Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Padahal Aku Keturunan Penyihir Agung!
Lizred Arkhey,
yang baru saja masuk ke Akademi Militer Kekaisaran, adalah keturunan dari
seorang penyihir hebat.
Bukan hanya itu,
ia sendiri adalah bakat luar biasa yang kelak akan menjadi penyihir hebat pula.
Saat upacara
penerimaan siswa di Akademi Militer Kekaisaran, ia menjabat sebagai perwakilan
siswa baru bersama dengan para keturunan Tujuh Pahlawan yang juga masuk ke
kelas beasiswa.
(……Astaga, kalian
kelihatan senang sekali ya.)
Wajah para senior
yang duduk di kursi lantai dua hampir tidak terlihat sama sekali. Meski begitu,
Lizred tetap bisa mengenali sosok-sosok keturunan Tujuh Pahlawan yang sudah ia
kenal sejak kecil.
Lizred
mengembuskan napas pendek saat melihat senyum yang dilemparkan oleh teman-teman
lamanya itu ke arahnya yang sedang bertugas sebagai perwakilan.
Lalu, di antara
para senior... matanya secara alami tertuju pada dua orang yang berada di dekat
Sarah.
(Oh?
Jangan-jangan, mereka berdua orangnya?)
Mereka adalah sang pemuda pengguna Magic Sword dan White
Saintess.
◇◇◇
Beberapa hari telah berlalu sejak upacara penerimaan, dan
Lizred tampak berjalan sempoyongan di koridor gedung sekolah. Benar-benar
seperti orang yang kehilangan arah dan tenaga.
Masih ada waktu sebelum pelajaran dimulai. Di tengah waktu
luang itu, pikirannya berkecamuk memikirkan tingkat kesulitan pelajaran di
akademi ini.
Semalam ia
mengerjakan tugas sampai larut, lalu bangun pagi-pagi sekali untuk
menyelesaikan sisanya.
Sambil
membayangkan tugas apa lagi yang akan diberikan hari ini, ia juga teringat pada
pelatihan sihir dari neneknya. Ia terus menyemangati diri sendiri bahwa ia
pasti akan terbiasa kelak.
"Fu-fufu…… Karena aku akan menjadi penyihir hebat,
hadapilah aku wahai pelajaran……"
Hanya kata-katanya saja yang bersemangat, namun langkah
kakinya tetap lunglai.
Sambil membetulkan posisi topi penyihir yang terlalu besar
untuk tubuh mungilnya, ia melihat sosok pemuda yang sudah tidak asing lagi.
Kebetulan, ada
juga sosok pemuda yang kehadirannya sempat ia sadari saat upacara penerimaan.
Mumpung ada kesempatan, ia pikir tidak ada salahnya mencoba mengobrol sedikit.
Lizred pun mengubah gaya berjalannya yang sempoyongan kembali menjadi normal.
"Selamat
pagi. Kai────"
"Sip! Kalau
begitu, hari ini juga aku akan bersemangat────"
Namun, sayang
sekali waktunya terlalu pas.
Gara-gara itu,
tubuh mungil Lizred menabrak punggung Kaito yang baru saja berbalik dengan
telak! Dugh!
"Beburaft!?"
Ia merasa telah
mengeluarkan suara jeritan yang memalukan, tapi ia tidak sempat memikirkan hal
itu.
"U-ughhh~~!!"
Ujung hidungnya
sakit sekali…… tidak perlu berkaca pun ia tahu. Pasti sudah merah padam.
Lizred nyaris
menangis, tapi ia sadar ini kesalahannya karena mendekat tanpa suara. Ia pun
membuka mulut untuk menutupi rasa sakitnya.
Beruntung
baginya, Ren yang berada di samping Kaito langsung menyapanya, jadi ini waktu
yang sangat tepat.
Karena pelajaran
hampir dimulai mereka tidak bisa bicara banyak, tapi Lizred merasa sudah
sedikit memahami tentang Ren.
(Tapi…… benar-benar berbeda dari bayanganku ya.)
Lelaki di depannya ini adalah pengguna Great Sword
yang sering keluar-masuk Saint Palace.
Menurut rumor, ia sudah berada di tingkat Sword Saint
dan musim dingin lalu ia membasmi monster kuat sendirian di Eupheim. Namun saat bicara langsung, aura seperti
itu sama sekali tidak terasa.
Kesannya hanyalah
seorang senior berwajah tampan yang lembut dan mudah diajak bicara, tipe yang
sepertinya sangat populer di kalangan siswi.
"Ada
apa?"
Melihat Lizred
yang mendongak menatap Ren dengan melamun, pemuda itu bertanya karena merasa
penasaran.
"Ti-tidak!
Aku hanya merasa mual karena memikirkan pelajaran saja!"
"Oi, oi…… padahal kamu baru saja masuk sekolah
lho."
Ia sempat kesal
saat Kaito menatapnya dengan heran, tapi ia memutuskan untuk bersikap masa
bodoh saja.
Di sisi lain, Ren
tidak seperti itu. Sambil tertawa kecut, ia memberikan kata-kata penyemangat,
"Awalnya memang begitu kok."
Lizred pun berani
berasumsi sendiri bahwa Ren tidak berkepala otot seperti Kaito.
"Yah, kalau
dibilang mirip Kaito, memang mirip dia sih."
"On? Aku
kenapa?"
"Aku cuma
merasa lega karena di akademi pun Kaito tetap menjadi dirinya sendiri."
"Apaan tuh,
apa aku terlihat sangat bisa diandalkan?"
"Padahal aku
tidak bilang begitu sama sekali, tapi aku rasa kemampuanmu untuk berpikir
sepositif itu adalah hal yang bagus."
Entah kenapa Ren
juga ikut mengangguk mendengar ucapannya, sebuah hal yang aneh bagi Lizred.
Namun ia memutuskan untuk menganggap itu terjadi karena hubungan Ren dan Kaito
yang memang lebih akrab dari yang ia dengar.
Saat berjalan
menuju kelas karena pelajaran akan segera dimulai, Lizred mendapatkan sebuah
ide.
(Mumpung ada
kesempatan, bagaimana kalau aku minta mereka ikut dalam perjalananku nanti?)
Jika ada
kesempatan, ia akan langsung membicarakannya saat jam istirahat makan siang.
Hanya saja, sang
keturunan penyihir hebat akhirnya menyadari ada hal penting yang harus
dilakukan sebelum itu.
"A-aku
bodoh sekali, aku bahkan belum memperkenalkan diri!"
Jadi, saat
bertemu lagi nanti ia harus memulainya dari perkenalan diri.
Untuk itu, pertama-tama ia harus berusaha agar semangatnya tidak habis terkuras oleh pelajaran di jam pagi ini.



Post a Comment