada Ren agar tidak terlalu mencolok jika diberikan langsung oleh Radius. Yang diterima Ren adalah sepucuk amplop mewah.

"Dari Yang Mulia, beliau menitipkan surat pengantar ini."

Ren yang mengerti maksudnya langsung menatap Radius yang berdiri di kejauhan.

...Terima kasih. ...Jangan dipikirkan.

Setelah berkomunikasi singkat hanya lewat gerak bibir, Radius meninggalkan stasiun bersama pengawalnya. Ren dan Licia pun masuk ke gerbong seperti tamu lainnya.

Tak lama kemudian, Guardiknight berangkat dan mulai menambah kecepatannya.

Kereta itu meninggalkan area perkotaan dalam sekejap, meluncur menuju stasiun pemberhentian terakhir, Eupeheim.

Pemandangan di luar jendela yang berubah dengan cepat membuat hati siapa pun yang melihatnya merasa gembira.

 

Ren dan kawan-kawan sedang berbincang di gerbong yang berfungsi sebagai kafe di siang hari dan bar di malam hari.

"……Cepat sekali, tapi sama sekali tidak ada guncangan."

"Benar-benar teknologi terbaru, ya."

Setelah percakapan Ren dan Licia, Fiona menimpali dengan senyuman anggun.

"Fufu, saya senang kalian bisa menikmatinya."

Jendela di gerbong ini terbuat dari satu lembar kaca raksasa, memungkinkan penumpang melihat seluruh pemandangan di luar.

Meski pemandangannya belum terlalu asing, sensasi melakukan perjalanan dengan kereta tercanggih ini memberikan kesegaran tersendiri.

"…………"

Tiba-tiba, sebuah tatapan tertuju pada profil samping wajah Ren yang sedang memandang keluar. Itu adalah tatapan dari Licia yang berdiri di sampingnya. Menyadari hal itu, Ren menoleh.

"Licia? Ada apa?"

"Tidak. Bukan apa-apa."

Karena Licia menjawab sambil tersenyum, Ren tidak memikirkannya lebih jauh.

Tanpa disadari Ren, Licia bergumam pelan.

"────Nanti, ya."

Ren yang tidak menyadarinya terus menikmati pemandangan di jendela. Saat sedang bersantai, pintu gerbong terbuka dan Sarah, yang juga diundang, menampakkan diri.

Ia mengenakan seragam akademi, begitu pula Ren dan yang lainnya. Hari ini ada kelas tambahan sebelum upacara, jadi mereka naik ke kereta masih dengan seragam. Ren ingat ada beberapa putra dan putri bangsawan lain yang juga berpakaian serupa.

Saat Sarah datang dan menyapa Licia serta Fiona, Ren mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. Melihat pemandangan yang berganti-ganti saat melewati Erendil setelah meninggalkan Ibu Kota, ia terpikirkan sesuatu.

"Riohard-san, kalau tidak salah Vain juga ikut, kan?"

"Iya. Tadi sepertinya dia pergi ke gerbong observasi bersama Kaito."

Sebenarnya gerbong ini juga bisa disebut gerbong observasi, tapi gerbong yang dimaksud Sarah memiliki pemandangan yang lebih terbuka dengan atap yang juga dilapisi kaca. Ren juga penasaran dengan apa yang sedang dilakukan teman laki-lakinya.

"Aku akan melihat ke gerbong observasi sebentar."

Setelah berpamitan pada mereka bertiga, Ren meninggalkan tempat itu.

 

Saat keluar ke lorong penghubung, keriuhan tamu undangan menyambut Ren.

(Ramai sekali.)

Terdapat remaja berseragam Akademi Militer Kekaisaran, serta beberapa orang yang mengenakan seragam yang tampaknya dari akademi lain. Sebagian besar kemungkinan adalah anak-anak dari mereka yang terlibat dalam proyek besar ini.

Ren melewati para tamu dan terus menyusuri lorong. Begitu membuka pintu gerbong observasi di bagian belakang, ia menemukan lebih banyak orang dibandingkan di gerbong sebelumnya.

"Nng?"

Kaito yang duduk di dekat jendela menyadari kehadiran Ren dan melambai lebar.

"Ashton! Di sini!"

Panggilan itu cukup mencolok, tapi Ren tidak peduli dan menghampiri meja mereka. Keduanya juga masih mengenakan seragam seperti Ren.

"Boleh aku bergabung?"

"Hahaha! Tentu saja!"

Ren duduk di samping Vain, tepat di hadapan Kaito. Di atas meja terdapat papan permainan sejenis catur yang sedang dimainkan dengan sengit oleh Vain dan Kaito.

"Ren mau main juga?"

"Tidak, aku menonton saja."

Sambil berkata demikian, Ren merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah buku kecil seukuran novel saku. Melihat hal itu, Kaito mengalihkan pandangannya dari papan permainan ke arah Ren.

"Bawa buku langka lagi ya, Ashton."

"Ini menarik, lho. Apa Kaito-senpai mau coba baca?"

"Kau pikir aku ini tipe orang yang suka membaca buku atas kemauan sendiri?"

"……Karena aku bingung harus menjawab apa, tolong jangan beri pertanyaan seperti itu."

"Hahaha! Maaf, maaf!"

Vain yang duduk di sampingnya juga melirik buku di tangan Ren.

"Dasar-Dasar Kapal Magis: Bahkan untuk Little Boar Sekalipun!?"

Itu adalah buku yang ia temukan dan beli saat pulang bersama Licia dari akademi. Karena tempo hari ia sempat membantu memperbaiki Lemuria, ia jadi tertarik membaca buku semacam ini. Hanya sekadar itu, tidak ada maksud terselubung. Meskipun Ren benar-benar orang awam soal kapal magis, buku ini ternyata cukup menyenangkan untuk dibaca.

"Heh, kau baca buku seperti itu juga ya."

"Sesekali. Jadi, aku akan membaca buku sambil menonton pertandingan kalian."

Vain maupun Kaito tidak keberatan meski Ren membaca buku; mereka menghabiskan waktu di ruang yang sama layaknya teman akrab.

 

Sekitar belasan menit setelah Ren mulai membalik halaman buku, terdengar suara mereka berdua yang menikmati permainan papan tersebut.

"Yosya! Sekali lagi, Vain!"

"Boleh. Aku tidak akan kalah lagi nanti."

Ren membalik halaman bukunya sambil sesekali melirik pertandingan di atas meja. Saat mulai fokus pada bukunya, suara mereka berdua terasa menjauh.

"Ah────hei! Itu────"

"Ini kan pertandingan────Sportif────"

"Kuh────a-aku tidak akan kala────"

Di samping pertandingan yang memanas itu, Ren tetap diam membeku. Tanpa disadari, teh sudah tersaji di meja. Mungkin itu adalah bentuk perhatian dari pelayan di gerbong ini.

Ren berkali-kali mengangkat cangkir teh ke mulutnya lalu menurunkannya lagi. Saat tehnya hampir habis, pertandingan Vain dan Kaito sudah memasuki ronde ketiga.

Lalu di saat itulah,

"Ngomong-ngomong,"

Suara Kaito yang terdengar seperti biasa tanpa emosi khusus menyapa telinganya. Topik pembicaraannya menarik minat Ren yang tadi sedang fokus membaca.

"Apa Ashton tahu? Katanya atas perintah Paus Gereja Elfen, kekuatan tempur tertinggi kebanggaan mereka juga mulai bergerak. Sepertinya mereka serius mau menghadapi Pemuja Raja Iblis."

"Apa-apaan itu? Maksudmu bukan pihak Gereja Elfen yang menyerang duluan, kan?"

"Justru itulah kenyataannya."

Seketika Ren menutup bukunya dan ternganga mendengar jawaban itu.

"Eh, Anda serius?"

"Tentu saja. Katanya ada kuil di suatu tempat yang diserang sebelumnya, kan? Kalau tidak salah itu sebelum menara jam besar Erendil diserang?"

"A-ah... sepertinya memang ada kejadian seperti itu..."

"Rumornya saat itu, pusaka suci Gereja Elfen ada yang dicuri atau semacamnya. Pihak Gereja Elfen sepertinya sudah tidak bisa lagi membiarkan pergerakan Pemuja Raja Iblis."

Apa yang dikatakan Kaito merujuk pada Elfen’s Tear. Itu adalah pusaka suci yang dicuri ketika kuil diserang oleh pemimpin Pemuja Raja Iblis.

"Apa Gereja Elfen tahu di mana pergerakan Pemuja Raja Iblis?"

"Mungkin saja. Mereka punya cabang di seluruh dunia, mungkin mereka tahu sesuatu."

Saat Ren meminum habis isi cangkirnya, pelayan menyadarinya dan segera menuangkan cangkir yang baru.

 

Ren masih membaca buku meski malam sudah larut. Bukan buku yang tadi, melainkan buku yang lain.

Setelah menutup buku tersebut, Ren menatap ke luar jendela. Di jam seperti ini, luar sana gelap gulita, dan pemandangan yang lewat hampir tidak terlihat sama sekali.

Ini adalah kamar tamu yang disiapkan untuk Ren.

Kamar ini tentu saja lebih sempit dibandingkan kamarnya di kediaman Erendil, bahkan lebih sempit dari kamarnya di desa keluarga Ashton.

Namun, suasananya nyaman dan tenang.

Sebagai kereta magis mutakhir, desain kamar tamunya memberikan kesan baru di Leomel belakangan ini.

Alih-alih gaya antik yang menonjolkan kayu dan batu, dekorasinya menggunakan tirai dan karpet satu warna yang sekilas tampak sederhana namun modern.

Interiornya penuh dengan kebaruan yang seolah menunjukkan perubahan zaman.

(Kurasa sudah waktunya aku pergi.)

Ren yang sedari tadi menopang dagu di meja dekat jendela sambil memandang keluar pun berdiri. Begitu keluar ke lorong penghubung melalui pintu perangkat magis yang terbuka otomatis, ia melihat beberapa penumpang yang sedang menatap langit berbintang dari jendela yang memenuhi satu sisi dinding.

Baru sekitar satu jam yang lalu pesta usai, dan Ulysses tampak sangat sibuk.

Namun, karena Ulysses ingin semua orang menikmati perjalanan darat ini sesuka hati, pesta diakhiri lebih awal dan lokasinya disediakan sebagai tempat bersantai.

Ren berjalan melewati mereka menuju bagian belakang, menuju kamar Ulysses. Ia sudah diundang untuk berbincang pada malam hari. Di depan pintu menuju bagian terdalam dari salah satu gerbong belakang, Edgar berdiri menunggu.

"Saya pikir ini terlalu awal, tapi saya terlanjur datang."

"Tidak, jangan dipikirkan. Namun saya mohon maaf, tuan kami belum kembali karena belum selesai memberikan salam."

Edgar telah menerima pesan untuk Ren, maka ia sudah berada di sini lebih dulu. Mendengar permohonan maaf dari pria tua bersetelan tails itu, Ren memintanya untuk tidak merasa tidak enak. Sejak awal ia sudah tahu kalau Ulysses pasti sibuk dalam perjalanan ini.

"Beliau sepertinya akan segera kembali, jadi bagaimana jika Anda menunggu di dalam?"

"Ah, dengan senang hati."

Mendengar jawaban Ren, Edgar membuka pintu dan mempersilakannya masuk. Kamar tamu yang luas di bagian dalam itu adalah kamar Ulysses, suasananya mirip dengan kamar Ren.

"Silakan tunggu di sini."

Atas instruksi Edgar, Ren duduk di sofa dan menunggu.

 

Sambil menikmati teh yang diseduh oleh pria tua itu, ia menunggu sekitar sepuluh menit. Ulysses datang dengan terburu-buru, merapikan kerahnya, lalu membungkuk kecil pada Ren.

"Maaf membuatmu menunggu!"

"Tidak apa-apa, kok."

Ulysses yang baru kembali dari menyapa tamu duduk di samping Ren. Berbeda dari biasanya, malam ini Ulysses mengenakan pakaian mewah untuk pesta.

Sapu tangan di saku jas dan perhiasan yang menghiasi kerah jasnya memberikan kesan elegan tanpa terlihat berlebihan.

"Aku hanya ingin mengobrol santai tentang kabarmu belakangan ini."

Mendengar suara lembut dari sang "Tangan Besi" itu, Ren malah melontarkan pertanyaan sebelum menjawab.

"Tumben sekali."

"Maksudmu apa yang kukatakan tadi?"

"Sepertinya untuk ukuran Ulysses-sama, Anda menanyakan hal yang sangat normal."

"Hahaha, kalau dipikir-pikir benar juga ya."

Ulysses sama sekali tidak merasa tersinggung. Ia tertawa hingga matanya menyipit.

"Tapi sejak insiden Roses Kaitas, kita belum punya waktu untuk mengobrol santai. Aku sudah lama ingin meluangkan waktu bicara seperti ini."

Saat Ulysses mengantarkan undangan ke kediaman Clausel pun, mereka tidak bisa mengobrol lama.

"Ah... soal waktu itu, maaf sudah membuat Anda khawatir."

"Aku memang khawatir, tapi aku lebih marah karena manajemen Gereja Elfen yang kacau. Kalian sama sekali tidak perlu merasa bersalah."

Radius pernah bercerita bahwa ia harus berusaha keras untuk meredam amarah Ulysses saat itu. Ren merasa senang dengan kasih sayang yang ditunjukkan Ulysses, dan ia juga merasa bahwa saat itu Radius pasti benar-benar berjuang keras.

Setelah mengobrol sedikit lagi tentang kejadian itu.

"Bagaimana, apakah kau menikmati pesta hari ini?"

Ren langsung mengangguk mantap.

"Kereta mutakhir ini luar biasa ya. Licia dan Lezard-sama juga terkejut karena ini benar-benar berbeda dari kereta yang biasa kami naiki."

"Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong────fumu."

"Kenapa Anda menatap saya seperti itu?"

"Setelah mendengar langsung dari mulutmu, aku jadi paham sesuatu."

Ulysses sedikit memajukan tubuhnya sambil menatap Ren.

"Aku sudah mendengar rumornya, tapi ternyata kau benar-benar memanggilnya langsung dengan nama, ya."

"E-eh... iya... ada banyak hal yang terjadi..."

"Yah, pasti memang ada banyak hal. Aku mengerti, kok."

Ulysses tidak mengatakannya lewat kata-kata. Selain mengharapkan perjuangan putrinya, ia tidak cukup tidak peka untuk melontarkan komentar yang tidak elegan.

Ia menyandarkan punggungnya kembali ke sofa sambil berharap jarak antara putrinya dan Ren juga semakin dekat.

"Sepertinya Nona Clausel dan Fiona-ku sedang mengadakan sesi belajar bersama sebelum tidur. Pelayan bilang mereka terlihat sangat asyik."

"Kenapa tiba-tiba mereka belajar bersama?"

"Tepatnya, putri dari keluarga Riohard juga ada di sana. Tapi, aku lupa menanyakan bagaimana awalnya itu bermula."

Faksi Bangsawan, Faksi Pahlawan, dan Faksi Netral. Ketiga faksi berkumpul di satu tempat yang sama, namun Ren sudah tahu bahwa Fiona juga mengenal Sarah. Ren teringat apa yang pernah ia bicarakan soal ujian sebelumnya.

(Riohard-san pernah bilang kalau nilai ujiannya kemarin agak pas-pasan, ya.)

Nilainya tidak buruk-buruk amat, tapi karena dia berasal dari keluarga Great Duke, standarnya memang tinggi. Meski meraih nilai lumayan di kelas khusus, dia merasa harus berusaha lebih keras lagi.

"Fiona punya sedikit teman. Baguslah jika pergaulannya bertambah."

Alasannya adalah karena Fiona sempat terbaring sakit dalam waktu lama sejak lahir. Itulah sebabnya Ulysses biasanya sama sekali tidak ikut campur meski ada perbedaan faksi.

Jika ia bicara, hal itu bisa menimbulkan konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. Ia tidak ingin merusak kesenangan putrinya.

Selain itu, Ulysses adalah salah satu orang terpintar di Leomel. Pasti ia sudah bergerak dengan penuh pertimbangan di balik layar.

 

Setelah itu...

Merasa waktu mengobrol sudah cukup, Ulysses berkata, "Waktu yang menyenangkan."

Mengingat kembali pembicaraan tadi, rasanya mereka benar-benar hanya mengobrol santai.

"Mari bicara lagi nanti. Dengan santai, tanpa perlu memikirkan waktu."

"Saya juga. Dengan senang hati."

"Ya, aku akan menantikannya."

Ren berdiri dari sofa dan meninggalkan ruangan. Dalam perjalanan kembali ke kamarnya, Licia berdiri bersandar di dinding lorong penghubung. Ia menemukan Ren dan tersenyum manis.

"Aku sudah menunggu, kupikir kau akan segera kembali."

"Artinya sesi belajarnya sudah selesai ya, Licia."

"Iya. Karena sudah jam segini juga."

Saat ditanya bagaimana sesi belajar itu bermula, ternyata hampir sesuai dengan dugaan Ren.

Saat mereka bertiga sedang mengobrol, Sarah yang mencemaskan nilai ujiannya menceritakan bagian yang ia tidak kuasai, lalu Fiona menjelaskannya dengan sangat mudah dimengerti.

Hal itu membuat Sarah ingin belajar dengan sungguh-sungguh, dan akhirnya sesi belajar pun dimulai.

Licia melepaskan punggungnya dari dinding dan berjalan di samping Ren.

"Aku belum mengantuk, mau ke gerbong observasi bersamaku?"

Menerima ajakan itu, Ren pun melangkah maju.

Gerbong observasi itu berbeda dari siang hari; tidak ada pelanggan lain dan terasa seperti disewa hanya untuk mereka berdua.

Pemandangan malam yang indah pun kini hanya milik mereka berdua. Begitu menginjakkan kaki di sana, Licia tersenyum kecil.

"Semua orang sepertinya ada di tempat pesta. Jadi kita bisa santai di sini, kan?"

"Jangan-jangan, kau sudah mengeceknya dulu sebelum mengajakku?"

"…………Salah?"

Licia menjawab dengan ketus untuk menutupi rasa malunya, lalu mendekat ke jendela besar.

Tidak ada gerbong lain yang bisa memberikan pandangan seluas langit berbintang selain gerbong observasi ini yang atapnya juga terbuat dari kaca.

Di sekitar sini, langit malamnya jauh lebih jernih dibandingkan langit Erendil atau Ibu Kota yang biasa mereka lihat.

Bintang-bintang bersinar sangat terang, dan kegelapan di titik-titik kumpul bintang itu terlihat menyala hingga tampak seperti warna biru lapis lazuli.

"……Sangat indah."

Profil samping wajah Licia yang tengah terkagum-kagum itu tidak kalah cantiknya dengan bintang-bintang di angkasa.

Setelah puas menikmati pemandangan malam, ia mengubah sikapnya sedikit dan mulai bicara.

Alasan ia sengaja datang ke sini bukan hanya untuk melihat langit malam, tapi juga karena ada hal lain yang ingin ia bicarakan dengan Ren.

"Begini, ada sesuatu yang ingin kutanyakan."

"Anu, kalau kau mengatakannya sambil tiba-tiba mengerutkan dahi begitu, aku jadi ikutan waspada."

"Wajar, kan. Aku memang menatapmu supaya kau merasa begitu."

Licia menatap Ren yang berdiri di sampingnya sambil sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia mengulurkan ujung jarinya dan menyentil pelan ujung hidung Ren.




"Apa yang sedang kau lakukan dengan Pangeran Ketiga?"

"Aku dengan Radius? Kapan maksudmu?"

"Tadi pagi. Lagipula belakangan ini kalian berdua tampak mencurigakan dan suka berbisik-bisik, kan."

Mendapat desakan yang tidak memungkinkan untuk melarikan diri, Ren memutuskan untuk tidak bersikap keras kepala.

"Ternyata ketahuan ya."

Ia membalas dengan senyum kecut, mencoba bersikap terbuka.

"Apakah alasanmu tiba-tiba menatapku tajam tadi siang juga karena hal ini?"

Licia tidak berusaha berkelit dan mengangguk mantap.

"Apakah ini ada hubungannya dengan Holy Magic-ku?"

"────Iya."

"Sudah kuduga... Jadi kau meminta bantuan Pangeran Ketiga untuk sesuatu ya? Apa alasan kau diam-diam mempelajari Holy Magic belakangan ini juga sama?"

"Eh!? Kau tahu soal itu juga!?"

"Duh. Tentu saja tahu."

Licia mengangguk kecil lalu menghela napas. Jari yang tadi ia tempelkan ke ujung hidung Ren sudah ia turunkan tanpa disadari.

"Apa alasanmu mencoba menyelidikinya tanpa memberitahuku?"

"……Apakah aku wajib mengatakannya juga?"

Licia menjawab dengan senyum tipis namun tegas.

"Tentu saja," ucapnya sambil mempersempit jarak mereka setengah langkah lagi.

"Karena sebisa mungkin, aku tidak ingin membuatmu khawatir."

"Maksudmu, kau tidak mau melihatku merasa cemas soal Holy Magic ini?"

"Tapi, aku tidak berniat menyembunyikannya selamanya, kok. Setelah aku mendapat informasi yang jelas, aku pasti akan menyampaikannya padamu."

Licia menatap Ren dengan binar bahagia.

"……Terima kasih," ucapnya tulus, lalu melanjutkan.

"T-tapi! Mulai sekarang, bicaralah padaku dari awal! Lalu, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan di Eupeheim?"

"Dugaanmu terlalu tajam! Bagaimana kau bisa tahu!?"

"Fufu, kalau tidak ada rencana apa-apa, kau tidak mungkin repot-repot berkomunikasi dengan Pangeran Ketiga sebelum keberangkatan, kan?"

Licia menatap Ren dengan ekspresi bangga.

"Sepertinya kau berkomunikasi lewat ksatria pengawal ya, tapi aku melihatnya, lho."

Analisis Licia sama sekali tidak meleset. Ren pun berkata tanpa menyembunyikan apa pun lagi.

"Aku akan diperkenalkan kepada seseorang yang dulu merupakan guru Radius. Selama berada di Eupeheim, aku berniat menemuinya beberapa kali untuk mendengarkan penjelasannya."

"Kau... akan diperkenalkan kepada orang yang luar biasa, ya."

"Aku juga terkejut saat mendengarnya. Karena itu, Licia harus menjaga rumah ya."

"Menjaga rumah?"

"Sesuai kata-kataku. Tetaplah berada di penginapan."

Mendengar instruksi singkat itu, Licia langsung meninggikan suaranya.

"Hei! Bagaimana bisa kesimpulannya jadi begitu setelah semua pembicaraan tadi! Aku juga mau ikut!"

"Tidak bisa. Karena ini adalah perkenalan yang ditujukan khusus untukku secara pribadi, tidak enak pada pihak sana kalau aku tiba-tiba membawa Licia."

Kata-kata tenang dilontarkan kepada Licia yang sedang bersemangat. Terlepas dari perasaan pribadinya, ucapan Ren terlalu benar untuk dibantah.

"────Kalau kau bilang begitu, benar juga sih."

Meski jawabannya patuh, bibir Licia tampak sedikit mengerucut.

"Kenapa kau tampak tidak puas padahal sudah setuju?"

"Habisnya, kau tiba-tiba menceramahiku dengan logika yang benar sih."

Meski begitu, Licia berkata dengan jujur, "Maaf. Aku tadi terlalu terbawa suasana."

Ia berdeham kecil lalu kembali menatap Ren dengan serius.

"Kalau sampai ada hal lain yang kau rahasiakan lagi, mulai sekarang aku harus terus mengawasimu setiap saat."

Suaranya terdengar seperti sedang bercanda. Ren pun berniat membalasnya dengan candaan yang sama.

"Bahkan saat tidur?"

"Iya. Bahkan saat tidur."

Tentu saja, keduanya menganggap ini hanya gurauan belaka. Namun, setelah itu Ren melontarkan satu kalimat fatal... kata-kata tajam yang tidak bisa dibantah oleh Licia.

"Kurasa Licia pasti akan tidur lebih dulu daripada aku."

"…………"

"Bukankah kau juga berpikir begitu?"

Mendengar pertanyaan itu, Licia menyadari hal yang sama. Keduanya terdiam, bertukar keheningan yang cukup lama selama belasan detik.

Licia mengirimkan tatapan sebal yang seolah ingin mengatakan sesuatu, namun ia hanya menatap Ren dan kembali mengerucutkan bibirnya.

Ia akhirnya menyerah untuk membantah, lalu menautkan kedua tangan di belakang punggung. Sebagai bentuk perlawanan kecil, ia menyentuhkan bahu kanannya ke lengan Ren dengan dorongan ringan.

"……Ren jahat."

Ia merajuk dengan manis, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.

◇◇◇

Keesokan harinya pun mereka menikmati perjalanan darat yang elegan, hingga tiba di pagi lusa.

Sebelum matahari terbit, di saat sebagian besar penumpang masih terlelap.

Ren terbangun dan mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. Ia menaikkan tirai jendela yang ia turunkan sebelum tidur, lalu melihat fajar yang mulai mengintip dari balik cakrawala.

Masih terlalu pagi untuk sarapan, tapi ia juga tidak merasa ingin tidur lagi. Setelah mencuci muka dan merapikan penampilan, ia keluar dari kamar tamu.

Niatnya ingin minum teh sejenak agar kesadarannya pulih, namun saat ia menuju gerbong restoran, ia menemukan Fiona di sana.

Selain dia, hanya ada segelintir pelanggan lain. Fiona yang sedang duduk di kursi dekat jendela sambil minum teh menyadari kehadiran Ren dan tersenyum.

"Selamat pagi. Ren-kun ternyata bangun pagi juga ya."

"Aku biasanya memang bangun jam segini, mungkin sudah jadi kebiasaan."

"Kalau begitu, kita sama."

Fiona tersenyum menawan dan mengajak, "Maukah Anda bergabung?". Ren menjawab "Dengan senang hati" lalu duduk di hadapannya.

Tak lama, seorang pelayan muncul entah dari mana, menyiapkan teh untuk Ren, lalu segera pergi.

"Pesan apa ya."

Ren melihat menu yang terletak di atas meja.

Melihat Ren yang sedang menimbang-nimbang untuk memesan camilan, Fiona mengalihkan pandangannya ke gelas di depannya.

Gelas itu tadinya berisi air buah, tapi sekarang sudah kosong. Butiran air dari kondensasi es sedikit menetes di dinding gelas.

Di sana, ia melihat bayangan dirinya yang terpantul kecil.

Sambil mendengarkan suara Ren yang sedang memesan kepada pelayan di hadapannya, pikirannya melayang ke hal lain.

...Tidak aneh, kan?

Ia bergumam tanpa sadar sambil menyentuh poni rambutnya.

Ia memang sudah merapikan diri segera setelah bangun tidur, tapi jika ia tahu akan bertemu Ren seperti ini, ia merasa butuh sepuluh... tidak, dua puluh menit lagi untuk bersiap-siap.

Ia bahkan merasa cemas dengan sudut kemiringan poninya yang sangat sepele.

"Ya... harusnya tidak apa-apa."

"Eh? Kau mengatakan sesuatu tadi?"

"Tidak! Bukan apa-apa!"

Fiona melepaskan tangannya dari poni, lalu sebelum menurunkan tangannya, ia mengelus rambutnya yang jatuh ke dada selembut sutra.

Profil wajahnya yang diterangi oleh cahaya fajar yang mulai muncul memberikan kilau yang menyerupai permata.

Tak lama kemudian, pesanan Ren tiba, dan waktu pagi yang tenang pun berlanjut.

"Sebentar lagi sampai di Eupeheim, ya," ujar Ren.

Sejak meninggalkan Ibu Kota, entah sudah berapa kali pemandangan di luar sana berubah.

Mulai dari lahan pertanian yang subur, melintasi danau terkenal, melewati perbukitan hijau, hingga pemandangan kota-kota yang biasanya tidak bisa mereka kunjungi.

"Bagaimana kesan perjalanan dengan kereta ini?"

"Rasanya cepat sekali sejak kita berangkat. Aku bisa menikmati pemandangan indah berkali-kali, dan suasananya sangat nyaman sampai-sampai aku merasa lebih santai dari biasanya."

"Fufu, syukurlah kalau begitu. Tolong nikmati perjalanannya sampai akhir, ya."

Begitu Fiona mengatakannya, aroma air laut mulai tercium dari celah jendela yang sedikit terbuka.

Saat mereka menatap ke luar jendela besar, hamparan laut yang luas membentang di depan mata.

Kilauan cahaya matahari pagi yang memantul di ombak membuat mereka berdua sedikit memicingkan mata.

"Warna lautnya sepertinya berbeda dari tempat lain..."

"Benar sekali! Itu karena hubungan antara arus laut dan Magic di dalam air... ada banyak alasannya, lho."

"Hee... pantas saja terlihat sangat indah."

Menatap samudera biru yang warnanya berbeda dari birunya langit, Ren mulai membayangkan pemandangan Eupeheim.

Pertama kali Ren menyadari nama tempat itu adalah sudah lama sekali.

Berawal dari hubungan antara Ren dan Ulysses yang tercipta akibat insiden yang disebabkan Viscount Given.

Itu terjadi saat Edgar yang berkunjung ke Clausel menyerahkan surat undangan kepada Ren.

Karena saat ini mereka sudah berada di wilayah penguasa Ulysses Ignat dan Eupeheim sudah di depan mata, ingatan itu kembali dengan sangat jelas.

Dan yang terpenting, keberadaan Fiona yang duduk di sampingnya adalah hal yang paling berkesan.

"Ren-kun?"

Melihat profil samping wajah sang pendekar pedang sihir yang sedikit tersenyum sambil memandang laut, sang Black Priestess memanggilnya.

"Aku teringat saat perjalanan pulang dari Pegunungan Baldur."

Suaranya terdengar sambil terus menatap samudera.

"Aku masih bisa mengingat musim dingin itu seolah baru terjadi kemarin."

"……Aku juga," jawab sang Black Priestess sambil tersenyum.

Cahaya yang terpantul di samudera terasa sangat menyilaukan.

Saat mereka berdua keluar dari gerbong tersebut dan berniat kembali ke kamar masing-masing.

Ren menghentikan langkahnya di depan jendela besar di lorong penghubung, lalu kembali menatap samudera yang tenang.

"Sesuai dengan pembicaraan waktu itu, ternyata saatnya aku datang ke Eupeheim benar-benar tiba."

Ren merogoh sakunya tanpa sadar dan mengeluarkan sebuah kartu hitam yang ia terima dulu. Itu adalah surat undangan yang baru saja ia ingat kembali.

"Ah! Itu kan────!"

Mata Fiona tertuju pada surat undangan tersebut, lalu ia segera memicingkan matanya dengan lembut.

Di tempat yang tidak ada orang lain selain mereka berdua, ia meletakkan tangannya di dada dan menatap Ren.

"Anda membawanya!"

"Tadinya kupikir kali ini tidak perlu, tapi karena sudah terlanjur, aku membawanya."

Mengingat ia diundang karena urusan Guardiknight, sebenarnya Ren tidak perlu membawa surat undangan yang ia terima di masa lalu. Namun—

"Tidak! Bukan begitu! Aku sangat senang Anda membawanya!"

Suara Fiona terdengar riang, dan jantungnya berdegup kencang seperti tabuhan genderang.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close