NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 5 Chapter 6

Chapter 6

Apakah Jarum Jamnya Terhenti?


Beberapa hari pun berlalu, tepat sebelum memasuki bulan Desember.

Setelah menyelesaikan perjalanan ke Eupheim, Ren kini berada di dalam kamarnya sendiri di kediaman Krauzel, Erendil.

Waktu itu, dia baru saja menyelesaikan makan malamnya.

"Bukankah hadiah Quest ini terlalu berlebihan?"

Ren bergumam sambil menatap lekat-lekat benda yang tergeletak di atas meja.

"Kuu~?"

Kukuru yang sedang duduk di meja memiringkan kepalanya seolah bertanya "Begitukah?", sambil ikut menatap barang tersebut.

Kukuru adalah monster yang menetas dari Serakia’s Azure Orb dengan potongan tanduk Asvar sebagai persembahannya.

Makhluk menggemaskan ini memiliki tubuh yang seluruhnya tertutup oleh bulu yang halus dan lembut.

Saat Ren dan yang lainnya berangkat ke Eupheim menggunakan kapal Garden Knight, dia tetap tinggal di rumah bersama Yuno, sang pelayan.

"Kamu penasaran?"

"Kuu."

Meski menjawab dengan cepat, Kukuru tampaknya tidak terlalu tertarik dengan benda itu.




Kukuru menguap lebar sambil tetap melayang di udara.

"……Yah, kurasa begitu."

Bukan hal aneh jika dia tidak tertarik.

Dragon Vein Furnace.

Ukurannya memang hanya sebatas beban yang bisa dibawa dengan kedua tangan, namun ini adalah tungku berbahan dasar batu sihir yang mampu menghasilkan energi luar biasa.

Ini merupakan barang istimewa yang dibuat dengan memadukan inti dari bangsa naga.

Benda ini diciptakan lebih dari seratus tahun yang lalu di Benua Langit, tepatnya di Kekaisaran Shergard.

Output yang dihasilkan masih tergolong luar biasa bahkan di zaman sekarang, namun masalahnya, tingkat kesulitan pengoperasiannya berada di level ekstrem.

Ren tidak memahami spesifikasi teknisnya secara mendalam, namun yang ia tahu, benda ini adalah barang unik yang sangat mahal sekaligus sangat sulit digunakan.

Singkatnya, jika salah penanganan, benda ini akan meledak. Dan ledakannya memiliki daya hancur yang mengerikan.

……Mungkin dia memberikannya begitu saja karena dia benci Shergard.

Ragna membenci Kekaisaran Shergard yang ada di Benua Langit, tempat asal leluhurnya.

Namun, dia tetap menyimpannya karena Dragon Vein Furnace adalah barang berharga. Mungkin karena Ren berhasil membuka pintu yang tak bisa dibuka, benda ini akhirnya diberikan sebagai hadiah.

Meski ada berbagai niat di baliknya, benda ini tetaplah barang mahal sehingga tidak bisa dianggap sebagai pemberian yang tidak sopan. Masalahnya, tidak ada gunanya bagi Ren untuk menyimpannya sendiri.

"Ngomong-ngomong, bagaimana ya kelanjutan soal aliran air yang ada di Eupheim itu?"

"Kuu~?"

"Itu lho, tempat yang kudatangi sampai beberapa hari lalu──ah, biar dijelaskan pun, kamu tidak bakal mengerti ya."

"Kuu."

Pada akhirnya, yang ia tahu hanyalah penyebab masalah itu masih menjadi misteri hingga ia meninggalkan kota besar tersebut.

Mengingat penguasanya adalah Ulysses, kecil kemungkinan masalah itu akan berkembang menjadi lebih buruk, namun hal itu tetap terlintas di benaknya.

◇◇◇

Saat Ren kembali memusatkan perhatian pada Dragon Vein Furnace, pintu kamarnya diketuk. Licia melongokkan wajahnya dari balik pintu setelah mendengar jawaban Ren.

"Ren? Soal rencana latihan pedang ringan setelah ini…… ah, lukisan itu sudah kamu pajang ya."

Lukisan yang ditemukan di panti asuhan kota tua yang terendam air itu kini terpasang di kamar Ren. Licia melangkah mendekat ke arah Ren setelah menatap lukisan tersebut.

"Ada Kukuru juga rupanya. Tadi Yuno mencarinya, katanya waktunya makan."

"Kuu!? Kuu-kuu!"

Kukuru membalas ucapan Licia, lalu bergegas keluar kamar berpapasan dengan gadis itu. Licia tersenyum melihatnya pergi, lalu mengalihkan perhatiannya pada Dragon Vein Furnace.

"Benda itu sudah ada sejak lama sekali ya, Dragon Vein Furnace itu."

"Iya. Ini tungku tua, tapi kekuatannya tidak kalah dari tungku modern. Selain fakta bahwa salah penanganan bisa memicu ledakan besar yang sanggup memusnahkan satu kota, ini adalah barang yang sangat bagus."

"……Bukankah poin yang harus diwaspadai itu terlalu besar?"

"Sangat besar sampai level fatal, ya."

Licia yang tampak cantik meski pipinya sedikit berkedut, bersanding dengan Ren yang sedang memikirkan sesuatu.

"Tapi, bukankah Velrich-san sepertinya bisa menggunakannya dengan baik?"

"Ah! Benar juga!"

Pada awal musim gugur, Ren dan Licia dibawa oleh Estelle untuk mengunjungi bengkel Velrich.

Sekitar waktu mereka mendampingi perburuan Lesser Griffin, Velrich sempat menyinggung soal tungku. Dragon Vein Furnace ini mungkin bisa menjadi solusi untuk kapal sihir Lemuria yang sedang diperbaiki.

"Apa tidak apa-apa? Padahal Ren susah payah mendapatkannya."

"Tidak masalah. Aku juga ingin segera naik Lemuria. Lagi pula, tidak ada kesempatan bagiku untuk memakai benda seperti ini."

"Untuk pajangan pun…… sepertinya tidak cocok berdasarkan penjelasanmu tadi ya."

Selain itu, pikiran untuk menjualnya karena barang langka pun sama sekali tidak terlintas di kepala Ren.

 

Satu jam setelah pukul sembilan di hari libur, jalanan besar Erendil sudah dipenuhi orang yang berlalu-lalah.

Licia terbangun di kamarnya. Dia bangkit dengan malas dari tempat tidur, lalu merapikan bagian dada baju tidurnya yang berantakan.

Setelah berdiri, dia membuka gorden yang menutupi jendela seperti biasa.

"Hari ini juga cuaca ba──"

Cuaca bagus, seharusnya kalimatnya berlanjut seperti itu. Belakangan ini setiap pagi, selalu terlihat sisa-sisa salju tipis yang turun. Saat dia membuka jendela untuk membiarkan udara pagi membasuh tubuhnya,

"Eh?"

Licia menyadari bahwa pemandangan di luar jendelanya terasa berbeda dari biasanya.

 

Rambutnya bergoyang lembut tertiup angin pagi yang masuk melalui jendela. Setelah berganti pakaian dengan terburu-buru, Licia segera menuju ruang kerja tempat Lezard berada.

"Ayah!"

Di dalam ruang kerja, ada Lezard dan Ren. Keduanya menoleh ke arah Licia yang datang dengan penampilan yang sudah rapi.

"Sepertinya Licia juga sudah menyadari ya."

"Iya…… aku merasa ada yang berbeda dari biasanya……!"

Dengan langkah yang lebih gelisah dari biasanya, Licia berjalan melewati ayahnya yang duduk di sofa dan mendekati Ren yang berdiri di dekat jendela.

"Selamat pagi. Ren juga sudah sadar ya."

"Iya. Aku juga langsung menemukannya begitu bangun tidur."

Ketidakkonsistenan yang langsung disadari Licia begitu terbangun terletak pada Menara Jam Besar. Menara jam raksasa yang bisa dibilang sebagai simbol Erendil itu──anomali yang terjadi di sana adalah.

"Aku sempat berpikir apakah menara itu akan tiba-tiba bergerak sendiri, tapi ternyata tidak ya."

Ujar Ren. Licia mengikuti arah pandangnya ke luar jendela. Padahal sekarang sudah lewat beberapa puluh menit dari jam sembilan pagi, namun jarum jam pada Menara Jam Besar menunjukkan pukul sebelas. Jam di kediaman mereka tidaklah salah.

Artinya itu adalah──

"Ini pertama kalinya aku melihat Menara Jam Besar berhenti."

 

Pukul sepuluh tiga puluh, sekitar satu jam setelah keterkejutan Licia, mereka sudah berada di depan Menara Jam Besar.

Biasanya alun-alun di depan menara jam akan ramai oleh orang-orang di hari libur, namun hari ini akses masuk dilarang atas perintah Lezard. Langkah tersebut sudah diambil bahkan sebelum Licia bangun tidur.

"Uhuuk, uhuuk."

Seorang gadis bernama Nem keluar dari pintu masuk interior menara jam sambil terbatuk karena debu. Gadis yang merupakan keturunan dari salah satu Tujuh Pahlawan yang dijuluki Dewa Alat Sihir ini ada di sini.

"Uu~…… benar-benar capek cuma buat naik saja ya~……"

"Terima kasih atas kerja kerasmu. Itu…… kamu baik-baik saja?"

Licia memberikan handuk dan minuman kepada Nem. Nem membalasnya dengan senyuman dan suara secerah matahari musim panas.

"Aman, aman! Cuma pahaku sedikit gemetaran saja! Mau coba pegang?"

"Tidak, terima kasih."

"Eeeh…… kamu tidak seru ah."

"……Iya, iya. Sudah puas?"

Nem adalah perwakilan keluarga Althea yang datang terburu-buru setelah menerima laporan. Sebagai anggota keluarga Althea yang selama ini memegang tanggung jawab pengelolaan Menara Jam Besar, dia datang untuk menyelidiki penyebab anomali tersebut.

Nem yang mengenakan pakaian kerja menggemaskan itu berkata,

"Viscount Krauzel, sistem keamanan telah aktif."

Meski keluarga Krauzel terlibat dalam pengelolaan Menara Jam Besar, seperti yang pernah dikonfirmasi Ren, sebagian besar berada di bawah kendali Kastil Kekaisaran.

Namun, Lezard tidak bisa tinggal diam. Sebagai penguasa Erendil, ada beberapa tugas yang harus ia pahami dan kerjakan.

"Seperti yang pernah kusampaikan sebelumnya, di dalam Menara Jam Besar ini ada beberapa komponen kecil yang selalu dialiri mana, tapi──"

Komponen itu disiapkan oleh Milim Althea, leluhur keluarga Althea sekaligus salah satu dari Tujuh Pahlawan.

Itu adalah sistem keamanan yang berfungsi agar kerusakan pada komponen tersebut tidak berdampak pada seluruh Menara Jam Besar. Sistem ini dirancang untuk menghentikan operasional menara jam jika mendeteksi adanya keausan atau anomali pada komponen.

Oleh karena itu, penghentian kali ini memang sudah diprediksi sebelumnya.

"Sistem yang dibuat leluhur tidak ada masalah. Sepertinya komponen yang Nem katakan sudah aus dan karena sudah waktunya ganti, sistem otomatis menghentikannya."

"Jadi, bukan berarti rusak secara keseluruhan ya."

"Tenang saja soal itu. Kami dari keluarga Althea rutin mengeceknya kok. Karena ini penghentian yang sudah diperkirakan, kondisinya justru normal."

"Kalau begitu, ini kesempatan bagus."

Lezard teringat sesuatu. Hal ini memang sudah diputuskan dalam pengecekan rutin Menara Jam Besar sebelumnya.

"Kalau tidak salah, sebelumnya Archduke Althea pernah memberi saran untuk mengganti beberapa roda gigi dan komponen lainnya. Sepertinya lebih baik diganti sekarang sekalian."

"Roda giginya sudah disiapkan di Ibukota, jadi mungkin bisa segera diangkut."

Begitu diputuskan, ada banyak hal yang harus dikerjakan. Meski situasinya mendadak, persiapan sudah dilakukan untuk momen seperti ini.

Di sisi lain, komponen yang masa pakainya sudah habis adalah masalah berbeda. Nem menegaskan bahwa hal itu tidak bisa diserahkan kepada siapa pun selain dirinya sendiri.

"Bagian itu hanya bisa dibuat oleh orang dari keluarga Althea. Karena itu adalah komponen yang menyalurkan tenaga gerak dari roda gigi melalui alat sihir lainnya."

Komponen yang hanya bisa dibuat oleh Nem itu tidak bisa dibuat sebagai stok cadangan karena sifatnya.

Dibuat menggunakan logam khusus dengan metode pemrosesan khusus, komponen tersebut harus segera dipasang begitu selesai dibuat. Itulah sisi merepotkannya.

"Semacam teknik rahasia keluarga Althea ya."

"Benar sekali! Karena sejarah pembuatannya, Menara Jam Besar punya banyak bagian yang rumit. ──Naaaah, kalau begitu!"

Nem menepuk dadanya yang besar dengan mantap.

"Serahkan semuanya pada Nem! Karena Nem dikirim sebagai perwakilan keluarga Althea! Komponennya akan Nem buat dalam sekejap!"

Karena selama ini Nem sudah sering membantu pengelolaan Menara Jam Besar, tidak ada alasan untuk meragukan ucapannya.

 

Tak lama kemudian, para pejabat sipil dan ksatria yang dikirim dari kastil tiba. Pembicaraan berlanjut melibatkan mereka, merinci langkah-langkah menuju pemulihan.

Nem menyerahkan pembicaraan kepada pelayan keluarga Althea di tengah jalan, lalu menghampiri Licia dan Ren.

"Yaa, meski mendadak, ini pekerjaan yang menantang ya!"

"Maaf ya padahal ini hari libur. Padahal Nem seharusnya bisa bersantai di kediaman."

"Nggak apa-apa kok. Justru karena hari libur, aku tadinya berpikir mau riset alat sihir~. Jadi malah ini jadi hari libur yang bagus! Soalnya aku bisa mengotak-atik Menara Jam Besar lebih banyak dari biasanya!"

Putri keluarga Althea itu berbicara dengan nada ceria dan mata yang berbinar.

"Menara Jam Besar ini sesekali kudatangi sendirian untuk diulik, jadi rasanya seru sekali!"

"Ngomong-ngomong," lanjutnya.

"Licia-chan, apa setelah ini kamu ada waktu?"

"Tadinya ada sampai aku bangun tidur, tapi sekarang agak sulit ya."

"Waduh…… apa kamu diberi tugas oleh Viscount Krauzel?"

"Awalnya aku cuma berniat pergi belanja dengan Ren. Tapi kalau situasinya begini, aku tidak mungkin bisa bermain-main saja, kan?"

"Humu-humu. Kalian berdua masih akrab saja ya."

Pipi Licia sedikit merona. Dia memalingkan wajah sambil menggumam "Memangnya tidak boleh?" lalu mengibaskan rambutnya dengan satu tangan.

"Tapi, kalau aku luang, memangnya ada apa?"

"Karena komponennya harus segera dibuat, aku tadinya mau mengajak Licia ke hutan bersama Nem~."

"Ke hutan?"

"Yup. Soalnya aku harus pergi ke danau yang ada jauh di dalam hutan."

Mendengar itu, Ren menepukkan tangannya tanpa bersuara.

Memang ada danau seperti itu. Itu adalah tempat di mana dulu Ren melakukan perburuan massal Berserk Fish.

Dia ingat bahwa populasi ikan itu menurun di musim semi berikutnya setelah dia berburu besar-besaran, dan sejak saat itu dia bertekad kuat untuk menghindari perburuan berlebih.

Di danau itu terkubur logam yang mudah menghantarkan mana. Nem berniat mengolahnya langsung di lokasi dan membawa komponen yang sudah jadi ke Menara Jam Besar.

"Apa komponen itu bisa dibuat semudah itu?"

"Oya-oya~? Apa Licia-chan meremehkan Nem~?"

"Bukan begitu. Aku cuma bertanya apakah itu tidak akan berat bagi Nem."

"Kalau soal itu tenang saja, jangan khawatir! Tapi aku merasa kesepian kalau pergi sendirian, jadi aku ingin kamu menemaniku."

Tentu saja dia juga ingin Ren ikut. Namun, pemikiran Ren berbeda.

"Aku berniat membantu di Menara Jam Besar saja."

Ren tidak berada di sisi Licia, hal seperti itu sudah sering terjadi sebelumnya. Hutan atau danau di sekitar Erendil bukanlah masalah besar bagi mereka berdua.

"Hah? Membantu di sini?"

"Sepertinya penanganan di sekitar roda gigi akan sulit…… terutama soal berat roda giginya. Kurasa akan lebih mudah jika aku ada saat proses penggantian."

Nem yang sempat lupa segera menangkupkan kedua tangannya.

"Maaf! Benar juga ya! Karena Nem tadi sudah melihatnya, melepas roda gigi atau mengangkut yang baru pasti akan sangat berat……!"

"Tidak apa-apa. Kalau cuma segitu sih aku masih bisa."

Dengan kekuatan Ren, penggantian roda gigi akan berjalan lancar dan pemasangan komponen bisa dilakukan dengan cepat.

Di sini Nem menepukkan tangannya, "Benar juga!"

"Sebelum meninggalkan Ibukota, aku sempat bertemu Sarah-chan, dan dia bilang mau datang melihat keadaan. Jadi mungkin aku akan mengajak Sarah-chan juga."

"Apa boleh memutuskan sendiri tanpa bertanya pada Sarah?"

"Kurasa tidak apa-apa. Soalnya dia terlihat sedang senggang."

"Be, begitu ya……"

Licia kehilangan niat untuk menanggapi Nem yang berjiwa bebas itu dan mulai menyerahkan segala sesuatunya padanya.

◇◇◇

Sepuluh menit berlalu, Sarah yang tadi dibicarakan tiba di Menara Jam Besar sendirian.

"Sarah-chan, Nem dan yang lainnya mau berjuang untuk perbaikan sekarang, mau ikut tidak?"

"……Licia, tolong jelaskan padaku dengan benar."

"Iya. Tentu saja."

"Eh-eh-eh?! Kenapa tidak bertanya pada Nem?!"

"Itu karena Nem memotong semua penjelasan di tengah jalan!"

Setelah mendengar penjelasan, Sarah akhirnya bisa paham. Meskipun ada beberapa komplain di kepalanya karena dianggap sedang senggang secara sepihak, mengucapkannya hanya akan menambah repot.

Setelah memahami situasi, Sarah menyentil dahi Nem pelan.

"Aduh."

"Lain kali jelaskan dengan benar."

"Iyaa," ucap Nem sambil menjulurkan lidahnya dan tertawa atas gurauan mereka.

"Bicara hal lain, kalau ada Ren bersamamu, pergi ke luar Erendil harusnya aman-aman saja, kan?"

"Tidak. Ren akan membantu pekerjaan di Menara Jam Besar sini. Soalnya harus mengangkut roda gigi dan komponen besar lainnya."

"Begitu ya, ada proses pelepasan roda gigi juga ya. Kalau dipikir-pikir sepertinya berat sekali, memang lebih baik Ren yang membantu."

"Karena itulah aku akan tetap di sini. Untuk kalian──anu."

Ren melipat tangan.

……Tanpa ragu lagi, mereka bertiga bukan tipe yang akan kalah melawan monster di sekitar sini.

Namun untuk berjaga-jaga, ia juga harus mewaspadai sesuatu yang mungkin disebabkan oleh manusia, bukan monster.

Ren menatap langit dan memejamkan mata sambil bergumam "un-un". Kembali ke titik awal, dia sempat berpikir apakah mereka benar-benar harus pergi ke sana.

"Nem berniat menyelesaikannya sebelum malam ini."

Ren menyela pembicaraan Nem.

"Bagaimana kalau pengumpulan bahan diserahkan pada orang lain saja? Lalu pengolahannya dilakukan di kota."

"Karena logam itu sifatnya berubah jika dikeluarkan dari dalam air, kalau Nem tidak pergi langsung akan jadi sangat merepotkan. Soalnya harus segera diolah begitu diambil~."

"Kalau begitu, berarti kamu akan menggunakan Aura Ore ya."

"Ooh~! Seperti yang diharapkan dari Ashton-kun!"

Hanya Sarah yang kebingungan.

"Eh? Apa itu?" tanyanya yang tidak paham. Licia menjelaskan dari sampingnya.

"Itu bijih besi yang terpengaruh oleh monster yang hidup di dalam air. Kalau tidak salah, itu sangat keras dan sangat mudah menghantarkan mana."

Logam yang terkubur di dalam air berubah sifatnya karena mana yang dikeluarkan oleh bangkai monster air.

"Benar kan, Ren?" Licia meminta persetujuan dan Ren mengangguk.

"Licia-chan juga hebat. Tapi begitu dikeluarkan dari air, perubahan sifatnya akan dimulai dalam sekejap, jadi kalau tidak segera diolah tidak akan bisa dipakai. Singkatnya, Nem memang dibutuhkan di sana!"

Bermula dari Milim Althea yang merancang sistem ini, tidak semua komponen menggunakan Aura Ore, hanya sebagian saja.

Di antara komponen tersebut, ada logam yang harganya jauh lebih mahal dibanding Aura Ore.

Untungnya, kali ini tidak ditemukan kerusakan pada komponen semahal itu.

Namun, setiap roda gigi raksasa tetaplah mahal. Secara keseluruhan, biaya yang dikeluarkan tetap akan sangat besar.

"Pantas saja Althea-san harus ikut."

"Plus, komponennya tidak akan bisa diolah kalau bukan Nem."

"Aku tahu Ren khawatir, tapi tenang saja. Belakangan ini jalanan sedang ramai kok."

Sejak insiden Roses Kaitas, jumlah orang yang meniru peziarah masa lalu meningkat drastis.

Lezard juga tidak keberatan. Ketiga orang yang dipimpin Nem itu menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit untuk bersiap meninggalkan kota──.

 

Setelah Licia dan yang lainnya berangkat, Ren berdiri tepat di bawah Menara Jam Besar.

"Aku juga harus mulai."

Meski hampir masuk bulan Desember dan cuaca dingin terus berlanjut, hari ini Ren tidak memakai jaket seperti biasanya dan hanya menggulung lengan kemeja putihnya.

"Kalau begitu, mari kita segera mulai."

"Iya. Sepertinya kita tidak punya kemewahan waktu untuk bersantai."

Setelah bercakap-cakap dengan para ksatria keluarga Krauzel yang bekerja bersamanya, Ren membuka pintu Menara Jam Besar tempat ia pernah melompat masuk bersama Radius.

Ren menatap ke atas, ke arah ruang yang dipenuhi lorong rumit dan mekanisme yang bertumpuk, masih sama seperti sebelumnya.

Meski hampir terlihat seperti ruang terbuka luas, pemandangan tangga dan roda gigi yang saling bersilangan tetap terasa terlalu rumit bagi Ren, tidak peduli berapa kali pun ia melihatnya.

"Menara Jam Besar ini sesekali kudatangi sendirian untuk diulik, jadi rasanya seru sekali!"

Kata-kata Nem sebelum meninggalkan Erendil terlintas di benaknya, dan Ren kembali dibuat kagum oleh kemampuan teknis gadis itu yang luar biasa.

Ren yang telah menaiki tangga panjang mulai bicara tepat di lantai bagian tengah.

"Aku datang untuk membantu mengangkut barang ke bawah."

Dia berbicara dengan para teknisi keluarga Althea yang sedang bekerja, lalu mengangkat roda gigi yang telah dilepas.

Setelah mengulang pekerjaan itu beberapa kali, tugas di lantai tersebut selesai. Para pekerja pun terdiam melihat betapa cepatnya Ren bekerja.

Ren melanjutkan pekerjaannya tanpa banyak bicara, hingga akhirnya ia sampai di lorong tepat di depan permukaan jam. Ia meletakkan siku di atas pagar pembatas, membiarkan angin dingin di ketinggian membasuh rasa lelahnya.

……Kenangan yang indah.

Dia bernostalgia dalam diam. Terakhir kali dia ke sini, para ksatria Tahta Suci Singa dan penganut Raja Iblis bertarung sengit di depan permukaan jam ini.

Sekarang, Ren berdiri di tempat yang sama sambil menatap Erendil, membayangkan sosok Pangeran Ketiga yang saat itu ada di sampingnya.

"Radius sepertinya sedang sibuk belakangan ini ya……" gumamnya sambil memikirkan apa yang sedang dilakukan sahabatnya itu, mengenang kembali masa musim panas tersebut.

Setelah beberapa menit menatap Erendil sambil beristirahat sendirian, Ren menarik tangannya dari pagar pembatas.

"Ayo semangat lagi."

Mari lanjut bekerja. Sebab, tugas yang tersisa masih sangat banyak.

 

Licia dan yang lainnya kembali ke Erendil saat malam mulai meramaikan suasana kota.

Erendil adalah kota yang indah. Kota yang tiada duanya, di mana suasana sejarah yang kental berpadu harmonis dengan bangunan modern.

Lampu jalan bergaya antik warna hitam yang berjajar di jalan besar memberikan cahaya jingga hangat pada pejalan kaki dan jalanan berbatu.

Di sisi lain, Menara Jam Besar yang diterangi lampu sorot tetap memperlihatkan jarum jam yang berhenti.

"Nn~…… capeknya~……!"

Nem berjalan sambil melengkungkan punggungnya, menyilangkan kedua tangan di belakang leher. Matanya menyipit dan dia tertawa ceria, tampak seperti kucing bangsawan.

Penampilan mereka bertiga yang berjalan bersama di kota Erendil yang modern ini sangat mencolok. Visual mereka yang rupawan ditambah aura keanggunan yang tak bisa disembunyikan menarik perhatian banyak orang.

"Tapi tetap saja, tadi itu berat ya."

Sarah menghela napas, tersenyum sambil memperlihatkan raut wajah yang habis bekerja keras.

"Kukira kita sudah berhasil menggalinya dari dalam air dengan alat sihir Nem, tapi tiba-tiba ada monster dalam jumlah luar biasa yang menyerang dari langit."

"Itu mungkin karena monster yang terbang di langit salah mengira aura monster yang bersemayam di Aura Ore sebagai mangsa. Licia-chan juga berpikir begitu, kan?"

"Mungkin saja. Semuanya memang mengincar Aura Ore itu."

"Kalian berdua ingat sudah mengalahkan berapa banyak? Aku berhenti menghitung setelah lebih dari dua puluh ekor."

"Aku juga sama. Aku sudah kewalahan melindungi Nem yang mencoba mengambil logam itu."

"Ahaha! Berkat kalian berdua, Nem bisa fokus pada pekerjaan!"

Ketiganya kembali ke alun-alun di depan Menara Jam Besar. Ren sedang duduk di bangku yang ada di sana, sedang beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaan terakhirnya.

"Aku akan tanya Ren di mana Ayah berada ya."

Licia berpamitan pada keduanya lalu melangkah menuju sisi Ren.

Nem, yang melihat punggung Licia yang berlari kecil, berujar.

"Ngomong-ngomong, sampai kemarin kan semuanya ada di Eupheim."

"Lalu kenapa?"

"Yaa…… aku teringat betapa kerennya kapal Garden Knight, dan aku tiba-tiba teringat betapa cantiknya orang yang kita temui di kapal itu."

"Kereta itu memang benar-benar nyaman ya. Terus, orang cantik yang kamu maksud itu, mungkinkah Ignart-sama?"

"Benar! Wah, Nem pun jadi gugup tidak seperti biasanya saat menyapa beliau."

Nem bercakap-cakap dengan Fiona untuk pertama kalinya di dalam kapal Garden Knight.

Begitu juga di akademi, meski mereka mungkin pernah saling melihat wajah di suatu pesta, mereka tidak pernah punya sejarah mengobrol secara khusus.

Di sisi lain, Sarah sudah terbiasa, tapi Nem merasa tegang kaku saat berada di depan Fiona. Itu terjadi saat pertama kali menyapa di pesta yang diadakan di kapal Garden Knight.

"Ne, Nem Althea!" "Salam kenal. Nama saya Fiona Ignart. Keluarga Althea telah banyak membantu dalam pembangunan kapal Garden Knight." "Sama-sama! Tidak apa-apa kok! Nem juga merasa senang!"

Alasan ketegangannya, selain karena Fiona adalah anggota keluarga Ignart, juga karena Fiona sangat cantik.

Licia dan Sarah yang melihat Nem yang tampak tegang merasa melihat pemandangan langka dan tersenyum geli.

Masih terekam dalam ingatan bagaimana Nem yang menyadari hal itu langsung menoleh ke arah mereka berdua dengan pipi menggembung seperti balon.

"Tapi, kenapa kamu membahas itu?"

"Melihat Licia-chan yang berlari senang menghampiri Ashton-kun tadi membuatku berpikir sedikit. Aku tidak mau bilang apa, tapi mungkinkah Licia-chan sudah agak memimpin?"

Meski tidak disebutkan secara gamblang, itu adalah hal yang mudah dibayangkan.

"Aku tidak bisa bilang pasti, tapi kalau aku yang jadi Licia, aku mungkin akan putus asa kalau Ignart-sama adalah saingan cintaku."

"Ahaha…… Nem juga, Nem juga setuju."

Percakapan itu berakhir hanya di antara mereka berdua, lalu gadis-gadis itu pun melangkah menuju Menara Jam Besar. Licia, yang sudah lebih dulu menemui Ren untuk mendengar laporan, kini bergabung dengan kedua temannya.

"Tuan Lezard dan yang lainnya sudah berangkat ke Ibukota. Sepertinya beliau harus segera melaporkan kondisi Menara Jam Besar ke istana," ujar Ren saat ditanya mengenai keberadaan Lezard dan Edgar.

"Begitu ya. Kalau begitu, umm, Ashton-kun sendiri──"

"Aku tetap di sini untuk membantu pekerjaan sambil menunggu sebagai penghubung."

"Ah, sudah kuduga."

Lezard sebenarnya juga ingin menunggu Nem dan yang lainnya, namun kewajiban melapor ke istana membuatnya terpaksa meninggalkan tempat itu lebih dulu. Ren berdiri dengan gerakan ringan, sama sekali tidak menunjukkan raut wajah lelah.

"Mari kita pergi. Orang-orang dari keluarga Althea juga sudah menunggu di atas."

Para teknisi keluarga Althea memang sedang bersiap. Kini mereka hanya perlu mengangkut komponen yang sudah dibuat Nem dan memasangnya ke tempatnya.

Ren mulai melangkah memandu para gadis yang mengangguk setuju, namun langkahnya terhenti saat dipanggil oleh seorang pejabat sipil dari istana.

"Permisi, Tuan Ashton. Terkait hal yang disampaikan Viscount Krauzel tadi, ada beberapa hal yang ingin kami konsultasikan untuk ke depannya."

Seharusnya, Licia-lah yang menjawab pertanyaan untuk keluarga Krauzel. Namun karena Licia baru saja kembali, saat ini Ren lebih memahami situasi yang terjadi di alun-alun ini.

Ditambah lagi karena Ren memang dipercaya oleh Lezard untuk menjaga tempat ini, sang pejabat memberi hormat pada Licia sebelum kembali bertanya kepada Ren.

"Kami akan naik untuk mengerjakan tugas kami, jadi Ren tetaplah di sini ya."

Ren menyahut, "Serahkan padaku," dan tetap tinggal di tempat itu.

◇◇◇

Perbaikan telah selesai, dan setelah pemeriksaan keamanan rampung, roda gigi seharusnya bisa kembali bergerak dengan normal.

Beberapa puluh menit kemudian, Ren menundukkan kepalanya dalam-dalam setelah mendengar kabar tersebut dari Nem yang baru saja turun.

"Setelah pemeriksaan keamanan selesai, Anda sekalian akan langsung pulang, kan?"

"Iya, begitulah rencananya. Memangnya kenapa?" Nem memiringkan kepalanya sambil menatap Ren.

"Tuan Lezard berpesan bahwa beliau ingin menyiapkan perjamuan terima kasih untuk Anda semua."

"Aku senang sekali diundang, tapi karena hari ini sudah larut, bagaimana ya……" Saat Sarah tampak ragu, Nem pun mulai ikut berpikir.

"Tidak apa-apa. Sepertinya sudah disiapkan kamar di Arnea."

Itu adalah penginapan mewah paling terkenal di Leomel yang dimiliki oleh Persekutuan Dagang Arneverde.

Sarah dan Nem terkejut saat Ren mengatakan dengan santai bahwa kamar sudah disiapkan, padahal bangsawan tinggi sekalipun harus bersusah payah untuk mendapatkan reservasi di sana.

"Kamu serius?! Arnea itu, kami pun sulit sekali kalau mau memesan kamar di sana lho!?"

"Dengar ya, Ashton-kun…… biarpun Nem ini bodoh soal hal selain alat sihir, Nem tahu kalau tempat itu penginapan yang luar biasa!"

"Aku serius. Selain itu, kalian juga boleh menginap satu malam, jadi jika berkenan──"

"Mau! Sarah-chan juga ikut, kan!?" Nem menjawab dengan sangat cepat, dia sudah sangat bersemangat untuk menginap, berbeda dengan Sarah yang masih ragu.

Pesta menginap bersama teman. Jika disebut seperti itu, kedengarannya sangat manis, apalagi mereka berkesempatan menginap di tempat yang sedang jadi pembicaraan; mustahil bagi mereka untuk menolak.

"Akan sulit kalau aku tidak bertanya pada Ayah dulu."

"Tuh kan, bilang begitu lagi~! Padahal Sarah-chan juga ingin menginap, kan?"

"I-ingin sih! Tapi kalau menginap tanpa izin pasti bakal dimarahi! Nem juga begitu, kan?"

"Karena Ayah sedang di Ibukota untuk bekerja, Nem tinggal kirim pesan ke pelayan rumah saja pasti beres kok."

Sambil melirik teman-temannya yang tampak gembira sekaligus terkejut, Licia menatap Ren.

Karena dia mengetahui berbagai situasi yang ada, dia menduga ini ada hubungannya dengan Radius, dan dugaannya tepat.

"Apa ada pesan dari Yang Mulia Pangeran Ketiga?"

"Anu, bukankah Anda menyadarinya terlalu cepat?"

Memang tidak ada kemungkinan lain. Radius telah menyiapkan kamar di Arnea sebagai bentuk terima kasih pribadinya kepada semua orang yang telah menangani insiden mendadak ini.

Wajar bagi anggota keluarga kekaisaran untuk memberi imbalan, mengingat pengelolaan Menara Jam Besar sebagian besar berada di bawah wewenang istana. Meski begitu, Lezard hanya menerima bantuan sampai di situ; biaya penggunaan Arnea tetap ditanggung olehnya sendiri.

Dia juga sudah menghubungi keluarga Althea dan keluarga Riohard. Keputusan diserahkan sepenuhnya kepada putri mereka masing-masing, dan hal itu baru diketahui sekitar belasan menit kemudian.

 

Makan malam yang disajikan di Arnea sungguh luar biasa. Kelezatannya dengan mudah memikat para putri dari keluarga ternama yang sudah terbiasa dengan makanan mewah, dan kue pencuci mulutnya sukses membuat pipi mereka seolah meleleh.

Di dalam kamar tamu yang luas itu terdapat beberapa kamar tidur. Ketiga gadis itu berkumpul di salon yang terletak di tengah ruangan.

Jam menunjukkan pukul delapan malam, dan mereka semua sudah selesai mandi serta mengenakan pakaian tidur.

"Tingkat kesulitan ujian di sekolah kita itu keterlaluan!" Keluhan Sarah bergema di dalam kamar mewah itu.

Setelah Festival Raja Singa di musim panas, Akademi Militer Kekaisaran mengadakan ujian bagi seluruh siswa, baik kelas reguler maupun kelas khusus.

Di antara semua mata pelajaran, Sarah meratapi hasil ujian rumpun humaniora. Padahal untuk teknik pedang, dia mendapat nilai sempurna.

"Nem-chan, apa kamu benar-benar belajar?"

"Tentu saja! Aku bahkan berusaha sekeras saat ujian masuk dulu, tahu!"

"Omong-omong, hasilnya bagaimana?"

"……Hancur lebur, puas?" Suaranya bukan nada menantang, melainkan nada pasrah yang meminta agar dia dibiarkan saja.

Sarah bukannya tidak bisa belajar, hanya saja level di kelas khusus terlalu tinggi sehingga dia sulit mendapatkan nilai yang memuaskan. Meski begitu, nilainya tetap berada jauh di atas rata-rata siswa pada umumnya.

Nem, yang merasa canggung untuk melanjutkan topik itu, perlahan memalingkan wajah dan menatap Licia.

"Kalau Licia-chan sendiri bagaimana?"

"Aku sih lumayan."

"Lumayan? Licia, coba sini sebentar." Dipanggil oleh Sarah, Licia mendekat ke arah sofa tempat Sarah duduk dengan lemas.

Tiba-tiba, lengan Licia ditarik dengan kuat oleh Sarah hingga dia jatuh telentang di sofa. Sarah kemudian menduduki Licia dengan lembut.

"Mendapat nilai di atas sembilan puluh persen untuk semua mata pelajaran itu bukan 'lumayan' namanya!"

"──Aku mengerti kalau Sarah merasa tidak puas, tapi kenapa kamu duduk di atasku?"

"Tentu saja untuk melakukan ini!"

"──Kya!? Tu-tunggu sebentar! Sarah!" Sarah memasukkan tangannya ke pinggang Licia dan mulai menggelitiknya.

Pengguna pedang berat memang kuat, tapi ini adalah masalah yang berbeda. Licia menggeliat sambil tertawa karena serangan mendadak itu, berusaha sekuat tenaga untuk meloloskan diri dari Sarah.

Dia merapikan pakaian dan mengatur napasnya yang tersengal. Pipinya masih merona karena terlalu banyak tertawa.

"Ih! Kenapa tiba-tiba begitu, sih!"

"Maaf deh. Habisnya Licia imut sekali, aku jadi tidak tahan."

"I-itu sama sekali tidak masuk akal!" Licia duduk kembali ke posisi semula sambil menatap Sarah dengan tatapan waspada yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

Ketiga gadis itu benar-benar menikmati kesempatan ini, baik saat makan malam maupun saat pesta baju tidur yang penuh dengan tawa.

Seiring berjalannya waktu, topik pembicaraan pun berubah menuju kejadian di gua sepanjang garis pantai.

Hari itu, penemuan perisai agung oleh para keturunan Tujuh Pahlawan memberikan kejutan besar, tidak hanya bagi mereka dan faksi Pahlawan, tapi juga bangsawan dari faksi lainnya.

Sarah dan yang lainnya yang menjadi pusat pembicaraan merasakan dampak yang paling besar.

"Hei, Licia." Sarah memanggil tiba-tiba.

"Apa pedang leluhurku juga sedang tertidur di suatu tempat ya?"

Kegembiraan saat menemukan perisai milik Wright Leonhardt masih teringat jelas hingga sekarang.

Di saat yang sama, Sarah memikirkan pedang yang seharusnya digunakan oleh leluhurnya.

"Aku tidak tahu…… tapi, apa Sarah ingin menemukan pedang leluhurmu?"

"Iya. Apalagi keberadaan penganut Raja Iblis sudah mulai terungkap sejak beberapa tahun lalu."

"Nem juga ingin. Pasti anak-anak yang lain juga memikirkan hal yang sama. Aku merasa penemuan perisai itu tepat setelah penganut Raja Iblis muncul pasti memiliki suatu makna."

Namun, penemuan perisai itu hanyalah faktor keberuntungan; saat ini mereka hanya bisa berpikir demikian. Andai saja ada petunjuk, namun sayangnya tidak ada sama sekali.

"Semangat ya, kalian berdua. Aku juga mendukung kalian." Ujar Licia dengan senyum yang lembut.

Senyuman dari gadis yang dijuluki Orang Suci Putih itu memberikan perasaan hangat bagi mereka berdua yang sedang terobsesi untuk menemukan perlengkapan leluhur mereka.

Sarah mengambil sekeping kue kering dari meja, mencoba menenangkan hatinya dengan rasa manis tersebut.

"Nanti akan ada pesta lho."

"Apa pesta itu untuk merayakan penemuan perisai Tujuh Pahlawan bersama faksi Pahlawan?"

"Yup! Saat libur musim dingin nanti, rencananya Nem dan yang lainnya juga akan pergi bersama! Kami akan berkumpul di wilayah keluarga Leonhardt. Seluruh kepala keluarga dari Tujuh Archduke juga akan hadir!"

Pipi Licia yang tadi memerah karena digelitik kini sudah kembali tenang.

◇◇◇

Ren tidak menuju stasiun, melainkan ke arah Akademi Militer Kekaisaran yang sudah biasa ia datangi.

Pada jam segini, hanya tinggal beberapa guru yang tersisa. Siswa pun dilarang masuk kecuali memiliki alasan khusus.

Meskipun begitu, Ren tetap menuju akademi karena dia sudah punya janji untuk bertemu.

"Aku sudah mendengar semuanya. Kamu sudah bekerja keras ya."

Radius, sang Pangeran Ketiga sekaligus sahabat Ren, sedang menunggu sambil bersandar pada tembok yang mengelilingi akademi.

"Tidak apa-apa kok. Hal seperti itu bukan masalah besar bagiku."

"Kamu tetap luar biasa seperti biasanya ya, Ren."

"Hm? Kenapa?"

"Padahal kamu sudah bolak-balik menaiki tangga itu berkali-kali, tapi kamu masih tampak segar bugar."

"Dibandingkan latihan di Tahta Suci Singa, ini jauh lebih ringan." Suara Radius terdengar getir. Dia juga pernah punya pengalaman berlari menaiki tangga Menara Jam Besar bersama Ren sebelumnya.

"Ngomong-ngomong, mana pengawalmu?"

"Ada Estelle di dekat sini. Jika ada yang berani menyerang, dia akan langsung menangkapnya dalam sekejap."

"Dalam sekejap ya, aku jadi ingin coba-coba iseng menyerangmu."

Mendengar candaan Ren itu, terdengar suara Estelle dari balik bayangan.

"Atas dasar apa aku harus menangkap Ren hanya karena dia mengajak bercanda?"

Ren tertawa mendengarnya lalu berdiri di samping Radius. Ren, yang telah memeras tenaganya hari ini, mengembuskan napas panjang dan menyandarkan punggungnya pada tembok.

Melihat ke samping, ia menyadari ada kantung mata di bawah mata Radius.

"Kamu kurang tidur ya?"

"Belakangan ini aku hanya bisa tidur sekitar tiga jam setiap hari. Seperti orang yang kecanduan alkohol, aku menenggak Potion botol besar setiap hari."

"Walah…… jangan sampai tumbang ya."

"Kira-kira begitulah Ren, kupikir kamu akan menyuruhku untuk beristirahat."

"Aku ingin bilang begitu sih. Tapi biarpun kubilang begitu, Radius pasti tetap tidak akan istirahat. Jadi kurasa lebih bermakna kalau aku bilang 'jangan sampai tumbang'."

"Ada benarnya juga."

"Kan?" Ren menggoda sahabatnya. Angin malam berembus di antara mereka berdua.

"Yah, aku penasaran sih kenapa kamu sampai kurang tidur." Radius yang tampak sulit menjawab pertanyaan Ren itu mencoba mengalihkan pembicaraan dengan berkata "Lain kali saja ya".

"Tapi, selain soal Menara Jam Besar, ada hal lain yang ingin kutanyakan."

"Hm? Apa itu?"

"Soal perselisihan faksi. Penemuan perisai yang bisa dibilang harta karun keluarga Leonhardt membuat faksi Pahlawan jadi sangat ramai, kan?"

"Benar…… tapi kupikir Ren tidak tertarik dengan perselisihan faksi."

"Aku tidak pernah berpikir untuk ikut campur dalam perselisihan faksi kok. Selain itu, aku juga ingin memastikan agar keluarga Krauzel tidak terseret lagi untuk kedua kalinya. Tapi, aku penasaran dengan apa yang kamu pikirkan, Radius."

Radius tersenyum tulus.

"Perisai yang dulu dipegang oleh salah satu Tujuh Pahlawan telah ditemukan. Bukankah itu hal yang luar biasa?"

Itulah perasaan jujurnya. Sebagai pemimpin faksi Pahlawan, Radius tampak ikut gembira atas kabar baik yang menghampiri salah satu dari Tujuh Archduke tersebut.

"Selama rakyat negaraku merasa senang, itu sudah cukup bagiku. Itulah pemikiranku."

"Tapi, hubungan antarfaksi pasti akan jadi sedikit merepotkan."

"Itu juga benar. Itulah sebabnya aku tidak bisa mengabaikannya."

"Kalau bahasamu begitu, berarti faksi bangsawan pro-Kekaisaran juga sedang merencanakan sesuatu?"

"Hm…… lebih tepatnya kami sedang bergerak melakukan banyak hal. Terutama aku sendiri."

"Apa ini ada hubungannya dengan yang kamu katakan sebelumnya, dan alasan kenapa kamu sibuk belakangan ini?"

"Benar. Aku akan memberitahumu suatu saat nanti, jadi tunggulah sebentar lagi."

Meskipun sebagian besar sejarah sudah berubah, apakah Radius melakukan sesuatu pada periode ini dalam Legend of Seven Heroes?

Dalam legenda tersebut, Radius diculik dan kehilangan nyawanya pada musim dingin ini, sehingga tidak ada satu pun informasi yang pasti.

"Berbicara soal faksi Pahlawan, sepertinya seluruh kepala keluarga dari Tujuh Archduke akan berkumpul di kediaman keluarga Leonhardt ya. Kudengar akan ada perjamuan besar yang belum pernah ada dalam beberapa tahun terakhir."

"A-ah…… sepertinya begitu."

"Kenapa tiba-tiba bicaramu jadi kaku begitu?"

Saat Ren memintanya untuk tidak memikirkannya, Radius mengambil napas sejenak.

"Mengalihkan pembicaraan, kudengar Ulysses belakangan ini kurang olahraga. Jadi dia mengirimkan surat konyol yang menanyakan bagaimana kalau kita menandingi faksi Pahlawan dengan pergi jauh untuk mengadakan pesta."

"Pergi jauh, misalnya ke mana?"

"Aku juga tidak punya ide, tapi sepertinya tidak akan ke tempat seperti Pegunungan Baldor."

Ren tertegun. Setelah memikirkan banyak hal, hanya satu hal yang bisa ia katakan.

"Lebih baik Radius dan Tuan Ulysses tidak usah ke sana. Benar-benar jangan."

Kombinasi antara Pegunungan Baldor, Ulysses, dan Radius adalah pertanda buruk dalam banyak hal. Meskipun itu hanya bercanda, senyum Ren sempat membeku sesaat.

Topik pembicaraan kembali ke Menara Jam Besar selama sekitar belasan menit. Ren juga bercerita tentang pekerjaannya di dalam menara jam.

Meskipun ada laporan dari Lezard, Radius sepertinya juga ingin membicarakan kejadian hari ini dengan Ren.

Akhirnya Ren berpamitan.

"Aku pulang dulu ya."

Mendengar itu, Estelle yang sedari tadi menjaga jarak agar tidak mengganggu, mendekat ke arah mereka.

"Ren, haruskah aku menyuruh bawahanku mengantarmu sampai Erendil?"

"Tidak usah. Aku tidak merasa selemah itu sampai harus diantar kok."

"Memang benar. Malah preman yang akan lari ketakutan darinya."

Ren berpisah dengan Radius dan yang lainnya, lalu memulai perjalanannya pulang ke Erendil.

……Jadi ini adalah event saat perlengkapan pahlawan ditemukan ya.

Jika tidak salah, ini adalah kejadian yang muncul setelah menjalankan sub-event pencarian perlengkapan pahlawan.

Perhelatan di mana seluruh kepala keluarga dari Tujuh Archduke berkumpul seperti yang dikatakan Radius adalah bagian dari itu.

Perlengkapan pahlawan adalah warisan sejarah.

Karena itu adalah perlengkapan berharga milik para pahlawan yang mengalahkan Raja Iblis, penemuannya tentu menjadi urusan yang sangat besar.

Meskipun percakapan antara Ren dan Radius, maupun Licia dan yang lainnya di Arnea tadi tidak terdengar terlalu formal, namun sebenarnya hal ini sudah menjadi kegemparan di seluruh Leomel.

Pasti ada banyak sekali detail cerita yang tidak bisa digambarkan sepenuhnya di dalam game.

Yang menjadi perhatian adalah apa yang terjadi setelah perhelatan tersebut.

Setelah pesta di kediaman keluarga Leonhardt berakhir, akan ada event di mana penganut Raja Iblis melakukan serangan secara acak saat mereka sedang melakukan perjalanan di wilayah Leonhardt.

Istilah acak di sini benar-benar berarti tidak ada spesifikasi waktu maupun lokasi kejadiannya.

Namun, karena itu adalah apa yang disebut sebagai Event Battle, maka tidak ada kekalahan.

Itu seharusnya adalah event untuk menunjukkan kekuatan mutlak dari Aeria, Perisai Raja Perak yang didapatkan Kaito, di mana mereka hanya perlu menghalau monster kuat yang dikerahkan oleh penganut Raja Iblis.

Ren berpikir bahwa ia tidak bisa membiarkan bahaya itu begitu saja tanpa melakukan apa pun.

……Masalahnya, bagaimana cara menyampaikannya ya.

Bahkan jika Ren hanya mengatakan hal seperti ini mungkin akan terjadi, kata-katanya tidak akan memiliki kekuatan persuasif dan ia masih kekurangan wibawa untuk menggerakkan para orang dewasa.

Namun, ia merasa bisa mengatasinya tergantung dari cara penyampaiannya.

Omong-omong, bahkan pada titik "Legend of the Seven Heroes II", alasan mengapa perlengkapan Tujuh Pahlawan tertidur di berbagai tempat masih belum terungkap.

Mungkin ada alasan tertentu yang tersembunyi di baliknya, namun pengetahuannya hanya sampai di situ.

Setelah memikirkan hal itu, Ren menengadah ke arah langit malam.

"Hari ini sepertinya aku bisa tidur nyenyak."

Ia menghentikan langkahnya, meregangkan punggungnya, dan membiarkan angin malam membasuhnya dengan nyaman.

Ia menatap bintang-bintang yang bersinar di langit musim dingin sejenak, lalu melanjutkan perjalanannya pulang ke kota doa, Erendil.

◇◇◇

Investigasi Departemen Misteri yang dipimpin oleh laboratorium Ragna, yang dilakukan setelah terbukanya salah satu pintu yang terkunci, akan segera berakhir hari ini.

"Ketua, sudah waktunya."

"Aku akan segera ke sana. Tunggu di luar."

Ragna berada di ruangan yang memiliki lukisan dinding di bagian dalam panti asuhan. Saat ini, ia sedang menatap lekat-lekat lukisan dinding yang diterangi oleh cahaya alat sihir.

"Setelah melihatnya lagi, aku yakin sekali."

Ia merasa yakin setelah melihat sosok gadis yang digambarkan dalam lukisan dinding tersebut. Itu adalah kisah penciptaan dunia ini──bisa dibilang sebuah mitologi. Kisah yang bermula ketika konsep cahaya dan kegelapan pun belum ada di dunia.

Dikatakan bahwa sebelum dunia dimulai, ada seorang gadis yang eksis. Saat itu ia belum memiliki nama, ia hanya ada di sana tanpa tahu alasan keberadaannya.

Gadis itu sendirian di ruang hampa, memeluk lututnya sambil gemetar karena kesepian.

Setelah menghabiskan waktu yang sangat lama seperti itu, dikatakan bahwa ia akhirnya bisa meneteskan air mata.

Kemudian, air mata gadis itu terapung di kehampaan dan mulai bercahaya. Cahaya yang pertama kali dilihatnya itu menyinari sekeliling setiap kali ia meneteskan air mata.

Saat riak air mata yang jatuh menyebar ke mana-mana, tanah hijau yang subur tercipta di ruang yang seharusnya kosong, bunga-bunga mulai bermekaran, dan langit biru tua membentang luas.

Lautan luas mulai berombak, dan sinar matahari yang menyilaukan menyinari sang gadis.

Di tempat di mana gadis itu tadi meringkuk, terbentuklah sebuah mata air kecil.

Saat gadis itu meraup air dari mata air tersebut dan memercikkannya, air itu memantulkan sinar matahari dan berkilau.

Percikan air yang berkilauan itu melayang di udara dan memancarkan cahaya yang sangat kuat, lalu melahirkan empat saudari. Itulah Empat Dewi Permulaan. Sosok-sosok absolut yang menjadi pusat kepercayaan.

Dan gadis itu adalah,

"Dewa Pencipta, Alice. Sosok bernama Geno itu rupanya menggambar dewa yang sangat langka."

Saat ini, tempat yang memuja dewa tertua mungkin hanya bisa dihitung dengan jari di seluruh dunia.

Setelah sejarah yang panjang, pusat penyembahan manusia telah berubah menjadi Dewa Utama Elfen, dan Alice bahkan sudah jarang dibicarakan lagi.

Keberadaan para dewa perang yang menetapkan sosok Sword King juga ikut berpengaruh.

……Itulah sepenggal kisah mitologi kuno.

Setelah mengingat hal itu, Ragna segera kehilangan ketertarikannya pada lukisan tersebut.

Bagi dia, ada objek penelitian lain yang jauh lebih menarik.

"Mungkin ini pertama kalinya dalam hidupku aku merasa sebersemangat ini."

Ia terus bergumam sendiri lalu keluar dari ruangan kecil itu. Sambil melewati para peneliti yang masih berada di aula…… sang orang Shergard yang sangat haus akan kebijaksanaan itu melirik sekali lagi ke arah pintu ruangan kecil tadi, lalu kembali melangkah.

Ia keluar dari panti asuhan. Cahaya bintang yang menyinari kota tua yang tenggelam di dasar air sangatlah sedikit.

Semua cahaya yang menerangi sekitar berasal dari alat sihir. Seorang peneliti menyapa Ragna saat ia keluar dari area panti asuhan.

"Tapi, sebenarnya siapa yang berhasil membuka segel di sini?"

"Seseorang dengan posisi yang spesial. Sebagaimana yang tertulis dalam hukum Kekaisaran yang disebut agung, ini termasuk dalam kewajiban menjaga rahasia Departemen Misteri. Selain aku sebagai ketua, tidak ada yang berhak tahu. Jangan menyelidikinya."

"Saya mengerti. Tapi Anda akan dimarahi jika menyindir hukum Kekaisaran seperti itu lho."

"Aku tidak tahu soal itu. Lain kali aku akan coba mengatakannya di depan Radius."

"Tolong beritahu hasilnya saja ya."

Seorang peneliti yang berkumpul di depan perpustakaan menyahut sambil tertawa.

Ragna memberikan jawaban seadanya lalu berdiri bersandar pada dinding di depan perpustakaan, agak menjauh dari para peneliti. Ia menatap ke arah panti asuhan.

"──'Pengembara yang bertarung melawan Phoenix sangat disukai anak-anak. Jika seseorang bertanya alasannya, sang pengembara akan menjawab bahwa itu mungkin karena dia sering membantu temannya dan menjaga anak-anak. Sang pahlawan yang juga pengembara itu membuktikannya dengan menggendong seorang bayi'."

Sebuah kisah lama yang biasa saja. Bagian dari cerita yang dianggap ada saat Phoenix dikalahkan, yang hanya tersisa di salah satu wilayah di Kekaisaran Shergard.

Kisah pahlawan yang bertarung melawan Phoenix tersisa di berbagai tempat di Kekaisaran Shergard. Tergantung wilayahnya, ada juga cerita pendek seperti yang diucapkan Ragna tadi.

"Rasanya sangat aneh. Kenapa Ren bisa membuka pintu yang terkunci itu? ……Lalu petualang Ashton juga?"

Sang orang Shergard yang haus akan romansa dan kebijaksanaan itu berpikir.

Mengenai penggalan cerita rakyat yang diturunkan di Benua Langit dan keberadaan panti asuhan ini…… lalu sambil membayangkan kata-kata 'Petualang Ashton' yang diucapkan Ren,

"Sepertinya menarik jika aku menyelidikinya."

Ia berpikir bahwa mungkin saja semua hal ini saling terhubung satu sama lain──.

 

Beberapa saat kemudian, Ragna kembali ke Departemen Misteri.

Setelah merapikan penampilannya, ia hanya berpesan kepada bawahannya, "Aku akan meninggalkan laboratorium sebentar. Ada hal yang ingin kuselidiki."

"Padahal kita baru saja bisa masuk ke panti asuhan, apa tidak apa-apa?"

"Ada hal lain yang membuatku penasaran. Aku akan kembali secepat mungkin, jadi kalian lanjutkan pekerjaan dengan hati-hati. Jika sampai ada goresan pada lukisan dinding, aku akan mengamuk pada kalian selama tujuh puluh tahun ke depan."

"Haa…… kami mengerti kok, jadi tenang saja. Lagipula tujuh puluh tahun lagi sebagian besar dari kami sudah meninggal karena usia tua."

Cara bicaranya memang ketus, namun suaranya tetap seperti biasa dan bawahan yang mendengarnya pun tertawa.

Ragna bukannya meragukan hasil kerja bawahannya, ia hanya mengatakannya sambil bercanda karena itu sudah menjadi kebiasaannya.

Karena Ragna selalu memberikan hasil yang lebih dari memuaskan,

Departemen Misteri tidak mempermasalahkan jika ia tiba-tiba menghilang.

Demi mencari kebijaksanaan dan romansa yang baru malam ini,

"Ayo pergi."

Ia meninggalkan Departemen Misteri sendirian.

Dengan jubah yang sudah biasa ia pakai dan tas raksasa di punggungnya, ia tampak seperti sosok pengembara yang dirumorkan.

Hanya tinggal kurang dari satu bulan lagi sampai ia berhasil menemukan suatu informasi tertentu.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close