Gadis Berambut Perak
Di sebuah kota
besar di wilayah bangsawan lain yang letaknya tidak jauh dari wilayah Duchy
Rofelia.
Di
restoran sebuah penginapan mewah, tampak seorang gadis cantik yang datang
sendirian. Segera setelah menyelesaikan makannya, ia meninggalkan restoran dan
beranjak menuju kamarnya.
Ia
berjalan dengan anggun tanpa memedulikan tatapan para pria yang tertuju
padanya.
Namun, langkahnya
terhenti saat ia merasakan suatu kehadiran di tengah jalan.
Ia menaiki tangga
khusus karyawan menuju area yang tidak boleh dimasuki oleh tamu biasa. Begitu
sampai di atap, di sana sudah menunggu seorang pria yang mengenakan jubah hitam
pekat.
Melihat
kedatangan sang gadis, pria itu berlutut dan menundukkan kepalanya.
Rambut sang gadis
dan jubah si pria tampak berkibar tertiup angin kencang di ketinggian tersebut.
"Mohon
maaf atas kunjungan yang mendadak ini."
"Tidak
apa-apa. Jadi, ada perlu apa denganku?"
"……Tuan
Olfide telah berpulang ke sisi Yang Mulia."
Mendengar
hal itu, sang gadis hanya menyahut singkat, "Begitu ya," lalu menatap
ke arah langit.
"Berkat
dicintai oleh keisengan Dewi Reborn, hidupnya benar-benar berantakan, ya."
Pendeta
itu terlahir di sebuah negara di Benua Martel yang tak pernah luput dari
konflik.
Terlahir
dengan membawa berkah sang Dewi, Olfide memiliki kemampuan regenerasi yang
tidak normal. Hal itulah yang mengubah nasibnya secara drastis.
Segera
setelah lahir, ia dipisahkan paksa dari orang tua kandungnya dengan tujuan
untuk dialihfungsikan sebagai teknologi persenjataan.
Namun,
belum genap beberapa tahun, tanah airnya hancur akibat terseret konflik baru.
Setelah berpindah-pindah antar negara kecil sebagai peliharaan penguasa, ia
akhirnya jatuh ke tangan Kultus Dewa Iblis.
Tetapi,
bagi Olfide, itu adalah keberuntungan pertamanya.
Di dalam Kultus
Dewa Iblis, ia tidak dijadikan hewan percobaan. Malahan—
"Bukan
demi dunia yang buruk ini. Tapi
demi dunia yang kau yakini sendiri."
Sang Uskup
menempatkan Olfide di bawah pengawasannya agar ia bisa menjadi kekuatan tempur.
Seiring
berjalannya waktu, ia tumbuh menjadi seorang Pendeta dan menjadi tangan kanan
Uskup untuk bergerak di balik layar di berbagai tempat.
Itulah
dunianya──── dan cara hidupnya.
"────Yah,
dunia memang seperti itu."
Tanpa bermaksud
meratapi, ia berpikir selama beberapa detik, dan sosok Olfide pun sudah
menghilang dari benak sang gadis.
"Ada
lagi?"
"Hamba……"
Pengikut Kultus
Dewa Iblis itu tampak ragu untuk bicara. Semakin lama waktu berlalu,
perasaan itu semakin kuat, namun ia tidak punya pilihan selain mengatakannya.
Akhirnya,
ia memberanikan diri melapor pada sang gadis.
"……Sebelum
membuat Pemimpin Agung semakin murka, hamba rasa sebaiknya Anda segera
kemba──── kh!? "
Tekanan
yang terpancar dari sang gadis membuat si pengikut tersungkur.
Mungkin
inilah yang disebut dengan perasaan seolah nyawa sudah di ujung tanduk.
Senyuman gadis
cantik itu biasanya akan membuat pria mana pun terpana, namun saat ini,
senyuman itu terasa sangat mengerikan.
Tekanan yang
seolah menusuk kulit itu datang dari sang gadis yang kini berlutut di depan
pria itu dan mendekatkan pandangannya.
Pria itu sama
sekali tidak berani melirik kaki ramping yang mengintip dari balik roknya,
melainkan terpaku pada sepasang mata yang indah bagaikan permata.
"Dengar
ya."
Ujar sang
gadis.
Tekanan
itu tidak menghilang, justru semakin bertambah kuat.
"Makhluk
bernyawa bisa tetap hidup itu karena dua alasan: kebetulan, atau karena mereka
kuat. Entah itu karena kebetulan bertahan hidup tanpa bertemu ketidakadilan
dunia, atau karena mereka punya kekuatan untuk menepis ketidakadilan itu."
Suatu saat nanti,
"kebetulan" yang ia katakan mungkin akan berakhir.
Suatu hari nanti,
tanpa ada peringatan.
"Lalu
kamu──── termasuk yang mana?"
Rambut perak
dengan sorot hitam, serta sepasang mata yang lebih indah dari permata.
Napas pria itu
memburu saat ditatap oleh sang gadis.
Gadis itu berdiri
dan mulai membicarakan hal lain. Terdengar tiba-tiba, namun jika disimak,
pembicaraan itu mengandung maksud tersembunyi.
"Tidak ada
kata lain yang bisa membenarkan tindakan manusia selain konsep bernama
keadilan."
"……Eh?"
"Semua
makhluk berintelejensi membangun peradaban dengan menjadikan keadilan sebagai
umpannya. Di zaman mana pun, orang-orang seperti itulah yang bertahan hidup.
Kamu bisa melihatnya sendiri pada ajaran Elfen, kan?"
Ucapnya
dengan nada datar namun elegan.
"Aku
benci itu. Aku sangat benci pada orang-orang picik yang yakin bahwa tindakan
mereka paling benar, lalu memaksakan apa pun dan menyebutnya sebagai keadilan.
Karena itulah, kepada Pemimpin Agung──── tidak."
Ini
adalah apa yang diceritakan oleh gadis yang muncul dalam mimpi Ren, gadis yang
memperkenalkan diri dengan gerakan curtsey.
"Sampaikan
persis seperti apa yang baru saja kukatakan kepada kakakku."
Sang gadis
memunggungi pria itu.
Tidak ada gunanya
melanjutkan tanya jawab lebih dari ini, dan jika diteruskan, nyawa pria itu
mungkin benar-benar akan terancam.
Namun hal itu
tidak ada nilainya, dan tugas pria itu hanyalah menyampaikan pesan sang gadis
kepada Pemimpin Agung.
"……Ba-baik.
Akan hamba laksanakan."
"Anak pintar," ucap sang gadis tanpa menoleh.
Ia terkekeh…… sebuah senyuman yang cantik, elegan, sekaligus
menggoda.
────Ini adalah apa yang dilihat Ren di dalam mimpinya. Apa yang ia dengar dari mulut
gadis itu.
"Jangan
bicara hal yang kejam begitu. Padahal aku sudah berniat melakukannya sendiri,
tidak ada salahnya kan kalau kamu mendengarkanku baik-baik."
Nama
gadis yang dilihat Ren di dalam mimpinya adalah—
"Namaku────
Eve. Adik dari Pemimpin Agung Medario."
Gadis vampir itu berdiri di bawah hembusan angin malam, bermandikan cahaya bulan.



Post a Comment