Potret Dia dan Gadis Itu
Ini adalah
kisah di masa lampau, pada suatu era yang telah lama berlalu.
"Hei,
tempat apa ini?" tanya seorang gadis yang tengah berjalan di tengah kota
kepada pria di sampingnya.
"Bisakah
kau memanggil namaku saja? Masa memanggilku 'pria itu' terus," keluh si
pria.
"Tidak
mau, malu."
"...Padahal
kau cukup memanggilku Cecil saja, lho."
"Masih
belum bisa."
Meski
menjawab dengan ketus, sang gadis sebenarnya sedang tersipu. Bagi pria bernama
Cecil itu, mengetahui fakta tersebut saja sudah terasa cukup baginya.
"Jadi,
ini di mana?"
"Ini
adalah kota yang terbentuk dari perluasan kota besar di dekat sini. Bisa
dibilang kota baru."
Tempat yang
mereka lalui adalah kota yang masih dalam tahap perkembangan.
Namun, karena
letaknya yang bertetangga dengan kota metropolitan, kecepatan pembangunannya
belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan, kabarnya sudah banyak bangsawan yang
tinggal di sana.
Sambil
berbincang, keduanya berjalan menyusuri jalanan dengan tubuh yang terbungkus
jubah.
Sekilas,
penampilan mereka tampak seperti pelancong biasa, melebur sempurna di antara
orang-orang yang berlalu-lalang.
"Seandainya
ada ksatria yang bertanya, kita lari saja ya."
"Mana
mungkin mereka bertanya. Memangnya apa yang mau mereka tanyakan?"
"Misalnya...
soal aku yang membawamu pergi secara paksa?"
"Bagaimana
caranya? Menurutmu, apa yang akan ditanyakan para ksatria itu tentang aku,
padahal keberadaanku saja disembunyikan dari dunia?"
Faktanya,
Sang Putri Korosi memang dikurung sampai baru-baru ini, dan hanya segelintir
orang yang mengetahui eksistensinya.
"Ya,
tapi mereka setidaknya bisa menjadikan kita berdua sebagai buronan."
"Ah...
mungkin kau benar."
Setelah
mengatakan itu, sang gadis berjalan mendahului Cecil. Dia melangkah dengan
ringan, ton, ton, ton, membuat ujung jubahnya bergoyang lembut.
"Tapi,
tarik kembali satu hal."
"Apa
itu?"
"Soal
kau yang membawaku pergi secara paksa. Jangan salah paham, ya, aku mengikutimu
atas kemauanku sendiri."
Gadis itu
kembali berucap ketus untuk menutupi rasa malunya. Melihat sang gadis yang kian
hari kian sering menunjukkan senyum ramah, hati Cecil pun terasa hangat.
"...Kau
dengar tidak?"
Merasa tidak
puas karena jawabannya lambat, sang gadis mengarahkan telunjuknya tepat ke
depan hidung Cecil.
Tujuan mereka
adalah sebuah bangunan yang terletak di sudut kota.
"Temanmu
ada di sini?"
"Iya.
Dia orang paling penting di panti asuhan ini."
"...Panti
asuhan?"
Tidak ada
papan nama yang menunjukkan identitas panti asuhan tersebut. Para pengunjung
ini tidak tahu bahwa papan itu patah akibat cuaca buruk belakangan ini dan
sedang dalam proses pembuatan yang baru.
"Mari
lewat pintu belakang. Anak-anak sepertinya sedang tidur, aku tidak mau
membangunkan mereka."
"......Iya."
Begitu sampai
di bagian belakang bangunan, Cecil mengetuk pintu kayu yang ada di sana. Pintu
terbuka, dan seorang pengurus panti asuhan menampakkan wajahnya.
Cecil
berbicara dengan pengurus itu dengan nada yang akrab, lalu mereka masuk melalui
pintu belakang. Keadaan di dalam sangat sunyi.
Mungkin
karena anak-anak sedang tidur, tak ada satu suara pun yang terdengar. Cecil dan
sang gadis berjalan menuju ruangan yang berada paling ujung di panti asuhan
tersebut.
Setelah
si pengurus membungkuk hormat dan pergi, Cecil berkata,
"Ada
satu hal yang harus aku minta maaf padamu."
"...Aku
ingin memaafkan apa pun yang kau lakukan, tapi boleh aku dengar alasannya
dulu?"
"Ini
berkaitan dengan apa yang akan kulakukan sekarang. Mungkin lebih baik jika kau
melihatnya sendiri secara langsung."
Mereka berdua
memasuki ruangan paling ujung tersebut.
"——!"
Begitu
melihat pria yang sudah menunggu di sana, sang gadis... Sang Putri Korosi,
nyaris kehilangan kendali atas kekuatannya.
Namun, amukan
kekuatan itu tertahan oleh barang perjanjian yang dijaga oleh Cecil. Berkat
Cecil yang menggenggam tangannya, segalanya berakhir dengan aman.
Dari saku
jubah sang putri, sebuah koin mithril yang telah terkorosi jatuh dan
berdenting di lantai.
Setelah
tenang dan mendengar penjelasan, Sang Putri Korosi bersembunyi di balik
punggung Cecil sambil mengintip sosok pria di depannya. Pria itu tertawa kecut
melihat tingkah adiknya.
"Sepertinya
kau akrab dengan adikku, ya."
"...Berani-beraninya
kau bersikap seperti seorang kakak sekarang. Padahal selama ini kau
menganggapku seolah-olah tidak ada."
"Itu
tidak benar. Kasihan Geno jika kau bicara begitu," sela Cecil sambil
menyebut nama kakak sang putri.
Pria
bernama Geno itu ternyata telah berkorban banyak demi adiknya.
Di
tempat yang tidak diketahui sang gadis, selama ini dia terus mencari berbagai
cara untuk menyegel kekuatan adiknya. Bahkan hari ini pun, dia ingin memastikan seberapa jauh kekuatan itu bisa
ditekan sebelum mereka berdua meninggalkan kota.
"Geno
menganalisis barang-barang yang telah terkorosi oleh kekuatanmu dan menelitinya
demi mencari cara untuk menahannya. Pena yang dulu kau gunakan pun, kabarnya
dia sendiri yang memesannya untuk tujuan itu."
"Be...
begitu... rupanya..."
"Aku
tidak memintamu untuk percaya. Tapi... begitulah kenyataannya," ucap Geno
dengan nada sedih sebelum menghela napas.
Dia kemudian
mengajak mereka berdua untuk pergi ke luar.
Sesampainya
di dekat alat bermain di luar panti asuhan, Geno berdiri di depan kanvas yang
telah disiapkan.
"Izinkan
aku melukis sambil kita mengobrol."
"Melukis
kami? Untuk apa?"
"Melukis
adalah satu-satunya hobiku. Tak ada salahnya kan, membiarkanku melukis satu
gambar saja sebelum melepas adikku pergi?"
Cecil dan
Sang Putri Korosi saling berpandangan, lalu mengangguk setuju jika hanya
sebatas itu.
Sembari
melihat keduanya menghabiskan waktu dengan tenang, Geno menggerakkan kuasnya di
atas kanvas kecil. Di tengah aktivitas itu, mereka bertukar kata.
"Cecil,
kau benar-benar tidak berniat kembali ke panggung utama?"
"Tentu
saja. Aku berniat hidup di tempat yang tenang bersamanya."
"...Apa
kau yakin? Orang sehebat dirimu——"
"Geno,
cukup sampai di situ."
"...Maafkan
aku."
Sang Putri
Korosi memiringkan kepalanya sedikit, bingung dengan percakapan penuh makna
antara keduanya.
Namun, karena
merasakan suasana yang tidak boleh diganggu, dia memilih duduk di ayunan dan
memperhatikan dari jauh.
"Tapi,
jika bicara soal itu, kau juga sama, Geno."
"Aku?"
"Di era
seperti ini, menyelamatkan anak-anak di panti asuhan memang sangat berarti.
Tapi kau pun sebenarnya bukan orang yang seharusnya berada di sini."
Geno tertawa
mendengar itu.
"Justru
karena era seperti inilah aku ada di sini. Di sini pun, ada banyak pekerjaan
yang bisa kulakukan."
Beberapa saat
kemudian, Geno menghentikan tangannya yang sedang melukis.
"Sudah
selesai?"
"Jangan
konyol. Ini belum jadi. Masih banyak bagian latar belakang yang harus
dikerjakan. Ini baru tahap awal."
Saat
mereka kembali ke kamar Geno di dalam panti asuhan, Geno mulai merenung di
depan dinding yang dipenuhi lukisan dan sebuah altar.
Perkataan
tiba-tiba yang keluar dari mulutnya mengejutkan Cecil dan Sang Putri Korosi.
"Ngomong-ngomong,
apa kalian sudah mengadakan upacara?"
"U-Upacara!?"
"——Eh!?"
Geno
tersenyum melihat wajah cengo sahabatnya dan ekspresi terkejut yang pertama
kali diperlihatkan oleh adiknya setelah sekian lama.
"Dilihat
dari reaksi kalian, sepertinya memang belum. Dan sepertinya kalian juga tidak
punya rencana untuk itu."
Cecil
menyahut di samping sang gadis yang pipinya sudah merah padam.
"...Mengingat
situasi kami, rasanya sulit untuk dilakukan, bahkan untuk ke depannya."
"Fuu...
sudah kuduga akan begitu. Aku senang bisa mendapatkan kesempatan ini. Jika kalian berkenan, izinkan aku
memberikan berkat bagi kalian berdua."
Tak ada
sedikit pun alasan maupun keinginan bagi mereka berdua untuk menolak tawaran
itu.
Upacara di
sini adalah sebuah seremoni kecil yang tak tertangkap mata siapa pun. Upacara
di sini adalah sebuah prosesi rahasia yang takkan pernah tercatat dalam
sejarah.
Namun, bagi
mereka, itu sudah cukup. Yang mereka butuhkan bukanlah tumpukan tamu undangan
maupun jamuan makan yang mewah. Yang mereka butuhkan hanyalah sebuah bukti.
"Aku
bertanya kepada Cecil Ashton. Dalam pernikahan ini——"
Upacara
berlangsung tanpa hambatan, dan tak lama kemudian, keduanya meninggalkan kota
tersebut.
Geno tidak
menanyakan ke mana mereka akan pergi, tidak pula bertanya apa yang akan mereka
lakukan. Namun, Geno merasa itu sudah cukup.
Beberapa hari
berlalu, dia menatap kanvas di sudut taman seperti hari itu. Begitu lukisannya
selesai, dia bergumam.
"Aku
berhasil membuat lukisan yang bagus."
Dengan
ekspresi cerah di wajahnya, dia menatap langit biru yang membentang luas.
——Ini adalah kejadian di masa yang sangat lampau. Jauh sebelum Ren menemukan lukisan tersebut.



Post a Comment