Chapter 5
Kota yang Hidup di Tengah Perairan
Ren kembali mengunjungi Department of
Mysteries, tempat yang juga ia datangi kemarin.
Hari ini ia datang sendiri tanpa
Radius, namun tidak ada rasa tegang sedikit pun.
Seharusnya jam segini ia sudah berada
di kediaman Marquis Ignart, namun ia mendadak harus mampir ke Department of
Mysteries.
Sebab tadi pagi, hampir bersamaan
dengan kedatangan Edgar yang menjemputnya dengan kereta kuda, orang dari
Department of Mysteries juga muncul dan mengatakan bahwa Ragna memanggilnya.
Utusan Ragna itu sempat berkata dengan
nada menyesal bahwa ia akan datang lagi nanti, tapi—
"Biar saya saja yang
menyampaikannya kepada Tuan saya," usul Edgar.
"Saya dengar ini adalah
rekomendasi dari Yang Mulia Pangeran, jadi akan lebih baik jika Anda
memenuhinya." Begitulah percakapan yang terjadi saat itu────.
Di ruangan yang sama di lantai tinggi
seperti kemarin.
"Aku sudah menunggumu." Ren
disambut oleh Ragna yang duduk dengan sikap angkuh, persis seperti kemarin.
Setelah mengucapkan salam pagi, Ren
mengangkat topik tentang apa yang dikatakan utusan Ragna di penginapan tadi.
"Ragna-san, ternyata Anda
terkadang dipanggil Kepala Ruangan, ya?"
"Kadang-kadang, dalam artian
kepala laboratorium ini. Ada juga yang memanggilku Profesor, tapi ini hanyalah
satu dari sekian banyak laboratorium di bawah naungan Department of Mysteries. Kalau dipikir-pikir, orang-orang di
departemen ini memang aneh."
"Aneh
bagaimana?"
"Mereka
mau menyambut pria sepertiku dengan perlakuan setara Kepala Ruangan, kan?"
Ren mengingat
kembali percakapan kemarin, dan hari ini ia bersikap sedikit lebih santai...
namun tetap menjaga batasan tertentu agar tidak salah menempatkan diri.
"Bukankah
itu perlakuan yang wajar karena 'Kebijaksanaan dan Romansa' yang Anda kejar
sangatlah berharga?"
"Hou."
Mendengar itu, suasana hati Ragna langsung membaik.
Pipinya
mengendur setelah mendengar kata-kata yang sering ia ucapkan sendiri.
"Mataku
tidak salah. Ren, ternyata kau memang pria yang bisa memahami romansa. Tidak
sia-sia aku memanggilmu pagi-pagi begini."
"Soal
itu, kenapa Anda memanggil saya?" Ren melangkah mendekati meja tempat
Ragna menunggu.
"Apa kau
tertarik dengan Kota Tua?"
Kota Tua
adalah tempat yang kemarin dibahas sebagai lokasi penemuan Mithril misterius.
Itu juga tempat yang sempat dipandang Licia saat mampir kemarin.
"Saya
dengar itu tempat yang indah, tapi hanya sebatas itu kesan saya. Saya ingin
melihatnya, tapi saya tidak terlalu tahu bagaimana kondisi di sana."
"Tempat
itu sangat menarik. Banyak bangunan terendam air yang terbuat dari batu, dan
tidak sedikit yang masih mempertahankan bentuk aslinya dari masa itu."
Pemandangan
bangunan yang tersisa di dalam air, dengan ikan-ikan kecil berwarna-warni yang
berenang di sekitarnya, menciptakan suasana yang fantastis.
"Sepertinya
masih banyak barang langka yang terkubur di sana, ya."
"Tepat
sekali. Dikatakan bahwa Eupeheim kala itu bahkan lebih ramai daripada Ibu Kota.
Karena merupakan titik penting perdagangan, tempat itu juga menjadi pusat
pertukaran teknologi baru dari dalam maupun luar negeri."
"Kalau begitu, apakah
laboratorium-laboratorium juga ikut tenggelam?"
"Tentu
saja, ada banyak sekali."
Itulah alasan
mengapa tempat tersebut berada di bawah pengawasan publik.
Ren sekarang
paham betul mengapa Department of Mysteries sampai repot-repot melakukan
penyelidikan berkala. Ketertarikan Ren kini lebih terusik dibandingkan saat
melihat Mithril "mati" kemarin.
"Kala
itu adalah masa kejayaan Tujuh Pahlawan. Artinya, itu adalah zaman di mana
teknologi Milim Althea, yang dijuluki Dewa Perangkat Magis, masih
berjaya."
"……Apakah
perangkat pertahanan yang dibuat Milim Althea juga masih berfungsi?"
"Ya, di
rumah-rumah besar atau laboratorium, ada perangkat magis yang ia buat secara
langsung. Perangkat itu melindungi seluruh bangunan tersebut."
Bahkan
setelah ratusan tahun berlalu, masih sangat sulit untuk menembus teknologinya.
Itulah faktor utama mengapa penyelidikan Kota Tua memakan waktu lama.
Kota yang
sebagian besar terendam air itu sepertinya menyimpan warisan yang lebih besar
dari bayangan Ren.
Ia pun
mendeskripsikan tempat yang dilindungi perangkat pertahanan Milim Althea itu
sebagai berikut:
"Kalau
disebut sebagai 'Pintu yang Tak Terbuka', kedengarannya keren ya."
Mendengar kata-kata itu, alis Ragna
sedikit berkedut.
"Ah…… keren sekali. Aku sangat
ingin membuka pintu itu, tapi di sisi lain, ada bagian dari diriku yang
berharap pintu itu tidak pernah terbuka."
"Rasanya
bagian paling menyenangkan adalah saat-saat sebelum pintu itu terbuka."
"Khu…… seleramu bagus juga,
ya."
Karena merasa
sefrekuensi, suasana hati Ragna semakin melambung.
"Baiklah.
Akan kuberikan sesuatu yang bagus. Tentu saja gratis."
Ia membuka
laci meja dan mengeluarkan sebuah perkamen tua yang terlipat.
"Ini
apa?"
"Peta
rahasia. Bagaimana? Kau mulai merasa berdebar, kan?"
Ren
tidak bisa bilang tidak. Ia menerima benda yang disebut peta itu dan segera
membukanya.
Ukurannya
pas, tidak terlalu besar maupun kecil.
Saat
direntangkan dengan kedua tangan, lebarnya masih berada di dalam jangkauan bahu
Ren.
Bekas lipatan
pada peta itu terlihat sangat dalam.
"Ini...
Kota Tua, kan?"
"Kau
tahu?"
"Saya
hanya menebak dari topografinya saja. Saya kan belum pernah ke sana."
"Hoo,
pemahamanmu cepat juga kalau begitu."
Di atas peta
rahasia—atau lebih tepatnya peta Kota Tua—tersebut, terdapat beberapa tanda
merah.
Ada juga
catatan tulisan tangan Ragna tentang kapan penyelidikan dilakukan, sehingga
melihatnya saja sudah cukup membuktikan bahwa peta ini memiliki nilai yang
cukup tinggi.
"Tanda
merah ini apa?"
"Itu
adalah lokasi di mana terdapat pintu-pintu yang tertutup oleh perangkat magis
kuno."
"Anda
tidak mencoba meledakkannya atau membukanya dengan paksa?"
"Aku
paham keinginan itu. Kalau diledakkan, isinya bisa langsung dipastikan. Tapi,
aku ingin menghindari kerusakan pada bangunan bersejarah dan lingkungan. Selain
itu, cara tersebut dilarang keras menurut hukum Kekaisaran."
"Poin
terakhir itu sama sekali bukan sekadar tambahan, kan?" Justru itu harusnya menjadi
prioritas utama.
"Lalu
sebagai catatan saja, bukan berarti aku tertarik dengan peledakan ya." Ren
hanya bergumam karena rasa ingin tahu, tidak lebih dan tidak kurang.
"Ngomong-ngomong,
kenapa Anda memberikan peta sepenting ini kepada saya?"
"Itu
cadangan milikku. Karena
sudah tua, aku sudah menyiapkan peta yang baru."
"Bukan
itu, maksud saya alasan kenapa Anda mendadak memberikannya kepada saya."
"Bisa
dibilang ini hadiah kecil untuk Ren yang memahami romansaku. Tidak ada alasan
lain."
"……Saya
mengerti. Saya tidak tahu apakah akan ada kesempatan untuk menggunakannya, tapi
jika saat itu tiba, saya akan memanfaatkannya."
Setelah
berkata demikian, Ren mengajukan pertanyaan polos kepada Ragna.
"Penyelidikan
kota yang tenggelam itu biasanya dilakukan bagaimana?"
"Tentu
saja dengan kaki sendiri. Terkadang kami memakai peralatan menyelam, tapi di
banyak tempat yang memiliki perangkat pertahanan, biasanya masih ada udara di
dalamnya meski sudah tenggelam."
"Berarti
ada udara di dalam air dan kita bisa berjalan di sana, ya."
"Tepat
sekali. Kau bisa menikmati pemandangan yang menarik jika pergi melihatnya
langsung." Ragna menekankan bahwa melihat langsung akan lebih jelas.
"Masalahnya
hanyalah soal izin masuk, ya."
"Anggap
saja itu untuk jika ada kesempatan nanti. Peta itu adalah bukti romansa yang
kita bagi bersama. Itu adalah catatan pribadiku dan bukan rahasia negara, jadi
pakai saja sesukamu."
"────Kalau
begitu, saya terima tanpa sungkan."
Setelah Ren
menyimpan peta itu ke dalam bajunya, ia mulai teringat alasan mengapa ia
dipanggil pagi-pagi begini.
Ternyata
memang ada alasan lain selain pembicaraan tadi. Ragna menyerahkan beberapa buku
tentang Holy Magic dan mitologi kuno kepada Ren.
"Ambil
ini. Semua ini buku yang sudah kubaca berkali-kali."
"Te-terima
ka──── maaf, ini bahasa apa?"
"Bahasa
yang digunakan di bagian selatan Benua Martel, dan bahasa para Beastman yang
tinggal di Benua Barat. Cobalah baca sambil membuka kamus. Itu bagus untuk
belajar."
"……Apakah
Ragna-san bisa membacanya tanpa kamus?"
"Ini kan
cuma bahasa yang digunakan manusia dan kaum lain. Semua itu bisa dikuasai jika
dipelajari selama beberapa minggu."
Ren
memutuskan untuk mengabaikan kata-kata pria ini karena standarnya yang tidak
masuk akal.
Namun Ragna
berkata bahwa ia tidak bisa memberi informasi lebih banyak dari apa yang sudah
dibicarakan kemarin.
Meski begitu,
ia tetap menyiapkan materi tersebut sebagai referensi jika Ren ingin
menyelidikinya sendiri.
Ren berterima
kasih dalam hati dan bertekad untuk membeli kamus bahasa di suatu tempat.
"Ah,
benar juga." Ragna menghentakkan kakinya ke atas meja dan tertawa.
Ekspresinya tampak sedikit provokatif.
"Kalau
kau berhasil membuka 'Pintu yang Tak Terbuka' itu, aku akan memberimu
hadiah."
"Uwaa…… cara bicara Anda terdengar
seperti sedang meremehkan dan yakin saya tidak akan bisa membukanya."
"Yah, sekitar setengahnya begitu.
Tapi kalau terbuka, itu juga bagus."
"Anda serius? Kalau dengar soal
hadiah dari Pengelana Tas Besar, saya akan sangat berharap banyak."
"Tidak masalah. Jika saat itu
tiba, aku berjanji akan memberikan barang menarik dari koleksiku." Ragna
tertawa setelah mengatakan itu.
◇◇◇
Di dalam kereta kuda Department of
Mysteries menuju distrik bangsawan Eupeheim.
Meskipun penguasa kota ini adalah
Ulysses, ada beberapa kediaman bangsawan lain di sini.
Sebab memiliki kediaman di Eupeheim
merupakan simbol status bagi para bangsawan, tanpa memandang faksi mana pun.
"────"
Ren menguap lebar saat kereta bergoyang. Menurut kusir, perjalanan menuju
kediaman Marquis Ignart memakan waktu sekitar dua puluh menit.
Karena
kemarin adalah malam pertamanya di Eupeheim, ia begadang dan sekarang merasa
sedikit mengantuk. Istirahat sejenak di waktu seperti ini sepertinya ide yang
bagus.
"……Tidur
saja, deh." Cukup santai selama dua puluh menit. Ia memejamkan mata agar
tidak menunjukkan wajah mengantuk di depan Ulysses nanti.
Aku
sedang bermimpi ya—kesadaran itu datang dengan cepat. Begitu memejamkan mata,
Ren langsung terlelap, dan hampir pada saat yang sama ia bermimpi.
Anehnya,
tidak seperti mimpi biasanya, mimpi ini terasa sangat nyata bagi panca
indranya. Ren berada di sana sebagai pengamat, menyaksikan situasi di
sekitarnya.
Di
sana, banyak sekali ksatria yang dikerahkan. Kemampuan pedang mereka sudah pasti kelas satu.
Mereka yang
bisa menggunakan sihir pun memiliki kemampuan tingkat tinggi.
Seluruh
kekuatan tempur yang terkumpul itu adalah alasan mengapa Leomel menjadi negara
militer terkuat di dunia.
Ditambah
dengan senjata sihir, negara mana pun pasti akan menghindari peperangan.
Tempatnya
kemungkinan besar adalah di depan gerbang kediaman Marquis Ignart.
"Berisik
sekali saat Tuan rumah tidak ada."
Berbeda
dengan kenyataan, sepertinya saat itu sedang puncak musim dingin karena salju
tipis menumpuk di atas jalan batu.
Seorang pria
tua berpakaian rapi berdiri di depan gerbang menyambut para ksatria. Tidak
sedikit ksatria yang tubuhnya gemetar karena tegang.
Di barisan
terdepan, barisan yang menatap Edgar, berjejer ksatria kebanggaan Shishiseicho.
Namun mereka
pun berkeringat dingin dan tidak bisa mengalihkan pandangan dari Edgar,
terjebak dalam ketegangan yang ekstrem. Satu orang ksatria melangkah maju.
"Tuan
Edgar, ikutlah dengan kami ke Ibu Kota."
"Atas
alasan apa?"
"Anda
pasti mengerti soal insiden penculikan Yang Mulia Pangeran."
"Sepertinya,
kalian sangat mengkhawatirkan hubungan antara keluarga ini dengan kejadian
tersebut, ya."
"Khu────
Saya tidak yakin orang sehebat Anda tidak mengerti bahwa ini bukan tempat untuk
bercanda!"
"Fuu,"
pria tua itu menghela napas dan melepas jasnya. Tanpa memedulikan dinginnya
musim dingin, ia menunjukkan kemeja putihnya. Ia menggulung lengan kemejanya,
mengembuskan napas putih, dan berkata:
"Mohon
maaf, saya tidak bisa menuruti perintah Anda."
Para
ksatria serentak mencabut pedang mereka. Ratusan ksatria seketika mengambil posisi tempur. Edgar menatap langit
musim dingin dengan ekspresi sedih, lalu menoleh ke arah kediaman Marquis
Ignart.
Tangannya
gemetar, ujung jarinya gemetar, ia tidak bisa menahan bibir dan matanya yang
bergetar. Tidak ada satu orang pun di dalam rumah itu.
Edgar baru
saja mengunci pintunya tadi. Meskipun ia tahu saat untuk membukanya kembali
mungkin tidak akan pernah datang, ia menyimpan kuncinya dengan hati-hati.
Saat Edgar
berbalik menatap para ksatria, mereka melihat air mata mengalir di pipi Edgar.
"Saya
peringatkan untuk terakhir kalinya. Jika Anda sekalian mundur, saya juga tidak
akan mengayunkan pedang."
"Anda
pasti tahu bahwa kami tidak bisa melakukannya."
"Kalau
begitu, apakah kita memang harus bertarung?"
"Jika
itu keinginan Tuan Edgar. Kami harus menahan Anda dan memeriksa kediaman
ini."
"……Itu
merepotkan ya." Pria tua itu tetap tidak mau bergeser dari depan gerbang.
"Rumah
ini adalah jiwaku sendiri. Aku ingin kalian membiarkan bukti pengabdianku pada
keluarga Ignart tetap tenang. Meskipun kalian punya alasan, aku juga tidak bisa
mengalah."
Kini, tidak
ada jalan lain selain beradu pedang. Meski tidak ada kata-kata yang terucap,
hal itu sudah pasti. ────Tepat di saat para ksatria melangkah maju agar tidak
kehilangan inisiatif.
Sosok pria
tua itu menghilang. Hanya di tempat sepatunya berpijak salju tidak menumpuk. Salju yang bercampur dengan angin
di sekitarnya bergoyang tidak beraturan sejenak.
"……Eh?"
Sebelum
darah segar muncrat dari dada ksatria di barisan terdepan, dua bilah pedang
perak telah menembus tubuhnya.
Setelah
itu, pemandangan berubah drastis. Edgar berhasil melarikan diri meski mengalami
luka parah dalam pertempuran di kediaman Marquis Ignart, dan ia berada di
tempat persembunyian yang telah disiapkan oleh Ulysses.
Pelayan
keluarga Ignart merawat Edgar yang terluka parah, dan nyawanya berhasil
terselamatkan.
Sebagai
gantinya, ia kehilangan satu mata dan memakai penutup mata, serta lengan
kirinya telah diganti dengan lengan buatan (prosthetic).
Namun
Edgar tidak memedulikan hal itu dan bertanya datar kepada sang pelayan.
"Sudah
berapa lama waktu berlalu?"
"Waktu
yang sangat, sangat lama."
"Beri
tahu saya. Apa yang terjadi selama saya tertidur."
Ulysses tewas
di Pegunungan Baldur, dan pahlawan baru telah lahir di Leomel.
Mengetahui
kenyataan itu, Edgar merasa malu karena hanya dirinya yang bertahan hidup, dan
ia pun menangis.
"Tuan
Edgar harus melakukan apa yang bisa Tuan Edgar lakukan," ucap pelayan itu
sambil menunduk.
"Tidak
ada yang bisa saya lakukan. Sebagai seorang kepala pelayan, saya gagal mengabdi
pada Tuan dan Nona Fiona. Setelah itu, apa yang Anda suruh saya lakukan?"
"Kami
para pelayan pun tidak tahu. Tapi jika Tuan Edgar bunuh diri, Tuan kami pasti
tidak akan menyambut Anda di sana."
Jika itu
Ulysses, pasti akan begitu. Dua orang yang mengenal baik anggota keluarga
Ignart itu saling bertukar pandang dan kembali menangis dalam diam.
Tak lama
setelah itu, Edgar menjadi pengembara tanpa tujuan. Keluarga Ignart sudah tidak
ada lagi di Leomel, dan ia menghabiskan hari-harinya memikirkan sang Tuan dan
Fiona.
Namun, di
sudut sebuah kota di luar negeri Leomel, ia mendapatkan sebuah buku tua dan……
"Sepertinya
masih banyak hal yang harus diselidiki yang masih tersembunyi, ya." Sambil
membaur ke dalam keramaian kota.
"Tubuh
tua ini akan melakukan pekerjaan terakhirnya. Sebelum aku pergi menemui Tuan,
mari selesaikan apa yang harus diselesaikan."
Meskipun
maksud dari gumaman itu tidak jelas, dalam pemandangan yang disaksikan Ren,
Edgar pergi ke berbagai tempat.
Waktu panjang
yang terus berputar diringkas menjadi satu momen singkat.
Akhirnya,
Edgar kembali ke Leomel setelah sekian lama. Ksatria Leomel pun menemukannya.
Berdasarkan
informasi tersebut, kekuatan tempur termasuk ksatria Shishiseicho dikirim ke
tempat persembunyiannya.
Tentu
saja, Edgar menyadarinya dan melarikan diri.
Namun
karena kehilangan satu mata dan memakai lengan buatan, ia tidak bisa bertarung
sesuai keinginannya, dan ia tidak berhasil melarikan diri seperti dulu.
Saat
melarikan diri ke daerah kumuh di kota itu, ia menyandarkan punggungnya pada
dinding luar rumah yang kotor.
Ia yang
memulai perjalanan untuk mengejar informasi tentang suatu keberadaan, pada saat
itu—
"Sudah
waktunya Tuan menjemputku."
Ia memejamkan
mata, bersiap menghadapi kematian. Langkah kaki yang terburu-buru semakin
mendekat. Ia menunggu saat-saat terakhirnya,
namun—
……Na-napas!?
……Kau, tidak ada────.
Para ksatria yang seharusnya mengejar
tiba-tiba tumbang ke tanah tanpa terkecuali. Tidak ada darah yang mengalir.
Semuanya hanya kehilangan kesadaran
karena leher atau perut mereka dihantam keras oleh sesuatu.
Menyaksikan pemandangan yang tak
terduga itu, Edgar melihat seseorang yang mengenakan jubah kotor berdiri di
dekatnya.
Meski berada dalam situasi mendadak,
pria tua itu tetap tenang. Suara seorang pemuda menyapa pria tua itu, dan pria
tua itu menyahutnya.
"────Anda adalah Tuan Edgar,
bukan?" "────Anda
sepertinya sama sekali tidak terlihat seperti seorang ksatria."
Dengan
tenang. Pemuda dan pria
tua itu bertemu di sini. Setelah percakapan singkat, pemuda itu berkata:
"Aku lebih tepatnya musuh
ksatria…… tidak, mungkinkah aku musuh Leomel?"
Yang muncul di depan Edgar adalah
seseorang yang menyembunyikan dirinya dalam jubah.
Orang tersebut membuka penutup
kepalanya dan memperlihatkan wajahnya.
Ternyata ia adalah seorang pemuda
berwajah tampan yang sedikit cantik (androgynous).
Pemuda itu menghampiri Edgar, lalu
menggendongnya dan mulai berjalan. Itu terjadi saat Edgar masih belum bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Aku
mencari Anda. Aku pikir Anda pasti tahu beberapa informasi yang sedang
kukejar."
"……Saya
tidak mengerti. Kenapa Anda juga mengejarnya?"
"Tentu
saja karena aku juga punya tujuan sendiri."
Pemuda itu
dengan kuat menjejak jalan batu dan berlari di atas atap-atap rumah.
Edgar
bergumam 'Hum' melihat gerakan kakinya yang cepat dan lincah seolah terbang di
angkasa. Sepertinya masih terlalu pagi baginya untuk menyusul Tuannya yang
telah tiada.
"Tuan
Muda, tolong beri tahu saya nama Anda." Saat mereka hendak keluar dari
kota itu. Entah kenapa Edgar menanyakan nama pemuda yang mencarinya dan
menolongnya itu. Pemuda yang ditanya tidak menghentikan langkahnya dan membuka
mulut.
"Aku Ren
Ashton. Penjahat besar──── yang telah merenggut nyawa White Saintess dan Kepala
Akademi."
Mendengar
nama pemuda itu, Edgar kehilangan kata-kata karena kenyataan yang teramat
mengejutkan.
◇◇◇
"────Tuan... Tuan Ashton."
Bahu Ren diguncang, dan ia terbangun oleh suara kusir yang mencoba
membangunkannya.
……Barusan
itu.
Apakah itu
mimpi?
Atau memori dari garis dunia yang lain?
Di sana, Ren Ashton dan Edgar memiliki
hubungan tertentu dan akhirnya beraksi bersama──── hanya itu yang ia tahu.
Ia sama
sekali tidak tahu mengapa ia melihat atau diperlihatkan pemandangan seperti
itu.
Jika
diibaratkan, itu adalah kejadian mendadak yang mirip dengan mimpi yang ia lihat
saat diculik oleh Yerkqu dulu.
Ren yang
masih linglung mengusap matanya, lalu menatap kusir dengan perasaan tidak
menentu.
"Maaf.
Saya tadi sedikit tertidur."
"Tidak
apa-apa, saya yang mohon maaf. Kita sudah hampir sampai di kediaman yang
dituju."
Kereta kuda
yang membawa Ren berhenti sekitar sepuluh menit perjalanan kaki dari kediaman
Marquis Ignart. Kereta tidak bisa melaju lebih jauh karena ksatria memblokir
jalan.
Menurut
ksatria, terjadi masalah pada saluran air bawah tanah. Saat ini mereka sedang
melakukan pemeriksaan situasi darurat.
"Sepertinya
untuk sementara waktu, jalan ke depan hanya bisa ditempuh dengan berjalan
kaki……"
"Kalau
begitu, saya jalan kaki saja. Lagipula ada banyak ksatria di sekitar
sini."
Ren membuka
pintu kereta dengan tangannya sendiri, lalu menjejakkan kaki dengan ringan ke
jalan batu. Ia mengangguk kecil kepada kusir yang memegang kendali di depan
kereta, lalu mulai berjalan.
……Benar
juga.
Sepuluh
mel ke depan, jalanan diblokir. Saat berjalan di dekat para ksatria, salah satu dari mereka menyapa Ren.
"Hei
kau, mau pergi ke mana?"
"Saya
mau pergi ke kediaman Marquis Ignart yang ada di depan sana."
"Ke...
kediaman Yang Mulia Marquis?"
Percakapan
berakhir singkat, namun ksatria itu tampak tercengang.
Meski para
ksatria itu mengabdi pada negara Leomel, bagi mereka Ulysses adalah atasan
langsung.
Itu adalah
kejutan yang tidak bisa diabaikan. Ksatria itu tidak berpikir Ren berbohong. Mereka melihat sendiri Ren
turun dari kereta kuda Department of Mysteries.
Karena tidak
ada larangan dari ksatria, Ren terus melangkah maju tanpa ragu.
Setelah
berjalan beberapa menit, terlihat kediaman Marquis Ignart yang skalanya mungkin
sebesar kastil negara kecil. Ren bergumam 'Gede banget' dalam hati. Tapi tidak hanya itu, ia sekali
lagi berkata—
"……Gede
banget." Ia mengulangi keterkejutannya dengan suara yang sengaja
dikeluarkan.
Di
depan gerbang utama yang raksasa, terlihat tentara pribadi keluarga Ignart yang
berdiri berjaga.
Melihat
Ren mendekat, mereka diam-diam mengambil sikap waspada. Mungkin mereka sudah
mendengar ciri-ciri Ren.
Tetap
saja, sebagai penjaga gerbang yang mumpuni, mereka tidak akan melakukan
tindakan bodoh dengan menarik kesimpulan sebelum memastikan.
Di mata Ren,
para penjaga gerbang itu tampak mulai sedikit gelisah. Saat ia berdiri sepuluh mel dari
gerbang utama, seorang tentara menyapa.
"Tolong
beri tahu nama Anda."
"Saya
Ren A──── yang diundang oleh Marquis Ignart."
Meski
berkata begitu, itu hanyalah ucapan lisan. Jika dipikir-pikir, Ren tidak menerima surat undangan
kali ini selain untuk naik ke kapal Gardiknight.
Penampilannya
memang sudah rapi agar tidak tidak sopan, tapi tetap saja ia terlihat seperti
pemuda biasa.
Atau
setidaknya, terlihat seperti anak bangsawan dari antah berantah.
……Ah,
benar juga.
Ren
tiba-tiba teringat. Ia sudah menyimpan sesuatu di balik bajunya untuk
berjaga-jaga jika hal seperti ini terjadi.
Melihat
Ren memasukkan tangannya ke dalam baju, beberapa tentara di depannya menelan
ludah.
Bukan karena
haus atau lapar, tapi karena membayangkan apa yang akan dikeluarkan Ren.
Mereka tidak
menyangka Ren akan mengeluarkan senjata. Mereka bersikap waspada karena
ketegangan menghadapi situasi yang sudah diprediksi.
"Maaf.
Tolong lihat ini." Kartu hitam legam.
Undangan
lama. Itu adalah undangan yang ditinggalkan Edgar untuk Ren beberapa tahun lalu
saat mengunjungi Clausel sebagai wakil Marquis Ignart, yang belakangan ini juga
ia lihat bersama Fiona di dalam Gardiknight.
Kertas hitam
mewah dengan cetakan emas memberikan kesan prestisius, namun tetap saja itu
hanyalah selembar kertas.
Di sisi lain,
para ksatria sudah sering mendengar tentang penampilan Ren dan tahu bahwa ia
sedang berada di Eupeheim, jadi sepertinya tidak ada masalah berarti.
Ren sempat
bertanya-tanya apakah satu undangan ini cukup untuk mengunjungi bangsawan
besar... tapi ia yakin Ulysses tidak mungkin melakukan kecerobohan.
Tak lama
kemudian, terjadi perubahan pada lambang cetak emas yang terukir di undangan
lama tersebut.
Lambang
keluarga Ignart muncul secara tiga dimensi di atas kartu undangan dan
memancarkan cahaya.
Cahaya itu
bergerak indah seolah ditulis dengan pena bulu di sebelah lambang tersebut.
『Selamat datang, kami menanti kunjungan
Anda.』
Kata-kata
sambutan tertulis dengan ringkas.
Gerbang yang
mengelilingi pekarangan rumah itu pun memancarkan cahaya yang sama, lalu
terbuka dengan sendirinya bahkan sebelum para ksatria sempat mengulurkan
tangan.
Kartu
itu bukan sekadar undangan biasa. Sebenarnya itu hal yang wajar jika
dipikir-pikir, tapi Ren hanya bisa tersenyum kecut melihat pertunjukan yang
terasa agak berlebihan tersebut.
Melihat hal
itu, pria yang memimpin para ksatria di sana kembali membuka suara. Para ksatria yang berada di
dekatnya pun langsung berbaris rapi secara serentak.
"Kami
telah menanti kedatangan Anda."
Ini
adalah undangan yang disiapkan oleh Edgar sebagai perwakilan tuannya, dan
merupakan jenis undangan kasta tertinggi yang bisa dikeluarkan oleh keluarga
Ignart.
Setelah
menerima sambutan yang di luar dugaan, Ren kembali menengadah menatap kastil
kediaman Ulysses.
Taman itu
sangat luas.
Rumput yang
menutupi permukaan tanah ditanam dengan mencampurkan berbagai varietas agar
tetap rimbun di hampir setiap musim. Banyak yang layu saat musim dingin tiba,
tapi di akhir musim gugur ini pun, semuanya masih terlihat hijau dan segar.
Selain itu,
mungkin karena ada perangkat magis di suatu tempat, taman ini tidak terasa
dingin meski sudah memasuki musimnya.
Fiona
dan Licia tampak sangat serasi berada di ruang tersebut. Keduanya bertukar kata
di taman itu, terlihat lebih menawan daripada bunga-bunga di sekitar mereka.
"Maafkan saya…… Ayah sudah
menantikan hari ini sejak lama sekali……"
Bisa dibilang Ulysses sudah mendambakan
hari ini selama bertahun-tahun. Sejak nyawa Fiona terselamatkan, ia bahkan
sampai memimpikannya.
Tidak mengherankan jika ia menyambut
dua orang dari keluarga Clausel dengan sangat antusias. Saking semangatnya
ingin menunjukkan isi rumah, ia sampai membawa pergi Lezard dengan sedikit
memaksa.
Fiona sempat khawatir apakah sambutan
yang terlalu totalitas ini akan membuat tamu mereka merasa tertekan, namun
karena Ulysses bersikeras tidak ingin setengah-setengah, beginilah jadinya
sekarang.
Licia tersenyum sambil mengingat
kembali saat ia menerima sambutan tersebut.
"Melihat Marquis Ignart tampak
begitu bahagia, aku juga ikut senang."
"Fufu, aku lega
mendengarnya."
Kaki jenjang mereka yang menyembul dari
balik rok berhenti di depan petak bunga musim gugur yang sedang bermekaran.
"Bunga yang cantik, ya."
"Ini bunga yang hanya mekar di
musim gugur. Namanya adalah────"
Tak disangka, suasana di antara mereka
tetap seperti biasa. Licia sedikit membungkuk di samping Fiona yang mendekatkan
wajahnya ke arah bunga.
Licia merasa percaya diri bahwa dialah
gadis yang paling memahami pesona Fiona. Sosok cantik nan imut yang tidak
pernah ditunjukkan kepada siapa pun kecuali Ren.
Itu pasti
saat-saat paling menawan dari seorang Fiona. Sosok putri bangsawan tinggi yang
jatuh cinta dengan mempertaruhkan nyawa, penampilannya sekarang terasa begitu
manis.
Keindahannya
begitu memikat sampai-sampai terasa sedikit mistis.
"Ada
apa?"
Fiona yang
menyadari tatapan itu tampak kebingungan. Sosoknya yang seperti itu pun
terlihat sangat luar biasa di mata Licia.
"Bukan!
Bukan apa-apa!"
Licia
menjawab dengan terburu-buru, tentu saja karena pesona mereka berdua terlihat
setara saat berdiri berdampingan.
Para pelayan
keluarga Ignart yang melihat mereka dari kejauhan sampai terpukau. Pemandangan
kedua gadis yang berdiri di antara berbagai bunga itu terasa seperti bukan
berasal dari dunia manusia biasa.
Para pelayan
keluarga Ignart sudah sering mendengar dan tahu tentang Licia. Saat melihat
Licia secara langsung pagi tadi, mereka terkejut karena merasakan dampak yang
sama kuatnya dengan pesona yang dimiliki Fiona.
Licia dan
Fiona tidak hanya mengobrol soal bunga, tapi juga soal rumah dan hal lainnya.
Setelah beberapa saat berlalu...
"Nona-nona
sekalian, Tuan Ren Ashton telah tiba."
Seorang
pelayan keluarga Ignart datang dengan terburu-buru untuk melapor. Setelah
melihat keduanya mengangguk, pelayan itu membungkuk dan pergi meninggalkan
tempat.
Ren
diperkirakan akan datang ke sini dengan dipandu oleh Edgar. Untuk menyambutnya,
kedua gadis itu mulai melangkah hampir di waktu yang bersamaan.
Atmosfer
yang sudah lama tidak terasa kini muncul kembali. Terakhir kali suasananya seperti ini mungkin saat mereka
pertama kali bertemu di pesta Ibu Kota.
Sama seperti
malam itu, hiasan rambut bulu platinum dan kalung Star Agate milik
mereka tampak bergoyang.
Mereka
berdua menghentikan langkah sambil saling memandang.
"Hari
ini, bisakah kamu mengalah────"
Fiona baru
saja akan mengatakan sesuatu, namun Licia langsung menjawab dengan cepat.
"Aku
tidak akan mengalah, ya."
"Be-belum! Aku belum selesai
bicara!"
Bukannya mereka memperlakukan Ren
seperti barang dan memintanya untuk mengalah.
Kedua gadis ini tidak mungkin
mengatakan hal sebodoh itu. Hanya saja, Licia menjadi terlalu waspada saat
berhadapan dengan rival kuatnya, Fiona.
"Maksudku
adalah membiarkan aku membalas budi pada Ren-kun! Karena sejak dulu, aku sudah
berjanji ingin menjamunya minum teh di rumah ini……!"
"Ma-maaf!
Ternyata soal itu, ya!"
Tanpa sadar
ketegangan di tubuh mereka pun mengendur. Kaki yang tadi terhenti kembali
melangkah untuk menjemput Ren.
"Duh,"
Fiona menghela napas dengan sikap layaknya gadis seusianya. Bukan helaan napas
dendam, melainkan sikap merajuk yang terasa imut.
Licia yang
terkejut sempat bersikap agak santai tanpa sadar, namun keduanya tidak
menyadarinya.
Sebaliknya,
mereka juga belum sadar bahwa sekarang mereka justru bisa berinteraksi dengan
lebih apa adanya satu sama lain.
Kedua gadis
itu menarik napas sejenak, lalu saling bertukar kata terakhir untuk menutup
situasi ini.
"Aku
tidak akan kalah, lho."
Licia
mengungkapkan isi hatinya yang kuat dan menyentuh, berbeda dari biasanya.
"Aku
juga, pasti tidak akan kalah."
Fiona yang
biasanya lebih sering mengalah dan tertutup pun menegaskan posisinya tanpa
mundur sedikit pun.
Apakah ini
deklarasi perang baru setelah malam beberapa tahun yang lalu? Atau hanya
sekadar pernyataan tekad?
Apa pun itu,
perasaan mereka tidak pernah berubah sejak lama. Mereka sampai di titik ini
karena terus melangkah maju sedikit demi sedikit, meski perlahan.
Tiba-tiba,
suara pria yang mereka cintai terdengar di telinga.
"Maaf. Aku terlambat…… eh?"
Ren yang datang dipandu oleh Edgar
melihat wajah mereka dan menyadari sesuatu. Tidak seperti biasanya, pipi kedua
gadis itu memerah dan entah kenapa mereka tampak tidak tenang.
"Wajah kalian berdua memerah, apa
kalian baik-baik saja?"
Keduanya
merasa agak rumit karena Ren tidak menyadari perasaan mereka. Namun, mereka tidak mengeluh dan
menganggap itu hal yang wajar.
Mereka
mendekati Ren yang baru saja tiba, lalu...
"……Bukan
apa-apa, kok."
"……Iya.
Tidak ada apa-apa."
Mereka
menghela napas panjang secara bersamaan. Helaan napas itu mengandung dua hal:
rasa malu terhadap diri sendiri yang pasif, serta keinginan hati seorang gadis
agar ia segera menyadarinya.
Menurut
Fiona, ia tidak punya ingatan tentang pernah diadakannya pesta di rumah ini.
Dulu, Ulysses yang mengkhawatirkan kondisi kesehatannya akan menyiapkan tempat
lain. Sejak saat itu pun, Ulysses tidak terlalu suka mengundang orang lain ke
rumahnya.
Di aula
tempat pesta yang dihiasi dengan megah────. Tempat yang dikelilingi perabotan
langka ini terasa jauh lebih prestisius daripada tempat pesta mana pun yang
pernah mereka datangi sebelumnya. Perilaku para pelayan di sini pun tidak ada
tandingannya.
Mengenai
diadakannya acara seperti pesta di rumah ini...
"Hahaha!
Ini pertama kalinya sejak sebelum aku mewarisi rumah ini dari ayahku!"
Itu sudah
terjadi sangat lama sekali. Ulysses tertawa lebar dengan wajah penuh
kegembiraan, sementara suara Edgar terdengar sangat ceria.
"Tuan,
penantian panjang kita tidak sia-sia, ya."
"Tentu
saja! Mengadakan pesta di rumah sendiri biasanya merepotkan, tapi hari ini
rasanya menyenangkan sekali sampai aku sulit memahaminya!"
Bagi keluarga
Clausel yang masih termasuk bangsawan kelas bawah, pembicaraan ini terasa cukup
berat. Satu-satunya hal yang bisa disyukuri adalah mereka sudah mulai terbiasa
berinteraksi dengan Ulysses.
Obrolan
dengan anggota keluarga Ignart berlanjut selama beberapa jam berikutnya. Waktu
berlalu dengan sangat cepat. Cahaya yang masuk dari jendela besar sudah
melewati sinar matahari sore, dan perlahan mulai meredup.
"Viscount
Clausel."
Ulysses
membuka suara sesaat sebelum jamuan ini berakhir.
"Bagaimana?
Setelah ini, jika tidak keberatan, ada urusan bisnis yang ingin saya bicarakan
sedikit."
"Apakah
tidak apa-apa? Tapi, matahari sudah mulai terbenam."
"Ah
tidak, jangan khawatir soal keluarga kami."
Pelayanan
keluarga Ignart sangat sempurna, bahkan jauh melampaui kata cukup.
"Bagaimana
kalau Anda sekalian menginap saja?"
"Menginap?
Maksud Anda, di rumah ini?"
"Iya.
Saya dan para pelayan akan senang jika Anda bersedia, jadi silakan."
Ada sebuah
ruang kerja milik Ulysses yang sebelumnya juga pernah dikunjungi oleh Chronoa
dan Radius. Ren
yang dipanggil pun ikut hadir dan mendengarkan pembicaraan di sana.
Malam
sudah benar-benar tiba, dan cahaya jingga hanya tersisa sedikit di luar
jendela.
"Permisi."
Edgar
datang di tengah pembicaraan dan menyerahkan setumpuk kertas yang diikat tali
kepada Ulysses.
"Ini
laporan mengenai Kota Tua."
Edgar
segera meninggalkan ruang kerja. Hanya tersisa Ulysses selaku pemilik ruangan,
bersama Ren dan Lezard.
"Ternyata
sudah waktunya, ya."
Ren
bereaksi terhadap gumaman Ulysses.
"Ada
sesuatu yang terjadi di Kota Tua?"
"Bukan
hal besar. Semacam laporan rutin saja. Bukankah hal ini sempat dibahas di
Department of Mysteries? Bahwa Kota Tua adalah tempat yang diawasi."
"Iya.
Karena itulah saya jadi penasaran sekarang."
"Kalau
begitu ceritanya jadi mudah. Kota Tua perlu dipatroli secara berkala, dan ini
adalah laporan mengenai hal itu."
Ulysses yang membaca isi kertas
tersebut berucap, "Sudah kuduga."
Mungkin karena isinya sesuai dengan
perkiraannya sehingga ia bisa memastikannya dengan cepat, atau mungkin karena
ada Ren dan Lezard di sini sehingga ia hanya membacanya sekilas.
"Tapi
tetap saja, reaksi yang sama lagi, ya."
Ren bertanya
kembali.
"Reaksi
yang sama?"
"Ah
tidak, ini hal yang sudah sering terjadi sebelumnya. Penyelidikan Department of
Mysteries menyimpulkan bahwa cahaya itu berasal dari perangkat magis yang
tenggelam yang menunjukkan reaksi tertentu. Tentu saja, sudah diperiksa apakah
cahaya itu merupakan sinyal bahaya atau bukan. Sepertinya itu hanya cahaya yang
menunjukkan bahwa perangkat tersebut masih beroperasi."
Laporan
tersebut sampai ke tangan Ulysses untuk berjaga-jaga. Selain itu, sekarang
memang sudah waktunya mengirim personel secara rutin, tapi Ulysses
memprioritaskan waktu bersama tamu-tamunya dan memutuskan untuk memikirkannya
nanti.
Namun...
"Kota
Tua────"
Ren
menggumamkan kata-kata yang menunjukkan ketertarikannya.
"Kalau
kau penasaran, mau coba pergi ke sana?"
Mendengar
gumaman itu, Ulysses memberikan tawaran dengan nada suara yang santai seperti
biasanya.
"Saya
memang penasaran, tapi bukankah masuk ke Kota Tua memerlukan izin?"
"Kalau
soal itu, tenang saja. Kota Tua bukan tempat yang sama sekali tidak boleh
dimasuki orang luar. Biasanya ada kesempatan untuk berkunjung dengan
syarat-syarat tertentu."
Sebagai aset
budaya yang penting, tidak sedikit orang yang ingin melihat Kota Tua secara
langsung. Karena itu, kesempatan untuk berkunjung dibuka secara berkala. Saat
ini memang bukan jadwalnya, tapi itu bukan masalah besar.
"Anggap
saja kalian pergi sekalian untuk membantu melihat-lihat keadaan di sana."
Ulysses
merujuk pada patroli yang tadi dibahas. Ini bisa dianggap sebagai pemberian
kemudahan, tapi bisa juga dianggap sebagai permintaan bantuan pekerjaan.
"Aku
dengar kau pernah melakukan pekerjaan serupa di Clausel. Aku yakin kau akan baik-baik saja meski pergi ke Kota
Tua, jadi tidak masalah. Pergilah berkunjung sekalian menganggapnya sebagai
pekerjaan setengah waktu. Aku akan memberi tahu detail pekerjaan yang
kuinginkan nanti."
Seperti
biasa, keputusannya sangat cepat dan ia penuh dengan inisiatif. Ulysses terus
melanjutkan pembicaraan tanpa ragu sedikit pun.
Setelah
pembicaraan selesai, Ren yang sedang berjalan di dalam kediaman Marquis Ignart
menemukan seorang pelayan di dekatnya.
"Permisi.
Saya ingin pergi ke tempat Nona Fiona dan yang lainnya, tapi saya tidak tahu di
mana mereka sekarang."
"Kedua
nona ada di kamar pribadi Nona Fiona. Mari saya antar."
"Heh…… di kamar Nona Fiona……"
Tiba-tiba
Ren bergumam "Hm?" dan menghentikan langkahnya. Pelayan itu pun segera berhenti dan menoleh ke arah Ren.
"Tuan
Ashton, ada apa?"
"Anu,
tadi Anda bilang di kamar Nona Fiona, kan?"
"Benar."
Jawaban singkat yang sangat mudah dimengerti.
"Sepertinya
Nona Clausel juga sedang asyik mengobrol bersama di kamar pribadi Nona kami.
Karena waktu makan malam sebentar lagi tiba, saya akan memanggil mereka kembali
saat waktunya tiba."
"Be-begitu
ya……"
Ren tidak
terlalu memedulikan soal waktu makan malam, tapi lokasi mereka lah yang
membuatnya kepikiran.
Tidak masalah
jika Licia pergi ke kamar putri Marquis. Dia adalah putri dari keluarga
Viscount, dan melihat hubungan mereka berdua, hal itu tidaklah aneh.
Di sisi lain,
Ren adalah anak seorang ksatria. Ia merasa tidak sopan jika harus melangkahkan
kaki ke kamar pribadi putri seorang Marquis.
"Sepertinya,
aku akan pergi ke kamar tamu yang sudah disiapkan untukku saja."
Baru
saja Ren hendak berbalik, pelayan itu langsung menyahut tanpa jeda.
"Ada
apa tiba-tiba?"
"Tidak,
aku merasa tidak pantas jika seorang lawan jenis pergi ke kamar seorang putri
bangsawan."
"Tenang
saja. Saya rasa tidak akan ada masalah."
"……Haa."
Tidak
masalah, ya. Begitukah.
Ren sudah
berkali-kali mendengar sendiri bahwa mereka ingin menjamunya karena ia adalah
sosok penyelamat. Dan jika Licia juga diundang ke sana, mungkin tidak aneh jika
ia masuk ke kamar Fiona dalam posisi seperti pengiringnya.
Setelah
memikirkan beberapa hal, Ren menarik kesimpulan.
"Nggak,
tetap saja tidak mungkin."
Namun
karena pelayan itu terus mendesaknya dengan berkata "Mari, mari",
akhirnya Ren berjalan sampai ke depan kamar Fiona.
Langkah
mereka terhenti di depan sebuah pintu besar.
"Kalau
begitu Tuan Ashton, silakan nikmati waktu Anda dengan santai."
Pelayan
itu pergi meninggalkan Ren di depan kamar Fiona. Itu adalah bentuk perhatian
sang pelayan agar tidak mengganggu Fiona dan Ren, namun Ren tidak
mengetahuinya.
Meskipun
bagi Ren yang ditinggalkan ini adalah situasi yang tak terduga, ia
menganggapnya memang sudah prosedurnya dan mengetuk pintu.
Tak lama
kemudian pintu terbuka, dan Fiona melongokkan wajahnya dari celah pintu.
"Ren-kun,
silakan masuk!"
Ren masuk ke
dalam kamar seolah diajak olehnya. Di dalam, barang-barang tertata dengan
sangat rapi, seolah mencerminkan kepribadian gadis itu. Aroma bunga yang manis tercium dari
rambut Fiona setiap kali ia bergerak.
"Eh?
Licia tidak ada di sini?"
Fiona tidak
bisa tiba-tiba memintanya memanggil namanya tanpa embel-embel "Sama".
Ia sendiri merasa sedih karena merasa tertinggal dalam hal kedekatan, namun ia
menyemangati dirinya sendiri dalam hati bahwa semua tergantung usahanya mulai
sekarang.
"Nona
Licia tadi sempat pergi ke kamarnya sebentar. Sepertinya barang-barangnya dari
penginapan sudah sampai, jadi ia pergi untuk mengeceknya."
Pantas saja
dia tidak ada. Kalau begini, berarti mereka hanya berdua saja di dalam kamar.
Ren menyadari hal itu dan...
"Eh."
Ia terpana
dan bertanya-tanya apakah situasi ini benar-benar diperbolehkan. Namun karena
Fiona tampak tidak keberatan, Ren jadi pusing sendiri memikirkan apakah dia
yang terlalu berlebihan dalam merespons.
Di sisi lain,
Fiona hanya tidak menunjukkannya di wajah. Kenyataannya, jantungnya berdebar
sangat kencang sampai ia merasa dadanya akan meledak.
Di samping
Ren yang dipersilakan duduk di kursi dekat jendela, Fiona menempelkan tangan ke
dadanya yang berlimpah untuk menenangkan diri. Ia tidak boleh terus-menerus
menjadi gadis yang hanya bisa gugup atau tersipu.
"Re-Ren-kun!"
"Iya,
ada apa?"
Mendengar
suara Fiona yang terasa lebih bersemangat dari biasanya, Ren berusaha menjawab
dengan suara setenang mungkin.
"Balas
budi yang aku janjikan sebelum meninggalkan Pegunungan Baldur, bolehkah aku
melakukannya sekarang……?"
Kata-kata itu
diucapkan dengan sungguh-sungguh, dengan suara yang gemetar dan kedua mata yang
lebih berkilau dari permata serta digenangi air mata.
Ren terkejut
mendengar suara yang begitu mendalam itu, lalu ia teringat akan masa lalu. Saat
ia menghabiskan satu malam bersama Fiona di Pegunungan Baldur.
『Kita akan bertemu lagi. Karena aku
sudah diundang oleh Marquis Ignart.』
『Benar! Kalau begitu, izinkan aku
menjamumu saat itu! Untuk tehnya…… aku
akan berlatih setiap hari sampai hari itu tiba! Aku akan terus berjuang agar
kemampuanku diakui oleh semua pelayan juga……!』
Di musim dingin itu, setelah
pertempuran di mana Naga Legendaris bangkit kembali...
『────Itu
janji, ya?』
Keduanya memang benar-benar bertukar
janji itu sebelum berpisah.
Di atas meja,
satu set peralatan teh sudah disiapkan. Begitu Ren mengangguk, Fiona mulai bergerak dan
menyeduh teh dengan gerakan tangan yang sedikit tegang.
Ia sudah
berjuang demi hari ini. Baik di Ibu Kota maupun di akademi, ia bisa saja
menjamu Ren dengan teh kapan pun ia mau. Namun demi hari ini, Fiona tidak
menyerah dan terus berusaha meski ia tidak pandai dalam hal itu.
Aroma uap
yang keluar dari teko teh memiliki keharuman yang tidak bisa dibandingkan
dengan saat di Pegunungan Baldur dulu. Ren mengamati Fiona dalam diam.
Terdengar
suara air yang dituangkan. Warna teh yang dituang ke dalam cangkir adalah warna
cerah yang bening, antara cokelat dan oranye. Cangkir yang diletakkan di atas
piring kecil itu kemudian disodorkan dengan lembut ke depan Ren.
"Kalau
tidak enak, jangan dipaksa minum ya……!"
Ren
tertawa mendengar suara itu. Wajah Fiona yang tadinya terlihat cemas kini
tampak terkejut.
"Kamu
mengatakan hal yang sama seperti waktu itu."
"Habisnya…… aku khawatir……"
"Aku kan sudah bilang kalau aku
juga suka teh di malam itu. Jadi, aku ingin kamu jangan khawatir…… boleh aku mencicipinya?"
Mendengar hal
itu, Fiona tampak memantapkan hatinya────
"Silakan!"
Ia kembali
menempelkan tangan ke depan dadanya, mengangguk sambil merasakan detak
jantungnya sendiri. Saat
Ren mengangkat cangkir teh, terdengar suara gesekan pelan dengan piring
kecilnya.
Meskipun
jelas hanya butuh beberapa detik baginya untuk membawa cangkir teh itu ke
mulut, bagi Fiona rasanya sangat lama, seperti hitungan menit atau bahkan jam. Jakun Ren bergerak naik turun saat ia
menelan satu tegukan.
Ia
mengembuskan napas, lalu tersenyum lembut.
"Ini teh
paling enak yang pernah kuminum seumur hidupku."
Itu bukan
sekadar basa-basi, ia benar-benar merasakannya dari lubuk hati terdalam.
Entah apakah
perasaan Ren tersampaikan pada Fiona, gadis itu tidak bertanya apakah itu benar
atau tidak. Ia hanya merasa sangat bahagia.
Dada Fiona
yang tadi berdegup kencang seperti alarm kini dipenuhi oleh perasaan hangat
yang tak terlukiskan karena cinta.
Seluruh
tenaganya seolah menghilang. Fiona pun langsung jatuh terduduk di atas karpet
begitu saja.
"Nona
Fiona!?"
Ren
yang khawatir segera berdiri dan berjongkok di depannya. Kaki ramping dan
lembutnya yang menyembul dari balik rok tampak tertekuk dengan kedua lutut yang
saling menempel rapat.
"……Ahaha."
Fiona tertawa
sambil menyipitkan mata.
"Itu…… saking senangnya, tenagaku
sampai hilang."
Ia
mengatakannya sambil menggoyangkan rambut hitamnya.
Beberapa
menit kemudian Licia kembali, dan mereka bertiga mengitari satu meja yang sama.
Topik
tentang Kota Tua yang tadi dibahas sebelum datang ke kamar Fiona pun terangkat.
Keduanya secara serentak bersuara bahwa mereka ingin ikut pergi bersama, bahkan
lebih antusias dari yang Ren bayangkan!
"Nanti
aku akan tanyakan pada Ayah dan yang lainnya, ya."
Saat
ditanyakan di meja makan, Ulysses dan Lezard menjawab "Boleh saja"
dengan nada santai seperti biasanya.
Bagi Fiona,
itu adalah malam yang spesial. Hanya dengan fakta bahwa Ren berada di rumah
yang sama sampai larut malam saja sudah membuatnya sangat gugup sampai rasanya
kepalanya akan meledak, sekaligus merasa sangat senang.
Karena ingin
percaya bahwa ini bukan mimpi dan ingin mendengar suaranya sebelum tidur, ia
membayangkan kamar tamu tempat Ren berada.
Bagi Ren yang
biasanya, jam segini pasti belum waktunya tidur. Namun, meskipun ia tahu tidak
baik mengunjungi tamu di jam seperti ini, ia tidak bisa menahan diri dan
berjalan di koridor. Saat itulah hal itu terjadi.
"────Ah."
"────Ah."
Fiona dan
Licia yang muncul dari sisi kiri dan kanan koridor menuju kamar tamu Ren
mengeluarkan suara secara bersamaan.
Mereka
berhenti di depan kamar tamu, saling bertatapan, lalu mencoba memainkan ujung
rambut mereka atau mengeluarkan tawa kering yang dibuat-buat.
Apakah ini
namanya mencuri start? Tidak ada kesepakatan resmi memang, tapi sikap mereka
berdua menjadi kaku satu sama lain. Pada akhirnya, sebuah jalan tengah muncul
di kepala mereka.
"……Bagaimana
kalau untuk hari ini, kita mengobrol bertiga saja?"
Tanya Licia
yang kembali bersikap santai seperti saat siang hari.
"……Iya.
Sepertinya lebih baik begitu," jawab Fiona, dan mereka pun melakukan
gencatan senjata.
Karena dia
adalah anggota keluarga Marquis Ignart, Fionalah yang mengetuk pintu kamar Ren.
Namun karena tidak ada jawaban, mereka berdua berpikir mungkin Ren sudah
tertidur.
……Pada saat
itulah, Ren yang baru kembali dari mandi di pemandian besar atas kebaikan
Ulysses, melihat kedua gadis itu saat ia berbelok di koridor.
"Lagi
apa ya, mereka berdua?"
Ia
memiringkan kepalanya melihat mereka berdiri di depan kamar tamu. Sehabis mandi, ia menyeka setetes
keringat yang mengalir di dahinya dengan handuk.
Embusan
napas putih keluar di pagi hari yang penuh dengan embun beku.
Para
gadis yang merasakan angin dingin masuk melalui leher merasa sedikit menyesal
karena seharusnya mereka memakai syal tadi.
"Ngomong-ngomong
tadi Tuan Edgar bilang kalau begitu matahari terbit, udaranya akan langsung
jadi hangat……"
"Iya.
Aku juga berpikir begitu, tapi……"
"Tetap
saja, dingin ya……"
Fiona
yang lahir di Eupeheim dan sudah terbiasa dengan iklim daerah ini pun
mengatakannya sambil tersenyum kecut. Beruntungnya, tubuh mereka perlahan mulai
hangat saat mulai berjalan. Entah kenapa punggung mereka bertiga juga tampak
semakin tegak.
Pagi
buta di Eupeheim terasa ramai seperti di Erendil, namun pemandangannya berbeda.
"Dibandingkan
Ibu Kota atau Erendil, di sini banyak kereta yang ditarik monster ya."
Ren
menyadarinya saat sedang memperhatikan suasana kota.
"Karena
banyak barang dari pelabuhan yang harus dipindahkan, sepertinya lebih baik jika
ditarik oleh monster."
"Ah,
Eupeheim kan kota pesisir terbesar di Leomel, ya."
Mereka
menyusuri jalanan kota anggun yang dijuluki Mahkota Putih dan juga disebut Kota
Air tersebut.
Perjalanan
menuju Kota Tua yang menjadi tujuan mereka memang jauh, tapi rasanya tidak
buruk jika dianggap sebagai jalan-jalan santai yang panjang.
Fiona
terus berjalan memandu keduanya menuju luar kota sambil sesekali menjelaskan
tentang kota tersebut, namun tiba-tiba ia berhenti dan melihat ke arah saluran
air yang mengalir di samping mereka.
"……Sepertinya
alirannya masih belum lancar."
Di
Eupeheim terdapat banyak saluran air sejak zaman dahulu, namun sejak kemarin
aliran airnya memburuk dan penyelidikan sedang dilakukan di berbagai titik di
kota.
Ada
instansi publik yang menangani infrastruktur kehidupan seperti saluran air.
Anggota instansi tersebut sudah melakukan penyelidikan sejak kemarin dengan
memanfaatkan perangkat magis.
"Maaf
ya, aku tiba-tiba berhenti."
"Tidak
apa-apa. Kemarin aku juga sempat melihatnya karena penasaran."
Saat sedang
mengamati situasi, Ren yang mulai berjalan lebih dulu menemukan sosok yang ia
kenal di seberang saluran air.
Sarah, Vain,
Kaito, Nemu, dan Charlotte—seluruh anggota dari keluarga bangsawan agung ada di
sana. Seperti yang kudengar dari Licia kemarin, mereka pasti hendak menuju gua
itu sekarang.
"……Yah,
kalau tidak salah ingat, memang ada barang bagus yang tertidur di sana."
Gumamanku
tidak sampai ke telinga Licia.
Aku
mengatakan 'kalau tidak salah ingat' karena pengetahuan mengenai Legend of
Seven Heroes di kepalaku sudah mulai memudar, sehingga aku tidak terlalu
percaya diri.
Di
dalam gua yang tersembunyi di balik tanjung itu, tertidur sebuah perlengkapan
tertentu.
Sebuah
benda spesial yang disebut Hero Equipment.
Perisai
besar yang dulu digunakan oleh leluhur Kaito Leonard, salah satu dari Tujuh
Pahlawan, kini tertidur di bagian terdalam gua tersebut.
Ada
berbagai teori mengapa benda itu bisa tertidur di tempat seperti itu.
Dikatakan
bahwa setelah leluhur keluarga Leonard menyelesaikan pertempuran melawan Raja
Iblis dan kembali ke negaranya, perisai besar itu selalu berada di tangannya.
Namun, benda itu tidak pernah diwariskan ke generasi berikutnya.
Entah
dicuri oleh perampok, atau tertidur di dalam gua karena alasan lain, tidak ada
yang tahu pasti. Di keluarga Leonard sendiri, ada tradisi lisan yang mengatakan
bahwa sang Pahlawan sengaja menidurkan perisai besar itu setelah tugasnya
selesai.
Vain dan yang
lainnya pergi menuju luar kota tanpa menyadari keberadaan kami.
Mereka
menunggangi kuda yang telah disiapkan untuk menuju gua di sepanjang garis
pantai, sementara kami bertiga berjalan santai sambil menikmati pemandangan.
Kami
menyusuri jalan raya sambil berbincang ringan tentang hal-hal tidak penting.
Tak lama
kemudian, ujung jalan raya mulai terlihat. Itu adalah jalan yang menuju ke Kota
Tua yang tenggelam di dalam air.
Aku merogoh
saku dalam jaketku. Sambil menghentikan langkah, aku membentangkan peta Kota
Tua yang kuterima dari Ragna kemarin.
Dari sisi
kiri dan kananku, Fiona dan Licia mengintip ke peta itu hampir secara
bersamaan.
"Ini
peta yang kamu dapatkan dari orang Department of Mysteries itu?"
"Tanda
merah ini menunjukkan tempat di mana ada pintu yang tidak bisa dibuka?"
Aku
mengangguk.
"Tuan
Ulysses bilang aku boleh melihat-lihat sesukaku, tapi kalau dipikir-pikir,
karena sebagian besar sudah tenggelam, kita hanya bisa melihat dari dekat saja,
kan?"
"Tidak
juga, lho. Tergantung lokasinya, kita bahkan bisa pergi sampai ke dasar
air."
Seingatku,
Ragna juga pernah mengatakan hal yang serupa.
"Masih
ada beberapa perangkat magis yang berfungsi sampai sekarang, jadi ada
tempat-tempat yang memiliki udara, ya?"
Fiona
mengangguk mendengar pertanyaanku.
"Iya.
Karena area itu diperluas dengan perangkat magis yang dipasang oleh Department
of Mysteries, kita bisa berjalan dengan kaki sendiri bahkan di dasar air."
Di Kota Tua
yang tenggelam, terdapat banyak lapisan membran udara yang dihasilkan oleh
perangkat magis. Itu adalah salah satu jenis Defense System untuk
melindungi bangunan.
Berkat itu,
bagian dalam bangunan maupun jalanan yang tenggelam bisa dilewati seperti di
atas tanah tanpa perlu perlengkapan khusus────.
◇◇◇
Di pintu
masuk Kota Tua, tepat di bagian depan kota di mana orang-orang dulunya
melangkahkan kaki.
Saat aku
sedang menatap deretan bangunan tua dari jalan raya ke arah air, Fiona yang
berdiri di sampingku dan Licia berucap.
"Silakan
lihat ke sana."
Jika
diperhatikan baik-baik di dasar kota yang tenggelam itu, memang ada. Di tengah air tempat ikan-ikan
berenang, terdapat bagian yang dilapisi membran udara.
Ruang-ruang
yang dipenuhi udara tersebar di sana-sini, dan terlihat pula jalanan dengan
pemandangan serupa yang menghubungkan ruang-ruang tersebut. Di tengahnya,
tergeletak perangkat magis yang masih terus beroperasi.
Dari
sini tidak terlalu kelihatan jelas, tapi benda itu berupa logam seukuran lampu
jalan dengan Magic Stone di dalamnya.
"Jika
pergi ke sana, kita bisa melihat Kota Tua dari dasar air."
"Ngomong-ngomong,
apakah ada cara untuk pergi ke dasar air tanpa menjadi basah?"
"Tentu
saja. Serahkan panduannya kepadaku, ya."
Di
dekat kami terdapat dermaga yang masih baru, dan beberapa perahu tertambat di
sana. Setelah kami semua naik ke perahu, aku mulai mendayung dengan dayung atas
arahan Fiona.
Licia
bergumam sambil menatap tepat ke bawah Kota Tua dari pinggiran perahu.
"Kelihatannya
benar-benar berbeda dari tempat yang kulihat sebelumnya."
Beberapa
hari yang lalu Licia hanya memandangnya dari dekat jalan raya, bukan melihat
tepat dari atas seperti ini.
Kota
Tua yang membentang di bawah mata menciptakan dunia misterius dengan ikan-ikan
yang berenang di langit air.
Rasanya
seperti tersesat di dunia lain. Bangunan-bangunan yang hancur total atau
sebagian akibat serangan menciptakan pemandangan yang aneh.
Sambil
mendayung perahu, aku berkata.
"Kita
juga harus melakukan pekerjaan patroli, ya."
"Pekerjaan
untuk memastikan kondisi monster di sekitar, atau memastikan tidak ada monster
di dalam air, kan?"
"Lalu,
tergantung situasinya, kita harus melakukan Subjugation…… atau begitulah
yang dikatakan Tuan Ulysses."
Setelah
mendayung perahu selama belasan menit.
"Ren-kun,
di sini tempatnya."
Perahu
berhenti di sebuah tempat yang dulunya adalah perpustakaan sebelum Kota Tua
tenggelam.
Di atas atap
yang tinggi terdapat dek observasi berbentuk lingkaran, dan di saat tenggelam
seperti sekarang, tingginya pas untuk menambatkan perahu.
Batu bata
abu-abu yang kusam tampak berlumut di beberapa bagian.
◇◇◇
Aku berdiri
lebih dulu dari mereka berdua, lalu turun dari perahu menuju dek observasi.
Aku
mengulurkan tangan membantu mereka berdua naik ke dek.
Pertama,
Fiona menyambut tanganku dengan wajah sedikit tersipu, lalu melompat turun
dengan langkah ringan. Selanjutnya Licia turun menyusul Fiona ke dek observasi
sambil tersenyum malu-malu.
Dek observasi
ini dirancang berbentuk lingkaran agar orang bisa melihat ke segala arah, dan
di tengahnya terdapat tangga spiral yang menuju ke lantai bawah.
Aku kembali
berjalan di depan mereka berdua untuk mengawal.
Di dalam
terasa remang-remang, cahaya dari luar hanya masuk sedikit melalui air lewat
jendela-jendela yang ada. Jika tidak hati-hati, rasanya bisa salah melangkah.
Tempat ini
pun banyak yang runtuh akibat dampak peperangan, tapi masih tergolong cukup
rapi.
"Di
perpustakaan ini, Department of Mysteries memasang perangkat magis agar
orang-orang bisa berjalan."
Jika
perangkat magis yang dikatakan Fiona dipasang di seluruh area Kota Tua, itu
sama saja dengan menguras seluruh air dari sana.
Namun, hal
itu tidak direalisasikan karena perangkat tersebut sangat mahal dan dampaknya
terhadap topografi sekitar terlalu besar.
Dalam hal
ini, memang pantas disebut sebagai teknologi Tujuh Pahlawan, Milim Althea.
Teknologi
untuk terus mempertahankan Kota Tua yang tenggelam dengan tepat adalah sesuatu
yang agung, bahkan melampaui teknologi zaman sekarang.
◇◇◇
Meski tangga
spiral dikelilingi oleh pegangan tangan, tidak ada dinding di sekitarnya
sehingga kami bisa menikmati pemandangan yang penuh rasa kebebasan.
Begitu sampai
di lantai dasar yang dulunya paling luas, kami tiba di tempat di mana rak-rak
buku berjajar rapi. Bentuk dindingnya menyerupai kipas, mengikuti bentuk
bangunan.
"Rak
bukunya ada banyak, tapi buku yang penting malah tidak ada satu pun ya."
"Sepertinya sebagian besar hanyut
terbawa air atau terbakar…… Tapi, buku-buku yang tersisa sudah disimpan oleh
Department of Mysteries. Karena perpustakaan ini juga digunakan oleh
orang-orang dari Department of Mysteries, pengelolaannya sangat terjaga."
Aku mengangguk paham mengapa tempat ini
begitu bersih, lalu menemukan sebuah pintu besar di depan. Itu adalah pintu
untuk keluar dari perpustakaan.
Aku perlahan mengulurkan tangan dan
menggenggam gagang pintunya.
Begitu pintu ganda yang besar itu
terbuka────
"……Inikah,
Kota Tua."
Pemandangan
kota yang fantastis menyambut kami.
Langit air
menutupi seluruh kota. Saat permukaan air bergoyang, cahaya yang menyerupai
aurora turun dengan lembut ke kota.
"Lihat,
Ren. Ikan-ikannya seperti berenang di langit air."
"Benar juga…… Ikan-ikan yang tadi
kita lihat dari perahu, sekarang bisa kita lihat dari dasar air."
Aku tidak bermaksud bicara puitis, tapi
memang kenyataannya begitu.
Selain itu,
di sisi dalam udara pun terdapat aliran air. Saluran air dari taman alam yang
dibangun di dalam Kota Tua juga terhubung hingga ke luar membran udara.
Ikan-ikan
berwarna-warni berenang di saluran air bagian dalam. Sedikit tanaman hijau yang
tersisa tampak merayapi rumah-rumah yang hancur sebagian.
"Aku
juga sangat terkejut saat pertama kali melihatnya."
Pemandangan
yang tidak biasa dilihat, pemandangan yang tidak ada duanya bahkan di Leomel
sekalipun.
Fiona tampak
menyelaraskan perasaannya dengan kami berdua yang terkejut melihat Kota Tua,
dan ia berjalan setengah langkah di depan kami.
Cahaya
seperti gelombang terus-menerus turun dari langit air.
Air yang
terpisah oleh dinding udara juga bergoyang pelan dan benar-benar bergerak. Kota
Tua seolah-olah waktu telah berhenti, namun sebenarnya ia terus berdenyut.
Mungkin bisa
digambarkan sebagai sebuah wilayah tersembunyi buatan.
Kota ini
memberikan kesan sejarah yang berbeda dengan "Penjara Waktu" di Roses
Kaitas tempat aku dan Licia terjebak musim panas lalu.
Gaya
arsitekturnya mencolok, tipe yang tidak bisa ditemukan di Eupeheim modern, Ibu
Kota, maupun Erendil.
Banyak
bangunan batu yang memiliki kesan lebih kokoh daripada zaman sekarang, mirip
dengan kuil.
Di antara
semuanya, yang menarik perhatianku adalah pelabuhan batu yang telah runtuh.
"Di sini
dulu ada pelabuhan juga, ya."
"Iya.
Tadinya Eupeheim memegang peran sebagai pelabuhan utama, tapi karena Kota Tua
adalah kota baru yang diharapkan pertumbuhannya, pelabuhan segera dibangun di
sini."
Di pelabuhan
yang hancur itu, terlihat beberapa bagian yang menembus keluar membran udara.
Ada rumput
laut yang tumbuh, dan bekas-bekas yang terkikis ombak dalam waktu lama.
Pemandangan
yang membentang di luar sana jelas berbeda dengan sisi dalam membran udara
tempat kami berdiri.
Fiona yang
menjelaskan hal itu mengalihkan pandangannya ke ujung pelabuhan.
"Di laut
lepas tepat di depan pelabuhan ini, ada pulau terpencil tempat dibangunnya
sebuah kuil kecil."
Meskipun
disebut kuil kecil, ukurannya tidak sekecil yang biasa ada, melainkan seukuran
rumah penduduk biasa.
Kami
bertiga melangkah dengan hati-hati agar tidak tersandung jalan batu yang retak.
Kami
berjalan lurus di jalan besar membelakangi perpustakaan tadi, tanpa sengaja
berbelok meski sesekali melirik ke jalan samping.
Di tengah
jalan, aku mengeluarkan peta Kota Tua.
"Sepertinya
kita harus terus lurus."
Laporan yang
diterima Ulysses kemarin menyebutkan bahwa ada cahaya yang terkonfirmasi di
dalam air.
Karena aku
sudah mendengar lokasinya dari Ulysses kemarin, kami menuju ke arah tersebut.
Perbatasan
antara udara dan air terlihat persis seperti pola cahaya yang turun dari
permukaan air yang bergoyang tenang. Sensasi masuk ke dunia lain ini tidak bisa
dibandingkan dengan hanya melihatnya dari luar.
"Eh?"
Aku
yang sedang melihat peta menghentikan langkah dan mengalihkan pandangan ke arah
tertentu.
Kota
Tua memiliki banyak rumah batu yang mirip dengan Eupeheim.
Di
antaranya, berdiri satu bangunan yang ditandai dengan titik merah oleh Ragna di
peta.
Fiona
yang berada di sampingku menyadari hal itu dan memanggil, "Ren-kun?".
"Ada
sesuatu yang mengganggumu?"
"Sedikit
saja. Katanya tempat di
mana cahaya itu terkonfirmasi ada di depan sini, tapi────"
Aku
menatap peta dengan saksama dan berulang kali memastikan.
……Ya.
Tidak salah lagi.
Tanda
merah yang dibuat Ragna dan lokasi di mana cahaya itu terkonfirmasi berada di
tempat yang sama.
Begitu
aku menyadari hal itu dan menceritakannya kepada mereka, keduanya pun terkejut
dengan kebetulan ini dan ikut menatap peta.
"Berarti
itu tempat yang katanya pintunya tidak bisa dibuka, ya."
"Kalau
begitu Ren-kun, yang bisa kita lakukan mungkin hanya melihatnya dari luar……
saja, kan?"
"Mungkin
memang hanya itu yang bisa kita lakukan."
"Tapi
Ren, bagaimana kalau pintu masuknya terbuka?"
Bukannya
memikirkan apa yang harus dilakukan jika terbuka, aku malah terpana duluan.
Pertanyaan
Licia memang masuk akal, tapi……
"Sebaliknya,
kenapa kamu berpikir pintunya akan terbuka?"
"Cuma
perasaan saja, tidak ada alasan khusus kok."
Licia
tertawa, menyiratkan bahwa kata-katanya tadi bukan dari lubuk hati. Mungkin dia
hanya ingin menjahiliku saja.
"Pokoknya,
kita coba pergi sampai ke dekat sana saja. Siapa tahu pintunya terbuka karena
suatu hal, atau setidaknya kita harus memastikan apakah ada perubahan
lain."
"Lagipula
kita ke sini juga dalam rangka pekerjaan, kan."
"Benar
juga. Kalau begitu Nona Fiona, bolehkah kita pergi ke sana?"
"Iya.
Mari kita pergi melihat keadaannya."
Setidaknya
aku ingin memastikan dari dekat.
Aku berjalan
memimpin mereka berdua yang menyetujui usulanku.
Ikan-ikan
berwarna-warni di luar membran udara tersinari oleh cahaya matahari yang
menembus air. Sosok
mereka yang berenang dengan anggun dan bebas terlihat di dekat kami bertiga.
"Kota
yang benar-benar indah…… Seandainya
tidak ada serangan pasukan Raja Iblis, mungkin sekarang pun kota ini masih
makmur."
"Ngomong-ngomong,
suasananya mulai berubah lagi sejak kita meninggalkan area perpustakaan
ya."
"Etto────
aku rasa itu karena area di sekitar sini dulunya adalah distrik tempat para
bangsawan tinggal."
Kami
menyusuri distrik bangsawan tua itu sesuai peta, lalu menghentikan langkah di
depan tempat yang sepertinya ditandai dengan titik merah.
Di ujung
distrik bangsawan tua, ada sebuah bangunan yang tersisa dengan tenang di antara
rumah-rumah yang telah lapuk.
Pada kaca
patri di atas pintu masuknya, terdapat motif yang menyerupai adegan dari
lukisan suci atau semacamnya.
Entah siapa,
tapi ada gambar seorang gadis kecil yang berjalan di atas rumput hijau.
"Mungkin ini bangunan
gereja?"
Licia berucap setelah memikirkan
penampilan bangunan tersebut.
Di sekitar bangunan yang diduga Licia
sebagai gereja itu terdapat sebuah taman. Pohon-pohon yang dulunya ditanam
sudah tidak ada lagi, namun rumputnya tetap hijau segar.
Tetapi aku menyahut, "Mungkin
bukan," sambil menatap peta.
"Karena sepertinya ada area di
dekat perpustakaan di mana kuil-kuil berjejer, jadi mungkin ini bangunan
lain."
Meski ada banyak sekali dewa, pada
dasarnya semua kuil itu besar. Besarnya sampai-sampai kediaman bangsawan biasa
tidak akan bisa menandinginya.
"Sepertinya
kita bisa masuk ke dalam pekarangannya, mau coba ke sana?"
Gerbang besi
itu sepertinya tidak ada hubungannya dengan perangkat magis, karena aku pun
bisa membukanya.
Kami bertiga
menyusuri jalan setapak dari ubin batu yang berjejer di atas rumput di balik
gerbang, lalu berdiri di depan pintu berwarna cokelat tua yang tidak terlalu
korosi.
Di sini Fiona
menyadari sesuatu.
"Mungkin
tempat ini adalah panti asuhan."
"Eh?
Bagaimana Anda bisa tahu?"
Saat aku
bertanya, Fiona menyahut, "Coba lihat ke sana."
Yang kami
lihat adalah sebuah papan kayu tua. Papan yang berdiri di tengah jalan yang
menghubungkan taman dengan pintu bangunan itu sudah hampir tidak berbentuk lagi
akibat kerusakan dari serangan.
『Panti Geno』
Begitulah
yang tertulis di papan itu. Hanya dengan ini memang belum bisa dipastikan bahwa
ini adalah panti asuhan, tapi begini dugaan Fiona.
"Ada
juga mainan dengan ukuran yang biasa digunakan anak kecil…… dan namanya juga
tidak terdengar seperti nama gereja."
Department of
Mysteries juga memiliki dugaan serupa, namun karena pintunya tidak bisa dibuka,
bagian dalam bangunan belum bisa diselidiki. Karena itu, Department of
Mysteries pun belum bisa memastikan bahwa tempat ini adalah panti asuhan.
Kami bertiga
melangkah lebih jauh sambil berpikir bahwa tempat ini mungkin panti asuhan,
lalu berdiri di depan pintu yang dikatakan Ragna sebagai "Pintu yang Tak
Terbuka".
Ukuran
pintunya beberapa kali lipat lebih besar dibanding rumah rakyat biasa, namun
tetap saja skalanya lebih kecil dan terasa imut jika dibandingkan dengan kuil
atau gereja pada umumnya.
"Apakah
tidak apa-apa kalau aku menyentuh pintu ini?"
"Iya.
Tidak apa-apa kok."
Licia
mengulurkan tangannya ke arah pintu dan menyentuh pengetuk pintu logam yang ada
di samping gagang pintu.
Tok,
tok────.
Ia mencoba
mengetuk pintu dengan pengetuk itu, namun tidak ada reaksi sama sekali.
Licia pun
sudah tahu hasilnya akan begitu, tapi ia merasa segan untuk langsung
menggenggam gagang pintu. Jika dipikirkan apakah kesopanan seperti itu
diperlukan di sini, memang ada keraguan, tapi ini masalah perasaan.
"……Tidak
terbuka."
Ia lanjut
menggenggam gagang pintu dan mencoba memutarnya, tapi hasilnya pun sesuai
dugaan.
Karena ini
adalah kunci yang menggunakan perangkat magis, pintu itu tidak bergerak sedikit
pun.
"Ngomong-ngomong,
kenapa Licia kelihatan tidak puas begitu?"
"Sebenarnya
tadi aku sedikit berharap pintunya tiba-tiba terbuka."
"Ah…… pantas saja."
Meski Licia sedikit memanyunkan
bibirnya, dia tidak serius.
"Tapi, pintu yang selama ini tidak
bisa terbuka tidak mungkin terbuka tiba-tiba, ya."
Ia segera tertawa dan melepaskan
tangannya dari gagang pintu, lalu menengadah menatap bangunan ini. Karena
bangunan ini tidak setinggi perpustakaan, membran udara terlihat sedikit jauh
di atas.
Selain itu,
pandangan Licia tertuju pada kaca patri.
Gambar apa
itu? Aku bertanya-tanya.
"Apakah
kalian berdua merasa pernah melihat gambar pada kaca patri itu?"
"Aku
rasa gambarnya indah, tapi sepertinya aku belum pernah melihatnya."
"Aku
juga baru pertama kali melihat gambar itu."
Apakah
gambarnya memang tidak meniru sesuatu yang spesifik?
(Mungkin saja
memang begitu.)
Karena ini
adalah hiasan untuk memperindah bagian depan panti asuhan, mungkin desainnya
lebih mengutamakan ketenangan yang sesuai dengan tempat ini daripada meniru
sesuatu.
"Mungkin
orang-orang dari Department of Mysteries tahu itu gambar apa."
Aku
menengadah menatap kaca patri itu bersama mereka berdua.
Karena ingin
melihat dari tempat yang sedikit lebih jelas, mereka berdua menjauh dari Pintu
yang Tak Terbuka.
Sedangkan
aku...
"Pintu
yang Tak Terbuka, ya."
Aku
tetap berada di depan pintu dan menatap pengetuk yang ada di samping gagang
pintu.
Pada
pengetuk logam berwarna kuningan itu, tertanam sebuah batu yang memancarkan
warna mirip Sapphire biru. Pasti inilah perangkat magisnya, yang membuat
pintu ini menjadi Pintu yang Tak Terbuka. Selain itu, bukan hanya pintu, kaca
jendela bangunan ini pun dilindungi oleh kekuatan sihir yang tidak kasat mata.
Membran
udara pada awalnya hanyalah efek samping dari struktur yang dibuat sebagai
semacam pelindung. Itu adalah fungsi tambahan untuk melindungi orang-orang di
dalamnya.
"Walaupun
diketuk seperti ini, tidak akan ada arti────"
Bukannya aku
berpikir bahwa pintunya akan terbuka.
Aku hanya
mengulurkan tangan kanan yang menganggur seolah ingin menghibur diri, sambil
berpikir bahwa sangat jarang terjadi reaksi cahaya akibat bekerjanya perangkat
magis yang terkonfirmasi seperti ini.
Namun────
Begitu aku
mengetuk pintu yang kokoh itu, terjadi perubahan yang tidak terduga.
"Eh?"
Di depan
pandanganku, saat aku mengeluarkan suara yang terdengar payah, batu yang
terpasang pada pengetuk pintu itu berkedip-kedip.
Melihat batu
itu memancarkan cahaya biru berulang kali, Licia dan Fiona yang menyadari hal
itu segera berlari menghampiriku.
"Ren!?
Apa yang kamu lakukan!?"
"Ren-kun!?
Apakah kamu tahu cara membukanya!?"
"Ti-tidak
tahu! Aku hanya mengetuk pengetuk pintunya saja!"
Hanya itu
yang bisa kukatakan.
Saat kami
bertiga yang kebingungan saling menatap wajah satu sama lain dan menatap pintu
secara bergantian……
Sebuah suara
terdengar dari pintu. Pintu
itu terbuka dengan sendirinya sambil mengeluarkan suara gesekan kayu yang berat
dan dalam.
Kami
semua yang melihat ruang luas yang membentang di dalam sana terdiam dengan mata
terbelalak selama belasan detik.
Pintu
yang seharusnya tidak bisa terbuka, kini──── terbuka lebar.
Entah
mengapa, tiba-tiba saja karena aku menyentuhnya.
Karena aku
masih menyentuh pengetuk pintunya dan pintu itu terbuka ke arah dalam, aku pun
melangkahkan kaki sekitar dua langkah ke dalam bangunan begitu saja.
"Aku
tanya sekali lagi ya."
Licia
menatapku.
Aku yang
berada selangkah di depan menoleh ke arah Licia.
"Bagaimana
kalau pintu masuknya terbuka?"
"Apa
yang seharusnya kita lakukan ya kalau begini."
Di sini Fiona
memberikan usul.
"Sebagai
putri penguasa wilayah, karena pintunya tiba-tiba terbuka, ada keinginan untuk
sedikit memastikan keadaan di dalam……"
Meskipun
poros utama penyelidikan Kota Tua ada di tangan Department of Mysteries,
pengelolaannya sebagian besar dipegang oleh keluarga Marquis Ignart.
Tapi, kami
tidak bisa membiarkan Fiona mengeceknya sendirian.
Ren dan Licia
juga tertarik dengan Panti Geno, dan juga penasaran mengapa Ren bisa membuka
pintunya, jadi ini adalah kesempatan yang bagus.
Kami bertiga
sepakat untuk melihat keadaan di dalam sebentar dengan hati-hati agar tidak
merusak isinya.
Setelah
menenangkan diri dan melihat ke dalam bangunan, pertama-tama sebuah aula luas
menyambut kami.
Meskipun ada
kesan dingin karena terbuat dari batu, namun terasa juga kehangatan dari karpet
tua yang ada.
Ini adalah
pertama kalinya suara langkah kaki bergema di sini setelah ratusan tahun. Kami
berdua melihat sekeliling sambil menjaga jarak agar tidak terlalu jauh satu
sama lain.
"Sepertinya
benar-benar panti asuhan ya."
Di depan arah
pandanganku terdapat sebuah pintu masuk berbentuk lengkungan tanpa daun pintu.
Fiona dan
Licia mengintip ke dalam ruang tinggal yang terlihat di balik sana untuk
mengamati keadaan.
Aku
tetap berada di dekat para gadis sambil melihat ke dalam aula yang luas.
Di
sini diletakkan banyak meja besar, dan peralatan makan berserakan di lantai.
Apakah
anak-anak sedang makan saat serangan pasukan Raja Iblis terjadi dulu? Mengingat tidak ditemukan satu pun
jenazah, sepertinya mereka berhasil mengungsi.
……Itu.
Di ujung
aula.
Terpisah dari
jalan menuju ruang tinggal, ada sebuah pintu kayu berwarna putih kekuningan.
"Licia,
Nona Fiona."
"Iya."
Keduanya
menyahut panggilanku secara bersamaan dan menoleh.
Mereka berdua
berjalan beberapa langkah di belakangku sambil menghindari pecahan peralatan
makan yang berserakan.
Kami berdiri
di depan pintu yang ada di ujung aula, sebuah pintu yang dari kelihatannya
pasti terkunci.
Sama seperti
pintu di luar, saat Licia menggenggam gagang pintu, hanya terdengar suara
gemerincing saja dan tidak ada tanda-tanda akan terbuka.
Saat Fiona
mencoba pun hasilnya sama, hanya suaranya saja yang bergema di dalam panti
asuhan.
"Tapi
kalau Ren-kun yang menyentuh, mungkin akan terbuka lagi ya."
"Aku
juga memikirkan hal yang sama dengan Nona Fiona, bagaimana menurutmu,
Ren?"
Fiona
berucap sambil terkekeh pelan, dan Licia menganggukkan kepalanya.
Aku
berpikir sejenak, lalu...
"Bukankah
kalau yang ini jelas-jelas kunci fisik?"
Aku
memberikan jawaban yang tidak membantah maupun membenarkan.
Tidak
ada pengetuk pintu, dan tidak terlihat benda lain yang menyerupai perangkat
magis. Karena pada gagang pintunya terdapat lubang kunci, aku merasa tinggal
masukkan saja kuncinya.
"Mungkin
saja begitu, tapi tidak ada salahnya mencoba, kan?"
"Fufu,
hebat sekali ya kalau ini terbuka lagi."
"Meskipun
kalian berharap begitu, kunci yang di luar tadi mungkin terbuka hanya karena
kebetulan……"
"Jadi,
kamu tidak mau mencoba?"
Itu masalah
lain. Aku menggenggam gagang pintu setelah mereka berdua.
Lalu begitu
terdengar suara dari gagang pintu, gagang itu berputar tanpa perlawanan sama
sekali. Butiran kekuatan sihir yang bercahaya sempat muncul dari tanganku
menuju lubang kunci sesaat…… persis seperti pintu di luar.
Untuk yang
kedua kalinya, ini bukan lagi kebetulan, melainkan sebuah keniscayaan.
“…………”
“…………”
Seolah sudah
direncanakan, Licia dan Fiona menatapku dengan mata yang menatap tajam dan
dingin.
Selama
beberapa detik, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Anu…… kalian berdua?"
Mereka berdua adalah gadis yang cantik
dan juga imut.
Meski Ren ditatap dengan tatapan dingin
yang langka dari para gadis itu, dia tetap tidak mengerti situasinya meskipun
ditatap. Tidak ada hal
yang dia tahu selain fakta bahwa pintunya terbuka.
Ren yang bingung harus berbuat apa hanya menggaruk pipinya dan memalingkan wajah.
"Ren, jujur padaku."
"Ren-kun……
apa kamu benar-benar melakukan sesuatu?"
"Sayang
sekali, aku tidak melakukan apa-apa."
Hanya itu
jawaban yang bisa kuberikan. Ren melangkah lebih dulu memasuki ruangan di balik
pintu yang terbuka.
Tempat
itu tampak seperti ruang kerja dengan jendela besar. Beberapa rak buku berjejer
di dinding, dan hanya ada satu meja tua yang diletakkan di tengah ruangan.
Pemandangan
luar tidak terlihat dari jendela besar itu. Mungkin karena ruangan ini spesial,
dinding sihir pada kaca jendela menghalangi segalanya kecuali sinar matahari.
Lantai,
dinding, dan langit-langitnya terbuat dari batu yang sama dengan aula.
Ada
perapian di dinding, lengkap dengan kursi goyang dan karpet di bawahnya.
Seluruh
permukaan dinding di bagian dalam ruangan dihiasi dengan lukisan yang sama
dengan kaca patri di luar. Di depannya, terdapat sebuah altar untuk memanjatkan
doa.
Sebuah
kanvas kecil menyerupai bingkai foto yang diletakkan di atas altar tampak
terjatuh.
Ren
menegakkan kembali kanvas itu, lalu tersenyum saat melihat lukisan yang
tergambar di sana.
Selagi dia
melakukannya, Licia menyadari keberadaan laci di meja dan menariknya ke depan.
Di dalamnya
tersimpan beberapa pucuk surat dan satu koin hitam berkarat, mirip yang ada di
laboratorium Ragna.
"Biar
aku yang periksa."
"Iya,
aku mengerti."
Khawatir
jika ada jebakan, Ren mengulurkan tangannya untuk memeriksa. Amplop itu tampak
seperti kertas biasa, bukan alat sihir atau semacamnya.
Di
dalamnya terdapat perkamen tua yang terlipat. Saat membukanya, isinya ternyata bukan dokumen rahasia
yang istimewa.
"Geno,
apa maksudmu dengan surat tempo hari? Padahal kamu sendiri yang bilang kalau
kamu menyukai kisah petualanganku."
"Makanya
aku mengirimkan paket karena kupikir sesekali ingin memberimu oleh-oleh…… tapi
ya sudahlah. Ngomong-ngomong, perjalananku di Benua Langit sudah
berakhir."
Surat pertama
berakhir di sana. Ada sedikit bekas kerutan di sudut perkamen, seolah
penerimanya sempat meremasnya karena memikirkan sesuatu.
"Geno
ini, apa dia kepala panti asuhan ini?"
Licia
bertanya sambil mengintip surat itu dari samping. Fiona ikut mengintip dari
sisi berlawanan dan menanggapi ucapan Licia.
"Jika
benar, sepertinya ini surat dari teman kepala panti. Padahal di zaman serangan
Raja Iblis, sangat sedikit orang yang bisa pergi ke Benua Langit……"
"Benar
juga……. Katanya saat itu teknologi kapal sihir belum secanggih sekarang……"
Dahulu ada
masa di mana bepergian lewat laut bisa dilakukan dengan cara apa pun. Namun,
bepergian melalui jalur udara adalah hal yang berbeda pada zaman itu.
Keberadaan
Benua Langit memang sudah diketahui dunia, tetapi aksesnya tidak mudah. Orang-orang tidak bisa datang dan
pergi dengan gampang seperti saat ini.
"Ayo
lihat surat yang lain juga."
Ren yang
penasaran mengambil surat lainnya. Licia dan Fiona pun kembali mengintip surat
itu dari kedua sisi Ren.
"Aku
memaafkanmu karena sudah menyerahkan benih Dragon Eater yang kukirim ke
laboratorium alih-alih menanamnya. Mungkin itu memang salahku."
"Tapi
itu bunga langka, jadi tolong jaga baik-baik. Lalu, kemarin aku bertemu Milim
Althea di Benua Martel. Aku menemuinya diam-diam tanpa sepengetahuan enam orang
lainnya dan memintanya membuatkan berbagai hal. Dengan ini, aku bisa pulang ke
sana."
Milim Althea.
Nama itu adalah leluhur dari teman sekelas Ren, Nem Althea, sekaligus salah
satu dari Tujuh Pahlawan.
Ren, Licia,
dan Fiona tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka saat nama itu muncul.
"Lagi
pula, Dragon Eater bukannya monster yang sudah punah……?"
Licia
bergumam dengan suara tercengang, lalu Fiona menyambung.
"Itu
monster bunga raksasa yang memangsa bangsa naga. Seharusnya benih berharganya disimpan di Museum
Kekaisaran……"
"Kenapa
benih seperti itu diberikan kepada kepala panti asuhan? Ren, apa tidak ada nama
pengirim di amplopnya?"
"……Tidak
ada. Baik nama pengirim maupun nama penerimanya tidak tertulis."
Ketiga remaja
itu dikuasai rasa terkejut karena skala informasi yang tertulis jauh melampaui
dugaan mereka. Fiona kemudian menyadari sesuatu yang mungkin menjadi alasan hal
tersebut.
"Mungkin
memang ada situasi seperti ini."
Kemungkinan
surat ini dikirim melalui lembaga resmi atau serikat petualang sangatlah
rendah. Menurut Fiona, pertukaran surat pribadi seperti ini biasanya dilakukan
secara rahasia melalui pelayan khusus.
Artinya,
orang yang berkirim surat dengan sang kepala panti memiliki alasan khusus untuk
bersembunyi. Jika apa yang tertulis di surat itu benar, maka sudah pasti begitu
adanya.
Masih ada
satu surat terakhir yang tersisa. Ren mengeluarkan isinya dan mulai membaca.
"Apa
anak itu mau bicara denganku lagi? Dulu dia cuma mencari alasan untuk
mengusirku…… ah tidak, aku tidak bermaksud menjelekkan adik perempuan Geno,
tapi hatiku rasanya tidak tenang karena khawatir."
"Aku
tahu. Mungkin Geno yang sedang membaca surat ini juga berpikir agar aku diam
saja dan segera pulang. Jadi untuk sekarang, aku akan bergegas kembali."
Surat kali
ini memiliki perbedaan suasana yang terlalu jauh dengan sebelumnya. Ketegangan
di tubuh mereka bertiga pun sedikit mengendur.
Ren membaca
lembaran terakhir.
"Karena
perang melawan Raja Iblis masih berlanjut, aku mengerti kalau jumlah anak yatim
piatu sangat banyak. Tapi menurutku Geno juga pasti kesulitan karena posisi
aslimu."
"Kamu
pasti tidak suka dibilang begini olehku yang selalu bertindak nekat, tapi
tolong jangan memaksakan diri."
Bahkan
setelah selesai membaca, identitas Geno dan pengirim surat itu tetap tidak
jelas. Yang mereka tahu hanyalah si pengirim mengenal Milim Althea dan menyukai
adik perempuan Geno.
Meski begitu,
entah kenapa Ren merasa si pengirim adalah petualang bernama Ashton.
"Sebaiknya
kita bawa pulang surat-surat ini."
"Karena
Departemen Misteri juga akan terlibat, kurasa itu lebih baik. Apa sebaiknya
Ren-kun yang membawanya?"
"Akulah
yang dititipi peta, jadi surat-surat ini akan kuberikan pada Ragna-san."
Ren
memasukkan surat-surat itu ke dalam saku dalam jaketnya.
"Aku
akan memberitahu ayahku nanti."
Setelah itu,
perhatian mereka beralih ke lukisan dinding. Lukisan yang memenuhi dinding itu digambarkan tepat
di atas altar.
Namun,
perhatian Ren kembali teralihkan pada kanvas kecil yang ada di altar.
Gadis-gadis itu pun ikut memperhatikan benda yang tadi ditegakkan kembali oleh
Ren.
Di sana,
tergambar sosok sepasang pria dan wanita.
"Keduanya
terlihat sangat bahagia."
"Dan
lukisannya terasa sangat lembut…… aku bisa merasakan kalau pelukisnya sangat
menyayangi mereka berdua."
Fiona dan
Licia berbicara dengan senyum yang hangat. Tempat yang digambarkan dalam
lukisan itu tampak seperti bagian luar panti asuhan ini.
Itu adalah
lukisan pemandangan seorang gadis yang duduk di ayunan di sudut taman, dan
seorang pria yang menjaganya dari dekat. Pakaian santai si pria dan gaun si
gadis tampak kontras, namun lukisan itu memberikan perasaan hangat bagi siapa
pun yang melihatnya.
Gaya
lukisannya sangat mirip dengan lukisan dinding, kemungkinan besar dibuat oleh
orang yang sama. Licia dan Fiona tidak mengatakannya, namun mereka merasa wajah
dan aura lembut pria di lukisan itu mirip dengan Ren.
"Apa
kamu mau bergabung dengan kami setelah lulus nanti?"
"Tidak
mau."
Ragna
sedang menjamu Ren di laboratorium Departemen Misteri setelah mendengar laporan
tentang panti asuhan Geno. Di luar jendela raksasa ruangan itu, terbentang
pemandangan malam Eupheim yang indah.
"Lagi
pula, aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba aku direkrut."
"Kamu
sudah membuka pintu yang tidak bisa dibuka. Itu penjelasan yang cukup. Apa kamu
benar-benar tidak mau mempertimbangkannya? Aku menyukai kepribadianmu.
Bergabunglah sebagai asistenku."
"Itu
tidak cocok untukku."
"……Begitu
ya."
Ragna
tampak menyerah dengan mudah, namun dia terus menatap Ren.
"Lalu,
bagaimana kalau sebagai pegawai tidak tetap?"
Dia
ternyata belum benar-benar menyerah.
"……Kalau
aku punya waktu luang, mungkin aku bisa membantu sedikit."
"Itu
sudah cukup. Kamu tetap mau berteman denganku, kan?"
"Yah,
kurang lebih begitu."
"Baguslah
kalau begitu. ──Tapi tetap
saja, ini sangat menarik."
Setelah
meninggalkan panti asuhan, mereka mencoba memeriksa apakah pintu-pintu lain
yang tersegel juga bisa dibuka.
Namun,
pintu-pintu lain tidak bergerak sedikit pun, hanya panti asuhan yang bereaksi
terhadap Ren.
Ragna pun
menyebut ini sebagai fenomena yang penyebabnya tidak diketahui. Meski saat ini
ketertarikannya terhadap isi panti asuhan jauh lebih besar daripada mencari
penyebabnya.
"Aku
tidak mengerti lukisannya, dan aku belum pernah mendengar nama Geno. Mungkin itu nama panggilan, jadi aku
harus mencari di buku sejarah."
"Apalagi
si pengirim surat mengenal Milim Althea."
"Itu
tidak bisa dijadikan patokan utama. Menyelidiki hubungan manusia di zaman itu
sangatlah sulit. Jika dia hanya klien yang membayar jasa, maka tidak ada cara
untuk melacaknya."
"Ah…… kalau begitu, sepertinya
Departemen Misteri harus menyelidikinya pelan-pelan."
"Itu tidak buruk. Masa persiapan
sebelum festival adalah saat yang paling menyenangkan. Mengejar romansa sejarah juga sama saja."
Ragna
terlihat sangat gembira, seolah-olah dia ingin menari saat itu juga.
"Ah
benar. Kamu boleh membawa pulang lukisan yang tadi."
Maksudnya
adalah lukisan di kanvas kecil itu. Ren membawanya karena berpikir mungkin dia
bisa mengenali siapa sosok yang digambarkan di sana.
Mungkin itu
hanya alasan saja karena ukurannya kecil dan mudah dibawa. Sulit dijelaskan,
tapi Ren merasakannya lewat indra keenam yang tidak berdasar.
……Aku tidak
bisa bilang kalau lukisan itu seolah-olah minta dibawa pulang.
Berpikir
bahwa sebuah lukisan memiliki keinginan sendiri terasa gila, namun itulah yang
dia rasakan.
"Lukisan
itu indah, tapi hanya itu saja. Bahannya tidak spesial, tintanya pun tidak ajaib. Aku sudah memeriksa
apakah ada sesuatu yang tersembunyi di kanvasnya, tapi tidak ada apa-apa."
"Mungkin
punya nilai sejarah sebagai karya seni. Bukankah itu jenis romansa yang
Ragna-san sukai?"
"Aku
tidak membantahnya, tapi aku tidak lupa menghargai benda yang memberiku
romansa. Akan sangat mubazir jika hanya ditaruh di laboratorium."
"Tapi
apa boleh aku membawa pulang barang hasil penggalian?"
"Departemen
Misteri memang mengelola barang dari sana, begitu juga keluarga Ignart. Pengelolaan benda seni tanpa nilai
sihir adalah urusan mereka."
Itu artinya
Ren hanya perlu bicara pada Ulysses. Segala kejadian di kota tua juga sudah
disampaikan kepada Ulysses melalui Fiona.
"Pria
itu pasti akan bilang 'lakukan sesukamu'. Pajang saja baik-baik di kediaman
Erendil. Bukankah bagus melihat kedua orang di lukisan itu tampak
bahagia?"
"Benar
juga sih."
Waktu sudah
menunjukkan pukul sebelas malam. Ragna tiba-tiba menguap lebar.
"Lalu
ada juga soal koin hitam berkarat di dalam meja. Apa benda-benda
berkarat itu ada hubungannya dengan panti asuhan…… menarik sekali."
"Yah sudahlah, akan kuperiksa
nanti," ucap Ragna sambil menguap lagi. Ren kemudian menanyakan soal pintu panti asuhan yang
berhasil dia buka.
"Kenapa
ya hanya aku yang bisa membuka pintu itu?"
"Sudah
kubilang aku tidak tahu. Mungkin
Ren menyentuhnya tepat saat alat sihirnya berhenti bekerja, atau ada faktor
lain. Seperti yang kau tahu, alat sihir Milim Althea hampir tidak bisa
dianalisis."
"……Benar
juga ya."
"Bahkan
bagi keluarga Althea yang sekarang, itu adalah teknologi misterius yang sulit
dipahami. Di Leomell yang punya riset alat sihir terbaik dunia saja belum tahu,
jadi jangan terlalu berharap bisa tahu jawabannya saat masih hidup."
Ragna
mengatakannya dengan nada kecewa, lalu melanjutkan dengan malas.
"Intinya,
teknologi Shergard yang kubenci pun tidak akan bisa menganalisisnya."
Ren
bergumam heran dan bertanya.
"Ternyata Anda membenci
Shergard?"
"Tentu saja. Shergard sering melakukan
intervensi militer ke negara lain. Pernah suatu kali reruntuhan yang ingin kugali hancur karena terjebak
perang mereka."
"……Ah."
"Saat
itu, pasukan Kekaisaran Shergard-lah yang paling gencar menggunakan kekuatan
militer."
Ren
bertanya-tanya bagaimana reaksi Ragna saat mendengar reruntuhan itu hancur.
Apakah dia dikuasai amarah, atau terdiam karena kehilangan semangat, atau
mungkin keduanya.
Ren mencoba
mengalihkan topik pembicaraan.
"Teknologi
Shergard ternyata sehebat itu ya."
"Meski
menyebalkan, mereka adalah kekuatan militer nomor dua di dunia. Mereka
bangga dengan teknologi di segala bidang. ……Ngomong-ngomong, bukankah musim
panas lalu kamu bertemu dan bicara dengan orang Shergard?"
Ren mengangguk dan mengingat kembali
masa Festival Raja Singa.
"Atas rekomendasi Ulysses-sama,
aku bertemu dengan orang bernama Richter Leonhardt."
"Hooh,
itu orang besar."
Jarang-jarang
Ragna menunjukkan ketertarikan pada orang lain selain Ren atau Radius.
"Keluarga
Leonhardt adalah keluarga yang bekerja keras saat kerusuhan tempo hari,
kan?"
"Kerusuhan
yang meledak di keluarga Adipati Shergard itu maksudnya?"
"Ya,"
Ragna mengangguk setuju.
Di keluarga
Adipati Kekaisaran Shergard, ada dua saudara yang berselisih. Sang kakak berpendapat Shergard
harus melakukan intervensi di daerah konflik demi keuntungan negara.
Sebaliknya,
sang adik menentang karena menganggap pemikiran kakaknya sudah ketinggalan
zaman. Hal ini memicu perebutan takhta yang melibatkan bangsawan lain.
Keluarga
Richter Leonhardt dikenal sebagai keluarga ksatria yang setia melayani Shergard
secara turun-temurun. Meski
mereka berjuang menghentikan kerusuhan, akhirnya kedua saudara Adipati itu
sama-sama meninggal dunia.
"Entah
ke mana perginya istri dan anak perempuan sang adik."
"Bukankah
mereka menghilang untuk melindungi nyawa saat perebutan kekuasaan?"
"Benar.
Jika anak perempuannya masih hidup, dia pasti sudah dewasa sekarang."
Ragna
sang pengembara tas berkata dengan nada sinis.
"Semuanya
adalah ketidakadilan yang merajalela di dunia ini. Seseorang memang harus
menjadi kuat seperti Raja Pedang atau Penyihir Akademi Militer Kekaisaran agar
punya kebebasan."
Setelah
pembicaraan berat itu, mereka meminum teh untuk menenangkan diri. Ren berdiri dan berpamitan.
"Aku
pulang sekarang. Beritahu aku jika ada perkembangan lain."
"Ya.
Maaf sudah merepotkanmu hari ini──tidak, tunggu. Aku juga ikut."
Ragna
menghentikan Ren dan ikut berdiri meninggalkan ruangan. Dia berjalan menuju tas
raksasa miliknya di lorong dan mengulurkan tangan.
Tas
itu terbuka dengan sendirinya, dan Ragna merogoh ke dalamnya.
"Akan
kuberikan satu barang bagus dari koleksiku sebagai hadiah yang
kujanjikan."
Itu
adalah kotak kayu kecil dengan ukiran yang mudah dipegang dengan satu tangan.
Ren menerima kotak itu sambil bertanya.
"Ini
hadiahnya ada di dalam, kan?"
"Pertanyaan
bagus. Di dalamnya ada……"
Baru
saja dia ingin menjelaskan dengan ceria, pintu lift di ujung koridor terbuka.
Seorang peneliti Departemen Misteri muncul dan berlari mendekat.
"Ketua,
ada hal mendesak soal kejadian di kota tua."
"……Waktunya
buruk sekali. Ren, maaf tapi detail barangnya ada di catatanku di dalam kotak.
Baca saja sendiri."
"O-oke."
Tepat
sebelum Ren benar-benar pergi, sang peneliti kembali ke lift. Ren memutuskan untuk menanyakan satu
hal lagi sebelum mereka berpisah.
"Maaf
menanyakan hal aneh, tapi apa Anda pernah mendengar nama petualang bernama
Ashton?"
"Apa itu ─Ren! Jangan-jangan kamu sebenarnya punya keinginan untuk menjadi
sepertiku?! Makanya kamu menyebut petualang?!"
Ragna
terkejut luar biasa dan bertanya dengan suara penuh kegembiraan.
"……Maaf.
Lupakan saja."
"Yah,
tidak masalah…… tapi siapa Ashton si petualang itu?"
"Eeeh…… sepertinya dia
leluhurku."
Ren menghindari detail yang sulit
dijelaskan dan hanya mengakuinya sebagai leluhur.
Dia tidak menceritakan soal Kakek Naga
yang didengarnya dari ayahnya, Roy, karena Fiona juga terlibat dalam insiden di
Pegunungan Baldor.
Meski dia mengatakannya, sepertinya
tidak akan ada jawaban yang jelas. Ragna mencoba berpikir kembali, namun tetap tidak menemukan apa pun.
"Aku
benar-benar belum pernah mendengarnya."
Bahkan
di dalam gudang pengetahuan Ragna, nama itu tidak meninggalkan jejak sedikit
pun. Petualang Ashton adalah sosok yang sangat misterius.
Mengingat
sosok yang bisa mengalahkan Asvar di masa kejayaannya tidak tercatat dalam
sejarah, pasti ada alasan yang sangat khusus. Ketidaktahuan Ragna justru
mempertegas betapa istimewanya sosok Ashton.
◇◇◇
Saat
keluar dari gua di sepanjang garis pantai, hari sudah gelap gulita. Berdiri di
atas pasir pantai, Sarah meregangkan tubuhnya dan menatap langit malam dengan
suara lega.
Langit
malam di sini berbeda dengan yang biasa dia lihat di Ibukota Kekaisaran.
Meskipun
dia tidak terlalu memperhatikan posisi bintang, dia tahu tempat ini sangat jauh
dari Ibukota.
Aroma air
laut menyelimuti mereka semua.
"Hei!
Sarah-chan!" panggil Nem dengan seringai jahil.
Sarah
menoleh, tepat saat Nem yang berdiri di tepi pantai memercikkan air laut ke
arahnya.
"Bagaimana
kala──hei Nem! Jangan menyiramkan air!"
"Fufufu!
Sarah-chan sendiri yang salah karena lengah!"
Melihat
keduanya mulai bermain, Charlotte pun ikut bergabung. Ketiga
gadis itu saling memercikkan air di tepi pantai dengan ceria.
Melihat
mereka bersenang-senang, Kaito tersenyum pada Vane. Wajah mereka tampak sedikit lelah.
"Apa
mereka tidak capek ya? Aku
sendiri rasanya ingin langsung tidur."
"Kita
sudah menjelajahi gua seharian, mungkin mereka ingin bermain karena pemandangan
di sini indah."
"Ooh…… begitu ya. Tapi air laut itu musuh alami
perisai-ku."
"Bukankah
Anda bilang perisainya menggunakan logam spesial? Apa masih bisa berkarat?"
"Yah,
begitulah. Hanya saja jauh lebih tahan karat dibanding logam biasa."
Kaito duduk
di sebuah batu besar di pantai. Ada batu serupa di sebelahnya, dan Vane ikut
duduk di sana. Gadis-gadis itu masih asyik bermain.
"Ngomong-ngomong,
Licia Krauzel kemarin kuatnya bukan main ya."
"Dia
pengguna pedang berat, dan sepertinya sudah di level Master Pedang."
"Ya. Itu
berarti kalau dia menggunakan teknik pedang suci, dia bisa sampai ke level
Sword Saint. Gila ya? Bagaimana orang seumuran kita bisa mencapai level Sword
Saint?"
"……Mungkin
dia sudah berusaha dengan sangat keras."
"……Kau
benar."
Selain bakat,
usaha keraslah yang paling menentukan. Vane saling melempar senyum dengan
Kaito, dan dalam hati dia bertekad untuk berusaha lebih keras lagi.
Vane
berdiri dan mendekati para gadis. Kaito melihat punggungnya sambil
bertanya-tanya siapa yang nantinya akan memenangkan hati Vane.
Vane
memanggil mereka yang sedang bermain.
"Teman-teman,
sudah waktunya pulang."
"Eeeh?!
Vane-kun juga ikut main…… wa-waa?! Sarah-chan?! Aku kan sedang bicara!"
"Kamulah
yang lengah, Nem!"
"Aaah,
menyebalkan! Kalau begitu, aku akan membalasmu habis-habisan!"
"A-anu, kalian berdua…… ini sudah
larut."
Melihat keduanya terus saling menyiram
air, Charlotte Lopheria berkata pada Vane dengan nada menggoda.
"Mustahil, mereka sedang
asyik-asyiknya berma──kyaa?!"
"Kamu
penuh celah, Shalo!"
"……Baiklah,
akan kulayani! Rasakan ketajaman teknik memanah aliran Lopheria di
tubuhmu!"
Entah apakah
teknik memanah berguna dalam perang air, tapi bidikannya pasti akurat. Mungkin.
Keesokan
paginya, mereka kembali ke tempat yang sama. Mereka datang ke gua selama
beberapa hari berturut-turut untuk eksplorasi sekaligus latihan.
Mereka
melawan monster yang direkomendasikan dan maju lebih jauh dari hari sebelumnya.
Saat siang
hari, mereka mulai menyantap bekal. Sambil beristirahat dengan bantuan cahaya
obor, Kaito mulai berbicara.
"Jadi,
untuk pertarungan berikutnya, aku dan Vane akan maju lebih depan──"
Kaito yang
duduk di atas batu terguling sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Uwaa?"
Karena
menjelaskan taktik dengan gerakan tubuh yang terlalu semangat, dia kehilangan
keseimbangan.
"Owa-wa-wa-wa?!"
"Kaito-senpai?!"
Kaito
berguling menuruni lereng di dekatnya. Mungkin karena dia berusaha keras agar
bekalnya tidak jatuh, dia tidak bisa menjaga keseimbangan dan mengeluarkan
suara pasrah.
"Bukan
masalah besar!"
Saat
berhasil menstabilkan posisi, Kaito mengangkat makanannya ke langit seolah
berhasil melindunginya. Dia berdiri, menyeringai bangga, lalu melahap sisanya.
Dia
menelan makanannya, lalu bersandar pada dinding di dekatnya.
"Yah,
kalau levelku sih, hal begini gampang."
"Kaito-kun
terkadang percaya dirinya kelewatan ya~"
"Haha,
terima kasih, Nem."
"Aku
tidak memujimu, tapi ya sudahlah."
Tiba-tiba…… terdengar bunyi klatik,
dan kerikil mulai berjatuhan dari dinding batu. Dinding itu mulai runtuh
sedikit demi sedikit, tepat di titik di mana Kaito menyandarkan tangannya
dengan kuat.
Tanah di bawah kakinya pun mulai
bergetar. Percikan
air dari dinding mengenai pipinya.
"Hei
Kaito?! Kamu terlalu banyak mengeluarkan tenaga!"
Charlotte berteriak kesal, sementara
Sarah mulai panik.
"Benar! ……Tapi ini bukan saatnya
membicarakan itu, Nem!"
"U-uhun! Ini sepertinya cukup
berbahaya?!"
Dalam skenario terburuk, gua ini bisa
runtuh. Kelima orang itu
mulai panik, namun untungnya dampaknya tidak meluas ke area sekitar. Kaito yang
sudah memasang perisai besarnya bergumam heran.
"Apa
ini? Sepertinya ada jalan di balik ini."
Sebuah jalan
baru yang tadinya tidak ada kini tercipta, dan embusan angin terasa melewati
mereka. Dinding yang runtuh tadi mengungkap sebuah jalan rahasia yang
tersembunyi.
"Shalo,
bukannya kamu bilang sudah menghafal peta gua ini?"
"Memang
sudah! Tapi aku tidak tahu ada jalan seperti ini."
"……Tapi
kalau dilihat dari kondisinya……"
"Ya~
sepertinya ini jalan tersembunyi."
Charlotte
bertanya "Bagaimana? Mau coba masuk?", dan keempat lainnya mengangguk
setuju untuk sekadar memeriksa keadaan.
Setelah
merapikan sisa makan siang dan memperketat kewaspadaan, mereka melangkah masuk.
Tempat itu
memiliki suasana yang berbeda. Padahal hanya gua, namun lantai, dinding, dan
langit-langitnya memancarkan partikel mana perak yang bercahaya.
Setelah
berjalan sekitar belasan menit, mereka sampai di sebuah ujung jalan. Di depan
mereka terbentang sebuah koridor batu yang halus.
Segalanya
tampak mengkilap seperti sudah dipoles, membentuk ruang berbentuk bola yang
sempurna tanpa cela sedikit pun. Di tengah ruangan itu, sesuatu tampak
melayang.
Kaito-lah
yang pertama kali bergumam.
"……Jangan-jangan."
"Kaito-senpai,
ada apa?"
"……Benda
itu. Benda yang melayang di sana."
Partikel
mana yang sama dengan yang ada di jalan tadi memancar lebih kuat dari benda
tersebut. Sekelilingnya terhalang oleh dinding kristal tebal yang tidak
membiarkan apa pun mendekat.
Kaito
melangkah maju dengan wajah tercengang.
"Persis
seperti yang tertulis di buku! Itu pasti……"
Salah
satu dari Tujuh Pahlawan yang melindungi Sang Pahlawan Luin, leluhur keluarga
Leonhardt. Perisai besar yang digunakan oleh pahlawan hebat dalam perang
melawan Raja Iblis.
"Perisai
besar yang dulu digunakan leluhurku──Aeria, Perisai Raja Perak!"
Di tempat
yang jauh dari Ren, perisai besar yang disebut perlengkapan pahlawan itu
akhirnya disebut namanya lagi setelah ratusan tahun.
Sebagai
keturunan keluarga Leonhardt, Kaito adalah pengguna yang diakui oleh perisai
tersebut.
Seolah-olah perisai milik Wright Leonhardt itu telah memilih tuan barunya, dinding kristal yang menutupinya mulai hancur berjatuhan.



Post a Comment