Chapter 7
Apa Kamu Menjadi Makin Rumit?
Libur panjang
telah berakhir, dan suasana siang hari di akademi kembali semarak.
"Eh? Jadi
ada orang lain yang sampai lebih dulu dari kelompok Ren-kun?"
Fiona Ignat
menyuarakan keterkejutannya di atap gedung sekolah. Ia menyandarkan punggungnya
pada pagar kawat di dekat bangku tempat Ren duduk, menatap pemuda itu dengan
penuh tanya.
"Aku belum
tahu siapa mereka," jawab Ren.
Mendengar itu,
Licia yang berdiri di samping Fiona menautkan kedua tangan di belakang
punggungnya sembari membuka suara.
"Tapi,
rasanya sulit dipercaya kalau motif mereka cuma uang."
"Benar…… tempat yang didatangi Ren-kun dan yang lainnya
sepertinya sangat dalam dan berbahaya."
"Iya, ya—…… Tingkat kesulitannya terlalu tinggi kalau
cuma demi uang. Pasti ada alasan
khusus kenapa mereka menginginkan Cincin Dewi Air."
Awal mula Ren
pergi ke Windea adalah karena lambang berukir milik Raguna.
Selain itu,
perjalanan ini juga bertujuan untuk memperbaiki kunci menuju persembunyian
penyair Mudi, serta untuk melatih penggunaan Water Magic Sword miliknya.
Kedua hal
tersebut membutuhkan kekuatan yang bersemayam dalam Cincin Dewi Air, sehingga
Ren merasa wajib pergi ke Windea pada periode ini────.
Namun, sebenarnya
ada satu alasan lagi mengapa Ren begitu bersikeras pergi ke sana.
"Kalau
begitu, bukankah pelakunya adalah Kultus Dewa Iblis?"
"Kultus
sedang mengincar relik suci, jadi ada kemungkinan Windea menjadi target mereka
selanjutnya. Sepertinya dugaanmu tepat, Ren."
Sejak insiden di
Eupeheim, intensitas ketiganya dalam menyelidiki Kultus Dewa Iblis memang
meningkat.
Ulysses dan
Radius sudah bergerak lebih dulu sejak lama, dan Ren pun telah berusaha
semaksimal mungkin untuk memperluas jangkauan informasi mereka.
Surat-surat yang sesekali mereka pertukarkan di akademi pun
sebagian besar berisi tentang pergerakan Kultus tersebut.
"Tapi…… apa benar mereka pelakunya?"
"Aku hampir
yakin seratus persen itu ulah mereka. Memangnya ada yang mengganjal di
pikiranmu?"
"Aku merasa
suasananya mirip dengan kejadian di kuil Eupeheim. ……Waktu itu juga pelakunya
diduga adalah Kultus Dewa Iblis."
Bukannya Ren
ingin membantah pendapat mereka.
Ia sendiri pun
sudah hampir mantap dengan pemikiran bahwa pelakunya adalah pihak Kultus.
Ren mulai
terbiasa dengan event—atau tepatnya kejadian—yang tidak ada dalam Seven
Heroes' Legend. Namun dalam kasus seperti ini, biasanya selalu ada makna
istimewa di baliknya.
Cincin Dewi Air
tidak akan menampakkan wujudnya di dalam kristal biru kecuali jika cincin itu
terisi penuh oleh mana.
Cincin itu hanya
akan terisi penuh setiap beberapa ratus tahun sekali, dan mata air di kuil yang
terletak di puncak Windea pun hanya akan terisi air pada saat tersebut.
Itulah alasan
mengapa Cincin Dewi Air tidak pernah dicuri sebelumnya.
Bahwa ada
seseorang yang menyusup ke sana sesaat sebelum Ren tiba, kemungkinan besar
adalah fakta. Kali ini pun, Ren mencoba memikirkan maknanya, tapi—
"Ujung-ujungnya,
aku masih tidak mengerti alasan mereka mengumpulkan relik suci."
Semua
pemikirannya selalu bermuara pada kesimpulan yang sama.
"Mungkin
mereka tidak suka jika ada pihak lain yang mendapatkan kekuatan dari relik suci
itu……."
"Ya.
Kudengar relik suci bisa menjadi racun yang mematikan bagi kekuatan Kultus Dewa
Iblis."
Di tengah takdir
yang mulai bergeser berkat peran Ren, jika Kultus Dewa Iblis menginginkan
Cincin Dewi Air, alasannya pasti────.
(Pasti karena
ada kegunaan khusus.)
Mungkin mereka
ingin menjadikan Cincin Dewi Air sebagai semacam katalis untuk menimbun
kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya.
Itulah
kemungkinan yang paling masuk akal, namun informasinya masih terlalu sedikit
untuk memastikan. Jika memang ada kegunaannya, harusnya pihak Kultus juga
mencurinya dalam cerita Seven Heroes' Legend.
(Atau mungkin,
ini ada hubungannya dengan Tuan Ulysses?)
Dalam Seven
Heroes' Legend, Ulysses berbalik menjadi musuh Vain dan kawan-kawan, serta
bergerak dalam bayang-bayang cerita.
Mungkin karena
hal itu berkaitan, kebijakan pergerakan Kultus pun berubah, sehingga dalam Seven
Heroes' Legend mereka tidak mencuri Cincin Dewi Air.
Atau mungkin
juga, saat itu pihak Kultus belum selesai menyelidiki tentang cincin tersebut
sehingga tidak mengetahui keberadaannya.
"Dulu pihak
Kultus juga pernah mencuri relik suci yang disebut Air Mata Elfen, kan?"
Mendengar ucapan
Ren, Fiona mencoba merapikan poin-pelengkap yang berkaitan.
"Relik itu
kabarnya adalah cairan dengan sifat keilahian yang sangat kuat, sehingga alasan
kenapa Kultus membawanya pergi pun masih menjadi misteri."
"Ada
kemungkinan mereka mencurinya hanya untuk melemahkan kekuatan Gereja Elfen.
Benar-benar membingungkan."
"Kita hanya
tahu kalau mereka melakukan itu demi suatu tujuan tertentu……."
Licia menghela
napas panjang.
"……Dan
alasan kita menyelidiki ini adalah untuk mencari tahu apa sebenarnya tujuan
itu."
Fiona pun ikut
menghela napas.
Cerita mengenai
Windea masih berlanjut. Licia segera mengalihkan topik pembicaraan.
"Eh, omong-omong, bagaimana dengan Water Magic Sword-mu?"
"Kurasa jadi jauh lebih baik berkat cincin itu. Akhirnya aku merasa mulai bisa menunjukkan
hasil yang nyata."
Setelah sekian
lama tidak merasakan adanya tanda-tanda pertumbuhan pada Water Magic Sword,
akhirnya perubahan yang dinanti itu pun datang.
Mengingat subjek
latihan barunya akan bertambah di masa depan, Ren merasa harus lebih disiplin,
namun hatinya juga berdebar penuh harap.
"Nanti aku
harus mencobanya lagi saat latihan. Karena Kultus Dewa Iblis bisa saja
menyerang tiba-tiba, aku juga harus berusaha keras di bidang selain Magic Sword."
"Selain pedang?"
"Iya. Misalnya…… pertarungan saat menghadapi sihir
lawan."
Bukannya mereka tidak pernah melakukan latihan semacam itu
di Biro Saint Lyon, namun Ren merasa perlu menegaskannya kembali.
Tak lama
kemudian, bel tanda masuk kelas siang berbunyi dengan nyaring.
◇◇◇
Saat jam pulang sekolah tiba, Licia harus pergi sebentar karena ada urusan.
Setelah
berjanji untuk bertemu di halaman dalam, Ren yang tidak memiliki urusan lain
memutuskan untuk pergi ke sana lebih awal dan menunggu.
"Ngh—."
Sambil
berjalan di koridor, Ren mengeluarkan suara santai sembari menguap. Karena baru
saja kembali dari Windea, ia merasakan sensasi rileks saat kembali ke kehidupan
sehari-hari yang damai ini.
Ia
berjalan melewati koridor lantai satu menuju halaman dalam, lalu menuju ke arah
bangku kayu yang diletakkan saling membelakangi.
Di antara
bangku-bangku itu terdapat tanaman pagar rendah, sehingga sisi seberangnya
tidak terlalu terlihat.
"Di
sini saja, deh."
Saat Ren
hendak duduk santai sambil berjemur di bawah sinar matahari yang hangat,
"Ren,
ya?"
Suara
Radius terdengar dari balik bangku di seberang tanaman pagar.
Begitu
Ren berdiri di samping pagar dan menengok ke arah bangku itu, ia melihat Radius
sedang duduk santai sambil membaca buku.
"Buku
apa itu?"
"Buku
yang mirip dengan yang kurekomendasikan sebelumnya. Aku baru saja meminjamnya dari perpustakaan."
Saat Ren melongok
ke arah tangan Radius, ia memang melihat sampul buku yang mirip dengan buku
yang pernah ia pinjam dulu.
"Kisah
Grimdor benar-benar menggetarkan hati, tak peduli berapa kali pun dibaca."
Grimdor adalah
ksatria yang menjadi asal-usul nama Medali Pedang Saint Grimdor yang didapatkan
Ren musim dingin lalu.
Radius sedang
membaca biografi ksatria yang melayani Raja Singa tersebut, yang dikemas dalam
bentuk cerita heroik.
"Kukira Raja
Singa tidak hanya hebat dalam ilmu pedang, tapi kekuatannya dalam sihir pun
tidak tertandingi oleh manusia biasa. Namun, ada teori yang mengatakan bahwa
dalam hal teknik pedang, Ksatria Buta Grimdor bahkan lebih unggul
darinya."
"Kira-kira,
sehebat apa ya dia yang sebenarnya?"
"Entahlah.
Aku tidak bisa membandingkan kekuatan dengan orang yang sudah tiada, jadi aku
pun tidak bisa membayangkannya. Aku jadi penasaran seberapa kuat dia jika
dibandingkan dengan Sword King zaman sekarang."
Radius berbicara
sembari matanya terus menyisir barisan kalimat di buku yang ia genggam.
Ia sama sekali
tidak merasa terganggu oleh kehadiran Ren, justru ia merasa waktu luang setelah
sekolah ini menjadi lebih bermakna.
Ren yang tadinya
melongok ke arah buku Radius kini berbalik dan duduk di bangku dengan
menyandarkan punggungnya ke arah Radius.
"Dibandingkan
dengan Sword King ya—…… Ah, benar juga."
Karena
kata Sword King muncul, Ren jadi teringat sesuatu.
"Apa
kamu tahu di mana Lutreche berada? Sepulang dari Windea, aku sempat pergi ke
Taman Pedang, tapi sama sekali tidak bisa bertemu dengannya."
"────"
"Anu,
Radius?"
Radius
merasa dirinya sudah terbiasa dengan kejutan dari Ren, tapi kali ini pun ia
kembali dibuat terpana.
"Sebelum
aku menjawab, bolehkah aku tahu alasan kenapa kamu memanggil White Dragon
Princess hanya dengan namanya saja?"
"Itu,
soalnya aku sudah mendapat izin darinya……."
"……Meskipun
informasiku sangat sedikit, anehnya aku bisa langsung paham."
Mengingat
Lutreche adalah orang yang entah kenapa suka membantu Ren, ia merasa hal itu
masuk akal meski tetap terasa tidak biasa.
"Jika
yang kau cari adalah White Dragon Princess, dia sudah meninggalkan Ibu
Kota sesaat sebelum kau pergi ke Windea. Tapi, kurasa sebentar lagi dia akan
kembali."
Radius
sendiri tidak tahu ke mana tujuannya, sehingga Ren tidak bisa bertanya lebih
lanjut.
"Omong-omong, aku juga sudah mendengar laporan tentang
kejadian di Windea. Hal itu cukup mengusik pikiranku."
Radius bicara dengan mempertimbangkan fakta bahwa Kultus
Dewa Iblis pernah mencuri relik suci sebelumnya.
"Ada
kemungkinan kali ini pun mereka memiliki tujuan tertentu dan mencoba
mendapatkan benda itu. Meski ada kemungkinan pelakunya bukan dari pihak Kultus,
tapi untuk saat ini kita belum bisa memastikannya."
"Aku juga
sempat berpikir pelakunya adalah Kultus. Tapi────."
"Tapi,
kenapa?"
"……Tidak,
bukan apa-apa."
Dalam cerita Seven Heroes' Legend, hal itu tidak
terjadi. Tapi apa gunanya jika ia
mengatakannya sekarang?
Karena tidak
mungkin memberikan penjelasan, Ren tidak melanjutkan kalimatnya, namun ia tetap
terus berdiskusi dengan Radius karena situasi ini memang tidak bisa diabaikan.
"Berkaitan
dengan hal itu, Raguna juga sudah menceritakan padaku tentang kunci misterius
tersebut."
"Sejauh mana
dia bercerita?"
"Dia bilang
dia sudah menceritakan segalanya padaku, sama persis dengan apa yang ia
ceritakan padamu."
Hal yang
dibicarakan sebelum meninggalkan Windea adalah perkiraan bahwa perbaikan kunci
itu akan memakan waktu sekitar satu bulan, dan kemungkinan besar kunci itu
dibuat oleh Mirim Althea.
Jika itu adalah
karya salah satu dari Tujuh Pahlawan yang dijuluki Dewa Alat Sihir, bisa
selesai diperbaiki dalam satu bulan justru terhitung sangat cepat.
『Aku akan
menghubungimu lagi jika sudah ada kejelasan.』
Itulah kata-kata
terakhir Raguna saat mereka berpisah.
"Mumpung ada
waktu, ceritakanlah padaku kesan perjalananmu bersama Raguna."
"Menyenangkan,
kok. Tapi waktu dia bilang 'Selanjutnya kita mau pergi ke tempat terpencil mana
lagi ya?', aku benar-benar langsung terdiam."
"Reaksi yang
wajar. Tapi, aku senang libur panjangmu jadi sangat bermanfaat."
"Pemandangannya
juga sangat indah. Lalu, apa yang Radius lakukan selama libur?"
"Aku?
Aku……."
Sang Pangeran
Ketiga yang duduk di bangku sambil menatap langit itu ternyata memiliki
hari-hari yang tak kalah sibuknya dibanding Ren.
"Seperti
biasa, aku tenggelam dalam urusan negara. Pekerjaan terkait Kultus Dewa Iblis
masih menumpuk, ditambah urusan dinas lainnya yang membuatku terpaksa menenggak
ramuan stamina pagi, siang, dan malam."
"……Bukankah
frekuensinya jadi lebih sering dari sebelumnya?"
"Sayangnya,
begitulah kenyataannya. Untungnya setelah liburan berakhir, semuanya mulai
sedikit tenang."
Tak lama kemudian, Ren melihat dua sosok
yang ia kenal.
Keduanya
menyadari keberadaan Ren dan berjalan menghampiri bangku tersebut.
"Selamat
siang, Ashton-senpai."
Lizred menyapa
lebih dulu dengan membungkukkan badannya sedikit.
"Ashton-senpai,
mohon maaf atas ketidaksopanan saya tempo hari."
Squall menyambung
sapaan tersebut.
Sepertinya kedua
siswa kelas satu itu sedang menghabiskan waktu sepulang sekolah dan kebetulan
melewati tempat Ren berada.
Dipanggil
'Senpai' memang terasa agak menggelitik, tapi karena itu adalah kenyataan, Ren
harus mulai membiasakan diri.
"Kerja bagus
untuk yang kemarin. Apa
kalian bisa langsung pulang setelah itu?"
"Iya.
Perginya terasa sangat berat, tapi pulangnya terasa sangat mudah, kami
benar-benar terbantu."
Lizred
mengolok-olok dirinya sendiri saat mengingat kejadian itu. "Soalnya
telapak kakiku ini sekeras papan, jadi waktu itu rasanya sangat menyiksa."
(Telapak kaki sekeras papan…… maksudnya dia jarang
olahraga, ya?)
Ren yang
bergumam dalam hati merasa setuju, sementara Lizred terus bercerita.
"Ah,
lalu! Waktu kita bertemu di kuil, aku benar-benar sangat terkejut lho! Maksudku, kalau ternyata tujuan kita sama,
harusnya kita bisa pergi bersama saja……?"
"Soalnya
perjalananku juga berkaitan dengan permintaan dari serikat."
"Ah, jadi
itu alasan dari jawaban Senpai waktu itu?"
"Iya.
Kira-kira begitu."
Mendengar kata
'serikat', mereka bisa membayangkan adanya kewajiban menjaga kerahasiaan.
Lizred pun tidak bertanya lebih lanjut.
"……Tapi
dipikir-pikir, rasanya cepat sekali ya kita kembali ke rutinitas sehari-hari
setelah dari tempat terpencil seperti itu."
"Begitu
pulang, kami langsung disambut oleh tes kecil di kelas."
Mengingat
mereka baru beberapa bulan masuk sekolah, libur panjang harusnya menjadi waktu
yang tepat untuk mengulang pelajaran, namun menghabiskan semuanya untuk pergi
ke Windea pasti terasa cukup berat bagi mereka.
"Apa kalian
berdua sudah mulai terbiasa dengan pelajarannya?"
"Ugh……."
"Arkay-san?"
"……I-itu masalah lain! Lagipula aku pasti akan segera terbiasa kok!"
Selama mereka
mengobrol, Radius tetap duduk tenang di bangku belakang Ren agar tidak
mengganggu.
Saat Lizred
tampak ragu untuk menjawab, Squall segera menimpali. Meskipun bagi Lizred,
penjelasan Squall itu terdengar memalukan.
"Sepertinya
Liz mendapat nilai yang cukup buruk pada tes kecil pertamanya, jadi dia
dimarahi habis-habisan oleh mantan Earl Arkay."
Mantan Earl yang dimaksud adalah nenek Lizred.
Wanita yang ia panggil 'Nenek' itu sangat keras, tidak hanya
dalam hal sihir tapi juga dalam hal akademis. Kabarnya, tidak ada seorang pun
di keluarga Arkay, termasuk kepala keluarga saat ini, yang berani membantahnya.
"Squall!? Kenapa kau menceritakannya!?"
"……Padahal yang pertama kali ragu untuk menjawab itu
kan kau sendiri, Liz."
"I-itu
memang benar, tapi tetep sajaaa—!"
Melihat
perlawanan itu, Saintess itu hanya bisa menghela napas pendek.
Ren
tersenyum melihat interaksi mereka berdua.
"Aah, lihat!
Ashton-senpai jadi menertawakanku, kan! Ini semua salah Squall!
Benar-benar deh…… sama saja seperti Shalo, kenapa orang-orang dari keluarga Earl
tidak ada yang punya perasaan, sih!"
"Jangan samakan aku dengan Shalo. Setidaknya aku tidak
mengatakan hal yang salah."
"Ku-kuuu—…… Kau ini selalu saja bicara seolah logika
adalah segalanya……. Menurut Ashton-senpai bagaimana!?"
"Eh? Aku?"
Jika seandainya ini adalah cerita Seven Heroes' Legend…….
Ren menatap kedua juniornya itu sambil tertawa canggung,
lalu—
『Apa yang dikatakan Meldeg-san ada benarnya juga.』
『Tidak apa-apa. Arkay-san hanya perlu berusaha lebih keras
di tes selanjutnya.』
Ia memikirkan dua
pilihan jawaban.
(Rasanya
keduanya kurang pas.)
Pilihannya adalah
memberikan jawaban yang memihak Lizred Arkay atau Squall Meldeg, namun…….
Setelah
ragu sejenak, Ren berdeham sekali.
"Kurasa itu
hal yang wajar karena siapa pun pasti sibuk saat baru masuk sekolah. Arkay-san
pasti bisa segera menunjukkan kemampuan aslimu kok. Tidak perlu khawatir."
Begitu Ren
memberikan jawaban netral yang tidak menyinggung siapa pun, baik Lizred maupun
Squall tampak mengangguk setuju.
Radius
yang sedari tadi diam agar tidak mengganggu pembicaraan, kini menutup bukunya
dengan suara yang cukup terdengar dari belakang punggung Ren.
Saat ia bangkit
dari bangku dan berjalan ke samping Ren, sosoknya yang tadi tersembunyi di
balik tanaman pagar kini terlihat jelas di depan Lizred dan Squall.
"Ren,
aku harus segera pergi."
"Ya.
Sampai nanti."
Reaksi
kedua junior itu sangat kontras; Lizred hanya bisa terpana seperti sebelumnya,
sementara Squall membungkukkan kepalanya dengan tenang.
"Hafuaa!?"
Ren yang
melihat ekspresi terkejut Lizred dengan perasaan geli, menyadari brosur yang
dipegang gadis itu.
Biasanya
tak lama setelah masuk sekolah, akan ada beberapa acara penjelasan mengenai
setiap mata pelajaran maupun fasilitas di area akademi. Sepertinya acara itu
akan diadakan sore ini sepulang sekolah.
"Kalian
berdua, apa waktunya masih aman?"
Begitu
Ren bertanya, Lizred mengeluarkan suara "Wawaa!?" yang tidak
mencerminkan sikap seorang bangsawan, lalu ia segera pergi dari sana bersama
Squall dengan terburu-buru.
Belasan detik kemudian, Licia datang menggantikan mereka.
"Maaf
sudah membuatmu menunggu!"
Melihat
Ren yang duduk di bangku tampak sedang bersenang-senang, Licia jadi penasaran
dan duduk di sampingnya.
Seiring
berjalannya waktu, jarak saat mereka duduk berdampingan terasa semakin
menyempit. Kedekatan itu terkadang terasa cukup mendebarkan.
Jika saja ada
yang mendorong pelan dari kiri atau kanan, sikut mereka pasti akan saling
bersentuhan dengan mudah.
Kedua remaja itu
tidak menyadari bahwa ada beberapa siswi yang diam-diam sedang merencanakan
kejahilan manis semacam itu.
"Sepertinya
kamu sedang senang, ada apa?"
Embusan napas
Licia saat ia menoleh menatap Ren terasa mengenai bahu pemuda itu.
"Hanya
merasa reaksi Arkay-san tadi cukup lucu."
"Fufu,
apa-apaan itu?"
Licia menyahut
dengan nada riang sembari tersenyum.
Jika harus
menggambarkan sosok Lizred Arkay barusan, ia terlihat seperti Sarah saat
mendapatkan nilai tes yang buruk dulu.
"Karena dia
baru saja masuk sekolah, mungkin nilainya akan membaik setelah dia mulai tenang
nanti."
"Kurasa
begitu. Di awal-awal memang sulit untuk mengikuti pelajaran."
"Benar. Kita
pun dulu begitu, kan."
Keduanya lanjut
membicarakan hal-hal ringan lainnya.
Topik yang bisa
dibicarakan kapan saja…… topik yang sebenarnya tidak harus dibicarakan di sini
pun mereka teruskan, seolah ingin menikmati suasana sore hari di akademi.
"Setelah ini
kita mau ke mana?"
"Ke Biro
Saint Lyon, atau mau mampir ke suatu tempat dulu sebelum pulang?"
"Hmm…… sepertinya aku ingin pergi belanja juga……."
Saat
keduanya sedang merencanakan agenda sore mereka,
"Ren-kun!
Licia-chan!"
Suara
Chronoa terdengar, membuat keduanya menoleh dan menghampirinya.
"Aku
sudah meminta bantuan Fiona-chan, tapi aku ingin kalian berdua juga ikut
membantu……!"
Sepertinya
ada sesuatu yang sedang dicari Chronoa di gudang yang terletak di sudut gedung
sekolah, dan ia ingin mereka membantunya mencari barang tersebut.
Tentu saja mereka
tidak mungkin menolak permintaan Chronoa. Keduanya pun mengangguk kompak menyetujuinya.
Gudang batu itu memiliki arsitektur megah yang sekilas terlihat seperti kuil.
Skalanya cukup besar, bahkan mungkin setara dengan beberapa rumah warga yang
digabungkan.
"Ternyata
ada tempat seperti ini ya," ucap Licia. Tempat itu memang jarang didatangi
siswa pada umumnya.
Begitu melihat
Fiona yang sudah sampai di sana hendak membuka pintu gudang, Ren segera
mengulurkan tangannya untuk membantu.
"────Ren-kun?"
"Biar aku
saja."
"A…… terima kasih."
Meski tidak sampai memeluk dari belakang, namun posisi Ren
yang mengulurkan tangan seolah menahan tangan Fiona membuat gadis itu merasa
sedikit malu. Kejadian itu berlangsung saat Licia dan Chronoa sedang memastikan
barang apa yang akan dicari.
Begitu pintu terbuka, angin berhembus kencang menerbangkan
debu, membuat Ren tersenyum kecut. "Debunya lumayan tebal ya."
Fiona pun ikut tersenyum canggung. "Mungkin karena
tempat ini jarang didatangi orang."
"Jadi Chronoa-san, apa yang harus kami cari?"
"Anu, begini……."
Chronoa melangkah ke depan gudang, lalu mengayunkan
tongkatnya dengan lincah seperti biasa. Menyusul gerakan tongkat itu, beberapa
huruf cahaya muncul melayang di udara.
"Kudengar mereka ingin kita mengumpulkan dokumen dari
tahun yang tertulis di sini."
"Kudengar…… berarti bukan Chronoa-san sendiri yang
mencarinya ya?"
"Iya, begitulah."
Meski Chronoa tersenyum riang, namun aura di sekitarnya
terasa sedikit mengintimidasi.
"Luar biasa, ya. Padahal mereka tahu aku sedang sibuk,
tapi tiba-tiba saja menghubungi dan menyuruhku mengeluarkan dokumen lama dari
gudang. Mana minta harus selesai hari ini juga lagi. ────Padahal aku
benar-benar sedang sibuk."
Saking tidak adanya waktu luang, ia sampai mengulang kata
'sedang sibuk' sebanyak tiga kali.
Pihak yang menghubungi Chronoa adalah instansi negara, yaitu
para pejabat dan birokrat yang bernaung di sana.
Karena adanya miskomunikasi, batas waktu pengumpulan dokumen
tidak tersampaikan dengan baik, padahal batas akhirnya adalah sore ini.
Soal di mana letak miskomunikasinya dan siapa yang harus
bertanggung jawab, itu urusan belakangan. Untuk sekarang, memprioritaskan
pencarian dokumen adalah hal yang utama.
Begitu Chronoa menundukkan kepalanya secara tiba-tiba, topi
penyihirnya pun ikut bergoyang.
"Maaf ya!
Padahal kalian pasti ingin bermain sore ini……!"
"T-tenang
saja! Kami pasti membantu kok!"
Ren menjawab
dengan terburu-buru, diikuti oleh Fiona dan Licia yang mengangguk berkali-kali
sembari berkata "Benar!".
Saat Chronoa
mengangkat kepalanya, ekspresinya terlihat benar-benar merasa bersalah, seolah
ia akan kembali menundukkan kepalanya kapan saja.
Merasa
ini tidak benar, Ren segera melangkah masuk ke dalam gudang.
Di dalam
sana tersimpan jauh lebih banyak barang dibandingkan dengan ruang kecil di
pojok perpustakaan yang pernah ia bersihkan dulu.
(Dokumen…… dokumen……)
Meski terlihat berantakan, namun bagian dalamnya tertata
dengan cukup rapi. Di area yang dipenuhi rak buku, deretan buku dan tumpukan
kertas tersusun dengan teratur.
Ren mengubah arah langkahnya menuju tangga di dalam gudang.
Karena di lantai dua terdapat jendela, ia pikir sebaiknya jendela itu dibuka
untuk pergantian udara.
Begitu jendela dibuka, angin sejuk berhembus masuk ke dalam
gudang, membuat udara yang tadinya penuh debu perlahan mulai mereda.
Saat Ren kembali ke depan rak buku tempat ketiga
gadis itu menunggu, ia melihat Chronoa sedang bergumam bingung.
"Aneh ya—…… Harusnya ada di sekitar sini."
"Apa mungkin
yang ini?"
"Ah! Benar,
yang itu! Terima kasih, Licia-chan!"
Mereka bekerja
sama mencari di berbagai rak buku hingga akhirnya dokumen yang dicari berhasil
ditemukan satu per satu. Seiring dengan lancarnya pekerjaan mereka, waktu bagi
Chronoa untuk kembali ke ruang kepala sekolah pun semakin dekat.
Sang Kepala
Sekolah yang mulai merasakan akhir dari waktu menyenangkan bersama Ren dan yang
lainnya, tiba-tiba bergumam.
"Fufu…… orang dewasa itu egois ya."
Gumamannya terdengar sangat pilu, ditambah dengan ekspresi
wajah yang tampak menyedihkan.
"Terutama itu lho…… meskipun ada miskomunikasi, kalau
lawannya masih muda, mereka pikir bisa menekan kita sesuka hati……."
Ren kembali berpikir bahwa Chronoa sepertinya memang tipe
orang yang sering tertimpa kemalangan.
Melihat binar cahaya di mata Chronoa yang mulai memudar, Ren
dan yang lainnya tidak bisa menahan diri untuk berpikir──── kami akan selalu
berada di pihak Chronoa.
Pencarian
dokumen berakhir dengan sukses dalam waktu kurang dari dua jam. Chronoa segera
mengeluarkan kotak kayu yang ia temukan di gudang ke luar, lalu kembali
menundukkan kepalanya berkali-kali ke arah Ren dan yang lainnya.
"Terima
kasih banyak, beneran deh! Kapan-kapan ayo kita makan bersama ya! Aku ingin
mentraktir kalian sebagai tanda terima kasih!"
Saat ia
benar-benar pergi, Chronoa berkali-kali menoleh ke belakang dan membungkukkan
kepalanya.
"Bagaimana
kalau kita juga pergi?"
Di dalam kotak
kayu yang dikeluarkan Chronoa tadi, terdapat kostum-kostum yang rencananya akan
digunakan untuk acara sekolah di masa lalu.
Sepertinya itu
adalah barang-barang untuk pertunjukan siswa di festival sekolah. Isinya adalah
sampel yang disiapkan pedagang sesuai pesanan.
Setelah ini, Ren
dan yang lainnya akan membawa kotak itu ke ruang referensi di dalam gedung
sekolah.
Karena Chronoa
terlihat sangat sibuk, mereka sendiri yang menawarkan diri untuk membantu
membawakannya.
Ketiganya
kembali ke gedung sekolah menuju ruang referensi. Sinar matahari senja yang
menembus jendela kini telah berubah menjadi warna merah jingga yang pekat.
Ruang
referensi di dalam gedung sekolah tidak berdebu seperti gudang tadi.
Fiona yang
mengeluarkan kostum untuk dipindahkan ke tempat penyimpanan menyadari sesuatu.
"Ini sedikit
kotor ya."
Sepertinya itu
adalah semacam kostum, namun tertutup debu karena sudah lama berada di dalam
kotak kayu.
Rasanya kurang
sopan jika menyimpannya begitu saja. Karena di dalam kotak terdapat dokumen yang sepertinya adalah surat
tanda terima barang, Ren mengambilnya.
Licia
yang melihat situasi tersebut memberikan usul kepada Fiona.
"Bagaimana
kalau kita bersihkan di ruang ganti?"
"Ide bagus…… mumpung kita di sini."
Ruang
ganti di akademi ini dilengkapi dengan fasilitas pancuran air dan meja rias
yang besar. Di sana juga
tersedia alat sihir untuk merapikan penampilan.
"Ren, kami
pergi ke ruang ganti sebentar ya."
"Kalau begitu aku akan pergi ke tempat Chronoa-san
untuk memberikan dokumen ini sekalian memastikan sesuatu. ……Lagi pula aku tidak
bisa masuk ke ruang ganti wanita."
"Maaf ya…… Ren-kun."
"Tidak
apa-apa, sampai nanti."
Ren
berpisah dengan kedua gadis itu, dan mereka pun menuju ke ruang ganti.
Kedua
gadis itu membawa kostum misterius dari dalam kotak kayu dalam keadaan
terlipat.
Di
balik meja rias ruang ganti yang luas, terdapat cermin besar yang menempel di
dinding. Di depan cermin tersebut, keduanya mencoba membentangkan kostum yang
mereka bawa.
Licia
menatap kostum yang ia bentangkan lalu membuka suara.
"Ini, apa
kostum pelayan ya?"
"Sepertinya
begitu, tapi roknya agak sedikit pendek ya."
Fiona menjawab
sembari tertawa kecil yang manis.
Kostum yang ia
pegang pun sama. Hanya warnanya saja yang sedikit berbeda dari milik Licia,
sementara modelnya hampir serupa. Sebuah kostum pelayan yang dimodifikasi
menjadi lebih imut.
Meskipun akademi
ini dipenuhi anak-anak bangsawan, namun mereka tetaplah gadis remaja yang
memiliki ketertarikan pada pakaian yang lucu. Sepertinya itulah latar belakang
mengapa kostum ini disiapkan.
Debu yang
menempel pada pakaian bisa dibersihkan dengan mudah menggunakan alat sihir
berbentuk mirip sisir yang digosokkan ke permukaan kain.
Keduanya
mengobrol sembari membersihkan debu dengan alat sihir tersebut.
"Kira-kira
kenapa ya Kultus Dewa Iblis mencari Cincin Dewi Air?"
Fiona
menggumamkan pertanyaan itu tiba-tiba.
"Bukan cuma
itu, belakangan ini kabarnya pihak Kultus kembali bergerak dalam bayang-bayang
di berbagai daerah. Sepertinya Pangeran Ketiga pun memimpin penyelidikannya
secara langsung."
"Menurutmu,
apa itu ada hubungannya dengan Ren-kun?"
"……Kurasa
begitu."
Karena belakangan
ini Ren mulai bicara dengan jujur, bukan berarti mereka merasa tidak puas.
Mereka hanya menyadari bahwa Ren sedang bergerak dengan caranya sendiri.
Belakangan ini
kabarnya pihak Kultus bergerak di seluruh dunia, namun yang paling sering
menjadi target adalah Leomel.
Saat memikirkan
alasannya, rasanya bukan hanya karena Leomel adalah negara terkuat nomor satu
di dunia.
Pasukan Raja
Iblis yang bisa dibilang sebagai pendahulu Kultus Dewa Iblis, di masa lalu
pernah menenggelamkan kota tua Eupeheim ke dalam air, dan meninggalkan luka
yang tak terhapuskan di Rhodes Kaitas yang terletak di dekat Ibu Kota.
Rasanya mereka
memiliki maksud yang konsisten dalam menjadikan Leomel sebagai target serangan.
Dan…… karena ia memikirkan hal-hal terkait Raja Iblis dan
kejadian di Rhodes Kaitas,
"……."
Tiba-tiba Licia
teringat kembali pada kejadian di Rhodes Kaitas.
Kenapa ia bisa
menggunakan kekuatan seperti itu di luar kendali keinginannya sendiri? Kenapa
tubuhnya tidak mau menuruti perintahnya, dan hatinya terasa seolah-olah akan
pergi ke tempat yang sangat jauh?
Tanpa sadar,
Licia hanya bisa terpaku menatap dirinya sendiri di depan cermin.
Saat ia mencoba
mencari sesuatu di balik matanya sendiri, perasaan cemas dari waktu itu
perlahan mulai bangkit kembali.
Di saat itulah,
Fiona yang merasakan kecemasan Licia segera menumpangkan tangannya di atas
tangan gadis itu.
"Apa kamu
baik-baik saja? Apa kamu merasa kurang enak badan……?"
"T-tidak!
Aku baik-baik saja!"
"……Benarkah?"
"S-sungguh,
kok!"
Anehnya,
Licia menyadari bahwa dirinya mulai kembali tenang.
Entah itu
karena suhu tubuh Fiona yang menggenggam tangannya, atau karena faktor lain,
semua kegelisahan di hatinya kini sirna.
Setelah
kembali tenang, Licia mengambil kostum itu untuk dilipat. Sambil mencocokkan
kostum yang sudah bersih itu ke tubuhnya, ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Panjang
rok kostum ini sepertinya tidak jauh berbeda dengan seragam kita ya."
"Benar juga.
Dan aksen rendanya banyak sekali, jadi terlihat sangat manis."
"Pakaian
pelayan seperti ini jarang ada, jadi terasa sedikit unik."
Fiona mengangkat
jari telunjuknya seolah baru saja memikirkan sesuatu.
"……Mau coba
memakainya?"
Itu adalah ajakan
yang setengah bercanda, namun setengah serius.
Rasanya tidak
apa-apa kalau cuma mencoba. Selama tidak sobek, mereka tidak akan dimarahi.
Ren sepertinya
belum akan kembali dalam waktu dekat, jadi harusnya ada waktu jika hanya untuk
mencoba memakainya sebentar.
Fiona yang
memberikan usul pun merasa dirinya telah mengatakan hal yang tidak biasa, namun
karena ia belum pernah memakai pakaian seperti ini, ia pun merasa antusias.
Licia pun
merasakan hal yang sama. Meski terkejut dengan usul Fiona yang tak terduga, ia tetap merasa
tertarik.
"Kamu
serius?"
Licia
kembali bertanya dengan nada bicara yang santai seperti tadi.
Fiona tampak sama
sekali tidak keberatan. Sebagai buktinya, ia menyentuh kostum itu dengan
malu-malu sembari menjawab, "Sepertinya aku cukup serius."
"Biasanya…… itu, aku tidak pernah punya kesempatan
memakai pakaian imut seperti ini."
"……Aku pun
sama, Fiona-sama."
Dengan perasaan
ingin mencoba sekali saja pakaian seperti ini, keduanya mengambil kostum
masing-masing dan saling membelakangi untuk berganti pakaian.
Dalam waktu
kurang dari beberapa menit, keduanya berbalik dan saling bertatapan.
Sosok White
Saintess dan Black Priestess yang mengenakan kostum pelayan rok pendek.
Seandainya ada
lawan jenis di sini, pasti mereka akan langsung terpesona. Namun karena mereka
akan kembali berganti ke seragam sebelum keluar dari ruang ganti, kesempatan
itu tidak akan pernah ada.
Mereka jadi
penasaran bagaimana reaksi Ren jika melihatnya, namun mereka tidak memiliki
keberanian untuk memakainya di depan pemuda itu.
Tepat saat
mereka memikirkan hal itu, ceklek.
Terdengar suara
kenop pintu yang diputar dari kejauhan.
"────Eh?"
"Barusan,
ada seseorang yang────."
Sebenarnya bukan
hal yang aneh jika ada orang yang datang. Karena ini adalah ruang ganti
akademi, siapapun siswi di sini memiliki kemungkinan untuk masuk.
Masalahnya adalah
pakaian mereka berdua. Mereka
sedang mengenakan kostum pelayan rok pendek. Rasanya memalukan jika terlihat,
dan akan lebih gawat lagi jika yang melihat adalah orang yang mereka kenal.
Kekhawatiran
mereka pun menjadi kenyataan tak lama setelah itu.
"────Hah?"
Sarah Riohard.
Meski ia hanya
terpaku kaku karena terkejut tanpa berkata-kata, sebenarnya ia kembali ke
akademi sendirian karena teringat ada barang yang tertinggal di ruang ganti.
Dan di sanalah ia
menemukan sosok imut dari kedua gadis itu.
Sepuluh detik.
Waktu yang jika
diucapkan terasa singkat, namun bagi mereka bertiga saat ini terasa sangat
lama.
Ketiganya saling
bertatapan melalui cermin. Sepertinya Sarah memikirkan sesuatu dalam situasi
ini, hingga akhirnya ia bertanya dengan nada yang mantap.
"K-kalian
sedang mengalami masa sulit……?"
Maksudnya, masa
sulit terkait cinta pertama.
Karena kostum itu bukanlah sesuatu yang lazim dipakai di akademi…… kedua gadis yang memakainya pun langsung merona merah padam, sembari berusaha menggerakkan bibir mereka dengan gugup.
"K-kami
tidak sedang mengalami masa sulit!"
"K-kami
tidak seperti itu!"
Suara White Saintess dan Black Priestess terdengar hampir
bersamaan.
"Lalu kenapa
kalian memakai baju seperti itu……?"
"Makanya,
kubilang bukan begitu! Ini cuma salah paham!"
"Di
situasi begini bilang salah paham, aku benar-benar tidak mengerti tapi……."
Sarah
melangkah mundur.
Bukan
dengan langkah menyeret, melainkan langkah kaki yang sangat sunyi.
"A-aku
mengerti kok kalau ada saatnya kalian merasa…… sulit!"
Ucapnya seolah
meminta maaf karena telah melihat sesuatu yang buruk, lalu ia membelakangi
Licia dan Fiona untuk melarikan diri.
Licia yang panik
segera berlari mengejar Sarah dan mencengkeram lengannya…… namun karena terlalu
bersemangat, keduanya malah terjatuh keluar dari ruang ganti dalam posisi
saling merangkul.
Di sana,
berdirilah sosok Ren yang baru saja datang bersama Sarah.
"……Anu?"
Melihat
situasi ini, Ren menggaruk pipinya sambil tersenyum kecut.
Sosok
Fiona yang terlihat dari pintu yang terbuka pun kini terekam jelas dalam
ingatannya.
Tak perlu
ditanya lagi, wajah kedua gadis itu memerah lebih padam dari sebelumnya.
Hanya karena
merasa baju itu imut dan ingin mencobanya. Licia sama sekali tidak menyangka
keinginan ringan seperti itu akan berakhir dengan "ledakan diri" yang
dahsyat seperti ini.
Tanpa berkata
apa-apa, Licia dengan mata melotot kaku segera menutup pintu ruang ganti dalam
diam.
Di saat itulah,
Sarah bergumam pelan pada Ren.
"……Barangku
yang tertinggal, belum sempat kuambil."
"……Sepertinya
mereka berdua akan keluar sebentar lagi, mungkin lebih baik tunggu setelah itu
saja."
"Ya,
kurasa begitu."
Namun,
Sarah tidak merasa keberatan karena ia baru saja melihat pemandangan yang
langka.
"Ternyata
mereka berdua pun bisa mengalami masa sulit, ya."
"Masa
sulit?"
"Bukan
apa-apa. Lagipula, kalau aku menceritakannya pada Ren, aku pasti akan
dimarahi."
Ren yang
tidak mengerti akhirnya mengangguk setuju dan mengubah topik pembicaraan.
"Vain
tidak bersamamu?"
"Iya.
Katanya dia mau latihan pedang bersama Ayah di kediaman."
Wajah
Sarah dari samping diterangi oleh sinar matahari senja saat ia memikirkan sang
pujaan hati yang sedang mengayunkan pedang di rumahnya.
"Karena Vain
sedang berusaha keras, aku juga tidak boleh kalah darinya."
Sejak terungkap
sebagai keturunan Pahlawan Ruin, pertumbuhan Vain benar-benar luar biasa. Itu
adalah kurva pertumbuhan yang persis seperti yang diprediksi oleh Ren.
Pasti di masa
depan, ia akan menunjukkan sosok gagahnya di hadapan banyak bangsawan.
Beberapa
menit kemudian, Fiona muncul lebih dulu dari ruang ganti sebelum Licia.
Ia melongokkan
tubuhnya dari balik pintu dengan pipi yang masih sedikit memerah. Di antara
kedua lengan dan dadanya, ia mendekap erat kostum yang sempat ia kenakan tadi.
"Kalau
begitu, aku masuk dulu ya untuk mengambil barangku."
Sarah
masuk ke ruang ganti bergantian dengan Fiona. Mungkin ia pikir tidak perlu
sungkan jika yang tersisa di dalam adalah Licia.
Ren
merasa bimbang harus menyapa Fiona seperti apa.
Kejadian
barusan adalah salah satu momen paling berkesan dalam beberapa tahun terakhir
ini, di luar hal-hal yang berkaitan dengan pertempuran.
"Anu…… maaf soal yang tadi!"
"T-tidak! Justru aku yang harus minta maaf karena
memperlihatkan penampilan yang memalukan……!"
"Tidak,
tidak, tidak! Memalukan bagaimana…… itu sangat cocok untukmu, kok."
"~~!?"
Dipuji
"cocok" oleh Ren tentu membuatnya senang.
Tapi, dipuji di tengah situasi seperti itu…… apalagi dipuji
secara mendadak tanpa persiapan mental sama sekali.
Karena rasa senang dan malu yang meluap-luap, Fiona yang
wajahnya memerah padam menenggelamkan wajahnya ke dalam kostum yang ia pegang.
Matanya tampak sedikit berkaca-kaca.
Sambil tetap membiarkan Ren melihat keadaannya yang seperti
itu, ia kembali menggerakkan bibirnya sebelum Ren bertanya macam-macam.
Meskipun hatinya dipenuhi berbagai emosi, Fiona berujar,
"……Terima
kasih. Dan juga, maaf sudah membuatmu menunggu."
Ia mengucapkan
terima kasih dan permohonan maaf, lalu perlahan mulai menenangkan hatinya.
Setelah beberapa
saat mereka hanya berdua saja, Fiona menatap Ren dengan pipi yang masih sedikit
merona. Merasa malu jika hanya berdiam diri, ia teringat topik yang pas dan
mulai berbicara.
"Anu,
Ren-kun! Soal libur selanjutnya────!"
Mungkin karena perbedaan tinggi badan di antara mereka, Fiona secara alami berbicara sambil mendongak menatap wajah Ren yang berada di sampingnya.



Post a Comment