Prolog
Dahulu kala,
di masa yang sangat lampau.
Seorang
gadis menatap wajah pria yang tengah berlari sambil mendekapnya.
Dia merasa
bimbang, bagaimana jika pria itu sadar sedang diperhatikan? Namun, dia tidak
bisa berhenti memikirkan sosok yang telah membawanya keluar ke dunia luar ini.
Tiba-tiba
saja, pria itu bersuara.
"Mari
kita istirahat sejenak."
"Iya.
Aku mengerti."
Begitu ujung
gaunnya menyentuh tanah dengan lembut, sang gadis pun berdiri di atas kakinya
sendiri.
"Terima
kasih. Anu... apa aku berat?"
"Sama
sekali tidak, kok."
Kehangatan
tubuh pria yang sedari tadi mendekapnya perlahan menjauh.
Entah
mengapa, kini dia merasa kesepian.
...Aneh
sekali.
Gadis yang
dijuluki Mushibami Hime—Sang Putri Korosi—itu tertawa kecil pada dirinya
sendiri karena merasa kehilangan hanya karena hal sepele seperti itu.
Angin sejuk
membelai kulit mereka berdua yang sedang beristirahat.
Sejauh mata
memandang hanya ada hutan. Pria itu bilang, ini adalah sisa-sisa dari
pegunungan.
Meski
dia merentangkan kedua tangannya, tidak ada dinding yang menghalangi. Alam raya
ini seolah memberi tahu betapa kecilnya keberadaan dirinya.
Bagi
gadis itu, tumbuhan adalah sesuatu yang tidak bisa dia lihat dari dekat.
Jika
ada tumbuhan di dekatnya, kekuatan gadis itu akan segera menggerogotinya hingga
layu dalam sekejap. Karena itulah, dia belum pernah melihat pepohonan sebanyak
ini.
Sejak
kecil dia dikurung, sehingga paling-paling dia hanya pernah melihat hijaunya
rumput sesekali saja.
Menyaksikan
pemandangan hijau yang indah membentang di depan mata, dia merasa seolah-olah
telah datang ke dunia yang baru.
"Apa ini
yang disebut hutan?"
Mushibami
Hime bertanya pada
pria yang berdiri beberapa langkah darinya.
Pria
itu segera mengangguk dan menatapnya.
"Benar."
"Daerah
ini disebut Lautan Hutan. Jika kita melewatinya dan terus maju sedikit lagi,
kita akan melihat Samudra Elfen."
"Laut...
aku pernah membacanya di buku. Itu genangan air yang sangat besar sampai-sampai
tidak akan cukup meski kita menyambungkan banyak bak mandi, kan?"
"...Yah,
kurang lebih mirip seperti itu."
Pria yang
membawa Mushibami Hime sampai ke sini tersenyum mendengar perumpamaan
manis sang gadis.
Dia menatap
jauh ke dalam Lautan Hutan, lalu berkata kepada sang gadis yang tengah
membayangkan keberadaan laut.
"Sudah
saatnya kita memikirkan apa yang akan dilakukan setelah ini."
"Setelah
ini? Aku akan tetap berada di sisimu, tapi selain itu apa lagi?"
"Misalnya...
bagaimana kita akan menjalani hidup ke depannya. Apa kau punya keinginan
tertentu? Sejujurnya, aku membawamu pergi tanpa memikirkan apa pun."
"Be...
begitu rupanya."
Mendengar
jawaban tanpa rasa bersalah itu, Mushibami Hime menyahut dengan suara
yang sedikit lemas.
Dia tersenyum
kecut, menyadari bahwa dirinya ternyata tidak membenci percakapan semacam ini.
"Lalu,
saat kau bilang akan melarikan diri dari orang-orang yang mengejarku, apa
sebenarnya yang kau pikirkan?"
"Makanya,
aku tidak memikirkan apa-apa. Kalau boleh jujur, aku hanya berpikir untuk
membawamu keluar."
"——Hanya
tentangku?"
"Iya.
Sampai beberapa hari yang lalu, aku hanya berpikir tentang mengumpulkan tiga
harta karun dan meminta Milim Althea untuk membuatkan alat sihir dan
obat."
Merasa tanpa
sengaja telah menyentuh perasaan pria itu, Mushibami Hime membuang muka
agar pipinya yang sedikit merona tidak terlihat.
Berpura-pura
memandang hutan di kejauhan, dia mencoba bersikap tenang.
Ujung gaunnya
bergoyang tertiup angin yang nyaman.
"Ke
depannya, tempat seperti apa yang ingin kau tinggali?" tanya sang pria
kembali ke topik utama.
"Mungkin...
tempat yang terang dan tenang. Aku sudah muak dengan tempat yang gelap."
Dia
masih sedikit takut dengan kegelapan, dan keinginannya akan tempat yang tenang
berasal dari seleranya sendiri.
Pria
itu mengangguk mantap setuju, lalu melangkah maju ke samping Mushibami Hime.
Sang
gadis kembali memalingkan wajah agar profil samping wajahnya tidak terlihat.
Namun, dia segera menyadari bahwa itu adalah perlawanan yang sia-sia.
"Sepertinya
kau mencoba menyembunyikannya, tapi ketahuan lho kalau wajahmu memerah."
"~~!?"
Mushibami
Hime
buru-buru menoleh ke arah pria itu.
Dengan
wajah yang masih memerah, dia menunjuk pria itu dengan ekspresi malu yang
manis, tampak panik dan tidak puas.
"Meski
kau tahu, sopannya itu jangan dikatakan, tahu!?"
"Maaf.
Habisnya, aku merasa senang, jadi tidak sengaja terucap."
Pria itu
tertawa lalu mengangkat Mushibami Hime ke dalam gendongannya.
"Kyaa!"
Gadis itu memekik karena kejadian yang tiba-tiba, lalu menatap pria itu.
"Ada apa
tiba-tiba?"
Sambil terus
menutupi rasa malunya, dia sedikit mengerucutkan bibir. Namun kali ini dia
pasrah dan tidak mencoba memalingkan wajah lagi.
"Berkemah
di hutan sudah cukup menyenangkan, jadi mari kita berangkat."
"Kalau
begitu, apa kita akan tinggal di tempat yang akan kita tuju sekarang?"
"Tidak,
hanya untuk belanja kebutuhan saja. Tempat yang akan kita tuju adalah kota yang
cukup besar, jadi tidak akan terlalu tenang."
Akan
merepotkan jika pengejar datang.
Dia berniat
untuk menetap di sana paling lama hanya beberapa hari.
Pria itu
menjejakkan kakinya pada batu besar dan melesat maju dengan kencang. Mushibami
Hime tidak takut dengan akselerasi ini dan menyerahkan seluruh tubuhnya
pada sang pria.
Karena suara
angin membuat pendengaran sulit, mereka berdua berbicara dengan suara keras.
"Aku
tidak punya uang, lho!?"
Pertama-tama,
sang gadis menyuarakan kekhawatiran kecilnya.
"Tenang
saja, aku yang bawa!"
"...Boleh?"
"Tentu
saja, kan aku yang membawamu pergi! Oh iya, mumpung ingat, aku berencana menemui temanku di sana nanti!"
"Iya,
aku mengerti! Jadi, ke mana kita akan pergi?"
Pria itu
menjawab sambil terus berlari membelah angin.
"——Ke
sebuah kota pelabuhan yang sangat besar dan indah!"
Ini adalah
kisah di dunia pada masa itu, saat sang Raja Iblis masih hidup——.
Zaman di mana
Tujuh Pahlawan masih berkelana menjelajahi dunia.



Post a Comment