NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Monogatari no Kuromaku Volume 6 Epilog

Epilog


Terlihat kapal sihir Lemuria yang sedari tadi menunggu pertempuran berakhir, mulai mendekat dari angkasa.

Ren yang duduk di atas puing-puing menangkap pemandangan itu di sudut matanya. Kemudian, ia mengalihkan pandangan ke arah para ksatria dari Sacred Order of the Lion yang telah tiba di alun-alun.

Lemuria mendaratkan lambung kapalnya di salah satu sudut alun-alun, tak lama kemudian Uhrich melangkah keluar.

"Tidak kusangka bakal jadi sekacau ini."

Setelah melirik sekilas ke arah Vain dan yang lainnya yang sedang berbincang dengan para ksatria, kurcaci itu berjalan menghampiri Ren.

Malam sudah sangat larut. Biasanya, ini adalah waktu di mana Ren sedang bersiap-siap untuk tidur di kediamannya.

"Yo, Ren! Kamu berhasil!"

"……Begitulah."

"Ada apa denganmu? Bukannya kamu menang? Tapi kenapa ekspresimu lesu begitu?"

"Yah…… ada banyak hal yang terjadi."

Ren masih membiarkan salah satu lengannya terkulai lemas tanpa tenaga.

"……Tumben sekali luka itu terlihat berat."

"Karena lawanku kuat. Sejak awal aku memang tidak menyangka bisa keluar tanpa luka sedikit pun."

"Itu sudah lebih dari cukup. Selama kamu masih hidup, itu sudah segalanya."

"……Sejujurnya, aku pun berpikir begitu."

"Tapi, bagaimana kalau kamu setidaknya melakukan pertolongan pertama? Bukankah lebih baik minta bantuan bocah dari keluarga Duke itu…… Meldeg, ya? Suruh dia melakukan sesuatu dengan kekuatannya."

"Kalau itu sudah kulakukan. Tapi…… yah, tetap saja masih begini."

Scholl juga sudah sangat kelelahan dan dia masih dalam masa pertumbuhan.

Vain pun ada di sana, tapi ia baru sebentar menggunakan kekuatan Pahlawan, apalagi hakikat kekuatannya lebih condong ke tipe pertempuran.

Melihat sikap Ren yang tidak jelas, Uhrich tampak paham dan bergumam, "Begitu rupanya."

"Aku juga sudah menenggak potion yang dulu kudapat dari Radius, sih."

"Jadi sihir dan potion pun tidak terlalu mempan, ya?"

"Iya. Begitulah kondisinya."

Dari cara Ren mengangguk sembari bungkam, Uhrich bisa membayangkan seberapa besar terkurasnya tenaga pemuda itu.

"Jangan memaksakan diri—inginnya aku bilang begitu, tapi setelah ini kita tinggal pulang. ────Ngomong-ngomong, sepertinya ini operasi yang sangat besar, ya. Aku kaget mereka sampai mengerahkan ksatria dari Sacred Order of the Lion segala."

Saat Vain dan yang lainnya tiba, Olfide juga sempat menyinggung hal ini.

Di Windea ini, para ksatria tangguh memang telah disiagakan untuk berjaga-jaga terhadap situasi terburuk. Menghadapi Olfide mungkin terlalu berat bagi mereka, namun menghadapi para pengikut Kultus Dewa Iblis adalah hal mudah.

Semua itu dilakukan agar jika terjadi sesuatu, mereka bisa segera bergegas sebagai bala bantuan bagi kelompok Vain.

Urusan Olfide yang telah tumbang kini menjadi wewenang para ksatria.

Karena sisanya sudah bisa diserahkan kepada mereka, tugas Ren pun berakhir. Meski sampai detik terakhir ia tidak bisa menanyakan soal gadis itu, ada beberapa hal yang ia pahami dari reaksi Olfide.

Mungkin begini saja sudah tidak buruk. Makna dari keikutsertaan Ren dalam pertempuran ini pastilah ada banyak.

"Mau pulang?"

"────"

"Ooo-i, Ren—?"

Karena Ren yang sedang melamun terlambat merespons, Uhrich melambaikan tangan di depan wajahnya.

"Ah, maaf."

"Jangan dipikirkan. Kamu kelihatannya memang sangat lelah."

Jika itu Uhrich yang biasanya, ia pasti sudah menyikut pinggang Ren.

Namun karena situasi sedang tidak memungkinkan, ia tidak melakukannya karena merasa kasihan. Melihat Ren merespons dengan selamat, Uhrich pun menyeringai lebar.

"Bisa jalan sendiri?"

"Tidak apa-apa. Tapi kalau aku lengah sedikit, aku mungkin bisa langsung tertidur."

"Kalau begitu, tidur saja di dalam Lemuria."

"……Iya. Aku akan begitu."

Seorang ksatria Sacred Order of the Lion menyadari Ren yang mulai berdiri.

"Tuan Ren!"

Malam ini, mereka yang dikerahkan ke tempat ini telah menerima perintah untuk memburu para pengikut Kultus Dewa Iblis secara menyeluruh agar Windea tidak tercemar. Di depan kuil, para keturunan Seven Heroes bertarung, dan di tempat lain, para ksatria juga mengayunkan pedang demi Leonel.

"Sesuai perintah Yang Mulia, kami juga telah berhasil menyelesaikan misi dengan selamat."

"Syukurlah. Sepertinya kita semua bisa pulang dengan selamat, ya."

"Benar. Namun Tuan Ren……"

Ksatria itu kehilangan kata-kata. Ia merasa pedih melihat pemuda yang biasanya menjalani latihan luar biasa di markas Sacred Order ini tampak begitu terkuras tenaganya.

"……Biarkan sisanya menjadi urusan kami."

"Maaf. Aku titip sisanya padamu."

Melihat sosok Ren yang tampak penuh luka namun tetap berjalan dengan ketangguhan khasnya, ksatria itu merasa sangat tersentuh.

 

Setelah mengucapkan salam perpisahan kepada Vain dan yang lainnya, Ren segera masuk ke dalam Lemuria.

Dalam keadaan normal, Lemuria seharusnya menghindari terbang setinggi ini. Namun karena hari ini Olfide memengaruhi energi sihir di sekitarnya, ditambah performa dasar Lemuria yang tinggi, kapal itu mampu mencapai ketinggian ini jika diinginkan.

Alasan mereka tidak sampai ke sini pada awal musim semi lalu hanyalah karena saat itu Lemuria baru saja selesai diperbaiki.

Begitu masuk ke dalam Lemuria, Ren tidak menuju kamar pribadinya melainkan melangkah ke ruang kemudi.

Sambil melindungi lengannya yang sudah diberi pertolongan pertama, ia mengganti bajunya saja, lalu menghempaskan diri ke sofa besar.

Uhrich tertawa kecil melihatnya dan berkata, "Oi, oi, istirahatlah di kamar."

"Aku akan istirahat di sini, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu."

"Hentikan itu. Justru karena kamu bilang begitu, hal buruk malah bisa terjadi."

"Aku tidak bermaksud begitu, kok. Lagipula…… mungkin ini cuma masalah perasaan saja."

Entah kenapa, saat ini ia ingin beristirahat di sini.

Melihat bahwa Ren tidak hanya sekadar sungkan, Uhrich mengangkat bahu lalu duduk di kursi kemudi.

"Terserah kamu saja. Panggil aku kalau terjadi sesuatu."

Tak lama kemudian, tungku pembakaran Lemuria mulai beroperasi.

Lemuria terbang menuju angkasa, perlahan-lahan meninggalkan Windea.

"……Benar-benar, semuanya di luar dugaan."

Kesadaran Ren hanya bertahan sampai gumaman itu.

Uhrich yang sedang mengemudi menoleh ke arah sofa dan melihat Ren telah tertidur.

Kepalanya bersandar pada bantalan lengan sofa, kakinya meregang saat tertidur. Sebuah selimut besar menutupi tubuhnya.

Uhrich memegang kemudi dengan erat, bertekad untuk mengemudikan kapal ini dengan lebih hati-hati daripada biasanya.


Beberapa jam kemudian, Ren terbangun di tengah malam dan masih berada di dalam ruang kemudi.

Ren yang tadinya berbaring di sofa merasa seluruh tubuhnya terasa jauh lebih lesu dibandingkan sebelum tidur, mungkin karena efek pertempuran yang mulai terasa.

Tepat saat ia hendak bangun—

"Jangan. Tetaplah berbaring."

"Jangan memaksakan diri dulu."

Suara mereka terdengar dari depan sofa.

"……Eh? Kenapa kalian berdua ada di sini?"

Di sana ada Licia, dan juga Fiona.

Mereka masih mengenakan seragam sekolah, dan entah kenapa seragam mereka terlihat sedikit kotor, meski tidak separah Ren.

Lalu, lengan Ren yang terluka sedang dipegang oleh mereka berdua. Ia tidak begitu paham situasinya, tapi energi sihir hitam dan putih terpancar dari tangan mereka.

"Maksudku, kenapa situasinya jadi begini?"

"Kenapa, katamu? Itu karena kami melihat Lemuria sudah kembali, tahu?"

Fiona menjawab dengan nada seolah itu hal yang wajar. Ren menoleh padanya dan menyadari seragam Fiona serta Licia kotor di beberapa bagian.

"Ngomong-ngomong, soal seragam kalian yang kotor itu……"

"Di sini juga sempat ada pertempuran. Benar-benar cuma sebentar, kok."

"Eh?" Ren berseru kaget.

"Apa ada pengikut Kultus Dewa Iblis lagi setelah itu?"

"Jangan khawatir. Mereka cuma kacung seperti yang ada di luar kereta itu. Karena mereka muncul di jalan raya luar Erendil, aku dan Fiona-sama pergi memeriksa keadaannya."

"Ke-kenapa kalian melakukan hal berbahaya seperti itu────!"

"Duh…… apa pantas Ren-kun mengatakan itu?"

"Tentu saja, karena aku kan anak ksatria……!"

"Haa…… dia mulai lagi bicara seperti biasa. Kami juga kan bangsawan, jadi wajar saja kalau bertarung."

Ren merasa penasaran bagaimana mereka bisa diizinkan bertarung, tapi kalau dipikir-pikir, Chronoa sedang berada di Erendil dari Ibukota.

Sepertinya karena ada Chronoa di samping mereka, kedua gadis itu tidak bisa hanya diam saja dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke jalan raya bersama-sama.

Justru, berada di dekat Chronoa mungkin lebih aman daripada berada di dalam kota.

Ren akhirnya mengerti mengapa seragam mereka sedikit kotor.

 

Tiba-tiba, Ren melirik ke arah lengannya.

Lengannya yang sedari tadi disentuh oleh tangan mereka berdua tampak berbeda dibandingkan sebelum meninggalkan Windea. Fiona pun tersenyum seolah merasa lega akan hal itu.

"Syukurlah. Sepertinya ada efeknya."

Kulit lengan Ren yang tadinya menghitam akibat pengaruh kekuatan Olfide, perlahan-lahan mulai kembali ke warna kulit aslinya.

"Lenganku…… kenapa kutukannya bisa mereda?"

"Kami mendengar ceritanya dari Uhrich-san. Lalu, kami berpikir mungkin kekuatan Black Priestess bisa menghapus kekuatan Kultus Dewa Iblis."

"Begitu ya…… jadi karena itu kutukannya sedikit demi sedikit……"

Namun, kerusakan yang telah mencapai serat otot tidak menghilang, dan sebagian besar rasa sakitnya masih tersisa.

Karena itu, kali ini Licia berkata, "Serahkan padaku," lalu menggunakan Holy Magic. Tak lama kemudian, luka yang telah mencapai bagian dalam lengan Ren pun mendapatkan penyembuhan.

"Bagaimana? Apa sudah baikan sedikit?"

"Tidak, itu……"

Ren sendiri tidak tahu sejak kapan, namun ia tidak lagi merasa malu untuk menunjukkan kelemahannya di hadapan mereka. Perubahan itu pastilah terjadi secara tidak sadar.

Sambil masih berbaring, Ren menatap dua gadis jelita yang berlutut di lantai di depan sofa itu.

"────Masih sakit sekali."

Di samping Ren yang berbicara dengan suara yang lebih lemah dari biasanya, Licia dan Fiona segera menunjukkan senyuman lembut dan penuh perhatian kepadanya.

◇◇◇

Dua Hari Kemudian

Setelah melewati malam yang baru, hari berikutnya.

Ibukota pulih ke kehidupan sehari-hari lebih cepat dari perkiraan banyak orang, dan akademi juga mulai mengadakan pelajaran normal seperti biasa mulai hari ini.

Musim hujan masih agak lama, namun mungkin karena akhir-akhir ini cuaca sering panas, banyak siswa yang mulai mengenakan seragam musim panas mereka.

Sama seperti Ren yang menggulung lengan kemejanya beberapa kali, Radius pun melakukan hal yang sama.

Pagi-pagi sekali sebelum jam pelajaran dimulai, mereka berdua berada di atap. Karena masing-masing sibuk dengan urusan pasca-kejadian, hari ini adalah pertama kalinya mereka bertemu setelah insiden Windea.

"Terima kasih untuk urusan Olfide."

"Tidak apa-apa. Lagipula itu juga demi diriku sendiri."

"Demi Ren sendiri?"

"……Bagaimana ya bilangnya, maksudku bertarung untuk melindungi tempatku beralindung."

"Ah, begitu rupanya."

Saat Ren mengaburkan soal mimpinya dengan kata-kata yang masuk akal, Radius mengangguk tanpa rasa curiga.

Ren berencana untuk segera membagikan informasi seperti nama gadis yang ia lihat di mimpi kepada Radius atau Ulysses. Sekarang ia bisa beralasan bahwa ia mendengarnya dari Olfide. Selama itu bukan soal legenda Seven Heroes, seharusnya tidak masalah untuk dibicarakan.

"Operasi selesai dengan sukses. Pendeta Olfide adalah orang yang jauh lebih kuat dari perkiraan kami, tapi seperti yang kukatakan tadi, berkat bantuan Ren, segalanya berakhir dengan baik."

"Jadi, situasinya sudah benar-benar tenang?"

"Begitulah. Sekarang aku sedang pusing memikirkan di mana Kultus Dewa Iblis akan muncul selanjutnya."

"Hm, oke. Untuk sementara ini saja dulu ya."

Kisah di bab pertama Legend of the Seven Heroes II telah mencapai titik jeda. Seperti yang sudah diduga, ini adalah kisah di mana terdapat banyak hal yang tidak Ren ketahui.

 

Ia juga membicarakan beberapa hal lain dengan Radius.

Meski hanya tidak bertemu beberapa hari, rasanya seperti sudah berbulan-bulan tidak mengobrol. Itu berarti hari-hari yang mereka lalui memang sangat padat.

Selain itu, setelah pertempuran melawan Olfide, teknik pemanggilan Magic Swordnya telah meningkat satu tingkat.

Level 7: Dapat memanggil [Tiga] Magic Sword secara bersamaan.

Kapan ya ada kesempatan untuk memanggil tiga Magic Sword sekaligus?

Kalau memang bisa, mungkin lebih baik memanggilnya terlebih dahulu lalu membawanya di pinggang. Jika begitu, sepertinya ia bisa berkonsultasi dengan Uhrich soal sarung pedang khusus.

"Tapi, akhirnya Ren menunjukkan kekuatannya juga ya."

"Menunjukkan apa, bukan begitu kok. Kebetulan saja waktunya pas."

"Begitukah?" Radius bertanya balik dengan nada ringan.

"Bukan hal yang perlu dibesar-besarkan, kok."

"Orang-orang dari Sacred Order of the Lion tertawa sambil bilang padaku kalau kamu sudah menunjukkan kekuatan dari pemuda yang bersekolah di tempat kami."

"……Siapa sih yang bilang begitu?"

"Komandan Estelle."

"……Orang itu bicara aneh-aneh lagi."

Ren tertawa sambil membayangkan apa yang dikatakan wanita itu di tempat yang tidak ia ketahui.

"Bagaimanapun juga, beristirahatlah sejenak."

"Rencananya begitu. Kalau sudah tenang, paling-paling aku cuma akan pergi ke markas Sacred Order untuk mengayunkan pedang."

"Aku tidak tahu apakah itu bisa disebut beristirahat…… tapi jika Ren merasa oke, aku tidak keberatan. Tapi ingatlah, mungkin Raguna akan mendadak memanggilmu."

Sambil berkata demikian, Radius mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya.

Mendengar surat yang datang dari peneliti itu di waktu seperti ini, isinya sudah bisa ditebak.

Saat Ren mengeluarkan surat itu di depan Radius, di sana tertulis kalimat pendek.

Kuncinya sudah diperbaiki. Aku akan menghubungimu lagi dalam waktu dekat.

Mengirim surat hanya untuk memberikan satu kalimat kabar saja benar-benar gaya Raguna. Ren memasukkan surat itu ke kantong seragamnya.

"Pasti isinya sangat singkat, kan?"

"Benar, tapi bagaimana kamu tahu?"

"Aku sudah lama kenal Raguna. Beberapa tahun lalu…… aku lupa isinya apa, tapi saat aku mengirim surat karena ingin minta tolong pekerjaan, dia membalas hanya dengan dua huruf: 'Ogah'. Pernah juga dia sengaja membalas dengan kertas kosong."

"……Yah, memang mirip gaya Raguna-san."

Sambil mengobrol, Ren mengenang kembali awal mula kejadian di musim semi ini.

Pertama, ia pergi ke Garden of Swords dan bertemu dengan Sword Queen Lutreche.

Atas sarannya untuk memeriksa lambang pada emblem, ia pun pergi menuju Windea bersama Raguna.

Tujuannya adalah mencari tempat persembunyian penyair legendaris, Mudie.

Kunci yang ditemukan di Institusi Geno di kota tua Eupheim adalah kunci yang menunjukkan tempat persembunyian Mudie. Dengan memperbaikinya, mereka berpikir mungkin bisa mendapatkan informasi tentang Cecil Ashton atau kepala Institusi Geno.

……Padahal seharusnya hanya sebatas itu, tapi rasanya musim semi ini pun ia lalui dengan hari-hari yang sangat padat.

"Aku harus segera pergi. Aku harus bicara dengan Mirei."

"Kalau begitu, aku juga."

Begitu keluar dari atap, Ren berpisah dengan Radius dan menuju ke salah satu sudut koridor.

Di sana, Licia dan Fiona sudah menunggu. Ren pun menyapa, "Maaf membuat kalian menunggu."

"Padahal baru saja terjadi kejadian seperti itu, tapi rasanya aneh ya kalau kelas tetap berjalan seperti biasa."

"Begitukah? Bukannya memang biasanya seperti ini?"

"Kejadiannya kan sudah berakhir. Lagipula, jika akademi diliburkan, mungkin akan lebih banyak orang yang marah. Waktu di sini sangat terbatas, lho."

Sebagai sekolah ternama yang namanya menggema hingga ke luar negeri, mungkin perkataan Fiona benar adanya.

"Benar juga ya," Ren mengangguk setuju.

 

Masih ada waktu sebelum pelajaran pertama dimulai.

Saat mereka bertiga berjalan di koridor berniat menghabiskan waktu sambil minum teh di kantin, beberapa kali ada yang menyapa mereka.

"Krauzel-san! Kemarin itu hebat sekali, ya!"

"Iya, terima kasih."

Kata seorang murid yang baru saja sampai di sekolah.

"Ignat-kun, aku dengar lho. Katanya kamu mengusir para pengikut Kultus Dewa Iblis dengan sihir yang luar biasa."

"Terima kasih, Profesor."

Ucap seorang profesor yang berpapasan dengan mereka.

Banyak orang di akademi yang tahu soal pertempuran mereka saat turun dari kereta sihir tempo hari, maupun pertempuran di luar Erendil.

Di sisi lain, tidak ada yang menyapa Ren. Karena Ren tidak bertarung saat itu, bahkan sedikit sekali orang yang tahu kalau Ren ikut bersama mereka.

Masalah Olfide memang belum dipublikasikan. Karena skala masalah dan identitas lawannya, informasi tersebut dikelola dengan sangat hati-hati.

Pasti dalam waktu dekat, orang-orang yang mengetahui tentang Ren juga akan muncul di akademi.

Kedua gadis yang berjalan di samping Ren itu terus mencemaskan lukanya sejak malam itu.

"Tanganmu sudah tidak apa-apa?"

"Sampai kemarin kamu kelihatannya masih kesakitan, apa benar sudah baikan?"

Fiona yang tinggal di asrama putri merasa khawatir dan sudah datang ke Erendil sejak pagi kemarin.

Berkat itu, lengan Ren akhirnya bisa digerakkan dengan normal pagi ini. Dengan bantuan Licia dan Fiona, ia akhirnya bisa pulih dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

"Berkat kalian berdua, sudah jauh lebih baik."

Mendengar jawabannya, kedua gadis itu pun menunjukkan ekspresi lega.

 

Saat sedang menuruni tangga, mereka bertiga berhenti sejenak karena merasakan hembusan angin yang sejuk dari jendela di bordes tangga.

Di sana, Licia menyinggung sebuah informasi yang masih meninggalkan tanda tanya.

"……Ngomong-ngomong, apa yang sebenarnya terjadi di Great Forest, ya?"

Estelle yang pergi ke Great Forest seharusnya menyelidiki sarang Behemoth bertanduk Kaisar Hitam. Itu adalah monster kuat yang mengharuskan pengerahan kekuatan tempur selevel dirinya.

Karena energi sihir Kultus Dewa Iblis terdeteksi di sana, dilakukanlah penyelidikan untuk berjaga-jaga.

"Estelle-sama sudah bilang, kan? Behemoth bertanduk Kaisar Hitam itu bersembunyi di bagian dalam sarangnya dan tidak mau keluar."

"Beliau bilang monster itu tampak seperti sedang ketakutan akan sesuatu."

Ren juga memikirkan hal itu, namun sekarang ia tidak punya cara untuk memastikannya.

Apa yang sebenarnya terjadi di pedalaman Great Forest? Apa yang ditakuti oleh Behemoth tersebut? Penyelidikan di sekitar lokasi masih terus berlanjut, namun belum banyak informasi yang didapat.

Penyelidikan akan terus dilanjutkan untuk berjaga-jaga, tapi dalam situasi seperti ini, sepertinya kita tidak bisa mengharapkan informasi yang kuat.

Estelle sempat kembali ke Ibukota untuk melapor kepada Radius serta berbicara kepada Ren dan yang lainnya, lalu segera kembali lagi ke Great Forest.

Saat mendengar cerita dari Estelle, Ren terpikir akan sebuah eksistensi.

Yaitu gadis misterius yang muncul dalam mimpinya dan petunjuk yang didapat dari reaksi Olfide. Jika Behemoth bertanduk Kaisar Hitam itu ketakutan akan sesuatu……

(Jangan-jangan, dia ada hubungannya……)

Sosok gadis misterius yang tampaknya tahu banyak hal itu terlintas di kepala Ren dan tidak mau pergi.

 

Sambil terus memikirkan gadis itu, Ren menuruni tangga dan berjalan di koridor. Dari arah depan, muncul Vain dan para keturunan Seven Heroes lainnya.

Begitu mereka berhadapan, Vain meninggalkan keenam temannya dan berlari kecil menghampiri Ren. Melihat itu, kedua gadis di samping Ren dengan peka segera mengambil jarak.

"Ren! Apa lenganmu sudah tidak apa-apa?"

"Belum pulih total, tapi berkat mereka berdua, sudah jauh lebih baik."

Di belakang Ren yang tersenyum malu-malu, Licia dan Fiona ikut tersenyum.

"Ah…… syukurlah kalau begitu."

"Vain dan yang lainnya juga pasti kesulitan, bagaimana dengan luka kalian?"

"Kami lumayan oke. Berkat bantuan Ren, kurasa kami sudah hampir pulih sepenuhnya."

Mungkin karena pertempuran malam itu benar-benar sebuah pertarungan hidup dan mati. Mereka juga menggunakan potion dan sihir penyembuh untuk mempercepat pemulihan, namun rasa lelahnya belum benar-benar hilang.

Tiga orang yang bertugas di barisan depan yaitu Vain, Sarah, dan Kaito masih merasakan nyeri otot sampai sekarang.

 

Topik pembicaraan pun berubah.

"Selamat juga untuk Rofelia-senpai, sepertinya busur milik leluhur sudah ditemukan."

"Terima kasih. Seperti yang kukatakan malam itu, ini berkat bantuan Ashton-kun."

"Tidak, tidak. Aku cuma merasa penasaran lalu meminta penyelidikan di tangga saja."

Dengan ini, pusaka leluhur yang disebut sebagai Hero Equipment telah ditemukan untuk kedua kalinya. Sepertinya faksi Hero akan kembali bersemangat, namun seperti yang dikatakan Radius, jika itu demi rakyat, maka itu tidak buruk.

"Apa kami juga nanti akan menemukan senjata milik leluhur kami, ya?"

Gumam Vain sambil memandang ke kejauhan di luar jendela.

Saat Ren menjawab, "Pasti," Vain mengalihkan pandangannya dari jendela dan menatap Ren dengan senyum yang tulus.

"Aneh ya. Kalau Ren yang mengatakannya, rasanya aku bisa percaya hal itu benar-benar akan terjadi."

Percakapan berakhir, kelompok bertiga dan kelompok bertujuh itu pun berjalan ke arah yang berbeda.

Vain menoleh ke arah kelompok Ren yang mulai menjauh, lalu berseru, "Anu!"

Mendengar suara itu, ketiganya menghentikan langkah dan menoleh.

"Terima kasih banyak untuk tempo hari!"

"Sudahlah. Kamu kan sudah bilang begitu saat di Windea."

Setelah berkata demikian, Ren tertawa ceria dan berjalan menjauh ke ujung koridor bersama kedua gadis itu.

◇◇◇

Setelah mengantar kepergian ketiganya, sebuah kalimat terlintas di kepala Kaito. Itu adalah peringatan yang diberikan Sarah kepadanya sekitar waktu yang sama tahun lalu.

Maksudku bukan begitu. Kalau kamu meremehkan Ren Ashton, perisai besar milik Kaito pun bisa hancur berkeping-keping.

Entah kenapa ia teringat percakapan saat Ren baru saja masuk sekolah.

Kala itu, Kaito menepisnya dan menganggapnya konyol. Namun sekarang, setelah melihat pertarungan Ren di Windea, ia memiliki pemikiran yang berbeda.

Seandainya…… jika kekuatan Ren saat itu ditujukan padanya.

Namun, tidak ada satu pun alasan baginya untuk bertarung melawan Ren. Setidaknya saat ini, ia tidak bisa membayangkan situasi seperti itu terjadi, dan tidak ada ruang untuk membayangkan masa depan di mana mereka menjadi musuh.

"…………"

"Kaito-senpai? Ada apa?"

Vain bertanya kepada Kaito yang sedang menatap punggung Ren dan kedua gadis itu.

Tanpa jeda yang lama, Kaito tertawa seperti biasa.

"Tidak! Bukan apa-apa, kok!"

Ia sendiri tidak begitu paham kenapa ia memikirkan hal seperti tadi…… tapi pastinya, itu karena guncangan yang ia rasakan memang sebesar itu.

◇◇◇

Ada ujian sebelum musim panas tiba.

Berbeda dengan ujian yang diambil Fiona si murid tingkat akhir tempo hari, ini adalah Midterm Exam yang dilaksanakan secara serentak untuk semua tingkatan kelas.

Meskipun baru saja terjadi keributan, tugas utama seorang pelajar adalah belajar.

Belakangan ini ia sangat sibuk sehingga tidak bisa terlalu fokus pada studi, namun ia tidak ingin nilainya turun hanya karena hal itu.

Ketiga remaja itu tidak langsung pulang meski jam pelajaran telah berakhir. Mereka menyusuri beberapa toko buku di Ibu Kota, hingga kantong kertas yang mereka bawa penuh dengan buku-buku referensi yang baru dibeli.

Ibu Kota hari itu sangat ramai. Masyarakat yang sebelumnya menahan diri untuk keluar rumah akibat kerusuhan tempo hari, kini mendadak memadati jalanan.

Meski tidak seramai saat Festival Raja Singa, kerumunan ini tetap lebih padat dari biasanya—siapa pun bisa terpisah jika tidak waspada.

Ren berusaha menjaga agar hal itu tidak terjadi, namun saking padatnya orang-orang, punggung tangan Licia dan Fiona tanpa sengaja saling bersentuhan, hingga akhirnya tangan mereka bertaut.

Keduanya saling pandang, lalu tersenyum kecut.

"Untuk sekarang, anggap saja ini kerja sama tim, ya?"

"Iya. Sepertinya begitu lebih baik."

Terpisah dan merepotkan Ren adalah hal terakhir yang mereka inginkan.

Namun di sisi lain, muncul perasaan aneh di hati mereka... apa yang sebenarnya sedang kami lakukan bersama rival cinta seperti ini?

"……Haa."

Helaan napas mereka terdengar bersamaan saat menatap punggung Ren yang berjalan di depan.

Ketika Ren menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan, ia terkejut melihat tangan kedua gadis itu sedang bergandengan.

"Maaf. Kalau saja aku perempuan, aku mungkin bisa melakukannya tanpa ragu."

Kedua gadis itu hanya bisa menyimpan balasan mereka di dalam hati; sebenarnya mereka ingin bilang bahwa justru saat seperti inilah ia tidak perlu ragu.

"……Jangan dipikirkan."

"……Iya. Kami tidak apa-apa, kok."

Di saat para rival cinta itu sedang berpura-pura tegar meski hati terasa sesak, sebuah kereta kuda dari Kuil Agung Ibu Kota melintas di dekat mereka.

Licia hampir saja menegang karena itu adalah kereta milik ajaran Elfen.

Namun, mungkin karena ia sedang menggandeng tangan sang Black Priestess, perhatiannya lebih terpusat pada tautan tangan mereka.

 

Seiring langkah mereka, kerumunan perlahan mulai berkurang.

Tangan Licia dan Fiona terlepas dengan sendirinya tanpa ada yang memulai. Sambil berjalan mendahului Ren, mereka mulai mengobrolkan banyak hal.

Mulai dari masalah Great Forest hingga hal-hal kecil seputar kehidupan akademi. Bahkan, pembicaraan mereka sampai pada rencana untuk menyewa lapangan latihan dan berduel.

"Lain kali aku tidak akan kalah."

"Tidak, kali ini akulah yang akan menang."

Hari di mana Licia menjadi seorang Sword Saint mungkin sudah tidak lama lagi. Memikirkan hal itu, Ren yang sudah lebih dulu mencapai tingkatan itu mulai tenggelam dalam lamunan.

(Kira-kira apa ya yang akan menjadi pemicu Licia untuk jadi Sword Saint?)

Mengingat pengalamannya sendiri yang sempat sangat menderita, Ren berpikir ada kemungkinan Licia juga akan mengalami kesulitan yang sama.

Sudah cukup lama gadis itu berada di level Swordmaster. Namun, menaikkan satu peringkat saja bisa memakan waktu bertahun-tahun... atau bagi sebagian orang, belasan tahun. Tidak semua Swordmaster bisa menjadi Sword Saint.

Kecepatan pertumbuhan Licia memang sangat luar biasa, sama seperti Ren.

Begitu pula dengan Fiona yang tempo hari menunjukkan sihir kuat di luar kereta sihir; dia pun tidak pernah lelah berusaha.

Ren kembali membulatkan tekad untuk tidak kalah dari mereka yang selalu bekerja keras untuk saling melampaui.

Dan satu hal lagi.

Hal yang tidak boleh dilupakan selain menjadi lebih kuat adalah tentang tragedi tersebut. Juga tentang alasan mengapa ia memutuskan untuk pergi bertarung melawan Olfide.

"Bisa lihat sendiri, kan? Aku baru saja membunuhnya."

Mengapa White Saintess, Licia Krauzel, dan Ren Ashton bisa berakhir seperti itu? Jawabannya pasti akan terungkap dalam waktu dekat.

"Tapi, 'dalang' bagi siapa ya? Kamu yang berada di pusat kericuhan itu, mungkin bagi Kekaisaran Leomel dianggap sebagai dalang insiden tersebut. Begitu juga bagi ajaran Elfen. Lalu bagi Kultus Dewa Iblis, kamu adalah musuh yang melindungi keturunan Seven Heroes. Bagi para pengikut yang kamu tebas seolah-olah dipandu ke sana, kamu pasti dianggap sebagai dalang di balik semua rencana itu."

Bagi siapakah Ren Ashton menjadi musuh? Kultus Dewa Iblis? Leomel? Atau ajaran Elfen? Atau mungkin musuh dunia──── mungkinkah itu terlalu berlebihan?

Bagaimanapun caranya, ia harus mencari gadis itu.

Meski terasa kontradiktif dan mustahil untuk berpikir bahwa gadis itu sudah tahu alasannya bahkan sebelum tragedi di dunia ini terjadi, namun jika ia adalah sosok yang hebat, mungkin saja ia tahu sesuatu yang menjadi pemicunya.

Termasuk fakta bahwa Kultus Dewa Iblis berulang kali mengincar Leomel.

Ia sangat ingin memastikan tujuan mereka, dan Ren mulai menyadari bahwa beberapa hal ini mungkin memiliki semacam keterkaitan.

Dan ada satu hal lagi yang tidak boleh Ren lupakan.

……Ren Ashton sedang dipermainkan oleh garis keturunannya, begitu kata gadis itu.

……Apa itu berarti kedua tragedi itu ada hubungannya dengan darah keluarga Ashton?

Saat ini ia masih belum mengerti apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu, tapi ia merasa sudah semakin dekat.

Kejadian apa yang sebenarnya terjadi di garis waktu itu... sedikit demi sedikit, ia merasa akan segera menemukan alasannya.

"……Haa."

Ren menghela napas panjang sembari terus berjalan.

"Sebenarnya dia ada di mana, ya?" gumamnya hampir tanpa sadar.

Seketika itu juga, kedua gadis yang berjalan di depannya mendadak berhenti.

Mereka tidak bisa mengabaikan kata-kata itu begitu saja. Meski mereka tidak berpikir kata "dia" (perempuan) itu merujuk pada hubungan asmara, mereka tetap penasaran dengan identitas "dia" yang dimaksud Ren. Keduanya pun menoleh perlahan ke arahnya.

"Eh? Kalian berdua kenapa?"

Dengan raut wajah cemas, mereka bertanya.

"S-siapa yang sedang kamu cari……?"

"S-siapa yang sedang Anda cari……?"

Tanya mereka dengan nada sungkan. Ren merasa membicarakan hal ini sekarang terasa terlalu santai, sepertinya lebih baik dibicarakan di lain kesempatan.

"Karena ini ada hubungannya dengan Kultus Dewa Iblis, nanti akan kujelaskan baik-baik ya."

Mendengar jawaban Ren, kedua gadis itu pun mengangguk paham dengan ekspresi serius.

 

Karena merasa enggan untuk langsung pulang begitu saja, mereka bertiga melangkah masuk ke sebuah taman terdekat.

Licia dan Fiona duduk di bangku taman, sementara Ren berdiri di samping mereka. Di tengah jalan tadi mereka sempat membeli minuman dingin dari kedai pinggir jalan, dan kini mereka menatap langit sambil memegang minuman tersebut.

Fiona memandang langit malam.

"Bintang-bintang hari ini sangat indah, ya."

Langit berbintang di Ibu Kota memang tidak seindah yang Ren lihat di Windea, namun cukup mirip. Butiran cahaya besar yang seolah bisa digapai hanya dengan merentangkan tangan itu menghiasi langit hitam pekat dalam jumlah yang tak terhitung.

Inilah saat-saat tenang yang mereka lalui bertiga. Setelah melewati kerusuhan baru, akhirnya mereka bisa merasakan ketenangan hati.

Setelah beberapa menit menatap bintang, Licia memberikan usul.

"Hei Ren, bagaimana kalau lain kali kita latihan bersama?"

"Maksudmu di markas Sacred Order of the Lion?"

"Bukan. Maksudku seperti yang kami lakukan di lapangan latihan akademi kemarin."

Ren berpikir itu ide yang bagus. Sebagai orang yang mengincar gelar Sword King, ini adalah kesempatan bagus dan memang itu yang ia inginkan, tapi...

"……Tapi sebelum itu, ada ujian tengah semester, kan?"

Begitu Ren mengatakannya, kedua gadis itu tersentak teringat.

"Ah!"

Benar juga. Latihan memang penting, tapi mereka harus melakukan sesuatu untuk menghadapi ujian tengah semester yang sudah di depan mata.

Meskipun ketiganya biasanya memiliki nilai yang bagus, banyaknya kejadian yang tumpang tindih belakangan ini membuat mereka tidak bisa belajar sesuka hati, dan rasa cemas pun mulai muncul.

"……Kalau begitu sebelum latihan, mau belajar di ruangan yang biasa?"

"Iya, boleh……"

Saat Licia bertanya dengan nada akrab kepada Fiona, gadis itu menyetujuinya, dan Ren pun memutuskan untuk ikut bergabung dengan mereka.

Belajar untuk ujian, latihan, tempat persembunyian Mudie, hingga gadis yang muncul dalam mimpi Ren... Sambil memikirkan banyak hal, Ren saling bertukar senyum dengan keduanya, membayangkan hal yang sama dengan mereka.

Di sini, di bawah naungan kilauan debu bintang────

Kira-kira, musim mendatang akan membawa "kisah" seperti apa lagi?




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close