Chapter 11
Sword Saint dan
Priest. Di Tempat
Peristirahatan Air dan Angin.
Pilar-pilar
raksasa yang berjejer di pelataran kuil. Ruang terbuka yang luas.
Rambut ketujuh
remaja itu bergoyang tertiup angin Windea yang merasuk dari luar celah pilar.
Begitu dinding api yang memisahkan ruang itu lenyap, sosok pemuda itu pun
terlihat di hadapan mereka.
"Ren…… benarkah itu kamu?"
"Ya."
Vain mungkin
sedang sangat terguncang.
Pikirannya hanya
terfokus pada kenyataan bahwa dia dan teman-temannya sudah babak belur,
sehingga ia tidak bisa berpikir jernih.
Ia tidak mampu
memahami sepenuhnya kekuatan Ren, dan hanya bisa terpaku dengan pikiran yang
buntu.
"……Dia
berbahaya."
"Aku tahu.
Aku datang ke sini karena sudah tahu hal itu."
"Ka-kalau
begitu────!"
Namun Vain masih
menatap Ren, seolah ingin mengatakan sesuatu.
Meski telah
menyaksikan pemandangan tadi, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak
memperingatkan Ren tentang Orfide.
"Tenang
saja, jangan khawatirkan aku."
Ren
memberikan jawaban singkat dengan senyum tipis di wajahnya.
Namun,
ekspresinya langsung berubah drastis.
"Mulai
dari sini──── biar aku yang hadapi."
Saat ia
mengalihkan pandangannya dari Vain menuju Orfide, segala keramahan di wajahnya
lenyap tanpa sisa.
Bagi Vain, sosok
Ren yang merupakan teman sekelasnya telah berubah sepenuhnya menjadi sosok Ren
sang Sword Saint yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Setelah
menghunjamkan pedang sihir api ke lantai batu, Ren mencabut pedang sihir
Mithril yang tergantung di pinggangnya.
"Bertarung
melawanku sendirian. Sepertinya itulah yang ingin kamu katakan."
"Ya, memang
itu niatku."
"Begitu ya,
rupanya aku tidak salah dengar."
Sang pendeta
menatap tajam pemuda yang menjawab dengan penuh keyakinan itu dengan tatapan
menusuk.
"Aku tidak
peduli siapa sebenarnya dirimu."
Setelah berkata
demikian, Orfide mengayunkan kakinya dengan tajam.
Magic Bullet.
Dengan daya
hancur yang meningkat drastis dibanding sebelum ia tumbang, sebuah proyektil
berwarna hitam pekat bercampur merah tua dilepaskan hingga membuat ruang di
sekitarnya bergetar hebat.
"Ren!"
Vain berteriak,
namun suaranya tenggelam oleh deru peluru sihir tersebut.
Itu adalah
teriakan penuh kekhawatiran terhadap teman sekelasnya, namun sebenarnya hal itu
tidak diperlukan.
……Sang keturunan
pahlawan dibuat merinding.
Seiring dengan
dilepaskannya kekuatan aura yang sangat pekat, ia merasa seolah-olah sedang
berhadapan dengan monster raksasa yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Peluru sihir yang
melesat cepat itu langsung musnah seketika oleh tebasan pedang sihir Mithril
yang bergerak jauh lebih cepat.
Sang
pendeta membetulkan posisi kacamata dengan tangannya sambil berucap.
"────Sepertinya
itu tadi bukan sekadar keberuntungan."
Sisa-sisa
cahaya dari peluru sihir yang hancur terbawa oleh angin.
Keberhasilan
Ren melenyapkan peluru sihir itu membuat para keturunan Tujuh Pahlawan
tercengang hingga kehilangan kata-kata.
"……Dia
bangkit kembali dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya?"
"Padahal
kamu tidak ada di sini tadi, tapi bicaramu seolah-olah kamu sudah tahu
segalanya."
"Aku tidak
bermaksud begitu. Hanya saja, perasaanku berkata demikian."
Jika
diibaratkan, ini seperti sebuah event battle yang tidak terduga.
Faktanya,
dalam legenda Tujuh Pahlawan, ada beberapa momen di mana Ren Ashton muncul di
tengah kepungan bahaya yang dihadapi Vain dan kawan-kawan.
Tanpa menunjukkan
rasa takut sedikit pun, Ren berkata dengan suara yang mantap.
"Apa pun
yang terjadi──── tujuanku untuk bertarung tidak akan berubah!"
Serangan Orfide
berikutnya kembali ditebas secara horizontal oleh pedang sihir Mithril dengan
kecepatan yang tak tertangkap mata. Hanya dengan satu tebasan, peluru sihir itu
hancur, menciptakan tekanan pedang dan tekanan angin yang menerjang area
sekitarnya.
"Hmm────
bahkan dengan ini pun, masih belum cukup?"
"Ya! Aku
akan menebasmu berkali-kali sampai kamu tumbang!"
Suara sang
pendeta yang mengandung rasa kagum disusul oleh suara pemuda yang terdengar
sangat berwibawa.
Angin, gelombang
energi, dan suara dentuman keras menari-nari di udara.
Dua kali…… lalu
tiga kali, adu pedang dan tinju terus berlangsung, diikuti dengan tekanan yang
mengguncang langit secara bertubi-tubi.
"Fuu…… sungguh disayangkan."
Melihat serangan balik Ren yang dahsyat mendekat, sang
pendeta menyilangkan kedua tangannya di depan wajah sebagai tameng.
Suara benturan yang memekakkan telinga menggelegar,
membuatnya terpental ke belakang hingga menghancurkan lantai batu di bawah
kakinya.
"────Sepertinya, arus pertempuran ini telah berubah
drastis."
Ucapnya dengan nada gusar sambil membetulkan posisi
kacamatanya, lalu menghela napas pendek.
Keheningan sesaat
menyelimuti tempat itu.
Vain dan
kawan-kawan terpaku oleh kekuatan Ren, sementara Orfide yang baru saja bangkit
mulai merasakan ketegangan yang meningkat menghadapi sosok kuat yang muncul
tiba-tiba ini.
Hingga akhirnya,
Kaito-lah yang memecah kesunyian dengan suara penuh kejutan.
"Yang benar
saja, Ashton!? Kamu……!"
Tadinya ia
berniat melindungi Ren, namun tubuhnya tidak bisa bergerak sesuai keinginan
sehingga reaksinya terlambat sesaat.
Akan tetapi,
bantuannya jelas tidak diperlukan, bahkan ia bisa membayangkan bahwa ikut
campur secara sembarangan justru hanya akan mengganggu Ren.
"Apakah
Leonhard-senpai juga baik-baik saja?"
"O-oi!
Seperti yang kamu lihat, entah bagaimana aku masih…… bukan, jangan cemaskan
aku! Daripada itu, kekuatanmu yang sekarang benar-benar……!"
"Syukurlah
kalau kalian baik-baik saja. Lalu, untuk sementara jangan pedulikan aku."
"Ma-mana
mungkin aku tidak mempedulikanmu……!"
Ren melemparkan
senyum lega kepada Kaito yang setahun lebih tua darinya, lalu segera
mengalihkan pandangannya kembali kepada Orfide.
"Melihat
caramu bicara dan seragam yang kamu kenakan, sepertinya kamu datang untuk
menyelamatkan teman-temanmu ya."
"Tidak,
bukan hanya itu saja."
Ren menjawab
singkat, dan kali ini ia bergerak lebih dulu dari lawannya.
Lantai batu yang
telah berubah bentuk akibat Dragon Breath hancur dan mulai melayang ke
udara. Mana bergejolak di sela-sela puing tersebut, mengumpulkan kekuatan yang
luar biasa.
"────Ada
satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu, makanya aku datang ke sini."
"Ingin bertanya padaku? Aku tidak mengerti apa
maksudmu…… tidak ada yang perlu kubicarakan dengan bocah-bocah Elfen."
"Aku sudah menduga kamu akan bicara begitu. Tapi──── aku akan memaksamu untuk
bicara!"
Bersamaan dengan
ayunan pedang sihir Mithril ke bawah, amukan dari Sanctuary Fall
menerjang Orfide.
Mana yang
bergejolak di antara puing-puing yang berterbangan tampak seperti kilatan
petir. Dengan tingkat kemahiran yang jauh lebih tinggi dibanding saat ia
menggunakannya di Eupeheim, Ren mengerahkan daya hancur yang luar biasa tanpa
sisa.
"Khu…… mustahil! Bagaimana bisa kamu memiliki kekuatan itu!?"
Di sisi lain,
para keturunan Tujuh Pahlawan tercekat dan menahan napas melihat kekuatan
dahsyat yang dilepaskan oleh Ren. Orfide, yang bahkan tidak punya waktu untuk
melirik mereka, mendecak kesal.
Karena tidak
sanggup menahan sepenuhnya Sanctuary Fall, ia terlempar jauh dan
kehilangan jejak Ren yang mengejarnya.
Meskipun begitu,
Orfide memejamkan mata dan mempertajam panca inderanya hingga batas maksimal.
"Fufu!
Gerakan yang sangat luar biasa!"
"Ketahuan…… tapi!"
Hawa keberadaan pemuda itu muncul tepat di belakang Orfide.
Sang pendeta Kultus Dewa Iblis merasakan sebuah emosi yang
tidak pernah ia rasakan saat bertarung melawan Vain dan kawan-kawan. Perasaan
ini sangat berbeda dibandingkan saat ia menghadapi ketujuh orang tadi.
Perasaan itu, pastinya adalah────
……Sosok yang berada di tingkat atas yang mutlak, tidak
bisa dibandingkan dengan para keturunan Tujuh Pahlawan itu!
Meski memiliki kekuatan regenerasi yang absolut, Orfide
menaruh rasa hormat terhadap serangan Ren.
Ia mencoba menahan serangan dengan menyilangkan kedua tangan
yang dilapisi mana, namun pedang sihir Mithril dengan mudah menebas mana milik
Orfide.
Kilatan pedang itu membentuk garis lurus dari leher hingga
perut bawah Orfide, namun tidak ada darah yang mengalir.
Lukanya langsung
menghilang seketika, namun kelelahannya sangat terasa. Mana yang terkuras untuk
beregenerasi jauh lebih besar daripada luka yang terlihat.
Tekanan
dari sang Sword Saint tidak berhenti sampai di situ.
"Belum selesai!"
"Ini…… Strong Sword!?"
Authority Sword.
Ini adalah teknik bertarung spesial yang hanya bisa
digunakan oleh mereka yang berada di tingkat Sword Saint di antara pengguna
teknik pedang berat.
Warna gelombang energi yang menyelimuti teknik ini
berbeda-beda tergantung penggunanya, dan selain daya hancur, karakteristik
uniknya pun berbeda bagi tiap individu.
Authority Sword yang digunakan Ren memunculkan
gelombang energi dalam dua warna. Perak murni yang mengingatkan pada kekuatan Licia,
dan hitam pekat yang mengingatkan pada kekuatan Fiona.
Meski karakteristik personal penggunanya masih belum
diketahui, daya hancurnya benar-benar patut dicatat.
"Bahkan
sampai menguasai teknik pedang berat……!"
"Menghadapi
seorang pendeta, aku tidak boleh menahan diri!"
"Aku merasa terhormat! ……Tapi aku juga tidak menyangka
akan ada siswa yang melampaui ketujuh orang itu!"
Bagi Ren, pertempuran ini adalah perjuangan untuk menggali
informasi dari Orfide.
Jika ia bisa menanyakan tentang gadis itu, ia mungkin bisa
mendekati kebenaran di balik tragedi dalam legenda Tujuh Pahlawan──── alasan di
balik pembunuhan Licia, White Saintess.
Ia sama sekali
tidak perlu menahan kekuatannya.
Pedang sihir
Mithril yang memancarkan mana dua warna seperti sambaran petir melepaskan
kekuatannya.
"Hiaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
"Khu……!"
Di tengah raungan
yang menyerupai teriakan perang, kekuatan yang bergejolak dan kilatan pedang
menerjang Orfide.
Daya hancur dari
serangan ini saja hampir merenggut nyawa Wadatsumi, sang utusan dewa raksasa.
Orfide yang menahan serangan tersebut memang merasakan kekuatan yang luar
biasa, namun ia tidak menyangka nyawanya akan terancam.
Kekuatan
regenerasi yang ia miliki adalah sesuatu yang istimewa.
Meski kekuatan
pahlawan milik Vain memiliki efek khusus terhadapnya, kekuatan Ren seharusnya
tidak demikian──── ya, seharusnya begitu, tapi.
"……Eh?"
"Mu-mustahil────!?"
Khusus untuk Authority Sword, hal itu berbeda.
Ren sendiri sampai mengeluarkan suara karena tidak
sepenuhnya memahami apa karakteristik uniknya, namun entah mengapa kekuatannya
memberikan efek terhadap kemampuan regenerasi Orfide, persis seperti kekuatan
Vain.
Kekuatan perak dan hitam yang terpancar dari pedang sihir
Mithril meninggalkan banyak luka di tubuh Orfide.
Darah mengalir. Darah merah segar.
"Ini bukan kekuatan pahlawan! Tapi kenapa, kamu bisa meniadakan
kekuatanku……!?"
Mendengar
gumaman Orfide yang tak sengaja terucap, Ren bereaksi, "Meniadakan?".
Menurut
Orfide yang menerima serangan itu, ini adalah sesuatu yang berbeda dari
kekuatan pahlawan.
Namun────
ini berhasil.
『……Aku
hanya bisa berpikir kalau kamu sudah menggunakan kekuatan spesial yang
mengandung sifat ketuhanan.』
Kata-kata Chronoa
di ruang kepala sekolah terngiang di benaknya.
Sifat ketuhanan
adalah karakteristik mana yang memenuhi Roses Caitas, sebuah sifat istimewa
yang tidak bisa dimiliki manusia dengan kekuatannya sendiri, kecuali bagi
pengecualian seperti sang pahlawan.
Itu setara dengan
mana milik dewa, atau bahkan mana dewa itu sendiri. Tanpa metode khusus, sifat
itu tidak akan bisa bersemayam dalam tubuh manusia.
Jika kemampuan
regenerasi Orfide juga mengandung sifat ketuhanan, maka wajar saja jika
kekuatannya di luar nalar. Itulah betapa tidak masuk akalnya sifat ketuhanan
tersebut. Karena kekuatan pahlawan menempati posisi teratas di antara sifat
ketuhanan lainnya, ia bisa menandingi sifat ketuhanan yang lain.
Namun, Ren tidak
memiliki kekuatan yang sama dengan Vain.
(Apakah Authority
Sword milikku meniadakan sifat ketuhanan?)
Tepat seperti
itulah yang diungkapkan oleh Orfide barusan.
Apakah peniadaan
sifat ketuhanan adalah karakteristik dari Authority Sword yang
dikerahkan Ren? Mungkin ia mulai mendekati jawaban yang selama ini tidak ia
temukan meski telah berulang kali mencobanya, namun Ren tidak memikirkan hal
itu lebih dalam.
(Sekarang…… itu tidak penting.)
Selama ia bisa
menekan kekuatan musuh, tidak ada yang lebih baik dari itu.
Karena hal yang
harus ia pikirkan sekarang hanyalah menghentikan Orfide.
"Keturunan
pahlawan maupun keberadaanmu benar-benar di luar dugaan!"
"Kalau di
luar dugaan, memangnya kenapa!"
"Tidak!
Padahal aku sudah menjauhkan Raja Pedang, sang Penyihir, dan bahkan Ketua
Kantor Ksatria Singa…… aku hanya tidak menyangka situasi akan menjadi seperti
ini!"
Setelah selesai
bicara, Orfide menjauh dari Ren sambil melancarkan serangan balasan dengan
banyak peluru sihir.
Masih dalam
balutan aura dua warna, pedang sihir Mithril menepis semuanya, dan kekuatan
yang dipengaruhi oleh Raja Iblis itu pun dimurnikan.
Dalam situasi
pertempuran ini, sang pendeta yang sebelumnya menunjukkan kekuatan luar biasa
melawan ketujuh remaja itu kini dipaksa untuk mengubah pandangannya.
Di saat yang
sama, ia mulai merasakan emosi yang bisa disebut sebagai rasa gentar terhadap
pemuda yang muncul tiba-tiba ini──── meski begitu, ia tidak kehilangan
ketenangannya.
Dengan harga diri
dan kegigihan yang ia pupuk sebagai petinggi Kultus Dewa Iblis, ia akan selalu
mencari langkah terbaik dalam situasi apa pun.
Detak
jantungnya semakin cepat, bergetar dengan pola yang tidak teratur dan aneh.
Berbanding
lurus dengan detak jantung yang kian cepat, mana yang memenuhi sekujur tubuh
Orfide pun semakin pekat. Menghadapi tebasan pedang yang tanpa ampun, setetes
keringat mengalir di pipi Orfide.
Meski
berada dalam situasi yang berbalik, ia masih menunjukkan ekspresi yang terkesan
sangat tenang.
"Sepertinya,
aku mulai mengerti sedikit demi sedikit!"
Sang
pendeta berucap, seolah memecah keheningan yang sempat hadir di tengah
pertarungan.
"Beberapa
hal yang selama ini menjadi pertanyaan bagiku, kini bisa kupahami hanya dengan
bertarung seperti ini. Ini semua berkat dirimu!"
"……Berkat
aku?"
"Ya!"
Sang pendeta mengangguk mantap saat sebuah perubahan muncul dalam hatinya.
Meski
terus terlibat dalam adu serangan yang sengit, matanya tidak kehilangan binar
kekuatan. Instingnya berteriak kencang, memberitahunya bahwa ia tidak boleh
membiarkan hal ini terus berlanjut.
"Tapi
jika begitu, situasinya benar-benar berubah drastis!"
Saat ia
membetulkan posisi kacamatanya, sebuah senyuman yang sangat cerah, jernih, dan
murni tanpa keraguan tersungging di wajahnya.
"Suatu saat
nanti, kamu pasti akan kembali mengarahkan pedangmu pada kami! Demi kembalinya
Yang Mulia, kamu harus mati di sini!"
Mana hitam
bersemayam di kedua matanya. Segala emosi kelam.
Semuanya memiliki
aura mengerikan yang tidak mungkin dipahami oleh Ren dan kawan-kawan, bahkan
tersirat dalam setiap kata yang diucapkan sang pendeta.
"Aku akan
mempertaruhkan segalanya──── untuk menunjukkan nilaiku!"
Tiba-tiba,
Orfide menusuk dadanya sendiri dengan tangannya.
Lubang
yang menganga di dadanya tidak mengeluarkan darah merah, melainkan mulai
mengeluarkan mana hitam pekat layaknya kabut. Ia merentangkan kedua tangannya
lebar-lebar sambil menengadah ke langit.
Namun, Ren juga tidak hanya diam melihat kejadian ini.
"Khu…… tidak akan kubiarkan!"
Ren tidak
tahu apa yang direncanakan Orfide.
Meski
begitu, ia bergerak maju untuk menghentikannya sebelum sempat terkejut.
Namun,
hampir bersamaan dengan itu, kekuatan hitam yang dilepaskan Orfide menyebar di
lantai batu lebih cepat dari angin, lalu melesat keluar dari pelataran kuil
dengan kencang.
Warna hitam itu
mencapai alun-alun dan mulai menginvasi alam Windea…… mencemari airnya.
Ren mengayunkan
pedang sihir Mithril untuk menghalau kabut hitam tersebut, di saat yang sama,
sang pendeta mulai bernyanyi.
"Jadilah
hitam, yang lebih kelam dari malam."
Kekuatan yang
dilepaskan Orfide mulai menutupi langit yang menghitam dengan kegelapan yang
lebih kelam. Segel Raja Iblis yang berada di antara tulang selangka dan dadanya
mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.
Secara harfiah,
ia mengerahkan seluruh kekuatan yang ia hasilkan dengan membakar nyawanya……
Kekuatan Raja
Iblis yang terkurung dalam segel itu ikut terlepas. Mana dalam jumlah
masif meledak hingga membuat seluruh Windea mulai bergetar.
"Ashton-kun!
Kondisi mana di sekitar sini……!"
Nemu berkata
setelah melihat angka yang terukur pada alat sihirnya.
Sepertinya telah
terjadi keganjilan pada mana angin dan mana air, di mana mana tersebut perlahan
berubah menjadi Miasma yang menggerogoti manusia dan bumi.
Melihat hal itu,
Squall memelototi sang pendeta dengan mata penuh amarah sambil sekuat tenaga
merapalkan sihir putih.
"……Apa kamu
berniat menghancurkan seluruh Windea?"
Seolah merasa
nyaman meski dipelototi seperti itu, Orfide terus bernyanyi.
"Sayang
sekali jika tempat yang penuh dengan kekuatan suci ini disia-siakan. Mari kita
buat menjadi meriah."
Sambil memasang
kuda-kuda tinju, sang pendeta Kultus Dewa Iblis itu berkata dengan nada yang
jauh lebih emosional dari sebelumnya sambil tersenyum.
"……Apa tidak
apa-apa menggunakan kekuatan sebanyak itu?"
"Jika tidak
begini, nilai keberadaanku akan direnggut. Hal itu…… hanya hal itulah yang
tidak bisa kumaafkan."
"Demi
membangkitkan Raja Iblis?"
"Bukan. Ini
tentang alasan mengapa aku menginginkan kebangkitan Yang Mulia──── Hal
yang pasti tidak akan bisa dipahami oleh pengguna teknik pedang berat
sepertimu."
Kata-kata yang
diucapkan dengan nada bangga dan mantap itu terngiang di telinga Ren.
"Kasih
sayang dewa tidak bisa didapatkan oleh semua orang secara merata, dan
ketidakadilan itulah inti yang sebenarnya. Akan kubuktikan hal itu
padamu."
Selama percakapan
ini berlangsung, getaran dari dalam Windea terus terasa.
Ren tidak
mengalihkan pandangannya dari sang pendeta sambil membayangkan apa yang akan
terjadi selanjutnya.
……Kalau
dibiarkan, tempat ini akan tertutup miasma!
Pemandangan di
sini akan berubah seperti Pegunungan Balder, tempat yang menjadi panggung
terakhir dalam legenda Tujuh Pahlawan I.
Itulah hal yang
paling ingin ia hindari. Mengingat nama tempat ini adalah Windea—tempat di mana
air dan angin bersemayam—dampaknya pasti tidak akan kecil bagi wilayah Leomel
secara luas.
Namun bukan hanya
itu yang dipikirkan Ren.
Ia menoleh ke
arah Vain dan kawan-kawan, memastikan bahwa mereka sudah sedikit pulih. Meski
mungkin masih sulit untuk bertarung, setidaknya mereka sudah bisa bergerak
lebih baik dari sebelumnya.
Ren juga
mengalihkan pandangannya ke arah tertentu, memastikan bahwa pemandangan yang ia
duga memang benar-benar ada di sana.
"Vain, lihat
ke sana."
"……Tempat
seperti itu, tadi seharusnya tidak ada."
Lantai di bagian
dalam kuil hancur, menampakkan tangga yang menuju ke bawah.
Itu adalah tangga
tersembunyi yang baru akan muncul saat Vain mendekatinya di malam Hari Suci Air
ini, dan di hari-hari lainnya, tempat itu hanyalah lantai batu biasa.
Tangga itu baru
saja muncul beberapa menit yang lalu, sehingga belum ada yang menyadari
keberadaannya.
"Tapi, itu
sebenarnya apa……!?"
"……Aku tidak
tahu. Tapi sepertinya kekuatannya merembes ke bawah tanah, jadi aku ingin
kalian memeriksa keadaan di bawah."
"Ba-baiklah!
Kalau begitu!"
Ren mengatakannya
dengan mudah, namun bagi Vain dan kawan-kawan yang sudah kelelahan, kata-kata
itu terasa berat.
Akan tetapi, Ren
tidak mengucapkannya hanya karena ingin meminta tolong atau sekadar ingin
mereka memastikannya. Ren mengatakannya demi masa depan Vain dan yang lainnya.
"Tapi,
bagaimana dengan Ren!"
"────Hal itu
tidak mengubah apa pun seperti tadi!"
"Tidak berubah…… jadi Ren benar-benar tetap
akan────!?"
Sang Sword Saint mulai berlari.
Demi membiarkan Vain dan kawan-kawan menuju ke bawah tangga,
dan agar Orfide tidak lagi melepaskan kekuatan jahatnya lebih jauh.
Pemuda itu mengerahkan Authority Sword dan
mengayunkan pedang sihir Mithril ke arah Orfide yang telah berubah bentuk.
Saat kedua lengan Orfide menahan pedang sihir Mithril, suara
dentingan nyaring yang menyerupai benturan logam dengan logam bergema.
Kekuatan sang pendeta yang bertarung dengan membakar
nyawanya berada beberapa tingkat di atas sebelumnya.
"Vain! Cepat!"
Ren tetap bersikeras untuk bertarung sendirian, mendorong
Vain dan kawan-kawan yang masih ragu.
Saat mereka berlari menuju tangga di bagian dalam kuil,
miasma mulai mengejar mereka dari belakang.
Namun, miasma itu
musnah saat Vain mengayunkan pedangnya. Ia sempat menoleh ke arah Ren sekali
lagi sebelum akhirnya menuruni tangga bersama teman-temannya.
Orfide
yang sedang bertarung mati-matian itu mengaum.
"Persahabatan
yang sangat indah!"
Sambil
berkata demikian, ia melirik tangga yang dituruni Vain berkali-kali.
"Apakah
ada sesuatu di bawah tangga itu!"
"Aku melihat
kekuatanmu merembes ke sana! Mana mungkin aku hanya diam saja!"
"Bicaramu
terdengar sangat yakin untuk alasan seperti itu saja…… tapi tidak masalah!
Setelah membuatmu terkapar, aku akan memastikannya sendiri dengan mataku!"
Orfide sudah
menggunakan hampir seluruh mana yang sebelumnya ia alokasikan untuk regenerasi
demi melakukan serangan.
Meski sebelumnya
juga sudah begitu, kini ia mempertaruhkan segalanya untuk saling bunuh dengan
Ren tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya.
(Lagi-lagi!
Gerakannya perlahan semakin cepat────!)
Meski pukulan
lurusnya hanya menyerempet pinggang, tapi dampaknya luar biasa hebat.
"Akan kubuat
kalian semakin kelam, semakin hitam pekat! Baik dirimu maupun Windea, sekarang
juga di sini!"
"Apa……!?"
Kekuatan hitam
yang dilepaskan Orfide mulai menginvasi alun-alun. Miasma hitam yang merambat
di lantai batu hampir mencapai mata air yang dipenuhi dengan air suci.
Hal yang sama
juga terjadi pada air yang merembes dari dinding gunung…… atau dinding
batu yang mengelilingi pelataran pilar.
"Aku pasti…… akan menghentikanmu!"
Ia harus mengalahkan Orfide secepat mungkin.
Saat Ren memfokuskan kesadarannya, tiba-tiba pedang sihir
air terlintas di benaknya. Seolah-olah pedang itu sedang membisikkan sesuatu ke
dalam hati Ren yang sedang bertarung.
Hari Suci Air, hari di mana kekuatan Dewi Air mencapai
puncaknya.
Mungkin karena ini malam tersebut, sebuah intuisi yang tidak
bisa diabaikan melintas di hatinya.
……Pasti ada yang bisa kulakukan!
Itu adalah
kekuatan yang dijatuhkan oleh Dewi Air. Kekuatan yang dimiliki oleh pedang
sihir air.
Windea adalah
tempat bersemayamnya kekuatan Dewi Air. Demi melindungi air dan mana di tempat
ini, pedang sihir ini mungkin bisa melakukan sesuatu.
Ren memanggil
pedang sihir air dan menggenggamnya saat pedang itu muncul di udara.
Orfide
mengernyitkan dahi melihat pedang baru yang muncul tersebut.
"Hiaaaaaaaaaaaa!"
Tanpa
memedulikan Orfide, Ren menghunjamkan pedang sihir air ke lantai batu tepat
pada saat itu.
"Ini────
adalah……"
Bahkan
saat suara Orfide yang penuh keterkejutan terdengar, air jernih berwarna biru
pucat mulai menyebar dari kaki Ren, membentuk lapisan tipis yang menyelimuti
lantai batu.
Lapisan air indah
yang menutupi seluruh lantai pelataran pilar itu membuat sang pendeta
terperangah.
"Ini
bukan sekadar sihir air biasa……!?"
"Yah! Entahlah……!"
"Khu…… sungguh sombong, memurnikan kekuatanku dalam
sekejap sambil terus membuatku bingung!"
"Aku juga tidak sedang berbohong padamu, kok!"
Ren sendiri tidak bisa mengatakan bahwa ia memahami
sepenuhnya sifat air ini.
Namun, hanya dengan melihatnya saja ia tahu bahwa air yang
memenuhi lantai batu itu sedang memurnikan mana milik Orfide, dan menghentikan
pencemaran yang merusak Windea.
(……Inilah kekuatan pedang sihir air.)
Air yang tercipta itu semuanya seolah menjadi pengikut bagi
pedang sihir air. Saat ia menarik pedang sihir air dan membiarkan ujungnya
menyentuh permukaan air, riak air yang bercahaya muncul mengikutinya.
Riak air itu terus muncul setiap kali Ren melangkah maju,
dan pedang sihir air di tangannya terasa semakin menyatu dengannya setiap saat.
"……Aku hanya
bisa berpikir kalau kamu menggunakan kekuatan cincin itu. Apa pun itu, kekuatan
ini memiliki afinitas yang terlalu tinggi dengan kekuatan tempat ini!"
Orfide
segera menendang lantai batu dengan satu kaki dan merangsek maju. Meski riak
air muncul, riak itu tidak bercahaya seperti saat Ren yang melangkah.
Sang
pendeta yang mendekat itu menyelimuti tinjunya dengan mana.
Untuk
menangkisnya, pedang sihir air yang diayunkan Ren bersinar di bawah cahaya
bintang.
"Kamu
benar-benar musuh alami bagi kami, Kultus Dewa Iblis!"
"Ya! Itulah
alasan kenapa aku ada di sini!"
Saat pedang sihir
air diayunkan, air yang menggenang di lantai batu melambung ke udara.
"Aku tidak
suka ini! Baru pertama kali ini aku melihat sihir air seperti ini!"
Dinding air
berwarna biru kehijauan muncul di hadapan Ren, menjadi penghalang antara
dirinya dan Orfide.
Dinding air itu
bergoyang tertiup angin, sekilas tampak rapuh dan sepertinya tidak akan mampu
menahan serangan fisik.
Namun
kenyataannya, berlawanan dengan penampilannya, dinding itu sangat tangguh
layaknya pelindung air yang digunakan oleh Wadatsumi, sang utusan dewa raksasa.
Setelah menahan gelombang mana yang dilepaskan Orfide, dinding itu kembali
menjadi air yang menutupi lantai.
Butiran air jatuh terbawa angin.
Tampak
begitu fantastis di bawah sinar bintang.
Sambil
menyaksikan pemandangan itu, kedua orang tersebut saling mengadu pandang.
……Tidak
peduli seberapa kuat lawan menjadi, itu tidak masalah.
……Aku
tidak akan membiarkan orang dengan kekuatan tempur sebesar ini pulang dalam
keadaan hidup.
Di akhir
pertempuran ini, ia tidak bisa menjamin akan memiliki kesempatan untuk
melakukan interogasi. Jika demikian, ia hanya perlu menggali informasi sambil
terus bertarung satu lawan satu.
……Meskipun aku
terus bertarung lebih lama lagi, waktu untuk menggali informasi itu tidak akan
pernah datang.
Ren yang telah
meyakini hal itu, menatap tajam Orfide melalui sepasang matanya yang tajam.
Sang pendeta telah mundur beberapa langkah karena waspada terhadap air yang
menyebar.
Menghadapi sang
pendeta yang berdiri di atas puing-puing raksasa, Ren membatin bahwa inilah
saatnya untuk menggali informasi.
"────Soal
satu hal lagi yang ingin kutanyakan, lebih baik aku menyampaikannya
sekarang."
Mendengar itu,
Orfide menatap lurus ke dalam mata Ren, mencoba mengukur niat yang tersembunyi
di baliknya.
Namun, Ren sama
sekali tidak membiarkan niat aslinya terbaca. Setelah terdiam sejenak, Orfide akhirnya
mengangguk.
"Baiklah.
Aku pun tidak berniat mengakhiri pertarungan ini tanpa mendengar alasan mengapa
Anda bersusah payah datang menemui saya."
Orfide
tersenyum tipis, memancarkan keanggunan layaknya seorang bangsawan meski di
tengah medan perang.
Namun,
ekspresi itu berubah drastis dalam sekejap begitu mendengar kata-kata Ren
selanjutnya.
"Apa
kamu tahu tentang gadis berambut perak yang bercampur helai rambut hitam?"
"Apa────!?"
Jawaban atas
pertanyaan itu tersampaikan dengan jelas lewat kata-kata dan sikapnya.
Orfide
pasti mengetahui tentang gadis yang muncul dalam mimpi Ren.
"Kamu tahu,
kan!? Di mana dia sekarang!"
"……Di
mana dia, Anda bilang?"
Ia tertawa
pendek, lalu melanjutkan.
"Kuku…… Fufu…… entah bagaimana Anda bisa mengetahui
tentang Beliau, tapi untuk bertanya di mana keberadaannya────"
Wajah Orfide dihiasi senyum ganjil yang memancarkan kegilaan
sekaligus tekad yang kuat.
"Berani-beraninya
Anda mengatakan hal yang begitu arogan. Benar-benar menjijikkan."
Suaranya
yang berat dan bertenaga menyatu dengan embusan angin, lebih intens dari
sebelumnya. Lensa kacamatanya
memantulkan cahaya bintang, menyembunyikan sorot matanya dari Ren.
"Aku tidak
berniat membicarakan Beliau lebih jauh lagi. Jangan pernah sebut lagi
dengan mulutmu itu──── oya?"
Tiba-tiba, sebuah
permata kecil terjatuh dari saku celana Orfide.
Ren mengikuti
arah jatuhnya permata itu, mengira itu adalah sesuatu yang berharga. Namun,
Orfide justru menghancurkannya di bawah sol sepatunya tanpa niat untuk
memungutnya.
(Jangan-jangan────
itu juga sebuah Relic?)
Berbeda dengan
alur asli Seven Heroes' Legend, ada alasan mengapa Orfide bisa bangkit
kembali.
Benda yang ia
jatuhkan adalah sebuah Relic yang didapatkannya saat menyerang kuil di suatu
negara beberapa waktu lalu. Itu adalah permata dengan kekuatan penyembuhan
langka, sebuah benda yang mampu memulihkan vitalitas dalam sekejap mata.
Meski tidak tahu
identitas asli Relic tersebut, Ren menebak bahwa permata itulah yang membuat
Orfide sanggup bertarung kembali.
(Ternyata
benar, memang ada cara untuk memanfaatkan kekuatan Relic.)
Sejatinya, bagi
para pengikut Kultus Dewa Iblis, kekuatan Relic adalah racun yang sangat keras.
Jika Orfide yang berstatus pendeta mampu menggunakannya, maka spekulasi Ren
semakin mendekati kebenaran.
"Sekarang,
aku juga ingin bertanya. Kamulah yang mengambil Cincin Dewi Air itu──── benar,
kan?"
Kekuatan air yang
ditunjukkan Ren tadi membuatnya mudah untuk menyimpulkan hal itu.
"Akan jauh
lebih mudah jika Anda menjawab dengan jujur, bagaimana?"
"……Aku pun
merasakan hal yang sama."
"Hmm…… sayangnya, negosiasi kita telah gagal."
Meski begitu,
sang pendeta telah sampai pada satu kesimpulan pasti.
"Seharusnya
malam ini menjadi cerita yang aku susun, tapi sepertinya aku keliru."
Ia teringat
betapa cepatnya pergerakan Leomel dalam rangkaian serangan ini. Ditambah dengan
kekuatan air yang dikerahkan Ren, ia yakin tidak ada jawaban lain.
Segala hal yang
baru saja ia sadari tersampaikan lewat kalimat ini:
"Rupanya,
kaulah yang menulis skenario cerita ini."
Di dalam
pelataran pilar yang fantastis dan dipenuhi air yang berkilauan……
Orfide akhirnya
menyadari siapa dalang yang berada di balik semua kejadian hari ini.
◇◇◇
Anak tangga batu
yang ditumbuhi lumut di sana-sini terus memanjang ke bawah, melintasi dinding
dan langit-langit kuno.
Namun, Vain dan
kawan-kawan terus memacu tubuh mereka yang letih. Mereka berlari demi
memastikan apakah kekuatan Orfide telah mencapai bagian terdalam ini.
Jika mereka
menemukan kekuatan jahat, Squall atau Vain harus segera menyucikannya.
Setelah berlari
selama beberapa menit, ketujuh remaja itu merasakan hembusan angin.
Mereka tiba di
sebuah ruang raksasa di dalam Windea, sebuah lubang besar yang tampak
seolah-olah bagian dalam pilar raksasa telah dikosongkan sepenuhnya.
"Tempat apa…… ini?"
"Khu…… lihat itu!"
Charlotte menunjuk ke arah pusat lubang raksasa tersebut.
Mereka
berdiri di atas jalan yang dibangun melingkar di dinding tersebut. Dari jalan
itu, beberapa jembatan berbentuk lengkungan memanjang menuju ke titik pusat.
Di
tengah-tengah ruang hampa itu, melayang sebuah bola cahaya yang memancarkan
garis-garis cahaya hijau zamrud dan biru yang saling berkelindan rumit. Selain
bola cahaya yang paling besar, ada beberapa bola cahaya kecil lainnya yang
melayang di sekitarnya.
Bola
cahaya terbesar yang berada di pusat itu tampak sedang digerogoti oleh kabut
hitam.
Persis
seperti yang dikhawatirkan Ren, kekuatan jahat Orfide sedang mengubah mana di
tempat ini dari dalam inti Windea.
"Menurutku,
ini adalah tempat suci di mana mana Windea berkumpul. Bagaimana menurut
kalian?"
"Ya. Aku
juga berpikir hal yang sama."
Menyusul
persetujuan Kaito, Squall berkata dengan nada lelah.
"Kita tidak
punya banyak waktu. Ayo segera sucihkan tempat ini."
Namun, saat
mereka hendak menyeberangi jembatan lengkung itu, angin kencang yang sangat
kuat menghalangi langkah mereka.
Vain hampir saja
terjatuh. Jika terjatuh dari ketinggian yang dasarnya tidak terlihat ini…… tak
ada yang mau membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mereka harus
melakukan sesuatu terhadap angin ini, tapi ini bukan angin biasa. Ini adalah
perlindungan untuk menjaga kekuatan yang bersemayam di pusat Windea. Mereka
tidak bisa menemukan cara untuk menghentikannya.
Tak bisa tinggal
diam, Squall segera merapalkan sihir.
Pertama adalah
sihir untuk melepas kutukan, disusul dengan sihir tingkat tinggi dari White
Magic untuk mengusir kekuatan jahat.
Angin yang
menghalangi jembatan mulai melemah, namun kekuatan Orfide terus mencemari
kekuatan inti Windea.
Saat beberapa
dari mereka berpikir apakah ini saatnya menggunakan kekuatan Vain──── hanya
Charlotte seorang yang matanya terpaku memperhatikan keadaan sekitar.
"……Benda
itu."
Di antara
beberapa bola cahaya yang mengelilingi bola cahaya utama, ia menemukan satu
perbedaan.
Berbeda dengan
bola cahaya di sekitarnya, bola yang satu ini hanya diselimuti oleh mana angin.
Dan di dalam bola cahaya itu, ada sesuatu yang sedang tertidur lelap.
"Kenapa…… benda itu ada di tempat seperti ini────"
Sama seperti
Kaito saat menemukan Aeria, Silver King Shield, Charlotte seolah
meragukan penglihatannya sendiri.
Namun, ia tidak
mungkin salah lihat. Meski Charlotte hanya pernah melihatnya di dalam lukisan,
siluet yang terlihat di dalam cahaya dan angin itu pastilah busur yang pernah
digunakan oleh sosok legendaris tersebut.
Peninggalan
leluhur keluarga Rofelia, Busur dari Tujuh Pahlawan.
Pertanyaan
tentang mengapa benda itu ada di sini sama misteriusnya dengan saat perisai
Kaito ditemukan. Sebuah momen yang membuat siapa pun merasa ada alasan takdir
di baliknya.
Nama busur yang selama ini menyokong angin di dalam inti
Windea itu adalah Sylphina, Wind King Bow. Busur yang konon telah
menerima berkah dari roh angin.
Apakah ia boleh menyentuhnya? Bagaimana cara mengambilnya?
Di tengah keraguan itu, keenam temannya juga ikut melihat penampakan Sylphina,
Wind King Bow di dalam bola cahaya.
Begitu cahaya dan angin yang menyelimuti bola itu mereda, Sylphina,
Wind King Bow perlahan turun sambil melayang dengan anggun.
"Khu──── tunggu!"
Charlotte berlari, bahkan lupa bahwa kakinya sedang terluka.
Meski merasakan denyut rasa sakit yang panas, ia terus menggerakkan kakinya
seolah tidak menyadarinya.
Akhirnya, ia menarik busur yang sedang turun itu menggunakan
sihir angin.
Busur itu tidak terjatuh ke dasar lubang raksasa, melainkan
mendarat dengan pas di tangannya.
"Shalo-senpai!"
Vain segera menangkap Charlotte yang kehilangan
keseimbangan, namun karena momentum yang terlalu kuat, keduanya jatuh terguling
di atas jembatan lengkung.
Sambil mendekap Sylphina, Wind King Bow, Charlotte
meminta maaf pada Vain yang telah menahan tubuhnya.
"Ma-maafkan
aku!" ucapnya, lalu segera berterima kasih.
Begitu
teman-teman mereka mendekat, Charlotte bangkit berdiri dengan bantuan tangan
Vain.
"……Kenapa
busur ini bisa ada di sini?"
Ia mendekap busur
leluhurnya dengan penuh rasa sayang, sembari menyuarakan keraguannya.
Sarah
berdiri di sampingnya dan bertanya.
"Hei Shalo,
apa itu benar-benar……"
"Iya. Aku
tidak tahu kenapa benda ini ada di sini, tapi…… mungkin alasannya sama seperti
perisai Kaito."
"Bisa jadi.
Yah, aku sendiri masih belum paham kenapa perisaiku bisa ada di tempat seperti
itu……"
Kaito menyeringai
lebar.
"Mungkin
kekuatan para leluhur memanggil kita semua."
"……Mungkin
saja."
Charlotte menatap
tajam ke arah mana hitam yang menyerang bola cahaya raksasa di pusat ruangan.
Seketika, Sylphina,
Wind King Bow yang ia dekap memancarkan cahaya hijau zamrud yang indah,
seolah ingin menyampaikan sesuatu kepada Charlotte.
"Sepertinya
busur ini ingin aku menggunakannya."
Busur itu
memiliki kemegahan layaknya zamrud raksasa yang dipahat dengan dekorasi kayu
yang indah.
Talinya berwarna
emas. Meski terlihat sangat kencang, saat Charlotte menariknya, tidak ada
perlawanan yang berarti.
Setelah
memastikan sensasi dari busur tersebut, ia melangkah maju ke depan
teman-temannya dan menatap lurus ke arah bola cahaya.
Ia menarik napas
dalam-dalam, lalu menarik tali busur seperti yang biasa ia lakukan. Ia
tidak butuh anak panah fisik untuk Sylphina, Wind King Bow.
Hanya dengan memusatkan kesadarannya pada ujung jari, sebuah
anak panah dari sihir angin tercipta.
"Busur ini
pasti sangat kuat! Tolong jaga agar aku tidak terlempar ke bawah oleh
anginnya!"
Begitu anak panah
angin tercipta, angin kencang berputar di sekitarnya.
Angin yang jauh
lebih kuat dari biasanya berpusat pada busur yang pernah digunakan oleh salah
satu dari Tujuh Pahlawan tersebut.
Angin itu kini
berwarna hijau sehingga bisa dilihat oleh siapa saja, membentuk pusaran menuju
ujung anak panah.
Namun, mungkin
karena ia sudah terlalu lelah setelah bertarung melawan Orfide, tenaganya
melemah dan bidikannya tidak stabil.
Kakinya pun
demikian; rasa sakit akibat terkilir membuatnya sulit menumpu beban tubuh
bagian bawah.
"Kalau
sampai melesat, aku akan menertawakanmu sampai mati!"
Dorongan semangat
dari Lizred yang sudah ia anggap seperti adik sendiri membuat Charlotte menoleh
sejenak.
Melihat Lizred
yang menatapnya dengan khawatir—bahkan matanya terlihat berkaca-kaca—membuat
ketegangan di bahu Charlotte luruh, dan kakinya yang tadi goyah kini menapak
dengan mantap.
"Dasar
bodoh, bicara apa sih kamu."
"Aku akan
terus bicara sampai Shalo bersemangat!"
"Jangan
salah paham ya. Aku tidak selemah itu sampai harus dikhawatirkan oleh
Liz."
Tapi,
"Dari dulu,
aku memang paling tidak tahan jika Lizred yang bicara begitu!"
Mungkin
karena ia sudah menganggapnya seperti adik kandung sendiri. Ketidakmampuannya
untuk berterima kasih secara jujur menunjukkan bahwa ia juga ingin terlihat
keren di depan Lizred.
Charlotte
kembali membidik. Kali ini, tidak ada lagi goyangan maupun gemetar.
────Sang Pemanah Ulung, Charlotte Rofelia.
Angin yang menyelimuti Sylphina, Wind King Bow
menjadi tenang, dan ia pun tersenyum. Ritual untuk menguji sang tuan baru telah
selesai dilaksanakan.
"Jika kau mengakuiku sebagai tuanmu────"
Ujung jarinya
melepas tali busur.
"Murnikanlah
kekotoran itu!"
Kekuatan angin
suci berubah menjadi kilatan cahaya hijau zamrud yang melesat cepat.
Mana hitam yang
mencemari bola cahaya berubah bentuk menjadi lengan-lengan yang menggeliat,
jumlahnya sangat banyak.
Belasan lengan
itu mencoba menangkap kekuatan angin yang dilepaskan, namun setiap kali
menyentuhnya, lengan-lengan itu hancur dan lenyap.
Sisa lengan yang
ada mencoba melilit kilatan tersebut, namun tak satu pun sanggup menyentuhnya.
Mana Orfide yang mencoba menjangkau bagian dalam bola cahaya akhirnya ditembus
oleh anak panah tersebut.
"Bagaimana…… dengan ini."
Setelah menunjukkan kekuatannya, tiba-tiba tubuh bagian
bawah Charlotte lunglai.
Itu adalah dampak dari menembakkan busur leluhur dengan
tubuh yang sudah kehabisan tenaga. Namun, sang keturunan Liohard segera
mendekat dan menopang tubuhnya.
"Hehe, hebat juga kamu, Shalo."
"……Tentu saja."
Kekuatan yang hampir mencemari lapisan terdalam Windea kini
tidak lagi tersisa di sana.
◇◇◇
Dampak dari terlepasnya segel busur Tujuh Pahlawan juga
mencapai Ren yang sedang bertarung di kuil. Ia menyadari apa artinya hal itu
dan menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.
Detik berikutnya, ia memukul mundur Orfide dengan tebasan
pedang yang sangat terlatih, lalu menatapnya dengan tajam sebelum melancarkan
serangan berikutnya.
"Tidak akan kubiarkan!"
"Khu…… setelah pertempuran seberat ini, kamu masih bisa
mengeluarkan kekuatan lebih……!"
Bagian
luar kuil memiliki struktur berderet pilar, sehingga kondisi di luar bisa
terlihat dengan jelas. Meski malam hari, cahaya dari taburan bintang membuat
suasana di sekitarnya hanya remang-remang.
Di tempat
suci ini, napas Pendeta Orfide mulai tersengal-sengal. Sambil memegangi satu
lengannya yang terluka, ia memperhatikan keadaan di sekitar Windea sebelum
akhirnya melompat keluar dari pelataran pilar.
"Aku
tidak menyangka akan terpojok sampai seperti ini!"
Orfide
tetap menjaga sikapnya, bahkan masih sanggup memaksakan senyum tenang di
wajahnya.
Namun, ia
sama sekali tidak membocorkan identitas gadis yang ia sebut 'Beliau'. Informasi
tentang gadis itu lebih berharga daripada nyawanya sendiri.
Ia
terdesak. Padahal seharusnya seluruh kekuatannya telah diperkuat oleh Relic,
namun dalam kondisi ini, ia pasti akan kalah.
Keringat
mengalir dari dahi Orfide menuju pipinya, lalu jatuh ke atas lantai batu yang
retak.
"Laporan
dari para pengikut yang kubawa ke Windea terputus tepat sebelum para keturunan
Tujuh Pahlawan tiba. Kamu pasti sudah menyiapkan sesuatu."
Bahkan
jika ia mencoba menutupi kegagalannya dengan kata-kata manis atau merespons
dengan keheningan seperti sebelumnya…… di tempat ini, semua itu sama saja
dengan pembenaran.
Orfide
sendiri tidak mengharapkan jawaban, ia hanya ingin melihat ekspresi wajah Ren.
"Anda adalah…… dalang yang telah menghanguskan skenario
cerita yang saya susun."
"Aku
hanya bergerak demi sesuatu yang ingin kulindungi."
"Aku
tidak menyukainya. Segala sesuatu tentang Anda…… yang telah merenggut
keinginanku dan mencoba melenyapkannya."
Kebencian
yang ia tujukan pada pemuda yang ia anggap memuakkan itu tidak ada batasnya────
namun, Orfide tidak pernah salah dalam menilai situasi perang.
Kini,
satu-satunya hal yang ia cari hanyalah hasil seri yang mendekati kemenangan.
"Aku
adalah──── seorang Pendeta."
Orfide
mendekap tubuh bagian atasnya dengan kedua tangan, lalu pada detik berikutnya,
ia merentangkan tangan sambil melepaskan gelombang hitam yang membuat Ren
segera memasang kuda-kuda waspada.
"Aku
tidak berniat menundukkan kepala di hadapan bocah Elfen!"
Dalam
sekejap mata, ia memunculkan lingkaran sihir yang memancarkan cahaya ungu di
alun-alun tersebut. Mana yang bergejolak di sana memiliki daya hancur yang
mampu melenyapkan manusia menjadi abu hanya dengan sekali sentuh.
"Bagaimana
jika kita bertarung kembali di dunia setelah kematian?"
"……Apa kamu
pikir aku akan setuju?"
"Tidak, aku
sudah tahu kalau Anda akan menolak. Namun, aku tetap ingin Anda
menerimanya."
Ren menghunjamkan
pedang sihir air ke lantai batu, lalu beralih memegang kembali pedang sihir
Mithril.
"Sebelum
pedang itu mencapai leher kami, para penganut Kultus Dewa Iblis, aku akan
menyelesaikan segalanya dengan seluruh keberadaanku. Itulah harga diriku,
sekaligus tujuan hidupku."
Dan juga, sebagai
bentuk kesetiaan. Segala yang bisa ia persembahkan adalah seluruh hidupnya.
"Demi Uskup
yang telah menyelamatkanku…… demi Kultus Dewa Iblis."
Di tengah
lingkaran sihir itu…… Orfide jatuh berlutut sambil tertawa. Ia menyandarkan
punggungnya pada bongkahan batu yang runtuh dari tebing, dan duduk di atas
lantai batu yang hancur. Ia
tidak lagi memiliki tenaga untuk berdiri.
Ren pun tidak
memiliki keraguan maupun ketakutan sedikit pun.
"────Kalau
begitu, aku akan menghancurkan kekuatan Kultus Dewa Iblismu itu."
Mana perak dan
hitam yang tidak sanggup tertampung dalam pedang sihir Mithril kini menyelimuti
lengannya.
Sebelum berangkat
dari Erendil, Ren telah dilepas oleh Licia dan Fiona. Mana dua warna ini pun
seolah mengingatkan pada mereka berdua. Di tengah situasi seperti ini, ia
merasa seolah-olah sedang disemangati.
Senyuman yang
mereka tukarkan sebelum keberangkatan terlintas di pikirannya.
"Aku akan menyelesaikan semuanya…… dan segera
pulang."
Begitu kekuatan lingkaran sihir mencapai titik puncaknya,
Orfide yang sedang terduduk mengulurkan tangannya ke arah Ren. Mana terkumpul
di ujung tangannya.
"Terimalah berkat yang kelam ini."
Itu adalah sesuatu yang hanya bisa dikerahkan setelah
memahami ribuan konsep akademis dalam sejarah sihir, menyusun proses rumit yang
saling berkelindan di dalam otak dalam hitungan detik. Sebuah kekuatan gelap
yang mencemari segalanya.
Kilatan cahaya yang dilepaskan dari ujung tangan Orfide
adalah gumpalan kekerasan yang bahkan tidak bisa ditandingi oleh Dragon
Breath milik Lizred.
Warnanya
sama dengan lingkaran sihir tadi. Mana yang menyerupai api yang bergoyang
ditiup angin itu meluncur lurus menghancurkan lantai batu menuju Ren.
Menghadapi
kengerian dari puncak kebijaksanaan sihir tersebut, Ren mengangkat pedang sihir
Mithril────
"Berkat seperti itu…… aku tidak butuh!"
Suara pedang yang membelah angin menderu.
Ayunan pedang sihir Mithril yang dibalut aura dua warna
menahan gumpalan kekuatan jahat tersebut.
Benar-benar
akhir yang sesungguhnya.
Pertarungan
langsung untuk saling merenggut nyawa dan harga diri.
Meskipun
mana dalam jumlah masif terus disuplai dari lingkaran sihir menuju kilatan
cahaya itu, Ren mengerahkan seluruh tenaganya untuk menekan balik kekuatan
tersebut.
Melihat
hal itu, Orfide justru merasa gembira dan menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Anda pasti
bisa menahannya! Ya…… saya sangat mempercayai hal itu!"
"Apa…… ini……!?"
"Kesedihan
dari Benua Iblis, semua rasa sakitnya…… cobalah terima semuanya jika Anda
memang sanggup!"
Lengan Ren mulai
terbakar oleh mana milik Orfide. Pipinya berkerut menahan rasa sakit akibat
kutukan yang mencoba merasuk jauh ke dalam serat ototnya.
"Jadi ini
kutukan dari Benua Iblis…… tapi────!"
Namun, tenaga
yang ia salurkan ke tangan yang menggenggam pedang sihir Mithril justru semakin
menguat.
"Aku tidak
mungkin menyerah hanya karena hal semacam ini!"
Meski kutukan itu
merambat dengan kecepatan luar biasa dan seharusnya membuat orang biasa pingsan
seketika akibat rasa sakit dan guncangan hebat di sekujur tubuh……
Kekuatan pemuda
itu bukannya melemah, malah semakin meningkat tanpa batas.
Melalui
pendar cahaya, mata sang pemuda dan sang pendeta bertemu.
Apa sebenarnya
akar dari kekuatan misterius ini? Sambil memendam pertanyaan yang tak terjawab,
sang pendeta meragukan segala yang ia lihat.
"Mustahil…… kenapa kamu bisa menahan kutukan sebesar
itu……!?"
Ia sudah mempertaruhkan nyawanya. Menggunakan cara terlarang
untuk menjadikan kekuatan Relic sebagai miliknya, mengubah eksistensi dirinya
menjadi kekuatan demi merenggut nyawa lawan. Ia bahkan sudah mengerahkan
seluruh kekuatan yang bersemayam dalam simbol Kultus Dewa Iblis di dadanya.
Namun tetap saja, yang sedang kehilangan segalanya adalah
dirinya sendiri.
"Tidak
mungkin! Bagaimana bisa kamu────!?"
"……Sudah
kubilang kan, Orfide!"
Keseimbangan itu
mulai runtuh.
Seluruh kekuatan
sang pendeta hancur oleh kekuatan seorang pemuda saja.
"Aku────
akan menghancurkan kekuatan Kultus Dewa Iblismu!"
Akhirnya datang
secara tiba-tiba, dan begitu dahsyat.
"Hiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!"
Disertai raungan
Ren, pedang sihir Mithril dan gelombang Authority Sword terayun ke bawah
dengan sempurna.
Pusaran angin
badai dan kilat ungu saling beradu, dan pada akhirnya meledak menjadi angin
yang tidak lagi mengandung daya hancur.
Kilatan perak dan
hitam itu menghancurkan kilatan cahaya Orfide, meremukkan lingkaran sihir yang
tergelar, membelah, menyucikan, dan memusnahkannya.
Mana
milik Orfide terurai menjadi partikel cahaya dan melayang di angkasa.
Pemandangan
yang sebelumnya penuh kekerasan kini berubah menjadi tenang dan sunyi. Cahaya
dari lingkaran sihir yang hancur bercampur dengan mana biru dari pedang sihir
air, menciptakan pemandangan indah yang fantastis.
Partikel
cahaya dan butiran air yang menari-nari tampak bergerak dengan sangat lambat.
Orfide,
yang masih terduduk, dipaksa menyaksikan keindahan itu sebelum menjumpai
ajalnya.
"Luar
biasa────"
Namun, ia
tidak ingin membiarkan keturunan Tujuh Pahlawan maupun Ren merenggut nyawanya. Jika
nyawa ini harus berakhir…… maka dialah yang akan menentukannya sendiri.
"Siapa sangka hari ini…… akan menjadi hari sial yang
begitu indah."
Oleh karena itu, di hadapan keindahan yang seharusnya ia
benci, Orfide menjemput ajalnya dengan alami. Begitu ia menutup kelopak matanya
dengan tenang, pertempuran di Windea pun berakhir.
Vain dan kawan-kawan keluar dari kuil tepat setelah Orfide
menggelar lingkaran sihirnya, sehingga mereka merekam pertempuran terakhir itu
di dalam ingatan mereka.
Ruang yang
dipenuhi kristal mana biru, serta sisa-sisa mana perak dan hitam.
Semua orang
merasakan firasat buruk saat menaiki tangga tadi, namun tak ada yang menyangka
situasinya akan menjadi seperti ini.
Setelah
pertarungan usai, Ren hanya berdiri mematung tanpa mengucapkan sepatah kata
pun. Akibat dari adu kekuatan terakhir tadi, salah satu lengannya terkulai
lemas di samping tubuhnya.
Hingga akhirnya,
seorang gadis memecah keheningan. Lizred menatap punggung Ren yang masih
berdiri mematung setelah pertempuran berakhir.
"……Jadi
dialah,"
Penyihir itu
bergumam,
"Ren Ashton,
sang Sword Saint pengguna Strong Sword──── ya."
Di malam Windea,
angin biru dan hijau berkilauan dengan indahnya.
Embusannya terasa lembut…… seolah sedang mengucapkan terima kasih atas berakhirnya pertempuran ini.



Post a Comment