Chapter 6
Tempat
Peristirahatan Air dan Angin
Hari pertama libur panjang, sebuah kapal sihir bertolak
meninggalkan Ibu Kota.
Kapal itu dikelola bersama oleh keluarga-keluarga Bangsawan
Agung, sebuah kapal sihir putih megah yang dikenal dengan nama Deus.
Lemuria yang baru saja selesai diperbaiki tempo hari juga
termasuk kategori kapal ukuran menengah, tapi Deus jauh lebih besar dan mampu
menampung penumpang dua kali lipat lebih banyak. Kenyamanan interiornya pun
sangat luar biasa.
Dalam legenda Seven Heroes, kapal ini merupakan
sarana transportasi udara yang sangat penting saat terjadi event-event
besar.
Deus baru saja mendarat di Windea beberapa saat yang lalu.
Windea adalah sebutan bagi seluruh wilayah dengan daratan
yang bertumpuk-tumpuk dalam banyak lapisan, di mana bebatuan runcingnya semakin
tinggi ke arah tengah, seolah-olah ujung pedang yang ditusukkan ke langit.
Jika mendongak, bagian atas Windea tampak menembus awan dan
bersembunyi di baliknya.
Kapal sihir itu berlabuh dengan jarak sekitar belasan mail
dari lereng atau dinding batu yang bisa dipijak manusia.
Setelah
mengoperasikan alat sihir untuk memanjangkan tangga lipat, Vain dan
kawan-kawannya pun turun menginjakkan kaki di Windea.
Jika melihat ke
bawah, mereka bisa melihat air yang mengalir dari berbagai sisi berubah menjadi
kabut di tengah jalan, serta aktivitas hewan dan monster yang hidup di alam
liar yang luas.
Sedangkan jika
melihat ke atas, siapa pun pasti akan bertanya-tanya berapa lama waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai kuil.
"Fufufufu.
Hebat sekali memang navigasi Nemu. Sempurna!"
Navigasi
kapal ini tidak dilakukan oleh pilot profesional, melainkan ditangani sendiri
oleh Nemu Althea.
Sambil
membusungkan dadanya yang berisi, ia tertawa bangga, "fufun".
"Hei
Nemu, apa kita benar-benar tidak bisa berhenti di tempat yang lebih tinggi
lagi?"
Kaito bertanya sambil menatap puncak Windea.
"Nemu juga
ingin melakukannya, tapi sulit. Di atas sini, elemen angin dan air dalam mana
yang ada di atmosfer terlalu kuat, jadi penerbangannya tidak akan stabil."
"……Kalau
begitu mau bagaimana lagi. Berbuat nekat juga berbahaya."
Konon, material
monster atau bijih mineral mengandung mana yang digunakan pada kapal sihir bisa
terpengaruh, sehingga menyebabkan gangguan pada pengoperasian kapal.
Hal ini juga
berkaitan dengan alasan mengapa selama ini mereka tidak bisa datang ke Windea.
"Masih ada
sisa Crystal Ice, jadi sebaiknya kita berhenti sampai di sini
saja!"
Crystal Ice adalah es khas Windea. Setiap tahun,
begitu musim panas berakhir, hampir seluruh wilayah Windea tertutup oleh es
ini.
Ini bukan es biasa, melainkan es yang tercipta karena
pengaruh mana di tanah ini, sehingga tidak mudah untuk mencairkannya bahkan
dengan sihir sekalipun. Hingga beberapa minggu yang lalu, salju yang tebal juga
membuatnya sulit untuk didaki.
Apalagi saat musim dingin, angin kencang bertiup dengan
sangat ganas. Jika ingin melakukan persiapan yang matang, itu akan memakan
waktu lama, jadi pada akhirnya mereka tidak akan bisa berangkat sebelum musim
semi tiba.
"Teman-teman,
tolong jangan memaksakan diri. Aku akan merasa sangat bersalah kalau kalian
sampai terluka demi aku."
"Iya, iya…… aku kira mau bilang apa. Kami datang ke
sini karena memang ingin datang, jadi jangan dipikirkan."
Berawal dari perkataan Sarah, Charlotte, Nemu, dan Kaito pun
mengangguk setuju.
Dengan ini
jumlahnya ada lima orang. Berarti masih ada orang yang kurang.
Di antara
mereka yang belum terlihat, yang pertama kali muncul adalah Lizred dengan
tongkat besar di tangannya.
Ia
melewati tangga lipat dan hendak turun ke Windea.
"Tenang
saja, Vain! Selama ada aku, monster macam apa pun yang muncul tidak perlu
ditakuti!"
Vain tahu betapa
bisa diandalkannya sihir gadis itu, dan ia pun merasa tenang. Namun,
"Hoee?"
Lizred yang
sedang berjalan di tangga lipat tiba-tiba terpeleset.
Meski tubuhnya
berhasil ditangkap oleh Vain yang bergegas mendekat, tongkat besar yang
dipegang Lizred terjatuh menggelinding di tangga, lalu tok, terbentur
batu di tanah.
Gadis itu membuka
mulutnya lebar-lebar, sudut bibirnya gemetar hebat.
"Aaaaaaaaaaaaa!?
To, tongkat yang kubeli dengan menabung uang jajan selama tiga tahun dua bulan,
aaaaaaaaaaa!"
Tidak ada bagian
yang retak atau bengkok pada tongkat itu.
Lizred hampir
merasa lega, tapi begitu menemukan goresan kecil di bagian atas tongkat, ia
langsung jatuh berlutut dengan lemas.
"Boleh juga kau…… Windea."
Bagi Windea yang dijadikan kambing hitam atas kesalahannya
sendiri, ini pasti terasa sangat tidak adil.
"Liz~? Di
mana anak itu?"
"……Dia
sedang berdoa sebelum aku keluar tadi, jadi harusnya sebentar lagi──── eh
Shalo! Aku senang kamu mau membantu, tapi kenapa kamu berjalan sambil terus
memegang tanganku!"
"Bahaya
kalau kamu tersesat. Sejak kecil kan aku selalu begini? Padahal beberapa tahun
yang lalu kamu masih memanggilku Kak Shalo."
"Itu kan
cerita bertahun-tahun yang lalu! Aku juga sudah dewasa!"
Di tengah
keributan itu, Kaito menatap Vain.
"Di Windea
banyak jalan yang memiliki jebakan alami, bukan buatan manusia. Tempat ini
sering disebut sebagai benteng alami ciptaan alam. Untuk menuju kuil, kita
harus mencari jalan sambil menghadapinya."
Kaito saat ini
sedang memegang Silver King Shield Airia. Perisai itu ditemukan di gua
garis pantai di Eupeheim tempo hari, dan merupakan perisai yang digunakan oleh
leluhurnya. Berdasarkan reaksi saat bertarung melawan Wadatsumi,
keluarganya menyimpulkan bahwa Silver King Shield Airia telah memilih
Kaito sebagai tuannya.
Pintu kapal sihir
terbuka, dan orang terakhir pun menampakkan dirinya sesaat kemudian.
◇◇◇
Lemuria berlabuh
di tempat yang ketinggiannya seratus mail lebih rendah dari posisi rombongan
Vain.
Karena berlabuh
di lereng batu yang arahnya berlawanan dari Vain dan kawan-kawan, jarak mereka
tidak cukup dekat untuk bisa bertemu dengan mudah.
Namun, jika
mereka terus mendaki, pada akhirnya mereka akan berjalan berdekatan. Itu sudah
jelas dari topografi tempat ini.
"Aku akan
santai-santai di sini saja."
Uhrich berkata
sebelum mereka meninggalkan Lemuria.
Interior kapal
sihir ini terlihat seperti perpaduan antara rumah log kayu berwarna cokelat tua
yang memberikan rasa hangat dan atmosfer penginapan mewah. Kecuali area di
sekitar tungku dan mekanisme penggerak, tempat ini sangat nyaman untuk
ditinggali.
"Ngomong-ngomong,
Uhrich juga bisa bertarung?"
"Tentu saja!
Aku merasa lebih hebat daripada petualang sembarangan di luar sana."
Hal ini juga
sudah dipastikan di Taman Gantung tempo hari.
Pada dasarnya,
Dwarf adalah ras yang bangga akan kekuatan fisiknya. Uhrich sendiri termasuk
yang paling kuat di antara mereka.
Selama berada di
dalam Lemuria, monster tidak akan menyerang, dan jika pun mereka menyerang, ia
harusnya bisa melarikan diri dengan mudah, jadi tidak perlu ada yang
dikhawatirkan.
Sambil
memanjangkan tangga lipat sebelum mereka keluar dari kapal, sang Dwarf berkata.
"Kalian
tidak akan pulang setiap hari, kan?"
"Awalnya
kami berencana menjelajahi area yang tidak terlalu jauh, jadi kami akan pulang.
Baru setelah itu sepertinya kami akan benar-benar berkemah di luar."
"Lalu
setelah itu pulang ke rumah ya."
"Itu baru
rencana sih. Kalau tidak diselesaikan selama libur panjang ini, sekolahku akan
segera dimulai."
"Bagaimana
perkiraanmu?"
"……Selama
libur panjang ini, aku pasti akan menyelesaikannya."
Jika tidak bisa,
ia terpaksa harus bolos sekolah, jadi ia tidak berniat membiarkan ini
berlarut-larut. Itulah sebabnya ia melakukan persiapan sampai hari ini.
"Ayo
berangkat, Ren."
"Baik. Kalau begitu, Uhrich-san."
"Ouh. Hati-hati!"
Ren mengikuti Raguna yang sudah lebih dulu melewati tangga
lipat, lalu menapakkan kakinya di Windea.
Mungkin ini
pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat terpencil seperti ini sejak dari
Pegunungan Baldur. Ren menghirup napas dalam-dalam beberapa kali dengan
perasaan segar, lalu menatap Raguna.
"Dari mana
kita akan mulai menjelajah……"
"Soal itu,
bolehkah aku memberikan usul?"
Mendengar suara
Ren yang proaktif, Raguna tersenyum penuh harap dan berkata, "Coba
katakan."
Demi memenuhi
harapan Raguna, Ren mengeluarkan kertas lipat dari sakunya dan menyerahkannya
kepada Raguna. Saat Raguna membukanya, terlihat beberapa catatan yang ditulis
tangan oleh Ren.
"Sepertinya ini peta Windea…… Apa maksud lingkaran
merah dan angka yang tertulis di sebelahnya ini?"
"Itu urutan
penje──── maksudku, urutan tempat yang ingin kukunjungi."
"Aku tidak
mengerti. Kenapa kamu bisa menentukan rute sedetail ini?"
"Aku mencoba
mengumpulkan informasi di Serikat Petualang, dan mencari peta distribusi
tumbuhan yang tumbuh liar di Windea lewat buku."
Semuanya bohong,
tapi urutan berdasarkan ruang yang tampaknya menyimpan banyak mana adalah
benar. Tumbuhan yang tumbuh di sekitar sini memiliki banyak varietas khusus
yang tumbuh besar karena mana di atmosfer.
"Ada banyak
tumbuhan yang hanya tumbuh di sini. Di dekat situ, sepertinya mana padat khas
Windea sedang mengalir."
"Artinya, di
tempat-tempat seperti itu, barang milik Dewi Air mungkin tersembunyi?"
"Iya.
Begitulah rencananya, bagaimana menurutmu?"
"Tidak
buruk. Jalurnya hampir sama dengan yang aku pikirkan."
"……Kalau
sudah memikirkannya, harusnya katakan dari awal dong."
"Aku hanya
berniat mengusulkannya setelah bertanya padamu mau mulai menjelajah dari mana.
────Terlepas dari itu, waktu sangat berharga. Ayo berangkat."
Suara tumbuhan
yang bergoyang tertiup angin dan suara makhluk hidup di tanah ini terdengar
dari berbagai sisi. Langkah kaki mereka berdua tenggelam dalam keagungan alam
ini.
Terkadang mereka
juga memanfaatkan arus udara naik yang terjadi di Windea, mencampurkan cara
gerak unik di tempat ini untuk berkeliling ke berbagai lokasi.
Salah satu tempat
paling terpencil di Leomel.
Ren yang
tenggelam dalam suasana asing ini melihat kristal pada gelangnya di sudut
pandangannya.
(────Demi
kenyamanan penggunaan Water Magic Sword, dan untuk pergi ke tempat
persembunyian Mudie.)
Ia memastikan
tujuan perjalanan ini tanpa mengucapkannya.
Untuk memenuhi
dua tujuan tersebut, ia membutuhkan cincin yang bersemayam kekuatan Dewi Air.
Karena barang ini hanya bisa didapatkan sekarang, ia tidak boleh melewatkan
kesempatan ini.
Setelah beberapa
jam berlalu, sebuah tempat yang tersembunyi di balik tumbuhan rimbun mulai
terlihat.
Di sana terdapat
mata air kecil yang muncul di antara celah bebatuan. Ukurannya hanya cukup
untuk hewan kecil mandi.
Raguna
yang melihat ke dalam mata air, tempat air mengalir tenang dari dinding batu,
berkata.
"Barang
yang langka."
Di dasar
air, tergeletak sebuah bola kristal dengan warna yang mengingatkan pada hijau
tua di tengah musim panas. Tanpa ragu, Raguna menjulurkan tangannya dan
mengambilnya dari dalam air.
Seketika itu
juga, Ren merasa seolah-olah angin bertiup dari sekelilingnya. Ia bisa melihat dengan jelas angin
hijau bergerak seperti gelombang di dalam bola kristal tersebut.
Ren yang
memperhatikan situasi itu menggerakkan bibirnya.
"Itu
Crystal of Wind ya."
"Iya.
Melihatnya sengaja tenggelam di dalam air Windea, sepertinya afinitas keduanya
sangat tinggi. Sepertinya kita berjodoh dengan barang ini."
Tujuan Ren adalah mengumpulkan Crystal of Wind ini.
Itulah salah satu cara untuk mendapatkan Cincin Dewi Air yang bisa ditemukan
dalam Legenda Seven Heroes II.
Di sisi lain, Crystal of Wind tidak selalu ada di
tempat yang ditandai Ren pada peta. Karena kristal itu hanya ada di salah satu
dari tempat-tempat tersebut, kemungkinan besar beberapa tempat akan berakhir
sia-sia.
Ren
merasa lega melihat keberuntungan di awal ini dan berkata.
"Karena
sudah menemukannya, mari kita bawa pulang."
"Tentu. Ini
semacam fosil di mana mana yang melayang di sekitar mengkristal selama
bertahun-tahun. Tidak ada ruginya memilikinya sebagai objek penelitian."
Barang ini
berharga, tapi karena bukan merupakan relik suci tertentu, tidak masalah jika
mereka membawanya pulang tanpa izin.
"Lagipula,
mungkin bisa digunakan untuk sesuatu," kata Raguna sambil menyimpan Crystal
of Wind ke dalam tasnya.
Tepat saat mereka
berdua berpikir untuk beristirahat sejenak karena sudah sampai di tempat
berair, pepohonan di dekat situ bergoyang tidak teratur, dan beberapa pasang
mata bersinar di balik bayang-bayang pohon.
Ren, yang
menemukan cahaya-cahaya itu lebih cepat daripada Raguna, segera menjulurkan
tangannya ke arah Mithril Magic Sword.
"Ada
apa?"
"Ini bagian
tugasku. Raguna-san silakan lanjut mencari apakah ada barang lain di sekitar
sini, tidak apa-apa."
"Begitu ya.
Kamu sangat bisa diandalkan, itu sangat membantu."
Beberapa
detik kemudian, monster-monster yang tampak siap menyerang pun menampakkan
diri.
Ketika mereka kembali ke Lemuria dengan membawa Crystal of Wind yang
telah dikumpulkan, tirai malam sudah hampir menutupi seluruh langit.
Ren mandi
di kamar mandi yang ada di dalam kapal, lalu menyantap makan malam yang agak
terlambat bersama Raguna di ruang keluarga yang terhubung dengan ruang kemudi.
Saat itu, Uhrich
menyapa mereka.
"Kerja
bagus. Bagaimana hari ini?"
"Hmm…… secara mengejutkan tidak ada apa-apa."
"Iya. Benar-benar tidak ada sesuatu yang patut
dicatat."
Keduanya berkata tanpa ragu sambil menyantap makanan.
"Yah,
kalian berdua kan kuat."
"Meski
begitu, aku tidak melakukan apa-apa. Ren selalu membereskannya."
Ren yang
telah mengisi perutnya dengan makan malam untuk memulihkan tenaga, bangkit dari
kursinya setelah beristirahat sejenak.
"Aku
akan beristirahat sekarang untuk persiapan besok."
"Aku
juga akan segera beristirahat. Aku ingin mencatat hasil hari ini di memo lalu
segera tidur."
"Baiklah.
Aku akan mengecek kondisi Lemuria dulu baru tidur."
Uhrich
yang bertugas menjaga kapal pun sibuk mengelola Lemuria.
Sepuluh
menit kemudian, Ren sudah kembali ke kamarnya, menyiapkan barang untuk besok
lalu berbaring di tempat tidur. Sebelum tidur, ia melihat ke luar dari jendela
terdekat.
Pemandangan
di luar sama sekali tidak ada cahaya pemukiman manusia. Sebagai gantinya,
cahaya bintang terlihat lebih dekat daripada malam di Erendil.
"……Bagaimana kabar mereka berdua ya."
Sambil menatap pemandangan fantastis itu, Ren berkali-kali
memikirkan mereka berdua.
◇◇◇
Hari kedua mereka melakukan penjelajahan yang serupa,
dan pada senja hari ketiga, mereka sudah memiliki cukup banyak Crystal of
Wind di tangan.
"Lancar ya."
"Barang utamanya belum ketemu, tapi setidaknya
pengumpulan Crystal of Wind berjalan lancar. Tapi Ren, entah kenapa kamu terlihat puas."
"E-eh,
tidak, tidak! Bukan begitu kok!"
Mendapatkan Crystal of Wind adalah prosedur untuk
memperoleh Cincin Dewi Air. Jadi fakta bahwa prosedurnya berjalan lancar, baru
Ren saja yang mengetahuinya.
"……Untuk
sekarang cukup sampai di sini, kita harus menyiapkan perlengkapan untuk
berkemah."
Mereka berdua
menentukan tempat berkemah setelah berjalan selama belasan menit lagi.
Segera setelah
mendirikan tenda, mereka menyalakan api, lalu duduk di atas batu yang nyaman
sebagai kursi.
(……Seperti
biasa, langit terasa sangat dekat.)
Saat Ren
menyiapkan makan malam, ia menoleh ke samping dan melihat langit berwarna merah
jingga yang mulai ditelan oleh kegelapan malam.
Wilayah sekitar
sini sudah berada di tempat yang cukup tinggi di Windea, awan tidak hanya
dekat, tapi bahkan sering terbang tepat di samping mereka.
Angin bertiup
kencang, dan pemandangan air yang memancar dari berbagai tempat pun mengalir.
Sang Bag
Traveler menyapa profil wajah pemuda itu.
"Kenapa
terus melihat langit?"
"Anu…… aku
terpesona melihat pemandangan sekitar."
Mendengar
itu, Raguna menunjukkan ekspresi yang lembut.
"Perjalanan
itu menyenangkan. Bukan hanya bisa melihat hal yang belum diketahui, tapi kita
bisa melupakan segalanya dan menyatu dengan alam."
"Itukah
alasannya kamu menjadi Bag Traveler?"
"Iya.
Dan hari ini pun, ada sesuatu yang biasanya tidak bisa dilihat berada di dekat
kita."
Setelah
berkata begitu, Raguna menunjuk ke langit, "Lihat ke sana."
Di langit
yang sangat jauh──── di ujung langit yang jaraknya bahkan tidak bisa
dibayangkan, ada sebuah bayangan yang akhirnya terlihat setelah Ren berusaha
menyipitkan matanya dengan keras.
"Kelihatan?"
"Sepertinya
ada sesuatu yang mengapung. Tapi……"
Sulit dibedakan
karena bercampur dengan warna langit. Ia semakin menyipitkan matanya.
Lama-kelamaan
setelah identitas bayangan itu menjadi jelas, mulut Ren terbuka secara alami.
"Jangan-jangan,
itu adalah────"
Jawabannya
singkat.
Raguna
berkata sambil menopang dagu.
"Benar, itu
adalah Benua Langit."
Negeri langit,
bayangan yang terbang di angkasa yang sangat jauh itu terlihat samar.
Fenomena Glacier Crossing yang berkaitan dengan
keributan tahun lalu. Fenomena itu terjadi pada tahun di mana Benua Langit yang
terbang di angkasa mendatangi langit di sebelah utara Benua Elfen ini.
Sejak saat itu, Benua Langit terus melayang di angkasa, dan
berada di tempat yang bisa terlihat dari Windea.
"Benua yang diperintah oleh negara terkuat kedua di
dunia, Shelguard. Benua
tempat tinggal orang Shelguard yang berumur panjang sepertiku, negeri yang
paling dekat dengan langit."
"……Ternyata
benar-benar ada yang mengapung di langit ya."
"Jangan-jangan
kamu meragukan keberadaan Benua Langit?"
"Bukan meragukan sih…… tapi terkadang ada hal yang
sulit dipercayai sebelum melihatnya dengan mata kepala sendiri, kan."
"Kukuku, aku mengerti perasaanmu."
Raguna menyinggung tentang barang yang ditemukan di kota tua
tahun lalu dan cerita rakyat yang diwariskan di Benua Langit.
"Tapi
bagi Ren, Benua Langit bukan berarti tidak ada hubungan sama sekali, kan?"
"Maksudmu soal Cecil Ashton?"
"Tentu saja. Tuan itu pastinya adalah pria yang
menumpas burung Phoenix yang menyerang Shelguard. Jika hal itu diketahui
publik, Ren mungkin akan disebut sebagai keturunan pahlawan."
"……Rasanya itu tidak cocok untukku."
Tanpa jeda, ia
mengutarakan isi hatinya.
Raguna
yang langsung dibantah menunggu kalimat selanjutnya.
"Lagipula
belum ada bukti kalau dia adalah leluhurku. Mungkin cuma kebetulan nama keluarganya
sama."
"Tapi aku
yakin itu benar."
"Anda mengatakannya dengan sangat jelas ya…… apa ada
informasi yang belum Anda ceritakan padaku?"
"Tidak ada.
Tapi, romansa yang kucintai ini mengatakan itu benar."
"Bukankah
itu namanya cuma firasat……"
"Ini
romansa. Jangan salah sangka."
Bukannya ingin
mengatakan hal yang tidak sopan. Tapi mungkin karena Ren yang seperti itulah
yang ia sukai, suara Raguna terdengar lebih ceria dari biasanya.
"Kalau ada
kesempatan lagi, mari kita berkelana bersama."
"Ada apa,
tiba-tiba bicara formal begitu."
"Tidak ada
apa-apa, aku cuma sedang merasa ingin mengatakannya saja."
Berkemah seperti
ini sesekali mungkin tidak buruk juga.
Warna langit
semakin mendekati malam. Cahaya api unggun menyinari sekeliling dengan jauh
lebih terang daripada beberapa menit yang lalu.
Tiba-tiba.
"Ngomong-ngomong, ada satu hal yang membuatku
penasaran."
Sambil mengelilingi api unggun, Ren memikirkan sesuatu
secara santai.
"Windea ini diperlakukan seolah-olah hanya ada Dewi Air
di sini, tapi kenapa ya? Padahal namanya adalah tempat di mana Air dan Angin
bersemayam, tapi rasanya condong ke satu sisi."
"Wajar jika kamu berpikir begitu. Tapi, Dewi Air dan
Dewi Angin adalah saudari yang sangat akrab. Karena itulah kedua elemen itu
saling berkaitan."
"Heh~…… lalu, apa ada tempat yang kebalikannya dari
Windea?"
"Ada di Benua Mater. Di sana berbeda dengan Windea,
kekuatan Dewi Angin jauh lebih kuat."
Meski harus menyeberangi Samudra Besar Elfen yang luas yang
terletak di antara benua-benua, tempat yang disebutkan Raguna dan Windea saling
bertukar angin seolah-olah saling terhubung.
"Gunungnya mirip dengan Windea ini tapi sedikit
berbeda. Tidak buruk juga."
"Dari cara
bicaramu, sepertinya kamu pernah ke sana ya."
"Dulu,
sekalian saat aku menjelajahi Benua Mater. Aku pernah mendakinya sampai ke
tengah jalan."
"Lho? Kamu
tidak pergi sampai ke puncak?"
"Pengaruh
anginnya terlalu besar, tidak kalah dengan di sini. Angin kencang
bertiup sepanjang tahun…… tidak, itu badai namanya. Karena badai dahsyat
bertiup seolah-olah mengepung topografinya saja, aku tidak bisa mendaki."
Saat mereka berdua mengobrol, monster seperti burung raksasa
terbang di langit yang jauh dari lereng batu sambil mengeluarkan suara
teriakan.
Tak lama
kemudian, langit benar-benar tertutup oleh kegelapan tanpa sisa.
◇◇◇
Beberapa
hari setelah meninggalkan Erendil, rencananya mereka akan menyelesaikan
penjelajahan di pagi hari, turun gunung dengan kekuatan fisik, dan sudah
kembali ke kediaman pada tengah malam.
Hari itu pun,
mereka mulai beraktivitas sejak pagi buta.
"Benar-benar
seperti kastel tumbuhan."
Raguna yang
berjalan di depan menemukan benteng alami yang diciptakan oleh berbagai macam
tumbuhan.
Tumbuhan yang
menutupi bebatuan dan saling melilit dengan kuat itu terasa keras, sulit untuk
dipotong dengan pedang biasa.
Namun, Ren tetap
memasang kuda-kuda dengan Mithril Magic Sword, lalu menebasnya dengan
cepat.
Akar-akar yang
melilit pun terlepas dengan mulus, menunjukkan jalan di depan mereka.
"Sepertinya
tidak ada masalah sama sekali ya."
"Bagaimanapun
juga, ini cuma tumbuhan."
Jebakan-jebakan
itu dirancang oleh monster tipe tumbuhan raksasa yang hidup di sekitar sini,
jika salah langkah, makhluk hidup yang datang hanya akan dijadikan mangsa.
Akar-akar tebal yang menghalangi jalan semuanya adalah perangkap yang dipasang
oleh monster tertentu.
Ren
melewati tempat itu sambil menghindarinya.
Menyusuri
celah-celah di mana tumbuhan semakin rumit dan saling menjalin—yang bahkan
sudah tidak bisa disebut jalan—selama sekitar dua jam.
Sebuah
rongga yang hampir berbentuk seperti permata tersembunyi di balik bebatuan dan
tumbuhan. Di sana, angin hijau bertiup saling tumpang tindih secara tidak
teratur, seolah-olah sedang melindungi sesuatu.
Ren dan
Raguna berdiri dengan dahan tebal sebagai pijakan, melihat situasi sekeliling.
"Raguna-san,
lihat itu."
Yang
ditunjuk Ren adalah sesuatu di mana angin hijau saling tumpang tindih secara
tidak teratur. Benda itu melayang di tengah rongga ini, dan jika berjalan di
atas dahan yang tebal, mereka nyaris bisa mendekatinya.
"Apakah
ada seseorang yang sedang menggunakan sihir angin?"
"Tidak…… mungkin karena ada Wind Jewel di
sana."
Mendengar perkataan yang tanpa ragu itu, Raguna berkedip
beberapa kali karena terkejut.
"Wind Jewel…… memang benar benda itu ada, tapi
jangan-jangan di sini?"
Itu adalah permata sangat berharga yang menyimpan mana padat
setelah Crystal of Wind terbentuk selama bertahun-tahun. Barang penting
lainnya yang dibutuhkan untuk mendapatkan Cincin Dewi Air.
"Aku juga
ingin mendapatkannya sebagai bahan penelitian, tapi angin di sekitarnya
merepotkan ya."
"Hanya itu
saja yang mengganggu. Tapi────"
Untungnya,
angin-angin itu juga merupakan sihir yang dikeluarkan oleh Wind Jewel,
jadi selama ada Ren, ini pun tidak perlu dikhawatirkan.
"Biar aku
yang mengatasinya."
Sambil memegang Mithril
Magic Sword, Ren melangkah maju ke arah pusat angin kencang tersebut.
Angin yang
melayang di sekitar Wind Jewel sangat tajam hingga bisa dengan mudah
menyayat tubuh manusia atau monster, jadi tidak bisa sembarangan didekati.
Namun Ren
tidak gentar, ia mendekat sampai batas di mana angin menyentuh kulitnya. Di
sana, ia memberikan sedikit tenaga pada tangan yang menggenggam Mithril
Magic Sword.
Tidak ada
keraguan. Cukup ayunkan dengan tenang.
"────Hup!"
Ia
menebas secara horizontal dengan Mithril Magic Sword dengan tenang,
mematikan angin sihir tersebut dengan tekanan pedangnya.
Sesuai
dengan nama teknik bertarung Hoshisagi, sihir angin itu pun lenyap dan
berubah menjadi butiran cahaya hijau yang berkilauan.
Angin
yang bertiup di rongga itu kini tidak lagi melukai manusia.
Yang
tersisa adalah permata biru kehijauan yang melayang di udara. Wind Jewel.
Ren
sempat berpikir jika saja ia bisa mendapatkan Magic Sword baru dengan
ini, tapi karena ini bukan batu sihir, aura itu tidak terasa.
Ia mengambil Wind Jewel tersebut, lalu kembali ke
tempat Raguna.
"Maaf membuatmu menunggu."
"……"
"Raguna-san?"
"Ah, maaf. Aku hanya sedang berpikir kalau kamu memang
benar-benar seorang Sword Saint."
Ia sudah sering mendengar tentang kekuatan Ren, dan sempat
melihatnya sekilas sebelum berangkat, tapi melihatnya lagi secara langsung
seperti ini memberikan kesan yang berbeda karena terlihat sangat memukau.
"Alasan mengapa Sword Master disebut sebagai
musuh alami penyihir, itu tadi sungguh luar biasa."
"Terima
kasih. Kalau begitu, mari kita kembali ke tempat tadi."
"Dengan
memakan waktu dua jam ya."
"……Perjalanannya
masih panjang ya."
Baik Ren maupun
Raguna, langkah kaki mereka sama sekali tidak terasa berat.
◇◇◇
Berbeda dengan
tadi, saat mereka kembali ke tempat yang masih bisa disebut jalan dan mudah
untuk dipijak, Ren menghela napas sejenak.
Saat berhadapan
dengan jebakan sihir alam yang dipasang oleh monster tertentu, keduanya
berhenti di saat yang sama dan mulai mengamati situasi.
(Tumbuhan di
area ini tidak boleh dipotong sembarangan.)
Berbagai macam
vegetasi merambat di sekeliling mereka, menjalin kerumitan layaknya jaring
laba-laba. Semuanya merupakan mekanisme jebakan yang tak terelakkan saat menuju
Cincin Dewi Air.
"Kita harus
mencari jalan yang bisa dilewati tanpa paksaan."
"Tempat ini
sangat terbuka. Pasti ada satu atau dua jalan."
Berbeda dengan
rongga tempat Wind Jewel berada, tempat mereka sekarang adalah ruang
luas yang membentang ke segala arah—depan, belakang, kiri, kanan, atas, maupun
bawah.
Saat menoleh ke
sisi yang tidak terlalu rimbun oleh tanaman atau kontur tanah, di baliknya
terlihat dinding batu yang tampak seperti tumpukan pedang tajam... pemandangan
megah Windea.
(Syukurlah.
Jalan itu masih ada di sana.)
Di ujung
pandangan Ren, dahan pohon raksasa kuno menjulur kokoh layaknya sebuah jalan
setapak.
Jalan-jalan itu
terhubung secara tiga dimensi, tampak mengarah ke suatu tempat.
"Raguna-san,
lihat ke sana."
"Benar.
Sepertinya kita bisa lewat dari situ."
Keduanya memilih
rute yang sekiranya memungkinkan untuk dilewati, hingga akhirnya mereka berdiri
di jalur alami tersebut.
Mereka berhenti
dan mendongak di atas jalur yang menyerupai jembatan gantung di atas ngarai
raksasa.
Selain rongga
yang menjulang tinggi, di sisi kiri dan kanan membentang ruang luas yang
mencapai seratus mail—atau bahkan lebih luas lagi.
Dari celah jalan
ini, mereka bisa melihat ke bawah, namun yang tampak hanyalah hamparan awan
rendah layaknya samudra dan siluet monster yang terbang di dekat sana.
"Di depan
sana ada ruang di mana mana angin dan air terserap lebih kuat dibanding tempat
mana pun."
Raguna berucap
sambil melihat alat sihir yang menyerupai jam tangan.
Ujung jalan inilah tempat Cincin Dewi Air yang Ren ketahui
berada.
"Untuk
sampai ke sana, pertama-tama kita harus melakukan sesuatu terhadap tumbuhan di
sekitar sini."
Ren menunjukkan
gestur sedang berpikir sebelum akhirnya angkat bicara.
"Mari gunakan Crystal of Wind."
"Itu barang yang cukup berharga, apa yang akan kamu
lakukan?"
"Kebanyakan
tumbuhan di Windea tumbuh berkerumun karena tertarik oleh mana air dan
angin."
"────Artinya,
kamu ingin menciptakan situasi yang sama seperti tempat di mana Crystal of
Wind berada?"
Layaknya
melemparkan umpan, Ren melemparkan Crystal of Wind ke titik yang dirasa
tepat.
Dengan begitu,
kesadaran monster yang menciptakan jalur alami ini—begitu pula tumbuhan yang
hidup di sini—seharusnya akan bergerak ke arah sana mengikuti insting, sehingga
jalan akan terbuka.
Itulah alasan Ren mengumpulkan Crystal of Wind. Meski
barang ini bernilai tinggi jika diuangkan, inilah saatnya menggunakannya.
"Jika diberi benturan keras, Crystal of Wind
akan pecah dan melepaskan angin kencang tanpa daya rusak. Saat itulah, mana alam yang tersimpan di dalamnya
akan ikut terlepas."
"Dan itu
akan menjadi umpan terbaik bagi makhluk-makhluk yang menyukai mana Windea ini,
ya?"
"Selain itu,
meskipun kita mencoba membakarnya dengan sihir atau alat sihir, tumbuhan ini
akan segera tumbuh kembali."
"Benar,
merusak alam di tempat ini juga bukan hal yang baik. Jika mereka bereaksi
terhadap mana dari Crystal of Wind, jalan seharusnya terbuka. Tapi,
bagaimana dengan jalan pulangnya?"
Itu bukan
pertanyaan menjebak, melainkan diskusi yang mutlak diperlukan.
"Mari
kita sisakan Crystal of Wind untuk jalan pulang."
"Lalu,
bagaimana jika kita tidak bisa menyisakannya?"
"Aku sudah
memikirkannya, dan sepertinya hanya ada satu cara."
Ren
menjawab pertanyaan Raguna sambil tersenyum tipis.
"Jika itu
terjadi, mau tidak mau kita harus menenangkan 'Penguasa' area ini."
Penguasa.
Monster kuat yang mendominasi alam liar di sekitar sini.
Satu-satunya
musuh tangguh di Windea ini... sosok yang tidak perlu dilawan kecuali jika
dipaksa. Dialah eksistensi yang menciptakan sebagian besar tumbuhan di sekitar
mereka menggunakan sihir alam.
Alasan
mengapa dia belum menyerang Ren dan Raguna adalah karena biasanya dia tenang
dan bukan tipe monster agresif.
Namun,
sekali saja ada musuh asing yang merusak wilayahnya, dia akan segera mengamuk
hebat.
"Mari
gunakan rencana itu."
"Meski aku
sendiri yang mengusulkannya, apa Anda yakin tidak apa-apa?"
"Perjalanan
tanpa bahaya itu membosankan. Tapi tentu saja, aku tidak punya keinginan untuk
bunuh diri."
Raguna
menatap Ren sambil tersenyum menantang.
"Mari kita
mulai. Jika hanya diam saja, matahari akan keburu terbenam."
Ia menjentikkan
jarinya, lalu tas raksasa yang digendongnya memuntahkan satu butir Crystal
of Wind.
Raguna
menangkapnya dengan tangan kanan, memberikan tatapan melirik yang karismatik ke
arah Ren, dan pada saat berikutnya.
"Pergilah!"
Crystal of Wind itu meluncur lepas dari tangannya.
Dilempar dengan penuh tenaga, kristal itu jatuh ke bawah...
menuju ruang hampa udara. Terembus angin kencang di ketinggian, menjauh dari
dinding batu menuju langit tempat para monster terbang.
Namun──── benda itu tidak lenyap begitu saja.
Sesaat setelah Raguna kembali menjentikkan jarinya,
lingkaran cahaya kecil muncul di dekat Crystal of Wind, dan dari sana
muncul rantai perak yang menembus kristal tersebut.
Suara denting nyaring—seperti kaca pecah, atau es yang
terinjak di genangan air musim dingin—sampai ke telinga Ren.
"Inilah kekuatan Crystal of Wind……!?"
Angin yang jauh lebih kuat dari bayangannya menyentuh pipi
Ren.
Selain kekuatan
angin kencang yang diselimuti warna hijau tua, hanya dengan bernapas pelan saja
ia bisa merasakan kekuatan angin segar di tempat ini.
Selagi Ren
tertegun──── suara gesekan sesuatu yang bergerak mulai terdengar dari
sana-sini.
Tumbuhan yang
tadinya menghalangi jalan semuanya menjulur ke bawah. Hanya jalur alami yang
tersisa, terhubung menuju jalan yang lebih dalam lagi.
Melihat itu, Ren
dan Raguna mulai berlari seolah sudah berjanji.
"Ternyata
tepat seperti dugaanmu, Ren!"
"Bukan
apa-apa! Itu cuma kebetulan!"
Jalur alami itu
hanya terdiri dari dahan tebal, daun, dan akar-akar yang terasa tidak kokoh.
Saat berlari,
pijakan kaki terasa sangat tumpul, dan jika melirik ke bawah, jalur itu
bergoyang layaknya jembatan gantung.
Namun, keduanya
tidak mempedulikan hal itu dan terus menggerakkan kaki sekuat tenaga.
"Astaga! Terus bergoyang begini jadi susah
lari!"
Jalan
yang mereka lalui terus bergetar. Monster yang menciptakan jalur ini sedang
menggerakkan tumbuh-tumbuhannya demi mengejar mana yang tercipta dari ledakan Crystal
of Wind.
Para
monster yang terbang di langit terkejut dengan anomali ini dan mengeluarkan
pekikan masing-masing.
Sambil
berlari di depan Raguna, Ren berkali-kali menebas dahan dan tumbuhan pengganggu
yang bukan bagian dari rute menggunakan Mithril Magic Sword.
(……Banyak
sekali!)
Baik
dahan maupun daun, semuanya adalah bagian dari vegetasi liar yang tumbuh tanpa
campur tangan manusia. Ada kerepotan tersendiri yang berbeda dari sihir alam
milik sang Penguasa.
"Sebentar lagi kita sampai ke bagian dalam
Windea!"
Jalur alami itu menghilang di tengah jalan, dan
dinding-dinding alam yang baru diciptakan oleh sang Penguasa muncul di
mana-mana.
"Sepertinya
dia benar-benar ingin mengusir kita! Lihat! Bukan hanya akar, bahkan
dahan-dahannya pun bergerak seperti binatang!"
"Di
mana-mana memang sudah seperti itu, ya!"
"Kalau
begitu──── maaf, tapi kalian pergilah ke sana!"
Crystal of
Wind di tangan Raguna
kali ini dilemparkan ke arah belakang.
Begitu kristal
kedua hancur berkeping-keping, tumbuhan yang tumbuh di depan mereka pun mulai
bergerak.
Kebanyakan
tumbuhan berpindah menuju tempat di mana Crystal of Wind meledak...
memanjang ke arah belakang mereka. Tumbuhan yang tampaknya tercipta dari sihir
alam pun tiba-tiba berubah arah.
Baik dahan yang
menjalin rumit maupun akar-akar yang tumpang tindih layaknya tenunan.
Semua yang
diciptakan sang Penguasa jauh lebih kokoh dibanding tumbuhan alami. Semuanya
meluncur melewati Ren dan Raguna dengan kecepatan seperti peluru.
"……Hup!"
"Anda
baik-baik saja!?"
"Jangan
pedulikan aku! Segini sih
bukan apa-apa!"
Jika salah satu
dahan atau akar yang bergerak itu menghantam mereka, kulit mereka pasti akan
terkelupas oleh momentumnya.
Mereka
menghindari tumbuhan yang melintang bebas itu dengan gerakan tubuh yang ringan.
Melawan tumbuhan
di sini hanya akan memicu pertempuran yang merepotkan, jadi mereka berfokus
sepenuhnya untuk menghindar.
Dunia fantastis
yang terjepit di antara dinding batu dan tumbuhan ini harusnya akan segera
berakhir.
……Sedikit
lagi! Jika terus maju seperti ini, mereka seharusnya bisa melewati jalur
ini.
Namun,
『────』
Tepat saat Ren
mulai tersenyum, getaran tanah dan suara yang mengguncang ruang terdengar
menyatu.
Padahal tumbuhan
liar maupun sang Penguasa yang menciptakan ruang ini seharusnya sedang
teralihkan perhatiannya oleh mana dari ledakan kristal kedua…….
"Barusan
itu……"
Ren refleks
menghentikan langkah, dan Raguna yang berhenti sesaat kemudian segera
menyandarkan punggung padanya. Saat itu, tumbuhan yang bergerak seperti peluru
sudah benar-benar tertarik menuju mana dari Crystal of Wind.
Musuh yang
tersisa adalah sang Penguasa.
"Yah."
Raguna berucap
sambil menghela napas.
"Harusnya
beberapa ratus mail lagi kita sampai ke tujuan, tapi kalau begini kita tidak
bisa lewat."
"……Bukan
cuma di depan, di belakang pun sudah tertutup."
Ke mana pun mata
memandang, jalur sudah tertutup oleh tumbuhan yang terjalin rumit. Semuanya
merupakan hambatan dari sihir alam sang Penguasa.
"Sepertinya
rencana kita sudah ketahuan."
"Tapi…… aneh ya. Aku pikir kita bisa dijadikan umpan,
tapi Crystal of Wind seharusnya terasa jauh lebih menggiurkan bagi
mereka."
"Aku juga berpikir begitu, tapi faktanya situasinya
seperti ini."
"Iya. Aku mengerti."
Ren tahu sang Penguasa akan mengamuk demi mengusir penyusup.
Namun, yang dibutuhkan untuk menghindari amukan itu adalah Crystal
of Wind, dan yang dibutuhkan untuk mendapatkan Cincin Dewi Air adalah Wind
Jewel.
Bagi Ren,
reaksi sang Penguasa ini di luar dugaan.
"Aku tidak
tahu kenapa, tapi kita tidak bisa lari dari kenyataan."
Sebagai contoh,
dunia berbentuk bola raksasa. Manusia kerdil berdiri di atas pijakan yang tidak
kokoh.
Menampakkan diri
dari bawah tempat mereka berdiri, lalu melompat di antara tebing batu terdekat
sembari menciptakan pijakan dahan tebal di dekat Ren, muncullah monster indah
dengan bulu yang bersinar biru keputihan.
Sekilas tampak
seperti rusa, namun dari perawakan dan keindahan bulunya, jelas terlihat bahwa
ia bukan rusa biasa.
Tanduknya yang
bercabang di kepala sangat besar, mungkin mencapai tiga mail, sebanding dengan
tubuhnya yang besar dan ramping.
Begitu ia
menghentakkan kaki depannya dengan kuat ke batu, angin yang diwarnai mana hijau
menyebar layaknya riak air.
『────』
Monster yang
berbicara dengan bahasa yang tidak dipahami manusia. Ren menggumamkan
namanya.
"Pale-blue Deer of the Ancient Land────"
Eksistensi yang telah menjadikan bagian dari Windea ini
sebagai wilayah kekuasaannya sejak ratusan tahun lalu, Penguasa area ini. Ia
dikenal bukan sebagai monster yang ganas dan jahat, melainkan sosok dewa
pelindung.
"Jarang sekali dia menampakkan diri di depan manusia.
Namun, dia tidak akan memberi ampun pada siapa pun yang merusak
wilayahnya."
Bahkan sekarang
pun, dia mencoba menunjukkan kekuatannya melalui sihir alam yang dahsyat.
"Dia
mengangkat kaki depannya untuk mengintimidasi. Atau mungkin itu peringatan agar
kita segera pergi."
"Tapi, kami
punya urusan di depan sana."
"Tepat
sekali. Karena itu, aku juga tidak berniat lari pulang."
Jika
sudah begini, pertempuran tidak terelakkan lagi.
Sang Bag
Traveler mengambil inisiatif. Ia mengarahkan tangan ke arah monster di
hadapannya, dan dari udara muncul rantai yang melilit kedua tanduk monster itu.
『──!!』
Namun, rantai itu
seketika putus oleh suatu kekuatan dan lenyap.
Raguna tertawa kecut melihat respons musuh yang terlalu
cepat.
"Sepertinya dia bukan lawan yang bisa ditangani sambil
lalu, ya."
Ren yang mendapat lirikan sekilas menjawab tanpa melepaskan
pandangan dari sang Rusa Kuno.
"Kalau
begitu, biar aku yang membereskannya sekali lagi."
"……Tapi,
jika kita membunuhnya, itu akan memengaruhi ekosistem Windea. Jika
memungkinkan, aku ingin kita hanya memukulnya mundur saja."
Atau meninggalkan
wilayahnya, tapi itu bukan pilihan.
"Dimengerti,"
jawab pemuda itu tanpa ragu.
Sang Rusa Kuno
menendang dahan tebal dan melompat. Begitu mendarat di dahan rapuh tempat Ren
berdiri, dahan itu bergoyang jauh lebih hebat dari sebelumnya.
Seketika sang
Rusa Kuno mengarahkan tanduknya pada Ren, dan di sana muncul luapan mana angin
yang bergejolak. Karena mana yang terlalu padat, pemandangan di sekitar
tanduknya tampak kabur.
Ren berdiri
menghadang di depan Raguna, menatap tenang segala hal yang membangun medan
tempur ini.
"Mari
kita bergerak ke dalam sambil menjaga jarak."
"Apa kamu
bisa?"
"Aku akan
mengusahakannya. Setelah
itu, kita ambil barangnya dan segera pulang."
"Jadi
intinya, Ren akan membereskan semuanya sampai akhir, ya."
Ren
mengangguk mantap, dengan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya.
"Aku
di sini memang untuk itu!"
Ia
menerjang maju dengan semangat, dan sang Rusa Kuno pun ikut bergerak maju.
Ditusuk
oleh dua tanduk raksasa itu pasti akan berakibat fatal, tapi ini adalah Ren.
Pengguna Sword Master yang telah menjadi Sword Saint tidak
mengenal rasa takut, ia tidak melepaskan pandangannya dari sang Rusa Kuno.
Mengabaikan
sensasi pijakan yang goyah, bentrokan terjadi dalam hitungan detik.
『────!?』
"Tch…… keras sekali!"
Saat menangkis tanduk sang Rusa Kuno dengan Great Tree
Magic Sword, Ren terkejut oleh kekokohan yang melebihi bayangannya.
Namun sang
monster pun ikut membelalakkan mata karena bentrokan ini.
"Raguna-san!
Sekarang!"
"Sangat
membantu!"
Tubuh sang Rusa
Kuno terhuyung akibat tekanan Sword Master yang merasuk hingga ke
otaknya.
Berkat itu,
muncul celah pada tumbuhan yang menghalangi jalan. Memanfaatkan kesempatan ini,
Raguna berlari melewati sisi tubuh raksasa sang Rusa Kuno.
Tatapan tajam
monster itu sempat terarah pada Raguna, namun,
"Lawanmu
adalah aku!"
Tekanan dari Ren
tidak mengizinkannya melakukan lebih dari itu, memaksa kesadarannya kembali
fokus.
Dari atas, bawah,
kiri, dan kanan.
Melihat kekuatan
sihir alam yang mendekat dari hampir segala arah yang bisa terpikirkan, Ren
menarik napas panjang.
"……Kalau
begitu!"
Ia justru
memanfaatkan sihir musuh.
Ia melompat dari
dahan tempatnya berdiri, mencengkeram akar dan dahan yang menjulur di udara,
terkadang menjadikannya pijakan sambil memancing sang Rusa Kuno menjauh.
"────Dia
mengubah posisi, anginnya berubah?"
Berbeda dengan
tadi, kekuatan yang menyelimuti tanduknya berubah menjadi angin yang lebih
tajam.
Mungkin karena
kekuatan sihir, di mata Ren pemandangan di sekitar tanduk itu tampak bergetar
dan ruang di sekitarnya terdistorsi.
Konsentrasi mana
yang tadinya bergejolak kini semakin ditingkatkan. Dari tanduknya muncul aliran
angin yang seolah-olah menyedot benda-benda di sekitarnya.
……Itu gawat!
Jika terkena angin itu, ia pasti akan mengalami luka parah.
Sambil tersenyum
kecut, Ren melenyapkan Great Tree Magic Sword dan menggenggam kembali Mithril
Magic Sword.
Tiba-tiba kilatan
hijau muncul... cahaya yang tersisa setelah sang Rusa Kuno melesat dengan
kekuatan angin di sekujur tubuhnya kini mendekat ke depan mata Ren.
"Maaf…… kami akan segera pulang!"
Ren merendahkan suaranya sambil menahan angin kencang yang
seolah-olah akan menerbangkan tubuhnya.
Sebelum kilatan hijau itu menghantamnya, ia menebas
horizontal dengan Mithril Magic Sword.
Efek khusus terhadap sihir, Hoshisagi.
Angin di sekeliling dan kilatan hijau itu berubah menjadi
mana murni dan lenyap, menyisakan sosok sang Rusa Kuno yang mendekat dengan
gerakan secepat angin.
Kebanyakan tumbuhan yang tercipta dari sihir alam juga ikut
lenyap, dan akibatnya pijakan Ren menjadi semakin tidak stabil.
Namun, ia tidak akan membiarkan dirinya terpojok dalam
pertempuran ini.
『Shiiiiii────!』
Pale-blue Deer of the Ancient Land mendengus napas panas,
tatapannya tajam penuh permusuhan saat ia menonjolkan tanduknya.
Meski terjangan itu lebih cepat dari angin, Ren menahan
tanduk tersebut dengan Mithril Magic Sword dalam posisi yang menyerupai
adu kekuatan, lalu ia menyelimuti senjatanya dengan energi Sword Master
yang pekat.
『!?』
Mata Ren
beradu dengan sang Rusa Kuno.
Masih
dalam posisi tatapan terkunci, Ren mengerahkan tenaga untuk mendorong sang Rusa
Kuno ke samping, berhasil menghindari terjangan maut itu sepenuhnya.
Sang Rusa
Kuno akhirnya jatuh ke bawah mengikuti gravitasi. Namun, ia dengan cepat
menggunakan sihir alam untuk menciptakan pijakan, lalu mendongak menatap Ren…….
Sepasang
matanya memancarkan cahaya hijau zamrud yang berkilau.
"Tch────
dia jadi serius!?"
Wujud
agung yang mulai diselimuti gelombang hijau tua itu memberikan firasat akan
dilepaskannya kekuatan yang lebih besar lagi.
Guncangan
semakin menguat, dan sihir alam bergejolak hebat seolah hendak menunjukkan
kemurkaan yang melampaui sebelumnya.
……Tapi tidak apa-apa! Masih sempat!
Meski begitu, jarak ke tempat
tujuan tinggal sedikit lagi.
Pertempuran
sengit yang awalnya hanya ada dalam kemungkinan ini pasti telah meninggalkan
luka besar pada topografi sekitar. Hal itu harus dihindari bagaimanapun
caranya.
"Ren!
Cepat kemari!"
Ren
menanggapi panggilan Raguna, kembali ke pijakan awal dan berlari kencang────
dalam sekejap ia berhasil menyusul Raguna yang berada di depan.
Diringi
suara lengkingan Pale-blue Deer of the Ancient Land dari belakang, ia terus
maju tanpa menoleh sekali pun.
Saat itulah, Ren
tiba-tiba merasakan sesuatu di dalam dadanya. Kejadian mendadak itu hampir
membuatnya menghentikan langkah, namun ia hanya bergumam di dalam hati tanpa
mengeluarkan suara.
(……Barusan,
rasanya seperti ada yang menyuruhku untuk terus maju.)
Lalu, ia disuguhi
pemandangan yang sulit untuk dikatakan sebagai sekadar perasaan belaka.
Butiran mana biru
larut dalam angin, meniup ke arah tujuan mereka dan seolah menunjukkan jalan.
Di antara bagian
pegunungan yang membentuk Windea, warna biru itu semakin pekat saat mereka
masuk lebih dalam ke celah yang menyerupai gua di dinding batu.
Menanti
Ren yang berlari mengikuti panduan cahaya biru itu adalah jalan sempit dan
berliku yang menyerupai gua.
Di sana, di mana
banyak bijih mineral yang bersinar hijau tertanam di bebatuan, keduanya yakin
bahwa mereka akhirnya sampai di tempat yang aman. Ketegangan mereka pun
perlahan mereda.
Karena area ini
sudah bukan lagi wilayah kekuasaan Pale-blue Deer of the Ancient Land, monster
itu tidak lagi mengejar.
Yang melayang di
jalan sempit ini adalah angin biru yang menuntun Ren sampai ke sini. Melihat
angin itu terombang-ambing dengan tenang, ia merasakan sensasi seolah sedang
disambut.
"Astaga…… kenapa dia langsung mengincar kita? Padahal
bagi monster seperti itu, Crystal of Wind adalah kekuatan dan umpan yang
paling diinginkan."
"Mungkin dia sedang bad mood?"
"Itu…… bukannya tidak mungkin sih."
"Atau, dia mengincar Crystal of Wind yang ada di
dalam tas Raguna-san……?"
"Mustahil. Bagian dalam dan luar tasku terisolasi. Ini
barang khusus yang bisa menampung benda lebih banyak dari kelihatannya, jadi
rasanya dia tidak mungkin menyadarinya."
"Kalau begitu, mungkin memang benar dia sedang bad
mood."
"……Memang, kemungkinan itu jadi terasa semakin
tinggi."
Mereka terus maju
sambil melakukan percakapan yang tidak memiliki jawaban pasti itu.
"Tempat ini
lumayan luas ya."
"Sepertinya
lima atau enam orang bisa berjalan berdampingan di sini."
Selain itu,
karena bijih mineral yang memancarkan cahaya hijau tertanam di berbagai sisi,
pijakan mereka pun terasa terang.
Setelah berjalan
beberapa saat di dalam gua yang sunyi,
"────Sepertinya
alasan kenapa dia bad mood tersembunyi di sini."
Di tengah
perjalanan menyusuri gua, Raguna bergumam saat melihat pemandangan di depannya.
Ren pun ikut melihat ke sekeliling dan mengeluarkan suara
terkejut.
"Apa…… ini?"
"Ada
jejak seperti tempat yang diinjak-injak manusia. Sepertinya bukan
perbuatan monster."
"Lalu…… ada juga bekas hantaman senjata ya."
Terdapat juga bekas sisa penggunaan sihir; dinding dan
langit-langit gua tampak terkikis tidak beraturan, atau bahkan runtuh.
"Apa ada seseorang yang datang lebih dulu sebelum
kita……? Tidak, tapi────"
Ren tidak memiliki ingatan tentang event semacam itu,
sehingga ia semakin meningkatkan kewaspadaannya. Raguna pun merasakan hal yang
sama, dan keduanya terus melangkah lebih dalam.
……Ternyata benar, Windea juga sedang diincar?
Menyesuaikan dengan sebuah petunjuk yang terus ia
pikirkan sejak musim dingin ini…….
Sambil menggemakan suara langkah kaki dan menggenggam Magic
Sword, ia bersiap agar bisa bertarung kapan saja.
……Kalau begitu, apakah mereka juga mengincar
Cincin Dewi Air? ……Tapi, kenapa Kultus Dewa Iblis mencarinya?
Ia mencari jawaban pada bagian-bagian yang tidak
jelas dalam Seven Heroes' Legend.
Meski sangat
mudah untuk diucapkan, ia tidak tahu apa-apa karena kekurangan informasi.
Mereka baru bisa
menginjakkan kaki di bagian terdalam gua setelah berjalan sekitar belasan menit
lagi.
Ruang terbuka
berbentuk kubah itu memiliki tinggi dan diameter sekitar dua puluh mail lebih,
sangat luas.
Setelah berjalan
sedikit, terbentang sebuah mata air dengan kedalaman setinggi lutut Ren, dan
air yang memenuhi mata air itu memancarkan cahaya biru yang indah setiap kali
bergoyang.
"Di sini
juga ada bekas diinjak-injak. Bebatuan di sini pun hancur."
Di tengah mata
air, terdapat kristal biru yang bersinar seperti kristal yang telah dipoles,
dan di dalamnya bersemayam cincin yang mengandung kekuatan Dewi Air.
Benda itu bisa
didapatkan dalam Seven Heroes' Legend, dan jika dipakai, pemain bisa
memperkuat sihir air, tapi…….
"Padahal aku
ingin menyambut momen ini hanya dengan kegembiraan karena bisa melihat barang
legendaris."
Melihat situasi
yang begitu berantakan, selain meningkatkan kewaspadaan, ia juga merasakan
emosi yang kompleks.
Namun, Raguna
yang sempat tersenyum kecut segera menatap Ren dengan wajah penuh kegembiraan.
"Terima
kasih. Berkat Ren, aku bisa tahu bahwa legenda itu benar adanya."
"Tidak, aku
sendiri juga tidak tahu apakah cerita tentang cincin itu benar atau
tidak."
"Bukan
begitu, aku tidak tahu sudah berapa kali terbantu oleh kecerdikan Ren hingga
sampai di sini. Aku tidak akan bisa mencapai Cincin Dewi Air jika sendirian.
Aku ingin segera melakukan sesuatu pada cincin itu, tapi────"
"Ah, kalau
begitu biar aku yang mengecek kondisinya, Raguna-san tunggu di sini saja."
Tanpa
mempedulikan kakinya yang basah, Ren menuju ke tengah mata air.
Pada kristal biru
indah yang bersemayam di tengah mata air itu, terukir goresan yang tak
terhitung jumlahnya seperti bekas hantaman pedang atau benda tajam lainnya.
Namun, cincin itu
masih tersisa di dalamnya.
Memang, rasanya
sulit dipercaya jika petualang biasa bisa sampai sejauh ini.
Ren yang
memikirkan hal itu dan Raguna yang waspada terhadap situasi sekitar, sesaat
kemudian terlintas dipikiran mereka tentang keberadaan Kultus Dewa Iblis.
Namun, tidak ada
bukti kuat karena informasi yang terlalu sedikit.
Yang terpenting
sekarang adalah bagaimana cara mengambil cincin tersebut.
"Sepertinya
ada seseorang yang mencoba mengambilnya paksa, tapi gagal. Itu berarti,
kemungkinan besar kita juga akan mendapatkan hasil yang sama."
"Tidak,
kalau soal itu tidak apa-apa ko────"
Ren hampir
mengatakannya seolah ia tahu segalanya, namun ia segera meralat ucapannya.
"────Maksudku,
sepertinya bagus kalau kita mencoba mendekatkan Wind Jewel. Seperti yang
Raguna-san katakan, air dan angin di Windea memiliki afinitas yang
tinggi."
Ia memilih cara
bicara seolah-olah dengan begitu mungkin mereka bisa menjangkau Cincin Dewi
Air.
Wind Jewel konon hanya ada beberapa buah di dunia.
Di sisi lain, Cincin Dewi Air adalah barang berharga yang hanya ada satu di
dunia.
Raguna sempat
ragu apakah boleh mengambil cincin itu dari dalam kristal biru, namun,
"Baiklah."
Ia menjawab
sambil menghela napas panjang dan mempersilakan Ren.
"Sepertinya
layak untuk dicoba."
"Kalau
begitu, boleh ya?"
"Ya.
Daripada dibawa pergi oleh orang-orang merepotkan, lebih baik kita yang
membawanya. Sebagai orang dari Biro Misteri, aku tidak bisa
membiarkannya."
Berbeda dengan
Raguna yang berpikir secara eksperimental, Ren tahu bahwa tidak apa-apa membawa
pergi Cincin Dewi Air.
Ren kembali untuk
menerima Wind Jewel yang dikeluarkan Raguna dari tasnya, lalu mendekati
kristal biru itu lagi.
"Lihat ini.
Sepertinya akan berhasil."
Segera setelah Wind
Jewel mendekati kristal biru, ia melepaskan angin hijau yang tenang.
"……Aku tidak
terlalu paham situasinya, tapi ini fenomena yang menarik."
Angin menyelimuti
kristal biru. Begitu goresan tipis di permukaannya lenyap, Cincin Dewi Air
tertarik keluar seolah-olah dihisap dari dalamnya.
Pemandangan itu
terlihat seperti cincin yang terseret oleh angin.
Beberapa detik
kemudian, cincin itu jatuh ke dalam air.
"……Astaga,
benar-benar perjalanan yang ajaib."
"Ini belum berakhir karena kita masih harus
pulang."
"Ah…… benar juga."
Ren menjulurkan tangannya hendak mengambil Cincin Dewi Air
yang jatuh ke dalam air.
Tiba-tiba,
"……Lho?"
Itu adalah kejadian singkat saat Raguna sedang memalingkan
wajah.
Cincin Dewi Air bergerak bahkan sebelum tangan Ren
menyentuhnya, menampakkan diri dari dalam air dan melayang tepat di depan mata
Ren.
Begitu cincin itu memancarkan mana yang bersinar biru,
cahaya itu terhisap ke dalam kristal pada gelang yang dipakai oleh Ren.
・Water Sword Ri■────■ Hanya sesaat, ia merasa
seperti melihat tulisan asing muncul pada kristal di gelangnya.
(……Cuma perasaanku saja?)
Tulisan itu hilang sebelum Ren bisa melihatnya dengan jelas,
membuatnya bingung.
Karena penasaran, ia segera mengecek kristalnya, namun
tulisan yang muncul sama dengan yang ia lihat saat pergi ke Rhodes Kaitas tempo
hari.
Ia merasa seolah tulisan yang menunjukkan Water Magic
Sword bergerak tidak teratur, namun sekarang tidak ada cara lagi untuk
memastikannya.
"Ada apa?"
"Cincinnya tiba-tiba melayang, jadi aku kaget."
Melihat Ren yang justru menggenggam cincin itu tanpa ragu
berlawanan dengan kata-katanya, Raguna awalnya menarik sudut bibirnya karena
terkejut.
"Kukira kamu bisa menunjukkan reaksi yang normal,
ternyata kamu menggenggamnya dengan sangat berani ya."
"……Memangnya
Anda menganggapku seperti apa biasanya. Untuk sementara, ini silakan."
Raguna
menerima cincin itu dari Ren, lalu menyimpannya dengan rapat ke dalam kotak
kecil yang ada di tasnya.
"Terlepas
dari keberanian Ren, aku akan menyimpan cincin ini beserta situasi di
sini."
"Ahaha……
maaf."
Ren tertawa
kecut, berpikir bahwa ia mungkin terlalu tidak waspada meski ia sudah tahu apa
yang akan terjadi.
"Tapi,
sepertinya situasinya tidak memungkinkan bagiku untuk menyimpan cincin ini
hanya karena aku orang dari Biro Misteri."
"Begitu
pulang, kita juga harus melapor ke istana ya."
"Aku akan
bicara pada Radius nanti. Bagi mereka yang tahu Ren datang ke sini, silakan Ren
sendiri yang bicara pada mereka. Mereka juga bukan tipe orang yang bermulut
ember."
Saat mengatakan
akan menerima permintaan ini di Ibu Kota, Ren telah mendapat izin Raguna untuk
berbagi informasi kepada orang-orang terdekatnya.
"Bagaimana
kalau kita minta Radius untuk menyelidiki hal-hal di sini?"
Jika Pangeran
Ketiga menggunakan kekuatan spesial yang ia miliki sejak lahir, mungkin ia bisa
tahu apakah ada jejak pengikut Kultus Dewa Iblis yang tersisa di sekitar sini.
Ren mengatakannya
karena berpikir demikian, namun…….
"Tidak bisa.
Dengan kondisi seperti ini, kita sudah tidak bisa lagi mencari jejaknya."
"Jawaban
yang sangat cepat, tapi apa tidak layak untuk dicoba?"
"Tidak. Aku
tahu betul kekuatan Radius. Aku yang melatih kekuatan itu bersamanya.
Sayangnya, jejak itu pasti sudah tertimpa oleh mana dari tempat ini."
Lagipula, Raguna
juga menunjukkan bahwa membawa Radius sampai ke tempat seperti ini sulit secara
fisik maupun posisi.
"Perkembangan
lainnya, termasuk perbaikan kunci itu, akan kukabari nanti. Tapi……
pantas saja kewaspadaan sang Rusa Kuno sangat tinggi."
"……Karena
ada musuh yang datang dan mengacak-acak gua seperti ini ya."
Bagaimanapun, itu
semua hanyalah spekulasi.
Bukti yang
mengganjal hanyalah banyaknya goresan pada kristal biru tempat Cincin Dewi Air
bersemayam, serta bagian dalam gua yang berantakan.
……Karena ia tidak
bisa memastikan apakah keanehan ini hanya terjadi di dalam gua, Ren mulai
mengkhawatirkan Vain dan yang lainnya yang sedang menuju ke lapisan atas.
"Mari kita
pergi ke kuil dan mengecek kondisi mata air di sana juga?"
"Sekalian
saja. Tidak masalah."
"Terima
kasih. Dan juga…… harusnya sudah ada tamu di mata air itu."
"Tamu? Siapa
yang ada di tempat seperti ini?"
"……Teman-temanku."
Raguna
tampak terperangah dan berkedip beberapa kali.
"Siswa
dari Akademi Militer Imperial? Jika mereka sampai ke tempat seperti ini, sepertinya mereka bukan siswa
biasa."
"Tentu saja.
Mereka adalah orang-orang yang dirumorkan sebagai keturunan Pahlawan
Ruin."
Tempat tujuan
mereka sudah tidak jauh lagi.
◇◇◇
Vain dan
kawan-kawan berada di lapisan yang lebih atas lagi.
Untuk sampai ke
sini, mereka telah berkali-kali mengalami kesulitan.
Meski merupakan
jalan pegunungan yang tinggi, air yang mengalir di dinding batu Windea
terkadang membentuk sungai tanpa pasir atau tanah.
Ikan-ikan
berwarna cerah yang biasanya terlihat di terumbu karang juga berenang di sana.
Beberapa di antaranya dianggap sebagai ikan mewah, yang membuat Vain dan
kawan-kawan yang berkemah bisa memanjakan lidah mereka.
Namun, di jalan
tertentu mereka harus menyeberangi sungai itu dan hal itu membuat mereka
pusing. Aliran airnya sangat kuat, ditambah munculnya monster membuat mereka
berkali-kali menghentikan langkah.
Ada juga tempat
di mana angin berwarna hijau pekat dan menjadi dinding, namun Vain dan yang
lainnya bekerja sama menembus benteng alami tersebut.
Sekarang, mereka
sedang mencari jalan untuk maju.
"Ke arah
sana ya."
Charlotte berkata
dengan suara yang penuh keyakinan.
Sang ahli panah,
Charlotte Loferia, juga mahir dalam sihir angin, dan ia memiliki bakat luar
biasa dalam merasakan hawa di Windea.
Vain berdiri di
pinggir tebing bersama Charlotte, mencari jalan ke sekitar sambil diterpa
angin.
"Sebentar
lagi sampai di puncak ya."
"Beneran deh, akhirnya ya~. Haah…… aku ingin mandi di
kamar mandi beneran, bukan mandi di bawah pancuran alat sihir."
Charlotte
tertawa kecut sambil berkata begitu, lalu ia segera menyeringai.
"Aha!
Bagaimana kalau nanti setelah pulang kita mandi bersama?"
"Tolong
jangan katakan hal aneh! Lihat…… sekarang kita harus memikirkan jalan
selanjutnya!"
"Hmm…… berarti kalau sudah selesai memikirkan jalan,
boleh ya?"
"Bukan begitu!"
Vain menyangkal dengan nada keras, lalu kembali menenangkan
diri dan mulai mengecek sekeliling.
Di mata Charlotte, profil wajah pemuda itu terlihat seperti
orang yang benar-benar berbeda dari setahun yang lalu. Terpesona oleh profil
wajah itu, ia bergumam pelan.
"Ternyata sudah berbeda jauh dengan waktu itu ya."
Dengan suara yang sangat pelan hingga tidak terdengar oleh
Vain.
Saat Charlotte
pertama kali bertemu Vain, pemuda itu sama sekali tidak terlihat bisa
diandalkan.
Dan ia tidak
pernah merasa bahwa kesan pertamanya itu akan berubah.
『Mohon bantuannya ya, Vain-kun.』
Ia memang menyapa
saat pertama kali bertemu, tapi ia merasa responnya dingin.
Ia tidak tertarik
pada Vain, dan kalaupun ada, kesannya hanya sebatas laki-laki yang disukai oleh
Sarah. Tidak lebih dan tidak kurang.
Namun, ada pemicu
yang membuatnya mulai menyadari keberadaan pemuda itu.
『────Ke
mana perginya ya?』
Charlotte
memiliki kalung yang ia hargai sejak kecil.
Itu adalah
warisan kakeknya, dan pada dasarnya ia selalu memakainya kecuali saat mandi
atau tidur.
Ia menyadari
kalungnya hilang sebelum mandi, dan meski sudah mencari ke seluruh penjuru
kediaman tetap tidak ketemu, akhirnya ia keluar rumah dan mencari dengan teliti
di taman hingga di depan gerbang, namun tetap saja tidak ketemu.
『Sepertinya
tidak ada laporan yang masuk ke sini.』
『Begitu,
ya.』
『Mohon
maaf. Kami akan segera menghubungi jika sudah ditemukan.』
Keesokan harinya
ia bertanya ke ruang administrasi akademi apakah ada barang hilang yang
dilaporkan, tapi tidak ada.
Vain yang melihat
Charlotte seperti itu menyapanya.
『Loferia-senpai,
ada apa?』
『……Ya.
Aku sedang mencari sesuatu.』
『Kalau
boleh, mau aku bantu cari?』
Itulah event
mencari barang hilang yang diingat Ren sebelumnya. Kejadian pada hari di mana
Sarah terlihat bad mood tak lama setelah Ren masuk akademi.
Pencarian kalung
itu berujung pada fakta bahwa rantai kalungnya putus dan jatuh saat Charlotte
sedang berjalan di Ibu Kota, dan orang yang menemukannya mencoba menjualnya
melalui serikat dagang yang melakukan praktik ilegal.
Ia berjuang keras
untuk mengambilnya kembali, dan di akhir ia harus bertarung dengan pengawal
lawan hingga akhirnya keributan berakhir.
『Hah…… hah…… kamu terlalu nekat tahu……!』
『Bukan
cuma aku saja. Charlotte-senpai juga.』
『Aku tahu
kok……! Ah astaga, kalau begini kita berdua bakal dimarahi!』
Di sana,
Charlotte mulai mengubah pandangannya saat melihat sosok Vain yang berani
menghadapi pengawal musuh tanpa rasa takut. Dan juga, sosok Vain yang
melindunginya.
Pemuda yang
awalnya hanya sekadar orang yang disukai temannya, kini menjadi lebih dari itu.
Setelah kejadian
itu, ia dimarahi habis-habisan oleh orang-orang keluarga Bangsawan Agung dan
juga Sarah karena telah berbuat nekat!
『Vain
maupun Shalo jangan nekat begitu lagi! Mengerti!?』
『……Aku
mengerti, aku minta maaf.』
『Aku juga
minta maaf. Karena
sudah melakukan banyak hal sendirian.』
Karena
tidak ada waktu demi mengembalikan kalung Charlotte tepat waktu, kejadiannya
mengalir begitu saja hingga menjadi pertempuran.
Meski tidak ada
waktu untuk memanggil bantuan, keduanya berkali-kali mengucapkan kata-kata
penyesalan.
『Aku dan
Shalo-senpai itu anu…… pokoknya kami ingin melakukan sesuatu
bagaimanapun caranya……』
『……Sha,
Shalo-senpai?』
Harusnya sampai
kemarin Vain memanggilnya Loferia-senpai.
Bukan hanya
memanggil nama, tapi ia memanggilnya dengan nama panggilan akrab.
『Ke,
kenapa tiba-tiba cara memanggilnya berubah ya……?』
『A, aa!
Shalo-senpai yang bilang kalau aku boleh memanggilnya begitu.』
『……Begitu
rupanya. Baiklah. Kalau begitu aku juga harus mendengarkan penjelasanmu
baik-baik.』
Perubahan cara
memanggil itu juga sempat menimbulkan sedikit keributan, tapi────.
Lalu,
sekarang.
"Shalo-senpai?"
Saat Charlotte
sedang memperhatikan profil wajah Vain yang sudah dewasa, Vain memanggilnya
karena khawatir Charlotte terdiam.
"Bukan
apa-apa. Ternyata laki-laki itu cepat sekali ya pertumbuhannya."
"Eh? Apa
maksudnya?"
"Makanya,
aku bilang Vain-kun juga sudah jadi laki-laki ya."
"……Ha,
hah."
Alasan kenapa
Charlotte terlihat senang tidak diketahui sampai akhir, tapi yang harus
diprioritaskan adalah jalan selanjutnya.
Saat keduanya
sedang memikirkan cara untuk maju, terdengar suara lengkingan keras yang diduga
milik monster dan suara benturan yang mengguncang ruang dari suatu tempat.
"Suara
barusan────"
"Ya. Untuk
berjaga-jaga, ayo kita segera bergabung dengan yang lainnya."
Vain dan Charlotte saling bertukar pandang, lalu mulai
waspada terhadap sekitar.
Keduanya
segera bergabung dengan teman-temannya, namun suara seperti tadi tidak
terdengar lagi.
Segera setelah sampai di ketinggian tempat kuil berada, mereka serentak duduk
di tanah untuk mengistirahatkan tubuh yang kelelahan karena jalan yang terjal.
Jika
tujuh orang keturunan pahlawan berkumpul, maka ada juga pengguna sihir
penyembuh. Berkat itu mereka segera pulih, dan dalam waktu kurang dari tiga
puluh menit mereka mulai berdiri dan melihat ke sekeliling.
Lizred
menghampiri Vain yang berada di sampingnya.
"Suara keras
dan lengkingan tadi itu apa ya?"
"Kaito-senpai
juga bilang, mungkin ada monster yang sedang bertarung."
"Meski
begitu suaranya keras sekali lho. Jika monster sedang bertarung, berarti itu sesama monster yang kuat. Kita harus berhati-hati saat pulang
nanti."
Mereka juga sudah
sampai di sini sambil menjelajahi jalan menuju tempat ini hingga hari ini.
Karena kapal
sihir Deus berlabuh di lapisan yang lebih atas dari Lemuria yang ditumpangi
Ren, waktu yang digunakan untuk mendaki jadi lebih sedikit.
"Oooi!
Vain!"
Menanggapi
panggilan Kaito, ia menuju ke tempat Kaito berada.
Kuil yang
bersemayam di tempat ini sangat besar, dan di sana tidak ada dinding yang
berarti. Bangunannya memiliki struktur yang penuh dengan kelegaan dengan
barisan pilar yang tebal.
Di salah satu
sudut alun-alun tempat kuil berdiri, terdapat mata air yang menjadi tujuan
mereka.
Meski tempat ini
menonjol dengan desain bebatuan, ada bagian yang menyerupai taman kecil yang
mungil.
Pemandangan di
mana pepohonan tumbuh rimbun di sekitar dan berbagai warna bunga bermekaran
menarik perhatian Vain. Ia merasa angin di sekitar seolah menuju ke mata air
tersebut.
"Vain,"
panggil Sarah.
"Ayo pergi.
Kita harus memastikan apakah legenda itu benar."
Secara alami,
Vain jadi berjalan paling depan dibanding yang lainnya.
Jarak
menuju mata air tidak terlalu jauh, mereka sampai setelah berjalan pelan selama
dua menit.
Di depan mata
air, Vain yang berlutut di atas rumput perlahan menjulurkan tangannya.
"Airnya…… bersinar."
Air yang memenuhi mata air mulai memancarkan cahaya putih.
Keenam orang itu terkejut melihat keagungan saat sang
keturunan pahlawan menerima cahaya tersebut.
Cahaya yang dipancarkan air perlahan terhisap ke dalam tubuh
Vain, dan setelah puluhan detik cahaya itu benar-benar menghilang.
Saat tersadar, pedang yang dibawa Vain di pinggangnya sudah
dipenuhi dengan cahaya.
Baru saja tumbuhan yang mengelilingi alun-alun mulai
berdesir, suasananya berubah drastis diringi dengan guncangan besar. Merasakan
anomali tersebut, monster yang terbang di langit sekitar mulai berkumpul satu
demi satu.
Namun, saat Vain mencabut pedang yang diselimuti cahaya dan
mengangkatnya ke langit, gelombang cahaya merambat ke angkasa, membuat monster
yang tak terhitung jumlahnya ketakutan dan terbang menjauh secara serentak.
Masih di tengah cahaya yang melayang di sekitar,
"────Sepertinya memang begitu."
Vain menoleh ke arah teman-temannya dan berkata sambil
tersenyum sesuai usianya.
Setelah kejadian utusan raksasa Wadatsumi di musim dingin,
ia sendiri sering merasakan keberadaan kekuatan suci itu dengan kuat, hingga
akhirnya ia mulai bisa menggunakannya sedikit demi sedikit.
Seseorang yang mewarisi darah Pahlawan Ruin, telah
ditinggalkan di sini.
Meski puluhan menit telah berlalu, mereka saling
terhubung tanpa bertukar kata.
Seluruh keturunan tujuh pahlawan menghabiskan waktu sesuka
hati mereka. Mereka memandangi air yang bergoyang tertiup angin di depan mata
air.
Tak lama
kemudian, satu orang berdiri dan meninggalkan tempat ini. Orang itu menuju ke
arah kuil setelah memberikan sepatah kata pada Kaito.
Melihat itu,
Charlotte bertanya.
"Kaito~?
Anak itu kenapa?"
"Katanya mau
memberikan doa di kuil."
"Kalau
begitu kita juga pergi sebentar lagi ya. Mari berdoa pada Dewi sebelum
pulang."
Baru saja
membicarakan hal itu, beberapa detik kemudian.
『Si────siapa
itu!』
Suara pemuda yang
terdengar dari arah kuil adalah suara orang ketujuh yang baru saja beristirahat
bersama di sini.
Orang
yang pertama kali berdiri dan berlari adalah Vain.
"Ayo
pergi!"
Menanggapi
seruan tersebut, lima orang yang tersisa ikut bangkit secara serentak.
Mereka
berlari menuju kuil dengan semangat yang seolah tak kenal lelah, lalu menaiki
beberapa anak tangga batu. Pemuda yang berteriak tadi berdiri di dekat pintu
masuk kuil dengan posisi siaga.
Vain maju
ke depan untuk melindunginya, ia merendahkan tubuhnya sambil mengamati situasi.
Namun,
saat ia melihat dua orang yang berdiri di depan altar di bagian dalam kuil…… terutama sosok yang berdiri di salah satu
sisi, ia berkedip berkali-kali.
Melihat
punggung yang terasa familier itu, Vain tak sengaja menggumamkan suara
terkejut.
"Eh?"
◇◇◇
Pale-blue
Deer of the Ancient Land masih dalam kondisi mengamuk, namun Ren yang telah
mendapatkan Cincin Dewi Air segera meninggalkan tempat itu bersama Raguna
menuju puncak.
Berkat
memanfaatkan arus angin naik dan menggunakan tanaman yang merambat lurus ke
atas sebagai jalan pintas, mereka berhasil mencapai ketinggian ini dengan
sangat cepat meskipun jaraknya lumayan jauh.
Keduanya
memasuki alun-alun dari jalan yang berbeda dengan rute Vain dan kawan-kawan,
lalu langsung menuju kuil untuk mengecek keadaan tanpa mampir ke mata air.
Di sanalah,
mereka berpapasan dengan para keturunan tujuh pahlawan.
Ren mendengar suara Vain dan
berbalik.
Sosok
teman sekelasnya yang ia lihat untuk pertama kali di masa liburan ini terasa
semakin gagah dari sebelumnya, dan ekspresinya pun tampak lebih penuh percaya
diri.
Hanya
dengan menyadari bahwa dirinya adalah keturunan Pahlawan Ruin, bahkan aura yang
ia pancarkan pun tampak sudah berubah.
"Kamu
jadi lebih kuat ya," ucap Ren dengan senyum ramah.
"Ah…… kuharap begitu," jawab Vain singkat, lalu ia
mendekat dengan langkah perlahan.
"Aku sempat berpikir, apa orang sepertiku pantas
mendapatkannya. Tapi, jika memang darah Pahlawan Ruin mengalir dalam diriku,
aku yakin pasti ada peran yang harus kujalankan. Karena itu, aku akan melakukan apa yang aku
bisa."
"Ya. Kurasa
itu bagus."
"Tapi Ren,
kenapa kamu tahu soal itu? Apa kamu juga tahu tentang mata air di sini?"
"Kalau soal
legenda, aku pernah membacanya di buku."
Setelah
percakapan sampai di sana, Raguna berkata, "Aku akan memeriksa sekitar
dulu, bicaralah sesuka kalian," lalu ia pergi menjauh untuk memberi ruang
bagi mereka.
"Orang
itu jangan-jangan, sang Bag Traveler?"
"Benar.
Aku sedang membantu pekerjaannya di Windea."
Beberapa
orang tampak terkejut mendengar pekerjaan macam apa yang membuat Ren bisa
bersama sang Bag Traveler, namun Ren tidak memberikan penjelasan lebih
lanjut.
"Aku
datang ke sini karena ingin melihat keadaan Vain dan yang lainnya, tapi
sepertinya aku malah mengejutkan anak yang tadi."
Ren
kemudian tersenyum kecut penuh sesal, lalu menoleh ke arah pemuda yang
mengeluarkan suara terkejut tadi.
"Aku Ren
Ashton. Teman sekelas Vain."
"Maafkan saya soal tadi. Saya Squall Meldeg."
"Tidak
apa-apa. Aku juga minta maaf sudah mengejutkanmu, jadi jangan dipikirkan."
Salah satu dari
tujuh pahlawan adalah seorang pendeta bernama Shishir Meldeg.
Ia adalah
penyihir putih agung yang konon menyembuhkan luka rekan-rekannya selama
perjalanan menaklukkan Raja Iblis.
Selain itu, ia
juga menunjukkan eksistensinya dengan kekuatan suci saat bertarung melawan Raja
Iblis.
Kini ia dikenal
sebagai Saintess yang namanya terukir dalam sejarah, dan potretnya dipajang di
kuil-kuil di berbagai daerah.
Squall yang ada
di sini juga merupakan penyihir putih yang berbakat. Tubuhnya ramping dengan
tinggi rata-rata anak seusianya. Rambutnya berwarna cokelat kusam. Ia adalah
pemuda dengan paras yang cantik.
"Meskipun
ini pertemuan pertama kita, saya sudah sering mendengar tentang
Ashton-san."
"Tentangku?"
"Ya. Ayah
saya pernah berkata; ada seorang ksatria luar biasa yang melindungi White
Saintess."
"Be…… begitu ya."
Bagi kepala keluarga Meldeg, sepertinya sosok yang
melindungi Licia, sang White Saintess, adalah hal yang patut diperhatikan.
Namun, karena saat ini Licia sedang menjaga jarak secara
diam-diam dari Gereja Elfen, mendengar pembicaraan seperti itu membuat perasaan
Ren sedikit kompleks.
Selain itu,
kejadian di Rhodes Kaitas mendadak terlintas di pikirannya, membuat senyumnya
terasa kaku.
"Suatu
kehormatan bisa dipuji seperti itu oleh Earl Meldeg."
Ren hanya
menyampaikan itu lalu menoleh kembali ke arah Vain.
"Vain, jika
urusanmu sudah selesai, sebaiknya kalian segera pulang."
"Sebenarnya
aku berniat begitu, tapi apa terjadi sesuatu?"
"Ya. Kurasa
begitu."
Ren mengangguk,
mengingat kejadian sebelum dan sesudah ia mendapatkan cincin tersebut.
"Apa itu
maksudnya suara keras dan yang lainnya tadi?"
Ren menduga yang
dimaksud adalah suara pertempurannya saat menuju ke sini atau lengkingan para
monster.
"Itu juga
ada hubungannya. Tapi jalan yang kalian lalui aman, jadi kalian akan baik-baik
saja kalau pulang dengan hati-hati. Turunlah dengan tenang, lalu naik kapal
sihir untuk kembali ke Ibu Kota."
Faktanya, Vain
memang sempat membicarakan soal suara dahsyat itu dengan Charlotte.
Merasa alasan itu
masuk akal, Vain mengangguk pada teman-temannya.
"Kalau
begitu, kenapa Ren tidak pulang bersama kami saja?"
"Aku tidak
apa-apa. Jangan khawatirkan aku."
"────Tapi,"
"Ada
anak-anak kelas satu juga di sini, jadi jangan pedulikan aku."
Tiba-tiba Lizred
mengeluarkan suara dengan nada sedikit merajut yang menggemaskan.
"Ashton-senpai!
Apa Senpai meremehkan kekuatan Liz dan yang lainnya!"
"Aku tidak meremehkan kalian. Tapi, memang benar kalian
tidak perlu berlama-lama di sini, kan?"
"Itu…… memang benar sih."
Untuk jalan pulang, ada banyak rute yang bisa dilewati
dengan merambat pada akar-akar, jadi mereka bisa segera kembali ke kapal sihir.
Lizred menoleh ke
arah Vain, menunggu keputusannya.
"Semuanya,
jangan terlalu lama di sini."
Begitu
sang Sword Saint berkata demikian, Vain akhirnya mengangguk. Ia dan
teman-temannya segera berbalik memunggungi Ren dan berjalan menuju keluar kuil.
Vain
menoleh sekali lagi ke arah Ren untuk terakhir kalinya, merekam sosok Ren yang
sedang mengantar kepergian mereka dalam pandangannya.
Setelah Vain dan yang lainnya pergi, Ren
mencari keberadaan Raguna.
Sosok Raguna yang
katanya hendak memeriksa sekitar, ternyata berada di depan mata air tempat Vain
dan kawan-kawan berada hingga belasan menit yang lalu.
"Tampaknya
Anda tidak terlalu tertarik pada Vain dan yang lainnya ya. Padahal kupikir Anda
akan lebih peduli begitu mendengar mereka keturunan pahlawan."
"Aku sudah
mendengar rumor tentang mereka sejak kejadian musim dingin lalu. Kalau dibilang
tidak tertarik itu bohong, tapi aku merasa tidak perlu mengajak bicara secara
khusus."
"Makanya di
tengah jalan Anda malah pergi ke mata air ya."
Ren berucap
sambil menatap permukaan air, lalu tersenyum tipis dalam diam.
(Apa yang
kulakukan tadi benar-benar seperti Ren Ashton, ya.)
Saat mengingat
kembali tindakannya tadi, ia merasa sangat mirip dengan sosok Ren Ashton dalam Seven
Heroes' Legend.
Muncul tiba-tiba,
mengucapkan kata-kata yang menusuk inti permasalahan, lalu pergi begitu saja
dengan penuh teka-teki.
Di saat lain,
ketika menghadapi musuh kuat, ia juga pasti akan ikut bertarung sebagai sekutu
sementara.
"Mumpung di
sini, aku ingin mengecek kualitas airnya. Kamu boleh santai-santai dulu."
"Okee."
Raguna
mengeluarkan beberapa alat sihir dari tasnya dan mendekati mata air. Ia
memasukkan air ke dalam tabung reaksi, lalu mulai mengukur nilai-nilai
tertentu.
Setelah
beristirahat beberapa menit, Ren berkeliling di sekitar mata air tanpa tujuan
khusus. Saat berkeliling ke balik pepohonan, ia menatap tajam ke arah kristal
di gelangnya.
"Apa itu
tadi bukan sekadar perasaanku saja ya."
Ia merasa ada
perbedaan pada tulisan Water Magic Sword, namun tetap saja ia tidak bisa
memastikannya meskipun sudah melihatnya sekarang.
Terlepas dari
itu, sensasi telah menyerap sedikit mana dari Cincin Dewi Air terasa sangat
nyata.
Sensasi yang
sangat mirip saat ia pertama kali memakai baju pelindung dari material Asvar
dan menggunakan Flame Magic Sword bisa ia rasakan tanpa perlu memanggil Water
Magic Sword.
Jika ia mencoba
meniru sihir air yang ia ingat sekarang, ia yakin ia bisa melakukannya, berbeda
dengan sebelumnya. Meski begitu, Ren hanya tersenyum kecut.
"────Tapi,
jangan menyerap sembarangan."
Ia memperingatkan
kristal pada gelangnya.
Bukannya tidak
boleh sama sekali, tapi melakukannya tanpa sepengetahuannya sungguh
mengejutkan, jadi itu perlu dipikirkan lagi.
Kembali ke
mata air, Ren melihat Raguna yang masih memegang tabung reaksi.
Raguna yang
berpenampilan seperti sang Bag Traveler sedang melakukan penyelidikan
sambil bersenandung.
"Apa kamu
melihat sesuatu?"
"Karena
jarang datang ke tempat seperti ini, aku jadi ingin jalan-jalan sebentar."
Ren kembali duduk
di atas rumput untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Water Magic
Sword yang sudah dicoba
berkali-kali namun tidak terasa pas, mungkin dengan ini situasinya akan sedikit
berubah.
Sambil berpikir
demikian, Ren mengarahkan pandangannya ke permukaan mata air. Ia mengingat
kembali kejadian hari ini, perjalanan jauh yang penuh dengan hal-hal di luar
rencana.
"……Akhirnya,
aku juga bisa pulang ke Erendil."
Akhir dari perjalanan sudah berada tepat di depan mata.



Post a Comment