Chapter 10
Alasan di Balik Sibuknya Pangeran Ketiga
Radius
berada di sebuah lokasi bernama Gargazia, sebuah kota menengah yang letaknya
cukup dekat dengan Ibukota Kekaisaran.
Tepat
sebelum libur musim dingin dimulai, ia sempat memberi tahu Ren dan yang lainnya
bahwa ia harus pergi menemui keluarganya sebelum meninggalkan akademi.
Keberadaannya di sini adalah untuk keperluan tersebut.
Anggota
keluarga kekaisaran yang hendak ia temui tidak menetap di Gargazia, namun kota
ini dipilih sebagai titik temu yang strategis untuk mempermudah pembicaraan.
Radius
menghela napas panjang di dalam kamar penginapannya.
"Selamat
atas kerja kerasnya, nya."
"Ya.
Melelahkan, tapi aku lega semua berjalan tanpa hambatan."
"Aku
juga berpikir begitu, nya. Nah, kalau begitu, bagaimana kalau minum
segelas untuk penyegar suasana?"
Radius
mengira Mirei telah menyiapkan ramuan Potion untuk memulihkan kelelahan,
namun dugaannya meleset.
Benda
yang disodorkan Mirei adalah sebuah gelas berisi minuman yang menebarkan aroma
manis.
"Ini
minuman yang bisa membuatmu bersemangat, nya."
Meskipun
penjelasan itu terasa kurang, Radius hanya berujar "Baiklah" dan
mendekatkan gelas itu ke bibirnya.
Aroma
madu dan semacam sari buah tercium dari minuman yang sudah sering ia nikmati
sejak kecil tersebut.
Dulu,
setiap kali ia merasa lelah, Mirei sering menyiapkan hal seperti ini untuknya.
Berbeda
dengan Potion, minuman ini tidak langsung menyembuhkan tubuh, namun jika
ditanya mana yang ingin ia minum setelah selesai bekerja, ia pasti akan memilih
minuman ini.
"Mau
aku pijat bahunya sebentar, nya?"
Mirei
menunjukkan perhatiannya.
Tanpa
menunggu jawaban, gadis itu mengulurkan tangan dan menyentuh bahu sang Pangeran
Ketiga yang kelelahan.
Pangeran
Ketiga mengembuskan napas panjang dan bergumam pendek, "Terima
kasih," sementara di belakangnya, Mirei menunjukkan senyum yang tenang.
"Mulai
tahun depan, interaksiku dengan Mirei mungkin akan jadi sedikit
merepotkan."
"Nyah?
Padahal aku selalu ada di sisimu, kenapa bisa begitu, nya?"
"Maksudku
soal urusan di akademi. Kamu akan lulus musim semi depan, kan, Mirei?"
Mirei yang
saat ini berada di tahun keempat akan menjalani upacara kelulusan dalam tiga
bulan ke depan, lalu meninggalkan Akademi Militer Kekaisaran yang bergengsi
itu.
Gadis
itu mengangguk dengan ekspresi yang tampak sedikit sedih.
Sesaat
kemudian, Radius perlahan menutup kelopak matanya. Mirei diam membisu agar
tuannya yang lelah bisa beristirahat sejenak, namun...
"────Nya?"
Mendengar
suara ketukan pintu, ia beranjak dari sisi Radius. Setelah sempat keluar
ruangan sebentar, ia segera kembali ke sisi Radius yang kini telah membuka
matanya.
"Sepertinya
Tuan Ragna datang berkunjung, nya."
Kedatangannya
selalu mendadak.
Radius
menghela napas sambil berujar "Aku akan segera ke sana," lalu mulai
merapikan penampilannya.
Sepuluh menit
kemudian, di ruang tamu kamar penginapan.
"Apa kau
bangun karena merasakan kehadiranku, Pak Guru?"
"Jangan
bicara konyol. Itu karena Mirei yang memberitahuku."
"Sayang
sekali. Omong-omong, belakangan ini kau terlihat sangat sibuk, ya?"
"……Kalau
memang terlihat begitu, lain kali tolong jangan datang mendadak begini."
Radius
menguap lebar.
Layanan
kamar segera tiba. Karena Mirei sedang meninggalkan ruangan, mereka berdua
duduk mengelilingi meja.
"Aku
jadi merasa tidak enak padanya."
"Nanti
biar aku yang sampaikan padanya. ……Jadi Ragna, kenapa kau ada di sini?"
"Apa kau sudah dengar soal
serangan itu?"
Topik pembicaraan mendadak berubah,
namun Radius menjawab tanpa ragu.
"Kalau soal keributan Wadatsumi,
Sang Utusan Dewa Agung, aku tahu segalanya. Satu ekor yang kabur kabarnya
sudah dibasmi oleh Ren dan Estelle. Lalu menurut laporan Estelle, Ren sudah
menjadi Sword Saint. Meski detail informasinya masih dirahasiakan."
"Kuku. Menjadi tingkat Sword
Saint dalam ilmu Great Sword di usia semuda itu, bukankah dia yang
tercepat dalam sejarah?"
"Sepertinya
dia memegang rekor tercepat yang setara dengan orang lain."
"Hm?
Siapa satunya? Apa si Kepala Kantor itu?"
"Estelle
berhasil masuk jajaran Sword Saint di usia delapan belas tahun. Satu
orang lagi sama seperti Ren, di usia empat belas tahun."
"……Si
Raja Pedang?"
"Ya,"
jawab sang Pangeran Ketiga pendek.
"Berarti
Ren adalah calon Raja Pedang di masa depan, ya?"
"Kau
terlalu cepat menyimpulkan."
"Berharap
itu bebas, kan? Benar tidak?"
Memang tidak
salah, tapi sudah pasti itu terlalu cepat.
"Bicara
soal Ren, aku juga dengar dari Ulysses. Ren berhasil membuka pintu yang tidak
bisa dibuka itu, kan? Rasanya aneh melihatmu keluyuran dan mengabaikan hal itu
demi menyelidiki sesuatu yang tidak biasa."
"Kau
penasaran?"
"Bohong
kalau kubilang tidak, tapi aku juga tidak berharap kau akan memberitahuku
dengan jujur."
Melihat
Ragna tertawa, Radius melanjutkan bicaranya tanpa berharap mendapat jawaban.
"Tapi
biarlah kutanya sekali lagi. Apa yang sedang kau selidiki?"
"Soal
Ashton sang Penjelajah, memangnya kenapa?"
Karena
jawaban yang diberikan begitu tenang, Radius sampai terpana.
Hal itu
membuatnya seketika melupakan rasa lelah yang ia rasakan tadi.
"Jangan
curiga yang aneh-aneh. Tadi itu aku mendengarnya langsung dari Ren."
"……Kalau
begitu, apa hasil penyelidikannya sudah keluar?"
"Aku
tidak membuang-buang waktu. Biar kukatakan saja kalau situasinya tidak buruk."
Ragna tidak
berniat menjawab, ia hanya menghela napas dalam diam.
Ia tampak
hendak mengatakan sesuatu, namun ia ragu—hal yang jarang terjadi padanya—dan
membuka mulut untuk mengalihkan topik pembicaraan dengan cara yang kentara.
"Kau
tidak suka?"
"Biasa
saja. Jauh lebih baik daripada kau tidak menampakkan wajahmu sama sekali."
"Humu,
padahal kau tinggal bilang kalau kau senang bertemu Pak Guru dengan
jujur."
Ragna segera
merogoh bagian dalam jubahnya.
Benda yang ia
keluarkan adalah sepucuk amplop. Amplop itu telah disegel dengan segel lilin
yang menggunakan alat sihir.
"Apa
ini?"
"Jawaban
dari apa yang kita bicarakan tadi. Ini rangkuman mengenai Ashton sang
Penjelajah."
"────
Kau berhasil menemukan sesuatu!?"
"Hanya
sedikit dari jangkauan yang bisa kuselidiki."
Berbanding
terbalik dengan Ragna yang bicara dengan tenang, Radius menatap amplop itu
lekat-lekat dengan ekspresi penasaran.
"Baca
nanti saja. Kau pasti sibuk, jadi memprioritaskan bicara denganku akan lebih
menguntungkan bagimu."
"Kau
bicara seolah tahu segalanya lagi, Ragna."
Mendengar
itu, Ragna bangkit dari tempat duduknya.
Ia
berdiri di depan jendela sambil menatap ke luar.
"Akan
kukatakan sekali lagi, belakangan ini kau tampak jauh lebih sibuk dari
sebelumnya."
Ia sengaja
menekankan hal yang sama kepada Radius.
"Kalau
iya, memangnya kenapa?"
"Jangan
merajuk begitu, mantan muridku yang manis."
Seolah ingin
mengakhiri candaannya, Ragna mengendurkan wajahnya.
Sambil
tetap berdiri di depan jendela, ia berbalik menghadap Radius dan tersenyum
tipis.
"Aku
sudah jauh-jauh datang ke sini. Apa kau pikir ini hanya untuk surat atau
basa-basi saja?"
"Berhenti
bicara berbelit-belit. Katakan dengan jelas."
"Aku
datang karena merasa saatnya sudah dekat. Bukankah Radius juga punya sesuatu
yang ingin kau minta dariku?"
Radius
menghindari kontak mata dan mengangguk pelan.
"Ya,
mungkin begitu."
"Kalau
kau bisa mengatakannya dengan lebih jujur, aku tidak keberatan untuk
memihakmu."
"Hanya
untuk memastikan. Dari mana kau tahu?"
"Aku
tidak mendengarnya dari mana pun. Tapi aku bisa tahu hanya dengan melihatmu.
Ah, Radius pasti sedang sibuk karena urusan itu──── begitu."
"Maksudmu,
semua ini berdasarkan dugaanmu saja, ya."
Ragna berdiri
di depan Radius, mencengkeram kerah kemeja Radius yang sedang menunduk, dan
memaksa wajah mereka saling berdekatan.
Meski
bertubuh mungil, kenyataannya orang Shelgrad yang memiliki aura dewasa ini
menunjukkan senyum yang licik.
"Katakanlah.
Ayo, coba minta tolong pada Pak Guru."
Menanggapi
sikap provokatif itu, Radius mengembuskan napas panjang.
"Kalau
begitu, aku akan minta tolong dengan jujur. Ragna, maukah kau memihakku?"
"Kenapa?
Kalau tidak bicara dengan jelas, aku tidak akan paham, kan?"
"Itu
adalah────"
Karena suatu
alasan, ia masih sulit mengatakannya.
Ragna yang
juga menyadari hal itu merasa keheningan ini sangat menyenangkan.
Pada
akhirnya, dari mulut Ragna keluarlah sebuah bantuan, seolah ia terpaksa
mengucapkannya.
"Kau
akan jadi Putra Mahkota, kan?"
Ini adalah kejadian yang tidak pernah
terjadi dalam Legend of Seven Heroes.
Radius memang diharapkan menjadi Putra
Mahkota sejak lama, namun karena ia kehilangan nyawanya, saat itu tidak pernah
tiba.
"Sepertinya kau sedang berkeliling
ke berbagai tempat untuk berdiskusi dengan anggota keluarga kekaisaran yang
tidak ada di Ibukota. Sebentar lagi kau juga akan pergi bicara dengan Marquis
Ignat dan yang lainnya, kan?"
"……Kau benar-benar tahu segalanya,
ya."
"Tentu saja. Jadi, bagaimana
hasilnya? Interaksi dengan para anggota keluarga kekaisaran yang jarang bicara
itu?"
"Semuanya adalah keluarga yang
merepotkan. Aku tidak sudi lagi melakukan lobi-lobi seperti ini seumur
hidupku."
"Sudah kuduga. Jadi, kapan?"
"Kalau
yang kau maksud adalah hari pengangkatan menjadi Putra Mahkota, itu belum
diputuskan. Paling cepat musim panas... atau musim gugur."
Mungkin
karena sudah setengah menduga jawabannya, Ragna hanya berujar "Sudah
kuduga" dengan singkat lalu berjalan menuju pintu kamar.
Sepertinya
urusannya sudah selesai, ia hendak segera pergi.
"Membuatku
memohon lalu pergi begitu saja, sifatmu masih tidak menyenangkan seperti
biasanya."
"Kau
benci?"
"Tidak
juga. Hanya saja, rasanya aku ingin memukul wajah yang kau dekatkan tadi."
"Jangan
malu-malu begitu. Mengingat kau tidak bilang benci, kau masih belum jujur
seperti biasanya."
Orang
Shelgrad bertubuh mungil itu berkata sambil berjalan.
"Biar
kukatakan saja untuk jaga-jaga. Aku akan tetap memihak Radius meski tanpa
interaksi tadi, sama seperti dulu."
"Kalau
begitu, apa arti dari interaksi tadi?"
"Hobi.
Sepertinya kau tidak butuh penjelasan lain, kan?"
"……Ya,
setidaknya aku jadi bisa memastikan kembali sifat Ragna."
"Baguslah
kalau begitu. Kau jadi bisa memastikan kembali kebaikan Pak Guru."
Sambil
memegang gagang pintu sebelum pergi, Ragna berpesan.
"Rahasiakan
apa yang tertulis di surat itu. Aku tidak terlalu paham, tapi masalahnya jauh
lebih besar dari yang kubayangkan. Mengingat nama-nama mereka tidak muncul ke
permukaan dunia, ini benar-benar serius."
Bakar saja
kalau sudah selesai baca.
Setelah
meninggalkan pesan itu, ia pergi secara mendadak seperti saat ia datang.
Mirei yang
tadi menunggu di luar masuk ke ruang tamu tempat Radius berada.
"Sudah
selesai, nya?"
"Ya.
Lagipula, rencana persiapanku untuk menjadi Putra Mahkota sudah
terbongkar."
"Nyahaha,
kan dia orangnya memang begitu, nyaa."
Radius
segera membuka segel lilin pada surat tersebut.
Selembar
perkamen di dalamnya juga sengaja ditulis menggunakan pena alat sihir.
Seandainya
Radius lupa membuangnya, tulisan itu dibuat agar menghilang dengan sendirinya.
Radius
mulai membaca surat itu perlahan di dalam hati.
『Pemilik surat yang ada di panti
asuhan menginginkan material Phoenix.』
Lanjutnya.
『Kenapa, ya? Apa dia ingin membuat
perlengkapan, atau menjadikannya harta karun? Tidak jelas apakah ada kegunaan
lain, tapi────』
Ragna merasa
ragu dengan keterkaitan berbagai informasi tersebut.
『Aku penasaran dengan sosok
"dia" (perempuan) yang tertulis di surat itu. Berdasarkan isi
suratnya, sang pemilik surat pergi menuju Benua Langit demi perempuan itu untuk
mendapatkan material Phoenix.』
Tanpa sadar
Radius menjangkau cangkir berisi teh yang telah disiapkan Mirei.
Jarang
baginya sampai lupa berterima kasih karena terlalu fokus membaca surat.
『Material dari monster sekelas Phoenix
adalah harta karun langka di dunia. Aku belum pernah mendengar contoh
penggunaan material itu sebagai perlengkapan atau pajangan harta karun. Banyak
dokumen dari era keberadaan Raja Iblis yang terbakar akibat serangan. Mungkin
karena itulah tidak ada catatan yang tersisa, tapi, bagaimana jika kita
berpikir seperti ini?』
Radius merasa
jantungnya berdegup kencang.
『Putri Erosi (Princess of Erosion) yang
diceritakan dalam dongeng kuno. Bukankah dia menuntut harta karun yang luar
biasa? Jika kita menganggap salah satunya adalah material Phoenix, ini akan
menjadi hal yang sangat menarik.』
Dulu Radius
akan langsung menampiknya sebagai hal konyol, namun kali ini ia tidak bisa.
Ia merasakan
semacam kekuatan persuasif dari kata-kata yang disiapkan Ragna selanjutnya.
『Apa sebenarnya koin Mithril mati yang
ada di panti asuhan itu? Begitu juga dengan pena yang ditemukan dari kota tua.
Jika benda-benda itu adalah barang yang dipengaruhi oleh Putri Erosi, aku
merasa titik-titik ini mulai terhubung.』
"────Tapi,
Ragna."
『Setelah membaca sampai sini, Radius
pasti berpikir "mana mungkin".』
"……Tentu
saja begitu. Dasar bodoh."
『Aku bahkan bisa membayangkan
ekspresi wajahmu sekarang. Tapi, kau tidak akan bisa lagi menertawakan
pemikiranku sebagai omong kosong.』
Lalu,
lanjutannya.
Radius
menggumamkan baris berikutnya.
『Aku berpendapat bahwa adik
perempuan kepala panti yang bernama Geno adalah Putri Erosi itu sendiri. Dan
tidak perlu berbelit-belit lagi. Pemilik surat itu adalah sosok yang disebut
Ashton sang Penjelajah. Jika merujuk pada beberapa anekdot, aku tidak bisa memikirkan jawaban lain
selain ini.』
"……Aku
mengerti."
『Pahlawan misterius yang keberadaannya
dihapus dari sejarah Leomel. Aku akan terus menyelidikinya sejauh mungkin, tapi
jika Radius juga penasaran, kau bisa memikirkannya setelah situasi tenang. Jika
kau bisa menyelidiki tentang pria bernama Geno yang mengelola panti asuhan,
otomatis kau akan memahami tentang Putri Erosi juga. ────Ah, omong-omong, dalam
buku seseorang yang meneliti daerah pinggiran suatu negara, tertulis hal yang
menarik.』
Cecil Ashton.
Sebuah
legenda tentang seseorang yang menyelamatkan suatu desa dengan nama tersebut.
Itu adalah nama dari Ashton sang Penjelajah yang berhasil ditemukan Ragna dalam
waktu singkat.
Setelah
selesai membaca, Radius berdiri membawa perkamen itu dan melemparkannya ke
dalam perapian.
"……Haruskah
aku menceritakannya langsung pada Ren?"
Perkamen itu
hangus terbakar di dalam perapian.
Di mata sang Pangeran Ketiga, api di perapian tampak bergoyang dengan tenang.



Post a Comment